Animal Farm



Judul : Animal Farm
Penulis : George Orwell
Penerjemah : Bakdi Soemanto
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal Buku : 140 Halaman
ISBN : 9786022910701
Rating : 4 dari 5



Si tua Major, seekor babi putih-tengah terhormat, bermimpi, sebuah mimpi yang mengandung visi tentang sebuah perubahan besar. Begitu Pak Jones sang pemilik Peternakan Manor terlelap dalam tidurnya, sebuah pertemuan yang sudah disebar sebelumnya digelar. Di salah satu bagian belakang lumbung besar, di atas semacam panggung yang ditinggikan, Major membaringkan dirinya di atas alas jeraminya, di bawah lentera yang tergantung pada sebuah balok kayu.

Tidak lama kemudian semua penghuni berdatangan, siap untuk mendengarkan pidato yang akan disampaikan oleh si tua Major. Sebuah pidato disampaikan, tentang bagaimana kedudukan binatang dan manusia, bagaimana kondisi para penghuni peternakan yang diperbudak oleh manusia. Lalu tentang mimpi pak tua Major tentang kehidupan tanpa manusia, di mana manusia sudah punah. Major juga mengingat kembali sebuah lagu yang pernah dinyanyikan ibunya saat ia kecil, dengan judul "Binatang Inggris". Kemudian, lagu ini dinyatakan sebagai lagu penyemangat mereka. 

Tiga malam kemudian, si tua Major meninggal. Pidato yang pernah disampaikannya menjadi penyemangat dan pemantik revolusi yang akan terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka tidak tahu kapan pemberontakan yang diramalkan si tua Major akan tiba, tapi mereka meyakini bahwa saat itu akan berlangsung tidak lama lagi, dan tugas merekalah yang mempersiapkannya.

Semua pekerjaan mengorganisir dan merencanakan dijatuhkan pada babi, yang secara alamiah adalah sosok binatang yang paling cerdas. Yang unggul di antaranya adalah dua ekor babi bernama Snowball dan Napoleon. Ada pula seekor babi lainnya yang pandai berbicara bernama Squealer.

Ada pula pengikut setia mereka, dua ekor penarik kuda bernama Boxer dan Clover. Boxer adalah kuda dengan kekuatan dan kesetiaan yang besar. Boxer bukan kuda dengan intelegensia tingkat satu, namun karena sifatnya yang teguh dan kerja kerasnya yang luar biasa, Boxer begitu dihormati. Sementara Clover, kuda wanita setengah baya yang kuat. Lalu ada Mollie, anak kuda berwarna putih dan pesolek, yang hobinya berdandan dan mengenakan pita, memakan gula. Dari kaum keledai, ada sosok Benjamin. Benjamin adalah binatang paling tua dan perangainya katanya paling buruh. Selalu tak acuh dan jarang tertawa. Dan sosok Muriel, si kambing putih. 

Nah, lalu, suatu malam, pemberontakan terjadi. Karena Pak Jones terlalu sibuk dengan minumannya, sementara pekerja yang sudah memerah susu dari sapi tanpa repot memberinya makan, akhirnya sapi-sapi tersebut protes karena kelaparan. Pak Jones mencambuk mereka lebih daripada yang pernah dia berikan. Kejadian ini melecutkan pemberontakan dari penghuni Peternakan Manor lainnya. Mereka berhasil memukul keluar semua manusia yang ada di peternakan. Tempat itu kini dikuasai oleh binatang-binatang itu sepenuhnya. Semua yang mengingatkan dan mencirikan apa yang digunakan oleh manusia dibakar habis, pertanda rezim manusia pada binatang telah berakhir.

Keesokan harinya, Snowman dan Napoleon kembali mengumpulkan mereka untuk membahas beberapa hal. Pertama, mereka mengganti plang bertuliskan "PETERNAKAN MANOR" menjadi "PETERNAKAN BINATANG". Lantas mereka membuat beberapa kesepakatan yang dituliskan sebagai:

TUJUH PERINTAH

  1. Apa pun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh.
  2. Apa pun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman.
  3. Tak seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian.
  4. Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang.
  5. Tak seekor binatang pun boleh minum alkohol.
  6. Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain.
  7. Semua binatang setara.
Tujuh perintah itu ditulis dan dibaca oleh setiap bintang.

Mereka bekerja dengan keras sesudahnya, namun pekerjaan itu membuahkan hasil berupa panen yang melimpah tidak seperti biasanya, karena semua hasil peternakan ditujukan dan dikelola untuk mereka, tidak ada lagi pembagian untuk manusia. Snowball memberikan pengajaran dan pendidikan untuk penghuni peternakan. Dia mengajarkan baca tulis, dan mendidik binatang-binatang yang liar supaya lebih baik lagi. Binatang-binatang diajarkan menulis dan membaca, meskipun pada akhirnya kembali pada kemampuan binatang itu sendiri dalam menyerap pelajarannya. Sementara Napoleon, dia justru lebih memilih mendidik generasi muda. Anak-anak anjing yang baru lahir dididiknya melalui pendidikan yang khusus. 


