Showing posts with label thriller. Show all posts
Showing posts with label thriller. Show all posts

Girls in the Dark

Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal Buku : 279 Halaman
Cetakan Ketiga, Maret 2015
ISBN : 9786027742314
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

***

Hari itu, di salon (mungkin bahasa lazimnya sekretariat klub), klub sastra sedang mengadakan kegiatan rutin mereka. Namun, ada yang berbeda saat itu. Pertemuan itu dikhususkan untuk mengenang ketua klub mereka, Shiraishi Itsumi yang meninggal beberapa hari sebelumnya. Itsumi, meninggal dalam sebuah peristiwa misterius, dengan setangkai bunga lily sebagai petunjuknya. 

Sementara, klub sastra adalah klub eksklusif di mana ketuanya adalah Itsumi, seorang anak pemilik sekolah. Olehnya, salon diubah menjadi sebuah tempat yang sangat mewah, dengan anggota klub adalah siswa-siswa terpilih di SMA Putri Santa Maria.

Sebagai wakil klub sastra, Sumikawa Sayuri otomatis menggantikan posisi Itsumi sebagai ketua klub, juga menjadi pemandu acara rutin mereka itu. Hari itu, masing-masing anggota akan menyampaikan kesan-kesan mereka terhadap Itsumi dalam sebuah cerita pendek yang dibacakan satu per satu oleh mereka. Karena kelompok ini eksklusif, maka tanpa Itsumi, hanya tersisa enam anggota saja. Dan, kejanggalan terjadi ketika keenamnya membaca cerita mereka, dan ternyata mereka saling menuding satu sama lain tentang siapa dalang di balik pembunuhan Shiraishi Itsumi.

***

Girls in the Dark adalah buku yang saya dan Bintang pilih untuk BOOM bulan Februari. Kalian ada yang belum tahu apa itu BOOM? Bisa tengok ulasan saya di sini tentang BOOM ya. Sederhananya, BOOM ini kegiatan yang digagas oleh saya dan Bintang buat baca bareng satu judul buku yang sama setiap bulannya. 

Februari adalah bulannya cinta, kata orang-orang. Barangkali karena tanggal 14 adalah hari kasih sayang (begitu, kan?). Namun, kami justru mengusung tema thriller dalam baca bareng bulan ini, hahaha. Mungkin karena saya tidak sadar kalau bulan ini banyak yang merayakan perayaan itu, jadinya menganggap Februari sama saja seperti bulan lainnya. Setelah sukses dengan buku di bulan pertama kami, Apa Pun Selain Hujan, bulan ini pun kami berhasil menyelesaikan baca buku Girls in the Dark ini. Bulan depan? Tentu ada lagi. Nah, sebelum membahas tentang buku yang akan dibaca bulan depan, saya mau mengulas tentang Girls in the Dark dulu, ya.

***

Saya menerima tantangan dari Bintang untuk membaca genre thriller. Meskipun ini bukan cangkir kopi saya, tapi beberapa judul thriller berhasil mencuri perhatian saya, lho. Tapi, saya mau buat pengakuan dulu. Mulanya, saya kira ini buku horor, makanya takut dibaca malam-malam, hahaha. Ternyata bukan. Membaca Girls in the Dark, hanya membutuhkan waktu yang singkat kurang dari tiga hari. Barangkali karena saya cukup menikmati alurnya, dan juga ikut penasaran dengan bagaimana akhir ceritanya.

Saya juga dapat tantangan dari Bintang untuk menebak siapa pelakunya, lho. Jadi, selain cukup menikmati alur cerita, saya ingin cepat selesai untuk membuktikan apakah tebakan saya benar atau salah. Dan ternyata, benar. Whoa, kemampuan analisis saya masih terasah rupanya :p Oke, jadi, saya pun menebak-nebak bagaimana ya kira-kira prosesnya dan kenapa sampai begitu. Dan ternyata, di dalam proses mengetahui sebab-akibatnya, banyak kejutan yang tak terkira. 

Dari keenam tokoh yang bercerita (minus Itsumi yang menjadi objek oleh pencerita), saya paling suka dengan pencerita pertama, Nitani Mirei. Mungkin, karena di kisah pertama, "kedok" kisah ini belum terbongkar. Dan juga, saya menikmati bagaimana Mirei bercerita. Selain itu, karena saya sudah bisa membaca bagaimana pergerakan kisah ini, untuk jatuh hati atau bahkan berempati pada lainnya jadi sudah berkurang.

Ada beberapa poin yang menjadi bahasan saya di sini. Yang pertama, saya kurang begitu menikmati gaya penulisan novel ini. Sepertinya ada kendala di bahasa penerjemahan? Karena sepertinya bahasanya masih bisa diperhalus lagi. Kesannya seperti langsung ditranslatekan begitu saja dari bahasa aslinya. Atau, bisa jadi gaya penulisan edisi terjemahan J-Lit memang seperti ini. Entahlah, karena ini buku pertama kategori J-Lit yang saya baca. Namun, di sini Akiyoshi Rikako menunjukkan "kelas"-nya sebagai penulis thriller andal dengan alur yang tak mudah terterbak. Saya masih penasaran dengan Holy Mother yang ulasan di goodreadsnya sangat fenomenal (dan tentunya siap untuk tebak-tebakan plot lagi, hahaha).

