Showing posts with label Grasindo. Show all posts
Showing posts with label Grasindo. Show all posts

Semua Ikan di Langit

Judul : Semua Ikan di Langit
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 259 Halaman
Cetakan Pertama, Februari 2017
ISBN : 9786023758067
Rating : 4 dari 5



"Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang.
Kesedihan Beliau membunuh keajaiban.
Kemarahan Beliau berakibat fatal."
***

Blurb:

"Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan— mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang… bahkan kadang-kadang, menyaksikan aksi pencurian. 

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu." 

***

Ikut PO dan dapat tanda tangan, hehe


Mungkin ada spoiler di dalam sini. Saya tidak tahu apakah ulasan saya ber-spoiler atau tidak (makanya saya berikan kata "mungkin" di kalimat sebelumnya). Karena, sewaktu saya menceritakan kesan terhadap buku ini ke teman, dia bilang saya lagi spoiler-in dia =)) Padahal saya tidak bermaksud demikian dan sebelumnya, tidak menganggap itu adalah pernyataan yang membocorkan plot penting dalam cerita. Maafkan saya kalau begitu :D Jadi, saya peringatkan kalian terlebih dahulu, ya.

Disadari atau tidak, setiap penulis adalah tuhan bagi ceritanya. Mereka menciptakan plot dan membuat jalinan takdir bagi tokoh-tokoh di dalamnya. Mereka menggerakkan karakter tersebut dengan sebab-akibat yang sudah dirancang dengan niat, membiarkan sepercik takdir untuk menghiasi kisah-kisah itu. Mereka pula yang memberikan akhir yang menutup lembaran kisah tersebut. Setidaknya, kesadaran itulah yang saya dapatkan ketika selesai membaca Semua Ikan di Langit karya Ziggy yang ini.

Semua elemen cerita dalam kisah di dalamnya, berisi tentang imajinasi tentang banyak hal. Mulanya, kau akan mengira bahwa ini adalah kisah fantasi biasa, yang disajikan dalam sudut pandang saya yang adalah sebuah Bus Damri (selanjutnya saya juga akan menyampaikan dengan nama lain: Saya) jurusan Dipatiukur-Leuwipanjang. Namun, dalam perjalanannya, kau akan menemukan makna. Banyak makna dan alegori tentang kehidupan tersaji dengan indah di sini; makna baik dan buruk, tentang cinta dan benci, ketakutan-ketakutan, dan tentang penghambaan pada Tuhan. Cerita tentang spiritualitas manusia disampaikan melalui analogi-analogi yang berada pada sudut pandang tokoh yang tidak lazim: Bus Damri, kecoa, bahkan seorang anak kecil.

Saya merasakan kesusahan ketika sedang menggarap ulasan ini. Bagaimana tidak, bahkan ketika membacanya pun, ledakan emosi yang muncul dari saya serupa roller coaster sedang bergerak menjalani lintasannya yang tidak lazim. Ada titik di mana saya memahami konteks yang sedang Ziggy bicarakan, ada pula kalanya saya begitu takut, teramat sangat takut dengan kedewaan imajinasi penulis yang begitu mencengangkan. Lalu, pada akhirnya, sebuah pemahaman muncul yang membuat saya memberikan apresiasi besar pada karya ini. Dengan pemahaman menyeluruh dari elemen buku ini, saya rasa PANTAS (dengan huruf kapital) buku ini menjadi pemenang utama (dan satu-satunya) dalam Sayembara Novel DKJ. Ya, komentar ini memang belum valid karena saya belum membaca novel pemenang unggulan lainnya sebagai pembanding novel ini. Namun, melihat keseluruhan kisah ini, saya bisa memastikan bahwa Semua Ikan di Langit melampaui ekspektasi tentang dimensi-dimensi kelayakan sebuah karya menjadi juara. Mulai dari plotnya yang teramat sangat tidak biasa, lalu kemampuan penulis dalam meramu ceritanya, dan ketepatan penulis dalam merancang universe dalam ceritanya.

Sebuah cerita fantasi tidak dikatakan absurd (meskipun tidak nyata dan tidak masuk akal), ketika elemen-elemen yang dikandungnya tersaji dengan logis. Bus Damri tidak hanya sekadar sebuah benda mati ketika penulis memberikan nyawa padanya. Kemampuan membaca pikiran manusia dari lantai yang dipijak mereka (dan ini konsisten dengan tokoh Beliau yang tidak pernah menginjakkan kaki di sana sehingga Saya tidak bisa membaca isi kepala Beliau), Saya yang menangis melalui kaca spion, Saya yang ketika marah menyemburkan asap dari knalpot, dan masih banyak perilaku manusia lain yang dilakukan oleh Saya ini. Lalu, kekonsistenan Nad si Kecoa yang cerdik, sehingga membantu Saya menginterpretasikan ruang dan waktu yang tengah berjalan saat itu. Bagi saya, selama membaca Semua Ikan di Langit, saya menikmati berfantasi bersama Ziggy dengan tidak mengeluhkan plot hole atau kerancuan kontennya di sana.

Perjalanan Saya yang begitu biasa, melintasi trayek Dipatiukur-Leuwipanjang yang dipenuhi oleh manusia-manusia dengan segala macam isi pikiran mereka, menjadi tidak biasa ketika Beliau datang dan menjadi salah satu penumpangnya. Saya tahu bahwa Beliau istimewa ketika Saya menyadari Beliau tidak menginjakkan kaki di lantai bus sehingga Saya tidak bisa mengintip isi pikiran Beliau. Sesuatu yang tidak biasa tentu memancing rasa penasaran, kan? Bahkan jika yang mengalaminya sebuah bus damri. Perjalanan itu menjadi luar biasa ketika Beliau mengajak Saya pergi bertamasya melintasi ruang dan waktu bahkan hingga sampai ke angkasa luar. Tamu mereka pertama adalah seekor kucing dari kamar paling berantakan di seluruh dunia (saya yang kamarnya tidak pernah rapi merasa tersindir, haha). Dan dari pertemuan-pertemuan lainnya, Saya berkenalan dengan Nad, seekor kecoa yang anaknya sudah mati menjadi ikan julung-julung yang mengikuti Beliau ke mana saja. Lalu, perjalanan itu terus saja berlangsung, menemukan mereka dengan tokoh-tokoh lain dan cerita-cerita luar biasa para penumpangnya.

