Showing posts with label Ngobras Buku. Show all posts
Showing posts with label Ngobras Buku. Show all posts

[#BBIHUT6] Hogwarts Will Always Be There to Welcome You Home

(sumber)

Saat memikirkan tulisan bertema Literatourism untuk posbar BBI HUT 6, saya memikirkan beberapa setting tempat dari novel-novel yang saya pernah baca. Beberapa memang memiliki kesan yang mendalam, terutama bagi novel-novel berlokasi luar negeri. Saat membaca Inferno karya Dan Brown, saya kepingin menyusuri lokasi-lokasi yang dikunjungi Robert Langdon dan Sienna Brooks. Ketika membaca San Francisco milik Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, saya pun kepingin menyusuri jembatan San Francisco yang terkenal itu. Perasaan yang sama muncul ketika saya menikmati Rooftoppers karya Katherine Rundell. Penulis memukau saya dengan ide menikmati pemandangan Menara Eiffel dengan cara yang jauh berbeda. Namun, dari semua buku-buku yang memikat hati saya itu, tidak ada magnet yang sedemikian kuatnya menarik saya untuk membuat list tempat impian, kecuali serial Harry Potter.


Play dulu, yuk, videonya, biar semakin greget baca tulisannya.


Mari kita mulai tulisan ini dengan membubuhkan kutipan dari JK Rowling ini:


“Whether you come back by page or by the big screen, Hogwarts will always be there to welcome you home.” 

Saya selalu senang saat melihat teman-teman saya mengunjungi The Wizarding World of Harry Potter di negara mana pun. Meskipun sempat tebersit perasaan iri karena saya juga sangaaaat kepingin ke sana, tapi saya senang dengan kebahagiaan mereka. Syukurnya, memiliki banyak teman Potterhead, membuat saya tahu bagaimana senangnya mereka saat kembali ke rumah. Mengenakan jubah asrama, syal, tanpa ragu (atau dianggap aneh) saat mengacungkan tongkat sihir, meminum butterbeer, tersesat di Diagon Alley. Rasanya, pasti menyenangkan, dan menjadi pengalaman tak terlupakan.

Saya mendapatkan banyak informasi tentang akses menuju ke Universal Studio baik yang di Osaka ataupun di Orlando. Barangkali, informasi itu baru akan saya baca dengan saksama jika cita-cita mengunjungi The Wizarding World of Harry Potter semakin dekat. Jadi, saya tidak akan bahas di sini. Oleh karenanya, tulisan ini bukan untuk memberikan tips atau sejenisnya. Lalu, tulisan ini tentang apa...? Seperti yang sudah saya singgung di awal, ini adalah semacam wishlist. Dalam hati saya berdoa, baik ketika melihat foto-foto teman yang berkunjung ke sana, juga saat menulis ini, dan ketika membacanya nanti, bahwa semoga, suatu saat saya akan berkunjung ke semua Universal Studio yang ada The Wizarding World of Harry Potter-nya. (Juga ke King's Cross Station yang ada di London.)


Sebelum ke Hogwarts, lewat sini dulu. Sudah siapkah koper dan peralatan sekolahmu?


Lokasi: King's Cross Station, London (sumber)


Jika ada yang belum lengkap, yuk belanja dulu di Diagon Alley. Kalau kehabisan uang, Bank Gringotts siap sedia mengisi pundi-pundi Galleon-mu. 


“Gringotts was the safest place in the world for something you wanted to hide—except perhaps Hogwarts.” 

Lokasi: Universal Studio Orlando, Florida (sumber)

Belum punya tongkat sihir? Atau tongkat sihirmu rusak? Mampir dulu di Ollivander's. Wand Shop. Tepercaya sejak 382 Sebelum Masehi.


"The wand chooses the wizard, Mr. Potter. It is not always clear why."


Lokasi: Universal Studio Osaka, Japan (sumber)

Kalau merasa lelah berbelanja, ngaso dulu, yuk di Kuali Bocor. Ngopi? Nge-butterbeer, dong. (Ups, kalau nggak bisa pastikan halal atau tidaknya, pinjam minuman orang aja buat foto-foto, *yha*)


Lokasi: Orlando, Florida (sumber)
Nah, seperti ini, nih!


Foto: Tom Felton saat pembukaan TWWoHP di Jepang (sumber)

Apakah perbekalanmu sudah siap semua? Tanggal 1 September, waktunya kembali ke Hogwarts! Jangan sampai ketinggalan kereta! Jika sudah melintasi Peron 9 3/4, Hogwarts Express siap membawamu kembali ke rumah.


Lokasi: Universal Studio Orlando, Florida (sumber)

Dan tentu saja... Hogwarts!


