Showing posts with label Bentang Pustaka. Show all posts
Showing posts with label Bentang Pustaka. Show all posts

[Blogtour] Muhammad #2 Para Pengeja Hujan

Judul : Muhammad "Para Pengeja Hujan"
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Tebal Buku : 760 Halaman
ISBN : 9786022910497
Rating : 5 dari 5 





Blurb:

"Paman, tolong aku! Tolong aku, Paman!"

Suara Xerxes selalu mengiang di telingan Kashva setiap terbangun dari tidurnya. Anak dari perempuan pujaan yang dititipkan kpadanya ketika terjadi penyerangan oleh pasukan Raja Khosrou itu, kini terpisah darinya.

Minggu demi minggu dilalui Kashva di Tibet dengan mendaki 13 gunung suci bersama Biksu Tashidelek. Ia pun tenggelam dalam lautan peziarah di tempat berkumpulnya segala doa itu, demi satu tujuan. Menemukan kembali Xerxes!

Peristiwa hilangnya Xerxes membuat pikiran Kashva hanya tertuju untuk menemukan cara agar mereka dapat bertemu kembali. Kashva bahkan hampir lupa dengan tujuan utama dari pelariannya kali ini. Sebuah perjalanan panjang untuk mencari Astvat-ereta, Sang Al-Amin, guna menyucikan ajaran Zardust, sebelum akhirnya Tashidelek memberinya sutra-sutra Budha.

Kehilangan yang hampir membuat rasa putus asa juga dirasakan oleh 'Umar bin Khattab. Ia harus menggantikan Abu Bakar yang telah meninggal untuk berangkat ke medan jihad di Irak dan Syam. Rasa ragu dan takut sempat menghampirinya. 'Umar merasa tidak mampu menjadi pemimpin bagi banyak umat, sebab Nabi Muhammad dan Abu Bakar tidak bisa dijumpainya lagi untuk meminta bimbingan.

Perjalanan pencarian Kashva dan perjuangan para mujahid pada zaman pasca kenabian akan membawa kita kembali ke Jazirah Arab ribuan tahun lalu untuk merasakan hidup bersama Muhammad, Sang Manusia Pilihan. Akankah suasana khusyuk di Tibet yang membuat Kashva belajar banyak makna kehidupan dapat memberikan jawaban mengenai Al-Amin yang sedang dicarinya?


***

Lelaki itu dinubuwatkan sebagai Astvat-ereta
dalam kitab Zardusht. Maitreya dalam keyakinan Buddha.
Himada dalam tradisi Kristen, dan Lelaki Penggenggam Hujan dalam Hindu.
Dialah sang Al-Amin.

***

Jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan para sahabat yang menyaksikan hari terakhirmu, wahai Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir. Mereka membaca kisahmu, ikut tersenyum bersamamu, bersedih karena penderitaanmu, membuncah bangga oleh keberhasilanmu, dan berair mata ketika mendengar berita kepergianmu. Seolah engkau kemarin ada di sisi, dan esok tiada lagi.

***


Saat menuliskan review tentang buku ini, mulanya saya terdiam lama. Semacam tidak tahu harus menulis apa dan harus merangkai kata yang bagaimana untuk menggambarkan keindahan buku ini. Namun akhirnya, setelah tarik napas yang panjaaaaang, saya mulai juga untuk menuliskannya, dari awal sekali.

Begitu ada tawaran blog review tentang buku Muhammad karya Tasaro GK, tanpa pikir panjang saya langsung ikut mendaftarkan diri, dan alhamdulillah, terpilih juga menjadi salah satu yang akan memberikan ulasannya tentang buku ini. Sudah lama sekali saya ingin membaca buku ini, dari sejak zaman masih mengalay di facebook, sampai alay-nya pindah ke twitter hehehe. Bercanda. Yang jelas, buku ini sudah lama sekali saya nantikan, dan baru berjodoh kembali dengan saya sekarang.


Di seri kedua buku Muhammad karya Tasaro GK ini, kita akan mengikuti jejak perjalanan Rasulullah saw dari sebelum Beliau lahir hingga Beliau wafat dan tampuk kekhalifahan berpindah tangan. Meskipun kisah yang dituturkan dalam novel ini adalah kisah yang begitu familiar (saya yakin ummat Islam pasti mengenal dan mengetahui bagaimana kisah hidup Rasulullah saw, tapi bagaimana bagi yang belum tahu? Maka membaca buku ini adalah salah satu pengenalan awal yang tepat untuk mengenal Rasulullah saw), namun cerita yang disuguhkan dalam pendekatan bahasa novel akan berbeda rasanya dengan kita membaca dari literatur nonfiksi. 

Tasaro GK menempatkan sosok Rasulullah saw dengan posisi yang begitu mulia sehingga siapa pun akan terbuai dengan bahasa keindahannya dan mampu membuat sosok Rasulullah saw begitu dekat dengan pembaca, begitu agung, sehingga membuat hubungan secara personal maupun emosional dengan Rasulullah yang berjarak ribuan tahun dengan kita menjadi dekat. Pilihan cerdas bagi penulis untuk menggunakan sudut pandang orang kedua saat menceritakan sisi kehidupan Rasulullah saw.

Engkau tak menyangsikan, zakat bagi mereka yang dibujuk hatinya adalah jalan indah untuk memberantas penyakit yang menggerogoti kesungguhan itu. Kesungguhan orang-orang yang baru mengimani ajaranmu dengan melihat seperti apa akhlakmu dan bagaimana ajaranmu bermanfaat bagi mereka. --- halaman 132

Pembaca akan dimanjakan oleh keindahan diksi penulisnya, yang menurut saya pas, tidak kurang dan tidak berlebihan meskipun, saya rasa, setiap yang membaca akan mengakui bahwa Tasaro GK seolah tidak pernah kehabisan kata-kata indah baik dalam bentuk diksi maupun kalimat yang dirangkainya.

