Showing posts with label Annisa Ihsani. Show all posts
Showing posts with label Annisa Ihsani. Show all posts

Teka-Teki Terakhir

Judul : Teka-Teki Terakhir
Penulis : Annisa Ihsani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 256 Halaman
ISBN : 9786020302980
Rating : 4 dari 5




"Kalau aku boleh memberimu satu nasihat, Laura, janganlah terlalu fokus pada satu hal hingga lupa menghargai apa yang ada di sekelilingmu." ---halaman 93


Blurb:


Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya...

***

Laura merasa sedih karena ia mendapatkan nilai nol dalam ujian matematikanya. Saat ia berusaha membuang "barang bukti" berupa kertas ujian bernilai nol tersebut, rupanya kertas itu diambil oleh tetangganya yang aneh. Pasangan suami-istri tua Maxwell memang aneh. Banyak rumor berkembang seputar kehidupan mereka yang antisosial, serta desas-desus tentang pekerjaan mereka: ada yang bilang mereka penyihir, ilmuwan gila, dan rumah mereka pun dikatakan sebagai rumah angker. Saking takutnya, Laura bahkan harus menempuh jarak memutar untuk berangkat ke sekolah agar tidak melewati rumah tersebut.

Nah, jadi, bagaimana reaksi Laura ketika mengetahui bahwa kertas ulangannya itu dikembalikan oleh Tuan Maxwell disertai dengan sebuah buku tentang sejarah penemuan angka nol? Apalagi sewaktu ia mendapat komentar dari Tuan Maxwell:


"Mendapat nol tidak terlalu buruk, terutama setelah begitu lama pencariannya." ---halaman 21

Menuruti nasihat Jack, Laura datang ke rumah keluarga Maxwell untuk mengembalikan buku dan menemukan bahwa mereka sama seperti orang-orang normal lainnya. Dan ternyata, mereka mempunyai perpustakaan yang besar sekali. Laura bahkan mendapatkan izin untuk membaca dan membawa pulang buku-buku tersebut.


Sejak saat itu, Laura jadi menyenangi kunjungannya ke rumah Maxwell. Ia membacakan buku untuk Nyonya Maxwell saat sedang sakit, ia juga mendengarkan penjelasan dari Tuan Maxwell tentang matematika. Ya, ternyata Profesor Maxwell bukan penyihir atau ilmuwan gila, melainkan seorang profesor di bidang matematika. Pekerjaannya saat ini adalah ia sedang membuktikan Teorema Terakhir Fermat yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga ratus tahun lamanya.


Karena sering bertemu dengan keluarga Maxwell itulah kini Laura lebih mencintai matematika dan berdampak dengan nilai-nilai ujiannya yang kian membaik. Namun, di lain sisi, hubungannya dengan Katie, teman akrab Laura menjadi renggang. Belum lagi gosip yang beredar di Littlewood yang mengatakan bahwa Laura menjadi sama anehnya dengan keluarga Maxwell. Hal ini membuat Laura cilik menjadi kesal. 


Dan ketika beberapa waktu berselang, kemunculan seseorang bernama Andrew Wiles mengubah banyak hal.



***

Novel ini keren sekali. Pertama, gaya bahasanya yang bercita-rasa novel terjemahan. Kedua, cerita yang lain dari novel-novel Teenlit kebanyakan yang hanya berputar soal cinta-cintaan saja. Teka-Teki Terakhir, bertemakan tentang apa? Matematika, bayangkan, momok besar bagi banyak pelajar di mana pun berada. Tolong.... Saya kira saya sedang membaca novelnya John Green, ternyata ini adalah debutnya Annisa Ihsani. 


Aura yang diberikan pada saat saya membaca ini memang mirip dengan novel John Green yang berjudul An Abundance of Katherines. Saya juga merasakan hawa-hawa yang saya dapat ketika Scout dan Jem-nya To Kill a Mockingbird mengintai rumah tua di kotanya. Lalu, kesan yang saya dapat ini diperkuat dengan plot yang meskipun cukup flat, namun kuat dan pas dengan usia si tokoh utama dan bayangan tentang setting tempatnya yang di antah-berantah (andai saja aura serupa bisa saya dapatkan di A untuk Amanda, huhuhu, karena "Burger Arif"-nya yang sedikit mengacaukan konsep setting di sana).






