Showing posts with label bintang dua. Show all posts
Showing posts with label bintang dua. Show all posts

Love Trip

Judul : Love Trip
Penulis : Putu Kurniawati
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 272 Halaman
Cetakan Pertama, Juni 2016
ISBN : 9786020329055
Rating : 2 dari 5



Blurb:

Selain untuk melanjutkan studi, Cakra pindah ke Denver untuk mengobati penyakit yang ia derita. Menjelang kelulusan, ia mengikuti penelitian di Kyoto dan bertemu Luna. Tak disangka pertemuan itu membuat mereka akrab hingga memutuskan pacaran—meski harus menjalani LDR.

Tapi menjaga hubungan jarak jauh tidak semudah itu. Makin lama Luna merasa perhatian Cakra kepadanya jauh berkurang. Belum lagi tampaknya Cakra menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi Steve, teman masa kecilnya, semakin gigih dan bersedia nyentana demi dirinya.

Luna mulai berpikir untuk mengetes keseriusan Cakra dengan permainan yang dia buat. Dan permainan itulah yang membuat mereka menjejakkan kaki mulai dari Denver, Kyoto, Bali, Lombok, sampai Praha.

***

Cakra adalah mahasiswa yang berkuliah di Denver. Suatu hari, bersama Junot sahabatnya, mereka berdua mengikuti kunjungan dosen mereka ke Kyoto, Jepang. Di sana, mereka bertemu dengan seorang gadis Asia yang ternyata dari Indonesia. Lebih tepatnya, berasal dari Bali, bernama Luna. Melalui perkenalan supersingkat tersebut, keduanya memutuskan pacaran. Otomatis, mereka melalui proses LDR.

Luna memiliki teman bernama Steve, teman dari kecil yang bahkan sekarang berada satu kampus dengannya di Kyoto. Kehadiran Steve yang terang-terangan menyatakan diri suka dengan Luna, membuat Cakra terusik. Apalagi, Steve yang agresif selalu berusaha memancing Luna untuk menjauhi Cakra. Termasuk mengompori saat Cakra tidak hadir dalam peristiwa-peristiwa penting yang dialami Luna (ya nurut ngana, kayak jarak Kyoto-Denver atau Bali-Denver itu dekat aja #upsbelummasukpembahasan).

Sementara itu, pilihan berkuliah di Denver bagi Cakra selain untuk melanjutkan studi adalah dalam rangka pengobatan penyakit yang ia derita. Beruntung bagi Cakra, ia bersahabat dengan Junot, pemuda yang teramat perhatian padanya. Junot bisa dipastikan hadir dalam momen-momen penting kehidupan Cakra; mereka berdua diutus sebagai asisten dosen saat kunjungan ke Universitas Kyoto, Junot yang rela balik meninggalkan kehidupannya untuk menemani Cakra pulang ke Indonesia, Junot pun ada saat Cakra mengejar Luna sebagai pembuktian cintanya.

Ya, singkat cerita, saat pembuktian cinta pada Luna pun terjadi. Karena takut Steve akan mengambil Luna darinya, Cakra memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di Denver dan kembali ke Bali (Junot juga ikut, sudah saya ceritakan duluan, kan?). Rupanya, setelah di Bali, ada momen di mana kakak Luna menentang hubungan mereka. Luna melakukan permainan find me yang membuat Cakra rela mengikuti ke mana Luna pergi (dan Junot juga ngintilin Cakra pergi). Perjalanan itu berlangsung dari Bali, ke Lombok, bahkan hingga Praha.

Apakah itu cukup untuk membuktikan cinta Cakra pada Luna?


***

Sebelumnya, saya meminta maaf terlebih dahulu kalau sekiranya ulasan saya kurang menyenangkan. Saya berusaha membuat tulisan ini seobjektif mungkin dan dengan bahasa sebaik mungkin. Kalau sekiranya ada salah kata, harap dimaklumi dan dimaakan.

Mari menghela napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan sebelum saya melanjutkan menulis ulasan ini.

Sudah. 

Hehe.

Karena penulis menggunakan beberapa istilah fisika di awal novelnya, saya pun akan melakukan yang sama sebagai permulaan tulisan ini. Saya pernah menjelaskan tentang prinsip LDR yang dikaitkan dengan Hukum Coulomb: "Besarnya gaya tarik-menarik atau tolak-menolak antara dua benda bermuatan listrik berbanding lurus dengan muatan masing-masing benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda tersebut." Gaya ikatan cinta di antara dua orang yang LDR itu berbanding lurus dengan kedua muatannya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Jadi, kalau mau membuat ikatan cinta antardua pelaku LDR, masing-masing harus memperbesar muatan, karena terbentang jarak (yang dikuadratkan) di antara mereka. (Iya, saya mah guru galau, emang #plak)

Sudah hukum alam bagi pelaku LDR bahwa besarnya jarak yang terentang di antara mereka harus diimbangi dengan besarnya muatan yang diberikan. Muatan itu yang bagaimana? Tentu saja rasa saling percaya, saling menghargai, tidak mengkhianati, dan lain sebagainya. Nah terus, kaitannya dengan novel ini apa? Sabar, hehe. Sebentar lagi akan saya jelaskan.

Cakra dan Luna adalah pasangan yang jadian dengan singkat sekali tapi berhasil menjalani LDR dalam jangka waktu yang lama (hore! Saya saja beberapa kali LDR gagal #heh). Padahal, waktu perkenalan mereka saja hanya beberapa hari. Berhasil menjalani LDR bukan berarti membuat jalinan keduanya mulus. Akibat sahabat yang kompor, membuat hubungan mereka yang manis itu (diwarnai dengan kejutan-kejutan di momen penting di mana salah satunya datang ke salah lain yang berbeda benua itu) sedikit goyah. Cakra yang takut ditikung Steve memutuskan untuk balik ke Bali dan meninggalkan pekerjaannya (yang baru ditekuni dalam jangka waktu beberapa bulan! Wah, kontraknya gimana, tuh? Dia kerja dikontrak dulu nggak, ya?). Apalagi, Luna mengancam kalau Cakra nggak datang, dia bakal ditunangkan atau bahkan menikah dengan Steve.