Selain tentang itu, saya juga cukup kesulitan menghapal nama-nama tokohnya. Yang saya ingat cuma Diana, karena dia aja yang namanya cukup familier. Apalagi, nama Jepang terdiri dari dua penggal nama yang kedua-duanya sama-sama tidak familiernya. Bayangkan saja, ada enam nama yang harus diketahui, dan itu terdiri dari dua nama panggilan yang dipanggilnya berbeda berdasarkan keakraban; kalau sudah akrab memanggil namanya sendiri, kalau kurang akrab memanggil marga. Jadi, yah, saya cukup sering bolak-balik membaca lembaran sebelum dan sesudahnya, sih. (Karena masing-masing tokoh saling tuduh itu.)

Selebihnya, novel ini cukup bagus. Saya puas dengan menyematkan bintang tiga padanya.

***

REVIEW #2 Dalam Rangkaian Project BOOM [Book Anatomy] oleh Bintang @ Ach’s Book Forum dan Nisa @ Resensi Buku Nisa.



Kalian juga ikutan BOOM bulan ini dan sudah baca buku yang kita tentukan? Kalau sudah, ayo bikin review-nya dan silakan setor link review kamu di komentar di bawah postingan ini. Karena bulan genap, jadi setor link-nya di blog saya yaaa... 

Ketentuannya bisa kalian lihat DI SINI. Dan, akan ada hadiah spesial dari saya dan Bintang untuk yang rajin ikutan setor review dan meramaikan baca bareng BOOM tiap bulannya lho.

Nah, untuk bulan depan, buku yang akan kita baca adalah...



Kalau ada Me Before You di timbunan kamu, yuk baca bareng-bareng kita bulan Maret! Dan karena bukunya tebal, jadi waktu membacanya kita majukan dari tanggal 1 Maret hingga 20 Maret, nih :)

Siapkan bukunya dan mari kita BOOM-kan rame-rame! :D


You Are (not) My Bestfriend

Judul : You Are (not) My Bestfriend
Penulis : Esi Lahur
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 208 Halaman
Cetakan Pertama, April 2015
ISBN : 9786020315669
Rating : 1 dari 5



Blurb:

Mau tahu rasanya jadi murid pindahan yang masuk saat tahun ajaran baru sudah berjalan dua setengah bulan? Itu yang dirasakan Ingrid ketika kembali ke Jakarta setelah lima belas tahun tinggal di Kopenhagen.

Peraturan sekolah memaksa Ingrid mengikuti ekskul jurnalistik. Ekskul ini pula yang menyebabkan Ingrid harus berhadapan dengan Mirabel dan Mita, cewek cantik dengan antek-anteknya yang selalu mencari masalah.

Seiring waktu, kebencian Ingrid terhadap Jakarta dan rasa rindu pada Kopenhagen pelan-pelan terkikis. Tapi misteri kematian seorang siswa baru pada tahun kedua Inggrid di SMA Bhinneka membuatnya ragu apakah Jakarta benar-benar membuatnya betah. 

***

Kalau awalnya bingung mau kasih bintang tiga atau empat di cerita ini, sekarang saya galau mau kasih bintang dua atau satu.

Saya merasa tertipu dengan plot novel ini. Separuh lebih bercerita seperti teenlit kebanyakan, tapi di belakangnya kok....

Dan sepertinya mengandung spoiler. (Bingung mau mereviewnya bagaimana tanpa harus membuka kedok cerita dan tokoh utama di novel ini, jadi ya, kalian sudah diperingatkan :))

Jadi, novel ini pada mulanya berkisah tentang Ingrid, seorang gadis remaja pindahan dari Denmark. Sejak lahir berada di negeri orang dan nyaris tidak mengenal negaranya sendiri, membuat Ingrid mengalami culture shock yang parah. Ini juga membuatnya sangsi apakah akan betah di sekolah dan Jakarta yang menurut Ingrid jauh berbeda dengan Kopenhagen yang menyenangkan. Tapi, sejak berkenalan dengan Orella dan Shirley, Ingrid pelan-pelan mencoba mencintai negerinya ini. Tapi aneh ah, sudah setahun dia belum bisa memaafkan Jakarta yang nggak bisa dipakai buat sepedaan selain di Car Free Day padahal banyak hal menarik yang sudah dialami Ingrid di negerinya ini, seperti misalnya mencoba makanan yang enak-enak, atau melakukan hal-hal seru dengan teman-temannya di Indonesia.

Selain keduanya, ada pula Mirabel yang sok ngartis (kalau dalam bahasa saya) dan Mita minionnya. Mulanya geng ini menyebalkan, tapi dengan tidak disangka-sangka--dan nggak melewati plot yang dramatis (seperti misalnya yang saya baca di A Untuk Amanda, tokohnya temanan sama cewek populer, tapi ada sebab akibat yang masuk akal yang membuat pembaca sejalan dengan apa yang dipikirkan si tokoh utama), akhirnya mereka berteman. Geng yang mulanya bertiga jadi berlima.

Dan jujur, di bagian ini saya suka. Mulanya saya mengira penulis akan mengangkat cerita nasionalisme dari sudut pandang yang berbeda. Duh saya excited banget malah. Cerita ketemu pemain bulutangkis Denmark membuat saya dejavu saat nonton final Thomas Cup tadi siang di televisi. Kisah cintanya juga seru. Saya jadi berspekulasi kira-kira Ingrid bakal berpaling dan melupakan impiannya memiliki kekasih Denmark, dan mulai membuka hati untuk Salvo atau Elang (saya timnya Elang :p) nggak yaaa.

