Showing posts with label novel pembangun jiwa. Show all posts
Showing posts with label novel pembangun jiwa. Show all posts

Satu Hari Bersamamu

Judul : Satu Hari Bersamamu---For One More Day
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Kelima, September 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, September 2006) 
ISBN : 9786020333403
Rating : 4 dari 5




Hitunglah jam-jam yang seharusnya bisa kauhabiskan bersama ibumu. Rentangnya sepanjang masa hidup itu sendiri. ---halaman 184

***

Blurb:

"For One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu, dan pertanyaan berikut ini: Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kausayangi, yang telah tiada? 

Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi “anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya”. Maka dia memilih ayahnya, memujanya––namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya, seorang diri, meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh. 

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal. Dia justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya––yang meninggal delapan tahun silam––masih tinggal di sana, dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa."

***

Charley "Chick" Benetto merasa gagal dalam hidupnya. Ia mengalami kehidupan yang kacau-balau sejak kematian ibunya. Lalu, setahun setelahnya, ia melakukan hal bodoh yang menyebabkan dirinya harus menanggung kerugian finansial. Ia meninggalkan istri dan anaknya--atau sesungguhnya merekalah yang meninggalkannya. Hidupnya kacau balau. Hingga suatu saat, anak perempuan yang begitu dicintainya memberikan sebuah kabar, tentang pernikahannya. Dan tidak ada yang memberitahu Charley tentang itu. Bahkan, di dalam foto pernikahan itu tidak ada potret dirinya. Charley menganggap bahwa ia telah gagal menjadi seorang ayah, dan telah dibuang dari kehidupan anaknya.

Charley memutuskan untuk bunuh diri. Ia memacu kendaraannya begitu cepat, dengan maksud menabrakkan diri pada pagar pembatas. Namun, dari arah yang berlawanan, ada sebuah truk melintas. Tabrakan terjadi. Saat Charley membuka mata, ia terbaring di rerumputan. Mobilnya hancur, tapi ia tetap hidup. Ia berjalan tak tentu arah. Ia memanjat ke menara air, lalu kembali menuntaskan misinya untuk bunuh diri. Charley mendorong tubuhnya ke depan.

Saat kembali membuka mata, ia menemukan sosok ibunya di sana. Ibunya, yang meninggal bertahun-tahun yang lalu.

Semua itu tidak dapat dipahami oleh Charley. Bagaimana ia bisa kembali selamat dalam rentetan peristiwa yang baru saja terjadi itu? Bagaimana ia bisa melihat dan merasakan sosok ibunya di dekatnya? Bahkan, tubuh sang ibu benar-benar solid. Itu bukan sosok hantu. Lalu Ibu, mengajaknya ke sebuah perjalanan, perjalanan demi perjalanan yang melempar ingatan Charley ke masa silam, tentang banyak hal yang terjadi pada dirinya dan ibunya.

Tentang ia yang mendapatkan simpati dari orang-orang karena perceraian keluarganya, tentang Posey, ibunya, yang justru mendapat perlakuan sangat berbeda karena dianggap ancaman bagi para ibu-ibu yang takut suaminya akan bermain mata pada janda muda itu.

Tentang Charley yang sedari dulu memutuskan untuk menjadi "anak papa", dan harus pindah haluan menjadi "anak mama" semenjak ayahnya pergi dari keluarga mereka tanpa penjelasan apa pun. Tentang Charley yang menyimpan amarah pada ibunya karena membiarkan ayah mereka pergi.

Kau bisa jadi anak mama atau anak papa. Tapi tidak keduanya. ---halaman 31

Tentang Posey yang harus melakukan apa pun demi membesarkan anak-anaknya, bahkan saat ia mengalami hal-hal buruk tentang statusnya, dan kenyataan bahwa dirinya masih tetap cantik bahkan di usianya yang tak lagi muda.

Tentang Charley yang bahkan masih menjadi "anak papa", bahkan setelah apa yang dilakukan ayah mereka selama ini. Bahkan, setelah pengorbanan ibunya yang begitu besar, demi membesarkannya dan membuatnya tumbuh menjadi seseorang.

Tentang makna keluarga, dan kasih sayang melimpah dari seorang ibu pada anaknya, bahkan ketika sang anak tidak pernah menyadarinya, dan baru menyesali kejadian demi kejadian setelah ibu mereka tiada.

Pernahkah kau kehilangan seseorang yang kausayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau menganggap mereka akan selalu ada selamanya? Jika pernah, maka kau pasti tahu bahwa seberapa banyak pun kau mengumpulkan hari-hari sepanjang hidupmu, semuanya takkan cukup untuk menggantikan satu hari itu, satu hari yang ingin sekali bisa kaumiliki lagi. ---halaman 7

***

Jadi, sekarang kau tahu ada orang yang sangat menginginkanmu, Charley. Anak-anak terkadang melupakan itu. Mereka melihat diri sendiri sebagai beban dan bukan sebagai jawaban doa. ---halaman 92

Bagi saya, buku-buku Mitch Albom adalah nasihat, dan Satu Hari Bersamamu ini, adalah sebuah nasihat tentang kehidupan, tentang keluarga, hubungan anak dan orangtua. Sebuah pembelajaran berharga tentang memaknai kehidupan, seberapa pun sulitnya sebuah kisah terjalin.

Kisah ini begitu memilukan sekaligus hangat. Kau bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu mendalam, bahkan rela melakukan apa pun demi kebahagiaan anaknya. Tidak mau membuka aib yang terjadi dalam keluarga mereka, meskipun itu mengakibatkan persepsi seorang anak menjadi berbeda apabila mereka tahu yang terjadi sebenarnya. Tegar saat mendapatkan cemoohan maupun perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. Bahkan, rela melakukan apa pun demi kebahagiaan anak mereka.

