The Death Cure

Judul : The Death Cure
Pengarang : James Dashner
Penerjemah : Yunita Chandra
Penerbit : Mizan Fantasi
ISBN : 9789794338490
Tebal Buku : 438 Halaman
Rating : 3,5 dari 5
Warning : Spoiler Alerts!!!





Thomas berhasil melewati Scorch, namun kini, yang ada di hadapannya hanyalah ruangan putih, kosong, minim perabot di dalam sana. Thomas dikurung selama beberapa minggu yang itu membuatnya frustasi. Terbelih jika ia memikirkan apa yang sudah dilewatinya sejauh ini. Hanya bau tubuhnya saja yang membuatnya waras, setidaknya itu membuat ia masih menyadari bahwa dirinya adalah manusia.

Lalu Tikus Botak  datang mengunjunginya, mengumpulkannya dengan para subjek yang lain, teman-temannya. Ada Newt, Minho, Frypan, dan bahkan Teresa di sana.  WICKED memberitahukan bahwa dalam kelompok ini, ada orang-orang yang kebal virus dan ada yang tidak. Sebagian besar teman Thomas dan dirinya sendiri termasuk ke dalam Manusia Kebal, tapi tidak untuk Newt. Tikus Botak mengatakan bahwa WICKED akan memberikan pilihan kepada para subjek untuk mengikuti prosedur pengembalian ingatan atau tidak. Di sini, Thomas, Newt, dan Minho menolak. Teresa, Frypan, dan beberapa yang lain memutuskan untuk mengikuti prosedur. Namun WICKED berubah pikiran, dan memaksa semua orang untuk mengikuti prosedur ini. Thomas dipaksa untuk tunduk pada erintah WICKED. Brenda, yang bekerja pada WICKED, berhasil membujuk Tikus Botak untuk menyerahkan tugas itu kepadanya. Tapi ini hanyalah tipu muslihat Brenda untuk menyelamatkan Thomas. Ia mengatakan bahwa Jorge akan siap mengantar mereka keluar dai WICKED. Dalam upaya menuju hanggar pesawat, mereka bertemu dengan Minho dan Newt yang juga berniat untuk melarikan diri. Jorge juga, karena dia yang akan mengemudikan pesawatnya.

Namun malang bagi mereka, pasukan pengamanan WICKED menembakkan launcher kepada Brenda lalu kemudian Thomas juga kena. Untung saja keduanya berhasil diseret ke dalam Berg (pesawat) milik Jorge dan mereka pergi meninggalkan WICKED. Mereka mendapatkan informasi bahwa Teresa, Frypan, dan beberapa orang lain sudah melarikan diri sebelum mereka. Thomasnya sedih karena menganggap teman-temannya yang itu (terutama Teresa) membiarkan mereka, tidak berupaya mencari mereka sebelum melarikan diri. Setelah Thomas dan Brenda sadar, mereka mendiskusikan ke mana tujuan pelarian ini. Dan akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi ke Denver. Salah satu alasan mengapa Denver menjadi tempat tujuan adalah karena Brenda mengenal seseorang bernama Hans yang bisa mengeluarkan chip pengendali otak yang ditanamkan WICKED pada para subjek. Denver adalah sebuah kawasan yang dihuni oleh orang-orang yang tidak terinfeksi oleh flare. Sementara Newt, yang dari awal sudah diberitahukan bahwa dia termasuk orang yang tidak kebal flare (alias Newt sudah terinfeksi flare), tinggal di kabin pesawat sementara teman-temannya melakukan misi. Sebelum mereka pergi, Newt menuliskan sesuatu di kertas untuk Thomas, dan dia meminta Thomas membukanya pada saat yang benar-benar tepat. Apa isinya? Ra ha si a.

Niat awal Thomas, Jorge, dan Brenda harus tertunda karena Thomas mendapatkan pesan tentang kelompok Tangan Kanan yang dikirim oleh orang misterius. Pertama-tama, Thomas tentu curiga mengapa keberadaannya di Denver dengan mudah terlacak. Namun, dia juga penasaran. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu dengan orang ini terlebih dahulu di tempat yang sudah dituliskan. Dan ternyata di sana dia menemukan seorang teman yang dikira semua orang sudah meninggal. Dia adalah... (#nospoiler). Thomas dan kawan-kawan mendapatkan informasi tentang pergerakan kelompok Tangan Kanan yang menentang WICKED. Dan juga, telah terjadi sesuatu di Denver. Para Manusia Kebal dinyatakan menghilang secara misterius dan besar-besaran di tempat ini. Itu menguatkan niat mereka untuk segera bertemu dengan Hans. Selepas dari sana, mereka mencoba mencari Hans yang ikut menghilang, dan ketemu. Minho dan Thomas menghilangkan chip pengontrol di dalam kepala mereka. Meskipun, chip itu mempunyai sistem perlindungannya sendiri pada Thomas sehingga membuat dia berontak dan sulit dikendalikan. Setelahnya, WICKED akan kehilangan kontrol terhadap Thomas, meskipun konsekuensi lainnya adalah Thomas akan kehilangan kemampuan telepati dengan Teresa dan Aris.


