Showing posts with label children. Show all posts
Showing posts with label children. Show all posts

Of Thee I Sing: A Letter to My Daughters

Judul : Of Thee I Sing: A Letter to My Daughters
Tentang Dirimu Aku Bernyanyi: Surat untuk Putri-Putriku
Penulis : Barack Obama
Ilustrasi : Loren Long
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 40 Halaman
Cetakan Pertama, Juni 2011
(Cetakan Pertama Versi Asli: November 2010)
ISBN : 9789792270372
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Have I told you
that America is made up
of people of every kind?

Pernahkah kukatakan kepadamu
bahwa Amerika terdiri atas
berbagai macam orang?

***

Have I told you that the are all a part of you?
Have told you that you are one of them,
and you are the future?
And have I told you that I love you?

***

Merinding, baca halaman-halaman terakhirnya T-T

Pada mulanya, saya hanya mengira bahwa ini hanyalah sekadar kumpulan orang-orang hebat yang pernah hadir ke muka bumi, yang diceritakan oleh Barack Obama untuk kedua anaknya. (Ada kisah tentang Albert Einstein, Maya Lin, Neil Armstrong, Abraham Lincoln, George Washington, dan lain-lain, yang masing-masing mereka disampaikan hanya dalam satu paragraf saja.) Karena, tajuk buku ini adalah "Tentang Dirimu Aku Bernyani: Surat untuk Putri-putriku". Semacam kumpulan orang-orang inspiratif yang bisa dijadikan inspirasi sukses untuk anaknya, dari beragam lini kehidupan dan bakat tokoh-tokohnya. Juga disampaikan dengan ilustrasi keren, dan disajikan dwibahasa. 

Namun, ternyata ada benang merah di antara semua orang di dalam buku ini. Benang merah yang membuat saya merinding, membuat saya semakin meyakini bahwa sosok Barack Obama adalah benar-benar seorang yang inspiratif untuk semua orang di dunia. Melalui buku ini, beliau menyampaikan pesan yang luar biasa dalam sebuah kisah yang sederhana.

Have I told you that America is made up of people of every kind?

People of all races, religions, and beliefs.
People rom the coastlines and the mountains.
People who have made bright lights shine by sharing their unique gifts
and giving us the courage to lift one another up, to keep up the fight,
to work and build upon all that is good in our nation.

Sebuah pesan tentang toleransi yang indah <3


Aku Ingin Tahu Sains 23—Bumi dan Antariksa

Judul : Aku Ingin Tahu Sains 23—Bumi dan Antariksa
Cerita & Gambar : Calvin & Elissa 
Penerbit : Elex Media 
Tebal Buku : 49 Halaman
ISBN : 9786020009223
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Antariksa (atau yang disebut sebagai angkasa luar) adalah sebuah ruang hampa yang sangat luas terdiri dari objek apapun yang ada.


Objek-objeknya termasuk ruang, waktu, galaksi, bintang, blackhole, nebula, planet, komet, meteor dan materi lainnya.

Ukuran dari antariksa lebih besar daripada antariksa yang dapat diamati sekarang yang berdiameter 93 miliar tahun cahaya atau 880 x 1026 meter.

Galaksi adalah suatu kumpulan obyek yang terdiri dari berbagai macam benda, seperti: planet, asteroid, bintang, sisa-sisa ledakan bintang, nebula, blackhole, dan sejumlah material bintang lainnya yang menempati volume ruang yang sangat besar. Semua benda-benda tersebut akan kita bahas di dalam buku ini.

***

Apakah antariksa itu?



Seperti yang sudah dijelaskan di blurb, pertanyaan-pertanyaan seputar antariksa, galaksi, bintang, kenapa galaksi Bima Sakti disebut sebagai Milky Way, nebula, blackhole, dan beberapa istilah tentang antariksa, dijelaskan secara singkat dan padat di sini, disertai ilustrasi yang beraneka warna. Sebagai buku yang ditujukan untuk segmen pembaca anak-anak, Bumi dan Antariksa memberikan pemahaman dan pengetahuan awal seputar galaksi dan antariksa. Menjadikannya buku yang informatif dan mudah dipahami.

Meskipun, ada beberapa istilah yang seharusnya bisa diubah lebih mudah lagi, agar pembaca anak-anak tidak kesulitan memahaminya. Misalnya, "densitas", itu kan bisa ditulis pakai "massa jenis". Lebih umum didengarnya.

Ada satu yang membuat saya bingung di sini, saat membahas tentang blackhole: "Tetapi bintang seperti matahari kita akan menjadi bintang kerdil putih dan tidak mampu menjadi blackhole karena massanya tidak lebih dari 10 kali massa Matahari." Nah loh. Ini bahasanya yang ambigu (antara "matahari" di awal atau "Matahari" di akhir), atau memang informasinya yang gimana gitu?


