Showing posts with label Mitch Albom. Show all posts
Showing posts with label Mitch Albom. Show all posts

Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Judul : Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto---The Magic Strings of Frankie Presto
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 576 Halaman
Cetakan Pertama, September 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, November 2012) 
ISBN : 978602033809
Rating : 4 dari 5


Dalam hidup ini setiap orang bergabung dengan band. Dengan satu atau cara lain, band itu pun bubar. ---halaman 141

***
Blurb:

Semua manusia berbakat musik. Jika tidak, mengapa Tuhan memberimu jantung yang berdenyut?

Melalui kecintaannya pada musik, Mitch Albom menyusun novel indah tentang pengaruh bakat dalam mengubah hidup manusia.

Inilah kisah epik tentang Frankie Presto––gitaris paling hebat yang pernah ada––dan enam kehidupan yang diubah melalui enam dawai biru gitarnya.

Frankie lahir di gereja yang terbakar, bayi yatim-piatu yang dididik oleh seorang guru musik di kota kecil di Spanyol. Perang menghancurkan hidupnya, dan pada usia sembilan tahun dia diselundupkan ke Amerika di dalam perahu. Harta Frankie satu-satunya adalah gitar tua dan enam dawai berharga. Frankie merambahi khasanah musik tahun 1940, 1950, dan 1960-an dengan bakatnya yang luar biasa sebagai gitaris dan penyanyi yang memengaruhi bintang-bintang pada zaman itu, (Duke Ellington, Hank Williams, Elvis Presley), sampai akhirnya dia pun menjadi bintang tenar.

Namun bakat luar biasa ini juga menjadi beban ketika Frankie menyadari petikan gitarnya, musiknya, dapat memengaruhi kehidupan orang-orang lain. Pada puncak ketenarannya, dia membuat satu kesalahan, dan merasa bersalah. Dia menghilang. Legendanya berkembang. Berpuluh tahun kemudian, setelah hatinya pulih, dia muncul kembali untuk mengubah satu kehidupan terakhir.

Dalam buku ini, Musik menjadi sang Narator, dan melalui tutur katanya kita diajak melongok ke dalam banyak kehidupan yang diubah oleh sang gitaris yang dawai-dawainya sanggup menyentuh jiwa musik di dalam diri kita semua.

***



Frankie Presto kecil lahir di sebuah gereja ketika sebuah pergolakan terjadi di sana. Suara pertama yang didengarnya adalah nyanyian sang ibu, yang begitu melekat di alam bawah sadar Frankie. Perjalanan hidupnya tidak mulus. Ia pernah dibuang di sungai dan ditemukan oleh seorang pria yang menjadi ayahnya. Namun, matanya nyaris buta karena terkena air sungai yang asin semasa bayinya. Sang ayah merasa khawatir dengan masa depan anaknya itu. Ayahnya lalu ingat dengan seorang pemusik buta yang pernah ditemuinya di suatu tempat. Maka ayahnya memutuskan untuk mengajarkan sang anak tentang musik agar setidaknya, jika ia nantinya tidak dapat melihat, ia punya bekal untuk menghadapi masa depannya.

Bersama Maestro sang guru, Frankie memiliki kisahnya sendiri. Ia belajar banyak hal tentang musik pada gurunya itu. Ia yang memiliki bakat bermusik alami, menjadi semakin terasah dan bahkan bisa dikatakan mahir. Namun sayang, pertemuan itu tidak bisa berlangsung selamanya. Ia harus menjalani kehidupan berat berpindah negara dan mencari uang dari bermusik. Ia bertemu dengan banyak orang yang berarti dalam kehidupannya; orang yang dicintainya, musisi terkenal, orang-orang yang mengubah hidupnya, sebelum Frankie menapaki jalan kesuksesan yang gilang-gemilang dalam sejarah musik dunia.

Namun, sebuah kesalahan dilakukannya dan itu membuat Frankie harus membayar mahal kehidupannya. Jika orang lain menganggap popularitas dan harta adalah tujuan utama dalam kesuksesan, kau harus melihatnya dari sudut pandang Frankie untuk memahami tenang makna kebahagiaan. 