Nah, Junot ikut ke Bali. Alasannya, dia kangen Mami. Tapi, yang ada malah di Bali-nya dia ngintilin Cakra ke mana dirinya pergi. Mami hanya jadi alasan. Sabar ya, Mi. Dan Junot, rela ngintilin Cakra (pakai uangnya sendiri) buat pergi mengikuti permainan find me-nya Luna yang jaraknya ribuan kilometer itu.

Ah, sudahlah. Saya nggak mau bahas hubungan Cakra-Junot berkepanjangan. Karena, masih banyak yang mau saya bahas selain mereka, hehehe.

Ada beberapa keluhan yang akan saya utarakan di sini, selain yang sudah saya tuliskan di atas, dan mungkin bakal ada Cakra-Junot lagi deh ya (lah, katanya nggak mau bahas lagi?). 

Pertama, saya merasa aneh dengan banyaknya kebetulan-kebetulan di kisah ini. Kebetulan ketemu Luna yang orang Indonesia. Kebetulan Luna orang Bali sama seperti Cakra. Kebetulan Cakra dan Junot yang diutus sebagai asisten dosen ke Kyoto. Kebetulan Cakra dan Junot satu kamar. Kebetulan ketemu orang Indonesia saat party di Denver. Kebetulan kakak Luna dan kakak Cakra ternyata saling kenal. Kebetulan pas dalam pencarian Luna ketemu sama teman lama yang kenal Steve. Kebetulan... apa lagi, ya? Sampai di sini saja deh, kebetulannya.

Kedua, saya juga mau mengomentari latar belakang Cakra dan Junot (yah, kebahas lagi deh mereka berdua). Saya dibingungkan dengan Cakra. Dia ini anak dari kalangan berada, kah? Tapi kok sepertinya hidupnya nelangsa di Denver. Meskipun nggak nelangsa-nelangsa banget, tapi dia seperti mahasiswa-mahasiswa beasiswaan begitu kesehariannya. Namun, Cakra bisa dengan mudah berpindah-pindah posisi di mana pun dia inginkan. Okelah perjalanan pertama ke Kyoto dibiayai kampus. Tapi, selanjutnya? Belum lagi Luna. Dikisahkan orangtuanya seniman. Tapi dia bisa dengan mudahnya mengunjungi Cakra di Denver. Bukan berarti saya meremehkan penghasilan seniman, sama sekali bukan. Namun, aneh saja. Teman saya yang berada saja, harus nabung berbulan-bulan dari penghasilannya untuk bepergian nonton konser idolanya. Itu dia sudah berpenghasilan, lho. Sementara Luna, statusnya waktu itu masih mahasiswa.

Ketiga, saya bingung dengan pengembangan karakter si pria-pria di tokoh ini. Ada dua jenis karakter menyebalkan (atau katakanlah, yang membuat pembacanya kurang simpatik dengan mereka pada awalnya). Yang pertama adalah dia yang menyebalkan karena tuntutan plot, sehingga setelah pembaca mengetahui alasan di balik sikapnya itu, membuat rasa simpati dan empati tercurah padanya. Contohnya, Severus Snape. Lalu, yang kedua, adalah karakter menyebalkan yang ketika pembaca sudah berpikiran positif tentangnya, tapi ternyata tidak menemukan alasan di balik sikap menyebalkannya itu. Untuk Cakra, saya memasukkannya pada golongan kedua. 

Saya tidak bisa merasakan simpati pada Cakra, entah bagaimana ceritanya. Meskipun dia didera penyakit, dan memiliki masa lalu kelam karena masa depannya disetir orangtuanya, tapi sikap Cakra sama sekali tidak menerbitkan rasa simpati. Terlebih, setelah dia memutuskan resign begitu saja dari pekerjaan karena mendapat ancaman dari Luna. Laki-laki itu dilihat dari kesungguhannya. Ketika dia memang cinta dengan Luna, kenapa tidak ditunjukkan dengan kesiapannya untuk menikahi Luna, misalnya, yang mana salah satu faktornya adalah kemapanan secara ekonomi? Dan darimana dia bisa mendapatkan itu kalau bukan dari pekerjaan? Eh dia malah resign dan melakukan pencarian bodoh itu yang notabene menghabiskan uang. (Dan tiket Denver-Bali itu nggak murah, hiks.) Oh ya, mungkin orangtuanya kaya raya, jadi urusan materi dan pekerjaan tidak perlu digubriskan. Tapi, bukankah karakter yang membuat simpatik itu kalau dia berhasil dengan tangannya sendiri ketimbang yang mendapat jaminan kemapanan dari orangtua, ya?


Apalagi, usia karakternya yang termasuk usia dewasa muda, seharusnya sudah bisa berpikir dan berperilaku layaknya orang-orang yang menuju ke awal masa kedewasaan mereka. Teman-teman saya (dan saya juga, sepertinya) saat seumuran mereka, sudah banyak yang bisa mengambil tindakan yang lebih mencerminkan sikap kedewasaan ketimbang mereka.

Ah, sudahlah. Saya tidak berhak masuk terlalu dalam ke karakter orang lain.

Lalu, (lagi-lagi) Junot. Tidak, saya tidak akan membahas kekurangkerjaannya yang mengintilin Cakra ke mana pun dan melupakan masa depan serta kehidupannya sendiri. Namun, Junot ini tipe cowok rempong dan bermulut lemes... (apa ya bahasa Indonesianya?) Saking lemes-nya, bahkan dia sampai ditampar pakai sandal sama salah satu karakter cewek di sini. Kurang lemes apa lagi, coba. Cowok kok lemes. Cowok kok rempong.

Sementara Steve, another lemes guy. Tidak ada kelebihan cowok ini selain rela melakukan nyentana dan punya banyak uang untuk selalu nempel dengan Luna.

