Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts

Saat-Saat Penuh Inspirasi - The Magical Moment

Judul : Saat-Saat Penuh Inspirasi - The Magical Moment
Penulis : Paulo Coelho 
Ilustrator : Hwang Joong Hwan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 288 Halaman
ISBN : 9786020320281
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Kumpulan tweet dari Paulo Coelho yang dipenuhi dengan gambar ilustrasi karya Hwang Joong Hwan.

***

Sejelas yang disampaikan oleh blurb-nya, buku ini adalah sebuah buku kumpulan tweet dari Paulo Coelho, yang diberi ilustrasi berkenaan dengan isi kutipan tersebut. Namun, rasanya saya menemukan ada kutipan yang asalnya dari novel-novel karya Paulo Coelho di sana.

Dan karena buku ini berisi kalimat-kalimat quoteable, maka saya pun akan mengisi ulasannya dengan beberapa kutipan yang saya sukai. Akan saya berikan pula screenshoot ilustrasinya (yang saya capture dari aplikasi baca e-book SCOOP). Namun sebelumnya, saya akan memberikan beberapa ulasan serta kesan terhadap buku ini.

Meskipun ada 288 halaman, tapi kutipan yang muncul hanya ada di masing-masing halamannya (bahkan kebanyakan dua halaman hanya ada satu kutipan saja). Bukunya warna-warni, memberikan kesan hangat dan ceria saat membacanya. Meskipun, tidak semua kutipannya bernada ceria. Karena, ada yang menohok, ada yang menyindir secara halus, tapi banyak yang berhasil membuat galau. Namun dari semua itu, yang terbaik adalah kalimat-kalimat berisi motivasi yang relevan dengan berbagai situasi dan kondisi.

Mulanya saya mau memberikan bintang tiga pada buku ini. Namun, dalam perjalanannya, saya merasakan energi positif dari kekuatan kata-kata Coelho dalam buku ini. Rasanya, orang-orang yang membutuhkan kalimat-kalimat penyemangat dan optimisme dalam hidup bisa membaca buku ini. Setidaknya muatan positif itu saya terima begitu saja saat membacanya. Dan rasanya, hangat.

Berikut saya kutipkan beberapa kutipan favorit saya:

Cinta itu ibarat Twitter: di-Follow, di-unfollow, atau di-Block.

Apa yang membuat orang lemah? Kebutuhan untuk diterima, dengan segala cara.

Jangan berharap disukai oleh semua orang. Tak seorang pun bisa menyenangkan hati setiap orang.

Dengan menghakimi diri sendiri, kita menyakiti diri sendiri.

Orang yang hidup hanya untuk menyenangkan orang-orang lain banyak disukai, kecuali oleh dirinya sendiri.

Luangkan waktu sejenak saja untuk berdoa mengucap syukur. Penderitaan akan berlalu. Sukacita akan bertahan.

Setiap hari satu kaki kita ibarat berpijak di negeri dongeng, satunya lagi di jurang tak berdasar.


Hidup ini singkat, sempatkan diri menyampaikan apa yang selama ini hanya dipendam di dalam hati.

Nah, kutipan ini saya temukan saat membaca Brida (Ulasan tentang Brida ada di sini)

Tak ada apa pun yang seratus persen salah. Bahkan jam yang rusak pun masih benar dua kali sehari.

Maafkan tapi jangan melupakan, atau kau akan terluka lagi. Memaafkan berarti mengubah perspektif. Melupakan berarti kehilangan pelajaran yang telah diperoleh.

Lebih baik menyesal karena memaafkan daripada menyesal karena menghukum.
Banggalah akan bekas-bekas lukamu, sebab semua itu merupakan pengingat bahwa kau mempunyai tekad untuk hidup.

Cinta ibarat hujan. turun tanpa suara, datang tiba-tiba, tapi sanggup membuat sungai meluap.



Kutipan Novel Meniti Bianglala karya Mitch Albom



Saya kembali dengan membuat sebuah postingan tentang kutipan novel. Novel ini, Meniti Banglala yang judul aslinya adalah The Five People You Meet in Heaven, memiliki kesan yang begitu dalam di hati saya. Sampai detik ini saya sangat kesusahan untuk mengulasnya. Semoa dengan terbitnya postingan ini, membuat saya tidak kebingungan lagi mau membahas apa saja di reviewnya nanti.

