[#BBIHUT6] Selamat Ulang Tahun BBI, Semoga Kita Bisa Menua Bersama



Selamat ulang tahun Blog Buku Indonesia yang keenam. Usia enam tahun bukanlah sekadar angka. Jika diibaratkan anak kecil, Bebi sudah mau SD tahun ini. Sedang aktif-aktifnya dan ingin tahu segala hal. Usia perjumpaan kita memang tidak sebanyak bilangan ulang tahunmu, Bebi. Tapi, semoga kita bisa menua bersama.

Saya lupa persisnya bagaimana bisa mengenal komunitas ini, dan kapan tepatnya bergabung. Saat Bebi mengumumkan salah satu artikel dalam perayaan HUT-nya adalah berkenalan dengan anggota baru dengan nomor anggota berkepala 16 dan 17, saya cukup percaya diri untuk merasa kalau nomor keanggotaan saya 16. Eh, ternyata 15. Jadi, saya bergabung di BBI tahun 2015...?

Demi tulisan ini, saya jadi ngubek e-mail dan mencari kapan persisnya saya mendaftar. Ternyata, di tanggal 15 Juli 2015, saya mengirimkan surat elektronik ke Divisi Keanggotaan BBI. Saya tidak tahu mengetahui alamat e-mail itu dari mana. Lebih parahnya lagi, saya bahkan tidak tahu komunitas ini seperti apa, bagaimana, dan apa tujuannya. Tahun 2015 adalah awal keaktifan saya meresensi buku. Ketika tahu ada komunitas peresensi (katakanlah begitu persepsi awal saya tentang BBI), rasanya senang sekali. Dan sangat berminat untuk bergabung.

Pesan saya dibalas tanggal 5 Agustus di tahun yang sama. Saya diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dan dikatakan kalau blog saya akan dipantau untuk melihat keaktifan dan apakah memenuhi persyaratan. Tanggal 21 Agustus 2015, e-mail dari Divisi Keanggotaan menyatakan kalau saya sudah terdaftar sebagai anggota BBI berikut dengan nomor keanggotaannya. Saya senang sekali... meskipun masih tidak tahu dengan komunitas ini. Saya diminta meng-add Facebook salah satu anggota BBI untuk di-invite ke grup Facebook. Berhubung 2015 adalah masa-masanya vakum FB, saya tidak mendapatkan perkembangan yang berarti dari BBI. Pun begitu juga rasanya grup yang dimaksud sepi-sepi saja. Bisa dibilang, saya mirip anak baru yang hilang. Nggak kenal siapa-siapa, dan nggak tahu harus melakukan apa.

Saat diberitahu bahwa ada forum BBI, barulah saya muncul dan mencoba mengaktifkan diri. Beberapa kali terlibat obrolan, tapi tidak ada yang berkesan. Dari situ saya justru merasa kalau anggota BBI lebih aktif di forum regionalnya. Sementara saya... nggak kenal siapa-siapa (lah, jadi sedih). Sebenarnya forum Kalimantan cukup ramai, ada beberapa anggota BBI dari Balikpapan dan yang dari Kalimantan Selatan. Yang dari Samarinda (domisili saya), ada satu orang, tapi saya juga tidak cukup mengenalnya. Mungkin karena bawaan diri kali yah, saya susah untuk bisa membuka diri dengan orang yang tidak saya kenal (atau belum). Jadinya, canggung untuk memulai perkenalan. Saya banyak mengenal anggota BBI lain justru dari kebersamaan beberapa kali nge-host bareng, bukan dari BBI-nya sendiri. Sebenarnya saya juga banyak follow akun media sosial sesama member BBI (terutama di Twitter), tapi beberapa hanya sekadar follow saja, malah minim interaksi. (Meskipun tidak menampik keakraban dengan beberapa lainnya.)

Jadi, kalau ditanya apa yang sudah kamu dapat selama menjadi anggota BBI? Saya justru malah bingung menjawabnya, hahaha. Barangkali kesempatan untuk menjadi host Blogtour adalah salah satunya, karena saya dua kali mendapat tawaran itu setelah mengisi tawaran yang muncul di forum BBI. Mendapatkan jaringan pertemanan? Tentu saja. Saya mendapat banyak teman baru dari forum ini (secara langsung maupun tidak). Lalu, bingungnya kenapa? Barangkali, karena saya belum merasa memiliki kedekatan emosional dan personal yang didapatkan oleh member-member lainnya. (Kok jadi sedih ya, mwihihihi.) Barangkali karena kita kurang saling mengenal. Padahal, di biodata Twitter kita terpampang nomor keanggotaan dari komunitas yang sama. Barangkali, karena saya kurang bisa membuka diri dan mengakrabkan diri dengan yang lainnya. Barangkali, karena pada akhirnya saya memahami, bahwa sebuah hubungan, bisa menjadi sangat personal jika kita sendiri menyelami dan masuk ke sana, merasa menjadi bagian yang tidak lepas darinya. 

