To Kill a Mockingbird



Judul : To Kill a Mockingbird
Penulis : Harper Lee
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penerbit : Qanita
Tebal Buku : 510 Halaman
Rating : 5 dari 5



“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”



Ini adalah novel kemanusiaan yang disajikan dengan apik melalui sudut pandang seorang gadis kecil berusia tujuh tahun bernama Scout. Mengambil latar tahun 1960an di Maycomb County, Alabama, novel ini bertutur tentang kisah kehidupan seorang gadis cilik, di kediamannya yang aman dan tenteram beserta lingkungan mereka.

Jean Louise Finch atau Scout, adalah seorang anak kecil beusia tujuh tahun, kakaknya bernama Jeremy Finch atau Jem,  berusia empat tahun lebih tua dari Scout. Ayah mereka, Atticus Finch adalah seorang pengacara di Maycomb County. Ibu mereka sudah meninggal saat Scout kecil, sehingga kedua anak Finch ini hanya berada dalam pengasuhan ayahnya. Ini kemudian menjelaskan bagaimana seorang Scout tumbuh dan berkembang, menjadi seorang yang tomboy, dengan rasa ingin tahu yang besar, namun selalu mendapatkan pengetahuan dari ayahnya yang seorang berkedudukan. Meskipun tidak berpendidikan (ayahnya tidak masuk ke sekolah formal), namun karena memiliki pengetahuan hingga berhasil dalam tes advokat, ayahnya bisa diterima sebagai seorang pengacara. Di kediaman mereka, ada pula seseorang yang dipekerjakan di rumah keluarga Finch, Calpurnia, seorang kulit hitam yang pekerjaaannya memasak. Calpurnia tidak seperti kaum kulit hitam lainnya, ia berperan dalam mendidik Scout dan Jem, lebih dari perannya sebagai tukang masak. Terbukti bahwa, Scout belajar menulis darinya.

Suatu hari, seorang teman sebaya datang ke kehidupan mereka, namanya Charles Baker Harris atau biasa dipanggil Dill. Dill adalah keluarga dari Mrs. Rachel, tetangga mereka, yang setiap musim panas menghabiskan liburan di Maycomb County. Bersama Dill, petualangan dan kehidupan mereka berjalan begitu dinamis. Dill menyarankan kedua kakak beradik Finch untuk membuat Arthur 'Boo' Radley, seorang pria misterius, untuk keluar dari rumahnya. Boo Radley adalah seorang tetangga misterius, tidak pernah keluar rumah dan bersosialisasi, tidak pernah terlihat, sehingga, keberadaannya merupakan misteri bagi anak-anak di lingkungannya. Berbagai cara dan upaya dilakukan untuk membuat Boo Radley keluar rumah, namun tidak membuahkan hasil.

Pada suatu hari, pernah ketiganya berupaya memancing Boo Radley keluar dengan berusaha memasuki kediamannya yang misterius. Jem, Scout, dan Dill menyelinap masuk pada suatu malam. Namun hasilnya? Mr. Nathan Radley keluar dengan senapan dan memberikan peringatan dengan menembakkan senapannya ke udara, membuat ketiga bocah ini lari tunggang-langgang. Namun malang, celana Jem tersangkut di kawat yang menyebabkan dia harus melepaskan celananya dan meninggalkannya di sana. Ayahnya curiga, Jem berdalih kalau dia sedang kalah taruhan dari Dill, dan berencana untuk kembali ke rumah itu keesokan harinya untuk mengambil kembali celananya. Alangkah terkejutnya bahwa celana Jem sudah terlipat rapi dan dijahit oleh seorang misterius.

Kemisteriusan Boo Radley kembali terlihat saat Jem dan Scout melewati kawasan rumah mereka, dan menemukan barang-barang aneh di dalam lubang pohon di dekat sana. Pada mulanya, yang ditemukan adalah permen karet, lalu medali kuno, ada pula uang. Dan terakhir, sebelum lubang di pohon itu ditutup dengan semen, yang ditemukan adalah dua buah miniatur serupa Jem dan Scout.

Kehidupan sekolah Scout dimulai saat hari pertamanya bersekolah. Ibu guru yang baru mengajar di sekolahnya, bernama Miss Caroline, berusia dua puluh satu tahun. Miss Caroline mengajar dengan memperkenalkan sistem pengajaran yang baru pada sekolah ini, dan Miss Caroline pun baru saja tinggal di Maycomb County. Kejadian menarik terjadi, saat Miss Caroline mendapati bahwa Scout sudah bisa membaca dan menulis, dan menurut gurunya, ini adalah sebuah berita yang tidak baik. 

