Showing posts with label kumcer. Show all posts
Showing posts with label kumcer. Show all posts

Kedai Bianglala


Judul : Kedai Bianglala
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 184 Halaman
ISBN : 9786022513643
Rating : 3 dari 5




"Kadang, kalau kamu terlalu rindu, tubuhmu akan tergerogoti rasa sedih yang luar biasa, lalu mati pelan-pelan." ---halaman 157


***

Mengejutkan ternyata sebagian besar cerita yang ada di buku ini pernah saya baca sebelumnya.

Perkenalan saya dengan penulis bermula ketika saya tahu bahwa penulis adalah pemenang salah satu lomba cerpen yang kebetulan saya ikuti (jangan tanya saya menang apa nggak, menang kok, menang, menangos kalau kata anak zaman sekarang hahaha). Dari sana, saya dapat alamat blog milik penulis. Ternyata, penulis memang suka membuat cerpen bahkan beberapa di antaranya dimuat entah di koran nasional atau majalah. Beberapa cerita melekat dengan kuat dalam ingatan saya, beberapa lagi memudar. Jadi, membaca kumpulan cerita ini bagi saya seolah bernostalgia sekaligus mengasah dan mengais ingatan yang ada di dalam kepala.

Cerita favorit yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah Akad Nikah. Sewaktu kali pertama, saya merasa takjub dengan kemampuan penulis untuk mengangkat cerita dan plot di dalamnya. Keren sekali. Lalu, cerita kedua (cerpen yang jadi pemenang di lomba itu) adalah Mengecup Engkau. Momen pertama kali saya membaca (kala itu saya spesial memesan buku kumpulan cerita yang menjadi finalis dalam lomba itu. Otomatis, cerpen Mbak Anggun ini ada di dalamnya), ternyata memang cerita ini sangat layak jadi juara. Keren. Out of the box. Saat membaca ulang di buku ini pun, kesan itu tidak begitu saja lenyap. Cerita ini masih sama kerennya.

Di dalam kumpulan cerita dengan judul Melukis Bianglala ini, memang menyuguhkan banyak cerpen yang rata-rata berakhir tragis. Menyedihkan. Atau setidaknya itulah kesan yang coba dihimpun setelah membacanya. Saya jadi sedikit ketipu saat membaca blurb di cover belakangnya. Ekspektasi saya atau setidaknya apa yang saya pikirkan tentang "bianglala" adalah, kau disuguhkan dengan banyak gerbong yang akan membuatmu berputar 360 derajat. Kau akan menemukan manisnya cinta, getirnya kekecewaan, pahitnya kenyataan yang tidak sesuai harapan, indahnya sepotong kisah kehidupan. Kompleks. Sama seperti roda yang berputar dengan siklus konstan kadang di atas lalu ada satu waktu berada di bawah. Namun, secara keseluruhan, cerita di dalam buku ini mostly angst..., dark. Itu diibaratkan seperti kau naik bianglala, namun dalam siklus perputarannya, kau terlalu lama berhenti. Sehingga tidak ada perasaan gembira atau senang saat bianglala berputar menuju puncak, membiarkan kau sejenak menikmati indahnya pemandangan kota dari ketinggian. Yang ada, hanyalah kekhawatiran demi kekhawatiran. Ketakutan atau perasaan sejenis itu yang dominan dengan pahit. Apakah bianglala ini aman? Mengapa ia berhenti berputar terlalu lama? Adakah yang salah dengan bianglala ini? Adakah yang "salah" dengan buku ini?

Ya, begitulah yang dinamakan dengan ekspektasi. Kadang bisa mengacaukan sistem. Hahaha. Lantas, apakah ada yang salah dengan buku ini? Jawabannya tidak ada. Tapi, ya itu tadi, saya "terjebak" dengan penamaan "bianglala" yang dipakai sebagai judul yang mewakili keseluruhan kisah yang ada di dalamnya. Mungkin saya memang harus mengubah sudut pandang. Mungkin saya seharusnya tidak berada di satu gerbong bianglala yang berputar itu. Mungkin saya harus menganalogikan diri sebagai petugas pemeriksa karcisnya saja.


