Showing posts with label John Green. Show all posts
Showing posts with label John Green. Show all posts

The Fault in Our Stars

Judul : The Fault in Our Stars
Penulis : John Green
Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : Qanita
Tebal Buku : 424 Halaman
ISBN : 9786021637395
Rating : 5 dari 5



"Terkadang orang tidak memahami janji yang mereka ucapkan ketika mereka sedang mengucapkannya."
"Benar, tentu saja. Tapi, tetap saja kau memegang janji itu. Itu-lah yang disebut cinta. Cinta adalah tetap memegang janji. Tidakkah kau memercayai cinta sejati?"

Hazel Grace adalah seorang gadis enam belas tahun pengidap kanker tiroid dengan penyebaran di paru-paru, dipaksa ibunya untuk menjalani kehidupan seperti remaja seusianya, dalam hal ini: bersosialisasi, dan tentu saja sosialisasi yang dimaksudkan ini adalah dengan bergabung di Kelompok Pendukung yang beranggotakan anak-anak pengidap kanker. Pada mulanya, Hazel bermalas-malasan menghadiri kelompok ini, yang anggotanya tidak tetap; sebagian besarnya akan menghilang setiap pertemuannya karena keadaan mereka semakin parah, atau meninggal. Di sini, mereka saling mengenalkan diri dan juga menceritakan tentang penderitaan mereka mengenai penyakit yang diidap oleh masing-masing anggotanya. 

Namun pada suatu hari, kemunculan Augustus Waters di kelompok ini, membuat kehidupan Hazel lebih berwarna. Gus—panggilan Augustus—adalah teman Isaac di kelompok pendukung, seorang pemuda tujuh belas tahun yang mengidap kanker tulang, satu kakinya telah diamputasi dan ia berjalan dengan menggunakan kaki palsu. Sementara Isaac, mengidap kanker mata. Sebelah matanya telah diangkat, dan beberapa saat ke depan, satu matanya pun akan mengalami hal yang sama dan mengakibatkan Isaac akan mengalami kebutaan total. 

Augustus Waters adalah seorang pemuda yang unik, di perkenalan pertamanya dengan Hazel, ia mengajak gadis yang selalu membawa tabung gas portabel bersamanya itu ke rumahnya untuk menonton V for Vendetta hanya karena ia mengatakan bahwa Hazel mirip dengan Natalie Portman. Augustus kerap kali meletakkan batang rokok pada bibirnya, yang mulanya itu sangat membuat Hazel marah. 

“Rokok tidak akan membunuhmu, kecuali jika dinyalakan. Dan aku tidak pernah menyalakannya. Lihat, ini metafora: Kau meletakkan pembunuh itu persis di antara gigimu, tapi tidak memberinya kekuatan untuk melakukan pembunuhan.”

Begitulah kisah mereka. Terkadang, ketiganya (bersama Isaac) mereka melakukan pertemuan di ruang bawah tanah Augustus, bermain game di sana. Ketika Isaac mengalami kebutaan dan penderitaan akibat diputuskan pacarnya yang bernama Monica, Hazel dan Gus ada untuk menghiburnya. Ini kutipan obrolan antara Gus-Isaac yang saya suka:

"Merasa lebih baik?"
"Tidak."
"Seperti itulah kepedihan. Kepedihan menuntut untuk dirasakan."

Hazel memberitahu Gus tentang buku favoritnya yang berjudul Kemalangan Luar Biasa, menceritakan seorang gadis pengidap leukemia yang begitu berarti bagi Hazel. Sayangnya, cerita dalam buku tersebut menggantung, dan pengarangnya tidak pernah membuat buku apapun sesudahnya, atau paling tidak membuat sekuelnya. Hal ini membuat Hazel sangat penasaran, ia berulang kali menuliskan surat kepada penulis buku tersebut untuk setidaknya memberitahukan ia bagaimana kelangsungan orang-orang di luar tokoh utama yang bisa dipastikan meninggal, dalam kisah buku tersebut. Namun, tidak pernah ada balasan dari sang penulis. 

