Showing posts with label movie review. Show all posts
Showing posts with label movie review. Show all posts

[Movie Review] Fallen



Pemain: Addison Timlin, Jeremy Irvine, Harrison Gilbertson, Lola Kirke, Daisy Head
Sutradara: Scott Hicks
Penulis: Nichole Millard
Dari Novel Karya: Lauren Kate
Produksi: Mayhem Pictures
Durasi: 91 menit


Sinopsis:

Kehidupan Lucinda Price (Addison Timlin), seorang gadis remaja berusia 17 tahun berlangsung dengan normal hingga ia difitnah atas kejahatan yang tak pernah ia lakukan. Sebagai alternatif dari hukuman penjara, Luce diharuskan untuk bersekolah di Sword & Cross, sebuah akademi yang diperuntukan bagi pelanggar hukum di bawah umur.

Di sekolah itu, perhatian Luce terfokus kepada dua orang murid misterius terutama setelah ia merasakan keterikatan yang kuat dengan mereka. Seiring dengan waktu Luce mulai mengetahui jika identitas kedua pria misterius tersebut adalah malaikat yang telah mencintainya sejak ratusan tahun yang lalu. Kini Luce harus membuat pilihan tersulit dalam hidupnya, di mana ia akan menentukan cinta sejatinya.

***



Lagi-lagi saya terpaksa nonton filmnya dulu ketimbang baca novelnya =)) Ehem, ini sebenarnya menyalahi prinsip saya yang seharusnya selesaikan baca novelnya dulu baru menonton filmnya. Rencananya, memang mau nonton Senin (rencana dibuat Jumat dengan asumsi sebelum Senin sudah bisa mengelarkan bukunya). Tapi ternyata, bacanya belum kelar juga hahaha baru menyentuh halaman kelima puluh. Dan hari Senin gagal nonton karena di rumah mati lampu dan bakal bingung janjian ketemu di studionya gimana (maklumlah, anak masa kini, padahal zaman saya SMP janjian jam segitu dan tempat yang sudah disepakati mah, nggak perlu khawatir ada perubahan mendadak). Jadi, baru bisa nonton hari Selasa.

Kembali saya menonton dengan Dina, partner setia saya dalam dunia perfilman. Dina yang tahu kalau saya libur panjang ngajak nonton, yang langsung saya iyakan dengan menawarkan film Fallen. Kenapa Fallen? Karena yang main Jeremy Irvine *kyaaa* #sesederhanaitu. Pokoknya, nontonnya benar-benar tanpa persiapan dan pengetahuan (selain lima puluh halaman novel yang saya baca). Tanpa lihat trailer, tanpa baca sinopsis. Sempat mengira ini film horor karena suasananya ada yang menyeramkan. Dan saya tahu kalau Dina nggak suka horor (sempat ketar-ketir juga), saya juga nggak suka horor hahaha. Saya ternyata baru tahu (dari Dina) kalau ternyata Fallen ini bakal jadi empat film. Oke, pantas saja di akhir masih ada beberapa yang belum terjawab.

Bagaimana review-nya? Here we go...

Source

Luce masuk ke sekolah khusus tempat di mana anak-anak nakal dan pelanggar hukum tinggal, di sekolah yang bernama Sword & Cross. Berdasarkan hasil keputusan hakim, ia harus dijebloskan ke sini karena melakukan sebuah pelanggaran hukum yang benar-benar berat, meskipun ia mengklaim bahwa bukan dirinya yang melakukan itu. Pada psikiaternya, Luce mengaku melihat bayangan hitam. Ia juga disuruh mengonsumsi obat anti desperan untuk menghilangkan halusinasinya itu. Namun, ketika mengetahui bahwa obat-obatan atau nasihat psikiater tidak mengubah apa pun, ia berhenti bercerita dan mengonsumsinya. Padahal, bayangan hitam itu semakin sering dilihatnya semenjak berada di Sword & Cross.

Pada pertemuan pertama, ia bertemu dengan Arriane (Daisy Head) yang memandunya tur ke sekolah barunya ini. Di sini juga ia pertama kali bertemu dengan Cam (Harrison Gilbertson), si pemuda biang kerusuhan. Dan di hari itu pula, Luce mengenal sosok Daniel Grigori (Jeremy Irvine) yang terus-terusan terkesan menjauhinya. Padahal, entah bagaimana, rasanya Luce seperti mengenal Daniel sebelumnya. Meskipun, ini dibantah oleh Daniel.