Empat bintang untuk beberapa cerpennya yang mengagumkan. Namun, untuk keseluruhan isi dalam kumpulan cerita ini, saya berpuas diri memberikan tiga bintang. Tiga masih berada di atas rata-rata, bukan? Karena memang buku ini bagus.


Metafora Padma

Judul : Metafora Padma
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 168 Halaman
ISBN : 9786020332970
Rating : 4 dari 5




"SEJAUH yang aku lihat dan hitung, dua puluh enam tubuh manusia tergeletak di jalan raya. Sepuluh telentang, enam belas telungkup. Beberapa di antaranya terbaring di sebelah benda-benda-patahan kursi, parang berlumuran darah, pecahan botol kaca, mungkin botol minuman keras. Semuanya rebah di atas darah mereka sendiri. Kau bisa yakin mereka semua sudah menjemput ajal. tapi bisa juga kalau kau bilang mereka cuma tidur di atas kehidupan, karena darah itu adalah yang sebelumnya membuat mereka hidup." ---Metafora Padma, halaman 103
***

Ketika membuka halaman awal buku ini dan melihat Bara menuliskan bahwa buku ini dipersembahkan untuk masa kecilnya, saya semacam dejavu pernah membaca kicauan Bara di twitter tentang ia yang akan membuat kisah seputar masa kecilnya. Mungkinkah buku ini yang dimaksud itu? Well kalau begitu, mungkin saya harus banting setir mengubah persepsi tentang buku ini. Ya benar, ini bukan kisah romansa biasa, bukan novel melainkan kumpulan cerita berbeda, yang mungkin beberapa di antaranya diilhami oleh masa kecil Bara.

Metafora Padma adalah sebuah kumpulan cerita, tediri atas empat belas kisah yang memiliki kekuatan serta pesonanya masing-masing. Bercerita tentang konflik sosial yang tengah ramai diperbincangkan kembali di masyarakat, kisah perseteruan antarsuku yang selalu saja bisa memantik kekisruhan lebih besar seolah menyimpan bara yang bisa dimuntahkan hanya dengan satu jentikan api. Satu hal yang menjadi benang merah pada keseluruhan cerita ini adalah: friksi.

Saya mengutip penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang friksi:

friksi/frik·si/ n 1. pergeseran yang menimbulkan perbedaan pendapat; 2. perpecahan

Mengapa saya mendapatkan hubungan antarcerita di buku ini melalui kata "friksi" alih-alih "Padma" seperti judul buku ini? Karena di sini, penulis dengan berani mengangkat tema yang "berat", namun disajikan dalam bentuk kumpulan cerita yang dengan mudah dapat dilahap dalam hitungan jam namun memberikan bekas berupa kesan yang mendalam. Setidaknya itulah yang saya rasakan setelah membaca buku ini.

Secara umum, saya membagi pembahasan tentang kumpulan cerita di buku ini menjadi tiga bagian: pertama, tentang cinta yang tidak semestinya; kedua, tentang agama; dan ketiga, masalah konflik antarsuku. Percayalah, saya ingin mengulas ketiga-tiganya, namun khawatir tulisan saya akan melebar sampai ribuan kata, rasanya saya akan meringkas-ringkas saja dan berupaya menarikan apa yang hadir dalam benak dan apa yang ingin saya rangkaikan di sini dalam bentuk kata-kata.

Dibuka dengan manis dan tajam dengan cerpen berjudul Perkenalan.

"Kamu harus tahu, Harumi Sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas." ---Perkenalan, halaman 9
Identitas adalah nama. Identitas juga bisa berarti latar belakang, suku, agama, atau apa pun yang berkaitan dengan eksistensi atau keberadaan diri seseorang. Di dalam kisah ini, dan mayoritas kisah dalam cerita ini (Demarkasi, Rumah, Alasan, Metafora Padma) menceritakan tentang konflik antarsuku yang terjadi di tanah kelahiran kami. Saya menggunakan kata "kami" di sini, karena sebagai seorang kelahiran Kalimantan, rasanya tidak mungkin saya tidak mendengar tentang konflik horizontal yang terjadi di tanah ini beberapa tahun silam. Dan tahukah kamu? Bahwa api yang padam itu dapat kembali menyala hanya dengan sedikit percikan api kecil, yang tidak mustahil akan berkobar dengan cepat. Saya jadi ingat, beberapa waktu belakangan pernah terjadi hal yang demikian. Perkara yang melibatkan dua orang menjadi perang antarsuku, menjadi bencana antarkampung, hanya karena pelakunya adalah dua orang dengan identitas tertentu. Dua individu menjadi dua kelompok besar. Mereka yang membawa "identitas" dan "nama" seolah lupa akar permasalahannya berasal dari mana.