Hari pertamanya sekolah juga diwarnai dengan beberapa kejadian, seperti kepada Walter Cunningham yang tidak membawa bekal makanan dan tidak membawa uang. Ibu guru berniat untuk meminjamkannya uang sebesar 25 sen untuk dikembalikan esok hari tetapi Walter menolaknya. Scout ambil bagian untuk menjelaskan bahwa Walter adalah seorang Cunningham, dan seorang Cunningham tidak akan mengambil apapun yang tidak bisa mereka kembalikan. Pernah suatu ketika ayahnya membantu sengketa tanah keluarga Cunningham, mereka membayar kebaikan sang ayah dengan meletakkan hasil bumi mereka ke kediaman Finch. Tidak hanya itu, Miss Caroline juga harus berhadapan dengan Burnis Ewell, yang masuk sekolah hanya pada hari pertamanya saja, sekadar melengkapi daftar absen. Miss Caroline menegurnya agar supaya besok Ewell kembali ke sekolah dengan lebih rapi lagi. Namun, Ewell hanya menghardiknya dan mengatakan bahwa dia tidak akan kembali lagi besok atau lain hari. Burnis Ewell seorang dengan perangai jelek, kata-katanya membuat Miss Caroline menangis.

Ada sebuah petikan yang menarik, 

Sampai aku takut aku akan kehilangan kegiatan ini, aku baru sadar kalau aku belum pernah gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernapas? [Hal. 40]

Scout tidak suka dengan hari pertamanya sekolah dan meminta Atticus untuk berhenti menyekolahkannya saja. Namun dengan bijaknya Atticus berkata bahwa Scout bisa terus membaca, dia mendapat pelajaran berharga hari ini, begitupun dengan Miss Caroline. 

Dan ini belum masuk ke inti konflik cerita..., hahaha. Novel klasik memang jalan ceritanya lambat sekali, tapi di sisi lain, alurnya bisa sedemikian cepat hingga Scout dalam cerita di awal yang baru berusia tujuh tahun, tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis sembilan tahun pada akhir cerita.

Suatu hari, Atticus mendapatkan pekerjaan untuk membela seorang kulit hitam. Hal ini membawa kecaman pada dirinya dan keluarganya. Pada zaman itu, membela orang kulit hitam dinilai sebagai perbuatan yang tidak pantas. Namun, Atticus menyatakan bahwa untuk menegakkan keadilan, tidak peduli latar belakang maupun warna kulitnya.

Tom Robinson adalah seorang nigger, orang kulit hitam yang didakwa melakukan pemerkosaan terhadap orang kulit putih. Ada beberapa alasan yang diyakinin Atticus untuk membela Tom, salah satunya adalah bahwa Atticus meyakini Tom tidak bersalah. Menangani kasus ini, begitu menguras perhatian dan pikiran Atticus, hingga menyebabkan adiknya, Bibi Alexandra memutuskan untuk tinggal di rumah Atticus. Bibi Alexandra juga mempunyai misi untuk mengubah perilaku Scout yang dinilai terlalu tomboy dan tidak pantas bagi seorang anak perempuan.

Di pengadilan, Scout dan Jem, juga Dill, menyaksikan bagaimana ayah mereka membela Tom yang memang pada dasarnya tidak bersalah atas kejahatan yang ditimpakan padanya oleh keluarga Ewell. Sampai di sini saya nggak mau cerita terlalu jauh :) spoilernya terlalu sayang untuk disampaikan di sini. Intinya adalah, banyak plot twist, banyak cerita yang tidak terduga. Peristiwa yang terjadi di sini, menjawab cuplikan kisah yang disampaikan di halaman depan novel ini. 

Ada satu lagi kutipan yang bagus sekali,

Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apapun yang terjadi. [Hal. 211]



Kesimpulan yang didapat dari buku ini adalah, kisahnya sangat inspiratif, disajikan dari sudut pandang anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu amat tinggi, dididik oleh seorang ayah yang arif dan bijaksana. Ini adalah satu kisah sarat akan nilai moral dari berbagai macam buku-buku bermakna dan bagus yang akan saya wariskan kepada anak saya nantinya.

Lima bintang diberikan karena buku ini sangat layak untuk mendapatkannya.

0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)