Beberapa hari setelahnya, Luce berkenalan dengan seorang gadis yang unik dan menarik yang kalau ngomong seperti kereta api, bernama Penn (Lola Kirke). Bersama dengan Lola, Luce menemukan kehidupan yang sedikit menyenangkan di tempat ini. Lola senang berbagi cerita pada Luce. 

Meskipun ketertarikan Luce pada Daniel cukup besar, namun karena mendapatkan pengabaian dan sikap tak acuh dari Daniel, Luce justru jadi dekat dengan Cam. Cam mengajaknya ke sebuah pesta di mana di sana ia mengajak Penn. Luce melihat kedekatan Daniel dengan Gabrielle (Hermione Corfield), dan Penn yang menjadi dekat dengan seorang cowok bernama Todd (Chris Ashby). Akhirnya, Luce memilih pulang. Di jalan pulang itulah ia kembali menemukan kejadian aneh. Lalu kejadian demi kejadian aneh dan menegangkan tak lepas dari kehidupannya, serta kilasan-kilasan masa lalu yang semakin lama semakin jelas.

Ia akhirnya menyadari, bahwa ada malaikat yang dikutuk karena menolak untuk membuat pilihan dan lebih memercayai cinta, karena malaikat itu telah jatuh cinta kepada manusia yang sama selama kurun waktu ribuan tahun.



Overall, ceritanya seru. Akting pemainnya keren, dan setting tempatnya bagus banget, seperti sekolah-sekolah kuno era Renaissance. Tiga bintang saya sematkan, tapi berhubung yang main Jeremy Irvine dan aktingnya kece badai (bias banget), saya kasih 3,5. Intip pula trailer-nya di sini:





[Movie Review] Melbourne Rewind



Pemain: Morgan Oey, Pamela Bowie, Aurelie Moeremans, Jovial da Lopez
Sutradara: Danial Rifky
Penulis: Haqi Ahmad
Dari Novel Best-seller Karya: Winna Effendi
Produksi: Rapi Films
Durasi: 96 menit


Sinopsis:

Gagal move on. Itulah yang dihadapi oleh Laura (Pamela Bowie), penyiar radio yang kini tinggal di Melbourne ketika mendapati, Max (Morgan Oey), cinta pertamanya muncul di hadapannya.

Ingatan masa lalu pun perlahan kembali, membawa setiap rasa cinta, rasa kesal, rasa sakit dan kehilangan. Max bukan hanya sekedar cinta pertama, tapi Max adalah orang yang berhasil membuat Laura pelan-pelan menemukan tujuan hidup.

Max menyusun setiap passion dan cita-cita Laura seperti puzzle, dan akhirnya menjadikan Laura utuh seperti dirinya sekarang. Namun ego masa muda memisahkan mereka. Max harus ke Amerika untuk mewujudkan mimpinya sebagai Lighting Designer. Dan keduanya pun setuju untuk mewujudkan mimpi di jalan masing-masing.

Sayangnya, Max muncul kembali ketika Laura sudah siap melupakan dia dan beralih kepada pria lain, Evan (Jovial da Lopez), Dokter hewan yang juga adalah pacar sahabatnya, Cee (Aurelie Mauremans).

Move on dari cinta pertama lalu jatuh cinta pada pacar sahabat?

Laura kini harus menyusun sendiri puzzle pilihan hidupnya. Dengan menjawab sebuah pertanyaan besar untuk menuntun hidupnya: “apa yang sebenarnya hatiku mau?”.

Sebuah kisah tentang penemuan jati diri dan cinta, di sebuah kota yang memungkinkan apa pun terjadi, MELBOURNE.

***

Bagi gue, cahaya adalah hal terindah di dunia. Setiap kali melihat cahaya, gue akan ingat sama lo, Ra.

Source

Maximillian Prasetya (Morgan Oey), seorang pemuda yang terobsesi dengan cahaya, bertemu dengan Laura Winardi (Pamela Bowie) pada sebuah momen yang benar-benar tak terduga; Laura kehilangan walkman di kampusnya yang berlokasi di Melbourne, dan karena benda itu adalah barang kesayangan miliknya, Laura mengumumkan ke sepenjuru kampus tentang barangnya yang hilang. Seseorang mengaku barang itu miliknya. Dan setelah dilacak, pemuda itu adalah Max. Laura berhasil mendapatkan fotonya dari Facebook dan mengamati mahasiswa-mahasiswa yang ditemuinya. Akhirnya bertemu juga dirinya dengan Max yang ternyata mengambil walkman tersebut.

