Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

The Puppeteer


Judul : The Puppeteer
Penulis : Jostein Gaarder 
Penerbit : Mizan
Tebal Buku : 352 Halaman
Cetakan Pertama, September 2017
(versi bahasa asli, terbit perdana Maret 2016)
ISBN : 9786024410247
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Jakop Jacobsen namanya. Pria biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Teman terdekatnya adalah Pelle Skrindo, bajak laut yang suka datang dan pergi sesukanya. Hobinya adalah menghadiri pemakaman, dan sahabat pena tersayangnya adalah Agnes. Kepada Agnes, dia mengisahkan berbagai pemakaman yang dia ikuti, juga kesan-kesan tentang keluarga para almarhum.

Jakop hidup sendiri. Dia senang berbagi kisah. Sayang, dia hanya punya Pelle sebagai teman berbagi. Tetapi, Pelle lebih sering membantahnya daripada mendengarkannya. Karena itu, Jakop suka menghadiri pemakaman, berbagi emosi sesaat dengan keluarga yang berduka, meski dia harus mengarang kebohongan tentang bagaimana dia mengenal para almarhum. Tapi akhirnya, dia ketemu batunya. Keberadaan Agnes pada saat dia menghadiri suatu pemakaman membuatnya tak lagi bisa mengarang kisah dusta. Demi mempertahankan koneksi dengan Agnes, Jakop harus menguak siapa dirinya sebenarnya. Sanggupkah Jakop? 

The Puppeteer, karya terbaru Jostein Gaarder, mengajak pembacanya merenung tentang kesendirian, pertemanan, serta tentang mencari tempat dan tujuan dalam kehidupan di dunia ini. Mengharukan dan menggugah empati.

***

Catatan: Mungkin akan spoiler, karena saya tidak tahu harus menuliskan apa selain kesedihan Jakop yang menyayat hati itu (dan itu termasuk bagian yang mungkin bakal spoiler dalam kisah ini).

Jakop adalah seorang pria yang bisa dikatakan kesepian. Dalam sepinya, dia memiliki teman bernama Pelle. Dia juga memiliki kebiasaan unik mengikuti prosesi pemakaman. Kebiasaan itu bermula dari kegiatan isengnya untuk menghadiri pemakaman yang diumumkan di surat kabar. Betapa dia menikmati atmosfer berkumpulnya keluarga besar saat adanya kematian. Orang yang akan mengenang mendiang, banyak yang datang memberikan penghormatan. Semua itu tidaklah didapatkan Jakop dalam hidupnya. Dia lahir dan dibesarkan oleh seorang ibu, dengan ayah yang hanya datang sesekali. Pergunjingan orang-orang di desanya berlangsung lama. Tidak hanya seputar ayahnya dan status perkawinan ibunya yang tidak jelas itu. Saat kecil, Jakop suka bermonolog dengan Pelle, yang adalah sebuah boneka tangan. Dengan Pelle, Jakob bisa mengeluarkan isi hatinya yang tak bisa dilisankan olehnya sendiri. Saat remaja, dua orang gadis menangkap basah dirinya yang sedang ngomong dengan boneka, dan berita itu tersebar luas hingga Jakop harus menahan diri dari upaya pembullyan terhadapnya.

Namun, Jakop hidup dengan pembuktian bahwa dirinya akan sukses. Dia menjadi seorang guru dengan minat yang besar terhadap hubungan kekerabatan antara suatu kata dari berbagai bahasa. Minatnya berkembang sejalan dengan risetnya terhadap orang-orang yang ditakziyahinya. Jakop perlu mengaitkan dirinya dengan mendiang, makanya dia perlu memiliki hubungan yang bisa dikarangnya terhadap orang tersebut. Dia juga membuat dokumentasi atau semacam arsip pribadi tentang orang-orang yang dikunjunginya, yang dia dapatkan dari iklan koran. Jakop meletakkan potongan koran itu di dalam kotak cerutu yang disimpannya di lemari kamar.

Kesendirian bisa terasa sepi bagi orang yang menjalaninya. Namun menurutku, itu lebih baik daripada hidup dalam keberduaan. Kalau orang hidup sendiri, setidaknya dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Aku membayangkan bahwa kebebasan lebih mudah hidup dalam keluarga besar ketimbang dalam perkawinan yang sempit. ---halaman 188

Jakop pernah menikah, hanya saja pernikahannya tidak berlangsung lama. Sang istri tidak dapat menerima perilaku Jakop yang tidak biasa. Pada akhirnya, Jakop kembali sendiri dan menjalani kebiasaannya berdialog dengan Pelle dan menghadiri pemakaman. Jakop sudah menyiapkan argumentasi andai saja ada yang bertanya tentang hubungannya dengan sang mendiang. Hanya saja, epandai-pandainya tupai melompat, ada kalanya tergelincir juga. Jakop terpaksa menelan pil pahit kebohongannya saat Agnes, adik bungsu salah satu orang meninggal yang ditakiziyahinya membongkar kebohongan itu. Ada satu fakta yang luput dari perhatian Jakop yang tak dapat dielakkan dari kisah fiktifnya itu.

Kepada Agnes, Jakop menuliskan surat panjang tentang kisah hidupnya, rahasia kelamnya, dan kebiasaan unik Jakop saat menghadiri pemakaman demi pemakaman dalam hidupnya.

"Sekarang aku mengerti. Aku tidak sanggup lagi membayangkan menjadi tamu tak diundang dalam kehidupan orang lain." ---halaman 316

***

Seperti halnya ciri khas tulisan Gaarder, di sini saya menemukan konsep surat seperti yang muncul pada beberapa judul novel sebelumnya, seperti pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken atau Gadis Jeruk. Saya juga masih merasakan keprihatinan mendalam Gaarder pada kerusakan lingkungan, yang masih muncul meskipun sekilas di buku ini. (Tema itu menjadi perhatian Gaarder pada novelnya yang berjudul Dunia Anna yang menceritakan tentang pemanasan global, juga pada Maya.)

Menyenangkan rasanya, mengikuti tulisan Gaarder lintas waktu, dari mulai membaca novelnya yang ber-setting 1998 (era sebelum milenium), hingga masa sekarang di mana tokohnya menggunakan Instagram. Menyimak dongeng filsafatnya yang indah sejak Gadis Jeruk hingga The Puppeteer. Saya senang dengan bukunya, merangkai banyak sekali makna dan pengetahuan baru. Menggugah naluri, tak jarang mengubah cara pandang dan persepsi. Apalagi, dalam buku ini, mengangkat tema tentang seorang "dalang", atau "penggerak" cerita. Sebuah tema yang sangat dekat dengan saya pribadi. Beberapa tahun terakhir, saya adalah seorang Puppet Master, alias penggerak suatu karakter dalam dunia role-playing.

Aku tidak pernah meragukan bahwa Pelle sendirilah yang berbicara saat kami bercakap-cakap. Dia cuma harus meminjam suaraku. ---halaman 153

Meskipun berbeda dengan permainan yang dilakoni Jakop dan Pelle Skrindo, tapi esensi dunia role-playing tetap sama. Seseorang (di dunia nyata) memberikan jiwa, pikiran, dan hatinya pada sebentuk benda mati. Tak jarang, tokoh fiksi itu menggerogoti bahkan merusak kehidupan nyata si dalang atau si penggerak. Hanya saja, dalam kesendiriannya yang memilukan, Jakop terjerumus dalam dunia yang dikarangnya terlalu dalam, hingga ia bahkan mengorbankan kehidupan nyatanya. Dalam sekali buku ini berpengaruh bagi saya.