***

Dalam hidup ini setiap orang bergabung dengan band. Beberapa dari antaranya menghancurkan hatimu. ---halaman 524

Ini adalah perjalanan panjang kisah seorang Frankie Presto sejak ia lahir hingga meninggal. Buku kedua yang saya baca tentang seseorang dengan rentang yang begitu panjang yang mengisahkan cerita kehidupannya, setelah And The Mountains Echoed. Buku setebal 576 halaman ini saya baca versi ebook-nya meskipun saya punya buku fisiknya. Saat sudah memasuki bab akhir, tab saya ketinggalan di tempat kerja dan akhirnya saya membuka plastik pembungkus buku cetak dan melanjutkan baca di sana. Hahaha. Itu dia sekelumit cerita tentang proses membacanya.

Nah, sekarang, saya akan cerita tentang isi buku ini.

Yang unik dari kisah ini adalah, kisah utamanya diceritakan oleh sudut pandang Musik. Ya, musik yang bercerita tentang bagaimana ia menemukan bakat dirinya pada sosok Frankie. Ia pula yang memiliki kisah detail kehidupan Frankie bahkan sebelum Frankie lahir ke dunia. Selain oleh Musik, kisah ini pun terjadi dari beragam sudut pandang orang-orang yang mengenal Frankie, dan yang hidupnya berubah karena Frankie. Disajikan sepotong demi sepotong dengan setting sebelum pemakaman Frankie berlangsung, membuat konten cerita tentang kehidupan si tokoh utama ini tersaji dengan utuh. Dengan berbagai dimensi persepsi tentang eksistensi Frankie dalam hidupnya.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian yang diwakili oleh enam dawai ajaib Frankie Presto yang diberikan gurunya sebelum mereka berpisah. Dawai ini berubah menjadi biru pada waktu-waktu penting dalam hidupnya. Dan setiap ia menemukan hal tersebut, satu babak dalam kehidupannya selesai.

Seperti halnya novel-novel Mitch Albom lainnya, Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto ini menyuguhkan banyak sekali perjalanan hidup yang bisa kita tuai maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tersaji dalam hubungan Frankie denga tokoh-tokoh yang lain. Kisah Frankie dan sang Maestro, guru bermusiknya, memberikan semangat dan kisah tentang menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya meskipun kau mengalami keterbatasan. Obrolan-obrolan mereka sarat makna, yang berhasil menyentuh hati para pembacanya.

"Dengar Francisco. Kaupikir aku ingin hidup dalam kegelapan? Kaupikir aku tidak ingin melihat jemariku, fret dan tuas dawai gitarku, bukannya meraba-raba ke sana kemari seperti hewan tersesat?"
"Tidak, Maestro."
"Tidak, aku memang tidak ingin. Tapi inilah hidup. Kita bakal kehilangan. Kau harus mulai belajar lagi berkali-kali---atau kau bakal tak berguna." ---halaman 374

Pertemuan dan perjalanan cinta Frankie pun, memberikan tidak hanya kisah percintaan semata, melainkan juga pelajaran hidup bermakna di dalamnya.

"Kapan kali terakhir kau pulang ke rumah?"
Jawabnya "Aku tidak punya rumah."
Kataku lagi, "Setiap orang punya tempat ke mana dia pulang."
Katanya, "Itulah sebabnya aku menunggu istriku." ---halaman 396

Ditambah dengan pengetahuan seputar musik, membuat pengetahuan pembaca semakin diperkaya saat membaca novel ini. Persembahan yang apik dari Mitch Albom untuk pembacanya.
"Namun, semua kisah cinta adalah simfoni.
Seperti simfoni pada umumnya, kisah cinta juga memiliki empat irama:
- Allegro, pendahuluan yang cepat dan lincah
- Adagio, perubahan yang lambat
- Minuet/Scherzo, ketukan pendek dengan irama 1/4
- Rondo, tema yang terus berulang, diselingi berbagai bagian singkat" ---halaman 301

Lima ratusan halaman novel ini, berhasil menjerat pembaca dengan kisahnya yang mengharukan. Bahkan, dari setiap tokoh-tokoh yang memberikan kenangan mereka tentang Frankie pun, kita diajarkan secara tidak langsung tentang sebuah pengajaran penting dalam kehidupan. Tentang bagaimana kesan yang akan diberikan orang lain kepadamu, saat ia tiada nantinya.

