Showing posts with label misteri. Show all posts
Showing posts with label misteri. Show all posts

Girls in the Dark

Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal Buku : 279 Halaman
Cetakan Ketiga, Maret 2015
ISBN : 9786027742314
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

***

Hari itu, di salon (mungkin bahasa lazimnya sekretariat klub), klub sastra sedang mengadakan kegiatan rutin mereka. Namun, ada yang berbeda saat itu. Pertemuan itu dikhususkan untuk mengenang ketua klub mereka, Shiraishi Itsumi yang meninggal beberapa hari sebelumnya. Itsumi, meninggal dalam sebuah peristiwa misterius, dengan setangkai bunga lily sebagai petunjuknya. 

Sementara, klub sastra adalah klub eksklusif di mana ketuanya adalah Itsumi, seorang anak pemilik sekolah. Olehnya, salon diubah menjadi sebuah tempat yang sangat mewah, dengan anggota klub adalah siswa-siswa terpilih di SMA Putri Santa Maria.

Sebagai wakil klub sastra, Sumikawa Sayuri otomatis menggantikan posisi Itsumi sebagai ketua klub, juga menjadi pemandu acara rutin mereka itu. Hari itu, masing-masing anggota akan menyampaikan kesan-kesan mereka terhadap Itsumi dalam sebuah cerita pendek yang dibacakan satu per satu oleh mereka. Karena kelompok ini eksklusif, maka tanpa Itsumi, hanya tersisa enam anggota saja. Dan, kejanggalan terjadi ketika keenamnya membaca cerita mereka, dan ternyata mereka saling menuding satu sama lain tentang siapa dalang di balik pembunuhan Shiraishi Itsumi.

***

Girls in the Dark adalah buku yang saya dan Bintang pilih untuk BOOM bulan Februari. Kalian ada yang belum tahu apa itu BOOM? Bisa tengok ulasan saya di sini tentang BOOM ya. Sederhananya, BOOM ini kegiatan yang digagas oleh saya dan Bintang buat baca bareng satu judul buku yang sama setiap bulannya. 

Februari adalah bulannya cinta, kata orang-orang. Barangkali karena tanggal 14 adalah hari kasih sayang (begitu, kan?). Namun, kami justru mengusung tema thriller dalam baca bareng bulan ini, hahaha. Mungkin karena saya tidak sadar kalau bulan ini banyak yang merayakan perayaan itu, jadinya menganggap Februari sama saja seperti bulan lainnya. Setelah sukses dengan buku di bulan pertama kami, Apa Pun Selain Hujan, bulan ini pun kami berhasil menyelesaikan baca buku Girls in the Dark ini. Bulan depan? Tentu ada lagi. Nah, sebelum membahas tentang buku yang akan dibaca bulan depan, saya mau mengulas tentang Girls in the Dark dulu, ya.

***

Saya menerima tantangan dari Bintang untuk membaca genre thriller. Meskipun ini bukan cangkir kopi saya, tapi beberapa judul thriller berhasil mencuri perhatian saya, lho. Tapi, saya mau buat pengakuan dulu. Mulanya, saya kira ini buku horor, makanya takut dibaca malam-malam, hahaha. Ternyata bukan. Membaca Girls in the Dark, hanya membutuhkan waktu yang singkat kurang dari tiga hari. Barangkali karena saya cukup menikmati alurnya, dan juga ikut penasaran dengan bagaimana akhir ceritanya.

Saya juga dapat tantangan dari Bintang untuk menebak siapa pelakunya, lho. Jadi, selain cukup menikmati alur cerita, saya ingin cepat selesai untuk membuktikan apakah tebakan saya benar atau salah. Dan ternyata, benar. Whoa, kemampuan analisis saya masih terasah rupanya :p Oke, jadi, saya pun menebak-nebak bagaimana ya kira-kira prosesnya dan kenapa sampai begitu. Dan ternyata, di dalam proses mengetahui sebab-akibatnya, banyak kejutan yang tak terkira. 

Dari keenam tokoh yang bercerita (minus Itsumi yang menjadi objek oleh pencerita), saya paling suka dengan pencerita pertama, Nitani Mirei. Mungkin, karena di kisah pertama, "kedok" kisah ini belum terbongkar. Dan juga, saya menikmati bagaimana Mirei bercerita. Selain itu, karena saya sudah bisa membaca bagaimana pergerakan kisah ini, untuk jatuh hati atau bahkan berempati pada lainnya jadi sudah berkurang.