Kenapa tidak bintang lima seperti kebanyakan buku Gaarder lainnya? Ada sedikit kebingungan memahami permainan Jakop dan kegemarannya dalam mengaitkan "keluarga" makna sebuah kata, di mana, barangkali, akan sangat menyenangkan jika saya bisa memahaminya dalam bahasa ibu Gaarder. Saya angkat topi dengan kemampuan penerjemah dalam menerjemahkan naskah ini. Pasti sulit, mengingat kontennya menurut saya kurang "bersahabat" dengan bahasa lokal atau bahasa yang menjadi terjemahannya. Namun, meskipun kesulitan dan kebingungan, saya masih dapat menangkap makna dan maksud dari apa yang disampaikan Gaarder pada tokohnya.

Sehat-sehat terus, Opa, supaya bisa terus berkarya. Saya menantikan buku-buku Gaarder selanjutnya.

Candice

Judul : Candice
Penulis : Voltaire
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 168 Halaman
Cetakan Pertama, November 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, 1759) 
ISBN : 9786024241605
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Candide, dongeng filsafat satir yang ditulis oleh Voltaire, bercerita tentang seorang pemuda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bertualang keliling dunia untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimistis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifatnya itu didapat dari gurunya, Pangloss. Melalui novel ini, secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan kekejaman manusialah yang membuat dunia ini menjadi tidak sempurna.

***

Candice adalah seorang pemuda yang tinggal di kediaman Baron Thunder-ten-tronckh. Tidak diketahui secara pasti siapakah Candice ini, para pelayan menduga ia adalah anak saudara sang Baron yang perempuan. Nyonya besar pemilik tempat ini memiliki seorang putri yang tinggi langsing, cantik, dan menggiurkan bernama Cunegonde. Bersama seorang Tuan Guru bernama Pangloss, Candice belajar banyak hal tentang metafisika-teologi-kosmologi-konyologi.

Suatu hari Cunegonde melihat Tuan Guru Pangloss yang tengah memberikan pelajaran "praktikum fisika" kepada pelayan kamar tidur ibunya. Setelah tidak sengaja mengamati itu, ia pulang dengan perasaan gelisah, asyik berpikir, sambil melamun penuh keinginan untuk menjadi orang berilmu. Ia bertemu dengan Candice dan wajahnya memerah. Dengan lugunya mereka berciuman, dan malang bagi Candice, Baron Thunder-ten-tronckh melihatnya dan membuat Candice terusir dari istana. Maka, dimulailah perjalanan panjang pemuda itu berkeliling dunia.

Pertama, ia mendapatakan perlakuan tidak menyenangkan dari tentara Bulgaria. Setelah mendapatkan pengobatan atas siksaan mereka, Candice melarikan diri. Ia menemukan seorang laki-laki yang tidak pernah dibaptis bernama Jacques yang berbaik hati padanya. Candice bertemu dengan peminta-minta setengah buta dengan wajah penuh bisul dan hidung yang borok. Mengejutkan, ternyata orang yang ditemuinya itu adalah guru filsafat Candice, Pangloss. Atas bujukan Candice, Jacques melakukan kebaikannya lagi bahkan menyembuhkan Pangloss dari penyakit kelamin yang didapatnya dari pelayan di istana sang baron. Dari kisah Pangloss, Candice mendapatkan informasi tentang serangan yang dilakukan tentara Bulgaria yang menyebabkan kematian Cunegonde. Candice benar-benar terpukul mendapatkan informasi ini.

Karena urusan dagang, Jacques mengajak kedua ahli filsafat itu untuk pergi ke Lisabon. Topan melanda dalam perjalanan kapal mereka. Layar tersobek, tiang-tiang patah, setengah penumpang lemas karena rasa cemas yang tak terkirakan. Dalam upaya penyelamatan diri, Jacques tenggelam dan tewas. Begitu mendarat, mereka disambut oleh gempa bumi. Benar-benar perjalanan yang bersentuhan dengan maut. Mereka ditangkap oleh orang bijaksana di negeri itu sebagai bahan persembahan untuk menghindari kehancuran total negeri mereka. Begitu hendak dieksekusi, gempa bumi melanda kembali. Candice melarikan diri.

Dalam pelariannya itulah ia menemukan seorang wanita tua yang memiliki masa lalu kelam yang mengantarnya kepada seseorang yang benar-benar tidak ia duga sebelumnya. Cunegonde. Perjalanan demi perjalanan kembali berlangsung, pertemuan dan perpisahan silih berganti, mengukirkan cerita yang tidak pernah terduga. Bertemu dengan manusia yang jatuh hati pada kera, mendarat di El Dorado yang merupakan perlambang surga di dunia, yang pada akhirnya harus ditinggalkan juga. Mengingat manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, dan ada satu hal yang ia kejar di luar sana dan harus ia dapatkan. Bersama Pangloss, Mario (yang ia ambil sebagai teman perjalanan di suatu waktu), Candice menghabiskan segala daya dan upaya untuk mencari sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya. Entah apakah sesuatu itu masih menjadi tujuannya lagi setelah kenyataan menampar dirinya bahwa cita-citanya itu tidak lagi seperti yang ia angankan.

***

Telah dibuktikan, bahwa segala sesuatu tidak bisa lain keadaannya dari sekarang ini. Segala sesuatu diciptakan untuk tujuan tertentu, maka tidak bisa lain tentu tujuan yang terbaik. ---Halaman 3

Berangkat dari ajaran Tuan Guru yang didapatnya saat berdiam di kastel milik sang baron, Candice belajar banyak hal tentang kehidupan. Namun, pemahaman tentang hidup tidak akan bermakna jika seseorang hanya terkungkung pada satu keadaan hidup saja. Seperti Adam dan Hawa yang menjalani takdir terusir dari surga. Jalan yang sama dilalui Candice, bahwa ia terusir dari kediamannya yang nyaman, dengan guru yang senantiasa mengajarkannya teori seputar kehidupan, dan seorang gadis yang dicintainya dengan begitu dalam.

Pengusiran itu membuka jalan baginya, untuk tetap memandang hidup degan penuh optimis, bahkan dalam keadaan yang paling menyedihkan sekalipun. Pengusiran demi pengusiran, keluar dari zona nyaman, membuatnya mempertanyakan kembali apakah ajaran sang guru benar adanya atau justru hanya sekadar teori belaka. Beruntung ia bertemu dengan seseorang yang baik, dan menemukan takdir berkata lain dengan kembali dipersatukan dengan orang-orang tak terduga: gurunya yang sekarat beserta informasi mengejutkan yang menyimpulkan pemahaman lain tentang kehidupan yang tidak selamanya ajek dan konstan.