"Anak-anak merasa malu karena orangtuanya." ---halaman 110

Bagian yang paling membuat saya terharu adalah ketika Posey membelikan alat cukur dan mengajarkan Chick bercukur--pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah pada anak lelakinya. Lalu, saat Chick tahu bahwa setiap Sabtu, ibunya melakukan pekerjaan yang tidak pernah diduga Chick sebelumnya. Saya nyaris menangis sewaktu membaca itu.

Namun, "Saat-Saat Ketika Ibu Membelaku" dan "Saat-Saat Ketika Aku Tidak Membela Ibu" berhasil menampar-nampar pembacanya, dan membuat saya merenung..., sudah cukupkah saya membela Ibu di saat-saat ia membutuhkan sebuah pembelaan atau bahkan sekadar mengharapkan anak-anaknya memperlihatkan wujud kasih sayang mereka kepadanya?

Bagus sekali kau bisa melewati satu hari dengan ibumu. anak-anak harusnya lebih sering melakukan itu. ---halaman 101

Buku ini indah, hangat, dan menampar naluri terdalam tentang bagaimana seharusnya kita memberikan arti dan makna terhadap keluarga.

Tetap tinggal bersama keluargamu adalah apa yang menjadikannya keluarga. ---halaman 228


Meniti Bianglala

Judul : Meniti Bianglala---The Five People You Meet in Heaven
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 208 Halaman
ISBN : 9786020333397
Cetakan kedelapan, September 2016
Rating : 5 dari 5






"Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian." ---halaman 55


Blurb:

Eddie bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, dan Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.

Pada ulang tahunnya yang ke-83, Eddie tewas dalam kecelakaan tragis ketika mencoba menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Saat menghembuskan napas terakhir, terasa olehnya sepasang tangan kecil menggenggam tangannya. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata Surga bukanlah Taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau bahkan orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita selamanya, tanpa kita sadari.

***

Eddie meninggal dunia saat sedang menjalankan tugasnya sebagai kepala maintenance di Ruby Pier. Saat itu sama seperti hari-hari lainnya. Eddie sudah melaksanakan rutinitasnya dengan baik. Namun sesuatu terjadi, sehingga membuat salah satu wahana di tempat itu rusak dan kecelakaan terjadi. Saat dia mencoba untuk menyelamatkan seorang gadis cilik itulah dia kehilangan nyawanya.

Penyebab kematian Eddie tidak disampaikan secara langsung, melainkan dalam bentuk potongan-potongan cerita yang menemani kita membaca kisah ini. Juga ditemani dengan penggalan-penggalan kisah berkesan yang terjadi di ulang tahun Eddie.


Setelah meninggal dunia, bayangan tentang surga berubah seketika karena yang ditemui Eddie adalah bianglala, tempatnya bekerja selama puluhan tahun itu. Di sana, ia bertemu dengan Lelaki Biru, dengan ceritanya yang memilukan. Si Lelaki Biru juga menceritakan sesuatu kepada Eddie. Bahwa sebelum ia bisa melanjutkan perjalanan, ia akan bertemu dengan lima orang yang berpengaruh dalam hidupnya, yang akan mengubah pandangannya terhadap arti kehidupan yang sudah dilaluinya.


Lalu, siapakah Orang Biru yang adalah orang pertama dari lima orang yang akan ditemuinya dan apa hubungannya pria aneh itu dalam kehidupan Eddie?


Pertemuan keduanya adalah dengan sang Kapten, di mana pada masa muda Eddie, dia menjadi seorang tentara dan diutus ke Filipina oleh negara. Di sana ia bertemu dengan Kapten. Kehidupan sebagai seorang tentara di daerah konflik benar-benar tidak menyenangkan. Eddie merasakan penderitaan mental yang dialaminya selama menjalani tugas tersebut. Dan Kapten, adalah salah satu orang yang membuat perubahan besar dalam hidupnya. 


Orang ketiga yang Eddie temui adalah seorang wanita di mana akan diungkapkan sebuah rahasia tentang ayahnya. Menurutnya, ia hidup jauh dari rasa kasih sayang ayahnya. Eddie yang menjalani puluhan tahun sebagai mekanik di Ruby Pier, merasa benci karena dirinya harus terkait dengan ayahnya, karena ia harus menjalani hidup yang dijalani ayahnya sebelum ia tiada. Dan kejutan lainnya menanti Eddie di sana.


Sebelum bertemu dengan orang keempat, Eddie dibawa untuk menyaksikan banyak pernikahan. Bahwa semasa hidupnya ia tidak suka dengan yang namanya pernikahan. Ia juga tidak percaya dengan cinta. Sampai suatu ketika, Eddie bertemu dengan Marguerite. Kehidupannya dengan Marguerite yang sederhana, namun penuh cinta. Hingga ia harus merasakan kehilangan saat sesuatu yang dimilikinya pergi. Pada orang keempat, Eddie belajar tentang bagaimana cinta dan betapa besar pengaruhnya dalam hidup seseorang.


Sekarang, ia sudah sampai pada orang kelima. Seseorang yang tidak terduga hadir dalam kehidupannya, memorakporandakan perasaannya. Terlebih lagi, orang terakhir yang ditemuinya mengajarkan pada Eddie bahwa segala sesuatu dalam hidup manusia, akan berkaitan dengan kehidupan orang lain juga. Bahwa tidak ada satu pun yang hidup di dunia ini tanpa memberikan arti pada kehidupan orang lain. Eddie belajar pada orang terakhir bahwa kehidupannya yang selama ini ia kira biasa saja, justru mempunyai maksud dan tujuan yang besar. Tidak hanya pada diri kita sendiri, melainkan untuk orang lain yang bahkan tidak pernah kita kenal sebelumnya.



