Showing posts with label nonfiksi. Show all posts
Showing posts with label nonfiksi. Show all posts

Aku Ingin Tahu Sains 23—Bumi dan Antariksa

Judul : Aku Ingin Tahu Sains 23—Bumi dan Antariksa
Cerita & Gambar : Calvin & Elissa 
Penerbit : Elex Media 
Tebal Buku : 49 Halaman
ISBN : 9786020009223
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Antariksa (atau yang disebut sebagai angkasa luar) adalah sebuah ruang hampa yang sangat luas terdiri dari objek apapun yang ada.


Objek-objeknya termasuk ruang, waktu, galaksi, bintang, blackhole, nebula, planet, komet, meteor dan materi lainnya.

Ukuran dari antariksa lebih besar daripada antariksa yang dapat diamati sekarang yang berdiameter 93 miliar tahun cahaya atau 880 x 1026 meter.

Galaksi adalah suatu kumpulan obyek yang terdiri dari berbagai macam benda, seperti: planet, asteroid, bintang, sisa-sisa ledakan bintang, nebula, blackhole, dan sejumlah material bintang lainnya yang menempati volume ruang yang sangat besar. Semua benda-benda tersebut akan kita bahas di dalam buku ini.

***

Apakah antariksa itu?



Seperti yang sudah dijelaskan di blurb, pertanyaan-pertanyaan seputar antariksa, galaksi, bintang, kenapa galaksi Bima Sakti disebut sebagai Milky Way, nebula, blackhole, dan beberapa istilah tentang antariksa, dijelaskan secara singkat dan padat di sini, disertai ilustrasi yang beraneka warna. Sebagai buku yang ditujukan untuk segmen pembaca anak-anak, Bumi dan Antariksa memberikan pemahaman dan pengetahuan awal seputar galaksi dan antariksa. Menjadikannya buku yang informatif dan mudah dipahami.

Meskipun, ada beberapa istilah yang seharusnya bisa diubah lebih mudah lagi, agar pembaca anak-anak tidak kesulitan memahaminya. Misalnya, "densitas", itu kan bisa ditulis pakai "massa jenis". Lebih umum didengarnya.

Ada satu yang membuat saya bingung di sini, saat membahas tentang blackhole: "Tetapi bintang seperti matahari kita akan menjadi bintang kerdil putih dan tidak mampu menjadi blackhole karena massanya tidak lebih dari 10 kali massa Matahari." Nah loh. Ini bahasanya yang ambigu (antara "matahari" di awal atau "Matahari" di akhir), atau memang informasinya yang gimana gitu?


Overall, buku ini bagus dan direkomendasikan untuk dibaca. Apalagi untuk anak-anak. Gambarnya juga lucu.




Aku, Kau, dan KUA

Judul : Aku, Kau, dan KUA
Penulis : @tweetnikah 
Penerbit : Elex Media 
Tebal Buku : 204 Halaman
ISBN : 9786020205809
Rating : 3 dari 5




Blurb:


Ini bukan buku yang membahas hukum-hukum pernikahan secara agama atau secara fikih, tapi mencoba membahas pernikahan dari sisi yang mungkin jarang dilihat selama ini. Makanya @tweetnikah sengaja menulisnya dengan bahasa yang ringan dan sesederhana mungkin. 

Mungkin saja di beberapa tulisan akan Anda temui kesan nggak serius dan banyak becandanya. Namun di balik candaan itu tetap ada pelajaran yang disisipkan untuk renungan. 

***

Saya berhasil menyelesaikan buku ini dalam waktu hanya beberapa jam saja. Saat itu, saya sedang sakit (setelah kerja rodi beberapa hari di kantor) dan tidak masuk kerja. Di pagi hari yang biasa saja, karena tidak ingin hanya menghabiskan waktu dengan goleran tanpa makna (ceileh bahasanya), akhirnya saya mencari-cari buku ringan manakah yang bisa saya baca dan bisa menemani saya pagi itu. Dan saya memutuskan untuk membaca buku ini.

