Dangerous Love

Judul : Dangerous Love
Penulis : Christina Tirta
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 296 Halaman
ISBN : 9786020316796
Rating : 3 dari 5 



Blurb:


Dunia Catherine luluh lantak saat ibunya menikah lagi dengan Ayah Chantal. Chantal adalah gadis manis yang menyenangkan dan dicintai seluruh dunia. Hanya Catherine yang bertekad membencinya sepenuh hati. Bagaimana tidak? Chantal merebut Mami, satu-satunya orang yang ia sayangi. Chantal bagaikan tsunami yang menghancurkan kehidupan Catherine.


Namun, membenci Chantal bukanlah masalah terbesar Cath.

Hidupnya makin berantakan seperti keping-keping puzzle yang berserakan sejak Christ, pria misterius yang dikenalnya di kafe tenda Joe berhasil mencuri hatinya. Ia terpaksa menjalani kebohongan yang bagai jerat tak berujung pangkal.

Tertatih-tatih Cath berusaha melepaskan diri. Melewati berbagai rintangan yang membuatnya mengalami dan menyadari arti cinta dan benci.

Mencintai dan dicintai.

Membenci dan dibenci.

Sanggupkah Catherine terbebas dari perangkap itu dan menyusun keping-keping puzzle-nya hingga utuh? 

***
Kehidupan begitu rapuh dan membingungkan. Mencintai, dicintai, membenci, dibenci. Semua bagaikan roda yang tidak tahu kapan akan behenti berputar. --- Halaman 274


Mungkin benar, membenci seseorang itu seperti menambatkan beban berat di hatimu. Dan saat kau berhasil menggergaji salah satu rantai besi dan membiarkan jangkarnya terlepas darimu, kau sudah siap untuk maju kembali dan melanjutkan perjalananmu. --- Halaman 277 

***

Catherine adalah seorang gadis yang sikapnya dingin. Karakternya pun tertutup, membuat tidak semua orang dengan mudah bisa mengenalnya. Semula ia hanya tinggal berdua dengan Mami, yang selama ini menghidupinya seorang diri. Siapa ayahnya, selama ini hanya menjadi misteri.

Kehidupan Cath berubah saat sang Ibu menikah dengan Om Frans. Pria itu begitu mencintai ibunya. Tapi sebenarnya bukan itulah permasalahannya. Kehadiran Chantal, anak perempuan Om Frans lah yang membuat kehidupan Cath lebih buruk dari sebelum ini. Gadis itu begitu cantik dan manis, bagaikan porselen yang akan membuat siapa pun menyukai dirinya. Tapi itu justru membuat Cath semakin membenci Chantal. Ia menanggap bahwa kehadiran Chantal dalam hidupnya telah mengambil satu-satunya orang yang Cath cintai, yaitu Mami.

Cath bertemu dengan seorang pria misterius yang dikenalnya di kafe Joe, sahabatnya. Pria itu begitu saja masuk ke dalam kehidupannya, membuat Cath harus menjalankan skenario demi skenario yang bermula saat dirinya dimintai tolong oleh Chantal untuk menggantikannya bertemu dengan seseorang yang dijodohkan papi kepada Chantal. Di waktu yang sama, Chantal harus merayakan ulang tahun Nessa, adik Marco. Marco adalah pacar Chantal. Diam-diam ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang tidak mungkin disukai papinya.

Benar kata orang bijak, sekali kau berbohong, kau tak akan bisa berhenti. Kebohongan akan membelitmu sampai kau kehilangan napas dan termakan oleh kebohonganmu sendiri. --- Halaman 59

Keadaan menjadi runyam karena Cath harus melakukan kebohongan demi kebohongan untuk menutupi identitasnya yang sebenarnya. Belum lagi, peristiwa di masa lalu terus menghantui Cath. Bahkan, orang misterius yang terkait dengan peristiwa itu terus saja menerornya.

***

Saya suka dengan karakter Cath ini: dingin, tertutup, skeptis. Penulis benar-benar membuat karakter Cath kuat. Padahal, karakter utamanya ini nggak loveable. Kisahnya dibuat dengan jalinan plot yang bagus. Ada banyak yang membuat penasaran, dan penulis menempatkan tokoh lain untuk mengecoh pembaca--atau setidaknya membuat pembaca tidak dengan mudah menebak siapa pelakunya.

Kalau dibilang romance-thriller, menurut saya belum terlalu thriller banget meskipun memang tidak hanya sekadar menyuguhkan cerita romance semata. Yaaa, mungkin thriller versi saya ya yang tentang pembunuhan atau kejahatan level akut kali ya, jadi untuk buku ini belum terasa thriller-nya.

Sebenarnya ceritanya cukup bagus, penyampaiannya juga baik. Namun saya hanya bertahan dengan memberikan tiga bintang. Bagus, tapi tidak begitu memberikan kesan mendalam. Plotnya cukup berjalan mulus meskipun rasanya saat salah satu tokohnya melakukan kesalahan, terlalu mudah bagi tokoh lain untuk memberikan maaf. Meskipun, yeah, cara meminta maafnya romantis banget, hahaha.

Ada beberapa koreksi seputar penulisan yang saya catat di sini:
  1. Halaman 76: "manekin" yang seharusnya "maneken".
  2. Halaman 78 (dan masih banyak lagi): "kepengin" yang seharusnya "kepingin".
  3. Halaman 188: penulisan "Canada", seharusnya "Kanada" kan ya?
  4. Halaman 204: kalimat terakhir font-nya salah.
  5. Halaman 208: paragraf kedua dari bawah, kalimat pertama sepertinya seharusnya ditulis dengan huruf miring.
  6. Halaman 267: penulisan "sekalipun" seharusnya "sekali pun".