Nah lalu, saya jadi bertanya-tanya, kenapa judulnya You Are (not) My Best Friend. Apa mungkin Ingrid akan dikhianati teman-temannya? Mungkin Orella diam-diam naksir Elang atau Mirabel merebut Salvo? Ternyata bukan saudara-saudara! "My" di situ merujuk pada Mita! Hah? Kok bisa? Separuh cerita yang ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga yang berfokus pada Ingrid, berubah haluan menjadi membahas Mita. Dan jeng-jeng, genrenya berubah menjadi thriller.

Saya kurang suka (karena mungkin kata "kecewa" terlalu berlebihan, tapi ya emang kecewa sih) karena merasa ditipu dengan plotnya :( Mungkin penulis mau membuat elemen surprised yang membuat pembaca tidak menyangka siapa pelakunya..., yang sebenarnya kurang berhasil juga sih, karena saat tabir thriller tersingkap, saya sudah tahu siapa pelaku pembunuhan itu. Tapi, remah roti yang ditinggalkan penulis itu kayak nggak niat. Saya bisa bilang seperti ini karena di awal benar-benar tidak ada jejak cerita ini akan diusung dengan genre thriller. Kirain ya cerita teenlit pada umumnya. Padahal kalau mau dibuat thriller justru lebih bagus lagi, dan sekalian saja tokoh utamanya bukan Ingrid. Dan jika kisah yang diangkat tentang nasionalisme versi "orang luar" yang meragukan nasionalismenya, dibumbui persahabatan dan cinta-cinta khas remaja dengan tokoh utama Ingrid, Elang, dan Salvo, saya akan lebih senang lagi.

Jadi, banyak tokoh "tempelan" di sini. Elang dan Salvo perannya apa ya? Tidak ada, selain hanya sebagai bumbu dalam cerita. Saya menyayangkan ini. Lagi pula, menurut saya, karakter Salvo tidak cukup kuat. Mulanya digambarkan sebagai sosok cool, tapi nggak sinkron dengan suka ngerjain orang. Juga nggak pas dengan character development sesudahnya.

Kalau memang ini bergenre thriller, kenapa kok kesannya nanggung ya? Tokoh psikopatnya nggak banget. Sebagai pencinta drama-drama Korea berbau psikopat, penggambaran karakter mereka lebih oke dan lebih masuk di akal orang awam. Tapi di sini, sepertinya terlalu dipaksakan. Metode "tell" dengan menuliskan pikiran si pelaku benar-benar nggak membuat saya puas karena saya nggak merasakan horror atau misterinya sama sekali. Dan lagi pula, ada banyak plot yang nggak masuk ke logika dan membuat saya bingung. Entah karena saya yang nggak teliti bacanya, atau memang ada yang aneh di sini. Yaitu ketika Mirabel dan Mita diinterogasi di kantor polisi. Saat polisinya nanya ke Mirabel, yang jawab Mita. Tapi di beberapa paragraf sesudahnya, dikasitahu kalau dialog Mirabel itu ada di dalam rekaman. Jadi, Mita menyahut itu, menyahuti Mirabel yang ada di dekatnya atau menyahut rekamannya ya...?

Terakhir..., ada typo. Typo nama: Ingrid ditulis Indrid. Lalu ada tanda penghubung yang lupa dihapus. Dan yang amat mengganggu saya adalah penulisan kata "silahkan" di halaman 139. Istilah saya sih, "membuyarkan segalanya".

Dek Mita, kamu kurang saiko :p sini belajar sama Kakak ;p

3 (Alif Lam Mim)

Judul : 3 (Alif Lam Mim)
Penulis : Primadonna Angela
Diadaptasi Dari Skenario : Anggy Umbara, Bounty Umbara, dan Fajar Umbara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 232 Halaman
ISBN : 9786020320946
Rating : 4 dari 5 



Blurb:

Alif, Lam, dan Mim. Tiga sahabat seperguruan yang menjalani hidup berbeda sejak Indonesia menjadi negara liberal. Alif teguh sebagai penegak hukum. Lam berkarier sebagai wartawan, memaparkan kebenaran sebagaimana yang dilihatnya. Mim tetap setia di padepokan, meski Indonesia mencurigai mereka yang beragama.

Satu demi satu konflik bergulir. Dalam situasi genting, garis antara kawan dan lawan mengabur, dan mereka bertiga harus terus berjuang demi negara, keluarga, dan sahabat yang mereka sayangi...

***

Novel ini bercerita tentang situasi dan kondisi Indonesia tahun 2034, di mana saat itu Indonesia menjadi negara liberal, pancasila sudah diubah menjadi catursila--sila pertama tentang ketuhanan sudah dihapus. Tidak boleh ada simbol agama di mana pun. Terorisme dijadikan ancaman ketahanan negara, meskipun ternyata ada skenario besar untuk menyerang satu golongan tertentu.

Teror bom yang akhir-akhir ini marak di Jakarta, membuat banyak pihak gempar. Kepolisian melakukan misi untuk mengungkap aksi terorisme ini, media mengusut kebenaran yang tidak terungkap dalam kasus ini. Sementara itu, tuduhan tentang otak di balik kejadian ini dialamatkan ke Pesantren Al Ikhlas.