Suatu hari, Augustus Waters melakukan korespondensi via email kepada asisten penulis dan secara mengejutkan mendapatkan balasan. Peter van Houten, mengundang mereka untuk pergi ke Amsterdam di mana sekarang ia berdiam, untuk menceritakan kelanjutan cerita tersebut. Sayang sekali, Keinginan Terakhir Hazel sudah dihabiskannya untuk pergi ke Disneyland tiga tahun yang lalu. Namun, pada akhirnya ia mendapatkan tiket penerbangannya dengan menggunakan Keinginan Terakhir milik Augustus. (Ps: Keinginan itu semacam keinginan terakhir di mana sebuah organisasi yang concern terhadap kanker akan mengabulkan satu keinginan pengidap kanker untuk diwujudkan.)

Dan ketika mereka bertiga—Hazel, ibunya, dan Gus—pergi ke Amsterdam, yang terjadi saat pertemuan dengan Peter van Houten tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, atau justru malah mengecewakan. Gus dan Hazel mengobati kekecewaan itu dengan mengunjungi museum Anne Frank.

Ini sudah banyak spoilernya ya =)) baiklah saya akhiri saja reviewnya sampai di sini. Jalan ceritanya amat mengejutkan, karena yang terjadi setelah peristiwa kepergian ke Amsterdam bisa dibilang tidak sesuai dengan dugaan. Dalam perjalanan menuju ending novel, klimaksnya sudah diceritakan pada tiga per empat bagian. Namun, John Green membuat kejutan dengan menyisakan satu plot sehingga membuat ending novel ini menjadi manis. 

***

Ini adalah buku pertama yang selesai di 2016, meskipun saya membacanya sudah dari bulan Desember. Semacam nyesel baru baca ini sekarang padahal belinya bulan Agustus 2014 hanya karena alasan yang cuma saya yang tahu kenapa =)) hahaha, oke ini bagian dari ke-childish-an saya. Jadi, memang saya sangat menyesal. 

Pada awalnya, saya bawa buku ini sebagai teman perjalanan ke Banjarmasin tanggal 24-29 Desember 2015. Eh ternyata sampai di sana, keponakan yang rumahnya saya tinggali selama di sana, suka baca novel, walhasil novelnya dibaca sama dia dan tiga hari selesai =)) (Agak ketar-ketir kalau dia belum menyelesaikan sebelum saya pulang, hehehe, soalnya nggak tega kalau tiba-tiba dia minta bukunya tapi nggak saya kasih karena saya saja belum selesai membacanya.)

Oke, sekarang bagian review saya:

Ceritanya.... k e r e n! Gimana nggak keren kalau bacanya aja saya ikutan ngerasa susah bernapas kayak Hazel. Saya merasa seperti menjadi Hazel, yang susah bernapas karena keterbatasan kemampuan paru-parunya. Jadi sepanjang cerita, saya seolah ikutan sakit juga. Hehehe, terlalu menghayati.

Saya punya buku ini, yang versi cover movie-nya. Ini alasan saya kenapa nggak cepat-cepat baca sebenarnya, hahahaha. Sampai, teman saya bilang: "Kenapa nggak disampul cokelat aja sih bukunya kalau emang covernya mengganggu?" =)) Tapi yah, akhirnya saya baca juga. Dan dari semua buku John Green yang saya baca, novel ini yang ratingnya paling tinggi. Saya suka.

Paper Towns

Judul : Paper Towns
Pengarang : John Green
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020308586
Tebal : 360 Halaman
Rating : 4 dari 5



Quentin Jacobsen atau Q, adalah seorang anak lelaki yang hidupnya bisa dibilang lurus dan monoton. Cita-citanya semasa kecil ingin jadi penemu, selalu hadir ke sekolah, tidak pernah membolos, selalu datang tepat waktu (yang dalam artiannya, dia selalu datang setengah jam dari waktu yang seharusnya), tidak menyukai prom, padahal senatero sekolah sedang hangat membicarakan tentang prom. Dia mempunyai dua orang teman, Ben, yang konyol, terobsesi dengan cewek-cewek cantik, namun karena olokan yang melekat padanya (pernah mengalami penyakit infeksi ginjal sehingga membuat dirinya pernah berdarah di sekolah) Bloody Ben, membuat cewek-cewek menjauhinya; dan Radar yang pintar, editor penting di Omnictionary, namun orangtuanya memiliki obsesi aneh, mengumpulkan segala macam repelika santa hitam di rumahnya. Sehingga, dia malu untuk mengajak cewek ke rumah. Namun kejutannya, di antara ketiga sahabat ini, yang memiliki pacar duluan justru si Radar.

