Sing Me Home

Judul : Sing Me Home
Penulis : Emma Grace 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 272 Halaman
ISBN : 9786020335711
Edisi Pertama, Desember 2016
Rating : 4 dari 5



Kamu tahu, cita-cita bukanlah sekadar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya. ---halaman 191

Blurb:

Selain menghadapi ibu yang tidak setuju dirinya menjadi penari, Gwen juga harus menerima fakta yang lebih menyakitkan: Hugo, cowok yang selama ini dekat dengannya, ternyata memilih gadis lain. Gwen sadar ia mesti mempertahankan impiannya menjadi penari profesional, meski masih patah hati.

Di tengah situasi itu, Gwen harus mengikuti audisi tari yang sangat penting. Dan di sana, ia bertemu Jared mengabadikan tariannya dalam selembar foto. Sejak itu, nyaris tiap kali, Jared menemaninya latihan tari. Cowok itu memasuki hidup Gwen, dan hidup Gwen tenang kembali.

Namun, bagaimana kalau jauh di dalam hati Gwen, Jared hanyalah pengganti Hugo? Bahwa Hugo-lah yang sebenarnya ia inginkan?

***

Gwen, seorang gadis kelas dua belas yang memiliki passion dalam dunia tari. Namun sayangnya, Ma tidak ingin Gwen menggeluti bidang itu. Ada alasan yang berkenaan dengan masa lalu Ma yang membuatnya tidak ingin Gwen menjadi penari. Berkebalikan dengan sikap Ma terhadap passion-nya itu, Gwen justru malah menunjukkan bakat yang benar-benar cemerlang. Savannah guru tarinya bahkan yakin kalau grup tari mereka Annabel's akan dapat mengorbit, pun begitu pula dengan Gwen salah satu punggawa Annabel's. Savannah yakin anak didiknya itu benar-benar berbakat.

Diam-diam Gwen menjalani sesi latihan menari yang lebih berat dan lebih padat. Ma hanya mengizinkan dirinya berlatih dua kali seminggu, lebih dari itu tidak. Ia selalu berdalih mengerjakan tugas kelompok bersama Hanna, sahabatnya. Dengan Hanna-lah Gwen mencurahkan segala isi hatinya.

Gwen menyimpan perasaan pada Hugo dan ia yakin Hugo pun merasakan hal yang sama. Namun, kehadiran sosok Corrine di tengah-tengah mereka membuat Hugo berpaling, dan Gwen tersisihkan. Ingin rasanya ia membenci Corrine, tapi sebenci apa pun ia dengan gadis itu, rasa kasihan tetap muncul. Meskipun Gwen tidak dapat menyalahkan keadaan yang membuatnya harus terpisah hanya karena kondisi Corrine. Ia mengaku kalah dari gadis itu lalu pergi dari kehidupan Hugo.

Saat sedang berlatih tari, Gwen bertemu dengan Jared, sosok pemuda dengan kamera di tangannya berhasil mengabadikan momen Gwen. Pemuda itu jatuh hati padanya, dan berniat untuk menjalin hubungan dengan Gwen. Gwen bimbang. Ia tidak bisa menghilangkan sosok Hugo begitu saja dalam benaknya. Tapi kehadiran Corrine tidak bisa ia abaikan begitu saja. Namun, dengan kemunculan Jared dengan perhatian yang diberikan pemuda itu padanya, membuat Gwen berpikir barangkali memang ia bisa menghilangkan sosok Hugo selamanya dan menerima Jared dalam hidupnya.

Mereka pada akhirnya berhubungan. Hidup Gwen menjadi lebih baik ketimbang saat-saat ia ditinggalkan Hugo. Namun, konflik demi konflik bermunculan, terutama berhubungan dengan kebohongannya dengan Ma seputar aktivitasnya menari. Ditambah lagi, semakin hari Gwen tidak mampu pula membendung perasaannya yang sesungguhnya masih bertaut pada Hugo. Ia tentu tidak dapat terus-terusan meletakkan Jared pada posisi yang seharusnya tidak ditempati pemuda itu dalam hatinya.

Apakah yang terjadi dengan hubungan mereka? Bagaimana kelanjutan sikap Ma dan mengapa Ma sangat membenci pilihan hidup Gwen seputar passion-nya di bidang tari?

***

Ini adalah kali pertama saya berkenalan dengan karya Emma Grace. Membaca Sing Me Home adalah merasakan kehangatan yang disajikan dalam deskripsinya. Penulis membuat kisah romansa berbalur kehidupan keluarga yang masih kental dengan nuansa chinnese-nya. Ber-setting di Sydney Australia, membuat rasa di novel ini seperti novel-novel terjemahan.

Deskripsinya mengalir dengan indah, membuat pembaca dibuai dengan kesan hangat dan lembut. Emosi yang diberikan disajikan dengan tenang, namun ada momen-momen tertentu yang nendang. Membuat haru, gelisah, dan berhasil mengikat pembaca hingga tidak ingin melepaskannya sampai selesai membaca.