Overall, buku ini bagus dan direkomendasikan untuk dibaca. Apalagi untuk anak-anak. Gambarnya juga lucu.




The Secret Garden

Judul : The Secret Garden
Penulis : Frances Hodgson Burnett
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penejemah : Barokah Ruziati
Tebal Buku : 320 Halaman
Cetakan Pertama, Maret 2010 
(Cetakan Pertama versi buku asli, 1911)
ISBN : 9789792254907
Rating : 4 dari 5



Salah satu hal aneh tentang hidup di dunia adalah hanya sesekali saja kau sangat yakin kau akan hidup selamanya dan selama-lamanya. ---halaman 231


Blurb:

Setelah kematian orangtuanya, Mary Lennox si gadis manja dan pemarah datang dari India untuk tinggal di rumah pamannya, Mr. Archibald Craven. Dia merasa kesepian di rumah besar dan sunyi itu. Namun suatu hari dia menemukan jalan menuju taman rahasia yang sudah bertahun-tahun dikunci. Dengan bantuan Dickon, anak lelaki yang bisa "berbicara" dengan binatang, dia menghidupkan kembali taman itu dan membuatnya indah. Kegiatan mengurus taman perlahan-lahan membuat sifat Mary berubah, dan pada akhirnya bukan hanya Mary yang menjadi bahagia karena taman rahasia itu... 

***

Mary Lennox dibesarkan di India. Orangtuanya meninggal dalam wabah kolera. Sebelum orangtuanya meninggal, dia dibesarkan oleh seorang Ayah, sebutan bagi pengasuhnya yang orang pribumi India. Setelah meninggal, dia dibawa ke Inggris dan menjadi tanggungan pamannya. Sang paman, Archibald Craven, punya sebuah rumah yang besar sekali. Banyak kamar yang kosong di rumahnya. Mary, sekarang menjadi salah satu penghuninya. Mrs. Medlock yang membawanya ke rumah itu setelah Mary dititipkan selama perjalanan dari India ke Inggris (fyi, Mrs. Medlock diperankan oleh Maggie Smith. My House Master of Gryffindor! *heh*). Saat tinggal di manor Tuan Craven itu, Mary diasuh oleh seorang pengasuh bernama Martha Sowerby. Tuan Archibald sendiri, seseorang yang misterius, karena selalu bepergian dan terlihat tertutup. Konon kabarnya, dia begitu cinta sama istrinya, yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Dan perubahan perangai itu, katanya, ada hubungannya dengan kematian istrinya itu.

Sikap Mary bisa dibilang tidak menyenangkan. Sejak kecil dia biasa berkecukupan, dengan Ayah yang senantiasa menuruti segala keinginannya. Ayah-nya seorang pekerja yang memberikan rasa hormat pada kaum kulit putih seperti dirinya. Dan, ketika Ayah-nya dan juga seluruh keluarganya terkena wabah kolera itu, hidup Mary yang terbiasa selalu ditututi perintahnya menjadi berubah drastis. Di Inggris, tidak ada pelayan yang akan berlaku seperti sang Ayah. Meskipun Martha ditugaskan untuk mengurusnya, tapi Martha berbeda. Dia bahkan berani untuk merespons hal-hal yang tidak disukainya, dan itu membuat Mary terkejut. Namun, dengan Martha-lah, dia belajar banyak hal, terutama memperbaiki sikap dan perilakunya yang di sini tidak dibenarkan.

Martha mempunyai banyak saudara. Dia sering menceritakan adik-adiknya pada Mary. Terutama, Dickon Sowerby. Mary yang penasaran dengan cerita Martha, akhirnya juga penasaran dengan sosok Dickon yang menyenangkan tersebut. Akhirnya, mereka bertemu juga dan Mary mendapatkan banyak pengalaman dari Dickon.

Suatu hari Mary tersesat di dalam rumah yang dia tempati. Dia mendengar suara tangisan seseorang. Tapi, saat dia bertanya pada Martha, Martha ketakutan, dan menyangkal ucapannya itu. Mary jadi semakin penasaran. Dan suatu hari, akhirnya dia bertemu juga dengan si pemilik suara. Dia adalah anak lelaki pamannya, bernama Colin Craven. Dia anak yang rapuh, sakit-sakitan, pemarah, dan suka berteriak. Tidak ada yang berani menyangkalnya. Bisa dibilang, semua orang takut pada anak lelaki itu. Dari pertemuan pertama mereka, hanya Mary saja yang berani untuk menghardiknya.

Bersama dengan Dickon, Mary memutuskan untuk mencari taman rahasia yang konon katanya ada di area rumah ini. Karen berkenalan dengan Ben Weatherstaff, tukang kebun yang penggerutu. Namun, setelah kenal dengan Mary, Ben jadi membaik juga. Mary bertanya banyak hal seputar merawat dan menanam bunga pada Ben, dan Ben membantu Mary untuk menjelaskan. Namun, Mary juga bertanya-tanya dan memancing pertanyaan seputar taman rahasia ketika Ben sudah mulai curiga kepadanya.

