Showing posts with label Paulo Coelho. Show all posts
Showing posts with label Paulo Coelho. Show all posts

Saat-Saat Penuh Inspirasi - The Magical Moment

Judul : Saat-Saat Penuh Inspirasi - The Magical Moment
Penulis : Paulo Coelho 
Ilustrator : Hwang Joong Hwan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 288 Halaman
ISBN : 9786020320281
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Kumpulan tweet dari Paulo Coelho yang dipenuhi dengan gambar ilustrasi karya Hwang Joong Hwan.

***

Sejelas yang disampaikan oleh blurb-nya, buku ini adalah sebuah buku kumpulan tweet dari Paulo Coelho, yang diberi ilustrasi berkenaan dengan isi kutipan tersebut. Namun, rasanya saya menemukan ada kutipan yang asalnya dari novel-novel karya Paulo Coelho di sana.

Dan karena buku ini berisi kalimat-kalimat quoteable, maka saya pun akan mengisi ulasannya dengan beberapa kutipan yang saya sukai. Akan saya berikan pula screenshoot ilustrasinya (yang saya capture dari aplikasi baca e-book SCOOP). Namun sebelumnya, saya akan memberikan beberapa ulasan serta kesan terhadap buku ini.

Meskipun ada 288 halaman, tapi kutipan yang muncul hanya ada di masing-masing halamannya (bahkan kebanyakan dua halaman hanya ada satu kutipan saja). Bukunya warna-warni, memberikan kesan hangat dan ceria saat membacanya. Meskipun, tidak semua kutipannya bernada ceria. Karena, ada yang menohok, ada yang menyindir secara halus, tapi banyak yang berhasil membuat galau. Namun dari semua itu, yang terbaik adalah kalimat-kalimat berisi motivasi yang relevan dengan berbagai situasi dan kondisi.

Mulanya saya mau memberikan bintang tiga pada buku ini. Namun, dalam perjalanannya, saya merasakan energi positif dari kekuatan kata-kata Coelho dalam buku ini. Rasanya, orang-orang yang membutuhkan kalimat-kalimat penyemangat dan optimisme dalam hidup bisa membaca buku ini. Setidaknya muatan positif itu saya terima begitu saja saat membacanya. Dan rasanya, hangat.

Berikut saya kutipkan beberapa kutipan favorit saya:

Cinta itu ibarat Twitter: di-Follow, di-unfollow, atau di-Block.

Apa yang membuat orang lemah? Kebutuhan untuk diterima, dengan segala cara.

Jangan berharap disukai oleh semua orang. Tak seorang pun bisa menyenangkan hati setiap orang.

Dengan menghakimi diri sendiri, kita menyakiti diri sendiri.

Orang yang hidup hanya untuk menyenangkan orang-orang lain banyak disukai, kecuali oleh dirinya sendiri.

Luangkan waktu sejenak saja untuk berdoa mengucap syukur. Penderitaan akan berlalu. Sukacita akan bertahan.

Setiap hari satu kaki kita ibarat berpijak di negeri dongeng, satunya lagi di jurang tak berdasar.


Hidup ini singkat, sempatkan diri menyampaikan apa yang selama ini hanya dipendam di dalam hati.

Nah, kutipan ini saya temukan saat membaca Brida (Ulasan tentang Brida ada di sini)

Tak ada apa pun yang seratus persen salah. Bahkan jam yang rusak pun masih benar dua kali sehari.

Maafkan tapi jangan melupakan, atau kau akan terluka lagi. Memaafkan berarti mengubah perspektif. Melupakan berarti kehilangan pelajaran yang telah diperoleh.

Lebih baik menyesal karena memaafkan daripada menyesal karena menghukum.
Banggalah akan bekas-bekas lukamu, sebab semua itu merupakan pengingat bahwa kau mempunyai tekad untuk hidup.

Cinta ibarat hujan. turun tanpa suara, datang tiba-tiba, tapi sanggup membuat sungai meluap.



Ziarah

Judul : Ziarah
Judul Asli : The Pilgrimage
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 264 Halaman
ISBN : 9786020300320
Rating : 2 dari 5 




Blurb:

Dalam novel ini, yang terbit sebelum The Alchemist––Sang Alkemis, Paulo menempuh perjalanan untuk mencapai pengetahuan diri, kebijaksanaan, dan penguasaan spiritual.

Dipandu oleh teman seperjalanannya yang misterius bernama Petrus, Paulo menyusuri jalan ke Santiago yang suci, melalui serangkaian cobaan dan ujian sepanjang jalan––bahkan bertatap muka dengan seseorang yang mungkin sang iblis sendiri. Kenapa jalan menuju hidup sederhana ternyata sangat sulit? Apakah Paulo akan menjadi cukup kuat untuk menggenapkan perjalanan menuju kerendahan hati, kepercayaan, dan keyakinan?

Paulo Coelho adalah pencerita yang memukau, menginspirasi orang di seluruh penjuru dunia untuk melihat lebih dari hal yang biasa menuju hal yang menakjubkan.


***

Bagi saya, membaca buku Paulo Coelho adalah sebuah perjudian, apakah buku yang saya baca akan saya sukai (sesuai dengan selera saya) atau tidak. Sebutlah Sang Alkemis, Sang Penyihir dari Portobello, Zahir atau Aleph, adalah buku-buku yang saya sukai. Namun terkadang ketika membaca buku Paulo yang lain seperti Brida, atau Sebelas Menit, yang membuat saya kecewa karena tidak berhasil menangkap apa yang dimaksudkan dalam ceritanya. Meskipun sebenarnya, saya dapat menemukan benang merah dari cerita-cerita Paulo Coelho yang saya baca: yakni tentang perjalanan dan ritual-ritual aneh. Di novel-novelnya yang lain, perjalanan dan ritual itu tidak menjadi tema besar yang diangkat, namun di sini, perjalanan itulah yang menjadi plot utama. 