Kau lihat, ini masalah pribadi. Tidak ada sangkut pautnya dengan identitas seseorang. Jadi masalahnya cuma satu: pembunuhan karena motivasi persoalan pribadi. Tapi kau tahulah, manusia tak bisa menerima penjelasan yang terlampau sederhana. Lantaran mereka tak bisa melihat pembunuhan sebagai pembunuhan, mereka merumitkannya. ---Obat Generik, halaman 64

Sewaktu membaca Alasan, saya jadi ikut bersolilokui dengan si tokoh. Di sana, penulis memberikan potret, bahwa orang bisa melakukan kejahatan apa pun hanya dengan sebuah "alasan". Namun di sana, saya tertarik dengan sebuah frasa "kampung halaman". Konflik antarsuku di Kalimantan pun, konon katanya disebabkan oleh klaim atas "orang asli" dan "pendatang". Saya mau tidak mau jadi teringat dengan pelajaran Sejarah sewaktu di bangku sekolah tentang asal usul nenek moyang bangsa Indonesia dengan teori "Proto Melayu" dan "Deutro Melayu"-nya. Kesimpulannya, bahwa penduduk asli bangsa Indonesia pun, adalah sebuah imigran yang berasal dari Cina bagian selatan yang kemudian tersebar mendiami pulau-pulau di Indonesia. Meskipun, kita juga tidak dapat menutup mata dengan kehadiran nenek moyang dari proses migrasi awal ini dan bagaimana peran mereka di tanah yang mereka duduki, beratus-ratus tahun, beranak-pinak, hingga menghasilkan keturunan yang membentuk sebuah akar budaya dan suku di tempat-tempat tersebut. Tapi, sebagai kesimpulan, saya justru lebih menyenangi kalimat yang pernah diucapkan oleh Pidi Baiq bahwa kita, manusia, adalah para imigran dari surga.

Nah, lantas, bagaimana kita menyikapi permasalahan konflik tersebut? Rasanya, pertanyaan itu tidak cocok kalau dijawab oleh saya. Sewaktu konflik besar-besaran pertama terjadi, saya masih kecil dan tidak mengerti apa yang sedang diributkan oleh orang-orang. Beruntung pula, tempat tinggal saya jauh dari sumber pertikaian dan identitas yang saya miliki tidak berasal dari kedua kubu yang berseteru. Kegusaran yang saya hadapi mungkin berbeda dengan yang penulis pernah hadapi atau saksikan sendiri. Namun, tentu saja, ini tidak mengurangi rasa empati yang kemudian muncul belakangan ketika mendengar penuturan tentang kisah ini ketika diwartakan kembali. Sama sekali tidak. Membaca beberapa cerita yang mengangkat tentang kisah itu lagi, membuat siapa pun akan merasa pilu. Percayalah. Bahkan tidak perlu kau berada di tanah yang sama dengan mereka untuk merasakan dampak yang terjadi di sana.

Saya sebagai orang lokal, senang apabila ada penulis yang mengangkat tema kedaerahan di dalam cerita mereka. Namun, menyadari bahwa tema yang diambil kini merupakan sisi kelam yang pernah terjadi, rasanya nano-nano juga. Tapi saya bisa memahami dan tahu persis isu apa yang tengah diangkat di sini, seolah saya bisa tahu bagaimana keresahan yang dirasakan oleh penulis tentang tema itu. Dan mengambil sudut pandang kisah pilu percintaan di antara dua kubu yang berseteru, adalah jalan tengah untuk dapat memahami posisi pembaca untuk menempatkan diri supaya bisa merasakan apa yang tengah terjadi dalam paparan cerita itu. Kisah Rumah, menurut saya, adalah cerpen yang cerdas karena mengambil sudut pandang bukan manusia, melainkan sebuah rumah yang menjadi saksi bisu salah satu cerita pilu itu.