"Rasa ingin tahumu bisa membunuhmu suatu hari nanti, kalau kau tidak pintar." ---halaman 82


Lalu, apakah mereka berhasil untuk menemukan taman rahasia itu? Mengapa taman itu dikunci selama sepuluh tahun? Apakah ada hubungannya dengan kematian ibu Colin? 

(Lah, saya buat ulasan yang menggantung supaya bikin penasaran tahunya di blurb sudah dijelaskan ya? Wakakak.)

***

Saat membaca sinopsis cerita ini, saya langsung ingat bahwa dulu saya pernah menonton filmnya. Dan satu-satunya karakter yang masih saya ingat adalah...


Maggie Smith, yha, maafkan kalau saya bias. Tapi, serius, bahkan saya lupa wajah Mary, Dickon, atau Colin seperti apa. Dan, saya menemukan gambar ini!



Dengan sebentuk ingatan yang samar tentang plot kisah ini, akhirnya saya mulai membacanya lagi. Saya suka dengan bahasa terjemahannya yang ringan dan tidak berat. Mengingat, ini adalah buku klasik tentang anak-anak. Jadi, seharusnya memang menggunakan bahasa yang ringan, kan? 

Karakternya unik. Perkembangan karakternya pun cukup bagus dan menarik. Mary yang mulanya angkuh berubah perlahan-lahan menjadi sedikit menyenangkan. Dickon yang Gryffindor banget, suka bertualang, dan memecahkan misteri bersama Mary. Dan Colin, yang kurang kasih sayang, dan terkungkung oleh ketakutan-ketakutannya sendiri, perlahan-lahan mulai membuka diri. Karakter yang berhasil mencuri perhatian saya adalah Ben Weatherstaff! Sedikit mengingatkan saya dengan Kakek Ove. (Kalau saya membahas novel-novel dengan karakter berusia tua, Ben harus masuk pembahasan pokoknya.)

Terkait bahasa terjemahan, sebenarnya ada yang lucu di sini. Lucu karena, salah satu tokohnya, Martha, adalah gadis dengan logat Yorkshire yang berbeda dengan logat orang Inggris kebanyakan. Susah memang memilih kalimat terjemahan dari "bahasa Yorkshire ke bahasa Inggris" untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi kepingin baca versi aslinya, penasaran gimana sih "keanehan" yang ditimbulkan sama Martha yang sesekali berbahasa dengan (entah aksen atau memang bahasa asli) bahasa Yorkshire itu bagi Mary yang besar di India. Jadi, oleh penerjemah, dieksekusi seperti ini: "Nggak gitu banget" artinya "sama sekali tidak begitu". =)) 

Sebenarnya, saya tidak seperti Karen (siapa itu Karen?) yang mendaulat buku-buku klasik sebagai genre favoritnya. Saya cukup menyenangi beberapa saja. Karena, memang terjadi ketimpangan dengan keluwesan bercerita dari buku klasik dengan buku kontemporer. Hanya saja, sebenarnya, akan tertolong jika ditangani dengan baik oleh penerjemahnya. Menurut saya, buku ini sudah tertangani dengan baik. Saya suka membacanya. Dan meskipun sebagian besar plot utamanya sudah saya ketahui, tapi tidak membuat saya bosan atau buru-buru ingin menyelesaikannya. Saya menikmati buku ini lembaran demi lembarannnya.

Dan karena buku ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di tahun ini, yang pertama selalu menjadi spesial, dan syukurlah, buku ini memang spesial, menarik, dan seru. Sayang banget sama Mary, Dickon, Colin, dan Ben Weatherstaff! ♡


[Blogtour+Giveaway] Gadis Penenun Mimpi & Pria yang Melipat Kertas Terbang

Judul : Gadis Penenun Mimpi & Pria yang Melipat Kertas Terbang
Penulis : Gina Gabrielle
Penerbit : ICC Publisher
Tebal Buku : 228 Halaman
Cetakan Pertama, April 2016
ISBN : 9786027443433
Rating : 4 dari 5


*Ikuti giveaway di akhir rewiew ini*




"Manusia, tahukah kau bahwa luka itu sebenarnya tak terhindarkan? Kau hanya perlu Hati yang sejuk dan lembut, yang bisa sembuh dari luka apa pun dengan kecepatan mengagumkan."

Blurb:

"Konon katanya, pada suatu tidur, kau bisa sampai ke suatu tempat yang disebut Ujung Pelangi. Di sana ada seorang gadis dengan wajah tertutup cadar yang akan menenunkan Mimpi untukmu...”

