Showing posts with label teenlit. Show all posts
Showing posts with label teenlit. Show all posts

Orbit Tiga Mimpi

Judul : Orbit Tiga Mimpi
Penulis : Miranda Malonka 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 380 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2017
ISBN : 9786020332048
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Alejandro, terobsesi dengan benda-benda angkasa dan bertekad menang olimpiade astronomi. Tapi, bagaimana dia bisa menang kalau pelajaran matematika justru membuatnya merana? Asterion, vokalis band yang selalu cerah ceria dan tidak pernah menangis. Tak ada yang tahu dia menyembunyikan banyak rahasia di balik suara merdunya. Angkara, senang menghabiskan waktu untuk merenung dan menulis puisi tentang bintang-bintang. Tapi, seluruh dunia ingin dia mengubah gaya menulisnya. Ketiga orang yang sangat berbeda ini dipersatukan oleh kelompok belajar yang dipilih sesuai urutan absensi kelas. Meski awalnya canggung, ketiganya menemukan diri mereka mengorbit satu sama lain. Namun, ketika perasaan saling suka melesat bagai meteor, ditambah keresahan atas identitas diri, akankah orbit mereka terus berputar atau malah hancur lebur?

***

Saya membaca novel karya Miranda Malonka sebelumnya, yaitu Sylvia's Letters, dan saya menyukainya. Gaya penceritaan di Sylvia's Letters yang tidak biasa dan jalan cerita memukau, membuat saya mengatakan bahwa ingin membaca karya lain penulis, yang penyampaian ceritanya tidak melalui media surat. Orbit Tiga Mimpi menjawab rasa penasaran saya, apakah saya bakal menikmati karya Miranda Malonka jika disajikan dengan gaya penceritaan yang normal. Hasilnya, saya suka dan puas dengan buku ini.

Orbit Tiga Mimpi menyajikan premis yang mirip dengan novel yang pernah saya baca sebelumnya, berjudul Starlight. Tanpa bermaksud membandingkan karena memang setiap buku memiliki kisahnya masing-masing, tapi kedua novel remaja ini mempunyai kisah yang sama. Tentang kesukaan dengan dunia astronomi, dan tokohnya disatukan oleh tugas kelompok. Alejandro si cowok satu-satunya dalam kelompok itu, berbagi kisah dengan Angkara alias Kara, yang mulanya dikira seorang anak laki-laki tapi ternyata perempuan, dan teman duduknya. Mereka juga berteman dengan Asterion, seorang anak perempuan lainnya, yang dari namanya saja sudah memikat Ale. 

Ketiganya memiliki mimpi. Ale dengan kecintaannya pada dunia astronomi (tapi tidak pandai matematika) dan biologi, Angkara yang memiliki kesukaan dengan puisi bertemakan alam semesta, dan Asterion yang pandai bernyanyi. Mereka mengorbit bersama, saling menggapai mimpi. Hanya saja, ketika perasaan bercampur-baur dengan persahabatan, tidak selamanya planet mereka berputar dan mengorbit.

***

"Manusia memang aneh banget. Mereka membuat rencana-rencana seolah hidup ini akan berlangsung selamanya." ---halaman 127


Saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan novel ini. Disajikan oleh tiga sudut pandang yang berbeda, menggunakan orang pertama, membuat kisahnya dalam. Kita diajak mengintip isi kepala tiga tokohnya yang berbeda, tapi mempunyai benang merah yang sama. Ketiga karakternya menarik, dan tidak biasa. Ale yang senang mengamati dunia makroskopis dan mikroskopis, lalu Kara yang suka menulis tapi dihadapkan realita bahwa dia tidak bisa selalu menuliskan apa yang diinginkannya saja. Aster dengan segala permasalahan berkaitan dengan keluarga dan hal-hal aneh dalam hidupnya. Mereka kian dekat, untuk membuktikan pada siapa seharusnya cerita cinta ini tertambat. Lalu tentang jati diri, pencarian makna hidup, dan masa depan. Tidak selamanya tiga planet akan mengorbit bersama.

Saya pernah membaca tulisan Miranda Malonka tentang dia yang lebih senang menuliskan setting tempat secara abstrak. Seperti saat menuliskan Sylvia's Letters dia tidak menyebutkan settingnya, meskipun nuansa kota Jakarta kental di sana. Ternyata, pola serupa diterapkannya di sini. Selama membacanya, saya jadi menerka-nerka, kota manakah yang menjadi latar cerita ini. WITA, dekat pantai, langitnya bisa dengan mudah melihat bintang. Terlebih, ibu Ale yang berdarah Spanyol. Apakah setting-nya di Bali? Saya menebaknya demikian. Membuat cerita berlatar samar begini, sebenarnya membuat pembaca mengimajinasikan sendiri di mana atau bagaimana suasana yang dibangun. Bagi saya tidak masalah, justru bagian menebak-nebaknya itu yang seru.

Secara keseluruhan, kisah ini bagus. Apalagi perlakuan Ale yang memberikan hadiah tak terduga oleh siapa pun itu, benar-benar mengejutkan dan di luar kotak. Juga tentang pemberian seseorang yang ternyata dipakai untuk melihat sesuatu dengan orang yang bukan dia (ini kalau saya deskripsikan secara detail tentu akan spoiler sekali), bikin nyesek. Duh, jadi ingat bagaimana pertama kali merasakan naksir seseorang, melakukan apa pun demi menyenangkan orang yang kita sukai, lalu patah hati karenanya.

"Dengan beitu kita bisa belajar bahwa dunia ini nggak berhenti berputar untuk menontonmu menangis dan meratap. Juga, kita nggak akan bisa memaksa dunia menghapus air matamu dan mengasihanimu." ---halaman 140

Bad Boys

Judul : Bad Boys
Penulis : Nathalia Theodora 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 216 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2014
ISBN : 9786020306629
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Semua orang tahu, SMA Emerald dan SMA Vilmaris musuh bebuyutan, walaupun kini jarang tawuran. SMA Emerald dikomandani Austin, sementara SMA Vilmaris dipegang oleh Troy. Tapi siapa yang tahu bahwa Ivy, adik Troy, ternyata bersekolah di SMA Emerald?

