Showing posts with label Jepang. Show all posts
Showing posts with label Jepang. Show all posts

Girls in the Dark

Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal Buku : 279 Halaman
Cetakan Ketiga, Maret 2015
ISBN : 9786027742314
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

***

Hari itu, di salon (mungkin bahasa lazimnya sekretariat klub), klub sastra sedang mengadakan kegiatan rutin mereka. Namun, ada yang berbeda saat itu. Pertemuan itu dikhususkan untuk mengenang ketua klub mereka, Shiraishi Itsumi yang meninggal beberapa hari sebelumnya. Itsumi, meninggal dalam sebuah peristiwa misterius, dengan setangkai bunga lily sebagai petunjuknya. 

Sementara, klub sastra adalah klub eksklusif di mana ketuanya adalah Itsumi, seorang anak pemilik sekolah. Olehnya, salon diubah menjadi sebuah tempat yang sangat mewah, dengan anggota klub adalah siswa-siswa terpilih di SMA Putri Santa Maria.

Sebagai wakil klub sastra, Sumikawa Sayuri otomatis menggantikan posisi Itsumi sebagai ketua klub, juga menjadi pemandu acara rutin mereka itu. Hari itu, masing-masing anggota akan menyampaikan kesan-kesan mereka terhadap Itsumi dalam sebuah cerita pendek yang dibacakan satu per satu oleh mereka. Karena kelompok ini eksklusif, maka tanpa Itsumi, hanya tersisa enam anggota saja. Dan, kejanggalan terjadi ketika keenamnya membaca cerita mereka, dan ternyata mereka saling menuding satu sama lain tentang siapa dalang di balik pembunuhan Shiraishi Itsumi.

***

Girls in the Dark adalah buku yang saya dan Bintang pilih untuk BOOM bulan Februari. Kalian ada yang belum tahu apa itu BOOM? Bisa tengok ulasan saya di sini tentang BOOM ya. Sederhananya, BOOM ini kegiatan yang digagas oleh saya dan Bintang buat baca bareng satu judul buku yang sama setiap bulannya. 

Februari adalah bulannya cinta, kata orang-orang. Barangkali karena tanggal 14 adalah hari kasih sayang (begitu, kan?). Namun, kami justru mengusung tema thriller dalam baca bareng bulan ini, hahaha. Mungkin karena saya tidak sadar kalau bulan ini banyak yang merayakan perayaan itu, jadinya menganggap Februari sama saja seperti bulan lainnya. Setelah sukses dengan buku di bulan pertama kami, Apa Pun Selain Hujan, bulan ini pun kami berhasil menyelesaikan baca buku Girls in the Dark ini. Bulan depan? Tentu ada lagi. Nah, sebelum membahas tentang buku yang akan dibaca bulan depan, saya mau mengulas tentang Girls in the Dark dulu, ya.

***

Saya menerima tantangan dari Bintang untuk membaca genre thriller. Meskipun ini bukan cangkir kopi saya, tapi beberapa judul thriller berhasil mencuri perhatian saya, lho. Tapi, saya mau buat pengakuan dulu. Mulanya, saya kira ini buku horor, makanya takut dibaca malam-malam, hahaha. Ternyata bukan. Membaca Girls in the Dark, hanya membutuhkan waktu yang singkat kurang dari tiga hari. Barangkali karena saya cukup menikmati alurnya, dan juga ikut penasaran dengan bagaimana akhir ceritanya.

Saya juga dapat tantangan dari Bintang untuk menebak siapa pelakunya, lho. Jadi, selain cukup menikmati alur cerita, saya ingin cepat selesai untuk membuktikan apakah tebakan saya benar atau salah. Dan ternyata, benar. Whoa, kemampuan analisis saya masih terasah rupanya :p Oke, jadi, saya pun menebak-nebak bagaimana ya kira-kira prosesnya dan kenapa sampai begitu. Dan ternyata, di dalam proses mengetahui sebab-akibatnya, banyak kejutan yang tak terkira. 

Dari keenam tokoh yang bercerita (minus Itsumi yang menjadi objek oleh pencerita), saya paling suka dengan pencerita pertama, Nitani Mirei. Mungkin, karena di kisah pertama, "kedok" kisah ini belum terbongkar. Dan juga, saya menikmati bagaimana Mirei bercerita. Selain itu, karena saya sudah bisa membaca bagaimana pergerakan kisah ini, untuk jatuh hati atau bahkan berempati pada lainnya jadi sudah berkurang.