Betapa pun banyak peristiwa tidak menyenangkan terjadi di rumah, ia tetap tempat kita tinggal dan pulang. Kamu tidak meninggalkan rumahmu hanya karena ia pernah menyimpan kenangan buruk. Kamu akan tetap bersamanya, berdamai dengan kenangan-kenangan buruk itu, dan memperbaikinya sampai jadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali. ---Rumah, halaman 57


Lalu, saya ingin berbicara tentang keresahan yang lain. Berbicara tentang identitas agama, sebenarnya sangat sensitif, dan bagi saya lebih sensitif ketimbang fanatisme kesukuan. Tapi, saya bisa menyimpulkan satu hal di sini. Bahwa habluminallah itu erat kaitannya dengan hablumminannaas. Ketika kau memiliki hubungan yang intim kepada Tuhan, menghayati ajaran yang disampaikan oleh utusan Tuhan, mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, kau tidak perlu disindir dengan cerita Suatu Sore, atau merasa bimbang seperti Natalia di Solilokui Natalia

Dan jika kau meyakini Tuhan dalam hatimu, friksi seputar cinta (drama perselingkuhan atau apa pun yang berhubungan dengan penodaan cinta) bisa diminimalisir. Oke, ini self claimed. Yang lain bisa memiliki pendapat berbeda namun ini adalah murni pendapat saya. 

Akhir kata, saya setuju dengan apa yang disampaikan dalam cerita Kanibal (meskipun jujur, ini satu-satunya cerita yang saya skimming bacanya karena deskripsinya sukses bikin ngilu), bahwa penulis yang baik, meletakkan jiwanya pada setiap tulisan-tulisannya--sampai kadang-kadang merasa hilang sendiri habis menulis. Hhhhh. 

=))

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

Judul : Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 241 Halaman
ISBN : 9789792296167
Rating : 3 dari 5




Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa adalah kumpulan cerita yang menyajikan kisah-kisah sehari-hari namun ada unsur "absurd"-nya di dalam cerita-cerita tersebut. Seperti misalnya, munculnya binatang-binatang yang tak terduga keberadaannya, lalu keabsurdan beberapa ceritanya, menggantungnya ending yang membuat pembaca bertanya-tanya.

Saya akan membahas beberapa yang menarik di sini, ada pula yang saya suka karena benar-benar larut dalam plot ceritanya:

1. Kristallnacht
Kelemahan saya adalah saya sangat mudah tersentuh oleh kisah ayah-anak. Di sini, dikisahkan tentang seorang anak yang keluarganya dituduh sebagai seorang pemberontak. Suatu hari mereka dapat peluang untuk bisa membebaskan anaknya dari situasi terhimpit--ya, hanya anaknya saja yang kemungkinan bisa bebas. Tapi karena satu hal--perbuatan ayahnya, mungkin ini wujud kasih sayang yang ditampakkan namun dampaknya begitu fatal--terjadi pada anak kecil itu. Hingga pertanyaan wartawan kepadanya membuat ia diam tidak bisa menjawab.

2. Fatima
Duh saya nggak ngerti plot twist yang ini bikin mutar kepala banget =)) Si Pinot dan Fatima yang ternyata adalah....

3. Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini
Cerita yang ada di sini sedikit banyak mengingatkan saya sama dunia per-RP-an. Seseorang memainkan peran di dimensi yang berbeda, lalu berinteraksi dengan orang lain--di dunia role-play maupun di dunia nyata. Ya ngapain lagi interaksinya kalau tidak untuk membahas tentang apa yang terjadi dengan karakter mereka. Sebuah dunia yang cukup familiar kan? Yang lucu itu ada gantungan dari kardus di kamar Salina yang bertuliskan: "Do Not Distrurb, Off to Another World" menginspirasi hahaha =))

4. Dia, Pemberani
Saya suka cerita ini. Tentang seorang petualang bernama Masaai dan istrinya. Masaai menemukan kedamaian justru saat menghadapi tantangan-tantangan dari kegiatan ekstrem. Karena cintanya sang istri dengan suaminya, ia akhirnya luluh juga mengizinkan sang suami untuk memenuhi hasratnya dalam bertualang. Kalimat yang saya suka di bagian ini: "Jadi, pada intinya, aku tidak mencoba untuk mati. Aku justru merayakan hidup." (Halaman 145)

5. Saksi Mata
Cerita miris tentang pembunuhan di depan rumah susun yang sebenarnya disadari oleh penghuni rusun. Namun karena kepedulian mereka yang minim dan membiarkan saja peristiwa itu terjadi, berakibat fatal terhadap si korban.


