Showing posts with label Kepustakaan Populer Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Kepustakaan Populer Gramedia. Show all posts

Confess

Judul : Confess
Penulis : Colleen Hoover
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 376 Halaman
Cetakan Pertama, Mei 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, Maret 2015) 
ISBN : 9786020328010
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Pada umur 21 tahun, Auburn Reed sudah kehilangan segalanya. Ingin memperjuangkan kembali hidupnya yang berantakan, Auburn pun menetapkan tujuan agar tak menyisakan ruang bagi kesalahan. Namun ketika masuk ke galeri seni di Dallas untuk mencari pekerjaan, Ia malah jatuh hati pada sang seniman misterius, Owen Gentry.

Sekali ini saja, Auburn mengambil kesempatan dengan menyerahkan hatinya, hanya untuk mengetahui Owen menyembunyikan rahasia besar; masa lalu yang mengancam akan menenggelamkan seluruh usaha Auburn selama ini.

Demi menyelamatkan hubungan mereka, Owen hanya perlu mengaku. Namun, pengakuan tak selalu lebih baik, terutama jika kenyataan hanya akan menyakiti lebih banyak pihak. 

***

Auburn Reed, mengalami hari yang berat semenjak kepindahannya ke Dallas. Ia terpaksa pindah dari Texas, memulai kehidupan baru di sana. Ia mendapatkan kontrakan dan juga pekerjaan. Namun, ia membutuhkan uang untuk menyewa pengacara dan memenangkan sebuah tuntutan.

Auburn menemukan satu lowongan pekerjaan aneh yang "menjebaknya" dalam suatu kehidupan baru. Si seniman misterius, Owen Gentry, menawarkannya pekerjaan selama satu malam itu saja sebagai pegawai galeri seni miliknya yang tidak buka setiap saat. Sementara, Owen, mengalami keterkejutan karena bertemu lagi dengan Auburn. Owen adalah seorang pelukis. Di galerinya, ia menjual lukisan hasil dari pengakuan orang. Ia meletakkan kotak pengakuan di galeri miliknya, lalu melukis dengan menggunakan kalimat pengakuan tersebut sebagai inspirasi.

Tidak hanya tertarik dengan konsep pengakuan dalam galeri Owen, Auburn ternyata perlahan-lahan masuk ke dalam kehidupan pria dengan nama tengah sama dengannya itu; Mason. Pertemuan demi pertemuan yang terjalin oleh mereka, membuat Auburn terpaksa membuka hatinya kembali untuk Owen, setelah bertahun-tahun ia menutupnya selepas meninggalnya Adam, cinta pertama Auburn.

Dan ketika mereka sudah semakin dekat, lapisan-lapisan rahasia terkuak dalam diri mereka menjadikan sebuah tantangan besar menyangkut masa depan kisah mereka berdua.

***

Pengakuan yang Anda baca di dalam novel ini pengakuan sungguhan, dikirimkan tanpa nama oleh para pembaca. Buku ini didedikasikan untuk kalian semua yang menemukan keberanian untuk membagi pengakuan-pengakuan.

Setelah membaca 9 November, saya memutuskan untuk membaca novel-novel karya Colleen Hoover lainnya. Dan karena ada beberapa judul novel Hoover yang berseri, saya memilih membaca Confess terlebih dahulu, yang berdiri sendiri. Kesannya, masih sama seperti kesan saya terhadap Colleen Hoover sebelumnya, meskipun saya masih terpesona dengan plot twist 9 November yang begitu fantastis (dan buku ini, meskipun plotnya tidak mudah tertebak juga, tapi belum sefantastis 9 November). 

Oke, saya akan berhenti untuk membanding-bandingkan lagi.

Bab awal buku ini saya rasakan cukup membosankan, bahkan perasaan itu cukup lama bertahan hingga di seperempat bagian. Namun, begitu plot twist-nya terungkap, ketertarikan saya mulai muncul lagi. Dan hingga buku ini berakhir, saya masih bisa menikmatinya. 

