Lost and Found

Judul : Lost and Found
Penulis : Dy Lunaly
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 250 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2016
ISBN : 9786023757077
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Setiap benda akan patah. Termasuk hati. Walau sudah delapan tahun berlalu, hati Illa masih patah dan jiwanya rusak. Sampai detik ini dia masih tidak memiliki kepercayaan diri untuk kembali berurusan dengan cinta. Bukan tanpa alasan, dia takut untuk kembali terluka, mental dan fisik.

Illa menjalani hidupnya dengan membuka sebuah toko bernama My Ex-Boyfriend di sudut jalan Braga. Toko yang menarik perhatian banyak orang karena tokonya khusus menjual barang pemberian dari mantan. My Ex-Boyfriend tidak pernah sepi membuat hidupnya cukup sibuk dan untuk sesaat dia berhasil melupakan sesuatu yang bernama cinta. Hingga seorang pria tidak sengaja hadir dalam hidupnya.

Mungkinkah hati yang tidak hanya sudah patah melainkan berderai mampu kembali utuh? Mungkinkah rasa percaya yang sirna karena pengalaman buruk mampu kembali untuk percaya?

Pada akhirnya, akankah tragedi menghasilkan bahagia?


***

Illa mendiami lantai dua toko uniknya yang bernama My Ex-Boyfriend. Tak kalah unik pula, tokonya memiliki ciri khas dengan menjual barang-barang milik mantan. Illa memberikan sentuhan pada benda-benda itu hingga akhirnya layak jual. Di My Ex-Boyfriend, biasanya orang-orang memberikan begitu saja barang-barang peninggalan mantan mereka. Ada pula, kiriman-kiriman yang disertai dengan surat-surat yang berkisah tentang banyak hal, terutama tentang barang yang mereka kirim untuk "dibuang" dalam kehidupan mereka.


Hai Illa,
Akhir-akhir ini aku dihantui satu pertanyaan, di mana kita menyimpan kenangan?
Tidak mungkin pada barang karena sekalipun kita sudah membuang atau menjualnya, kenangan selalu menemukan cara untuk kembali. Dan tidak juga pada ingatan karena seharuasnya kita belajar untuk melupakannya.
Jadi, di mana kita menyimpan kenangan? ---halaman 7

Illa mendapatkan seorang pengunjung, pria bernama Pandu yang ternyata tempat tinggalnya tidak jauh dari tokonya berada. Namanya Pandu, dan dia memborong album foto untuk didesain ulang menjadi sebuah diorama.

Kehadiran Pandu, tidak sebatas itu saja. Pria itu bahkan sudah mengenal Illa jauh dari sebelum pertemuan pertama mereka berlangsung. Apalagi, setelah bantuan demi bantuan tak terduga yang diberikan Pandu padanya, berhasil membuat ia meyakinkan diri untuk membuka sebuah kisah baru di balik cerita lamanya sebagai seorang penyintas sesuatu di masa lalu. Sosok Danang dalam hidupnya berhasil menorehkan luka lama yang tak kunjung mereda. Belum lagi, cerita-cerita seputar kehilangan orang-orang terdekatnya, membuat Illa begitu takut untuk melangkah ke depan.


"Kamu tahu, mengingat kenangan yang membahagiakan jauh lebih sakit daripada mengingat kenangan buruk. Karena kita tahu kenangan bahagia itu nggak mungkin terulang." ---halaman 138

Apakah Pandu cukup memberikan "arti" dalam kehidupan Illa lebih dari sekadar ia membantunya di kala dibutuhkan, dan ia mengetahui makanan kesukaan Illa yang sering dipesannya di kafe miliknya?


***

Lost and Found adalah buku pertama dari Dy Lunaly yang saya baca, setelah sekian lama mem-follow penulis pada akun media sosialnya. Menurut saya, buku ini cukup bagus. Cara penulis mengemas ceritanya menarik. Apalagi, menemukan tema yang untuk untuk dijadikan bahan baku pembuatan novelnya, sungguh merupakan ide yang brilian. Bagi saya, kisah yang bagus itu yang memiliki kedekatan personal dengan pembacanya. Dan memberikan kisah pada barang-barang pemberian mantan, jelas berhasil memberikan kedekatan itu. Siapa sih yang nggak pernah dikasih barang spesial dari orang yang pernah spesial dalam kehidupan kita? Saya yakin, pembaca (atau minimal saya, deh), langsung terngiang pada benda-benda apa saja yang pernah diberikan mantan pada saya, dan kenangan yang tersimpan pada barang tersebut kembali menguar... dan membuat laper. (Hehehe, saya anti baper.)

Salah satu keunggulan yang dimiliki penulis adalah, berhasil menempatkan deskripsi setting dengan apik. Sudut-sudut Jalan Braga memiliki aura magisnya yang menyenangkan, membuat saya yang bukan orang Bandung merasa berada di sana, menikmati arsitektur bangunan tua yang menawan di sepanjang jalannya. Fix lah, kalau ke Bandung lagi saya harus menikmati sepanjang jalan ini.