Sementara Q sendiri, dia jatuh cinta dengan tetangganya sejak mereka kecil. Namanya Margo Roth Spielgeman, seorang gadis cantik, terkenal, namun misterius. Dulu saat mereka kecil, keduanya bersahabat, sering bermain bersama. Namun pada suatu hari, keduanya bertemu dengan mayat seorang lelaki, yang membuat Q trauma. Berbeda dengan Margo, rasa penasarannya membuat ia melakukan penyelidikan terhadap lelaki itu. Suatu malam Margo membuka jendela kamar Q dan melaporkan hasil temuannya, dan meminta Q untuk menyelidiki bersama. Namun apa yang dikatakan Q? Dia tidak ingin terlibat terlalu jauh lagi. Sejak saat itu Margo meninggalkan teman kecilnya itu.

"Margo menyukai misteri sejak dulu. Dan dalam semua hal yang terjadi setelahnya, aku tidak pernah bisa berhenti berpikir bahwa jangan-jangan lantaran terlampau menyukai misteri, dia pun menjadi misteri". (Halaman 15)

Margo tumbuh menjadi sosok yang bersinar. Sementara Q? Hanyalah cowok biasa saja yang hidupnya juga biasa-biasa saja. Tapi Q tetap mencintai Margo. Hingga pada suatu malam, Q dikejutkan dengan kedatangan Margo kembali dari jendela kamarnya. Wajahnya dicat hitam dan gadis itu juga mengenakan hoodie hitam. Dia meminta bantuan kepada Q. Jadi, malam itu, dengan mobil Q, mereka pun pergi untuk menjalankan sebelas misi yang sudah direncanakan oleh Margo.

Babak pertama, adalah ke Publix untuk berbelanja sesuai dengan daftar belanjaan Margo yang unik dan tidak biasa, di antaranya: lele, vaseline, veet, cat semprot. Lalu ke Wal-Mart untuk membeli The Club. Selanjutnya mereka ke rumah Becca, lebih tepatnya menemukan mobil Jase, mantan pacar Margo itu dua blok dari rumah Becca, mantan sahabat Margo yang mengkhiantinya dengan tidur sama pacarnya. Melakukan pembalasan dendam. Yang dilakukan Margo adalah memasang The Club di setir mobil Jase.

Babak kedua, mereka pergi ke rumah Becca. Q diminta Margo untuk menghubungi nomor telepon ayah Becca dan memberikan informasi bahwa putri mereka tengah bercinta dengan Jase di basement. Q dan Margo mengamati mereka, membawa teropong dan kamera digital untuk mengawasi apa yang akan terjadi selanjutnya. Jason Worthington keluar dengan telanjang dada dan hanya menggunakan kolor, dan ketika Q memotretnya, itu artinya mereka menyudahi babak ketiga.

Babak empat, mereka menuju ke basement, mengambil pakaian Jase siapa tahu dia bermaksud untuk kembali dan mengambil kembali pakaiannya. Lalu babak lima, meninggalkan ikan lele untuk Becca. dan dengan pesan yang tertulis: Persahabatanmu dengannya--kini terbaring bersama ikan. Margo menyembunyikan ikan tersebut di sela-sela lipatan celana pendek di lemari Becca. Dan sebagai penutup, ia menyemprotkan cat kaleng membentuk huruf M di dinding di atas meja, cara Margo untuk meninggalkan jejak petunjuknya.

Babak enam, adalah meletakkan bunga di undakan depan rumah Karin berikut permintaan maaf. Margo merasa perlu meminta maaf kepada temannya itu, yang awal mulanya menyampaikan informasi tentang Becca-Jase namun tidak dipercayainya.