Saya sudah lama sekali mem-follow akun twitter @tweetnikah dan mengikuti ulasan twitter tersebut sejak lumayan tenar. Lalu, beberapa tahun belakangan, ternyata si pemilik akun menelurkan buku berjudul Aku, Kau, dan KUA. Dan ternyata, buku ini juga difilmkan lho. Mungkin karena ini pula saya memutuskan membaca buku yang ringan ini saja.

Bukunya memang ringan jika saya membandingkannya dengan buku-buku pranikah yang dibuat oleh Ust. Fauzil Adhim atau Salim A. Fillah. Namun, isinya informatif dan tidak memberikan kesan menggurui. Sehingga, siapa pun yang membaca akan mendapatkan bekal yang banyak sebagai persiapan pernikahan. Seperti yang sudah diinformasikan di blurb, meskipun ada beberapa bahasan yang kesannya bercanda, tapi konten yang dibahas memang benar-benar serius. Pembaca akan disuguhkan informasi yang membuat berpikir. Baik itu tentang hubungan percintaan, apa saja yang perlu disiapkan dalam pernikahan, dan banyak hal lainnya yang perlu untuk dibahas sebagai bahan perenungan tentang betapa pentingnya sebuah mahligai pernikahan tersebut.

Membaca buku ini, membuat saya kembali bernostalgia ke masa-masa di mana saya begitu bersemangat membahas hal-hal seputar pernikahan. Rasanya, itu bertahun-tahun lalu, deh. Waktu saya bersemangat memiliki cita-cita menikah muda (... dan ternyata belum kesampaian hingga sekarang, hahaha). Beberapa konten yang sudah saya pahami di luar kepala memang saya skip. Namun, sensasi nostalgia dan mengingat kembali pelajaran penting seputar menyiapkan bekal pernikahan itu, rasanya menyenangkan dan cukup menghibur juga.

Ada sisi yang menarik dari buku ini. Terlebih, jika @tweetnikah sedang membahas tentang followers-nya yang unik dan lucu. Saya jadi tahu ternyata si admin sampai membeli blacberry khusus untuk menampung curhatan seputar pernikahan di sana. Juga, tentang e-mail masuk yang bermaksud sama. Salut dengan kegigihan dan kesabaran admin dalam membantu permasalahan seputar pernikahan. Semoga menjadi amalan yang pahalanya tidak putus. Namun yang saya sayangkan, akun twitternya sedang mati suri. Saya berharap @tweetnikah bisa diaktifkan kembali. Supaya, para follower yang menghadapi problematika tentang ini dapat mencurahkan hatinya serta mendapat saran yang baik.

Yang saya sayangkan, ada hal-hal teknis yang cukup mengganggu dari tampilan buku ini. Misalnya saja, saat penulis menampilkan curhatan atau tweet seru dari followers-nya. Andai itu dituliskan dengan melibatkan ilustrator, tentu tampilannya akan lebih menarik dari sekadar mengcopas screenshoot langsung dari ponsel. Dan juga, gambar-gambar pendukung buku ini juga ditampilkan dengan kurang cantik dan elegan. Kesannya seperti gambar langsung comot dari google saja.

Namun, selebihnya, buku ini informatif, dikemas dengan bahasa santai dan menarik. Kontennya pun, berisi hal-hal penting yang wajib diketahui bagi yang hendak menyegerakan pernikahan. Saya rekomendasikan kepada siapa pun yang sedang menyiapkan pernikahan, atau siapa saja yang ingin memantaskan diri sebelum menuju jenjang kehidupan baru yang dinamakan dengan pernikahan.





Journey to Andalusia

Judul : Journey to Andalusia
Penulis : Marfuah Panji Astuti
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Tebal Buku : 192 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786023943913
Rating : 4 dari 5




"Andalusia itu di Turki, ya?"

Tidak banyak generasi muda Muslim yang masih mengetahui jejak sejarah Andalusia. Sebenarnya, Andalusia adalah sejarah yang paripurna, negeri sejuta cahaya, tempat segala hal hebat berawal. Islam pernah menyinari negeri itu dengan ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemanusiaan selama 800 tahun. Lebih dari 2/3 sejarah Islam ada di sana.

