Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Persona

Judul : Persona
Penulis : Fakhrisina Amalia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
ISBN : 9786020326290
Rating : 4 dari 5 


Blurb:


Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.


Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara. 


***

Kita tidak bisa mengatakan kita berteman dengan seseorang karena kita menganggap orang itu teman. Karena... bisa jadi orang itu tidak menganggap demikian, atau bahkan malah tidak mau berteman. --- Halaman 19

***


Azura adalah seorang gadis SMA yang penyendiri. Bisa dibilang, Azura adalah gadis yang tidak mempunyai teman. Keluarganya berantakan, ayah dan ibunya tidak lagi memberikan kehangatan yang sebagaimana mestinya sebuah keluarga normal. Namun, suatu hari, kehadran seorang anak lelaki keturunan Jepang di sekolahnya membuat segalanya berjalan dengan lebih baik. Namanya Altair Nakayama, namun Azura senang memanggilnya dengan Ata.

Di sisi lain, Azura menyimpan rasa suka pada kakak kelasnya, Kak Nara, yang pernah menolongnya sekali saat Azura masuk ke dalam lubang. Azura senang mengamati Kak Nara dari jauh, diam-diam mengamatinya sedang bermain sepak bola. Tapi, tidak ada keberanian dalam diri Azura untuk sekadar menegurnya.

Kehidupan Azura yang suram menjadi berwarna semenjak Ata hadir dalam kehidupannya. Perlahan Azura bisa melupakan perasaannya dengan Kak Nara. Ata, selalu ada untuknya bahkan di saat-saat yang tidak biasa. Dengan Altair, Azura merasa dicintai dan begitu berharga, di tengah konflik yang mendera keluarganya dan lingkungan yang ia rasa tidak menerimanya.

Namun tiba-tiba saja, Altair menghilang. Azura merasa seperti kehilangan arah. Untuk beberapa waktu lamanya, ia merasa patah hati. Tapi hidup harus terus berjalan. Azura masuk ke dalam dunia perkuliahan, dan di sana dia menemukan seorang gadis yang mau menerimanya sebagai teman. Kak Nara, yang kuliah di kedokteran pun memberi warna tersendiri dalam kehidupan Azura yang baru.

Di saat segala sesuatunya mulai berjalan dengan normal, tiba-tiba Altair muncul lagi ke dalam kehidupannya. Ini tentu saja membuat Azura menjadi bimbang. Namun setelahnya, satu per satu rahasia kehidupan Azura mulai terkuak.

***

Mau cerita sedikit. Sebenarnya saya sangat penasaran dengan novel ini, karena review dan respon para book-blogger yang bagus sekali padanya. Berkali-kali ikutan giveaway, tapi nggak ada yang nyangkut juga, akhirnya saya memutuskan untuk menunggu saja buku ini sampai di Gramedia Samarinda (yang tentu saja, memakan waktu menunggu lebih lama). Mau beli online, tapi ongkos kirimnya amit-amit. Lalu saya menang sesuatu yang hadiahnya voucher buku, langsung saja saya pilih buku ini. Tapi karena dicampur buku lain juga dan lagi-lagi kendala ongkos kirimnya yang amit-amit itu tadi, akhirnya nggak jadi beli buku ini via online lagi. Berkali-kali saya ngecek Gramedia (yang nyaris tiap hari!) belum dapat juga. Akhirnya di suatu Sabtu, saya nemu juga dan nggak pakai pikir dua kali langsung beli.

Biasanya, kalau sudah begini, mau tidak mau saya akan menaikkan ekspektasi sehingga kalau ada yang tidak sreg sedikit saja, akan langsung membuat kecewa. Tapi kesan pertama saat membaca novel ini..., gaya penulisannya asyik, saya langsung suka. Dari segi plot, saya juga belum menemukan kekecewaan di sana. Untuk penokohannya sendiri, juga cukup kuat. Menarik.

Lalu saya menemukan satu dua spekulasi saat sudah sampai ke tengah cerita. Saya menyebut ini sebagai "remah roti" yang langsung bisa saya tangkap maksudnya. Jadi, saya tinggal menanti-nanti apakah spekulasi saya itu terbukti benar atau menjadi plot pengecoh. Dan ternyata, prediksi saya benar =)) #semacambangga hehehe.

Saya juga yakin, upaya penulis dalam melakukan riset seputar banyak hal yang menjadi plot utama di novel ini tidak main-main. Sampai saya jadi ikut-ikutan googling tentang makna "Persona" dan kaitannya dengan ilmu psikologi.