Check In (To Your Heart)

Judul : Check In (To Your Heart)
Penulis : Shinta Yanirma
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 216 Halaman
ISBN : 9786020325286
Rating : 2 dari 5 



Blurb:

Meskipun yatim piatu, Hana tak pernah kesepian. Ia menganggap kolega di hotel bintang  ima tempatnya bekerja dan relawan serta murid Sekolah Bambu sebagai keluarga.

Abe dikenal sebagai pebisnis yang misterius. Ia dipuja dan dibenci, juga selalu menolak untuk diwawancara.

Di puncak kariernya, Bagas memendam dalam-dalam luka lamanya yang belum sepenuhnya terobati.

Rangkaian peristiwa membuat pilihan hidup ketiganya saling menaut. Kejutan, kegembiraan, penolakan, pengkhianatan, dan kekecewaan datang silih berganti. Hingga tiba waktunya untuk memutuskan: pergi atau kembali.

Sampai akhirnya Hana bertanya, If only we weren’t fearful, would we be together by now?

***

Hana adalah seorang gadis 21 tahun yang bekerja di sebuah hotel bintang lima di Bandung. Sebagai seorang pegawai biasa, cukup mengejutkan kalau dirinya berteman akrab dengan Bagas, orang kedua jajaran tampuk kepemimpinan Hotel Pandawa. Bagas begitu kesepian karena kehidupan rumah tangganya berantakan.

Di lain pihak, ada Abe, seorang pebisnis yang berniat mengambil alih kepemilikan Hotel Pandawa. Baru saja membeli sekian persen saham di hotel tersebut, ia sudah berani membuat kebijakan yang mengejutkan para pegawai, salah satunya adalah dengan memangkas pegawai.

Secara mengejutkan, rupanya kemisteriusan Abe terjadi karena dia memiliki masa lalu yang suram. Tidak hanya masa lalunya yang gelap, tapi bisnis yang dikelolanya pun juga termasuk ke dalam lingkaran gelap. Abe dan organisasinya bekerja mengelola preman di Bandung, bisnis prostitusi terselubung, dan membantu pihak tertentu dalam memenangkan pilkada.

Seorang tokoh politik menggunakan jasa milik organisasi gelap Abe, dan dia, selaku orang yang punya nama berupaya untuk memenangkan tokoh tersebut. Dan kebetulan pula, Hana yang juga terlibat dalam Sekolah Bambu diminta bantuan serupa dalam kampanye pemenangan tokoh tersebut. Abe harus turun langsung untuk mendekati komunitas yang dikelola Hana tersebut. Dari sini mereka berkenalan.

Kedekatan Abe dan Hana membuat Bagas gerah (tapi ya dia gerah gitu aja sih, secara Abe kan bosnya dia). Di sisi lain, mantan istri Bagas kembali memunculkan diri.

Bagaimana kelanjutan kisah ini?

***

2 stars. Hmmm? Too much drama.

Mulanya saya memutuskan untuk membeli novel ini karena sedang ingin membaca Amore yang lovey dovey. Tertarik dengan blurb yang sepertinya akan membawa pembaca menikmati manisnya kisah ini. Tapi..., ternyata di luar ekspektasi.

Kisahnya terlalu klise, tapi sayang sekali menurut saya, cerita itu tidak dikembangkan dengan plot sebab-akibat yang kuat. Penjelasan satu dua paragraf tidak cukup untuk menjelaskan apa yang menjadi jalinan dalam plot utamanya.

Contohnya misalnya Hana, seorang gadis yang bekerja di hotel bintang lima, berasal dari kalangan bawah--yang memiliki jurang amat sangat lebar dengan orang kedua dalam jajaran tampuk pimpinan Hotel Pandawa. Meskipun Hana hanya menganggap Bagas sekadar teman, tapi si Bagas menganggap kebalikannya. Sebenarnya ini nggak ada masalah toh? Meskipun rasanya di dunia nyata kejadian ini langka. Taruhlah ada kisah serupa, San Chai dan Dao Ming Shi. Tapi, di serial Meteor Garden itu, tokoh San Chai digambarkan dengan kuat. Sehingga, ada alasan yang masuk akal kenapa sampai dua orang dari dua kasta sosial yang berbeda bisa jatuh cinta. (Oh well, meskipun saya percaya bahwa semua manusia di dunia ini berderajat sama, dan yang membedakannya hanyalah iman dan takwa #eya, tapi kan kita berbicara realita di sekeliling kita bagaimana.) Dan menurut saya, sosok Hana digambarkan kurang kuat untuk bisa dicintai oleh dua orang kalangan atas sekaligus. Apalagi, yang sirik Hana didekati sama manajer masa' cuma si Bunga doang? 

Itu yang pertama. Nah, selanjutnya..., saya memang agak cerewet kalau menyangkut kelogisan yang digambarkan dalam plot cerita. Selain itu, saya juga suka kalau penulis cerita memberikan banyak "remah roti" dalam jalinan ceritanya. Itu akan membuat pembaca penasaran (kalau dia ngeh dengan spoiler terselubung itu), atau justru membuat pembaca dapat menjalin hubungan sebab-akibat dengan cerita saat sudah terkuak di belakang. Di sini, seperti yang saya katakan di atas, bahwa satu paragraf "sebab" tidak cukup untuk menjadi alasan bagi "akibat" yang ditanggung setelahnya. Contohnya apa ya, oh, yang tentang siapa anak siapa itu lho. Juga kesempatan kerja yang tiba-tiba datang setelah sebelumnya tanpa sengaja berpapasan ketemu dan berbagi kartu nama. (Dan sepertinya masih banyak yang begini juga cuma saya lupa.) Terlalu banyak kebetulan dan keberuntungan akan menciderai kelogisan jalan cerita, eh?