Kalkulus, algoritma, trigonometri, aljabar, adalah hasil pemikiran ilmuwan muslim bagi kemajuan peradaban. Tanpa penemuan-penemuan itu, tidak akan ada revolusi digital yang kita nikmati saat ini. Catatan perjalanan ini bukan sekadar menjelaskan bahwa Islam pernah berada di Andalusia, wilayah yang kini bernama Spanyol, Portugal, dan sebagian Prancis--bukan di Turki--tapi juga mengingatkan bahwa benderang itu bersumber dari Islam.

Apakah Cordoba masih berpendar cahaya? Seperti apa Mezquita? Semolek apa istana Alhambra? Semua jawabannya ada di dalam catatan ini.

***

Prolog

Apa yang kaupikirkan ketika membaca sebuah buku travel journey? Mengetahui tempat-tempat yang dituju, kekhasan kota-kota yang dikunjungi, dan juga hal menarik yang tidak didapat dari buku mana pun, baik buku sejenis atau bukan. Membaca Journey to Andalusia, bagi saya bukan hanya sekadar menjadi sebuah catatan perjalanan raga semata, melainkan membaca kisah lintas generasi, terlebih lagi tentang cerita yang berhasil menyentuh ruhani.

Buku yang bagus, menurut saya, adalah buku yang bisa membawa pembacanya masuk ke dalam perjalanan yang dilakukan oleh tokoh di dalamnya, merasakan apa yang terjadi dalam isi kepalanya, menjadi dekat dengan suasana hati mereka. Apalagi, jika buku itu sebuah catatan perjalanan.

Penulis mengantar para pembacanya untuk menjelajah negeri Andalusia dengan kemasan yang apik dan menarik. Sehingga, bagi saya selaku pembaca, bisa merasakan langsung apa yang sedang dikisahkan oleh sang penulis tersebut. Sehingga, saya akan memberikan ulasan ini dengan kalimat "perjalanan kita" alih-alih "perjalanan penulis". Karena, saya pun ingin mengajak para pembaca untuk dapat menikmati ulasan ini sama seperti ketika saya membaca buku Journey to Andalusia.

Maka, dari satu titik di peta, di benua Afrika-lah, perjalanan kita dimulai.


Maroko, si Negeri Maghribi

Ada alasan khusus mengapa penulis mengambil negara Maroko sebagai titik mula perjalanan ini. Sebuah upaya untuk menapaktilasi jejak perjuangan Musa bin Nushair dan Thariq ibn Ziyad saat menaklukkan semenanjung Iberia.

Secara umum, Maroko adalah negara bekas jajahan Prancis. Sehingga, aksen Arab di negara ini bercampur dengan Prancis. Maroko juga negeri di persimpangan Mediterania, jadi jangan heran jika penduduknya dikaruniai rupa yang menawan.

Di Maroko, banyak sekali tempat yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Masjid Hassan II.

Masjid Hassan II (Sumber Gambar)
Merupakan ikon negara Maroko yang sangat indah. Sebagian bangunannya menjorok ke Samudra Atlantik. Luasnya mampu menampung 80 ribu jamaah. Desain interiornya yang cantik, dibangun dengan kecermatan yang tinggi dan detail yang sangat rumit. Masjid ini adalah salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi jika pergi ke Maroko. Subhanallah, jadi kepingin shalat di sana.

Maroko menjadi saksi lahirnya para pejuang Islam yang hebat pada masanya. Prajurit-prajurit penakluk Andalusia lahir dari sana. Sebutlah panglima Thariq bin Ziyad. Tidak hanya itu saja, kekuatan iman yang telah tertancap membuat penduduknya yang memegang teguh ajaran Islam bahkan pada masa kolonial Prancis yang menduduki wilayah ini.

Masih dari wilayah Afrika tersebut, kita berkelana menuju dusun Al Qarawiyyin. Sebuah universitas tua berdiri sejak 859 M, bahkan sebelum Universitas Al-Azhar yang termasyhur, atau Universitas Oxford di Inggris. Tempat itu, kini dikenal dengan Old Medina. Banyak ilmuwan terkenal lahir dari tempat ini. Sebutlah Ibn Khaldun, atau Al Arabi.

