A Copy of My Mind

Judul : A Copy of My Mind
Penulis : Dewi Kharisma Michellia 
Penerbit : PT Grasindo
Tebal Buku : 199 Halaman
ISBN : 9786023754014
Edisi Pertama, April 2016
Rating : 4 dari 5




"Kamu percaya enggak kalau takdir pertemuan itu memang seperti itu sifatnya?"
"Seperti bagaimana?"
"Kita diminta mengumpulkan banyak-banyak pengalaman hidup, untuk jadi prasyarat bertemu dengan orang-orang paling penting di hidup kita." ---halaman 114


Blurb:


Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.

Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.

Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.

***

Di dunia ini, ada orang yang berambisi banyak hal tentang kehidupan: hidup sejahtera, memiliki banyak investasi, karier menanjak, dan masih banyak lagi. Namun Sari, ambisinya hanya sebatas memiliki home theatre, demi bisa memuaskan satu-satunya passion dalam hidupnya: menonton film. Lebih spesifik lagi: menonton DVD bajakan.

Sari adalah perwakilan dari realitas masyarakat metropolitan yang jarang disinggung dalam cerita-cerita fiksi populer; pekerja dari kelas bawah, seorang pegawai salon. Separuh gajinya ia gunakan untuk mengirim orangtuanya di desa sementara sisanya untuk bertahan hidup di kerasnya ibukota. Satu-satunya hiburan bagi Sari adalah menonton DVD bajakan yang satu kepingnya dihargai lima ribu rupiah. Jika Sari membeli DVD bajakan, maka ia harus rela merapel jatah makannya yang hanya sebungkus mi instan.


Hidup yang tidak disyukuri adalah hidup yang tidak dihidupi. ---halaman 38

Belakangan ini, DVD yang Sari beli subtitle-nya tidak sinkron. Jelas ini membuat Sari kesal. Saat ia memprotes hal ini ke pemilik lapak, ia bertemu dengan Alek, lelaki yang pekerjaannya membuat subtitle DVD bajakan itu. Sari memiliki kebiasaan mencuri DVD bajakan sebagai "bayaran" atas ketidakpuasan atau kekesalannya terhadap sesuatu. Ini rupanya tertangkap oleh penglihatan Alek, Sari dan Alek terlibat perdebatan di lorong tempat itu. Alek, yang rupanya merasa bersalah karena hasil pekerjaannya kurang memuaskan, mengajak Sari untuk ke kosnya karena di sana banyak sekali film yang bisa dipinjamnya. Sari enggan. Namun, karena dapat ancaman akan dilaporkan atas tindakan pencurian itu, akhirnya Sari mau.

Alek adalah seorang pemuda yang merantau ke Jakarta dan bekerja dengan teman baiknya, Leo. Karena Leo menikah dan memutuskan untuk tinggal bersama istrinya, maka ibunya dititipkan kepada Alek, dengan kompensasi ia bisa tinggal gratis di rumahnya dan terjamin hidupnya. Leo juga memberikan link agar Alek bisa mendapatkan pekerjaan. Alek memiliki masa lalu percintaan yang kelam yang membuatnya tidak percaya dengan cinta. Alek hidup dengan sesukanya, tidak percaya agama, tidak memiliki identitas warga negara. Alek pun memiliki hobi taruhan balapan motor liar. Hidupnya bebas, tanpa ada yang melarang.


Kenapa manusia mencari rasa aman? Padahal, mereka bisa saja meninggalkan semua hal, berkelana tanpa identitas. Mungkin hidup seperti itu lebih layak dihidupi. ---halaman 65

Sari tinggal di kos-kosan yang berpenghuni seratus orang. Suatu hari, kos-kosan itu akan direnovasi sehingga seluruh penghuninya diminta untuk meninggalkan tempat itu sementara waktu selama dua minggu. Karena jenuh dengan pekerjaannya di Salon Yelo, Sari mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan di sebuah salon mewah tak jauh dari tempat kerja sebelumnya.  Pak Bandi, sang pemilik mengatakan bahwa Sari harus menjalani training selama dua sampai tiga minggu sebelum ia benar-benar diperbolehkan memegang klien. Karena, di tempat baru ini segalanya serba mutakhir. Sari dikenalkan dengan alat-alat canggih yang tidak didapatnya di salon lama.

Sementara itu, hubungan Sari kian lama semakin dekat. Sari mengeluhkan pekerjaannya yang membosankan pada Alek. Dan himbauan untuk pindah kos sementara waktu dijawabnya dengan menginap di tempat Alek. Begitulah hubungan terjalin di antara keduanya. 

Karena merasa kebosanan dalam masa training-nya, Sari mengadukan keluhannya itu pada Pak Bandi yang dijawab dengan sebuah tawaran untuk menjadi petugas facial bagi seorang tahanan kelas eksklusif di rutan. Bu Mirna adalah seorang narapidana korupsi yang pekerjaannya sebagai makelar undang-undang. Tragedi terjadi saat Sari mencuri sebuah kepingan DVD dari sel Bu Mirna, yang isinya ternyata adalah barang bukti rekaman kejahatannya.


***

A Copy of My Mind adalah buah karya sutradara Joko Anwar yang dinovelisasi oleh Dewi Kharisma Michellia. Sebuah cerita dengan plot yang luar biasa: memotret kehidupan kaum urban level bawah dengan segala hiruk-pikuknya dalam bertahan di ganasnya kota metropolitan. Apalagi, yang menjadi bidikan temanya adalah tentang DVD bajakan. Betapa mirisnya, karena kemungkinan besar film ini pun akan bernasib sama di tangan para pengusaha lapak bajakan itu. Menurut saya, ini adalah ide yang cerdas. Menyinggung dan menyasar tepat pada sasaran.

