Not A Perfect Wedding

Judul : Not A Perfect Wedding
Penulis : Asri Tahir
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 296 Halaman
ISBN : 978602025897
Rating : 3 dari 5 






Raina Winatama
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.

Prakarsa Dwi Rahardi
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya.

Pramudya Eka Rahardi
Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.

***

Sehari sebelum pernikahannya, kakak Raka datang dari luar negeri untuk menghadiri pernikahan Raka dan Raina. Sehari sebelum pernikahannya pula, Raka mengalami kecelakaan yang fatal. Persiapan pesta sudah dilakukan, namun fakta bahwa pengantin prianya tengah sekarat membuat kedua keluarga ini harus mencapai sebuah keputusan besar. Apalagi, keputusan tersebut didasari oleh permintaan terakhir sang calon pengantin kepada kakaknya agar Pram menggantikan posisi dirinya untuk menjaga Raina, sang calon mempelai wanita.

Akhirnya, dengan berlandaskan sebuah kebohongan, pesta pernikahan digelar dengan mengganti mempelai pria dengan kakaknya. Sang pengantin wanita tidak tahu-menahu sampai pada saat semuanya terlambat untuk diakhiri. Suaminya adalah Pram, bukan Raka yang ternyata sudah meninggal dunia semalam. Tentu saja Raina marah atas jebakan ini. Terutama, ia membenci keluarganya sendiri yang dengan tega menutupi kenyataan dan justru malah menyetujui kebohongan. Ia merasa terjebak dengan seseorang yang bahkan tidak pernah dikenali sebelumnya.

Mulanya Raina kasihan dengan Pram yang turut menjadi korban jebakan pernikahan palsu ini. Tapi, ketika dia mengetahui bahwa Pram juga terlibat dan turut menyetujui rencana ini, dia jadi ikut membenci pria itu yang ternyata sepuluh tahun lebih tua darinya. Tiga bulan pernikahan meeka dilalui dengan saling diam, tidak ada penjajakan karena Raina menjaga jarak dan menganggap Pram sebagai orang asing baginya, hanya dua orang yang tinggal dalam satu apartemen tanpa mempunyai ikatan apapun selain cinta. Jangankan menjalani hubungan sebagaimana layaknya suami istri, mereka bahkan lebih seperti kakak adik yang baru saja bertemu dan baru mengenal.

Namun, cinta datang karena terbiasa. Lambat laun mereka saling menyadari kehadiran satu sama lain. Raina mulai membuka diri tentang kehidupannya, juga mencari tahu tentang hidup Pram yang ternyata, dia sama sekali buta tentang pria itu dan masa lalunya. Ketika cinta mulai tumbuh di antara mereka, cerita dari masa lalu mewarnai kehidupan mereka. Mantan kekasih Pram dari luar negeri datang ke Jakarta. Raina cukup terkejut dan memang dia menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang percintaan pria itu sebelum menikah dengannya. Pun dengan keberadaan Sashi, masa lalu Pram yang bahkan sampai sekarang belum dapat dilupakannya. Sifat Raina yang kekanak-kanakan menambah bumbu sedap dalam prahara rumah tangga mereka.

Bagaimana keluarga kecil ini menjalani kehidupan rumah tangga mereka yang dilandasi dengan sebuah pondasi yang rapuh? Apakah mereka sanggup menghadapi percikan dalam rumah tangga mereka maupun badai besar yang datang melanda?

***

Buku kesepuluh yang saya selesaikan di bulan ini. Well, bintang 3,5 saya berikan untuk novel ini. Kesan saya terhadap buku ini, jujur saja, baru menginjak halaman dua puluhan sampai tiga puluhan, saya merasa kalau buku ini terlalu drama, plotnya seperti sinetron. Sebuah pernikahan jebakan, pergantian peran mempelai pria, kebohongan pada pengantin wanitanya..., itu membuat saya mengernyitkan dahi. Entah apakah memang yang seperti itu pernah ada dalam dunia nyata, tapi plotnya bagi saya terlalu tidak nyata dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Masa' iya ada sekelompok orang yang mau-maunya terlibat persekongkolan seperti itu di tengah suasana duka? Well, kita berbicara pernikahan yang sakral ini ya. Tentu saja tidak ada yang mengamini sebuah dusta dan kebohongan di awal gerbangnya. Tapi..., yah, balik lagi ke judulnya sih ya "Not A Perfect Wedding".

Oke selanjutnya, setengah buku saya merasa ini novel nggak banget karena tokoh perempuannya yang jauh dari sifat dewasa, padahal usianya seperempat abad lho. Tapi, saya pertahankan untuk terus menbaca hingga pada akhirnya baru bisa benar-benar menikmati buku ini setelah melalui setengah bukunya. Setelahnya, apalagi pas sudah muncul benih-benih cinta yang tumbuh dan berkembang di kedua tokohnya, saya mulai suka. Saya pikir, separuh sisa cerita yang belum saya baca akan diisi dengan bagaimana mereka mengembangkan cinta saja, dan ternyata prediksi saya tidak meleset. Namun, ada banyak hal yang membuat saya tidak bosan sebosan bagian-bagian awal cerita ini. Jadi, saya cukup menikmati. Meskipun masih terganggu sampai ikut terbawa emosi dengan karakter perempuannya yang terlalu bocah dan childish.

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari membaca novel ini adalah: jangan terlalu bocah, dewasalah menghadapi takdir dan permasalahan rumah tangga yang menerpa. Oke, mungkin ini hanyalah wacana karena saya toh belum melaluinya, hahahaha, tapi setidaknya dengan membaca buku ini jadi ada pelajaran yang bisa dipetik, kan?