Babak tujuh, meninggalkan ikan untuk Jase Worthington. Mereka pergi ke rumah Jase, dan sebuah pesan yang berbunyi: Cinta MS untukmu ini terbaring bersama ikan, juga memberikan tanda berupa huruf M dengan cat semprotnya. Babak delapan, mereka kembali ke Jefferson Park untuk menuju ke rumah Lacey Pemberton karena dia tidak memberitahu Margo tentang Jase. Margo meletakkan ikan terakhirnya, dengan pesan yang sama seperti yang ia sampaikan kepada Becca. Margo membobol mobilnya Lacey, lalu meletakkan ikan tersebut di sela-sela joknya. Dan begitu jok tersebut diturunkan, bisa dibayangkan bagaimana si ikan hancur di dalam sana. Tanda M juga diletakkan di atas mobil tersebut.

Babak sembilan, pusat kota. dan Margo mengajak Q ke SunTrust Building. "Kita harus memeriksa kemajuan pekerjaan kita. Dan tempat terbaik untuk melakukannya adalah dari puncak SunTrust Building.

Babak sepuluh, Margo mempersilakan Quentin untuk memilih korbannya. Quentin mengasumsikan, jika Margo adalah Jerman, maka dirinya Luksemburg. Namun pada kenyataannya Margo adalah Jerman, Inggris, Amerika, Kekaisaran Rusia yang punya banyak musuh karena mereka penting. Sementara dirinya, hanya duduk santai, mengurus domba, dan ber-yodel. Chuck Parson adalah orang yang dipilihnya karena dulu dia merusak kelas dansanya saat kelas enam. Mereka melumuri gagang pintu dengan Vaseline, lalu meletakkan Veet di salah satu alis anak lelaki itu sehingga alisnya yang satu rontok.

Dan babak sebelas, adalah membobol masuk ke SeaWorld. Dan mereka berdansa fox-trot, sebagai ganti dansa yang dulu tidak jadi dilakukan karena ulah Chuck Parson.

Sebelas misi mereka selesai, dan setelah membereskan sedikit kekacauan: mengisi kembali tangki bahan bakar mobil, mengelap bau lendir sisa ikan di jok belakang mobil, mereka akhirnya kembali lagi ke rumah masing-masing.

Dan hari mereka setelahnya tidak pernah lagi sama. Sejak itu Margo tidak pernah kelihatan lagi batang hidungnya. Beberapa hari kemudian ibunya memberitahukan bahwa Margo hilang, melarikan diri untuk kelima kalinya lagi. Orangtua Margo menyewa detektif untuk mencari keberadaan anaknya. Margo adalah orang yang suka meninggalkan jejak untuk dicari, petunjuk-petunjuk yang menyiratkan keberadaannya. Dan untuk pelariannya kali ini, Q merasa bahwa kepadanyalah petunjuk itu ditujukan. Poster Woody Guthrie baru yang ditempel di bagian belakang pintu kamar Margo, dan bersama kedua temannya, Q memecahkan petunjuk lain yang diberikan. Dari poster tersebut, membawanya kepada sebuah lagu yang berjudul 'Walt Whitman Niece', lalu ke buku puisi karya Walt Whitman yang berjudul Leaves of Grass dan menemukan beberapa kutipan yang ditandai dengan penanda biru pada puisi berjudul “Song of Myself”. Lalu mereka menemukan sebuah petunjuk di balik pintu, alamat yang dia yakini tempat Margo berada. Mereka pergi ke sana, sebuah toko tua yang sudah tidak berpenghuni lagi. Namun tidak ada gadis itu di sana, atau mungkin tepatnya, Margo pernah ke sana beberapa hari sebelumnya. Dari tempat itu, mereka menemukan sebuah peta yang dia tandai dan berakhir ke beberapa titik yang mengindikasikan bahwa itu adalah paper towns, atau kota fiktif yang dibuat para kartografer untuk menghindari pembajakan hasil karya cipta mereka.