Kesimpulannya, sebenarnya saya sudah cukup terbiasa membaca cerita-cerita absurd sehingga tidak terlalu terkejut dengan sajian cerita pada buku ini. Ternyata imaji saya juga sudah out of the box sepertinya jadi membaca ini, seperti biasa-biasa saja, hanya pada cerita tertentu saja baru ikutan bersorak-sorai :)) Tapi seru, kisah-kisahnya menyimpan banyak hal yang dapat direnungkan. Sebuah perenungan yang menyenangkan.

Aksara Amananunna

Judul : Aksara Amananunna
Penulis : Rio Johan
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 240 Halaman
ISBN : 9789799107046
Rating : 2 dari 5 




Aksara Amananunna berisi dua belas cerita dengan latar dan genre yang berbeda-beda, out of the box--harus saya akui, dan menarik. Membaca ini seperti berada dalam roller coaster, ada kalanya naik lalu melesat turun secara mengejutkan, memacu adrenalin, dan menantang. Karena di setiap ceritanya menyimpan plot twist yang baru terbongkar di paragraf-paragraf akhir, maka untuk menuju ke cerita selanjutnya harus ada jeda untuk menormalkan kembali emosi pembacanya, termasuk saya.

Membaca buku ini seperti disajikan satu makanan komplit dengan dua belas kisah yang sangat berbeda. Bagaikan berjalan-jalan melintasi satu genre ke genre yang lain, mengupas hal-hal tabu dari satu tema ke tema lain, dari latar belakang yang tidak normal. Kita akan dibawa berkelana ke cerita distopia, diantar ke masa depan, lalu dihempaskan ke masa lalu, berjalan ke satu benua ke benua yang lainnya menikmati setiap latar yang disajikan dengan berbeda.

Cerita pertama adalah berjudul Undang-undang Antibunuhdiri, berlatar tahun 21xx. Seorang perdana menteri yang kebingungan karena masyarakatnya tengah digandrungi oleh tren bunuh diri. Di kisah ini, mengangkat tema bunuh diri yang membuat populasi rakyatnya menurun secara drastis, sehingga membuat pemerintah harus mengantisipasinya dengan membuat undang-undang tentang hal ini. Dengan cerita ini sebagai pembuka, pada awalnya membuat saya bosan. Namun barangkali ini hanyalah sebuah pemanasan saja karena di kisah kedua, roller coaster-nya baru bergerak menanjak naik.

Cerita kedua adalah Komunitas. Seorang pemuda tampan, mencoba peruntungan di dunia modelling, namun tertolak. Suatu saat ia direkrut oleh seseorang tidak dikenal, mengajaknya untuk bergabung dengan komunitas. Di sana, ia dibayar mahal untuk melakukan suatu hal: memuaskan nafsu para anggota komunitas dalam praktik sadomasokisme. Pemuda itu diberikan kuasa untuk memancing nafsu seksualitas pelanggannya tanpa ada hubungan badan. Ya begitulah ya. Tapi harus diakui, cerita ini cukup menarik dari sisi mengangkat tema yang tidak biasa dan penggambaran sebuah komunitas dengan segala macam keterikatan dan fasilitas yang diberikan.