Dan kesimpulan kedua, jangan gampang mengucap kata "cerai", dan kalau ada masalah rumah tangga jangan main kabur ke rumah orangtua. Kalau permintaan cerainya dikabulkan, galau juga kan? Dan kalau perkara rumah tangga yang harusnya bisa diselesaikan dua kepala jadi membuat yang lain bertanya-tanya kan ya? Oke, ini masih sekadar wacana, hahahaha. Semoga saja dalam waktu dekat bisa mengalaminya sendiri gitu =))

Nah itu tadi dari segi cerita. Kalau masalah teknis, saya cukup terganggu dengan penulisan tanda baca di kalimat-kalimatnya. Banyak sekali, yang harusnya diakhiri dengan koma justru malah diberi titik. Jadi dalam kepala saya, saat baca di bagian-bagian itu, seperti ada jeda. Jeda yang kebanyakan. Dan itu cukup mengganggu. Ada beberapa typo juga dan kesalahan pemilihan kata, beberapa tanda baca yang seharusnya ada jadi nggak ada. Tapi so far, saya cukup senang kok membacanya.

Promises

Judul : Promises
Penulis : Kristi Jo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 232 Halaman
ISBN : 9786020320007
Rating : 2,5 dari 5 
(dibulatkan jadi 3)





Blurb:

"Kita tulis apa saja harapan kita dalam waktu lima tahun ke depan."

Joshua, Lana, dan Alex sudah bersahabat sejak kecil dan memutuskan untuk menuliskan pesan berisi harapan yang nantinya akan dikubur di Taman Gembira. Hal itu dilakukan untuk mengenang persahabatan mereka yang sebentar lagi akan terpisah jarak.

Lima tahun kemudian mereka kembali bertemu dan menemukan bahwa persahabatan mereka tidaklah seperti dulu. Tidak mau persahabatan mereka putus, Joshua bertekad mencari tahu mengapa Alex yang kini dikenalnya terasa asing, dan Lana memilih untuk menutup diri.


Ada rentang waktu yang menyimpan rahasia dan membuat jalan mereka bertiga tak bersinggungan. Tapi, mereka berharap bahwa perasaan yang pernah ada itu hadir, membawa kembali persahabatan mereka seperti sedia kala.

***

Persahabatan Lana, Joshua, dan Alex harus terpisah saat mereka beranjak dewasa. Lana melanjutkan sekolahnya di Melbourne, Joshua pindah ke Surabaya, sementara Alex tetap berada di Jakarta. Lana mencetuskan ide untuk membuat permohonan atau pengakuan yang harus diisi oleh teman-temannya, lalu ditimbun di dalam tanah di Taman Gembira yang biasa mereka datangi. Mereka akan bertemu lagi lima tahun kemudian untuk sama-sama membuka permohonan mereka dan dibaca sama-sama.

Setelah lima tahun berselang, apa yang mereka harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Meskipun selang lima tahun itu komunikasi tidak terputus dengan memanfaatkan whatsapp, skype, dll, namun tentu saja mereka mengharapkan adanya sebuah pertemuan setelah sekian lama. Apalagi, rentang lima tahun adalah penanda untuk mereka bertiga membuka lagi surat-suratan yang mereka kubur saat kelas IX dulu. Lana kembali dari Melbourne, Joshua datang dari Surabaya, tapi Alex yang tinggal di Jakarta justru tidak datang ke Taman Gembira. Hal itu menjadi tanda tanya bagi kedua temannya.

Alex menghilang, Jo dan Lana mencarinya hingga akhirnya menemukan fakta yang tidak diceritakan Alex pada dua temannya. Orangtua Alex bercerai, Alex tidak kuliah, sekarang bekerja pada tantenya dan tinggal di kos-kosan. Pencarian tersebut memang menemukan Alex, namun yang ditemukan adalah sosok Alex yang jauh berbeda dengan yang mereka kenal sebelumnya.

Hanya karena mereka pernah bersahabat dekat bukan berarti tidak ada rahasia yang disimpan oleh mereka. Keberadaan Noni sebagai pacar Joshua yang dikenalnya via facebook mengejutkan Lana, yang sebenarnya menyimpan rasa suka pada sahabatnya itu. Selain itu, Lana juga menyimpan rasa trauma yang mendalam terhadap caroussel yang dulu adalah tempat favoritnya saat berada di Taman Gembira. Bahkan Joshua pun juga menyimpan rahasia yang terjadi seputar keluarganya. Namun yang benar-benar drastis perubahannya adalah Alex.

Jo dan Lana tidak ingin persahabatan mereka hancur begitu saja. Segala upaya mereka lakukan untuk mengembalikan Alex menjadi seperti sebelumnya. Kegagalan cinta serta kegagalan rumah tangga orangtuanya memberi andil bagi perubahan yang dialami Alex. Dan atas apa yang sudah dilakukannya, ia harus membayar mahal itu semua. Namun apakah persahabatan tulus yang ditawarkan oleh Jo dan Lana mampu menggugah Alex untuk kembali ke jalan yang semestinya? Apakah persahabatan itu juga mampu mengobati rasa trauma yang dimiliki Lana?


***

Bintang 2,5 yang dibuatkan menjadi 3.

Sebenarnya nggak banyak berharap dari baca novel ini, karena niatnya memang pengen baca novel young adult aja. Pengen cari siapa tahu nemu macam YA khas John Green ala penulis lokal tapi sepertinya belum nemu. Mungkin karena YA memang bukan santapan saya, jadi buku dengan segmentasi ini jarang saya beli dan baca.

Oke bali ke Promise-nya Kristi Jo, berkisah tentang persahabatan, yang dibumbui dengan percintaan. Klise sebenarnya, tapi yah bisa saya katakan lumayan. Meskipun di dua pertiga novelnya, berisi banyak dialog. Jujur, sebagai penikmat deskripsi saya kurang sreg. Tapi kenapa kasih bintang 3 ya? Heheheh. Entahlah.




Maryam

Judul : Maryam
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 280 Halaman
ISBN : 9789792280098
Rating : 2 dari 5




Blurb:
Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.

Lombok, Januari 2011

Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami. Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apa-apa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?


Maryam Hayati


***


Dari awal membaca buku ini, saya sudah berupaya memosisikan diri saya sebagai pembaca netral, yang tidak mengunci pandangan saya pribadi terhadap apa yang dikemukakan penulis dan menjadi tema besar dalam penulisan novelnya: tentang Ahmadiyah. Dengan posisi seperti itu, harapan saya adalah tentu saya akan memiliki paradigma baru atau setidaknya, mampu mencerna sudut pandang lain dari yang semula saya miliki.