Confess menyajikan premis yang unik dan lain dari biasanya: tentang sebuah karya yang lahir dari pengakuan-pengakuan anonim. Jika dikira kehadiran pengakuan itu hanya sekadar untuk menemani jalan cerita, nyatanya tidak demikian. Pengakuan-pengakuan itu bahkan muncul jauh sebelum kisah ini bermula, dan menemani pembaca menyingkap isi cerita ini yang masih tersembunyi.

Untuk karakternya sendiri, saya bisa merasakan bagaimana karakter ini terbangun dan berjalan memengaruhi cerita. Saya suka sosok Auburn yang mempertahakan haknya yang tercerabut. Saya suka Owen dan cerita tentang hidupnya. Saya suka bagaimana interaksi Auburn dan Owen yang manis, meskipun kisah yang mereka hadapi tidak selamanya manis dan menyenangkan.

Adegan dewasa masih ada, meskipun tidak sebanyak dan seekstrem 9 November dalam penggambarannya. Jadi, masih oke. Mau di-skip pun, tidak mengganggu atau kehilangan esensi cerita :) Anyway, ilustrasinya cakep-cakep.



Candice

Judul : Candice
Penulis : Voltaire
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 168 Halaman
Cetakan Pertama, November 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, 1759) 
ISBN : 9786024241605
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Candide, dongeng filsafat satir yang ditulis oleh Voltaire, bercerita tentang seorang pemuda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bertualang keliling dunia untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimistis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifatnya itu didapat dari gurunya, Pangloss. Melalui novel ini, secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan kekejaman manusialah yang membuat dunia ini menjadi tidak sempurna.

***

Candice adalah seorang pemuda yang tinggal di kediaman Baron Thunder-ten-tronckh. Tidak diketahui secara pasti siapakah Candice ini, para pelayan menduga ia adalah anak saudara sang Baron yang perempuan. Nyonya besar pemilik tempat ini memiliki seorang putri yang tinggi langsing, cantik, dan menggiurkan bernama Cunegonde. Bersama seorang Tuan Guru bernama Pangloss, Candice belajar banyak hal tentang metafisika-teologi-kosmologi-konyologi.

Suatu hari Cunegonde melihat Tuan Guru Pangloss yang tengah memberikan pelajaran "praktikum fisika" kepada pelayan kamar tidur ibunya. Setelah tidak sengaja mengamati itu, ia pulang dengan perasaan gelisah, asyik berpikir, sambil melamun penuh keinginan untuk menjadi orang berilmu. Ia bertemu dengan Candice dan wajahnya memerah. Dengan lugunya mereka berciuman, dan malang bagi Candice, Baron Thunder-ten-tronckh melihatnya dan membuat Candice terusir dari istana. Maka, dimulailah perjalanan panjang pemuda itu berkeliling dunia.

Pertama, ia mendapatakan perlakuan tidak menyenangkan dari tentara Bulgaria. Setelah mendapatkan pengobatan atas siksaan mereka, Candice melarikan diri. Ia menemukan seorang laki-laki yang tidak pernah dibaptis bernama Jacques yang berbaik hati padanya. Candice bertemu dengan peminta-minta setengah buta dengan wajah penuh bisul dan hidung yang borok. Mengejutkan, ternyata orang yang ditemuinya itu adalah guru filsafat Candice, Pangloss. Atas bujukan Candice, Jacques melakukan kebaikannya lagi bahkan menyembuhkan Pangloss dari penyakit kelamin yang didapatnya dari pelayan di istana sang baron. Dari kisah Pangloss, Candice mendapatkan informasi tentang serangan yang dilakukan tentara Bulgaria yang menyebabkan kematian Cunegonde. Candice benar-benar terpukul mendapatkan informasi ini.

Karena urusan dagang, Jacques mengajak kedua ahli filsafat itu untuk pergi ke Lisabon. Topan melanda dalam perjalanan kapal mereka. Layar tersobek, tiang-tiang patah, setengah penumpang lemas karena rasa cemas yang tak terkirakan. Dalam upaya penyelamatan diri, Jacques tenggelam dan tewas. Begitu mendarat, mereka disambut oleh gempa bumi. Benar-benar perjalanan yang bersentuhan dengan maut. Mereka ditangkap oleh orang bijaksana di negeri itu sebagai bahan persembahan untuk menghindari kehancuran total negeri mereka. Begitu hendak dieksekusi, gempa bumi melanda kembali. Candice melarikan diri.