Ada beberapa poin yang menjadi bahasan saya di sini. Yang pertama, saya kurang begitu menikmati gaya penulisan novel ini. Sepertinya ada kendala di bahasa penerjemahan? Karena sepertinya bahasanya masih bisa diperhalus lagi. Kesannya seperti langsung ditranslatekan begitu saja dari bahasa aslinya. Atau, bisa jadi gaya penulisan edisi terjemahan J-Lit memang seperti ini. Entahlah, karena ini buku pertama kategori J-Lit yang saya baca. Namun, di sini Akiyoshi Rikako menunjukkan "kelas"-nya sebagai penulis thriller andal dengan alur yang tak mudah terterbak. Saya masih penasaran dengan Holy Mother yang ulasan di goodreadsnya sangat fenomenal (dan tentunya siap untuk tebak-tebakan plot lagi, hahaha).

Selain tentang itu, saya juga cukup kesulitan menghapal nama-nama tokohnya. Yang saya ingat cuma Diana, karena dia aja yang namanya cukup familier. Apalagi, nama Jepang terdiri dari dua penggal nama yang kedua-duanya sama-sama tidak familiernya. Bayangkan saja, ada enam nama yang harus diketahui, dan itu terdiri dari dua nama panggilan yang dipanggilnya berbeda berdasarkan keakraban; kalau sudah akrab memanggil namanya sendiri, kalau kurang akrab memanggil marga. Jadi, yah, saya cukup sering bolak-balik membaca lembaran sebelum dan sesudahnya, sih. (Karena masing-masing tokoh saling tuduh itu.)

Selebihnya, novel ini cukup bagus. Saya puas dengan menyematkan bintang tiga padanya.

***

REVIEW #2 Dalam Rangkaian Project BOOM [Book Anatomy] oleh Bintang @ Ach’s Book Forum dan Nisa @ Resensi Buku Nisa.



Kalian juga ikutan BOOM bulan ini dan sudah baca buku yang kita tentukan? Kalau sudah, ayo bikin review-nya dan silakan setor link review kamu di komentar di bawah postingan ini. Karena bulan genap, jadi setor link-nya di blog saya yaaa... 

Ketentuannya bisa kalian lihat DI SINI. Dan, akan ada hadiah spesial dari saya dan Bintang untuk yang rajin ikutan setor review dan meramaikan baca bareng BOOM tiap bulannya lho.

Nah, untuk bulan depan, buku yang akan kita baca adalah...



Kalau ada Me Before You di timbunan kamu, yuk baca bareng-bareng kita bulan Maret! Dan karena bukunya tebal, jadi waktu membacanya kita majukan dari tanggal 1 Maret hingga 20 Maret, nih :)

Siapkan bukunya dan mari kita BOOM-kan rame-rame! :D


The Screaming Staircase (Undakan Menjerit)

Judul : The Screaming Staircase (Undakan Menjerit)
Seri The Lockwood & Co.
Penulis : Jonathan Stroud
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 424 Halaman
ISBN : 9786020301365
Rating : 4 dari 5




"Ragukan bintang-bintang menyala, Ragukan mentari mengitarimu, Ragukan kejujuran sebagai dusta, Tapi jangan ragukan cintaku." (Hamlet---W. Shakespeare)


Blurb:


Setelah gelap, bunyikan lonceng dan tunggu di luar garis besi.

Selama lima puluh tahun lebih, wabah hantu menyerang Inggris. Lucy Carlyle, penyelidik paranormal yang masih muda, menginginkan karier cemerlang. Namun, kenyataannya ia bergabung dengan agensi pembasmi hantu paling kecil, paling kumuh di London, dipimpin Anthony Lockwood yang karismatis.


Ketika salah satu kasus mereka berakhir dengan kekacauan fatal, Lockwood & Co. memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan. Sayangnya, itu berarti mereka harus menginap di rumah paling berhantu di Inggris.

Cover depannya sih oke. Tapi begitu dibuka...


***

Lucy Carlyle mengalami kejadian tragis dengan agennya terdahulu, yang menyebabkan dirinya nekat untuk pergi ke London seorang diri dan mencoba untuk melamar pada agensi pemburu hantu (bahasa kerennya: penyelidik paranormal) di sana. Ternyata untuk mendapatkan pekerjaan baru, tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Berkali-kali ia ditolak oleh agensi besar karena tidak bisa membuktikan dirinya sebagai seseorang dengan Bakat, karena sertifikatnya ada pada Agen Jacobs penyelia terdahulunya yang ia tinggalkan di desa.