Salah Satu Sudut Jalan Braga (Sumber Gambar)

Kisah yang terjalin antara Illa dan Pandu pun, cukup menarik untuk disimak. Bagaimana pertemuan pertama yang memancing pertemuan-pertemuan selanjutnya, tentang Illa yang berusaha keluar dari kungkungan masa lalunya yang berat, juga Pandu yang mulai menceritakan dan menguak cerita kelam masa lalu pria itu. Semuanya, terjalin dengan cukup manis.

Secara umum, Lost and Found berhasil menyuguhkan kisah menarik yang layak untuk dibaca. Meskipun, ada beberapa hal yang menurut saya bisa tersaji lebih bagus lagi. Pertama, saya kesulitan menemukan deskripsi fisik tokoh-tokohnya, terutama Illa. Atau mungkin saya yang kelewat bacanya? Entahlah. Dalam bayangan saya, Illa adalah sosok enterpreneur muda yang memikat dan menarik. Namun ternyata, di tengah menuju akhir, justru saya mendapatkan sebuah fakta tentang adanya kata-kata bahwa Illa ini "jelek, lemah, sama sekali nggak menarik". Wow. Satu kalimat itu berhasil membuyarkan bayangan saya tentang Illa yang sudah dibangun dari awal. 

Yang kedua, barangkali ada hubungannya dengan ulasan saya sebelumnya. Ada beberapa bagian yang menurut saya, penulis masih menggunakan teknik "tell" dalam penyajiannya. Misalnya, ungkapan "jelek" itu tadi. Alih-alih menuliskan jelek, alangkah lebih baiknya diberikan beberapa fakta yang bisa disimpulkan sendiri oleh pembaca tentang itu. Entah mungkin dalam deskripsi fisik, atau dari kesan-kesan tokohnya. Padahal, belum tentu sesungguhnya seperti yang digambarkan dalam satu baris kalimat itu. Sebenarnya, kerasa banget itu saat adegan Illa mendapatkan surat yang menyertai barang-barang yang dikirim ke My Ex Boyfriend. Obrolan tentang isi surat yang dibahs kedua tokoh di sana, menjelaskan bahwa suratnya "sedih banget" sampai ada yang menangis karena membacanya. Saya jadi penasaran, memangnya sesedih apa sih isi suratnya? Karena di awal seolah sudah didikte bahwa pasti bakalan sedih. 


Kesedihan seperti apa yang ditanggung hingga dia tidak mampu menahan air matanya ketika menulis surat ini? ---halaman 16

Ternyata, isi suratnya memang sedih. Hanya saja, menurut saya, sebaiknya tidak ada pernyataan tentang sedih itu duluan. Membiarkan pembaca merasakan sendiri kesedihannya tanpa harus didikte duluan, efeknya bakal lebih personal ketimbang di-"tell" duluan di depan.

Satu lagi, mohon maaf, saya tidak berhenti memikirkan Danang Dangdut Academy Asia saat melihat nama Danang muncul di buku ini (#initidakpenting).

Tentang barang-barang pemberian mantan (entah mengapa saya kepingin bahas ini juga di sini), saya meyakini bahwa setiap benda itu mempunyai cerita. Apalagi, ketika barang itu diberikan oleh orang yang pernah punya cerita dalam kehidupan kita. Saya nggak punya mantan sih, sebenarnya (hahaha, bohong banget!). Saya anggap mereka adalah orang yang pernah dekat secara personal dengan saya, dan memiliki arti dan tempat khusus yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Saya pernah diberi beberapa benda istimewa. Ada jilbab (yang sampai sekarang nggak pernah saya pakai lagi, wkwkw), tapi lebih banyak buku. Saya punya beberapa buku dari orang-orang istimewa. Dan ketika kehidupan saya tidak lagi bersinggungan dan berada pada rel yang sama dengan mereka, saya lebih memilih untuk menyimpan kenangan itu dan tidak tertarik untuk membuang atau mengalihkan kepemilikan ke orang lain. Karena, bukan bendanya yang menjadi masalah, tetapi bagaimana cara kita menata hati yang menjadikan kenangan itu tidak dalam posisi yang destruktif. (Saya memang nggak buang barangnya, tapi block orangnya di media sosial, hahaha #lah) Tapi saya dapat hikmah dari barang pemberian mantan ini. Saya dapat boneka beruang besar warna biru yang aslinya, diberikan oleh mantannya si adik, ke adik saya. Nah, barang pemberian mantan terkadang mempunyai hikmah menyenangkan, bukan?

Tuh kan benar, membuat cerita yang dekat dengan pembaca itu, berhasil menempelkan kesan dalam benak yang tidak mudah untuk hilang.

Oke, itu dia sedikit ulasan saya. Lost and Found adalah perkenalan pertama saya dengan penulis, dan sepertinya, perkenalan ini akan berlanjut ke karya-karya penulis lainnya. 

Oleh-oleh dari Bazar Buku Samarinda Central Plaza



Halo selamat malam, teman-teman.