Saya rasanya tidak perlu menjelaskan tentang Luna karena rasanya dari penjelasan tentang karakter-karakter lain, si Luna sudah terjelaskan meskipun tidak dengan gamblang.

Sekarang alasan keempat. Banyaknya tempat yang dikunjungi di novel ini menurut saya tidak lebih dari sekadar tempelan. Tentang kehidupan di Denver, tidak ada feel yang kerasa tentang itu. Feel tentang setting itu sebenarnya tidak melulu harus digali dengan mengunjungi tempat-tempat keren dari suatu lokasi. Menurut saya, justru dengan membangun suasana keseharian, setting itu jauh lebih kerasa. Dan sementara itu, Denver maupun tempat-tempat lain tidak dieksplor dengan jelas di sini. (Saya merekomendasikan Almost 10 Years Ago atau New York after the Rain kalau mau mendapatkan deskripsi suasana luar negeri yang benar-benar mengena.)

Kelima (dan semoga ini yang terakhir), banyaknya percakapan yang terjadi di novel ini membuat saya merasa bahwa novelnya "berisik". Saya justru merindukan membaca narasi dan deskripsi. Meskipun, untuk membuat cerita yang "show", alangkah lebih baik mengurangi panjangnya narasi dan deskripsi. Namun, kalau porsi dan proporsinya kurang pas, rasanya kesan berisik itu terus menempel di kepala. Sayangnya, karena akhirnya banyak perasaan dan kesan yang kurang tergali dalam novel ini.

Ya, alhamdulillah, karena ternyata itu tadi beneran yang terakhir.

Namun, di balik kekurangan yang saya rasakan itu, saya merasa sedikit terhibur dengan gaya penulisan yang sebenarnya oke. Secara keseluruhan tulisan ini rapi dan rasanya nyaris bersih dari kesalahan penulisan (ternyata proofreader-nya teman saya, wakakaka, good job, Orin.) Oleh karenanya, kekurangan di atas sedikit bisa dimaafkan. Lalu, sampulnya cantik. Perpaduan merah muda, kuning, dan putih, serta ilustrasi yang seperti doodle, juga membuat novel ini memiliki nilai plus. 

Sekian ulasan dari saya. Semoga apa yang saya tuliskan bisa menjadi sebuah kritik yang membangun dan membuat ke depannya lebih bagus lagi. Semoga bisa dijadikan masukan. Dan bagi kamu yang ingin membaca novel ini, selamat membaca. Semoga tidak terpengaruh dengan ulasan saya, hehehe. Karena, bisa jadi sudut pandang saya berbeda dengan apa yang akan kamu dapatkan nantinya.



Mendengarkan Coldplay

Judul : Mendengarkan Coldplay
Penulis : Mario F. Lawi
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 52 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2016
ISBN : 9786023756292
Rating : 2 dari 5




Mendengarkan Coldplay adalah sebuah buku puisi yang mengambil tema cerdas, menggunakan judul lagu Coldplay sebagai judul puisinya, di mana isi puisi-puisinya terkadang setema atau se-feel dengan lirik lagu Coldplay. Namun, puisi penulis kebanyakan bercerita dengan unsur religi kristiani. Sepertinya lho ya, mengingat saya tidak paham dengan ajaran kristiani yang diangkat oleh penulis. Tapi tidak semua kok, ada juga yang bercerita tentang kisah cinta, yang bisa diartikan secara universal.

Saya membaca buku puisi ini tentu saja sambil mendengarkan lagu Coldplay yang dimaksud. Dan supaya lebih meresapi (mengingat listening saya buruk banget), saya cari lagu-lagu di Youtube yang ada liriknya. Ada beberapa yang punya feel selaras dengan lagunya, misalnya See You Soon yang sama-sama mengangkat cerita tentang kehilangan teman (dalam harfiah maupun kehilangan orientasi kehidupan, atau iman(?) entahlah). Terkadang, karena saya tidak menemukan keselarasan atau kesesuaian tema lagu dengan kandungan puisi, saya mengulang-ulang lagu yang dimaksudkan. Dan, untungnya ini adalah Coldplay, yang mana bahkan diputar berkali-kali pun, lagunya tetap bagus dan kau tidak akan menyesal melakukannya. Asal lagi punya banyak waktu saja sih, hehehe.

Sebenarnya, perilaku itu (membandingkan isi lagu Coldplay dan isi puisi Mendengarkan Coldplay) bisa dibilang kurang dibenarkan, menurut saya. Karena, bisa saja keduanya berdiri sendiri, tidak beririsan. Mungkin penulis hanya terinspirasi dari sepotong kata dalam judul yang sama, tapi interpretasi yang ada di dalamnya tidaklah sama. Misalnya, saya tidak menemukan kesesuaian itu pada In My Place. Puisinya, saya mengartikan tentang... oke, saya kurang paham dengan makna puisi itu. Namun, saya bisa merasakan feel yang terbangun dari musik dan lirik Coldplay di judul yang sama, bahwa lagunya bercerita tentang orang yang merasakan kehilangan seseorang dan tengah berjuang untuk menunggunya datang kembali.

Pada Yellow, saya merasakan adanya ikatan yang kuat tentang perasaan jatuh cinta. Di The Scientist, justru puisinya berisi satu kalimat bermakna dalam:

Bagaimana cara membangkitkan orang mati?

Begitu saja. Padahal, The Scientist adalah salah satu lagu Coldplay yang saya suka sekali. 

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard

Oh, take me back to the start

Sebenarnya, memaknai puisi ini bisa dengan dua cara, dengan atau tanpa mendengarkan lagu Coldplay. Intinya, sama-sama tentang penyesalan, bagaimana caranya memperbaiki hubungan jika orang yang pernah kita lukai itu sudah tiada? Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap darinya.