Kemudian aku ingat bagaimana Frankie bicara tentang gadis kecilnya. Dia ternyata benar. Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun. ---halaman 439

Akhir kata, saya menutup ulasan ini dengan sebuah pengakuan:

Ketika Frankie Presto meninggalkan bakat-bakatnya kepada para penerusnya, memberikan sentuhan musik pada orang-orang dalam hidupnya, saya rasa Mitch Albom sudah melakukan hal yang sama, oleh dirinya, kepada orang-orang yang membaca bukunya. Kekuatan kata yang mengalir dalam diri seorang Mitch Albom, seperti kekuatan dan cinta musik pada Frankie Presto.

Kau tidak akan pernah tahu betapa seseorang begitu dalam mempunyai ikatan tertentu dalam hidupnya. Barangkali, ikatan dalam hidup saya yang berhubungan dengan Mitch Albom adalah, betapa saya senang bisa menikmati karya-karya beliau, dan merasakan betapa tulisannya begitu memengaruhi beberapa bagian dalam hidup saya.

Mitch Albom adalah penulis kedua yang saya doakan agar dilapangkan kuburnya kelak.

Ada lagu-lagu yang kaumainkan dan harus kauulangi lagi. Ada juga yang ingin kaumainkan dengan bear tetapi tidak pernah berhasil. Namun, ketika lagu iu telah dimainkan dengan sempurna, tidak ada lagi yang peerlu kaulakukan. ---halaman 286

Satu Hari Bersamamu

Judul : Satu Hari Bersamamu---For One More Day
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Kelima, September 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, September 2006) 
ISBN : 9786020333403
Rating : 4 dari 5




Hitunglah jam-jam yang seharusnya bisa kauhabiskan bersama ibumu. Rentangnya sepanjang masa hidup itu sendiri. ---halaman 184

***

Blurb:

"For One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu, dan pertanyaan berikut ini: Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kausayangi, yang telah tiada? 

Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi “anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya”. Maka dia memilih ayahnya, memujanya––namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya, seorang diri, meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh. 

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal. Dia justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya––yang meninggal delapan tahun silam––masih tinggal di sana, dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa."

***

Charley "Chick" Benetto merasa gagal dalam hidupnya. Ia mengalami kehidupan yang kacau-balau sejak kematian ibunya. Lalu, setahun setelahnya, ia melakukan hal bodoh yang menyebabkan dirinya harus menanggung kerugian finansial. Ia meninggalkan istri dan anaknya--atau sesungguhnya merekalah yang meninggalkannya. Hidupnya kacau balau. Hingga suatu saat, anak perempuan yang begitu dicintainya memberikan sebuah kabar, tentang pernikahannya. Dan tidak ada yang memberitahu Charley tentang itu. Bahkan, di dalam foto pernikahan itu tidak ada potret dirinya. Charley menganggap bahwa ia telah gagal menjadi seorang ayah, dan telah dibuang dari kehidupan anaknya.

Charley memutuskan untuk bunuh diri. Ia memacu kendaraannya begitu cepat, dengan maksud menabrakkan diri pada pagar pembatas. Namun, dari arah yang berlawanan, ada sebuah truk melintas. Tabrakan terjadi. Saat Charley membuka mata, ia terbaring di rerumputan. Mobilnya hancur, tapi ia tetap hidup. Ia berjalan tak tentu arah. Ia memanjat ke menara air, lalu kembali menuntaskan misinya untuk bunuh diri. Charley mendorong tubuhnya ke depan.

Saat kembali membuka mata, ia menemukan sosok ibunya di sana. Ibunya, yang meninggal bertahun-tahun yang lalu.

Semua itu tidak dapat dipahami oleh Charley. Bagaimana ia bisa kembali selamat dalam rentetan peristiwa yang baru saja terjadi itu? Bagaimana ia bisa melihat dan merasakan sosok ibunya di dekatnya? Bahkan, tubuh sang ibu benar-benar solid. Itu bukan sosok hantu. Lalu Ibu, mengajaknya ke sebuah perjalanan, perjalanan demi perjalanan yang melempar ingatan Charley ke masa silam, tentang banyak hal yang terjadi pada dirinya dan ibunya.

Tentang ia yang mendapatkan simpati dari orang-orang karena perceraian keluarganya, tentang Posey, ibunya, yang justru mendapat perlakuan sangat berbeda karena dianggap ancaman bagi para ibu-ibu yang takut suaminya akan bermain mata pada janda muda itu.

