Showing posts with label Colleen Hoover. Show all posts
Showing posts with label Colleen Hoover. Show all posts

Slammed

Judul : Slammed---Cinta Terlarang
Penulis : Colleen Hoover
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 336 Halaman
Cetakan April 2013
(Cetakan pertama versi buku asli, Januari 2012) 
ISBN : 9789792295184
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Layken harus kuat demi ibu dan adiknya. Kematian mendadak sang ayah, memaksa mereka untuk pindah ke kota lain. Bayangan harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru sungguh menakutkan Layken. Namun semua berubah, begitu ia bertemu dengan Will Cooper, tetangga barunya.

Will memang menarik. Dengan ketampanan dan senyum memikat, pemuda itu menularkan kecintaannya pada slams––pertunjukan puisi. Perkenalan pertama menjadi serangkaian hubungan intens yang membuat mereka semakin dekat, hingga keduanya bertemu lagi di sekolah...

Sayangnya, hubungan mereka harus berakhir. Perasaan yang mulai tumbuh antara Will dan Layken harus dihentikan. Pertemuan rutin mereka di kelas tak membantu meniadakan perasaan itu. Dan puisi-puisi menjadi sarana untuk menyampaikan suara hati. Tentang sukacita, kecemasan, harapan, dan cinta terlarang mereka. 

***

Layken, ibunya, dan Kel si adik lelakinya yang berusia sembilan tahun, menempuh perjalanan jauh ke Ypsilanti untuk memulai kehidupan baru di sana, di kampung halaman sang ibu. Setelah ayahnya meninggal, kehidupan Layken tidak lagi sama. 

Orang yang pertama kali bersosialisasi dengannya di rumahnya yang baru adalah Will dan adiknya, Caulder. Saat mendapatkan luka kecil karena terjatuh di depan rumahnya, Will datang memberikan pertolongan. Ia bahkan membawa Layken masuk ke dalam rumah untuk mengambil perban dan mengobati luka itu. Begitulah perkenalan mereka selanjutnya. Dan itu masih berlanjut lagi ketika Layken meminta pertolongan untuk mencari toko makanan terdekat. Singkat cerita, mereka mulai sama-sama menunjukkan ketertarikan. Apalagi, ternyata keduanya memiliki kesamaan minat dengan sebuah band yang musik The Avett Brothers. Hingga, Will mengajak Layken ke sebuah pertunjukan Slam, di mana pengunjungnya datang untuk membacakan puisi mereka.

Namun sayangnya, kisah mereka tidak bisa bertahan lama. Sebuah fakta mengejutkan berhasil membuat cerita Layken dan Will harus kandas begitu saja. Karena, apabila mereka meneruskannya, banyak hal yang menjadi pertaruhannya. Bagi Layken, fakta ini benar-benar membuatnya hancur.

Saat ini aku tak mungkin bisa memahami seperti apa rasanya patah hati. Jika patah hati lebih menyakitiku satu persen saja dari yang sekarang kurasakan, aku tidak mau lagi merasakan cinta. Tidak sepadan. ---halaman 86

Dan untungnya, di sekolah baru Layken, ia berkenalan dengan Eddie, si gadis eksentrik yang mempunyai kisah hidup kelam, dan menawarkan sebentuk persahabatan pada Layken. Bersama Eddie, dan puisi itulah, Layken menyuarakan perasaannya kepada Will. Dan bagi Will yang menyukai puisi dan pertunjukan slam, ia juga menyampaikan isi hatinya kepada Layken di sana.

Belum lagi, ternyata banyak fakta baru terkuak, yang membuat kehidupan Layken dan Will tidak semenyenangkan yang seharusnya dirasakan oleh orang-orang seumuran mereka.

***

"Lampauilah keterbatasanmu, Lake. Keterbatasan itu ada untuk dilampaui." ---halaman 253

Saya tidak menyangka bakal suka dengan novel ini, meskipun saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya. Colleen Hoover menyajikan Slammed ditujukan untuk pembaca muda. Ya, senang rasanya membaca novel Hoover yang tidak dibumbui oleh adegan dewasa (horeee... akhirnya...!).