Lokasi: Universal Studio Orlando, Florida (sumber)
Lokasi: Universal Studio Osaka, Japan (sumber)

Suatu saat, semoga saya bisa ke tempat-tempat di atas. Amin.






Postingan ini disertakan dalam #BBIHUT6 Blog Buku Indonesia dengan tema: Wishlist Destinasi Wisata Literatur (Literatourism).


[#BBIHUT6] Mengapa Bukunya Diberi Rating Rendah?

Saya memulai petualangan membaca di tahun ini dengan pengalaman yang menyenangkan. Pada bulan Januari, saya membaca buku-buku berbintang tiga dan empat. Barangkali, itu merupakan pertanda baik bahwa saya akan menemukan banyak buku bagus yang saya baca di tahun ini. Namun rasanya petualangan itu tidak asyik kalau tidak menemukan tantangan, benar begitu? 

Dari petualangan membaca buku tersebut, saya mendapatkan buku-buku yang berbintang rendah. Bukan berarti buku itu tidak bagus, hanya saja, tidak memenuhi ekspektasi dan standar saya. Karena, bagus atau tidaknya sebuah buku itu relatif. Dan saya percaya, sebuah buku pasti akan menemukan pembacanya. Jadi, jika bagi saya buku-buku itu berbintang satu atau dua, belum tentu ketika dibaca oleh orang lain akan bernasib sama.

Source pict, edited by me


Saya mau mengemukakan alasan pribadi dulu kenapa buku-buku itu bisa mendapat sambutan kurang menyenangkan oleh saya. Alasan tersebut di antaranya adalah:


1. Kelogisan

Sebagai seorang pembaca kritis (atau anggap saja begitu, hahaha), kelogisan cerita sangat memegang peranan penting bagi saya. Bukan berarti mutlak sih, sebenarnya. Saya memiliki batas toleransi tentang kelogisan sebuah cerita. Kalau ada yang cacat logika sedikit saja, barangkali masih belum menjadi masalah. Tapi, jika yang di luar logika itu terlalu banyak, aduh... ampun, deh, biasanya saya langsung berapi-api untuk memberikan ulasan tentang kecacatlogisannya. Meskipun saat apinya membara saya sudah sediakan tabung pemadam kebakaran supaya nggak kebakar duluan, hahaha.

Kita selama ini sudah terlalu sering dibodohi oleh sinetron-sinetron maupun FTV. Cewek miskin tapi wajahnya seperti habis dari salon kecantikan rutin setiap minggu. Pekerjaan pemulung tapi bajunya bagus, dan lain sebagainya. Itulah mengapa, saya kesal kalau harus mendapatkan hal-hal yang cacat logika seperti ini di buku.

Contohnya bagaimana sih yang menurut saya cacat logika itu?

Misalnya begini, sebuah karakter yang tidak digambarkan latar belakang kehidupannya dari kaum berada dan tidak mengesankan bahwa dirinya seorang dari kalangan jetset atau kaya raya, tapi bisa dengan mudah berkeliling dunia. Mungkin saat orang lain susah mencari rezeki, bagi karakter tersebut rezeki bisa dengan mudah datang seperti memetik daun. Mungkin.

Atau, seorang tokoh yang digambarkan sehari-harinya bekerja di tempat tertentu (atau sedang sekolah/kuliah), tapi malamnya dia memiliki pekerjaan cukup berat lainnya hingga mengambil waktu yang terlalu banyak baginya. Tapi dia baik-baik saja, tidak pernah sakit. Nah, coba bayangkan kalau itu terjadi pada diri kita sendiri. Sanggupkah kita menjalani hal-hal seperti itu? Kalau saya sih, no. Kerja biasa saja sering sakit, apalagi kerja lebih dari enam belas jam sehari. Barangkali memang ada yang demikian, dan banyak orang yang mengalaminya. Tapi, harus ada alasan yang logis untuk bisa menerima yang seperti itu. Contohnya, si tokoh punya stamina yang baik, si tokoh punya alasan yang sangat kuat dia menjalani kehidupan yang seperti itu hingga pekerjaan berat tersebut menjadi tidak terlalu berat karena alasan tersebut. Jika hubungan sebab-akibatnya bisa masuk ke logika, saya rasa tidak masalah. Tapi, yang kita bahas di sini kan yang tidak masuk di akal sehat ya, jadi, yaaa... begitulah.


2. Keluar dari batas koridor SARA

Ups, bukan berarti saya menyatakan diri bebas dari bacaan berbau SARA. Saya tipikal yang senang mengeksplor dan mengembangkan genre bacaan. Termasuk buku-buku berating dewasa dengan adanya adegan kipas-kipas di dalamnya, saya sesekali membacanya. Namun, saya punya batasan atau koridornya di mana kalau sudah lepas dari koridor itu, maaf saya kalau buku tersebut jadi saya kategorikan sebagai buku low rated. Novel dewasa yang adegan seksnya tidak sesuai dengan plot atau justru menjual hanya adegan itu pada novelnya semata--dalam artian bukan menjual plot secara keseluruhan, siap-siap saya berikan bintang rendah untuknya.