Paulo menyusuri jalan Santiago, bersama Petrus sang pemandu yang memandunya menyusuri jalan itu untuk menemukan pedangnya yang diambil yang merupakan tujuan utama Paulo melaksanakan ritual perjalanannya. Di sepanjang jalan, mereka bertemu dengan hal-hal yang langsung dikaitkan dengan ritual. RAM beberapa kali muncul namun saya tidak mengerti RAM itu apa. Di cerita juga menjelaskan tentang ajaran Kristiani (yang saya tidak bisa menangkap maknanya). Mungkin ada penjelasan spiritual atau apapun, tapi saya tidak mampu memahami itu. Entah karena bahasanya yang berat atau terlalu tinggi.

Ada ritual-ritual yang barangkali bisa diterapkan dalam kehidupan seperti latihan benih, latihan kecepatan, laihan kekejaman, latihan bayangan, dan lain-lain meskipun ada juga yang tidak direkomendasikan seperti latihan mengubur diri hidup-hidup (soalnya seram, tapi kita bisa mengingat kematian dengan cara yang lain kok selain ini, tapi kalau mau coba juga silakan). Di edisi terjemahan bahasa Indonesia ini, dalam daftar isi ada ditunjukkan halaman-halaman meuju ke latihan itu. Sementara, dalam plot cerita, latihan dilakukan dalam perjalanan pada momen-momen tertentu.


Sama seperti ketika membaca The Old Man and The Sea, saya merasa bosan dengan buku ini sehingga nyaris beberapa kali mau menyerah dan menyudahinya saja. Mungkin karena faktor cerita yang monoton, karena plot utama dalam kisah ini adalah tentang perjalanan dan upaya mencari pedang. Meskipun di dalam perjalanannya ditemukan rintangan dan beberapa peristiwa, namun itu tidak cukup menarik dan cenderung membuat bosan.


Sudah saya prediksi sebelumnya bahwa buku Paulo tidak akan jauh-jauh dari ritual aneh, di sini pun ada. Entah apakah ini bagian dari ritual ordo kristen atau bagaimana, tapi membacanya membuat saya tidak memahami dan biasa saja sih. Tidak ada yang istimewa.  


Semoga saya tidak kapok memabca buku Paulo Coelho yang lainnya. 





Terima kasih kepada perpusda yang sudah meminjamkan bukunya kepada saya (bahkan sampai perpanjangan sekali karena sayang untuk tidak menyelesaikannya). :)



Zahir


Judul : Zahir
Penulis : Paulo Coelho
Penerjemah : Andang H. Sutopo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 440 Halaman
ISBN : 9786020301174
Rating : 4 dari 5 




Blurb: 

Seorang suami ditinggalkan istrinya tanpa alasan, tanpa jejak. Kepergiannya menimbulkan pertanyaan besar yang makin menggerogoti hati dan pikiran, kenangan yang ditinggalkannya tak terhapuskan, hingga menjadi obsesi yang nyaris membawa sang suami pada kegilaan. Untuk menjawab pertanyaan "Mengapa" itu, sang suami menelusuri kembali jejak kebersamaannya dengan sang istri, hal-hal yang terjadi dalam perkawinan mereka, hingga terjadinya perpisahan itu. Pencarian ini membawanya keluar dari dunianya yang aman tenteram, ke jalur yang tidak dikenalnya, dan membuka matanya terhadap makna cinta serta kekuatan takdir.

***

Zahir, dalam bahasa Arab, berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang, sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita, sampai kita tak bisa berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bisa dianggap sebagai tingkat kesucian atau kegilaan.

***


The Zahir bercerta tentang seorang penulis yang ditinggal oleh istrinya. Sang istri bernama Esther adalah seorang wartawan yang meliput perang. Kehidupan mereka yang mulanya berjalan biasa saja, dikejutkan dengan hilangnya Esther. Si penulis diinterogasi, bahkan polisi melakukan prosedur standar dengan memenjadakan pria tersebut. Namun, seorang wanita datang memberitahukan alibi yang meringankan pria itu. Akhirnya dia dibebaskan.

Pencarian istrinya masih berlanjut, hingga dia menyerah dan memutuskan untuk menulis buku yang isinya berupa surat yang ia tujukan pada Esther. Buku itu berjudul "Ada Waktu untuk Merobek, Ada Waktu untuk Menjahit". Dia yakin bahwa istrinya baik-baik saja, dan menghilangnya Esther memang adalah sebuah pilihan, bukan penculikan atau sebuah tindak kejahatan. Mungkin benar bahwa istrinya terpikat oleh seorang pemuda yang sering dibicarakan oleh Esther sebelum memutuskan pergi, seorang pria berusia dua puluh lima tahun yang bernama Mikhail.

Dalam pencariannya terhadap Esther inilah sang penulis kemudian merefleksikan lagi bagaimana pertemuannya dulu dengan Esther dan bagaimana upaya yang dilakukan Esther dalam membantu sang penulis untuk menemukan jati dirinya. Penulis ingat bahwa sebelumnya dia pernah berkelana untuk menemukan itu. Hingga proses menemukan Jalan Santiago itulah yang pada akhirnya membuat ia menemukan arti kehidupannya, dan menulis sebagai jalan hidupnya.