Sebagai tangan yang bekerja untuk pembuatan novelnya, Dewi Kharisma Michellia mengemasnya dengan sangat apik. Jujur saja, menurut saya filmnya membosankan, saya berhenti menonton di tengah jalan (dan sebagai kaum yang agak sedikit idealis, maafkan saya karena menontonnya di yuchub karena memang filmnya sudah tidak lagi ada di pasaran *merasa ikutan kesindir oleh ide yang diangkat*). Ada banyak plot hole yang tidak terjelaskan atau tidak tersuarakan dari filmnya. Dan rupanya, kekosongan "suara" dan "cerita" itu benar-benar diisi dengan baik sekali di novelnya. Sebab-akibat yang menjadi jalan cerita sangat diperhatikan dengan detail. Suara-suara yang tidak tersuarakan oleh gesture pemain, diungkapkan dengan bahasa yang tepat pada maksdunya.

Ini adalah novel kedua dari penulis yang saya baca (dan ternyata memang novel keduanya) setelah sebelumnya menikmati Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya yang merupakan pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012. Salut dengan kepiawaian penulis meramu jalan cerita, mengemasnya dalam balutan diksi dan pemilihan kalimat yang luar biasa. Pembaca dapat merasakan langsung kehidupan dalam novel ini seolah itu disajikan dan dirasakan sendiri di depan mata. Sebagai seseorang yang pernah tiga minggu berada di Jakarta (jangka waktu yang sangat pendek memang, tapi cukup menggambarkan situasi dan kondisi di sana karena memang saya di sana tidak dalam rangka vakansi), gambaran realita yang dipaparkan sungguh mengingatkan saya akan momen berada di kota itu. Sebuah kisah kehidupan yang sayangnya jarang diangkat sebagai tema dalam novel populer.

Dari segi tokohnya, Alek misalnya, adalah gambaran real keadaan masyarakat kebanyakan. Kita tidak bisa tutup mata, bahwa di sekitar kita banyak tipikal manusia yang memilih "kebebasan" sebagai jalan hidup mereka. Alek bukan orang yang tidak berpendidikan, ia bahkan mampu menangkap fenomena kehidupan di sekitarnya untuk dijadikan bahan tertawaan. Pemikirannya juga dalam, tentang pemaknaan hidup dari sisinya. Lalu dengan Sari, yang memiliki optimisme hidup sekadar memenuhi impian dan cita-citanya yang berhubungan dengan hobi menonton film, Alek menemukan sosok seorang wanita yang selama ini tidak pernah masuk ke dalam kehidupannya.

Sari adalah tipikal gadis lugu berpendidikan rendah yang hidup merantau di kota. Namun semenjak pertemuannya dengan Alex, ia pun mendapatkan sosok yang bisa dibaginya dalam hal mengeluhkan beban hidupnya yang kian menghimpit.


"Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir. Kamu akan tertawa terakhir kalau kau terawa terus. Jadi, kita memang harus tertawa, dan sering-sering tertawa, biar kita menang atas hidup." ---halaman 115

Saya mengacungkan jempol terhadap ide cerita ini. Memaparkan realitas tentang jurang pemisahan yang begitu besar antara si miskin (diwakili Sari) dan si kaya (Bu Mirna), tentang ketiadaan mimpi karena sarana untuk meraih mimpinya yang tidak terpenuhi, tentang bagaimana mengangkat cerita dari kacamanta orang lain yang memiliki pandangan hidup berbeda dengan kita (atau saya).

Terlepas dari apakah kita memilih untuk mengamini jalan pikiran penulisnya, saya rasa novel ini layak untuk dijadikan bahan perenungan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang mengikut di belakangnya. Ketika kau memilih untuk tidak percaya terhadap identitas, kau akan menanggung sendiri risikonya. Pun begitu juga ketika kau mengambil jalan untuk tidak percaya pada Tuhan. Bukan ranah manusia untuk memberikan penghakiman. Namun, sebuah kisah tentu akan menuai banyak sekali pelajaran.

Satu hal yang menjadi kekurangan dari novel ini adalah tidak adanya penanda bahwa novel ini adalah novel dewasa. Ada adegan dewasa yang dideskripsikan dalam ceritanya. Seharusnya, pihak penerbit memberikan warning agar tidak semua kalangan usia bisa membacanya. Meskipun, justru biasanya kalau sudah diperingatkan begini bikin orang penasaran, tapi setidaknya dengan memberikan label "novel dewasa", pihak penerbitan sudah turut andil dalam memberikan peringatan kepada calon pembacanya. Katakanlah saya terlalu saklek dalam hal beginian =)) tapi ini saya rasa perlu. Terlepas dari apakah efektif atau tidak dengan adanya peringatan tersebut, setidaknya dengan memebrikan peringatan, pihak penerbit sudah "terbebas" dari tanggung jawab moral terhadap isinya.

Terakhir. Saya harus mengapresiasi dan mengangkat topi dengan kemampuan penulis dalam mendeskripsikan adegan-adegan tertentu sehingga membuat novel ini layak baca tanpa mengurangi maksud dari scene yang sedang disampaikan.

Ini benar-benar terakhir deh =)) Agak sedikit protes boleh ya. Kenapa cover depannya gambar Chico Jericho ya? Padahal versi Tara Basro yang ada di back cover lebih cakep menurut saya =))



Baca via SCOOP.


0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)