Old Medina menawarkan sebuah tempat yang menarik. Universitas bernama Al Qarawiyyin berada di sana. Selain itu, banyak panorama warga lokal yang menarik untuk dikunjungi. 

Suasana Proses Penyamakan Kulit di Old Medina (Sumber Gambar)
Ya, tempat ini bagaikan oase untuk semua makhluk. Oase pengetahuan yang menjadi obor penerang manusia. ---halaman 47

Assalamualaikum Andalusia

Bagaimana perasaanmu ketika hendak berkunjung ke tempat yang sangat ingin kaukunjungi? Tentunya senang sekali. Selain senang, pasti kau sudah mencari tahu segala macam informasi serta tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Lalu, setelah mendapatkan kesempatan ke sana, apa yang terjadi? Tentu kau bahagia sekali, bukan?

Namun, yang dirasakan penulis ketika menginjakkan kaki di Andalusia adalah..., sedih. Perasaan sedih itu, menguar dan menulari saya selaku pembaca Journey to Andalusia. Sebelumnya, penulis sudah melakukan beragam riset tentang tempat ini: Andalusia, bumi di mana dahulu pernah menjadi saksi kejayaan Islam di tanah Eropa, ketika bahkan negara-negara adidaya yang kita kenal sekarang masih diselimuti kegelapan ilmu pengetahuan.

Sedih itu benar-benar terasa ketika penulis menjejakkan kaki di tempat ini, Andalusia atau yang dikenal dengan nama Spanyol. Karena, bukti dan jejak peradaban Islam di sana nyaris tak bersisa. Malaga adalah kota tujuan pertama. Kota ini tertulis dalam memoar Ibn Batuta, penjelajah muslim yang pernah melakukan perjalanan ke sana.

Local guide memberikan penjelasan tentang tempat ini, yang lalu dibantah oleh penulis. Bahwa, informasi sejarah yang disampaikan menurutnya banyak yang salah. Apalagi, tentang Daulah Umayyah. Saya merasakan apa yang dirasakan oleh penulis kala itu. Bahwa, demi menghilangkan Islam hingga ke akar-akarnya, bahkan informasi sejarah pun diputarbalikkan. Betapa nyaris tidak tersisa jejak Islam selama ratusan tahun di sana. Apalagi ketika menyaksikan tempat-tempat yang dahulunya masjid berubah fungsi menjadi gereja, atau museum.

Langkah saya terhenti. Jantung saya berdegup kencang. Saya mendongak ke atas, menatap minaret tempat lonceng itu berdentang. Hati ini terasa sedih. Dulu, dari atas minaret itu pastilah sang muadzin mengumandangkan azan lima kali sehari. ---halaman 74

Alhambra, Granada, Cordoba... riwayatmu kini

Akhirnya perjalanan ini sampai pula ke Alhambra. Sebuah istana yang luar biasa indah, menjadi salah satu UNESCO World Heritage Site, yang terletak di Provinsi Granada. Alhambra adalah puncak dari teknologi, arsitektur, dan seni yang lengkap. Keindahannya tak tertandingi, bahkan saat raja Spanyol Charles V ingin membuat istana yang mirip, bangunan itu tidak bisa mengalahkan Istana Alhambra.

Istana Alhambra (Sumber Gambar)


Untuk bagian dalam istananya sendiri, benar-benar apik dan luar biasa. Ada kaligrafi di dinding Istana Alhambra, berhias tulisan Laa haula wa laa quwwata illa billah. Lalu The Nasrid Palace yang merupakan salah  satu bangunan utama dalam kompleks istana ini. 

Palacio de los Leones (Sumber Gambar)


Perjalanan menyusuri Istana Alhambra bukanlah sekadar menghadirkan diri secara fisik di sana. Namun, jauh daripada itu, turut pula mengantarkan kisah pilu kekalahan kaum muslimin yang terpaksa terusir dari sana. Kisah menyedihkan tentang janji yang tak ditepati oleh Isabella dan Ferdinand, penguasa yang memberikan mandat untuk menghancurkan pemeluk Islam hingga sama sekali tak bersisa dari tanah Granada. Sebuah perjalanan yang memilukan, ketika bukti-bukti kejayaan Islam masih berdiri dengan gagah di sana, tetapi mengandung saksi pilu tentang kondisi umat Islam pada masanya.