Maryam berkisah tentang seorang wanita bernama Maryam, lahir dan besar oleh orangtua pengikut aliran Ahmadiyah. Hidup dalam posisi "berbeda" dengan masyarakat pada umumnya. Pak Khairuddin adalah sesepuh kampung, ikut bergotong-royong bersama, anak-anak mereka pun hidup berdampingan dengan anak-anak lainnya. Selain perkara akidah, mereka adalah bagian dari masyarakat yang sama. Namun, ibu dan bapak Maryam sempat khawatir saat melepas Maryam untuk bersekolah di luar Lombok. Maryam tetap menempuh pendidikannya di Surabaya dan tinggal dengan keluarga Ahmadi kenalan mereka di sana. Tidak ada bedanya kehidupan mereka dengan masyarakat lainnya. 

Akan tetapi dalam urusan jodoh anaknya, muncul besar harapan agar anaknya menikah dengan orang yang sama dengan mereka, sesama Ahmadi. Untungnya selama di Surabaya, Maryam kenal dengan seorang pemuda dari kalangan mereka bernama Gamal. Namun sayang sekali, dalam satu peristiwa Gamal tidak lagi sepaham dengan akidah orangtuanya. Gamal keluar dari komunitas Ahmadiyah, tidak hanya mengecewakan kedua orangtuanya melainkan juga Maryam dan keluarga. Setelah patah hati dengan lelaki itu, saat Maryam bekerja di Jakarta, ia berkenalan dengan Alam. Dengan Alam, ia membuka kembali lembaran kisah cintanya yang sempat karam dengan Gamal. Maryam dibutakan oleh cinta, sehingga lebih memilih untuk menikah dengan Alam dan menjauhi keluarganya. Orangtua Maryam pun kecewa, tidak lagi menganggap Maryam sebagai bagian dari keluarganya. Hubungan Maryam selama beberapa tahun putus sama sekali dengan keluarganya maupun komunitas Ahmadiyahnya.

Setelah menikah beberapa lama, kebahagiaan yang diharapkan Maryam rupanya tidak datang jua. Hidup dengan ibu mertua yang tidak mau menerima ia apa adanya, selalu menempatkan Maryam sebagai seorang pendosa, orang sesat, membuat kehidupan pernikahan itu tidak harmonis. Terlebih lagi mereka belum juga dikaruiniai anak. Akhirnya keputusan perceraian dibuat.

Maryam mencoba untuk kembali pulang, setelah beberapa tahun meninggalkan keluarganya. Namun yang didapatkan saat kembali ke tanah kelahirannya tidaklah sesuai dengan yang diharapkan. Saat kembali, bukannya ia bertemu dengan ayah dan ibunya, namun ia hanya mendapatkan cerita dari penjaga rumahnya bahwa orangtuanya diusir oleh orang kampung hanya karena mereka seorang Ahmadiyah. Pada perjalanan selanjutnya, ia mencoba mencari jejak-jejak keberadaan orangtuanya dan bertanya mengapa mereka diusir dari tanah dan rumah yang mereka bangun sendiri. Mengapa orang-orang itu merampas kenangan masa kecilnya di tanah kelahirannya.

Ehm, itu dia sebagian alur dan cerita dari novel ini. Tema yang diangkat adalah seputar Ahmadiyah, seperti yang sudah saya singgung di paragraf awal. Dari membaca novel ini, saya merasa adanya informasi yang tidak berimbang dan terkesan bahwa penulisnya kurang netral dalam memilih jalan ceritanya. Entah ini pikiran saya saja (padahal saya sudah berupaya senetral mungkin memosisikan diri saat membaca novel ini), atau memang beginilah adanya, bahwa yang dipaparkan dalam novel ini memunculkan stereotip bahwa: tokoh-tokoh Ahmadi-nya tak bercela sementara yang beragama Islamnya digambarkan dengan kurang baik. Saya cukup memaklumi bahwa titik poin dalam novel ini yang mau diangkat adalah tentang sisi kemanusiaan yang ternoda hanya karena kelompok minoritasnya berbeda. Tapi, dalam urusan karakter dan laku, ada ketidakseimbangan di sini. Misalnya, Pak Khairuddin yang seorang Ahmadi, berperilaku santun, sabar, penuh kasih sayang dengan keluarga dan rajin membantu sesamanya. Lalu muncul ibu mertua Maryam yang ikut mencampuri urusan rumah tangga anaknya, suka menyinggung menantunya dengan menyatakan secara tersirat bahwa dulunya dia sesat, dan lain sebagainya. Tokoh Guru Agama Maryam, lalu Pak RT, Pak Haji, Kiyai yang ceramah, dikemas dengan kemasan negatif. Dan mau tidak mau, pembaca juga digiring untuk memberikan statement bahwa pelaku penyerangan (yang notabene adalah Islam) adalah kurang baik. Saya paham bahwa yang diangkat adalah tema yang memang sudah terjadi di masyarakat ini. Tapi, dengan ketidakseimbangan penokohan itu membuat pembaca (terutama saya) agak kurang sepakat dengan penggiringan persepsi tersebut. Saya mahfum, kisah ini akan kurang dramatis jika tidak dikemas sedemikian rupa. Tapi tetap saja, dengan berat sebelah membuatnya tidak lagi objektif. Kenapa ini saya soroti? Karena penokohan tentu akan menguatkan jalan cerita dan itu akan menimbulkan persepsi dalam benak pembaca (meskipun barangkali hanya buku yang benar-benar berkesan yang akan meninggalkan jejak dalam ingatan pembaca). Ketika persepsi yang timbul adalah memberikan pembenaran bahwa orang Islam itu anarkis, mempunyai pandangan negatif (dalam tema ini tentang orang-orang yang dianggap sesat) maka saya sungguh sedih sekali.