Pada sebuah acara penandatanganan bukunya, si penulis dikejutkan dengan kedatangan Mikhail, yang mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja. Dari pertemuan itulah ia kemudian mengikuti ke manapun Mikhail pergi hingga mengetahui aktivitas ganjil Mikhail dan perkumpulannya di sebuah kafe setiap kamis malam.

Si penulis menemui banyak orang yang rupanya pernah bertemu dengan Esther sebelumnya. Si penulis heran karena mereka semua mendapatkan potongan kain berdarah milik serdadu perang yang bertemu dengan Esther sebelum ia meninggal. Ia begitu heran mengapa orang-orang itu memiliki potongan kain sementara dirinya tidak. Dan ini berhasil membuatnya bertanya-tanya.

Mikhail mengatakan bahwa ia mengetahui di mana keberadaan Esther. Namun dirinya bersikeras tidak akan memberitahu si penulis sebelum mendapatkan arahan dari "Bunda", yang berupa bisikan ghaib. Saat sebuah kecelakaan terjadi pada si penulis, itu menjadi titik balik dalam kehidupannya seolah segalanya dilihatnya dalam perspektif berbeda.

Keberadaan seorang perempuan bernama Marie dalam kehidupan penulis, membuat warna tersendiri dalam kisah ini. Apakah dia berhasil menemukan di mana Esther berada ataukah justru memilih untuk hidup dengan Marie yang selama ini telah begitu baik padanya?


***


Buku Paulo Coelho menurut saya tidak bisa diprediksi sebelumnya bagaimana sehingga saya tidak akan berekspektasi terlalu banyak terhadapnya. Saya yang teramat menyukai The Alchemist merasa kurang puas saat membaca Aleph. Bahkan kemudian, saya merasakan terjun bebas ketika membaca Brida. Dari situ kemudian saya belajar untuk tidak berekspektasi apapun terhadap isi buku yang saya baca. Dan yang saya dapat adalah..., kejutan! Buku ini menarik sekali. Bahkan saya sempat tercenung dan tidak konsentrasi dengan buku berikutnya yang saya baca karena masih terpesona dengan sihir Zahir yang menimpa saya.

Dari segi plot, cerita ini cukup simpel karena menceritakan tentang seorang penulis yang memiliki kekayaan luar biasa dari royalti penulisan lirik dan bukunya. Ia dikejutkan dengan perginya sang istri yang bernama Esther entah ke mana. Ia yakin bahwa istrinya itu memang sengaja pergi, namun prosedur kepolisian tetap dijalankan yang menyebabkan ia sempat menjadi tertuduh atas hilangnya sang istri. Dia juga sempat mengira Mikhail yang membawa lari istrinya, meskipun pada akhirnya atas bantuan Mikhail pula petualangan mencari Esther itu dilakukan.

Kisah yang begitu sederhana menjadi tidak sederhana saat Paulo Coelho menggarapnya dengan sentuhan spiritual yang membuat pembaca akan banyak merefleksikan apa yang ia tulis pada dirinya sendiri. Saya begitu menyukai konsep "Bank Budi" yang dijelaskan oleh Paulo di sini. Dulu saya pernah dapat konsep serupa saat ada pelatihan Seven Habits di kantor, dan saking mendalamnya materi itu sehingga saya masih mengingatnya sampai sekarang. Di sini, Paulo kembali menyegarkan ingatan saya tentang itu.

Namun seperti yang sudah saya duga sebelumnya, ciri khas tulisan Paulo yang lainnya adalah dengan memasukkan ritual-entah-apa di dalam novelnya. Kali ini, melalui tangan Mikhail, ia menggagas ritual yang saya sebut dengan "membuka hati dengan bicara". Pesertanya yang datang melakukan semacam berbicara tentang hal-hal tabu tentang dirinya di depan umum. Mungkin ini disebabkan oleh paham individualis di kalangan manusia abad ini yang membuat mereka tertutup. Padahal, untuk menyelesaikan permasalahan atau membuka hati, yang harus dilakukan adalah berbicara. Saya nggak setuju tentu saja dengan pemahaman ini (yang tentang ritualnya, bukan "berbicara"nya ;)), apalagi kalau di Indonesia ada perkumpulan ini bisa saja dikategorikan sebagai aliran sesat hahaha :D. Selebihnya, tentang perenungan-perenungan, dan banyaknya kalimat bernapaskan spiritual, membuat saya mampu mengorelasikannya dengan konsep yang ada di agama saya, dan ini adalah sebuah jalan yang bagus :)

Dan kutipan yang saya suka..., sebenarnya banyak sekali, tapi baiklah ini saya berikan yang bertemakan tentang cinta:


Cinta adalah kekuatan yang tak akan pernah ditundukkan. Kalau kita berusaha mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. Kalau kita berusaha memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan.

Kekuatan ini ada di dunia untuk membuat kita bahagia, untuk membawa kita lebih dekat pada Tuhan dan pada tetangga-tetangga kita, tapi dengan cara kita mencintai sekarang ini, kita mengalami satu jam kegelisahan untuk setiap menit kedamaian.---Halaman 125


Ending kisah ini juga sedikit mengejutkan dan membuat saya mengerutkan dahi, sambil tertawa dan berkata, "Astaga, hahaha."