Sekarang kita akan menyusuri kota Cordoba. Cordoba adalah sebuah nama, namun bagi bangsa Eropa, Cordoba bagaikan alunan nada-nada indah. Di sinilah kebangkitan peradaban bermula.

Masjid Agung Cordoba menyimpan kenangan pilu nan sendu. Sebuah bangunan megah yang beralih fungsi sebagai gereja, lalu kini berubah menjadi museum. Tidak ada pahatan ayat-ayat Allah di sana, menyisakan gambar-gambar dan patung-patung. Mihrabnya bahkan berada di balik teralis besi. Terdengar kembali lonceng dari minaret yang dulunya... pasti menjadi tempat berkumandangnya azan. Betapa, sebuah perjalanan yang mengagumkan sekaligus menyayat hati.

Masjid Agung Cordoba (Sumber Gambar)

Akhir dari Perjalanan

Perjalanan kita harus berakhir, diakhiri dengan sebuah pertunjukan tari Flamenco yang sarat makna dan kesedihan. Kisah Ziryab menemani pengembaraan jiwa penulis saat menyaksikan tarian khas dari Spanyol ini.

Tak... tak... tak... tak... tak... tak...
Dentaman itu kian bertalu-talu. Gelak tawa Ziryab, timbul tenggelam, berganti dengan derap pasukan Thariq ibn Ziyad yang mengobarkan jalan jihad. Rabbana, inikah jawaban atas tanya, apa yang terjadi di Andalusia? Sudut mata saya basah. Di hari terakhir di Andalusia, saya menyaksikan Flamenco, sebuah tarian duka... ---halaman 158

Epilog

Saya sudah banyak memberikan kesan di bagian awal tulisan ini. Bahwa, perjalanan ke Andalusia tidak hanya sekadar perjalanan fisik semata. Jauh daripada itu, banyak sekali sentuhan ruhani dan napak tilas sejarah dunia tersimpan di sini. Memberikan jejak-jejak yang perlu disinggahi. Menghamparkan remah-remah roti petunjuk untuk ditafakuri. Ini bukan hanya sekadar mengenang romansa indah tentang kejayaan Islam di masa silam. Namun, sebuah kenyataan pahit tentang runtuhnya sebuah dinasti dan hilangnya peradaban sejarah manusia.

Perjalanan ini tidak hanya berbicara tentang sebuah kisah tentang agama semata. Namun, sebuah cerita tentang kemanusiaan, rasa toleransi yang besar, dan juga sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik hikmahnya di masa sekarang. Journey to Andalusia menjadi gerbang yang menyenangkan untuk mengenang sejarah umat manusia terdahulu. Membuat saya ingin membaca buku-buku berkenaan dengan itu. 

Tidak hanya berkisah tentang sejarah saja, layaknya sebuah buku catatan perjalanan, banyak sekali tips bermanfaat yang bisa diambil jika kita ingin berkunjung ke sana. Seperti misalnya, plus-minus bepergian dengan travel agent atau berkunjung secara mandiri. Dari segi gambaran biaya yang harus dikeluarkan, tips menarik seputar tempat-tempat yang wajib dikunjungi, tentang tour guide yang hanya bisa memandu di areanya saja, dan banyak tips menarik yang wajib diketahui di sana.


Seri #YaTuhan - Ketika Harapan dan Keluhan Terangkai dalam Doa




Ini merupakan seri buku nonfiksi yang terdiri dari lima judul dengan tema berbeda, namun disajikan dengan gaya eksekusi yang sama. Sebenarnya saya ingin memberikan ulasan satu per satu, namun karena terdapat banyak benang merahnya dari kelima seri ini, akhirnya saya mengikuti jejak Raafi untuk menuliskannya dalam satu review (baca: Seri #YaTuhan, Ketika Doa Tidak Lagi Khusyuk).

