Showing posts with label adult. Show all posts
Showing posts with label adult. Show all posts

The Puppeteer


Judul : The Puppeteer
Penulis : Jostein Gaarder 
Penerbit : Mizan
Tebal Buku : 352 Halaman
Cetakan Pertama, September 2017
(versi bahasa asli, terbit perdana Maret 2016)
ISBN : 9786024410247
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Jakop Jacobsen namanya. Pria biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Teman terdekatnya adalah Pelle Skrindo, bajak laut yang suka datang dan pergi sesukanya. Hobinya adalah menghadiri pemakaman, dan sahabat pena tersayangnya adalah Agnes. Kepada Agnes, dia mengisahkan berbagai pemakaman yang dia ikuti, juga kesan-kesan tentang keluarga para almarhum.

Jakop hidup sendiri. Dia senang berbagi kisah. Sayang, dia hanya punya Pelle sebagai teman berbagi. Tetapi, Pelle lebih sering membantahnya daripada mendengarkannya. Karena itu, Jakop suka menghadiri pemakaman, berbagi emosi sesaat dengan keluarga yang berduka, meski dia harus mengarang kebohongan tentang bagaimana dia mengenal para almarhum. Tapi akhirnya, dia ketemu batunya. Keberadaan Agnes pada saat dia menghadiri suatu pemakaman membuatnya tak lagi bisa mengarang kisah dusta. Demi mempertahankan koneksi dengan Agnes, Jakop harus menguak siapa dirinya sebenarnya. Sanggupkah Jakop? 

The Puppeteer, karya terbaru Jostein Gaarder, mengajak pembacanya merenung tentang kesendirian, pertemanan, serta tentang mencari tempat dan tujuan dalam kehidupan di dunia ini. Mengharukan dan menggugah empati.

***

Catatan: Mungkin akan spoiler, karena saya tidak tahu harus menuliskan apa selain kesedihan Jakop yang menyayat hati itu (dan itu termasuk bagian yang mungkin bakal spoiler dalam kisah ini).

Jakop adalah seorang pria yang bisa dikatakan kesepian. Dalam sepinya, dia memiliki teman bernama Pelle. Dia juga memiliki kebiasaan unik mengikuti prosesi pemakaman. Kebiasaan itu bermula dari kegiatan isengnya untuk menghadiri pemakaman yang diumumkan di surat kabar. Betapa dia menikmati atmosfer berkumpulnya keluarga besar saat adanya kematian. Orang yang akan mengenang mendiang, banyak yang datang memberikan penghormatan. Semua itu tidaklah didapatkan Jakop dalam hidupnya. Dia lahir dan dibesarkan oleh seorang ibu, dengan ayah yang hanya datang sesekali. Pergunjingan orang-orang di desanya berlangsung lama. Tidak hanya seputar ayahnya dan status perkawinan ibunya yang tidak jelas itu. Saat kecil, Jakop suka bermonolog dengan Pelle, yang adalah sebuah boneka tangan. Dengan Pelle, Jakob bisa mengeluarkan isi hatinya yang tak bisa dilisankan olehnya sendiri. Saat remaja, dua orang gadis menangkap basah dirinya yang sedang ngomong dengan boneka, dan berita itu tersebar luas hingga Jakop harus menahan diri dari upaya pembullyan terhadapnya.

Namun, Jakop hidup dengan pembuktian bahwa dirinya akan sukses. Dia menjadi seorang guru dengan minat yang besar terhadap hubungan kekerabatan antara suatu kata dari berbagai bahasa. Minatnya berkembang sejalan dengan risetnya terhadap orang-orang yang ditakziyahinya. Jakop perlu mengaitkan dirinya dengan mendiang, makanya dia perlu memiliki hubungan yang bisa dikarangnya terhadap orang tersebut. Dia juga membuat dokumentasi atau semacam arsip pribadi tentang orang-orang yang dikunjunginya, yang dia dapatkan dari iklan koran. Jakop meletakkan potongan koran itu di dalam kotak cerutu yang disimpannya di lemari kamar.

Kesendirian bisa terasa sepi bagi orang yang menjalaninya. Namun menurutku, itu lebih baik daripada hidup dalam keberduaan. Kalau orang hidup sendiri, setidaknya dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Aku membayangkan bahwa kebebasan lebih mudah hidup dalam keluarga besar ketimbang dalam perkawinan yang sempit. ---halaman 188

Jakop pernah menikah, hanya saja pernikahannya tidak berlangsung lama. Sang istri tidak dapat menerima perilaku Jakop yang tidak biasa. Pada akhirnya, Jakop kembali sendiri dan menjalani kebiasaannya berdialog dengan Pelle dan menghadiri pemakaman. Jakop sudah menyiapkan argumentasi andai saja ada yang bertanya tentang hubungannya dengan sang mendiang. Hanya saja, epandai-pandainya tupai melompat, ada kalanya tergelincir juga. Jakop terpaksa menelan pil pahit kebohongannya saat Agnes, adik bungsu salah satu orang meninggal yang ditakiziyahinya membongkar kebohongan itu. Ada satu fakta yang luput dari perhatian Jakop yang tak dapat dielakkan dari kisah fiktifnya itu.

Kepada Agnes, Jakop menuliskan surat panjang tentang kisah hidupnya, rahasia kelamnya, dan kebiasaan unik Jakop saat menghadiri pemakaman demi pemakaman dalam hidupnya.

"Sekarang aku mengerti. Aku tidak sanggup lagi membayangkan menjadi tamu tak diundang dalam kehidupan orang lain." ---halaman 316

***

Seperti halnya ciri khas tulisan Gaarder, di sini saya menemukan konsep surat seperti yang muncul pada beberapa judul novel sebelumnya, seperti pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken atau Gadis Jeruk. Saya juga masih merasakan keprihatinan mendalam Gaarder pada kerusakan lingkungan, yang masih muncul meskipun sekilas di buku ini. (Tema itu menjadi perhatian Gaarder pada novelnya yang berjudul Dunia Anna yang menceritakan tentang pemanasan global, juga pada Maya.)

Menyenangkan rasanya, mengikuti tulisan Gaarder lintas waktu, dari mulai membaca novelnya yang ber-setting 1998 (era sebelum milenium), hingga masa sekarang di mana tokohnya menggunakan Instagram. Menyimak dongeng filsafatnya yang indah sejak Gadis Jeruk hingga The Puppeteer. Saya senang dengan bukunya, merangkai banyak sekali makna dan pengetahuan baru. Menggugah naluri, tak jarang mengubah cara pandang dan persepsi. Apalagi, dalam buku ini, mengangkat tema tentang seorang "dalang", atau "penggerak" cerita. Sebuah tema yang sangat dekat dengan saya pribadi. Beberapa tahun terakhir, saya adalah seorang Puppet Master, alias penggerak suatu karakter dalam dunia role-playing.