Nah, mungkin di bagian ini spoiler-nya:

Seperti yang saya katakan di awal, bahwa seorang penulis adalah tuhan bagi kisahnya. Namun, bagaimana jika seorang penulis menciptakan tuhan dalam tulisannya? Awalnya saya membaca tulisan tentang ulasan novel ini yang mengatakan bahwa semoga tidak dianggap "penistaan" tentang novel ini. Si penulis ulasan membubuhkan tanda kutip di sana. Saya pun memberikan tanda kutip di sini. Pada akhirnya, setelah membaca bab tertentu menjelang akhir, lalu saya paham apa yang dimaksud dengan kalimat itu. 

Interpretasi saya tentang Beliau menjadi secerah mentari ketika saya menyadari bahwa Beliau ini adalah sosok pengandaian ilahiah (mengutip kata Raafi dalam ulasannya tentang buku ini). Saya terperenyak cukup lama saat kesadaran itu tiba. Wah. Bagaimana bisa demikian? Bagaimana mungkin bisa mencipta Tuhan yang menginterpretasikan sifat Tuhan dalam wujud manusia? Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang mengganggu benak saya sehingga saya memutuskan untuk break cukup lama saat membacanya. Lalu, setelah jeda waktu tersebut, saya kembali melanjutkan membaca novel ini. Ketakukan saya tentang sosok Tuhan dalam anak kecil tersebut perlahan sirna ketika saya mencoba mengubah sudut pandang dan meletakkannya di kotak "fantasi" alih-alih menempatkan Beliau sebagai manifestasi tuhan. Dan dengan pengubahan sudut pandang itu, syukurlah melahirkan banyak pemahaman-pemahaman baru dalam diri saya. Tentang bagaimana alegori yang tersaji dalam bus damri dan kecoa itu melahirkan sebuah gagasan tentang konsep ketuhanan yang pada dasarnya melekat dalam diri setiap manusia. Tentang pembangkangan dan cara mereka memancing murka Tuhan, yang dalam kitab suci pun tersampaikan dengan jelas (tentang kisah sapi betina maupun kaum Bani Israel, misalnya). Namun sayangnya, manusia zaman sekarang ada yang alergi jika diberikan kisah-kisah dalam sudut pandang agama. Meskipun, konten dan maksud cerita itu sama. Pada kisah ini, cerita-cerita tersebut tersaji dalam balutan imajinasi fantastis dengan (yang saya dapatkan dan rasakan) maksud sama. 

Terkesan berat, ya? Hahaha. Tapi, percayalah, ketika kau masuk ke dalam bus damri dan ikut melakukan perjalanan dengan Saya, Nad, dan Beliau, kau akan terbang bersama mereka, melintasi pemahaman demi pemahaman tentang konteks keilahian di sana. Kalaupun kau memilih tidak percaya pada muatan teologis yang tersaji di dalam kisah ini, kau hanya cukup duduk diam dan menikmati isi kepalamu dibaca dengan jelas oleh Saya, si Bus Damri gendut yang begitu mencintai Beliau sehingga Beliau pun mencintai Saya dengan segitu besarnya.

Kalau dibandingkan dengan Di Tanah Lada, jelas Ziggy naik kelas dengan lonjakan prestasi yang luar biasa.

Tambahan: Ilustrasinya cantik banget! Kusuka! Kusuka!



Gambar diambil dengan screenshot dari aplikasi SCOOP






Lost and Found

Judul : Lost and Found
Penulis : Dy Lunaly
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 250 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2016
ISBN : 9786023757077
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Setiap benda akan patah. Termasuk hati. Walau sudah delapan tahun berlalu, hati Illa masih patah dan jiwanya rusak. Sampai detik ini dia masih tidak memiliki kepercayaan diri untuk kembali berurusan dengan cinta. Bukan tanpa alasan, dia takut untuk kembali terluka, mental dan fisik.

Illa menjalani hidupnya dengan membuka sebuah toko bernama My Ex-Boyfriend di sudut jalan Braga. Toko yang menarik perhatian banyak orang karena tokonya khusus menjual barang pemberian dari mantan. My Ex-Boyfriend tidak pernah sepi membuat hidupnya cukup sibuk dan untuk sesaat dia berhasil melupakan sesuatu yang bernama cinta. Hingga seorang pria tidak sengaja hadir dalam hidupnya.

Mungkinkah hati yang tidak hanya sudah patah melainkan berderai mampu kembali utuh? Mungkinkah rasa percaya yang sirna karena pengalaman buruk mampu kembali untuk percaya?

Pada akhirnya, akankah tragedi menghasilkan bahagia?


***

Illa mendiami lantai dua toko uniknya yang bernama My Ex-Boyfriend. Tak kalah unik pula, tokonya memiliki ciri khas dengan menjual barang-barang milik mantan. Illa memberikan sentuhan pada benda-benda itu hingga akhirnya layak jual. Di My Ex-Boyfriend, biasanya orang-orang memberikan begitu saja barang-barang peninggalan mantan mereka. Ada pula, kiriman-kiriman yang disertai dengan surat-surat yang berkisah tentang banyak hal, terutama tentang barang yang mereka kirim untuk "dibuang" dalam kehidupan mereka.