Saya berharap, seperti halnya judul tulisan ini, saya bisa menua bersama dengan komunitas ini. Bisa saling mengenal dengan yang belum kenal, berbagi kebahagiaan melalui kesamaan yang kita semua miliki, yakni kecintaan pada buku dan menyebarluaskan virus itu kepada orang-orang di luar sana.

Semoga di usiamu yang baru beranjak dari usia balita ini semakin tumbuh dan besar, berkembang bersama, menjadi dewasa bersama. Semoga saya bisa mengikuti kegiatanmu selalu, baik online maupun offline. Maafkan saya yang belum bisa memberikan sumbangsih berarti untukmu. Maafkan saya yang jarang sapa-sapa atau meramaikan forummu. Maafkan saya juga yang jarang blogwalking atau bahkan susah membuka diri pada member-membermu.

Satu pertanyaan besar saya sebelum saya menutup tulisan ini. Jadi, BBI punya grup atau forum komunikasi atau sekadar ngobrol-ngobrol secara umum (di luar regional masing-masing, di luar forum ini yang sekarang rasanya mulai seperti kuburan karena sepiiiii sekaliiii) yang bisa dimasuki siapa saja yang menjadi anggotanya? :) Kalau ada, bolehkah saya bergabung di dalamnya?

Barangkali ada yang belum kenal dengan saya, saya akan tutup tulisan khusus (dan personal sekali) ini dengan sebuah perkenalan diri. 

Halo teman-teman, baik anggota BBI yang lama maupun baru. Perkenalkan, nama saya Nisa Rahmah, domisili Samarinda-Kalimantan Timur, nomor anggota BBI: 1510321. Kalian bisa mengikuti saya di blog ini: Resensi Buku Nisa, juga di akun media sosial saya yang lumayan aktif: Saya ada di Twitter dan Instagram @niesya_bilqis, juga ada di LINE dengan ID: niesya_bilqis. Salam kenal, semoga kita bisa bersama-sama mengembangkan komunitas tercinta ini bersama-sama.



[#BBIHUT6] Hogwarts Will Always Be There to Welcome You Home

(sumber)

Saat memikirkan tulisan bertema Literatourism untuk posbar BBI HUT 6, saya memikirkan beberapa setting tempat dari novel-novel yang saya pernah baca. Beberapa memang memiliki kesan yang mendalam, terutama bagi novel-novel berlokasi luar negeri. Saat membaca Inferno karya Dan Brown, saya kepingin menyusuri lokasi-lokasi yang dikunjungi Robert Langdon dan Sienna Brooks. Ketika membaca San Francisco milik Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, saya pun kepingin menyusuri jembatan San Francisco yang terkenal itu. Perasaan yang sama muncul ketika saya menikmati Rooftoppers karya Katherine Rundell. Penulis memukau saya dengan ide menikmati pemandangan Menara Eiffel dengan cara yang jauh berbeda. Namun, dari semua buku-buku yang memikat hati saya itu, tidak ada magnet yang sedemikian kuatnya menarik saya untuk membuat list tempat impian, kecuali serial Harry Potter.


Play dulu, yuk, videonya, biar semakin greget baca tulisannya.


Mari kita mulai tulisan ini dengan membubuhkan kutipan dari JK Rowling ini:


“Whether you come back by page or by the big screen, Hogwarts will always be there to welcome you home.” 

Saya selalu senang saat melihat teman-teman saya mengunjungi The Wizarding World of Harry Potter di negara mana pun. Meskipun sempat tebersit perasaan iri karena saya juga sangaaaat kepingin ke sana, tapi saya senang dengan kebahagiaan mereka. Syukurnya, memiliki banyak teman Potterhead, membuat saya tahu bagaimana senangnya mereka saat kembali ke rumah. Mengenakan jubah asrama, syal, tanpa ragu (atau dianggap aneh) saat mengacungkan tongkat sihir, meminum butterbeer, tersesat di Diagon Alley. Rasanya, pasti menyenangkan, dan menjadi pengalaman tak terlupakan.

Saya mendapatkan banyak informasi tentang akses menuju ke Universal Studio baik yang di Osaka ataupun di Orlando. Barangkali, informasi itu baru akan saya baca dengan saksama jika cita-cita mengunjungi The Wizarding World of Harry Potter semakin dekat. Jadi, saya tidak akan bahas di sini. Oleh karenanya, tulisan ini bukan untuk memberikan tips atau sejenisnya. Lalu, tulisan ini tentang apa...? Seperti yang sudah saya singgung di awal, ini adalah semacam wishlist. Dalam hati saya berdoa, baik ketika melihat foto-foto teman yang berkunjung ke sana, juga saat menulis ini, dan ketika membacanya nanti, bahwa semoga, suatu saat saya akan berkunjung ke semua Universal Studio yang ada The Wizarding World of Harry Potter-nya. (Juga ke King's Cross Station yang ada di London.)