Aku tidak pernah meragukan bahwa Pelle sendirilah yang berbicara saat kami bercakap-cakap. Dia cuma harus meminjam suaraku. ---halaman 153

Meskipun berbeda dengan permainan yang dilakoni Jakop dan Pelle Skrindo, tapi esensi dunia role-playing tetap sama. Seseorang (di dunia nyata) memberikan jiwa, pikiran, dan hatinya pada sebentuk benda mati. Tak jarang, tokoh fiksi itu menggerogoti bahkan merusak kehidupan nyata si dalang atau si penggerak. Hanya saja, dalam kesendiriannya yang memilukan, Jakop terjerumus dalam dunia yang dikarangnya terlalu dalam, hingga ia bahkan mengorbankan kehidupan nyatanya. Dalam sekali buku ini berpengaruh bagi saya.

Kenapa tidak bintang lima seperti kebanyakan buku Gaarder lainnya? Ada sedikit kebingungan memahami permainan Jakop dan kegemarannya dalam mengaitkan "keluarga" makna sebuah kata, di mana, barangkali, akan sangat menyenangkan jika saya bisa memahaminya dalam bahasa ibu Gaarder. Saya angkat topi dengan kemampuan penerjemah dalam menerjemahkan naskah ini. Pasti sulit, mengingat kontennya menurut saya kurang "bersahabat" dengan bahasa lokal atau bahasa yang menjadi terjemahannya. Namun, meskipun kesulitan dan kebingungan, saya masih dapat menangkap makna dan maksud dari apa yang disampaikan Gaarder pada tokohnya.

Sehat-sehat terus, Opa, supaya bisa terus berkarya. Saya menantikan buku-buku Gaarder selanjutnya.

The Storied Life of A.J. Fikry

Judul : The Storied Life of A.J. Fikry --- Kisah Hidup A.J. Fikry
Penulis : Gabrielle Zevin 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 280 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2017
(versi bahasa asli: Desember 2014)
ISBN : 9786020375916
Rating : 4 dari 5





Blurb:

"Manusia tidak bisa hidup sendiri; setiap buku membuka jendela dunia." 

Hidup A.J. Fikry jauh dari yang diharapkannya. Istrinya meninggal, penjualan di toko bukunya merosot tajam, dan hartanya yang paling berharga, koleksi puisi Poe yang langka, baru saja hilang dicuri. Pelan tapi pasti, A.J. menjauhkan diri dari semua orang di Pulau Alice. Bahkan ia tak lagi menemukan kegembiraan dari buku-buku di tokonya. Ia malah menganggap buku-buku itu sekadar penanda bahwa dunia telah berubah begitu cepat. Tetapi kemudian sebuah paket misterius muncul di tokonya. Paket itu kecil, meski bobotnya lumayan. Kemunculannya memberi A.J. kesempatan untuk membuat hidupnya lebih baik dan melihat semua hal dengan perspektif berbeda. Tak butuh waktu lama bagi orang-orang di sekitar A.J. untuk menyadari perubahan dalam dirinya. Ia tak lagi pahit, buku kembali menjadi dunianya, dan semua hal berubah menjadi sesuatu yang tak ia duga akan terjadi dalam hidupnya.

***

Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian. Kita tidak sendirian. ---halaman 263

A.J. Fikry adalah pria paruh baya pemilik satu-satunya toko buku di pulau tempatnya tinggal. Sejak peristiwa meninggalnya sang istri setelah mengantarkan penulis selepas acara jumpa penulis di toko bukunya. Setelah itu, kehidupannya berantakan. A.J. menjadi pria sinis yang pernah berlaku tidak sopan kepada seorang wanita dari penerbitan yang membawakan katalog buku milik perusahaannya. A.J. suka meminum minuman keras yang suatu hari akan disesalinya. Ia kehilangan buku langka milik Edgar Allan Poe saat sedang mabuk. Buku itu diperkirakan harganya lebih mahal dari seluruh buku yang dijualnya.

Ada yang datang, ada yang pergi. Setelah peristiwa kehilangan yang menggegerkan tersebut, A.J. kedatangan sesuatu yang misterius di toko bukunya; seorang bayi. Keesokan harinya, kepolisian menemukan jasad seorang wanita muda di mercusuar yang disinyalir adalah ibu dari bayi tersebut. Ia bernama Maya. Dan kehadiran Maya dalam kehidupan A.J., menjadikan hidupnya lebih berwarna, dan lebih baik lagi. Dengan adanya Maya, A.J. yang semula pesimistis dan seorang yang membosankan, menjadi lebih terbuka. A.J. jadi akrab dengan seorang opsir polisi di pulau itu, yang kemudian menjadi teman baiknya. Dan pada akhirnya terhubung dengan wanita yang mengisi lembaran kisah percintaannya.

Yang menarik dari kisah ini, bukan hanya suguhan plotnya yang tidak biasa dan mengejutkan. Namun, mengikuti keseharian hidup A.J. sebagai seorang pencinta buku, dengan toko buku yang dikelolanya, justru menambah kesan terhadap novel ini. Tentang mengapa pada akhirnya ia memutuskan menjadi pengelola toko buku kecil, lalu pandangannya terhadap buku-buku (yang menjadi penanda awal babak dalam buku ini), dan masih banyak lagi. Lalu, ada pula yang menarik, ketika A.J. menilai seseorang berdasarkan buku:

"Jika Jenny itu buku, ia adalah buku paperback yang baru saja dikeluarkan dari kardus--tidak ada halaman yang dilipat sebagai penanda, tidak ada bekas air di halamannya, tidak ada garis tanda pernah dibuka di punggung buku. A.J. lebih menyukai pekerja sosial yang tampak berpengalaman. Ia membayangkan sinopsis di belakang kisah Jenny: saat Jenny yang penuh semangat dari Fairfield, Connecticut, menerima pekerjaan sebagai pekerja sosial di kota besar, dia tidak tahu dunia seperti apa yang dimasukinya" ---halaman 69

Atau, kalimat yang diberikan A.J. saat melamar wanita yang dicintainya:

"Aku bisa menjanjikanmu buku, percakapan, dan hatiku seutuhnya." ---halaman 165

Buku ini menjadi menarik, mungkin karena sebagai pembaca yang mempunyai kesukaan yang sama dengan para tokohnya, saya jadi merasa konek dan sepakat dengan beberapa pernyataan sang tokoh dalam kisah ini. Contohnya, misalnya, saat Amelia Loman berkencan dengan seorang pria, dan ia menanyakan buku apa yang memengaruhi kehidupannya. Pria itu menjawab, "Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi bagian II." Dari sana Amelia bisa menyimpulkan bahwa pria itu tidak menyukai sastra. Bagaimana ia bisa hidup dengan seseorang yang tidak memiliki kesamaan dengannya? Mungkin ini kedengarannya skeptis, tapi saya masih bisa menemukan korelasinya dengan Amelia. Bayangan tentang menghabiskn waktu dengan seseorang yang tak memiliki pandangan yang sama dengan kita itu cukup menggelitik dan mengusik. Lalu, bagaimana jika kita disodorkan pada dua pilihan, yang pertama adalah orang yang sama sekali berbeda, dan memiliki kegemaran yang tidak sama. Lalu, muncul orang kedua yang punya minat sama dan visi yang sama dengan kita, meskipun ia tak sempurna dan bahkan jauh dari kata sempurna. Saya bisa memahami kegalauan si tokoh yang pada akhirnya bisa mengerti jalan yang ia pilih.