Sang Penyihir dari Portobello

Judul : Sang Penyihir dari Portobello
Judul Asli : The Witch of Portobello
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020300146
Tebal : 304 Halaman
Rating : 4 dari 5




"Belajarlah, tapi selalu belajar dengan didampingi orang lain. Jangan sendirian dalam pencarianmu, karena jika kau mengambil langkah yang salah, kau tak akan punya siapa pun untuk membantumu menjadi benar kembali." (Halaman 145)

Athena, atau nama aslinya adalah Sherine Khalil, adalah seorang anak yang diadposi oleh kedua orangtuanya. Ayahnya seorang pengusaha dan ibunya, Samira Khalil, begitu menyayangi Athena. Mereka adalah keluarga Kristen dari Beirut, Lebanon, bersama keluarganya mengungsi ke London saat perang berkecamuk di negaranya. Sewaktu mengadopsinya, mereka sudah diperingatkan bahwa Athena adalah anak dari keturunan kaum gipsi. Namun, sang ibu mengindahkan peringatan tersebut. Mereka pada akhirnya mengangkat Athena sebagai anak. 


Sejak kecil, Athena sudah merasakan ada perbedaan dalam dirinya. Seperti bahwa dia melihat seorang berjubah putih yang mirip dengan Perawan Maria. Atau ketika dia bermimpi melihat darah yang rupanya memberikan tanda bahwa di tanah tempat tinggal mereka, akan terjadi perang yang berlangsung dalam waktu sangat lama.



Athena tumbuh menjadi seorang gadis yang pembangkang. Ia memutuskan untuk menikah di usianya yang sembilan belas tahun. Athena merasa bahwa menjadi seorang ibu adalah misi yang telah lama ditolaknya dan kini harus diterimanya. Dia harus menerima misi itu atau dia akan menjadi gila. Dan misi tersebut dijalankannya. Ia mengenal sosok Lukas Jessen Petersen yang merupakan seniornya di kampus, berusia setahun di atasnya, dari sebuah peristiwa saat terjadi perdebatan antara Athena dengan teman kampusnya, saat temannya itu menghina Timur Tengah. Mereka tidak tahu bahwa sebelumnya, Athena tinggal di sana. Lukas adalah kakak tingkat mereka dan dialah yang melerai pertengkaran tersebut. Sejak saat itu hubungan mereka semakin akrab dan akhirnya terlibat romansa. Athena menginginkan punya anak pada usia 19 tahun, dan akhirnya mereka menikah. Pernikahan itu sangat ditentang keluarga Lukas, tidak mendapat restu dari keluarganya. Meskipun begitu, mereka pun tetap menikah. Lukas dan Athena mempunyai anak lelaki bernama Viorel. Namun setelah Viorel lahir, hubungan keduanya menjadi renggang, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri pernikahan.



Athena berhenti dari kuliahnya. Setelah bercerai, dia pun memutuskan untuk keluar dari rumah mereka. Sebelum menikah, Athena rajin mengunjungi gereja. Pastor Giancarlo Fontana adalah seorang pastor yang menikahkan Athena dan Lukas. Dia juga yang menyaksikan bagaimana perkembangan Athena beberapa saat sebelum ia menikah (tentang keinginan Athena untuk menjadi santa, betapa khidmatnya dia saat memainkan musik di depan patung Perawan Maria), lalu ketika ia meminta untuk dinikahkan. Athena sering mengunjungi gereja meskipun suaminya tidak. Ia juga membawa anaknya meskipun kadang rewel. Namun, pada suatu hari, ketika Athena resmi bercerai dengan suaminya, Pastor Fontana dihadapkan pada sebuah benturan: apakah memilih untuk menghormati institusi (Athena sudah bercerai, menurut institusi gereja, dia tidak boleh mendapatkan berkat roti), ataukah mengikuti nalurinya untuk tetap menerima keadaan Athena, sebagai implementasi dari kata-kata yang menjadi dasar dibangunnya institusi itu. Sang pastor tetap hormat pada peraturan yang dibuat oleh gereja, dia menolak memberkati Athena. Hal ini membuat Athena hancur, hatinya sangat terluka hingga dia bersumpah untuk tidak akan menginjakkan kakinya lagi di tempat itu.



Selepas bercerai, Athena pindah ke sebuah apartemen lantai tiga milik seorang dari Polandia, bernama Pavel Podbielski. Persamaan nasib, yakni sama-sama menjadi korban pengungsian membuat ia menyewakan kamarnya di lantai tiga untuk Athena. Ia sudah mengingatkan bahwa tempatnya tidak cocok bagi penyewa yang memiliki anak. Karena, anak akan ribut di siang hari dan dia akan melakukan keributan dengan "ritual"-nya selama malam hari. Namun justru dari orang inilah Athena belajar tentang ritual menari atau disebutnya sebagai Vertex, ajaran yang dia baca dari buku catatan yang ditinggalkan oleh kakeknya.



Athena bekerja di sebuah bank. Peter Sherney, adalah seorang manajer bank di tempatnya bekerja. Karena ayahnya Athena adalah nasabah bank yang penting, maka Athena diterima kerja di tempat ini, di bagian yang tidak menyenangkan. Dengan harapan, ia akan segera mengundurkan diri dari pekerjaannya karena tidak tahan. Namun justru yang didapatkan adalah, terjadi peningkatan kinerja yang dilakukan oleh Athena. Tidak hanya itu saja, namun Athena menyalurkan semangat dan rahasianya itu kepada pekerja lainnya bahkan pada nasabahnya. Peter sebenarnya tidak suka, namun karena adanya peningkatan kinerja di kantor cabangnya, ia diundang dalam suatu rapat dengan pusat untuk mempresentasikan apa yang menyebabkan itu semua terjadi. Mau tidak mau, akhirnya ia membuka pembicaraan pula dengan Athena untuk memberitahukan bagaimana itu bisa terjadi. Akhirnya Athena dipromosikan untuk bekerja di kantor cabang di Dubai.



