Candice

Judul : Candice
Penulis : Voltaire
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 168 Halaman
Cetakan Pertama, November 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, 1759) 
ISBN : 9786024241605
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Candide, dongeng filsafat satir yang ditulis oleh Voltaire, bercerita tentang seorang pemuda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bertualang keliling dunia untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimistis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifatnya itu didapat dari gurunya, Pangloss. Melalui novel ini, secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan kekejaman manusialah yang membuat dunia ini menjadi tidak sempurna.

***

Candice adalah seorang pemuda yang tinggal di kediaman Baron Thunder-ten-tronckh. Tidak diketahui secara pasti siapakah Candice ini, para pelayan menduga ia adalah anak saudara sang Baron yang perempuan. Nyonya besar pemilik tempat ini memiliki seorang putri yang tinggi langsing, cantik, dan menggiurkan bernama Cunegonde. Bersama seorang Tuan Guru bernama Pangloss, Candice belajar banyak hal tentang metafisika-teologi-kosmologi-konyologi.

Suatu hari Cunegonde melihat Tuan Guru Pangloss yang tengah memberikan pelajaran "praktikum fisika" kepada pelayan kamar tidur ibunya. Setelah tidak sengaja mengamati itu, ia pulang dengan perasaan gelisah, asyik berpikir, sambil melamun penuh keinginan untuk menjadi orang berilmu. Ia bertemu dengan Candice dan wajahnya memerah. Dengan lugunya mereka berciuman, dan malang bagi Candice, Baron Thunder-ten-tronckh melihatnya dan membuat Candice terusir dari istana. Maka, dimulailah perjalanan panjang pemuda itu berkeliling dunia.

Pertama, ia mendapatakan perlakuan tidak menyenangkan dari tentara Bulgaria. Setelah mendapatkan pengobatan atas siksaan mereka, Candice melarikan diri. Ia menemukan seorang laki-laki yang tidak pernah dibaptis bernama Jacques yang berbaik hati padanya. Candice bertemu dengan peminta-minta setengah buta dengan wajah penuh bisul dan hidung yang borok. Mengejutkan, ternyata orang yang ditemuinya itu adalah guru filsafat Candice, Pangloss. Atas bujukan Candice, Jacques melakukan kebaikannya lagi bahkan menyembuhkan Pangloss dari penyakit kelamin yang didapatnya dari pelayan di istana sang baron. Dari kisah Pangloss, Candice mendapatkan informasi tentang serangan yang dilakukan tentara Bulgaria yang menyebabkan kematian Cunegonde. Candice benar-benar terpukul mendapatkan informasi ini.

Karena urusan dagang, Jacques mengajak kedua ahli filsafat itu untuk pergi ke Lisabon. Topan melanda dalam perjalanan kapal mereka. Layar tersobek, tiang-tiang patah, setengah penumpang lemas karena rasa cemas yang tak terkirakan. Dalam upaya penyelamatan diri, Jacques tenggelam dan tewas. Begitu mendarat, mereka disambut oleh gempa bumi. Benar-benar perjalanan yang bersentuhan dengan maut. Mereka ditangkap oleh orang bijaksana di negeri itu sebagai bahan persembahan untuk menghindari kehancuran total negeri mereka. Begitu hendak dieksekusi, gempa bumi melanda kembali. Candice melarikan diri.

Dalam pelariannya itulah ia menemukan seorang wanita tua yang memiliki masa lalu kelam yang mengantarnya kepada seseorang yang benar-benar tidak ia duga sebelumnya. Cunegonde. Perjalanan demi perjalanan kembali berlangsung, pertemuan dan perpisahan silih berganti, mengukirkan cerita yang tidak pernah terduga. Bertemu dengan manusia yang jatuh hati pada kera, mendarat di El Dorado yang merupakan perlambang surga di dunia, yang pada akhirnya harus ditinggalkan juga. Mengingat manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, dan ada satu hal yang ia kejar di luar sana dan harus ia dapatkan. Bersama Pangloss, Mario (yang ia ambil sebagai teman perjalanan di suatu waktu), Candice menghabiskan segala daya dan upaya untuk mencari sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya. Entah apakah sesuatu itu masih menjadi tujuannya lagi setelah kenyataan menampar dirinya bahwa cita-citanya itu tidak lagi seperti yang ia angankan.

***

Telah dibuktikan, bahwa segala sesuatu tidak bisa lain keadaannya dari sekarang ini. Segala sesuatu diciptakan untuk tujuan tertentu, maka tidak bisa lain tentu tujuan yang terbaik. ---Halaman 3

Berangkat dari ajaran Tuan Guru yang didapatnya saat berdiam di kastel milik sang baron, Candice belajar banyak hal tentang kehidupan. Namun, pemahaman tentang hidup tidak akan bermakna jika seseorang hanya terkungkung pada satu keadaan hidup saja. Seperti Adam dan Hawa yang menjalani takdir terusir dari surga. Jalan yang sama dilalui Candice, bahwa ia terusir dari kediamannya yang nyaman, dengan guru yang senantiasa mengajarkannya teori seputar kehidupan, dan seorang gadis yang dicintainya dengan begitu dalam.