Kedua, barangkali ini potongan penting yang--entah dengan sengaja atau tidak--dihilangkan, bahwa penjelasan seputar Ahmadiyah tidak didapat saat pembaca menikmati novel ini. Mungkin penulis hanya berfokus pada masalah "kemanusiaan yang diciderai karena agama" tanpa mau repot-repot masuk pada aspek akidah. Tapi bagi saja ini kurang bijak; seolah-olah seperti melemparkan bola tanpa mau memberi tahu kenapa bola itu dilempar. Dari pandangan orang awam, yang barangkali mau membeli novel ini untuk mengetahui lebih banyak tentang Ahmadiyah selain label bahwa ia sesat, tentu akan kecewa. Penjelasan tentang Ahmadiyah hanya terhenti di deskripsi bahwa di rumah Ahmadi, ada foto besar yang menyatakan bahwa itu adalah Mirza Ghulam Ahmad tanpa dijelaskan dia itu siapa dan mengapa sampai diagung-agungkan sedemikian rupa.

Saya berpendapat, seharusnya dengan mengangkat tema besar tentang orang Ahmadiyah yang terusir, setidaknya penulis memberikan informasi tentang apa itu Ahmadiyah, mengapa ia dikatakan sesat. Kenapa? Karena ini yang menjadi dasar permasalahan yang diangkat. Ahmadiyah difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (bukan saya yang bilang sesat, hehe) karena menganggap Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, sementara bagi umat Islam, Rasulullah Muhammad saw adalah nabi dan rasul terakhir. Ini adalah perbedaan mendasar yang kemudian hari memicu percikan-percikan. Tapi..., tentu saja, itu tidak menjadi pembenaran dalam hal memerangi siapapun. Orang yang berlaku anarkis tetap tidak bisa dibenarkan, apalagi mengatasnamakan agama untuk melakukannya. 

Terlepas dari apapun motifnya, saya kira saya pun sepaham bahwa kekerasan atas dasar apapun tidak dibenarkan. Dalam Islam perilaku seperti itu tidak dibenarkan pula. Dalam kacamata kemanusiaan apalagi. Kekerasan terhadap minoritas bukan barang baru di dunia ini. Namun amat sangat disayangkan bahwa pemaparannya tidak cukup berimbang. Dari sisi romansa yang dikemas (sehingga buku ini tidak menjadi bosan) memang sukses untuk membuat saya tidak bosan. Dari segi gaya penulisan pun menarik dan mengalir. Hanya saja, atas pemaparan saya yang panjang kali lebar di atas membuat bintang pada novel ini hanya bisa dinyalakan dua.

[Master Post] Read at Your Own Risk




Read at Your Own Risk Challenge 2016 ini dihost oleh Kak Yuska. Saya ikut tantangan ini, karena menarik, setiap bulan diberikan tema yang berbeda-beda, lalu dibuat resensinya. Nah, syarat dari challenge ini adalah:


  1. Membaca buku dan menulis resensi untuk tema yang ditentukan tiap bulan. Resensi boleh ditulis di blog, FB note atau Goodreads.
  2. Meninggalkan link resensi di linky yang ada di blog yang bersangkutan. (link)
  3. Akan ada pemenang bulanan untuk challenge ini berupa buku yang bisa dipilih sendiri senilai IDR 100,000.
  4. Peserta tidak wajib mengikuti challenge tiap bulan, tetapi bagi yang mengikuti dari Januari sampai Desember 2016 akan ada hadiah spesial yang akan diundi akhir tahun, yaitu hadiah buku sebesar IDR 250,000 yang bisa dipilih sendiri di toko buku online.
  5. Tema akan diumumkan setiap awal bulan. Jadi, siap-siap menerima surprise ya :)

Nah, untuk bulan Januari, tantangannya adalah:

"Membaca buku dengan judul Hujan/Rain atau buku dengan cover warna biru."

Yang saya baca bulan Januari:
Bulan Februari: 

[Master Post] Reading Romance Challenge




Oke, saya memutuskan untuk mengikuti tantangan ini, Reading Romance Challenge yang dihost oleh Nina, buka saja linknya untuk menuju ke general post. Genre yang diangkat merupakan genre buku yang saya suka, kebanyakan buku yang saya baca juga romance. Di RRC ini, tidak hanya tantangan jumlah buku saja, tapi ada juga tantangan yang membuatnya lebih menarik..., dan juga pastinya membuat saya tertantang hehehe.

Ada tiga level yang bisa dipilih untuk menyelesaikan challenge, boleh naik tingkat kalau tingkatan sebelumnya sudah terlewati, yaitu:

1. Skeptic Romantic : 1 - 15 buku
2. Romantic Believer : 16 - 30 buku
3. Hopeless Romantic : lebih dari 30 buku

Dan saya pilih: Romantic Believer. Mau realistis saja, hahaha, tapi lihat progress pertengahan tahun, kalau sanggup, saya mau naikkan level. [Edit] Mengingat progress baca saya yang gila-gilaan, saya mau naikkan level jadi Hopeless Romantic, hahahaha. Mudahan progress baca ini konsisten sampai akhir, aamiin...

Ada 15 tema RRC yang menjadi tantangan yang musti dipenuhi, saya realistis saja, menargetkan 5 tema dulu, kalau bisa selesai, saya mau menaikkan level tantangan dan kalau bisa sih, babat habis semuanya.

1. Out of The Century
Bacalah buku dengan setting di luar abad ke-21, dan bukan kontemporer

2. Your Opposite Perspective [DONE]
Jika kamu peserta laki-laki carilah buku yang diceritakan melalui POV cewek. Jika kamu peserta perempuan, carilah buku dengan POV cowok. POV harus merupakan POV orang pertama (menggunakan 'aku'). [Edit] Mengingat beberapa buku punya alternate POV yang diceritakan bergantian, alternate POV diperbolehkan.

3. Books to Movie
Pilih buku-buku yang sudah atau dipastikan akan menjadi film/serial TV (contoh: The Fault in Our Star, The Mortal Instruments, Crossfire)

4. Royal Love
Buku dengan tokoh utama yang berasal dari keluarga kerajaan atau termasuk keluarga tua/bangsawan (noble). Harus tokoh utama, bukan tokoh sampingan/cameo. Banyak buku Historical Romance yang bisa kamu pilih untuk tema ini.