Selama di Dubai, selain bekerja di Bank. Tak lama dia berkenalan dengan seorang emir yang menawarkan pekerjaan yang lebih menggiurkan baginya, yakni bekerja sebagai penjual tanah. Tidak hanya itu, berkat pertemuannya dengan seseorang, dia pun memiliki kesibukan baru. Nabil Alaihi adalah seorang dari suku Badui, Muslim, yang mempunyai tenda tempat ia berjualan makanan di Dubai. Suatu hari Athena mengunjungi tempatnya karena keponakannya yang bernama Hamid, yang seorang nasabah Athena, memberitahukan bahwa pamannya adalah seorang bijak. Mereka lantas berdialog tetang bagaimana caranya mendekatkan diri kepada Tuhan. Athena melakukannya dengan tarian, sementara Nabil mengajarkan hal baru dengan menulis kaligrafi. Athena bermaksud untuk belajar melakukan itu, dan menyadari bahwa Athena bukanlah seorang muslim, Nabil pun mengajarkannya dengan menuliskan pepatah Arab. 



Athena menyadari bahwa dalam dirinya terdapat kekosongan jiwa, yang dengan menari, atau menulis kaligrafi, masih belum dapat mengisinya. Lantas kepada ibunya, ia meminta izin untuk menemukan ibu kandungnya. Dan dalam perjalanan ke Transylvania--perjalanan ini menemukan Athena dengan orang-orang yang akan mengubah hidupnya--ia menemukan ibunya, seorang penjahit dari suku gipsi bernama Liliana. Ibunya menceritakan bagaimana ia dibuang dari sukunya karena memiliki seorang anak dari lelaki di luar kaumnya. Itu juga yang menyebabkan sang ibu membuang Athena ke panti asuhan. Sebelum pulang, ia diajak untuk mengikuti suatu ritual.




Dalam perjalanan, Athena tidak hanya berhasil bertemu dengan ibunya, namun beberapa orang lain yang cukup penting dalam membangun kisah ini. Ada seorang jurnalis bernama Heron Ryan, yang kemudian diketahui jatuh cinta dengan Athena. Lelaki itu bertemu saat di perjalanan ke Transylvania sewaktu Athena mencari ibu kandungnya. Ryan sendiri mengunjungi Transylvania untuk menyelidiki tentang vampire dan drakula. Heron Ryan sebenarnya sudah memiliki kekasih, namun dia menyadari bahwa ia mencintai Athena pula di saat yang bersamaan. Tokoh ini bisa dibilang sebagai tokoh utama yang banyak mengisahkan bagaimana pengalaman dirinya terlibat dengan Athena. Tidak hanya berhenti ketika mereka berada di Transylvania saja, namun berlanjut ketika Athena kembali ke London. Athena menghindari lelaki tersebut dengan mengatakan bahwa dia sudah memiliki kekasih yang bekerja di kepolisian Skotlandia. Namun, menurut Heron, itu hanya akal-akalan Athena saja untuk menghindarinya. Heron selanjutnya bahkan ikut terlibat dalam ritual-ritual (yang sebenarnya hanyalah menari dan beberapa khutbah) yang diselenggarakan Athena.

Tidak hanya Heron Ryan, dia juga bertemu dengan seorang dokter yang kemudian menjadi guru Athena bernama Deidre O'Neill atau kemudian lebih memilih dikenal dengan nama Edda. Dia juga terlibat banyak dalam perkembangan cerita ini, dengan memosisikan sebagai guru, dan Athena adalah muridnya. Dia pada suatu saat menegaskan bahwa Athena perlu memiliki murid, yang kemudian, dia bertemu dengan seorang aktris bernama Andrea McCain. Teman, sekaligus muridnya Athena yang menurut dirinya, pacarnya dirayu sama Athena dengan dalih bagian dari "Ritual Ketiga". Andrea adalah seorang pemain teater, hidupnya didedikasikan untuk bermain seni peran tersebut. Sebenarnya hubungan dirinya dengan Athena tidak bisa disebut sebagai "teman". Athena membencinya dan Andrea pun sama. Tapi atas dasar hubungan guru dan murid di mana mereka mereka merasa saling membutuhkan, maka keduanya tetap melakukan pertemanan ganjil atas dasar ritual spiritual yang mereka lakukan. Pertemanan mereka dimulai ketika kekasihnya, mengenalkan ia dengan Athena karena kekasihnya mengenal Athena dan mengetahui bahwa Athena mengikuti ritual di Transylvania yang menurut sang kekasih berhubungan dengan peran yang akan dibawakannya dalam pementasan bertajuk tentang Gaia, ibu bumi.




***



Kisah Athena disajikan benar-benar memukau. Paulo Coelho menceritakan sosok Athena, atau nama aslinya Sherine Khalil, seorang anak adopsi yang dilahirkan dari seorang ibu kaum gipsi, dan kemudian diadopsi oleh Samira Khalil dan suaminya yang seorang Kristen Lebanon. Masa perang membuat keluarga ini mengungsi ke London. Athena sudah merasa berbeda sejak kecil, dan ketika beranjak dewasa ia mengalami berbagai macam pengalaman spiritualnya hingga pada akhirnya membuat dirinya mendapatkan julukan "Sang Penyihir dari Portobello".