Seorang pria dengan Hati luka melihat kertas terbang dalam Mimpinya. Ia mengikuti arah kertas tersebut terbang, dan sampai ke Lembah Es. Ia menyangka Hatinya akan sembuh, namun ternyata Lembah Es hanyalah tempat untuk mendinginkan Hati.

Di lain tempat, tanpa ia ketahui, langit memar. Dunia terancam hancur, dan pria itulah yang dipilih untuk menyelamatkannya. 

Tapi, karena tidak sanggup lagi menanggung sakit, ia memutuskan untuk selama-lamanya membekukan Hati di Lembah Es.

Lalu langit pun retak, dan hendak runtuh.


***

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” ---Albert Einstein

Rasanya, cukup lama saya tidak membaca buku dongeng. Meskipun beberapa waktu yang lalu saya membacakan sebuah buku untuk keponakan saya, tapi itu bukan buku dongeng. Saya merindukan dongeng yang membawa pembaca terbang ke alam imajinasi tanpa batas. Melihat binatang-binatang berbicara, terbang ke negeri antah-berantah dan melihat ragam keajaiban di sana. Ya, rasanya cukup lama.

Dulu saya dibesarkan dengan dongeng-dongeng dari Majalah Bobo yang salah satu rubrik kesayangan saja adalah Oki dan Nirmala. Lalu di rumah tante, saya disuguhkan satu bookset tentang dongeng-dongeng populer dunia. Di sana saya berkenalan dengan Cinderella, Hansel and Gretel, Putri Duyung dan Sisir Ajaib, Putri Salju, dan masih banyak lagi. Dongeng membuat imajinasi saya hidup dan berkembang. Dongeng mengisi satu ruang dalam benak saya yang lambat laun, seiring dengan bertambahnya usia, ruang itu semakin menyempit, terhimpit oleh tugas-tugas, beban hidup, target pencapaian ini-itu, keluhan, dan masih banyak hal. Sampai saya sadar, bahwa ruang tentang imajinasi tanpa batas itu perlu ditengok lagi, perlu dibuka dan dibersihkan debu-debunya. Dan kalau bisa, ruang itu berharap untuk diperbesar lagi.

Membaca Gadis Penenun Mimpi & Pria yang Melipat Kertas Terbang, membuat saya mengingat kembali cerita-cerita lama masa kecil saya yang penuh dengan mimpi, harapan, dan imajinasi yang tak terinterupsi oleh hal-hal semacam beban kehidupan. Membiarkan diri saya turut bertualang dengan Kol. Ibri, Kura-Kura Pengelana, Putri Boneka, di atas sampan awan, membuat saya kembali memasuki ruang yang sudah lama saya tinggalkan itu. Teman, jika kau ingin bertualang bersama kami, siapkan dulu beberapa bekal, agar kau bisa mengetahui bagaimana perjalanan ini akan berlangsung.

***

Kol. Ibri menuntun Kura-Kura Pengelana, memasuki satu dimensi cerita ke dimensi cerita lainnya. Dengan sampan awan, mereka melihat negeri dan tempat-tempat dengan kisahnya masing-masing. Ada cerita tentang Putri Tanpa Nama, Bayangan Jiwa Manusia Bintang, Liontin Mutiara Dayang Tikus, dan masih banyak lagi. Tapi tahukah kamu, Teman, bahwa cerita itu saling bertautan? Bagaikan sedang memintal benang untuk membuat hamparan cerita secara keseluruhan, penulis kisah ini membuat potongan demi potongan dongeng dengan satu jalan cerita yang utuh. Kura-Kura Pengelana yang sebenarnya adalah Pria dari Lembah Es yang membekukan hatinya, memiliki keterkaitan cerita dengan salah satu kisah dari dongeng yang lain. Pun begitu pula dengan Kol. Ibri. Teman, jangan kau khawatirkan dengan banyaknya tokoh-tokoh dalam cerita ini, karena mereka dijalin dengan jahitan yang rapi. Satu kisah dengan kisah lainnya, bisa kau nikmati sendiri tapi sangat bisa dikaitkan antara yang satu dengan lainnya.  Teman, kau akan mendapatkan satu demi satu kejutan terkuak di sini! 

Tidak hanya itu, Teman, kau akan mendapatkan sajak indah yang sengaja dikutipkan untukmu dari Kastil Masa Lalu, atau Istana Masa Kini. Kau tidak hanya akan disuguhkan dengan kata-kata yang manis, namun juga pelajaran hidup yang banyak dan besar di dalamnya. Bukankah dongeng memang seharusnya berisi muatan kebaikan, agar mereka bertahan lama di dalam Hati, dan terus menebarkannya di mana pun dan kapan pun berada?


Ada kastil yang terbuat dari batu,
tempat untuk menatap masa depan.
Untukmu, ini bisa jadi awal atau akhir perjalanan.
Pilihlah, Pengelana, kau tak punya banyak waktu.