Source

Laura adalah gadis broken home yang orangtuanya bercerai. Ia pergi ke Melbourne bersama dengan sahabatnya, Cee (Aurelie Moeremans). Mereka tinggal bersama dan menjalani kehidupan seperti mahasiswa perantauan lainnya. Laura memiliki trauma terhadap yang namanya kehilangan. Ia kehilangan keutuhan keluarganya. Terlebih lagi, saat sesuatu menimpa sang ayah. 

Source

Hidup Laura berubah saat ia berkenalan lebih jauh dengan Max. Laura yang tidak memiliki tujuan hidup bertemu dengan Max yang sejak awal sudah merencanakan masa depannya dengan meniti karir yang berhubungan dengan impian dan obsesinya terhadap cahaya. 

Dari sang Ayah, Laura mendapatkan iPod sebagai ganti walkman-nya yang sudah ketinggalan zaman. Di sana, ia membuat folder khusus yang dinamainya dari orang-orang yang ia cintai: Ayah, Cee, dan Max.

Max mengikuti lomba yang hadiahnya jalan-jalan ke luar negeri dan magang satu tahun di New York. Dan ketika harus menjalani hubungan jarak jauh itulah mereka akhirnya putus. Laura merasa iri sebenarnya dengan pencapaian Max yang sejak awal memang sudah memiliki ambisi dan apa yang ia kejar dan cita-citakan. Sementara, Laura sendiri tidak tahu harus melakukan apa, dan tidak tahu apa yang menjadi ambisi atau apa yang dikejarnya.

Kehidupan Laura kembali terus berjalan sepeningal Max. Suatu saat, ketika Paris kucingnya sedang sakit, Laura dan Cee bertemu dengan dokter Evan (Jovial da Lopez). Laura merasa bahwa ia memiliki banyak sekali persamaan dengan lelaki tersebut: sama-sama suka kucing, memiliki genre musik yang sama, selera makanan yang sama, dan banyak lagi. Itulah yang membuat Laura merasa dekat dengan Evan, dan jatuh cinta kepadanya. Namun, ternyata Evan justru jadian dengan Cee sahabatnya.

Source


Lantas Max kembali datang ke Melbourne dan masuk kembali dalam hidup Laura. Laura merasa bimbang dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia sudah move on tapi ke pacar sahabatnya sendiri, di sisi lain Max hadir menawarkan cintanya yang ternyata masih ada.

***



Oke, saya ingin cerita sedikit. Jadi, bulan November adalah bulannya bermunculan film-film favorit saya dan sahabat saya Dina. Tapi bedanya, film yang kami tunggu berbeda. Saya selaku Potterhead, tentu saja menunggu Fantastic Beasts and Where to Find Them. Sementara Dina, ternyata lebih tertarik dengan Melbourne Rewind. Dan ternyata FB tayang perdana sehari sebelum film ini. Walhasil, saya mengejar-ngejar Dina untuk nonton premiere-nya FB. Setelah pulang kerja, akhirnya kami berhasil nonton FB di hari pertama, yeay.

Sebagai teman yang baik, saya tentu akan menemani Dina menonton film Melbourne Rewind sebagaimana Dina menemani saya menonton FB. Dan berhubung jadwal padat (dan sayangnya film ini hanya mendapat sedikit jam tayang yang tidak cocok), akhirnya rencana kepingin menonton Kamis harus tertunda jadi Selasa. Pokoknya Selasa ini harus jadi, karena baru enam hari tayang (dihitung dari Kamis) sudah mau tergusur saja :( (sudah ada di studio empat dan cuma ada dua jam tayang). Khawatirnya kami tidak sempat menonton filmnya. Akhirnya si Dina selesai kerja langsung ngebut supaya kita bisa nonton di jam 14.45. Saya sih pas libur hari itu jadi santai-santai saja, syalalala.

Sudah masuk studio, eh ternyata filmnya belum ditayangkan juga bahkan lewat lima belas menit dari jam tayang yang seharusnya. Akhirnya di dalam kita bercerita seputar film-film Indonesia yang sudah tayang. Terlambatnya hampir setengah jam.