Dan tentang SARA, bukan melulu membahas tentang seks semata. Banyak hal yang berada dalam koridor ini. Buku-buku penuai kebencian yang menurut saya terindikasi memberikan ruang untuk menyalurkan kebenciannya itu, sudah pasti langsung saya nobatkan sebagai buku-buku berating rendah.

Untuk itu, biasanya saya coba menghindari buku-buku jenis ini. Bukan berarti saya mengurung pemikiran dan pemahaman saya, hanya saja, saya memang perlu memiliki batasan terhadap buku-buku yang saya baca. Misalnya, saya menghindari buku-buku berbau LGBT apalagi kalau ada adegan seksual di dalamnya. Tidak, terima kasih.


3. Genre berbalik arah

Saya tidak suka dengan buku yang di tengah-tengah, genrenya berubah. Misalnya, kisah persahabatan remaja yang mendadak berubah menjadi thriller. Atau, novel roman yang berubah haluan menjadi misteri tanpa ada petunjuk apa pun tentang perubahan genre itu. Sudah cukup lah ya di dunia nyata ditipu oleh banyak hal, apalagi cinta (eaaa...) jangan juga ditipu dengan genre buku yang berubah-ubah begini. Kalau tipuannya berhasil, mungkin bisa mengobati kekecewaan. Tapi kalau tidak...?


4. Ceritanya terlalu drama

Sebenarnya ini relatif. Ada buku-buku dengan kadar drama yang overdosis tapi saya masih bisa menikmati dan senang membacanya (contohnya, Kereta Api Terakhir karya Mira W). Namun, di luar kasus khusus tersebut, biasanya saya tidak terlalu menikmati novel-novel dengan drama yang kebanyakan. Barangkali, memiliki banyak plot maupun sub-plot dalam novel itu perlu agar setiap lembaran demi lembarannya pembaca tidak dibuat kebosanan. Hanya saja, jika plot-plot itu didramatisir, rasanya jadi tidak seru lagi. 


5. Karakternya Gary Tsu atau Mary Sue

Silakan googling kata ini kalau belum tahu artinya, ya. Intinya, adalah membuat karakter teramat sempurna. Misalnya karakter fantasi di mana tokohnya bisa terbang, membaca pikiran orang, bisa menyihir, bisa menghilang, cantik, kaya, modis, terkenal, pintar, semuanya ada dalam satu tokoh. Kalau sudah menemukan buku berkarakter begini, rasanya malas sekali. Kesempurnaan kan hanya milik Allah swt.

Karakter Gary Tsu atau Mary Sue membuatnya susah untuk mendapat simpati. Apa lagi yang harus disimpatiin kalau hidupnya sudah terlalu sempurna: kaya, cantik, punya suami tampan dan mapan, punya anak lucu-lucu, liburan selalu ke tempat yang eksotis di sepenjuru dunia? Barangkali kembali lagi, bahwa karakter dalam novel adalah refleksi dari kehidupan nyata. Mungkin ada karakter-karakter demikian di kehidupan nyata. Namun, kembali lagi, apabila karakter tersebut tidak bisa merebut simpati pembacanya, saya rasa tidak banyak yang bisa dilakukan lagi untuk menikmati kisahnya.

Ada satu lagi yang menurut saya kurang menyenangkan, meskipun agak melenceng dari alasan yang ini. Yaitu ketika penulis terlalu mengagung-agungkan karakternya. Terasa kok, saat membacanya. Misalnya, ada keberpihakan si penulis pada karakter tertentu dan mematikan peran karakter yang lain. (Ah ini sudah tidak nyambung dengan Gary Tsu dan Mary Sue, jadi pembahasannya tidak akan saya perpanjang lagi.)


6. Terlalu banyak typo

Typo alias kesalahan penulisan adalah momok bagi para penulis. Saya saja, bahkan saat menulis ini menemukan banyak kesalahan penulisan (sebelum diperbaiki). Buku yang memiliki banyak kesalahan penulisan tentu akan menurunkan semangat membaca. Meskipun, pada beberapa kasus, typo ini masih bisa ditoleransi. Apalagi kalau kisahnya menarik. Tapi, kalau sudah banyak minusnya ditambah dengan banyaknya kesalahan penulisan, saya rasa susah untuk memberikan bintang yang banyak untuk buku tersebut.