Yuk mari kita simak kutipan apa saya yang berkesan dari novel yang saya baca itu.

Bagaimana orang memilih kata-kata terakhirnya? Apakah mereka menydari bobot kata-kata terakhir mereka? Apakah mereka memang ditakdirkan menjadi bijak? ---halaman 19

Sebagai catatan, kata terakhir Eddie adalah, "Mundur!" ---halaman 19

"Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin." ---halaman 52

"Keadilan tidak mengatur persoalan hidup dan mati. Kalau keadilan yang mengatur, tidak akan ada orang baik mati muda." ---halaman 53

"Apakah kau pernah bertanya-tanya dalam hati? Kenapa orang datang melayat etika harus ada orang meninggal? Kenapa orang merasa mereka harus datang?"
"Itu karena jiwa manusia tahu, jauh di lubuk hati mereka, bahwa semua kehidupan saling berkaitan. Kematian bukan hanya mengambil seseorang, tapi juga luput dari orang lain, dan di celah kecil antara kena dan nyaris, kehidupan berubah." ---halaman 53

"Itu sebabnya kita datang saat kelahiran bayi... Dan saat pemakaman." ---halaman 53

"Orang-orang asing, adalah keluarga yang masih belum kaukenal." ---halaman 54

"Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian." ---halaman 55

"Waktu, tidak seperti yang kaukira. Kematian? Bukan akhir dari segalanya. kita mengiranya begitu. Tapi apa yang terjadi di dunia hanya permulaan." ---halaman 95

"Itulah yang disebut alam baka. Tempat kau belajar mengenai hari-hari kemarinmu." ---halaman 96

"Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sunguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain." ---halaman 97

Semua orangtua merusak anak-anak mereka. Tak bisa dihindari. Anak-anak, seperti gelas cair, mengikuti bentuk yang dibuat oleh pencetak mereka. Sebagian orangtua membuat buram, sebagian membuat retak, sebagian lagi meremukkan masa kecil menjadi pecahan-pecahan yang tak mungkin lagi diperbaiki. ---halaman 108

"Kejadian-kejadian yang terjadi sebelum kau dilahiran tetap mempunyai pengaruh pada dirimu. Dan orang-orang yang hidup sebelum kau juga mempunyai pengaruh pada dirimu." ---halaman 127

Orangtua jarang melepas anak-anak mereka, jadi anak-anak yang melepas orangtua mereka. Mereka pergi. Mereka pindah. Pengakuan yang dulu penting untuk mengukur keberhasilan mereka--pujian ibu, anggukan ayah--tertutup oleh saat-saat pencapaian mereka sendiri. Baru belakangan, lama setelahnya, ketika kulit mulai keriput dan jantung mulai lemah, anak-anak itu mengerti; kisah hidup mereka, dan seluruh pencapaian kesuksesan mereka, bertumpu di atas kisah-kisah kehidupan ayah-ibu mereka, batu demi batu, di bawah permukaan air kehidupan mereka. ---halaman 130

"Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri." ---halaman 145

"Ketika pengantin pria mengangkat cadar pengantin wanita, ketika pengantin wanita menerima cincin, apa yang ada di cahaya mata mereka, semuanya sama di seluruh dunia. Mereka sungguh-sungguh percaya akan cinta mereka, dan mereka percaya pernkahan mereka adalah pernikahan paling bahagia dari semua pernikahan." ---halaman 161

Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus tergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup. ---halaman 169

"Cinta yang hilang tetap cinta, Eddie. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Kau tidak bisa melihat senyumnya, atau membawakannya makanan, atau mengacak-acak rambutnya, atau berdansa dengannya. Tapi ketika indra-inda itu melemah, indra-indra lain menguat. Kenangan. Kenangan menjadi pasanganmu. kau memeliharanya. Kau mendekapnya. Kau berdansa dengannya." ---halaman 179

"Kehidupan harus berakhir. Tapi cinta tidak." ---halaman 179






Kutipan Novel Candice karya Voltaire




Jadi, saya membaca satu lagi novel filsafat yang keren, berjudul Candice karya sastraawan terkenal Voltaire. Di dalam buku itu, saya menemukan banyak sekali kalimat yang quoteable sehingga perlu kiranya saya membuat tulisan ini. (Serius banget bahasanya, xixixi.)

