Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu

Judul : Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu
Penulis : Joseph Rio Jovian Haminoto 
Penerbit : Gramata
Tebal Buku : 76 Halaman
ISBN : 9786028986823 
Rating : 4 dari 5






"Apakah rahasia kebahagiaan itu menurut kamu?"
"Ketika kita dicintai oleh orang yang kita cintai, ketika kita dapat berbagi pada sesama, ketika kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan." ---halaman 87

Blurb:

Raphael Harijono (Rafa) adalah seorang pria asal Indonesia yang memiliki segala yang diperlukan untuk bisa memenangkan pelelangan internasional di balai-balai metropolitan dunia. 

Dalam sebuah perburuannya, ia terseret masuk ke dalam sebuah perjalanan waktu bersama Emma Watts, seorang ahli bahasa dan arkeolog dari King's College, Universitas Cambridge, dan juga bersama seorang wanita pengusaha setengah baya asal Prancis bernama Magalie Vaillant yang begitu memesona dalam pemikiran, tindakan dan... waktu.

Picaro Donevante, warga kota Paris berdarah Italia, berjumpa dengan Solene de Morency, seorang wanita kepada siapa ia dengan tulus setia berjanji untuk menjadi mata dan hati baginya untuk melihat keajaiban dan kemegahan peradaban Timur Jauh dan berjanji untuk kembali menemuinya pada sebuah perayaan ekaristi di Notre Dame, Paris.

Perjalanan panjang Rafa dan Picaro tidak hanya membawa mereka memasuki masa gemilaunya kerajaan Majapahit, tapi juga menyatukan mereka ke dalam sebuah Persekutuan Waktu.

***

Rafa memiliki kisah cinta yang aneh namun tragis. Bagaimana tidak tragis, jika pertemuannya dengan orang yang ia cintai harus melalui rentang waktu dua kali sepuluh tahun karena sebuah permainan konyol yang disepakatinya dengan seorang wanita bernama Artjana. Sepuluh tahun pertama, pertemuan mereka begitu dramatis dan menyenangkan, namun sepuluh tahun berikutnya yang ada hanyalah tragedi.

Ketika Anda mencintai seseorang, Anda menjadi terlalu mencintainya. Sesuatu yang terlalu, apa pun itu, selalu menjadi tidak baik. Karena yang terlalu akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan." ---halaman 75

Selain kisah cintanya yang tidak mengalami keberuntungan, hidup Rafa bergelimang harta. Ia adalah seorang kolektor benda-benda langka dan mahal. Atas nasionalismenya, ia memburu benda-benda yang berhubungan dengan Indonesia dan bermaksud memboyongnya ke Museum Indonesia. Dalam perjalanan itu, ia mengincar sebuah manuskrip yang menceritakan tentang Majapahit yang bahkan lebih hebat ketimbang cerita Marco Polo. Dari sana ia bertemu dengan seorang wanita tua misterius yang mengaku dalam kehidupan sebelumnya pernah menjadi ibunya. Dan saat sebelum pelelangan manuskrip itu, ia juga bertemu dengan Emma Watts, ahli bahasa yang menerjemahkan lembaran papirus itu ke dalam bahasa Inggris.

Picaro Donevante, seorang pemuda dari abad keempat belas, menjadi pengungsi politik yang tinggal di Paris, jatuh cinta dengan seorang wanita bernama Solene de Morency yang juga menyukainya.

"Saya suka orang yang membaca karena mereka bagaikan laut dalam yang harus diselami untuk dapat melihat keindahannya dan tak akan pernah ada batas untuk berhenti. Tidak seperti pantai dangkal yang walsu jernih dan indahh dengan karang dan ikan-ikan kecil berwarna, segalanya terbatas dalam lingkup yang jelas." ---halaman 56

Picaro diberi sebuah buku oleh pengajarnya tentang cerita dari negeri yang bernama Cathay (negeri China), dan ia meminta Solene untuk membantunya menerjemahkan buku itu. Karena rasa cintanya, Picaro menjanjikan akan mengajak Solene untuk melihat itu semua.