Duhai Kekasih Pencipta, mengapakah begitu sering engkau berbicara mengenai dunia setelah dunia? Bukankah engkau masih begitu bugar? Usiamu baru enam puluh tahun lebih sedikit. Namun, lihatlah! Bahkan, hanya beberapa lembar uban di antara rambutmu. Pancaran matamu pun cemerlang. Engkau tampak jauh lebih muda daripada usia sebenarnya.
Duhai manusia yang kebaikanmu tiada tertandingi, benarkah ayat kemenangan terus mendengung di telingamu: apabila telah datang pertolongan Allah serta kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihah dengan memuji Tuhan-Mu, lalu mohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat. --- halaman 314

Lalu, bagaimana dengan ketebalannya yang terkadang membuat ciut hati duluan dalam melahapnya? Jangan khawatir, karena buku setebal ini tidak hanya akan membahas tentang Muhammad saw saja. Selain menyuguhkan biografi yang dibungkus oleh novel, kita akan ditemani dengan perjalanan Kashva di sini. Siapa itu Kashva? Bagi yang mengikuti serial Muhammad #1 Lelaki Penggenggam Hujan, ini merupakan kelanjutan kisah Kashva dan perjalanannya untuk mencari jawaban yang belum ditemukan jawabannya. (Kalian bisa menyimak penjelasan tentang itu di pemberhentian pertama blog tour ini di sini.) Lalu bagaimana jika belum membaca seri pertamanya? Apakah bisa mengikuti cerita ini tanpa harus bingung? Menurut saya, tidak masalah jika kita menikmati buku ini terpisah. Di dalam perjalanan, penulis tetap memberikan secuplik informasi yang membuat pembacanya tidak akan ketinggalan jauh dengan kisah ini. Tidak hanya bercerita tentang Kashva, di sini kita akan mengenal cerita tentang Atusha dan pasukan immortal Athanatoi, yaitu pasukan khusus pengawal Raja Persia.

Penulis mengenalkan kita pada kisah fiksi sebagai teman untuk membaca biografi Muhammad saw, yang mana, kisah fiksi tersebut tidak hanya banyak mendulang makna, namun juga memiliki benang merah dengan kisah Rasulullah yang dikemukakan penulisnya.


***




Nah, bagaimana? Sudah tertarik untuk membacanya? Mengapa ulasan tentang buku ini hanya sedikit saja? Di sini saya sudah menyiapkan kejutannya. Sengaja saya tidak menuliskan banyak kisah di dalam buku ini, karena selama seminggu ke depan saya akan menemani pembaca untuk mengenal lebih dekat sosok Rasulullah saw, juga cerita tentang perjalanan Kashva. Silakan intip di twitter dan instagram @niesya_bilqis atau lihat jejaknya di #BlogtourMuhammad dan temani saya untuk menyebarluaskan perjalanan Rasulullah di sana. Jangan lupa juga untuk follow @BentangPustaka juga yaaa.

Tenang saja, jika kalian ketinggalan jejak saya di dua media sosial tersebut, di akhir pekan, kisah yang akan saya bagi di sana akan saya tuliskan lagi di sini, sekaligus sebagai pembuka giveaway yang akan berhadiah novel Muhammad #2 Para Pengeja Hujan ini.

Catat tanggal giveaway-nya ya: Minggu, 24 April 2016. Giveaway hanya akan berlangsung selama sehari.

Syarat giveaway-nya apa? Susah nggak? Tenang saja, mudah sekali kok. Kalian hanya perlu pantengin blog ini dan twitter untuk mengetahui informasinya. Untuk sekarang, tinggalkan jejak dulu di sini, dan selanjutnya, silakan menyimak perjalanan kisah ini di #BlogtourMuhammad. Jangan lupa untuk menyebarkan blogtour ini dan giveaway yang akan diselenggarakan hari Minggu nanti dengan mention saya (@niesya_bilqis) dan Bentang Pustaka (@bentangpustaka) untuk peluang lebih besar agar terpilih saat periode giveaway nantinya ;)

Satu informasi yang menggembirakan juga adalah, kita akan sama-sama menanti kehadian seri Muhammad #4 Generasi Penggema Hujan. Yuk, bantu Kashva dan Ilyas untuk menyambut "Generasi Penggema Hujan" juga.


Inteligensi Embun Pagi


Judul : Inteligensi Embun Pagi
Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal Buku : 724 Halaman
ISBN : 9786022911319
Rating : 3 dari 5 





Dewi Lestari adalah satu dari sekian penulis yang saya kagumi. Saya mengikuti semua cerita Dee, mulai dari serial Supernova, lalu Perahu Kertas, kumpulan cerita di Filosofi Kopi, Madre, dan Rectoverso. Memang tajuk tulisan ini adalah tentang Inteligensi Embun Pagi, si bungsu Supernova yang lagi hits karena penjualannya via pre-order yang super fantastis. Tapi, berbicara tentang IEP, tentu tidak bisa tidak menceritakan serial yang lain dan bahkan menyandingkannya dengan karya Dee lainnya.

Sepertinya ini akan panjang dan personal sekali =))) #ceilah

Saya mengenal seri Supernova saat sedang ramai peluncuran Partikel, delapan tahun setelah vakum lama dari terbitnya Petir. Dulu, barangkali karena faktor masih belum punya uang sendiri untuk beli buku, kebiasaan membaca saya belum terfasilitasi. Tapi setelah kerja, seolah rasa haus saya tentang buku-buku berkualitas langsung terobati. Jadi, saya mulai menjadi pembaca Dee. Pertemuan pertama adalah dengan novel Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Jujur saya akui, menikmati KPBJ saat membacanya pertama kali, terasa berbeda sensasinya ketika saya membacanya ulang. Dulu saya termasuk orang yang saklek terhadap bacaan. Sesuatu yang tidak sesuai dengan kerangka baik-tidak baik, benar-tidak benar, (versi yang saya yakini) masih mengungkung saya. Dan begitu membaca KPBJ yang notabene menyinggung soal perilaku gay dan pelacuran, saya kaget. Di satu sisi, pengin segera menutup buku itu namun di sisi lain, rasa penasaran dan suguhan napas intelektual yang diberikan penulis membuat ruang imajinasi saya serta ruang ilmu pengetahuan dipuaskan dalam sekali duduk. Saya pun berkenalan dengan endorfin, serotonin, kucing Schrödinger, titik bifurkasi, dan ilmu tentang fisika modern lainnya. Apalagi, plot dan penyajian cerita yang membuat penasaran, mengikat saya untuk terus membacanya dan mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan yang disajikan begitu ilmiah. 

