Showing posts with label metropop. Show all posts
Showing posts with label metropop. Show all posts

Disonansi

Judul : Disonansi
Penulis : Edith PS
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Pertama, November 2015
ISBN : 9786020317793
Rating : 4 dari 5




Andre mungkin saja memiliki banyak kekurangan, tapi selingkuh bukan salah satunya. Sesaat aku mengutuk diriku, sempat menuduh mendiang suamiku atas tuduhan yang belum tentu benar. Tapi aku bisa apa?

Rinjani sudah terlalu lelah dengan kedukaan atas meninggalnya suami tercinta. Ratapan setahun terakhir seolah tidak pernah cukup. Sampai ia harus berurusan dengan surat-surat tanpa identitas yang muncul mengusik ketenteramannya, menimbulkan berbagai tanya dan prasangka atas mendiang suaminya.

Lalu saat mulai terpojok dan bingung harus ke mana, ia berkenalan dengan olahraga lari jarak jauh yang membawanya ke Bromo Marathon, tempat semuanya—secara tak terduga—akan terjawab dan ia seharusnya tidak perlu “lari” lagi.

Disonansi dalam Teori Disonansi Kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.

***

Ada yang bilang bagian terburuk dari kehilangan sesuatu atau seseorang bukanlah kehilangan atas sesuatu atau seseorang itu, melainkan kehilangan bagian dari diri kita, lantaran ikut terbawa pergi. ---halaman 13

Rinjani ditinggal oleh suaminya yang pergi untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan. Sejak kepergian sang suami, ia didera kemalangan hidup karena selalu dihantui oleh mendiang suaminya, Andre. Performa kerjanya terganggu, dan itu disadari oleh orang-orang sekitar yang peduli padanya. Dan mereka mulai mengkhawatirkan kondisi Rinjani karena kejadian meninggalnya Andre sudah berlalu setahun silam.

Abbas, rekan kerjanya tampak begitu peduli untuk mengajak Rinjani keluar dari kemelut hidupnya. Pria yang dianggap adiknya itu selalu ada saat Rinjani butuh teman. Salah satunya, ia mengajak Rinjani untuk ikut olahraga lari yang hits saat itu. Dan Rinjani pun mau.

Saat sedang mengikuti event lari, ia bertemu dan berkenalan dengan Okto, seorang pria pelari yang mempunyai toko perlengkapan lari. Rupanya, Rinjani dan Okto semakin lama semakin dekat, hingga sampai pada keduanya membuka cerita hidup mereka masing-masing. Tentang mendiang suami Rinjani yang sudah tiada, tentang Okto yang ternyata seorang penulis.

Sebuah surat dari seseorang yang merupakan masa lalu Andre, membuat keraguan dalam diri Rinjani sehingga ia mulai mempertanyakan kesetiaan suaminya padanya. Apakah benar Andre mempunyai selingkuhan? Apakah Andre meninggal dunia selepas dari rumah selingkuhannya itu di Bandung?

Sementara, upaya membebaskan diri dari bayang-bayang kematian Andre, Rinjani menerima tawaran Okto dan Abbas untuk mengikuti Bromo Marathon. Mampukah Rinjani menaklukkannya--terlebih, menaklukkan ketakutannya sendiri dengan berlari?

"...karena sudah nggak zamannya lagi lari dari kenyataan. Kita harus lari menuju kenyataan..." ---halaman 162

***

Di antara novel serupa yang bertemakan soal lari, yang ini saya paling suka. (Saya berjanji pada diri sendiri selepas membaca bukunya Haruki Murakami yang What I Talk About When I Talk About Running, saya bakal bikin Ngobras tentang buku-buku bertemakan lari.) Saya suka karena porsi berlari di novel ini cukup besar, bahkan menjadi passion salah satu karakter utamanya, yaitu Okto. Tidak hanya menyuguhkan tentang tema lari, banyak kalimat filosofis tentang lari yang disampaikan di sini. Meskipun, ada pula bagian yang masih terasa seperti "copas" info dari internet. Namun, itu tidak mengurangi hakikat filosofis berlari yang terasa mengena sekali dalam kehidupan sehari-hari.