Dalam pelariannya itulah ia menemukan seorang wanita tua yang memiliki masa lalu kelam yang mengantarnya kepada seseorang yang benar-benar tidak ia duga sebelumnya. Cunegonde. Perjalanan demi perjalanan kembali berlangsung, pertemuan dan perpisahan silih berganti, mengukirkan cerita yang tidak pernah terduga. Bertemu dengan manusia yang jatuh hati pada kera, mendarat di El Dorado yang merupakan perlambang surga di dunia, yang pada akhirnya harus ditinggalkan juga. Mengingat manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, dan ada satu hal yang ia kejar di luar sana dan harus ia dapatkan. Bersama Pangloss, Mario (yang ia ambil sebagai teman perjalanan di suatu waktu), Candice menghabiskan segala daya dan upaya untuk mencari sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya. Entah apakah sesuatu itu masih menjadi tujuannya lagi setelah kenyataan menampar dirinya bahwa cita-citanya itu tidak lagi seperti yang ia angankan.

***

Telah dibuktikan, bahwa segala sesuatu tidak bisa lain keadaannya dari sekarang ini. Segala sesuatu diciptakan untuk tujuan tertentu, maka tidak bisa lain tentu tujuan yang terbaik. ---Halaman 3

Berangkat dari ajaran Tuan Guru yang didapatnya saat berdiam di kastel milik sang baron, Candice belajar banyak hal tentang kehidupan. Namun, pemahaman tentang hidup tidak akan bermakna jika seseorang hanya terkungkung pada satu keadaan hidup saja. Seperti Adam dan Hawa yang menjalani takdir terusir dari surga. Jalan yang sama dilalui Candice, bahwa ia terusir dari kediamannya yang nyaman, dengan guru yang senantiasa mengajarkannya teori seputar kehidupan, dan seorang gadis yang dicintainya dengan begitu dalam.

Pengusiran itu membuka jalan baginya, untuk tetap memandang hidup degan penuh optimis, bahkan dalam keadaan yang paling menyedihkan sekalipun. Pengusiran demi pengusiran, keluar dari zona nyaman, membuatnya mempertanyakan kembali apakah ajaran sang guru benar adanya atau justru hanya sekadar teori belaka. Beruntung ia bertemu dengan seseorang yang baik, dan menemukan takdir berkata lain dengan kembali dipersatukan dengan orang-orang tak terduga: gurunya yang sekarat beserta informasi mengejutkan yang menyimpulkan pemahaman lain tentang kehidupan yang tidak selamanya ajek dan konstan.

Makanya, mereka yang beranggapan bahwa segala sesuatu berjalan baik, sesungguhnya tolol sekali. Yang betul adalah: segala sesuatu berjalan sebaik-baiknya. ---Halaman 3

Bahwa hidup adalah perjalanan dari satu keadaan menuju keadaan lainnya membuat Candice terus menapaki bumi yang lain, menerima kehilangan sebagai bagian dari pahit getirnya kehidupan. Tentang pertemuan dengan manusia berbeda pemikiran serta pemahaman, membuatnya memiliki paradigma baru terhadap pemikiran dan kehidupan. Dan ketika kehilangan demi kehilangan menghimpitnya, jalan yang harus ia tempuh adalah berpindah, dan mencari kebahagiaan baru di tempat selanjutnya. Maka beruntunglah ia, ajaran tentang makna kehidupan dan postivisme yang diajarkan tuan guru menemukan jalannya ketika ia kembali dipertemukan dengan kekasih yang begitu dicintainya.

Dan ketika jalan lain menghadang dan memisahkan mereka kembali, sebuah cita-cita untuk meraih impian mengantarkannya pada sebuah perjalanan baru menguras emosi dan harta yang ia punya.