Alif
Menjulang ke atas, tegak, tanpa memiliki liukan sana-sini. Tegasnya tidak bisa ditawar-tawar. Kukuh dan teguh dalam menjalani hidup. Seperti huruf hijaiyah pertama, Alif adalah pionir. Dia seorang pemimpin. Dan sebagai pemimpin, dia harus berani menegakkan kebenaran. --- Halaman 7


Alif adalah seorang penegak hukum. Karena kepiawaiannya menyelesaikan target operasi kepolisian, dia mendapatkan posisi yang cukup tinggi meskipun di atasnya masih ada petinggi-petinggi lainnya. Alif mempunyai kebiasaan untuk menyantuni istri atau keluarga korban target operasinya. Dengan bantuan Herlam, ia mendapatkan akses informasi tentang keluarga korban tersebut.


"Ini, Lam!" Alif menggenggam foto-foto itu sampai terancam remuk. "Ini yang bikin gue tetap waras! Ini yang ngejaga gua supaya tetap punya ini...!" Alif menunjuk-nunjuk dadanya. --- Halaman 47

Suatu saat, dia menemukan sebuah fakta bahwa keluarga salah satu korban ternyata adalah Laras, mantan kekasihnya tiba-tiba saja menghilang dua belas tahun lamanya. Ternyata, perasaan yang dulu masih tetap ada. Banyak hal yang belum selesai.

Alif mendapatkan sebuah pesan untuk menemui Laras di suatu tempat, Candi Cafe, tempat Laras bekerja sebagai pramusaji. Di sana, Alif mendapati sekelompok orang berpakaian seperti santri yang ditolak masuk ke dalam kafe tersebut. "NO RELIGIOUS TALKS, NO RELIGOUS OUTFITS." Begitu tulisan peringatan di kafe itu. Namun, sesuatu tidak terduga terjadi, bom meledak di tempat itu.


Alif ditugaskan untuk menyelidiki kasus itu.



Lam

Huruf hijaiiyah Lam membentuk kurva, melengkung. Dia tetap tegak, namun dia luwes. Dia fleksibel. Lam menunjukan seseorang tetap bisa memegang prinsip sekaligus baik hati dan pemurah pada sesama. --- Halaman 87


Herlam adalah seorang wartawan yang idealis. Herlam memiliki seorang istri bernama Gendis dan anak SD yang bernama Gilang. Anaknya yang cerdas mewarisi bakat d bidang IT yang diajarkan oleh Herlam.

Meskipun negara ini menganut paham liberalis, yang mengedepankan kebebasan, namun tidak ada yang namanya kebebasan dalam beragama. Banyak hal yang berhubungan dengan dunia jurnalisme yang seolah "diatur" oleh kepentingan tertentu. Banyak kasus yang ingin ditangani secara objektif oleh Herlam, namun ketika adaberita-berita yang sensitif, Herlam justru ditugaskan untuk meliput berita di daerah.


Saat kejadian pemboman terjadi, pihak kepolisian membuat press release yang terkesan terburu-buru, tanpa ada penelitian lebih lanjut. Mereka menyatakan bahwa Pondok Pesantren Al-Ikhlas adalah otak dibalik serangan ini, karena ditemukan parfum yang menjadi ciri khas pesantren itu.


Herlam memiliki kecurigaan tentang kasus ini, dan diam-diam ia menyelidikinya sendiri.



Mim
Mim, huruf hijaiyah yang membentuk lingkaran. Menandakan kesempurnaan. Manusia bisa dikatakan mendekati sempurna kalau dia menerima dirinya sebagai insan yang tunduk di hadapan Tuhannya, kalau dia ikhlas hidup dan matinya hanya untuk Allah semata, kalau yang dia cari dalam hidupnya adalah keadaan berpulang pada-Nya dalam keadaan husnul khotimah. --- Halaman 143

Berbeda dengan kedua kawannya yang lain yang memilih karir di luar pondok, Mimbo bertekad untuk meneruskan perjuangannya di pondok pesantren yang membesarkannya sewaktu kecil.

Di tengah prasangka yang negatif terhadap agama terutama Islam, kehadiran pondok pesantren ini menjadi ancaman bagi orang-orang yang mempunyai kepentingan. Mimbo membantu KH Mukhlis yang merupakan pimpinan pondok pesantren ini. Di sini, mereka tidak hanya belajar agama saja, namun juga beladiri. Di tempat ini pula dulunya Alif, Lam, dan Mim dibesarkan dan belajar banyak hal. 


Peristiwa pemboman yang terjadi di Jakarta akhir-akhir ini dialamatkan pada pesantren ini sebagai pihak yang bertanggung jawab.


Sampai di satu masa, ketiganya yang merupakan kawan, dihadapkan pada posisi sebagai lawan.



***

Saya teringat dengan sebuah pertanyaan di buku Bulan Terbelah di Langit Amerika; Would the world be better without Islam? Di novel ini, mungkin akan muncul pemahaman yang sama meskipun dalam lingkup yang berbeda; Apa yang terjadi dengan Indonesia tanpa agama?

Sebuah penggambaran distopia futuristik yang mencengangkan, karena deskripsi yang ada di novel ini melekat sekali dengan keadaan Indonesia. Dan, mau tidak mau, saya harus mengakui bahwa ada banyak hal yang terjadi saat ini, yang mungkin saja akan terjadi sepuluh-dua puluh tahun ke depan. Miris, benar-benar miris pokoknya. 