Kalau di bawah lima, masih wajar, karena manusia tidak luput dari yang namanya kesalahan. Kalau lebih dari sepuluh, sepertinya ini masalah serius.


Itu dia alasan yang bisa saya kemukakan mengapa ada buku-buku yang saya beri rating rendah. Meskipun, sebenarnya saya cukup ramah dalam memberikan penilaian terhadap buku. Padahal, standar saya cukup tinggi untuk menilai buku. Percayalah, di balik bintang yang rendah, bukan berarti si penulis tidak berhasil dalam menuliskan bukunya, hanya saja mungkin pesannya tidak sampai ke saya. Barangkali, akan sampai ke yang lainnya. 

Penilaian terhadap suatu buku memang subjektif, itulah mengapa di awal saya mengatakan bahwa buku pasti akan menemukan pembaca yang tepat baginya. Untuk itu, biasanya jika ada kriteria buku-buku yang tidak sesuai dengan standar pemberian bintang saya, saya memberikan ulasan dengan jujur disertai dengan alasan-alasannya. Agar di kemudian hari, alasan itu bisa menjadi pertimbangan dan saran membangun bagi karya-karya selanjutnya.

Bagaimana dengan kalian, apa alasan kalian memberi rating rendah terhadap suatu buku?



Postingan ini disertakan dalam #BBIHUT6 Blog Buku Indonesia dengan tema: Tips dan/atau Pengalaman Seorang Pembaca.

[#BBIHUT6] Karakter Fiksi Bernama Ethan

Saat membaca, saya biasanya sering menemukan detail yang barangkali tidak terpikirkan oleh yang lain. Misalnya, kemiripan nama dari buku-buku yang saya baca rasanya memang tidak mudah dilupakan oleh saya. Barangkali juga bagi para pembaca lainnnya. Lalu, mengapa saya membuat tulisan dengan tokoh bernama "Ethan"? Apakah nama itu istimewa dalam hidup saya? Ah, tidak juga, hahaha.

Pada gambar: Ethan Hawke (Aktor, Penulis, Sutradara)

Saya hanya punya satu kenalan bernama Ethan, itu pun sosok yang tidak nyata. Ethan adalah nama karakter rekaan teman saya di salah satu forum role playing fiction. Setiap buku berkarakter Ethan, saya selalu memberitahunya dan mengatakan kalau namanya jadi pasaran, hehehe. Tentu saja dalam koridor candaan. Pada kenyataannya, belakangan saya sering menemukan nama Ethan dalam karakter fiksi yang saya baca. Dan akhirnya, saya membuat ulasan ini karena menurut saya ini menarik. Setidaknya bagi saya, nama Ethan tidak cukup familier. Tidak seperti nama Ana, Sophie, atau Mia, misalnya. Namun ternyata, nama ini lagi booming dijadikan sebagai nama karakter fiksi (nah, unik, bukan?).

Inilah dia novel-novel fiksi yang salah satu tokohnya bernama Ethan:





Ethan adalah salah satu karakter di novel remaja Fairly. Di sini, sosok Ethan digambarkan sebagai cowok Luna, salah satu tokoh utama di sini. Ethan yang posesif, anak orang kaya, dan boleh saya katakan (menurut pendapat pribadi) bahwa Ethan adalah karakter yang menyebalkan; terlebih-lebih, dia cowok gila dan psikopat. Bagaimana tidak, si Ethan ini berani melakukan apa pun demi memuaskan keinginannya. Dan keinginan tersebut, cenderung tidak masuk akal. Seperti misalnya, memaksa untuk pindah sekolah dan melakukan apa saja demi bisa ada di sekolah cewek incarannya. Bahkan, harus satu kelas dengannya.

Untuk Ethan di novel ini, saya beri ✩ bintang.







Ethan di sini adalah tokoh figuran, yaitu cowok yang disukai oleh Sarah, si tokoh utama. Diceritakan bahwa Sarah Lemon tidak pernah mengenal konsep cinta sebelum bertemu Ethan. Untuk pemuda itu, Sarah bahkan melakukan banyak hal tanpa cowok itu ketahui. Sarah Lemon menghabiskan uang jajannya untuk bepergian jauh dari rumahnya, mengunjungi toko jam, demi memberikan hadiah kepada Ethan; sebuah jam tangan. Kepada tukang jam tersebut, diceritakannyalah tentang Ethan, di mana dia tidak mungkin bercerita kepada ibu atau teman-temannya. Sarah rela menghabiskan banyak waktu mempersiapkan dirinya hanya untuk bertemu cowok itu.

Karena Ethan di sini hanyalah tokoh pelengkap dan karakternya kurang digali, saya memberikan ★✩✩✩ bintang untuk pemuda dambaan Sarah itu.