Selain kisahnya yang indah, sangat berkorelasi dengan kehidupan para pencinta buku, buku ini juga teman belajar menulis yang baik. Sebagai guru, penulis tidak hanya memberitahu bagaimana cara menulis, tapi juga langsung mempraktikkannya dengan menyuguhkan sebuah kisah yang dapat diambil pelajarannya, baik secara harfiah, maupun pelajaran moral dalam isi ceritanya. Buku ini sangat direkomendasikan karena segala-galanya indah dan menarik.

Menyenangkan sekali membaca kisah yang mana para tokohnya dipersatukan oleh buku. Bahkan, menunjukkan perasaan pada seseorang pun, dengan kalimat yang "buku sekali".

"Sudah bertahun-tahun aku melihatmu di rak. Aku sudah membaca sinopsis dan kutipannya di bagian belakang." ---halaman 291




Confess

Judul : Confess
Penulis : Colleen Hoover
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 376 Halaman
Cetakan Pertama, Mei 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, Maret 2015) 
ISBN : 9786020328010
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Pada umur 21 tahun, Auburn Reed sudah kehilangan segalanya. Ingin memperjuangkan kembali hidupnya yang berantakan, Auburn pun menetapkan tujuan agar tak menyisakan ruang bagi kesalahan. Namun ketika masuk ke galeri seni di Dallas untuk mencari pekerjaan, Ia malah jatuh hati pada sang seniman misterius, Owen Gentry.

Sekali ini saja, Auburn mengambil kesempatan dengan menyerahkan hatinya, hanya untuk mengetahui Owen menyembunyikan rahasia besar; masa lalu yang mengancam akan menenggelamkan seluruh usaha Auburn selama ini.

Demi menyelamatkan hubungan mereka, Owen hanya perlu mengaku. Namun, pengakuan tak selalu lebih baik, terutama jika kenyataan hanya akan menyakiti lebih banyak pihak. 

***

Auburn Reed, mengalami hari yang berat semenjak kepindahannya ke Dallas. Ia terpaksa pindah dari Texas, memulai kehidupan baru di sana. Ia mendapatkan kontrakan dan juga pekerjaan. Namun, ia membutuhkan uang untuk menyewa pengacara dan memenangkan sebuah tuntutan.

Auburn menemukan satu lowongan pekerjaan aneh yang "menjebaknya" dalam suatu kehidupan baru. Si seniman misterius, Owen Gentry, menawarkannya pekerjaan selama satu malam itu saja sebagai pegawai galeri seni miliknya yang tidak buka setiap saat. Sementara, Owen, mengalami keterkejutan karena bertemu lagi dengan Auburn. Owen adalah seorang pelukis. Di galerinya, ia menjual lukisan hasil dari pengakuan orang. Ia meletakkan kotak pengakuan di galeri miliknya, lalu melukis dengan menggunakan kalimat pengakuan tersebut sebagai inspirasi.

Tidak hanya tertarik dengan konsep pengakuan dalam galeri Owen, Auburn ternyata perlahan-lahan masuk ke dalam kehidupan pria dengan nama tengah sama dengannya itu; Mason. Pertemuan demi pertemuan yang terjalin oleh mereka, membuat Auburn terpaksa membuka hatinya kembali untuk Owen, setelah bertahun-tahun ia menutupnya selepas meninggalnya Adam, cinta pertama Auburn.

Dan ketika mereka sudah semakin dekat, lapisan-lapisan rahasia terkuak dalam diri mereka menjadikan sebuah tantangan besar menyangkut masa depan kisah mereka berdua.

***

Pengakuan yang Anda baca di dalam novel ini pengakuan sungguhan, dikirimkan tanpa nama oleh para pembaca. Buku ini didedikasikan untuk kalian semua yang menemukan keberanian untuk membagi pengakuan-pengakuan.

Setelah membaca 9 November, saya memutuskan untuk membaca novel-novel karya Colleen Hoover lainnya. Dan karena ada beberapa judul novel Hoover yang berseri, saya memilih membaca Confess terlebih dahulu, yang berdiri sendiri. Kesannya, masih sama seperti kesan saya terhadap Colleen Hoover sebelumnya, meskipun saya masih terpesona dengan plot twist 9 November yang begitu fantastis (dan buku ini, meskipun plotnya tidak mudah tertebak juga, tapi belum sefantastis 9 November). 

Oke, saya akan berhenti untuk membanding-bandingkan lagi.

Bab awal buku ini saya rasakan cukup membosankan, bahkan perasaan itu cukup lama bertahan hingga di seperempat bagian. Namun, begitu plot twist-nya terungkap, ketertarikan saya mulai muncul lagi. Dan hingga buku ini berakhir, saya masih bisa menikmatinya. 

Confess menyajikan premis yang unik dan lain dari biasanya: tentang sebuah karya yang lahir dari pengakuan-pengakuan anonim. Jika dikira kehadiran pengakuan itu hanya sekadar untuk menemani jalan cerita, nyatanya tidak demikian. Pengakuan-pengakuan itu bahkan muncul jauh sebelum kisah ini bermula, dan menemani pembaca menyingkap isi cerita ini yang masih tersembunyi.

Untuk karakternya sendiri, saya bisa merasakan bagaimana karakter ini terbangun dan berjalan memengaruhi cerita. Saya suka sosok Auburn yang mempertahakan haknya yang tercerabut. Saya suka Owen dan cerita tentang hidupnya. Saya suka bagaimana interaksi Auburn dan Owen yang manis, meskipun kisah yang mereka hadapi tidak selamanya manis dan menyenangkan.

Adegan dewasa masih ada, meskipun tidak sebanyak dan seekstrem 9 November dalam penggambarannya. Jadi, masih oke. Mau di-skip pun, tidak mengganggu atau kehilangan esensi cerita :) Anyway, ilustrasinya cakep-cakep.



Wallbanger

Judul : Wallbanger
Penulis : Alice Clayton
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 600 Halaman
Cetakan Ketiga, Januari 2017
ISBN : 9786020229874
Rating : 2 dari 5

**Warning: Buku ini mengandung konten dewasa, silakan tutup bukunya kalau belum 21 tahun**



Blurb:

Malam pertama di apartemen impian di San Fransisco, Caroline memperoleh kejutan istimewa. Dari balik dinding tipis apartemennya, Caroline mendengar suara tempat tidur yang berderak serta jeritan kepuasan tanpa henti. 