Dan untungnya pada akhirnya seisi studio nonton juga. Sebenarnya, saya termasuk yang anti menonton film adaptasi sebelum membaca novelnya. Saya sudah coba cari novel ini di toko buku ternyata tidak ada. Ya sudahlah akhirnya menonton juga. Jadinya, saya tidak berekspektasi apa-apa dengan film ini, bahkan membaca sinopsisnya pun tidak. Sama sekali tidak ada gambaran filmnya akan bagaimana atau casting-nya siapa saja (selain Pamie dan Morgan tentunya yang sudah tahu duluan).

Ini dia review-nya.

Dua kata tentang film ini... autumn-nya keren! Dari awal sampai akhir saya bisa merasakan beranginnya kota Melbourne dengan guguran daun-daun yang sudah menguning dan kecokelatan di sepanjang taman. Pakaian yang dikenakan Pamie benar-benar keren semua, dan cocok dengan karakter dia yang dingin tetapi manis. Pamie berhasil membuat karakter Laura sebegitu kuatnya, dan ini didukung oleh wardrobe dan pengambilan gambar yang keren.

Lalu Morgan sebagai Max. Entah sejak kapan saya lupa kalau Morgan itu ganteng (pernyataan macam apa ini), tapi dari awal kemunculannya di film ini, saya berhasil yang ber... "Aduh Morgan kenapa ganteng yaaa.... Lama nggak fangirling-an Koko-Koko ganteng." Oke lupakan. Anggap saja saya norak. Dan tentunya itu tidak saya lafalkan pakai suara (karena pasti norak banget), tapi saya tulis di twitter di sela-sela lagi nonton, hehehe. Teman saya mengomentari Morgan yang wajahnya ada bekas jerawatnya, dan komentar saya, "Nggak apa-apa Din. Justru itu yang bikin dia terlihat manusiawi." Bijak sekali saya bukan? Dan tolong jangan ditanya soal kemampuan akting Morgan. Sudah terbukti dan teruji bahwa dia berhasil membawakan berbagai karakter bukan? Di sini aktingnya oke.

Satu hal yang kalau boleh disayangkan dari pemilihan aktor dan aktris di film ini adalah... sorry to say, yang jadi dokter Evan kurang ganteng. Maaf sekali harus mengatakan ini, tapi ya, bagaimana ya. Pokoknya begitulah. 

Secara umum, plotnya cukup kaya dan nggak mainstream. Berhubung saya belum baca bukunya, jadi sama sekali nggak punya gambaran tentang plot cerita. Namun, yang perlu disesalkan, memang sih, ceritanya cukup sederhana, tapi eksekusinya terlalu dibuat dramatis. Seperti misalnya yang Laura mengejar kereta (dan orang yang naik di atasnya sih sebenarnya). Pakai acara mogok dulu lah, mengayuh sepeda lah. Kenapa nggak telepon aja sih?! Kan lebih simpel. Atau telepon G*Jek. Eh nggak ada ojek di sana ya. Oke deh.

Intinya sih, ceritanya tidak mengecewakan, overall saya suka. Dan saya jadi semakin penasaran untuk membaca novelnya, semoga segera berjodoh ya. Pesan saya, kalau kalian kepingin menonton film yang menyuguhkan keindahan kota Melbourne dan plot yang romantis ini, segera tonton di bioskop ya, karena kemungkinan akan segera turun layar. Persaingan film-film di bioskop akhir-akhir ini agak sedikit kejam.

Ini dia official trailer-nya:



[Movie Review] Inferno

Source



Pemain: Tom Hanks, Felicity Jones, Ben Foster, Omar Sy, Irrfan Khan, Sidse Babett Knudsen
Sutradara: Ron Howard
Penulis: David Koepp
Berdasarkan novel karya: Dan Brown
Durasi: 121 menit

***

Kata orang-orang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. 

Saya nonton ini beberapa lama setelah tayang (bahkan nyaris turun layar). Dan review-nya, dibuat setelah sekian lamaaa dari waktu itu. Iya, saya lagi mager dan lumayan sibuk, hahaha, paradoks sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Saat nggak sibuk malah mager. Lha kok curhat.

Seperti biasa, saya kalau nonton film di bioskop selalu sama Dina. Dina itu teman SMA saya. Jangan tanya pasangannya mana, karena memang nggak ada *kibas jilbab calmly*. Jadi, berhubung kepingin meet up sama Dina, dan pas lagi lihat film ada Inferno, jadilah kami berdua nonton, yang ternyata salah jadwal. Harusnya sore malah jadi malam. Akhirnya nongkrong dulu di tempat yang jualan Pancake sambil ngobrol-ngobrol tentang banyak hal.