Sebelum ke Hogwarts, lewat sini dulu. Sudah siapkah koper dan peralatan sekolahmu?


Lokasi: King's Cross Station, London (sumber)


Jika ada yang belum lengkap, yuk belanja dulu di Diagon Alley. Kalau kehabisan uang, Bank Gringotts siap sedia mengisi pundi-pundi Galleon-mu. 


“Gringotts was the safest place in the world for something you wanted to hide—except perhaps Hogwarts.” 

Lokasi: Universal Studio Orlando, Florida (sumber)

Belum punya tongkat sihir? Atau tongkat sihirmu rusak? Mampir dulu di Ollivander's. Wand Shop. Tepercaya sejak 382 Sebelum Masehi.


"The wand chooses the wizard, Mr. Potter. It is not always clear why."


Lokasi: Universal Studio Osaka, Japan (sumber)

Kalau merasa lelah berbelanja, ngaso dulu, yuk di Kuali Bocor. Ngopi? Nge-butterbeer, dong. (Ups, kalau nggak bisa pastikan halal atau tidaknya, pinjam minuman orang aja buat foto-foto, *yha*)


Lokasi: Orlando, Florida (sumber)
Nah, seperti ini, nih!


Foto: Tom Felton saat pembukaan TWWoHP di Jepang (sumber)

Apakah perbekalanmu sudah siap semua? Tanggal 1 September, waktunya kembali ke Hogwarts! Jangan sampai ketinggalan kereta! Jika sudah melintasi Peron 9 3/4, Hogwarts Express siap membawamu kembali ke rumah.


Lokasi: Universal Studio Orlando, Florida (sumber)

Dan tentu saja... Hogwarts!


Lokasi: Universal Studio Orlando, Florida (sumber)
Lokasi: Universal Studio Osaka, Japan (sumber)

Suatu saat, semoga saya bisa ke tempat-tempat di atas. Amin.






Postingan ini disertakan dalam #BBIHUT6 Blog Buku Indonesia dengan tema: Wishlist Destinasi Wisata Literatur (Literatourism).


[#BBIHUT6] Mengapa Bukunya Diberi Rating Rendah?

Saya memulai petualangan membaca di tahun ini dengan pengalaman yang menyenangkan. Pada bulan Januari, saya membaca buku-buku berbintang tiga dan empat. Barangkali, itu merupakan pertanda baik bahwa saya akan menemukan banyak buku bagus yang saya baca di tahun ini. Namun rasanya petualangan itu tidak asyik kalau tidak menemukan tantangan, benar begitu? 

Dari petualangan membaca buku tersebut, saya mendapatkan buku-buku yang berbintang rendah. Bukan berarti buku itu tidak bagus, hanya saja, tidak memenuhi ekspektasi dan standar saya. Karena, bagus atau tidaknya sebuah buku itu relatif. Dan saya percaya, sebuah buku pasti akan menemukan pembacanya. Jadi, jika bagi saya buku-buku itu berbintang satu atau dua, belum tentu ketika dibaca oleh orang lain akan bernasib sama.

Source pict, edited by me


Saya mau mengemukakan alasan pribadi dulu kenapa buku-buku itu bisa mendapat sambutan kurang menyenangkan oleh saya. Alasan tersebut di antaranya adalah:


1. Kelogisan

Sebagai seorang pembaca kritis (atau anggap saja begitu, hahaha), kelogisan cerita sangat memegang peranan penting bagi saya. Bukan berarti mutlak sih, sebenarnya. Saya memiliki batas toleransi tentang kelogisan sebuah cerita. Kalau ada yang cacat logika sedikit saja, barangkali masih belum menjadi masalah. Tapi, jika yang di luar logika itu terlalu banyak, aduh... ampun, deh, biasanya saya langsung berapi-api untuk memberikan ulasan tentang kecacatlogisannya. Meskipun saat apinya membara saya sudah sediakan tabung pemadam kebakaran supaya nggak kebakar duluan, hahaha.

Kita selama ini sudah terlalu sering dibodohi oleh sinetron-sinetron maupun FTV. Cewek miskin tapi wajahnya seperti habis dari salon kecantikan rutin setiap minggu. Pekerjaan pemulung tapi bajunya bagus, dan lain sebagainya. Itulah mengapa, saya kesal kalau harus mendapatkan hal-hal yang cacat logika seperti ini di buku.

Contohnya bagaimana sih yang menurut saya cacat logika itu?

Misalnya begini, sebuah karakter yang tidak digambarkan latar belakang kehidupannya dari kaum berada dan tidak mengesankan bahwa dirinya seorang dari kalangan jetset atau kaya raya, tapi bisa dengan mudah berkeliling dunia. Mungkin saat orang lain susah mencari rezeki, bagi karakter tersebut rezeki bisa dengan mudah datang seperti memetik daun. Mungkin.