Yuk mari sama-sama kita mendalami pemikiran-pemikiran Voltaire yang quoteable itu di sini.

"Telah dibuktikan, bahwa segala sesuatu tidak bisa lain keadaannya dari sekarang ini. Segala sesuatu diciptakan untuk tujuan tertentu, maka tidak bisa lain tentu tujuan yang terbaik." ---halaman 3

"Mereka yang beranggapan bahwa segala sesuatu berjalan baik, sesungguhnya tolol sekali. Yang betul adalah: segala sesuatu berjalan sebaik-baiknya." ---halaman 3

"Tidak ada akibat tanpa sebab, segala sesuatu pasti dijalin dan diatur untuk tujuan yang terbaik." ---halaman 11

"Cinta, penghibur manusia; cinta, penjaga keseimbangan dunia, yang bertakhta di lubuk hati manusia yang perasa. Ah, cinta yang lembut!" ---halaman 15

"Kiranya manusia telah sedikit mengacaukan dunia. Mereka tidak dilahirkan sebagai serigala, namun toh mereka menjadi serigala. Tuhan tidak memberi mereka meriam maupun pedang, namun mereka toh membuat meriam dan pedang untuk saling membinasakan." ---halaman 17

"Seratus kali saya tergoda untuk membunuh diri, namun masih cinta kehidupan. Kelemahan konyol ini mungkin merupakan salah satu cacat kita terbesar. Adakah yang lebih tolol dari memanggul suatu beban terus-menerus, padahal kita selalu ingin mencampakkannya di tanah? Membenci hidup, namun sekaligus sangat terikat kepadanya? Pendeknya, mengelus-elus ular yang menggerogoti kita, sampai akhirnya dia memangsa jantung ita?" ---halaman 51

Memang orang yang suka sekali berkelana, sekali-sekali ingin menunjukkan kelebihannya di antara keluarga sendiri, melaporkan apa yang telah dilihatnya selama perjalanan-perjalanan itu. ---halaman 82

"Optimisme adalah kegilaan untuk mempertahankan pendapat bahwa segalanya berjalan baik, padahal kenyataan adalah kebalikannya." ---halaman 87

"Kejadian-kejadian buruk hanyalah sekadar bayangan hitam pada suatu lukisan yang indah." ---halaman 108

"Dulu sekali Plato pernah mengatakan bahwa perut terbaik bukanlah yang dapat menolak semua makanan." ---halaman 130

"Tetap mempunyai harapan memang baik." ---halaman 130

Manusia dilahirkan untuk hidup dalam guncangan-guncangan serta kekhawatiran-kekhawatiran, atau dalam kelesuan menekan yang ditimbulkan rasa bosan. ---halaman 150

"Memang kebesaran pada hakikatnya sangat berbahaya, demikian menurut laporan-laporan semua ahli filsafat." ---halaman 153

"Tatkala manusia berada di taman Eden di surga, dia ditempatkan di situ ut operatur eum, untuk bekerja di situ. Hal ini membuktikan bahwa manusia tidak dibiarkan untuk bermalas-malasan." ---halaman 153

"Mari kita bekerja tanpa banyak berdiskusi, itulah satu-satunya cara agar hidup kita ini lebih tertanggungkan." ---halaman 154



Kutipan Novel Dunia Maya karya Jostein Gaarder





Halo, saya hadir kembali untuk memberikan kutipan-kutipan keren dari novel karya Jostein Gaarder yang judulnya Dunia Maya. Saking banyaknya kalimat-kalimat yang berkesan, yang saya tuliskan di sini banyak sekali, hehehe ....

Selamat menyimak ya.