Suatu hari, Lionel—tangan kanan Troy—diberi tugas untuk menjemput Ivy, dan kepergok oleh Austin! Menyimpulkan bahwa Ivy berpacaran dengan musuh, Austin menghukum Ivy menjadi pesuruh gengnya. Untuk menutupi identitasnya sebagai adik Troy, Ivy pun mematuhi perintah Austin, juga perintah Troy untuk pura-pura pacaran dengan Lionel.

Saat Ivy memohon pada Austin untuk menghentikan hukuman, Austin menyuruhnya putus dari Lionel sebagai syarat. Lagi pula, ternyata Ivy diam-diam mulai menyukai Austin...

Bisakah Ivy terus menutupi identitasnya ketika Austin akhirnya menyatakan cinta? Dan bagaimana tanggapan Ivy saat Lionel menganggapnya bukan sekadar adik Troy? 

***

Troy dan Ivy kakak beradik. Sementara, di sekolahnya Troy adalah ketua geng yang sering berantem dengan geng sekolah lain. Malangnya, sekolah lain itu adalah sekolah adiknya. Ivy memang menginginkan bersekolah di SMA Emerald, musuh bebuyutan SMA Vilmaris--sekolah Troy. Akibatnya, Troy harus sembunyi-sembunyi mengantar Ivy sekolah. Saat mengantar Ivy itulah Troy meminta Lionel, sahabatnya, untuk mengoper menjemput Ivy, agar keberadaan Troy tidak terlacak oleh Austin, dan keselamatan Ivy tidak terancam.

Austin, geng sekolah Emerald, sangat membenci Troy. Saat ia melihat ada anak SMA Emerald yang diantar oleh anggota geng SMA Vilmaris, ia marah dan murka. Kemurkaan itu ditujukan pada Ivy, si gadis yang ketahuan diantar-jemput Lionel. Demi keselamatan, Ivy tidak boleh mengaku sebagai adik Troy, dan harus menganggap Lionel sebagai pacar.

Sementara itu, sebagai hukuman, Ivy diharuskan untuk menjadi pesuruh Austin dan gengnya. Dari situlah kedekatan mereka menimbulkan bunga-bunga cinta.

Menyadari bahwa perasaan itu tidak boleh sampai terjadi, Ivy jadi bingung sendiri. Ia terpaksa berbohong dengan mengaku rumah Sophie, sahabatnya, adalah rumahnya, pada Austin. Dan begitu ia diajak ke rumah cowok itu, sebuah fakta menarik terkuak, yang berhubungan dengan Troy dan masa lalunya. Keadaan itu, membuat Ivy dan perasaannya pada Austin semakin sulit dan rumit.

Jadi, bisakah Ivy melaluinya dan berterus terang pada Troy maupun Austin?

***

Ada dua hal yang menggelitik saya selama membaca novel ini: Pertama, saya cukup terganggu dengan kalimat-kalimat percakapan formal yang nanggung. Saya merasa kurang sreg, karena nanggung itu. Baiknya, kalau mau dibuat baku ya baku sekalian, tapi kalau mau dibuat santai, alangkah lebih baik membuat kalimat yang lebih luwes lagi. Tapi ini nggak berlangsung setiap saat sih, rasanya hanya pada momen-momen tertentu saja percakapannya jadi kurang luwes. Tapi cukup mengganggu.

Kedua, saya agak kecewa sedikit karena yang ditonjolkan di dalam cerita ini adalah kisah percintaannya, bukan karakteristik bad boy-nya. Saya pikir bakal ada banyak adegan baku hantam yang seru *_* mengingat ilustrasi di awal bab pun menyiratkan begitu. Sekalinya ada berantem, eh, nggak live. Jiahaha.

Namun, saya cukup menikmati cerita ini, bahkan tidak ada bagian yang saya skip waktu membacanya. Apalagi kisah badboy-badboy-an lagi naik daun belakangan ini. (Karena pada dasarnya, dekat sama bad boy itu lebih greget buat naikin gengsi anak SMA ketimbang dekatin cowok-cowok taat peraturan atau nerd, wkwkwk.) Apalagi kisahnya simpel, dan narasinya oke (minus kalimat langsung yang tadi sedikit saya keluhkan). Membaca buku ini, saya jadi kepingin makan sate ayam.

Baiklah, yuk mari lanjut ke buku dua! :)

P.S. Kalau nggak baca ulasan dari salah satu goodreaders, saya nggak tahu kalau ada kesalahan penulisan di blurb, tentang nama sekolah Troy. Wah, cukup fatal juga, ya?


Hi, Nerd!

Judul : Hi, Nerd!
Penulis : Maria Mona
Penerbit : Novela
Tebal Buku : 114 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2016
ISBN : 9786024300081
Rating : 3 dari 5



Barangkali beginilah rasanya menjadi Pluto. Bertahun-tahun diakui sebagai planet sejati. Namun, kemudian para ilmuwan menganggapnya berbeda di antara planet-planet lain di Galaksi Bimasakti. Hanya karena membandel melewati bidang orbit planet lain. Pluto dipandang sebelah mata, dan diturunkan statusnya sebagai dwarf planet. ---halaman 103

***

Malu, marah, merana! Itu yang dirasakan Ara di sekolah barunya.

Ara yang sebelumnya dikenal sebagai Miss Tukang Bully karena suka menindas teman-temannya, kini menjumpai hari-hari pembalasan. Setelah pindah ke Jakarta, ia menjadi bulan-bulanan geng ABC (Aline, Bianka, Ciarra) karena berbagai alasan.