5. Trip to Europe [DONE]
Buku dengan setting tempat di Eropa. Di negara mana saja asal di benua Eropa

6. Enemies Turn Lovers
Buku yang kedua tokoh utama (hero dan heroine) awalnya bermusuhan/berlawanan sisi, kemudian jadi pasangan (contoh: Serial Neighbor from Hell - R.L. Mathewson)

7. Third Installment
Baca buku ketiga dalam sebuah seri

8. Native Language
Buku yang dibaca dalam bahasa aslinya (mis. Inggris, Jepang, Jerman, dsb)

9. Chunkster Books
Memiliki buku dengan tebal lebih dari 450 halaman? Khusus ebook, patokan halaman yang akan aku perhatikan adalah dari format Kindle di Goodreads

10. Darker Part of Romance
Merasa pengen baca buku bergenre Dark Romance? Tokoh utama merupakan tipe tortured hero/heroine? Baca dan masukkan ke tema ini! (contoh: Monsters in the Dark by Pepper Winters, Alpha by Jasinda Wilder)

11. Superheroines
Buku dengan tokoh utama cewek dominan atau super-duper-kickass character (contoh: Kate Daniels, Guild Hunter, etc)

12. Love in the Spotlight
Tokoh utamanya merupakan anggota dari sebuah band, rockstar, penyanyi, atau bintang film. Yah,celebrity love story lah :) :)

13. School's Day [DONE]
Buku yang masuk adalah buku dengan latar belakang di sekolah/kampus, atau tokohnya anak-anak sekolahan.

14. Out of Normal
Pecinta Paranormal Romance atau Fantasy Romance? Sesuatu yang diluar 'normal' kita? Pilih saja tema ini.

15. Men in Uniform
Pria-pria berseragam. Boleh Militer, Polisi, Secret Agent, dll.

***

[Update: 15 Februari 2016]

READ:

TBR:
  1. Good Wives by Louisa Alcott (Out of The Century)
  2. Little Men (Out of The Century)
  3. Jo's Boy (Out of The Century)
  4. Bukan Cinderella by Ifa Avianty
  5. Jika Aku Milikmu by Bernard Batubara
  6. Namaku Merah by Orhan Pamuk
  7. Cala Ibi
  8. Dangerous Love


Reading Challenge 2016

Hallo selamat bulan Januari.

Bermula dari tahun kemarin saya menyelesaikan reading challenge dari goodreads dengan menuntaskan baca 53 dari 50 target buku, maka tahun ini saya akan mengikuti reading challenge dari goodreads lagi. Selain itu, karena keberadaan blog ini baru mulai mengudara tahun kemarin juga (2015) dan di pertengahan tahun saya baru eksis dan mengetahui banyak reading challenge yang digelar oleh para blogger pencinta buku (mau ikut berbagai macam RC di 2015 tapi sepertinya tertinggal banyak), maka tahun ini saya memutuskan untuk berpartisipasi.

Dari hasil searching, rupanya banyak juga RC yang membuat saya tertarik. Nah anggap saja ini sebagai masternya master post, saya akan melist reading challenge mana saja yang akan saya ikuti. Hitung-hitung membantu untuk menghabiskan timbunan buku dan mengikuti tantangan yang diberikan.

Ini dia listnya:



Ini tantangan yang ada di Goodreads, saya ambil 60 buku, naik 10 buku dari target tahun kemarin. Semoga bisa terlaksana. Bisa dilacak progress baca saya di sini.



Tantangan ini di-host oleh Nina di blognya (link ada di judul yah). Saya mau coba ambil level medium, dengan harapan pertengahan tahun bisa naik level mengingat bacaan saya didominasi dengan genre romance. Selain itu saya juga mengambil 5 dari 15 tantangan yang ada di challenge-nya. Belum tahu mau ambil yang mana saja, sebenarnya, soalnya ada beberapa tantangan yang sepertinya saya sulit untuk penuhi sepeti baca dari bahasa asli itu. Selain kapasitas reading saya yang lemah, juga di sini mencari buku-buku asli itu susah. Kalaupun ada, harganya setinggi langit. Budget saya terbatas, hahaha.

Bisa dilacak progress baca saya di sini.



Ini seru nih, makanya saya ikutan. Tantanganya berbeda setiap bulannya. Mencari dan membaca buku bertema tentu akan memberikan tantangan bagi saya.

Bisa dilacak progress baca saya di sini.


4. Islamic Translated Book Reading Challenge

Kenapa saya ingin mengikuti tantangan ini? Mungkin alasannya sama dengan apa yang diutarakan oleh hostnya, bahwa saya pun ingin membabat habis timbunan buku agama Islam yang ada di rak buku yang sepertinya mulai berdebu. Membaca buku nonfiksi, apalagi kategori Islam, bisa dibilang tantangan yang berat. Tapi semoga saya berhasil.

Bisa dilacak progress baca saya di sini.


5. Tantangan Baca Buku Tentang Buku

Karena saya sudah baca dua buku tentang ini, jadi semangat untuk baca buku lainnya dengan tema yang sama.

Bisa dilacak progress baca saya di sini.


6. Read Big Challenge

Ini benr-benar tantangan yang menantang karena baca buku yang tebalnya ratusan? Lebih!

Bisa dilacak progress baca saya di sini.

7. Proyek Baca Buku Perpustakaan

Saya mau ikut proyek baca buku perpustakaan. Reading challenge-nya pas sekali karena saya lagi suka berburu buku ke perpustakaan. Selain karena demi penghematan budget beli buku, saya juga lagi sering ketemu sama anak-anak les saya di sana untuk belajar ;) sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui kan ya. Lagi pula, setelah berpetualang di sana, saya menemukan banyak sekali buku-buku incaran yang sudah jarang ada di toko buku, dan ternyata ada pula buku-buku baru. Jadi, upaya penghematan juga bisa terlaksana.

Bisa dilacak progress baca saya di sini.


