[Movie Review] Surat dari Praha



Pemain: Julie Estelle, Rio Dewanto, Tio Pakusadewo, Chicco Jerikho, Widyawati, Jajang C. Noer dan Shafira Umm. 
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Penulis: M. Irfan Ramli
Durasi: 93 menit



Sebelum meninggal, Sulastri (Widyawati) membuat wasiat agar anak tunggalnya Larasati (Julie Estelle) dapat menyampaikan kotak berisi surat kepada seseorang di Praha. Pada mulanya, sang ibu Sulastri bertengkar dengan Laras di penghujung usianya. Laras bersikeras untuk meminjam surat tanah agar dapat menyelesaikan urusan pascapernikahannya dengan sang suami (Chico Jericho). Namun ternyata, setelah operasi ibunya meninggal. Segala warisan ibunya baru bisa ia miliki setelah menyampaikan pesan kepada seorang teman lama di Praha dan mendapat tanda tangannya.

Laras pergi ke Praha untuk menemui orang tersebut, Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo) yang langsung menolak untuk menerima dan menandatangani tanda terima tersebut. Bahkan, Laras disuruhnya agar segera pergi.

Malang nasib Laras, seluruh barang-barang dan uangnya dicuri oleh supir taksi yang membawanya pulang. Laras terpaksa menekan ego dan kembali ke rumah Pak Jaya bersama dengan kotak surat tersebut.

Meskipun harus berpuas diri dengan tidur di kursi, Laras harus menerimanya sampai bantuan dari teman-temannya di Indonesia menyelamatkannya dan menunggu jalan keluar dari kedutaan besar RI. Selama di rumah itu, Laras berusaha untuk membujuk Jaya agar mau menerima kotak surat itu dan agar ia mendapat tanda tangan dari pria tua itu. Namun, karena penolakan demi penolakan yang didapatnya dari Jaya membuat Laras penasaran hingga ia dengan lancang membuka isi surat tersebut.

Dari sinilah segalanya terkuak. Tentang Jaya yang dituduh sebagai seorang komunis saat maraknya peristiwa penggulingan Soekarno tahun 1965. Jaya berada pada barisan pemuda yang menentang Soeharto, oleh karenanya label "komunis" melekat padanya. Akhirnya ua tidak mendapatkan haknya lagi sebagai seorang warga negara Indonesia. Jaya tidak boleh pulang ke tanah air bahkan saat orangtuanya meninggal dunia. Tidak hanya itu saja, kisah cinta antara Jaya dan Sulastri juga terbuka. Tentang janji-janji Jaya yang tidak dapat ditepatinya karena ia sudah menjadi orang terbuang dari negaranya, dan ancaman bahwa orang-orang yang dekat dengannya akan turut diperkarakan. Barulah saat dirasa keadaan politik sudah mulai aman, Jaya mengirimi Sulastri surat-surat dari Praha yang tak pernah mendapatkan balasan.

"Antara menolak Soeharto dan mencintai Sulastri itu dua hal yang berbeda." --- Mahdi Jayasri

Di lain pihak, Laras justru menuding bahwa surat-surat Jaya-lah yang menjadi penyebab tidak harmonisnya hubungan antara kedua orangtuanya.

Namun, selama beberapa hari keberadaannya di rumah Jaya, membuat Laras jadi mengetahui sisi lain pria yang begitu dicintai ibunya itu. Laras bertemu dengan Dewa (Rio Dewanto) yang menceritakan bagaimana kehidupan Jaya selama terasing di Praha. Tentang profesinya sebagai tukang bersih-bersih di sebuah teater, bagaimana seorang Jaya yang pandai bernyanyi dan memainkan alat musik. Bahkan, pada piano tuanya, Laras menemukan sebuah partitur berjudul "Sabda Rindu". Sebuah ungkapan kerinduan Jaya kepada Sulastri yang tidak hilang oleh waktu.

***

Film ini bagus sekali. Menyajikan sisi romantisme yang tidak biasa. Tentang sebuah percintaan dari masa lalu yang terkuak kembali dengan kedatangan surat-surat yang tak terbalas beberapa puluh tahun kemudian. Tentang sebuah makna perjuangan dan pergerakan serta idealisme seorang pemuda, di mana, bayarannya adalah menjadi terbuang dari negeri dan kekasih yang dicintainya.

Dari sisi pemeran, sosok Julie Estelle memerankan sosok Larasati dengan baik sekali. Wanita muda yang secara tidak langsung menjadi korban ketidakharmonisan orangtuanya, menjadikannya memiliki watak keras dan cenderung tidak memiliki kasih sayang. Laras memang karakter yang tidak lovable, dan Julie berhasil memerankannya. Apalagi, Julie ternyata memang mirip dengan Widyawati, yang menjadi ibunya. Tio Pakusadewo juga memerankan Jaya dengan baik. Sebagai seorang yang tinggal puluhan tahun di Praha, Jaya tidak terlihat dan tidak digambarkan sebagai seorang turis, melainkan sudah melekat menjadi warga lokal.

Film ini mementingkan unsur plot ketimbang setting. Memang bukan sejenis film yang mengutamakan "jalan-jalan". Namun, justru penikmat film dimanjakan oleh sajian kota Praha dari sudut pandang aslinya. Tidak ada jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal, namun setting tempat di kota ini juga tidak kalah menariknya. Yang keren justru pengambilan scene di sebuah teater, atau di tempat Dewa bekerja di sebuah bar.

Dari sisi cerita, jarang film Indonesia yang mengangkat isu ini. Dan tidak mengecewakan, bahwa isu politik yang mewarnai Indonesia menjadi film yang romantis seperti ini. Saya heran mengapa film sebagus ini, menceritakan nasionalisme dalam baju yang berbeda begini (dan dibintangi oleh artis top pula), turun layar begitu cepat. Yang paling menyentuh adalah saat Laras bertanya pada Jaya apakah setelah sekian lama, ia menyesal dengan apa yang ia lakukan dulu?

"Saya tidak akan pernah menyesal. Kalaupun ada sesuatu yang harus disesali..., saya sudah mengecewakan ibumu." --- Mahdi Jayasri.

Benar-benar terenyuh dibuatnya.

Dan yang terakhir, soundtrack di film ini keren sekali! Dinyanyikan oleh pemerannya langsung:


Sabda Rindo oleh Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo)

Kurindu. Lebih baik katakan apa adanya. Bila memang rindu. Kurindu. Karena waktu takkan mampu berpihak. Pada perasaan yang meragu.



Nyali Terakhir oleh Larasati (Julie Estelle)

Engkau dan aku. Bagaikan doa yang mengikat. Dalam setiap langkahku. Namamu ku sebut.


Nah kalau ini, lagu Sabda Rindu yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly, nggak kalah bagusnya:





Trailer film ini juga bisa disaksikan di sini:



4,5 bintang untuk film ini!



1 komentar:

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)