Snowball dan Napoleon mempunyai kedudukan yang sama dalam hal dihormati dan dipatuhi perkataannya, meskipun keduanya lebih sering memiliki perbedaan paham. Tentu ini menjadi sebuah ganjalan, bahwa di manapun, pada hakikatnya, hanyalah ada satu pemimpin. Pada akhirnya, momen ketika tercetus ide pembuatan kincir angin menjadi titik puncak pertentangan mereka. Snowball menganggap bahwa, mereka harus bekerja keras untuk membuat kincir angin supaya di kehidupan mendatang, mereka bisa bekerja hanya tiga hari dalam seminggu, akan mendapatkan pasokan listrik, air hangat, dan beragam keistimewaan lainnya. Tapi untuk itu, mereka harus berkorban dengan melakukan pekerjaan ekstra saat ini. Sementara Napoleon, menganggap bahwa hal tersebut tidak perlu. Mereka hanya perlu menambah pasokan makanan saja sehingga kebutuhan pangan mereka terpenuhi, tidak perlu melakukan pekerjaan sampingan untuk membuat kincir angin.

Akhirnya, Napoleon dengan kekuasaan mininya, dengan anak-anak anjing yang didiknya itu, berhasil membuat Snowball keluar dari peternakan, menjadikan dirinya sebagai pemimpin tunggal di tempat itu. Menggunakan Squealer sebagai juru bicara, dengan kemampuan babi itu dalam bertutur kata, berhasil membuat Napoleon dipercaya atas setiap keputusan yang dibuatnya.

Napolen membuat kebijakan yang menguntungkan kaumnya sendiri, yakni para babi dan anjing. Rapat umum ditiadakan, hanya menyisakan Dan secara mengejutkan, dia memberikan peraturan bahwa mereka harus membuat kincir angin seperti yang pernah direncanakan oleh Snowball. Selain itu, Napoleon pun membuat isu-isu untuk menjelekkan nama Snowball.

Tanpa disadari, para penguni Peternakan Binatang mengalami penindasan dan perbudakan oleh kaum mereka sendiri. Naun Squealer terus saja menyampaikan kalimat-kalimat manisnya, beragam tipu muslihat yang membuat mereka terus percaya bahwa keadaan lebih baik dari sebelumnya, dan bahwa kebijakan yang ditetapkan adalah untuk kebaikan mereka bersama. Duh. Bego banget sih x"D





Saya menyelesaikan novel ini hanya dalam beberapa jam. Sebenarnya, sudah lama dibuka dan pernah dibaca. Tapi karena sudah lama sekali akhirnya baca ulang dari pertama. Kesan pertama..., satir. Ini novel penuh dengan alegori dan satir yang buat saya banyak berpikir. Nah coba lihat, kalau dianalogikan dengan zaman sekarang, saya, anda, kita, terwakili oleh jenis binatang yang mana ya?

Apakah sebagai Boxer dan Clover yang bekerja keras tiada henti, menyatakan kesetiaan pada pemimpin, yakin bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan bersama, untuk memberikan sumbangsih pada masyarakat lainnya, tapi sebenarnya hanyalah..., alat yang dijadikan penguasa untuk kepentingan pribadinya semata? Yang mana kalau sudah habis masa baktinya, dilempar dan dibuang untuk dijual pada pemotongan kuda seperti yang dialami oleh Boxer? *emot ketawa nangis wasap*

Atau kita adalah Benjamin, si keledai tua, yang mungkin sudah lelah dengan kehidupan, sudah kenyang dengan asam manisnya hidup, memilih diam dan masa bodoh, sebagai penonton malas yang sebenarnya tahu mana yang benar, mana yang salah, tapi ya cuma diam saja? Berteriak lantang hanya di detik-detik terakhir, saat Boxer sudah masuk ke dalam mobil box yang bertuliskan “Alfred Simmonds, Penyembelih Kuda dan Pembuat Lem, Willingdon. Pedagang Kulit Hewan dan Makanan Tulang. Pemasok Rumah Anjing.” Dan menyadari kalau upaya terakhirnya itu sudah sia-sia belaka?

Atau si Mollie, kuda pesolek yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri, merasa bahwa tidak ada hal yang lebih besar, lebih penting, selain penampilannya dengan pita-pita cantik, gula-gula manis, tanpa peduli apakah ada pemberontakan, kekejaman, yang terjadi di sekelilingnya?

Atau Moses, si burung yang percaya bahwa ada kehidupan lebih baik di atas awan sana, (aduh gimana saya menjelaskan yang bagian ini ya,) bahwa kehidupan di atas sanalah yang menjadi tujuannya tanpa memiliki sedikit kepedulian terhadap apa yang terjadi di atas tanah?

Atau kita adalah Squealer, perpanjangan mulut penguasa, yang selalu seiya sekata dengan apa kata penguasa, selagi perutnya dipenuhi dengan kesenangan, maka dia menjadi seorang di garda depan untuk membela, menyiarkan informasi hanya untuk membuat pemimpinnya selalu benar?

Atau jangan-jangan, kita sebenarnya adalah Napoleon, yang...., ah sudahlah.


Semoga, kita adalah orang yang sebaik-baik orang. Bukan sejenis Pak Jones atau Pak Frederick, maupun Pak Piklington. Hm.



0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)