Satu Hari Bersamamu

Judul : Satu Hari Bersamamu---For One More Day
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Kelima, September 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, September 2006) 
ISBN : 9786020333403
Rating : 4 dari 5




Hitunglah jam-jam yang seharusnya bisa kauhabiskan bersama ibumu. Rentangnya sepanjang masa hidup itu sendiri. ---halaman 184

***

Blurb:

"For One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu, dan pertanyaan berikut ini: Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kausayangi, yang telah tiada? 

Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi “anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya”. Maka dia memilih ayahnya, memujanya––namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya, seorang diri, meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh. 

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal. Dia justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya––yang meninggal delapan tahun silam––masih tinggal di sana, dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa."

***

Charley "Chick" Benetto merasa gagal dalam hidupnya. Ia mengalami kehidupan yang kacau-balau sejak kematian ibunya. Lalu, setahun setelahnya, ia melakukan hal bodoh yang menyebabkan dirinya harus menanggung kerugian finansial. Ia meninggalkan istri dan anaknya--atau sesungguhnya merekalah yang meninggalkannya. Hidupnya kacau balau. Hingga suatu saat, anak perempuan yang begitu dicintainya memberikan sebuah kabar, tentang pernikahannya. Dan tidak ada yang memberitahu Charley tentang itu. Bahkan, di dalam foto pernikahan itu tidak ada potret dirinya. Charley menganggap bahwa ia telah gagal menjadi seorang ayah, dan telah dibuang dari kehidupan anaknya.

Charley memutuskan untuk bunuh diri. Ia memacu kendaraannya begitu cepat, dengan maksud menabrakkan diri pada pagar pembatas. Namun, dari arah yang berlawanan, ada sebuah truk melintas. Tabrakan terjadi. Saat Charley membuka mata, ia terbaring di rerumputan. Mobilnya hancur, tapi ia tetap hidup. Ia berjalan tak tentu arah. Ia memanjat ke menara air, lalu kembali menuntaskan misinya untuk bunuh diri. Charley mendorong tubuhnya ke depan.

Saat kembali membuka mata, ia menemukan sosok ibunya di sana. Ibunya, yang meninggal bertahun-tahun yang lalu.

Semua itu tidak dapat dipahami oleh Charley. Bagaimana ia bisa kembali selamat dalam rentetan peristiwa yang baru saja terjadi itu? Bagaimana ia bisa melihat dan merasakan sosok ibunya di dekatnya? Bahkan, tubuh sang ibu benar-benar solid. Itu bukan sosok hantu. Lalu Ibu, mengajaknya ke sebuah perjalanan, perjalanan demi perjalanan yang melempar ingatan Charley ke masa silam, tentang banyak hal yang terjadi pada dirinya dan ibunya.

Tentang ia yang mendapatkan simpati dari orang-orang karena perceraian keluarganya, tentang Posey, ibunya, yang justru mendapat perlakuan sangat berbeda karena dianggap ancaman bagi para ibu-ibu yang takut suaminya akan bermain mata pada janda muda itu.

Tentang Charley yang sedari dulu memutuskan untuk menjadi "anak papa", dan harus pindah haluan menjadi "anak mama" semenjak ayahnya pergi dari keluarga mereka tanpa penjelasan apa pun. Tentang Charley yang menyimpan amarah pada ibunya karena membiarkan ayah mereka pergi.

Kau bisa jadi anak mama atau anak papa. Tapi tidak keduanya. ---halaman 31

Tentang Posey yang harus melakukan apa pun demi membesarkan anak-anaknya, bahkan saat ia mengalami hal-hal buruk tentang statusnya, dan kenyataan bahwa dirinya masih tetap cantik bahkan di usianya yang tak lagi muda.

Tentang Charley yang bahkan masih menjadi "anak papa", bahkan setelah apa yang dilakukan ayah mereka selama ini. Bahkan, setelah pengorbanan ibunya yang begitu besar, demi membesarkannya dan membuatnya tumbuh menjadi seseorang.

Tentang makna keluarga, dan kasih sayang melimpah dari seorang ibu pada anaknya, bahkan ketika sang anak tidak pernah menyadarinya, dan baru menyesali kejadian demi kejadian setelah ibu mereka tiada.

Pernahkah kau kehilangan seseorang yang kausayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau menganggap mereka akan selalu ada selamanya? Jika pernah, maka kau pasti tahu bahwa seberapa banyak pun kau mengumpulkan hari-hari sepanjang hidupmu, semuanya takkan cukup untuk menggantikan satu hari itu, satu hari yang ingin sekali bisa kaumiliki lagi. ---halaman 7

***

Jadi, sekarang kau tahu ada orang yang sangat menginginkanmu, Charley. Anak-anak terkadang melupakan itu. Mereka melihat diri sendiri sebagai beban dan bukan sebagai jawaban doa. ---halaman 92

Bagi saya, buku-buku Mitch Albom adalah nasihat, dan Satu Hari Bersamamu ini, adalah sebuah nasihat tentang kehidupan, tentang keluarga, hubungan anak dan orangtua. Sebuah pembelajaran berharga tentang memaknai kehidupan, seberapa pun sulitnya sebuah kisah terjalin.

Kisah ini begitu memilukan sekaligus hangat. Kau bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu mendalam, bahkan rela melakukan apa pun demi kebahagiaan anaknya. Tidak mau membuka aib yang terjadi dalam keluarga mereka, meskipun itu mengakibatkan persepsi seorang anak menjadi berbeda apabila mereka tahu yang terjadi sebenarnya. Tegar saat mendapatkan cemoohan maupun perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. Bahkan, rela melakukan apa pun demi kebahagiaan anak mereka.

"Anak-anak merasa malu karena orangtuanya." ---halaman 110

Bagian yang paling membuat saya terharu adalah ketika Posey membelikan alat cukur dan mengajarkan Chick bercukur--pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah pada anak lelakinya. Lalu, saat Chick tahu bahwa setiap Sabtu, ibunya melakukan pekerjaan yang tidak pernah diduga Chick sebelumnya. Saya nyaris menangis sewaktu membaca itu.

Namun, "Saat-Saat Ketika Ibu Membelaku" dan "Saat-Saat Ketika Aku Tidak Membela Ibu" berhasil menampar-nampar pembacanya, dan membuat saya merenung..., sudah cukupkah saya membela Ibu di saat-saat ia membutuhkan sebuah pembelaan atau bahkan sekadar mengharapkan anak-anaknya memperlihatkan wujud kasih sayang mereka kepadanya?

Bagus sekali kau bisa melewati satu hari dengan ibumu. anak-anak harusnya lebih sering melakukan itu. ---halaman 101

Buku ini indah, hangat, dan menampar naluri terdalam tentang bagaimana seharusnya kita memberikan arti dan makna terhadap keluarga.

Tetap tinggal bersama keluargamu adalah apa yang menjadikannya keluarga. ---halaman 228


0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)