Saya suka dengan cerita bertokoh anak-anak, saya suka matematika, dan saya tahu sekali bagaimana rasanya mendapatkan pertanyaan seperti yang ditanyakan oleh Laura pada Tuan Maxwell ini:



"Lalu apa kegunaan teorema ini, Tuan? Maksudku di dunia nyata?" ---halaman 23

Sebagai seorang (yang saat menulis ini masih berstatus sebagai) guru fisika, mendapatkan pertanyaan tentang apa pentingnya belajar hitung-hitungan begini di dunia nyata itu menyebalkan sekali (yak, jadi curcol). Kau memang tidak akan secara langsung mendapat manfaat dari apa yang kau pelajari hari ini di dunia nyata. Kau hanya perlu menunggu momen yang tepat di mana kau akan memperoleh apa yang sudah kau tanam sebelumnya. Kalau kata Profesor Maxwell, matematika itu indah. Kalau kata saya, semua itu butuh proses, ada yang namanya perjuangan. Mengapa Teorema Terakhir Fermat belum mendapatkan jawaban setelah lebih dari tiga ratus tahun? Karena pada akhirnya nanti, akan ada seseorang yang memberikan jawaban tentangnya, menemukan solusinya. Butuh waktu yang lama untuk menemukan angka nol (tapi, di sini muncul pertanyaan dari saya tentang siapakah penemu angka nol. Saya mengenal Alkhawarizmi sebegai penemunya, namun di buku ini katanya yang menemukan adalah seorang matematikawan India). Bahkan, pembuktian 1+1=2 saja memerlukan penjelasan lebih dari 362 halaman.


Saya jadi ingat pengalaman pertama kali tentang mendapatkan angka nol pas pelajaran matematika. Waktu itu saya masih kelas 4 SD, dan saya menangis sampai rumah, hahaha. Jadi saya tahu rasanya menjadi Laura saat menemukan kejadian serupa. Selanjutnya, karena merasa bisa-nggak-bisa sama matematika, jadi saya tidak sepenuhnya tidak suka dengan pelajaran ini, nggak cinta-cinta amat juga. Tapi, karena memang selama ini belajar tentang fisika, mau tidak mau harus memahami matematika dasar juga meskipun tidak sampai membahas tentang Teorema Terakhir Fermat segala. Paling mentok ya Teorema Pythagoras. Atau kalau berbicara tentang deret bilangan, pengetahuan saya hanya sampai rumus deret aritmatika Un = a + (n-1) b saja.


Nah, kembali ke buku ini. Saya yakin, penulis pasti orang cerdas dan pandai. Saya katakan begini karena ia berhasil membuat sebuah tema yang tidak biasa, disajikan dengan gaya penulisan yang tidak biasa pula (rasanya jarang sekali saya membaca novel lokal dengan aura terjemahan yang kental seperti ini).


Ada kalimat yang bagus dari novel ini yang saya sukai, misalnya:

"Semua orang aneh dengan caranya sendiri. Terkadang keanehanmu tidak cocok dengan keanehan orang lain, jadi mereka menyebutmu aneh. Tetapi terkadang keanehanmu cocok dengan keanehan seseorang, dan kalian bisa beteman." ---halaman 147

Hmmm... (menunggu bertemu dengan "orang aneh" yang keanehannya cocok sama saya, hahaha.)