Chevalier D' Orange mengisahkan seorang ksatria gagah dengan wajah feminin. Tidak ada yang meragukan kekuatan pemuda itu, bahkan dengan kehebatannya itulah ia diangkat sebagai ksatria. Namun, satu permasalahan adalah karena wajah dan sosoknya yang menyerupai perempuan. Publik berspekulasi tentang jenis kelamin sang Chevalier, bertanya-tanya apakah pria tersebut memang seorang lelaki berwajah cantik ataukah seorang perempuan yang menyamar sebagai pria. Hingga membuat, kerajaan harus melakukan musyawarah untuk menentukan jenis kelamin orang tersebut. Yah bodohnya, si orang ini mengapa tidak mau mengakui secara terbuka kepada publik saja sih, malah justru saking setianya dengan raja, dia mengikut apapun perintah raja kepadanya. Ketika hasil musyawarah diputuskan bahwa ia berjenis kelamin perempuan, dengan patuh ia mengubah pakaian serta atributnya menjadi perempuan. Ketika oleh raja ia diminta untuk mencari suami untuk menikah, dia memenuhinya dengan satu persyaratan: dia harus bisa mengalahkan si pemuda itu. Hingga akhirnya ada seorang ksatria yang berhasil mengalahkannya dan menguak identitas si pemuda yang sesungguhnya.

Ginekopolis, kembali dengan setting masa depan, tentang eksistensi laki-laki yang dikalahkan oleh perempuan. Nggak tahu dengan jelas saya ini bagaimana ceritanya.

Ketika Mubi Bermimpi menjadi Tuhan Yang Melayang di Angkasa, menceritakan seseorang bernama Mubi yang bermimpi menjadi Tuhan, lalu di akhir justru malah mengatakan bahwa selama ini si tokoh itulah yang bermimpi menjadi seorang anak lelaki. Aneh, memangnya siapa tokoh itu ya? Masa' iya Tuhan.

Cerita selanjutnya, Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju, saya nggak mengerti.

Riwayat Benjamin, bukan karena saya suka nama Benjamin saya sedikit suka dengan cerita ini, tapi karena settingnya cukup familiar, seperti yang sering saya baca di buku-buku klasik. Tentang perjalanan menggunakan kereta kuda, waktu tempuh yang panjang, para bangsawan tanpa gelar, saya pas saja dengan timeline itu. Dari segi cerita, Benjamin yang sangat tampan, diambil anak oleh seorang bangsawan tanpa gelar, mendapat kehidupan yang lebih baik..., jauh lebih baik ketimbang sepupunya yang hanya hidup dengan menggembala dan tidak bisa membaca. Saat mereka tumbuh remaja, Benjamin meminta kepada sepupunya untuk mengunjunginya dan ini menyingkap sebuah misteri yang membuat sang sepupu sangat terkejut, hingga mengetahui penyebab di balik meninggalnya Benjamin.

Tidak Ada Air untuk Mikhail, sama seperti cerita tentang Pisang, saya juga nggak berhasil menangkap maksudnya apa, selain tidak berhasil menebak setting cerita ini di mana dan zaman apa.

Robbie Jobbie berpola mirip dengan Komunitas, tapi saja jauh terkesan dengan cerita di Komunitas ketimbang ini. Cukup bisa ditebak, si Robbie hanya dijadikan maskot bagi jualannya komoditi kaum homoseksual.

Apa Iya Hitler Kongkalikong dengan Alien? Sebagai makhluk yang suka dengan teori-teori alien dan sebangsanya, saya cukup bisa menebak cerita ini. Tapi sayang sekali, eksekusi ceritanya hanya segitu saja. Tentang menceritakan pengalaman kakeknya bertemu dengan alien, itu saja yang berhasil saya tangkap sih.


Sekarang kita beralih ke... saya menyebutnya masterpiece karena sepertinya cerita ini diletakkan di bagian akhir sebagai pamungkas: Susanna, Susanna! Berbeda dengan yang lain yang hanya menampilkan cerita pendek, Susanna ini cukup panjang, plot dan karakternya bisa dibilang cukup digali oleh penulisnya. Tentang seorang anak perempuan (tebakan saya sih settingnya zaman Renaissance) yang mengubah sosoknya menjadi laki-laki, hanya karena dengan bekerja sebagai laki-laki, ia akan mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih besar. Anak perempuan ini menyimpan rapat-rapat kedoknya, karena sudah terlanjur nyaman dengan keadaan ini, tapi lebih dikarenakan takut mendapatkan hukuman sosial dan hukum negara yang mengerikan untuk perilaku sepertinya pada zaman itu. Lalu dia bertemu dengan seseorang yang menyingkap rahasianya..., karena orang itu seperti dirinya. Nama perempuannya Susanna, tapi lebih dikenal dengan Simon. Bedanya dengan si anak perempuan, yang mengubah wujudnya karena motif ekonomi, rupanya Susanna mempunyai motif lain yakni penyimpangan seksual. Bisa ditebak cerita ini ke mana selanjutnya. Dan menurut saya, eksekusinya hingga ke ending lumayan oke meskipun saya berkali-kali cukup (maaf) jijik dengan deskripsi di cerita bagian ini.