Pertemuan demi pertemuan dengan orang-orang yang mengajarkannya tentang kehidupan, menjadikan pemahaman Candice tentang kemalangan hidup berada pada level yang lebih baik lagi. Bahwa ketika kita merasa sukar dengan nasib buruk  yang kita miliki, di luar sana ada banyak orang yang keadaannya jauh lebih malang daripada yang kita alami. Dan betapa seseorang ingin mengakhirinya dengan jalan pintas, namun kesadaran tentang hakikat kehidupan membuat manusia menempuh jalan dengan menjalani segalanya dengan jiwa ksatria, dan optimisme di dada.

Seratus kali saya tergoda untuk membunuh diri, namun masih cinta kehidupan. Kelemahan konyol ini mungkin merupakan salah satu cacat kita terbesar. Adakah yang lebih tolol dari memanggul suatu beban terus-menerus, padahal kita selalu ingin mencampakkannya di tanah? ---Halaman 51

"Optimisme adalah kegilaan untuk mempertahankan pendapat bahwa segalanya berjalan baik, padahal kenyataan adalah kebalikannya." ---Halaman 87

***

Voltaire adalah seorang pengarang besar Prancis abad ke-18 yang terkenal di samping nama lainnya yang termasyhur zaman itu seperti Montesquieu dan Rousseau. Sebagaimana diketahui, peran pengarang pada abad-abad yang lalu bukan hanya sekadar menghasilkan karya sastra semata, melainkan mengolah sebuah karya yang menjadi landasan hidup serta filsafat yang kemudian dianut oleh seluruh bangsa. Karyanya menghasilkan inspirasi untuk pergolakan besar dalam kehidupan dan sejarah dunia.

Buku ini merupakan buah kritik sosial yang dituliskan oleh Voltaire terhadap banyak hal seputar kehidupan. Ia berbicara melalui karya sastra untuk menyinggung tentang penyalahgunaan agama, kesewenangan penguasa, memperolok roman-roman picisan yang berkembang di zamannya, sindiran terhadap nama besar bangsawan yang membuat mereka seolah lebih angung dari manusia lainnya. Voltaire memerankan diri sebagai penggerak karakternya yang diwakili oleh Candice yang naif dan lugu. Keoptimisan si tokoh dan perjuangan dalam mencapai cita seolah dipermainkan oleh pengarang untuk membuat hidupnya terkesan absurd dan tidak masuk akal. Voltaire berperan besar dalam memainkan kehidupan para tokohnya dengan memasukkan unsur sindiran terhadap pemikiran-pemikiran yang tidak disukainya, dengan menampilkan filsafat hidupnya yang terkandung di sana. 

Meskipun ia memorakporandakan pemikiran lawan dengan memasukkan pemikirannya sendiri, ia menyajikan karya ini dengan baik. Berhasil membawa pembaca larut ke dalam kisahnya dan keabsurdannya, dengan gaya bahasa yang benar-benar lugas. Seperti misalnya saat menggambarkan adegan pingsan, seolah tokohnya tiba-tiba pingsan begitu saja tanpa ada upaya untuk memperhalus penggambaran deskripsinya. Namun kelugasan itu berhasil membuat pembaca merasa ngilu ketika adegan yang diceritakan berupa kekerasan dan peristiwa yang akan berhasil menyayat pembaca, tanpa dibumbui deskripsi berlebihan atau dramatis.

Membaca Candice, membuat pembaca berhasil mengulik isi kepala penulisnya, Voltaire, sang guru filsafat dan salah satu penyair terkemuka di zamannya.

Petualangan Tom Sawyer

Judul : Petualangan Tom Sawyer
Penulis : Mark Twain
Penerjemah : Djokolelono
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 296 Halaman
ISBN : 9786024240349
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Kisah petualangan remaja karangan Mark Twain dengan latar belakang alam bebas di tepi Sungai Mississippi ini merupakan salah satu karya klasik Amerika. Tom yang nakal tinggal di rumah Bibi Polly yang dermawan. Setelah bertengkar dengan sahabatnya, Becky Thatcher, Tom pergi bertualang bersama Huck Finn, temannya. Secara kebetulan keduanya menyaksikan penjahat menusuk seorang dokter hingga meninggal. Si pembunuh menggenggamkan pisau itu di dalam tangan seorang pemabuk. Diselingi pengembaraan dan tingkah polah yang serba nakal dan berani, Tom dan Huck dapat menemukan tempat persembunyian si pembunuh.