Hai Illa,
Akhir-akhir ini aku dihantui satu pertanyaan, di mana kita menyimpan kenangan?
Tidak mungkin pada barang karena sekalipun kita sudah membuang atau menjualnya, kenangan selalu menemukan cara untuk kembali. Dan tidak juga pada ingatan karena seharuasnya kita belajar untuk melupakannya.
Jadi, di mana kita menyimpan kenangan? ---halaman 7

Illa mendapatkan seorang pengunjung, pria bernama Pandu yang ternyata tempat tinggalnya tidak jauh dari tokonya berada. Namanya Pandu, dan dia memborong album foto untuk didesain ulang menjadi sebuah diorama.

Kehadiran Pandu, tidak sebatas itu saja. Pria itu bahkan sudah mengenal Illa jauh dari sebelum pertemuan pertama mereka berlangsung. Apalagi, setelah bantuan demi bantuan tak terduga yang diberikan Pandu padanya, berhasil membuat ia meyakinkan diri untuk membuka sebuah kisah baru di balik cerita lamanya sebagai seorang penyintas sesuatu di masa lalu. Sosok Danang dalam hidupnya berhasil menorehkan luka lama yang tak kunjung mereda. Belum lagi, cerita-cerita seputar kehilangan orang-orang terdekatnya, membuat Illa begitu takut untuk melangkah ke depan.


"Kamu tahu, mengingat kenangan yang membahagiakan jauh lebih sakit daripada mengingat kenangan buruk. Karena kita tahu kenangan bahagia itu nggak mungkin terulang." ---halaman 138

Apakah Pandu cukup memberikan "arti" dalam kehidupan Illa lebih dari sekadar ia membantunya di kala dibutuhkan, dan ia mengetahui makanan kesukaan Illa yang sering dipesannya di kafe miliknya?


***

Lost and Found adalah buku pertama dari Dy Lunaly yang saya baca, setelah sekian lama mem-follow penulis pada akun media sosialnya. Menurut saya, buku ini cukup bagus. Cara penulis mengemas ceritanya menarik. Apalagi, menemukan tema yang untuk untuk dijadikan bahan baku pembuatan novelnya, sungguh merupakan ide yang brilian. Bagi saya, kisah yang bagus itu yang memiliki kedekatan personal dengan pembacanya. Dan memberikan kisah pada barang-barang pemberian mantan, jelas berhasil memberikan kedekatan itu. Siapa sih yang nggak pernah dikasih barang spesial dari orang yang pernah spesial dalam kehidupan kita? Saya yakin, pembaca (atau minimal saya, deh), langsung terngiang pada benda-benda apa saja yang pernah diberikan mantan pada saya, dan kenangan yang tersimpan pada barang tersebut kembali menguar... dan membuat laper. (Hehehe, saya anti baper.)

Salah satu keunggulan yang dimiliki penulis adalah, berhasil menempatkan deskripsi setting dengan apik. Sudut-sudut Jalan Braga memiliki aura magisnya yang menyenangkan, membuat saya yang bukan orang Bandung merasa berada di sana, menikmati arsitektur bangunan tua yang menawan di sepanjang jalannya. Fix lah, kalau ke Bandung lagi saya harus menikmati sepanjang jalan ini.


Salah Satu Sudut Jalan Braga (Sumber Gambar)

Kisah yang terjalin antara Illa dan Pandu pun, cukup menarik untuk disimak. Bagaimana pertemuan pertama yang memancing pertemuan-pertemuan selanjutnya, tentang Illa yang berusaha keluar dari kungkungan masa lalunya yang berat, juga Pandu yang mulai menceritakan dan menguak cerita kelam masa lalu pria itu. Semuanya, terjalin dengan cukup manis.

Secara umum, Lost and Found berhasil menyuguhkan kisah menarik yang layak untuk dibaca. Meskipun, ada beberapa hal yang menurut saya bisa tersaji lebih bagus lagi. Pertama, saya kesulitan menemukan deskripsi fisik tokoh-tokohnya, terutama Illa. Atau mungkin saya yang kelewat bacanya? Entahlah. Dalam bayangan saya, Illa adalah sosok enterpreneur muda yang memikat dan menarik. Namun ternyata, di tengah menuju akhir, justru saya mendapatkan sebuah fakta tentang adanya kata-kata bahwa Illa ini "jelek, lemah, sama sekali nggak menarik". Wow. Satu kalimat itu berhasil membuyarkan bayangan saya tentang Illa yang sudah dibangun dari awal. 

Yang kedua, barangkali ada hubungannya dengan ulasan saya sebelumnya. Ada beberapa bagian yang menurut saya, penulis masih menggunakan teknik "tell" dalam penyajiannya. Misalnya, ungkapan "jelek" itu tadi. Alih-alih menuliskan jelek, alangkah lebih baiknya diberikan beberapa fakta yang bisa disimpulkan sendiri oleh pembaca tentang itu. Entah mungkin dalam deskripsi fisik, atau dari kesan-kesan tokohnya. Padahal, belum tentu sesungguhnya seperti yang digambarkan dalam satu baris kalimat itu. Sebenarnya, kerasa banget itu saat adegan Illa mendapatkan surat yang menyertai barang-barang yang dikirim ke My Ex Boyfriend. Obrolan tentang isi surat yang dibahs kedua tokoh di sana, menjelaskan bahwa suratnya "sedih banget" sampai ada yang menangis karena membacanya. Saya jadi penasaran, memangnya sesedih apa sih isi suratnya? Karena di awal seolah sudah didikte bahwa pasti bakalan sedih. 


Kesedihan seperti apa yang ditanggung hingga dia tidak mampu menahan air matanya ketika menulis surat ini? ---halaman 16

Ternyata, isi suratnya memang sedih. Hanya saja, menurut saya, sebaiknya tidak ada pernyataan tentang sedih itu duluan. Membiarkan pembaca merasakan sendiri kesedihannya tanpa harus didikte duluan, efeknya bakal lebih personal ketimbang di-"tell" duluan di depan.

Satu lagi, mohon maaf, saya tidak berhenti memikirkan Danang Dangdut Academy Asia saat melihat nama Danang muncul di buku ini (#initidakpenting).