Lalu yang ke Manado, katanya mau mencari jawaban atas sesuatu, eh di sana malah..., sepertinya si Hana lupa sama pencarian itu.

Pada mulanya, sebenarnya saya cukup suka dengan cerita ini. Karena, tidak hanya disuguhkan dengan kisah percintaan saja, namun dengan memasukkan unsur profesi di dalamnya, membuat pembaca mendapatkan informasi atau gambaran seputar dunia perhotelan dan manajemennya. Ini menurut saya adalah sebuah poin plus. Namun ketika penulis mengambil wilayah politik dan organisasi terselubung (yang memang nyata ada di dunia ini) yang berkiprah bawah tanah untuk menghandle preman-preman, prostitusi, dll, membuat novel ini yang semula hanya mengambil cakupan sempit, jadi melebar. Dan ini menurut saya (nggak tahu bagi yang lain), jadi membuat ceritanya tidak terfokus, karena jadi banyak yang harus terbahas. Mungkin tujuannya untuk menjadikan latar yang kuat bagi salah satu tokohnya, namun karena terlalu banyak permasalahan yang diangkat, tidak terfokus dan akhirnya keteteran untuk memberikan penyelesaian yang baik di akhir cerita. Lagi pula, ini jadi membuat cerita ini semakin unreachable. Tidak tersentuh oleh pembaca. Plotnya seperti sinetron dan drama-drama korea. Bukan berarti drama korea tidak bagus (saya salah satu pencintanya), tapi drama korea menghabiskan belasan episode untuk menjalin kisahnya sehingga menjadikan plot hole yang ada tertutup semua. Namun, di buku ini, karena keterbatasan halaman, jadi masih menimbulkan tanya di benak saya yang belum terkesekusi sempurna.

Di medio menuju akhir, banyak loncat setting. Satu dua atau tiga paragraf menurut saya tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi selama waktu yang ditinggalkan itu.

Untuk kesalahan penulisan sendiri, ada beberapa yang menjadi catatan bagi saya (nggak banyak yang saya ingat,, soalnya pas baca saya lagi kehilangan post-it buat nandain):

  1. Halaman 22, Eri di sana apakah maksudnya Pak Heri?
  2. Halaman 106: "kalaumu" mungkin maksudnya kalau kamu.
  3. Lupa di halaman berapa, ada penulisan "manapun" yang seharusnya "mana pun", "apa-pun" yang seharusnya "apa pun".


Overall, saya hanya bisa memberikan dua bintang, yang artinya saya cukup menikmati cerita di novel ini.

Api Awan Asap

Judul : Api Awan Asap
Penulis : Korrie Layun Rampan
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 176 Halaman
ISBN : 97860203750009
Rating : 3 dari 5 


Blurb:


Di sebuah kawasan, tepi Sungai Nyawatan, penduduk membangun lou (betang, rumah panjang). Dari lou itu, dua sahabat -Jue dan Sakatn- setelah menempuh perjalanan 300 kilometer, memasuki gua untuk mengambil sarang burung walet. Jue yang baru sebulan menikahi Nori, putri Petinggi Jepi, bertugas masuk ke dalam gua sambil pinggangnya diikat dengan tali plastik; sementara Sakatn menunggu di luar. Karena diam-diam Sakatn juga mencintai Nori, Sakatn lalu mengerat tali plastik itu. Akibatnya, Jue tersesat dalam gua yang gulita.

***
Seperti merica, seperti lombok, bagaikan ada yang menoreh. Ada keperihan yang tidak mengandung dendam, tetapi mengandung suka. Ada sakit yang tidak mendatangkan aduh,tetapi mendatangkan terima kasih yang melimpah ruah, bahkan mendatangkan tuah. --- Halaman 99


***

Kisah ini bermula dengan pesta pernikahan antara Nori dan Sakatn, yang harus dinodai dengan Pune, anak Nori dan Jue, yang terjatuh saat membawa darah kerbau sebagai ritual terakhir dari prosesi pernikahan ibunya. Lalu, cerita mengalami kilas balik ke masa lalu, saat Nori masih remaja dan menikah dengan Jue suami dan cinta sejatinya yang hilang dalam gua.

Selama nyaris dua puluh tahun Nori menjanda, membesarkan anaknya, juga memajukan desanya. Tidak sebersit pun ia menanggapi lamaran Sakatn yang tak henti datang menghampirinya. Nori pun dibuat bimbang dengan tawaran pernikahan ini. Apalagi, sebenarnya ia masih berharap bahwa Jue--entah bagaimana ceritanya--masih hidup. Cintanya begitu besar dengan Jue yang hanya sempat bersama dengannya satu bulan saja.