Menghadapi masa-masa nyaris kehabisan uang, Lucy melamar pekerjaan pada Lockwood & Co, di sebuah rumah yang merangkap sebagai kantor yang terlihat kurang mengesankan. Di sana ia bertemu dengan bocah tambun yang juga tidak memberikan kesan pertama yang baik bernama George. Dan juga tentu saja, si pemimpin agensi, pemuda bersemangat yang jauh lebih baik ketimbang George, yakni Anthony Lockwood.

Singkat cerita, akhirnya Lucy bergabung dengan mereka dan mendapatkan tempat di rumah tersebut. Bersama dengan kedua rekannya, mereka melakukan pekerjaan memburu hantu. Meskipun, hantu-hantu yang mereka hadapi rata-rata adalah hantu Tipe Satu.

Saat itu, Anthony dan Lucy mendapatkan klien yang bermasalah dengan rumah hantu mereka. Mr. Hope meninggal di rumah itu. Dan di sana, Lucy dan Anthony rupanya menghadapi hantu Tipe Dua yang cukup berat. Satu kesalahan yang mereka lakukan adalah: yang pertama mereka kurang riset seputar rumah tersebut dan yang kedua, Lockwood lupa membawa rantai besi. Akibatnya fatal, mereka harus menggunakan api yunani untuk menyelamatkan diri dan mengakibatkan rumah tersebut terbakar.

Di dalam sana, Lucy bertemu dengan sesosok hantu yang diketahui bernama Annabel Ward, dan ia bahkan--entah bagaimana ceritanya--mengambil liontin milik hantu tersebut. Dari sinilah kekacauan mulanya terjadi. Tidak hanya itu, Lockwood & Co. juga dituntut untuk membayar kerugian akibat rumah yang terbakar. Karena kejadian ini, mereka harus mendapatkan uang dalam rentang waktu tertentu, sementara itu kasus yang berdatangan pada hilang. 

Lockwood mulai memperbaiki keadaan dengan menyelidiki seputar kematian Annabel Ward, guna mendapatkan publisitas bagi agensinya, dan supaya bisa menghasilkan uang untuk membayar ganti rugi. Dan, peluang itu datang. Namun, mereka harus menginap di sebuah bangunan paling berhantu di Inggris.

***

"Berhentilah mencemaskan masa lalu! Masa lalu hanya untuk hantu. Kita semua pernah melakukan hal-hal yang kita sesali. Namun masa depanlah yang terpenting." ---halaman 400

Sambil nunggu pesanan pizza


Jujur saja, mulanya saya merasa bosan sekali membaca ini bahkan ingin mengganti baca buku lain saja yang untungnya tidak saya lakukan. Di awal cerita, tidak menyuguhkan tentang masa lalu Lucy atau bagaimana ia bergabung dengan Lockwood & Co., tetapi mengenai salah satu misi yang dijalankannya bersama Lockwood. Setelah beberapa halaman, barulah pembaca dibawa flashback untu mengetahui bagaimana cerita itu bermula. Tentang wabah hantu yang sudah melanda Inggris sejak puluhan tahun yang lalu, tentang anak-anak yang mempunyai Bakat yang ditampung oleh agensi-agensi (yang saya membayangkannya mereka seperti polisi cilik yang dihormati, dengan rapier yang terus-terusan dibawa ke mana-mana, pakai seragam ala-ala tokoh pahlawan dalam anime :p). 

Karakternya? Keren. Masing-masing karakter utama memiliki kelebihannya masing-masing yang saling melengkapi. Lockwood, cukup baik dalam indra penglihatan, lalu Lucy yang cukup peka terhadap indra perasa, pendengaran, dan juga peraba. Dan George? Meskipun tidak terlalu lihai keduanya, ia mempunyai minat yang besar terhadap perpustakaan. Kemampuannya ini sangat membantu dalam hal riset atau perencanaan dalam melakukan misi. Terlebih lagi si pemimpin mereka, Lockwood, juga memiliki ambisi serta semangat dalam hal perburuan misi mereka.