Ada beberapa poin yang menjadi bahasan saya di sini. Yang pertama, saya kurang begitu menikmati gaya penulisan novel ini. Sepertinya ada kendala di bahasa penerjemahan? Karena sepertinya bahasanya masih bisa diperhalus lagi. Kesannya seperti langsung ditranslatekan begitu saja dari bahasa aslinya. Atau, bisa jadi gaya penulisan edisi terjemahan J-Lit memang seperti ini. Entahlah, karena ini buku pertama kategori J-Lit yang saya baca. Namun, di sini Akiyoshi Rikako menunjukkan "kelas"-nya sebagai penulis thriller andal dengan alur yang tak mudah terterbak. Saya masih penasaran dengan Holy Mother yang ulasan di goodreadsnya sangat fenomenal (dan tentunya siap untuk tebak-tebakan plot lagi, hahaha).

Selain tentang itu, saya juga cukup kesulitan menghapal nama-nama tokohnya. Yang saya ingat cuma Diana, karena dia aja yang namanya cukup familier. Apalagi, nama Jepang terdiri dari dua penggal nama yang kedua-duanya sama-sama tidak familiernya. Bayangkan saja, ada enam nama yang harus diketahui, dan itu terdiri dari dua nama panggilan yang dipanggilnya berbeda berdasarkan keakraban; kalau sudah akrab memanggil namanya sendiri, kalau kurang akrab memanggil marga. Jadi, yah, saya cukup sering bolak-balik membaca lembaran sebelum dan sesudahnya, sih. (Karena masing-masing tokoh saling tuduh itu.)

Selebihnya, novel ini cukup bagus. Saya puas dengan menyematkan bintang tiga padanya.

***

REVIEW #2 Dalam Rangkaian Project BOOM [Book Anatomy] oleh Bintang @ Ach’s Book Forum dan Nisa @ Resensi Buku Nisa.



Kalian juga ikutan BOOM bulan ini dan sudah baca buku yang kita tentukan? Kalau sudah, ayo bikin review-nya dan silakan setor link review kamu di komentar di bawah postingan ini. Karena bulan genap, jadi setor link-nya di blog saya yaaa... 

Ketentuannya bisa kalian lihat DI SINI. Dan, akan ada hadiah spesial dari saya dan Bintang untuk yang rajin ikutan setor review dan meramaikan baca bareng BOOM tiap bulannya lho.

Nah, untuk bulan depan, buku yang akan kita baca adalah...



Kalau ada Me Before You di timbunan kamu, yuk baca bareng-bareng kita bulan Maret! Dan karena bukunya tebal, jadi waktu membacanya kita majukan dari tanggal 1 Maret hingga 20 Maret, nih :)

Siapkan bukunya dan mari kita BOOM-kan rame-rame! :D


Love in Kyoto

Judul : Love in Kyoto
Penulis : Silvarani 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 240 Halaman
ISBN : 9786020336305
Edisi Pertama, November 2016
Rating : 4 dari 5



Blurb:

“Adinda Melati, Satoe hari nanti, berkoendjoenglah ke Kjoto dengan kimono jang kaoe djahit dari kain sakoera ini. Akoe menoenggoemoe.” —Hidejoshi Sanada (13/11/45)

Veli, gadis yatim-piatu yang sejak kecil diasuh kakek-neneknya, adalah perancang busana yang tengah naik daun. Sepulang dari Jakarta Fashion Week, dia menemukan tumpukan surat lusuh di sela-sela koleksi kain nusantara almarhumah neneknya, Nenek Melati. Nama pengirim surat berbau Jepang itu mengusik rasa ingin tahunya, apalagi ada kaligrafi potongan ayat Al-Qur’an di dalamnya.

Bukan kebetulan, prestasi Veli sebagai desainer diganjar kesempatan tinggal beberapa bulan di Kyoto untuk mengikuti program industri budaya. Veli merasa, ini jalan untuk menambah ilmu sekaligus mencari tahu tentang Hideyoshi Sanada.