Sungguh susah menduga kebahagiaan dan keberhasilan sebuah perkawinan, karena hidup ini memang suatu misteri yang sukar diterjemahkan ke dalam perhitungan matematika. Keberhasilan sebuah perkawinan sangat ditentukan dari perjuangan, nasib, dan peruntungan pasangan itu sendiri. Bukan juga ditentukan oleh cantik atau ganteng, tidak juga ditentukan oleh kaya atau mskin, tetapi terutama ditentukan oleh niat utama perkawinan itu sendiri. --- Halaman 87

Setelah sekian lama, akhirnya Sakatn memberanikan diri untuk melamar secara adat dengan membawa seserahan yang begitu banyaknya. Nori pun akhirnya menerima lamaran itu. Tapi apa yang terjadi dengan pernikahan mereka? Mengapa seolah ada tangan-tangan gaib yang merusak prosesi sakral itu?

Selain kisah percintaan tersebut, cerita tentang lingkungan dan budaya suku Dayak Benuaq disajikan di sini. Ayah Nori adalah seorang tetua adat, di mana posisinya selain sebagai seorang pemimpin juga bertanggung jawab seputar apa yang terjadi dengan hutan yang sudah turun menurun mereka jaga. Keberadaan orang-orang kota, dengan surat-surat yang menyatakan tentang klaim kepemilikan dan penguasaan hutan menjadi ancaman. Belum lagi, asap membumbung karena mereka tidak paham bagaimana proses pengelolaan hutan dengan baik dan benar.


Kisah tentang bagaimana adat istiadat suku Dayak membumbui kisah ini dengan apik dan tentunya memberikan banyak pengetahuan bagi pembacanya.


***

Selama membaca novel ini, setting yang ada di dalam bayangan saya adalah seperti film zaman saya kecil, Ari Anak Rimba Indonesia (yang pemerannya Om Piet Pagau kalau nggak salah), yeah meskipun harus dinodai sama ingatan tentang film Jupe yang nggak sengaja ditonton saat nginap di tempat keluarga. Keduanya bercerita tentang suku Dayak, meskipun di sinetron Ari settingnya benar-benar melekat dalam ingatan. 

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Kalimantan Timur, sebenarnya saya tidak benar-benar paham dengan kebudayaan suku Dayak. Pernah punya sahabat dekat orang Dayak waktu SMP juga rasanya pengetahuan saya tentang suku ini masih minim. Maklum, hidup di Samarinda, jauh sekali dengan lokasi di mana suku Dayak hidup dan berkembang.

Membaca buku ini, membuat pengetahuan saya menjadi bertambah. Ada beberapa yang sudah saya ketahui, tapi banyak juga yang menjadi pengetahuan baru. Memang, kisah mistis yang ada di buku ini rasanya tidak masuk di akal. Tapi, hal-hal yang seperti itu sepertinya bukan tabu dan bisa jadi memang ada di dunia nyata saat ini. Oh saya tidak mau membahas itu sebenarnya. Yang saya ingin ceritakan dari membaca novel ini adalah, tentang dua kisah dan dua cerita yang disampaikan penulis di sini.

Pertama, kisah cinta antara Nori-Jue-Sakatn. Penulis dengan cerdas membawa pembacanya ke kilasan masa lalu dengan menampilkan cuplikan yang sebenarnya menjadi ending di dalam novel ini. Dengan pembukaan semacam ini, pembaca dibawa untuk mengikuti alur cerita, dengan menyimpan tanya apa yang terjadi dengan upacara pernikahan yang tengah berlangsung. Pembaca disuguhkan cerita seputar kehidupan suku Dayak, bagaimana mereka bersosialisasi, dan hal-hal yang berhubungan dengan adat istiadat suku ini.

Kedua, isu sosial yang diangkat dalam cerita, dan ini adalah kisah yang tidak asing di tanah Kalimantan yakni soal pembalakan, kebakaran, hak kepemilikan atas hutan. Ini menjadi poin plus. Dengan menyuguhkan kisah tentang apa yang terjadi dengan hutan Kalimantan saat ini, setidaknya membuat pembaca jadi mengetahui bahwa hutan Kalimantan sekarang sudah tidak sama lagi, semenjak pihak yang berkuasa mengelola hutan secara berlebihan. Dampaknya? Kebakaran hutan, kerusakan lahan, bahkan tidak mungkin keadaan ini bisa mengganggu kawasan pemukiman suku-suku yang berada di dekatnya.

Bahasa yang berbunga (kalau kata teman-teman lain yang baca, katanya bahasa khas anak role-playing) sebenarnya tidak begitu menjadi masalah bagi saya. Narasi juga cukup banyak, dan ini tidak mengganggu karena saya cukup menyukai narasi atau bahasa berbunga yang tidak berlebihan. Karena bukunya juga lumayan tipis, membuat saya menghabiskan buku ini dalam waktu yang cukup singkat.

Please Look After Mom

Judul : Please Look After Mom
Penulis : Kyung-Sook Shin
Penerjemah : Tanti Lesmana 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 296 Halaman
ISBN : 9786020315409
Rating : 5 dari 5 




Blurb:


Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.


Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini, perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.


***


Kapan terakhir kali kau menceritakan tentang pengalamanmu kepada ibumu? Di suatu titik, percakapan-percakapan antara kau dan Ibu menjadi seperlunya saja. --- Halaman 45


***


Park So-nyo, seorang wanita berumur 69 tahun, hilang di kereta bawah tanah Seoul. Suaminya tidak menyadari bahwa sang istri tidak berada di belakangnya. Dan ketika sang suami menyadarinya, semua sudah terlambat. Pun ketika ia kembali ke stasiun itu, istrinya tidak ada.