Sampai di sini, Stroud berhasil membangun sebuah universe yang masuk ke dalam nalar. Apalagi tentang cara menanggulangi hantu dengan besi-besian dan peralatan tempur para agen lainnya. Harus saya akui, informasi-informasi yang disebarkan dalam cerita cukup realistis dan mengalir. Dan ketika sudah sampai pada momen ini, juga kejelasan jalan cerita ini mau di bawa ke mana, membuat saya bertahan untuk membacanya, dan juga tertarik!

Oh, saya tidak akan mengatakan kalau saya tidak tertarik jika saat membacanya, kesan yang timbul begitu nyata. Terlebih lagi jika kau ikut merasakan sensasi seperti ada hantu di dekat kalian hanya dari deskripnya. Inilah yang menyebabkan mengapa saya berhenti membaca buku ini setelah jam sebelas malam, hahaha. (Apalagi saat kamu punya sepupu yang bisa "melihat" dan mengatakan kalau di kolong kasur tempatmu tidur ada "penghuni"-nya. *bye*)

"Itulah masalahnya dengan hantu. Mereka tidak pernah bicara jelas." ---halaman 339

Tapi saya tidak berharap mendengar hantu berbicara jelas, tidak ya =))

Dari awal saya sudah menduga kalau ada kaitan antara satu kasus dengan kasus lainnya. Namun, misteri yang membungkus ceritanya sangat menarik dan dijelaskan dengan detail. Terutama, yang berkaitan dengan tulisan pada liontin milik Annabel Ward.

Tormentum meum laetitia mea.

Awal mulanya juga menduga kalau "undakan menjerit" ini ada di kasus pertama, ternyata bukan. Dan tentang si undakan ini, memang benar-benar bisa membuat menjerit. Stroud mengeksekusi jalannya cerita dengan baik sekali.

Hanya saja, saya masih penasaran satu hal (dan juga sukses dibuat merinding karenanya). Saat Lucy melihat seseorang yang diduga sebagai pembunuh Annabel, si terduga itu bisa melihat dirinya bahkan menyeringai dari balik kaca satu arah. Itu, bagaimana bisa ya? Hiiii. Saya merinding disko saat membacanya, serius. Namun, sampai akhir saya belum menemukan penjelasan tentang itu.

Oke, meskipun awal mulanya agak membosankan dan banyaaaak sekali typo alias kesalahan penulisan di novel ini, tapi lantas tidak membuat saya menurunkan bintangnya dan bertahan di bintang empat. Ada banyak misteri yang belum terkuak misalnya tentang kamar rahasia Lockwood atau tentang keluarganya yang saya harap bisa terjawab di seri-seri selanjutnya. Bravo!

Pesan yang disampaikan untuk Lucy di halaman 403 ini mungkin bisa menjadi pesan untuk kita semua para pembaca:

"Jangan tersinggung. Kematian akan menghampiri kalian semua. Mengapa? Karena semuanya terbalik. Kematian dalam Kehidupan dan Kehidupan dalam Kematian, dan sesuatu yang padat menjadi cair. Dan tidak peduli apa yang kauusahakan, Lucy, kau takkan bisa memutarbalikkan arus."

(Lupakan komentar Misyel yang berkata, "Hore, akhirnya baca Lockwood juga!" Hahaha. Iya, saya memang menunda baca buku-buku Stroud cukup lama. Selain karena tebal, isi dompet juga tidak tebal alias harga bukunya mahal-mahal #numpangcurhat)

(Satu lagi, ada "penangkap-hantu dari Indonesia" di halaman 150 *yeay*)


The Broker

Judul : The Broker
Penulis : John Grisham
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 600 Halaman
ISBN : 9789792227031
Rating : 4 dari 5 


Blurb:

Pada jam-jam terakhirnya di Oval Office, Presiden yang sudah lengser memberikan pengampunan hukuman yang kontroversial kepada Joel Backman, seorang power broker yang telah menghabiskan enam tahun terakhir dalam penjara federal. Backman, pada masa jayanya, diduga telah mendapatkan teknologi rahasia sistem satelit pengintai yang canggih, yang tak diketahui siapa pemiliknya.

Diam-diam, Backman diselundupkan ke luar negeri, diberi nama baru, identitas baru, dan tempat tinggal baru di Italia. Rencananya, bila Backman sudah mapan dalam kehidupan barunya, CIA akan membocorkan keberadaannya kepada pihak-pihak yang memburunya: Israel, Rusia, Cina, dan Arab Saudi. Kemudian, CIA tinggal ongkang-ongkang, menonton siapa yang akan membunuh Joel Backman terlebih dulu dan dengan demikian mengetahui siapa pemilik sistem satelit itu.