Dengan bantuan Mario, teman spesial yang sedang bertugas di Osaka, dan Rebi, kawan SMA yang sudah empat tahun menetap di Jepang, jalinan rahasia antara Hideyoshi dan Nenek pun satu per satu mulai terungkap. Penemuan ini juga membawa Veli dan Mario bertemu sosok dingin bernama Ryuhei Uehara, musisi muda shamisen, dan Futaba Akiyama, gadis pemalu penjaga kedai udon di tengah kota Kyoto. Ternyata, hubungan empat insan ini melahirkan kisah yang jauh lebih rumit dibanding cerita Hideyoshi dan Nenek Melati puluhan tahun silam.

***

Setelah berhasil dalam pergelaran busananya di Jakarta Fashion Week, Veli akan bertolak ke Kyoto untuk mendalami pengetahuannya seputar budaya Jepang terutama tentang kimono. Veli memang menyukai akulturasi budaya, contohnya saja saat fashion show kemarin, ia mengangkat tema seputar akulturasi budaya Jawa dan Jepang.

Sebelum pergi, Veli disuruh kakeknya untuk mengecek gudang, di mana mendiang nenek menyimpan kain-kain nusantara miliknya. Sang kakek merasa sedikit tidak senang ketika Veli membahas tentang Jepang. Jadi harapannya, alih-alih Veli mencintai Jepang, ia juga bisa mencintai budaya nusantara sendiri. Namun, di gudang Veli menemukan sebuah harta karun yang tidak terduga. Ada sebuah kain dengan motif sakura dan surat-surat dari seseorang bernama Hideyoshi Sanada untuk Sakura.


Pertanyaannya, siapa itu Hideyoshi Sanada? Dan juga siapa itu Sakura? Apakah ia adalah Melati nenek Veli?

Dengan adanya misteri tentang surat itu, kepergian Veli ke Kyoto jadi punya tambahan satu misi lagi. Untungnya, di Kyoto Veli bertemu dengan dua orang temannya di sana: Mario dan Rebi. Mario adalah teman lama Veli. Mario pula seseorang yang memiliki hubungan dekat dengannya, meskipun tidak ada status kejelasan hubungan di antara mereka. Di Jepang, ia tinggal di Osaka untuk urusan pekerjaan. Rebi adalah teman mereka yang sudah cukup lama tinggal di Jepang.

Atas bantuan Rebi untuk menerjemahkan surat-surat neneknya, terkuaklah satu demi satu informasi seputar hubungan almarhumah neneknya dengan seorang samurai Jepang. Dan dengan kehadiran dua orang temannya itulah membuat Veli merasakan kehidupan yang menyenangkan di Jepang. Apalagi, kehadiran Mario memberikan babak baru percintaannya yang menggantung lama. Memangnya, kenapa ya Mario tidak berani menyatakan perasaan pada Veli yang sudah sejelas matahari?

Tidak hanya itu saja, kehadiran dua orang asli Jepang, Uehara sang samurai dan seniman Kyoto, serta Futaba gadis pengelola kedai udon memberikan warna tersendiri pada kehidupan Veli dan Mario selama di sana.

***

"Orang yang fokus hanya pada hasil, ketika mereka tak bisa mewujudkan mimpi, mereka akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Tapi, orang yang menghargai proses, ketika mereka tak bisa mewujudkan mimpi, mereka akan tetap semangat maju karena proses dianggap sebagai pencapaian." ---halaman 150

Novel Love in Kyoto memiliki pembukaan yang tidak biasa, yakni dari cerita ber-setting zaman kemerdekaan. Tentang seorang tentara Jepang dan gadis pribumi; Hideyoshi dan Melati. Setelahnya, cerita berlangsung dengan setting masa kini, menampilkan sosok wanita muda yang tengah bergelut dengan pekerjaannya sebagai seorang desainer dalam Jakarta Fashion Week. Perbedaan setting waktu dan suasana ini menjadi nilai tambah yang tidak biasa dari novel Love in Kyoto.

Karakter dalam novel ini bergerak dengan dinamis. Saya menyenangi Veli yang karakternya kuat dan mendominasi kisah ini. Ia bisa membuat ceritanya menarik dan mengalir dengan santai. Sosok Veli yang tangguh, tidak berhenti meraih impiannya hanya karena satu mimpinya tercapai. Veli mewakili jiwa muda masa kini yang tak kenal lelah mencapai impiannya. Lalu Mario yang bisa dibilang nyaris sempurna. Namun, kisah cintanya harus terhalang oleh restu orangtua. Ia yang mencintai Veli sejak lama, tidak bisa menyatakan cintanya karena orangtua Mario tidak setuju dengan Veli, mengingat ibunya menganggap bahwa keluarga Veli penuh skandal. Kendala terbesar ini memberikan rintangan pada kemajuan hubungannya dengan Veli.