Setelah selesai membacanya, saya langsung mengelompokkan novel ini ke rak bagian "novel yang tidak hanya memberikan ruang pada cerita fiksi saja, tapi juga menyuguhkan informasi". Kalau orang-orang menganggap KPBJ adalah masterpiece, saya menganggapnya sebagai awal yang manis.

Lalu ke Akar. Bisa dibilang lagi-lagi saya tidak sepaham dengan banyak orang yang menganggap Akar penuh dengan muatan spiritual. Lagi-lagi mungkin karena proses spiritual saya melalui jalur yang berbeda, sehingga saya tidak menemukannya pada tato, ladang ranjau, ladang ganja, maupun kehidupan anak punk. Jadi, saya hanya menikmatinya sebagai bagian dari Supernova secara keseluruhan. Perkenalan saya dengan Bodhi tidak seintim seperti ketika saya bersinggungan dengan Elektra ataupun Zarah (bahkan Diva). Namun cerita tentang Khmer Merah, Kell (oh saya lebih suka Kell daripada Bodhi!) dan ratusan tato yang terajah di badannya, bahkan Epona lebih memikat hati saya. Apalagi Ishtar yang kemunculannya begitu memesona. Saya yakin Ishtar akan menempati posisi penting dalam jalan cerita ini, karakternya begitu kuat.

Sebelum ke Petir, saya iseng mengintip ulasan yang membahas buku ini. Yang saya ingat, ada tulisan yang membahas kalau buku ini kuat unsur komedinya, tapi jenis komedi yang berbeda dengan serial Lupus. Oke, saya penasaran. Ketika membaca buku ini, benar sekali bahwa kisahnya kocak. Lagi-lagi Dewi Lestari berhasil menampilkan sosok Elektra yang renyah, hidup, dan... lucu. Miris tapi lucu, bego tapi nggak bodoh, nah lho, bingung kan? Yang jelas, saya sudah jatuh hati dengan karakter Elektra yang konsisten, beda dengan karakter serius yang muncul sebelumnya. Kisah Etra-Mpret membuat novel ini renyah, seru. Seru khas Elektra. Dee pun tak ketinggalan dengan sisipan tema yang lagi-lagi diangkatnya; yang pertama adalah tentang pengobatan alternatif menggunakan listrik (ayah saya sempat mempelajari tentang ini jadi saya cukup familiar dengannya), dan yang kedua tentang industri warnet yang mulai menanjak dan berada dalam fase kejayaannya.

Jika tiga serial sebelumnya digolongkan sebagai Supernova pra vakum, maka tiga selanjutnya adalah Supernova pasca vakum. Memang ada perbedaan yang terasa karena gap yang begitu lama. Sebagai pembaca Supernova golongan pasca hiatus lama, tentu berbeda rasanya dengan yang mengikuti dari awal. Tapi, Partikel berhasil mencuri hati saya hingga membuat saya blending berkepanjangan setelah membacanya. Alasan yang membuat Partikel begitu melekat di hati yaitu: 1) Karakter Zarah yang keturunan Arab (ini alasan pribadi). 2) Cerita yang mengambil tema ayah-anak selalu punya tempat spesial di hati saya. 3) Tentang cara Firas mendidik Zarah, menginspirasi saya. 4) Teori konspirasi alien selalu menarik perhatian saya. Dan masih banyak lagi... itulah yang membuat saya menempatkan Partikel di atas serial yang lainnya, begitu pun Zarah. Dan kisah kemunculan kamera di ulang tahun ketujuh belas Zarah, dieksekusi dengan penjelasan serasional mungkin oleh Dee. Besar harapan saya hilangnya Firas pun memiliki penjelasan yang rasional pula (entah benar teori tentang alien itu, atau apakah sosok Firas akan muncul dari dunia-entah-mana yang berhubungan dengan jejamurannya).

Lalu muncullah Gelombang menyerang.

Separuh buku ini, saya masih percaya bahwa Gelombang bukan kisah fiksi-fantasi. Menyuguhkan cerita tentang perjuangan seorang anak negeri yang berjuang meraih mimpi di luar negeri. Di sisi lain, Alfa, si tokoh utama yang merepresentasikan Gelombang, memiliki permasalahan dengan tidurnya. Petualangannya membawa Alfa ke Tibet untuk bertemu dengan seseorang yang bisa membantu masalahnya. Lalu muncullah infiltran, sarvara, peretas... membuat kabut fantasi yang selama ini masih diumpetin sama Dee tersingkap sudah. Kecewa? Sedikit. Saya tidak alergi dengan novel fiksi-fantasi (lirik status sebagai Potterhead), namun kesan fantasi yang ditutup-tutupi dengan bingkai science-fiction, jadi membuat saya kecewa, sedikit. Karena, saya harus membanting setir persepsi awal serial ini. Tapi karena saya terlanjur jatuh hati dengan tulisan Dewi Lestari, istilah you jump i jump akhirnya membuat saya kecemplung dalam dunia fantasi Supernova dan melupakan unsur sains yang selalu diselipkan dalan serial sebelumnya, dan juga antusias meununggu-nunggu si Embun yang menjadi puncak Supernova.

Panjang ya, dan Embun belum terbahas =))

Saya mengikuti berita dan tulisan orang-orang tentang Supernova. Dan ini menyadarkan saya sesuatu: Dee menulis tentang tema-tema yang melampaui zamannya. Di KPBJ, isu LGBT tidaklah sesemarak sekarang, namun tokoh Dee sudah tampil di depan. Di novel yang sama juga mengangkat tema sains fiksi, di mana (sepertinya) adalah tema yang jarang diangkat pada saat itu. Lalu Akar, di mana saat itu belum marak menyentuh cerita travelling, backpacker, Bodhi sudah memunculkan diri dengan pengalaman itu meskipun memang tema besar yang diusung Akar tidak tentang itu. Di Petir, konsep Elektra Pop muncul di tengah booming-nya internet di Indonesia. Dan untungnya, di Partikel, kesan melampaui zaman itu masih terasa dengan cerita-cerita seputar alien dan jamurnya. Sayang sekali, bagi saya, Gelombang terseok-seok berperang antara mengikuti timeline jauh sebelum Supernova hiatus dengan waktu sekarang. Jadinya, buku Dee yang biasanya melampaui zaman sudah tidak lagi terasa di buku ini, bahkan Dee mengikuti arus tren buku populer Indonesia yang mengangkat tema from nothing to something. (Kita ambil contoh tertralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata atau Mimpi Sejuta Dolar karya Merry Riana.)