Malang bagi Caroline yang sedang dalam 'masa hiatus kencan'. Tetangganya yang jelas-jelas mempunyai daya tarik 'mematikan' bagi wanita membuat fantasi Caroline tetap terbangun sepanjang malam. Maka ketika suara derak tempat tidur mengancam dirinya--secara harafiah--Caroline tahu dia harus bertindak... 

***

Caroline punya tetangga baru, yang kamar mereka terpisahkan oleh dinding. Masalahnya, tetangga baru itu suka berisik malam-malam dengan orang yang berbeda. Dinding mereka yang entah setipis apa itu selalu berdentum-dentum, mengakibatkan pajangan dinding Caroline bahkan terjatuh. Dan bagaimana Caroline bisa tahu kalau lawan bermain tetangganya itu berbeda-beda? Karena, ciri khas mereka yang tidak sama. Lalu, ia menjuluki wanita-wanita itu dengan julukannya masing-masing: si Spanx; si Kucing Betina, karena suka mengeong-ngeong; lalu si Wanita Pengikik. Dari aktivitas apartemen sebelah itulah, Caroline mengetahui kalau nama pria itu adalah Simon, yang ia juluki sebagai Simon Wallbanger--Si Pembentur Dinding.

Karena kesal pada suatu malam, Caroline nekat untuk menggedor pintu depan apartemen tetangganya itu. Dari situlah ia melihat secara langsung bagaimana rupa si Wallbanger itu. 

Sebenarnya, selain merasa terganggu karena tidurnya jadi tidak nyenyak, Caroline punya masalah dengan ketidakhadiran O sejak aktivitas seksual secara brutal yang pernah ia lakukan beberapa waktu lalu. Karena itu pulalah ia terganggu dengan kegiatan ruangan sebelah itu.

Saat menghadiri sebuah pesta, ia dan kedua temannya, Mimi dan Sophia. Di sana, ia bertemu dengan Simon dan kedua temannya. Alhasil, mereka berteman. Dan Caroline berhasil membuat perjanjian gencatan senjata dengan Simon si tetangga. Meskipun mereka sudah memperbaiki hubungan dengan menjalin pertemanan, sebenarnya mereka memendam perasaan saling suka. Buktinya, mereka saling melempar lelucon-lelucon yang menyerempet, meskipun tidak ada kontak fisik yang berarti di antara keduanya.

Tak lama kemudian, aktivitas tembok kamar sebelah menjadi hilang, digantikan dengan alunan lagu yang terdengar sebagai pengantar tidur. Apa yang terjadi dengan mereka selanjutnya?

***

Genre erotica romance bukan satu hal yang baru bagi saya. Saya sudah membaca Fifty Shades of Grey (yang belum ada niat buat baca kelanjutannya), Crossfire series (yang berhenti baca di buku kedua atau ketiga gitu, lupa), dan juga The Blackstone Affair series (juga berhenti di buku ketiga kalau nggak salah ingat). Jadi, membaca Wallbanger ini, ya biasa saja. 

Sama seperti kesan yang saya dapat dari buku ini, ternyata juga biasa saja. Nggak ada yang istimewa. Justru, saya malah merasa kecewa karena bukunya tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Hmmm, memangnya, what did you expect with this genre? Sebenarnya, karena saya adalah pembaca buku semua genre, saya tidak membatasi genre bacaan saya. Sejak booming-nya FSoG, saya juga mulai merambah genre bacaan ini. Apa yang saya harapkan dan ekspektasikan dari genre erotica romance? Saya berharap mendapat cerita yang kompleks, sebenarnya, dengan plot yang kuat dan tidak hanya mengandalkan adegan kipas-kipas sebagai bumbu utama. Saya berharap kegiatan itu justru berada di dalam lingkar sebab-akibat yang pas. Bukan sebagai bahan baku utama yang ditonjolkan terus-menerus sampai akhirnya pembaca merasa, "Ewwhh, paan zi inih?!"

Well, sejauh ini, dari buku-buku yang saya baca, yang baru memenuhi ekspektasi adalah The Blackstone Affair. Saya suka plotnya, saya suka ceritanya. Di luar itu (apalagi Crossfire series), cuma berhasil membuat saya mengerutkan dahi dan misuh-misuh (lalu memberikan rating rendah, hehe, maafkan).

Nah, sekarang, balik ke Wallbanger. Jujur, saya suka plot cerita ini dari awal. Sepertinya, menjanjikan. Kisahnya unik, segar karena dibumbui kisah komedi romantis, dan juga membuat penasaran. Namun, keunggulannya hanya berhenti di situ saja. Selebihnya, terlalu banyak percakapan yang membuat saya terlalu banyak melakukan skimming saat membacanya. Entah apakah saya ketinggalan plot penting saat menghilangkan berlembar-lembar baca buku ini, tapi rasanya tidak juga. Saya masih bisa mengikutinya. Satu hal yang bikin agak bisa bernapas lega karena adegan kipas-kipasnya tidak sesering minum obat dalam sehari (seperti yang sering terjadi kalau membaca buku-buku sejenis ini). Tapi, bukannya karena jarang tersebut jadi seolah istimewa, justru biasa saja, malah saya skip-skip bacanya karena bosan dan... "Apasih?!" Hahaha. Begitulah.

Karena saya berharap ada yang istimewa di sini (bahkan di awal saya berencana memberikan bintang tiga), tapi ternyata biasa-biasa saja, akhirnya bintang dua cukuplah. Saya merasa terhibur sih, meskipun hanya tidak mencapai ekspektasi saja. Nggak tahu juga bakal tertarik baca kelanjutan cerita ini atau nggak kalau buku selanjutnya diterjemahkan.

Dan untuk yang berhubungan dengan si O ini (yang terus-terusan dibahas dari awal sampai akhir), karena saya nggak mengerti (#polos), akhirnya saya nggak berani komentar tentang itu ya, haha.

Satu hal yang saya pikirkan dari awal membaca buku ini. Memangnya, tembok kamar mereka itu terbuat dari apa, sih? Kok aktivitas ruangan sebelah sampai bisa membuat barang-barang di tembok berjatuhan? Apa terbuat dari tripleks? Sampai saya harus menggedor-gedor dinding beton buat mencari tahu seberapa kuat benturan yang ditimbulkan sampai membuat kegaduhan di ruangan sebelahnya. Hahaha, impulsifnya  saya kumat.

Oke, sekian ulasan saya tentang ini.