Ethan adalah masa lalu bagi Winona. Ethan mantan kekasih dari gadis tokoh utama yang pekerjaannya sebagai food reviewer itu. Meskipun mereka sudah berpisah, tapi Ethan dan Winona masih menjalin hubungan baik. Mereka bahkan berteman. Dan sepertinya, Ethan masih memiliki keinginan untuk berbaikan dengan Ethan. 


Dalam novel ini, ada dua tokoh utama yaitu Aries dan Ethan. Meskipun Ethan banyak dibahas di sini, sayang sekali informasi tentangnya tidak muncul di blurb. Sepertinya, penulis lebih ingin menonjolkan karakter pria satunya, si Pria Rasi Bintang, yakni Aries. Padahal saya sebagai pembaca, lebih suka dengan Ethan ketimbang tokoh utamanya, hahaha. Maklum saja, suka dengan sebuah karakter kan subjektif bentuknya. 


Untuk Ethan di The Playlist, saya berikan ✩✩ bintang.







Lagi-lagi saya lebih menyukai Ethan si side character ketimbang tokoh utamanya. Setelah saya mengalaminya di The Playlist, pada novel remaja Sky, saya pun merasakan hal yang serupa. Ethan digambarkan sebagai sosok yang menyenangkan, menyukai fotografi, dan juga menyukai Lyn, si tokoh utama. Ethan yang mulanya adalah si stalker yang tertangkap basah oleh Lyn, menjadi akrab, dan menjadi sandaran Lyn ketika Kay, cowok yang disukainya menjauh. Ethan yang ceria, digambarkan sebagai sosok yang keren dan dinamis, lebih mencuri perhatian saya ketimbang Kay yang misterius dan dingin.

★★★✩✩ bintang untuk Ethan.





Bisa dibilang, dari semua Ethan yang saya kenal, saya paling menyukai Ethan Hall. Dia adalah seorang sutradara terkenal yang memiliki trauma terhadap sebuah kejadian yang pernah menimpanya. Dia terlibat sebuah hubungan pekerjaan yang rumit denga Julia Milano, seorang penulis merangkap editor di tempatnya bekerja. Novelnya menjadi best seller, tapi dia bersembunyi di balik identitas Jane Martin, nama penanya. Karena Ethan yang sudah sejak lama vakum dari dunia perfilman tertarik untuk mengangkat novel Julia ke layar lebar, otomatis membawa Julia pada kerumitan ini. Karena, walau bagaimanapun, Julia harus menutupi identitasnya sebagai sang penulis terkenal itu.

Saya memberikan ★★★✩ bintang untuk Ethan Hall.



Nah, itu dia ulasan saya tentang karakter fiksi bernama Ethan. Sebenarnya masih ada nama Ethan lain yang cukup terkenal, seperti misalnya Ethan Nakamura si anak Nemesis di serial Percy Jackson, dan beberapa Ethan lain yang samar teringat saat sedang menulis ini (tapi saya lupa dari karakter mana). 


Apakah kalian pernah menemukan Ethan-Ethan lain di buku yang kalian baca? Atau kalian pernah memikirkan hal yang sama tentang mengingat-ingat nama karakter sama dari buku-buku yang pernah kalian baca? Atau bahkan kalian mau memberi saya rekomendasi nama mana yang musti saya ulas untuk bahan Ngobras Buku lainnya? Silakan tinggalkan di kolom komentar, ya. :)



Postingan ini disertakan dalam #BBIHUT6 Blog Buku Indonesia dengan tema: Serba-serbi Buku atau All About Books, karena yang saya bahas adalah buku-buku dengan karakter bernama Ethan. (Masih masuk dalam tema, kan? ;))



[Guest Post] Agatha Christie 101

Halo teman-teman. 

Dalam rangka BBI Share to the Love, saya kedatangan guest post nih di Resensi Buku Nisa. Sebelumnya, saya sudah memperkenalkan guest post sekaligus partner saya di acara yang diselenggarakan divisi event Blog Buku Indonesia ini. Kalian bisa baca postingan pembuka saya di sini nih. Dan ya, guest post saya kali ini adalah, Kak Astrid Lim.

Kak Astrid Lim akan membagi kisah tentang penulis favoritnya, yaitu Agatha Christie. Sebagai pembaca yang kurang begitu familier dengan genre misteri, saya merasa senang sekali dengan ulasan Kak Astrid ini lho. Apalagi, saya belum membaca sama sekali buku-bukunya Agatha Christie (aduh, ke mana aja saya ya...?).

Berikut ulasannya, selamat menyimak.