Makanya, mereka yang beranggapan bahwa segala sesuatu berjalan baik, sesungguhnya tolol sekali. Yang betul adalah: segala sesuatu berjalan sebaik-baiknya. ---Halaman 3

Bahwa hidup adalah perjalanan dari satu keadaan menuju keadaan lainnya membuat Candice terus menapaki bumi yang lain, menerima kehilangan sebagai bagian dari pahit getirnya kehidupan. Tentang pertemuan dengan manusia berbeda pemikiran serta pemahaman, membuatnya memiliki paradigma baru terhadap pemikiran dan kehidupan. Dan ketika kehilangan demi kehilangan menghimpitnya, jalan yang harus ia tempuh adalah berpindah, dan mencari kebahagiaan baru di tempat selanjutnya. Maka beruntunglah ia, ajaran tentang makna kehidupan dan postivisme yang diajarkan tuan guru menemukan jalannya ketika ia kembali dipertemukan dengan kekasih yang begitu dicintainya.

Dan ketika jalan lain menghadang dan memisahkan mereka kembali, sebuah cita-cita untuk meraih impian mengantarkannya pada sebuah perjalanan baru menguras emosi dan harta yang ia punya.

Pertemuan demi pertemuan dengan orang-orang yang mengajarkannya tentang kehidupan, menjadikan pemahaman Candice tentang kemalangan hidup berada pada level yang lebih baik lagi. Bahwa ketika kita merasa sukar dengan nasib buruk  yang kita miliki, di luar sana ada banyak orang yang keadaannya jauh lebih malang daripada yang kita alami. Dan betapa seseorang ingin mengakhirinya dengan jalan pintas, namun kesadaran tentang hakikat kehidupan membuat manusia menempuh jalan dengan menjalani segalanya dengan jiwa ksatria, dan optimisme di dada.

Seratus kali saya tergoda untuk membunuh diri, namun masih cinta kehidupan. Kelemahan konyol ini mungkin merupakan salah satu cacat kita terbesar. Adakah yang lebih tolol dari memanggul suatu beban terus-menerus, padahal kita selalu ingin mencampakkannya di tanah? ---Halaman 51

"Optimisme adalah kegilaan untuk mempertahankan pendapat bahwa segalanya berjalan baik, padahal kenyataan adalah kebalikannya." ---Halaman 87

***

Voltaire adalah seorang pengarang besar Prancis abad ke-18 yang terkenal di samping nama lainnya yang termasyhur zaman itu seperti Montesquieu dan Rousseau. Sebagaimana diketahui, peran pengarang pada abad-abad yang lalu bukan hanya sekadar menghasilkan karya sastra semata, melainkan mengolah sebuah karya yang menjadi landasan hidup serta filsafat yang kemudian dianut oleh seluruh bangsa. Karyanya menghasilkan inspirasi untuk pergolakan besar dalam kehidupan dan sejarah dunia.

Buku ini merupakan buah kritik sosial yang dituliskan oleh Voltaire terhadap banyak hal seputar kehidupan. Ia berbicara melalui karya sastra untuk menyinggung tentang penyalahgunaan agama, kesewenangan penguasa, memperolok roman-roman picisan yang berkembang di zamannya, sindiran terhadap nama besar bangsawan yang membuat mereka seolah lebih angung dari manusia lainnya. Voltaire memerankan diri sebagai penggerak karakternya yang diwakili oleh Candice yang naif dan lugu. Keoptimisan si tokoh dan perjuangan dalam mencapai cita seolah dipermainkan oleh pengarang untuk membuat hidupnya terkesan absurd dan tidak masuk akal. Voltaire berperan besar dalam memainkan kehidupan para tokohnya dengan memasukkan unsur sindiran terhadap pemikiran-pemikiran yang tidak disukainya, dengan menampilkan filsafat hidupnya yang terkandung di sana. 

Meskipun ia memorakporandakan pemikiran lawan dengan memasukkan pemikirannya sendiri, ia menyajikan karya ini dengan baik. Berhasil membawa pembaca larut ke dalam kisahnya dan keabsurdannya, dengan gaya bahasa yang benar-benar lugas. Seperti misalnya saat menggambarkan adegan pingsan, seolah tokohnya tiba-tiba pingsan begitu saja tanpa ada upaya untuk memperhalus penggambaran deskripsinya. Namun kelugasan itu berhasil membuat pembaca merasa ngilu ketika adegan yang diceritakan berupa kekerasan dan peristiwa yang akan berhasil menyayat pembaca, tanpa dibumbui deskripsi berlebihan atau dramatis.

Membaca Candice, membuat pembaca berhasil mengulik isi kepala penulisnya, Voltaire, sang guru filsafat dan salah satu penyair terkemuka di zamannya.

Dunia Maya

Judul : Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)
Penulis : Jostein Gaarder 
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Tebal Buku : 420 Halaman
ISBN : 9789794339220
Rating : 5 dari 5






"Adakah langkah yang bisa kita ambil berdua untuk berdamai dengan singkatnya kehidupan?" ---halaman 24

***

Blurb:

Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia. Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati.

Di Pulau Taveuni, Fiji, sejumlah orang tanpa sengaja berkumpul. Setiap dari mereka diam-diam menyimpan luka di hati. John Spooke, seorang penulis Inggris, masih berduka akan kematian istrinya. Frank Andersen, seorang ahli biologi evolusioner dari Norwegia, kehilangan seorang anak dalam sebuah kecelakaan tragis dan berpisah dari istrinya.

Di antara mereka, tidak ada yang lebih menarik perhatian daripada Ana dan José, pasangan penuh teka-teki dari Spanyol. Mengapa mereka kerap saling melontarkan kalimat-kalimat ganjil tentang alam semesta dan Joker? Mengapa Ana begitu mirip dengan model lukisan Maja karya Goya yang terkenal? Dan siapakah Joker itu? Apa hubungannya dengan Maya, “ilusi-dunia”?


Novel Jostein Gaarder ini menyoroti gagasan-gagasan yang besar: penciptaan alam semesta, evolusi kehidupan di atas bumi, munculnya manusia, dan tujuan dari keberadaan manusia.

***

Novel ini adalah sebuah surat yang teramat panjang yang dibuat oleh Frank Andersen, untuk mantan istrinya yang bernama Vera. Dalam isi suratnya, Frank menceritakan tentang perjalanannya di pulau Taveuni setelah melakukan sebuah penelitian yang berhubungan dengan akademiknya--Frank adalah seorang ahli dalam bidang biologi evolusioner.

Dalam perjalanan di pulau tersebut, Frank bertemu dengan beberapa orang yang unik. Pertama, John yang seorang novelis asal Inggris yang sedang mencari bahan untuk novelnya selanjutnya. Lalu ada seorang gadis menarik bernama Laura, yang mempunyai ambisi untuk menyelamatkan bumi dengan caranya yang unik. Ia seorang heterochromia, yang mempunyai warna mata berbeda di antara kedua matanya. Seorang milyuner kaya, pengusaha minyak, yang juga ternyata menyimpan cerita tersendiri tentang hidupnya. Namun, di antara mereka semua, yang paling menarik perhatian Frank adalah sepasang suami istri bernama Ana dan Jose.