Beriksah tentang Layken--Lake--Cohen dan Will Copper, kisah kedua tetangga ini begitu manis, sarat dengan gejolak dan kegalauan masa muda di usia mereka. Hoover menyajikan kisah mereka dengan takaran yang pas. Dan juga, kedua tokoh ini tampil begitu mencuri perhatian dengan kisah dan karakter mereka masing-masing. Saya suka Lake, tapi saya jauh lebih suka Will. Bahkan Eddie, si tokoh sampingan pun, memiliki karakter dan kisah hidup yang menarik untuk disimak serta menuai simpati. Belum lagi, si dua bocah Kel dan Caulder. Lalu, Julia si ibu Lake. Bisa dibilang, semua karakter yang ada di sini mempunyai konfliknya masing-masing. Namun, dalam 336 halaman buku ini, semua masalah hadir dalam porsi dan waktu yang tepat. Tidak ada yang namanya berlebihan. Semua mempunyai timing-nya tersendiri. Sehingga, semua konflik terjalin dalam balutan kisah istimewa demi menunjang plot utama.

Berdasarkan secuplik informasi yang didapat dari blurb, saya sebagai pembaca novel Hoover tertantang untuk menebak-nebak kiranya apa yang menjadi ganjalan kisah cinta Lake dan Will ini. Kalau kau membaca 9 November yang berhasil menyembunyikan plot twist fantastis dengan apiknya, atau Confess yang juga memiliki plot twist tak terduga sebelumnya, kau pasti mempunyai semacam dugaan, tentang apa yang kiranya menjadikan hubungan ini menjadi cinta terlarang. Saya pun, memiliki beberapa analisis tersebut. Pertama, mungkin Will ada hubungannya dengan kematian (atau kehidupan) ayah Lake dulu. Kedua, barangkali Will memiliki keterkaitan pada Texas, tempat di mana Lake dan keluarganya tinggal sebelum pindah ke Ypsilanti. Namun, anggapan itu terbantahkan sendiri dengan fakta bahwa Will tinggalnya di Ypsilanti dan bahwa pertemuan pertama mereka memang terjadi di sana.

Lalu, kenapa kisah mereka harus berakhir? Jawabannya... sungguh sangat di luar dugaan. Dan akibat fakta ini, bukannya sedih terhadap nasib Lake, saya justru tertawa terbahak-bahak. Hahahaha. Bukannya simpati, saya justru memberikan respons yang... i know that feeling, Will! Hahahaha. Ingin kasihan tapi, ya mau bagaimana, saya justru tertawa. Dan justru, dengan adanya fakta ini, disusul dengan mengetahui kehidupan Will lebih dalam, saya jadi semakin bersimpati dan jatuh hati pada sosok Will. Andai di dunia nyata seperti ini karakter Will benar-benar ada....

(Bagi yang penasaran, saya akan berikan kutipan favorit saya yang mengandung spoiler di goodreads. Yeah, just because di goodreads bisa menyimpan spoiler.)

Saya senang karena di awal novel ini, penulis menyisipkan kutipan lirik-lirik The Avett Brothers. Meskipun saya tidak mendengarkan musiknya dan justru baru mengetahui eksistensi grup band itu, tapi saya suka sekali dengan beberapa liriknya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu. Salah satunya:

"Aku terus berkata pada diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Kita tidak bisa membuat semua orang bahagia sepanjang waktu." ---The Avett Brothers, Paranoia In B Flat Major

Dan meskipun masih belum tahu kapan membaca kelanjutan serinya, tapi untuk seri pertama yang saya baca ini, saya benar-benar menyukainya. Novel ini bagus dibaca, meskipun masih ada beberapa adegan ciumannya, sih. Di-skip juga tidak masalah kalau memang tidak terlalu suka dengan bagian itu.

Satu pesan dari Julia untuk Layken (dan ini relevan dengan saya atau siapa pun, menurut saya) adalah...