Posisi Ara semakin terpojok sejak ia menolong cowok cupu dari bully-an geng ABC, Alden. Cowok itu nerd abis, pendiam, dan sedikit aneh menurut Ara. Namun, pernahkah Ara menyangka jika cowok pemenang olimpiade astronomi itu yang kelak menyelamatkan masa remajanya?

***

Ara dulunya adalah "jagoan" tukang bully di sekolahnya. Namun, siapa sangka kepindahannya ke Jakarta membuat ia yang biasanya menjadi subjek berubah menjadi objek bully? Itu semua gara-gara kakaknya yang lemah, diterima kuliah di UI, membuat keluarganya harus pindah dari Malang ke Jakarta. Bukan hanya tentang pamornya saja yang bakal hilang, hubungannya dengan sang pacar pun juga terancam. Meskipun, Joan meyakinkan tentang hubungan jarak jauh mereka bakal baik-baik saja.

Sebelum masuk sekolah, ia memikirkan strategi untuk mendekati anak-anak populer agar kehidupannya sama dengan sebelumnya. Ia ingin berlagak bossy dan mencari teman yang sederajat dengannya. Beragam adaptasi sudah ia lakukan, termasuk mengubah kata sapa "aku-kamu" menjadi "lo-gue". Namun yang terjadi adalah... ia justru mendapat pem-bully-an karena logat Jawa-nya yang tidak bisa hilang. Akhirnya ia berteman dengan Vania, cewek aneh yang mulanya tidak bakal mau didekatinya. Orang yang justru diincarnya sebagai teman malah mem-bully-nya.

Ara berkenalan dengan Alden, si cowok aneh dan nerd di sekolahnya. Alden si cowok yang keluar sepuluh menit setelah soal ujian matematika sulit diberikan gurunya. Alden pula yang diumumkan guru mereka, bahwa cowok itu memenangkan olimpiade sains nasional bidang astronomi. Singkat cerita, Ara penasaran dengan cowok kutu buku dan antisosial itu. Sebaliknya, sebenarnya Alden pun penasaran dengan Ara yang mencoba untuk mendekatinya. Namun, sikap yang ditunjukkan Alden selalu dingin padanya. 

"Kadang, rasa penasaran adalah awal jatuh cinta." ---halaman 50

Begitu Ara mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan Alden dari situasi kurang menyenangkan yang berhubungan dengan keluarganya, mereka menjadi dekat. Hingga, saat permintaan Alden untuk mengunjungi kegiatan astronomi ternyata bertepatan dengan ulang tahun salah satu anggota geng ABC, yang mewajibkan mereka untuk hadir pada perayaannya.

Apakah Ara akan mengikuti ajakan Alden, ataukah ia tidak mau membuat perkara dengan geng ABC yang senang merisaknya itu? Lalu, bagaimana  hubungan LDR Ara dengan Joan? Apakah Ara sudah sepenuhnya jatuh cinta dengan Alden?

***

Di angkasa, kita hanya perlu duduk diam dan tenang. Tak mengapa bila yang kita tinggalkan akan terkenang-kenang. ---halaman 21

Novel ini saya baca guna kebutuhan riset sebenarnya, hehehe. Bercerita tentang pelaku perisakan yang kena getahnya karena sekarang menjadi korban. Ara dan kehidupan barunya, memberikan tantangan tersendiri buatnya. Kini ia menjadi korban pem-bully-an setelah gagal menjadi bagian dari orang-orang yang sederajat dengannya. Mengalami nasib berteman dengan cewek tidak populer dan penasaran dengan cowok aneh di kelasnya, membuat Ara mengalami kehidupan yang baru dan serba mengejutkan.

Saya suka dengan cara penulisan novela ini, meskipun di beberapa bagian masih terasa kaku. Seperti misalnya, penggunaan kata ganti: "Gadis asli Jawa Timur itu..." Ini menurut saya pribadi, sih, terkesan seperti sedang menulis di kolom berita di mana isi berita yang singkat, harus memasukkan segala unsur informasi di sana. Selebihnya, saya suka sekali cara penulis menyampaikan kisahnya. Saya juga menyenangi informasi seputar astronomi yang diselipkan di kisah ini. Saya jadi dapat pengetahuan baru dari sana.

Untuk kisahnya sendiri, sederhana, simpel, namun disampaikan dengan apik tanpa bertele-tele. Kisah Ara menghadapi perisakan, juga cerita percintaannya patut disimak. Manis, dan tidak berlebihan. Apalagi, novela ini cukup tipis hanya 114 halaman. Sekali duduk langsung selesai. :)

[Blogtour+Giveaway] Infinity

Judul : Infinity
Penulis : Mayang Aeni
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 250 Halaman
Cetakan Pertama, Desember 2016 
ISBN : 9786023757657
Rating : 3 dari 5

*Ikuti giveaway di akhir rewiew ini*


"Kalau manusia bisa milih sendiri takdirnya, dunia jadi nggak seimbang. Bakal banyak manusia yang tersakiti karena nggak dipilih." ---halaman 174

Blurb:


Bani kehilangan satu-satunya rumah untuk pulang ketika Bunda yang disayanginya meninggal dunia. Di saat tidak ada satu pun orang yang berdiri di sampingnya, justru Dinda menjadi satu-satunya yang bertahan untuknya, menemani Bani di saat lelaki itu merasa dunianya tengah runtuh. Dinda bukan sosok yang asing untuk Bani, gadis itu sudah masuk ke daftar orang yang tidak disukainya sejak pertemuan pertama mereka. Tapi semesta seolah berkonspirasi untuk mempertemukannya dan Dinda dalam suatu liburan keluarga, sampai akhirnya Dinda pun mulai mengetahui sedikit demi sedikit rahasia yang Bani simpan. Termasuk rahasia tentang keluarga Bani yang semula tersimpan rapat. Keberadaan Dinda selepas kepergian Bunda di sisi Bani perlahan-lahan membantu Bani untuk bangkit kembali, berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Dengan Dinda, Bani menemukan kembali rumahnya untuk pulang.