Satu hal yang saya suka, ketika penulis mengangkat kultur budaya lokal di dalam ceritanya. Pada mulanya, saya kira setting Palangka Raya yang dibawa oleh penulis tidak membawa pengaruh apa-apa dalam novel ini, kayak..., mau di Jakarta atau Palangka Raya, atau mana pun rasanya nggak ada bedanya. Tapi ternyata, saat penulis mengangkat tentang Festival Isen Mulang, kekhawatiran saya itu jelas tidak terbukti. Apalagi, saat penulis mengangkat isu asap pekat yang menimpa Kalimantan tahun kemarin. Wow, ini benar-benar tidak terprediksi. Penulis benar-benar jeli untuk mengangkat isu lokal dalam ceritanya! Sebagai warga Kalimantan yang turut merasakan dampaknya juga--meskipun tidak terlalu besar dampaknya seperti di Palangka Raya--rasanya ikut tergugah dan sedih-senang-sedih saat isu itu diangkat kembali. 

Good job. Ekspektasi saya tidak salah tempat. Dan sejauh ini, Persona adalah novel Young Adult favorit saya :) 




A Untuk Amanda

Judul : A Untuk Amanda
Penulis : Annisa Ihsani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 264 Halaman
ISBN : 9786020326313
Rating : 4 dari 5 



Kubayangkan diriku berada di pegunungan, tidak ambil pusing apa itu IGG, satu-satunya astronomi yang kutahu hanyalah memandangi langit malam dari atas bukit berumput, tidak ada polusi cahaya, hanya ada hidup yang sederhana, memerah susu sapi, dan menggembala domba... --- halaman 105

Blurb:

Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?

Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.

Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.


***


Gimana ya? Hahahaha. Sakit kepala baca novel ini. Sensasinya sama seperti saat nonton drama Korea It's Oke That's Love, yang memang sama-sama mengambil kisah seputar penyakit kejiwaan. 

Sebagai orang yang akhir-akhir ini mengalami masalah kejiwaan yang rada-rada mirip dengan Amanda--bedanya, kalau Amanda tidak mampu mengatasi permasalahan dirinya sendiri sampai butuh pihak ketiga untuk membantunya, saya rasa saya masih dapat berdiri tegar :p no, tidak ada curhat dalam review ini, no! Hahahaha--saya merasakan banyak sekali perasaan yang sama dengan apa yang dialami Amanda. (Trust me, bahkan saat membaca bagian Amanda yang kalau stress berlebihan rasanya pengin muntah itu..., refleks saya mual-mual juga #dzig.)

Entah apakah novel ini bagus untuk dibaca orang-orang yang merasa sedang banyak mengalami beban jiwa (atau justru dianjurkan, hm?), tapi membacanya membuat saya pusing sekaligus tercerahkan dalam waktu yang berdekatan.

Bercerita tentang Amanda yang kepintarannya melebihi rata-rata, well, kepintaran Amanda di sini tidak hanya sekadar apakah dia tahu rumus percobaan celah ganda yang dirumuskan: (dp/l) = nλ, tapi juga paham bahwa percobaan ini membuktikan tentang cahaya tidak hanya bisa bertindak sebagai gelombang namun juga partikel. Lalu, pada momen depresinya, bahkan dia bisa dipancing untuk mengetahui bagaimana sin 225 itu bukan 1. Dia adalah sin 180 derajat ditambah dengan 45 derajat yang berada di kuadran tiga (dan nilai sin di kuadran tiga itu adalah negatif!).

Sudah bisa mendapatkan gambaran tentang Amanda? Ya, dia adalah seorang yang pandai memahami sains semudah kita membaca novel. Amanda mengalami gejala depresi akut, bukan karena dia adalah korban broken home, korban bullying, atau hal-hal yang barangkali tebersit dalam benak kita tentang penyebab seseorang mengalami depresi. Amanda mengalami stress karena dia merasa dirinya adalah seorang penipu. Bahwa nilai yang selama ini dia dapat bukan benar-benar penilaian objektif yang pantas didapatnya melainkan karena dia hanya mengalami keberuntungan. Apabila suatu saat nanti keberuntungannya akan hilang, dia mengalami kekhawatiran bahwa orang-orang akan mengetahui bahwa dia selama ini menipu mereka.

Jika dibilang bahwa Amanda yang super-duper pintar ini tidak memiliki kehidupan remaja yang sarat dengan cinta-cintaan, kau salah. Amanda bahkan memiliki hubungan dengan Tommy, teman yang bersama dengan dirinya sejak kecil. Meskipun keluarganya tidak utuh karena sang ayah meninggal ketika ia berumur delapan tahun, percayalah, depresi yang ia alami tidak ada hubungannya dengan itu.