Di sini, kisah Athena disampaikan dari sudut pandang banyak orang. Ada dari orang yang mencintainya, gurunya, muridnya, ibu kandungnya, ibu angkatnya, dan beberapa orang yang secara langsung memengaruhi jalan hidup Athena. Saya suka gaya Paulo dalam menyampaikan makna tersirat dalam novel ini. Banyak sekali petuah hidup yang bisa kita petik di dalamnya. Bagian yang saya suka, tentu saja saat Athena bertemu dengan Nabil Alaihi dan belajar menulis kaligrafi dengannya. Ada juga beberapa cuplikan kalimat yang berkesan dalam kisah ini seperti:



"Apa sebenarnya guru itu? Biar kuberitahu: dia bukanlah orang yang mengajarkan sesuatu, tapi orang yang menginspirasi muridnya untuk mengupayakan yang terbaik demi bisa menguak apa yang sesungguhnya sudah diketahui sang murid." (Halaman 96)



Atau dalam makna pencarian Tuhan (masih dalam dialog antara Athena dengan Nabil Alaihi) di sini:


"Kaligrafi hanyalah salah satu cara yang Allah--terpujilah nama-Nya--letakkan di hadapan kita. Untuk mengajarkan objektivitas dan kesabaran, rasa hormat, dan keanggunan, tapi kita juga bisa mempelajari semua itu...""...lewat tarian," kata Athena."Atau lewat menjual tanah." (Halaman 100)


Di lain kesempatan, ada juga dialog yang saya benar-benar resapi dan seharusnya, kita sebagai makhluk yang percaya dan yakin akan keberadaan Tuhan, dan menganggap doa adalah salah satu penghubung dan dialog dengan Tuhan.


"Saat kau mencuci, berdoalah. Berterima kasih karena masih ada piring yang bisa dicuci, karena kau memberi makan seseorang, karena kau memberikan perhatian pada satu atau lebih orang, karena kau memasak dan menyiapkan meja. Bayangkan jutaan orang yang pada saat ini sama sekali tidak punya apa-apa untuk dicuci dan tidak punya siapa-siapa untuk dilayani." (Halaman 174)


Meskipun, seperempat bagian terakhir novel ini, saat Athena sudah menemukan jalannya, dengan menjadi "guru" dan menemukan sosok Hagia-Sophia (ini apa ya saya menyebutnya, logisnya, Hagia-Sophia adalah alter ego, semacam Ki Jembros yang pernah muncul di novel Petir-nya Dee, atau orang yang diilhamkan kekuatan supranatural, apalah-apalah, semacam Ponari? #heh), saya nggak nyambung lagi dengan itu. Tapi ini kan karya fiksi, jadi ya saya bacanya enjoy-enjoy saja. Dan, twist di ending buku ini mantap juara!



Dan yang saya salut dari seorang Paulo Coelho, di novel ini kan ceritanya disajikan dalam sudut pandang yang banyak dan karakter yang berbeda-beda pula. Paulo berhasil memainkan peran tersebut dengan sangat baik. Saat dia menjadi sudut pandang seorang pastor, benar-benar menjiwai. Bagian ini saya tidak heran, background penulis sendiri kan memang dia banyak mengangkat kisah dari agamanya ini. Tapi, ketika dia menuliskan seorang Nabil Alaihi, Muslim Badui, saya benar-benar merasakan sosok tersebut hidup, dan seperti benar-benar seorang Muslim. Benar-benar salut. Dan kalau membandingkan novel-novel Paulo yang saya baca sebelumnya, memang nggak bisa ditebak akan berada dalam jalur yang mana. Kalau saya pribadi, karena suka banget sama Sang Alkemis, dan nggak begitu masuk ke dalam golongan Brida atau Sebelas Menit, maka novel ini menurut saya lebih dekat ke arah sejenis Sang Alkemis, begitulah. Makanya saya suka. Top.


Sebelas Menit

Judul : Eleven Minutes
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792298444
Tebal : 360 Halaman
Rating : 2 dari 5





Blurb:

Cinta hanya menimbulkan penderitaan…

Demikianlah anggapan Maria, gadis Brazil yang sejak remaja begitu yakin tak akan pernah menemukan cinta sejati dalam hidupnya. Seseorang yang ditemuinya secara kebetulan di Rio de Janeiro berjanji akan menjadikannya aktris terkenal di Swiss, namun janji itu ternyata kosong belaka. Kenyataannya, dia mesti menjual diri untuk bertahan hidup, dan dengan sepenuh kesadaran dia memilih untuk menjalani profesi sebagai pelacur. Pekerjaan ini semakin menjauhkannya dari cinta sejati.

Namun ketika seorang pelukis muda memasuki hidupnya, tameng-tameng emosional Maria pun diuji. Dia mesti memilih antara terus menjalani kehidupan gelap itu, atau mempertaruhkan segalanya demi menemukan “cahaya di dalam dirinya.” Mampukah dia beralih dari sekadar penyatuan fisik ke penyatuan dua pikiran atau bahkan dua jiwa---ke suatu tempat di mana seks merupakan sesuatu yang sakral?


Dalam novel yang sungguh berbeda ini, Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita, dan membuat kita benar-benar terperangah. 

***

"Dalam cinta, tak seorang pun bisa menyakiti orang lain; kita masing-masing bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri, dan tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang kita rasakan."

Jika Anda berpikir bahwa membicarakan seks adalah tabu, maka buku ini barangkali tidak cocok untuk Anda baca. Saya mencoba memperingatkan seperti halnya Paulo Coelho sendiri yang memperingatkan konten buku ini pada pembukaannya. Tapi percaya sama saya deh, isi buku ini nggak seperti Fifty~ apalah itu ya :)) (kayak saya baca aja #heh) karena banyak makna filosofis yang ada di buku ini. Kalau belum cukup umur, sangat dianjurkan untuk tidak melanjutkan baca ini, ya. Dan kalau Anda tidak kuat baca beberapa cuplikan yang ada di sini kan bisa di skip saja, saya juga bacanya begitu kok. Karena sayang banget, banyak pesan yang tersirat dalam buku ini.

Oke, langsung ke review saja ya.