Anak-anak mereka merasa kehilangan. Mereka berembuk untuk memikirkan cara bagaimana agar ibu mereka ditemukan. Mulai dari membuat selebaran, membagikannya sendiri, dan membuat iklan di media massa. Selang beberapa waktu lamanya pun, ibu mereka belum juga ketemu. 

Setelah sang Ibu tidak ada di sisi mereka, barulah anak-anak dan suaminya menyadari, bahwa keberadaan Ibu tidak bisa digantikan oleh apa pun. Kilasan-kilasan cerita tentang kebaikan Ibu, dan kasih sayang yang Ibu berikan barulah disadari. Setelah segalanya terlambat....

Kisah ini diceritakan dengan berbagai macam sudut pandang, yang pertama adalah dari Chi-hon, anak ketiga Park So-nyo, dan anak perempuan pertamanya. Chi-hon adalah seorang penulis. Saat ibunya hilang, ia sedang berada di luar negeri. Ia bahkan baru tahu bunya menghilang setelah empat hari berselang.

Ada bagian yang benar-benar membuat saya tertampar saat membaca kisah dari sudut pandang Chi-hon ini. Dikatakan bahwa, seorang ibu bisa menjadi dekat dengan anak perempuannya atau justru malah menjadi asing satu sama lain. Sejak sekolah, Chi-hon sudah dipaksa oleh ibunya untuk tinggal di Seoul bersama Hyong-chol yang sudah terlebih dulu tinggal di kota. Ibunya tidak ingin Chi-hon menjadi perempuan sepertinya yang buta huruf. 

Hanya ada dua kemungkinan: seorang ibu menjadi sangat dekat dengan anak perempuannya, atau mereka menjadi asing terhadap satu sama lain. --- Halaman 26
Chi-hon merasa, selama ini dia cukup mengenal ibunya, namun nyatanya tidak. Dan ini semakin terasa ketika ibunya tidak ada lagi di sisinya, dan siap sedia mendengarkan ceritanya.

"Ibu, apa Ibu senang berada di dapur?" Waktu kau bertanya begitu, ibumu tidak mengerti apa yang kaumaksud.

"Bukan masalah senang atau tidak senang. Aku memasak karena sudah seharusnya. Aku mesti ke dapur supaya kalian semua bisa makan dan pergi ke sekolah, Mana bisa kita hanya melakukan apa yang kita sukai? Ada hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak." Ekspresi wajah Ibu seperti bertanya, "Pertanyaan macam apa itu?" Kemudian dia bergumam, "Kalau kau hanya melakukan apa-apa yang kausukai, lalu siapa yang akan mengerjakan apa-apa yang tidak kausukai?" --- Halaman 74

Chi-hon merasa, bahwa kepergian ibunya adalah karena dirinya, oleh sebab itu dia begitu bekerja keras melakukan apa pun demi mencari sang Ibu. Ia bahkan mendatangi tempat-tempat di mana telepon asing menghubunginya dan memberitahukan bahwa mereka pernah melihat sosok ibu mereka di sana.

Sudut pandang kedua, diceritakan oleh Hyong-chol, si anak tertua. Ibu sering mengucapkan permohonan maaf sejak Chi-hon bersamanya untuk melanjutkan SMP di kota. Sementara itu, Ibu bahkan selalu berbuat apa saja dan rela berkorban untuk anak-anaknya. Ibu rela mengantarkan berkas penting untuk Hyong-chol dan pergi ke Seoul sendirian saat tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya. Ibu menjual cincin pernikahannya untuk biaya sekolah anaknya. Ibu rela pulang malam dari Seoul karena tidak tega melihat anak-anaknya tidur berhimpitan di sana. Ibu selalu mengatakan bahwa ia harus menjadi panutan bagi adik-adiknya.

"Di sini, di kota, kau mesti menjadi orangtua bagi adik-adikmu." --- Halaman 133

"Kakak lelaki sulung mesti berwibawa. Mesti menjadi panutan. Kalau kakak sulung mengambil jalan yang salah, adik-adiknya akan ikut-ikutan." --- Halaman 134

Saat ia masih kecil, ada seorang perempuan yang hadir dalam keluarga mereka dan memberikan makanan kepada ia dan adik-adiknya, Hyong-chol-lah satu-satunya yang mengerti apa yang terjadi dengan orangtuanya. Ia tidak mau memakan bekal makanan itu, ia bahkan membuangnya. Namun apa yang terjadi saat Ibu mengetahui in? Ibu memarahi anak sulungnya itu sambil menangis. Hyong-chol harus makan, katanya, siapa pun yang memasak makanan itu; Ibu tidak akan terlalu sedih kalau dia mau makan, walaupun yang memasak adalah perempuan itu.

Bahkan ketika Hyong-chol sudah sukses dan memiliki keluarga sendiri, ia baru menyadari bahwa dirinya belum bisa membalas apa yang sudah dilakukan Ibu untuknya. Ada bagian sedih di akhir kisah kedua ini:

Dia menyadari bahwa seumur hidupnya, Ibu yakin sekali dirinyalah yang telah menjadi penghalang bagi anak lelakinya untuk mencapai mimpinya. --- Halaman 142

Kisah ketiga, diceritakan oleh Tuan Park, Suami So-nyo. Banyak cerita yang benar-benar menyayat hati di sini, tentang seorang pria yang selama lima puluh tahun menyia-nyiakan istrinya yang begitu baik padanya. 