Sekian ratus juta tahun telah berlalu sejak amfibi pertama mulai merangkak di daratan, sampai akhirnya muncul makhluk hidup di planet ini yang dapat menceritakan kejadian tersebut. Baru sekaranglah kita dapat menulis kata pengantar bagi sejarah manusia lama setelah sejarah itu terjadi. Ini seperti ular yang menggigit ekornya sendiri. Mungkin hal ini juga berlaku untuk semua proses kreatif. ---halaman 20

Tepuk tangan bagi Big Bang baru terdengar lima belas milyar tahun setelah ledakan itu terjadi. ---halaman 20

"Adakah langkah yang bisa kita ambil berdua untuk berdamai dengan singkatnya kehidupan?" ---halaman 24

Kita tidak lagi hidup dari tangan ke mulut. Zaman surgawi telah berlalu. ---halaman 29

Dia yang terakhir melihat, akan melihat yang terbaik. ---halaman 40

Evolusi lebih mirip semak-semak dan kembang kol daripada garis-garis maupun batang pohon. ---halaman 44

Aku adalah mata rantai terakhir dalam sebuah rantai pembelahan sel yang tidak terputuskan, mata rantai terakhir dari proses-proses biokimia yang kurang lebih telah diketahui, dan—dalam analisis terakhir—mata rantai terakhir dari biologi molekuler. Aku tersadar bahwa pada dasarnya, aku tidaklah berbeda dari organisme-organisme sederhana bersel satu yang merupakan nenek moyangku yang paling pertama. Singkatnya, aku tidaklah lebih dari sebuah koloni sel—dengan satu perbedaan penting bahwa sel-sel milikku lebih saling menyatu dibandingkan sel-sel yang terdapat dalam kultur bakteri, sel-selku lebih berbeda dan karenanya mampu melakukan pembagian tanggung jawab yang lebih radikal. ---halaman 50

Jika ada satu saja mutasi yang fatal dalam sebuah pembelahan sel bakteri tertentu dua atau tiga milyar tahun yang lalu, aku tidak akan pernah melihat dunia ini. ---halaman 52

Karena, telah jelas diketahui bahwa ketidakmampuan memiliki anak tidak pernah dapat diturunkan. ---halaman 53

Hanya mereka yang mampu memiliki anaklah yang dapat mengimpikan memiliki cucu, dan tanpa cucu, seseorang tidak dapat menjadi seorang nenek buyut atau kakek buyut. ---halaman 53

Ketika kita mati—saat adegan-adegan telah terekam dalam pita seluloid dan dekor telah dilepas dan dibakar—kita adalah arwah dalam ingatan keturunan kita. Kemudian kita adalah hantu, Sayangku, kemudian kita adalah mitos. Tetapi, kita masih bersama, kita masih merupakan masa lalu yang bersama, kita adalah masa lalu yang jauh. Di balik kubah masa lalu yang misterius, aku masih mendengar suaramu. ---halaman 59

Hidup ini bagaikan sebuah permainan, pikirku, semua ini hanyalah sepotong gula-gula. ---halaman 61

Selain hasrat mencari "yang terakhir" dan "yang hilang", kita semua memiliki keinginan tidak sehat untuk menjadi "yang pertama". ---halaman 63

"Kita melahirkan dan dilahirkan oleh sebuah jiwa yang tak kita kenal. Ketika teka-teki itu berdiri pada kedua kakinya tanpa dapat terpecahkan, itulah giliran kita. Ketika impian mencubit lengannya sendiri tanpa terbangun, itulah kita. Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun. Kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian ...." ---halaman 69

Kita adalah karya seni tak bercacat yang penciptaannya membutuhkan waktu bermiliar-miliar tahun. Tetapi, kita terbentuk dari bahan-bahan yang sangat-sangat murah. ---halaman 78

Kita adalah berlian-berlian kegeniusan di dalam jam pasir. ---halaman 78

Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia. Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati. ---halaman 79

Jika tiada satu pun keberadaan, tak seorang pun akan mendambakan apa pun. ---halaman 82

Beri saya satu planet hidup, dan dengan senang hati akan segera saya tunjukkan segerombolan penuh lensa hidup. Dan tunggu saja, dalam sekejap, kita akan menatap jiwa-jiwa sadar yang memiliki kemampuan untuk menjelaskan dirinya sendiri. ---halaman 94