***

Keluhan saya dari buku ini adalah terdapat banyak kesalahan pada penulisan. Entah itu typo (yang banyaaak saya temukan), kesalahan penulisan bahasa, penempatan tanda baca, dan ... bahasa terjemahan yang agak aneh. Untuk yang terakhir, sebenarnya ini bukan keluhan besar sih, karena saya dibuat tersenyum dengan pemilihan kata yang "unik" meskipun ada beberapa kata lainnya yang membuat saya mengernyitkan dahi. Contohnya, misalnya penggunaan "masya Allah", "berabe", dan ada beberapa kata yang Indonesia banget dalam dialog (astaga, ini seperti nonton film Korea yang di-dubbing, atau lebih parah lagi, seperti nonton film barat yang di-dubbing dengan bahasa daerah di saluran tv lokal). Lucu sih, tapi aneh. Jadinya, saya pun ikut berekspresi yang sama saat menonton film barat berbahasa Jawa. Dan yang lucu tapi aneh lainnya itu adalah adanya kata "kemalu-maluan" yang mungkin dimaksudkan untuk menyatakan bahwa si tokoh bersikap malu-malu karena suatu hal. Tapi ... kan terdengarnya aneh.

Nah sekarang, sebelum saya melanjutkan, saya ingin bercerita sebentar tentang buku ini. Pertama kali saya membacanya (dulu yang saya baca judulnya "Tom Sawyer Anak Amerika"), kira-kira tahun 2001, yang artinya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, rasanya saya masih kelas 1 SMP. Saat-saat di mana saya lebih sering menunjungi perpustakaan dibandingan tempat mana pun selain kelas sendiri. Pada akhirnya, membaca novel ini sekarang, selang lebih dari satu dekade kemudian, membuat saya sesekali harus mengasah otak untuk mengingat-ingat cerita mana yang benar-benar melekat. Ajaibnya, ada beberapa plot yang saya masih ingat meskipun samar-sama terlupa siapa yang menjadi pelakunya. Dan, plot yang saya ingat itu adanya di bagian akhir (tentang cerita di dalam gua). Walhasil, dari awal sampai mendekati akhir, perasaan saya seperti membaca sebuah cerita baru.


Petualangan Tom Sawyer menceritakan tentang seorang anak kecil yatim piatu bernama Thomas Sawyer yang tinggal dengan bibinya, dan kedua sepupunya: Mary dan Sid. Tom Sawyer adalah anak yang super-duper bandel sehingga terkadang membuat bibinya jengkel. Namun meskipun begitu, pada dasarnya, bibinya tetap menyayangi Tom sama seperti anaknya sendiri. Tom suka mengelabui anak lain karena "kecerdasannya". Misalnya, saat ia dihukum bibinya untuk mengapur tembok, ia berhasil mengubah persepsi tentang "hukuman" menjadi "tantangan" dan "sesuatu yang keren" yang pada ujungnya dapat ia ambil manfaatnya karena berhasil mengelabui anak-anak untuk menukar barang berharga mereka dengan pekerjaan mengapur tembok yang keren itu.

Tom berteman dengan seorang anak gelandangan bernama Huckleberry Finn, di mana mereka banyak melakukan hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh anak-anak seusia mereka pada umumnya. Suatu hari mereka tengah malam berada di kuburan untuk melakukan sebuah misi. Tapi malangnya, mereka menjadi saksi bisu sebuah pembunuhan yang ternyata pembunuh aslinya memutarbalikkan fakta yang sebenarnya. Namun, Tom dan Huck sudah berjanji demi keselamatan mereka sendiri untuk tidak mengatakan pada siapa pun hal yang sebenarnya terjadi.