Sebelumnya, saya bingung mengategorikan buku ini sebagai apa; Nonfiksi? Mungkin. Puisi? Sepertinya bukan. Kutipan motivasi? Jelas bukan. Tulisan satire? Tidak semua, karena ada yang benar-benar doa, ada yang curahan hati. Jadi, marilah kita menikmati saja bukunya tanpa perlu menggolong-golongkannya karena kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. :) #lah

Saya juga meminta maaf kalau tulisan ini akan melebar dan menyerempet ke mana-mana dan mungkin bakal agak serius, hehe (kata teman saya, biar nggak terkesan serius, kasih "hehe" di belakangngya), karena memang buku ini dinamis, lucu, satire, membuat mengerutkan dahi, membuat berpikir, membuat tertawa. Mungkin pas dengan slogan permen yang hits di era 90-an itu; manis, asem, asin, rame rasanya.

Buku ini berseliweran di timeline goodreads dengan penggalan-penggalan kutipannya yang berhasil membuat penasaran. Bikin ketawa membacanya, juga membuat "eh iya juga ya" berkali-kali, hingga akhirnya satu serinya yang bertemakan tentang desain grafis berhasil mencuri perhatian saya. Rasa penasaran membuat saya melahap kelima buku ini dengan hasil berupa pemikiran yang luar biasa. Luar biasa kompleks karena kesan yang nano-nano itu tadi hahaha.

Sebelum saya mengulasnya lebih dalam, saya punya sebuah pertanyaan. Menurutmu, apa itu doa?

Setiap orang mempunyai pengertian dan pemahamannya sendiri tentang doa. Setiap orang juga memiliki beragam cara untuk berdoa. Namun rasanya semua sepakat bahwa, doa adalah sebuah pengharapan. Ada orang-orang yang dengan mudah melisankan doanya, ada pula yang terlalu tsun untuk mengungkapkannya, ada pula yang tidak sempat berdoa, entah karena memang tidak percaya dengan kekuatan doa atau dia yakin bahwa Tuhan mengetahui apa yang ia harapkan dan inginkan lebih dari sekadar apa yang mampu ia ucapkan. Saya setuju bahwa setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk berdoa. Karena apa? Saya adalah orang yang percaya bahwa doa merupakan penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan hubungan ini benar-benar intim, dan sifatnya pribadi. Tidak ada yang tahu selain dirinya dengan Tuhan, kan? Meskipun, saya yakin setiap agama memiliki adab yang baik tentang bagaimana sebaiknya berdoa agar doa kita dikabulkan Tuhan. Dalam Islam, ada waktu-waktu khusus di mana doa akan mustajab jika dilantunkan. Ada tempat tertentu yang juga membuat doa lebih segera sampai. Apa saja itu? Yuk belajar lagi hehehe.

Kata-kata adalah doa. Dan doa itu mengandung harapan. Bukankah hidup kita tidak akan bermakna jika tidak dihiasi dengan satu harapan menuju harapan-harapan lainnya? Berarti, tanpa kita sadari, hidup kita pun adalah rangkaian dari satu doa ke doa yang lain, satu upaya mewujudkan harapan-harapan yang kita miliki. Dalam mengeluh kita mengekspresikan doa, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan pun sebenarnya terselip doa. 

Eh, kenapa jadi bahas doa? Ada hubungannya dengan buku-buku ini nggak sih? Tentu saja ada. Menurut saya. 

Saya senang dengan buku ini, karena kata-kata satirenya berhasil menggelitik pemikiran. Juga mengemukakan kritik sosial yang disampaikan dengan cara unik, dan juga berbeda. Sebuah ungkapan kegelisahan seorang hamba tentang fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupannya. Berharap? Mengucap nama Tuhan. Sedih? Mengingat Tuhan. Terhimpit? Berdoa pada Tuhan. Dengan teguran secara halus agar selalu mengingat Tuhan di mana pun dan kapan pun (meskipun terkadang tulisannya konyol sampai teman saya merekomendasikan buku lain yang lebih baik saya baca ketimbang memaknai sindiran halus dari buku ini), buku ini berhasil membuat saya tertawa sekaligus berpikir, merenung sekaligus tertampar. Mengingat Tuhan sadar maupun tidak sadar.