***


Diam lama. Subhanallah Nisa banyak banget yang kamu ikutin =))) /nangis bombay/ Semoga bacanya bisa konsisten dan banyak challenge yang terpenuhi. Alhamdulillah di semua tantangan, bukunya boleh overlaping (kalau nggak saya yang overlaping duluan) =)) T-T =))

Go Set a Watchman

Judul : Go Set a Watchman
Penulis : Harper Lee
Penerjemah : Berliani Mantili & Esti Budihabsari
Penerbit : Qanita
Tebal Buku : 288 Halaman
ISBN : 9786021637883
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Ditulis di pertengahan 1950-an, Go Set a Watchman adalah naskah pertama yang diajukan Harper Lee kepada penerbit sebelum To Kill a Mockingbird. Setelah dianggap hilang, kini naskah berharga ini ditemukan di akhir 2014. Harper Lee, penulis penyendiri yang tak mau lagi menerbitkan novel setelah To Kill A Mockingbird, pun akhirnya setuju untuk membagi kisah awalnya kepada dunia.

Go Set a Watchman mengisahkan kehidupan para tokoh di To Kill A Mockingbird dua puluh tahun kemudian. Jean Louise Finch—atau Scout— kembali ke Maycomb, Alabama untuk mengunjungi, Atticus, ayahnya yang sudah uzur. Namun, kota kelahirannya tak lagi seperti dulu, begitu pun sang ayah. Scout harus berjuang mengatasi masalah-masalah pribadi dan politis tentang sang ayah dan kota kecil yang dulu membentuk siapa dirinya.


Mengisahkan bagaimana Scout menerima dan beradaptasi dengan perubahan dan peristiwa-peristiwa menggemparkan yang membentuk Amerika di pertengahan 1950-an, Go Set a Watchman memberikan pandangan baru tentang kisah klasik karya Harper Lee. Menggugah, lucu sekaligus menggebrak tatanan sosial masyarakat Amerika saat itu.

***

Jean Louise, seusia saya dalam novel ini, menyadarkan saya kalau ternyata banyak sekali lompatan kehidupan yang terjadi pada diri manusia saat mereka kecil, hingga menjadi dewasa. Dalam buku ini kita tidak lagi disajikan sosok Scout yang manis dengan perilaku tomboynya dan kisah kanak-kanak yang benar-benar menarik, melainkan sosok Jean Louise yang merokok, pergi jauh dari rumah, jatuh cinta, dan berbagai macam kejadian yang membuat ia menjadi seperti orang dewasa.

Jean Louise pulang kembali ke rumahnya, setelah beberapa waktu tinggal di New York, melihat banyak sekali yang berubah dari kota kecilnya Maycomb County. Dan setelah ia tinggal beberapa saat di tempat ini, rupanya perubahan tersebut juga mengubah pola pikir banyak orang, membuat ia merasa tidak mengenal tempat ini dan penghuninya seperti dulu.

Barangkali perubahan drastis itu terjadi pada ayahnya, sosok Atticus Finch yang ia kenal dua puluh tahun lalu sebagai pembela Negro yang tidak bersalah atas apa yang dituduhkan padanya. Atticus Finch pembela hak asasi manusia atas dasar perbedaan kulit dan ras, tidak seperti dulu lagi. Di tempat yang sama, pengadilan di mana ayahnya membela seorang kulit hitam di ingatan masa kecilnya terdahulu, kini sang ayah meruntuhkan kepercayaannya. Ia kehilangan sosok Atticus yang begitu ia puja. 

Selain bercerita tentang hubungan ayah-anak yang terjadi pada Jean Louise dan Atticus dengan latar belakang kotanya di Daerah Selatan yang tengah berkembang, serta isu persamaan hak antara kulit putih dan hitam, kisah ini dibumbui oleh cerita percintaan Jean Louise dengan Hank, seorang pemuda yang dibesarkan oleh ayahnya dan dididik untuk menjadi pengacara. Pada dasarnya mereka saling mencintai, namun untuk menuju ke jenjang yang lebih serius lagi, yakni pernikahan, tidak semudah yang ia bayangkan. Pola pikir yang berbeda, juga latar belakang keduanya, menjadi bumbu dalam kisah Scout dan Hank.

Tidak hanya tokoh Hank yang baru muncul dan mendapatkan porsi dalam cerita ini, kehadiran adik Atticus, Paman Jack yang seorang dokter, turut memberi warna dalam kepulangan Jean Louise ke tanah kelahirannya. Selain tentu saja, ada bibi Alexandra yang masih dengan watak dan karakternya yang sama dengan sebelumnya. Namun sayang sekali, Jem dan Dill rupanya hanya diceritakan melalui kilasan dalam ingatan Jean Louise saat mengenang masa kecilnya di Maycomb County (meskipun porsi Dill tidak sebanyak saat menceritakan Jem).

Apa yang terjadi dengan kakak Jean Louise tersebut? Peristiwa apa yang menyebabkan pertengkaran hebat antara Jean Louise dan ayahnya? Apa yang terjadi dalam kehidupan mereka dua puluh tahun berselang setelah peristiwa persidangan di Maycomb County yang begitu menginspirasi sosok Scout kecil?

***

Iya, saya sudah diperingatkan bahwa membaca Go Set a Watchman, siap-siap kecewa. Oleh karenanya, saya menurunkan ekspektasi, bahkan menganggap ini cerita yang benar-benar berbeda dibandingkan dengan To Kill a Mockingbird yang begitu menginspirasi. Siap-siap kecewa, itu dia yang membuat saya pada akhirnya tidak terlalu kecewa-kecewa amat. Saya sudah belajar dari pengalaman yang sering muncul dalam kehidupan saya, bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, bahwa setiap orang yang dianggap sempurna itu tentu mempunyai kelemahan dan kekurangan yang membuat ia tampil sebagai manusia apa adanya.

Tapi ya tetap saja, sedikit kecewa, tapi itu lebih kepada, novel ini jauh di bawah spektakulernya seri sebelumnya. Saya banyak mengambil pelajaran hidup dari To Kill a Mockingbird, yang sayangnya di novel ini kurang. Saya benar-benar klik baca novel ini baru pada kisah saat Scout flashback ke masa kecilnya dulu di usia sebelas tahun. Oh, barulah saya benar-benar..., humm, apa ya istilahnya, menjiwai? Ya begitulah.

Barangkali, benar bahwa orang akan menjadi menyebalkan saat ia beranjak dewasa, hahaha, mungkin saya masuk ke dalam golongan itu. Tapi, namanya juga manusia, akan selalu banyak pelajaran kehidupan yang dipetiknya sepanjang usia kehidupan mereka. Bintang 3.6, bagus dan tidak terlalu mengecewakan.