Jadi, sebelum ke Inteligensi Embun Pagi, mari kita sama-sama menerima konsep peretas-infiltran-sarvara agar bisa mengikuti novelnya dengan hati yang lapang, hahaha. Jujur, sejak awal saya termasuk satu dari ribuan orang yang excited dengan kehadiran si bungsu. Saya ikut pre-order bahkan ketar-ketir saat yang lain dapat novelnya dan punya saya belum datang. Saya juga menahan diri untuk tidak membaca resensi orang supaya bisa objektif. Setelah beberapa hari, akhirnya selesai juga. (Ini live tweet saya beserta ekspresinya https://twitter.com/niesya_bilqis/status/705686864678653956 hahaha).

Jadi kesimpulannya... bingung saya menyimpulkannya.

Dari kekurangannya dulu kali ya:
  1. Karena bertemunya semua karakter utama di buku ini, jadi susah untuk menentukan siapa yang dominan dimainkan di laga pamungkas ini. Apalagi, masing-masing pembaca punya karakter favoritnya.
  2. Contohnya, Bodhi, Zarah. Justru Alfa yang baru muncul belakangan mendapat porsi besar di sini.
  3. Diva di sini hanya jadi figuran, padahal di awal kemunculan seolah dialah sang Supernova dan pembuat jejaring yang memunculkan semuanya.
  4. Saya tahu kekuatan Dee dalam membuat karakternya. Di IEP, saya rasa yang karakternya konstan adalah Elektra. Zarah, kesan petualangnya tereduksi jauh. Saya tidak mengenal gadis petualang yang cantik dan tegar di sini. Lalu Bodhi, yang merupakan tokoh dengan karakter (dan fans yang banyak) kuat, saya kira akan mempunyai porsi besar, namun ternyata karakternya tidak terlalu signifikan.
  5. Kemunculan Gio saya sudah prediksi karena Dee sudah mulai memunculkan Gio di antara plot utama di sebaran serial Supernova. Tapi Mpret, ini benar-benar di luar prediksi. Apakah ini jelek? Hmmm, tidak juga, saya suka Mpret. Tapi kemunculan dia yang tiba-tiba seolah tidak ada petunjuk sebelumnya kalau dia akan mendapatkan posisi yang strategis. Tentu saja bikin kaget.
  6. Ekspresi saya di halaman 498: T-T T-T T-T T-T T-T T-T Apalagi di sini ceritanya tentang Zarah dan Firas. Terus, ternyata, saya baca buku ini sampai habis, tidak ada impact apa-apa plot di halaman ini dengan kelanjutan cerita. Saya langsung yang... waduh, kemarin blending percuma dong. Jadi, bagaimana nasib Firas? Bagaimana pula cerita Bong? Diva? Rana?
  7. Apakah Dee sedang memperkenalkan ajaran Buddha dalam bentuk novelnya, hmmm? Bagi saya ini bukan masalah besar, tapi apa ya....
  8. Jadi menurut saya, IEP yang setebal ini kurang bisa mendeskripsikan plotnya. Mungkin karena perubahan plot dari tengah menuju akhir yang begitu cepat membuat saya agak kelimpungan. Seperti menikmati Harry Potter sebelum membaca bukunya, banyak hole yang tidak terjawab di sana.
Jadi soal kentalnya unsur Buddhist dalam novel ini, saya rasa tersebar sepenjuru halaman. Apalagi konsep reinkarnasinya. Saya tidak paham tentang reinkarnasi dalam ajaran Buddha, namun di halaman 469 kesan itu terlalu kuat terekam dalam indera saya. Tentang dialog semut mati, dan ada kata "daur ulang" di sana. Benar kan itu yang dimaksudkan adalah reinkarnasi? Saya setuju tentang energi yang tidak musnah saat tubuh mati, karena yang mengalami kematian adalah jasadnya saja, sementara energi manusia tersebut (roh) akan tetap ada. Saya percaya energi tersebut tidak mengalami proses reinkarnasi melainkan berada di alam lain yang berbeda dimensi dengan manusia. Semua manusia yang meninggal akan menunggu dan menerima balasan perbuatan mereka selama di dunia. Oke, ini balik ke keyakinan masing-masing dan tidak ada perdebatan sampai di sini :)) saya hanya mengungkapkan persepsi saya tentang ini. Perkara benar atau salah, well, bukankah kita semua sama-sama menunggu? Tapi meskipun tidak meyakini reinkarnasi atau konsep surga-neraka  dalam keyakinan lain (selain Islam), saya sih senang saja baca-baca tentang itu.

Tapi... dari semua alasan itu mengapa saya bertahan di tiga bintang? Saya menyukai Dee dan kekayaan intelektualnya. Saya suka Dee mengangkat cerita yang tidak biasa menjadi luar biasa. Lihat saja seri Supernova sebelum Gelombang. Jangan lupa juga Madre (yang inspirasinya dari biang roti), atau tentang seorang ABK dan kisah cintanya dalam Rectoverso (yang juga diangkat jadi lagu Malaikat Juga Tahu). Yeah, memang ini tentang si Embun, tapi membahas Embun, saya jadi mengaitkan dengan Dee dan karyanya secara keseluruhan.