"Aku ingin melihat dunia yang dilihat Tuan Marco Polo!" kata Solene dengan mata berbinar setelah satu tahun lebih kami menggenggam bersama catatan perjalanan Tuan Polo itu.
Seketika itu juga aku menjawab, "Kita pergi besok ke Konstantinopel! Dari sana kita akan menuju Cathay! Saya, Picaro Donevante, berjanji akan mengantar Nona Solene de Morency untuk melihat dunia yang ingin ia lihat! Saya akan memperlihatkan kebesaran Tuhan dan untuk itu saya berjanji!" ---halaman 77

Malangnya, Solene akan menikah dengan orang lain. Karena patah hatinya, Picaro memutuskan untuk pergi menuju ke Cathay seorang diri. Uang yang diberikan ibu dan adiknya ia gunakan sebagai bekal perjalanan. Mulanya Picaro pergi ke Jerussalem. Di sana ia bertemu dengan seorang budak bernama Kingsley dan seorang Mamluk (sebuah bangsa yang rakyatnya merupakan ksatria tangguh) yang kemudian menjadi teman perjalanannya bernama Tari Fathelldin. Tiga teman perjalanan ini merepresentasikan tiga keyakinan berbeda: Picaro yang seorang Katolik, Tariq yang seorang Muslim, dan Kingsley penganut Yahudi. Mereka bahkan pergi ke Timur mengikuti seorang biksu yang ingin mengajar agama Buddha di Suvarnadvipa (Sumatra) di Kerajaan Srivijaya. Picaro setuju untuk mengikuti biksu itu karena ia tahu bahwa tempat itu pernah disinggahi oleh Marco Polo. Di sana, mereka menemukan banyak hal yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Sisa-sisa kejayaan Kerajaan Srivijaya yang masih terasa sampai saat itu. Lalu, ketika ada kesempatan untuk pergi ke bumi Cathay, Picaro memutuskan untuk berubah haluan. Ia pergi ke Javadvipa (Jawa). 

Karena sebuah kejadian, Picaro menjadi dekat dengan pihak kerajaan Mataram. Picaro hidup lama di sana, bahkan puluhan tahun. Ia hidup bersamaan dengan perkembangan kerajaan. Mulai dari pengangkatan Tribhuwana Tunggadewi sebagai penguasa Mataram, lalu Gajah Mada sebagai Mahapatih, dan bagaimana Gajah Mada menguasai dan menyatukan bumi nusantara, dan juga menjadi saksi pengangkatan dan kehidupan Hayam Wuruk sebagai penguasa kerajaan di bumi Javadvipa itu.

Cerita Rafa dan Picaro berjalan seiringan dalam buku ini, menjalin sebuah kisah yang padu dan mengasyikkan untuk dibaca. Membaca buku ini, membuat belajar sejarah menjadi menyenangkan.

***

Bagi saya, buku ini pas jika dianalogikan seperti gado-gado. Banyak komponen yang dicampur di dalamnya, tapi rasanya tetap nikmat. Bayangkan saja dua lini masa yang berbeda, dua sudut pandang, lalu bercampurnya tokoh barat dan pribumi, roman dalam balutan sejarah. Ketika dikemas dengan baik, semua itu bisa menyatu juga dan menyenangkan untuk dinikmati.

Terlepas dari adanya kekurangan dalam novel ini (akan saya bahas di bawah), saya bisa mengatakan bahwa ini adalah sebuah karya yang menakjubkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada penulis yang bersedia mengirimkan bukunya untuk diulas oleh saya. Begitu saya mendapatkan buku ini dan membaca beberapa halamannya, saya yakin kalau akan suka dengan isinya. Dan ternyata, prediksi saya benar. Rasanya senang sekali dipertemukan oleh buku yang saya suka.




Ada dua sudut pandang dan dua setting dalam novel ini. Yang pertama, menceritakan dari sudut Rafa dengan PoV orang ketiga. Di sini, setting waktunya adalah masa kini dengan latar di berbagai tempat. Lalu, PoV orang pertama disajikan oleh Picaro. Meskipun di awal pergantiannya cukup konsisten, namun dari tengah menuju akhir buku, kisah Picaro lebih banyak disajikan. Ini karena memang kisah ini lebih banyak menceritakan tentang perjalanannya. 

Meskipun di blurb diceritakan bahwa kisah ini bercerita tentang kerajaan Majapahit, tapi cerita tentang perjalanan ke Timur baru muncul di halaman 150.

Aku ingat nasihat Ayah, "Ketika engkau menginginkan sesuatu, namun engkau belum bisa mendapatkannya, berada di dekat-dekatnyalah...." Saat itu yang kupikirkan adalah aku harus ke Timur. ---halaman 150.

(Anyway, saya suka kalimat itu, benar-benar mengena banget!)

Sebelum membahas tentang bumi Nusantara, saya justru mendapatkan rangkuman tentang Perang Salib (ada di halaman 132 sampai 136). Sebagai penikmat sejarah yang mager untuk membaca buku atau riset tentang sejarah, bonus tentang Perang Salib adalah sebuah informasi yang berharga. Lalu, ketika mereka sampai di Nusantara, saya juga jadi mendapatkan banyak sekali informasi tentang keadaan sosial dan sejarah tentang kerajaan di Nusantara. Saya sedih karena baru kenal dengan Dyah Pitaloka dan ceritanya yang tragis dari buku ini (huhuhu, sedih).