Lalu, penulis memberikan banyak unsur budaya pada novelnya. Dengan membaca Love in Kyoto, pembaca dikenalkan dengan beberapa kebudayaan Jepang misalnya pertunjukan shamisen, musik shakuhachi yang meneduhkan, dan juga pertunjukan lainnya. Lalu, setting tempat misalnya di Fushimi Inari disampaikan dengan apik. Potongan surah Al-Zalzalah dari masa lalu membuat banyak perubahan dan pengalaman spiritual para tokohnya di novel ini.

Menikmati Love in Kyoto, membuat pembaca disuguhkan gambaran banyak hal seputar kehidupan di Kyoto beserta banyak hal yang bisa dieksplor di sana. Sebuah novel dengan cerita yang memukau dan tidak terduga, serta pengetahuan tambahan yang bisa dinikmati di sana.

Baca juga seri Around the World with Love lainnya, dan wawancara dengan penulisnya di sini.


Winter in Tokyo

Judul : Winter in Tokyo
Penulis : Ilana Tan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 320 Halaman
ISBN : 9786020310183
Rating : 3 dari 5





"Keiko-chan."
"Hm?"
"Berhati-hatilah."
"Hati-hati? Terhadap apa?"
"Setelah kencan ini, kau mungkin akan jatuh cinta padaku." ---halaman 114


***


Blurb:

Tetangga baruku, Nishimura Kazuto, datang ke Tokyo untuk mencari suasana baru. Itulah katanya, tapi menurutku alasannya lebih dari itu. Dia orang yang baik, menyenangkan, dan bisa diandalkan. Perlahan-lahan—mungkin sejak Malam Natal itu—aku mulai memandangnya dengan cara yang berbeda. Dan sejak itu pula rasanya sulit membayangkan hidup tanpa dia.
— Keiko tentang Kazuto

Sejak awal aku sudah merasa ada sesuatu yang menarik dari Ishida Keiko. Segalanya terasa menyenangkan bila dia ada. Segalanya terasa baik bila dia ada. Saat ini di dalam hatinya masih ada seseorang yang ditunggunya. Cinta pertamanya. Kuharap dia bisa berhenti memikirkan orang itu dan mulai melihatku. Karena hidup tanpa dirinya sama sekali bukan hidup.
— Kazuto tentang Keiko



Mereka pertama kali bertemu di awal musim dingin di Tokyo. Selama sebulan bersama, perasaan baru pun mulai terbentuk. Lalu segalanya berubah ketika suatu hari salah seorang dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya....

***

Ishida Keiko bertemu dengan tetangga baru, seorang pria penghuni apartemen di sebelah apartemen miliknya, bernama Nishimura Kazuto. Pertemuan pertama mereka cukup mengesankan. Keiko yang khawatir karena penghuni baru itu tidak memunculkan diri berjam-jam setelah kedatangannya, merasa perlu untuk mengecek pria tersebut. Ternyata, Kazuto hanya kelelahan dan tidur sepanjang hari dikarenakan jetlag setelah menempuh perjalanan jauh dari New York. Setelahnya, mereka berteman akrab, bahkan tercipta hubungan pertemanan yang saling membutuhkan di antara mereka.

Keiko adalah seorang pekerja di perpustakaan, pencinta buku, memiliki kembaran bernama Naomi yang seorang model, dan terobsesi dengan cinta pertamanya yang bernama Akira. Sementara Kazuto, ia pergi ke Jepang untuk melupakan kisah percintaannya yang kandas dikarenakan orang yang ia cintai lebih memilih temannya sendiri dan mereka memutuskan untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Kazuto adalah seorang fotografer berbakat dan terkenal. Namun keberadaannya di Jepang adalah murni untuk mencari suasana baru, bukan karena pekerjaan meskipun tawaran tersebut berdatangan ketika dirinya sampai di Jepang.