Fix You, adalah lagu kesukaan saya lainnya setelah The Scientist. Lagunya sendiri bercerita tentang seseorang yang selalu ada, untuk orang lain. Yang bahkan, mungkin saja keberadaannya tidak disadari. Namun, orang itu selalu ada, membantunya memperbaiki semua kesalahan, semua keadaan.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Sebenarnya lagu ini kental sekali dengan konsep ketuhanan jika mau mengambil dari sudut pandang itu. Namun, dalam puisinya, saya tidak merasakan perasaan yang begitu kuat yang tecermin dalam bait-bait puisinya. Atau, mungkin pemahaman saya saja yang tidak sanggup meninterpretasikan tiap bait kata yang dituliskan penulisnya di sana.

Tentu saja, jika saya mendedah satu per satu judulnya, di mana ada dua interpretasi berbeda yakni dari sudut pandang lagu Coldplay lalu puisi-puisi di sini, tentu akan memakan banyak sekali ulasan. Akhirnya, saya hanya bisa memberikan kesimpulan beberapa hal tentang buku puisi ini:

Pertama, konsepnya menarik. Kedua, andai saja tidak ada benang merah dengan lagu-lagu Coldplay, saya rasa saya tidak akan cukup memiliki ketertarikan dengan puisi ini. Kalaupun membacanya di luar konteks dari lagu-lagu Coldplay, sepertinya saya akan kesulitan mencari makna yang terkandung dalam isinya. Bukan berarti tidak bagus. Hanya saja, saya yang awam tentang kisah biblikal, tentu tidak akan mengerti beberapa cerita yang diangkat di sini. (Lagi pula, ketertarikan untuk mencarinya di mesin telusur pun belum ada.)

Bintang dua yang saya berikan di sini bukan karena puisinya tidak bagus, wah, kata-katanya bagus kok dan sarat makna. Bukan pula saya anti membaca kisah-kisah biblikal. Saya rasa, alasan saya bukan karena itu. Hanya saja, saya yang kurang bisa menangkap makna tersebut. Lalu, yang ada saya justru malah lebih tertarik ke kutub lirik dan lagu Coldplay, bukan justru masuk ke dalam semesta baru yang ditawarkan oleh penulisnya melalui untaian kata-katanya. 

Secara umum, kata-kata yang membekas hanya ada pada sebaris puisi di judul The Scientist itu saja (itu pun lebih karena kekuatan pengaruh lagunya, ketimbang puisinya). Dan akhirnya, saya tidak lagi berusaha memahami puisi-puisinya tapi justru melanjutkan playlist Coldplay, dan hanya membuka-buka sekilas lembaran puisi ini.


Sky

Judul : Sky
Penulis : Aiu Ahra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 280 Halaman
Cetakan Pertama, Desember 2016 
ISBN : 9786020334639
Rating : 3 dari 5


"Cara terbaik ngebebasin diri kita dari belenggu yang kita ciptakan sendiri adalah melepaskannya. Katakan apa yang kamu mau, katakan apa yang membuat perasaanmu sesak. Dengan begitu, nggak bakal ada yang mengganjal di dada kamu lagi." ---halaman 101

Blurb:

Lyn merindukan tawa Kay yang dulu. Ringan dan bebas, walau seringkali diiringi air mata cengeng. Tawa yang hilang setelah kematian ibuku. Setelah itu, Kay tinggal bersama keluarga Lyn selama tujuh tahun. Kondisi itu ternyata tidak cukup untuk membuat Kay percaya sepenuhnya pada Lyn.


Sikap Kay yang pesimistis berbanding terbalik dengan Lyn yang ceria. Bahkan ketika Lyn membicarakan tentang kesukaan akan langit dan olahraga lari membuat Kay semakin menutup diri. Meski menyukai musik klasik dan bermain piano, Kay tidak berani menjadikan itu mimpinya, apalagi jika harus mendaftar di universitas musik setelah lulus SMA.

Akankah kehadiran orang-orang dalam hidup Kay dan Lyn membuat mereka menyadari perasaan masing-masing? Atau justru semakin membuat mereka menjauh?

***

Lyn memiliki hobi berlari. Baginya, berlari adalah membebaskan. Merasakan embusan angin dan terpaan sinar matahari benar-benar membahagiakan. Apalagi, jika di garis finis ada Kay yang membawakan botol air mineral padanya. Lengkap sudah kebahagiaan Lyn. Kay adalah sahabatnya sejak kecil. Bahkan, setelah peristiwa tidak menyenangkan yang menimpa Kay beberapa tahun silam, Kay diadopsi oleh orangtua Lyn. Sejak saat itu, mereka berdua tak terpisahkan.

Kay mengalami masa kecil yang mengerikan. Sesuatu terjadi pada orangtuanya yang menyebabkan kepribadiannya menjadi tertutup. Segala cara dilakukan oleh Lyn agar mengembalikan sahabat masa kecilnya itu. Lyn mendorong Kay yang menyenangi bermain piano untuk ikut kejuaraan, dan lain-lain. Namun, Kay tetap bergeming. Dia tidak bergerak untuk mengubah keadaan.

Suatu hari muncullah Luna, murid pindahan yang masuk ke dalam kehidupan Kay dan Lyn. Kay seperti becermin saat melihat Luna. Gadis itu penyuka musik dan piano sama sepertinya, dan juga, gadis itu terlihat rapuh. Keduanya menjadi dekat. Sementara itu, Lyn menangkap basah stalker yang memfotonya diam-diam. Rupanya dia adalah Ethan. Sejak saat itu, keduanya sering terlibat obrolan.

Kehadiran Luna, membuat Kay keluar dari zona kesendiriannya. Kehadiran Ethan, membuat Lyn merasa tidak sendirian karena Kay yang menjauhinya. Padahal, dua orang itu, Kay dan Lyn, saling memendam perasaan yang sama.

"Gimanapun, siapa yang berani mencintai artinya dia siap dengan segala konsekuensi termasuk... patah hati." ---halaman 179

Lalu, bagaimana kelanjutan kisah mereka?