***

Agatha Christie 101

















Agatha Christie adalah salah satu penulis yang berjasa membuat saya jatuh cinta pada dunia buku dan membaca. Pertama kali saya mengenalnya sebenarnya dari buku-buku lungsuran Mama saya, yang ternyata juga merupakan penggemarnya semasa beliau muda dulu. Tapi saya baru benar-benar melahap buku Christie setelah saya duduk di bangku SMP dan SMA, dan sampai sekarang, Queen of Crime ini tetap bertengger di salah satu posisi puncak dari daftar penulis favorit saya.

Nah, lewat guest post ini, saya mau berbagi sedikit tentang beberapa alasan saya menyukai karya-karya Dame Agatha Christie, dan apa saja fakta-fakta yang perlu diketahui untuk para pembaca yang mungkin ingin mencoba mencicipi kisah misteri sang Ratu Kejahatan ini.

Poirot dan Marple

Dua tokoh utama yang paling sering mendapat porsi cerita dari buku-buku Agatha Christie adalah Hercule Poirot dan Miss Jane Marple.

Favorit saya tentu saja Monsieur Poirot, detektif berkebangsaan Belgia yang menetap di London. Meski gayanya suka belagu dan arogan, tapi justru itu yang membuatnya menarik untuk diikuti. Poirot terkenal dengan “sel-sel kelabu”-nya, yaitu otak yang menurutnya merupakan modal penting untuk memecahkan masalah apapun. Poirot tidak percaya dengan metode detektif jaman dulu yang heboh mengikuti jejak dan memungut puntung rokok. Ia percaya bahwa kasus apapun bisa dipecahkannya hanya dengan duduk di kursi sambil menggunakan sel-sel kelabunya. Dan memang, metode psikologi ala Poirot ini yang membuat kisah-kisahnya amat menarik dan tidak membosankan. Apalagi kalau ia sudah berceramah di akhir buku, mengungkap si pelaku pembunuhan lengkap dengan twist yang membuat pembaca ternganga-nganga. Seru banget!

Sedangkan Jane Marple, atau yang dikenal dengan sebutan Miss Marple, adalah perawan tua yang tinggal di desa kecil St. Mary Mead. Miss Marple bukanlah seorang detektif, tapi kemampuannya mengamati dan menganalisa sifat-sifat manusia bisa menyejajarkannya dengan tokoh detektif andal manapun. Kisah-kisah misteri yang melibatkan Miss Marple biasanya bersetting di desa tempat tinggalnya, dan melibatkan orang-orang yang sudah dikenal dari buku-buku sebelumnya. Meski demikian, bukan berarti misterinya menjadi membosankan, lho. Miss Marple selalu berhasil membawa kejutan yang bikin geleng-geleng kepala.

Selain Poirot dan Marple, Agatha Christie juga menulis beberapa kisah dengan tokoh detektif lepas yang hanya muncul sekali saja, serta beberapa judul dengan tokoh utama detektif maupun non detektif yang sempat muncul lebih di satu buku, seperti suami-istri yang berprofesi sebagai mata-mata, Tommy dan Tuppence, atau konsultan serba bisa, Mr. Parker Pyne.


Five for Newbies

Nah, tidak lengkap rasanya tulisan saya tentang Agatha Christie kalau tidak dibarengi dengan beberapa rekomendasi judul, terutama untuk para pembaca yang baru ingin mencicipi karya-karyanya. Berikut lima buku versi saya yang mudah-mudahan bisa mewakili kejeniusan Dame Agatha.

1. The Murder of Roger Ackroyd



Judul ini mungkin merupakan salah satu judul paling fenomenal dari semua karya Agatha Christie. Mengisahkan tentang Poirot yang (katanya) sudah pensiun, namun harus berhadapan dengan kasus pembunuhan Roger Ackroyd. Mungkin premisnya terdengar biasa saja, tapi ending dan twistnya, luar biasa!


2. Murder on The Orient Express



Yang ini juga wajib baca untuk para newbie. Tokohnya masih Poirot, yang harus menyelidiki pembunuhan di atas kereta mewah Orient Express, saat kereta tersebut terperangkap salju. Lagi-lagi, Poirot berhasil membuat kita tercengang-cengang dengan kesimpulannya yang luar biasa. Ditambah lagi, suasana terisolasi di tengah salju memang benar-benar menambahkan atmosfer yang mencekam.


3. A Murder is Announced



Yang ini adalah kisah misteri dengan tokoh Miss Marple, dan bersetting di desa St. Mary Mead. Seisi desa diundang untuk menyaksikan pembunuhan yang akan terjadi di sebuah rumah. Miss Marple memenuhi undangan tersebut karena ia mencium sesuatu yang lebih dari sekadar permainan konyol. Dan benar saja- sebuah pembunuhan benar-benar terjadi. Miss Marple, dengan segala kecemerlangannya, berhasil mengungkap salah satu misteri paling rumit karya Agatha Christie ini.