Dan sampai pula pada bagian akhirnya, saya hanya bisa memberi dua bintang saja. Satu bintang untuk setting, plot, dan lompatan-lompatan yang berbeda di setiap ceritanya; satu bintang lagi untuk akumulasi dari Komunitas, Aksara Amananunna, Kevalier D'Orange (yang mengingatkan saya pada cowok-cowok cantik Korea), dan Riwayat Benjamin.

Tidak bisa bilang tidak suka sepenuhnya, hanya saja tema LGBT bukan berada dalam jalur saya. Sukses bergidik saat membacanya. 



Bastian dan Jamur Ajaib

Judul : Bastian dan Jamur Ajaib
Pengarang : Ratih Kumala
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786020314105
Tebal Buku : 124 Halaman
Rating : 3 dari 5




Ini adalah buku Ratih Kumala yang kedua yang saya baca setelah Gadis Kretek. Bastian dan Jamur Ajaib sendiri adalah sebuah kumpulan cerita pendek yang terdiri dari 13 cerita. Favorit saya adalah Tulah. Nah, saya mau ulas satu per satu kisahnya di sini.


  • Ode untuk Jangkrik
Ode untuk Jangkrik beriksah tentang Aldi dan jangkriknya, di mana seorang anak kecil yang bernama Aldi ini suka mengadu jangkrik. Jangkrik milik Indro adalah jangkrik jagoan yang mengalahkan jangkrik Aldi. Aldi tidak pantang menyerah, ia mencari jangkrik jagoan lainnya demi bisa memenangkan pertarungan.

  • Nonik
Alda dan Nonik berteman baik. Aida seorang mahasiswi yang biasa-biasa saja, sedangkan Nonik adalah orang kaya. Meskipun Aida ternyata tidak tahu-menahu tentang bagaimana kehidupan Nonik yang sebenarnya, atau siapa Opa Pierre yang ditanyakan polisi kepadanya.

  • Nenek Hijau
Ini kisah fenomena mimpi basah yang terjadi pada bocah yang hendak beranjak dewasa.

  • Tulah
Ini favorit saya. Ceritanya tentang Joshua (saya nggak tahu Joshua ini siapa, omong-omong). Namun sebenarnya menceritakan tentang Musa dan Firaun. Mengambil sudut pandang laut belah (bayangkan saja yang bercerita adalah benda mati yaitu laut terbelah yang dibelah oleh Musa dan menjadi mukjizat baginya). Unik, menarik. Dan juga ini karena saya suka dengan kisah zaman Musa.

  • Telepon
Berceita tentang kisah sepasang kekasih hingga menikah (dan selingkuh) dengan telepon sebagai penghubung kisah mereka.

  • Ah Kauw
Ini ceritanya miris. tentang Ah Kauw sang penggali kubur. Ia ditawarkan pekerjaan menggiurkan di Jakarta, pekerjaan yang sama seperti profesinya yaitu menggali kubur, dengan gaji yang jauh lebih besar. Yang dikerjakannya adalah menggali kubur untuk membongkar makam yang akan dijadikan mal. Kehidupannya tidak direstui oleh sang ibu. Istrinya juga tidak bisa memiliki anak, yang di mana ibunya menganggap bahwa pekerjaannya membawa sial dan tidak direstui oleh leluhur. Endingnya, di hari terakhir ia bekerja, Ah Kauw harus menggali kuburan ayahnya sendiri.