9 November

Judul : 9 November
Penulis : Colleen Hoover
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 424 Halaman
Cetakan Pertama, November 2016 
(Cetakan Pertama versi buku asli, November 2015)
ISBN : 9786020335513
Rating : 4 dari 5



"Aku takkan pernah memaafkan diri sendiri jika aku tidak mendorongmu mengejar mimpimu seperti kau mendorongku mengejar impianku. Kumohon, jangan memintaku menjadi alasan untuk melepas mimpimu. Itu tidak adil." ---halaman 230

Blurb:


Semua dimulai pada 9 November, pertemuan pertama Fallon O’Neil dan Benton James Kessler. Saling tertarik, Fallon dan Ben menghabiskan hari terakhir Fallon di L.A., tepat sehari sebelum Fallon pindah ke New York, dan mereka berjanji akan terus bertemu. Hanya satu hari dalam setahun: 9 November. Selain itu, tak ada komunikasi lainnya. Tidak pertemuan, tidak saling menelepon, tidak kontak lewat medsos, apa pun. 

Waktu menguji mereka, tapi keduanya berhasil terus bertemu pada tanggal yang sama setiap tahun. Hingga suatu hari tersingkap rahasia yang Ben sembunyikan selama ini. Bahwa 9 November adalah benang merah masa lalu mereka. Bahwa mereka lebih terhubung daripada yang dikira Fallon selama ini.

***

Fallon mengalami perdebatan sengit dengan ayahnya, yang menolak kepindahannya ke New York. Ayahnya tidak merestui pilihan karier yang dijalani anak perempuannya itu. Menurutnya, merambah ke dunia akting dengan kondisi yang dialami Fallon adalah kesia-siaan belaka. Ayahnya seorang mantan aktor, sehingga menurut sang ayah, dia mengetahui seluk beluk dunia hiburan itu jauh lebih dalam ketimbang Fallon. Fallon bersikeras untuk menggapai mimpi itu. Dia merasa ayahnya tidak mengerti dengan renjana yang dimiliki Fallon. 

Fallon mengalami kecelakaan hebat di tanggal 9 November. Rumahnya mengalami kebakaran. Dan untungnya, dia selamat. Meskipun, kecelakaan itu membuat sebagian wajah dan tubuhnya mengalami luka bakar. Kariernya sebagai aktris remaja seketika hancur. Pun begitu pula dengan kepercayaan diri yang dia miliki. 

Di saat perdebatan yang dilakukan di sebuah rumah makan itulah, seorang pemuda menyelamatkannya. Dia bernama Benton Kessler. Pemuda itu mengaku sebagai pacar Fallon, dan membelanya dengan argumentasi yang mematahkan ucapan ayahnya. Kemudian, setelah penyelamatan itu, mereka berkenalan. Berhubung dalam kurun waktu yang singkat Fallon akan berpindah kota, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu lagi setiap tahunnya, pada tanggal 9 November, sampai usia Fallon 23 tahun. Mereka membuat perjanjian agar tidak saling menghubungi dan mencari tahu tentang aktivitas mereka selain pada waktu yang dijanjikan. Usul itu diterima. 

Pada akhirnya, pertemuan demi pertemuan berlangsung tiap tahunnya. Hanya dalam beberapa jam bertemu itu, banyak kisah yang terkuak tentang hidup mereka. 9 November, menjadi saksi banyak hal tentang kisah mereka. Tidak hanya tentang masa kini atau masa depan saja, juga bertalian dengan masa lalu mereka.

***

Pertemuan pertama dengan karya Colleen Hoover, adalah saat saya membaca novel Hopeless dan sudah hopeless duluan. Saya tidak kuat dengan konten dewasanya yang terlalu dewasa hingga membuat saya merinding disko dan menutup buku itu. Sejak saat itu, saya masih ragu untuk membaca novel Hoover yang lain. Namun, saat buku ini berseliweran di laman Goodreads, rasanya saya ingin memberikan kesempatan kedua pada Hoover dengan membaca bukunya yang terbaru ini. Dan rupanya, saya tidak menyesali keputusan itu.

9 November membuka perjalanan membaca saya di tahun yang baru dengan sebuah senyum. Saya bersemangat karena buku yang saya baca ini benar-benar keren. Sudah lama rasanya saya tidak membaca sebuah buku dengan polt-twist spektakuler seperti 9 November ini. Membaca buku ini, berhasil memicu rasa penasaran saya hingga saya bisa menyelesaikannya kurang dari tiga hari. Menurut saya, plot-twist-nya juara. Banyak hal-hal yang tidak terprediksi sebelumnya, tapi dikemas dengan sangat rapi hingga pembaca dibuat melongo karenanya. 

Karakter yang diciptakan Hoover dalam 9 November begitu kuat. Fallon, si gadis tak sempurna yang memiliki krisis kepercayaan diri, ditampilkan dengan baik sekali hingga pembaca bisa tersentuh dengan apa yang dirasakan gadis itu tentang trauma dan luka psikis yang dialaminya pascakebakaran yang menimpanya. Lalu Ben, yang ternyata menyimpan banyak kisah kelam dalam hidupnya. Namun, Ben tampil apa adanya layaknya seorang pemuda dari dunia ketiga dengan segala macam kebebasan dan gaya hidupnya. Ketulusan Ben membuat siapa pun yang membaca akan luluh, dan merasakan simpati yang besar terhadapnya.

Pada akhirnya, kisah ini dan segala macam masa lalu yang mengikat kedua tokoh utamanya, berhasil memberikan pelajaran berharga pada pembaca tentang apa artinya meraih renjana dan mengupayakannya. Dan juga, pembelajaran tentang memaknai kegagalan dan kesalahan yang dilakukan pada masa silam, memberikan sebuah pemahaman baru tentang bagaimana memandang masa depan dan menjalani apa yang ada di waktu sekarang.

"Aku perlu mengingat-ingat bahwa ada banyak cara orang menunjukkan cinta. Dan walaupun cara dia dan caraku benar-benar bertolak belakang, itu tetap cinta." ---halaman 396

Satu hal yang mengganggu dari kisah ini adalah..., menurut saya, ada beberapa adegan dewasa yang membuat saya merinding disko. Andai saja Hoover bisa mengurangi porsi untuk itu, sebenarnya saya tidak segan untuk memberikan bintang lima pada kisah Ben dan Fallon ini. (Tapi, kata teman saya itu sepertinya tidak mungkin, karena banyak penggemar Hoover yang justru menyukai bagian yang itu. Ahahaha, baiklah. Mungkin hanya sedikit perbedaan selera saja.)

Selain dari itu, secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. Apalagi, kovernya begitu cantik. Sangat merepresentasikan isi bukunya.



[Blogtour+Giveaway] When Love is Not Enough

Judul : When Love is Not Enough
Penulis : Ika Vihara
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 282 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786020297682
Rating : 4 dari 5





If people don't get a second chance, how will they prove that they learned their lesson?

***

Blurb:


Awalnya, Lilja Henrietta Møller berpikir, menikah dengan sahabatnya, Linus Zainulin, dan tinggal bersamanya di Munchen, akan menjadi sebuah pernikahan yang sempurna. Tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka. Karena Linus dan Lily bisa sama-sama melakukan apa yang mereka suka. Tapi semua tidak sesempurna angan-angan Lily. Karier Linus yang semakin menanjak ternyata malah menghancurkan gerbong kehidupan pernikahan mereka. 