Jadi, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apabila sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa" dihapuskan dan pancasila hanya menjadi catursila? Indonesia akan menjadi negara liberal. Semua simbol agama dihapuskan, tidak ada lagi yang boleh berbangga diri dengan atribut agama yang dikenakan. Tidak boleh berhijab, tidak boleh mengenakan kalung salib (untuk umat Kristiani). Banyak rumah ibadah yang beralih fungsi menjadi gudang. Ini sebenarnya bukan hal yang baru. Saya jadi teringat berita yang lumayan marak beberapa waktu lalu di Perancis, atau kisah pelarangan hijab di Turki sebelum era Erdogan berkuasa. Saya memang lemah dalam hal politik atau berita luar negeri, tapi cukup mengetahui berita-berita itu di permukaannya saja. Membayangkan hal tersebut terjadi di Indonesia rasanya..., naudzubillah, semoga tidak terjadi.


Novel ini membuat imajinasi berkelana untuk membayangkan bagaimana jadinya jika itu memang benar-benar terjadi. Sekarang saja, banyak tanda-tanda yang mengarah ke sana. Misalnya tentang media yang digunakan pihak tertentu untuk melancarkan propaganda, bias terjadi untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah, dan beberapa peristiwa (terorisme yang dialamatkan kepada Islam, pelarangan hijab, atau upaya menggagalkan perda syariah di wilayah-wilayah tertentu). Serem banget ya Allah. 


Dan saya juga penasaran pada akhirnya, mengapa film ini begitu cepat turun layar di bioskop-bioskop Indonesia. Apakah benar karena sepinya peminat atau....


Sebenarnya novel ini saya beri rating 3,5. Tapi karena saya ingin banyak orang membaca dan tertarik dengan buku ini, jadi saya bulatkan bintangnya ke atas.


The Broker

Judul : The Broker
Penulis : John Grisham
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 600 Halaman
ISBN : 9789792227031
Rating : 4 dari 5 


Blurb:

Pada jam-jam terakhirnya di Oval Office, Presiden yang sudah lengser memberikan pengampunan hukuman yang kontroversial kepada Joel Backman, seorang power broker yang telah menghabiskan enam tahun terakhir dalam penjara federal. Backman, pada masa jayanya, diduga telah mendapatkan teknologi rahasia sistem satelit pengintai yang canggih, yang tak diketahui siapa pemiliknya.

Diam-diam, Backman diselundupkan ke luar negeri, diberi nama baru, identitas baru, dan tempat tinggal baru di Italia. Rencananya, bila Backman sudah mapan dalam kehidupan barunya, CIA akan membocorkan keberadaannya kepada pihak-pihak yang memburunya: Israel, Rusia, Cina, dan Arab Saudi. Kemudian, CIA tinggal ongkang-ongkang, menonton siapa yang akan membunuh Joel Backman terlebih dulu dan dengan demikian mengetahui siapa pemilik sistem satelit itu.

Joel Backman, si umpan, harus lari menyelamatkan diri ke seluruh penjuru Italia, membawa serta rahasia teknologi intelijen paling canggih dalam genggamannya.

***

Kau membawa sebagian masa lalu bersamamu, tak peduli sepahit apa kenangan itu. --- Halaman 99

***

Joel Backman, pada masa kejayaannya, dikenal dengan julukan Sang Broker, karena pekerjaannya sebagai pengacara dengan kemampuan perantara kepada pihak-pihak penting di negaranya, Washington D.C.. Namun insiden terjadi, saat dirinya memfasilitasi tiga orang pemuda dengan kemampuan di atas rata-ratanya yang menangkap pergerakan satelit Neptunus. Proyek yang dinamakan JAM ini disinyalir bernilai miliaran dolar.

Semua orang yang terlibat dalam proyek itu tewas secara misterius, sementara Backman mengambil posisi aman dengan menyelamatkan dirinya dengan mengaku sebagai tersangka. Ia dikenakan hukuman 20 tahun penjara. Semua yang berhubungan dengan dirinya--firma hukum serta kehidupan anaknya--hancur berantakan karena pengakuan itu.

Selang enam tahun kemudian, Presiden Morgan, beberapa jam sebelum masa jabatannya berakhir, mengambil langkah tidak terduga dengan memberikan pengampunan kepada beberapa orang terpidana, salah satunya adalah Backman. Pengampunan pada pria itu sebenarnya atas desakan CIA, yang berniat menjadikan Backman sebagai umpan agar mereka dapat menemukan siapakah dalang di balik kepemilikan satelit tersebut, serta pihak mana saja yang berkepentingan di sini.

Backman dipindahkan ke Italia, diberi identitas baru sebagai Marco Larezzi. Agen lapangan CIA memantau pergerakan Backman setiap waktu. Dia juga diberikan kursus privat bahasa Italia sebelum pada akhirnya dilepas sendirian. Backman menjalani kehidupannya dengan kontrol ketat, membuatnya tidak bisa berkutik atau bahkan meminta pertolongan dari pihak luar. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sebuah instruksi agar ia seminimalisir mungkin meninggalkan jejak.

Ketika saatnya tiba, pihak CIA akan memberikan bocoran dan kisikan pada berbagai pihak, tentang tempat keberadaan Backman. Lalu mereka akan menunggu, siapa yang akan membunuh Backman sehingga akan terungkap tentang rahasia intelijen negara tersebut.