  •  Lelaki di Rumah Seberang
Seorang nenek tua, jompo, di panti jompo yang menganggap dirinya bisa berkomunikasi dengan seorang pak tua seusia anaknya di rumah seberang. Si nenek yang hidupnya kesepian, mendadak mendapatkan teman yang juga sama-sama kesepiannya seperti dia, yang menjalani sisa umur di hari tua tanpa kasih sayang dari anak cucu mereka. Suatu hari, dengan bahasa telepati mereka, si bapak tua mengatakan kalau dia akan dibunuh oleh anak menantunya. Nenek Yasmin, membiarkan dirinya mengamati rumah sebelah dan tidak mau dipindahkan untuk membuktikan apakah pembicaraan mereka selama ini betulan, atau hanya sekadar khayalannya semata.

  •  Keretamu Tak Berhenti Lama
Berkisah tentang seorang ibu dengan anaknya, yang harus menafkahi hidup dengan menjual dagangan di stasiun. Suaminya seorang tukang becak penjudi bermulut kasar. Ning nama ibu itu, menyadari kalau dia ditaksir oleh Pak Kasdi seorang masinis kereta. Suatu hari dia berhadapan dengan suaminya yang sedang mabuk dan kalap. Ning melarikan diri dan turut serta ke Solo dengan kereta Pak Kasdi, tapi dia melupakan anaknya yang menangis tertinggal.

  •  Rumah Duka
Bercerita tentang istri sah dari seorang lelaki yang ternyata mempunyai istri simpanan. Sebenarnya sang istri mengetahui kalau suaminya punya selingkuhan, kenal di sebuah kafe, seorang penyanyi jazz. Sang suami yang memang penikmat jazz merasa nyambung dengan penyanyi itu dan akhirnya mereka memiliki hubungan. Suaminya meninggal, di satu sisi sang istri sah mengetahui kalau simpanan suaminya ingin hadir pula di rumah duka. Di sisi lain, si simpanan merasa bahwa ia lebih dicintai sang suami ketimbang istri sahnya, namun dia cukup tahu diri bahwa statusnya adalah istri simpanan.

  • Foto Ibu
Tentang seorang anak yang mentattoo punggungnya dengan foto ibunya, yang bercita-cita masuk surga sekeluarga, tapi ternyata dikhianati si bapak yang menyimpan foto seorang anak di dompetnya yang ternyata foto anaknya dengan perempuan lain.

  • Bau Laut
Tentang Mencar yang menikah dengan putri duyung.

  • Pacar Putri Duyung
Gede yang seorang peselancar pencari ombak yang tiba-tiba mengalami kecelakaan saat turnamen selancar karena bertemu dengan putri duyung.

  • Bastian dan Jamur Ajaib
Bastian yang bertemu dengan seorang gadis bartender yang menawarkan jus jamur ajaib kepadanya, yang bisa menghadirkan bayangan kekasihnya yang telah tiada.



***

Sorry to say kalau ternyata bukunya tidak sesuai dengan ekspektasi saya, tapi untuk buku yang dihabiskan sekali baca atau sekali duduk, buku ini cukup bagus juga. Secara umum kisahnya cukup gampang ditebak, tapi sayang nggak ada plot twist atau sesuatu yang bikin... ooooh yah karena beberapa cerita sudah bisa ditebak akhirnya bagaimana. Seperti misalnya di cerita Nenek Hijau, saya sudah bisa menebak itu nenek hijaunya siapa. Atau di kisah Nonik  (lupa judulnya apa). Cerita-ceritanya memang sederhana, meskipun barangkali mungkin tidak sesederhana yang saya tangkap (tapi memang nggak berhasil saya ketahui makna lain di balik kesederhanaannya. 

Dari segi penulisan, agak terganggu dengan kata "mencintaimu" yang ditulis "menyintaimu". Sepengetahuan saya, KTSP itu meluruh, jadi kalau "cinta" berarti tidak meluruh jadi "nyinta". Entahlah ya.

Dan, cerita yang menurut saya berhasil membuat decak kagum sayangnya cuma satu; Tulah. Bercerita dengan sudut pandang laut belah dalam kisah Firaun dan Musa. (Oh well, tapi saya masih nggak tahu Joshua itu siapa. Yang jelas bukan Joshua Suherman apalagi Joshua G---#heh.) Angkat jempol saya, bagaimana Ratih Kumala bisa kepikiran untuk membuat kisah dari sudut pandang benda seperti laut merah.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)