Yang terakhir namun tak kalah penting, dan ini bukan yang paling remeh: Jangan pernah menyesal. ---halaman 333



Confess

Judul : Confess
Penulis : Colleen Hoover
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 376 Halaman
Cetakan Pertama, Mei 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, Maret 2015) 
ISBN : 9786020328010
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Pada umur 21 tahun, Auburn Reed sudah kehilangan segalanya. Ingin memperjuangkan kembali hidupnya yang berantakan, Auburn pun menetapkan tujuan agar tak menyisakan ruang bagi kesalahan. Namun ketika masuk ke galeri seni di Dallas untuk mencari pekerjaan, Ia malah jatuh hati pada sang seniman misterius, Owen Gentry.

Sekali ini saja, Auburn mengambil kesempatan dengan menyerahkan hatinya, hanya untuk mengetahui Owen menyembunyikan rahasia besar; masa lalu yang mengancam akan menenggelamkan seluruh usaha Auburn selama ini.

Demi menyelamatkan hubungan mereka, Owen hanya perlu mengaku. Namun, pengakuan tak selalu lebih baik, terutama jika kenyataan hanya akan menyakiti lebih banyak pihak. 

***

Auburn Reed, mengalami hari yang berat semenjak kepindahannya ke Dallas. Ia terpaksa pindah dari Texas, memulai kehidupan baru di sana. Ia mendapatkan kontrakan dan juga pekerjaan. Namun, ia membutuhkan uang untuk menyewa pengacara dan memenangkan sebuah tuntutan.

Auburn menemukan satu lowongan pekerjaan aneh yang "menjebaknya" dalam suatu kehidupan baru. Si seniman misterius, Owen Gentry, menawarkannya pekerjaan selama satu malam itu saja sebagai pegawai galeri seni miliknya yang tidak buka setiap saat. Sementara, Owen, mengalami keterkejutan karena bertemu lagi dengan Auburn. Owen adalah seorang pelukis. Di galerinya, ia menjual lukisan hasil dari pengakuan orang. Ia meletakkan kotak pengakuan di galeri miliknya, lalu melukis dengan menggunakan kalimat pengakuan tersebut sebagai inspirasi.

Tidak hanya tertarik dengan konsep pengakuan dalam galeri Owen, Auburn ternyata perlahan-lahan masuk ke dalam kehidupan pria dengan nama tengah sama dengannya itu; Mason. Pertemuan demi pertemuan yang terjalin oleh mereka, membuat Auburn terpaksa membuka hatinya kembali untuk Owen, setelah bertahun-tahun ia menutupnya selepas meninggalnya Adam, cinta pertama Auburn.

Dan ketika mereka sudah semakin dekat, lapisan-lapisan rahasia terkuak dalam diri mereka menjadikan sebuah tantangan besar menyangkut masa depan kisah mereka berdua.

***

Pengakuan yang Anda baca di dalam novel ini pengakuan sungguhan, dikirimkan tanpa nama oleh para pembaca. Buku ini didedikasikan untuk kalian semua yang menemukan keberanian untuk membagi pengakuan-pengakuan.

Setelah membaca 9 November, saya memutuskan untuk membaca novel-novel karya Colleen Hoover lainnya. Dan karena ada beberapa judul novel Hoover yang berseri, saya memilih membaca Confess terlebih dahulu, yang berdiri sendiri. Kesannya, masih sama seperti kesan saya terhadap Colleen Hoover sebelumnya, meskipun saya masih terpesona dengan plot twist 9 November yang begitu fantastis (dan buku ini, meskipun plotnya tidak mudah tertebak juga, tapi belum sefantastis 9 November). 

Oke, saya akan berhenti untuk membanding-bandingkan lagi.

Bab awal buku ini saya rasakan cukup membosankan, bahkan perasaan itu cukup lama bertahan hingga di seperempat bagian. Namun, begitu plot twist-nya terungkap, ketertarikan saya mulai muncul lagi. Dan hingga buku ini berakhir, saya masih bisa menikmatinya. 