***


Novel ini memiliki kesan spiritual yang kuat, berbicara tentang kehidupan setelah kematian. Bagaimana dari sebuah karya fiksi kita bisa memaknai kehidupan yang belum akan kita jalani itu. Membaca Meniti Bianglala, membuat kita mengalami perjalanan spiritual yang indah, tentang makna kehidupan yang sering tidak kita sadari selama ini. Tentang betapa berharganya waktu, kehidupan manusia yang saling berkaitan satu sama lain, tentang cinta, memaafkan, dan banyak lagi makna lain yang luput dari pemahaman kita sehari-hari.

Melalui Eddie, Mitch Albom mengajak pembaca melakukan perjalanan kehidupan, bertemu dengan lima orang tidak terduga, mengambil banyak pelajaran di sana. Perjalanan pertama mengajarkan manusia bahwa hidup adalah perjalanan panjang yang berkesinambungan. Ketika kehidupan seseorang harus berakhir, sesungguhnya makna keberadaannya diteruskan oleh orang lain, disadari atau tidak.


"Itu karena jiwa manusia tahu, jauh di lubuk hati mereka, bahwa semua kehidupan saling berkaitan. Kematian bukan hanya mengambil seseorang, tapi juga luput dari orang lain, dan di celah kecil antara kena dan nyaris, kehidupan berubah." ---halaman 53

Perjalanan kedua membawa Eddie bertemu dengan sang Kapten, di mana ia mengajarkan tentang makna pengorbanan yang barangkali sering luput dari kacamata pengamatan manusia. Tentang hubungan sebab-akibat yang akan mengikat manusia dalam takdir kehidupannya. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Bahkan sekecil apa pun keputusan yang dibuat dalam sebuah fase kehidupan, adalah sebuah jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk memahami makna kehidupan, makna pengorbanan, dan agar manusia dapat menggali hikmah kehidupan darinya.

Lalu Eddie melanjutkan ke perjalanan ketiga, di mana ia bertemu dengan orang yang sama sekali asing, namun memiliki hubungan kedekatan yang tidak terkira dalam kehidupannya. Tentang sebab-musabab pertalian mereka, dan juga sebagai orang yang akan memahamkannya dengan sebuah pemahaman terbaru tentang kata "memaafkan". Betapa ketika kita memiliki kebencian terhadap seseorang yang menurut kita berkontribusi menghancurkan kehidupan kita, adalah seseungguhnya sebagai tempat pembelajaran bagi kita untuk belajar memberikan maaf.


"Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri." ---halaman 145

Perjalanan keempat menyadarikan Eddie tentang makna cinta. Bahwa cinta tak akan pernah pudar dalam kehidupan manusia, meskipun orang tersebut telah tiada. Tentang betapa sebuah makna pernikahan yang semakin lama usia semakin memudar. Menyadarkan tentang cinta akan tetap ada dan mengokohkan, bahkan ketika kehidupan menghantamnya dengan menciptakan gersang yang menyerang.


Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus tergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup. ---halaman 169

Perjalanan terakhir adalah perjalanan tentang kesadaran, bahwa kehidupan adalah tentang memberi makna, tentang kehidupan yang sesungguhnya. Eddie boleh merasa bahwa hidup baginya terasa stagnan. Ia menghabiskan masa tua dengan memperbaiki dan memastikan bianglala agar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak menyadari, bahwa upaya sekecil itu adalah untuk kebaikan yang jauh lebih besar, yang tidak pernah disadarinya. Pertemuan dengan orang kelima adalah reuni jiwa dengan jiwa lain yang bahkan tak pernah ditemuinya, yang berhasil memberikan kesadaran bahwa hidup adalah jalinan takdir yang di dalamnya berkaitan dengan pemberian makna.

Sesungguhnya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan bahwa tak ada sehelai pun daun yang berguguran tanpa izin dari Tuhan. 

Terima kasih atas makna indah tentang kehidupan yang telah disajikan Mitch Albom dalam novel ini.



Dunia Maya

Judul : Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)
Penulis : Jostein Gaarder 
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Tebal Buku : 420 Halaman
ISBN : 9789794339220
Rating : 5 dari 5






"Adakah langkah yang bisa kita ambil berdua untuk berdamai dengan singkatnya kehidupan?" ---halaman 24

***

Blurb:

Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia. Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati.

Di Pulau Taveuni, Fiji, sejumlah orang tanpa sengaja berkumpul. Setiap dari mereka diam-diam menyimpan luka di hati. John Spooke, seorang penulis Inggris, masih berduka akan kematian istrinya. Frank Andersen, seorang ahli biologi evolusioner dari Norwegia, kehilangan seorang anak dalam sebuah kecelakaan tragis dan berpisah dari istrinya.

Di antara mereka, tidak ada yang lebih menarik perhatian daripada Ana dan José, pasangan penuh teka-teki dari Spanyol. Mengapa mereka kerap saling melontarkan kalimat-kalimat ganjil tentang alam semesta dan Joker? Mengapa Ana begitu mirip dengan model lukisan Maja karya Goya yang terkenal? Dan siapakah Joker itu? Apa hubungannya dengan Maya, “ilusi-dunia”?


Novel Jostein Gaarder ini menyoroti gagasan-gagasan yang besar: penciptaan alam semesta, evolusi kehidupan di atas bumi, munculnya manusia, dan tujuan dari keberadaan manusia.