Maria adalah seorang gadis Brazil yang memiliki cita-cita sederhana: bertemu sang pria idaman (kaya, tampan, cerdas), menikah (mengenakan gaun pengantin), memiliki dua orang anak (yang setelah dewasa menjadi orang-orang terkenal), dan tinggal di rumah yang indah (dengan pemandangan ke laut). Namun, kehidupan menuntun Maria jauh dari apa yang dia cita-citakan. Maria lahir di sebuah pedalaman Brazil yang hanya mempunyai satu gedung bioskop, satu kelab malam, dan satu bank. Ayahnya hanyalah seorang salesman keliling dan ibunya penjahit. 

Cinta pertamanya adalah seorang anak lelaki yang berjalan ke sekolah setiap hari bersamanya, yang sayang sekali tidak sempat ia utarakan perasaannya kepada anak laki-laki itu karena dia keburu pindah ke luar kota. Kenangannya terhadap cinta pertamanya hanyalah ketika anak itu pada akhirnya menegur Maria, bertanya apakah boleh meminjam pensil. Namun bodohnya Maria, dia yang terkejut dan tidak siap mendapatkan pertanyaan seperti itu justru malah mempercepat langkahnya dan meninggalkan anak itu. Sebuah penyesalan baginya, dan dia menunggu kesempatan berikutnya dengan pensil yang dia bawa. Namun sayang sekali, tidak ada kesempatan kedua untuknya.

Kehidupan remaja Maria berlangsung seperti kebanyakan remaja di tempatnya tinggal. Namun Maria tumbuh menjadi gadis yang cantik, menawan, dan genit. Sebab dia sadar betul pengaruh kecantikannya. Dia bekerja di toko kain. Bahkan pemilik kain jatuh hati padanya dan bermaksud untuk melamarnya. Suatu hari, Maria pergi ke kota untuk berlibur, di sanalah ia bertemu dengan seorang pria Swiss yang menawarkan pekerjaan untuk kehidupannya yang lebih baik lagi, sebagai seorang model. Maria, sejak peristiwa dengan cinta pertamanya itu sadar, bahwa tidak ada kesempatan kedua untuknya dalam mengambil sebuah keputusan. Setelah ia pulang dan membicarakan kepada orangtuanya, ia menyetujui tawaran itu dan berangkatlah ia ke Switzerland, nama yang sedari dulu dikenal hanya dari pelajaran sekolah dan belum pernah dibayangkannya bagaimana atau di mana tempatnya.

Namun ternyata, di Geneva, Maria tidak dijadikan sebagai model, namun dijadikan penari kelab malam, dengan gaji yang tidak sesuai, bahkan tidak sampai sepersepuluh dari kontrak yang dijanjikan. Dalam buku hariannya, Maria menulis:


Aku bisa melilih: menjadi korban dunia ini atau menjadi petualang yang mencari harta karun. Tinggal bagaimana aku memandang hidupku.
Maria memutuskan untuk mengikuti kursus bahasa Perancis. Di sana dia jatuh cinta dengan seorang lelaki. Hubungan mereka berlangsung selama tiga minggu, sampai suatu malam Maria memutuskan untuk berlibur dan berjalan-jalan ke gunung di luar kota Geneva. Akibatnya, Maria dipecat karena dianggap mencontohkan yang tidak baik kepada gadis-gadis lain di tempatnya bekerja. Kekasihnya entah ke mana, mungkin sudah kembali ke daerah asalnya. Dan beberapa bulan setelah uang pesangonnya menipis, di situlah bermula dia menjalani pekerjaan sebagai seorang pelacur. Maria mempunyai prinsip bahwa dia hanya akan menjalani profesi ini selama setahun. Setelah uangnya terkumpul, dia akan kembali ke desanya dan memulai kehidupan baru di sana. Kepada orangtuanya, ia mengabarkan bahwa pekerjaannya menyenangkan dan dia mendapatkan uang yang cukup.

Lalu seorang pelukis bernama Ralf Hart muncul dalam kehidupan Maria. Bermula ketika ia sedang duduk di sebuah kafe, Ralf sedang melukis seorang ahli kimia ternama. Dia meminta Maria untuk tunggu sebentar karena dia akan melukis Maria, begitu katanya. Ralf sangat tertarik kepada Maria karena dia mengaku melihat cahaya dari dalam diri wanita tersebut. Begitu perkenalan dimulai di antara keduanya, Maria mengaku bahwa pekerjaannya adalah seorang pelacur. 

Pertemuan mereka tidak hanya terhenti saat itu juga. Beberapa kali mereka bertemu, menyadarkan Maria bahwa dia jatuh cinta kepada lelaki itu. Di situ pula tameng-tameng emosional Maria teruji. Betapa selama dia melakukan pekerjaannya itu, Maria hanya menganggap seks sebagai sebagai sebuah kewajiban dari pekerjaan, bukan sesuatu yang sakral, atau bahkan penyatuan dua jiwa. Dan juga apakah komitmennya untuk pulang akan terlaksana, atau justru dia akan mengikuti cinta sejatinya.


***


Saya sudah menyinggung di depan bahwa novel ini menceritakan tentang seks, dari sudut pandang seorang pelacur. Yang di mana, banyak sekali prasangka kita didobrak dan dihancurkan ketika mengupas lembar demi lembar saat membacanya. Saya kasih bintang dua bukan karena novel ini tidak bagus, bukan juga tema yang diangkat masihlah tabu untuk saya bahas atau bicarakan. Hanya saja, maybe it just not my cup of tea. Tapi saya sudah melahap habis buku ini, dan tidak ada salahnya ada beberapa hal yang mau saya tuliskan di sini. :)

Seks memang pembahasan yang masih sangat tabu untuk dibicarakan. Bukan berarti tidak baik, justru kalau dipelajari, mendapat pembahasan yang sesuai dan pas, kita jadi mendapat informasi dan pencerahan tentang ini. Saya memutuskan untuk baca juga selain penasaran, juga karena ingin... apa ya, menantang Paulo yang menuliskan cuplikan berikut di blurb-nya:


Dalam novel yang sungguh berbeda ini, Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita, dan membuat kita benar-benar terperangah.