Saya urutkan penjelasan buku-bukunya dari urutan membacanya ya.

***

#YaTuhan,
desain grafis,
deadline,
doa.

Adityayoga & Zinnia | 80 hal | 9786020334233 | bintang 4 | baca via SCOOP


Karena sedang mengerjakan tulisan yang ada hubungannya dengan desain grafis, buku inilah yang pertama saya baca sekaligus mengawali baca seri-seri lainnya. Buku ini benar-benar bermanfaat sekali, menyajikan banyak informasi tentang dunia perdesaingrafisan seperti deadline, perbedaan cara pandang antara klien dan desainer, revisi desain, dan hal-hal yang orang awam anggap remeh dan tidak mengerti tapi begitu penting bagi desainer seperti: pemilihan font, shadow, grid. Saya juga jadi kenal Eric Widjaja, tahu apa itu kode Pantone, CMYK, warna emas tidak mungkin tampil di screen komputer. Loren ipsum benar-benar bikin ngakak. Dan terutama, informasi tentang jenis-jenis font yang sangat bermanfaat bagi tulisan saya.


Ya Tuhan,

Terima kasih telah Kauhadirkan
Helvetica di dunia ini dan....

Terkutuklah wahai Comic Sans.

Amin


desain grafis, deadline, doa\47



Favorit saya... tentu saja ini =))

Ya Tuhan,

Semoga jodoh saya dapat 
membedakan Helvetica dan Arial

hmmm....

Minimal bisa membedakan
antara magenta dan pink deh...

hmmmm....ya sudah deh Tuhan...
Yang penting berikanlah
saya jodoh saja deh....

Amin


desain grafis, deadline, doa\61


(Ya Tuhan, saya bisa lho membedakan Helvetica dan Arial. Saya juga bisa membedakan magenta dan pink. Ya sudah deh, yang penting berikan saja jodoh saja deh Tuhan. Aamiin.)



#YaTuhan,
ponsel,
.3gp,
doa.

Adityayoga & Zinnia | 76 hal | 9786020334349 | bintang 4 | baca via SCOOP


Jika judul sebelumnya bertemakan dunia desain grafis, yang ini mengambil tema tentang teknologi. Hubungannya sama ponsel, gawai, pulsa, sinyal, internet, terlebih tentang hal-hal yang berhubungan dengan sosial media. Dan tidak bohong, judul .3gp benar-benar memancing, hahaha, karena itu dikait-kaitkan sama hal-hal yang saru, meskipun ternyata judulnya cuma pancingan saja. Buku ini lebih kepada pahit-getir-manis-nya dampak teknologi dan orang-orang (manusia) di balik alat teknologi canggih yang mereka punya. 


Ya Tuhan,

Sebetulnya dia merhatiin nggak sih,
dari tadi saya cerita ngalor 
ngidul sampai jempol kram
dan dia cuman jawab:
:)


ponsel, .3gp, doa.\22



Yang jadi favorit saya yang ini nih =))


Ya Tuhan,

Maafkan saya telah menjadi online
stalker, sekarang saya menyesal jadi
tahu dia lagi seneng sama orang lain....


ponsel, .3gp, doa.\61


(Ya Tuhan, kok sedih. Saya juga kepingin seneng sama orang lain juga Tuhan. Aamiin.)



#YaTuhan,
lapar,
gosong,
doa.

Adityayoga & Zinnia | 76 hal | 9786020334264 | bintang 3 | baca via SCOOP


Di sini judul depan sama judul dalam nggak sinkron, di dalam tulisannya "sejumput doa". Tapi nggak masalah, nggak ngaruh juga sama isinya, tapi ya kalau bisa diperbaiki edisi selanjutnya hehehe. Bertemakan seputar dunia kuliner, mengambil bahan tulisan tentang masakan yang keasinan, diet, pesan makan via online, macam-macam deh. Tapi bisa dibilang yang ini kurang seru dan nendang dibandingkan seri lainnya.