***

Novel ini adalah sebuah surat yang teramat panjang yang dibuat oleh Frank Andersen, untuk mantan istrinya yang bernama Vera. Dalam isi suratnya, Frank menceritakan tentang perjalanannya di pulau Taveuni setelah melakukan sebuah penelitian yang berhubungan dengan akademiknya--Frank adalah seorang ahli dalam bidang biologi evolusioner.

Dalam perjalanan di pulau tersebut, Frank bertemu dengan beberapa orang yang unik. Pertama, John yang seorang novelis asal Inggris yang sedang mencari bahan untuk novelnya selanjutnya. Lalu ada seorang gadis menarik bernama Laura, yang mempunyai ambisi untuk menyelamatkan bumi dengan caranya yang unik. Ia seorang heterochromia, yang mempunyai warna mata berbeda di antara kedua matanya. Seorang milyuner kaya, pengusaha minyak, yang juga ternyata menyimpan cerita tersendiri tentang hidupnya. Namun, di antara mereka semua, yang paling menarik perhatian Frank adalah sepasang suami istri bernama Ana dan Jose.


Yang pertama, adalah karena Frank merasa familiar dengan wajah Ana. Kedua, karena aktivitas kedua pasangan itu yang membuat Frank merasa penasaran. Ana memenangi semua permainan kartu. Mereka juga sering sekali, dalam kesempatan-kesempatan yang tak terduga, mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Spanyol. Kalimat itu seperti sebuah pecahan teka-teki yang berisi tentang banyak hal: misteri, dunia, hal-hal absurd yang bahkan sulit dicerna meski Frank mampu berbahasa Spanyol dengan baik, dan tentang Joker. Contohnya ini:


"Kita melahirkan dan dilahirkan oleh sebuah jiwa yang tak kita kenal. Ketika teka-teki itu berdiri pada kedua kakinya tanpa dapat terpecahkan, itulah giliran kita. Ketika impian mencubit lengannya sendiri tanpa terbangun, itulah kita. Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun. Kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian ...." ---halaman 69

Walau Frank bisa mengerti bahasa mereka, tapi ia lebih memilih untuk pura-pura tidak mengerti, agar ia bisa mendengar dan memahami lebih banyak. Setiap ucapan yang baru disampaikan mereka, dicatat oleh Frank agar suatu saat misteri dan teka-teki itu dapat terpecahkan.


Pulau Taveuni adalah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Dan ketertarikan itu pula yang menjadi magnet bagi Ana dan Jose yang merupakan pembuat film dokumenter, serta Frank yang seorang penulis. Di pulau inilah garis bujur nol derajat berada. Dua tahun lagi adalah waktu dimulainya periode milenium baru tahun 2000. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama, sehingga mereka membidik tempat ini, yang merupakan tempat pertama yang akan mengalami pergantian tahun. 



Selain hasrat mencari "yang terakhir" dan "yang hilang", kita semua memiliki keinginan tidak sehat untuk menjadi "yang pertama". ---halaman 63

Suatu malam, sebelum mereka berpisah ke tempat lain, mereka mengadakan "konferensi" dadakan di meja saat makan malam. Sebenarnya ini lebih kepada sebuah percakapan tentang banyak hal: kehidupan, evolusi, bahkan sampai pembahasan tentang Maya.

Ketika mereka pada akhirnya kembali ke kehidupan masing-masing, kisah tentang hal-hal yang belum terjawab sebelum mereka bertemu di Pulau Taveuni dan apa saja yang terjadi di sana menunggu untuk diselesaikan. Misalnya, tentang John Spooke yang masih belum bisa merelakan kepergian istrinya, Sonja, yang telah meninggal dunia. Lalu, tentang hubungan antara Frank dan Vera yang tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Dan juga, tentang eksistensi Ana dan Jose yang menimbulkan berbagai macam spekulasi dan tanda tanya.



***

Aku adalah mata rantai terakhir dalam sebuah rantai pembelahan sel yang tidak terputuskan, mata rantai terakhir dari proses-proses biokimia yang kurang lebih telah diketahui, dan—dalam analisis terakhir—mata rantai terakhir dari biologi molekuler. Aku tersadar bahwa pada dasarnya, aku tidaklah berbeda dari organisme-organisme sederhana bersel satu yang merupakan nenek moyangku yang paling pertama. Singkatnya, aku tidaklah lebih dari sebuah koloni sel—dengan satu perbedaan penting bahwa sel-sel milikku lebih saling menyatu dibandingkan sel-sel yang terdapat dalam kultur bakteri, sel-selku lebih berbeda dan karenanya mampu melakukan pembagian tanggung jawab yang lebih radikal. ---halaman 50


Ini adalah sebuah novel yang cerdas dan brilian. Seperti biasanya, Jostein Gaarder mengusung tema filsafat dalam karya-karyanya. Dalam Dunia Maya, konsep filsafat itu dipadukan dengan pengetahuan seputar dunia biologi terutama dalam bidang biologi evolusioner. Gaarder menyuguhkan perenungan-perenungan ini dalam sebuah cerita berbalut kisah romansa dari beberapa tokohnya. Ada pasangan Frank dan Vera yang berpisah karena sebuah tragedi yang menimpa anak mereka. John yang belum bisa melupakan Sonja istrinya yang telah tiada. Ana dan Jose, pasangan misterius yang menyimpan rahasia-rahasia kehidupan dalam interaksi mereka.