Lily kehilangan laki-laki yang dia cintai. Ayah dari anaknya. Suaminya. Yang lebih buruk lagi, dia kehilangan sahabatnya. Sosok yang sudah bersamanya sejak dia dilahirkan. Lily kembali ke Indonesia, mencoba membangun kembali hidupnya, tanpa Linus bersamanya. 

***

Lily menikah dengan Linus atas dasar cinta. Cinta yang merekatkan mereka selama bertahun-tahun, bahkan sejak mereka bayi. Kedua orangtua mereka bersahabat, rumah mereka berdekatan, dan juga mereka membangun usaha bersama. Tidak butuh banyak usaha untuk mereka saling mengenal, lalu jatuh cinta. Barangkali mereka hanya membutuhkan waktu untuk mengubah brother-sister-zoned, menjadi sepasang kekasih, lalu naik tingkat sebagai suami-istri.

Menjelang pernikahan, Lily disibukkan dengan mengurus banyak hal seputar persiapan pesta pernikahannya. Tentang gaun, gedung, resepsi, dan lain sebagainya. Lily lupa kalau ada banyak hal yang jauh lebih penting dari itu. Pernikahan bukanlah sekadar pesta. Pernikahan itu penyatuan dua manusia. Baik pola pikirnya, impian, ambisi, dan kehidupan yang akan mereka bawa setelah menikah. 

Bisa dibilang, kehidupan mereka bahagia, Lily bekerja sebagai seorang programer, dan Linus, yang memiliki prestasi cemerlang dalam pekerjaannya di bidang industri lokomotif. Kehidupan awal pernikahan mereka pun menyenangkan. Mereka sering bepergian ke tempat-tempat baru, menonton sepak bola kegemaran Linus, dan banyak yang mereka lalui berdua. Namun, ada satu titik di mana keegoisan keduanya bersinggungan. Ada prinsip yang tidak bisa ditolerir oleh keduanya. Dan pada titik inilah awal mula menuju kehancuran yang lebih besar dari hubungan pernikahan mereka.

Lily hamil. Dan kehamilan itu tidak diinginkan oleh Linus. Linus tidak mau memiliki anak dulu sebelum dia merasa sanggup untuk menstabilkan perekonomian keluarganya. Namun, naluri menjadi seorang ibu tidak bisa begitu saja diindahkan oleh Lily. Lily menyabotase program penundaan kehamilannya, dan inilah yang membuat Linus murka. Semua orang yang mendengar kabar ini merasa bahagia, kecuali Linus, sang ayah dari jabang bayi yang dikandung Lily.

Tidak hanya sampai di situ saja, bahkan ketika lahir pun, Linus masih membekukan hatinya, tidak menerima kehadiran Leyna, anak perempuan mereka. Linus hanya memenuhi kebutuhan finansial Lily dan Leyna belaka, kebutuhan emosional mereka sama sekali tidak mendapat perhatiannya. Sampai suatu ketika, anak mereka itu tidak berumur panjang. Leyna yang masih bayi meninggal dunia.

Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan Lily di sini. Karena, di setiap tempat dan setiap saat, Lily selalu teringat dengan anaknya, dan perlakuan dingin suaminya sendiri. Akhirnya, Lily kembali ke Indonesia, kembali pada orangtuanya. Di Indonesia, tekanan demi tekanan pun masih saja menghampiri, mengingat orangtua mereka bersahabat. Tidak ada yang menginginkan mereka berpisah. Tidak ada yang mengamini perceraian. Namun, bukankah hidup harus tetap berjalan? Lantas, bagaimana dengan nasib bahtera pernikahan mereka yang sebentar lagi karam? Sanggupkah Lily memaafkan Linus atas perlakuannya dulu? Atau apakah Linus mampu mengambil hati Lily kembali untuk menerima permohonan maaf dan penyesalannya itu?

***

"Banyak orang tidak tahu kalau menikah itu tidak melulu tentang kebahagiaan. Bukan berarti karena suami dan istri saling mencintai, merasa sudah sangat kenal satu sama lain, lalu pernikahan kalian akan lancar tanpa hambatan. Tanpa kesulitan." ---halaman 20

Membaca novel-novel seputar pernikahan itu rasanya..., bittersweet. Manis tapi getir, getir tetapi manis, apalagi bagi yang belum menikah seperti saya. Banyak orang yang mendorong untuk segera menikah, menceritakan betapa indahnya dunia setelah pernikahan. Mengayuh perahu berdua, lebih baik daripada sendirian. Ya, banyak hal. Hanya saja, terkadang euforia mengusung kampanye indahnya pernikahan tersebut lupa untuk dibarengi dengan sekelumit kisah tentang banyak hal yang bisa menggoyangkan pernikahan. Dan dalam hal ini, tak hanya ketidaksetiaan yang bisa membombardir perahu bernama pernikahan yang sedang berlayar tersebut. #nisasudahikutanseminarpranikah #yha

Bisa dibilang, saya mengalami blending yang cukup parah saat membaca ini. Dalam artian bagus, tentu saja, karena berarti penulis mampu menyampaikan maksud dan emosinya yang diterima dengan baik oleh pembaca. Hahaha, mungkin faktor umur, dan juga konflik yang didera oleh tokohnya begitu relate dengan kehidupan nyata.

Ada yang bilang, orang yang bisa melukaimu begitu dalam adalah justru orang yang mencintaimu begitu dalam pula. Membaca novel ini, membuat saya banyak berpikir. Berpikir dalam artian bagus lho ya, karena menambah pengalaman emosional dalam mengelola suatu konflik. Penulis membawa karakternya begitu real. Emosi dan konflik batin yang terangkai benar-benar seolah nyata. Jadinya, cerita ini benar-benar mengalir. Saya benar-benar merasakan bagaimana kesal dan murkanya Lily pada Linus. Namun, di lain sisi saya juga bisa membaca isi kepala Linus saat menghadapi masalah dari sudut pandangnya. Perkembangan karakter dalam novel ini berjalan beriringan dengan sebab-akibat yang pada akhirnya membuat pembaca paham dengan sikap mereka.

Untuk alurnya sendiri, disampaikan dengan pola maju-mundur, namun tidak membingungkan. Seperti sedang mengupas bawang, lapisan demi lapisannya memberikan pemahaman secara utuh. 

Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini! Apalagi penulis menyampaikan background pekerjaan tokohnya dengan baik pula sehingga tampak nyata. Dan yang saya suka adalah..., ketika penulis mengandaikan kondisi rumah tangga tokohnya dengan hukum-hukum fisika.