Salah apabila kita menilai bahwa masalah yang dialami orang lain--yang dari sudut pandang kita--seolah adalah masalah remeh, dan menganggap bahwa masalah yang dialami kita merupakan masalah besar. Setiap orang punya porsi masalah yang harus dihadapinya dengan sepenuh hati. Barangkali, orang akan berpikir skeptis dengan apa yang dihadapi oleh Amanda. Kecemasan saat mendapatkan nilai 93 (bayangkan, sembilan puluh tiga! Sementara orang lain, berupaya menyentuh KKM a.k.a. kriteria ketuntatasan minimum saja susah) setelah sebelumnya mendapat 98, mengerjakan tugas selama tiga jam, yang mana hanya dibutuhkan tiga puluh menit untuk dikerjakan orang lain, berjam-jam memeriksa tanda baca sebelum mengumpulkan esai dan menilai apakah kutipan yang digunakan memiliki korelasi atau tidak. [Ya Tuhan, apa saya punya sindrom perfeksionis yang akut juga saat saya memilih untuk menuliskan "korelasi" alih-alih "berhubungan" dan mencari sinonimnya saat menulis ini? Huahuahua.]

Kau tahu? Percaya atau tidak, saya benar-benar paham dan pernah berada dalam posisi seperti Amanda. Meskipun, dalam tingkatan yang berbeda. Bisa dibilang, saya mengetahui apa yang diperbincangkan Amanda di sini saat dia membahas sains atau matematika di sini (kecuali pemrograman komputer yang saya buta sama sekali), sehingga untuk mengenakan sepatu yang sama dengan Amanda, tidaklah susah. Ketakutannya, perfeksionisnya, pikiran-pikiran yang menari-nari dalam benaknya, kecemasan-kecemasan yang dirasakannya, bisa dibilang saya cukup mengerti dengan itu. Entahlah, apakah dengan berbagai macam kesamaan serta pengalaman mengalami depresi ini membuat saya lebih baik atau tidak selama maupun setelah membaca buku ini. Ahahaha, benar-benar deh, separuh buku ini bikin saya tambah sakit kepala bacanya xD. TAPI..., saat bertemu dengan Dokter Eli adalah saat-saat yang mengesankan. Seolah-olah, bukan hanya Amanda saja yang mengalami sesi psikoterapi, tapi saya juga. Hahahaha. Pengalaman yang menyenangkan bukan? Saya suka sekali bagian yang itu karena, toh pada akhirnya, pembaca akan becermin dan mengalami sensasi perang pemikiran yang sama dengan yang dialami Amanda.

Bagian lain yang mengejutkan adalah..., "Erwin S." Saya diam lama waktu tahu bahwa tidak hanya saya di dunia ini yang berpikir tentang nama Erwin S. di sini. (Saat ini kondisinya adalah, saya lagi buat naskah yang tokohnya namanya Erwin S., dan kau tahu? Betapa senang (dan awkward)-nya saya karena tidak hanya saya yang terpikir untuk mencomot nama Erwin Schrödinger di sini xD.

Lalu, hm, begini. Kalau dikatakan senang atau tidak senang dengan Amanda, skala satu sampai lima, kesukaan saya dengan Amanda ada di angka dua (dengan lima nilai maksimalnya). Tunggu. Apa menurutmu ini tidak bagus? Nah, jangan salah. Karena kenapa? Ketidaksukaan saya dengan satu karakter itu menandakan bahwa karakternya dikemas dengan baik. Di sini Amanda jujur, meskipun menyebalkan dan arogan. Oleh karenanya, berkebalikan dengan ketidaksukaan saya dengan karakter ini, membuat saya mengangkat topi dengan menjatuhkan angka empat untuk penulisnya. Jika kau bermain di komunitas role playing game, kau akan jauh lebih mengerti, bahwa untuk menyukai karakter atau membencinya, kau harus melepaskan diri dari siapa di belakang pencipta karakternya. Dan di sini, semakin menyebalkannya si Amanda, semakin bertambah nilai kesukaan saya pada siapa di balik keyboard kisah ini.

Lalu..., dengan memasukkan nilai-nilai sains, psikologi, dan banyak hal yang dituangkan penulisnya dalam kisah ini, mengapa tidak membuat saya memberikan bintang lima pada novel ini? Karena, ada beberapa konten yang dibahas di sini dan itu terlalu sensitif. Tentang agnostik dan feminisme itu?