Novel ini disajikan dalam bentuk surat yang panjang, terdiri dari beberapa bagian; yakni satu episode pertemuan Frank dengan para tokoh lainnya di Pulau Taveuni, solilokui John dengan tokek yang membahas tentang banyak hal seputar evolusi, kesadaran manusia, dan tentang kehidupan, cerita-cerita pasca pertemuan di Pulau Taveuni. Dan juga, bagaimana penyelesaian permasalahannya dengan Vera serta bagaimana rahasia tentang Maya terungkap dan tersingkap—yang ternyata berkorelasi dengan Ana dan Joker. Kerinduan tentang sosok Joker yang ada di Misteri Soliter terbayar di sini. Juga dengan kelima puluh dua misteri kartunya.

Boleh saya katakan bahwa buku ini sebenarnya jauh lebih berat kontennya ketimbang Dunia Sophie. Ulasan filsafat dan makna kehidupan dibahas dengan lebih mendalam dan mengena. Banyak tamparan keras bagi manusia yang otaknya lebih banyak lipatan ketimbang makhluk hidup lainnya. Dan itu seharusnya membuahkan kesadaran agar manusia menjadi lebih peka terhadap sesamanya.


Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka, melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggung jawab global, tetapi merupakan tanggung jawab kosmos. ---halaman 101

Saya senang dengan sosok Laura, dan juga pekerjaannya. Gadis ini bekerja sebagai seorang aktivis lingkungan hidup yang memiliki misi khusus untuk menggugat para pelaku kerusakan lingkungan dengan caranya sendiri. Saya suka dengan pasangan Ana-Jose, di mana plot twist seputar keunikan mereka—dengan mengucapkan kutipan berbahsa Spanyol itu—benar-benar mengagumkan. Saya juga suka Frank, dan bagaimana caranya untuk meyakinkan Vera untuk kembali padanya. 

Di luar itu semua, saya jadi semakin suka dan mengagumi Jostein Gaarder dengan semua kecerdasan dan kemampuannya mengolah konten berat semacam filsafat menjadi sebuah karya sastra yang kaya dengan kedalaman makna, plot twist, serta disajikan dalam bahasa yang lebih sederhana. Meskipun, membaca Dunia Maya ini bisa dikatakan jauh dari kata "sederhana". Memusingkan? Ya. Bahkan saya sempat berhenti lama dari membaca novel ini, sampai pada akhirnya membeli buku cetak dengan kover terbarunya dari Mizan.

Oh ya, terlepas dari rasa terima kasih yang begitu mendalam kepada penerbit yang mau menerbitkan karya-karya Gaarder, saya masih mau "menggugat" keputusan mengganti judul pada novel ini, dengan menambahkan kata "dunia" di depannya. Hmmm, coba bayangkan apa yang terlihtas saat mendengarkan kata "Dunia Maya"? Pasti segala sesuatu yang berhubungan dengan "internet" dan sejenisnya. Padahal, novel ini jauh dari makna tersebut.

Secara terpisah, saya membuat postingan khusus untuk menuliskan kutipan novel Dunia Maya di sini.


The Secret Life of Bees

Judul : The Secret Life of Bees
Penulis : Sue Monk Kidd
Penerjemah : Endang Sulistyowati
Penerbit : Gagas Media
Tebal Buku : 428 Halaman
ISBN : 9789797806002
Rating : 4 dari 5





Blurb:
Kamu harus menemukan seorang ibu di dalam dirimu. Bahkan, kita semua sebaiknya melakukan hal itu. Sekalipun kita memiliki seorang ibu, kita tetap harus menemukan bagian ini di dalam diri kita sendiri.

Berlatar di Carolina Selatan pada musim panas tahun 1964, saat Undang-Undang Hak Sipil dan kerusuhan rasial tengah ramai dibicarakan. Di sebuah perkebunan persik, Lily Owens, gadis empat belas tahun, menghabiskan seluruh hidupnya untuk menghadapi ayah yang kejam dan pemarah sekaligus merindukan ibunya yang meninggal secara misterius ketika ia masih berusia empat tahun.

Setelah berhasil meloloskan Rosaleen—pengasuh kulit hitamnya yang dipukuli para rasialis ketika hendak pergi ke kota menggunakan hak suaranya—dari rumah sakit, Lily memutuskan kabur. Ia membawa lari Rosaleen ke Tiburon, nama kota di Carolina Selatan yang tertera di balik gambar Maria berkulit hitam milik mendiang ibunya.

Di kota yang menyimpan masa lalu ibunya inilah Lily bertemu tiga orang kakak-beradik eksentrik pemilik peternakan lebah. Kehidupan baru Lily pun dimulai. Ia tak hanya menemukan rumah yang hangat dan cinta yang tulus, tetapi juga kekuatan untuk berdamai dengan diri sendiri. Tak hanya itu, di sini pula Lily menemukan para ibu. Para perempuan yang tak melahirkannya, tetapi mengajarkan kepadanya bahwa ibu ada di diri setiap orang.

***

Lily merasa ayahnya, T. Ray, tidak pernah sedikit pun menyayanginya. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, yang diterima Lily justru perlakuan tidak menyenangkan dari sang ayah. Malang bagi Lily, karena ibunya telah lama meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis yang melibatkan dirinya saat ia masih balita. Dalam ingatan masa kecilnya, ia merasa bahwa dirinyalah yang membunuh sang ibu. Dan orang-orang di sekelilingnya tidak ada yang membantah atau menjelaskan apa yang terjadi saat itu sehingga anggapan bahwa dirinya pelaku peristiwa itulah yang tercetak dalam benaknya. Bahwa, Lily-lah yang melontarkan pelatuk pistol saat pertengkaran hebat terjadi antara kedua orangtuanya saat itu.