Tentang Charley yang sedari dulu memutuskan untuk menjadi "anak papa", dan harus pindah haluan menjadi "anak mama" semenjak ayahnya pergi dari keluarga mereka tanpa penjelasan apa pun. Tentang Charley yang menyimpan amarah pada ibunya karena membiarkan ayah mereka pergi.

Kau bisa jadi anak mama atau anak papa. Tapi tidak keduanya. ---halaman 31

Tentang Posey yang harus melakukan apa pun demi membesarkan anak-anaknya, bahkan saat ia mengalami hal-hal buruk tentang statusnya, dan kenyataan bahwa dirinya masih tetap cantik bahkan di usianya yang tak lagi muda.

Tentang Charley yang bahkan masih menjadi "anak papa", bahkan setelah apa yang dilakukan ayah mereka selama ini. Bahkan, setelah pengorbanan ibunya yang begitu besar, demi membesarkannya dan membuatnya tumbuh menjadi seseorang.

Tentang makna keluarga, dan kasih sayang melimpah dari seorang ibu pada anaknya, bahkan ketika sang anak tidak pernah menyadarinya, dan baru menyesali kejadian demi kejadian setelah ibu mereka tiada.

Pernahkah kau kehilangan seseorang yang kausayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau menganggap mereka akan selalu ada selamanya? Jika pernah, maka kau pasti tahu bahwa seberapa banyak pun kau mengumpulkan hari-hari sepanjang hidupmu, semuanya takkan cukup untuk menggantikan satu hari itu, satu hari yang ingin sekali bisa kaumiliki lagi. ---halaman 7

***

Jadi, sekarang kau tahu ada orang yang sangat menginginkanmu, Charley. Anak-anak terkadang melupakan itu. Mereka melihat diri sendiri sebagai beban dan bukan sebagai jawaban doa. ---halaman 92

Bagi saya, buku-buku Mitch Albom adalah nasihat, dan Satu Hari Bersamamu ini, adalah sebuah nasihat tentang kehidupan, tentang keluarga, hubungan anak dan orangtua. Sebuah pembelajaran berharga tentang memaknai kehidupan, seberapa pun sulitnya sebuah kisah terjalin.

Kisah ini begitu memilukan sekaligus hangat. Kau bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu mendalam, bahkan rela melakukan apa pun demi kebahagiaan anaknya. Tidak mau membuka aib yang terjadi dalam keluarga mereka, meskipun itu mengakibatkan persepsi seorang anak menjadi berbeda apabila mereka tahu yang terjadi sebenarnya. Tegar saat mendapatkan cemoohan maupun perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. Bahkan, rela melakukan apa pun demi kebahagiaan anak mereka.

"Anak-anak merasa malu karena orangtuanya." ---halaman 110

Bagian yang paling membuat saya terharu adalah ketika Posey membelikan alat cukur dan mengajarkan Chick bercukur--pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah pada anak lelakinya. Lalu, saat Chick tahu bahwa setiap Sabtu, ibunya melakukan pekerjaan yang tidak pernah diduga Chick sebelumnya. Saya nyaris menangis sewaktu membaca itu.

Namun, "Saat-Saat Ketika Ibu Membelaku" dan "Saat-Saat Ketika Aku Tidak Membela Ibu" berhasil menampar-nampar pembacanya, dan membuat saya merenung..., sudah cukupkah saya membela Ibu di saat-saat ia membutuhkan sebuah pembelaan atau bahkan sekadar mengharapkan anak-anaknya memperlihatkan wujud kasih sayang mereka kepadanya?

Bagus sekali kau bisa melewati satu hari dengan ibumu. anak-anak harusnya lebih sering melakukan itu. ---halaman 101

Buku ini indah, hangat, dan menampar naluri terdalam tentang bagaimana seharusnya kita memberikan arti dan makna terhadap keluarga.

Tetap tinggal bersama keluargamu adalah apa yang menjadikannya keluarga. ---halaman 228


Meniti Bianglala

Judul : Meniti Bianglala---The Five People You Meet in Heaven
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 208 Halaman
ISBN : 9786020333397
Cetakan kedelapan, September 2016
Rating : 5 dari 5






"Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian." ---halaman 55


Blurb:

Eddie bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, dan Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.