Ada jalan lapang terbuka di tempat ini,
semua orang bisa datang dan pergi.
Dan memang banyak yang masuk kemari,
namun sedikit yang keluar lagi.

Masa lalu punya kekuatan.
Semua orang diberinya harapan.
Semua orang diberinya cobaan.
Untuk bebas atau terjebak, semua itu pilihan.

Pilihan, pilihan,
Kastil Masa Lalu adalah Kastil Pilihan.
Pilihan, pilihan,
Kau harus segera membuat pilihan.


Dengan imajinasi berbalut dongeng yang disuguhkan pada pembacanya, kisah ini memang layak untuk didongengkan oleh siapa saja. Anak kecil maupun dewasa, dalam suka maupun lara. Hanya saja,  perlu sedikiiiit lagi polesan (tentang kata baku dan sedikiiiiit perbaikan penulisan) agar dongeng ini bisa sempurna dan dikenang sepanjang masa. 

Pesan dari saya, padamu, Teman, janganlah berhenti untuk bermimpi, dan berimajinasi. Jangan biarkan kastel impian dan imajinasimu runtuh, jangan biarkan hatimu menjadi keras seperti batu, jangan biarkan rasa empati dan kasih sayang luntur seiring dengan berjalannya waktu.

***



It's giveaway time!

Kak Gina (melalui saya dan Kak Adin) akan memberikan satu buah novel Gadis Penenun Mimpi & Pria yang Melipat Kertas Terbang untuk kamu yang beruntung mengikuti giveaway kali ini. Kali ini, saya akan mengajak kalian untuk pelangikan imajiansi kalian bersama saya. Namun sebelumnya, simak ketentuan ini dulu ya:

  1. Giveaway ini hanya untuk kalian yang berdomisili atau memiliki alamat pos di Indonesia.
  2. Follow blog saya melalui akun Google Friend Connect yang ada di sidebar blog ini.
  3. Follow akun twitter @msginagabrielle, @ICCPublisher, @niesya_bilqis, dan @adindilla.
  4. Share giveaway ini di akun twitter kalian. Jangan lupa mention @msginagabrielle, @ICCPublisher, dan @niesya_bilqis dengan tambahan hashtag #GAGPM ya. Jangan lupa kasih link menuju giveaway ini.
  5. Giveaway ini akan berlangsung selama satu minggu dari tanggal 7 hingga 13 Januari 2017. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan satu hari setelahnya yaitu 14 Januari 2017. Apabila dalam waktu 3 x 24 jam tidak ada konfirmasi dari pemenang, akan dipilih pemenang lainnya. 
  6. Kalian juga bisa mengikuti giveaway ini di blog Kak Adin (tautannya di sini) untuk memperbesar kesempatan menang. Kenapa? Karena pemenang giveaway ini akan diundi dari peserta yang mengikuti giveaway di blog saya dan Kak Adin. Jika kalian mengikuti keduanya, kesempatan menang akan semakin terbuka lebar.
Nah, bagaimana cara pelangikan imajinasi itu?

Saya akan mengajak teman-teman yang ingin mengikuti giveaway di blog saya untuk melanjutkan satu kalimat ini dan kemudian menyambungkannya dengan satu kalimat dari kalian, agar dongeng kita bisa terbentuk. Jangan khawatir kalau kalimat demi kalimat ini tidak akan padu. Ingat, di sini kita sedang pelangikan imajinasi dan membuat dongeng bersama, kan? 😉 Jangan takut tidak nyambung. Kalian hanya perlu melihat kalimat terakhir dari postingan komentar di atas kalian, lalu sambungkan sendiri dengan satu kalimat dari kalian.

Selain itu, jangan lupa juga menuliskan akun twitter kalian di komentar itu ya.

Satu kalimat pembuka dongeng dari saya adalah: 

"Pangeran tampan dari Negeri Seribu Satu Pelangi sedang mencari pendamping."


Contoh komentar pertama yang bisa kalian tuliskan: 
@niesya_bilqis: Lalu kemudian Raja dan Ratu mengumumkan berita itu ke sepenjuru negeri.

Jika kalian bingung atau ada pertanyaan, silakan hubungi saya di twitter: @niesya_bilqis yaaa.