Hari ini, saya memang sudah niat mau mengunjungi bazar buku Gramedia di SCP (Samarinda Central Plaza). Jadi, dari sore sudah meniatkan mau ke sana. Tapi ternyata hujan. Untung saja selepas magrib hujannya reda... jomblo-jomblo sedih deh :D Saya sih bukan termasuk golongan yang sedih (meskipun yaaa, jomblo juga! :D).

Saya sama adek pergi ke SCP. Di sana lagi ramai banget, banyak event yang berlangsung di lantai dasarnya. Karena kami isi perut dulu, jadinya bersantai sejenak menikmati burger sambil melihat lalu-lalang manusia-manusia di sana.

Sebenarnya, nggak mau niat cari buku sih, hanya jalan-jalan saja. Karena, saya kan lagi diet beli buku. Tapi ya, yang namanya godaan diskon besar-besaran itu... bikin lapar mata dan sekarat dompet! (Padahal jatah yang buat buku itu bakal dialokasikan buat beli daster, akhirnya direlakan untuk buku! Selalu begitu!)

Ini dia penampakan lokasinya. Di depan KFC, dekat eskalator turun. 

Obral 25 Ribu

Obral 10 Ribu

Obral 15 Ribu

Kekalapan saya yang pertama, tertuju pada Boneka Cantik dari Kain Felt.


Buku ini ada di boks Rp10.000,00 dan begitu saya menemukannya, langsung ambil tanpa pikir panjang. Karena, saya suka dengan kreasi dari kain felt (atau dikenal juga dengan nama kain flanel). Dan untuk harga segitu, saya rela membeli buku ini meskipun belum menengok bagaimana isinya. Sepertinya, saya akan meluangkan waktu khusus untuk mencoba salah satu kreasi yang ada di buku ini. Semoga ada waktu.


Penemuan kedua, ada di boks sebelahnya, Rp20.000,00. Yang saya lihat adalah... A Tale o Two Cities!


Saya sudah membaca buku ini, terbitan Qanita, di iJak. Surprisingly, saya suka, bahkan saya berikan bintang lima. Melihat buku ini versi fisik, tentu saya tidak segan untuk mengangkutnya. Apalagi, yang ini berbeda penerbit (dan sepertinya penerjemahannya). Jadinya, saya cukup penasaran untuk membaca ulang versi yang ini. Akhirnya, buku bagus ini saya miliki juga dalam wujud cetaknya!

Lalu keempat yang lainnya, saya lupa urutannya yang mana. Yang jelas, ketika saya beranjak ke boks berisi tentang buku-buku anak... berhasil membuat saya mencomot tiga di antaranya! Alasannya sih, untuk dibaca bareng sama keponakan yang umurnya enam tahun. Padahal, saya lagi punya misi untuk mengumpulkan buku-buku bacaan untuk anak saya kelak. Setidaknya, sebelum menikah saya kepingin punya satu baris rak khusus yang isinya buku anak-anak. Dan malam ini, saya berhasil menahan diri dengan hanya mengambil tiga buah buku.


Yang pertama, The Lion Book of Tales and Legends.



Dan ternyata isinya dongeng dan legenda Kristiani. Saya baca dulu deh apakah isinya universal atau tidak. Kalau ternyata tidak, nanti akan saya hadiahkan buat teman saya saja kalau dia ulang tahun (atau kalau dia menikah dan punya anak :D). Tapi..., nanti saya mau baca dulu isinya. Kalau isinya universal nggak jadi deh saya kasih :D Habisnya, kirain dongeng dunia gitu, soalnya saya baca sepintas di sana, ada cerita tentang Cinderella :)


Lalu buku kedua, Of Thee I Sing



Buku ini karya Presiden Amerika Barack Obama lho... ditujukan untuk kedua putrinya :) Oh... sweet sekali. Bukunya hard cover, tapi isinya tipis saja, edisi dwibahasa. Rasanya tidak sabar mau baca bareng keponakan Senin nanti.

Buku ketiga adalah... Fisika dan Ilmu Bumi.

Kalau ini sih, saya yang kepo sama bukunya. Sepintas saya lihat, isinya lumayan oke juga. Ilustrasinya cakep. Anak saya nantinya kudu pintar fisika lah, kayak emaknya. Hahaha.



Dan yang terakhir... Disonansi.



Begitu scanning ISBN di Goodreads for Android, saya sepertinya tertarik dengan buku ini. Apalagi membaca beberapa ulasannya. Dan, buku ini hanya dua puluh ribu saja. Jadinya, langsung masuk keranjang sebagai buku terakhir yang berhasil saya angkut malam ini.


Nah, itu dia hasil jarahan saya malam ini. Saya kerampokan seratus dua puluh ribu, hahahaha. Dan sepertinya, besar kemungkinan saya bakal ke sana lagi sebelum bazarnya selesai. Mau merampok buku-buku anak lainnya. Semoga ada waktu dan kesempatan. 

P.S.: Saya bohong sama Ibu, ngakunya buku-bukunya harganya sepuluh ribuan semua hehehe (maaf ya, Buk). Ibu saya soalnya serem lihat belanjaan buku saya, dan banyaknya buku-buku bersegel yang belum saya baca :'D Ini juga yang jadi alasan saya mau beli buku ronde kedua, biar nggak sekaligus banyak gitu hasil rampokannya.