Dalam pertemuan yang tidak diduga, Keiko bertemu dengan Akira yang seorang dokter, kebetulan adalah ternyata teman lama Kazuto--dan tebak, ya, cinta pertama Keiko! Keberadaan Akira membuat kisah Keiko dan Kazuto menjadi berwarna. Terlebih lagi, kejadian tak terduga yang dialami oleh Kazuto saat malam natal membuat segalanya berubah. Diperparah pula dengan kehadiran Yuri, gadis yang dicintai Kazuto, karena ada pelatihan dari kantornya yang menyuruh Yuri berada di Jepang selama satu bulan.

Bagaimana kelanjutan kisah Keiko dan Kazuto?

***

Winter in Tokyo adalah buku kedua Ilana Tan tentang empat musim yang saya baca, setelah sebelumnya saya menyelesaikan Spring in London yang bercerita tentang Naomi. Awalnya, saya agak kesulitan untuk merasa nyaman dengan gaya bertutur Ilana Tan di novel ini. Tapi syukurlah, selang beberapa halaman, ternyata saya cukup nyaman juga untuk mengikutinya. 

Mulanya saya sangat khawatir apakah novel ini akan sama dengan Spring in London yang berjalan lambat sekali dan minim gejolak. Ternyata keraguan saya sirna. Di sini, cukup banyak konflik yang membuat kisahnya cukup dinamis dan tidak membosankan. Banyak plot yang disajikan dan cukup berkesinambungan, dan membuat pembaca bisa ketar-ketir menunggu kisah selanjutnya yang disajikan oleh penulis. 

Tapi, dibalik kesuksesan novel ini (saya membaca edisi cetakan kedua puluh empat), sangat disayangkan kalau masih banyak kesalahan yang terdapat dalam buku ini. Misalnya kesalahan tanda baca: ada penulisan titik dua yang sepertinya dimaksudkan ditulis titik tiga, kurangnya titik di akhir kalimat, kurangnya spasi antarkalimat langsung dengan tanda petik, dan beberapa kesalahan lainnya. Yang menurut saya cukup fatal adalah penulisan "terbesit" yang sepertinya dimaksudkan untuk ditulis "tebersit". Ada dua kalimat kalau tidak salah yang menggunakan kata ini. Di KBBI sendiri (saya menggunakan http://kbbi.web.id/ sebagai acuan), "besit" mempunyai arti:

besit1/be·sit/, membesit/mem·be·sit/ v menyebat (mencambuk) dengan rotan
besit2/be·sit/, terbesit/ter·be·sit/ a terharu; iba; rawan: hatinya - mendengar berita itu

Sedangkan, saya yakin di dalam kalimat tersebut, yang dimaksudkan adalah "tebersit" yang berarti: 

tebersit/te·ber·sit/ v 1 terpancar samar-samar: dari matanya - kerinduan; 2 cak tersiar (tentang kabar dan sebagainya secara samar-samar): - berita bahwa dia akan menikahi bekas istrinya;

Menurut saya, ini kesalahan yang cukup mengganggu. Maafkan saya yang jadi rempong begini, hehehe. Salahkan anak-anak NIH yang lagi rempong dan membuat saya jadi editor ala-ala dan proofreader gadungan buat periksa draft pertandingan Quidditch mereka! #heh

Satu lagi yang menurut saya jadi kesalahan fatal adalah... di halaman 23, dituliskan bahwa kakek dari pihak ibu Keiko adalah orang Indonesia sementara di halaman 29, dijelaskan kalau yang orang Indonesia adalah nenek dari ibunya Keiko. Jadi, yang benar yang mana nih?

Terlepas dari itu semua, untuk bisa menyelesaikan sebuah novel dalam jangka waktu 24 jam, menandakan kalau saya cukup menyukai dan menikmatinya.

Baca seri yang lainnya di Tetralogi Empat Musim by Ilana Tan.

Evergreen

Judul : Evergreen
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 203 Halaman
ISBN : 9786022510864
Rating : 4 dari 5 



Blurb:

Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!

Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru, juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?

Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?