Ia dibesarkan oleh seorang pengasuh bernama Rosaleen, di perkebunan persik milik ayahnya. Meskipun Rosaleen berkulit hitam, namun Lily begitu menyayanginya hingga ia berandai-andai jika Rosaleen seorang kulit putih dan menikah dengan ayahnya, ia akan mendapati Rosaleen sebagai sosok sempurna pengganti ibunya. Saat itu, di tahun 1964 di South Carolina, diskriminasi terhadap kulit hitam sedang memanas. Suatu hari, undang-undang tentang diperbolehkannya kaum kulit hitam untuk mengikuti pemilu diberlakukan. Rosaleen, ingin mendaftarkan diri untuk memberikan suara pertamanya. Ia diam-diam ia meminta izin untuk pergi ke kota, dan Lily turut serta.





Dalam perjalanan itulah, terjadi sebuah peristiwa memilukan yang menimpa Rosaleen. Ia menghadapi masalah dengan orang-orang kulit putih yang menindasnya. Rosaleen dipukuli dan berakhir di penjara. Saat luka-lukanya diobati di rumah sakit itulah Lily melancarkan sebuah rencana melarikan diri dari rumah bersama Rosaleen. Perkataan T. Ray begitu terngiang dalam benaknya.

"Selama kau tinggal di bawah atapku, kau harus melakukan apa yang kuperintahkan!" teriak T. Ray
Kalau begitu, aku akan menemukan atap lain, pikirku. ---halaman 32
Mungkin aku sama seperti semprotan pestisida, yang diselamatkan dari hama atau hama yang akan terbunuh oleh semprotan pestisida, yang berkelana di muka bum mencoba melakukan penyelamatan sekaligus membawa kehancuran ke mana pun aku pergi. ---halaman 81 

Dengan berbekal barang-barang milik ibunya yang ia temui di loteng, Lily memutuskan untuk pergi ke Tiburon. Dan masih atas petunjuk benda tersebutlah yang mengantarkan Lily dan Rosaleen ke sebuah rumah pemilik penangkaran lebah, sebuah keluarga unik yang namanya terdiri dari nama-nama bulan: August, sang wanita pemilik rumah, June adiknya yang memberikan perlakuan kurang menyenangkan, dan May, yang berkepribadian unik karena sering menyanyikan lagu 'Oh! Susanna' sebagai alarm bagi sekitarnya ketika ia mendengarkan cerita sedih atau menyakitkan.

Secara mengejutkan, Lily yang seorang kulit putih diterima dengan baik dan mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang-orang asing berkulit berbeda dengannya. Ia bertemu dengan Zach, pemuda kulit hitam yang berlesung pipi dan rupawan, ia juga berkenalan dengan kelompok Putri-Putri Maria, sebuah komunitas yang digagas oleh August. Lily belajar banyak tentang kehidupan dari August.


"Kau tahu, ada sebagian hal yang tidaklah terlalu penting, Lily. Misalnya warna cat rumah. Seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupanmu? Tapi membuat orang senang--nah, itu baru penting. Masalahnya dengan orang adalah--"
"Mereka tidak tahu apa yang penting dan apa yang tidak."
"Aku hendak mengatakan, masalahnya adalah mereka tahu apa yang penting, tetapi mereka tidak memilihnya." ---halaman 197

Namun sayangnya, di pertemuan pertama mereka, Lily mengutarakan kebohongan tentang sebab-sebab keberadaan dirinya dan Rosaleen di sana demi keselamatan dan keamanan mereka. Seiring dengan berjalannya waktu, pada akhirnya kebohongan itu akan terbongkar, dan menyusul terkuaknya fakta-fakta yang berhubungan dengan hidup Lily lainnya. Bahkan, fakta lain yang berhasil mengguncangkan hidupnya, meruntuhkan semua asumsi dan anggapan yang selama ini dibangunnya.

***


"Kau tahu, Lily, orang bisa memulai dengan satu cara, dan pada saat hidup sudah menempanya, dia bisa berakhir dengan cara yang sepeuhnya berbeda." ---halaman 329

Bisa dibilang ini buku kedua yang saya baca yang mengangkat tentang diskriminasi terhadap kaum berkulit hitam di Amerika selain To Kill a Mockingbird yang bertema sama. Namun, di The Secret Life of Bees ini, tema friksi antara kaum kulit putih dengan kulit hitam lebih diangkat. Diwakili oleh Lily yang berkulit putih, namun ternyata ia justru mendapatkan limpahan kasih sayang dan "keluarga" oleh sebuah keluarga kulit hitam dalam pelariannya. Novel ini sungguh memberikan kesan yang dalam tentang kemanusiaan. Menyasar dengan tepat tentang permasalahan sosial yang sedang terjadi di masanya di mana diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam masih begitu terasa.

Penulis dengan apik "membalikkan keadaan" ketika menempatkan posisi Lily sebagai "minoritas" di antara keluarga kulit hitam yang begitu menyayanginya. Tidak hanya memberikan tempat tinggal, tapi juga sebuah keluarga dan perasaan dicintai yang tak pernah Lily dapatkan dari ayahnya. Penulis juga membawa emosi "jatuh cinta" di sini, yang membuat kisah ini menjadi berwarna. Juga tentang "patah hati". Bagaimana rasanya menjadi sosok yang tidak dicintai oleh ayahnya sendiri, juga oleh orang-orang yang begitu berarti dalam kehidupan Lily. 


Ada satu hal yang bisa kukatakan: kata 'mustahil' adala satu kayu gelondongan besar yang dilemparkan ke api cinta. ---halaman 177
"Lily, aku lebih menyukaimu dibandingkan gadis lain yang pernah kukenal, tetapi kau harus mengerti, ada orang-orang yang akan membunuh pemuda sepertiku hanya karena menatap gadis sepertimu." ---halaman 179

Namun, tidak hanya tentang itu saja yang diangkat oleh kisah ini. Ada cerita tentang trauma masa lalu dan kebiasaan aneh kakak-beradik May dan June. Ada kisah lebah dan bagaimana filosofi lebah dirajut menjadi satu dengan kisah yang disuguhkan. Dan juga, cerita tentang Black Madonna yang menjadi bagian dalam cerita ini.