Tentang barang-barang pemberian mantan (entah mengapa saya kepingin bahas ini juga di sini), saya meyakini bahwa setiap benda itu mempunyai cerita. Apalagi, ketika barang itu diberikan oleh orang yang pernah punya cerita dalam kehidupan kita. Saya nggak punya mantan sih, sebenarnya (hahaha, bohong banget!). Saya anggap mereka adalah orang yang pernah dekat secara personal dengan saya, dan memiliki arti dan tempat khusus yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Saya pernah diberi beberapa benda istimewa. Ada jilbab (yang sampai sekarang nggak pernah saya pakai lagi, wkwkw), tapi lebih banyak buku. Saya punya beberapa buku dari orang-orang istimewa. Dan ketika kehidupan saya tidak lagi bersinggungan dan berada pada rel yang sama dengan mereka, saya lebih memilih untuk menyimpan kenangan itu dan tidak tertarik untuk membuang atau mengalihkan kepemilikan ke orang lain. Karena, bukan bendanya yang menjadi masalah, tetapi bagaimana cara kita menata hati yang menjadikan kenangan itu tidak dalam posisi yang destruktif. (Saya memang nggak buang barangnya, tapi block orangnya di media sosial, hahaha #lah) Tapi saya dapat hikmah dari barang pemberian mantan ini. Saya dapat boneka beruang besar warna biru yang aslinya, diberikan oleh mantannya si adik, ke adik saya. Nah, barang pemberian mantan terkadang mempunyai hikmah menyenangkan, bukan?

Tuh kan benar, membuat cerita yang dekat dengan pembaca itu, berhasil menempelkan kesan dalam benak yang tidak mudah untuk hilang.

Oke, itu dia sedikit ulasan saya. Lost and Found adalah perkenalan pertama saya dengan penulis, dan sepertinya, perkenalan ini akan berlanjut ke karya-karya penulis lainnya. 

Mendengarkan Coldplay

Judul : Mendengarkan Coldplay
Penulis : Mario F. Lawi
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 52 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2016
ISBN : 9786023756292
Rating : 2 dari 5




Mendengarkan Coldplay adalah sebuah buku puisi yang mengambil tema cerdas, menggunakan judul lagu Coldplay sebagai judul puisinya, di mana isi puisi-puisinya terkadang setema atau se-feel dengan lirik lagu Coldplay. Namun, puisi penulis kebanyakan bercerita dengan unsur religi kristiani. Sepertinya lho ya, mengingat saya tidak paham dengan ajaran kristiani yang diangkat oleh penulis. Tapi tidak semua kok, ada juga yang bercerita tentang kisah cinta, yang bisa diartikan secara universal.

Saya membaca buku puisi ini tentu saja sambil mendengarkan lagu Coldplay yang dimaksud. Dan supaya lebih meresapi (mengingat listening saya buruk banget), saya cari lagu-lagu di Youtube yang ada liriknya. Ada beberapa yang punya feel selaras dengan lagunya, misalnya See You Soon yang sama-sama mengangkat cerita tentang kehilangan teman (dalam harfiah maupun kehilangan orientasi kehidupan, atau iman(?) entahlah). Terkadang, karena saya tidak menemukan keselarasan atau kesesuaian tema lagu dengan kandungan puisi, saya mengulang-ulang lagu yang dimaksudkan. Dan, untungnya ini adalah Coldplay, yang mana bahkan diputar berkali-kali pun, lagunya tetap bagus dan kau tidak akan menyesal melakukannya. Asal lagi punya banyak waktu saja sih, hehehe.

Sebenarnya, perilaku itu (membandingkan isi lagu Coldplay dan isi puisi Mendengarkan Coldplay) bisa dibilang kurang dibenarkan, menurut saya. Karena, bisa saja keduanya berdiri sendiri, tidak beririsan. Mungkin penulis hanya terinspirasi dari sepotong kata dalam judul yang sama, tapi interpretasi yang ada di dalamnya tidaklah sama. Misalnya, saya tidak menemukan kesesuaian itu pada In My Place. Puisinya, saya mengartikan tentang... oke, saya kurang paham dengan makna puisi itu. Namun, saya bisa merasakan feel yang terbangun dari musik dan lirik Coldplay di judul yang sama, bahwa lagunya bercerita tentang orang yang merasakan kehilangan seseorang dan tengah berjuang untuk menunggunya datang kembali.

Pada Yellow, saya merasakan adanya ikatan yang kuat tentang perasaan jatuh cinta. Di The Scientist, justru puisinya berisi satu kalimat bermakna dalam:

Bagaimana cara membangkitkan orang mati?

Begitu saja. Padahal, The Scientist adalah salah satu lagu Coldplay yang saya suka sekali. 

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard

Oh, take me back to the start

Sebenarnya, memaknai puisi ini bisa dengan dua cara, dengan atau tanpa mendengarkan lagu Coldplay. Intinya, sama-sama tentang penyesalan, bagaimana caranya memperbaiki hubungan jika orang yang pernah kita lukai itu sudah tiada? Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap darinya.

Fix You, adalah lagu kesukaan saya lainnya setelah The Scientist. Lagunya sendiri bercerita tentang seseorang yang selalu ada, untuk orang lain. Yang bahkan, mungkin saja keberadaannya tidak disadari. Namun, orang itu selalu ada, membantunya memperbaiki semua kesalahan, semua keadaan.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Sebenarnya lagu ini kental sekali dengan konsep ketuhanan jika mau mengambil dari sudut pandang itu. Namun, dalam puisinya, saya tidak merasakan perasaan yang begitu kuat yang tecermin dalam bait-bait puisinya. Atau, mungkin pemahaman saya saja yang tidak sanggup meninterpretasikan tiap bait kata yang dituliskan penulisnya di sana.