Selain itu, saya selalu tertarik untuk mengintip dapur di balik novel-novel Dee. Kalau saja Dee mau membocorkan sumber literasi novel-novelnya ya... hahaha. Dan yang menarik dari si Embun adalah, tentang Foniks. Oh ternyata di balik Mpret ada nama seorang Hacker ternama di Indonesia yang namanya mendunia. Kerja seorang Dee tidak bisa dipandang sebelah mata, ia selalu total dalam melahirkan anak-anaknya. Di Supernova sebelumnya juga saya senang mencari informasi yang berkaitan dengan tema besar yang lagi diangkat, misalnya saat di Partikel dijelaskan tentang konsep Adam-Hawa dari berbagai sumber, saya ikut mencari literatur serupa menurut Islam. Jadi, yaaah, buku yang menambah pengetahuan dan membuat pembacanya berpikir adalah buku yang bagus dan berkesan bagi saya. (Tuh kan nggak fokus ke IEP lagi kan.)

Karena Supernova sudah membuka selendang yang menutupi bahwa ia adalah sebuah buku fantasi, jadi saya mau menyinggung soal genre fantasi dan segala macam yang membangunnya. Saya acungi jempol untuk upaya Dee dalam membuat sebuah novel fantasi. Unsur pertama yang menjadi perhatian khusus bagi novel fantasi adalah universe-nya; bisa dikatakan ini bagian yang sulit. Harry Potter tentang dunia sihirnya, A Game of Thrones atau Lord of The Rings yang mengambil setting di dunia antah berantah yang jauh dari jangkauan manusia modern. Atau justru The Hunger Games yang mengambil cerita jauh dari masa depan. Membangun universe tidaklah mudah, apalagi jika setting cerita ada di masa kini dan di negeri sendiri. Kalau Harry Potter bisa diterima karena jauh dari jangkauan geografis dengan pembaca Indonesia (eh tapi bahkan di Inggris pun novel ini amat sangat diterima ya), menurut saya pribadi, kalau kisahnya dekat dengan kita, rasanya susah untuk menerima realitas antara batas fantasi dan nyata, meskipun keduanya dibungkus dalam bingkai cerita fiksi. Jadi saya sepertinya bisa paham jika ada pembaca yang menolak menerima kalau ini adalah novel fantasi. Nah, balik ke persoalan universe itu tadi, saya rasa Dee sudah mengemas cerita ini dengan baik. Ada banyak remah roti yang disebarkan dari cerita pertama hingga puncaknya. Entah mungkin pembaca tidak menyadarinya karena masih denial dan menolak percaya. Saya awalnya termasuk yang menolak percaya ini, hehehehe. Jadi, apakah Dee sudah berhasil menciptakan universe-nya sendiri dalam Supernova? Jawaban saya, ya. Ini menjadi angin segar yang bagus untuk perkembangan fiksi-fantasi di Indonesia, menurut saya.

Apapun itu, saya sangat mengapresiasi kerja Dee selama lima belas tahun untuk merampungkan novelnya ini. Saya tidak berkeberatan untuk menunggu kehadiran Permata dalam bingkainya yang lain. (Dan mengetahui nasib karakter lain yang belum selesai dan belum "tamat" di sini.)

Negeri van Oranje

Judul : Negeri van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal Buku : 576 Halaman
ISBN : 9786022910367
Rating : 4 dari 5



Lima orang ini tanpa sengaja bertemu di sebuah stasiun saat kereta mereka terkena delay karena ada badai. Mereka adalah Banjar, Wicak, Daus, Geri, dan Lintang. Sejak saat itu, dan dengan bantuan media komunikasi online, kelimanya bersahabat dan menjadi dekat, meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Bahkan, di Belanda pun, mereka tidak berasal dari satu kampus dan kota yang sama. Inilah kisah mahasiswa perantauan dari Indonesia yang berjuang di negeri orang.

Banjar adalah seorang pemuda dari Banjarmasin. Nama sebnarnya adalah Iskandar. Orangtuanya bergelut di bidang bawang merah, termasuk pemasok bawang merah di Kalimantan Selatan. Namun, rupanya karir Banjar berbelok ke perusahaan rokok di ibukota dan karirnya menanjak di sana. Atas sebuah tantangan dari temannya, maka Banjar memutuskan untuk kuliah di negeri Belanda dan merasakan hidup sebagai mahasiswa di sana. Banjar kuliah bisnis di salah satu kampus di Rotterdam.


Kalau Wicak, pemuda satu ini memiliki idealisme yang tinggi. Lulusan IPB dan berkecimpung dalam dunia perhutanan Indonesia, dia bergabung dalam sebuah LSM yang berkecimpung dalam dunia per-illegal-logging-an. Wicak bahkan turun ke lapangan, berpura-pura menjadi penambang liar di Berau Kalimantan Timur untuk mendapatkan informasi tentang pembalakan liar tersebut. Namun sayang, keberadaannya terendus oleh cukong kayu yang membuatnya harus kabur demi menyelamatkan dirinya. Oleh LSM-nya, dia "dibuang" ke Belanda dengan kedok untuk melanjutkan sekolah di Wageningen.


Daus memiliki karakter yang lucu, humoris, dan itu juga didukung oleh kisah hidupnya yang unik dan lucu. Dia mempunyai Kong yang bernama Kong Ca'a yang filosifi hidupnya terus digunakan Daus bahkan saat di negeri seberang. Daus adalah mahasiswa hukum yang tenyata kerjanya "nyasar" di Departemen Agama, hanya karena saat mendaftar PNS, dia bertemu dengan seorang gadis keturunan Arab yang cantik. Lantas pada suatu hari, saat ada beasiswa untuk kuliah di luar negeri, Daus kebingungan karena harus mendapatkan rekomendasi dari orang yang berpengaruh. Haji Sanip, salah seorang teman Ngkong-nya, merekomendasikan seorang kyai yang bernama Kyai Durrahman pada Daus yang tentu saja ditolaknya duluan. Dia kan mau pergi ke Belanda, bukan ke Mesir. Dan ternyata, Kyai Durrahman yang dimaksud oleh Ngkong itu adalah... KH Abdurrahman Wahid, Persiden RI. Dengan selembar rekomendasi berstempel istana, maka muluslah perjalanan Daus ke Negeri Belanda tersebut. Daus melanjutkan studinya tentang hukum di Utrecht.