Yang pertama, adalah karena Frank merasa familiar dengan wajah Ana. Kedua, karena aktivitas kedua pasangan itu yang membuat Frank merasa penasaran. Ana memenangi semua permainan kartu. Mereka juga sering sekali, dalam kesempatan-kesempatan yang tak terduga, mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Spanyol. Kalimat itu seperti sebuah pecahan teka-teki yang berisi tentang banyak hal: misteri, dunia, hal-hal absurd yang bahkan sulit dicerna meski Frank mampu berbahasa Spanyol dengan baik, dan tentang Joker. Contohnya ini:


"Kita melahirkan dan dilahirkan oleh sebuah jiwa yang tak kita kenal. Ketika teka-teki itu berdiri pada kedua kakinya tanpa dapat terpecahkan, itulah giliran kita. Ketika impian mencubit lengannya sendiri tanpa terbangun, itulah kita. Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun. Kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian ...." ---halaman 69

Walau Frank bisa mengerti bahasa mereka, tapi ia lebih memilih untuk pura-pura tidak mengerti, agar ia bisa mendengar dan memahami lebih banyak. Setiap ucapan yang baru disampaikan mereka, dicatat oleh Frank agar suatu saat misteri dan teka-teki itu dapat terpecahkan.


Pulau Taveuni adalah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Dan ketertarikan itu pula yang menjadi magnet bagi Ana dan Jose yang merupakan pembuat film dokumenter, serta Frank yang seorang penulis. Di pulau inilah garis bujur nol derajat berada. Dua tahun lagi adalah waktu dimulainya periode milenium baru tahun 2000. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama, sehingga mereka membidik tempat ini, yang merupakan tempat pertama yang akan mengalami pergantian tahun. 



Selain hasrat mencari "yang terakhir" dan "yang hilang", kita semua memiliki keinginan tidak sehat untuk menjadi "yang pertama". ---halaman 63

Suatu malam, sebelum mereka berpisah ke tempat lain, mereka mengadakan "konferensi" dadakan di meja saat makan malam. Sebenarnya ini lebih kepada sebuah percakapan tentang banyak hal: kehidupan, evolusi, bahkan sampai pembahasan tentang Maya.

Ketika mereka pada akhirnya kembali ke kehidupan masing-masing, kisah tentang hal-hal yang belum terjawab sebelum mereka bertemu di Pulau Taveuni dan apa saja yang terjadi di sana menunggu untuk diselesaikan. Misalnya, tentang John Spooke yang masih belum bisa merelakan kepergian istrinya, Sonja, yang telah meninggal dunia. Lalu, tentang hubungan antara Frank dan Vera yang tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Dan juga, tentang eksistensi Ana dan Jose yang menimbulkan berbagai macam spekulasi dan tanda tanya.



***

Aku adalah mata rantai terakhir dalam sebuah rantai pembelahan sel yang tidak terputuskan, mata rantai terakhir dari proses-proses biokimia yang kurang lebih telah diketahui, dan—dalam analisis terakhir—mata rantai terakhir dari biologi molekuler. Aku tersadar bahwa pada dasarnya, aku tidaklah berbeda dari organisme-organisme sederhana bersel satu yang merupakan nenek moyangku yang paling pertama. Singkatnya, aku tidaklah lebih dari sebuah koloni sel—dengan satu perbedaan penting bahwa sel-sel milikku lebih saling menyatu dibandingkan sel-sel yang terdapat dalam kultur bakteri, sel-selku lebih berbeda dan karenanya mampu melakukan pembagian tanggung jawab yang lebih radikal. ---halaman 50


Ini adalah sebuah novel yang cerdas dan brilian. Seperti biasanya, Jostein Gaarder mengusung tema filsafat dalam karya-karyanya. Dalam Dunia Maya, konsep filsafat itu dipadukan dengan pengetahuan seputar dunia biologi terutama dalam bidang biologi evolusioner. Gaarder menyuguhkan perenungan-perenungan ini dalam sebuah cerita berbalut kisah romansa dari beberapa tokohnya. Ada pasangan Frank dan Vera yang berpisah karena sebuah tragedi yang menimpa anak mereka. John yang belum bisa melupakan Sonja istrinya yang telah tiada. Ana dan Jose, pasangan misterius yang menyimpan rahasia-rahasia kehidupan dalam interaksi mereka.

Novel ini disajikan dalam bentuk surat yang panjang, terdiri dari beberapa bagian; yakni satu episode pertemuan Frank dengan para tokoh lainnya di Pulau Taveuni, solilokui John dengan tokek yang membahas tentang banyak hal seputar evolusi, kesadaran manusia, dan tentang kehidupan, cerita-cerita pasca pertemuan di Pulau Taveuni. Dan juga, bagaimana penyelesaian permasalahannya dengan Vera serta bagaimana rahasia tentang Maya terungkap dan tersingkap—yang ternyata berkorelasi dengan Ana dan Joker. Kerinduan tentang sosok Joker yang ada di Misteri Soliter terbayar di sini. Juga dengan kelima puluh dua misteri kartunya.

Boleh saya katakan bahwa buku ini sebenarnya jauh lebih berat kontennya ketimbang Dunia Sophie. Ulasan filsafat dan makna kehidupan dibahas dengan lebih mendalam dan mengena. Banyak tamparan keras bagi manusia yang otaknya lebih banyak lipatan ketimbang makhluk hidup lainnya. Dan itu seharusnya membuahkan kesadaran agar manusia menjadi lebih peka terhadap sesamanya.


Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka, melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggung jawab global, tetapi merupakan tanggung jawab kosmos. ---halaman 101

Saya senang dengan sosok Laura, dan juga pekerjaannya. Gadis ini bekerja sebagai seorang aktivis lingkungan hidup yang memiliki misi khusus untuk menggugat para pelaku kerusakan lingkungan dengan caranya sendiri. Saya suka dengan pasangan Ana-Jose, di mana plot twist seputar keunikan mereka—dengan mengucapkan kutipan berbahsa Spanyol itu—benar-benar mengagumkan. Saya juga suka Frank, dan bagaimana caranya untuk meyakinkan Vera untuk kembali padanya. 

Di luar itu semua, saya jadi semakin suka dan mengagumi Jostein Gaarder dengan semua kecerdasan dan kemampuannya mengolah konten berat semacam filsafat menjadi sebuah karya sastra yang kaya dengan kedalaman makna, plot twist, serta disajikan dalam bahasa yang lebih sederhana. Meskipun, membaca Dunia Maya ini bisa dikatakan jauh dari kata "sederhana". Memusingkan? Ya. Bahkan saya sempat berhenti lama dari membaca novel ini, sampai pada akhirnya membeli buku cetak dengan kover terbarunya dari Mizan.

Oh ya, terlepas dari rasa terima kasih yang begitu mendalam kepada penerbit yang mau menerbitkan karya-karya Gaarder, saya masih mau "menggugat" keputusan mengganti judul pada novel ini, dengan menambahkan kata "dunia" di depannya. Hmmm, coba bayangkan apa yang terlihtas saat mendengarkan kata "Dunia Maya"? Pasti segala sesuatu yang berhubungan dengan "internet" dan sejenisnya. Padahal, novel ini jauh dari makna tersebut.

Secara terpisah, saya membuat postingan khusus untuk menuliskan kutipan novel Dunia Maya di sini.