Alam semesta ini berusaha untuk memahami dirinya sendiri, dan mata yang meneliti alam semesta adalah mata milik alam semesta itu sendiri. ---halaman 94

Apakah tujuan dari pertunjukan kembang api yang begitu meriah itu? Tetapi kini dapat saya katakan bahwa alasan dari Big Bang adalah agar kita dapat duduk di sini dan berpkir ke belakang mengenainya. ---halaman 98

Tetapi, apa jawaban sang katak terhadap pertanyaan eksistensialis Jerman Paul Sartre? Katak akan tetap menjadi katak. Saya tidak dapat melihat mengapa itu harus lebih tidak berarti dibandingkan manusia menjadi manusia. Jika Big Bang tidak pernah terjadi, segalanya akan menjadi hampa dan tak berarti. Tentunya kehampaan ini hanya untuk kehampaan itu sendiri, dan kehampaan itu akan lebih tidak menyadari ketiadaan arti ini dibandingkan dengan katak dan salamander. ---halaman 99

Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka, melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggung jawab global, tetapi merupakan tanggung jawab kosmos. ---halaman 101

Hanya karena sebuah jawaban tidak dapat dijangkau, bukan berarti jawaban itu tidak ada. ---halaman 105

Jika tuhan memang ada, tidak hanya ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari segalanya, ia ahli menyembunyikan diri. Dan dunia bukanlah sesuatu yang pandai bercerita. Langit masih menjaga rahasia mereka. Tidak banyak desas-desus yang beredar di antara bintang-bintang ...." ---halaman 106

Prasangka yang paling berbahaya terkadang tertanam begitu dalam sehingga engkau tidak dapat melihatnya. ---halaman 116

Keseimbangan kekuatan antara kesadaran universal yang serupa adalah sesuatu yang labil, suatu keseimbangan terorisme kosmos yang menyebabkan perdebatan kecil kita ini akan memudar menjadi tak berarti. ---halaman 120

Yang paling menggangguku bukanlah pendeknya hidup. Bahkan aku pun memerlukan istirahat, dengan sedikit tidur, karena terus terang aku merasa sedikit lelah bahkan sekarang. Yang membuatku kesal adalah bahwa aku tidak akan pernah diizinkan kembali setelah istirahat itu—kembali ke realitas. ---halaman 129

Karena ada beberapa hal tak terbantahkan yang mengungkapkan fakta bahwa pada prinsipnya, kami tidaklah mungkin memahami lebih banyak daripada yang kami mengerti. ---halaman 130

Ada sebuah dunia. Dari segi probabilitas, hal ini nyaris mustahil. Akan jauh lebih mungkin jika, secara kebetulan, tidak ada apa pun. Dengan begitu, setidaknya tak ada satu orang pun yang akan menanyakan mengapa tidak ada apa pun. ---halaman 133

Tetapi, jika penciptaan kehidupan di Bumi ini memang tidak lebih dari sebuah kebetulan yang gila, semakin tidak masuk akal untuk mempertahankan kebetulan gila yang sama itu sebagai suatu prinsip kosmos. ---halaman 175

Ada sesuatu di balik dunia ini. Di sini kita hanyalah ruh yang melayang-layang dalam peralihan. ---halaman 183

Ada sebuah kenyataan lain di balik kenyataan yang kita saksikan ini. Ketika saya mati, saya tidak akan mati. Anda semua akan meyakini bahwa saya telah mati, tetapi saya tidak mati. Tidak lama lagi kita akan bertemu kembali di sebuah tempat lain. ---halaman 183

Sejarah adalah ruh dunia yang berbicara kepada dirinya sendiri. Ia juga melakukan hal itu di masa lalu walaupun saat itu ia masih bingung. Saat itu, ia baru saja terbangun. ---halaman 194

Pernahkah engkau memikirkan bahwa mobil yang kita kendarai berjalan dengan darah zaman Kapur di dalam tangkinya? ---halaman 195