Setelah jam tayangnya mau dekat, naiklah kami ke XXI dengan insiden diusir halus oleh mbak-mbak XXI karena kami duduk di lounge tanpa pesan apa pun! Hahaha. Padahal sudah dapat peringatan dari teman kalau nggak boleh duduk di sana tanpa beli, tapi karena sepertinya tempat duduknya berada di luar jangkauan, merasanya si mbak-mbak tidak akan melihat tapi kami ketangkapan juga.

Begitu masuk ke dalam, bioskopnya sepi sekali... hanya ada satu cewek yang nonton sendiri. Dan si cewek itu langsung kabur ke luar karena trailer yang lagi tayang adalah filmya Denny Soemargo yang entah apa yang jelas horror. Kami berdua yang baru melangkah pun langsung meloyor ke dekat pintu masuk tadi, sampai trailer-nya berhenti.

Nah, sekarang saya mau cerita tentang filmnya. Tapi alangkah baiknya kalau kalian mau baca dulu resensi bukunya. Ada di sini.

Saya termasuk tipe orang yang saklek nggak mau nonton film adaptasi sebelum baca bukunya. Dan kenapa saya mau nonton film ini? Salah satunya karena saya sudah khatam baca novelnya. Salah lainnya karena ini film adaptasi dari novelnya Dan Brown, yang sudah pernah saya tonton untuk judul lainnya.

Saya lupa bagaimana alur persisinya film ini versi novel, dan saya sengaja tidak membacanya sebelum nonton. Biarlah kelupaan ini memberikan efek kejut saat menontonnya. Dan ternyata, ini berhasil. Terutama untuk plot-twist penting, saya berhasil mendapatkan kejutan itu.

***

Inferno adalah film Amerika Serikat ber-genre thriller yang disutradarai oleh Ron Howard, berdsarkan skenario yang ditulis oleh David Koepp. Film ini diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Dan Brown (2013). Inferno melibatkan Tom Hanks, yang tampil kembali memerankan sebagai Robert Langdon dari The Da Vinci Code dan Angels & Demons, didukung beberapa bintang antara lain Felicity Jones, Omar Sy, Sidse Babett Knudsen, Ben Foster, dan Irrfan Khan. Proses produksi dimulai 27 April 2015 di Venice, Italia, dan selesai pada 21 Juli 2015. Menurut rencana, film Inferno akan dirilis pada 14 Oktober 2016. (Sumber: Wikipedia)

***

Bercerita tentang Robert Langdon (Tom Hanks), seorang simbolog yang diculik dan dihilangkan ingatannya untuk membantu sebuah misi terselubung yang berkaitan dengan misi pengurangan manusia secara masal. Seorang milyuner dan pemerhati populasi manusia, Bertrand Zobrist (Ben Foster) menciptakan sebuah virus mematikan.Virus tersebut tersimpan di suatu tempat misterius yang diberi kode petunjuk dari mahakarya Dante. Karena kemampuan Robert dalam memahami karya seni tersebut, juga kepiawaiannya dalam memecahkan sandi, membuatnya harus menjalani sebuah skenario yang menyeretnya dalam bahaya. Keterlibatan polisi, agen rahasia, dan juga WHO turut mewarnai kisah ini.

Seorang dokter muda bernama Sienna (Felicity Jones), mendampinginya dalam pelarian di rumah sakit setelah ia kehilangan ingatan untuk hari-hari terakhirnya. Setahunya ia sedang mengajar di Cambridge, namun saat tersadar ia berada di Florence, Italia. Bersama dengan Sienna, mereka berdua berusaha memecahkan kode tempat tersebut, menyusuri--atau lebih tepatnya berkejar-kejaran ke--tempat-tempat eksotis bersejarah di daratan Eropa hingga ke Turki. Namun, di tengah perjalanan, terjadi pengkhianatan sehingga Robert tidak tahu harus percaya pada pihak mana dalam menangani masalah penekanan populasi manusia ini.

Endingnya berbeda dari novel, namun tidak mengurangi kenikmatan menonton maupun membacanya.