Confess menyajikan premis yang unik dan lain dari biasanya: tentang sebuah karya yang lahir dari pengakuan-pengakuan anonim. Jika dikira kehadiran pengakuan itu hanya sekadar untuk menemani jalan cerita, nyatanya tidak demikian. Pengakuan-pengakuan itu bahkan muncul jauh sebelum kisah ini bermula, dan menemani pembaca menyingkap isi cerita ini yang masih tersembunyi.

Untuk karakternya sendiri, saya bisa merasakan bagaimana karakter ini terbangun dan berjalan memengaruhi cerita. Saya suka sosok Auburn yang mempertahakan haknya yang tercerabut. Saya suka Owen dan cerita tentang hidupnya. Saya suka bagaimana interaksi Auburn dan Owen yang manis, meskipun kisah yang mereka hadapi tidak selamanya manis dan menyenangkan.

Adegan dewasa masih ada, meskipun tidak sebanyak dan seekstrem 9 November dalam penggambarannya. Jadi, masih oke. Mau di-skip pun, tidak mengganggu atau kehilangan esensi cerita :) Anyway, ilustrasinya cakep-cakep.



9 November

Judul : 9 November
Penulis : Colleen Hoover
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 424 Halaman
Cetakan Pertama, November 2016 
(Cetakan Pertama versi buku asli, November 2015)
ISBN : 9786020335513
Rating : 4 dari 5



"Aku takkan pernah memaafkan diri sendiri jika aku tidak mendorongmu mengejar mimpimu seperti kau mendorongku mengejar impianku. Kumohon, jangan memintaku menjadi alasan untuk melepas mimpimu. Itu tidak adil." ---halaman 230

Blurb:


Semua dimulai pada 9 November, pertemuan pertama Fallon O’Neil dan Benton James Kessler. Saling tertarik, Fallon dan Ben menghabiskan hari terakhir Fallon di L.A., tepat sehari sebelum Fallon pindah ke New York, dan mereka berjanji akan terus bertemu. Hanya satu hari dalam setahun: 9 November. Selain itu, tak ada komunikasi lainnya. Tidak pertemuan, tidak saling menelepon, tidak kontak lewat medsos, apa pun. 

Waktu menguji mereka, tapi keduanya berhasil terus bertemu pada tanggal yang sama setiap tahun. Hingga suatu hari tersingkap rahasia yang Ben sembunyikan selama ini. Bahwa 9 November adalah benang merah masa lalu mereka. Bahwa mereka lebih terhubung daripada yang dikira Fallon selama ini.

***

Fallon mengalami perdebatan sengit dengan ayahnya, yang menolak kepindahannya ke New York. Ayahnya tidak merestui pilihan karier yang dijalani anak perempuannya itu. Menurutnya, merambah ke dunia akting dengan kondisi yang dialami Fallon adalah kesia-siaan belaka. Ayahnya seorang mantan aktor, sehingga menurut sang ayah, dia mengetahui seluk beluk dunia hiburan itu jauh lebih dalam ketimbang Fallon. Fallon bersikeras untuk menggapai mimpi itu. Dia merasa ayahnya tidak mengerti dengan renjana yang dimiliki Fallon. 

Fallon mengalami kecelakaan hebat di tanggal 9 November. Rumahnya mengalami kebakaran. Dan untungnya, dia selamat. Meskipun, kecelakaan itu membuat sebagian wajah dan tubuhnya mengalami luka bakar. Kariernya sebagai aktris remaja seketika hancur. Pun begitu pula dengan kepercayaan diri yang dia miliki. 

Di saat perdebatan yang dilakukan di sebuah rumah makan itulah, seorang pemuda menyelamatkannya. Dia bernama Benton Kessler. Pemuda itu mengaku sebagai pacar Fallon, dan membelanya dengan argumentasi yang mematahkan ucapan ayahnya. Kemudian, setelah penyelamatan itu, mereka berkenalan. Berhubung dalam kurun waktu yang singkat Fallon akan berpindah kota, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu lagi setiap tahunnya, pada tanggal 9 November, sampai usia Fallon 23 tahun. Mereka membuat perjanjian agar tidak saling menghubungi dan mencari tahu tentang aktivitas mereka selain pada waktu yang dijanjikan. Usul itu diterima. 