Saat ia pulang ke rumah--dan berharap istrinya ada di sana--ia didatangi oleh seorang dari panti asuhan, yang melihat selebaran tentang berita kehilangan istrinya. Banyak kejutan yang disampaikan oleh orang itu, membuat si suami benar-benar terbuka matanya oleh kebaikan istrinya yang menghilang itu. Yang benar-benar menyayat hati adalah..., ketika ia diceritakan bahwa Park So-nyo, sering meminta untuk dibacakan sebuah buku dari pengarang yang sama terus-menerus sebagai imbalan atas kebaikan yang telah dilakukannya.

Kau tertegun memandangi buku yang dikeluarkan Hong Tae-hee dari dalam tasnya. Buku karangan anak perempuanmu. --- Halaman 149

***

Membaca buku ini benar-benar menguras emosi. Paragrafnya yang tebal awalnya membuat saya bosan. Namun, begitu masuk ke dalam jalinan ceritanya, membuat saya tidak bisa menghentikan membacanya. Kisahnya disajikan dengan flash-back, namun sama sekali tidak membingungkan. Membaca buku ini, seperti menguak lapisan demi lapisan yang membuat siapa saja terenyuh membacanya. 

Dikisahkan dari sudut pandang anak-anaknya, membuat pembaca merasa tertohok karena perilaku yang ada di sini benar-benar terasa nyata dan pas dengan kehidupan sehari-hari. Saya berkali-kali terdiam dan berpikir saat membaca buku ini. Betapa memang benar, perjuangan seorang ibu melakukan banyak hal untuk anak-anaknya bergitu besar, meskipun terkadang tidak dirasakan oleh mereka.

Tidak hanya itu, ternyata kisah So-nyo tidak hanya berhenti seputar kehidupan ibu-anak saja. Ada cerita menggugah hati lainnya seputar kehidupan rumah tangga ia dan suaminya. Tentang bagaimana selama ini So-nyo mencari kebahagiaan lain, sementara anak-anaknya sudah tidak lagi di rumah dan menjalani kehidupannya sendiri, dan secara bersamaan suaminya tidak lagi memedulikannya. Tentang bagaimana pribadi So-nyo yang benar-benar baik, menyentuh hati, namun tidak seharusnya mengalami nasib yang begitu malang seperti ini. Dari So-nyo pulalah kita mendapatkan banya sekali petuah kehidupan tanpa harus merasa digurui. 

Selama membaca buku ini, yang ingin saya lakukan adalah memeluk Ibu dan mengucapkan terima kasih padanya setelah apa yang ia lakukan pada anak-anaknya selama ini. Sebelum terlambat. Dari buku ini pula saya mendapatkan pelajaran berharga untuk menjadi seorang anak yang lebih baik lagi, dari sudut pandang yang baru.

Intinya, saya belajar kembali untuk menjadi seorang anak. Dan saya pula mendapat pelajaran berharga untuk menjadi seorang ibu nantinya. Terima kasih untuk pelajaran yang sangat berharga ini.


"Perpustakaan Jalanan", Langkah Kecil untuk Meningkatkan Minat Baca Masyarakat

Belum terlambat rasanya untuk mengucapkan "Selamat Hari Buku Nasional" yang jatuh di bulan ini, tepatnya diperingati setiap tanggal 17 Mei. Ada yang istimewa bagi saya pada momen ini, terutama karena saya mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan sebuah komunitas yang terjun langsung dalam dunia membaca di tempat saya. Namanya "Perpustakaan Jalanan".

Perpustakaan Jalanan adalah sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh sebuah organisasi berskala nasional yang memiliki basis di Kalimantan Timur yakni Pelajar Islam Indonesia (PII) bekerja sama dengan pihak lain seperti "Gerakan Pecandu Buku", "Komunitas Ladang", dan "Jaringan Penulis Kaltim".

Konsep "Perpustakaan Jalanan" itu sendiri adalah dengan menggelar lapak di tempat umum, yakni GOR Sempaja yang ramai dengan warga Samarinda yang tengah berolahraga di akhir pekan. Buku-buku yang disediakan dipajang, dan pengunjung bisa bersantai sambil membaca buku yang tersedia. Waktu pelaksanaannya adalah setiap hari Sabtu atau Minggu di mana waktu tersebut banyak sekali warga yang berolahraga di sana.

Sebagai informasi, PII adalah sebuah organisasi pelajar yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, tersebar di seluruh Indonesia dengan pengurus dan anggota dari tingkatan SMA hinga mahasiswa. 

Perpustakaan Jalanan bersama teman-teman dari PII


Menurut salah satu pengelola, Fadil Hidayatul Fajri yang juga sebagai Ketua Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) Kaltim, kegiatan ini adalah salah satu cara sederhana menyebarkan virus gemar membaca di wilayah Kalimantan Timur. Kampanye gemar membaca yang diusung oleh organisasi PII ini tidak hanya hadir di kota Samarinda saja, melainkan sudah meluas di kota Tenggarong dan Bontang. Untuk  Tenggarong, kemarin sempat buka di dekat Jembatan Repo-Repo. Sementara di Bontang, diadakan dua minggu sekali oleh Pengurus Dareah PII Kota Bontang di Stadion Lang-Lang. (Berita terkait sempat dipublikasikan oleh media lokal di sini.)