Tentu saja, jika saya mendedah satu per satu judulnya, di mana ada dua interpretasi berbeda yakni dari sudut pandang lagu Coldplay lalu puisi-puisi di sini, tentu akan memakan banyak sekali ulasan. Akhirnya, saya hanya bisa memberikan kesimpulan beberapa hal tentang buku puisi ini:

Pertama, konsepnya menarik. Kedua, andai saja tidak ada benang merah dengan lagu-lagu Coldplay, saya rasa saya tidak akan cukup memiliki ketertarikan dengan puisi ini. Kalaupun membacanya di luar konteks dari lagu-lagu Coldplay, sepertinya saya akan kesulitan mencari makna yang terkandung dalam isinya. Bukan berarti tidak bagus. Hanya saja, saya yang awam tentang kisah biblikal, tentu tidak akan mengerti beberapa cerita yang diangkat di sini. (Lagi pula, ketertarikan untuk mencarinya di mesin telusur pun belum ada.)

Bintang dua yang saya berikan di sini bukan karena puisinya tidak bagus, wah, kata-katanya bagus kok dan sarat makna. Bukan pula saya anti membaca kisah-kisah biblikal. Saya rasa, alasan saya bukan karena itu. Hanya saja, saya yang kurang bisa menangkap makna tersebut. Lalu, yang ada saya justru malah lebih tertarik ke kutub lirik dan lagu Coldplay, bukan justru masuk ke dalam semesta baru yang ditawarkan oleh penulisnya melalui untaian kata-katanya. 

Secara umum, kata-kata yang membekas hanya ada pada sebaris puisi di judul The Scientist itu saja (itu pun lebih karena kekuatan pengaruh lagunya, ketimbang puisinya). Dan akhirnya, saya tidak lagi berusaha memahami puisi-puisinya tapi justru melanjutkan playlist Coldplay, dan hanya membuka-buka sekilas lembaran puisi ini.


[Blogtour+Giveaway] Infinity

Judul : Infinity
Penulis : Mayang Aeni
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 250 Halaman
Cetakan Pertama, Desember 2016 
ISBN : 9786023757657
Rating : 3 dari 5

*Ikuti giveaway di akhir rewiew ini*


"Kalau manusia bisa milih sendiri takdirnya, dunia jadi nggak seimbang. Bakal banyak manusia yang tersakiti karena nggak dipilih." ---halaman 174

Blurb:


Bani kehilangan satu-satunya rumah untuk pulang ketika Bunda yang disayanginya meninggal dunia. Di saat tidak ada satu pun orang yang berdiri di sampingnya, justru Dinda menjadi satu-satunya yang bertahan untuknya, menemani Bani di saat lelaki itu merasa dunianya tengah runtuh. Dinda bukan sosok yang asing untuk Bani, gadis itu sudah masuk ke daftar orang yang tidak disukainya sejak pertemuan pertama mereka. Tapi semesta seolah berkonspirasi untuk mempertemukannya dan Dinda dalam suatu liburan keluarga, sampai akhirnya Dinda pun mulai mengetahui sedikit demi sedikit rahasia yang Bani simpan. Termasuk rahasia tentang keluarga Bani yang semula tersimpan rapat. Keberadaan Dinda selepas kepergian Bunda di sisi Bani perlahan-lahan membantu Bani untuk bangkit kembali, berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Dengan Dinda, Bani menemukan kembali rumahnya untuk pulang.

***

Bani dan Dinda bertemu di awal kelas sebelas, saat Dinda yang merupakan murid pindahan dari Bandung masuk ke sekolah yang sama dengan Bani. Dengan dalih tidak merasakan MOS, geng populer Bani melakukan masa orientasi mereka sendiri terhadap Dinda. Dan karena Dinda tidak diam saja saat diperlakukan semena-mena, dia menjadi sasaran incar Bani yang memperpanjang hukuman untuk Dinda, selama satu semester.

Di akhir semester ganjil, Dinda terpaksa ikut ibunya liburan ke Lembang, rumah sahabat Mama yang lama tidak ketemu. Padahal, Dinda ingin berlibur ke tempat nenek. Akhirnya, masa liburannya harus dihabiskan di Lembang, tempat tante Ambar berada. Dinda dikejutkan dengan penampakan sosok tak asing yang ada di rumah itu, Bani! Ternyata, Bani adalah anak tante Ambar! Dan berkebalikan dengan sikapnya yang bossy dan menyebalkan di sekolah, Bani yang dia lihat saat itu adalah Bani yang manja. Pokoknya, kepribadian Bani sangat bertolak belakang. Dinda merasa, liburannya bakal kian menyedihkan. Namun, dia senang juga karena mengetahui sisi lain dari Bani. Setidaknya, kalau Bani macam-macam lagi di sekolah, dia bisa membeberkan fakta itu.

Secara mengejutkan, berita kematian Tante Ambar datang ketika mereka selesai berlibur di sana. Saat itu, Dinda lagi menghabiskan sisa masa liburan di rumah nenek. Dinda jadi teringat cowok itu, Bani, dan bagaimana perasaannya ketika kehilangan sosok ibu yang sangat dicintainya itu? Apakah dia akan baik-baik saja?

Selepas kepergian ibunya, hidup Bani yang memang sudah suram menjadi bertambah muram. Dia benci dengan ayahnya yang secara tidak langsung membuat Bani dan ibunya terusir dari rumah saat menikah lagi. Apalagi, saudara tirinya ternyata satu sekolah dengannya. Bani yang memutuskan membenci orang-orang yang sudah merusak hidupnya itu memilih untuk semakin membenci mereka. Dinda, yang ternyata mengetahui sisi kelam Bani tersebut, mencoba menariknya dari kubangan duka, dan membantunya untuk memaafkan mereka semua. Di sisi lain, Bani menemukan sosok Dinda yang mengingatkannya pada kasih sayang ibunya yang telah tiada.

Apakah usaha Dinda bakal berakhir?