"Secangkir kopi hangat saja ada filosofinya, apalagi lari." ---halaman 214

Nah, sekarang ke bahasan topik ceritanya. Saya suka sekali dengan kisah ini. Tentang seorang perempuan yang kehilangan suaminya, berharap untuk bisa move on dari situasi itu yang tentu saja tak mudah. Ketika sedang menuju bangkit, justru dihadapkan dengan surat kaleng tentang suaminya, dikirimkan oleh orang yang teramat mencintai sang suami. Plotnya sederhana, cenderung dekat dengan kehidupan pembaca. Tentang memaknai sebuah kehilangan besar dalam hidup dan berupaya untuk melanjutkan hidup tanpanya. Saya merasakan bagaimana Rinjani melawan ketakutan dan kemelut dalam kisah sendunya. Saya pun dapat berempati karenanya.

Dari segi karakter, semuanya memiliki kekhasan yang dengan mudah dapat terbayangkan oleh saya pembacanya. Saya suka Rinjani, pun juga dengan sosok Okto yang misterius tapi serius. Saya juga suka Abbas. Bahwa persahabatan tidak selamanya berakhir dengan saling suka. Ada bentuk persahabatan yang memang murni tanpa melibatkan romansa sama sekali. Saya suka pokoknya sama Abbas yang selalu ada untuk Rinjani.

Tidak hanya menyuguhkan kisah romansa saja, novel ini juga ada bagian lucunya. Saya ketawa sewaktu membaca tentang bagian cowok-cowok yang lari pakai baju couple yang ada quote-quote-nya itu. Lucu! 😆

Gaya penulisan sang penulis di buku ini, berhasil menjerat saya di awal-awal membacanya. Saya suka dengan penyampaian penulis dalam buku ini. Itu pula yang mengakibatkan saya dengan mudah bisa menyelesaikan novel ini segera. Terlebih, banyak kalimat-kalimat yang quoteable di sini. Sama sekali tidak menggurui, bahkan justru menohok tepat sasaran pada relung hati saya si juara lomba lari dari kenyataan ini.

"Karena sudah nggak zamannya lagi lari dari kenyataan, Jan. Kita harus lari menuju kenyataan. Kenyataan bahwa kita memiliki kewajiban untuk merawat tubuh sebagai wujud syukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan." ---halaman 27


Dan ini adalah kutipan yang paling saya suka:

"Fokus ke targetmu saja, jangan target orang lain. Jadikan dirimu sendiri sebagai tolak ukur. Kalahkan rekormu sendiri, bukan rekor orang lain." ---halaman 128

Lost and Found

Judul : Lost and Found
Penulis : Fanny Hartanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786020327693
Rating : 3 dari 5



Terkadang, seseorang bisa begitu mudah menilai orang lain tanpa tahu cerita lengkap di baliknya. Padahal setiap manusia punya kisahnya sendiri. ---halaman 147

Blurb:

Rachel tak sengaja meninggalkan organizer-nya di taksi, padahal di dalamnya berisi paspor, SIM, dan KTP. Akibatnya dia batal melakukan liputan ke Singapura dan terpaksa merelakan rivalnya, Amy, bertugas menggantikannya.

Andy menemukan organizer tersebut, tapi kesalahpahaman terjadi sehingga dia tidak pernah mengembalikan benda itu pada Rachel.

Takdir mempertemukan Andy dengan Rachel dan cinta pun tumbuh. Namun, rahasia dan luka masa lalu menghalangi kebersamaan mereka. Apakah cinta cukup untuk mengisi apa yang pernah hilang dalam hidup mereka?

***

Rachel, seorang wanita muda yang bekerja di majalah POSH, hendak melakukan peliputan di Singapura. Namun, nasib malang menimpanya setelah organizer miliknya tertinggal di taksi. Bukan hanya berisi tentang agenda dan catatan-catatan saja, rupanya di dalam organizer itu terdapat kartu identitas serta paspornya. Karena kehilangan benda tersebut, kehidupannya menjadi kacau; ia tidak bisa berangkat ke Singapura dan harus merelakan tugas itu diberikan pada Amy, saingannya. Ia juga tidak bisa mengemudikan mobil karena tidak memiliki SIM. Belum lagi, tidak memiliki KTP tentu bisa menghambat aktivitasnya.