Ya Tuhan,

Apa bedanya infused water dan
air kobokan di warung pecel ayam....


lapar, gosong, sejumput doa.\15



Ya Tuhan,

Pengen ayam fret ciken....


lapar, gosong, sejumput doa.\15



Favorit saya yang ini hahaha =)))


Ya Tuhan,

Bila ia menjadi rawon,
jadikanlah aku telor asin.

Amin


lapar, gosong, sejumput doa.\14



#YaTuhan,
monas,
macet,
doa.

Adityayoga & Zinnia | 76 hal | 9786020334271| bintang 3 | baca via SCOOP


Buku ini mengambil tema seputar kehidupan di Jakarta. Kemacetan, urbanisasi, ojek online, dan perkara seputar kehidupan kota Jakarta. Satire, banyak menyindir, dan membuat berpikir. Meskipun saya tidak tinggal di Jakarta, namun karena pernah hampir sebulan di sana, saya jadi tahu bagaimana kehidupan sehari-hari di ibukota negara tersebut.


Ya Tuhan,

Berikanlah kesabaran pada
teman-teman kami yang bertato
dari pandangan sinis ibu-ibu
yang alisnya ditato,


Amin


monas, macet, doa.\38


Ya Tuhan,

Lindungi perairan Jakarta dari proyek
reklamasi yang tidak bertanggung
jawab terhadap alam dan nelayan.

Amin


monas, macet, doa.\65




Favorit saya yang ini. Aduh nggak ngerti lagi. Saya lempar yang ini ke twitter yang mana banyak teman saya tinggal di Jakarta dan serius kalian nggak pernah naik ke Monas? =)) Saya lho sudah dua kali =))


Ya Tuhan,

Apa sih rasanya naik ke
puncak Monas?


Saya belom pernah....


monas, macet, doa.\32


#YaTuhan,
kamu,
aku,
doa.

Adityayoga & Zinnia | 76 hal | 9786020334240 | bintang 3 | baca via SCOOP


Ini temanya tentang jodoh. Ada yang diperuntukkan untuk yang jomblo, ada yang untuk berpasangan, yang selingkuh, pokoknya tema ini tentang relationship. Ada doa yang saya amini dengan serius, ada yang nggak saya amini, banyak yang cuma ketawa-ketawa geli, begitulah. Cocok buat galau-galauan di segala jenis hubungan.


Ya Tuhan,

Berikan aku pencerahan,
sebetulnya aku siapanya dia sih....

Amin


kamu, aku, doa.\24


Ya Tuhan,

Berikanlah saya jawaban tentang
apa yang ada di pikiran dia,
mengapa kemarin tanggapannya
seperti memberi harapan tapi sudah
seminggu ini malah menghilang....

Amin


kamu, aku, doa.\31


Ya Tuhan, 

Berikanlah pencerahan, saya harus
ngasih "kode" apa lagi sih, kenapa dia
kayaknya nggak nangkep-nangkep
kalau saya suka dia?

Amin


kamu, aku, doa.\19


Favorit saya yang ini =))


Ya Tuhan, 

Ketika aku merasa kehilangan dirinya, 
haruskah aku buat surat kehilangan 
di kantor polisi? 


Amin


kamu, aku, doa.\18




***

Sebagai kalimat penutup, kata Tuhan dalam salah satu sabda-Nya; “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. Al Mu'min : 60). Jadi, berdoalah kamu, ingatlah Tuhanmu dalam setiap waktu. Saya membaca ini, sambil ketawa-ketawa, seru, lucu, menghibur, tapi semoga akan selalu menyadari, bahwa kehidupan kita tidak lepas dari harapan, keluhan, kekesalan, impian, dan berbagai macam ekspresi lainnya. Namun, semoga tetap selalu ingat akan Tuhan di mana pun berada. Walaupun sering lupa, walau banyak dosa, walau sering tidak sadar kalau hidup kita penuh dengan serangkaian doa, semoga di waktu mendatang semakin terus ingat sama Tuhan.

Semoga tidak ada yang mengatakan kalau buku ini tentang olok-olokan doa, karena memang seharusnya kita bisa mengambil sudut pandang yang berbeda untuk mencari sebuah makna. Bacaan yang pas, menghibur, lucu, manis, dan bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat.


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)