***

Sky adalah novel teenlit terakhir yang saya baca di bulan ini. Menceritakan tentang kisah cinta segi empat di antara tokoh-tokohnya. Masing-masing karakter memiliki kisah mereka sendiri. Selain itu, mereka juga punya kesukaan yang menjadi jalan hidup mereka masing-masing: Lyn dengan lari, Kay dan Luna yang menyukai bermain piano, Ethan dengan kameranya.

Novel ini bukan hanya tentang kisah cintanya saja, melainkan berbicara tentang ambisi dan mimpi, juga bagaimana keluar dari ketakutan-ketakutan tentang masa lalu yang kurang menyenangkan. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kisah mereka.

Alur kisah ini bergerak maju, meskipun sesekali ada flashback juga. Hanya saja, saya merasakan kalau ceritanya sendiri berjalan begitu lambat. Namun karena disampaikan dengan apik, membuat saya tidak mati kebosanan saat membacanya. Dari segi penokohan sendiri, saya bisa merasakan bagaimana karakter-karakter ini tumbuh. Lyn yang ceria dan optimis, Ethan yang santai, Kay yang pasif dan menyimpan banyak hal dalam kepalanya, Luna yang manis. Anehnya, saya justru lebih menyukai sosok Ethan di sini ketimbang Kay. 

Novel ini dikemas cukup baik, dengan salah satu bagian ceritanya yang muncul sebagai prolog. Cukup bisa memancing penasaran pembaca, kok. Namun, hanya saja, ada banyak kesalahan penulisan di sini. Sayang sekali. Kalau harus menandai satu per satu rasanya kebanyakan. Lagi pula, saya bacanya via buku digital jadinya tidak memberikan penanda. Kalau bacanya via buku cetak, mungkin mudah menandainya di post-it. Yang kentara saja, misalnya di blurb. Atau, tentang penulisan elipsis. Ada yang dijeda dengan spasi, ada yang nyambung dengan kata selanjutnya. (Saya daftar jadi proofreader bisa nggak? *modus*)

Disampaikan melalui sudut pandang orang ketiga, membuat pembaca merasakan gemas dan kesal terhadap apa yang dipikirkan oleh masing-masing tokohnya, tapi mereka saling tidak mengetahui. Kesal juga bacanya, hahaha. Penulis berhasil membuat kesan dalam ceritanya yang bakal dikenang oleh pembaca.

Namun, di luar itu semua, saya senang membaca Sky. Jadi turut membayangkan bagaimana menyenangkannya berlari. Mengingat, saya sudah lama nggak lari. Seringnya sih, justru malah lari dari kenyataan *ehh*.

"Saat kamu sadar bahwa apa yang kamu inginkan mustahil didapatkan, mundur teratur adalah satu-satunya jalan keluar sebelum kamu terluka lebih dalam. Kamu pernah dengar ungkapan itu, Lun?"
"Tapi itu pengecut namanya, Kay." ---halaman 145


Jingga dan Senja

Judul : Jingga dan Senja
Penulis : Esti Kinasih 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 312 Halaman
ISBN : 9786020331522
Cetakan kesepuluh, Juli 2016
Rating : 2 dari 5




Blurb:

Tari dan Ari, dua remaja yang dipertemukan oleh takdir. Selain bernama mirip, mereka juga sama-sama lahir sewaktu matahari terbenam.

Namun, takdir mempertemukan mereka dalam suasana “perang”. Ari yang biang kerok sekolah baru kali ini bertemu cewek, adik kelas pula, yang berani melawannya. Kemarahan Ari timbul ketika tahu Tari diincar oleh Angga, pentolan SMA musuh.

Angga, musuh bebuyutan sekolah Ari sekaligus musuh pribadi Ari, langsung berusaha mendekati Tari begitu cewek itu tak sengaja terjebak dalam tawuran dan Ari berusaha keras menyelamatkannya. Demi dendam masa lalu, Angga bertekad merebut cewek itu. Memanfaatkan peluang yang ada, Angga kemudian maju sebagai pelindung Tari.

Ari yang selama ini dikenal tidak peduli terhadap cewek tiba-tiba saja berusaha mendapatkan Tari dengan segala cara. Namun, predikat buruk Ari jelas membuat Tari tidak ingin berurusan dengan cowok itu.

Semakin Ari berusaha mendekati Tari, semakin mati-matian cewek itu menjauhkan diri….

***

Tari adalah anak baru di SMA Airlangga. Dia tidak tahu kalau ada kakak kelas yang super menyebalkan dan arogan, suka berantem dengan sekolah lain, yang tiba-tiba berdiri di sampingnya saat upacara bendera. Dan karena si kakak kelas itu cakep, ia terpesona begitu saja. Apalagi, saat Tari terlibat di tengah tawuran dua sekolah, si kakak cakep kembali menyelamatkannya.

Namun, setelah tahu bahwa si penyelamatnya adalah Kak Ari, berikut nama besar di belakangnya, Tari langsung gentar. Bagaimana tidak, kalau ternyata ia harus terseret dalam kehidupan seorang kakak tingkat badung yang hobinya melawan guru?

Ari adalah cowok terkenal di sekolahnya karena kelakukannya yang menyebalkan. Tidak ada yang berani melawan dengannya, karena Ari dan komplotan memang terkenal sebaai biang onar dan pelaku tawuran dengan SMA Brawijaya. Tidak ada yang berani dengan Ari, bahkan guru-guru sudah menyerah dengan seolah "memaafkan" kesalahannya.

Sejak perkenalannya dengan Tari, ia memiliki ketertarikan dengan cewek itu. Dan perilaku spesial Ari dengan Tari terendus oleh Angga, yang kemudian memanfaatkannya untuk menculik Tari.