Sekali lagi, maaf ya, Bu. :)


Girls in the Dark

Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal Buku : 279 Halaman
Cetakan Ketiga, Maret 2015
ISBN : 9786027742314
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

***

Hari itu, di salon (mungkin bahasa lazimnya sekretariat klub), klub sastra sedang mengadakan kegiatan rutin mereka. Namun, ada yang berbeda saat itu. Pertemuan itu dikhususkan untuk mengenang ketua klub mereka, Shiraishi Itsumi yang meninggal beberapa hari sebelumnya. Itsumi, meninggal dalam sebuah peristiwa misterius, dengan setangkai bunga lily sebagai petunjuknya. 

Sementara, klub sastra adalah klub eksklusif di mana ketuanya adalah Itsumi, seorang anak pemilik sekolah. Olehnya, salon diubah menjadi sebuah tempat yang sangat mewah, dengan anggota klub adalah siswa-siswa terpilih di SMA Putri Santa Maria.

Sebagai wakil klub sastra, Sumikawa Sayuri otomatis menggantikan posisi Itsumi sebagai ketua klub, juga menjadi pemandu acara rutin mereka itu. Hari itu, masing-masing anggota akan menyampaikan kesan-kesan mereka terhadap Itsumi dalam sebuah cerita pendek yang dibacakan satu per satu oleh mereka. Karena kelompok ini eksklusif, maka tanpa Itsumi, hanya tersisa enam anggota saja. Dan, kejanggalan terjadi ketika keenamnya membaca cerita mereka, dan ternyata mereka saling menuding satu sama lain tentang siapa dalang di balik pembunuhan Shiraishi Itsumi.

***

Girls in the Dark adalah buku yang saya dan Bintang pilih untuk BOOM bulan Februari. Kalian ada yang belum tahu apa itu BOOM? Bisa tengok ulasan saya di sini tentang BOOM ya. Sederhananya, BOOM ini kegiatan yang digagas oleh saya dan Bintang buat baca bareng satu judul buku yang sama setiap bulannya. 

Februari adalah bulannya cinta, kata orang-orang. Barangkali karena tanggal 14 adalah hari kasih sayang (begitu, kan?). Namun, kami justru mengusung tema thriller dalam baca bareng bulan ini, hahaha. Mungkin karena saya tidak sadar kalau bulan ini banyak yang merayakan perayaan itu, jadinya menganggap Februari sama saja seperti bulan lainnya. Setelah sukses dengan buku di bulan pertama kami, Apa Pun Selain Hujan, bulan ini pun kami berhasil menyelesaikan baca buku Girls in the Dark ini. Bulan depan? Tentu ada lagi. Nah, sebelum membahas tentang buku yang akan dibaca bulan depan, saya mau mengulas tentang Girls in the Dark dulu, ya.

***

Saya menerima tantangan dari Bintang untuk membaca genre thriller. Meskipun ini bukan cangkir kopi saya, tapi beberapa judul thriller berhasil mencuri perhatian saya, lho. Tapi, saya mau buat pengakuan dulu. Mulanya, saya kira ini buku horor, makanya takut dibaca malam-malam, hahaha. Ternyata bukan. Membaca Girls in the Dark, hanya membutuhkan waktu yang singkat kurang dari tiga hari. Barangkali karena saya cukup menikmati alurnya, dan juga ikut penasaran dengan bagaimana akhir ceritanya.

Saya juga dapat tantangan dari Bintang untuk menebak siapa pelakunya, lho. Jadi, selain cukup menikmati alur cerita, saya ingin cepat selesai untuk membuktikan apakah tebakan saya benar atau salah. Dan ternyata, benar. Whoa, kemampuan analisis saya masih terasah rupanya :p Oke, jadi, saya pun menebak-nebak bagaimana ya kira-kira prosesnya dan kenapa sampai begitu. Dan ternyata, di dalam proses mengetahui sebab-akibatnya, banyak kejutan yang tak terkira. 

Dari keenam tokoh yang bercerita (minus Itsumi yang menjadi objek oleh pencerita), saya paling suka dengan pencerita pertama, Nitani Mirei. Mungkin, karena di kisah pertama, "kedok" kisah ini belum terbongkar. Dan juga, saya menikmati bagaimana Mirei bercerita. Selain itu, karena saya sudah bisa membaca bagaimana pergerakan kisah ini, untuk jatuh hati atau bahkan berempati pada lainnya jadi sudah berkurang.

Ada beberapa poin yang menjadi bahasan saya di sini. Yang pertama, saya kurang begitu menikmati gaya penulisan novel ini. Sepertinya ada kendala di bahasa penerjemahan? Karena sepertinya bahasanya masih bisa diperhalus lagi. Kesannya seperti langsung ditranslatekan begitu saja dari bahasa aslinya. Atau, bisa jadi gaya penulisan edisi terjemahan J-Lit memang seperti ini. Entahlah, karena ini buku pertama kategori J-Lit yang saya baca. Namun, di sini Akiyoshi Rikako menunjukkan "kelas"-nya sebagai penulis thriller andal dengan alur yang tak mudah terterbak. Saya masih penasaran dengan Holy Mother yang ulasan di goodreadsnya sangat fenomenal (dan tentunya siap untuk tebak-tebakan plot lagi, hahaha).

