The Secret Garden

Judul : The Secret Garden
Penulis : Frances Hodgson Burnett
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penejemah : Barokah Ruziati
Tebal Buku : 320 Halaman
Cetakan Pertama, Maret 2010 
(Cetakan Pertama versi buku asli, 1911)
ISBN : 9789792254907
Rating : 4 dari 5



Salah satu hal aneh tentang hidup di dunia adalah hanya sesekali saja kau sangat yakin kau akan hidup selamanya dan selama-lamanya. ---halaman 231


Blurb:

Setelah kematian orangtuanya, Mary Lennox si gadis manja dan pemarah datang dari India untuk tinggal di rumah pamannya, Mr. Archibald Craven. Dia merasa kesepian di rumah besar dan sunyi itu. Namun suatu hari dia menemukan jalan menuju taman rahasia yang sudah bertahun-tahun dikunci. Dengan bantuan Dickon, anak lelaki yang bisa "berbicara" dengan binatang, dia menghidupkan kembali taman itu dan membuatnya indah. Kegiatan mengurus taman perlahan-lahan membuat sifat Mary berubah, dan pada akhirnya bukan hanya Mary yang menjadi bahagia karena taman rahasia itu... 

***

Mary Lennox dibesarkan di India. Orangtuanya meninggal dalam wabah kolera. Sebelum orangtuanya meninggal, dia dibesarkan oleh seorang Ayah, sebutan bagi pengasuhnya yang orang pribumi India. Setelah meninggal, dia dibawa ke Inggris dan menjadi tanggungan pamannya. Sang paman, Archibald Craven, punya sebuah rumah yang besar sekali. Banyak kamar yang kosong di rumahnya. Mary, sekarang menjadi salah satu penghuninya. Mrs. Medlock yang membawanya ke rumah itu setelah Mary dititipkan selama perjalanan dari India ke Inggris (fyi, Mrs. Medlock diperankan oleh Maggie Smith. My House Master of Gryffindor! *heh*). Saat tinggal di manor Tuan Craven itu, Mary diasuh oleh seorang pengasuh bernama Martha Sowerby. Tuan Archibald sendiri, seseorang yang misterius, karena selalu bepergian dan terlihat tertutup. Konon kabarnya, dia begitu cinta sama istrinya, yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Dan perubahan perangai itu, katanya, ada hubungannya dengan kematian istrinya itu.

Sikap Mary bisa dibilang tidak menyenangkan. Sejak kecil dia biasa berkecukupan, dengan Ayah yang senantiasa menuruti segala keinginannya. Ayah-nya seorang pekerja yang memberikan rasa hormat pada kaum kulit putih seperti dirinya. Dan, ketika Ayah-nya dan juga seluruh keluarganya terkena wabah kolera itu, hidup Mary yang terbiasa selalu ditututi perintahnya menjadi berubah drastis. Di Inggris, tidak ada pelayan yang akan berlaku seperti sang Ayah. Meskipun Martha ditugaskan untuk mengurusnya, tapi Martha berbeda. Dia bahkan berani untuk merespons hal-hal yang tidak disukainya, dan itu membuat Mary terkejut. Namun, dengan Martha-lah, dia belajar banyak hal, terutama memperbaiki sikap dan perilakunya yang di sini tidak dibenarkan.

Martha mempunyai banyak saudara. Dia sering menceritakan adik-adiknya pada Mary. Terutama, Dickon Sowerby. Mary yang penasaran dengan cerita Martha, akhirnya juga penasaran dengan sosok Dickon yang menyenangkan tersebut. Akhirnya, mereka bertemu juga dan Mary mendapatkan banyak pengalaman dari Dickon.

Suatu hari Mary tersesat di dalam rumah yang dia tempati. Dia mendengar suara tangisan seseorang. Tapi, saat dia bertanya pada Martha, Martha ketakutan, dan menyangkal ucapannya itu. Mary jadi semakin penasaran. Dan suatu hari, akhirnya dia bertemu juga dengan si pemilik suara. Dia adalah anak lelaki pamannya, bernama Colin Craven. Dia anak yang rapuh, sakit-sakitan, pemarah, dan suka berteriak. Tidak ada yang berani menyangkalnya. Bisa dibilang, semua orang takut pada anak lelaki itu. Dari pertemuan pertama mereka, hanya Mary saja yang berani untuk menghardiknya.