***

Satu lagi teenlit yang saya baca bulan ini. Bisa dibilang, Infinity menyuguhkan kisah love-hate relationship yang dialami oleh remaja seusia SMA. Dibalut dengan gaya tutur yang renyah, dan juga konflik khas anak SMA, yaitu tentang pembullyan, geng populer, dan kisah cinta yang melingkupinya.

Mulanya, saya merasa ada kemiripan plot yang membuat saya teringat dengan Petualangan Sherina. Cewek jago yang ternyata menangkap basah cowok sok jago yang di rumah anak mami. Eh tapi, untungnya nggak sama persis kok, apalagi setelah kejadian di Lembang itu, semuanya berjalan dengan plotnya sendiri.

Saya suka dengan karakter Dinda meskipun agak aneh dengan Bani. Tapi, Bani memang sepertinya diset seperti itu, cowok populer yang ternyata rapuh. Banyak permasalahan tentang keluarganya yang membuat karakter Bani menjadi seperti itu.

Perubahan yang dialami karakternya berjalan dengan natural. Konflik yang terjadi beserta cara penyelesaiannya pun cukup apik. Bagaimana peran masing-masing karakternya bekerja saling melengkapi, memberikan sumbangsih besar dalam perubahan yang terjadi dalam kisah ini. Satu karakter yang saya suka di sini, tentu saja Dinda. Dinda yang karakternya begitu santai, tapi mampu mengubah sosok Bani dan kehidupan keluarganya yang cukup pelik.

Tiga bintang untuk kisah manis Bani dan Dinda.

***

It's giveaway time!




Tidak terasa sudah pemberhentian terakhir dari rangkaian blogtour Infinity. Saya akan memberikan satu buah novel Infinity karya Mayang Aeni untuk kamu yang beruntung mengikuti giveaway kali ini. Caranya mudah sekali lho. Tapi sebelumnya, cek ketentuan berikut, ya:

  1. Giveaway ini hanya untuk kalian yang berdomisili atau memiliki alamat pos di Indonesia.
  2. Follow blog saya melalui akun Google Friend Connect yang ada di sidebar blog ini.
  3. Follow akun twitter @mayangaenii@grasindo_id, dan @niesya_bilqis.
  4. Share giveaway ini di akun twitter kalian. Jangan lupa mention @mayangaenii@grasindo_id, dan @niesya_bilqis, dengan tambahan hashtag #InfinityGA ya. Jangan lupa kasih link menuju giveaway ini.
  5. Quote twit saya yang ini dan lanjutkan kalimat saya di quote kalian.
    Pilih "Kutip Tweet", lalu tuliskan jawaban kalian di sana.
  6. Berikan komentar di bawah postingan ini dengan menuliskan nama, alamat twitter, link share, dan link quote.
  7. Giveaway ini akan berlangsung selama satu minggu dari tanggal 30 Januari hingga 3 Februari 2017. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan satu hari setelahnya yaitu 4 Februari 2017. Apabila dalam waktu 3 x 24 jam tidak ada konfirmasi dari pemenang, akan dipilih pemenang lainnya. 

Semoga kalian beruntung! :)

The Playlist

Judul : The Playlist
Penulis : Erlin Natawiria
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 244 Halaman
Cetakan Pertama, September 2016 
ISBN : 9786023756728
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Musik latar bukan sekadar aksesori bagi Winona. 

Ketika food writer lain memusatkan perhatian pada rasa dan tampilan, Winona akan menajamkan telinganya untuk menilai pilihan lagu di sebuah tempat makan. Baginya, lantunan melodi memberi pengaruh besar terhadap suasana hati pengunjung. Semakin sesuai musik latar dengan hidangan, semakin tinggi penilaian yang akan Winona berikan. 

Hingga kehidupan Winona berubah saat mengunjungi No. 46. Absennya musik latar dan kemisteriusan Aries mengusik benak hingga hatinya. Jerat yang coba dia lepaskan justru menariknya semakin dekat dengan pria yang menyimpan duka dan sepi yang terasa familier baginya. Belum cukup di situ, Winona pun harus berhadapan dengan Ethan—pesona dari masa lalu yang mengisi hidupnya dengan kenangan-kenangan manis. 

Di antara iringan musik latar dan hidangan-hidangan lezat, Winona harus memilih: menghadapi rasa takut yang terus dia hindari atau kembali ke tempat ternyaman yang melengahkan?

***

Winona adalah seorang food writer di YummyFood yang pekerjaannya adalah memberikan ulasan tentang restoran dan kafe yang ada di Bandung. Bersama sahabatnya, Ghina, dia menjajal satu per satu restoran di kota itu, dan memberikan ulasan tentang makanan: baik rasa maupun tampilan, juga suasana di kafe atau restoran tersebut. Karena sebelumnya dia adalah seorang peliput konser musik, Winona menambahkan komentar tentang musik latar restoran pada ulasannya. Menurutnya, itu bisa menjadi ciri khas dalam tulisan maupun ulasan yang dia buat.

Winona punya kisah cinta yang kandas bersama Ethan. Meskipun begitu, keduanya masih berusaha menjalin hubungan dengan baik. Winona masih sering meminta bantuan Ethan. Sementara, Ethan sendiri tampaknya masih ingin berbaikan dan memperbaiki hubungannya dengan gadis itu.

Suatu hari, Winona mendatangi sebuah kafe, namanya No. 46. Winona menikmati sajian yang diberikan di sana yang disajikan oleh chef-nya sendiri, pria misterius bernama Aries. Mereka mengobrol tentang kafe dan makanan. Namun, ada yang kurang dari kafe ini. Winona menyadari kalau tidak ada musik latar di sini. Ketiadaan playlist itu tentu berakibat ketidakberimbangnya ulasan tentang No. 46 di mata Winona. Akhirnya, dia mengalami writer's block, dan menuliskan ulasan dengan tidak sepenuh jiwa.