Karakter dalam cerita ini disampaikan dengan pas dan tidak berlebihan. Menurut saya, Gwen adalah sosok yang egois. Namun, sisi keegoisannya itu berada pada proporsinya, yang memang benar-benar manusiawi. Sehingga, meskipun di balik kekeraskepalaannya dan keegoisannya, Gwen tampil sebagai sosok tokoh utama yang mengesankan. Terlebih lagi, bagaimana ia memperjuangkan mimpinya, benar-benar menginspirasi.

Lalu ada sosok Hugo, seorang pemuda yang memiliki cara tersendiri untuk menggapai impiannya. Ia juga memiliki pemikiran dewasa yang mana apa yang ia pikirkan dan putuskan terkadang melampaui apa yang dipikirkan pemuda di usianya. Sementara Jared, adalah sosok yang menyenangkan. Saya tidak bisa mendeskripsikan yang lebih pas lagi dengannya selain itu. Pokoknya, saya senang dengan Jared bahkan jauh lebih senang Gwen dengan Jared ketimbang Hugo.

Untuk Ma sendiri, saya jadi teringat dengan sebuah kutipan dari novel yang saya baca bahwa orangtua memiliki peran untuk "merusak" anak-anak mereka dengan berupaya memasukkan keinginan mereka dan memaksakan kehendak atas kehidupan anak-anak mereka. Bisa dibilang, saya cenderung setuju. Sosok Ma mengingatkan saya betapa terkadang, ia mengambil peran demikian dalam hal yang menurut mereka "terbaik" bagi anak-anaknya. Padahal, mungkin itu hanya untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan atau trauma yang mungkin pernah orangtua alami. Saya jadi teringat dialog Gwen dan Pop, kakeknya.

"Itu bagian dari menjadi orangtua. Mereka akan menjadi pusing tanpa kecuali. Jadi tak usah merasa bingung, Gwen."
"Yah, mungkin Pop benar. Tapi yang pasti, aku tak ingin jadi orangtua yang membuat anak-anakku harus mengorbankan impian mereka demi ambisiku semata."
"Tidak begitu, Gwen." ---halaman 198

Dari sisi plot, penulis membuat sebuah kisah yang benar-benar dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, di tangan seorang Emma Grace, kisah yang "biasa" itu mendapatkan sentuhan yang menjadikannya "luar biasa". Cerita seputar impian yang dihalangi orangtua, pengorbanan dalam hubungan percintaan, susah move on, merupakan hal yang familier dalam kehidupan kita. Di sini kita akan menemukan plot cerita seputar itu. Justru, dengan semakin dekatnya kisah ini dalam cerita sehari-hari, membuat kita juga dapat dengan mudah memahami bagaimana peristiwa itu terjadi dan bagaimana menyikapinya.

Saya juga senang dengan alur maju-mundur yang disampaikan dalam novel ini. Penulis menjalinnya dengan lembut sekali. Terkadang satu bagian memang dibuat mundur dengan jelas. Namun, ada juga di bagian lain yang alurnya mundur dengan sendirinya tanpa pembaca sadari. Ini jelas membuat pembaca merasakan betapa apiknya jalinan alur yang dibuatnya. Benar-benar memikat.

Satu hal lagi, saya senang penulis memasukkan unsur budaya tradisional Cina di dalam novel ini. Entah dalam kulinernya, juga waktu momen pernikahan. Membuat saya yang hanya tahu di permukaan saja, menjadi cukup memahami. Ini menjadi nilai lebih lainnya dari novel ini.

Hanya saja, saya masih menemukan beberapa kesalahan penulisan. Tidak banyak sebenarnya, bahkan kalau tidak salah kurang dari lima. Semoga jika novel ini cetak ulang bisa diperbaiki. Namun bagi saya, ini sama sekali tidak mengurangi rasa nikmat dan menyenangkannya membaca novel ini. Saya jadi tertarik untuk menikmati karya Emma Grace yang lainnya.


4 komentar:

  1. "Ber-setting di Sydney Australia, membuat rasa di novel ini seperti novel-novel terjemahan." Saya tidak paham maksud kalimat ini Mbak Nisa, hehe?

    Gwen egois, contohnya apa?

    Judul novel apa yang memuat tentang pendapat orang tua yang merusak anaknya itu?

    Contoh unsur budaya China apa yang disisipkan penuli?

    Maaf, Mbak Nisa, mungkin pertanyaan di atas adalah yang biasa Mbak Nisa cantumkan pada setiap resensinya. Mungkin tepatnya yang saya maksud adalah kekritisan. Itu yang saya rasakan menghilang pada beberapa resensi Mbak Nisa. Hehehe, jangan marah ya, saya berkomentar begini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Maksdunya, karena novel ini settingnya luar negeri, rasa membacanya seperti baca novel2 terjemahan :) meskipun ga semua yang bersetting luar negeri kesannya begitu.

      2. Wah ini susah dijelaskan, pokoknya dari awal kesan egois itu kentara. Coba saja dibaca bukunya :)

      3. Meniti Bianglala, ada di ulasan novel saya, kutipannya juga ada tersendiri.

      4. Itu sudah disebutkan di atas, ada tentang pernikahan sepupu Gwen, ada tentang makanannya, banyak.

      Kalau ga ada yang perlu dikritisi saya ga akan kritisi :)

      Delete
  2. makasih resensinya, jadi bsia tahu ceriatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, terima kasih sudah mampir :)

      Delete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)