***

Bani dan Dinda bertemu di awal kelas sebelas, saat Dinda yang merupakan murid pindahan dari Bandung masuk ke sekolah yang sama dengan Bani. Dengan dalih tidak merasakan MOS, geng populer Bani melakukan masa orientasi mereka sendiri terhadap Dinda. Dan karena Dinda tidak diam saja saat diperlakukan semena-mena, dia menjadi sasaran incar Bani yang memperpanjang hukuman untuk Dinda, selama satu semester.

Di akhir semester ganjil, Dinda terpaksa ikut ibunya liburan ke Lembang, rumah sahabat Mama yang lama tidak ketemu. Padahal, Dinda ingin berlibur ke tempat nenek. Akhirnya, masa liburannya harus dihabiskan di Lembang, tempat tante Ambar berada. Dinda dikejutkan dengan penampakan sosok tak asing yang ada di rumah itu, Bani! Ternyata, Bani adalah anak tante Ambar! Dan berkebalikan dengan sikapnya yang bossy dan menyebalkan di sekolah, Bani yang dia lihat saat itu adalah Bani yang manja. Pokoknya, kepribadian Bani sangat bertolak belakang. Dinda merasa, liburannya bakal kian menyedihkan. Namun, dia senang juga karena mengetahui sisi lain dari Bani. Setidaknya, kalau Bani macam-macam lagi di sekolah, dia bisa membeberkan fakta itu.

Secara mengejutkan, berita kematian Tante Ambar datang ketika mereka selesai berlibur di sana. Saat itu, Dinda lagi menghabiskan sisa masa liburan di rumah nenek. Dinda jadi teringat cowok itu, Bani, dan bagaimana perasaannya ketika kehilangan sosok ibu yang sangat dicintainya itu? Apakah dia akan baik-baik saja?

Selepas kepergian ibunya, hidup Bani yang memang sudah suram menjadi bertambah muram. Dia benci dengan ayahnya yang secara tidak langsung membuat Bani dan ibunya terusir dari rumah saat menikah lagi. Apalagi, saudara tirinya ternyata satu sekolah dengannya. Bani yang memutuskan membenci orang-orang yang sudah merusak hidupnya itu memilih untuk semakin membenci mereka. Dinda, yang ternyata mengetahui sisi kelam Bani tersebut, mencoba menariknya dari kubangan duka, dan membantunya untuk memaafkan mereka semua. Di sisi lain, Bani menemukan sosok Dinda yang mengingatkannya pada kasih sayang ibunya yang telah tiada.

Apakah usaha Dinda bakal berakhir?

***

Satu lagi teenlit yang saya baca bulan ini. Bisa dibilang, Infinity menyuguhkan kisah love-hate relationship yang dialami oleh remaja seusia SMA. Dibalut dengan gaya tutur yang renyah, dan juga konflik khas anak SMA, yaitu tentang pembullyan, geng populer, dan kisah cinta yang melingkupinya.

Mulanya, saya merasa ada kemiripan plot yang membuat saya teringat dengan Petualangan Sherina. Cewek jago yang ternyata menangkap basah cowok sok jago yang di rumah anak mami. Eh tapi, untungnya nggak sama persis kok, apalagi setelah kejadian di Lembang itu, semuanya berjalan dengan plotnya sendiri.

Saya suka dengan karakter Dinda meskipun agak aneh dengan Bani. Tapi, Bani memang sepertinya diset seperti itu, cowok populer yang ternyata rapuh. Banyak permasalahan tentang keluarganya yang membuat karakter Bani menjadi seperti itu.

Perubahan yang dialami karakternya berjalan dengan natural. Konflik yang terjadi beserta cara penyelesaiannya pun cukup apik. Bagaimana peran masing-masing karakternya bekerja saling melengkapi, memberikan sumbangsih besar dalam perubahan yang terjadi dalam kisah ini. Satu karakter yang saya suka di sini, tentu saja Dinda. Dinda yang karakternya begitu santai, tapi mampu mengubah sosok Bani dan kehidupan keluarganya yang cukup pelik.

Tiga bintang untuk kisah manis Bani dan Dinda.

***

It's giveaway time!




Tidak terasa sudah pemberhentian terakhir dari rangkaian blogtour Infinity. Saya akan memberikan satu buah novel Infinity karya Mayang Aeni untuk kamu yang beruntung mengikuti giveaway kali ini. Caranya mudah sekali lho. Tapi sebelumnya, cek ketentuan berikut, ya:

  1. Giveaway ini hanya untuk kalian yang berdomisili atau memiliki alamat pos di Indonesia.
  2. Follow blog saya melalui akun Google Friend Connect yang ada di sidebar blog ini.
  3. Follow akun twitter @mayangaenii@grasindo_id, dan @niesya_bilqis.
  4. Share giveaway ini di akun twitter kalian. Jangan lupa mention @mayangaenii@grasindo_id, dan @niesya_bilqis, dengan tambahan hashtag #InfinityGA ya. Jangan lupa kasih link menuju giveaway ini.
  5. Quote twit saya yang ini dan lanjutkan kalimat saya di quote kalian.
    Pilih "Kutip Tweet", lalu tuliskan jawaban kalian di sana.
  6. Berikan komentar di bawah postingan ini dengan menuliskan nama, alamat twitter, link share, dan link quote.
  7. Giveaway ini akan berlangsung selama satu minggu dari tanggal 30 Januari hingga 3 Februari 2017. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan satu hari setelahnya yaitu 4 Februari 2017. Apabila dalam waktu 3 x 24 jam tidak ada konfirmasi dari pemenang, akan dipilih pemenang lainnya. 

Semoga kalian beruntung! :)

The Number You Are Trying to Reach is Not Reachable

Judul : The Number You Are Trying to Reach is Not Reachable
Penulis : Adara Kirana
Penerbit : Bukune
Tebal Buku : 298 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2016 
ISBN : 9786022201960
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Kata orang-orang, aku ini genius dan kelewat serius.