***

Kalian ingin selalu mengingat kenangan manis, sedangkan aku malah ingin melupakan. Bahkan aku berharap kenangan itu tidak pernah ada. Dengan begitu, tidak ada yang perlu kutangisi. --- Halaman 40

***

Rachel Yumiko River dipecat dari pekerjaannya sebagai editor di sebuah penerbitan yang terkenal di Jepang. Dia frustrasi, bukan hanya karena dia tidak memiliki pekerjaan lagi dan tidak tahu harus melakukan apa setelah ini, melainkan juga karena tidak ada seorang pun yang memedulikan dirinya. Teman-temannya pergi meninggalkan Rachel, bahkan mereka pergi liburan tanpa dirinya.

Di tengah hidup yang rumit itu, dia menemukan sebuah kedai es krim bernama Evergreen, yang ternyata direkomendasikan oleh mantan teman kantornya. Kesan pertama yang begitu hangat dan di luar dugaan membuat Rachel menjadi sering datang kemari. Di sini Rachel bertemu dengan Yuya sang pemilik kedai, dan beberapa pegawai lainnya: Gamma, yang bercita-cita ingin memiliki kedai es krim sendiri; Fumio yang selalu tersenyum padahal mempunyai permasalahan hidup yang berat sekali menyangkut penyakit adiknya, Toshi, dan ayah mereka yang menghilang; Kari, seorang gadis galak yang tidak menyukai kehadiran Rachel di antara mereka. Ada pula pria misterius yang menjadi langganan tetap kedai ini, selalu membaca buku yang sama, dan selalu hadir sehingga dia dianggap menjadi bagian dari keluarga kedai Evergreen.

Kehadiran Rachel yang pada mulanya hanya seorang pengunjung kedai saja, mendadak berubah saat dia diminta oleh Yuya untuk bekerja dengan mereka. Memang, menjadi pelayan kedai setelah mendapatkan jabatan mentereng sebagai editor tidaklah sepadan. Tapi, memangnya ada yang mau mempekerjakannya lagi setelah ia melakukan kesalahan fatal dengan pekerjaannya sehingga menyebabkan dirinya dipecat?

Setelah Rachel menjadi bagian dari mereka, satu per satu rahasia kehidupan pribadi mereka terkuak, membuat Rachel kembali merenungi sikapnya selama ini yang dikenal egois dan suka mementingkan dirinya sendiri.

***

Sejak tadi Rachel hanya memecahkan gelas.

Saya suka kalimat pembukanya, berhasil membuat penasaran dan memancing pertanyaan di benak pembaca, apa yang terjadi dengan gadis ini? Mengapa dia memecahkan gelasnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, akan membuat pembaca bertahan untuk tidak mengabaikannya sampai akhir. Tidak hanya di awal saja yang membuat penasaran, namun cara penulis menyampaikan cerita juga memancing rasa penasaran itu. 

Ada beberapa kisah di dalam cerita ini. Selain tentang Rachel, ada pula kisah Fumio dan Toshi, lalu Yuya, Gamma, Kari, dan Toichiro. Masing-masing punya permasalahan dan ceritanya sendiri. Meskipun novel ini sarat konflik, tapi penulis berhasil menceritakannya dengan pas, tidak berlebihan dan overlaping. Ini merupakan sebuah kelebihan yang patut diapresiasi. Apalagi, konfliknya tidak pasaran, dan mengejutkan. Di tengah menuju akhir sebenarnya pertanyaan-pertanyaan yang masih digantung sejak awal sudah selesai. Saya lalu penasaran sisa halaman terakhir ini penulis akan menyajikan apa. Dan ternyata..., sesuatu yang saya tidak duga sebelumnya! Brillan!

Saya termasuk yang tidak mengerti dengan Jepang dan segala seluk-beluknya. Saya tidak membaca manga, komik, atau demen dorama Jepang. Jadi, mau tidak mau saya menerima saja apa yang disuguhkan penulis di sini. Seperti misalnya bahasa-bahasanya, atau saat bercerita tentang manga yang ada di dalamnya. Meskipun harus saya akui, unsur Jepang yang sangat kentara bagi novel dalam negeri yang saya baca masih dimenangkan oleh novel 3 (Tiga) karya Alicia Lidwina.