Bersama dengan Dickon, Mary memutuskan untuk mencari taman rahasia yang konon katanya ada di area rumah ini. Karen berkenalan dengan Ben Weatherstaff, tukang kebun yang penggerutu. Namun, setelah kenal dengan Mary, Ben jadi membaik juga. Mary bertanya banyak hal seputar merawat dan menanam bunga pada Ben, dan Ben membantu Mary untuk menjelaskan. Namun, Mary juga bertanya-tanya dan memancing pertanyaan seputar taman rahasia ketika Ben sudah mulai curiga kepadanya.

"Rasa ingin tahumu bisa membunuhmu suatu hari nanti, kalau kau tidak pintar." ---halaman 82


Lalu, apakah mereka berhasil untuk menemukan taman rahasia itu? Mengapa taman itu dikunci selama sepuluh tahun? Apakah ada hubungannya dengan kematian ibu Colin? 

(Lah, saya buat ulasan yang menggantung supaya bikin penasaran tahunya di blurb sudah dijelaskan ya? Wakakak.)

***

Saat membaca sinopsis cerita ini, saya langsung ingat bahwa dulu saya pernah menonton filmnya. Dan satu-satunya karakter yang masih saya ingat adalah...


Maggie Smith, yha, maafkan kalau saya bias. Tapi, serius, bahkan saya lupa wajah Mary, Dickon, atau Colin seperti apa. Dan, saya menemukan gambar ini!



Dengan sebentuk ingatan yang samar tentang plot kisah ini, akhirnya saya mulai membacanya lagi. Saya suka dengan bahasa terjemahannya yang ringan dan tidak berat. Mengingat, ini adalah buku klasik tentang anak-anak. Jadi, seharusnya memang menggunakan bahasa yang ringan, kan? 

Karakternya unik. Perkembangan karakternya pun cukup bagus dan menarik. Mary yang mulanya angkuh berubah perlahan-lahan menjadi sedikit menyenangkan. Dickon yang Gryffindor banget, suka bertualang, dan memecahkan misteri bersama Mary. Dan Colin, yang kurang kasih sayang, dan terkungkung oleh ketakutan-ketakutannya sendiri, perlahan-lahan mulai membuka diri. Karakter yang berhasil mencuri perhatian saya adalah Ben Weatherstaff! Sedikit mengingatkan saya dengan Kakek Ove. (Kalau saya membahas novel-novel dengan karakter berusia tua, Ben harus masuk pembahasan pokoknya.)

Terkait bahasa terjemahan, sebenarnya ada yang lucu di sini. Lucu karena, salah satu tokohnya, Martha, adalah gadis dengan logat Yorkshire yang berbeda dengan logat orang Inggris kebanyakan. Susah memang memilih kalimat terjemahan dari "bahasa Yorkshire ke bahasa Inggris" untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi kepingin baca versi aslinya, penasaran gimana sih "keanehan" yang ditimbulkan sama Martha yang sesekali berbahasa dengan (entah aksen atau memang bahasa asli) bahasa Yorkshire itu bagi Mary yang besar di India. Jadi, oleh penerjemah, dieksekusi seperti ini: "Nggak gitu banget" artinya "sama sekali tidak begitu". =)) 

Sebenarnya, saya tidak seperti Karen (siapa itu Karen?) yang mendaulat buku-buku klasik sebagai genre favoritnya. Saya cukup menyenangi beberapa saja. Karena, memang terjadi ketimpangan dengan keluwesan bercerita dari buku klasik dengan buku kontemporer. Hanya saja, sebenarnya, akan tertolong jika ditangani dengan baik oleh penerjemahnya. Menurut saya, buku ini sudah tertangani dengan baik. Saya suka membacanya. Dan meskipun sebagian besar plot utamanya sudah saya ketahui, tapi tidak membuat saya bosan atau buru-buru ingin menyelesaikannya. Saya menikmati buku ini lembaran demi lembarannnya.

Dan karena buku ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di tahun ini, yang pertama selalu menjadi spesial, dan syukurlah, buku ini memang spesial, menarik, dan seru. Sayang banget sama Mary, Dickon, Colin, dan Ben Weatherstaff! ♡


0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)