Atau, seorang tokoh yang digambarkan sehari-harinya bekerja di tempat tertentu (atau sedang sekolah/kuliah), tapi malamnya dia memiliki pekerjaan cukup berat lainnya hingga mengambil waktu yang terlalu banyak baginya. Tapi dia baik-baik saja, tidak pernah sakit. Nah, coba bayangkan kalau itu terjadi pada diri kita sendiri. Sanggupkah kita menjalani hal-hal seperti itu? Kalau saya sih, no. Kerja biasa saja sering sakit, apalagi kerja lebih dari enam belas jam sehari. Barangkali memang ada yang demikian, dan banyak orang yang mengalaminya. Tapi, harus ada alasan yang logis untuk bisa menerima yang seperti itu. Contohnya, si tokoh punya stamina yang baik, si tokoh punya alasan yang sangat kuat dia menjalani kehidupan yang seperti itu hingga pekerjaan berat tersebut menjadi tidak terlalu berat karena alasan tersebut. Jika hubungan sebab-akibatnya bisa masuk ke logika, saya rasa tidak masalah. Tapi, yang kita bahas di sini kan yang tidak masuk di akal sehat ya, jadi, yaaa... begitulah.


2. Keluar dari batas koridor SARA

Ups, bukan berarti saya menyatakan diri bebas dari bacaan berbau SARA. Saya tipikal yang senang mengeksplor dan mengembangkan genre bacaan. Termasuk buku-buku berating dewasa dengan adanya adegan kipas-kipas di dalamnya, saya sesekali membacanya. Namun, saya punya batasan atau koridornya di mana kalau sudah lepas dari koridor itu, maaf saya kalau buku tersebut jadi saya kategorikan sebagai buku low rated. Novel dewasa yang adegan seksnya tidak sesuai dengan plot atau justru menjual hanya adegan itu pada novelnya semata--dalam artian bukan menjual plot secara keseluruhan, siap-siap saya berikan bintang rendah untuknya.

Dan tentang SARA, bukan melulu membahas tentang seks semata. Banyak hal yang berada dalam koridor ini. Buku-buku penuai kebencian yang menurut saya terindikasi memberikan ruang untuk menyalurkan kebenciannya itu, sudah pasti langsung saya nobatkan sebagai buku-buku berating rendah.

Untuk itu, biasanya saya coba menghindari buku-buku jenis ini. Bukan berarti saya mengurung pemikiran dan pemahaman saya, hanya saja, saya memang perlu memiliki batasan terhadap buku-buku yang saya baca. Misalnya, saya menghindari buku-buku berbau LGBT apalagi kalau ada adegan seksual di dalamnya. Tidak, terima kasih.


3. Genre berbalik arah

Saya tidak suka dengan buku yang di tengah-tengah, genrenya berubah. Misalnya, kisah persahabatan remaja yang mendadak berubah menjadi thriller. Atau, novel roman yang berubah haluan menjadi misteri tanpa ada petunjuk apa pun tentang perubahan genre itu. Sudah cukup lah ya di dunia nyata ditipu oleh banyak hal, apalagi cinta (eaaa...) jangan juga ditipu dengan genre buku yang berubah-ubah begini. Kalau tipuannya berhasil, mungkin bisa mengobati kekecewaan. Tapi kalau tidak...?


4. Ceritanya terlalu drama

Sebenarnya ini relatif. Ada buku-buku dengan kadar drama yang overdosis tapi saya masih bisa menikmati dan senang membacanya (contohnya, Kereta Api Terakhir karya Mira W). Namun, di luar kasus khusus tersebut, biasanya saya tidak terlalu menikmati novel-novel dengan drama yang kebanyakan. Barangkali, memiliki banyak plot maupun sub-plot dalam novel itu perlu agar setiap lembaran demi lembarannya pembaca tidak dibuat kebosanan. Hanya saja, jika plot-plot itu didramatisir, rasanya jadi tidak seru lagi. 


5. Karakternya Gary Tsu atau Mary Sue

Silakan googling kata ini kalau belum tahu artinya, ya. Intinya, adalah membuat karakter teramat sempurna. Misalnya karakter fantasi di mana tokohnya bisa terbang, membaca pikiran orang, bisa menyihir, bisa menghilang, cantik, kaya, modis, terkenal, pintar, semuanya ada dalam satu tokoh. Kalau sudah menemukan buku berkarakter begini, rasanya malas sekali. Kesempurnaan kan hanya milik Allah swt.