Ada yang ingin saya kemukakan di sini, yang menjadikan alasan saya tidak memberikan bintang lima pada novel Evergreen: banyak sekali kesalahan penulisan di dalam novel ini. Miris karena tokohnya adalah seorang editor dan, maaf, ternyata di sini banyak kesalahan yang luput oleh sang editor. Misalnya saja kata "memperhatikan" di mana kalau melihat KBBI harusnya "memerhatikan". Lalu ada juga kata-kata "ktsp" yang mendapatkan imbuhan me- seharusnya meluruh, namun ditulis tidak meluruh. Ada beberapa kata "apapun" yang tidak dipisah, meskipun ada juga "apa pun" yang dipisah. (Sebenarnya saya tandai, dan tidak hanya ini saja, tapi karena peminjaman iJak habis, pas pinjam ulang hilang semua deh x'D) Mengganggu? Kalau hanya satu dua saja sih sebenarnya tidak. Tapi saya cukup lelah juga berkali-kali menjengit dan berhenti baca karena ini =)) Sepertinya yang saya baca versi iJak ini cetakan pertama, tidak tahu apakah ada perbaikan di cetakan-cetakan setelahnya. Selain itu, jenis font-nya membuat saya tidak nyaman dan ini juga sedikit mengganggu.

Anyway, terlepas dari hal-hal yang saya tuliskan di atas, buku ini sangat layak untuk diapresiasi. Banyak pesan moral yang diberikan penulis pada pembaca. Karakter Rachel yang keras kepala dan egois mengingatkan saya pada diri sendiri, dan membaca kisah ini cukup membuat saya tertampar. Banyak kalimat yang keren, salah satu yang saya suka adalah ini:


"Memaafkan. Kata yang lucu sekali, bukan? Sesuatu yang sulit sekali diberikan. Padahal dengan melakukan itu, berarti kita menyelamatkan hati kita sendiri. Pernahkah kau mendengar, bahwa ketika kau memaafkan seseorang, kau membuka lagi pintu rumah yang sebelumnya kau tutup rapat-rapat, yang telah membuat dirimu terperangkap dan kehabisan napas. Ketika kau memaafkan, kau pun bisa bernapas lagi. Dan hidup." --- Halaman 118

3 (Tiga)

Judul : 3 (Tiga)
Penulis : Alicia Lidwina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 320 Halaman
ISBN : 9786020316772
Rating : 4 dari 5 



Blurb:


“Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan.”

Kalimat Hashimoto Chihiro membekas di kepala Nakamura Chidori, bahkan setelah perempuan itu bunuh diri. Apa sebenarnya yang mengubah pandangan hidup Hashimoto sampai dia mengakhiri hidupnya? Mungkinkah karena Nakamura tidak pernah menepati janjinya? Mungkinkah karena Nakamura menyimpan perasaan kepada Sakamoto, yang seharusnya merupakan sahabat mereka?


Setelah tujuh tahun tidak bertemu, Nakamura harus kembali berhadapan dengan masa lalunya. Di antara memori akan persahabatan, janji yang diingkari, impian, dan cinta yang tak berbalas, tersembunyi alasan kepergian Hashimoto yang sebenarnya.

***


Selama kita memiliki impian yang sama, aku percaya kita akan bertemu lagi.

Tapi, jika suatu saat nanti salah satu dari antara kita ada yang tersesat dan tidak bisa menemukan jalan untuk kembali ke impian itu...
Tidak peduli meski sepuluh atau seratus tahun sekalipun.
Karena kebetulan belaka atau karena keinginan kita sendiri. 
Kita bisa bertemu. 
Di sebuah tempat di mana kita bisa melihat langit dengan lebih dekat. --- Halaman 223

***

Novel ini bercerita tentang tiga orang sahabat; Nakamura Chidori, Hashimoto Chihiro, dan Sakamoto Takahiro. 

Pada mulanya, Nakamura berkenalan dengan Hashimoto ketika sama-sama ikut kursus menggambar sewaktu kecil. Saat berada di bangku sekolah, Nakamura bertemu dengan Sakamoto. Saat itu Sakamoto masih seorang pemuda biasa-biasa saja, belum terkenal, tapi Sakamoto sudah merasa suka dengannya. Sampai pada titik di mana Sakamoto menjadi terkenal karena ketampanannya dan suka menolak banyak perempuan, Nakamura pun masih memendam rasa.