Bagaimana tidak, membicarakan seks dari sudut pandang seorang pelacur? How come? Ini adalah tanda tanya pertama saya. Lantas setelah membacanya, pemikiran saya tentang tema yang diangkat jadi sedikit terbuka. Bukan berarti bahwa saya menyetujui atau membenarkan profesi tersebut, tidak sama sekali. Saya masih berpegang pada prinsip saya bahwa seks di luar koridor yang benar (pernikahan) adalah terlarang. Dalam keyakinan dan ajaran agama saya pun sudah tegas dijelaskan bahwa janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al Isra: 32). Nah terus gimana, Nis?

Saya belajar banyak hal dari tokoh Maria. Maria mengajarkan bagaimana memaknai hubungan seksual tidak hanya sekadar penyatuan fisik semata, melainkan membawanya ke sesuatu yang sakral. Nah, di mana coba kita bisa menemukan tempat bahwa aktivitas tersebut bermakna lebih dalam? Ya di pernikahan. Itulah mengapa pernikahan ada, untuk memberikan ruang yang baik dan benar untuk memenuhi hasrat seksual yang memang sudah menjadi kodratnya manusia. Bukan berarti saya menganggap tabu obrolan seputar ini, tidak lho. Saya welcome saja. Hanya memang, pendidikan seks usia dini di kalangan kita sangat terbatas. Anak-anak remaja yang rasa ingin tahunya sangat besar tidak mendapatkan wadah yang tepat untuk memuaskan dahaganya akan informasi yang benar. Nah loh jadi panjang lebar dan ke mana-mana deh review ini. Setidaknya, sampai di sini, Anda sudah mengerti kan ya saya ada di jalur dan prinsip yang mana. :)) 

Brida

Judul : Brida
Pengarang : Paulo Coelho
Penerjemah : Olivia Gerungan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792299427
Tebal : 232 Halaman
Rating : 2 dari 5



Semua orang memiliki "Takdir" yang harus dijalani. Takdir Brida adalah memiliki "bakat" dan sedang berusaha untuk menjalaninya. Dan kehidupan mengarahkannya pada sebuah pencarian. Brida kemudian menemukan seseorang yang bisa menuntunnya untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hidupnya. Namanya Sang Magus. Brida mengatakan bahwa ia ingin mempelajari sihir. Magus adalah seorang Guru. Dengannya, Brida merasa bahwa dia akan menemukan pencariannya. Magus melakukan tes pada Brida dan ternyata dia lolos ujian pertamanya. 

Oleh karena Brida sering mengunjungi toko yang bernuansa okultisme, Brida diarahkan pada guru yang lain, bernama Wicca. Bersama Wicca, Brida diajarkan Tradisi Bulan. Brida dibawa ke masa lalunya di mana dia adalah seorang bernama Loni yang hidup pada masa abad pertengahan, seseorang yang sedang menanti detik-detik ajalnya. Sebelum ia kembali pada kesadarannya, ada Suara-Suara yang mengatakan bahwa: "Dalam hidup, setiap wanita bisa menggunakan Empat Cincin Pewahyuan: Sang perawan, santa, martir, dan penyihir." Melalui Loni, dikatakan bahwa ia telah menguasai cincin Sang Martir.

Brida berjanji pada dirinya sendiri bahwa jika dia mengalami perkembangan dalam menemukan jalannya, ia akan kembali bertemu dengan Sang Magus. Brida kembali menemuinya. Dari awal pertemuan, Magus meyakini bahwa Brida adalah Pasangan Jiwa-nya. Seseorang yang mempunyai tanda cahaya di bahu kirinya. Pada saat tertentu juga akhirnya Brida menyadari kalau Lorens kekasihnya, yang dia harapkan sebagai seorang Pasangan Jiwa-nya adalah bukan. Brida mendapati kenyataan bahwa Magus-lah yang menjadi pasangan jiwanya, meskipun dia tidak dapat menghilangkan Lorens dari kehidupannya begitu saja.



Waduh ini bagaimana ya? Nggak ngerti ini maksudnya apa, hahaha. Baru kali ini baca novelnya Paulo Coelho tapi nggak berada di satu frekuensi. Padahal saya cukup akrab dengan bacaan seputar penyihir, yeah, hidup saya penuh dengan imajinasi dan fantasi seputar wizarding world of Harry Potter, tema seperti ini tidaklah asing. Bahkan kalau mau, istilahnya, "merasionalkan" dunia sihir-sihir itu sih nggak susah ya, tapi... tetap aja nggak nyambung. Tapi so far, saya baca sampai habis, itu juga berkat dorongan "sesuatu" yang dari pertengahan saya prediksi bakal muncul dalam novel ini tapi nyatanya... sampai akhir nggak nemu yang awalnya sudah saya ekspektasikan. Cerita tentang Tradisi Bulan dan Tradisi Matahari beberapa kali mengingatkan saya sama para sufi, in a different way tentu saja. Tapi harapan saya sampai ending nggak terpuaskan. 

Kesimpulannya, harus puas di dua bintang. Jadi kangen Santiago sama Aleph.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)