Rupanya, Aries menyadari bahwa dalam tulisan Winona tentang kafenya itu, tidak ada nyawanya sama sekali. Dan takdir mempertemukan Winona dan Aries kembali. Perlahan-lahan, sesuatu tentang masa lalu menguak satu demi satu, membuat Winona harus memutuskan apa yang akan dilakukannya, atau ke manakah hatinya akan takluk. Pada pria misterius bernama Aries, atau pesona masa lalu yang tidak bisa dilupakan begitu saja, mewujud melalui sosok Ethan.

***

Secara keseluruhan, saya suka aura yang kerasa saat membaca novel ini: ringan dan mengalir. The Playlist, bisa dibilang, mengusung tema yang tidak biasa yakni seputar pekerjaan sebagai food writer, dan konsep musik latar pada restoran atau tempat makan. Hal-hal itu biasanya luput dari pengamatan. Siapa yang tahu bahwa ternyata ada pekerjaan di balik ulasan-ulasan tentang tempat makanan kece dan enak di sebuah kota metropolitan? Dan, siapa sangka premis seputar musik latar bisa menjadi ide utama dari sebuah cerita?

Bisa dibilang, karakter yang ada di novel ini semuanya protagonis. Tidak ada sosok jahat yang benar-benar jahat di sana. Hanya ada pria-pria tampan (atau begitulah kesannya) dan seorang food writer cantik menawan yang tengah melangsungkan pekerjaannya. Dibumbui dengan kisah percintaan yang belum selesai, dan percikan-percikan pesona seorang chef misterius, maka racikan The Playlist dikemas dan dinikmati oleh pembacanya.

Sebenarnya, susah untuk membenci Winona karena tidak ada hal yang bisa membuat pembaca membencinya. Namun, dia tidak terlalu dicintai juga, menurut saya. Biasa-biasa saja. Sehingga, kesan mendalam tentang karakter utamanya bagi saya tidak terlalu kentara. Namun, untuk urusan cowok tampan, rasanya masih didominasi dengan pria setengah bule. Padahal, banyak pria dalam negeri yang ehem, cakep lho. *Lirik Refal Hadi* Dari kedua karakter pria, entah mengapa saya lebih senang dengan Ethan. Porsi Ethan di cerita ini menurut saya lebih banyak, tapi sepertinya yang ditonjolkan di blurb adalah Aries. Menurut saya karakter Aries kurang apa ya..., kurang bumbu. #eh

Sebelum masuk ke bagian yang membuat saya suka dengan novel ini, saya mau mengulas beberapa hal yang menurut saya pribadi kurang suka. Pertama, barangkali ini masalah selera: saya tidak begitu menyukai deskripsi campur Indonesia-Inggris. Kalau di percakapan, sesekali mungkin oke. Namun, kalau di deskrip, rasanya aneh. Pertama, setting-nya di Indonesia, bukan luar negeri. Kedua, barangkali dengan mencampur bahasa seperti itu, berharap mendapatkan kesan memperkuat personality si karakter yang menyampaikan. Tapi rasanya, tanpa mencampur bahasa demikian, kesan berkelas atau pintar itu bisa kok disampaikan.

Lalu, saya merasa janggal dengan plot utamanya, yang tentang "kebohongan". Hmmm, karena khawatir spoiler, mungkin pembahasan saya ini disampaikannya jadi nanggung atau setengah-setengah ya. Tapi, sebisa mungkin saya tidak akan membeberkan plot yang itu. Jadi, ada cerita tentang kebohongan mengenai ulasan Winona yang langsung dibantah oleh pihak ketiga yang merasa dibohongi. Eksekusi yang diberikan penulis untuk membuat ending dari konflik tersebut, menurut saya agak janggal. Kesannya, berlebihan. Seperti..., siapa yang peduli kalau cerita di balik suatu restoran (tentang hubungan personal keluarga yang membuat restoran itu muncul) itu tidak sesuai dengan kenyataannya? Barangkali yang tersinggung hanya orang-orang yang bersinggungan saja. Namun, kenapa harus pakai konferensi pers? Kalau misalnya dia mencuri resep sehingga ada pihak yang dirugikan, atau sesuatu itu berhubungan dengan kebohongan yang dirasakan dampaknya langsung oleh publik, barangkali bisa dieskekusi demikan. Hanya saja, rasanya konflik sesederhana itu tidak pas kalau harus melibatkan konferensi pers.

Terlepas dari kekurangan yang saya sampaikan di atas, saya senang sekali dengan bagaimana cara penulis menyampaikan ceritanya. Saya yakin, riset yang dilakukan penulis pun tidak tanggung-tanggung. Kesan dari satu restoran ke restoran lainnya langsung bisa dirasakan perbedaannya. Tentang ulasan musik-musiknya yang sedikit-banyak disinggung itu pun, juga manis. Apalagi, mengeksekusi hal-hal yang di luar pemikiran itu, rasanya patut diapresiasi. Lagi pula, profesi food writer tidak jauh-jauh dari kegiatan yang dilakukan oleh book blogger. Menikmati, lalu memberikan ulasan. Terlepas dari baik atau ada kurangnya, penulis yang sudah menciptakan karakter Winona selaku reviewer pun, rasanya bisa mengambil sudut pandang yang sama ketika mengulas atau membaca ulasan sebuah buku. Hehe.

Tiga bintang untuk kisah ringannya, dan juga buat Ethan. Ehe.


Jogja Jelang Senja

Judul : Jogja Jelang Senja
Penulis : Desi Puspitasari
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 228 Halaman
Cetakan Pertama, Mei 2016 
ISBN : 9786023754830
Rating : 4 dari 5




"Jangan berpindah agama hanya demi alasan manusia, Mas. Terlebih-lebih cinta." ---halaman 2

Blurb:

Senja di Jogjakarta menawarkan banyak kemungkinan; di antara terang menuju petang; di antara pertemuan dan perpisahan; di antara Aris dan Kinasih.