Dalam buku setebal 428 halaman, kisahnya disajikan dengan begitu apik, mengalir dengan pelan namun tidak membosankan. Cara penulisan serta terjemahannya mendukung cerita ini, membuat pembaca tidak bisa melepaskannya begitu saja hingga titik terakhir. Kejutan di ending membuat hati siapa pun hancur karenanya. Sungguh, jadi ingin memeluk Lily dan mengatakan bahwa masih banyak orang-orang yang mencintainya di dunia ini.





Satu-satunya kekurangan yang ada di sini hanyalah banyaaak sekali kesalahan penulisan yang ada di novel ini, dan semakin ke belakang jadi semakin banyak. Membuat saya mengerutkan dahi dan tertawa getir berkali-kali. Sekali lagi harus saya katakan, gaya penulisan dan terjemahan, serta plot yang begitu kuat yang membuat saya tidak merasakan kekecewaan yang begitu berarti terhadap novel ini. Apalagi, di awal bab diberikan kutipan-kutipan seputar lebah yang menambah pengetahuan dan sinkron dengan yang dibahas di dalam babnya.

Pada akhirnya, sebuah penerimaan yang baik akan memberikan kehidupan yang lebih baik pula. 

"Bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna. Bahwa kau hanya harus memejamkan matamu dan menghela napas, biarkan teka-teki hati manusia seperti apa adanya." ---halaman 377

Annie

Judul : Annie
Penulis : Thomas Meehan
Penerjemah : Ambhita Dhayaningrum
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 232 Halaman
ISBN : 9796020332734
Rating : 4 dari 5




The sun'll come out, tomorrow 
So ya gotta hang on 'til tomorrow
Come what may
Tomorrow! Tomorrow!
I love ya! Tomorrow!
You're always a day a way


Blurb:

Ketika baru berumur dua bulan, Annie ditinggalkan oleh orangtuanya di panti asuhan. Ia meyakini suatu saat orangtuanya akan menjemputnya pada Malam Tahun Baru, tetapi sampai sebelas tahun berlalu, ayah dan ibunya tak juga datang untuk menjemput. Ia terpaksa tinggal di panti asuhan bersama Miss Hannigan yang kejam, sampai ia memutuskan untuk melarikan diri dan mencari sendiri orangtuanya. Apakah Annie berhasil menemukan orangtuanya?

Inilah kisah klasik petualangan Annie bersama Sandy anjing kesayangannya, Mr. Warbucks sang miliuner, dan Miss Farrell yang baik hati.

Pada tahun 1924, Annie muncul dalam sebuah comic-strip berjudul Little Orphan Annie di halaman surat kabar di seluruh penjuru Amerika Serikat. Kemudian Annie diadaptasi menjadi drama musikal Broadway dan meraih Tony Award kategori Drama Musikal Terbaik serta enam kategori lainnya, termasuk Buku Drama Musikal Terbaik. Lagu yang paling populer dalam drama musikal tersebut berjudul Tomorrow.


***

Membaca tentang kisah Annie, bagi saya seperti sedang berkelana dengan mesin waktu yang membawa kembali ke masa kecil di mana film ini sering diputar di televisi terutama saat libur sekolah. Bercerita tentang Annie, seorang gadis kecil yang ditinggalkan di sebuah panti asuhan dengan secarik surat tentang bayi mungil ini: informasi tentang tanggal lahirnya, dan pesan bahwa orangtuanya akan datang untuk menjemput Annie suatu hari nanti. Selain itu, ada pula sepenggal kalung locket yang diberikan padanya, yang pasangannya dimiliki orangtuanya sebagai tanda bahwa Annie adalah buah hati mereka. Dari pesan itulah Annie selalu menunggu kedatangan orangtuanya menjemput. Berbeda dengan semua anak di panti asuhan yang sudah tidak mempunyai orangtua lagi, ia menyimpan asa tentang orangtuanya yang masih hidup. 

Namun, rupanya kehidupan Annie dan anak-anak panti asuhan tidaklah menyenangkan. Miss Hannigan, sang pemilik panti asuhan, adalah wanita tua yang kejam. Ia membiarkan anak-anak ini memakan makanan yang tidak layak dan memberikan jam kerja pada mereka semua. Anak-anak panti asuhan disuruh membuat baju di ruang bawah tanah panti. Tidak hanya di tempat mereka tinggal, perlakuan kejam juga diterima di sekolah. Anak-anak panti dianggap sebagai murid yang tidak pantas bergaul dengan teman-teman lainnya, dan mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif dari banyak pihak. Dan Annie tidak pernah dijemput oleh ayah dan ibunya.

Untungnya, Annie adalah seorang gadis kecil dua belas tahun yang tangguh. Ia tidak pernah membiarkan orang lain melihatnya menangis. Selain pintar, Annie juga ditakuti dan disegani oleh anak-anak seusianya.

Karena perlakuan kejam Miss Hannigan dan kepercayaannya bahwa orangtuanya masih hidup, ia memutuskan untuk pergi mencari keduanya. 