Tetapi, peralihan dari tawa menjadi tangis sungguh merupakan sebuah perjalanan yang pendek, karena kebahagiaan sama rapuhnya dengan gelas. ---halaman 271

Takdir tidak akan membiarkan dirinya diubah. Takdir hanyalah sebuah bayang-bayang dari kenyataan. ---halaman 302

Bahkan sebuah pandangan ke belakang adalah bagian dari kebijaksanaan. Terkadang memang bijaksana untuk melihat kembali ke belakang. Toh sesungguhnya, diri kita terbentuk dari masa lalu kita daripada masa depan kita. Bagiku, kesadaran adalah sebuah bagian yang lebih esensial dalam hakikat alam semesta dibandingkan semua bintang dan komet dikumpulkan menjadi satu. ---halaman 331

Lebih mudah mencintai seseorang yang selalu berada di luar jangkauan kita dibandingkan seseorang yang darinya kita tidak dapat melarikan diri. ---halaman 351

Kutipan Novel A Man Called Ove




Karena buku ini spesial (bukan berarti buku lainnya tidak spesial lho ya), saya mendedikasikan waktu yang saya punya untuk mengumpulkan berbagai macam kutipan dari novel A Man Called Ove karya Fredrick Backman. Selamat membaca dan mengutip :D Dan kalau mengambil kutipan, jangan lupa disertakan sumbernya ya ;)


Warning: Mungkin akan ada spoiler minor di sini. So, be careful :)


Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam putih. Namun, perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiiki Ove. ---halaman 62

Kau merindukan hal-hal teraneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. ---halaman 76

Istri Ove memercayai takdir. Dia percaya bahwa semua jalan yang kau tempuh dalam hidupmu, dengan satu atau lain cara, akan "menuntun pada apa yang telah ditakdirkan untukmu". Tentu saja, Ove hanya menggumam pelan dan sibuk mengutak-atik sekrup atau sesuatu setiap kali istrinya mulai berkata begitu. Namun dia tidak pernah tidak menyetujui istrinya. Barangkali yang disebut sebagai takdir oleh istrinya adalah "sesuatu", itu bukan urusan Ove. Namun bagi Ove, takdir adalah "seseorang". ---halaman 96

Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan. ---halaman 105

Istrinya sering berkata bahwa "semua jalanan menuju pada sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu". Dan, bagi perempuan itu, mungkin takdir adalah sesuatu. Namun bagi Ove, takdir adalah seseorang. ---halaman 107

Konon otak berfungsi lebih cepat ketika sedang mengalami kemerosotan. Seakan ledakan mendadak energi kinetik itu akan memaksa segenap kemampuan mental untuk melakukan percepatan, hingga persepsi mengenai dunia luar menjadi gerak lambat. ---halaman 108

Orang-orang selalu berkata Ove dan istrinya bagaikan malam dan siang. Tentu saja Ove sadar sepenuhnya bahwa dialah yang disebut malam. Itu tak masalah baginya. Sebaliknya, istrinya selalu merasa geli ketika seseorang berkata begitu. Sebab kemudian, dia bisa menjelaskan sambil terkikik bahwa mereka menganggap Ove sebagai malam karena dia terlalu pelit untuk menyalakan matahari. ---halaman 145

Ove tidak pernah mengerti alasan istrinya memilih dirinya. Istrinya hanya menyukai benda-benda abstrak seperti musik, buku, dan kata-kata aneh. Ove adalah lelaki yag dipenuhi seluruhnya dengan benda-benda nyata. Dia menyukai obeng dan filter bensin. Dia menjalani hidup dengan tangan dimasukkan mantap ke saku. Istrinya menjalani hidup sambil menari. ---halaman 145

"Kau menari-nari di dalam hati, Ove, ketika tak seorang pun memperhatikan. Dan, aku akan selalu mencintaimu karenanya. Tak peduli kau suka atau tidak." ---halaman 146

Sebab, akan tiba saatnya dalam kehidupan semua lelaki, ketika mereka harus memutuskan hendak menjadi jenis lelaki macam apa: jenis yang membiarkan orang lain menguasai mereka atau tidak. ---halaman 146