Ehm, katakanlah saya kolot atau apa (atau picik?), atau arogan seperti yang dikatakan penulisnya melalui Amanda di sini:

Beberapa orang pernah menyebutku arogan karena memilih untuk menjadi agnostik dan sebagainya..., --- halaman 262

Percayalah, saya tidak berniat untuk arogan. Namun, melabeli Amanda dengan karakter yang agnostik menurut saya pribadi agak riskan. Bukan berarti saya menutup mata dengan realitas remaja sekarang yang masih banyak jauh dengan nilai-nilai spiritual. Amanda saya tahu dia mempunyai nilai spiritual yang dia sendiri mampu mengisinya dengan hal-hal seputar kehidupan yang dia jelaskan melalui pemahamannya terhadap alam kosmos, dunia makroskopis yang sensasinya pun saya mengalami sendiri. Memahami tentang ini memang seperti dua mata uang. Saya sendiri, setelah mempelajari alam makroskopis, justru berada di kutub yang berbeda dengan Amanda: saya menemukan kebesaran dan keMahakuasaan Tuhan dari sana. Tapi, tidak semua orang seperti Amanda, tidak semua remaja mampu menyelami kehidupan yang seperti itu. Dan di luar itu semua..., saya yakin dan memercayai bahwa manusia membutuhkan Tuhan dan sudah seharusnya menyadari itu karena kebutuhan spiritual semacam ini merupakan pertanyaan filosofis yang bukan hanya saat sekarang saja muncul, atau saat-saat di mana nabi dan rasul diutus ke muka bumi ini, melainkan jauh sebelum itu.

Karena menyadari bahwa ini adalah isu penting dan dekat dengan yang namanya perdebatan, maka saya hanya akan menyampaikan ini, sebuah tulisan yang langsung terpikir oleh saya saat membaca pengakuan Amanda di halaman-halaman awal tentang dirinya yang agnostik. Tulisannya ada di sini. Kalau tentang feminisme, saya rasa saya sendiri pun sebelum membaca novel ini sudah memiliki pergeseran makna tentang feminisme yang mulanya saya mengira seperti apa namun ternyata isu yang diusung meleset jauh dengan doktrinasi awal itu. Dan menurut saya, yang dikemukakan Amanda di sini cukup relevan, selain karena kalau saya ikutan bahas di sini akan memakan waktu yang lama dan panjang juga (dan jangan-jangan malas juga yang baca karena kepanjangan, hehehe).

Jadi, untuk pengalaman yang mengerikan sekaligus menyenangkan ini, terlebih untuk Dokter Eli yang hadir sebagai problem solver (atau lebih tepatnya orang yang mengarahkan jalan bahwa penyelesai masalah dalam diri kita yang sebenarnya adalah diri kita sendiri), untuk pertanyaan-pertanyaannya seperti di bawah ini:

"Kau cemas semua orang akan tahu siapa kau sebenarnya. Andaikan itu terjadi, apa yang akan terjadi?" --- halaman 154

"Misalnya orang-orang memandang rendah padamu, kenapa kau harus membiarkan apa yang mereka pikirkan memengaruhi kebahagiaanmu?" --- halaman 155

Saya memberikan bintang empat untuk Amanda dan Annisa (penulisnya, yang namanya sama dengan nama saya #semacampentinguntukdituliskan).


Bulan Nararya


Judul : Bulan Nararya
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tebal Buku : 256 Halaman


ISBN : 9786021614334
Rating : 4 dari 5



Buku apik sarat akan kajian psikologi, membahas tentang kejiwaan, skizofrenia, dan hal-hal yang dekat dengan profesi psikolog.

Awalnya baca buku ini karena tertarik dengan hal-hal berbau psikologi, terus ngintip rating sama review-an di goodreads, eh ternyata beli. Dan ceritanya? Menarik sekali. Gaya penulisan enak, mengalir, twistnya dapat. Terlebih lagi, setelah baca novel ini, jadi memperkaya ilmu tentang dunia psikologi.


Nararya atau Rara, seorang terapis di salah satu tempat terapi kejiwaan di Surabaya. Di tempatnya bekerja, ada tiga orang klien yang cukup dekat dengannya. Yang pertama Yudhistira, penderita skizofrenia. Hidupnya sejak kecil penuh dengan tekanan. Selalu mendapat intervensi dari keluarga besar,

Lalu ada Pak Bulan, seorang klien yang terkesan misterius, namun kata-katanya terkadang menyentuh hati Rara tanpa disengaja.