Dan mereka menemukan kota tersebut. Q yakin sekali bahwa Margo ada di sana. Dengan kedua orang temannya, mereka merencanakan petualangan mencari Margo. Berita itu tersiar sehingga Lacey Pemberton yang mendengarnya, ingin ikut bersama. Gadis itu ingin membuktikan bahwa dia seorang teman, yang tidak termasuk seperti yang dibayangkan Margo kepadanya. Dan ternyata Angela, pacar Radar juga bergabung bersama mereka. Teman-temannya mau ikut dan membantu, tapi dengan syarat mereka akan kembali sebelum prom digelar. Mereka berpacu dengan waktu dan kecepatan, demi bisa sampai dan membawa pulang Margo kembali, sesaat sebelum prom.

Pada bagian ketiga buku ini, diceritakan bagaimana seru dan menegangkan perjalanan mereka. Apakah pada akhirnya mereka akan menemukan Margo di sana?

***


Selalu suka dengan karya-karya John Green, dan yang ini, lebih suka dibandingkan Looking For Alaska. Hm kenapa ya, mungkin karena penulisnya tidak hanya sekadar membuat cerita tapi juga memberikan banyak pesan terselip di dalamnya.

Menyelipkan klimaks cerita bagian awal di sampul halamn paling depan, tapi tetap membuat penasaran dan terus baca saja. Margo Spiegelman membuat Quentin keluar dari kotaknya dengan segala rencana gila yang disusunnya di sisi lain dirinya yang seorang terkenal di sekolah, populer dengan segala atribut yang melekat pada anak famous-nya SMA. Q, dengan sisi persahabatan antar-bro yang menarik (bisa jadi tambahan referensi yang punya chara cowok #tetep), dan disuguhkan pula bagaimana petualangan mereka mencari Margo yang hilang.

Di ending, well, meskipun upayanya menemukan Margo bisa dibilang tidak mudah, ternyata ... yah kita diajarkan untuk menikmati proses dan, di balik itu semua banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

Intinya, nggak sia-sia baca bukunya John Green. Banyak nilai-nilai yang disusupkan di sana.

Let It Snow

Judul : Let It Snow 
Pengarang : John Green, Maureen Johnson, Lauren Myracle
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978602011517
Tebal : 312 Halaman
Rating : 4 dari 5
WARNING! SPOILER ALERTS!!!






The Jubilee Express - Maureen Johnson [4,5]

Jubilee harus menghadapi cerita yang menyedihkan di malam natal. Kedua orangtuanya dipenjara karena terlibat kerusuhan saat membeli Flobie Santa Village (saya sampai googling dan memang, wow banget mainan satu itu), membuat Jubilee harus pergi ke tempat neneknya untuk menikmati malam natal di sana. Jubile sebenarnya enggan karena dia mau melewatkan setahun pacarannya dengan Noah, namun karena ada badai salju paling besar dalam lima puluh tahun terakhir, membuat dia pasrah untuk mengikuti titah orangtuanya yang kala itu mengutus Sam, pengacara tetangga mereka untuk mengurus kepergiannya.

Singkat cerita, Jubilee pergi naik kereta dan di sana dia bertemu dengan beberapa orang. Yang pertama adalah Jeb, seorang pria yang, kalau Jubilee tidak ingat Noah, dia pasti akan suka dengan pemuda itu. Jeb sedang patah hati karena baru saja putus dari ceweknya. Namun menyebalkan sekali, mereka dibombardir oleh sekelompok anggota pemandu sorak yang, ehem, norak, karena terus saja memamerkan manuver mereka. Juga ada yang kode-kode ke Jeb begitu. Tidak hanya sampai di situ saja, rupanya kereta mereka terhenti karena terkena dampak badai salju. Mereka terpaksa menginap di dalam kereta hingga proses perbaikan selesai.

Tidak mau terjebak di tempat ini, lantas Jubilee berinisiatif untuk pergi ke luar karena ada Waffle House, tempat yang lebih hangat dan tidak ada cheerleader noraknya. Tapi situasi bertambah parah ketika keempat belas pemandu sorak itu datang ke tempat itu juga. Mereka bermaksud berlatih handstand, formasi piramida, atau apalah itu. Namun untungnya, secara tidak terduga Jubilee bertemu dengan seorang pria bernama Stuart, yang setelah mengobrol beberapa saat malah menawarkan rumahnya untuk diinapi. Katanya, ibunya pasti akan senang banget karena sudah bisa memberikan "berkah natal" di malam natal seperti itu. Padahal si Stuart ini Yahudi.