***

The Broker adalah sebuah novel keren dengan penulisan dan plot yang rapi. Ini adalah novel kedua dari John Grisham yang saya baca setelah The Runaway Jury. Jika di novel sebelumnya nuansa hukum dan persidangan begitu kental, The Broker lebih mengusung cerita tentang spionase dan upaya pelarian seorang pengacara merangkap sebagai pihak penghubung kepada orang-orang penting di negaranya. Novel ini sebenarnya tidak begitu terasa thriller-nya tapi benar-benar membuai pembaca untuk menikmati cerita petualangan Joel Backman dalam proses "menghilang"-nya. 

Pada dua ratusan halaman di awal, John Grisham benar-benar membangun plot utama dengan rapi, terkesan minim konflik, namun tidak membosankan. Justru pembaca akan dihadapkan dengan sebuah cerita di balik pelarian Backman, dengan kehidupannya yang didominasi dengan aktivitas belajar bahasa serta berjalan kaki menyusuri kota. Di sini, pembaca dimanjakan dengan penyajian informasi serta deskripsi tentang kota Bologna yang disampaikan melalui sudut pandang seorang pemandu turis--yaitu Francesca, salah satu guru privat Backman. Jadi menambah pengetahuan pembaca tentang tempat baru lagi di daratan Eropa yang cantik dan ramah.

Ceritanya tidak monoton, karena selain untuk membuka satu demi satu informasi terkait plot utama, kisah lainnya pun patut disimak juga. Seperti misalnya, bagaimana kebiasaan orang-orang Italia, tentang jadwal minum cappuccino yang biasanya tidak lagi dipesan setelah jam setengah sebelas pagi, namun kalau mau minum espresso bisa kapan saja. Tentang bahasa-bahasa Italia sederhana seperti buon giorno yang artinya apa kabar, grazie artinya terima kasih, dan masih banyak lagi.

Satu hal yang membuat saya takjub adalah bagaimana Backman membangun strategi untuk menghubungi pihak luar. Benar-benar tidak pernah diprediksi sebelumnya! Keren.

Empat bintang saya berikan untuk novel ini.



The Runaway Jury

Judul : Juri Pilihan (The Runaway Jury)
Pengarang : John Grisham
Penerjemah : Hidayat Saleh
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 658 halaman
ISBN : 9789792261851
Rating : 4 dari 5





Di Biloxi, Missisipi, perusahaan rokok terkemuka digugat oleh seorang janda bernama Celeste Wood, dan pengacara terkenalnya Wendall Rohr. Pynex merupakan satu dari empat perusahaan rokok terkenal, The Big Four, yang digugat oleh janda tersebut atas kematian suaminya akibat mengonsumsi rokok. Pihak tergugat mengerahkan tim pengacaranya yang biasa menangani kasus serupa. Selain itu, ada pula orang-orang di balik layar yang turut menggerakkan dan mengarahkan kasus ini supaya mereka dapat memenangkan persidangan. Tidak hanya kedua belah pihak itu saja yang bersengketa, perusahaan-perusahaan besar lainnya, dan para pihak lain ikut menggantungkan nasib mereka atas hasil persidangan ini.

Di pihak tergugat, mereka menyewa Cable sebagai pengacara, dan membayar Rankin Fitch, selaku orang di belakang layar yang mengatur jalannya persidangan di luar tempat sidang dengan akal bulusnya yang licik. Kedua belah pihak memasang strategi terutama dalam hal memilih para juri yang sekiranya dapat mereka pengaruhi dalam pengambilan keputusan.

Dalam pengadilan Amerika, sebagai pengambil keputusan atas hasil persidangan adalah 12 juri warga sipil yang mendaftar sebagai juri, terlibat dalam proses persidangan hingga pengambilan putusan. Dari ratusan orang, mereka menyaring melewati beberapa tahap, hingga pada 15 orang juri, 12 orang juri tetap, dan 3 orang cadangan. Kedua belah pihak yang bersengketa menganggarkan dana untuk penyelidikan juri ini, terkait dengan kehidupan pribadi mereka, hingga ke hal-hal yang rahasia yang itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengambilan keputusan.

Adalah Nicholas Easter, salah satu juri terpilih. Seseorang yang mengaku pernah belajar hukum di universitas, dan kini bekerja sebagai penjaga komputer. Nicholas berhasil mencuri perhatian juri-juri lain karena pengetahuannya seputar hukum dan persidangan. Ia juga pintar mengambil hati juri lainnya. Namun bagi kedua belah pihak, Nicholas adalah sosok misterius yang tidak terlacak riwayat hidupnya, bahkan oleh Fitch yang memang pekerjaannya adalah mengintai para juri. Kehadiran Nicholas masih saja menjadi misteri, namun tetap tidak terbaca; di pihak manakah ia berada? Membela penggugat, ataukah sebaliknya.

Misteri tidak hanya sampai di situ saja. Ada sosok lain, seorang wanita di luar sana yang mengaku memiliki kendali atas jalannya persidangan. Wanita itu mengaku bernama Marlee. Mula-mula ia menghubungi Fitch untuk membeberkan sebuah fakta yang mengejutkan. Dimulai dengan ia secara jelas memberitahukan informasi baju apa yang Nicholas kenakan pada persidangan esok hari, atau buku apa yang dibawah Jerry saat memasuki ruang sidang. Fitch terkejut dengan kebenaran fakta tersebut dan penasaran pada sosok wanita misterius tersebut.