Pengusiran itu membuka jalan baginya, untuk tetap memandang hidup degan penuh optimis, bahkan dalam keadaan yang paling menyedihkan sekalipun. Pengusiran demi pengusiran, keluar dari zona nyaman, membuatnya mempertanyakan kembali apakah ajaran sang guru benar adanya atau justru hanya sekadar teori belaka. Beruntung ia bertemu dengan seseorang yang baik, dan menemukan takdir berkata lain dengan kembali dipersatukan dengan orang-orang tak terduga: gurunya yang sekarat beserta informasi mengejutkan yang menyimpulkan pemahaman lain tentang kehidupan yang tidak selamanya ajek dan konstan.

Makanya, mereka yang beranggapan bahwa segala sesuatu berjalan baik, sesungguhnya tolol sekali. Yang betul adalah: segala sesuatu berjalan sebaik-baiknya. ---Halaman 3

Bahwa hidup adalah perjalanan dari satu keadaan menuju keadaan lainnya membuat Candice terus menapaki bumi yang lain, menerima kehilangan sebagai bagian dari pahit getirnya kehidupan. Tentang pertemuan dengan manusia berbeda pemikiran serta pemahaman, membuatnya memiliki paradigma baru terhadap pemikiran dan kehidupan. Dan ketika kehilangan demi kehilangan menghimpitnya, jalan yang harus ia tempuh adalah berpindah, dan mencari kebahagiaan baru di tempat selanjutnya. Maka beruntunglah ia, ajaran tentang makna kehidupan dan postivisme yang diajarkan tuan guru menemukan jalannya ketika ia kembali dipertemukan dengan kekasih yang begitu dicintainya.

Dan ketika jalan lain menghadang dan memisahkan mereka kembali, sebuah cita-cita untuk meraih impian mengantarkannya pada sebuah perjalanan baru menguras emosi dan harta yang ia punya.

Pertemuan demi pertemuan dengan orang-orang yang mengajarkannya tentang kehidupan, menjadikan pemahaman Candice tentang kemalangan hidup berada pada level yang lebih baik lagi. Bahwa ketika kita merasa sukar dengan nasib buruk  yang kita miliki, di luar sana ada banyak orang yang keadaannya jauh lebih malang daripada yang kita alami. Dan betapa seseorang ingin mengakhirinya dengan jalan pintas, namun kesadaran tentang hakikat kehidupan membuat manusia menempuh jalan dengan menjalani segalanya dengan jiwa ksatria, dan optimisme di dada.

Seratus kali saya tergoda untuk membunuh diri, namun masih cinta kehidupan. Kelemahan konyol ini mungkin merupakan salah satu cacat kita terbesar. Adakah yang lebih tolol dari memanggul suatu beban terus-menerus, padahal kita selalu ingin mencampakkannya di tanah? ---Halaman 51

"Optimisme adalah kegilaan untuk mempertahankan pendapat bahwa segalanya berjalan baik, padahal kenyataan adalah kebalikannya." ---Halaman 87

***

Voltaire adalah seorang pengarang besar Prancis abad ke-18 yang terkenal di samping nama lainnya yang termasyhur zaman itu seperti Montesquieu dan Rousseau. Sebagaimana diketahui, peran pengarang pada abad-abad yang lalu bukan hanya sekadar menghasilkan karya sastra semata, melainkan mengolah sebuah karya yang menjadi landasan hidup serta filsafat yang kemudian dianut oleh seluruh bangsa. Karyanya menghasilkan inspirasi untuk pergolakan besar dalam kehidupan dan sejarah dunia.

Buku ini merupakan buah kritik sosial yang dituliskan oleh Voltaire terhadap banyak hal seputar kehidupan. Ia berbicara melalui karya sastra untuk menyinggung tentang penyalahgunaan agama, kesewenangan penguasa, memperolok roman-roman picisan yang berkembang di zamannya, sindiran terhadap nama besar bangsawan yang membuat mereka seolah lebih angung dari manusia lainnya. Voltaire memerankan diri sebagai penggerak karakternya yang diwakili oleh Candice yang naif dan lugu. Keoptimisan si tokoh dan perjuangan dalam mencapai cita seolah dipermainkan oleh pengarang untuk membuat hidupnya terkesan absurd dan tidak masuk akal. Voltaire berperan besar dalam memainkan kehidupan para tokohnya dengan memasukkan unsur sindiran terhadap pemikiran-pemikiran yang tidak disukainya, dengan menampilkan filsafat hidupnya yang terkandung di sana. 

Meskipun ia memorakporandakan pemikiran lawan dengan memasukkan pemikirannya sendiri, ia menyajikan karya ini dengan baik. Berhasil membawa pembaca larut ke dalam kisahnya dan keabsurdannya, dengan gaya bahasa yang benar-benar lugas. Seperti misalnya saat menggambarkan adegan pingsan, seolah tokohnya tiba-tiba pingsan begitu saja tanpa ada upaya untuk memperhalus penggambaran deskripsinya. Namun kelugasan itu berhasil membuat pembaca merasa ngilu ketika adegan yang diceritakan berupa kekerasan dan peristiwa yang akan berhasil menyayat pembaca, tanpa dibumbui deskripsi berlebihan atau dramatis.

Membaca Candice, membuat pembaca berhasil mengulik isi kepala penulisnya, Voltaire, sang guru filsafat dan salah satu penyair terkemuka di zamannya.

0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)