Oke, memang koleksi piala dan medali olimpiadeku sedikit lebih banyak dari jumlah perempuan yang dilirik Zeus. Aku masih seusia anak kelas sepuluh, tapi sudah ikut beberapa try out SBMPTN, dan dapat nilai paling tinggi.

Namun, Kak Zahra—guru homeschooling-ku-menganggapku perlu bersosialisasi. Katanya, biar "nyambung" sama orang-orang.

Untuk apa? Aku punya teman kok: Mama, Kak Zahra, Hera, dan... saudara-saudara yang sering kulupa namanya.

***

“The Thirteen Books of Euclid's Elements. Buku itu bisa kamu dapat asal kamu mau masuk SMA,” tantang Kak Zahra suatu hari.

Tidak mungkin. Itu kan, buku legendaris yang ditulis sejak abad ketiga sebelum Masehi. Aku ingin sekali mengoleksi dan mempelajarinya sendiri. Rasanya pasti lebih memuaskan.

"Oke, aku coba satu semester, ya," jawabku mantap.

Demi buku itu, bolehlah aku jalani hidup sebagai anak SMA biasa. Lagi pula, sesulit apa "nyambung" sama orang-orang?

***

Aira, seorang gadis genius yang bersekolah secara homeschooling, mendapatkan tantangan ketika Kak Zahra, guru homeschooling-nya memberi tahu bahwa ada lomba cerdas cermat matematika berhadiah buku yang diincarnya, The Thirteen Books of Euclid's Elements. Karena saya penasaran, jadinya googling dan menemukan inilah wujud bukunya:



Namun, untuk bisa terlibat dalam lomba tersebut, Aira harus masuk SMA. Karena, mendaftarnya harus via sekolah resmi. Atas nama lembaga homeschooling juga sebenarnya bisa, hanya saja tidak ada anak lain dalam pengasuhan Kak Zahra yang meminati itu. Akhirnya, dia membuat perjanjian dengan Mama dan Kak Zahra, bahwa Aira mau bersekolah. Memangnya, apa salahnya masuk SMA dan bersosialisasi? Dia bisa mencobanya selama satu semester.

Selama ini, Aira tidak pernah belajar di sekolah formal. Pengalamannya bersosialisasi di sekolah hanyalah di kelas 1 SD, dan itu tidak menyenangkan. Aira adalah anak genius, dan dia merasa bahwa teman-temannya tidak bisa mengimbangi kegeniusannya. Saat seumuran murid kelas sepuluh SMA saja, dia sudah menguasai materi SMA semuanya. Aira dan ibunya, sering membahas banyak hal di rumah yang membuat kepintarannya terus terasah.

Akhirnya, Aira bersekolah SMA juga. Dia melalui masa orientasi sekolah dan berkenalan dengan. Kalila, juga Rio, dan Arka. Karena tidak ingin dianggap aneh, Aira menyembunyikan kepintarannya dan berusaha berlaku sewajarnya anak SMA. Tapi, dia kesulitan karena memang tidak mengerti pola pikir teman-temannya, terlebih lagi, bahasa yang mereka pergunakan. Namun, Kalila mau berteman dengan Aira dengan segala keluguan dan kepolosannya. Bersama Rio, yang terlihat naksir dengannya, Aira diajarkan bahasa-bahasa gaul supaya dia mengerti dan cepat beradaptasi. Sementara dengan Arka, dia sebenarnya adalah guru mata pelajaran tambahan bagi murid-murid yang merasa butuh pelajaran tambahan di sekolahnya. Rio mengajak Aira untuk mengikuti kelas tersebut. Dan di sanalah dia berkenalan dengan Arka yang tidak mau dipanggil "Pak Guru" karena memang masih muda.

Keakraban Aira dan Arka, pada mulanya adalah karena salah sambung. Aira yang mau menghubungi Rio, justru malah memencet nomor telepon Arka. Dari sana, ketahuan bahwa mereka ternyata memiliki minat yang sama, buku sastra. Terutama, A Tale of Two Cities. Sejak itu, selepas jam tambahan, Aira dan Arka mengobrol banyak. Apalagi, disertai dengan saling pinjam-meminjam buku.

Aira sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia masih tetap berteman dengan Kalila meskipun mereka berbeda kelas. Untuk menutupi kegeniusannya, Aira menyalahkan beberapa soal saat ulangan. Dia juga tidak menceritakan pada siapa pun tentang kemampuannya itu. Termasuk Kalila. Namun, Aira tidak melupakan tujuan awal dia bersekolah: untuk mengikuti lomba matematika memperebutkan The Thirteen Books of Euclid's Elements. Saat seleksi awal tingkat sekolah, Aira begitu antusias mengikutinya. Meskipun, dia harus bersaing dengan Kalila yang terpaksa ikut demi memberikan bukti pada orangtuanya kalau dia juga berprestasi dalam bidang akademik, bukan hanya sekadar pandai dalam bidang melukis yang menjadi passion-nya.

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Aira selamanya tetap berbohong tentang kegeniusannya itu? Bagaimana kisah cinta Aira sendiri? Apakah dia pada akhirnya suka sam Rio, atau justru pada Arka sang guru?

***

Sebenarnya, saya sudah lama kepingin baca buku ini. Namun, beberapa kali saya urungkan karena harganya terlalu mahal bagi saya (untuk ukuran buku teenlit). Tapi, karena ada beberapa alasan (yang akan saya uraikan di bawah), saya pasti bakal baca buku ini. Ternyata saya justru mempercepat membeli dan membaca buku ini. Barangkali karena bulan ini adalah bulan membaca teenlit bagi saya. 

Kenapa saya kepingin membaca buku ini? Karena..., penulisnya seorang Potterhead *gdubraks*. Alih-alih karena buku ini ramai di laman goodreads dengan ulasan yang positif, atau judulnya yang familier di dengar dan membuat penasaran, saya justru tertarik membacanya karena si penulis yang seorang fans Harry Potter sama seperti saya. Benar, kan? Lalu, ditambah alasan-alasan tadi, saya memutuskan kalau saya bakal beli bukunya. Dan karena saya butuh riset tentang teenlit, akhirnya saya mempercepat belinya begitu lihat buku ini di Gramedia (sambil tutup mata lihatin harganya).