***

Salah satu daya tarik untuk menonton film ini tentu saja setting tempatnya. Di novel, banyak tempat yang dideskripsikan dengan menawan. Dan ekspektasi saat menonton film ini terbayarkan. Kita bisa melihat keindahan kota Florence, Venice, dan Istanbul.

Source

Source

Kalau mau intip, trailer-nya ada di sini:







[Movie Review] Surat dari Praha



Pemain: Julie Estelle, Rio Dewanto, Tio Pakusadewo, Chicco Jerikho, Widyawati, Jajang C. Noer dan Shafira Umm. 
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Penulis: M. Irfan Ramli
Durasi: 93 menit



Sebelum meninggal, Sulastri (Widyawati) membuat wasiat agar anak tunggalnya Larasati (Julie Estelle) dapat menyampaikan kotak berisi surat kepada seseorang di Praha. Pada mulanya, sang ibu Sulastri bertengkar dengan Laras di penghujung usianya. Laras bersikeras untuk meminjam surat tanah agar dapat menyelesaikan urusan pascapernikahannya dengan sang suami (Chico Jericho). Namun ternyata, setelah operasi ibunya meninggal. Segala warisan ibunya baru bisa ia miliki setelah menyampaikan pesan kepada seorang teman lama di Praha dan mendapat tanda tangannya.

Laras pergi ke Praha untuk menemui orang tersebut, Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo) yang langsung menolak untuk menerima dan menandatangani tanda terima tersebut. Bahkan, Laras disuruhnya agar segera pergi.

Malang nasib Laras, seluruh barang-barang dan uangnya dicuri oleh supir taksi yang membawanya pulang. Laras terpaksa menekan ego dan kembali ke rumah Pak Jaya bersama dengan kotak surat tersebut.

Meskipun harus berpuas diri dengan tidur di kursi, Laras harus menerimanya sampai bantuan dari teman-temannya di Indonesia menyelamatkannya dan menunggu jalan keluar dari kedutaan besar RI. Selama di rumah itu, Laras berusaha untuk membujuk Jaya agar mau menerima kotak surat itu dan agar ia mendapat tanda tangan dari pria tua itu. Namun, karena penolakan demi penolakan yang didapatnya dari Jaya membuat Laras penasaran hingga ia dengan lancang membuka isi surat tersebut.

Dari sinilah segalanya terkuak. Tentang Jaya yang dituduh sebagai seorang komunis saat maraknya peristiwa penggulingan Soekarno tahun 1965. Jaya berada pada barisan pemuda yang menentang Soeharto, oleh karenanya label "komunis" melekat padanya. Akhirnya ua tidak mendapatkan haknya lagi sebagai seorang warga negara Indonesia. Jaya tidak boleh pulang ke tanah air bahkan saat orangtuanya meninggal dunia. Tidak hanya itu saja, kisah cinta antara Jaya dan Sulastri juga terbuka. Tentang janji-janji Jaya yang tidak dapat ditepatinya karena ia sudah menjadi orang terbuang dari negaranya, dan ancaman bahwa orang-orang yang dekat dengannya akan turut diperkarakan. Barulah saat dirasa keadaan politik sudah mulai aman, Jaya mengirimi Sulastri surat-surat dari Praha yang tak pernah mendapatkan balasan.

"Antara menolak Soeharto dan mencintai Sulastri itu dua hal yang berbeda." --- Mahdi Jayasri

Di lain pihak, Laras justru menuding bahwa surat-surat Jaya-lah yang menjadi penyebab tidak harmonisnya hubungan antara kedua orangtuanya.

Namun, selama beberapa hari keberadaannya di rumah Jaya, membuat Laras jadi mengetahui sisi lain pria yang begitu dicintai ibunya itu. Laras bertemu dengan Dewa (Rio Dewanto) yang menceritakan bagaimana kehidupan Jaya selama terasing di Praha. Tentang profesinya sebagai tukang bersih-bersih di sebuah teater, bagaimana seorang Jaya yang pandai bernyanyi dan memainkan alat musik. Bahkan, pada piano tuanya, Laras menemukan sebuah partitur berjudul "Sabda Rindu". Sebuah ungkapan kerinduan Jaya kepada Sulastri yang tidak hilang oleh waktu.

***

Film ini bagus sekali. Menyajikan sisi romantisme yang tidak biasa. Tentang sebuah percintaan dari masa lalu yang terkuak kembali dengan kedatangan surat-surat yang tak terbalas beberapa puluh tahun kemudian. Tentang sebuah makna perjuangan dan pergerakan serta idealisme seorang pemuda, di mana, bayarannya adalah menjadi terbuang dari negeri dan kekasih yang dicintainya.