Selanjutnya apa yang terjadi pada persidangan itu adalah sesuatu yang tidak lazim terjadi pada persidangan-persidangan sebelumnya. Para juri dikarantina, satu per satu juri cadangan maju akibat beberapa juri utama gugur dalam persidangan. Marlee mengklaim sebagai pihak yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Siapakah Marlee? Untuk apa dia melakukan hal ini? Apa hubungannya dengan Nicholas? Dan apa motifnya? Semua dikisahkan dengan menarik, tidak bosan, sampai detik terakhir bahkan sulit ditebak untuk pihak mana Nicholas berada dalam persidangan tersebut.



Seru, keren, menarik. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang fakta tentang bahaya rokok, bagaimana jalannya persidangan di Amerika, juga banyak hal yang disajikan dengan begitu menarik. Ini buku John Grisham pertama yang saya baca, bertemakan seputar pengadilan dan industri rokok. Benar-benar menambah pengetahuan seputar itu. Twistnya nggak bisa ditebak, endingnya juga bikin penasaran bahkan di detik-detik terakhir. Seru sih, nggak nyangka aja kalau ternyata otak di balik semua perencanaan ini adalah (nggak mau spoiler).

Digital Fortress



Judul : Benteng Digital (Digital Fortress)
Pengarang : Dan Brown
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
ISBN: 9791600910
Tebal : 600 halaman
Rating : 4 dari 5



"Quis custodiet ipsos custodes"
Siapa yang akan mengawasi sang pengawas?




Susan Fletcher adalah seorang wanita muda berusia 38 tahun, seorang kriptografer dan menduduki posisi penting di NSA (National Security Agency), yaitu lembaga paling rahasia dan bernilai miliaran dolar, menangani pemecahan kode-kode untuk melindungi data-data viral dari para hacker dan penyusup atau serangan-serangan virus. Tunangannya, David Becker adalah seorang profesor di Universitas Georgetown, ahli bahasa asing. Awal pertemuan mereka adalah saat NSA meminta bantuannya untuk memecahkan sandi yang diduga berbahasa Mandarin. Keberadaan seorang David Becker yang mampu menguasai berbagai bahasa, membantu pekerjaan Susan dalam memecahkan kode.

Namun itu bukan satu-satunya pekerjaan yang dituntaskan mereka bersama.

Dimulai dengan NSA yang telah menjalankan proyek TRANSLTR yang semula dianggap tidak akan pernah berhasil, namun nyatanya, mesin pemecah kode universal itu telah lahir. Semua kode, rahasia, sandi, bisa terungkap dengan mudah oleh mesin tersebut. Penyadapan, komunikasi militer, rahasia-rahasia perang, kode pelepasa roket, bisa dengan mudah dilacak dengan menggunakan alat ini. Dengan kata lain, tidak ada rahasia di dunia maya. Ensei Tankado, seorang pria Jepang menyatakan ketidaksetujuannya dengan program ini, lantas membuat virus untuk menghentikan TRANSLTR. Tankado menyusupkan virus ke dalam TRANSLTR yang menyebabkan mesin tersebut berhenti beroperasi.

Trevor Strathmore adalah pimpinan Susan, wakil direktur NSA, yang kemudian memanggil Susan pada hari liburnya untuk menyelesaikan masalah ini. Dikatakan bahwa, Ensei Tankado telah menyusupkan virus pada TRANSLTR dan belum dapat dipecahkan. Malang bagi Tankado yang tengah berada di Spanyol, ternyata dia dibunuh oleh seseorang misterius. Tankado meninggalkan kunci sandi pemecah virusnya pada cincin yang dikenakannya dan pada seseorang di mana ia berniat untuk menjualnya. Untuk menghack email tersebutlah keberadaan Susan dibutuhkan saat ini. Sementara, Strathmore tidak mau tinggal diam begitu saja, ia pun mengutus David Becker ke Spanyol sebagai orang sipil yang tidak berhubungan dengan NSA untuk mengambil cincin tersebut pada barang-barang yang ditinggalkan Tankado di Spanyol. Selain itu, karena Becker menguasai banyak bahasa, diharapkan tidak mengalami kesulitan untuk melakuan tugas itu.

Kemudian cerita terbagi menjadi dua, yakni petualangan David Becker mencari cincin itu, juga situasi di NSA yang berlangsung tidak sesuai dengan dugaan dan rencana awal. Cincin tersebut berpindah tangan berkali-kali. Awalnya, cincin itu diberikan kepada seorang lelaki tua yang menolong Tankado, lalu ternyata menurut keterangan orang itu cincinnya tidak ada sama dia, dan yang mengambil adalah seorang pelacur profesional berambut merah yang sedang bersama dengan pelanggannya yang orang Jerman. Tapi lantas diberikan kepada seorang gadis punk. Begitulah.... Becker menelusuri satu per satu. Namun tanpa diduga, keberadaan Becker di Spanyol diawasi oleh orang lain lagi. Dan ternyata, semua orang yang Becker temui dan berkaitan dengan cincin itu langsung dimusnahkan oleh seorang pembunuh bayaran tersebut.

Sementara di NSA, banyak sekali kejadian yang tidak terduga. Keterlibatan orang-orang di dalam sana lainnya juga membumbui kisah ini. Terlebih lagi, ada dua pembunuhan misterius di dalam kantornya. Pelaku sebenarnya belum terungkap (meskipun di tengah cerita saya sih sudah menebaknya :p dan ternyata tebakan saya benar), dan satu per satu kebenaran terurai. Cukup mengejutkan, dan menegangkan. Pembaca dibawa terlarut dalam cerita dan misterinya. Novel setebal 600 halaman benar-benar tidak terasa.