Lalu ada Geri, yang mana kehadiran Geri meruntuhkan segala standar mahasiswa Indonesia dengan segala yang dimilikinya. Ketampanan di atas rata-rata, kaya, dan berkuliah di luar negeri sejak lulus SMA. Orangtuanya sebenarnya hanyalah pengusaha jasa angkutan, namun karena sebuah keberuntungan, seseorang pernah menyarankan pada ayahnya untuk menyimpan dolar, dan sejak saat itu sang ayah banyak sekali menabung dolar. Saat krisis moneter, ketika harga dolar selangit, keluarga Geri menjelma menjadi jutawan baru. Dia tinggal di Den Haag, mempunyai apartemen sendiri beserta segala macam perabotannya yang lengkap. Jadilah sosok Geri diam-diam membuat iri teman-temannya yang lain.


Sementara itu, Lintang, lahir dari keluarga yang nasionalis, namun memiliki impian yang bertolak belakang: mempunyai suami bule. Dan di usianya yang 25 tahun, ibunya memberikan polis asuransi atas nama Lintang untuk digunakan sebagai biaya kuliah di luar negeri. Jadilah Belanda sebagai tempat tujuan Lintang.


Kelima orang ini, sepakat membuat kelompok bernama AAGABAN, yang terus berkomunikasi dan sesekali mengadakan pertemuan di sela-sela kesibukan mereka. Bertemu untuk piknik, menghadiri karnaval, atau sekadar jalan-jalan mengunjungi kota tetangga berlangsung di antara mereka. Maklum saja, karena jarak dan kesibukan yang membentang membuat pertemuan mereka selain di dunia maya terbatas. Dan ternyata, setelah sekian lama kenal, muncullah bunga-bunga cinta yang diam-diam dirasakan oleh mereka. Daus, Banjar, dan Wicak menaruh perhatian pada Lintang. Sementara Lintang, mulanya dia memiliki pacar bule bernama Jeroen, namun putus dan Lintang berpindah hati ke Geri. Nah, Geri sendiri bagaimana? Apakah dia memendam rasa juga kepada Lintang? Atau justru kisah cinta mereka semua ini saling bertepuk sebelah tangan?


***


Setelah sempat bingung mau kasih bintang 3 atau 4, akhirnya saya kasih bintang 4 untuk akhir yang manis.


Buku ini termasuk 2 in 1; bisa dibilang buku bertemakan travelling, tapi yang dibuat dari sudut pandang tokoh fiksi berbalut plot dan kisah yang membangunnya. Tentang persahabatan empat lelaki dengan seorang perempuan yang tanpa sengaja bertemu di stasiun saat ada badai, Lintang, Geri, Banjar, Daus, dan Wicak bercerita kisah mereka masing-masing dan bagaimana serunya persahabatan kelimanya.


Meskipun memiliki latar belakang yang jauh berbeda, bahkan berada di kota dan universitas yang berbeda-beda pula, namun status pelajar perantauan di negeri orang membuat kelimanya menjalin persahabatan. Mereka berkomunikasi via y!m dan saling berbagi cerita. Ada kisah pahit mahasiswa perantauan, ada cerita cinta, dan manisnya persahabatan. 


Seperti yang tadi saya bilang, buku ini seru karena tidak hanya menyuguhkan kisah cerita saja, namun menggambarkan bagaimana keindahan negeri Belanda pada para pembacanya. Banyak tips seputar travelling maupun bagaimana bisa survive di negeri orang. Jadi bagi yang suka baca buku-buku berbau travelling novel ini sangat direkomendasikan. Selain itu, kisahnya yang lucu nggak satu dua kali buat saya ketawa. Apalagi si Banjar (yang nama aslinya adalah Iskandar) ini memang benar-benar orang Banjarmasin yang mana ada dialog-dialog berbahasa Banjar yang lucu sih menurut saya. (Iya, karena saya ngerti hehehehehe.) Selain si Banjar, cerita Daus juga lucu, apalagi yang tentang Kiyai Durrahman =)). Jadi, tokoh favorit saya ya si Banjar ini, sama Daus. Lintang juga suka, Wicak juga (si tipe mapala-mapala gitu). Dan kalau Geri, karena saya nggak suka-suka amat sama tipe prince charming, yah, biasa saja. Nggak kecewa juga kalau ternyata... dia... hehehehe. 


Keren ah. Suka.

Animal Farm



Judul : Animal Farm
Penulis : George Orwell
Penerjemah : Bakdi Soemanto
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal Buku : 140 Halaman
ISBN : 9786022910701
Rating : 4 dari 5



Si tua Major, seekor babi putih-tengah terhormat, bermimpi, sebuah mimpi yang mengandung visi tentang sebuah perubahan besar. Begitu Pak Jones sang pemilik Peternakan Manor terlelap dalam tidurnya, sebuah pertemuan yang sudah disebar sebelumnya digelar. Di salah satu bagian belakang lumbung besar, di atas semacam panggung yang ditinggikan, Major membaringkan dirinya di atas alas jeraminya, di bawah lentera yang tergantung pada sebuah balok kayu.

Tidak lama kemudian semua penghuni berdatangan, siap untuk mendengarkan pidato yang akan disampaikan oleh si tua Major. Sebuah pidato disampaikan, tentang bagaimana kedudukan binatang dan manusia, bagaimana kondisi para penghuni peternakan yang diperbudak oleh manusia. Lalu tentang mimpi pak tua Major tentang kehidupan tanpa manusia, di mana manusia sudah punah. Major juga mengingat kembali sebuah lagu yang pernah dinyanyikan ibunya saat ia kecil, dengan judul "Binatang Inggris". Kemudian, lagu ini dinyatakan sebagai lagu penyemangat mereka. 

Tiga malam kemudian, si tua Major meninggal. Pidato yang pernah disampaikannya menjadi penyemangat dan pemantik revolusi yang akan terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka tidak tahu kapan pemberontakan yang diramalkan si tua Major akan tiba, tapi mereka meyakini bahwa saat itu akan berlangsung tidak lama lagi, dan tugas merekalah yang mempersiapkannya.