Semoga kalian beruntung!! ;)


Rooftoppers -- Para Penghuni Atap

Judul : Rooftoppers -- Para Penghuni Atap
Penulis : Katherine Rundell
Penerbit : Metamind (Tiga Serangkai)
Tebal Buku : 300 Halaman
ISBN : 9786029251319
Rating : 4 dari 5



"Aku selalu berpikir bahwa jika cinta punya aroma, maka aromanya seperti roti yang masih hangat." ---halaman 198

***

Blurb:

Tidak ada yang percaya bahwa ibu Sophie selamat dari kecelakaan kapal yang terjadi ketika Sophie masih bayi. Kemungkinan selalu ada dan Sophie tidak kehilangan harapan untuk dapat bertemu dengan ibunya kembali. Saat lembaga kesejahteraan melayangkan surat kepada pengasuh Sophie agar mengirimkannya ke panti asuhan. Sophie melarikan diri ke Paris. Ia mencari ibunya dengan satu petunjuk, alamat yang tertulis di boks cello yang menyelamatkan nyawa Sophie saat masih bayi. Sophie pun bertemu para penghuni atap (rooftoppers) dan menjelajahi atap-atap Kota Paris untuk mcncari keberadaan ibunya sebelum harapan hilang selamanya.

***

Sophie adalah seorang bayi yang ditemukan di dalam kotak cello oleh Charles Maxim, tiga puluh enam tahun. Sejak saat itu, Charles memutuskan untuk merawat bayi itu seorang diri, dan menamainya Sophie. Charles belum pernah benar-benar mengenal seorang anak sebelumnya, sehingga kekhawatiran menyelubunginya.

"Sungguh, aku takut, memahami buku juh lebih mudah bagiku ketimbang memahami orang. Buku sangat mudah diajak bersahabat." ---halaman 3

Miss Elliot, agen perlindungan anak, datang mengunjungi Charles dan Sophie, hendak mengambil gadis mungil itu dan membawanya dalam perlindungan. Namun, Charles menolaknya, dan bersikeras untuk merawat Sophie seorang diri. 

"Aku akan menyayanginya. Itu pastilah cukup, apabila puisi yang kubaca belumlah cukup." ---halaman 7

Miss Elliot pantang menyerah, dia selalu datang mengunjungi Charles dan Sophie secara rutin untuk melakukan inspeksi. Dia mengamati perkembangan Sophie dan memberikan penilaian bahwa gadis kecil itu tumbuh tidak seperti sebagaimana lazimnya anak perempuan. Miss Elliot bertanya seputar apa yang Sophie makan, mengomentari penampilan, dan juga Sophie yang tidak bersekolah formal. Dia masih yakin kalau Sophie harus diselamatkan dari didikan Charles.

Sophie sendiri, seiring berjalannya waktu, merasa bahwa dia mengingat ibunya. Menurut Charles Sophie hanyalah berhalusinasi. Namun Sophie meyakinkan diri kalau dia tidak sedang mengkhayalkan itu semua. Sophie benar-benar merindukan ibunya.

Ibu adalah sesuatu yang kau butuhkan, seperti udara, dan air. Bahkan ibu di atas kertas pun lebih baik daripada tidak ada sama sekali, termasuk juga ibu khayalan. Ibu adalah tempat untuk meletakkan hatimu. Mereka adalah tempat beristirahat untuk memulihkan napasmu. ---halaman 33

Ketika berulang tahun kedua belas, Charles memberinya hadiah dua belas buku. Sophie amat senang dengan hadiah itu.

"Buku-buku yang kau baca di usiamu sekaranglah yang akan terus kau ingat. Buku akan menyibak dunia untukmu." ---halaman 35

Namun, kebahagiaan ulang tahunnya harus ternoda karena mereka mendapatkan surat inspeksi. Meskipun Charles dan Sophie sudah berusaha semaksimal mungkin menampilkan sesuatu yang layak pada inspektor itu--mereka membersihkan rumah, Sophie mengenakan pakaian perempuan dan menyisir rambutnya yang kusut--akan tetapi putusan pada Sophie tetap harus berlaku, bahwa Sophie harus tinggal di panti asuhan. Jika Charles tidak mau menyerahkan gadis itu, maka Charles akan dipenjara.

Sophie tidak mau masuk panti asuhan. Dan karena dia menemukan sesuatu di kotak cello-nya yang memungkinkan dirinya menemukan ibunya, maka Sophie dan Charles memutuskan untuk melarikan diri ke Paris.

Sesampainya di Paris, Charles berupaya untuk menemukan ibu Sophie melalui petunjuk yang ada, namun hasilnya nihil. Karena mengkhawatirkan Sophie akan ketangkap jika dia ikut menyusuri jalanan Paris, maka Sophie diminta untuk tidak keluar dari tempat penginapan. Sophie menemukan jendela yang menghubungkannya ke atap, dan dari sana, dia bertemu dan berkenalan dengan Matteo, si Penghuni Atap. Melalui perkenalan ini, Sophie juga bertemu dengan para penghuni atap lainnya, dan melakukan petualangan seru dengan mereka. Namun, pertemanan dengan Matteo ini harus dirahasiakan oleh Sophie dari Charles, ayahnya. Meskipun begitu, Charles bisa mengendus gelagat mencurigakan dari Sophie. Namun dia hanya mengatakan ini pada gadis kecilnya itu:

"Semua orang butuh rahasia. Hanya saja, pastikan rahasia itu baik." ---halaman 195

Lalu, selama mereka tinggal di Paris, apakah pada akhirnya Sophie akan menemukan ibunya?