Misteri Soliter

Judul : Misteri Soliter
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Raharti Bambang
Penerbit : PT Mizan Pustaka
ISBN: 9789794339039
Tebal : 484 halaman
Rating : 5 dari 5




Blurb:

Hans Thomas, 12 tahun, bersama sang ayah melakukan perjalanan ke Yunani untuk mencari sang ibu. Perjalanan panjang itu diwarnai kejadian-kejadian aneh. Seorang kurcaci memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar, seorang tukang roti memberikan sekerat roti berisi buku mini yang berkisah tentang pelaut yang terdampar di sebuah pulau; setumpuk kartu remi yang tiba-tiba hidup, dan seorang Joker yang nyaris tahu segala.

Siapakah mereka? Dan ke manakah mereka akan membawa Hans Thomas? Misteri Soliter adalah bacaan yang ditulis khusus bagi mereka yang ingin belajar filsafat tanpa harus berkerut kening. Kisah di dalam kisah, karakter yang mungkin nyata, mungkin pula tidak, masa lalu dan masa depan. Sebuah kisah yang menyajikan teka-teki dan eksplorasi kehidupan yang memukau.


***


Tidak seperti perjalanan berlibur biasa yang dilakukan seorang ayah dengan anaknya, namun kali ini Hans melakukan perjalanan untuk mencari sang ibu yang telah delapan tahun meninggalkan mereka. Mereka berniat untuk membawa pulang ibu mereka yang sedang mencari jati diri, yang terjatuh dalam pusaran dunia pupularitas di Yunani; Anita, ibu Hans, adalah seorang model terkenal di tanah para filsuf itu.

Saranku untuk semua orang yang berusaha menemukan jati diri adalah: tetaplah tinggal di tempatmu sekarang. Kalau tidak, kau dalam bahaya besar kehilangan dirimu selamanya. --- halaman 26

Karena ada peraturan tidak tertulis di antara keduanya, bahwa Pa dilarang untuk merokok di dalam mobil, dan Hans dilarang untuk mengeluh sepanjang perjalanan, maka disepakati bahwa mereka akan sering berhenti untuk istirahat dan membiarkan Pa untuk merokok.

Saat dalam perjalanan, mereka bertemu dengan pria pendek (seukuran kurcaci) yang mengarahkan mereka untuk melewati Dorf. Di sana, Hans dan Pa bertemu dengan seorang tukang roti yang memberikan Hans empat buah roti kadet (buat yang penasaran dengan roti kadet, rotinya seperti ini). Kata si tukang roti, Hans boleh membaginya dengan Pa, namun yang terbesar harus dimakannya sendiri. Hans juga bertemu dengan kurcaci yang memberinya kaca pembesar. Rupanya, ada misteri di balik itu semua yang harus dirahasiakan Hans dari Pa:ada sebuah buku mini yang dipanggang dalam roti kadet miliknya. Kaca pembesar itu, adalah alat bantu bagi Hans untuk menguak misterinya.

Sepanjang perjalanan, dalam momen-momen berhenti itu, Pa mengajarkan banyak hal seputar kehidupan pada anaknya. Pa sendiri adalah seorang anak haram, bahkan menyedihkan dari itu, ayahnya seorang tentara Jerman yang menyerang Norwegia. Kisah ini membuat Pa menjadi anak yang terbuang. Pa memutuskan untuk menjadi seorang pelaut. Pa juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan filosofis kepada anak dua belas tahunnya.

Yang paling membuatku terkesan, bahwa segalanya berasal dari satu sel. Berjuta-juta tahun lalu sebutir biji kecil muncul, lalu terbelah dua, dan seiring waktu, biji kecil muncul, lalu terbelah dua, dan seiring waktu, biji kecil ini berubah menjadi gajah dan pohon apel, raspberry dan orang utan. Kau memahami jalan pikiranku Hans Thomas? --- halaman 130

Hans Thomas mendapatkan buku dalam roti kadet. Di dalamnya, terdapat kisah yang menceritakan tentang petualangan seorang pelaut yang terdampar di sebuah pulau aneh. Di sana pemuda itu bertemu dengan kurcaci-kurcaci yang merupakan simbolisasi kartu remi. Pemuda itu bertemu dengan Forde (yang berukuran manusia normal) yang menceritakan tentang asal-muasal bagaimana para kurcaci itu berada di sini, dan bagaimana pula Forde bisa sampai di pulau misterius ini.

Yang membuat Hans terheran-heran adalah, banyak kesamaan yang terjadi dalam kehidupannya dengan cerita tentang kehidupannya di dunia nyata. Namun, Hans tetap menjaga misteri tentang buku tersebut dari Pa. Dengan membaca buku tersebut, membuat Hans juga memiliki kosakata filosofis untuk mengimbangi kisah yang dipaparkan ayahnya.

Semakin dekat perjalanan mereka ke Athena, semakin membuat mereka khawatir, apakah perjalanan ini akan berakhir dengan sia-sia, atau mereka pada akhirnya dapat membawa kembali Mama dan menariknya dari jebakan menemukan jati diri di sana.


***


Kehidupan adalah satu undian besar di mana hanya tiket-tiket pemenangnya yang tampak. 

Berbicara tentang filsafat, kita tidak akan luput dari pertanyaan-pertanyaan penting seputar kehidupan yang terkadang, lupa untuk terpikir oleh kita. Padahal, pertanyaan-pertanyaan tersebut begitu fundamental bagi kehidupan manusia. Pernahkah kita bertanya, dari mana kita berasal? Apa tujuan kita hidup di dunia? Ke manakah kita akan pergi sesudah meninggal nanti? Pa menyinggung ini dalam suatu obrolan saat mereka tengah beristirahat dalam perjalanan mereka menuju ke Athena untuk membawa pulang Mama.

Menurutku merupakan misteri bagaimana orang-orang di bumi bisa menjelajahi dunia begitu saja tanpa mengajukan pertanyaan, lagi dan lagi, tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Bagaimana kehidupan di planet ini bisa menjadi sesuatu yang kauabaikan atau kausepelekan begitu saja?

Bagi saya, pertanyaan itu sudah menggaung sebegitu lama, karena saya mengenal tema ini bahkan ketika beranjak dewasa sekitar, hmmm, dua belas tahun yang lalu (tua juga ya sekarang, hahaha). Ternyata perkenalan saya dengan filsafat selama itu, meskipun tidak secara sadar saya mengeahuinya. Pertanyaan besar tersebut rupanya bagi banyak orang masih menjadi misteri. Sebegitu misterinya jawaban dari pertanyaan tersebut, bahkan orang-orang yang berpikir tentang itu hanyalah segelintir orang saja. Percakapan antara Pa dan Hans Thomas menjadi pengingat kembali bagi para pembaca untuk menekuri asal muasal dirinya dalam belantara kehidupan dunia.

Sementara itu, cerita dalam buku roti kadet membuat kita berpikir dalam. Gaarder menyajikan realitas dengan fiksi secara bersamaan dan membenturkannya untuk membuat pembaca bertanya-tanya: di mana batas antara ilusi dan kenyataan, lalu dijelaskan dengan penjelasan yang rasional (meskipun tentu saja, celah besar tentang apakah ini nyata itu maya masih terbuka dengan lebar). Yang membuat saya bertanya-tanya adalah tentang Joker (Joker ini mirip dengan lelaki dalam khayalan Petter dalam Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng). Bagi saya, Joker merupakan misteri terbesar yang belum terpecahkan, tidak hanya di dalam dunia buku ini saja. Mungkin juga dalam dunia ini. Mungkin saya adalah Joker? Hahaha, bisa jadi saya memang Joker dalam wujud manusia.