Ternyata Hashimoto dan Sakamoto sudah saling mengenal saat berada bersama di panti asuhan. Bahkan Sakamoto memanggil Hashimoto dengan "Chihiro", bukan "Hashimoto" yang merupakan nama keluarga yang lazim digunakan sebagai panggilan. Ini menunjukkan kedekatan yang membuat Nakamura cemburu. Hashimoto dan Sakamoto memiliki impian yang ingin mereka wujudkan bersama, yakni memiliki panti asuhan sendiri. Keduanya membagi impian itu kepada Nakamura. Nakamura, seorang gadis yang biasa-biasa saja, tidak cantik ataupun kaya, berada di antara Hashimoto yang pintar meskipun aneh (bahkan dikatakan agak gila oleh sebagian orang), dan Sakamoto yang tampan dan populer. 

Sejak dulu Nakamura merasa bahwa dirinya hanyalah orang asing di antara kedua sahabatnya. Namun, ada satu titik di mana Nakamura memilih untuk menghilang sama sekali dari kehidupan mereka. Ketika beberapa tahun kemudian mereka bertemu lagi, segalanya telah berubah. Hashimoto meninggal karena bunuh diri, Nakamura dan Sakamoto menghadiri pemakamannya, polisi mengusut kasus ini dan meminta keterangan Nakamura karena namanya dan Sakamoto ada di dalam agenda milik Hashimoto. Segalanya masih menjadi misteri. Pusaran masa lalu mengharuskan Nakamura masuk kembali ke dalamnya, karena banyak urusan yang belum selesai selepas kepergian Hashimoto. Banyak janji meminta untuk ditepati.

Ada sesuatu dari gumpalan daging yang terus menyeretku dalam gravitasi masa lalu, tapi kurasa aku sudah lelah hidup. Terkadang, ada saat ketika aku harus membiarkan masa lalu menenggelamkanku, supaya aku tidak lupa.
Supaya mereka tidak hilang dalam ingatanku. --- Halaman 230

***

Novel ini bagus banget.

Nggak percaya rasanya kalau ditulis oleh penulis lokal. Rasanya seperti novel terjemahan asia, mirip seperti saat saya membaca novel Please Look After Mom. Ceritanya kelam sekali, diawali dengan scene bunuh diri. Alurnya maju-mundur seperti sedang menyusun puzzle, di mana kepingannya satu per satu terbuka dan membangun cerita menjadi utuh. Plot twistnya bikin kesal. Sampai akhir bahkan saya sukar menebak apa yang terjadi di antara ketiga tokoh utamanya, atau apa yang menjadi alasan salah satu tokohnya bunuh diri.

Pada mulanya saya cukup bingung dengan penokohannya apalagi nama-nama Jepang tidak terlalu familiar. Kesan yang ditangkap juga agak membingungkan, apakah ini novel roman atau justru thriller karena bercerita tentang misteri pembunuhan? Tapi tak lama kemudian saya sudah berhasil untuk menikmati ritmenya. Kesan Jepang di dalam cerita ini melekat sekali, hingga merasa kalau ini seperti novel terjemahan. Mulai dari tempat-tempatnya, gaya hidupnya, dan hal-hal yang melekat dalam cerita ini membuat kesan Jepang melekat dalam keseharian, berhasil membawa atmosfer setting itu dengan sudut pandang orang lokal. Terkadang, ketika saya membaca novel lokal ber-setting luar negeri, penulis membawa sudut pandang sebagai seorang "turis" di sana, padahal yang menjadi tokoh adalah orang lokal atau orang yang sudah tinggal lama di kota tersebut.

Banyak pula kalimat-kalimat yang kena dan nendang (atau istilahnya quotable), membuat saya banyak sekali menandai di berbagai tempat. Terutama tentang persahabatan, cinta, atau patah hati. Sangat relatable dalam kehidupan sehari-hari.

Ada sesuatu yang hilang setiap kali kau bertemu dengan teman lamamu. Kata lama dalam istilah tersebut seolah menjadi pengekang yang membekukan lidah. Kau akan kehabisan kata-kata, bahkan meski kau menyimpan kenangan manis bersamanya. Kau tahu kau tak akan bisa kembali ke masa-masa itu, dan itulah yang membuatmu membujur kaku--mengutuk kelalaianmu sendiri untuk mengklaim balik posisi yang seharusnya sudah menjadi milikmu: seorang teman.
Tapi kau tahu kau tidak bisa melakukannya.
Kau buklanlah temannya lagi. --- Halaman 58



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)