Sebagai penimbun buku, dan membaca buku ini di hari yang sama dengan saat membelinya, itu merupakan prestasi besar bagi saya. Dan buku ini, berhasil mencuri perhatian dari beberapa lembaran awalnya. Saat malamnya menemani Ibu antre dokter, saya bahkan menyelesaikan seratusan halaman awal. Namun sayangnya, karena beberapa hari kemudian harus fokus mengerjakan sesuatu, akhirnya bacanya tersendat. Dan ketika sudah selesai membacanya, saya baru bisa memberikan ulasan sekarang.

Bahasa yang digunakan enak, enaak bangeet! Mengalir. Makanya saya melaju dengan cepat saat membacanya. Lalu, untuk segi karakter, dapat banget. Aira ini polos, tapi pintar. Suka membaca, suka belajar banyak hal, rasa ingin tahunya besar. Tipikal Ravenclaw banget. Lalu ada Rio, dengan segala kepercayaan dirinya. Rio yang sabar mengajari Aira yang aneh, membuat Aira keluar dari tempurungnya dan melihat dunia dari kacamata yang berbeda. Sementara Arka, waduh, cowok penyuka novel klasik itu kalau ada di dunia nyata idola banget! Dan sosok Kalila, juga memberikan warna tersendiri dalam kehidupan Aira.

Melalui Aira, entah mengapa rasanya saya melihat diri saya sendiri di sana. Aira yang introvert, suka membaca, hidup dalam dunianya sendiri. Buku kesukaan Aira pun, saya menyukainya juga, dan menjadi buku klasik terbaik! (Baca: A Tale of Two Cities) Saya juga lebih menyukai Jane Bennet (just because yang main Rosamund Pike *plak*) ketimbang Liz Bennet di Pride and Prejudice. Bisa dibilang, buku-buku sastra yang dibahas di buku ini, sepertinya saya sudah baca semuanya. Pokoknya, kecintaan Aira pada buku, dan rumahnya yang dipenuhi dengan buku-buku itu, mirip dengan saya! Bahkan, beberapa kosa kata gaul pun, ada yang nggak saya mengerti. Sama banget ya dengan Aira, wkwkwk, meskipun saya nggak polos-polos banget sampai tidak tahu apa itu arti "modus". Anyway, bagian itu saya suka banget lho! Sampai ngakak bacanya.

"Aira, kayaknya, si Rio modus sama lo, deh."
"Nilai terbanyak?"
"Hah?"
"Modus." ---halaman 43

Barangkali ada yang nggak ngerti, modus itu dalam istilah matematika artinya nilai terbanyak =)) Yang bego lagi ini, kelanjutan dari modus:

"Rio, lo ngerti bahasa gaul kan?"
"Iya. Knp?"
"Modus itu apa sih? Masa katanya, gue disuruh modus ke lo gara-gara kata temen gue, lo udah menunjukkan tanda-tanda modus."
"HAHAHAHA." ---halaman 48

*Ngakak sampai Saturnus* =)))

Saya suka Arka, saya juga suka sama Rio. Dua tipe yang bertolak belakang tapi saya suka kedua-duanya. Rio yang santai, Arka yang kalem. Saya suka perkataan Arka yang ini:

"Jangan lihat dari sudut pandang kamu aja, Aira. Dunia kan besar--kamu enggak mungkin melihat semuanya cuma dari satu sudut pandang." ---halaman 219

Tentang judulnya sendiri, sebenarnya saya bingung, kenapa bisa dikasih judul seperti itu ya? Rasanya kok nggak nyambung sama sekali. Tapi ternyata, di tengah menuju akhir, ada penjelasan kenapa bisa seperti itu. Penjelasan yang nggak dimengerti Aira kalau nggak dijelasin. Oke, mungkin karena saya agak mirip dengan Aira, jadinya nggak tahu juga kenapa *lah*. Dan perkembangan karakternya itu, saya suka. Berjalan alami dengan semestinya.

Dulu--dan mungkin--sekarang, aku masih nomor yang tidak bisa diraih, tapi aku memutuskan untuk mulai mengangkat panggilan orang-orang. ---halaman 225

Untuk kesalahan penulisan sendiri, sayangnya, masih banyaaaaaak. Tapi sepertinya penulisnya sadar. Kalian bisa kunjungi blog penulis kalau mau tahu kesalahan apa saja yang ada di buku ini (tapi di sana ada spoiler dikit dari yang komentar, kalau nggak mau kena spoiler jangan diklik ya, wkwk). Jadinya, saya nggak perlu menambahi. Ada beberapa bagaian yang terkesan memaksa juga, tapi itu nggak berpengaruh banyak sama cerita ini kok. Mungkin untuk di lain kesempatan, beberapa plotnya harus dipikirkan lebih logis lagi kali yah. Tapi lagi-lagi, itu nggak berpengaruh besar pada cerita, tenang saja.

Kalau kamu mencari buku teenlit yang ringan dan menghibur, dengan gaya penyampaian yang menarik dan nggak bikin bosan, buku ini saya rekomendasikan untuk kalian. Dan, saya menunggu karya lain dari penulisnya. So, keep writing ya!


Sky

Judul : Sky
Penulis : Aiu Ahra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 280 Halaman
Cetakan Pertama, Desember 2016 
ISBN : 9786020334639
Rating : 3 dari 5


"Cara terbaik ngebebasin diri kita dari belenggu yang kita ciptakan sendiri adalah melepaskannya. Katakan apa yang kamu mau, katakan apa yang membuat perasaanmu sesak. Dengan begitu, nggak bakal ada yang mengganjal di dada kamu lagi." ---halaman 101

Blurb:

Lyn merindukan tawa Kay yang dulu. Ringan dan bebas, walau seringkali diiringi air mata cengeng. Tawa yang hilang setelah kematian ibuku. Setelah itu, Kay tinggal bersama keluarga Lyn selama tujuh tahun. Kondisi itu ternyata tidak cukup untuk membuat Kay percaya sepenuhnya pada Lyn.