Selain tentang itu, saya juga cukup kesulitan menghapal nama-nama tokohnya. Yang saya ingat cuma Diana, karena dia aja yang namanya cukup familier. Apalagi, nama Jepang terdiri dari dua penggal nama yang kedua-duanya sama-sama tidak familiernya. Bayangkan saja, ada enam nama yang harus diketahui, dan itu terdiri dari dua nama panggilan yang dipanggilnya berbeda berdasarkan keakraban; kalau sudah akrab memanggil namanya sendiri, kalau kurang akrab memanggil marga. Jadi, yah, saya cukup sering bolak-balik membaca lembaran sebelum dan sesudahnya, sih. (Karena masing-masing tokoh saling tuduh itu.)

Selebihnya, novel ini cukup bagus. Saya puas dengan menyematkan bintang tiga padanya.

***

REVIEW #2 Dalam Rangkaian Project BOOM [Book Anatomy] oleh Bintang @ Ach’s Book Forum dan Nisa @ Resensi Buku Nisa.



Kalian juga ikutan BOOM bulan ini dan sudah baca buku yang kita tentukan? Kalau sudah, ayo bikin review-nya dan silakan setor link review kamu di komentar di bawah postingan ini. Karena bulan genap, jadi setor link-nya di blog saya yaaa... 

Ketentuannya bisa kalian lihat DI SINI. Dan, akan ada hadiah spesial dari saya dan Bintang untuk yang rajin ikutan setor review dan meramaikan baca bareng BOOM tiap bulannya lho.

Nah, untuk bulan depan, buku yang akan kita baca adalah...



Kalau ada Me Before You di timbunan kamu, yuk baca bareng-bareng kita bulan Maret! Dan karena bukunya tebal, jadi waktu membacanya kita majukan dari tanggal 1 Maret hingga 20 Maret, nih :)

Siapkan bukunya dan mari kita BOOM-kan rame-rame! :D


Journey to Andalusia

Judul : Journey to Andalusia
Penulis : Marfuah Panji Astuti
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Tebal Buku : 192 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786023943913
Rating : 4 dari 5




"Andalusia itu di Turki, ya?"

Tidak banyak generasi muda Muslim yang masih mengetahui jejak sejarah Andalusia. Sebenarnya, Andalusia adalah sejarah yang paripurna, negeri sejuta cahaya, tempat segala hal hebat berawal. Islam pernah menyinari negeri itu dengan ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemanusiaan selama 800 tahun. Lebih dari 2/3 sejarah Islam ada di sana.

Kalkulus, algoritma, trigonometri, aljabar, adalah hasil pemikiran ilmuwan muslim bagi kemajuan peradaban. Tanpa penemuan-penemuan itu, tidak akan ada revolusi digital yang kita nikmati saat ini. Catatan perjalanan ini bukan sekadar menjelaskan bahwa Islam pernah berada di Andalusia, wilayah yang kini bernama Spanyol, Portugal, dan sebagian Prancis--bukan di Turki--tapi juga mengingatkan bahwa benderang itu bersumber dari Islam.

Apakah Cordoba masih berpendar cahaya? Seperti apa Mezquita? Semolek apa istana Alhambra? Semua jawabannya ada di dalam catatan ini.

***

Prolog

Apa yang kaupikirkan ketika membaca sebuah buku travel journey? Mengetahui tempat-tempat yang dituju, kekhasan kota-kota yang dikunjungi, dan juga hal menarik yang tidak didapat dari buku mana pun, baik buku sejenis atau bukan. Membaca Journey to Andalusia, bagi saya bukan hanya sekadar menjadi sebuah catatan perjalanan raga semata, melainkan membaca kisah lintas generasi, terlebih lagi tentang cerita yang berhasil menyentuh ruhani.

Buku yang bagus, menurut saya, adalah buku yang bisa membawa pembacanya masuk ke dalam perjalanan yang dilakukan oleh tokoh di dalamnya, merasakan apa yang terjadi dalam isi kepalanya, menjadi dekat dengan suasana hati mereka. Apalagi, jika buku itu sebuah catatan perjalanan.

Penulis mengantar para pembacanya untuk menjelajah negeri Andalusia dengan kemasan yang apik dan menarik. Sehingga, bagi saya selaku pembaca, bisa merasakan langsung apa yang sedang dikisahkan oleh sang penulis tersebut. Sehingga, saya akan memberikan ulasan ini dengan kalimat "perjalanan kita" alih-alih "perjalanan penulis". Karena, saya pun ingin mengajak para pembaca untuk dapat menikmati ulasan ini sama seperti ketika saya membaca buku Journey to Andalusia.

Maka, dari satu titik di peta, di benua Afrika-lah, perjalanan kita dimulai.