Setelah Tari dan Fio teman sebangkunya benar-benar terlibat drama penculikan yang dilakukan oleh anak-anak SMA Brawijaya yang notabene adalah musuh bebuyutan anak SMA Airlangga. Tari dan Fio menjadi tawanan di sekolah mereka, dan di sanalah Tari berkenalan lebih jauh lagi dengan Angga. Tidak seperti yang diduga, Tari dan Fio di sana diperlakukan dengan baik. Ari datang karena ia tidak mau ada kenapa-napa dengan mereka, terutama Tari. Bahkan ia rela merendahkan dirinya untuk mengikuti apa yang anak-anak Brawijaya suruh padanya.

Angga mendekati Tari untuk membuat Ari cemburu. Ari merasa bahwa ia dikalahkan oleh Angga, sehingga ia harus melakukan sesuatu yang lebih dari dilakukan Angga pada Tari. Walhasil, Tari menjadi korban dua pihak petinggi biang onar di sekolah mereka masing-masing.

Tari kesal dengan perlakuan Ari padanya. Ari selalu menindasnya, dan Tari tidak tahu harus berbuat apa. Beruntung ada Angga tempat Tari mencurahkan hati tentang kelakuan Ari. Tapi, sejak tahu bahwa nama lengkap Tari adalah Jingga Matahari, membuat Ari memberikan perlakuan berbeda terhadap cewek itu. Karena, satu nama itu berhasil membuatnya teringat dengan masa lalu yang benar-benar sudah ditutup rapat olehnya.

Kehadiran Ata si kembarang Ari yang muncul tiba-tiba turut menyumbangkan misteri yang melingkupi kehidupan masa lalu Ari.

***

Sebelumnya, maafkan saya yang hanya bisa memberikan bintang segini.

Kenapa ya? Entahlah. Sejak remaja saya adalah pembaca novel Esti Kinasih. Bisa dibilang, saya ikut tumbuh bersama dengan karyanya. Katakanlah Fairish dan Cewek. Apalagi Cewek, yang plotnya benar-benar berkesan bahkan sampai bisa saya ingat setelah sekian lama (iya, saya tidak remaja lagi xixixi). Membaca Jingga dan Senja, saya tidak punya ekspektasi apa pun. Apalagi, setelah mengintip review di Goodreads, ulasannya beragam. 

Mari kita berbicara tentang karakternya. Tengoklah Ari yang demikian adanya, atau Tari yang sebenarnya biasa-biasa saja tapi menjadi istimewa karena keadaan. Iya, benar karena keadaan. Kalau tidak didekati Ari, maka Tari bukanlah siapa-siapa. Ia tidak mempunyai keistimewaan yang menonjol selain kecintaannya terhadap barang-barang berwarna jingga. Dan juga namanya yang istimewa. Selebihnya? Ya biasa-biasa saja.

Saya mau bahas tentang Ari nih sekarang. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan karakter dan perkembangannya. Namun, ada beberapa hal yang menurut saya mengganjal dan membuat ceritanya menjadi kurang logis. Meskipun di dunia nyata saya kurang senang dengan tipikal cowok arogan menyebalkan pembuat onar, tapi sejauh ini rasanya saya tidak keberatan dengan tokoh utama berkarakter seperti itu. Tapi saya menyayangkan, karakter guru di novel ini sama sekali tidak mempunyai wibawa. Sebagai seorang pencinta novel yang merangkap sebagai orang yang sering bersinggungan dengan bocah-bocah bandel, rasanya menyayangkan bagaimana tokoh guru bertindak di novel ini? Masa sih nggak ada yang bisa "memegang" si Ari ini? Nggak ada satu pun yang punya kendali untuk mengatasi satu anak ini? Bahkan kepala sekolahnya pun seolah menyerah dengan kelakuan si bocah. (Kalau sudah begitu kenapa nggak dikeluarkan aja sih? Sebel.) 

Yang membuat saya sedih-ketawa-miris itu, saya punya murid yang kelakuannya mirip dengan si Ari, bahkan dari fisiknya yang digambarkan good looking itu pun juga sama. Percayalah, anak yang melawan guru itu dari sisi mana pun nggak ada menyenangkannya sama sekali. Bahkan jika dia memiliki masa lalu yang entah apa. Kalau sudah berani dan melawan guru (apalagi tidak diketahui mengapa dia sampai begitu), kelar hidup lo *eeehhh*. Maksudnya begini. Saya sudah mengalami berhadapan dengan berbagai macam jenis kenakalan remaja, yang mana jika bisa diselisik dari sisi yang lain, tentu ada sebab dan akibat mengapa mereka begitu. Entah apakah ia mengalami broken home, atau sekadar cari perhatian. Tapi, kalau sudah tidak mempunyai rasa respek sama sekali dengan pendidik mereka, bagaimana mereka bisa mendapatkan ilmu dan pengajaran? Dan masalah pentingnya adalah, saya kesal karena saat membaca novel ini, saya jadi membayangkan si bocah murid menyebalkan itu sebagai visualisasi Ari, kan sedih dan menyebalkan 😂 apalagi nama sekolah kami sama. *yhaa jadi curhat* 

Masih berkaitan dengan yang saya sampaikan sebelumnya, saya menyayangkan sekali kalau di novel ini, sebab-musabab karakter Ari bisa sedemikian bengalnya tidak dijelaskan. Hanya sekilas-sekilas saja. Ini membuat saya kurang bisa berempati terhadapnya. Apalagi, saya bisa menebak sesuatu yang berkaitan dengan plot-twist, tapi tidak ada kejelasan soal itu sampai di halaman terakhir. (Jadi nggak tahu deh apakah tebakan saya ini benar atau nggak. Mungkin akan dijelaskan di buku selanjutnya? Hmmm, let's see.) Satu lagi, konflik di novel ini terlalu blunder, berputar di situ-situ saja. Sosok Tari entah bodoh entah apa seolah tidak punya power untuk keluar dari masalahnya. Iya juga sih, mau mengadu pada guru, gurunya sama saja nggak punya power juga buat menghadapi kelakuan si bocah *kesel lagi*. Tapi kan bisa mengadu sama orangtua. Masa iya orangtuanya akan membiarkan begitu saja?