Sekarang dia bisa membuat benda, yang besarnya berkali-kali lipat dari sebuah rumah, mengapung di air. Tapi sayang sekali, prinsip Archimedes yang bisa dimanfaatkan untuk membuat kapal mengapung, tidak berlaku untuk biduk rumah tangganya yang hampir karam. ---halaman 122

Atau, contoh lain yang ini (bisa jadi bahan analogi buat ngajar), tentang hukum ketiga Newton:

Untuk membuat sebuah perahu maju, kita harus mendayung ke belakang. Semakin kuat mendayung, semakin cepat perahu laju. Saat naik ayunan, kita mendorong ayunan ke belakang untuk mengayun ke depan. Semakin tinggi mendorong ayunan ke belakang, semkin tinggi mengayun ke depan. ---halaman 146.

Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini, meskipun di awal sempat terjadi kebingungan dengan banyaknya tokoh sampingan di dalam ceritanya. (Bayangkan saja, kakak Lily ada dua, kakak Linus satu. Mereka muncul dengan pasangannya.) Terlepas dari itu, saya masih menyematkan novel ini dengan bintang empat yang artinya: bagus sekali. 

Kalau kalian mengira novel ini serius banget, nyatanya tidak. Saya bahkan ketawa ngakak waktu membaca obrolan Lily dengan Nina, temannya, tentang "bobok-bobok lucu". Astaga =))

***

It's Giveaway Time!!!



Saya dan Kak Ika Vihara akan memberikan satu buah novel When Love is Not Enough pada kalian yang beruntung. Namun, jika saya seringnya mengadakan giveaway di blog, kali ini saya mengadakannya di Instagram. Jadi, kalau kalian belum punya Instagram, buat dulu ya. Dan kalau belum follow saya, silakan follow di: @niesya_bilqis

Apa saja ketentuannya, simak baik-baik:

  1. Memiliki alamat pos di Indonesia.
  2. Follow akun twitter twitter @IkaVihara @elexmedia & @niesya_bilqis
  3. Follow akun instagram @IkaVihara @elexmedia & @niesya_bilqis
  4. Berikan komentar pada postingan saya di Instagram (di sini), dengan melanjutkan kalimat ini. "Pernikahan adalah ..." 
  5. Jawaban hanya satu kalimat saja. Disertai dengan mention @IkaVihara dan dua orang temanmu. Diusahakan untuk tidak memention akun yang sama dengan yang sudah dimention peserta lain ya. Dan jangan memention yang sudah ikutan jawab.
  6. Giveaway berlangsung selama 25-31 Januari 2017 dan pengumuman pemenang satu hari setelahnya di Instagram, juga akan saya umumkan di Twitter dan di blog ini.
  7. Apabila ada yang kurang jelas, jangan sungkan untuk mention saya di Twitter! :D


Bagaimana, syaratnya mudah sekali, bukan? Buruan ajak teman-temanmu untuk ikutan giveaway ini.

Semoga beruntung! :)

A Copy of My Mind

Judul : A Copy of My Mind
Penulis : Dewi Kharisma Michellia 
Penerbit : PT Grasindo
Tebal Buku : 199 Halaman
ISBN : 9786023754014
Edisi Pertama, April 2016
Rating : 4 dari 5




"Kamu percaya enggak kalau takdir pertemuan itu memang seperti itu sifatnya?"
"Seperti bagaimana?"
"Kita diminta mengumpulkan banyak-banyak pengalaman hidup, untuk jadi prasyarat bertemu dengan orang-orang paling penting di hidup kita." ---halaman 114


Blurb:


Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.

Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.

Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.

***

Di dunia ini, ada orang yang berambisi banyak hal tentang kehidupan: hidup sejahtera, memiliki banyak investasi, karier menanjak, dan masih banyak lagi. Namun Sari, ambisinya hanya sebatas memiliki home theatre, demi bisa memuaskan satu-satunya passion dalam hidupnya: menonton film. Lebih spesifik lagi: menonton DVD bajakan.

Sari adalah perwakilan dari realitas masyarakat metropolitan yang jarang disinggung dalam cerita-cerita fiksi populer; pekerja dari kelas bawah, seorang pegawai salon. Separuh gajinya ia gunakan untuk mengirim orangtuanya di desa sementara sisanya untuk bertahan hidup di kerasnya ibukota. Satu-satunya hiburan bagi Sari adalah menonton DVD bajakan yang satu kepingnya dihargai lima ribu rupiah. Jika Sari membeli DVD bajakan, maka ia harus rela merapel jatah makannya yang hanya sebungkus mi instan.


Hidup yang tidak disyukuri adalah hidup yang tidak dihidupi. ---halaman 38

Belakangan ini, DVD yang Sari beli subtitle-nya tidak sinkron. Jelas ini membuat Sari kesal. Saat ia memprotes hal ini ke pemilik lapak, ia bertemu dengan Alek, lelaki yang pekerjaannya membuat subtitle DVD bajakan itu. Sari memiliki kebiasaan mencuri DVD bajakan sebagai "bayaran" atas ketidakpuasan atau kekesalannya terhadap sesuatu. Ini rupanya tertangkap oleh penglihatan Alek, Sari dan Alek terlibat perdebatan di lorong tempat itu. Alek, yang rupanya merasa bersalah karena hasil pekerjaannya kurang memuaskan, mengajak Sari untuk ke kosnya karena di sana banyak sekali film yang bisa dipinjamnya. Sari enggan. Namun, karena dapat ancaman akan dilaporkan atas tindakan pencurian itu, akhirnya Sari mau.

Alek adalah seorang pemuda yang merantau ke Jakarta dan bekerja dengan teman baiknya, Leo. Karena Leo menikah dan memutuskan untuk tinggal bersama istrinya, maka ibunya dititipkan kepada Alek, dengan kompensasi ia bisa tinggal gratis di rumahnya dan terjamin hidupnya. Leo juga memberikan link agar Alek bisa mendapatkan pekerjaan. Alek memiliki masa lalu percintaan yang kelam yang membuatnya tidak percaya dengan cinta. Alek hidup dengan sesukanya, tidak percaya agama, tidak memiliki identitas warga negara. Alek pun memiliki hobi taruhan balapan motor liar. Hidupnya bebas, tanpa ada yang melarang.


Kenapa manusia mencari rasa aman? Padahal, mereka bisa saja meninggalkan semua hal, berkelana tanpa identitas. Mungkin hidup seperti itu lebih layak dihidupi. ---halaman 65

Sari tinggal di kos-kosan yang berpenghuni seratus orang. Suatu hari, kos-kosan itu akan direnovasi sehingga seluruh penghuninya diminta untuk meninggalkan tempat itu sementara waktu selama dua minggu. Karena jenuh dengan pekerjaannya di Salon Yelo, Sari mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan di sebuah salon mewah tak jauh dari tempat kerja sebelumnya.  Pak Bandi, sang pemilik mengatakan bahwa Sari harus menjalani training selama dua sampai tiga minggu sebelum ia benar-benar diperbolehkan memegang klien. Karena, di tempat baru ini segalanya serba mutakhir. Sari dikenalkan dengan alat-alat canggih yang tidak didapatnya di salon lama.