Selain tentang itu, kisah kartu-kartu tersebut begitu menarik. Yang saya suka adalah tentang penanggalan kartu berdasarkan jumlah kartu remi, dan yang mengejutkan: Hari Joker. Dalam kisah filosofis yang diceritakan Pa, saya juga senang saat Pa menceritakan tentang mitologi Yunani, dan juga cerita tentang filsuf di masa lalu. Yang saya suka, tentu saja saat Pa menyinggung soal Socrates.

Socrates tanpa ragu berkata pada diri sendiri bahwa dia hanya tahu satu hal--yaitu bahwa dia tidak tahu apa-apa. 

Saya akhiri review ini dengan sebuah kutipan antara Pa dan Hans yang benar-benar menyentuh hati:

"Kalau begitu, berarti ada dunia lain?" Pa mengangguk sembunyi-sembunyi. "Dunia lain adalah jiwa kita sebelum menyarangkan diri di tubuh, dan akan kembali ke sana bila tubuh itu mati akibat kerusakan waktu."

"Mari kita berjanji untuk tidak meninggalkan planet ini sebelum mengetahui lebih banyak tentang siapa diri kita dan dari mana kita berasal."


Membaca novel ini membuat saya memandang kartu remi dengan cara yang lain.

***

Novel ini dibaca dalam rangka even BBI (Blog Buku Indonesia) di bulan Maret, yaitu baca bareng sama followers twitter. Rekapan baca bareng saya ada di sini.

Ada giveaway untuk buku ini dan karya-karya Jostein Gaarder lainnya di sini.



Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Judul : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penerbit : Mizan
Tebal Buku : 284 Halaman
ISBN : 9789794334157
Rating : 4 dari 5 




"Jika aku membaca sebuah buku yang kusukai, rasanya apa yang kubaca membawa pikiranku terbang melayang keluar dari buku itu. Buku kan bukan hanya terdiri dari kata-kata atau gambar di atas kertas belaka, melainkan juga semua yang aku bayangkan saat membacanya." --- halaman 42


Blurb:



Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dalam dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad mengungkap misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. 





***


Berit dan Nils baru saja menghabiskan liburan bersama. Saat mereka tengah berlibur itulah keduanya membeli sebuah buku dan memutuskan untuk membuat buku surat yang akan dikirimkan bolak-balik Fjærland ke Oslo. Pada mulanya, buku mereka diisi dengan cerita-cerita menarik seputar liburan mereka, seperti misalnya ketika mereka mengunjungi Pondok Flatbre  dan menuliskan buku tamu di sana dengan selarik puisi:


Dalam keriangan musim panas ini,

Segelas Coca-Cola kami nikmati,
Nils dan Berit, itulah kami,
Menghabiskan liburan kami di sini.
Sangat indah di atas sini,
Sampai kami tak ingin pergi.

Lalu, surat-surat selanjutnya diisi dengan menggosipkan seseorang yang dianggap aneh oleh mereka yakni Bibbi Bokken. Siapakah sosok Bibbi Bokken ini? Ternyata dia adalah seorang wanita misterius yang memiliki ketertarikan dengan buku dan perpustakaan. Selama melakukan korespondensi, Berit dan Nils merasakan kejanggalan yang tiba-tiba terjadi dalam kehidupan mereka, misalnya tiba-tiba ada orang yang mengikuti mereka, atau tentang kecurigaan bahwa Bibbi Bokken adalah anggota sindikat perdagangan buku langka internasional.

Kejadian langka tersebut bermula ketika Berit menemukan surat yang terjatuh dari tas wanita itu, dari Sirri si Campo dei Fiori yang mengatakan bahwa tahun depan akan diterbitkan sebuah buku misterius dan juga cerita tentang perpustakaan ajaib. Nils juga merasa diikuti oleh seseorang bernama Mr Smiley yang dicurigai mengincar buku surat mereka berdua. Bahkan, guru sekolahnya pun ikut penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Nils ketika ia dalam tugas karangannya menggunakan nama Bibbi Bokken sebagai tokoh utamanya.



Ketika Nils menceritakan kepada Berit bahwa dia akan pergi ke Roma karena Ibunya memenangkan sayembara penulisan cerita pendek, Nils pun memeberitahukan kepada sepupunya itu tentang kejadian aneh yang menimpanya, seolah Bibbi Bokken (atau Mr Smiley?) adalah dalang di balik kejadian ganjil ini semua.


***


Dunia perpustakaan menjadi tema dalam novel anak-remaja ini. Tokoh utamanya adalah anak-anak kelas enam sekolah dasar yang beranjak dewasa, diliputi banyak rasa ingin tahu yang tinggi, juga berjiwa petualang yang membuat karakter tokohnya keluar dan bersesuaian dengan tema yang diangkat. Meskipun, tema yang diusung cukup berat seputar dunia perbukuan yang bahkan pembaca usia dewasa saja tidak terlalu paham dengannya. Istilah bibliografi, incabula, Guttenberg, Dewey, disajikan dalam sudut pandang keingintahuan anak-anak sehingga kesan 'berat' tidak tinggal dalam benak pembaca. Bahkan apabila dibaca oleh anak seusia karakternya.

Buku yang menarik tentang buku, perpustakaan, dan minat baca tulis bagi anak-anak usia remaja.



"Siapa pun yang membaca buku, punya mata di berbagai tempat yang unik." --- halaman 247

Mulanya saya mengira novel ini akan berpola mirip dengan Dunia Sophie. Jadi, hal-hal absurd yang terjadi di bagian awal (mungkin untuk yang nggak sabar menyimak cerita ini akan bosan dan malas melanjutkan) saya terima saja sambil menebak-nebak maksud cerita. Tapi, saya kok kayaknya yakin penulis memiliki twist yang sama dengan si Sophie itu. Eh ternyata tebakan saya salah besar. Di bagian kedua, saya mulai menikmati alur cerita, apalagi informasi seputar buku, misalnya tentang Klasifikasi Dewey (membuat saya iseng cek buku perpus dan lihat di tabelnya), lalu hal-hal yang berhubungan dengan perbukuan dan perpustakaan menambah informasi. Yang paling saya suka adalah kisah yang berhubungan dengan Gutenberg dan huruf bongkar pasangnya. Dan lagi, karena novel ini ditujukan untuk semua usia, saya jadi seolah-olah ikut kembali ke masa anak-anak menuju remaja itu, hehehe.



Meskipun tidak secanggih karya Gaarder lainnya, saya tetap suka membacanya.

Jadi, sama seperti atom dan molekul bisa menjadi seekor beruang, huruf-huruf tersebut pun dapat menjadi kisah Pooh si Beruang --- halaman 218 


Sang Penyihir dari Portobello

Judul : Sang Penyihir dari Portobello
Judul Asli : The Witch of Portobello
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020300146
Tebal : 304 Halaman
Rating : 4 dari 5




"Belajarlah, tapi selalu belajar dengan didampingi orang lain. Jangan sendirian dalam pencarianmu, karena jika kau mengambil langkah yang salah, kau tak akan punya siapa pun untuk membantumu menjadi benar kembali." (Halaman 145)

Athena, atau nama aslinya adalah Sherine Khalil, adalah seorang anak yang diadposi oleh kedua orangtuanya. Ayahnya seorang pengusaha dan ibunya, Samira Khalil, begitu menyayangi Athena. Mereka adalah keluarga Kristen dari Beirut, Lebanon, bersama keluarganya mengungsi ke London saat perang berkecamuk di negaranya. Sewaktu mengadopsinya, mereka sudah diperingatkan bahwa Athena adalah anak dari keturunan kaum gipsi. Namun, sang ibu mengindahkan peringatan tersebut. Mereka pada akhirnya mengangkat Athena sebagai anak. 