Maroko, si Negeri Maghribi

Ada alasan khusus mengapa penulis mengambil negara Maroko sebagai titik mula perjalanan ini. Sebuah upaya untuk menapaktilasi jejak perjuangan Musa bin Nushair dan Thariq ibn Ziyad saat menaklukkan semenanjung Iberia.

Secara umum, Maroko adalah negara bekas jajahan Prancis. Sehingga, aksen Arab di negara ini bercampur dengan Prancis. Maroko juga negeri di persimpangan Mediterania, jadi jangan heran jika penduduknya dikaruniai rupa yang menawan.

Di Maroko, banyak sekali tempat yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Masjid Hassan II.

Masjid Hassan II (Sumber Gambar)
Merupakan ikon negara Maroko yang sangat indah. Sebagian bangunannya menjorok ke Samudra Atlantik. Luasnya mampu menampung 80 ribu jamaah. Desain interiornya yang cantik, dibangun dengan kecermatan yang tinggi dan detail yang sangat rumit. Masjid ini adalah salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi jika pergi ke Maroko. Subhanallah, jadi kepingin shalat di sana.

Maroko menjadi saksi lahirnya para pejuang Islam yang hebat pada masanya. Prajurit-prajurit penakluk Andalusia lahir dari sana. Sebutlah panglima Thariq bin Ziyad. Tidak hanya itu saja, kekuatan iman yang telah tertancap membuat penduduknya yang memegang teguh ajaran Islam bahkan pada masa kolonial Prancis yang menduduki wilayah ini.

Masih dari wilayah Afrika tersebut, kita berkelana menuju dusun Al Qarawiyyin. Sebuah universitas tua berdiri sejak 859 M, bahkan sebelum Universitas Al-Azhar yang termasyhur, atau Universitas Oxford di Inggris. Tempat itu, kini dikenal dengan Old Medina. Banyak ilmuwan terkenal lahir dari tempat ini. Sebutlah Ibn Khaldun, atau Al Arabi.

Old Medina menawarkan sebuah tempat yang menarik. Universitas bernama Al Qarawiyyin berada di sana. Selain itu, banyak panorama warga lokal yang menarik untuk dikunjungi. 

Suasana Proses Penyamakan Kulit di Old Medina (Sumber Gambar)
Ya, tempat ini bagaikan oase untuk semua makhluk. Oase pengetahuan yang menjadi obor penerang manusia. ---halaman 47

Assalamualaikum Andalusia

Bagaimana perasaanmu ketika hendak berkunjung ke tempat yang sangat ingin kaukunjungi? Tentunya senang sekali. Selain senang, pasti kau sudah mencari tahu segala macam informasi serta tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Lalu, setelah mendapatkan kesempatan ke sana, apa yang terjadi? Tentu kau bahagia sekali, bukan?

Namun, yang dirasakan penulis ketika menginjakkan kaki di Andalusia adalah..., sedih. Perasaan sedih itu, menguar dan menulari saya selaku pembaca Journey to Andalusia. Sebelumnya, penulis sudah melakukan beragam riset tentang tempat ini: Andalusia, bumi di mana dahulu pernah menjadi saksi kejayaan Islam di tanah Eropa, ketika bahkan negara-negara adidaya yang kita kenal sekarang masih diselimuti kegelapan ilmu pengetahuan.

Sedih itu benar-benar terasa ketika penulis menjejakkan kaki di tempat ini, Andalusia atau yang dikenal dengan nama Spanyol. Karena, bukti dan jejak peradaban Islam di sana nyaris tak bersisa. Malaga adalah kota tujuan pertama. Kota ini tertulis dalam memoar Ibn Batuta, penjelajah muslim yang pernah melakukan perjalanan ke sana.

Local guide memberikan penjelasan tentang tempat ini, yang lalu dibantah oleh penulis. Bahwa, informasi sejarah yang disampaikan menurutnya banyak yang salah. Apalagi, tentang Daulah Umayyah. Saya merasakan apa yang dirasakan oleh penulis kala itu. Bahwa, demi menghilangkan Islam hingga ke akar-akarnya, bahkan informasi sejarah pun diputarbalikkan. Betapa nyaris tidak tersisa jejak Islam selama ratusan tahun di sana. Apalagi ketika menyaksikan tempat-tempat yang dahulunya masjid berubah fungsi menjadi gereja, atau museum.

Langkah saya terhenti. Jantung saya berdegup kencang. Saya mendongak ke atas, menatap minaret tempat lonceng itu berdentang. Hati ini terasa sedih. Dulu, dari atas minaret itu pastilah sang muadzin mengumandangkan azan lima kali sehari. ---halaman 74

Alhambra, Granada, Cordoba... riwayatmu kini

Akhirnya perjalanan ini sampai pula ke Alhambra. Sebuah istana yang luar biasa indah, menjadi salah satu UNESCO World Heritage Site, yang terletak di Provinsi Granada. Alhambra adalah puncak dari teknologi, arsitektur, dan seni yang lengkap. Keindahannya tak tertandingi, bahkan saat raja Spanyol Charles V ingin membuat istana yang mirip, bangunan itu tidak bisa mengalahkan Istana Alhambra.