Dari sisi pemeran, sosok Julie Estelle memerankan sosok Larasati dengan baik sekali. Wanita muda yang secara tidak langsung menjadi korban ketidakharmonisan orangtuanya, menjadikannya memiliki watak keras dan cenderung tidak memiliki kasih sayang. Laras memang karakter yang tidak lovable, dan Julie berhasil memerankannya. Apalagi, Julie ternyata memang mirip dengan Widyawati, yang menjadi ibunya. Tio Pakusadewo juga memerankan Jaya dengan baik. Sebagai seorang yang tinggal puluhan tahun di Praha, Jaya tidak terlihat dan tidak digambarkan sebagai seorang turis, melainkan sudah melekat menjadi warga lokal.

Film ini mementingkan unsur plot ketimbang setting. Memang bukan sejenis film yang mengutamakan "jalan-jalan". Namun, justru penikmat film dimanjakan oleh sajian kota Praha dari sudut pandang aslinya. Tidak ada jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal, namun setting tempat di kota ini juga tidak kalah menariknya. Yang keren justru pengambilan scene di sebuah teater, atau di tempat Dewa bekerja di sebuah bar.

Dari sisi cerita, jarang film Indonesia yang mengangkat isu ini. Dan tidak mengecewakan, bahwa isu politik yang mewarnai Indonesia menjadi film yang romantis seperti ini. Saya heran mengapa film sebagus ini, menceritakan nasionalisme dalam baju yang berbeda begini (dan dibintangi oleh artis top pula), turun layar begitu cepat. Yang paling menyentuh adalah saat Laras bertanya pada Jaya apakah setelah sekian lama, ia menyesal dengan apa yang ia lakukan dulu?

"Saya tidak akan pernah menyesal. Kalaupun ada sesuatu yang harus disesali..., saya sudah mengecewakan ibumu." --- Mahdi Jayasri.

Benar-benar terenyuh dibuatnya.

Dan yang terakhir, soundtrack di film ini keren sekali! Dinyanyikan oleh pemerannya langsung:


Sabda Rindo oleh Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo)

Kurindu. Lebih baik katakan apa adanya. Bila memang rindu. Kurindu. Karena waktu takkan mampu berpihak. Pada perasaan yang meragu.



Nyali Terakhir oleh Larasati (Julie Estelle)

Engkau dan aku. Bagaikan doa yang mengikat. Dalam setiap langkahku. Namamu ku sebut.


Nah kalau ini, lagu Sabda Rindu yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly, nggak kalah bagusnya:





Trailer film ini juga bisa disaksikan di sini:



4,5 bintang untuk film ini!



[Movie Review] The Jungle Book

Diposting di sini dalam rangka menunggu bukunya yang akan segera terbit bulan depan! Tidak sabar untuk mengulasnya dari sudut pandang bukunya :) (Informasi tentang bukunya bisa dicek di sini.)


***




Film "The Jungle Book" ini bercerita tentang kehidupan dan petualangan seorang anak hutan bernama Mowgli (yang diperankan oleh Neel Sethi). Siapakah Mowgli? Mengapa ia bisa berada di hutan dan dibesarkan dalam kawanan Serigala? 

Mowgli adalah seorang anak kecil yang ditemukan di hutan oleh Bagheera si Macan Kumbang dan diberikan kepada kawanan Serigala untuk dibesarkan. Karena, dengan meninggalkannya bersama kawanan, anak itu akan aman.

Suatu hari Mowgli dipaksa untuk meninggalkan hutan karena seorang Harimau bernama Shere Khan merasa terusik dengan kehadiran Mowgli. Saat sedang kemarau, semua penghuni hutan berkumpul di sebuah telaga di mana terdapat air di sana. Ada aturan untuk tidak melakukan perburuan di sana karena minuman lebih diutamakan ketimbang makanan. Di sinilah penghuni hutan mengenal Mowgli dan merasa aneh dengan keberadaannya, sang manusia di tengah rimba. Shere Khan berhasil melakukan propagandanya dan melakukan ancaman. Mau tidak mau, Mowgli harus meninggalkan hutan menuju ke perkampungan manusia demi keselamatannya. Bagheera, si Macan Kumbang bersedia menemani Mowgli untuk mencapai tujuannya.