Singkat cerita, keduanya menembus badai salju yang tinggi dengan berjalan kaki untuk sampai ke rumah Stuart. Sempat terjatuh ke dalam sungai yang permukaannya retak juga, namun akhirnya sampai juga, dan bertemu dengan ibu Stuart yang menarik. Lalu, si Jubilee-nya putus deh sama Noah dan..., yeah, mulai pacaran sama Stuart! Memang klise banget, tapi coba baca sendiri novelnya, ini cerita benar-benar manis.


***


Lama nggak ber-"kyaaa-kyaaa" baca cerita romance khas anak remaja, dan saya dapatnya di sini. Sempat pengen "nge-ABG" dengan baca teenlit/young adult buatan dalam negeri entah kenapa nggak pas aja sama saya. Mungkin karena sekarang umurnya udah nggak "bocah" lagi dan ternyata saya pasnya baca YA luar negeri (karena mereka kelewat dewasa di umur mereka segitu kali ya hahaha, dan saya udah nggak remaja lagi #gitu). Dari ketiga cerita ini saya paling suka sama kisah Jubile dan Stuart (apalagi namanya Stuart! Penting banget karena saya suka nama ini!). Menurut saya sih, menarik aja. Simpel tak terduga, dan cerita si mamanya Stuart cukup pas.


A Cheertastic Christmas Miracle - John Green [4]

Tobin, The Duke, dan JP, (oh satu lagi Keun,) adalah sekelompok sahabat. Mereka menghabiskan malam natal bersama karena orangtua Tobin yang tengah berada di luar kota tidak mendapatkan penerbangan pulang karena terkendala cuaca buruk. Pada mulanya, ketiganya hanya berniat menghabiskan malam dengan menonton film, namun sebuah panggilan telepon dari Keun yang malam itu bekerja di Waffle House, mengubah segalanya. Keun memberitahukan teman-temannya kalau ada "keajaiban natal" di tempatnya sedang bekerja malam itu, karena ada empat belas anggota cheerleader yang memenuhi tempat mereka. Keun meminta teman-temannya datang sebelum orang-orang lain mengisi tempat kosong yang masih tersedia di tempat itu.

JP tentu saja begitu bersemangat untuk pergi, Tobin juga. Tapi tidak dengan The Duke, satu-satunya perempuan dalam geng itu. The Duke benci cheerleader, dia benci cuaca dingin. Dan Tobin juga tahu pasti bahwa temannya itu benci harus meninggalkan sofa saat film James Bond sedang diputar. tetapi The Duke menyukai hash brown di Waffle House. Dan akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pergi, dengan membawa twister yang dipesan oleh Keun, untuk menarik perhatian gadis-gadis pemandu sorak itu tadi.

Dengan mobil milik orangtua Tobin, mereka memulai petualangan menaklukkan cuaca buruk dengan salju yang sangat tebal hanya untuk bisa pergi ke Waffle House. Mobil yang sempat rusak, tapi baik lagi, lalu akhirnya tidak bisa jalan sama sekali, petualangan bertemu dengan si kembar Timmy dan Tommy yang juga menginginkan tempat di Waffle House demi bertemu cewek-cewek pemandu sorak. Beberapa fakta juga baru keluar selama di perjalanan, misalnya The Duke yang sempat berkencan dengan Billy Talos. Ya begitulah. Pada akhirnya, ada yang membuat pengakuan di tempat itu dan..., jadian.

Quotes paling saya suka di part ini adalah: "Hash brown means nothing without you.