Istana Alhambra (Sumber Gambar)


Untuk bagian dalam istananya sendiri, benar-benar apik dan luar biasa. Ada kaligrafi di dinding Istana Alhambra, berhias tulisan Laa haula wa laa quwwata illa billah. Lalu The Nasrid Palace yang merupakan salah  satu bangunan utama dalam kompleks istana ini. 

Palacio de los Leones (Sumber Gambar)


Perjalanan menyusuri Istana Alhambra bukanlah sekadar menghadirkan diri secara fisik di sana. Namun, jauh daripada itu, turut pula mengantarkan kisah pilu kekalahan kaum muslimin yang terpaksa terusir dari sana. Kisah menyedihkan tentang janji yang tak ditepati oleh Isabella dan Ferdinand, penguasa yang memberikan mandat untuk menghancurkan pemeluk Islam hingga sama sekali tak bersisa dari tanah Granada. Sebuah perjalanan yang memilukan, ketika bukti-bukti kejayaan Islam masih berdiri dengan gagah di sana, tetapi mengandung saksi pilu tentang kondisi umat Islam pada masanya.

Sekarang kita akan menyusuri kota Cordoba. Cordoba adalah sebuah nama, namun bagi bangsa Eropa, Cordoba bagaikan alunan nada-nada indah. Di sinilah kebangkitan peradaban bermula.

Masjid Agung Cordoba menyimpan kenangan pilu nan sendu. Sebuah bangunan megah yang beralih fungsi sebagai gereja, lalu kini berubah menjadi museum. Tidak ada pahatan ayat-ayat Allah di sana, menyisakan gambar-gambar dan patung-patung. Mihrabnya bahkan berada di balik teralis besi. Terdengar kembali lonceng dari minaret yang dulunya... pasti menjadi tempat berkumandangnya azan. Betapa, sebuah perjalanan yang mengagumkan sekaligus menyayat hati.

Masjid Agung Cordoba (Sumber Gambar)

Akhir dari Perjalanan

Perjalanan kita harus berakhir, diakhiri dengan sebuah pertunjukan tari Flamenco yang sarat makna dan kesedihan. Kisah Ziryab menemani pengembaraan jiwa penulis saat menyaksikan tarian khas dari Spanyol ini.

Tak... tak... tak... tak... tak... tak...
Dentaman itu kian bertalu-talu. Gelak tawa Ziryab, timbul tenggelam, berganti dengan derap pasukan Thariq ibn Ziyad yang mengobarkan jalan jihad. Rabbana, inikah jawaban atas tanya, apa yang terjadi di Andalusia? Sudut mata saya basah. Di hari terakhir di Andalusia, saya menyaksikan Flamenco, sebuah tarian duka... ---halaman 158

Epilog

Saya sudah banyak memberikan kesan di bagian awal tulisan ini. Bahwa, perjalanan ke Andalusia tidak hanya sekadar perjalanan fisik semata. Jauh daripada itu, banyak sekali sentuhan ruhani dan napak tilas sejarah dunia tersimpan di sini. Memberikan jejak-jejak yang perlu disinggahi. Menghamparkan remah-remah roti petunjuk untuk ditafakuri. Ini bukan hanya sekadar mengenang romansa indah tentang kejayaan Islam di masa silam. Namun, sebuah kenyataan pahit tentang runtuhnya sebuah dinasti dan hilangnya peradaban sejarah manusia.

Perjalanan ini tidak hanya berbicara tentang sebuah kisah tentang agama semata. Namun, sebuah cerita tentang kemanusiaan, rasa toleransi yang besar, dan juga sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik hikmahnya di masa sekarang. Journey to Andalusia menjadi gerbang yang menyenangkan untuk mengenang sejarah umat manusia terdahulu. Membuat saya ingin membaca buku-buku berkenaan dengan itu. 

Tidak hanya berkisah tentang sejarah saja, layaknya sebuah buku catatan perjalanan, banyak sekali tips bermanfaat yang bisa diambil jika kita ingin berkunjung ke sana. Seperti misalnya, plus-minus bepergian dengan travel agent atau berkunjung secara mandiri. Dari segi gambaran biaya yang harus dikeluarkan, tips menarik seputar tempat-tempat yang wajib dikunjungi, tentang tour guide yang hanya bisa memandu di areanya saja, dan banyak tips menarik yang wajib diketahui di sana.


Mendengarkan Coldplay

Judul : Mendengarkan Coldplay
Penulis : Mario F. Lawi
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 52 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2016
ISBN : 9786023756292
Rating : 2 dari 5




Mendengarkan Coldplay adalah sebuah buku puisi yang mengambil tema cerdas, menggunakan judul lagu Coldplay sebagai judul puisinya, di mana isi puisi-puisinya terkadang setema atau se-feel dengan lirik lagu Coldplay. Namun, puisi penulis kebanyakan bercerita dengan unsur religi kristiani. Sepertinya lho ya, mengingat saya tidak paham dengan ajaran kristiani yang diangkat oleh penulis. Tapi tidak semua kok, ada juga yang bercerita tentang kisah cinta, yang bisa diartikan secara universal.