Dan satu nasihat terakhir sebelum saya menutup review ini:



"Menurutku penting untuk meninggalkan sesuatu selagi kita hidup. Bagi beberapa orang, mungkin ini berupa bukti teorema. Bagi orang lain, mungkin lukisan atau puisi. Tetapi, intinya, apa saja yang menunjukkan kau pernah hidup. Supaya orang tahu apa impianmu, apa yang membatmu sedih, apa kau lebih suka anjing atau kucing..." ---halaman 217


"Baiklah. Kalau begitu anggaplah alam semesta akan berakhir. Tetapi aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Jadi, apa yang harus kulakukan dengan hidupku sekarang? Tentu saja, aku bisa menghabiskan waktuku tanpa melakukan apa-apa, berpikir toh semua akan sia-sia saja. Tetapi bukankah lebih menyenangkan mengisinya dengan menanam tomat, membaca buku, dan membuktikan teorema?" ---halaman 219




A Untuk Amanda

Judul : A Untuk Amanda
Penulis : Annisa Ihsani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 264 Halaman
ISBN : 9786020326313
Rating : 4 dari 5 



Kubayangkan diriku berada di pegunungan, tidak ambil pusing apa itu IGG, satu-satunya astronomi yang kutahu hanyalah memandangi langit malam dari atas bukit berumput, tidak ada polusi cahaya, hanya ada hidup yang sederhana, memerah susu sapi, dan menggembala domba... --- halaman 105

Blurb:

Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?

Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.

Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.


***


Gimana ya? Hahahaha. Sakit kepala baca novel ini. Sensasinya sama seperti saat nonton drama Korea It's Oke That's Love, yang memang sama-sama mengambil kisah seputar penyakit kejiwaan. 

Sebagai orang yang akhir-akhir ini mengalami masalah kejiwaan yang rada-rada mirip dengan Amanda--bedanya, kalau Amanda tidak mampu mengatasi permasalahan dirinya sendiri sampai butuh pihak ketiga untuk membantunya, saya rasa saya masih dapat berdiri tegar :p no, tidak ada curhat dalam review ini, no! Hahahaha--saya merasakan banyak sekali perasaan yang sama dengan apa yang dialami Amanda. (Trust me, bahkan saat membaca bagian Amanda yang kalau stress berlebihan rasanya pengin muntah itu..., refleks saya mual-mual juga #dzig.)

Entah apakah novel ini bagus untuk dibaca orang-orang yang merasa sedang banyak mengalami beban jiwa (atau justru dianjurkan, hm?), tapi membacanya membuat saya pusing sekaligus tercerahkan dalam waktu yang berdekatan.

Bercerita tentang Amanda yang kepintarannya melebihi rata-rata, well, kepintaran Amanda di sini tidak hanya sekadar apakah dia tahu rumus percobaan celah ganda yang dirumuskan: (dp/l) = nλ, tapi juga paham bahwa percobaan ini membuktikan tentang cahaya tidak hanya bisa bertindak sebagai gelombang namun juga partikel. Lalu, pada momen depresinya, bahkan dia bisa dipancing untuk mengetahui bagaimana sin 225 itu bukan 1. Dia adalah sin 180 derajat ditambah dengan 45 derajat yang berada di kuadran tiga (dan nilai sin di kuadran tiga itu adalah negatif!).

Sudah bisa mendapatkan gambaran tentang Amanda? Ya, dia adalah seorang yang pandai memahami sains semudah kita membaca novel. Amanda mengalami gejala depresi akut, bukan karena dia adalah korban broken home, korban bullying, atau hal-hal yang barangkali tebersit dalam benak kita tentang penyebab seseorang mengalami depresi. Amanda mengalami stress karena dia merasa dirinya adalah seorang penipu. Bahwa nilai yang selama ini dia dapat bukan benar-benar penilaian objektif yang pantas didapatnya melainkan karena dia hanya mengalami keberuntungan. Apabila suatu saat nanti keberuntungannya akan hilang, dia mengalami kekhawatiran bahwa orang-orang akan mengetahui bahwa dia selama ini menipu mereka.