4. Why Didn’t They Ask Evans?



Buku ini tidak memiliki Poirot maupun Miss Marple sebagai tokoh detektifnya. Sebaliknya, tokoh anak muda Bobby Jones dan Frances Derwent, yang bersahabat meskipun datang dari golongan sosial-ekonomi yang berbeda, hanya muncul sekali saja selama karier Agatha Christie. Namun, unsur misteri yang kental dengan kejutan, ditambah dengan dialog dan chemistry kedua tokoh utamanya, membuat buku ini menjadi salah satu pilihan menyenangkan, tidak terlalu berat untuk dicerna, dan sarat dengan unsur komedi dan sedikir romance, sangat cocok untuk para “newbie” Agatha Christie.


5. And Then There Were None



Saran saya, jangan membaca buku ini bila belum pernah membaca buku Agatha Christie sebelumnya, karena unsur horror dan thrillernya memang termasuk yang tingkat tinggi. Nuansa ceritanya juga sebenarnya agak lain dengan kebanyakan buku Agatha Christie, karena lebih menekankan pada unsur suspense dibandingkan kisah misterinya sendiri. Ceritanya tentang 10 orang yang secara misterius dikumpulkan di sebuah pulau terpencil, dan satu per satu dibunuh dengan cara-cara yang tidak biasa. Mengerikan, bikin merinding, dan yang jelas bisa membuat kita kepikiran terus setelah selesai membacanya. Tapi, tetap menjadi salah satu karya Agatha Christie yang paling terkenal dan dianggap sebagai masterpiecenya.

Semoga sekilas penjelasan tentang Agatha Christie ini bisa membuat kalian tertarik untuk mencicipi karyanya juga ya.


***

Itu dia ulasan dari Kak Astrid. Terima kasih ya Kak Astrid, sudah memberikan tulisan tentang Agatha Christie dan memberikan rekomendasinya ke saya! :D Simak juga ulasan saya (yang gantian jadi guest post di blog Kak Astrid yaaa... Bincang-Bincang tentang Genre Metropop)


Ditunggu komentarnya teman-teman semua.



[#BBISharetheLove] Introduction: Let's Share the Love

Halo selamat malam teman-teman.

Ada yang spesial hari ini. Hmmm, ada yang tahu ini hari apa? Kalau yang jawab ini adalah Selasa, benar sih, yang mengatakan kalau ini H-1 pilkada serentak juga benar lho :D Dan yang mengatakan kalau ini hari Valentine... let's see... benar juga, karena banyak yang memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang. Kalau saya memperingati juga nggak, ya? Saya sih menebar kasih sayang setiap hari, nggak pakai hari khusus :D Ada satu lagi lho yang terkenal di hari ini... tanggal 14 Februari juga dikenal sebagai International Book Giving Day. Maka, sebagai peringatan itu, BBI alias komunitas Blog Buku Indonesia mengadakan yang namanya...

BBI Share the Love 2017



Kegiatan ini bertujuan untuk lebih mengakrabkan diri dengan member BBI satu sama lain. Selain pasangan member akan saling menjadi guest post di blog mereka, pasangan ini juga akan bertukar kado yang judulnya dipilih dari wishlist yang sudah diberikan. Wah, seru, bukan? Selain bisa mengenal genre buku favorit pasangannya, kita juga saling bertukar kado.

Pasangan saya kali ini, mempunyai genre bacaan yang berbeda dari saya. Wah, salut deh dengan panitia yang memilihkan pasangan berbeda genre ini hihihi, karena saya jadi bisa mengenal genre favorit dari pasangan saya tersebut. Siapakah orangnya?


Astrid Lim



Salam kenal buat Kak Astrid... jujur saya baru kenalan dengan Kak Astrid dari Share the Love ini lho :D

Genre kesukaan Kak Astrid adalah: misteri (terutama Agatha Christie), children's books/middle grade/newbery winners (Kate Dicamillo, Enid Blyton, JK Rowling), klasik (Dickens, Lewis Carrol etc). 