***

Somtimes I judge a book by it's cover. Begitulah awal mula perkenalan saya dengan novel ini. Meskipun tidak berwarna merah muda (oke, saya mudah luluh dengan cover pink atau yang cantik bunga-bunga), tapi sampul buku ini benar-benar cantik: seorang gadis cilik yang berada di atap, dengan burung-burung di langit dan Menara Eiffel sebagai lanskap utama kota Paris. Lalu yang lebih meyakinkan saya adalah, saat membalik bukunya, ternyata nama si tokoh utama adalah Sophie (actually, I addicted with several names, ex: Sophie, Joshua, Benjamin, Abe, don't ask why *yha*). Oke, jadi pada akhirnya, saya memutuskan untuk membeli ini. 

Jujur harus saya katakan, sebenarnya saya takut dan sangsi membaca novel terjemahan selain dari penerbit tertentu, karena saya pernah mendapatkan buku-buku terjemahan yang kualitas terjemahan maupun penyuntingannya buruk. Jadi, saya tidak memberikan ekspektasi berlebih terhadap novel ini. Namun ternyata, kekhawatiran saya hilang begitu saja saat saya membaca halaman pertamanya. Terjemahannya keren.... Secara umum, meskipun masih ada beberapa kesalahan penulisan, tapi membaca novel ini tidak membuat saya kecewa. Jadi, bisa dibilang untuk novel ini, muluuus.

Dari segi jalannya cerita, Rooftoppers menyajikan cerita yang tidak biasa. Tentang hubungan ayah angkat dan anak yang seru meskipun di beberapa hal, saya harus menyepakati Miss Elliot tentang... bagaimana caranya mendidik anak perempuan yang tidak dimengerti oleh Charles (kenapa dia nggak sama Miss Elliot aja sih? xD *gemas*). Lalu yang membuat saya tak habis pikir adalah... bagaimana penulis menyajikan dunia yang tidak biasa: tentang kehidupan anak-anak di atas atap. Selama ini kita mendengar dan menyaksikan langsung kehidupan anak jalanan (di atas tanah), tapi tidak pernah terpikir tentang kehidupan di balik atap-atap yang menjulang tinggi. Bagaimana mereka hidup dari satu atap ke atap lainnya, mengetahui jenis-jenis genteng mana yang bisa didiami, dan bagaimana caranya terlindung dari pengamatan orang-orang di daratan. Membuat mereka benar-benar tersembunyi. Keren.

Tiga per empat novel ini, tone-nya begitu cepat, membuat saya rela harus begadang karena tak sabar mengetahui ending-nya. Seru, menegangkan. Apalagi buat yang phobia ketinggian seperti saya.

Setelah membaca ini, membuat saya lebih "peka" dan jadi sering mengamati atap-atap bangunan. Kalau di atap rumah saya sih, nggak ada ya, gentengnya dari seng jadi kalau ada orang pasti ketahuan :p

Satu pesan dari Matteo untuk Sophie, yang harus saya pelajari juga dalam kehidupan ini:

"Menunggu adalah bakat. Kau harus mempelajarinya." ---halaman 209

Petualangan Tom Sawyer

Judul : Petualangan Tom Sawyer
Penulis : Mark Twain
Penerjemah : Djokolelono
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 296 Halaman
ISBN : 9786024240349
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Kisah petualangan remaja karangan Mark Twain dengan latar belakang alam bebas di tepi Sungai Mississippi ini merupakan salah satu karya klasik Amerika. Tom yang nakal tinggal di rumah Bibi Polly yang dermawan. Setelah bertengkar dengan sahabatnya, Becky Thatcher, Tom pergi bertualang bersama Huck Finn, temannya. Secara kebetulan keduanya menyaksikan penjahat menusuk seorang dokter hingga meninggal. Si pembunuh menggenggamkan pisau itu di dalam tangan seorang pemabuk. Diselingi pengembaraan dan tingkah polah yang serba nakal dan berani, Tom dan Huck dapat menemukan tempat persembunyian si pembunuh.