Karakter Gary Tsu atau Mary Sue membuatnya susah untuk mendapat simpati. Apa lagi yang harus disimpatiin kalau hidupnya sudah terlalu sempurna: kaya, cantik, punya suami tampan dan mapan, punya anak lucu-lucu, liburan selalu ke tempat yang eksotis di sepenjuru dunia? Barangkali kembali lagi, bahwa karakter dalam novel adalah refleksi dari kehidupan nyata. Mungkin ada karakter-karakter demikian di kehidupan nyata. Namun, kembali lagi, apabila karakter tersebut tidak bisa merebut simpati pembacanya, saya rasa tidak banyak yang bisa dilakukan lagi untuk menikmati kisahnya.

Ada satu lagi yang menurut saya kurang menyenangkan, meskipun agak melenceng dari alasan yang ini. Yaitu ketika penulis terlalu mengagung-agungkan karakternya. Terasa kok, saat membacanya. Misalnya, ada keberpihakan si penulis pada karakter tertentu dan mematikan peran karakter yang lain. (Ah ini sudah tidak nyambung dengan Gary Tsu dan Mary Sue, jadi pembahasannya tidak akan saya perpanjang lagi.)


6. Terlalu banyak typo

Typo alias kesalahan penulisan adalah momok bagi para penulis. Saya saja, bahkan saat menulis ini menemukan banyak kesalahan penulisan (sebelum diperbaiki). Buku yang memiliki banyak kesalahan penulisan tentu akan menurunkan semangat membaca. Meskipun, pada beberapa kasus, typo ini masih bisa ditoleransi. Apalagi kalau kisahnya menarik. Tapi, kalau sudah banyak minusnya ditambah dengan banyaknya kesalahan penulisan, saya rasa susah untuk memberikan bintang yang banyak untuk buku tersebut.

Kalau di bawah lima, masih wajar, karena manusia tidak luput dari yang namanya kesalahan. Kalau lebih dari sepuluh, sepertinya ini masalah serius.


Itu dia alasan yang bisa saya kemukakan mengapa ada buku-buku yang saya beri rating rendah. Meskipun, sebenarnya saya cukup ramah dalam memberikan penilaian terhadap buku. Padahal, standar saya cukup tinggi untuk menilai buku. Percayalah, di balik bintang yang rendah, bukan berarti si penulis tidak berhasil dalam menuliskan bukunya, hanya saja mungkin pesannya tidak sampai ke saya. Barangkali, akan sampai ke yang lainnya. 

Penilaian terhadap suatu buku memang subjektif, itulah mengapa di awal saya mengatakan bahwa buku pasti akan menemukan pembaca yang tepat baginya. Untuk itu, biasanya jika ada kriteria buku-buku yang tidak sesuai dengan standar pemberian bintang saya, saya memberikan ulasan dengan jujur disertai dengan alasan-alasannya. Agar di kemudian hari, alasan itu bisa menjadi pertimbangan dan saran membangun bagi karya-karya selanjutnya.

Bagaimana dengan kalian, apa alasan kalian memberi rating rendah terhadap suatu buku?



Postingan ini disertakan dalam #BBIHUT6 Blog Buku Indonesia dengan tema: Tips dan/atau Pengalaman Seorang Pembaca.

[#BBIHUT6] Karakter Fiksi Bernama Ethan

Saat membaca, saya biasanya sering menemukan detail yang barangkali tidak terpikirkan oleh yang lain. Misalnya, kemiripan nama dari buku-buku yang saya baca rasanya memang tidak mudah dilupakan oleh saya. Barangkali juga bagi para pembaca lainnnya. Lalu, mengapa saya membuat tulisan dengan tokoh bernama "Ethan"? Apakah nama itu istimewa dalam hidup saya? Ah, tidak juga, hahaha.

Pada gambar: Ethan Hawke (Aktor, Penulis, Sutradara)

Saya hanya punya satu kenalan bernama Ethan, itu pun sosok yang tidak nyata. Ethan adalah nama karakter rekaan teman saya di salah satu forum role playing fiction. Setiap buku berkarakter Ethan, saya selalu memberitahunya dan mengatakan kalau namanya jadi pasaran, hehehe. Tentu saja dalam koridor candaan. Pada kenyataannya, belakangan saya sering menemukan nama Ethan dalam karakter fiksi yang saya baca. Dan akhirnya, saya membuat ulasan ini karena menurut saya ini menarik. Setidaknya bagi saya, nama Ethan tidak cukup familier. Tidak seperti nama Ana, Sophie, atau Mia, misalnya. Namun ternyata, nama ini lagi booming dijadikan sebagai nama karakter fiksi (nah, unik, bukan?).

Inilah dia novel-novel fiksi yang salah satu tokohnya bernama Ethan:





Ethan adalah salah satu karakter di novel remaja Fairly. Di sini, sosok Ethan digambarkan sebagai cowok Luna, salah satu tokoh utama di sini. Ethan yang posesif, anak orang kaya, dan boleh saya katakan (menurut pendapat pribadi) bahwa Ethan adalah karakter yang menyebalkan; terlebih-lebih, dia cowok gila dan psikopat. Bagaimana tidak, si Ethan ini berani melakukan apa pun demi memuaskan keinginannya. Dan keinginan tersebut, cenderung tidak masuk akal. Seperti misalnya, memaksa untuk pindah sekolah dan melakukan apa saja demi bisa ada di sekolah cewek incarannya. Bahkan, harus satu kelas dengannya.