Sejak kecil, Athena sudah merasakan ada perbedaan dalam dirinya. Seperti bahwa dia melihat seorang berjubah putih yang mirip dengan Perawan Maria. Atau ketika dia bermimpi melihat darah yang rupanya memberikan tanda bahwa di tanah tempat tinggal mereka, akan terjadi perang yang berlangsung dalam waktu sangat lama.



Athena tumbuh menjadi seorang gadis yang pembangkang. Ia memutuskan untuk menikah di usianya yang sembilan belas tahun. Athena merasa bahwa menjadi seorang ibu adalah misi yang telah lama ditolaknya dan kini harus diterimanya. Dia harus menerima misi itu atau dia akan menjadi gila. Dan misi tersebut dijalankannya. Ia mengenal sosok Lukas Jessen Petersen yang merupakan seniornya di kampus, berusia setahun di atasnya, dari sebuah peristiwa saat terjadi perdebatan antara Athena dengan teman kampusnya, saat temannya itu menghina Timur Tengah. Mereka tidak tahu bahwa sebelumnya, Athena tinggal di sana. Lukas adalah kakak tingkat mereka dan dialah yang melerai pertengkaran tersebut. Sejak saat itu hubungan mereka semakin akrab dan akhirnya terlibat romansa. Athena menginginkan punya anak pada usia 19 tahun, dan akhirnya mereka menikah. Pernikahan itu sangat ditentang keluarga Lukas, tidak mendapat restu dari keluarganya. Meskipun begitu, mereka pun tetap menikah. Lukas dan Athena mempunyai anak lelaki bernama Viorel. Namun setelah Viorel lahir, hubungan keduanya menjadi renggang, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri pernikahan.



Athena berhenti dari kuliahnya. Setelah bercerai, dia pun memutuskan untuk keluar dari rumah mereka. Sebelum menikah, Athena rajin mengunjungi gereja. Pastor Giancarlo Fontana adalah seorang pastor yang menikahkan Athena dan Lukas. Dia juga yang menyaksikan bagaimana perkembangan Athena beberapa saat sebelum ia menikah (tentang keinginan Athena untuk menjadi santa, betapa khidmatnya dia saat memainkan musik di depan patung Perawan Maria), lalu ketika ia meminta untuk dinikahkan. Athena sering mengunjungi gereja meskipun suaminya tidak. Ia juga membawa anaknya meskipun kadang rewel. Namun, pada suatu hari, ketika Athena resmi bercerai dengan suaminya, Pastor Fontana dihadapkan pada sebuah benturan: apakah memilih untuk menghormati institusi (Athena sudah bercerai, menurut institusi gereja, dia tidak boleh mendapatkan berkat roti), ataukah mengikuti nalurinya untuk tetap menerima keadaan Athena, sebagai implementasi dari kata-kata yang menjadi dasar dibangunnya institusi itu. Sang pastor tetap hormat pada peraturan yang dibuat oleh gereja, dia menolak memberkati Athena. Hal ini membuat Athena hancur, hatinya sangat terluka hingga dia bersumpah untuk tidak akan menginjakkan kakinya lagi di tempat itu.



Selepas bercerai, Athena pindah ke sebuah apartemen lantai tiga milik seorang dari Polandia, bernama Pavel Podbielski. Persamaan nasib, yakni sama-sama menjadi korban pengungsian membuat ia menyewakan kamarnya di lantai tiga untuk Athena. Ia sudah mengingatkan bahwa tempatnya tidak cocok bagi penyewa yang memiliki anak. Karena, anak akan ribut di siang hari dan dia akan melakukan keributan dengan "ritual"-nya selama malam hari. Namun justru dari orang inilah Athena belajar tentang ritual menari atau disebutnya sebagai Vertex, ajaran yang dia baca dari buku catatan yang ditinggalkan oleh kakeknya.



Athena bekerja di sebuah bank. Peter Sherney, adalah seorang manajer bank di tempatnya bekerja. Karena ayahnya Athena adalah nasabah bank yang penting, maka Athena diterima kerja di tempat ini, di bagian yang tidak menyenangkan. Dengan harapan, ia akan segera mengundurkan diri dari pekerjaannya karena tidak tahan. Namun justru yang didapatkan adalah, terjadi peningkatan kinerja yang dilakukan oleh Athena. Tidak hanya itu saja, namun Athena menyalurkan semangat dan rahasianya itu kepada pekerja lainnya bahkan pada nasabahnya. Peter sebenarnya tidak suka, namun karena adanya peningkatan kinerja di kantor cabangnya, ia diundang dalam suatu rapat dengan pusat untuk mempresentasikan apa yang menyebabkan itu semua terjadi. Mau tidak mau, akhirnya ia membuka pembicaraan pula dengan Athena untuk memberitahukan bagaimana itu bisa terjadi. Akhirnya Athena dipromosikan untuk bekerja di kantor cabang di Dubai.



Selama di Dubai, selain bekerja di Bank. Tak lama dia berkenalan dengan seorang emir yang menawarkan pekerjaan yang lebih menggiurkan baginya, yakni bekerja sebagai penjual tanah. Tidak hanya itu, berkat pertemuannya dengan seseorang, dia pun memiliki kesibukan baru. Nabil Alaihi adalah seorang dari suku Badui, Muslim, yang mempunyai tenda tempat ia berjualan makanan di Dubai. Suatu hari Athena mengunjungi tempatnya karena keponakannya yang bernama Hamid, yang seorang nasabah Athena, memberitahukan bahwa pamannya adalah seorang bijak. Mereka lantas berdialog tetang bagaimana caranya mendekatkan diri kepada Tuhan. Athena melakukannya dengan tarian, sementara Nabil mengajarkan hal baru dengan menulis kaligrafi. Athena bermaksud untuk belajar melakukan itu, dan menyadari bahwa Athena bukanlah seorang muslim, Nabil pun mengajarkannya dengan menuliskan pepatah Arab. 



Athena menyadari bahwa dalam dirinya terdapat kekosongan jiwa, yang dengan menari, atau menulis kaligrafi, masih belum dapat mengisinya. Lantas kepada ibunya, ia meminta izin untuk menemukan ibu kandungnya. Dan dalam perjalanan ke Transylvania--perjalanan ini menemukan Athena dengan orang-orang yang akan mengubah hidupnya--ia menemukan ibunya, seorang penjahit dari suku gipsi bernama Liliana. Ibunya menceritakan bagaimana ia dibuang dari sukunya karena memiliki seorang anak dari lelaki di luar kaumnya. Itu juga yang menyebabkan sang ibu membuang Athena ke panti asuhan. Sebelum pulang, ia diajak untuk mengikuti suatu ritual.