The Fault in Our Stars

Judul : The Fault in Our Stars
Penulis : John Green
Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : Qanita
Tebal Buku : 424 Halaman
ISBN : 9786021637395
Rating : 5 dari 5



"Terkadang orang tidak memahami janji yang mereka ucapkan ketika mereka sedang mengucapkannya."
"Benar, tentu saja. Tapi, tetap saja kau memegang janji itu. Itu-lah yang disebut cinta. Cinta adalah tetap memegang janji. Tidakkah kau memercayai cinta sejati?"

Hazel Grace adalah seorang gadis enam belas tahun pengidap kanker tiroid dengan penyebaran di paru-paru, dipaksa ibunya untuk menjalani kehidupan seperti remaja seusianya, dalam hal ini: bersosialisasi, dan tentu saja sosialisasi yang dimaksudkan ini adalah dengan bergabung di Kelompok Pendukung yang beranggotakan anak-anak pengidap kanker. Pada mulanya, Hazel bermalas-malasan menghadiri kelompok ini, yang anggotanya tidak tetap; sebagian besarnya akan menghilang setiap pertemuannya karena keadaan mereka semakin parah, atau meninggal. Di sini, mereka saling mengenalkan diri dan juga menceritakan tentang penderitaan mereka mengenai penyakit yang diidap oleh masing-masing anggotanya. 

Namun pada suatu hari, kemunculan Augustus Waters di kelompok ini, membuat kehidupan Hazel lebih berwarna. Gus—panggilan Augustus—adalah teman Isaac di kelompok pendukung, seorang pemuda tujuh belas tahun yang mengidap kanker tulang, satu kakinya telah diamputasi dan ia berjalan dengan menggunakan kaki palsu. Sementara Isaac, mengidap kanker mata. Sebelah matanya telah diangkat, dan beberapa saat ke depan, satu matanya pun akan mengalami hal yang sama dan mengakibatkan Isaac akan mengalami kebutaan total. 

Augustus Waters adalah seorang pemuda yang unik, di perkenalan pertamanya dengan Hazel, ia mengajak gadis yang selalu membawa tabung gas portabel bersamanya itu ke rumahnya untuk menonton V for Vendetta hanya karena ia mengatakan bahwa Hazel mirip dengan Natalie Portman. Augustus kerap kali meletakkan batang rokok pada bibirnya, yang mulanya itu sangat membuat Hazel marah. 

“Rokok tidak akan membunuhmu, kecuali jika dinyalakan. Dan aku tidak pernah menyalakannya. Lihat, ini metafora: Kau meletakkan pembunuh itu persis di antara gigimu, tapi tidak memberinya kekuatan untuk melakukan pembunuhan.”

Begitulah kisah mereka. Terkadang, ketiganya (bersama Isaac) mereka melakukan pertemuan di ruang bawah tanah Augustus, bermain game di sana. Ketika Isaac mengalami kebutaan dan penderitaan akibat diputuskan pacarnya yang bernama Monica, Hazel dan Gus ada untuk menghiburnya. Ini kutipan obrolan antara Gus-Isaac yang saya suka:

"Merasa lebih baik?"
"Tidak."
"Seperti itulah kepedihan. Kepedihan menuntut untuk dirasakan."

Hazel memberitahu Gus tentang buku favoritnya yang berjudul Kemalangan Luar Biasa, menceritakan seorang gadis pengidap leukemia yang begitu berarti bagi Hazel. Sayangnya, cerita dalam buku tersebut menggantung, dan pengarangnya tidak pernah membuat buku apapun sesudahnya, atau paling tidak membuat sekuelnya. Hal ini membuat Hazel sangat penasaran, ia berulang kali menuliskan surat kepada penulis buku tersebut untuk setidaknya memberitahukan ia bagaimana kelangsungan orang-orang di luar tokoh utama yang bisa dipastikan meninggal, dalam kisah buku tersebut. Namun, tidak pernah ada balasan dari sang penulis. 

Suatu hari, Augustus Waters melakukan korespondensi via email kepada asisten penulis dan secara mengejutkan mendapatkan balasan. Peter van Houten, mengundang mereka untuk pergi ke Amsterdam di mana sekarang ia berdiam, untuk menceritakan kelanjutan cerita tersebut. Sayang sekali, Keinginan Terakhir Hazel sudah dihabiskannya untuk pergi ke Disneyland tiga tahun yang lalu. Namun, pada akhirnya ia mendapatkan tiket penerbangannya dengan menggunakan Keinginan Terakhir milik Augustus. (Ps: Keinginan itu semacam keinginan terakhir di mana sebuah organisasi yang concern terhadap kanker akan mengabulkan satu keinginan pengidap kanker untuk diwujudkan.)

Dan ketika mereka bertiga—Hazel, ibunya, dan Gus—pergi ke Amsterdam, yang terjadi saat pertemuan dengan Peter van Houten tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, atau justru malah mengecewakan. Gus dan Hazel mengobati kekecewaan itu dengan mengunjungi museum Anne Frank.

Ini sudah banyak spoilernya ya =)) baiklah saya akhiri saja reviewnya sampai di sini. Jalan ceritanya amat mengejutkan, karena yang terjadi setelah peristiwa kepergian ke Amsterdam bisa dibilang tidak sesuai dengan dugaan. Dalam perjalanan menuju ending novel, klimaksnya sudah diceritakan pada tiga per empat bagian. Namun, John Green membuat kejutan dengan menyisakan satu plot sehingga membuat ending novel ini menjadi manis. 

***

Ini adalah buku pertama yang selesai di 2016, meskipun saya membacanya sudah dari bulan Desember. Semacam nyesel baru baca ini sekarang padahal belinya bulan Agustus 2014 hanya karena alasan yang cuma saya yang tahu kenapa =)) hahaha, oke ini bagian dari ke-childish-an saya. Jadi, memang saya sangat menyesal. 