Aris bertemu Kinasih di pertigaan Pasar Kotagede, saat secara tak sengaja ia menabrak sepeda gadis itu. Sejak kejadian itu, Aris mengantar jemput Kinasih ke tempat kerja, sebab kaki gadis itu terluka, sementara ia belum mampu membayar biaya ganti kerusakan sepeda.

Kedekatan keduanya menumbuhkan cerita baru. Ketika Aris ingin menggenggam erat tangan Kinasih, saat itu pula perbedaan keyakinan menjadi tembok bagi keduanya. Bisakah Aris dan Kinasih melewatinya? 

***

Kinasih adalah seorang gadis perajin perak. Sementara, Aris adalah pemuda yang kesehariannya bekerja di sebuah surat kabar. Keduanya bertemu saat terjadi insiden tabrakan sepeda. Aris yang terburu-buru mengejar liputan tentang pasar Ramadhan, menabrak sepeda Kinasih. Akibatnya sepeda itu rusak. Namun, Aris tidak memberikan pertanggungjawabannya atau kompensasi apa pun karena dirinya dikejar deadline penulisan laporan dan harus segera pergi. Lagi pula, dia belum gajian. Akhirnya, dia hanya memberikan secarik kartu nama tempat dirinya bekerja. Asih yang dongkol karena sepedanya rusak dan lengannya yang terluka hanya mampu menyembunyikan itu dari orangtuanya.

Karena terdesak, akhirnya Kinasih mendatangi tempat kerja Aris. Dan lagi-lagi, dia tidak mendapatkan ganti rugi untuk memperbaiki sepedanya. Karena tidak mau mangkir dari tanggung jawab, Aris memberikan opsi agar dia mengantar Kinasih setiap hari ke tempat kerjanya. Meskipun harus memutari kota Jogja karena lokasi mereka tidak berdekatan, mau tidak mau itulah yang musti dia lakukan.

Dari situlah hubungan keduanya semakin dekat. Diam-diam, Kinasih jatuh hati pada Aris. Namun, ada satu hal yang membentang di antara keduanya. Aris dan Kinasih beda agama. Kinasih yang anak seorang pemuka agama di kampungnya, sementara Aris adalah pemuda Katolik. Ditambah lagi, kehadiran Jeanette, seorang gadis eksektrik anak Jendral dari ibukota yang seiman dengan Aris, turut mewarnai kisah di antara mereka.

Tidak hanya itu saja, konflik yang turut mewarnai kisah ini adalah pergolakan masa rezim tahun 1995-1996 yang begitu kentara. Membuat cerita Jogja Jelang Senja tidak hanya berdimensi konflik cinta segitiga beda agama semata.

***

"Mas, beragama itu tak seperti mengenakan sepatu. Mas kenakan sepasang untuk sekian waktu, bila sudah usang atau memiliki sepasang yang baru Mas copot dan tinggalkan yang lama." ---halaman 185


Bab awal (dan akhir) yang fantastis.

Sejujurnya, saya merasa ketipu saat memaca novel ini. Ketipu habis-habisan. Saya pikir novel ini bercerita tentang roman-roman biasa, kontemporer, ala-ala FTV yang ketemunya tabrakan lalu dibungkus dengan konflik perbedaan agama. Ternyata saya salah besar. Bumbu tentang pergolakan medio 90-an justru lebih kerasa ketimbang plot seputar perbedaan keyakinan tokohnya. Saya baru sadar waktu cerita tentang Marsinah dibahas. Padahal, karakternya naik sepeda dan waktu mau buat berita nulisnya pakai mesin ketik (sense saya sudah luntur banyak ini kayaknya).

Jadi, tersebutlah seorang Aris, pemuda Katolik, mahasiswa yang mengerjakan pekerjaan sambilan sebagai jurnalis sekaligus informan pergerakan. Dia baru saja menabrak Kinasih, seorang gadis lugu anak bapak pemuka kaum di tempat tinggalnya, pekerja di pengrajin perak. Karena sepeda Asih rusak, dan Aris tidak punya cukup uang sampai gajian bulan depan, mau tidak mau Aris harus mengantar-jemput Asih setiap hari. Dari situ, Asih yang selama ini selalu menolak pria-pria yang hendak melamarnya itu, jatuh hati pada Aris yang notabene berbeda keyakinan dengannya.

(Sampai di sini, cerita cukup klise dan lumayan membosankan)

Untunglah, penyelamat kebosanan ini disematkan kepada Jeanette, gadis nyentrik anak jendral besar dari Jakarta yang sedang berlibur ke Jogja. Tidak hanya berlibur, gadis cantik itu bermaksud untuk menemukan petualangan cintanya. Dan bertemulah dia dengan Aris, pemuda di balik tulisan yang cerdas dan kritis di surat kabar tempatnya bekerja.

Cerita ini mengingatkan saya dengan film yang dibintangi Reza Rahadian dan Laura Basuki, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Tentang kisah cinta beda agama. Namun, karena di novel ini yang begitu kentara adalah pergolakan yang terjadi di tahun itu, maka yang berhasil mencuri perhatian saya adalah aktivitas Aris bersama dengan kawanannnya. Salut bagaimana penulis bisa mengemas dua plot penting dan sama-sama beratnya itu menjadi padu dalam sebuah cerita. Apalagi, embel-embel kota Jogja yang diusung dalam judulnya, terasa begitu dekat, membuat pembaca ikut terlempar dalam setting kota Jogja di tahun 1995-1996. Kesangsian saja dengan novel ini begitu sirna. Meskipun, tidak ada benang merah antara kisah ini dengan Jakarta Sebelum Pagi selain kesamaan pola penulisan judulnya. Good job! Saya tidak merasa menyesal ketipu di tempat yang benar.

...karena bagiku, Yogyakarta adalah kangen dan pulang. ---halaman 149

Untuk ending kisah cinta yang mengangkat perbedaan agama, penulis cukup berimbang dalam memilih eksekusi akhirnya.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)