Pada akhirnya, pertemuan demi pertemuan berlangsung tiap tahunnya. Hanya dalam beberapa jam bertemu itu, banyak kisah yang terkuak tentang hidup mereka. 9 November, menjadi saksi banyak hal tentang kisah mereka. Tidak hanya tentang masa kini atau masa depan saja, juga bertalian dengan masa lalu mereka.

***

Pertemuan pertama dengan karya Colleen Hoover, adalah saat saya membaca novel Hopeless dan sudah hopeless duluan. Saya tidak kuat dengan konten dewasanya yang terlalu dewasa hingga membuat saya merinding disko dan menutup buku itu. Sejak saat itu, saya masih ragu untuk membaca novel Hoover yang lain. Namun, saat buku ini berseliweran di laman Goodreads, rasanya saya ingin memberikan kesempatan kedua pada Hoover dengan membaca bukunya yang terbaru ini. Dan rupanya, saya tidak menyesali keputusan itu.

9 November membuka perjalanan membaca saya di tahun yang baru dengan sebuah senyum. Saya bersemangat karena buku yang saya baca ini benar-benar keren. Sudah lama rasanya saya tidak membaca sebuah buku dengan polt-twist spektakuler seperti 9 November ini. Membaca buku ini, berhasil memicu rasa penasaran saya hingga saya bisa menyelesaikannya kurang dari tiga hari. Menurut saya, plot-twist-nya juara. Banyak hal-hal yang tidak terprediksi sebelumnya, tapi dikemas dengan sangat rapi hingga pembaca dibuat melongo karenanya. 

Karakter yang diciptakan Hoover dalam 9 November begitu kuat. Fallon, si gadis tak sempurna yang memiliki krisis kepercayaan diri, ditampilkan dengan baik sekali hingga pembaca bisa tersentuh dengan apa yang dirasakan gadis itu tentang trauma dan luka psikis yang dialaminya pascakebakaran yang menimpanya. Lalu Ben, yang ternyata menyimpan banyak kisah kelam dalam hidupnya. Namun, Ben tampil apa adanya layaknya seorang pemuda dari dunia ketiga dengan segala macam kebebasan dan gaya hidupnya. Ketulusan Ben membuat siapa pun yang membaca akan luluh, dan merasakan simpati yang besar terhadapnya.

Pada akhirnya, kisah ini dan segala macam masa lalu yang mengikat kedua tokoh utamanya, berhasil memberikan pelajaran berharga pada pembaca tentang apa artinya meraih renjana dan mengupayakannya. Dan juga, pembelajaran tentang memaknai kegagalan dan kesalahan yang dilakukan pada masa silam, memberikan sebuah pemahaman baru tentang bagaimana memandang masa depan dan menjalani apa yang ada di waktu sekarang.

"Aku perlu mengingat-ingat bahwa ada banyak cara orang menunjukkan cinta. Dan walaupun cara dia dan caraku benar-benar bertolak belakang, itu tetap cinta." ---halaman 396

Satu hal yang mengganggu dari kisah ini adalah..., menurut saya, ada beberapa adegan dewasa yang membuat saya merinding disko. Andai saja Hoover bisa mengurangi porsi untuk itu, sebenarnya saya tidak segan untuk memberikan bintang lima pada kisah Ben dan Fallon ini. (Tapi, kata teman saya itu sepertinya tidak mungkin, karena banyak penggemar Hoover yang justru menyukai bagian yang itu. Ahahaha, baiklah. Mungkin hanya sedikit perbedaan selera saja.)

Selain dari itu, secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. Apalagi, kovernya begitu cantik. Sangat merepresentasikan isi bukunya.



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)