Joel Backman, si umpan, harus lari menyelamatkan diri ke seluruh penjuru Italia, membawa serta rahasia teknologi intelijen paling canggih dalam genggamannya.

***

Kau membawa sebagian masa lalu bersamamu, tak peduli sepahit apa kenangan itu. --- Halaman 99

***

Joel Backman, pada masa kejayaannya, dikenal dengan julukan Sang Broker, karena pekerjaannya sebagai pengacara dengan kemampuan perantara kepada pihak-pihak penting di negaranya, Washington D.C.. Namun insiden terjadi, saat dirinya memfasilitasi tiga orang pemuda dengan kemampuan di atas rata-ratanya yang menangkap pergerakan satelit Neptunus. Proyek yang dinamakan JAM ini disinyalir bernilai miliaran dolar.

Semua orang yang terlibat dalam proyek itu tewas secara misterius, sementara Backman mengambil posisi aman dengan menyelamatkan dirinya dengan mengaku sebagai tersangka. Ia dikenakan hukuman 20 tahun penjara. Semua yang berhubungan dengan dirinya--firma hukum serta kehidupan anaknya--hancur berantakan karena pengakuan itu.

Selang enam tahun kemudian, Presiden Morgan, beberapa jam sebelum masa jabatannya berakhir, mengambil langkah tidak terduga dengan memberikan pengampunan kepada beberapa orang terpidana, salah satunya adalah Backman. Pengampunan pada pria itu sebenarnya atas desakan CIA, yang berniat menjadikan Backman sebagai umpan agar mereka dapat menemukan siapakah dalang di balik kepemilikan satelit tersebut, serta pihak mana saja yang berkepentingan di sini.

Backman dipindahkan ke Italia, diberi identitas baru sebagai Marco Larezzi. Agen lapangan CIA memantau pergerakan Backman setiap waktu. Dia juga diberikan kursus privat bahasa Italia sebelum pada akhirnya dilepas sendirian. Backman menjalani kehidupannya dengan kontrol ketat, membuatnya tidak bisa berkutik atau bahkan meminta pertolongan dari pihak luar. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sebuah instruksi agar ia seminimalisir mungkin meninggalkan jejak.

Ketika saatnya tiba, pihak CIA akan memberikan bocoran dan kisikan pada berbagai pihak, tentang tempat keberadaan Backman. Lalu mereka akan menunggu, siapa yang akan membunuh Backman sehingga akan terungkap tentang rahasia intelijen negara tersebut.

***

The Broker adalah sebuah novel keren dengan penulisan dan plot yang rapi. Ini adalah novel kedua dari John Grisham yang saya baca setelah The Runaway Jury. Jika di novel sebelumnya nuansa hukum dan persidangan begitu kental, The Broker lebih mengusung cerita tentang spionase dan upaya pelarian seorang pengacara merangkap sebagai pihak penghubung kepada orang-orang penting di negaranya. Novel ini sebenarnya tidak begitu terasa thriller-nya tapi benar-benar membuai pembaca untuk menikmati cerita petualangan Joel Backman dalam proses "menghilang"-nya. 

Pada dua ratusan halaman di awal, John Grisham benar-benar membangun plot utama dengan rapi, terkesan minim konflik, namun tidak membosankan. Justru pembaca akan dihadapkan dengan sebuah cerita di balik pelarian Backman, dengan kehidupannya yang didominasi dengan aktivitas belajar bahasa serta berjalan kaki menyusuri kota. Di sini, pembaca dimanjakan dengan penyajian informasi serta deskripsi tentang kota Bologna yang disampaikan melalui sudut pandang seorang pemandu turis--yaitu Francesca, salah satu guru privat Backman. Jadi menambah pengetahuan pembaca tentang tempat baru lagi di daratan Eropa yang cantik dan ramah.

Ceritanya tidak monoton, karena selain untuk membuka satu demi satu informasi terkait plot utama, kisah lainnya pun patut disimak juga. Seperti misalnya, bagaimana kebiasaan orang-orang Italia, tentang jadwal minum cappuccino yang biasanya tidak lagi dipesan setelah jam setengah sebelas pagi, namun kalau mau minum espresso bisa kapan saja. Tentang bahasa-bahasa Italia sederhana seperti buon giorno yang artinya apa kabar, grazie artinya terima kasih, dan masih banyak lagi.