Pada ulang tahunnya yang ke-83, Eddie tewas dalam kecelakaan tragis ketika mencoba menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Saat menghembuskan napas terakhir, terasa olehnya sepasang tangan kecil menggenggam tangannya. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata Surga bukanlah Taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau bahkan orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita selamanya, tanpa kita sadari.

***

Eddie meninggal dunia saat sedang menjalankan tugasnya sebagai kepala maintenance di Ruby Pier. Saat itu sama seperti hari-hari lainnya. Eddie sudah melaksanakan rutinitasnya dengan baik. Namun sesuatu terjadi, sehingga membuat salah satu wahana di tempat itu rusak dan kecelakaan terjadi. Saat dia mencoba untuk menyelamatkan seorang gadis cilik itulah dia kehilangan nyawanya.

Penyebab kematian Eddie tidak disampaikan secara langsung, melainkan dalam bentuk potongan-potongan cerita yang menemani kita membaca kisah ini. Juga ditemani dengan penggalan-penggalan kisah berkesan yang terjadi di ulang tahun Eddie.


Setelah meninggal dunia, bayangan tentang surga berubah seketika karena yang ditemui Eddie adalah bianglala, tempatnya bekerja selama puluhan tahun itu. Di sana, ia bertemu dengan Lelaki Biru, dengan ceritanya yang memilukan. Si Lelaki Biru juga menceritakan sesuatu kepada Eddie. Bahwa sebelum ia bisa melanjutkan perjalanan, ia akan bertemu dengan lima orang yang berpengaruh dalam hidupnya, yang akan mengubah pandangannya terhadap arti kehidupan yang sudah dilaluinya.


Lalu, siapakah Orang Biru yang adalah orang pertama dari lima orang yang akan ditemuinya dan apa hubungannya pria aneh itu dalam kehidupan Eddie?


Pertemuan keduanya adalah dengan sang Kapten, di mana pada masa muda Eddie, dia menjadi seorang tentara dan diutus ke Filipina oleh negara. Di sana ia bertemu dengan Kapten. Kehidupan sebagai seorang tentara di daerah konflik benar-benar tidak menyenangkan. Eddie merasakan penderitaan mental yang dialaminya selama menjalani tugas tersebut. Dan Kapten, adalah salah satu orang yang membuat perubahan besar dalam hidupnya. 


Orang ketiga yang Eddie temui adalah seorang wanita di mana akan diungkapkan sebuah rahasia tentang ayahnya. Menurutnya, ia hidup jauh dari rasa kasih sayang ayahnya. Eddie yang menjalani puluhan tahun sebagai mekanik di Ruby Pier, merasa benci karena dirinya harus terkait dengan ayahnya, karena ia harus menjalani hidup yang dijalani ayahnya sebelum ia tiada. Dan kejutan lainnya menanti Eddie di sana.


Sebelum bertemu dengan orang keempat, Eddie dibawa untuk menyaksikan banyak pernikahan. Bahwa semasa hidupnya ia tidak suka dengan yang namanya pernikahan. Ia juga tidak percaya dengan cinta. Sampai suatu ketika, Eddie bertemu dengan Marguerite. Kehidupannya dengan Marguerite yang sederhana, namun penuh cinta. Hingga ia harus merasakan kehilangan saat sesuatu yang dimilikinya pergi. Pada orang keempat, Eddie belajar tentang bagaimana cinta dan betapa besar pengaruhnya dalam hidup seseorang.


Sekarang, ia sudah sampai pada orang kelima. Seseorang yang tidak terduga hadir dalam kehidupannya, memorakporandakan perasaannya. Terlebih lagi, orang terakhir yang ditemuinya mengajarkan pada Eddie bahwa segala sesuatu dalam hidup manusia, akan berkaitan dengan kehidupan orang lain juga. Bahwa tidak ada satu pun yang hidup di dunia ini tanpa memberikan arti pada kehidupan orang lain. Eddie belajar pada orang terakhir bahwa kehidupannya yang selama ini ia kira biasa saja, justru mempunyai maksud dan tujuan yang besar. Tidak hanya pada diri kita sendiri, melainkan untuk orang lain yang bahkan tidak pernah kita kenal sebelumnya.