Untuk Ethan di novel ini, saya beri ✩ bintang.







Ethan di sini adalah tokoh figuran, yaitu cowok yang disukai oleh Sarah, si tokoh utama. Diceritakan bahwa Sarah Lemon tidak pernah mengenal konsep cinta sebelum bertemu Ethan. Untuk pemuda itu, Sarah bahkan melakukan banyak hal tanpa cowok itu ketahui. Sarah Lemon menghabiskan uang jajannya untuk bepergian jauh dari rumahnya, mengunjungi toko jam, demi memberikan hadiah kepada Ethan; sebuah jam tangan. Kepada tukang jam tersebut, diceritakannyalah tentang Ethan, di mana dia tidak mungkin bercerita kepada ibu atau teman-temannya. Sarah rela menghabiskan banyak waktu mempersiapkan dirinya hanya untuk bertemu cowok itu.

Karena Ethan di sini hanyalah tokoh pelengkap dan karakternya kurang digali, saya memberikan ★✩✩✩ bintang untuk pemuda dambaan Sarah itu.







Ethan adalah masa lalu bagi Winona. Ethan mantan kekasih dari gadis tokoh utama yang pekerjaannya sebagai food reviewer itu. Meskipun mereka sudah berpisah, tapi Ethan dan Winona masih menjalin hubungan baik. Mereka bahkan berteman. Dan sepertinya, Ethan masih memiliki keinginan untuk berbaikan dengan Ethan. 


Dalam novel ini, ada dua tokoh utama yaitu Aries dan Ethan. Meskipun Ethan banyak dibahas di sini, sayang sekali informasi tentangnya tidak muncul di blurb. Sepertinya, penulis lebih ingin menonjolkan karakter pria satunya, si Pria Rasi Bintang, yakni Aries. Padahal saya sebagai pembaca, lebih suka dengan Ethan ketimbang tokoh utamanya, hahaha. Maklum saja, suka dengan sebuah karakter kan subjektif bentuknya. 


Untuk Ethan di The Playlist, saya berikan ✩✩ bintang.







Lagi-lagi saya lebih menyukai Ethan si side character ketimbang tokoh utamanya. Setelah saya mengalaminya di The Playlist, pada novel remaja Sky, saya pun merasakan hal yang serupa. Ethan digambarkan sebagai sosok yang menyenangkan, menyukai fotografi, dan juga menyukai Lyn, si tokoh utama. Ethan yang mulanya adalah si stalker yang tertangkap basah oleh Lyn, menjadi akrab, dan menjadi sandaran Lyn ketika Kay, cowok yang disukainya menjauh. Ethan yang ceria, digambarkan sebagai sosok yang keren dan dinamis, lebih mencuri perhatian saya ketimbang Kay yang misterius dan dingin.

★★★✩✩ bintang untuk Ethan.





Bisa dibilang, dari semua Ethan yang saya kenal, saya paling menyukai Ethan Hall. Dia adalah seorang sutradara terkenal yang memiliki trauma terhadap sebuah kejadian yang pernah menimpanya. Dia terlibat sebuah hubungan pekerjaan yang rumit denga Julia Milano, seorang penulis merangkap editor di tempatnya bekerja. Novelnya menjadi best seller, tapi dia bersembunyi di balik identitas Jane Martin, nama penanya. Karena Ethan yang sudah sejak lama vakum dari dunia perfilman tertarik untuk mengangkat novel Julia ke layar lebar, otomatis membawa Julia pada kerumitan ini. Karena, walau bagaimanapun, Julia harus menutupi identitasnya sebagai sang penulis terkenal itu.

Saya memberikan ★★★✩ bintang untuk Ethan Hall.



Nah, itu dia ulasan saya tentang karakter fiksi bernama Ethan. Sebenarnya masih ada nama Ethan lain yang cukup terkenal, seperti misalnya Ethan Nakamura si anak Nemesis di serial Percy Jackson, dan beberapa Ethan lain yang samar teringat saat sedang menulis ini (tapi saya lupa dari karakter mana). 


Apakah kalian pernah menemukan Ethan-Ethan lain di buku yang kalian baca? Atau kalian pernah memikirkan hal yang sama tentang mengingat-ingat nama karakter sama dari buku-buku yang pernah kalian baca? Atau bahkan kalian mau memberi saya rekomendasi nama mana yang musti saya ulas untuk bahan Ngobras Buku lainnya? Silakan tinggalkan di kolom komentar, ya. :)



Postingan ini disertakan dalam #BBIHUT6 Blog Buku Indonesia dengan tema: Serba-serbi Buku atau All About Books, karena yang saya bahas adalah buku-buku dengan karakter bernama Ethan. (Masih masuk dalam tema, kan? ;))



Pengumuman Giveaway Seruni



Selamat pagi teman-teman.

Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan pengumuman ini ya, dikarenakan satu dan lain hal, jadinya waktu pengumuman molor beberapa hari. Semoga, ini tidak mengurangi rasa antusiasme teman-teman nantinya untuk berkunjung dan mengikuti giveaway di Resensi Buku Nisa.

Saya berterima kasih kepada penulis dan penerbit atas kerja samanya dalam rangka blogtour novel Seruni. Kepada penulis, semoga terus memberikan karya terbaik yang dapat dinikmati banyak pembaca. Kepada penerbit, semoga bisa terus menerbitkan buku-buku terbaik dan berkualitas untuk pembaca. Terima kasih pula ditujukan kepada teman-teman yang sudah ikut meramaikan blogtour ini dengan mengikuti giveaway-nya.

Sebagai pertanyaan yang saya ajukan, tentang bunga atau pohon apa yang mewakili kalian, saya senang sekali membacanya, karena saya jadi mengenal teman-teman semua dengan cara yang unik :) Kalau saya menjawab pertanyaan itu, saya mengasosiasikan diri sebagai bunga mawar. Bukan karena cantiknya atau mainstream-nya pilihan "mawar" sebagai perlambang diri, melainkan karena bunga mawar memiliki filosofinya tersendiri. Dengan tangkai yang berduri dan tidak mudah tumbuh di mana saja (saya beberapa kali mencoba menanam mawar tapi berakhir dengan layu dan mati sendiri, hahaha).

Jadi, akhirnya sekarang tibalah saatnya saya mengumumkan siapa pemenangnya. Dan yang beruntung mendapatkan novel Seruni kali ini adalah ...


Selamat kepada:


Aya Hans
@jeruknipisanget


Ditunggu konfirmasinya via dm di twitter @niesya_bilqis, sertakan nama, alamat, dan no telepon untuk pengiriman bukunya paling lambat 3 x 24 jam setelah pengumuman ini dibuat.

Selamat kepada pemenang. Buat yang belum terpilih, masih ada kesempatan lainnya. Nantikan giveaway lainnya yang diadakan di blog saya. 

Terima kasih, selamat pagi, dan wassalamualaikum.


Bad Boys

Judul : Bad Boys
Penulis : Nathalia Theodora 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 216 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2014
ISBN : 9786020306629
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Semua orang tahu, SMA Emerald dan SMA Vilmaris musuh bebuyutan, walaupun kini jarang tawuran. SMA Emerald dikomandani Austin, sementara SMA Vilmaris dipegang oleh Troy. Tapi siapa yang tahu bahwa Ivy, adik Troy, ternyata bersekolah di SMA Emerald?

Suatu hari, Lionel—tangan kanan Troy—diberi tugas untuk menjemput Ivy, dan kepergok oleh Austin! Menyimpulkan bahwa Ivy berpacaran dengan musuh, Austin menghukum Ivy menjadi pesuruh gengnya. Untuk menutupi identitasnya sebagai adik Troy, Ivy pun mematuhi perintah Austin, juga perintah Troy untuk pura-pura pacaran dengan Lionel.

Saat Ivy memohon pada Austin untuk menghentikan hukuman, Austin menyuruhnya putus dari Lionel sebagai syarat. Lagi pula, ternyata Ivy diam-diam mulai menyukai Austin...

Bisakah Ivy terus menutupi identitasnya ketika Austin akhirnya menyatakan cinta? Dan bagaimana tanggapan Ivy saat Lionel menganggapnya bukan sekadar adik Troy? 

***

Troy dan Ivy kakak beradik. Sementara, di sekolahnya Troy adalah ketua geng yang sering berantem dengan geng sekolah lain. Malangnya, sekolah lain itu adalah sekolah adiknya. Ivy memang menginginkan bersekolah di SMA Emerald, musuh bebuyutan SMA Vilmaris--sekolah Troy. Akibatnya, Troy harus sembunyi-sembunyi mengantar Ivy sekolah. Saat mengantar Ivy itulah Troy meminta Lionel, sahabatnya, untuk mengoper menjemput Ivy, agar keberadaan Troy tidak terlacak oleh Austin, dan keselamatan Ivy tidak terancam.

Austin, geng sekolah Emerald, sangat membenci Troy. Saat ia melihat ada anak SMA Emerald yang diantar oleh anggota geng SMA Vilmaris, ia marah dan murka. Kemurkaan itu ditujukan pada Ivy, si gadis yang ketahuan diantar-jemput Lionel. Demi keselamatan, Ivy tidak boleh mengaku sebagai adik Troy, dan harus menganggap Lionel sebagai pacar.