Sementara itu, Andy, secara kebetulan menjadi penghuni taksi selanjutnya yang ditempati Rachel. Ia yang menemukan organizer tersebut dan bermaksud mengembalikannya pada sang pemilik. Namun, organizer itu tidak lantas kembali dengan mudah. Justru semakin rumit karena terjadi tarik-ulur proses pengembalian benda tersebut.

Alhasil, Rachel merasa kebingungan bagaimana ia berkendara. Sementara, Andy yang akhirnya mengenal Rachel (tapi belum berani mengembalikan benda itu padanya), merasa bersalah karena kerepotan demi kerepotan yang dialami Rachel karenanya. Akhirnya Andy berinisiatif mengantar-jemput Rachel hingga keduanya menjadi akrab dan menjalin hubungan percintaan.

Nah, bagaimana kelanjutan cerita ini? Bagaimana juga ya nasib si organizer itu?

***

Lost and Found menyajikan kisah yang menarik, dengan premis yang unik. Kisah yang ringan tapi tidak sederhana, membuatnya memikat hingga pembaca dibuatnya terbuai dengan kisah ini hingga paragraf terakhir.

Saya suka dengan interaksi para tokohnya, dengan perkembangan karakter mereka masing-masing. Rachel yang agak-agak jutek, tapi manis. Andy yang sepertinya cool tapi nggak cool-cool banget. Bahkan, si tokoh utama pria ini menarik karena ia memiliki hubungan sangat dekat dengan adik perempuannya. Belum lagi aktivitas Rachel dan gengnya, meskipun karakter sampingan itu tidak terlalu menonjol, karena kisah ini terfokus ada pada perkembangan kisah karakter utamanya. Justru, itu dibutuhkan agar pembaca tidak kehilangan fokus utama saat membacanya.

Selain menyuguhkan kisah percintaan, dalam Lost and Found ini unsur pekerjaan si karakter utama cukup menonjol. Lalu, ada unsur lari yang menyenangkan, membuat saya ingin lari setelah sekian lama tidak berlari (kalimat yang selalu saya copas tapi pada kenyataannya saya belum ada jogging lagi sejak sebulan lalu, haha).

This is why they did it. For this victory feeling. Rasa kemenangan setelah berhasil mengalahkan musuh terbesarmu; dirimu sendiri. Keberhasilan untuk semua kerja keras, keringat dan latihan selama berbulan-bulan. Melawan kemalasan, kesakitan, rasa capek, takut, frustrasi, dan marah. Saat kamu membuktikan kalau kamu bisa. Mampu menyelesaikan apa yang kamu mulai. Sanggup menggapai apa yang kamu inginkan. ---halaman 187

Sayangnya, novel ini adalah novel kedua yang saya baca dengan judul sama. Sebenarnya tidak masalah, sih. Hanya saja, pastinya orang akan membandingkan novel ini dengan novel berjudul sama lainnya. Apalagi yang sudah membaca keduanya. Meskipun, dari segi aura dan feel cerita, keduanya memiliki perbedaan yang cukup kentara. (Baca: Lost and Found karya Dy Lunaly)

Secara keseluruhan, saya menyenangi novel ini. Ringan, mengasyikkan, dan lumayan seru.



Rule of Thirds

Judul : Rule of Thirds
Penulis : Suarcani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 288 Halaman
Cetakan pertama, Desember 2016
ISBN : 9786020334752
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?

Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis. 

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan. 

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.

***

Ladys pergi ke Bali untuk mengejar cintanya pada Esa yang berbuah ujung pahit. Esa berselingkuh, bahkan akan menikah sebentar lagi. Di Bali, selain om yang memiliki studio foto dan sering berkelana ke luar negeri, Ladys tidak punya siapa-siapa lagi. Untung saja dia yang pekerjaannya di Korea dulu sebagai fotografer fashion, sekarang bekerja pada studio foto milik omnya itu. Namun, kali ini dia harus beralih menjadi fotografer pre-wedding

Di sana dia bertemu dengan Dias, seorang pekerja di studio foto itu, seorang pria yang mempunyai bakat fotografi tapi harus berpuas diri hanya menjadi asisten saja. Dias adalah sosok pria yang menyebalkan, karena terus-terusan mengkritik teknik pengambilan gambar Ladys. Sementara, Ladys yang merasa harga dirinya tersentil karena ulah Dias itu, tidak mau terima kalau dia dikritik oleh seseorang yang tidak profesional. Karena, Dias bahkan tidak punya kamera dan kalau dia bisa memotret, tentu dia tidak hanya sekadar diberikan pekerjaan sebagai asisten fotografer yang tugasnya mengangkat-angkat barang.