Thomas, Brenda dan Jorge makan di sebuah tempat. Namun di sana, mereka menemukan petugas yang menangkap orang yang terindikasi mengidap flare. Dan si Thomas ini bego banget kenapa malah menonton bukannya keluar dari tempat itu (yah, sekadar mencari aman lah, dia kan pelarian WIKCED bego banget sih). Lalu dia ditangkap, tapi tiba-tiba saja pesawat patroli WICKED menyelamatkannya sekaligus si Tikus Botak memperingatkannya tentang sesuatu. Mereka memutuskan untuk ke hanggar dan mencari jalan keluar yang lebih baik. Tapi ternyata di sana dia menemukan bahwa Newt sudah tidak ada. Dia memberikan pesan bahwa Newt akan pergi ke Istana Crank, tempat isolasi para pengidap flare. Di sana, orang-orang yang terkena flare dikarantina sampai berubah menjadi Crank. Thomas mau membebaskan temannya. Dan ketiganya memutuskan untuk pergi ke sana menyelamatkan Newt. Sudah susah payah ketemu (sampai menyogok penjaganya) tapi sayang sekali Newt tidak mau ikut. Alhasil, mereka harus pulang dengan tangan hampa.


(lupa bagaimana kronologisnya tapi....) Ketiganya diculik oleh orang dari Tangan Kanan. Di luar sana para pengidap flare semakin ganas, jadi tempat itu dibuat dengan tertutup. Mengejutkan, di dalam sana mereka menemukan banyak Manusia Kebal termasuk Teresa.... Tangan Kanan punya sebuah misi yang membutuhkan Manusia Kebal untuk menjalankan misinya. Thomas mau mengikuti misi tersebut tapi dia harus menemui pimpinan mereka dulu. Maka pergilah Thomas dan Brenda menghadap pimpinan mereka. Thomas menyetujuinya, bahwa dia akan dikirim ke dalam markas WICKED untuk mengaktifkan alat yang bisa membuat persenjataan yang dimiliki WICKED. Tapi... di dalam perjalanan, dia ketemu sama Newt dan Newt nagih pesannya... sedih banget pokoknya T_T


Lalu Thomas pergi ke WICKED dan disambut oleh Tikus Botak. Tikus Botak yakin kalau Thomas akan kembali dengan sukarela ke tempat ini, dan menurutnya prediksinya benar. Lantas ia mengatakan prosedur terakhir yang harus mereka lakukan untuk Thomas yakni, mekalukan pembedahan untuk mengambil otak Thomas. Thomas diyakini sebagai orang terkuat di antara para Manusia Kebal dan otaknya diperlukan untuk membuat cetak biru pengobatan flare. Tapi sebelum Thomas melakukan prosedur pengobatan (yang sebenarnya dia nggak mau lah ya), dia mengaktifkan alat yang digunakan untuk melumpuhkan semua senjata milik WICKED. Setelahnya dia dipaksa untuk melakukan pembedahan, dibius, dan nggak sadarkan diri untuk waktu yang tidak terlalu lama.

Ketika sadar, Thomas pun menyadari bahwa Tangan Kanan sudah mulai memasuki WICKED. Thomas dikejutkan dengan sebuah surat dari Kanselir Paige, pimpinan tertinggi WICKED yang memberikan Thomas sebuah peta dan misi: menyelamatkan para Manusia Kebal yang sudah disembunyikan di dalam maze (ya, kita balik ke maze di buku pertama), lalu menggiring mereka menuju ke sebuah flat trans yang akan membawa para Manusia Kebal ke sebuah tempat yang baru. Thomas bertemu dengan rekan-rekannya, dan Gally (nah, kesebut deh :p), juga Tangan Kanan yang rupanya tidak hanya menginvasi WICKED tapi ternyata melakukan misi yang tidak disepakati dengan Thomas yakni mengaktifkan bom yang telah mereka tanam dengan maksud untuk menghancurkan WICKED. Thomas menanyakan kesediaan Gally apakah akan bergabung dengannya atau tetap berada di pihak Tangan Kanan. Tapi Gally mendukung Thomas. Mereka menuju ke maze, menyelamatkan 500-an Manusia Kebal, dan membawa mereka ke flat trans. Malang dalam perjalanan, salah satu tokoh pentingnya mati. Siapakah dia? Baca sendiri ya. 


Bagaimana kelanjutannya? Disimak sendiri saja....



***


Mendapati buku ketiga dari Trilogi Maze Runner, membuat saya berekspektasi besar bahwa banyak sekali pertanyaan yang akan terjawab di sini. Tentang kenapa Thomas dan Teresa menjadi subjek terkuat ketimbang yang lainnya (padahal Thomasnya ya begitu saja, nothing special with him, he just like an ordinary guy.) Lalu kenapa begini kenaa begitu... banyak sekali pertanyaan yang muncul ketika kita mengikuti kisah ini dari awal. Tapi ternyata, masih banyak yang menjadi misteri. Mungkin akan terjawab di prekuelnya, mungkin juga nggak. Saya nggak bisa berharap terlalu banyak lagi di sini. Tapi meskipun begitu, saya tetap menyelesaikan buku ini sampai titik terakhir. Dan untungnya, ada beberapa pertanyaan di buku kedua yang terjawab di sini. Seperti misalnya, kenapa Newt diberi tattoo bertuliskan "lem" sebelum dilempar ke Scorch. Kalau Minho kan jelas. Hanya saja, Minho yang di buku kedua jiwa pemimpinnya benar-benar terlihat, di sini dia jadi tempramental (padahal Minho nggak mengidap flare lho). Dan perubahan ini agak cukup mengganggu sih.

Harus saya akui, tiga per empat buku ini membosankan, saya hanya benar-benar menikmati seperempat yang terakhir. Tapi karena pembagian babnya tidak terlalu tebal, barangkali itu yang membuat saya tidak lantas menutup buku ini sampai selesai terbaca semua. Mengenai ending, saya suka. Dan tentang orang-orang penting yang mati sebelum mencapai tempat tujuan, saya nggak mempermasalahkannya sih :p


2 komentar:

  1. mau tanya dongg, itu pas newt udah di tembak sama thomas akhirnya thomasnya gimnaa?

    ReplyDelete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)