Jogja Jelang Senja

Judul : Jogja Jelang Senja
Penulis : Desi Puspitasari
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 228 Halaman
Cetakan Pertama, Mei 2016 
ISBN : 9786023754830
Rating : 4 dari 5




"Jangan berpindah agama hanya demi alasan manusia, Mas. Terlebih-lebih cinta." ---halaman 2

Blurb:

Senja di Jogjakarta menawarkan banyak kemungkinan; di antara terang menuju petang; di antara pertemuan dan perpisahan; di antara Aris dan Kinasih.

Aris bertemu Kinasih di pertigaan Pasar Kotagede, saat secara tak sengaja ia menabrak sepeda gadis itu. Sejak kejadian itu, Aris mengantar jemput Kinasih ke tempat kerja, sebab kaki gadis itu terluka, sementara ia belum mampu membayar biaya ganti kerusakan sepeda.

Kedekatan keduanya menumbuhkan cerita baru. Ketika Aris ingin menggenggam erat tangan Kinasih, saat itu pula perbedaan keyakinan menjadi tembok bagi keduanya. Bisakah Aris dan Kinasih melewatinya? 

***

Kinasih adalah seorang gadis perajin perak. Sementara, Aris adalah pemuda yang kesehariannya bekerja di sebuah surat kabar. Keduanya bertemu saat terjadi insiden tabrakan sepeda. Aris yang terburu-buru mengejar liputan tentang pasar Ramadhan, menabrak sepeda Kinasih. Akibatnya sepeda itu rusak. Namun, Aris tidak memberikan pertanggungjawabannya atau kompensasi apa pun karena dirinya dikejar deadline penulisan laporan dan harus segera pergi. Lagi pula, dia belum gajian. Akhirnya, dia hanya memberikan secarik kartu nama tempat dirinya bekerja. Asih yang dongkol karena sepedanya rusak dan lengannya yang terluka hanya mampu menyembunyikan itu dari orangtuanya.

Karena terdesak, akhirnya Kinasih mendatangi tempat kerja Aris. Dan lagi-lagi, dia tidak mendapatkan ganti rugi untuk memperbaiki sepedanya. Karena tidak mau mangkir dari tanggung jawab, Aris memberikan opsi agar dia mengantar Kinasih setiap hari ke tempat kerjanya. Meskipun harus memutari kota Jogja karena lokasi mereka tidak berdekatan, mau tidak mau itulah yang musti dia lakukan.

Dari situlah hubungan keduanya semakin dekat. Diam-diam, Kinasih jatuh hati pada Aris. Namun, ada satu hal yang membentang di antara keduanya. Aris dan Kinasih beda agama. Kinasih yang anak seorang pemuka agama di kampungnya, sementara Aris adalah pemuda Katolik. Ditambah lagi, kehadiran Jeanette, seorang gadis eksektrik anak Jendral dari ibukota yang seiman dengan Aris, turut mewarnai kisah di antara mereka.

Tidak hanya itu saja, konflik yang turut mewarnai kisah ini adalah pergolakan masa rezim tahun 1995-1996 yang begitu kentara. Membuat cerita Jogja Jelang Senja tidak hanya berdimensi konflik cinta segitiga beda agama semata.

***

"Mas, beragama itu tak seperti mengenakan sepatu. Mas kenakan sepasang untuk sekian waktu, bila sudah usang atau memiliki sepasang yang baru Mas copot dan tinggalkan yang lama." ---halaman 185


Bab awal (dan akhir) yang fantastis.

Sejujurnya, saya merasa ketipu saat memaca novel ini. Ketipu habis-habisan. Saya pikir novel ini bercerita tentang roman-roman biasa, kontemporer, ala-ala FTV yang ketemunya tabrakan lalu dibungkus dengan konflik perbedaan agama. Ternyata saya salah besar. Bumbu tentang pergolakan medio 90-an justru lebih kerasa ketimbang plot seputar perbedaan keyakinan tokohnya. Saya baru sadar waktu cerita tentang Marsinah dibahas. Padahal, karakternya naik sepeda dan waktu mau buat berita nulisnya pakai mesin ketik (sense saya sudah luntur banyak ini kayaknya).

Jadi, tersebutlah seorang Aris, pemuda Katolik, mahasiswa yang mengerjakan pekerjaan sambilan sebagai jurnalis sekaligus informan pergerakan. Dia baru saja menabrak Kinasih, seorang gadis lugu anak bapak pemuka kaum di tempat tinggalnya, pekerja di pengrajin perak. Karena sepeda Asih rusak, dan Aris tidak punya cukup uang sampai gajian bulan depan, mau tidak mau Aris harus mengantar-jemput Asih setiap hari. Dari situ, Asih yang selama ini selalu menolak pria-pria yang hendak melamarnya itu, jatuh hati pada Aris yang notabene berbeda keyakinan dengannya.

(Sampai di sini, cerita cukup klise dan lumayan membosankan)

Untunglah, penyelamat kebosanan ini disematkan kepada Jeanette, gadis nyentrik anak jendral besar dari Jakarta yang sedang berlibur ke Jogja. Tidak hanya berlibur, gadis cantik itu bermaksud untuk menemukan petualangan cintanya. Dan bertemulah dia dengan Aris, pemuda di balik tulisan yang cerdas dan kritis di surat kabar tempatnya bekerja.

Cerita ini mengingatkan saya dengan film yang dibintangi Reza Rahadian dan Laura Basuki, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Tentang kisah cinta beda agama. Namun, karena di novel ini yang begitu kentara adalah pergolakan yang terjadi di tahun itu, maka yang berhasil mencuri perhatian saya adalah aktivitas Aris bersama dengan kawanannnya. Salut bagaimana penulis bisa mengemas dua plot penting dan sama-sama beratnya itu menjadi padu dalam sebuah cerita. Apalagi, embel-embel kota Jogja yang diusung dalam judulnya, terasa begitu dekat, membuat pembaca ikut terlempar dalam setting kota Jogja di tahun 1995-1996. Kesangsian saja dengan novel ini begitu sirna. Meskipun, tidak ada benang merah antara kisah ini dengan Jakarta Sebelum Pagi selain kesamaan pola penulisan judulnya. Good job! Saya tidak merasa menyesal ketipu di tempat yang benar.

...karena bagiku, Yogyakarta adalah kangen dan pulang. ---halaman 149

Untuk ending kisah cinta yang mengangkat perbedaan agama, penulis cukup berimbang dalam memilih eksekusi akhirnya.

1 komentar:

  1. Saya justru baca cerita beda agama pasti ingetnya film Cinta Tapi Beda. hahaha. Seru sih ceritanya. Dan penasaran apakah akan ada yang sampai pindah agama gara-gara cinta?

    ReplyDelete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)