Di GOR Sempaja Samarinda

Kita berusaha agar terus komitmen menjalankan program ini sambil membuka kerja sama dengan berbagai pihak. Karena program ini banyak juga dilaksanakan dengan tema yang berbeda. Demi mewujudkan kebudayaan ilmu. Harapannya, yang dicari di sini adalah ilmu, bukan hanya sebatas materil semata, tapi memang bagaimana pentingnya ilmu. --- Fadil


Di Stadion Bessai Berinta (Lang-Lang) Kota Bontang

Masih banyak kekurangan yang dihadapi dalam kegiatan "Perpustakaan Jalanan" ini, seperti misalnya, penyelenggara baru bisa memfasilitasi peminjaman buku di tempat, dan bukunya belum bisa dibawa pulang. Namun, besar harapan suatu saat nanti buku-buku yang dipinjamkan bisa dibawa pulang. Selain itu, buku-buku yang dipinjamkan juga masih terbatas jumlahnya. Kendala terbesar yang dihadapi, tentu saja minat baca yang rendah di kalangan warga Kalimantan Timur, khususnya Samarinda. Namun, dengan kehadiran dari teman-teman Pelajar Islam Indonesia dengan "Perpustakaan Jalanan" ini, diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang nyata pada masyarakat, terutama dalam kampanye yang digalangkan dalam rangka memasyarakatkan gemar membaca di semua kalangan. Semoga dengan partisipasi dari semua pihak, kegiatan ini akan terus berjalan. Di tengah lesunya minat baca di Indonesia, kehadiran gerakan semacam ini tentu saja membawa angin segar dan perlu dilestarikan. 

Sebenarnya saya sudah dikontak untuk ikut berkontribusi di kegiatan ini, mengingat buku saya banyak sekali dan sayang kalau hanya bisa dinikmati sendiri. Tapi, sudah dua minggu ini ada saja kendalanya jadi tidak sempat bergabung dengan teman-teman di sini. Insha Allah, kalau minggu depan tidak ada halangan, saya akan ikut serta membawa satu tas besar buku-buku yang bisa dinikmati dalam satu kali duduk :) 

Bagi teman-teman yang lain yang ingin berkontribusi meminjamkan koleksi bukunya selama satu sampai dua jam untuk "Perpustakaan Jalanan", silakan kontak saya, supaya nanti bisa dikoordinasikan dengan teman-teman di lapangan. Dan bagi yang ingin berkontribusi dalam bentuk hibah buku atau dana, tentu saja akan bermanfaat sekali. Atau, untuk yang sedang berolahraga di GOR Sempaja atau di tempat-tempat lainnya, boleh mampir sejenak ke tempat ini dan menikmati buku bacaan yang tersedia di "Perpustakaan Jalanan" ini.

Semoga langkah kecil yang dilakukan oleh teman-teman ini memberikan dampak yang besar bagi sekelilingnya. Sekali lagi saya ucapkan, "Selamat Hari Buku Nasional". Kalau bukan kita yang menularkan semangat dan budaya membaca ke sekeliling kita, lalu siapa lagi?


---

Postingan ini untuk event Posting Bareng #BBIHariBukuNasional





The Stardust Catcher

Judul : The Stardust Catcher 
Penulis : Suarcani 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Tebal Buku : 184 Halaman 
ISBN : 9786020326443 
Rating : 3 dari 5 





Blurb:

“Apa harapanmu tahun ini?”

Joe: Punya alternatif lain untuk berbahagia selain dengan mencari pasangan.

Mela: Mendapat tambahan umur setidaknya empat tahun lagi, yah.... biar bisa main remi lebih lama lagi sih.

Bermula dari secarik kertas dalam jaket di commuter line, Joe dan Mela bercengkerama lewat ask.fm. Selama setahun, hanya lewat media sosial itulah mereka berhubungan. Hingga Joe tertinggal rombongan saat liburan bersama teman-teman kuliahnya. Ia tersesat di Bali. Sendirian.

Saat itulah Sally Cinnamon muncul dan mengaku sebagai peri yang akan mempertemukan Joe dengan jodohnya. Wait, peri jodoh? Yang benar saja? Ditemani Sally, Joe berusaha mencari rombongannya. Petualangan yang mempertemukannya dengan Mela, si spa therapist yang sekarat.

Apakah Mela jodoh yang dimaksud Sally? Apakah Joe benar-benar tersesat dan bukannya sengaja menghilang karena protes akan perceraian orangtuanya?


***

Joe Taslim, seorang pemuda yang memiliki permasalahan keluarga, orangtuanya sedang mengurus perceraian. Bahkan belum ketok palu sidang, keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing. Joe yang selama dua puluh tahun ini berstatus anak tunggal, sebentar lagi akan memiliki tiga orang adik tiri sekaligus.

Mela, seorang spa terapis yang memiliki penyakit lupus, dihadapkan dengan permasalahan hidup yang tidak hanya seputar penyakitnya saja, melainkan juga permasalahan ekonomi yang membelitnya. Selepas orangtuanya tidak ada, Mela yang menjadi tulang punggung keluarga dan membiayai kuliah adiknya di Jakarta.

Lalu ada Sally Cinnamon, seorang peri cinta yang konon katanya memiliki misi untuk mempersatukan Joe dengan jodohnya. Kehadiran Sally yang tiba-tiba memunculkan diri membuat Joe tidak hanya terkejut, melainkan Joe juga merasa bahwa kehidupannya menjadi kacau. Sally disinyalir membawa sial. Joe yang melakukan darmawisata ke Bali sebagai kedok pelarian dirinya dari kedua orangtua yang sedang berada dalam proses perceraian, mengalami serentetan kejadian yang tidak menyenangkan. Tertinggal bus, tersesat di daerah sepi penduduk, dipalak, masuk jurang, dan beberapa kejadian lain.