Saya membaca buku puisi ini tentu saja sambil mendengarkan lagu Coldplay yang dimaksud. Dan supaya lebih meresapi (mengingat listening saya buruk banget), saya cari lagu-lagu di Youtube yang ada liriknya. Ada beberapa yang punya feel selaras dengan lagunya, misalnya See You Soon yang sama-sama mengangkat cerita tentang kehilangan teman (dalam harfiah maupun kehilangan orientasi kehidupan, atau iman(?) entahlah). Terkadang, karena saya tidak menemukan keselarasan atau kesesuaian tema lagu dengan kandungan puisi, saya mengulang-ulang lagu yang dimaksudkan. Dan, untungnya ini adalah Coldplay, yang mana bahkan diputar berkali-kali pun, lagunya tetap bagus dan kau tidak akan menyesal melakukannya. Asal lagi punya banyak waktu saja sih, hehehe.

Sebenarnya, perilaku itu (membandingkan isi lagu Coldplay dan isi puisi Mendengarkan Coldplay) bisa dibilang kurang dibenarkan, menurut saya. Karena, bisa saja keduanya berdiri sendiri, tidak beririsan. Mungkin penulis hanya terinspirasi dari sepotong kata dalam judul yang sama, tapi interpretasi yang ada di dalamnya tidaklah sama. Misalnya, saya tidak menemukan kesesuaian itu pada In My Place. Puisinya, saya mengartikan tentang... oke, saya kurang paham dengan makna puisi itu. Namun, saya bisa merasakan feel yang terbangun dari musik dan lirik Coldplay di judul yang sama, bahwa lagunya bercerita tentang orang yang merasakan kehilangan seseorang dan tengah berjuang untuk menunggunya datang kembali.

Pada Yellow, saya merasakan adanya ikatan yang kuat tentang perasaan jatuh cinta. Di The Scientist, justru puisinya berisi satu kalimat bermakna dalam:

Bagaimana cara membangkitkan orang mati?

Begitu saja. Padahal, The Scientist adalah salah satu lagu Coldplay yang saya suka sekali. 

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard

Oh, take me back to the start

Sebenarnya, memaknai puisi ini bisa dengan dua cara, dengan atau tanpa mendengarkan lagu Coldplay. Intinya, sama-sama tentang penyesalan, bagaimana caranya memperbaiki hubungan jika orang yang pernah kita lukai itu sudah tiada? Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap darinya.

Fix You, adalah lagu kesukaan saya lainnya setelah The Scientist. Lagunya sendiri bercerita tentang seseorang yang selalu ada, untuk orang lain. Yang bahkan, mungkin saja keberadaannya tidak disadari. Namun, orang itu selalu ada, membantunya memperbaiki semua kesalahan, semua keadaan.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Sebenarnya lagu ini kental sekali dengan konsep ketuhanan jika mau mengambil dari sudut pandang itu. Namun, dalam puisinya, saya tidak merasakan perasaan yang begitu kuat yang tecermin dalam bait-bait puisinya. Atau, mungkin pemahaman saya saja yang tidak sanggup meninterpretasikan tiap bait kata yang dituliskan penulisnya di sana.

Tentu saja, jika saya mendedah satu per satu judulnya, di mana ada dua interpretasi berbeda yakni dari sudut pandang lagu Coldplay lalu puisi-puisi di sini, tentu akan memakan banyak sekali ulasan. Akhirnya, saya hanya bisa memberikan kesimpulan beberapa hal tentang buku puisi ini:

Pertama, konsepnya menarik. Kedua, andai saja tidak ada benang merah dengan lagu-lagu Coldplay, saya rasa saya tidak akan cukup memiliki ketertarikan dengan puisi ini. Kalaupun membacanya di luar konteks dari lagu-lagu Coldplay, sepertinya saya akan kesulitan mencari makna yang terkandung dalam isinya. Bukan berarti tidak bagus. Hanya saja, saya yang awam tentang kisah biblikal, tentu tidak akan mengerti beberapa cerita yang diangkat di sini. (Lagi pula, ketertarikan untuk mencarinya di mesin telusur pun belum ada.)

Bintang dua yang saya berikan di sini bukan karena puisinya tidak bagus, wah, kata-katanya bagus kok dan sarat makna. Bukan pula saya anti membaca kisah-kisah biblikal. Saya rasa, alasan saya bukan karena itu. Hanya saja, saya yang kurang bisa menangkap makna tersebut. Lalu, yang ada saya justru malah lebih tertarik ke kutub lirik dan lagu Coldplay, bukan justru masuk ke dalam semesta baru yang ditawarkan oleh penulisnya melalui untaian kata-katanya. 

Secara umum, kata-kata yang membekas hanya ada pada sebaris puisi di judul The Scientist itu saja (itu pun lebih karena kekuatan pengaruh lagunya, ketimbang puisinya). Dan akhirnya, saya tidak lagi berusaha memahami puisi-puisinya tapi justru melanjutkan playlist Coldplay, dan hanya membuka-buka sekilas lembaran puisi ini.


Recent Quotes

"Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian." ~ Meniti Bianglala

Setting

Indonesia (36) Amerika (12) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)