Dari segi gaya bahasa, novel ini menggunakan gaya bahasa nonformal bagi dialog dan deskripsinya. Agak kagok juga sih, karena selama ini terbiasa membaca novel dengan gaya bahasa yang formal di deskripsi, bahkan untuk novel ber-genre teenlit. Tapi lama kelamaan jadi biasa juga kok.

Overall, 2.5 points. Lebih ke masalah selera dan keterkaitan dengan kisah dan pengalaman pribadi ^^. Semoga semua pertanyaan yang belum terjawab dan belum terjelaskan di novel ini bisa saya dapatkan di buku selanjutnya.

PR besar buat saya karena ternyata cerita yang seperti ini yang disukai remaja. Hmmm.

The Wicked Ways of a Duke

Judul : The Wicked Ways of a Duke (Rayuan Sang Duke)
Penulis : Laura Lee Guhrke 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Tebal Buku : 376 Halaman
ISBN : 9786020315423
Rating : 2 dari 5





Blurb:

Setelah bertahun-tahun hidup dalam kekurangan, Prudence Bosworth tanpa disangka-sangka mendapatkan warisan dari ayah yang tak pernah dilihatnya. Namun ayahnya memberinya syarat, ia harus menikah dalam satu tahun. Terlepas dari persyaratan itu, Prudence bertekad menikah dengan cinta sejatinya, dan setelah melihat sikap gagah berani seorang duke, hanya seorang pria yang ingin
dinikahinya...

Rhys de Winter, Duke of St. Cyres, menyembunyikan kesinisannya di balik gurauan dan senyuman. Ia harus menikahi gadis kaya, dan untunglah pewaris kaya raya tibatiba jatuh ke pelukannya. Tapi ia tak pernah menyangka dirinya akan jatuh cinta kepada Prudence, dan ketika tipu dayanya terungkap, ia akan melakukan apa pun demi memenangkan wanita itu kembali...

***

Agak membosankan ya. Ceritanya juga klise. Tentang seorang Duke kaya yang punya banyak utang dan bingung bagaimana cara melunasinya. Ia bertemu dengan seorang gadis tua (iya, umur 27 masa itu dianggap perawan tua) yang bekerja sebagai seorang penjahit di rumah jahit terkenal dan sering dikunjungi para bangsawan.

Si Duke bertemu saat Prudence, nama gadis itu, bekerja memperbaiki gaun seorang gadis bangsawan di sebuah pesta dansa.

Kejutan menghampiri kehidupan sang gadis. Ayah kandungnya ternyata seorang kaya raya yang tinggal di Amerika dan sudah meninggal. Namun, ia mewariskan harta kekayaannya pada Prudence. Ini menobatkan gadis itu sebagai orang kaya baru yang harta kekayaannya pasti akan menarik para lelaki pemburu harta mendekat. Namun, harta kekayaan itu tidak dapat diklaim sebelum Prudence menikah dalam jangka waktu satu tahun. Sementara itu, ia diberi tunjangan setiap bulannya yang nilainya tidak seberapa dari harta kekayaan itu. Namun, dengan tunjangan tersebut, cukup untuk membuat Prudence naik tingkat derajatnya dari sebelumnya. Kerabat ibunya yang semula tidak pernah memedulikan gadis itu, mendadak peduli. Dan berupaya menjodohkan gadis itu dengan kerabat dekatnya.

Rhys St. Cyres, sang Duke, mengambil momen ini untuk berupaya mendekati Prudence. Ia membuat skenario agar bisa mendekati gadis itu dan mendapatkan hati dan juga kekayaannya.

Bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka?

***

Seperti yang saya bilang di awal, ceritanya cukup membosankan dan klise. Ada beberapa part yang bacanya saya skimming dan ajaibnya, saya tidak melewatkan plot penting sedikit pun. Namun berita baiknya, sebagai penikmat baru pada genre ini, saya jadi mengetahui banyak hal seputar timeline ini dan kultur budaya Inggris pada waktu itu. Tentang para lelaki bangsawan yang ternyata kalau menikah, diberi maskawinn sama para perempuannya sebagai "mahar" untuk status sosial dan kedudukan sebagai bangsawan di tengah masyarakat. Enak bingits jadi Duke ya. Hidup foya-foya, bersenang-senang, menghabiskan harta dan masih dipandang hormat oleh orang-orang. Eh, mau nikah yang biayai si perempuannya. 

Insecure

Judul : Insecure
Penulis : Seplia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 240 Halaman
ISBN : 9786020327662
Rating : 2 dari 5 




Blurb:


- Zee -
Jangan menatap luka dan memar di tubuhku.
Jangan berani bertanya apa yang terjadi.
Menjauh saja dariku.
Hanya dengan begitu, aku merasa aman.

- Sam -
Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna, setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang.
Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!

Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.

Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama.


Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

***

"Beberapa orang nggak siap jadi orangtua, yang lainnya stress oleh beban hidup. Orang baik bisa berubah jahat kapan pun tu kalau dia terjepit oleh keadaan yang nggak menguntungkan." --- Halaman 179

***

Kisah ini adalah tentang dua orang yang memiliki cerita kelam seputar kehidupan keluarganya, namun memiliki cara yang berbeda dalam menyikapinya. Zee menjadi tertutup, sementara Sam menggunakan fisiknya untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi.

Zee Rasyid seorang gadis yang pendiam. Pertengahan semester pertama di kelas tiga, ia dipindahkan ke kelas Sam dengan harapan dia dapat terbuka dan bersosialisasi dengan baik di kelas ini. Ia duduk di sebelah Sam yang terkenal sebagai biang onar dan pembuat masalah. Keluarga Zee berantakan, ayahnya meninggalkan ia dan ibunya enam tahun yang lalu. Sejak saat itu, sang ibu sering menyiksanya dengan kekerasan fisik terutama saat ibunya merasa bahwa Zee mengingatkannya pada mantan suaminya itu.