Semua pekerjaan mengorganisir dan merencanakan dijatuhkan pada babi, yang secara alamiah adalah sosok binatang yang paling cerdas. Yang unggul di antaranya adalah dua ekor babi bernama Snowball dan Napoleon. Ada pula seekor babi lainnya yang pandai berbicara bernama Squealer.

Ada pula pengikut setia mereka, dua ekor penarik kuda bernama Boxer dan Clover. Boxer adalah kuda dengan kekuatan dan kesetiaan yang besar. Boxer bukan kuda dengan intelegensia tingkat satu, namun karena sifatnya yang teguh dan kerja kerasnya yang luar biasa, Boxer begitu dihormati. Sementara Clover, kuda wanita setengah baya yang kuat. Lalu ada Mollie, anak kuda berwarna putih dan pesolek, yang hobinya berdandan dan mengenakan pita, memakan gula. Dari kaum keledai, ada sosok Benjamin. Benjamin adalah binatang paling tua dan perangainya katanya paling buruh. Selalu tak acuh dan jarang tertawa. Dan sosok Muriel, si kambing putih. 

Nah, lalu, suatu malam, pemberontakan terjadi. Karena Pak Jones terlalu sibuk dengan minumannya, sementara pekerja yang sudah memerah susu dari sapi tanpa repot memberinya makan, akhirnya sapi-sapi tersebut protes karena kelaparan. Pak Jones mencambuk mereka lebih daripada yang pernah dia berikan. Kejadian ini melecutkan pemberontakan dari penghuni Peternakan Manor lainnya. Mereka berhasil memukul keluar semua manusia yang ada di peternakan. Tempat itu kini dikuasai oleh binatang-binatang itu sepenuhnya. Semua yang mengingatkan dan mencirikan apa yang digunakan oleh manusia dibakar habis, pertanda rezim manusia pada binatang telah berakhir.

Keesokan harinya, Snowman dan Napoleon kembali mengumpulkan mereka untuk membahas beberapa hal. Pertama, mereka mengganti plang bertuliskan "PETERNAKAN MANOR" menjadi "PETERNAKAN BINATANG". Lantas mereka membuat beberapa kesepakatan yang dituliskan sebagai:

TUJUH PERINTAH

  1. Apa pun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh.
  2. Apa pun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman.
  3. Tak seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian.
  4. Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang.
  5. Tak seekor binatang pun boleh minum alkohol.
  6. Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain.
  7. Semua binatang setara.
Tujuh perintah itu ditulis dan dibaca oleh setiap bintang.

Mereka bekerja dengan keras sesudahnya, namun pekerjaan itu membuahkan hasil berupa panen yang melimpah tidak seperti biasanya, karena semua hasil peternakan ditujukan dan dikelola untuk mereka, tidak ada lagi pembagian untuk manusia. Snowball memberikan pengajaran dan pendidikan untuk penghuni peternakan. Dia mengajarkan baca tulis, dan mendidik binatang-binatang yang liar supaya lebih baik lagi. Binatang-binatang diajarkan menulis dan membaca, meskipun pada akhirnya kembali pada kemampuan binatang itu sendiri dalam menyerap pelajarannya. Sementara Napoleon, dia justru lebih memilih mendidik generasi muda. Anak-anak anjing yang baru lahir dididiknya melalui pendidikan yang khusus. 


Snowball dan Napoleon mempunyai kedudukan yang sama dalam hal dihormati dan dipatuhi perkataannya, meskipun keduanya lebih sering memiliki perbedaan paham. Tentu ini menjadi sebuah ganjalan, bahwa di manapun, pada hakikatnya, hanyalah ada satu pemimpin. Pada akhirnya, momen ketika tercetus ide pembuatan kincir angin menjadi titik puncak pertentangan mereka. Snowball menganggap bahwa, mereka harus bekerja keras untuk membuat kincir angin supaya di kehidupan mendatang, mereka bisa bekerja hanya tiga hari dalam seminggu, akan mendapatkan pasokan listrik, air hangat, dan beragam keistimewaan lainnya. Tapi untuk itu, mereka harus berkorban dengan melakukan pekerjaan ekstra saat ini. Sementara Napoleon, menganggap bahwa hal tersebut tidak perlu. Mereka hanya perlu menambah pasokan makanan saja sehingga kebutuhan pangan mereka terpenuhi, tidak perlu melakukan pekerjaan sampingan untuk membuat kincir angin.

Akhirnya, Napoleon dengan kekuasaan mininya, dengan anak-anak anjing yang didiknya itu, berhasil membuat Snowball keluar dari peternakan, menjadikan dirinya sebagai pemimpin tunggal di tempat itu. Menggunakan Squealer sebagai juru bicara, dengan kemampuan babi itu dalam bertutur kata, berhasil membuat Napoleon dipercaya atas setiap keputusan yang dibuatnya.

Napolen membuat kebijakan yang menguntungkan kaumnya sendiri, yakni para babi dan anjing. Rapat umum ditiadakan, hanya menyisakan Dan secara mengejutkan, dia memberikan peraturan bahwa mereka harus membuat kincir angin seperti yang pernah direncanakan oleh Snowball. Selain itu, Napoleon pun membuat isu-isu untuk menjelekkan nama Snowball.

Tanpa disadari, para penguni Peternakan Binatang mengalami penindasan dan perbudakan oleh kaum mereka sendiri. Naun Squealer terus saja menyampaikan kalimat-kalimat manisnya, beragam tipu muslihat yang membuat mereka terus percaya bahwa keadaan lebih baik dari sebelumnya, dan bahwa kebijakan yang ditetapkan adalah untuk kebaikan mereka bersama. Duh. Bego banget sih x"D





Saya menyelesaikan novel ini hanya dalam beberapa jam. Sebenarnya, sudah lama dibuka dan pernah dibaca. Tapi karena sudah lama sekali akhirnya baca ulang dari pertama. Kesan pertama..., satir. Ini novel penuh dengan alegori dan satir yang buat saya banyak berpikir. Nah coba lihat, kalau dianalogikan dengan zaman sekarang, saya, anda, kita, terwakili oleh jenis binatang yang mana ya?