Sementara Mela, upayanya untuk menagih pertolongan yang dijanjikan Oscar padanya, berbuntut inseden yang panjang dan juga tidak menyenangkan.

Akankah Joe dan Mella dapat menemukan cinta sejati mereka?


***

Menarik, sebuah kisah dengan segmentasi pembaca young adult, diramu dengan kisah romansa dan petualangan serta fantasi yang melibatkan peri ada dalam satu buku. Novel ini tidak terlalu tebal karena hanya berisi 184 halaman, saya hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menamatkannya. Sebenarnya terdiri dari dua kisah yang terpisah namun berpadu, yakni dari sudut pandang Joe, dan juga Mela. Tapi tenang saja, ada saatnya pada akhirnya kedua tokoh yang memiliki latar cerita berbeda ini akan bertemu.

Saya suka Joe. Penulis meramu cerita dari sudut pandang cowok yang memang kerasa cowok banget. Entah itu saat dia menghadapi masalah, juga ketika dia dihadapkan dengan situasi yang menuntut dia untuk mengambil keputusan. Sementara Mela sendiri, karakternya pun kuat. Lucu, tapi lucunya benar-benar khas Mela, juga bagaimana sudut pandang Mela saat menghadapi permasalahan yang menimpa dirinya. Lalu si peri cinta, saya juga berhasil mendapatkan gambaran dengan si sosok Sally ini--meskipun sesekali lagu Peterpan yang judulnya Sally Sendiri sekelebat menemani saya saat membaca kisah Sally--yang lucu, lugu, kekanakan.

Nah penokohan sudah, sekarang tentang alur cerita. Sebenarnya ceritanya cukup simpel, namun tidak membosankan karena ada petualangan dan kisah seru di dalamnya. Namun, saat saya membacanya, ada beberapa hal yang cukup mengganjal. Yang pertama adalah tentang mitologi Nordik yang dikaitkan dengan keberadaan Sally. Di halaman awal, ada disinggung tentang Dewi Idunn di sini (yang jujur saja, saya tidak mengenal atau tidak familiar dengan nama ini). Saya mengira ini hanyalah dewi khayalan, namun tidak menyangka kalau ternyata salah satu dari bagian mitologi Nordik. Ehm, sebagai orang yang cukup familiar dengan mitologi-mitologian, saya bisa dibilang tahu beberapa nama dewa-dewi baik itu Yunani maupun Romawi. Kalau Nordik? Meskipun tidak semua, tapi saya kenal Loki, Thor, Odin. Tapi, tentang Dewi Idunn ini saya baru tahu setelah googling. Agak aneh saja sewaktu Joe langsung ngeuh kalau Dewi Idunn yang disebut-sebut Sally asalnya dari Nordik. Kecuali, kalau Joe memang penikmat kisah-kisah mitologi semacam ini (tapi sepengetahuan saya, sepertinya tidak ada penjelasan tentang itu). Kedua, saya menikmati obrolan Joe dan Mela di rumah sakit. Ping-pongnya dapat, isinya juga benar-benar mengena. Tapi, bagi orang yang (maaf, tidak ingin spoiler), agak aneh kalau langsung melakukan perdebatan semacam itu. Dan lagi, karena saya habis jaga ponakan yang sakit selama seminggu, jadi cukup tahu dunia perinfusan, cerita cabut selang infus tanpa ada darah yang mancur juga agak aneh.

Meskipun begitu, ini hanya sedikit mengurangi kenikmatan membaca. Di luar itu semua, saya suka ceritanya, karakterisasinya, dan bagaimana kisah ini dibawakan.

Satu kutipan yang saya suka adalah:

Teman tetaplah teman. Mereka terikat juga pada hubungan lain. Keluarga, sanak saudara, kekasih, dan bahkan teman-teman lain selain kamu. Apakah kamu berani mengandalkan mereka, memastikan mereka akan selalu ada saat kamu butuh, seperti kamu yang selalu ada saat mereka butuh? --- halaman 100

Jadi ingin membaca novel lain karangan penulisnya. Dan, tetap berkarya! :)



Pengumuman Giveaway Muhammad "Para Pengeja Hujan"




Assalamualaikum, selamat malam semuanya.

Mohon maaf karena pengumuman giveaway ini jadi lebih malam dari yang sudah saya jadwalkan. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua yang telah berpartisipasi dalam blogtour kali ini dan berkenan untuk mengikuti giveaway yang sudah saya selenggarakan seharian kemarin.

Terima kasih atas jawaban-jawaban yang bagus-bagus, semoga dengan membacanya dapat meningkatkan kecintaan kita pada Rasulullah Muhammad SAW, aamiin.

Sebenarnya saya ingin memenangkan semuanya, karena buku ini memang benar-benar layak untuk dibaca. Namun, pada akhirnya saya harus memilih satu yang terpilih. Dan pilihan itu dijatuhkan kepada...,


Selamat kepada:




Kepada pemenang, ditunggu konfirmasinya via dm di twitter @niesya_bilqis, sertakan nama, alamat, dan no telepon untuk pengiriman bukunya. Jika dalam waktu 2x24 jam tidak ada konfirmasi, maka hadiah akan dialihkan ke yang lain.

Anyway, selamat kepada pemenang. Buat yang belum terpilih, masih ada kesempatan lainnya. Nantikan giveaway lainnya yang diadakan di blog saya. Kalian juga bisa mengikutinya lagi di pemberhentian terakhir blogtour ini di sini.

Terima kasih atas perhatiannya, wassalamualaikum.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)