Jika dibilang bahwa Amanda yang super-duper pintar ini tidak memiliki kehidupan remaja yang sarat dengan cinta-cintaan, kau salah. Amanda bahkan memiliki hubungan dengan Tommy, teman yang bersama dengan dirinya sejak kecil. Meskipun keluarganya tidak utuh karena sang ayah meninggal ketika ia berumur delapan tahun, percayalah, depresi yang ia alami tidak ada hubungannya dengan itu.

Salah apabila kita menilai bahwa masalah yang dialami orang lain--yang dari sudut pandang kita--seolah adalah masalah remeh, dan menganggap bahwa masalah yang dialami kita merupakan masalah besar. Setiap orang punya porsi masalah yang harus dihadapinya dengan sepenuh hati. Barangkali, orang akan berpikir skeptis dengan apa yang dihadapi oleh Amanda. Kecemasan saat mendapatkan nilai 93 (bayangkan, sembilan puluh tiga! Sementara orang lain, berupaya menyentuh KKM a.k.a. kriteria ketuntatasan minimum saja susah) setelah sebelumnya mendapat 98, mengerjakan tugas selama tiga jam, yang mana hanya dibutuhkan tiga puluh menit untuk dikerjakan orang lain, berjam-jam memeriksa tanda baca sebelum mengumpulkan esai dan menilai apakah kutipan yang digunakan memiliki korelasi atau tidak. [Ya Tuhan, apa saya punya sindrom perfeksionis yang akut juga saat saya memilih untuk menuliskan "korelasi" alih-alih "berhubungan" dan mencari sinonimnya saat menulis ini? Huahuahua.]

Kau tahu? Percaya atau tidak, saya benar-benar paham dan pernah berada dalam posisi seperti Amanda. Meskipun, dalam tingkatan yang berbeda. Bisa dibilang, saya mengetahui apa yang diperbincangkan Amanda di sini saat dia membahas sains atau matematika di sini (kecuali pemrograman komputer yang saya buta sama sekali), sehingga untuk mengenakan sepatu yang sama dengan Amanda, tidaklah susah. Ketakutannya, perfeksionisnya, pikiran-pikiran yang menari-nari dalam benaknya, kecemasan-kecemasan yang dirasakannya, bisa dibilang saya cukup mengerti dengan itu. Entahlah, apakah dengan berbagai macam kesamaan serta pengalaman mengalami depresi ini membuat saya lebih baik atau tidak selama maupun setelah membaca buku ini. Ahahaha, benar-benar deh, separuh buku ini bikin saya tambah sakit kepala bacanya xD. TAPI..., saat bertemu dengan Dokter Eli adalah saat-saat yang mengesankan. Seolah-olah, bukan hanya Amanda saja yang mengalami sesi psikoterapi, tapi saya juga. Hahahaha. Pengalaman yang menyenangkan bukan? Saya suka sekali bagian yang itu karena, toh pada akhirnya, pembaca akan becermin dan mengalami sensasi perang pemikiran yang sama dengan yang dialami Amanda.

Bagian lain yang mengejutkan adalah..., "Erwin S." Saya diam lama waktu tahu bahwa tidak hanya saya di dunia ini yang berpikir tentang nama Erwin S. di sini. (Saat ini kondisinya adalah, saya lagi buat naskah yang tokohnya namanya Erwin S., dan kau tahu? Betapa senang (dan awkward)-nya saya karena tidak hanya saya yang terpikir untuk mencomot nama Erwin Schrödinger di sini xD.

Lalu, hm, begini. Kalau dikatakan senang atau tidak senang dengan Amanda, skala satu sampai lima, kesukaan saya dengan Amanda ada di angka dua (dengan lima nilai maksimalnya). Tunggu. Apa menurutmu ini tidak bagus? Nah, jangan salah. Karena kenapa? Ketidaksukaan saya dengan satu karakter itu menandakan bahwa karakternya dikemas dengan baik. Di sini Amanda jujur, meskipun menyebalkan dan arogan. Oleh karenanya, berkebalikan dengan ketidaksukaan saya dengan karakter ini, membuat saya mengangkat topi dengan menjatuhkan angka empat untuk penulisnya. Jika kau bermain di komunitas role playing game, kau akan jauh lebih mengerti, bahwa untuk menyukai karakter atau membencinya, kau harus melepaskan diri dari siapa di belakang pencipta karakternya. Dan di sini, semakin menyebalkannya si Amanda, semakin bertambah nilai kesukaan saya pada siapa di balik keyboard kisah ini.