***


Novel ini memiliki kesan spiritual yang kuat, berbicara tentang kehidupan setelah kematian. Bagaimana dari sebuah karya fiksi kita bisa memaknai kehidupan yang belum akan kita jalani itu. Membaca Meniti Bianglala, membuat kita mengalami perjalanan spiritual yang indah, tentang makna kehidupan yang sering tidak kita sadari selama ini. Tentang betapa berharganya waktu, kehidupan manusia yang saling berkaitan satu sama lain, tentang cinta, memaafkan, dan banyak lagi makna lain yang luput dari pemahaman kita sehari-hari.

Melalui Eddie, Mitch Albom mengajak pembaca melakukan perjalanan kehidupan, bertemu dengan lima orang tidak terduga, mengambil banyak pelajaran di sana. Perjalanan pertama mengajarkan manusia bahwa hidup adalah perjalanan panjang yang berkesinambungan. Ketika kehidupan seseorang harus berakhir, sesungguhnya makna keberadaannya diteruskan oleh orang lain, disadari atau tidak.


"Itu karena jiwa manusia tahu, jauh di lubuk hati mereka, bahwa semua kehidupan saling berkaitan. Kematian bukan hanya mengambil seseorang, tapi juga luput dari orang lain, dan di celah kecil antara kena dan nyaris, kehidupan berubah." ---halaman 53

Perjalanan kedua membawa Eddie bertemu dengan sang Kapten, di mana ia mengajarkan tentang makna pengorbanan yang barangkali sering luput dari kacamata pengamatan manusia. Tentang hubungan sebab-akibat yang akan mengikat manusia dalam takdir kehidupannya. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Bahkan sekecil apa pun keputusan yang dibuat dalam sebuah fase kehidupan, adalah sebuah jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk memahami makna kehidupan, makna pengorbanan, dan agar manusia dapat menggali hikmah kehidupan darinya.

Lalu Eddie melanjutkan ke perjalanan ketiga, di mana ia bertemu dengan orang yang sama sekali asing, namun memiliki hubungan kedekatan yang tidak terkira dalam kehidupannya. Tentang sebab-musabab pertalian mereka, dan juga sebagai orang yang akan memahamkannya dengan sebuah pemahaman terbaru tentang kata "memaafkan". Betapa ketika kita memiliki kebencian terhadap seseorang yang menurut kita berkontribusi menghancurkan kehidupan kita, adalah seseungguhnya sebagai tempat pembelajaran bagi kita untuk belajar memberikan maaf.


"Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri." ---halaman 145

Perjalanan keempat menyadarikan Eddie tentang makna cinta. Bahwa cinta tak akan pernah pudar dalam kehidupan manusia, meskipun orang tersebut telah tiada. Tentang betapa sebuah makna pernikahan yang semakin lama usia semakin memudar. Menyadarkan tentang cinta akan tetap ada dan mengokohkan, bahkan ketika kehidupan menghantamnya dengan menciptakan gersang yang menyerang.


Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus tergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup. ---halaman 169

Perjalanan terakhir adalah perjalanan tentang kesadaran, bahwa kehidupan adalah tentang memberi makna, tentang kehidupan yang sesungguhnya. Eddie boleh merasa bahwa hidup baginya terasa stagnan. Ia menghabiskan masa tua dengan memperbaiki dan memastikan bianglala agar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak menyadari, bahwa upaya sekecil itu adalah untuk kebaikan yang jauh lebih besar, yang tidak pernah disadarinya. Pertemuan dengan orang kelima adalah reuni jiwa dengan jiwa lain yang bahkan tak pernah ditemuinya, yang berhasil memberikan kesadaran bahwa hidup adalah jalinan takdir yang di dalamnya berkaitan dengan pemberian makna.

Sesungguhnya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan bahwa tak ada sehelai pun daun yang berguguran tanpa izin dari Tuhan. 

Terima kasih atas makna indah tentang kehidupan yang telah disajikan Mitch Albom dalam novel ini.



The Time Keeper

Judul : The Time Keeper
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 312 Halaman
ISBN : 9789792289770
Rating : 4 dari 5 





Blurb:

Dialah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertmukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu pada mereka.


***


Ketiganya, pada mulanya adalah teman: Dor, Alli, dan Nam. Hingga waktu berlalu dan mereka tumbuh menjadi dewasa. Dor dan Alli menikah, memiliki tiga orang anak, sementara Nam yang kuat menjadi penguasa kaya raya. Dor melakukan sebuah kesalahan besar yakni menghitung waktu. Dor memulai perhitungan dengan menghitung bayangan matahari, tetesan-tetesan air. Hingga dia dapat menghitung ukuran antara kegelapan dan cahaya.