Apakah perjalanan itu akan berlangsung dengan mulus begitu saja? Oh tentu saja tidak. Di sini, Mowgli akan bertemu dengan Beruang yang lucu sekaligus menyebalkan bernama Baloo. Tidak hanya itu saja, Mowgli juga bertemu Ular Phyton bernama Kaa, lalu ada sekawanan orangutan juga. Bagaimana dengan Shere Khan? Lalu apa kabar pula Ibu dan kawanan Serigala yang ia tinggalkan?


***


Film yang disutradari oleh Jon Favreau ini, mengambil kisah dari buku populer karya Rudyard Kipling dengan judul yang sama. Diperankan oleh Neel Sethi sebagai Mowgli, dan juga ada beberapa aktor maupun aktris populer sebagai pengisi suara seperti Scarlett Johansson (sebagai Kaa), Idris Elba (sebagai Shere Khan), Ben Kingsley (Bagheera), Bill Murray (Baloo), dan masih ada beberapa lainnya.

Dari segi plot, kisah ini benar-benar rapi. Ceritanya mengalir, menegangkan, meskipun tentu saja, klimaksnya disimpan untuk seperempat kisah di akhir. Meskipun begitu, tiga perempat cerita ini di awal tidak bisa begitu saja diabaikan. Sebab-akibat yang menjalinnya begitu cantik dan mengalir. Tidak ada kisah yang percuma di sini. Misalnya, ketika ada adegan si Mowgli dengan talinya di adegan awal, siapa yang menyangka bahwa di balik itu, ada kisah lain yang berhubungan dengan akivitasnya itu. Atau, siapa yang mengira apa yang dilakukannya dengan kawanan Gajah di awal cerita, akan memberikan efek bola salju pada cerita selanjutnya? Saya benar-benar terkagum dibuatnya.

Visualisasi yang disajikan? Jangan ditanya lagi. Penonton benar-benar akan dimanjakan dengan animasi yang cantik dan keren. Silakan intip saja trailernya di sini: 




Melihat sosok Mowgli yang diperankan oleh Neel Sethi, entah mengapa membuat saya teringat dengan Bran Stark kecil (di season pertama Game of Thrones). Mungkin karena sama imutnya dan sama-sama suka memanjat. Tapi entah mengapa juga kok pemerannya lebih mirip dengan Robert Arryn? Hahaha, lupakan. 

Sekarang, saya mau bahas tentang film ini dan kesan-kesan saya saat menontonnya. Saya nonton ini berdua dengan adik cowok saya yang masih kelas empat SD, ceritanya sebagai hadiah ulang tahun gitu, jadi saya memang cari film yang cocok untuk anak di bawah umur. Sebagai kakak yang baik, saya tidak mau meracuni adik saya dengan film-film yang tidak sesuai dengan umurnya. Di XXI sendiri, rating film ini SU alias semua umur, jadi, begitu ada waktu yang pas, kami menonton berdua.


Fotonya gelap-gelapan, merah-merahan pula, hihihi.

Saya benar-benar dibuat takjub dengan kisah yang disuguhkan dalam film ini. Menontonnya, membuat saya teringat pada novel Animal Farm, novel alegori yang tokoh-tokohnya merupakan hewan yang merepresentasikan manusia sesuai dengan karakterisasi binatang-binatang tersebut. Di sini kita mengenal, bahkan sosok Serigala, yang dikenal sebagai hewan buas, begitu menyayangi anak-anak mereka. Lalu ada Beruang lucu yang pandai mengarahkan orang lain untuk mengikuti apa yang dia inginkan. Ada pula Macan Kumbang yang tegas dan galak. Namun, di balik tampilannya yang sangar, dia rupanya memiliki hati yang begitu baiknya. 

Saya jadi heran, sebuah kisah yang dikemas dalam sudut pandang anak kecil dan binatang-binatang buas, begitu menyentuh dan mengena ketimbang jika disampaikan oleh orang-orang dewasa. Nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh para penonton dengan mudah dapat saya serap dan cerna. Jujur saja, niat awal saya menonton ini yang hanya untuk menemani adik, justru saya malah diberikan pelajaran-pelajaran berharga tentang makna kehidupan di dalamnya.

Empat koma lima dari lima bintang untuk film ini. Sangat direkomendasikan untuk ditonton, apalagi bersama keluarga.



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)