***

Keluhan saya dari buku ini adalah terdapat banyak kesalahan pada penulisan. Entah itu typo (yang banyaaak saya temukan), kesalahan penulisan bahasa, penempatan tanda baca, dan ... bahasa terjemahan yang agak aneh. Untuk yang terakhir, sebenarnya ini bukan keluhan besar sih, karena saya dibuat tersenyum dengan pemilihan kata yang "unik" meskipun ada beberapa kata lainnya yang membuat saya mengernyitkan dahi. Contohnya, misalnya penggunaan "masya Allah", "berabe", dan ada beberapa kata yang Indonesia banget dalam dialog (astaga, ini seperti nonton film Korea yang di-dubbing, atau lebih parah lagi, seperti nonton film barat yang di-dubbing dengan bahasa daerah di saluran tv lokal). Lucu sih, tapi aneh. Jadinya, saya pun ikut berekspresi yang sama saat menonton film barat berbahasa Jawa. Dan yang lucu tapi aneh lainnya itu adalah adanya kata "kemalu-maluan" yang mungkin dimaksudkan untuk menyatakan bahwa si tokoh bersikap malu-malu karena suatu hal. Tapi ... kan terdengarnya aneh.

Nah sekarang, sebelum saya melanjutkan, saya ingin bercerita sebentar tentang buku ini. Pertama kali saya membacanya (dulu yang saya baca judulnya "Tom Sawyer Anak Amerika"), kira-kira tahun 2001, yang artinya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, rasanya saya masih kelas 1 SMP. Saat-saat di mana saya lebih sering menunjungi perpustakaan dibandingan tempat mana pun selain kelas sendiri. Pada akhirnya, membaca novel ini sekarang, selang lebih dari satu dekade kemudian, membuat saya sesekali harus mengasah otak untuk mengingat-ingat cerita mana yang benar-benar melekat. Ajaibnya, ada beberapa plot yang saya masih ingat meskipun samar-sama terlupa siapa yang menjadi pelakunya. Dan, plot yang saya ingat itu adanya di bagian akhir (tentang cerita di dalam gua). Walhasil, dari awal sampai mendekati akhir, perasaan saya seperti membaca sebuah cerita baru.


Petualangan Tom Sawyer menceritakan tentang seorang anak kecil yatim piatu bernama Thomas Sawyer yang tinggal dengan bibinya, dan kedua sepupunya: Mary dan Sid. Tom Sawyer adalah anak yang super-duper bandel sehingga terkadang membuat bibinya jengkel. Namun meskipun begitu, pada dasarnya, bibinya tetap menyayangi Tom sama seperti anaknya sendiri. Tom suka mengelabui anak lain karena "kecerdasannya". Misalnya, saat ia dihukum bibinya untuk mengapur tembok, ia berhasil mengubah persepsi tentang "hukuman" menjadi "tantangan" dan "sesuatu yang keren" yang pada ujungnya dapat ia ambil manfaatnya karena berhasil mengelabui anak-anak untuk menukar barang berharga mereka dengan pekerjaan mengapur tembok yang keren itu.

Tom berteman dengan seorang anak gelandangan bernama Huckleberry Finn, di mana mereka banyak melakukan hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh anak-anak seusia mereka pada umumnya. Suatu hari mereka tengah malam berada di kuburan untuk melakukan sebuah misi. Tapi malangnya, mereka menjadi saksi bisu sebuah pembunuhan yang ternyata pembunuh aslinya memutarbalikkan fakta yang sebenarnya. Namun, Tom dan Huck sudah berjanji demi keselamatan mereka sendiri untuk tidak mengatakan pada siapa pun hal yang sebenarnya terjadi.

Tom juga mempunyai seseorang yang ditaksirnya, bernama Becky Tatcher, seorang gadis cantik anak dari Hakim Tatcher. Hubungan Tom dan Becky sendiri tidak begitu mulus, karena sifat Tom yang begini sementara Becky begitu. Suatu hari, karena Tom merasa kecewa dengan Becky, dan juga merasa sedih karena banyak hal dalam hidupnya. Ia mengajak dua temannya untuk pergi sejauh-jauhnya dari rumah. Seluruh kampung geger, mereka bertiga dikabarkan meninggal dunia.

Bagaimana nasib Tom dan teman-temannya selanjutnya? Atau bagaimana dengan si Indian yang merupakan pelaku pembunuhan yang sebenarnya? Novel ini begitu menarik untuk disimak. Tapi, harap bersabar karena kelakuan ajaib Tom sepanjang cerita ini ya, hahaha. 

Dengan membaca buku ini, saya jadi merasa miris dengan anak-anak era sekarang yang taman bermainnya hanya seputar gadget dan game saja, padahal, banyak yang bisa dilakukan oleh mereka di luar sana, bersama dengan teman-teman, bermain-main dan berpetualang. Seperti yang dikatakan oleh Tom Sawyer ini, rasanya juga berlaku bagi zaman sekarang (padahal zaman Tom Sawyer ini sudah puluhan tahun berlalu dari saat ini).


Dalam hati mereka bertanya-tanya apa yang bisa diberikan oleh peradaban modern untuk menggantikan zaman yang hilang itu. Mereka berkata, lebih baik jadi anak buah Robin Hood setahun daripada menjadi presiden Amerika Serikat seumur hidup. ---halaman 74

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)