Ada pula anak kecil, bernama Sania. Kehidupan sebelum diselamatkan begitu mengenaskan, mengalami trauma. Selain itu, anak kecil ini sedang mengalami masa pubertasnya. Bagaimana dia bisa melalui semua itu, juga menyembuhkan penyakit yang dideritanya.

Selain menangani kliennya, Rara memiliki permasalahan hidup yang bisa dibilang pelik. Berpisah dari suaminya, dan ternyata, suaminya kemudian menikah dengan temannya sendiri. Rara pun mengalami halusinasi yang masih menjadi misteri. Hal-hal berkaitan dengan halusinasinya itu cukup mengganggu pikirannya, seolah dirinya dibenturkan dengan pergulatan batin yang dialami sendiri, sementara dia pun harus menangai pasiennya. Terutama Yudhistira, yang seolah mendapatkan perlakuan spesial darinya, karena Rara bermaksud menyembuhkan pria itu dengan metode yang termasuk baru dan tidak seperti yang diterapkan di kliniknya saat itu.


Find Me



Judul : Find Me
Penulis : Rosie O'Donnell
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9780446690300
Rating : 4 dari 5 
 (Biography, Inspiration) A book by an author you've never read before (Challenge bulan Agustus)  "Bahwa cinta saja tidak cukup, tetapi jika cinta diberikan dan diterima dengan anggun, bermartabat, dan penuh hormat, apa pun menjadi mungkin." [Hal 142]


Bukunya cukup tipis, awalnya sempat mengira bisa selesai sehari tapi ternyata molor beberapa hari.

Rosie O'Donnel, seorang pembawa acara talkshow terkenal menceritakan kisah lewat sudut pandangnya. Ro, memiliki sifat yang pemurah dan senang membantu kesulitan orang lain. Di sela kesibukannya yang padat sebagai public figure, Ro senang menghubungkan orang-orang dan membantu mereka seperti misalnya dalam hal adopsi anak--karena dalam kehidupannya pun dia sempat mengalami hal yang serupa.

Jadi suatu hari, dia menerima telepon dari seorang gadis berusia 14 tahun yang menceritakan bahwa dirinya hamil di luar nikah, diperkosa oleh seorang pendeta, dan meminta bantuan supaya anaknya diadopsi. Rosie yang begitu terenyuh dengan keadaan sang gadis menawarkan banyak sekali bantuan untuk meringankan bebannya.

Menolong gadis ini, membuat Rosie kemudian mengingat sendiri bagaimana kehidupan masa remajanya; ditinggal ibunya saat masih kecil karena kanker, bagaimana dia bisa menjalani hari-hari jelang kedewasaannya itu tanpa ibunya yang mencintai dan mengasihi. Akhirnya, dia membandingkan kehidupannya itu sendiri dan gadis yang malang itu yang selalu diteleponnya.

Rosie menjadi terobsesi dengan gadis itu, sehingga dia mengirimkan banyak hadiah untuk menghiburnya. Orang-orang di sekitar Rosie mulai khawatir dengan hal ini, dan menyampaikan kecurigaan mereka kepada gadis yang belum pernah ditemuinya itu. Apakah gadis itu nyata? Ataukah hanya seseorang yang mau menipunya atas dasar kemurahhatian Rosie yang disalahgunakan. Akhirnya Rosie mengikuti pula nasihat orang-orang di sekitarnya untuk mulai menyelidiki gadis itu, dan ternyata mendapati bahwa keberadaan gadis itu hanyalah ilusi belaka. Stacie, ibunya, dan ayahnya itu tidak nyata, hanya karangan seorang yang mengidap kelainan jiwa.

Melissa mengidap gangguan memiliki kepribadian ganda akibat trauma masa kecilnya yang menyeramkan. Dia menghidupkan banyak karakter yang ada di dalam dirinya, berganti-ganti setiap saat. Mengetahui hal ini, Rosie lantas terhubung dengan psikiater Melissa yang menjelaskan semua keadaannya. Rosie tetap berniat untuk membantu menolong wanita itu--ini juga dikarenakan dirinya memiliki semacam kesamaan perasaan dengan wanita itu. Rosie yang seorang public figure, merasa menggunakan topeng dan tidak menjadi dirinya sendiri di luar panggung.

Akhirnya mereka bertiga, Rosie, Melissa, serta psikiaternya bertemu. Dan akhirnya mereka berdua, sedang berusaha saling membantu dan mendukung untuk menyembuhkan luka masa lalu diri mereka sendiri.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)