"Jika kau tidak bisa mengandalkan seseorang agar tepat waktu, kau juga tidak bisa memercayakan sesuatu yang lebih penting kepadanya," gumamnya dulu, ketika orang datang membawa kartu absen dengan masih meneteskan keringat. ---halaman 175

Baginya, Ove adalah buket bunga merah jambu yang sedikit acak-acakan pada saat makan malam pertama mereka. Ove adalah setelan cokelat milik ayahnya yang terlalu ketat di bahu bidang muramnya. ---halaman 199

Sonja tahu, tidak banyak lagi jenis lelaki yang seperti ini. Mungkin Ove tdak mengiriminya puisi, merayunya dengan lagu, atau pulang dengan membawa hadiah mahal. Namun tidak pernah ada bocah laki-laki yang menaiki kereta api dengan tujuan keliru selama berjam-jam setiap hari, hanya karena dia suka duduk di samping Sonja dan mendengarkannya bicara. ---halaman 199

Konon, lelaki terbaik lahir dari kesalahan mereka sendiri, dan mereka seringkali menjadi lebih baik setelahnya, melebihi apa yang mereka capai seandainya tidak pernah melakukan kesalahan. ---halaman 200

Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yang baik. Demi anak-anak yang tidak pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja.

Sebab itulah satu-satunya hal di dunia ini yang benar-benar dipahaminya. ---halaman 270

Banyak orang mengalami kesulitan untuk hidup bersama seseorang yang suka menyendiri. Ini menjengkelkan bagi mereka yang tidak sanggup menghadapinya. Namun Sonja tidak mengeluh melebihi yang seharusnya. "Aku menerimamu apa adanya," katanya dulu. ---halaman 295

Kita selalu mengira masih ada cukup banyak waktu untuk melakukan segalanya bersama orang lain. Masih ada waktu untuk mengucapkan segalanya kepada mereka. Lalu terjadi sesuatu, dan kita berdiri di sana sambil menggelayuti kata-kata semacam "seandainya saja". ---halaman 369

Namun kita selalu optimis jika menyangkut waktu. Kita mengira masih akan ada cukup waktu untuk melakukan segalanya bersama orang lain. Dan waktu untuk mengucapkan segalanya kepada mereka. ---halaman 376

Sulit bagi seseorang untuk mengakui kekeliruannya sendiri. Terutama ketika orang itu telah keliru untuk waktu yang sangat lama. ---halaman 399

"Mencintai seseorang bisa disamakan dengan pindah ke sebuah rumah." Itulah yang dulu biasa dikatakan Sonja.
"Mulanya kau jatuh cinta dengan semua barang barunya, setiap pagi merasa takjub karena semuanya ini milikmu, seakan khawatir seseorang akan mendadak masuk untuk menjelaskan bahwa telah terkadi kesalahan mengerikan, seharusnya kau tidak tinggal di tempat seindah ini.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, dinding rumahnya menjadi lapuk, kayunya pecah di sana sini, dan kau mulai mencintai rumah itu bukan karena semua kesempurnaannya, tapi lebih karena ketidaksempurnaannya. Kau mulai mengenal semua sudut dan celahnya. Bagaimana cara menghindari kunci tersangkut di lubangnya ketika udara di luar dingin.
Papan-papan lantai mana yang sedikit meletoy ketika diinjak, atau bagaimana cara membuka pintu lemari pakaian tanpa berderit. Semuanya ini adalah rahasia kecil yang menjadikan rumah itu sebagai rumahmu." --- halaman 399 

Kematian adalah sesuatu yang ganjil. Orang menjalani seluruh hidup mereka seakan kematian itu tidak ada, tapi kemtian sering kali menjadi salah satu motivasi terbesar untuk hidup. Pada akhirnya, sebagian dari kita menjadi begitu menyadari kematian sehingga menjalani hidup dengan lebih keras, lebih tegar, dan dengan lebih banyak kemarahan. Sebagian lagi memerlukan kehadiran kematian secara terus-menerus untuk menyadari antitesisnya. Sisanya menjadi begitu terosesi dengan kematian sehingga mereka memasuki ruang tunggu, lama sebelum kematian itu mengumumkan kedatangannya. ---halaman 426



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)