Sikap Kay yang pesimistis berbanding terbalik dengan Lyn yang ceria. Bahkan ketika Lyn membicarakan tentang kesukaan akan langit dan olahraga lari membuat Kay semakin menutup diri. Meski menyukai musik klasik dan bermain piano, Kay tidak berani menjadikan itu mimpinya, apalagi jika harus mendaftar di universitas musik setelah lulus SMA.

Akankah kehadiran orang-orang dalam hidup Kay dan Lyn membuat mereka menyadari perasaan masing-masing? Atau justru semakin membuat mereka menjauh?

***

Lyn memiliki hobi berlari. Baginya, berlari adalah membebaskan. Merasakan embusan angin dan terpaan sinar matahari benar-benar membahagiakan. Apalagi, jika di garis finis ada Kay yang membawakan botol air mineral padanya. Lengkap sudah kebahagiaan Lyn. Kay adalah sahabatnya sejak kecil. Bahkan, setelah peristiwa tidak menyenangkan yang menimpa Kay beberapa tahun silam, Kay diadopsi oleh orangtua Lyn. Sejak saat itu, mereka berdua tak terpisahkan.

Kay mengalami masa kecil yang mengerikan. Sesuatu terjadi pada orangtuanya yang menyebabkan kepribadiannya menjadi tertutup. Segala cara dilakukan oleh Lyn agar mengembalikan sahabat masa kecilnya itu. Lyn mendorong Kay yang menyenangi bermain piano untuk ikut kejuaraan, dan lain-lain. Namun, Kay tetap bergeming. Dia tidak bergerak untuk mengubah keadaan.

Suatu hari muncullah Luna, murid pindahan yang masuk ke dalam kehidupan Kay dan Lyn. Kay seperti becermin saat melihat Luna. Gadis itu penyuka musik dan piano sama sepertinya, dan juga, gadis itu terlihat rapuh. Keduanya menjadi dekat. Sementara itu, Lyn menangkap basah stalker yang memfotonya diam-diam. Rupanya dia adalah Ethan. Sejak saat itu, keduanya sering terlibat obrolan.

Kehadiran Luna, membuat Kay keluar dari zona kesendiriannya. Kehadiran Ethan, membuat Lyn merasa tidak sendirian karena Kay yang menjauhinya. Padahal, dua orang itu, Kay dan Lyn, saling memendam perasaan yang sama.

"Gimanapun, siapa yang berani mencintai artinya dia siap dengan segala konsekuensi termasuk... patah hati." ---halaman 179

Lalu, bagaimana kelanjutan kisah mereka?

***

Sky adalah novel teenlit terakhir yang saya baca di bulan ini. Menceritakan tentang kisah cinta segi empat di antara tokoh-tokohnya. Masing-masing karakter memiliki kisah mereka sendiri. Selain itu, mereka juga punya kesukaan yang menjadi jalan hidup mereka masing-masing: Lyn dengan lari, Kay dan Luna yang menyukai bermain piano, Ethan dengan kameranya.

Novel ini bukan hanya tentang kisah cintanya saja, melainkan berbicara tentang ambisi dan mimpi, juga bagaimana keluar dari ketakutan-ketakutan tentang masa lalu yang kurang menyenangkan. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kisah mereka.

Alur kisah ini bergerak maju, meskipun sesekali ada flashback juga. Hanya saja, saya merasakan kalau ceritanya sendiri berjalan begitu lambat. Namun karena disampaikan dengan apik, membuat saya tidak mati kebosanan saat membacanya. Dari segi penokohan sendiri, saya bisa merasakan bagaimana karakter-karakter ini tumbuh. Lyn yang ceria dan optimis, Ethan yang santai, Kay yang pasif dan menyimpan banyak hal dalam kepalanya, Luna yang manis. Anehnya, saya justru lebih menyukai sosok Ethan di sini ketimbang Kay. 

Novel ini dikemas cukup baik, dengan salah satu bagian ceritanya yang muncul sebagai prolog. Cukup bisa memancing penasaran pembaca, kok. Namun, hanya saja, ada banyak kesalahan penulisan di sini. Sayang sekali. Kalau harus menandai satu per satu rasanya kebanyakan. Lagi pula, saya bacanya via buku digital jadinya tidak memberikan penanda. Kalau bacanya via buku cetak, mungkin mudah menandainya di post-it. Yang kentara saja, misalnya di blurb. Atau, tentang penulisan elipsis. Ada yang dijeda dengan spasi, ada yang nyambung dengan kata selanjutnya. (Saya daftar jadi proofreader bisa nggak? *modus*)

Disampaikan melalui sudut pandang orang ketiga, membuat pembaca merasakan gemas dan kesal terhadap apa yang dipikirkan oleh masing-masing tokohnya, tapi mereka saling tidak mengetahui. Kesal juga bacanya, hahaha. Penulis berhasil membuat kesan dalam ceritanya yang bakal dikenang oleh pembaca.

Namun, di luar itu semua, saya senang membaca Sky. Jadi turut membayangkan bagaimana menyenangkannya berlari. Mengingat, saya sudah lama nggak lari. Seringnya sih, justru malah lari dari kenyataan *ehh*.