P.S.: Tentang genre kesukaan Kak Astrid ini, ada yang bertolak belakang dengan saya dan ada pula yang mempunyai kemiripan. Saya suka buku-buku anak-anak juga, sama seperti Kak Astrid. Saya suka (pakai banget) serial Harry Potter milik JK Rowling. Saya suka Edward Tulane-nya Kate Dicamillo. Tapi, saya tidak akan membahas yang kami sama-sama suka karena yang akan dituliskan Kak Astrid dalam guest book-nya nanti adalah tentang... Agatha Christie. Wow, saya excited begitu tahu Kak Astrid bakal mengulas Agatha Christie di blogku. Karena, saya belum mengenal dan belum menyentuh sama sekali buku-bukunya Agatha Christie (*hiks*). Karena saya juga mendapatkan rekomendasi balik dari Kak Astrid tentunya saya bakal dapat panduan dari mana harus mengenal sosok legendaris genre misteri tersebut. Terima kasih Kak Astrid dan Divisi Event BBI yang memasangkan kami ;)


Informasi tentang Kak Astrid bisa ditemui di sini. Dan saya copaskan untuk kalian yang ingin mengenal Kak Astrid lebih dekat ;)

I’m a thirty-something girl , love to read, write, travel,  and watch some movies.
I’m not a shopaholic, but if it’s related to books, I couldn’t help myself.
Things I love: spicy food, dogs, books with nice covers, flea market, bookstore sales, hang out with my family, crossword puzzles.
Things I hate: conflicts, smell of durian, wake up early, traffic jam, books with bad translations, spoilers.
I’m happy just to be surrounded by my books, but someday I dream to have my own little bookshop (like the one Meg Ryan have in You’ve Got Mail). And my obsession is to go around the world, browsing books in every small and big bookstores.
Contact me: astridfelicia [at] hotmail [dot] com

Nantikan postingan Agatha Christie-nya Kak Astrid di blogku ya. 




[Ngobras Buku] February Wishlist



Selamat bulan Februari!

Ciye, yang hari ini gajian, tetap semangat dong ya. Jangan lupa sisihkan buat buku, hehe. Jangan lupa sedekah juga, biar semakin berkah :D. Kalau saya lagi diet beli buku, jadi jangan suruh saya beli banyak-banyak ya, hahaha.

Di bulan Februari yang singkat ini, saya berharap banyak hal yang bakal terpenuhi. Semoga banyak kejutan-kejutan menyenangkan yang datang.

Untuk wishlist bacaan, ada beberapa buku yang menjadi TBR saya bulan ini. Saya tulis di sini supaya bisa menjadi pengingat dan biar bukunya tersentuh dan jadi prioritas baca:

Yang pertama, saya mau melanjutkan baca My Name is Red. Sudah setengah jalan, tapi sempat kesendat bacanya. Padahal bukunya bagus banget! Saking bagusnya, saya masih ingat plot penting yang terjadi di sana, lho.

Lalu, saya sudah pre-order bukunya Ziggy terbaru yakni Semua Ikan di Langit. Jelas sekali, saat bukunya datang, akan menjadi prioritas yang bakal saya lahap duluan.

Selanjutnya, saya sedang ingin membaca fiksi sejarah negeri ini. Buku Pulang akan saya buka bungkusnya di bulan ini. Saya juga mau melanjutkan baca Paris van Java. Ini buku buddy reads saya dengan Laras, tapi kayaknya Laras sudah selesai duluan jadinya saya kesepian dan kemarin memutuskan nanti dulu bacanya :D. Dan juga, si Bajak Laut dan Purnama Terakhir ini juga menggoda untuk dibuka bungkusnya. 

Sebenarnya, fokus bacaan saya bulan ini adalah menyelesaikan beberapa buku bacaan yang tertunda bacanya. Saya juga kepingin menuntaskan Falling into Place, semoga bisa kelar baca. Dilanjut dengan P.S. I Like You yang sepertinya punya tema serupa juga seru. Apalagi si cewek sekarat Me and Earl and The Dying Girl yang baru dibeli semalam juga sepertinya kepingin dibaca juga.

Wah, kok jadi banyak judul begini, ya? Kira-kira yang mana yang bakal saya eksekusi duluan? Wakakak. Yang jelas, Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto dan Rule of Thirds yang sudah separuh jalan ini harus selesai dulu, baru deh baca yang lain.

Ah jangan lupa, Some Kind of Wonderful yang akan mewarnai blog saya dengan blogtour-nya. Dan juga, buku bacaan bareng bintang di BOOM (baca: BOOM) yaitu Girls in The Dark

Untuk buku yang menjadi wishlist, saya masih akan melanjutkan buku bacaan yang menjadi wishlist saya di bulan Januari (baca: January Wishlist), ada beberapa yang belum sempat dimiliki. Jadi, yang menjadi prioritas saya adalah:


The Geography of Faith


Crazy Rich Asian




Dan, untuk melengkapi seri saya yang belum lengkap, ada buku-buku ini dalam wishlist:

The Rose & The Dagger



The Hollow Boy



Ya, itu dia wishlist bulan ini. Tidak usah memasang target terlalu muluk, jalani saja dengan hati yang senang. Semoga buku-buku wishlist bisa saya penuhi semua, dan buku-buku target bacaan pun bisa ludes terbaca.


____

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)