Satu hal yang membuat saya takjub adalah bagaimana Backman membangun strategi untuk menghubungi pihak luar. Benar-benar tidak pernah diprediksi sebelumnya! Keren.

Empat bintang saya berikan untuk novel ini.



The Runaway Jury

Judul : Juri Pilihan (The Runaway Jury)
Pengarang : John Grisham
Penerjemah : Hidayat Saleh
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 658 halaman
ISBN : 9789792261851
Rating : 4 dari 5





Di Biloxi, Missisipi, perusahaan rokok terkemuka digugat oleh seorang janda bernama Celeste Wood, dan pengacara terkenalnya Wendall Rohr. Pynex merupakan satu dari empat perusahaan rokok terkenal, The Big Four, yang digugat oleh janda tersebut atas kematian suaminya akibat mengonsumsi rokok. Pihak tergugat mengerahkan tim pengacaranya yang biasa menangani kasus serupa. Selain itu, ada pula orang-orang di balik layar yang turut menggerakkan dan mengarahkan kasus ini supaya mereka dapat memenangkan persidangan. Tidak hanya kedua belah pihak itu saja yang bersengketa, perusahaan-perusahaan besar lainnya, dan para pihak lain ikut menggantungkan nasib mereka atas hasil persidangan ini.

Di pihak tergugat, mereka menyewa Cable sebagai pengacara, dan membayar Rankin Fitch, selaku orang di belakang layar yang mengatur jalannya persidangan di luar tempat sidang dengan akal bulusnya yang licik. Kedua belah pihak memasang strategi terutama dalam hal memilih para juri yang sekiranya dapat mereka pengaruhi dalam pengambilan keputusan.

Dalam pengadilan Amerika, sebagai pengambil keputusan atas hasil persidangan adalah 12 juri warga sipil yang mendaftar sebagai juri, terlibat dalam proses persidangan hingga pengambilan putusan. Dari ratusan orang, mereka menyaring melewati beberapa tahap, hingga pada 15 orang juri, 12 orang juri tetap, dan 3 orang cadangan. Kedua belah pihak yang bersengketa menganggarkan dana untuk penyelidikan juri ini, terkait dengan kehidupan pribadi mereka, hingga ke hal-hal yang rahasia yang itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengambilan keputusan.

Adalah Nicholas Easter, salah satu juri terpilih. Seseorang yang mengaku pernah belajar hukum di universitas, dan kini bekerja sebagai penjaga komputer. Nicholas berhasil mencuri perhatian juri-juri lain karena pengetahuannya seputar hukum dan persidangan. Ia juga pintar mengambil hati juri lainnya. Namun bagi kedua belah pihak, Nicholas adalah sosok misterius yang tidak terlacak riwayat hidupnya, bahkan oleh Fitch yang memang pekerjaannya adalah mengintai para juri. Kehadiran Nicholas masih saja menjadi misteri, namun tetap tidak terbaca; di pihak manakah ia berada? Membela penggugat, ataukah sebaliknya.

Misteri tidak hanya sampai di situ saja. Ada sosok lain, seorang wanita di luar sana yang mengaku memiliki kendali atas jalannya persidangan. Wanita itu mengaku bernama Marlee. Mula-mula ia menghubungi Fitch untuk membeberkan sebuah fakta yang mengejutkan. Dimulai dengan ia secara jelas memberitahukan informasi baju apa yang Nicholas kenakan pada persidangan esok hari, atau buku apa yang dibawah Jerry saat memasuki ruang sidang. Fitch terkejut dengan kebenaran fakta tersebut dan penasaran pada sosok wanita misterius tersebut.

Selanjutnya apa yang terjadi pada persidangan itu adalah sesuatu yang tidak lazim terjadi pada persidangan-persidangan sebelumnya. Para juri dikarantina, satu per satu juri cadangan maju akibat beberapa juri utama gugur dalam persidangan. Marlee mengklaim sebagai pihak yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Siapakah Marlee? Untuk apa dia melakukan hal ini? Apa hubungannya dengan Nicholas? Dan apa motifnya? Semua dikisahkan dengan menarik, tidak bosan, sampai detik terakhir bahkan sulit ditebak untuk pihak mana Nicholas berada dalam persidangan tersebut.