"Sekarang aku tahu orangtuaku tidak akan pernah datang menjemputku," kata Annie sambil memeluk keranjangnya, bersiap pergi. "Jadi aku yang harus pergi mencari mereka." ---halaman 43

Dengan segala upaya--dan dibantu oleh teman-teman sepantinya--Annie berhasil kabur dan memulai petualangannya di luar panti asuhan, berupaya bertahan hidup dari deraan lapar dan musim dingin yang datang menghadang. Bersama dengan Sandy, anjing liar yang ditemukannya di jalanan, ia mengarungi kerasnya kehidupan di luar panti saat Amerika sedang mengalami krisis yang berat. Dan juga, ia tidak pernah lupa tujuan utamanya berada di luar sana; mencari ayah dan ibunya.

Suatu hari, ia bertemu dengan seorang wanita yang merupakan sekretaris pribadi seorang miliuner yang hendak menghabiskan harinya dengan seorang anak yatim piatu, dan Annie-lah yang beruntung untuk dibawa Miss Farrell itu untuk bertemu dengan Mr. Warbucks. Bersama dengan pria tua kaya raya namun merasa hidupnya sepi dan kosong itu, hidup Annie tidaklah sama lagi. Namun, ia tidak boleh melupakan bahwa Annie masih berharap ia dapat bertemu dan tinggal bersama ayah dan ibunya yang entah berada di mana sekarang.

***

Kisah tentang Annie menurut saya adalah sebuah cerita yang tak lekang oleh masa. Berlatarkan Amerika tahun 1933 di mana pada periode itu dikenal dengan Era Depresi di mana Presiden Roosevelt baru saja memangku jabatannya sebagai seorang pemimpin Amerika kala itu. Annie adalah sebuah gambaran tentang seseorang yang percaya bahwa keoptimisannya akan berdampak pada kehidupan yang lebih baik lagi esok hari. Masa Depresi bagi Amerika merupakan cobaan berat di mana seorang kaya tiba-tiba menjadi miskin, pekerja kantoran menjadi penjual apel, dan sebuah tempat kumuh bernama Hooverville dibangun sebagai olok-olok bagi mantan Presiden Hoover yang banyak dipersalalahkan atas masa Depresi itu. Namun Annie, seolah mengajarkan dengan caranya yang halus dan sesuai dengan usianya yang masih anak-anak, bagaimana agar tetap optimis dan yakin tentang hari esok.


"Matahari akan muncul esok hari. Yakinlah, berani bertaruh demi dolar terakhirmu, bahwa akan ada matahari esok hari." ---halaman 87

Satu hal yang dapat dipelajari dari kehidupan Annie adalah bagaimana kita harus memandang optimis terhadap hidup kita. Sikap ini tentu saja susah untuk dimiliki jika keadaan berada pada level yang terbawah. Padahal, tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita esok atau lusa. Dan yang perlu dilakukan selain berupaya untuk membuat suatu keadaan menjadi lebih baik setelah mengupayakan dan mengusahakan dengan kerja keras adalah bersikap optimis. Keyakinan adalah sebuah penguat yang menyenangkan untuk memandang masa depan.


"Kurasa itulah hal terbaik tentang hidup. Kau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi berikutnya." ---halaman 133

Membaca novel tentang Annie, selain membawa ingatan untuk berkelana ke masa kecil, dan juga mengajarkan untuk selalu menumbuhkan rasa optimisme dalam memandang hidup--yang rasanya semakin luntur seiring bertambahnya usia--pembaca juga akan diajarkan tentang banyak hal lainnya secara tidak langsung. Ini merupakan pembelajaran yang menyenangkan karena kita tidak akan merasa digurui atau diajari. Annie merupakan sosok imajinatif yang periang, manis, yang akan membawa pembacanya menyatu dengan emosi yang hadir dalam plotnya. Meskipun cerita ini sudah dapat ditebak bagaimana alurnya atau seperti apa kejadiannya--apalagi yang masih ingat dengan jalan cerita yang ada di filmya--namun, emosi yang dihadirkan di sini begitu dekat sehingga saya berulang kali merasa iba maupun memiliki perasaan yang sama dengan Annie. Ini merupakan sebuah pengalaman yang positif dan berkesan terhadap sebuah novel.

Namun, jika dicermati, ada plot yang kesannya terlalu imajinatif di sini, seperti misalnya kehadiran Presiden Franklin D. Roosevelt sebagai bagian dari cerita ini. Di awal dalam kata pengantarnya, penulis sudah menjelaskan tentang itu, juga alasan mengapa ia mengambil cerita yang mulanya berasal dari comic-strip yang ditulis selama 48 tahun dan dimuat dalam surat kabar Minggu dan mengangkatnya ke panggung layar lebar Broadway. Saya sendiri tidak keberatan dengan plot imajiatif bagaikan roller-coaster ini. Karena, pada dasarnya, Annie adalah sebuah karya yang disuguhkan dalam sudut pandang seorang anak kecil, yang target penikmatnya salah satunya adalah anak kecil seusia Annie. Bagi saya, kisah ini tidak hanya sekadar cerita anak saja, namun banyak kesan yang dapat diambil sebagai penyemangat kehidupan, apalagi jika merasa bahwa kesulitan maupun ujian hidup sedang berlangsung. 

Jika sedang mengalami kesulitan, maka ingat selalu pesan Annie kepada Sandy ini:


"Dan semuanya akan baik-baik saja. Untuk kita berdua. Jika tidak hari ini, yah... matahari akan muncul esok hari. Yakinkan dirimu bahwa esok matahari akan bersinar." ---halaman 76

Juga bisa mengingat kalimat ini:


"Bagi orang yang berada di titik terendah hidupnya, selalu ada ruang untuk orang lain." ---halaman 84

Untuk kesan yang begitu menyenangkan ini, saya berikan bintang empat untuk kisah menakjubkan yang dilalui oleh Annie.



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)