Namun, ternyata kehidupan keduanya yang beririsan dengan kisah masa lalu yang sama, membuat kedekatan demi kedekatan terjalin. Hanya saja, banyak hal yang harus dilakukan untuk membuktikan cinta, atau tentang berdamai dengan masa lalu.

***

Rule of Thirds adalah novel kedua penulis yang saya baca setelah sebelumnya saya cukup menikmati The Stardust Catcher. Jika The Stardust Catcher mengambil genre fantasy young adult, Rule of Thirds adalah cerita roman kontemporer berlabel Metropop. (Saya pernah membahas tentang label Metropop di sini, dan sedikit mengulas Rule of Thirds sebagai novel rekomendasi di postingan itu.)

Satu kesamaan antara novel ini dengan novel lain karya penulis adalah pengambilan setting pulau Bali sebagai tempat jalannya cerita. Bedanya, di Rule of Thirds, setting tempat lebih menonjol, dengan menjelaskan detail lokasi-lokasi menarik di sana. Sebagai orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Bali, tentu informasi ini menarik karena sedikit banyak jadi menambahkan wishlist tempat yang harus dikunjungi saat ke Bali. Dan setting tempat ini, menyatu dengan jalinan cerita. Konsep pekerjaan sebagai fotografer pre-wedding memang memberikan ruang yang besar untuk penulis gali, baik tentang lokasi pengambilan gambar, teknik-teknik seputar fotografi, bahkan dinamika dunia kerjanya. Banyak hal yang menonjol dan berhasil digali serta dieksekusi dengan baik oleh penulis di dalam novelnya.

Untuk jalan cerita sendiri, saya cukup klik dengan kisah yang disuguhkan oleh Dias dan Ladys. Meskipun, banyaknya kesamaan dari kedua karakter itu (tentang cerita di balik ketergantungan mereka, masing-masing dengan apel Fuji dan bunga melati), garis besar cerita percintaan mereka dengan orang lain, dan ada beberapa poin lagi, membuat kebetulan demi kebetulan itu terlalu banyak. Namun, beberapa bagian menyuguhkan kisah yang rasional, kok. Dalam artian, kisah itu yang paling mungkin dilakukan oleh orang-orang yang mengalami kejadian seperti yang dialami tokohnya (walau sebenarnya itu tidak rasional). Contohnya, masih mengharapkan orang yang sama meskipun sudah jelas kalau dia berkali-kali dikhanati. Ha... itu bagian yang menyebalkan karena menyentil sekali.

Novel ini disajikan dalam dua sudut pandang, yakni dari Ladys dan Dias. Ada beberapa pilihan yang dilakukan seorang penulis untuk menandai perpindahan sudut pandang, yang paling sering adalah menggunakan pembeda kata ganti orang. Ada pula yang menggunakan perbedaan font style. Ada yang cukup percaya diri dengan menggunakan nama si tokoh di depan bagiannya, tanpa memberikan pembeda lainnya dan hanya mengandalkan rasa yang membedakan antara tokoh-tokohnya. Di sini, Ladys menggunakan "saya" sementara Dias dengan "aku"-nya. Secara umum, bagi saya penanda ini cukup berhasil karena hanya dengan menemukan kata ganti orangnya saja, sudah bisa mengetahui siapa yang sedang berbicara. Namun, penggunaan kata "saya" sebagai narasi yang berbicara, bagi saya justru memberikan jarak antara karakter dan tokohnya. Karena, bahasa narasi kan merupakan jembatan antara karakter dan pembaca, dan biasanya disajikan dalam bahasa yang nonformal. Beda misalnya dengan resensi yang saya buat ini, yang memang sengaja saya buat dengan sudut pandang "saya" demi menjaga kesopanan dengan para pembaca. (Kalau saya menuliskan pakai "aku" agak gimanaaa gitu. Atau pakai "gue", ntar dikira sok asik, hehe.) Nah, saya jadi teringat dengan salah satu murid les saya, yang juga menggunakan "saya" sebagai kata sapa, ke teman--lho ya bukan ke guru--sebayanya yang semuanya ber-"aku-kamu". Saya yang mendengarkannya jadi aneh, hehehe. Mungkin, selain karakter Ladys yang agak menyebalkan, penggunaan kata sapa di sisi Ladys itu juga yang menyebabkan Ladys dan saya berjarak.