Namun, sangat disayangkan buku ini "ditangani" dengan kurang baik. Saya katakan demikian, karena banyak sekali kesalahan penulisan yang tidak dipoles dengan baik oleh editornya, entah apa sebabnya (oke, saya berusaha untuk berpikir positif). Seperti misalnya, penggunaan tanda baca, penulisan yang tidak sesuai (contoh sederhana misalnya kata "dimana" yang seharusnya "di mana", lalu kata-kata yang tidak sesuai dengan KBBI, seperti "semedi" yang bakunya adalah "semadi"; masih banyak contoh-contoh lainnya, banyak sekali). Saya pernah membaca buku yang tidak ditangani dengan baik dan membuat mood saya melonjak turun drastis. Dan untungnya, riset sejarah yang kuat dari cerita ini membuat kesalahan itu pun termaafkan. Bagaimana tidak termaafkan jika konten buku ini, terutama tentang sejarah yang diangkatnya, memiliki nilai yang lebih dari sekadar plus bagi orang awam yang ngakunya ingin belajar sejarah namun sedikit malas membaca nonfiksi seperti saya, hehehe. Tapi ini tetap menjadi catatan yang semoga mendapatkan perbaikan di kemudian hari. (Berkali-kali saya mengatakan, "Duh, sayang banget, buku ini keren, plot sejarahnya keren banget, tapi harus 'kalah' sama kesalahan editing dan penulisan".)

Satu hal yang bisa dipelajari dari membaca kisah ini adalah, penulis secara tidak langsung jadi mengajarkan kepada saya bagaimana teknik membuat cerita fiksi dengan tokoh-tokoh fiktif yang selaras dengan kisah sejarah. Menyelipkan seorang Picaro Donevante sebagai "figuran" dalam lembaran sejarah kerajaan Majapahit dengan nama-nama familiar seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Bhayangkara, adalah sebuah trik yang cerdas. Eh tapi, apakah memang Picaro adalah sebuah kisah fiksi atau benar-benar nyata? Mari kita tanya penulisnya :D

Meskipun ada plot yang absurd, misalnya cerita tentang Nyonya Vaillant, tapi masih dalam jangkauan penerimaan saya mengingat Paulo Coelho banyak mengangkat cerita yang demikian dalam novel-novelnya. Oke, apakah kemudian bisa dikatakan bahwa novel ini masuk ke dalam genre fantasi? Silakan dibaca sendiri bukunya untuk bisa menentukan :p

Sebelum mengakhiri review ini, saya juga ingin mengungkapkan kekaguman saya pada penulis yang begitu banyak menyelipkan kalimat-kalimat yang quote-able, namun pas. Artinya, kalimat itu sinkron dengan pembahasan yang tengah diceritakannya, bukan hanya karena sekadar ingin memberikan kalimat-kalimat puitis. Beberapa sangat mengena di hati saya, dan memang selaras dengan kehidupan. Pembaca benar-benar dimanjakan dengan kalimat indah sarat makna dan pembelajaran.

"Ada pesan yang tersirat dari sebuah jam pasir. Waktu akan terus berlari, namun ketika pasir habis, ia akan selesai. Waktu untuk jumlah pasir itu saja." ---halaman 24
"Waktu dan pengorbanan serta ketekunan adalah kunci dari semua ini. Kemungkinan untuk berhasil tidak lebih besar daripada kemungkinan untuk gagal. Namun, kalaupun gagal, saya tidak akan pernah menyesal karena saya telah mencoba melakukan hal yang besar dengan sepenuh hati." ---halaman 182
"Kita harus tahu kapan saat memulai dan kapan saat berhenti." ---halaman 344
"Tuan Puteri, saat sebuah rasa cinta terhadap seseorang dapat membuat diri kita menjadi lebih baik, itulah arti jatuh cinta yang sebenarnya. Karenanya sebuah rasa jatuh cinta perlu dibuktikan dalam selang waktu atas kebenaran artinya." ---halaman 362
"Anda akan memasuki zona waktu yang lain saat pada akhirnya kita semua akan tersadar bahwa cinta sejati adalah abadi dan tiada akhir." ---halaman 388


Sekali lagi, terima kasih kepada penulisnya yang sudah mengenalkan saya pada buku ini, dan ikut menjelajah ruang dan waktu bersama Picaro dan Rafa. 


2 komentar:

  1. Halo.
    saya mau nanya dong.
    buku ini bisa didapatkan dimana ya? saya sudah cari di gramedia tapi stoknya sudah pada habis :D

    ReplyDelete
  2. di gramedia margonda banyak, saya minggu lalu ke sana.

    ReplyDelete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)