Seru, keren, menarik. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang fakta tentang bahaya rokok, bagaimana jalannya persidangan di Amerika, juga banyak hal yang disajikan dengan begitu menarik. Ini buku John Grisham pertama yang saya baca, bertemakan seputar pengadilan dan industri rokok. Benar-benar menambah pengetahuan seputar itu. Twistnya nggak bisa ditebak, endingnya juga bikin penasaran bahkan di detik-detik terakhir. Seru sih, nggak nyangka aja kalau ternyata otak di balik semua perencanaan ini adalah (nggak mau spoiler).

Inferno

 

 Judul : Inferno
Pengarang : Dan Brown
ISBN : 9780385537858
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 639 halaman
Rating : 4 dari 5


(Mysteri, Thriller, Adventure)A book set somewhere you've always wanted to visit (Challenge bulan Juli) | A book with more than 500 pages | A mystery or a thrillerA book by an author you've never read before 
 "... Mengasihani diri sendiri adalah impuls yang jarang ditoleransi oleh Sienna, tapi kini, ketika air mata menggenang dari tempat yang jauh di dalam hatinya, dia tahu dirinya tidak punya pilihan, kecuali membiarkan air mata itu keluar." [Hal 63]

"Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan bunglah itu." [Hal 402]


Inferno, Robert Langdon berpetualang kembali dengan kemampuan simbologinya yang menakjubkan.

Berada di Florence, Italia, dengan kondisi ingatannya yang mengalami amnesia jangka pendek, Robert Langdon dihadapkan dengan kenyataan bahwa ada seseorang yang berniat membunuhnya. Dengan bantuan seorang dokter muda, Sienna Brooks, Robert Langdon berhasil melarikan diri dari sekelompok orang tidak dikenali tersebut. Sejak itu, petualangannya dimulai.

Berbekal dengan ingatan samar tentang bayang-bayang seorang perempuan tua yang memintanya untuk segera mencari dan menemukan sesuatu, juga sebuah proyektor portabel berkuncikan sidik jarinya, Robert Langdon memacu dirinya untuk berhasil menemukan apa yang sebenarnya ia cari dan yang terjadi selama ingatannya terhapus, melalui jejak-jejak yang ditinggalkan di puisi seniman ternama dunia, Inferno-nya Dante.

Pencarian itu dimulai dengan kondisi keterbatasan karena sekelompok orang sedang berusaha mengejarnya, membuat Robert dan Sienna menyelusuri bangunan megah yang diciptakan oleh seniman besar Vasari. Memasuki lorong-lorong yang tidak diketahui orang lain, untuk menemukan satu petunjuk yang pentik, yaitu topeng Dante.

Setelah berhasil menemukan tempat itu, rupanya lagi-lagi Robert Langdon dikejutkan bahwa ternyata topeng itu telah dicuri. Dan lebih mengejutkan lagi, setelah melihat rekaman tempat kejadian, bahwa seseorang yang terekam dalam topeng itu adalah Robert sendiri. Lalu bergerak ke petunjuk yang diberikan oleh seseorang yang sama-sama memiliki minat mengenai Inferno-Dante, membawa Robert Langdon menemukan di mana tempat topeng itu disembunyikan. Tidak sampai di situ, petunjuk lain yang muncul dari si topeng membawa mereka lagi menelusuri negeri yang berbeda dengan tempat di mana mereka berada, Venesia.

Ini kalau dilanjutkan spoilernya gila-gilaan. Intinya, ternyata setelah menjelajah kota Venesia, rupanya mereka ini salah memprediksi tempat, dan berlanjutlah petualangan ke negeri yang sama sekali di luar predikisi, yakni Turki. Kya banget lah, apalagi waktu mnjelaskan tentang tempat yang pengin banget saya kunjungi, Hagia Sophia.

Ceritanya ini mengecoh banget, serius deh. Di awal alurnya memang lambat tapi di akhir benar-benar membuat penasaran karena cerita berputar 180 derajat, tidak bisa diprediksi sebelumnya, dan benar-benar mengejutkan.

Sienna, ah Sienna...

Tapi endingnya nanggung banget, ibarat kata ... sudah sejauh ini? Begitu ternyata? Kurang nendang, meskipun memang meleset dari apa yang sudah diprediksikan. Sedikit kecewa, tapi overall buku ini menakjubkan. Baca 600an sekian halaman ngggak terasa sama sekali.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)