Ada beberapa kesalahan penulisan di dalam novel ini. (Saya masih menandainya, kalau mau boleh saya beritahu di bagian mana saja kesalahannya.) Yang paling fatal menurut saya adalah salah menuliskan nama. Tertulis di sini tentang seorang fotografer pre-wedding terkenal itu Deira Bachir, padahal namanya Diera Bachir. Saya menyukai karyanya, sehingga sudah kenal dari lama dan tahu sepak terjang fotografer ini dalam menangani berbagai macam konsep pre-wedding.

Meskipun begitu, secara keseluruhan saya suka dengan novel ini. Ada beberapa hal yang berkesan. Pertama, saya membaca adegan di buku ini, saat—mudah-mudahan ini tidak spoiler—salah satu kerabat ada yang meninggal dunia. Rasanya seperti terkoneksi begitu saja. Dan saya merasakan feeling yang sama meskipun tidak sekuat yang diceritakan di sini tentang salah satu kisah tokohnya. Kalau dikatakan tentang budaya Bali yang menjadi bumbu cerita ini, saya cukup mendapatkan kesannya di bagian yang ini. Saya bisa membayangkan dengan jelas bagaimana Ladys yang wajahnya kekoreaan mengenakan kebaya, jarik ikat, dan bunga di telinga. Wah, cantik sekali.

Kedua, kisahnya hanya tentang percintaan, tidak hanya tentang kisah cinta karakter metropolitan, karena ternyata genre Metropop tidak melulu menyorot tentang itu. Lagi pula, senang rasanya karena dari novel ini, saya jadi tahu dan paham bahwa label Metropop tidak hanya berfokus setting pada kota Jakarta semata. Kisah ini tidak hanya bercerita tentang kehidupan dan cinta, melainkan banyak unsur fotografi yang termuat di sana.

Ketiga, alurnya tidak mudah tertebak, banyak kisah tak terduga yang manis untuk disimak.

Secara keseluruhan, novel ini bagus dan menarik. Banyak hal yang bisa didapatkan pembaca saat menikmatinya.

Pada akhirnya, aku percaya bahwa hidup bukan hanya mengenai memiliki sesuatu, tetapi lebih pada menghargai sesuatu. ---halaman 241

Dangerous Love

Judul : Dangerous Love
Penulis : Christina Tirta
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 296 Halaman
ISBN : 9786020316796
Rating : 3 dari 5 



Blurb:


Dunia Catherine luluh lantak saat ibunya menikah lagi dengan Ayah Chantal. Chantal adalah gadis manis yang menyenangkan dan dicintai seluruh dunia. Hanya Catherine yang bertekad membencinya sepenuh hati. Bagaimana tidak? Chantal merebut Mami, satu-satunya orang yang ia sayangi. Chantal bagaikan tsunami yang menghancurkan kehidupan Catherine.


Namun, membenci Chantal bukanlah masalah terbesar Cath.

Hidupnya makin berantakan seperti keping-keping puzzle yang berserakan sejak Christ, pria misterius yang dikenalnya di kafe tenda Joe berhasil mencuri hatinya. Ia terpaksa menjalani kebohongan yang bagai jerat tak berujung pangkal.

Tertatih-tatih Cath berusaha melepaskan diri. Melewati berbagai rintangan yang membuatnya mengalami dan menyadari arti cinta dan benci.

Mencintai dan dicintai.

Membenci dan dibenci.

Sanggupkah Catherine terbebas dari perangkap itu dan menyusun keping-keping puzzle-nya hingga utuh? 