***


Kalau di cerita pertama itu kesannya cewek banget (tapi pas, nggak berlebihan si ceweknya), di sini jadi berubah ke-cowok-an #naon. Karena pakai sudut pandang Tobin yang notabene cowok, cerita tentang friendshipnya ngena, petualangannya juga oke. Suka. Tapi ada beberapa catatan yang agak mengganjal di sini. Di bagian, si Tobin mengendarai mobilnya dengan kecepatan 60 km/jam, itu saya agak rancu di sana. Soalnya kan kalau 60 km/jam termasuk nggak cepat-cepat amat sih. Dan ternyata, di lain kesempatan, translatornya pakai satuan jarak "mil" which is, nggak konsisten aja. "Km" sama "mil" itu kan dua satuan yang beda *shot*. Di Indonesia emang lazimnya pakai kilometer dan di Amerika pakai standar konversi yang berbeda. Duh Nisa bawel amat soal konversian begini ya? Ya gimana kerjaannya sehari-hari ngajar ginian, hehehe.

Tapi, benar-benar menarik kok, menceritakan soal petualangan, friendship, friendzone, yang mana ini my cup of tea banget. Tapi karena memang feelnya saya lagi girly banget, jadi untuk yang John Green selisih rating sedikit dari Maureen Johnson.


- The Patron Saint of Pigs - Lauren Myracle [2]

Addie adalah seorang cewek patah hati yang menghabiskan malam natalnya dengan memangkas habis rambutnya dan mewarnai dengan pink. Addie ini adalah ceweknya si Jeb yang ceritanya sempat disinggung banyak di cerita pertama. Mereka putus karena..., si Addie selingkuh. Addie punya dua teman cewek namanya Dorrie dan Tegan, di mana kedua temannya yang bermaksud menasehati Addie tapi Addie-nya nggak terima. Yeah begitulah.

Salah satu temannya, si Tegan, begitu tergila-gila dengan yang namanya babi. Dia berhasil memesan babi cangkir dan karena cuaca tidak bersahabat dan kebetulan malam kedua natal si Addie bekerja di Starbucks, dan juga karena Addie mau berniat untuk berubah--juga dia mau membuktikan kalau dirinya tidak seegois yang teman-temannya kira--Addie berniat untuk mengambilkan babi kesayangan temannya itu di pet shop. Tapi rupanya dengan kesibukan si Addie, dia sampai lupa, dan terlambat untuk mengambil babi itu. Sampai di tokonya, rupanya ada orang yang sudah membeli si babi (penjaga tokonya nggak tahu kalau itu babi sudah dipesan). Addie mencari siapa yang beli dan ternyata..., dia adalah salah satu pelanggan di kedai kopinya yang sempat melihat post it-an si Addie dan bermaksud untuk menjadi "malaikat" apalah. Intinya cuma mau ngetes si Addie doang.

Endingnya memang mereka, si tokoh-tokoh utama sebelumnya ketemu di Starbucks sih, dan Jeb juga. Begitulah.

***


Cerita ketiga, aduh kok nggak banget ya menurut saya. Eksekusi sebagai penutupnya kurang nendang. Cerita dari sudut pandang cewek super egois nggak ngena. Sayang banget, padahal Maureen sudah mengenalkan Jeb dengan bagus banget di cerita pembuka, dan dia punya cewek seperti Addie, aduh sayang banget. He deserves better, #halah. Tapi ini kan memang balik ke selera sih ya. Yang menarik dari saya justru bukan cerita Addie-Jeb (karena emang karakter si Addie ini nggak banget), atau si babi cangkir, tapi tentang bagaimana kebiasaan orang-orang di Georgetown yang keranjingan nyetarbak tiap pagi, sudah kayak minum teh di rumah saja. Dan ini sebenarnya wajar sih ya, saya menyaksikan banyak juga orang-orang yang doyan nongkrong dan ngopi di tempat itu, yang mana kalau sesuaikan sama kantong saya, itu nggak bakalan nutup gaji sebulan xD. Secara satu gelas kopinya aja mehong bangetttt. Ah mungkin di sana murah kali ya, mungkin seharga teh kotak atau milo kalengan, hahaha.




***


So far, ambil rata saja, bintang empat. Karena ini bukan hanya tiga penulis dijadikan satu, tapi kolaborasinya benar-benar membuat cerita utuh dan menarik sesuai karakteristik penulisnya masing-masing.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)