Lalu..., dengan memasukkan nilai-nilai sains, psikologi, dan banyak hal yang dituangkan penulisnya dalam kisah ini, mengapa tidak membuat saya memberikan bintang lima pada novel ini? Karena, ada beberapa konten yang dibahas di sini dan itu terlalu sensitif. Tentang agnostik dan feminisme itu?

Ehm, katakanlah saya kolot atau apa (atau picik?), atau arogan seperti yang dikatakan penulisnya melalui Amanda di sini:

Beberapa orang pernah menyebutku arogan karena memilih untuk menjadi agnostik dan sebagainya..., --- halaman 262

Percayalah, saya tidak berniat untuk arogan. Namun, melabeli Amanda dengan karakter yang agnostik menurut saya pribadi agak riskan. Bukan berarti saya menutup mata dengan realitas remaja sekarang yang masih banyak jauh dengan nilai-nilai spiritual. Amanda saya tahu dia mempunyai nilai spiritual yang dia sendiri mampu mengisinya dengan hal-hal seputar kehidupan yang dia jelaskan melalui pemahamannya terhadap alam kosmos, dunia makroskopis yang sensasinya pun saya mengalami sendiri. Memahami tentang ini memang seperti dua mata uang. Saya sendiri, setelah mempelajari alam makroskopis, justru berada di kutub yang berbeda dengan Amanda: saya menemukan kebesaran dan keMahakuasaan Tuhan dari sana. Tapi, tidak semua orang seperti Amanda, tidak semua remaja mampu menyelami kehidupan yang seperti itu. Dan di luar itu semua..., saya yakin dan memercayai bahwa manusia membutuhkan Tuhan dan sudah seharusnya menyadari itu karena kebutuhan spiritual semacam ini merupakan pertanyaan filosofis yang bukan hanya saat sekarang saja muncul, atau saat-saat di mana nabi dan rasul diutus ke muka bumi ini, melainkan jauh sebelum itu.

Karena menyadari bahwa ini adalah isu penting dan dekat dengan yang namanya perdebatan, maka saya hanya akan menyampaikan ini, sebuah tulisan yang langsung terpikir oleh saya saat membaca pengakuan Amanda di halaman-halaman awal tentang dirinya yang agnostik. Tulisannya ada di sini. Kalau tentang feminisme, saya rasa saya sendiri pun sebelum membaca novel ini sudah memiliki pergeseran makna tentang feminisme yang mulanya saya mengira seperti apa namun ternyata isu yang diusung meleset jauh dengan doktrinasi awal itu. Dan menurut saya, yang dikemukakan Amanda di sini cukup relevan, selain karena kalau saya ikutan bahas di sini akan memakan waktu yang lama dan panjang juga (dan jangan-jangan malas juga yang baca karena kepanjangan, hehehe).

Jadi, untuk pengalaman yang mengerikan sekaligus menyenangkan ini, terlebih untuk Dokter Eli yang hadir sebagai problem solver (atau lebih tepatnya orang yang mengarahkan jalan bahwa penyelesai masalah dalam diri kita yang sebenarnya adalah diri kita sendiri), untuk pertanyaan-pertanyaannya seperti di bawah ini:

"Kau cemas semua orang akan tahu siapa kau sebenarnya. Andaikan itu terjadi, apa yang akan terjadi?" --- halaman 154

"Misalnya orang-orang memandang rendah padamu, kenapa kau harus membiarkan apa yang mereka pikirkan memengaruhi kebahagiaanmu?" --- halaman 155

Saya memberikan bintang empat untuk Amanda dan Annisa (penulisnya, yang namanya sama dengan nama saya #semacampentinguntukdituliskan).


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)