Tidak ada perang tak berkesudahan antara siang dan malam. Dor telah memerangkap kedua-duanya di dalam mangkuk.
--- halaman 42

Dor dan Alli diasingkan di sebuah pulau karena Dor tidak berkenan membantu Nim dalam urusan kekuasaannya. Hal ini membuat Dor memiliki banyak waktu untuk melakukan pekerjaannya dalam menghitung waktu. Hingga suatu saat, Alli istrinya tertular penyakit dari orang yang berkunjung ke pulaunya. Dor menginginkan waktu, agar istrinya bisa disembuhkan, supaya ia bisa pergi memanggil penyembuh untuk istrinya. Saat itulah ada lelaki tua yang menghukumnya dalam masa yang teramat panjang, membuatnya mengerti terhadap pelajaran waktu yang begitu berharga. Dor terpenjara dalam gua, di sana dia dapat mendengar suara-suara manusia yang menderita; penderitaan yang ditimbulkannya karena berusaha menghitung waktu. Dia mendengar tentang orang-orang yang meminta lebih banyak waktu..., lebih banyak waktu....

Ketika manusia semakin terobsesi dengan jam-jamnya, kesedihan akibat waktu yang telah hilang menciptakan kekosongan permanen di hati manusia.
--- halaman 89

Sarah Lemon dan Victor Delamonte adalah orang-orang yang menginginkan waktu. Sarah adalah seorang gadis remaja yang pintar, namun bertubuh besar. Sarah tumbuh dari keluarga yang bercerai. Ibu dan ayahnya tidak bersatu lagi sejak ia berusia dua belas tahun. Sejak itu, ia tidak lagi dekat dengan ibunya, tak pernah mengobrol atau membicarakan tentang kehidupannya lagi. Ia menjadi sesosok gadis yang tertutup. Ia dikucilkan oleh pergaulan teman-temannya yang menilai fisik adalah segalanya. Sarah tidak pernah mengenal konsep cinta sampai ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Ethan.

Sementara Victor Delamonte, seorang konglomerat yang waktunya dihabiskan untuk mengurus perusahaannya yang banyak. Ia memiliki istri bernama Grace, namun tidak mempunyai anak dari pernikahannya. Karena kesibukannya itulah Victor didera penyakit kanker dan gagal ginjal. Waktu yang dimilikinya di dunia tersisa dua bulan lagi. Victor mencari cara supaya dia bisa memilik waktu yang panjang, ia bersedia membayar mahal dari kekayaan yang dimilikinya. Dan ia dikenalkan dengan krionika.

Dari gua, Dor mendengarkan kedua orang ini dan jutaan orang lainnya mengeluh soal waktu. Pria tua yang dulu menghukumnya kembali datang, memberi Dor sebuah misi, untuk membantu dua orang yang tengah bermasalah dengan waktu. Dor diutus ke bumi, di masa kini, jauh setelah masa kehidupannya yang dia alami dulu bersama Alli, enam ribu tahun kemudian. Dor diberi jam pasir yang dapat ia gunakan untuk mengulur waktu sehingga banyak hal yang bisa ia pelajari dalam kehidupannya di masa kini. Ia bisa memperlambat suatu kejadian, namun tidak bisa benar-benar menghentikan waktu.

Dor memilih untuk bekerja di sebuah toko jam. Di sinilah ia bertemu dengan dua orang bagian dari misinya, yang membutuhkan kehadirannya untuk sesuatu yang belum Dor ketahui. Sarah Lemon menghabiskan uang jajannya untuk bepergian jauh dari rumahnya, mengunjungi toko jam, demi memberikan hadiah kepada Ethan; sebuah jam tangan. 

Kadang-kadang, kalau kau tidak mendapatkan cinta yang kauinginkan, dengan memberi kaupikir kau akan mendapatkannya.
--- halaman 162

Sarah bertemu dengan Dor, si pegawai toko jam, dan dengan pria tak dikenal itulah Sarah menceritakan semuanya tentang Ethan. Sebuah kisah yang tidak mungkin diceritakan kepada ibunya, atau teman-temannya yang tak ia punya.