Selain bisa menebak otak di balik kekacauan yang terjadi, saya juga berhasil menebak kata sandinya :D hahaha, seru aja. Padahal kalau biasanya baca novel dan ceritanya tertebak, saya kurang suka. Tapi ini Dan Brown, yang jalan pikirannya tidak biasa diketahui, dan novelnya benar-benar kaya dengan plot twist dengan jalan cerita yang sangat menarik.

Digital Fortress, menambah pengetahuan tentang kode-kode, sandi, (bukan #kode buat ngasih kode ke orang lain yang frekuensinya beda sama kita itu lho,) khas Dan Brown sekali. Dan pengetahuan tentang ini, cukup buat bekal untuk berselancar di dunia maya. Tapi saya cenderung percaya kalau di luar sana, ada yang sedang mengamati komunikasi kita di dunia maya. Yah, tapi toh, mereka juga tidak akan repot-repot menyadap atau kepo sama aktivitas kita ini lah ya. Apa juga isi emailnya, cuma notif facebook sama twitter hihihi. Tapi dengan itu, membuat kita bisa lebih waspada saja, bahwa segala tindak-tanduk kita ada yang mengawasi. Dan jangan lupa, di luar itu, ada teknologi super maha canggih yang ditetapkan Allah SWT untuk mengawasi kita kan yaa.... :)

Bintang 4 rasanya pas untuk diberikan pada novel ini.

Inferno

 

 Judul : Inferno
Pengarang : Dan Brown
ISBN : 9780385537858
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 639 halaman
Rating : 4 dari 5


(Mysteri, Thriller, Adventure)A book set somewhere you've always wanted to visit (Challenge bulan Juli) | A book with more than 500 pages | A mystery or a thrillerA book by an author you've never read before 
 "... Mengasihani diri sendiri adalah impuls yang jarang ditoleransi oleh Sienna, tapi kini, ketika air mata menggenang dari tempat yang jauh di dalam hatinya, dia tahu dirinya tidak punya pilihan, kecuali membiarkan air mata itu keluar." [Hal 63]

"Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan bunglah itu." [Hal 402]


Inferno, Robert Langdon berpetualang kembali dengan kemampuan simbologinya yang menakjubkan.

Berada di Florence, Italia, dengan kondisi ingatannya yang mengalami amnesia jangka pendek, Robert Langdon dihadapkan dengan kenyataan bahwa ada seseorang yang berniat membunuhnya. Dengan bantuan seorang dokter muda, Sienna Brooks, Robert Langdon berhasil melarikan diri dari sekelompok orang tidak dikenali tersebut. Sejak itu, petualangannya dimulai.

Berbekal dengan ingatan samar tentang bayang-bayang seorang perempuan tua yang memintanya untuk segera mencari dan menemukan sesuatu, juga sebuah proyektor portabel berkuncikan sidik jarinya, Robert Langdon memacu dirinya untuk berhasil menemukan apa yang sebenarnya ia cari dan yang terjadi selama ingatannya terhapus, melalui jejak-jejak yang ditinggalkan di puisi seniman ternama dunia, Inferno-nya Dante.

Pencarian itu dimulai dengan kondisi keterbatasan karena sekelompok orang sedang berusaha mengejarnya, membuat Robert dan Sienna menyelusuri bangunan megah yang diciptakan oleh seniman besar Vasari. Memasuki lorong-lorong yang tidak diketahui orang lain, untuk menemukan satu petunjuk yang pentik, yaitu topeng Dante.

Setelah berhasil menemukan tempat itu, rupanya lagi-lagi Robert Langdon dikejutkan bahwa ternyata topeng itu telah dicuri. Dan lebih mengejutkan lagi, setelah melihat rekaman tempat kejadian, bahwa seseorang yang terekam dalam topeng itu adalah Robert sendiri. Lalu bergerak ke petunjuk yang diberikan oleh seseorang yang sama-sama memiliki minat mengenai Inferno-Dante, membawa Robert Langdon menemukan di mana tempat topeng itu disembunyikan. Tidak sampai di situ, petunjuk lain yang muncul dari si topeng membawa mereka lagi menelusuri negeri yang berbeda dengan tempat di mana mereka berada, Venesia.

Ini kalau dilanjutkan spoilernya gila-gilaan. Intinya, ternyata setelah menjelajah kota Venesia, rupanya mereka ini salah memprediksi tempat, dan berlanjutlah petualangan ke negeri yang sama sekali di luar predikisi, yakni Turki. Kya banget lah, apalagi waktu mnjelaskan tentang tempat yang pengin banget saya kunjungi, Hagia Sophia.

Ceritanya ini mengecoh banget, serius deh. Di awal alurnya memang lambat tapi di akhir benar-benar membuat penasaran karena cerita berputar 180 derajat, tidak bisa diprediksi sebelumnya, dan benar-benar mengejutkan.

Sienna, ah Sienna...

Tapi endingnya nanggung banget, ibarat kata ... sudah sejauh ini? Begitu ternyata? Kurang nendang, meskipun memang meleset dari apa yang sudah diprediksikan. Sedikit kecewa, tapi overall buku ini menakjubkan. Baca 600an sekian halaman ngggak terasa sama sekali.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)