Sementara itu, sebagai hukuman, Ivy diharuskan untuk menjadi pesuruh Austin dan gengnya. Dari situlah kedekatan mereka menimbulkan bunga-bunga cinta.

Menyadari bahwa perasaan itu tidak boleh sampai terjadi, Ivy jadi bingung sendiri. Ia terpaksa berbohong dengan mengaku rumah Sophie, sahabatnya, adalah rumahnya, pada Austin. Dan begitu ia diajak ke rumah cowok itu, sebuah fakta menarik terkuak, yang berhubungan dengan Troy dan masa lalunya. Keadaan itu, membuat Ivy dan perasaannya pada Austin semakin sulit dan rumit.

Jadi, bisakah Ivy melaluinya dan berterus terang pada Troy maupun Austin?

***

Ada dua hal yang menggelitik saya selama membaca novel ini: Pertama, saya cukup terganggu dengan kalimat-kalimat percakapan formal yang nanggung. Saya merasa kurang sreg, karena nanggung itu. Baiknya, kalau mau dibuat baku ya baku sekalian, tapi kalau mau dibuat santai, alangkah lebih baik membuat kalimat yang lebih luwes lagi. Tapi ini nggak berlangsung setiap saat sih, rasanya hanya pada momen-momen tertentu saja percakapannya jadi kurang luwes. Tapi cukup mengganggu.

Kedua, saya agak kecewa sedikit karena yang ditonjolkan di dalam cerita ini adalah kisah percintaannya, bukan karakteristik bad boy-nya. Saya pikir bakal ada banyak adegan baku hantam yang seru *_* mengingat ilustrasi di awal bab pun menyiratkan begitu. Sekalinya ada berantem, eh, nggak live. Jiahaha.

Namun, saya cukup menikmati cerita ini, bahkan tidak ada bagian yang saya skip waktu membacanya. Apalagi kisah badboy-badboy-an lagi naik daun belakangan ini. (Karena pada dasarnya, dekat sama bad boy itu lebih greget buat naikin gengsi anak SMA ketimbang dekatin cowok-cowok taat peraturan atau nerd, wkwkwk.) Apalagi kisahnya simpel, dan narasinya oke (minus kalimat langsung yang tadi sedikit saya keluhkan). Membaca buku ini, saya jadi kepingin makan sate ayam.

Baiklah, yuk mari lanjut ke buku dua! :)

P.S. Kalau nggak baca ulasan dari salah satu goodreaders, saya nggak tahu kalau ada kesalahan penulisan di blurb, tentang nama sekolah Troy. Wah, cukup fatal juga, ya?


Of Thee I Sing: A Letter to My Daughters

Judul : Of Thee I Sing: A Letter to My Daughters
Tentang Dirimu Aku Bernyanyi: Surat untuk Putri-Putriku
Penulis : Barack Obama
Ilustrasi : Loren Long
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 40 Halaman
Cetakan Pertama, Juni 2011
(Cetakan Pertama Versi Asli: November 2010)
ISBN : 9789792270372
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Have I told you
that America is made up
of people of every kind?

Pernahkah kukatakan kepadamu
bahwa Amerika terdiri atas
berbagai macam orang?

***

Have I told you that the are all a part of you?
Have told you that you are one of them,
and you are the future?
And have I told you that I love you?

***

Merinding, baca halaman-halaman terakhirnya T-T

Pada mulanya, saya hanya mengira bahwa ini hanyalah sekadar kumpulan orang-orang hebat yang pernah hadir ke muka bumi, yang diceritakan oleh Barack Obama untuk kedua anaknya. (Ada kisah tentang Albert Einstein, Maya Lin, Neil Armstrong, Abraham Lincoln, George Washington, dan lain-lain, yang masing-masing mereka disampaikan hanya dalam satu paragraf saja.) Karena, tajuk buku ini adalah "Tentang Dirimu Aku Bernyani: Surat untuk Putri-putriku". Semacam kumpulan orang-orang inspiratif yang bisa dijadikan inspirasi sukses untuk anaknya, dari beragam lini kehidupan dan bakat tokoh-tokohnya. Juga disampaikan dengan ilustrasi keren, dan disajikan dwibahasa. 

Namun, ternyata ada benang merah di antara semua orang di dalam buku ini. Benang merah yang membuat saya merinding, membuat saya semakin meyakini bahwa sosok Barack Obama adalah benar-benar seorang yang inspiratif untuk semua orang di dunia. Melalui buku ini, beliau menyampaikan pesan yang luar biasa dalam sebuah kisah yang sederhana.

Have I told you that America is made up of people of every kind?

People of all races, religions, and beliefs.
People rom the coastlines and the mountains.
People who have made bright lights shine by sharing their unique gifts
and giving us the courage to lift one another up, to keep up the fight,
to work and build upon all that is good in our nation.

Sebuah pesan tentang toleransi yang indah <3


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)