Victor Delamonte pergi ke toko jam itu, sebelum memutuskan untuk melakukan misi tentang krionika yang akan mengubah hidupnya. Ia minta dicarikan jam paling antik yang bisa ia temui di sini, untuk dibawanya dalam percobaan krionika yang akan membawa Victor melampaui masa kini. Victor butuh banyak waktu, dan yang ingin dibawa bersamanya adalah penunjuk waktu. 

Dor sudah menemukan dua orang yang akan ditolongnya itu, maka dengan kemampuan memperlambat waktu dia mengamati kedua orang tersebut. Sarah seorang gadis yang tengah jatuh cinta dan memiliki problematika keluarga, dan Victor seorang jutawan yang membutuhkan waktu lebih, karena mengidap kanker yang menggerogotinya.

Akankah Dor bisa membantu mereka? Dapatkah ia kembali ke sisi istrinya yang tengah sekarat?


***


Buku ini bercerita tentang waktu. Sebuah dongeng tentang orang pertama yang mengukur waktu. 

Bayangkan bagaimana hidup kita apabila tidak ada pengukur waktu? Kita tidak akan pernah tahu jam berapa harus berangkat sekolah atau kerja, jam berapa seharusnya pulang atau berapa usia kita sekarang. 

Tetapi di sekitarmu tak ada yang menghitung waktu. Burung-burung tidak terlambat. Anjing tidak perlu melihat jam tangan. Rusa tidak ribut-ribut tentang hari-hari ulang tahun yang telah lewat.
Hanya manusia yang mengukur waktu.
Hanya manusia yang menghitung jam.
Itu sebabnya hanya manusia yang mengalami kketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lainnya.
Takut kehabisan waktu.
--- halaman 17

Membaca novel ini, pembaca disuguhkan tentang cerita soal waktu. Bagaimana orang melihat waktu dari sudut pandang Sarah Lemon, seorang gadis yang sedang jatuh cinta, lalu patah hati. Atau dari sisi Victor Delamonte yang kehidupannya dihabiskan dengan urusan bisnis, menumpuk harta kekayaan hingga dia terlupa peran istri yang begitu mencintai dan memperhatikannya. Waktu tidak bisa membeli kesehatan yang sudah hilang dari dirinya. Waktu juga tidak bisa bertambah hanya karena persiapan Sarah untuk bertemu dengan Ethan belum sempurna. "Waktu itu bagaikan pedang, jikalau kamu tidak bisa menggunakan pedang itu, maka pedang itu sendiri yang akan menghunusmu." Begitulah nasehat Imam Syafi'i kepada kita.

Terkadang kita bertanya-tanya, mengapa waktu yang kita miliki kurang? Bisakah kita menambah waktu untuk urusan-urusan yang belum selesai? Mengapa waktu kita miliki sehari hanya 24 jam saja? Itu kurang. Tidak cukup. Mungkin kita jugalah orang-orang yang didengar oleh Dor dalam penjaranya di gua, orang-orang yang selalu mengeluhkan waktu, orang-orang yang menyia-nyiakan waktu. Dalam novel ini. tamparan halus itu begitu keras terasa. Banyak pelajaran yang bisa dihimpun dari membaca kisahnya. Tentang orang-orang yang ingin mengakhiri hidupnya, namun di sisi yang lain ada pula yang ingin memperpanjang umurnya.

Saya jadi ingat sebuah surah di dalam al Qur'an tentang waktu:


Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dengan kesabaran. [Q.S. Al Ashr: 1-3]

Betapa tentang waktu mendapatkan porsi perhatian yang penting sekali, bahwa manusia yang tidak dapat memanfaatkan waktunya adalah termasuk orang-orang yang merugi. 

Dari novel ini saya mendapatkan banyak penjelasan, dan banyak tamparan. Saya (dan mungkin juga yang lainnya) terkadang termasuk orang-orang yang lalai, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Dan waktu yang berjalan itu menebas kita dengan pedangnya. Saya, seperti juga Dor, Sarah, dan Victor, adalah orang-orang yang belajar tentang "waktu". 

Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat. Semuanya terjadi pada waktu yang telah ditetapkan.

Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya.


Terima kasih kepada Mitch Albom atas pelajaran indahnya tentang waktu, untuk lebih menghargai waktu. :)

"Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita."
"Mengapa?"
"Supaya setiap hari itu berharga."

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)