Sam Alqori seorang anak dari keluarga sederhana, ibunya pemilik kedai mi ayam sementara ayahnya seorang pelaut yang beberaa bulan sekali baru pulang. Saat kepulangan ayahnya itulah bencana terjadi di rumah. Ayahnya memiliki perangai yang buruk. Tidak hanya itu, meskipun sudah tua ayahnya masih memilik kekuatan fisik yang sering digunakan untuk menyiksa ibunya.

Terlepas dari kekerasan dalam rumah tangga yang ibunya alami, Sam tumbuh menjadi seorang pemuda yang selenge'an (apa ya padanan katanya yang pas?). Ia sering meremehkan pelajaran meskipun masih menaruh hormat pada wali kelasnya. Sam sering terlambat pelajaran dan membayar denda sebagai hukuman.

Di sisa waktu mereka di kelas tiga ini, Sam dan Zee duduk bersebelahan. Sam cukup penasaran dengan Zee yang pendiam serta kehidupannya yang tertutup. Sam melihat ada lebam-lebam di tubuh Zee, namun gadis itu terus saja mengingkarinya.

Sementara dari sisi Zee, ia memiliki sikap defensif terhadap penderitaan yang dialaminya. Zee bahkan mati-matian melindungi ibunya yang melakukan kekerasan padanya. Bahkan Zee rela menentang wali kelas yang berniat baik untuk membantu Zee dalam permasalahan kehidupan yang ia hadapi.

***

Ini merupakan novel kedua Seplia yang saya baca setelah sebelumnya saya membaca novel perdananya yang berjudul Replay. Kalau mau membandingkan, jujur saya lebih terkesan dengan plot dan karakter-karakter di novel yang sebelumnya. Sebelum masuk ke bagian yang membuat saya berkesan, ada beberapa catatan yang mau saya ulas di sini, yang membuat saya hanya bertahan pada dua bintang untuk novel ini. 

Pertama, ini memang murni selera sih ya, saya tidak terlalu suka dengan pov yang ditulis dengan "gue". Kalau di pembicaraan tak masalah bagi selera saya, tapi kalau di point of view diceritakan dengan bahasa "gue", jujur saja ini membuat saya kurang sreg. Saya pernah membaca novel dengan gaya bahasa seperti ini, namun untungnya di novel itu terbantu dengan karakter dan jalan cerita yang membuat saya melupakan kekurang-sreg-an saya dengan itu. Tapi kalau di novel Insecure ini, karakter Sam sama sekali tidak membantu agar saya merasa nyaman dengannya.

Nah yang kedua, masalah karakterisasi. Saya begitu kagum dengan penulis saat berhasil membuat karakter yang kuat di novelnya yang pertama. Meskipun di Replay karakternya tidak lovable, namun saya kagum dengan bagaimana penulis mampu menyajikan karakter yang kuat. Tapi di sini, saya mengalami kesulitan untuk menggambarkan beberapa karakternya. Yang pertama Sam. Saya bingung dengan Sam ini mau di bawa ke mana. Apakah dia sosok begundal selenge'an yang menyebalkan namun berhati mulia, atau dia seorang remaja yang cuek namun perhatian. Yang saya tangkap, mungkin saja Sam memang bandel tapi lovable, tapi bagi saya, bandel susah disandingkan dengan penyayang. Kalaupun memang ada karakter seperti itu, jika dibawakan dengan baik mungkin akan bisa dengan mudah saya pahami, tapi kalau dengan Sam, jujur saya gagal paham.

Karakter selanjutnya yang membuat saya gagal paham adalah Manda Rasyid alias mamanya Zee, dan sekalian saja deh saya bahas Zee di sini. Sudah jelas ibu ini mengalami gangguan kejiwaan, tapi mengapa Zee tidak mengambil tindakan apa pun untuk keluar dari permasalahan ini? Mungkin memang Zee mengalami insecure, atau dihantui ketakutan-ketakutan, tapi kan..., masa iya tidak ada tindakan setelah mengalami penyiksaan yang berkali-kali? Apalagi alasan di balik itu adalah hanya karena permasalahan rumah tangga sebagai dampak dari perceraian. Saya merasa gagal paham dengan ibunya Zee ini (dan Zee juga). Mungkin memang cinta itu buta tapi kan.... Yang aneh lagi tentang ibunya Zee adalah, pertama kali dia ketemu dengan Sam, dia menunjukkan rasa tidak sukanya dengan perbuatan yang tidak menyenangkan. Tapi di lain waktu dia sukarela saja membantu untuk mengurus keperluan Sam di rumah sakit. Kan aneh ya. Apa ini menjadi bagian dari perubahan sikap ibunya untuk menutupi kelakuannya?

Satu lagi. Di halaman 211 ada kutipan seperti ini:

Seorang ibu tahu mana yang disukai anaknya atau tidak.

Kalau seorang ibu tahu mana yang disukai anaknya atau tidak, kenapa ibunya ini tidak tahu mana yang berbahaya untuk anaknya atau tidak? Apa karena memang ibunya mengalami kelainan jiwa? Kalau memang iya, sayang sekali dari sisi ini tidak digali dengan baik. Penyelesaiannya pun tanggung sekali.

Justru saya malah suka dengan Vini. Karakter Vini begitu melekat bagi saya, lengkap dengan sikap serta sifatnya yang konstan. Vini karakter pertama yang dengan mudah dapat saya visualisasikan dalam benak saya.

Terlepas dari hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas, saya senang dengan beberapa hal seperti misalnya penggambaran hubungan Sam dan Zee yang menarik. Kehadiran Vini benar-benar menjadi bumbu yang menghidupkan kisah kelam di cerita ini (meskipun karakter Sam dibuat tidak kelam karena pembawaannya yang begitu, namun karena saya gagal paham dengan karakter Sam, membuat saya merasa kurang dengan ini).


Satu lagi, "Wuthering Height"-nya kurang "s" :)) Judul novel klasik yang dibaca Vini harusnya "Wuthering Heights" :)


Dua bintang saya persembahkan untuk novel Insecure.


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)