"Saat kamu sadar bahwa apa yang kamu inginkan mustahil didapatkan, mundur teratur adalah satu-satunya jalan keluar sebelum kamu terluka lebih dalam. Kamu pernah dengar ungkapan itu, Lun?"
"Tapi itu pengecut namanya, Kay." ---halaman 145


Ada Cinta di SMA

Judul : Ada Cinta di SMA
Penulis : Haqi Achmad
Penerbit : Gagas Media
Tebal Buku : 256 Halaman
Cetakan Keempat, 2016
ISBN :  9789797808655
Rating : 4 dari 5



Kamu harus yakin. Kalau kamu yakin, kamu bisa mendapatkan apa pun yang kamu mau. ---halaman 60

Blurb:

Otak dan hati sering kali berselisih. Saat otak mengharuskan kita melihat segala sesuatu dari banyak sisi, hati pun pasti ingin didengar dan dituruti. Lalu, bagaimana bila hati selalu hadir di tengah kompetisi pemilihan ketua OSIS?

Didukung Aldi, sahabatnya, Iqbal mencalonkan diri menjadi ketua OSIS untuk menggantikan posisi Kiki. Dalam kompetisi itu, Iqbal harus bersaing dengan Ayla, sosok pintar yang berambisi besar untuk menang. Ya, Ayla, gadis cantik yang dulu pernah mengisi ruang di hati Iqbal.

Iqbal ingin membuktikan kepada orangtua dan teman-temannya, bahwa ia mampu meski hatinya ingin mengalah. Sementara, Aldi selalu mendukung penuh sahabatnya meski menghalalkan segala cara dan mengabaikan hati kecilnya. Begitu pula Kiki, yang ingin mengikuti kata hatinya untuk fokus menekuni bidang musik setelah dia tak lagi menjabat sebagai ketua OSIS.

Lalu, apakah hati bisa menjadi juaranya?

Kalah bukan pilihan.

Menang adalah tujuan. 

***

Iqbal dan Aldi bersahabat. Iqbal lahir dan besar dari keluarga besar, dengan banyak saudara. Keluarganya sederhana, bukan dari kalangan berada. Keluarga Iqbal menginginkan dia bersekolah yang benar, tidak usah macam-macam. Iqbal juga senang bermusik. Sementara Aldi, dia berasal dari keluarga berada. Obsesinya adalah ingin bermain band. Namun, fasilitas sekolah di klub musik menurutnya tidak memadai. Aldi termasuk anak gaul kekinian yang hobinya ber-snapchatAda pula Kiki, ketua OSIS yang sebentar lagi selesai jabatannya. Diam-diam, dia punya minat sangat besar dengan musik, tapi mendapat tantangan yang besar dari ayahnya. Dulunya, ayah Kiki adalah seorang pemusik. Namun, kehidupan berbalik hingga sekarang sang ayah berprofesi sebagai pengendara ojek online.

Tahun ini, pemilihan ketua OSIS dilakukan secara terbuka. Iqbal memutuskan untuk mencalonkan diri, karena dia ingin membuktikan kalau dirinya bisa berarti. Sebagai sahabat, Aldi mendukung Iqbal sepenuh hati, bahkan rela menghalalkan segala cara. Dalam persaingan perebutan posisi sebagai ketua OSIS, Iqbal berhadapan dengan Ayla, seorang gadis pintar ambisius yang membutuhkan posisi ketua OSIS sebagai pengalaman yang akan dibutuhkannya untuk beasiswa. 

Selain persaingan yang sengit dalam mengambil hati siswa-siswa di sekolahnya untuk memilih mereka, bumbu-bumbu percintaan pun muncul di antara keduanya. Tidak hanya antara Iqbal dan Ayla saja, tetapi bagi Aldi juga, dan Kiki, dengan tetangga samping rumahnya. Bagaimana bisa terjadi? Dan siapakah yang akhirnya dapat membuktikan diri? Bagaimana dengan obsesi bermusik yang ada pada Iqbal, Aldi, dan Kiki?

***

Pertama, saya bukan Comate (meskipun senang sama Iqbal dan terkejut dengan perubahan penampilan Aldi yang jadi makin cakep #heh). Tapi, saya harus mengakui kalau novel ini seru (dan saya jadi kepingin nonton filmnya meskipun belum kesampaian, hehehe). Saya baca ini karena kebutuhan riset, sebenarnya. Saya lagi butuh bacaan teenlit yang segar. Waktu baca contoh novel ini beberapa halaman di play book, saya langsung suka! Lalu, saya memutuskan untuk mencari versi cetaknya di Gramedia. 

Dan setelah membaca, ternyata seru. Saya suka bagaimana penulis menceritakan kisahnya. Tahulah saya bahwa di novel ini banyak sekali tokoh. Dan saya paham sekali bahwa ketiga tokoh utama kita, para personel CJR, harus mendapatkan porsi cerita dan konflik mereka masing-masing terlepas dari plot utama cerita ini. Jadi, boleh saya katakan bahwa penulis sukses meramu kisah ini dengan tidak membuat pembacanya bingung. Di bab-bab awal, penulis menggerakkan "kamera"-nya untuk memperkenalkan karakter-karakter penting dengan cara yang keren.

Saya suka dengan teknik menulis yang dimiliki penulis untuk kisah ini. Paragraf pendek-pendek, bahkan ada banyak yang hanya disampaikan dalam satu kalimat. Ini sukses membuat pembaca merasakan penekanan-penekanan pada scene yang sedang berlangsung. I learned a lot, thank you!

Pada mulanya, waktu saya melihat rating buku ini di Goodreads, saya terkejut dengan banyak yang merating dengan fantastis bombastis, hahaha. Oke, harus saya akui, CJR punya fans fanatik yang tidak bisa kau sepelekan begitu saja. Nah, saya jadi ragu, apakah buku ini selayak itu mendapatkan bintang bagus. Dan hasilnya, setelah saya membacanya, yah..., ada Cinta di SMA layak untuk itu. Dari buku-buku teenlit yang saya baca, buku ini termasuk yang terbagus. Percayalah. (Tbh, saya cukup "kejam" dalam merating teenlit.) Dan buku ini, berada di atas ekspektasi saya.

Jadi, overall, saya suka! Terima kasih kepada penulis karena dengan membaca ini, saya jadi belajar banyak tentang teknik penulisan yang simpel dan menyenangkan.


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)