Pada awalnya, saya bawa buku ini sebagai teman perjalanan ke Banjarmasin tanggal 24-29 Desember 2015. Eh ternyata sampai di sana, keponakan yang rumahnya saya tinggali selama di sana, suka baca novel, walhasil novelnya dibaca sama dia dan tiga hari selesai =)) (Agak ketar-ketir kalau dia belum menyelesaikan sebelum saya pulang, hehehe, soalnya nggak tega kalau tiba-tiba dia minta bukunya tapi nggak saya kasih karena saya saja belum selesai membacanya.)

Oke, sekarang bagian review saya:

Ceritanya.... k e r e n! Gimana nggak keren kalau bacanya aja saya ikutan ngerasa susah bernapas kayak Hazel. Saya merasa seperti menjadi Hazel, yang susah bernapas karena keterbatasan kemampuan paru-parunya. Jadi sepanjang cerita, saya seolah ikutan sakit juga. Hehehe, terlalu menghayati.

Saya punya buku ini, yang versi cover movie-nya. Ini alasan saya kenapa nggak cepat-cepat baca sebenarnya, hahahaha. Sampai, teman saya bilang: "Kenapa nggak disampul cokelat aja sih bukunya kalau emang covernya mengganggu?" =)) Tapi yah, akhirnya saya baca juga. Dan dari semua buku John Green yang saya baca, novel ini yang ratingnya paling tinggi. Saya suka.

Circo de Patrimonio

Judul : Circo de Patrimonio
Penulis : Sylvee Astri
Penerbit : de Teens
Tebal Buku : 268 Halaman
ISBN : 9786020806365
Rating : 3 dari 5



Stella adalah seorang remaja yang menyukai sirkus, sejak kecil ia sudah sering diajak kedua orangtuanya untuk menonton sirkus. Namun, ada sebuah kejadian yang menyebabkan orangtua Stella secara sepihak menghentikan minat Stella terhadap sirkus tersebut, tanpa pernah diketahui oleh gadis itu alasan persisnya. Tiba-tiba mereka pindah ke Paris, di mana diyakini bahwa tempat tersebut tidak ada sirkusnya. Namun ternyata, begitu kedua orangtua Stella mengetahui bahwa ada sirkus di Paris, mereka memutuskan untuk pindah lagi. Setelah mencari informasi tempat di mana tidak akan ditemui sirkus di sana, mereka berpindah ke sebuah kota di Spanyol bernama Bilbao.

Tiba-tiba saja, Stella dikejutkan oleh sebuah lemparan pisau oleh anak lelaki tidak dikenal, yang melempar pisau di sampingnya. Bersama dengan pisau tersebut, ada selebaran brosur mengenai sirkus yang tertancap di tengahnya. Hal ini tentu saja menarik minat Stella karena ia memang amat menyukai sirkus. Akhirnya Stella berkenalan dengan pemuda itu, yang bernama Frene. Dari cerita Frene kemudian Stella mengenal Casa de Patrimonio, sebuah panti asuhan yang melatih anak-ananya menjadi pemain sirkus. Dari situ juga Stella berhasil menggali informasi tentang akan digelarnya sirkus beberapa bulan lagi. Stella meminta Frene untuk menunjukkan tempat itu berada, dan Frene menyetujui untuk membawa Stella ke sana.

Perkenalan dengan Frene tersebut, membawa Stella berkenalan dengan penghuni Casa de Patrimonio yang lain. Ada Cent, pemuda berbakat yang ahli berbagai macam jenis sirkus, ia juga mengenal Luce, seorang ahli bermain pedang sekaligus merupakan orang yang sangat dicintai oleh Frene. Di Casa de Patrimonio, Stella tidak hanya diizinkan untuk melihat anak-anak berlatih, namun juga ia diizinkan untuk ikut berlatih bersama mereka juga. Dan bahkan, ia akan diajak terlibat dalam pertunjukan! Tidak hanya itu, benih-benih cinta turut menghiasi kisah di dalam Casa de Patrimonio.

Konflik mulai terjadi ketika secara tidak sengaja, Luce mengalami sebuah kecelakaan sehingga tidak dapat bermain sirkus lagi.  Selain itu, kehadiran ayah kandung Luce (tak lama kemudian nanti ayah kandung Frene juga muncul) membuat kondisi sirkus sedikit bermasalah. Ayah kandung Luce seorang mantan mafia, membuat sebuah pertikaian saat gerombolan mafia lainnya mendatangi rumah Luce. Luce meminta bantuan dari Cent untuk menyelamatkannya, dan pemuda itupun ikut terlibat pertikaian hingga mengakibatkan permasalahan yang lebih besar lagi: cidera, dan larangan pertunjukan.

Akankah pertunjukan Circo de Patrimonio akan tetap berlangsung di tengah konflik yang mendera ini? Apakah orangtua Stella akan mengizinkan anaknya untuk terlibat dalam pertunjukan sirkus? Apa yang menyebabkan orangtuanya melarang dengan keras anaknya terlibat dalam dunia sirkus? Bagaimana dengan kisah cinta yang terjadi pada mereka?



***



Buku kedua yang saya selesaikan tahun ini. Ceritanya menarik, tidak biasa, karena mengambil tema seputar sirkus. Sedikit banyak, pengetahuan seputar dunia sirkus akan bertambah dengan membaca novel ini. 

Kisah tentang Stella yang orangtuanya punya trauma seputar sirkus, yang mencoba mengubur bakat Stella yang ada di sirkus. Lalu pertemuannya dengan seorang anak lelaki dari Circo de Patrimonio membuat keinginan Stella mendapatkan tempat kembali. Kisah cintanya manis, berkembang di arena sirkus. Saya jadi setidaknya disadarkan, kalau ada kehidupan yang normal di luar jadwal show para pemain sirkus. 

Saya suka sekali dengan tema yang tidak biasa ini. Konsep panti asuhan yang merekrut anak-anak untuk dilatih menjadi pemain sirkus juga menarik. Saya suka bacanya, dua hari saja sudah bisa menyelesaikan novel ini.

Cuma satu yang saya penasaran, di sampul ada tulisan: "jadikan harimu seindah taman dona casilda iturrizar", ini maksudnya apa yaa? Hmm, sepertinya di novel tidak ada dijelaskan (atau saya yang kelewat pas bacanya?).

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)