Apakah sebagai Boxer dan Clover yang bekerja keras tiada henti, menyatakan kesetiaan pada pemimpin, yakin bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan bersama, untuk memberikan sumbangsih pada masyarakat lainnya, tapi sebenarnya hanyalah..., alat yang dijadikan penguasa untuk kepentingan pribadinya semata? Yang mana kalau sudah habis masa baktinya, dilempar dan dibuang untuk dijual pada pemotongan kuda seperti yang dialami oleh Boxer? *emot ketawa nangis wasap*

Atau kita adalah Benjamin, si keledai tua, yang mungkin sudah lelah dengan kehidupan, sudah kenyang dengan asam manisnya hidup, memilih diam dan masa bodoh, sebagai penonton malas yang sebenarnya tahu mana yang benar, mana yang salah, tapi ya cuma diam saja? Berteriak lantang hanya di detik-detik terakhir, saat Boxer sudah masuk ke dalam mobil box yang bertuliskan “Alfred Simmonds, Penyembelih Kuda dan Pembuat Lem, Willingdon. Pedagang Kulit Hewan dan Makanan Tulang. Pemasok Rumah Anjing.” Dan menyadari kalau upaya terakhirnya itu sudah sia-sia belaka?

Atau si Mollie, kuda pesolek yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri, merasa bahwa tidak ada hal yang lebih besar, lebih penting, selain penampilannya dengan pita-pita cantik, gula-gula manis, tanpa peduli apakah ada pemberontakan, kekejaman, yang terjadi di sekelilingnya?

Atau Moses, si burung yang percaya bahwa ada kehidupan lebih baik di atas awan sana, (aduh gimana saya menjelaskan yang bagian ini ya,) bahwa kehidupan di atas sanalah yang menjadi tujuannya tanpa memiliki sedikit kepedulian terhadap apa yang terjadi di atas tanah?

Atau kita adalah Squealer, perpanjangan mulut penguasa, yang selalu seiya sekata dengan apa kata penguasa, selagi perutnya dipenuhi dengan kesenangan, maka dia menjadi seorang di garda depan untuk membela, menyiarkan informasi hanya untuk membuat pemimpinnya selalu benar?

Atau jangan-jangan, kita sebenarnya adalah Napoleon, yang...., ah sudahlah.


Semoga, kita adalah orang yang sebaik-baik orang. Bukan sejenis Pak Jones atau Pak Frederick, maupun Pak Piklington. Hm.



Inferno

 

 Judul : Inferno
Pengarang : Dan Brown
ISBN : 9780385537858
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 639 halaman
Rating : 4 dari 5


(Mysteri, Thriller, Adventure)A book set somewhere you've always wanted to visit (Challenge bulan Juli) | A book with more than 500 pages | A mystery or a thrillerA book by an author you've never read before 
 "... Mengasihani diri sendiri adalah impuls yang jarang ditoleransi oleh Sienna, tapi kini, ketika air mata menggenang dari tempat yang jauh di dalam hatinya, dia tahu dirinya tidak punya pilihan, kecuali membiarkan air mata itu keluar." [Hal 63]

"Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan bunglah itu." [Hal 402]


Inferno, Robert Langdon berpetualang kembali dengan kemampuan simbologinya yang menakjubkan.

Berada di Florence, Italia, dengan kondisi ingatannya yang mengalami amnesia jangka pendek, Robert Langdon dihadapkan dengan kenyataan bahwa ada seseorang yang berniat membunuhnya. Dengan bantuan seorang dokter muda, Sienna Brooks, Robert Langdon berhasil melarikan diri dari sekelompok orang tidak dikenali tersebut. Sejak itu, petualangannya dimulai.

Berbekal dengan ingatan samar tentang bayang-bayang seorang perempuan tua yang memintanya untuk segera mencari dan menemukan sesuatu, juga sebuah proyektor portabel berkuncikan sidik jarinya, Robert Langdon memacu dirinya untuk berhasil menemukan apa yang sebenarnya ia cari dan yang terjadi selama ingatannya terhapus, melalui jejak-jejak yang ditinggalkan di puisi seniman ternama dunia, Inferno-nya Dante.

Pencarian itu dimulai dengan kondisi keterbatasan karena sekelompok orang sedang berusaha mengejarnya, membuat Robert dan Sienna menyelusuri bangunan megah yang diciptakan oleh seniman besar Vasari. Memasuki lorong-lorong yang tidak diketahui orang lain, untuk menemukan satu petunjuk yang pentik, yaitu topeng Dante.

Setelah berhasil menemukan tempat itu, rupanya lagi-lagi Robert Langdon dikejutkan bahwa ternyata topeng itu telah dicuri. Dan lebih mengejutkan lagi, setelah melihat rekaman tempat kejadian, bahwa seseorang yang terekam dalam topeng itu adalah Robert sendiri. Lalu bergerak ke petunjuk yang diberikan oleh seseorang yang sama-sama memiliki minat mengenai Inferno-Dante, membawa Robert Langdon menemukan di mana tempat topeng itu disembunyikan. Tidak sampai di situ, petunjuk lain yang muncul dari si topeng membawa mereka lagi menelusuri negeri yang berbeda dengan tempat di mana mereka berada, Venesia.

Ini kalau dilanjutkan spoilernya gila-gilaan. Intinya, ternyata setelah menjelajah kota Venesia, rupanya mereka ini salah memprediksi tempat, dan berlanjutlah petualangan ke negeri yang sama sekali di luar predikisi, yakni Turki. Kya banget lah, apalagi waktu mnjelaskan tentang tempat yang pengin banget saya kunjungi, Hagia Sophia.

Ceritanya ini mengecoh banget, serius deh. Di awal alurnya memang lambat tapi di akhir benar-benar membuat penasaran karena cerita berputar 180 derajat, tidak bisa diprediksi sebelumnya, dan benar-benar mengejutkan.

Sienna, ah Sienna...

Tapi endingnya nanggung banget, ibarat kata ... sudah sejauh ini? Begitu ternyata? Kurang nendang, meskipun memang meleset dari apa yang sudah diprediksikan. Sedikit kecewa, tapi overall buku ini menakjubkan. Baca 600an sekian halaman ngggak terasa sama sekali.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)