***
Kehidupan begitu rapuh dan membingungkan. Mencintai, dicintai, membenci, dibenci. Semua bagaikan roda yang tidak tahu kapan akan behenti berputar. --- Halaman 274


Mungkin benar, membenci seseorang itu seperti menambatkan beban berat di hatimu. Dan saat kau berhasil menggergaji salah satu rantai besi dan membiarkan jangkarnya terlepas darimu, kau sudah siap untuk maju kembali dan melanjutkan perjalananmu. --- Halaman 277 

***

Catherine adalah seorang gadis yang sikapnya dingin. Karakternya pun tertutup, membuat tidak semua orang dengan mudah bisa mengenalnya. Semula ia hanya tinggal berdua dengan Mami, yang selama ini menghidupinya seorang diri. Siapa ayahnya, selama ini hanya menjadi misteri.

Kehidupan Cath berubah saat sang Ibu menikah dengan Om Frans. Pria itu begitu mencintai ibunya. Tapi sebenarnya bukan itulah permasalahannya. Kehadiran Chantal, anak perempuan Om Frans lah yang membuat kehidupan Cath lebih buruk dari sebelum ini. Gadis itu begitu cantik dan manis, bagaikan porselen yang akan membuat siapa pun menyukai dirinya. Tapi itu justru membuat Cath semakin membenci Chantal. Ia menanggap bahwa kehadiran Chantal dalam hidupnya telah mengambil satu-satunya orang yang Cath cintai, yaitu Mami.

Cath bertemu dengan seorang pria misterius yang dikenalnya di kafe Joe, sahabatnya. Pria itu begitu saja masuk ke dalam kehidupannya, membuat Cath harus menjalankan skenario demi skenario yang bermula saat dirinya dimintai tolong oleh Chantal untuk menggantikannya bertemu dengan seseorang yang dijodohkan papi kepada Chantal. Di waktu yang sama, Chantal harus merayakan ulang tahun Nessa, adik Marco. Marco adalah pacar Chantal. Diam-diam ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang tidak mungkin disukai papinya.

Benar kata orang bijak, sekali kau berbohong, kau tak akan bisa berhenti. Kebohongan akan membelitmu sampai kau kehilangan napas dan termakan oleh kebohonganmu sendiri. --- Halaman 59

Keadaan menjadi runyam karena Cath harus melakukan kebohongan demi kebohongan untuk menutupi identitasnya yang sebenarnya. Belum lagi, peristiwa di masa lalu terus menghantui Cath. Bahkan, orang misterius yang terkait dengan peristiwa itu terus saja menerornya.

***

Saya suka dengan karakter Cath ini: dingin, tertutup, skeptis. Penulis benar-benar membuat karakter Cath kuat. Padahal, karakter utamanya ini nggak loveable. Kisahnya dibuat dengan jalinan plot yang bagus. Ada banyak yang membuat penasaran, dan penulis menempatkan tokoh lain untuk mengecoh pembaca--atau setidaknya membuat pembaca tidak dengan mudah menebak siapa pelakunya.

Kalau dibilang romance-thriller, menurut saya belum terlalu thriller banget meskipun memang tidak hanya sekadar menyuguhkan cerita romance semata. Yaaa, mungkin thriller versi saya ya yang tentang pembunuhan atau kejahatan level akut kali ya, jadi untuk buku ini belum terasa thriller-nya.

Sebenarnya ceritanya cukup bagus, penyampaiannya juga baik. Namun saya hanya bertahan dengan memberikan tiga bintang. Bagus, tapi tidak begitu memberikan kesan mendalam. Plotnya cukup berjalan mulus meskipun rasanya saat salah satu tokohnya melakukan kesalahan, terlalu mudah bagi tokoh lain untuk memberikan maaf. Meskipun, yeah, cara meminta maafnya romantis banget, hahaha.

Ada beberapa koreksi seputar penulisan yang saya catat di sini:
  1. Halaman 76: "manekin" yang seharusnya "maneken".
  2. Halaman 78 (dan masih banyak lagi): "kepengin" yang seharusnya "kepingin".
  3. Halaman 188: penulisan "Canada", seharusnya "Kanada" kan ya?
  4. Halaman 204: kalimat terakhir font-nya salah.
  5. Halaman 208: paragraf kedua dari bawah, kalimat pertama sepertinya seharusnya ditulis dengan huruf miring.
  6. Halaman 267: penulisan "sekalipun" seharusnya "sekali pun".

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)