Dalam perjalanan, Athena tidak hanya berhasil bertemu dengan ibunya, namun beberapa orang lain yang cukup penting dalam membangun kisah ini. Ada seorang jurnalis bernama Heron Ryan, yang kemudian diketahui jatuh cinta dengan Athena. Lelaki itu bertemu saat di perjalanan ke Transylvania sewaktu Athena mencari ibu kandungnya. Ryan sendiri mengunjungi Transylvania untuk menyelidiki tentang vampire dan drakula. Heron Ryan sebenarnya sudah memiliki kekasih, namun dia menyadari bahwa ia mencintai Athena pula di saat yang bersamaan. Tokoh ini bisa dibilang sebagai tokoh utama yang banyak mengisahkan bagaimana pengalaman dirinya terlibat dengan Athena. Tidak hanya berhenti ketika mereka berada di Transylvania saja, namun berlanjut ketika Athena kembali ke London. Athena menghindari lelaki tersebut dengan mengatakan bahwa dia sudah memiliki kekasih yang bekerja di kepolisian Skotlandia. Namun, menurut Heron, itu hanya akal-akalan Athena saja untuk menghindarinya. Heron selanjutnya bahkan ikut terlibat dalam ritual-ritual (yang sebenarnya hanyalah menari dan beberapa khutbah) yang diselenggarakan Athena.

Tidak hanya Heron Ryan, dia juga bertemu dengan seorang dokter yang kemudian menjadi guru Athena bernama Deidre O'Neill atau kemudian lebih memilih dikenal dengan nama Edda. Dia juga terlibat banyak dalam perkembangan cerita ini, dengan memosisikan sebagai guru, dan Athena adalah muridnya. Dia pada suatu saat menegaskan bahwa Athena perlu memiliki murid, yang kemudian, dia bertemu dengan seorang aktris bernama Andrea McCain. Teman, sekaligus muridnya Athena yang menurut dirinya, pacarnya dirayu sama Athena dengan dalih bagian dari "Ritual Ketiga". Andrea adalah seorang pemain teater, hidupnya didedikasikan untuk bermain seni peran tersebut. Sebenarnya hubungan dirinya dengan Athena tidak bisa disebut sebagai "teman". Athena membencinya dan Andrea pun sama. Tapi atas dasar hubungan guru dan murid di mana mereka mereka merasa saling membutuhkan, maka keduanya tetap melakukan pertemanan ganjil atas dasar ritual spiritual yang mereka lakukan. Pertemanan mereka dimulai ketika kekasihnya, mengenalkan ia dengan Athena karena kekasihnya mengenal Athena dan mengetahui bahwa Athena mengikuti ritual di Transylvania yang menurut sang kekasih berhubungan dengan peran yang akan dibawakannya dalam pementasan bertajuk tentang Gaia, ibu bumi.




***



Kisah Athena disajikan benar-benar memukau. Paulo Coelho menceritakan sosok Athena, atau nama aslinya Sherine Khalil, seorang anak adopsi yang dilahirkan dari seorang ibu kaum gipsi, dan kemudian diadopsi oleh Samira Khalil dan suaminya yang seorang Kristen Lebanon. Masa perang membuat keluarga ini mengungsi ke London. Athena sudah merasa berbeda sejak kecil, dan ketika beranjak dewasa ia mengalami berbagai macam pengalaman spiritualnya hingga pada akhirnya membuat dirinya mendapatkan julukan "Sang Penyihir dari Portobello".



Di sini, kisah Athena disampaikan dari sudut pandang banyak orang. Ada dari orang yang mencintainya, gurunya, muridnya, ibu kandungnya, ibu angkatnya, dan beberapa orang yang secara langsung memengaruhi jalan hidup Athena. Saya suka gaya Paulo dalam menyampaikan makna tersirat dalam novel ini. Banyak sekali petuah hidup yang bisa kita petik di dalamnya. Bagian yang saya suka, tentu saja saat Athena bertemu dengan Nabil Alaihi dan belajar menulis kaligrafi dengannya. Ada juga beberapa cuplikan kalimat yang berkesan dalam kisah ini seperti:



"Apa sebenarnya guru itu? Biar kuberitahu: dia bukanlah orang yang mengajarkan sesuatu, tapi orang yang menginspirasi muridnya untuk mengupayakan yang terbaik demi bisa menguak apa yang sesungguhnya sudah diketahui sang murid." (Halaman 96)



Atau dalam makna pencarian Tuhan (masih dalam dialog antara Athena dengan Nabil Alaihi) di sini:


"Kaligrafi hanyalah salah satu cara yang Allah--terpujilah nama-Nya--letakkan di hadapan kita. Untuk mengajarkan objektivitas dan kesabaran, rasa hormat, dan keanggunan, tapi kita juga bisa mempelajari semua itu...""...lewat tarian," kata Athena."Atau lewat menjual tanah." (Halaman 100)


Di lain kesempatan, ada juga dialog yang saya benar-benar resapi dan seharusnya, kita sebagai makhluk yang percaya dan yakin akan keberadaan Tuhan, dan menganggap doa adalah salah satu penghubung dan dialog dengan Tuhan.


"Saat kau mencuci, berdoalah. Berterima kasih karena masih ada piring yang bisa dicuci, karena kau memberi makan seseorang, karena kau memberikan perhatian pada satu atau lebih orang, karena kau memasak dan menyiapkan meja. Bayangkan jutaan orang yang pada saat ini sama sekali tidak punya apa-apa untuk dicuci dan tidak punya siapa-siapa untuk dilayani." (Halaman 174)


Meskipun, seperempat bagian terakhir novel ini, saat Athena sudah menemukan jalannya, dengan menjadi "guru" dan menemukan sosok Hagia-Sophia (ini apa ya saya menyebutnya, logisnya, Hagia-Sophia adalah alter ego, semacam Ki Jembros yang pernah muncul di novel Petir-nya Dee, atau orang yang diilhamkan kekuatan supranatural, apalah-apalah, semacam Ponari? #heh), saya nggak nyambung lagi dengan itu. Tapi ini kan karya fiksi, jadi ya saya bacanya enjoy-enjoy saja. Dan, twist di ending buku ini mantap juara!



Dan yang saya salut dari seorang Paulo Coelho, di novel ini kan ceritanya disajikan dalam sudut pandang yang banyak dan karakter yang berbeda-beda pula. Paulo berhasil memainkan peran tersebut dengan sangat baik. Saat dia menjadi sudut pandang seorang pastor, benar-benar menjiwai. Bagian ini saya tidak heran, background penulis sendiri kan memang dia banyak mengangkat kisah dari agamanya ini. Tapi, ketika dia menuliskan seorang Nabil Alaihi, Muslim Badui, saya benar-benar merasakan sosok tersebut hidup, dan seperti benar-benar seorang Muslim. Benar-benar salut. Dan kalau membandingkan novel-novel Paulo yang saya baca sebelumnya, memang nggak bisa ditebak akan berada dalam jalur yang mana. Kalau saya pribadi, karena suka banget sama Sang Alkemis, dan nggak begitu masuk ke dalam golongan Brida atau Sebelas Menit, maka novel ini menurut saya lebih dekat ke arah sejenis Sang Alkemis, begitulah. Makanya saya suka. Top.


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)