Sementara itu, hubungan Sari kian lama semakin dekat. Sari mengeluhkan pekerjaannya yang membosankan pada Alek. Dan himbauan untuk pindah kos sementara waktu dijawabnya dengan menginap di tempat Alek. Begitulah hubungan terjalin di antara keduanya. 

Karena merasa kebosanan dalam masa training-nya, Sari mengadukan keluhannya itu pada Pak Bandi yang dijawab dengan sebuah tawaran untuk menjadi petugas facial bagi seorang tahanan kelas eksklusif di rutan. Bu Mirna adalah seorang narapidana korupsi yang pekerjaannya sebagai makelar undang-undang. Tragedi terjadi saat Sari mencuri sebuah kepingan DVD dari sel Bu Mirna, yang isinya ternyata adalah barang bukti rekaman kejahatannya.


***

A Copy of My Mind adalah buah karya sutradara Joko Anwar yang dinovelisasi oleh Dewi Kharisma Michellia. Sebuah cerita dengan plot yang luar biasa: memotret kehidupan kaum urban level bawah dengan segala hiruk-pikuknya dalam bertahan di ganasnya kota metropolitan. Apalagi, yang menjadi bidikan temanya adalah tentang DVD bajakan. Betapa mirisnya, karena kemungkinan besar film ini pun akan bernasib sama di tangan para pengusaha lapak bajakan itu. Menurut saya, ini adalah ide yang cerdas. Menyinggung dan menyasar tepat pada sasaran.

Sebagai tangan yang bekerja untuk pembuatan novelnya, Dewi Kharisma Michellia mengemasnya dengan sangat apik. Jujur saja, menurut saya filmnya membosankan, saya berhenti menonton di tengah jalan (dan sebagai kaum yang agak sedikit idealis, maafkan saya karena menontonnya di yuchub karena memang filmnya sudah tidak lagi ada di pasaran *merasa ikutan kesindir oleh ide yang diangkat*). Ada banyak plot hole yang tidak terjelaskan atau tidak tersuarakan dari filmnya. Dan rupanya, kekosongan "suara" dan "cerita" itu benar-benar diisi dengan baik sekali di novelnya. Sebab-akibat yang menjadi jalan cerita sangat diperhatikan dengan detail. Suara-suara yang tidak tersuarakan oleh gesture pemain, diungkapkan dengan bahasa yang tepat pada maksdunya.

Ini adalah novel kedua dari penulis yang saya baca (dan ternyata memang novel keduanya) setelah sebelumnya menikmati Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya yang merupakan pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012. Salut dengan kepiawaian penulis meramu jalan cerita, mengemasnya dalam balutan diksi dan pemilihan kalimat yang luar biasa. Pembaca dapat merasakan langsung kehidupan dalam novel ini seolah itu disajikan dan dirasakan sendiri di depan mata. Sebagai seseorang yang pernah tiga minggu berada di Jakarta (jangka waktu yang sangat pendek memang, tapi cukup menggambarkan situasi dan kondisi di sana karena memang saya di sana tidak dalam rangka vakansi), gambaran realita yang dipaparkan sungguh mengingatkan saya akan momen berada di kota itu. Sebuah kisah kehidupan yang sayangnya jarang diangkat sebagai tema dalam novel populer.

Dari segi tokohnya, Alek misalnya, adalah gambaran real keadaan masyarakat kebanyakan. Kita tidak bisa tutup mata, bahwa di sekitar kita banyak tipikal manusia yang memilih "kebebasan" sebagai jalan hidup mereka. Alek bukan orang yang tidak berpendidikan, ia bahkan mampu menangkap fenomena kehidupan di sekitarnya untuk dijadikan bahan tertawaan. Pemikirannya juga dalam, tentang pemaknaan hidup dari sisinya. Lalu dengan Sari, yang memiliki optimisme hidup sekadar memenuhi impian dan cita-citanya yang berhubungan dengan hobi menonton film, Alek menemukan sosok seorang wanita yang selama ini tidak pernah masuk ke dalam kehidupannya.

Sari adalah tipikal gadis lugu berpendidikan rendah yang hidup merantau di kota. Namun semenjak pertemuannya dengan Alex, ia pun mendapatkan sosok yang bisa dibaginya dalam hal mengeluhkan beban hidupnya yang kian menghimpit.


"Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir. Kamu akan tertawa terakhir kalau kau terawa terus. Jadi, kita memang harus tertawa, dan sering-sering tertawa, biar kita menang atas hidup." ---halaman 115

Saya mengacungkan jempol terhadap ide cerita ini. Memaparkan realitas tentang jurang pemisahan yang begitu besar antara si miskin (diwakili Sari) dan si kaya (Bu Mirna), tentang ketiadaan mimpi karena sarana untuk meraih mimpinya yang tidak terpenuhi, tentang bagaimana mengangkat cerita dari kacamanta orang lain yang memiliki pandangan hidup berbeda dengan kita (atau saya).

Terlepas dari apakah kita memilih untuk mengamini jalan pikiran penulisnya, saya rasa novel ini layak untuk dijadikan bahan perenungan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang mengikut di belakangnya. Ketika kau memilih untuk tidak percaya terhadap identitas, kau akan menanggung sendiri risikonya. Pun begitu juga ketika kau mengambil jalan untuk tidak percaya pada Tuhan. Bukan ranah manusia untuk memberikan penghakiman. Namun, sebuah kisah tentu akan menuai banyak sekali pelajaran.

Satu hal yang menjadi kekurangan dari novel ini adalah tidak adanya penanda bahwa novel ini adalah novel dewasa. Ada adegan dewasa yang dideskripsikan dalam ceritanya. Seharusnya, pihak penerbit memberikan warning agar tidak semua kalangan usia bisa membacanya. Meskipun, justru biasanya kalau sudah diperingatkan begini bikin orang penasaran, tapi setidaknya dengan memberikan label "novel dewasa", pihak penerbitan sudah turut andil dalam memberikan peringatan kepada calon pembacanya. Katakanlah saya terlalu saklek dalam hal beginian =)) tapi ini saya rasa perlu. Terlepas dari apakah efektif atau tidak dengan adanya peringatan tersebut, setidaknya dengan memebrikan peringatan, pihak penerbit sudah "terbebas" dari tanggung jawab moral terhadap isinya.

Terakhir. Saya harus mengapresiasi dan mengangkat topi dengan kemampuan penulis dalam mendeskripsikan adegan-adegan tertentu sehingga membuat novel ini layak baca tanpa mengurangi maksud dari scene yang sedang disampaikan.

Ini benar-benar terakhir deh =)) Agak sedikit protes boleh ya. Kenapa cover depannya gambar Chico Jericho ya? Padahal versi Tara Basro yang ada di back cover lebih cakep menurut saya =))



Baca via SCOOP.


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)