Tom juga mempunyai seseorang yang ditaksirnya, bernama Becky Tatcher, seorang gadis cantik anak dari Hakim Tatcher. Hubungan Tom dan Becky sendiri tidak begitu mulus, karena sifat Tom yang begini sementara Becky begitu. Suatu hari, karena Tom merasa kecewa dengan Becky, dan juga merasa sedih karena banyak hal dalam hidupnya. Ia mengajak dua temannya untuk pergi sejauh-jauhnya dari rumah. Seluruh kampung geger, mereka bertiga dikabarkan meninggal dunia.

Bagaimana nasib Tom dan teman-temannya selanjutnya? Atau bagaimana dengan si Indian yang merupakan pelaku pembunuhan yang sebenarnya? Novel ini begitu menarik untuk disimak. Tapi, harap bersabar karena kelakuan ajaib Tom sepanjang cerita ini ya, hahaha. 

Dengan membaca buku ini, saya jadi merasa miris dengan anak-anak era sekarang yang taman bermainnya hanya seputar gadget dan game saja, padahal, banyak yang bisa dilakukan oleh mereka di luar sana, bersama dengan teman-teman, bermain-main dan berpetualang. Seperti yang dikatakan oleh Tom Sawyer ini, rasanya juga berlaku bagi zaman sekarang (padahal zaman Tom Sawyer ini sudah puluhan tahun berlalu dari saat ini).


Dalam hati mereka bertanya-tanya apa yang bisa diberikan oleh peradaban modern untuk menggantikan zaman yang hilang itu. Mereka berkata, lebih baik jadi anak buah Robin Hood setahun daripada menjadi presiden Amerika Serikat seumur hidup. ---halaman 74

Aksara Amananunna

Judul : Aksara Amananunna
Penulis : Rio Johan
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 240 Halaman
ISBN : 9789799107046
Rating : 2 dari 5 




Aksara Amananunna berisi dua belas cerita dengan latar dan genre yang berbeda-beda, out of the box--harus saya akui, dan menarik. Membaca ini seperti berada dalam roller coaster, ada kalanya naik lalu melesat turun secara mengejutkan, memacu adrenalin, dan menantang. Karena di setiap ceritanya menyimpan plot twist yang baru terbongkar di paragraf-paragraf akhir, maka untuk menuju ke cerita selanjutnya harus ada jeda untuk menormalkan kembali emosi pembacanya, termasuk saya.

Membaca buku ini seperti disajikan satu makanan komplit dengan dua belas kisah yang sangat berbeda. Bagaikan berjalan-jalan melintasi satu genre ke genre yang lain, mengupas hal-hal tabu dari satu tema ke tema lain, dari latar belakang yang tidak normal. Kita akan dibawa berkelana ke cerita distopia, diantar ke masa depan, lalu dihempaskan ke masa lalu, berjalan ke satu benua ke benua yang lainnya menikmati setiap latar yang disajikan dengan berbeda.

Cerita pertama adalah berjudul Undang-undang Antibunuhdiri, berlatar tahun 21xx. Seorang perdana menteri yang kebingungan karena masyarakatnya tengah digandrungi oleh tren bunuh diri. Di kisah ini, mengangkat tema bunuh diri yang membuat populasi rakyatnya menurun secara drastis, sehingga membuat pemerintah harus mengantisipasinya dengan membuat undang-undang tentang hal ini. Dengan cerita ini sebagai pembuka, pada awalnya membuat saya bosan. Namun barangkali ini hanyalah sebuah pemanasan saja karena di kisah kedua, roller coaster-nya baru bergerak menanjak naik.

Cerita kedua adalah Komunitas. Seorang pemuda tampan, mencoba peruntungan di dunia modelling, namun tertolak. Suatu saat ia direkrut oleh seseorang tidak dikenal, mengajaknya untuk bergabung dengan komunitas. Di sana, ia dibayar mahal untuk melakukan suatu hal: memuaskan nafsu para anggota komunitas dalam praktik sadomasokisme. Pemuda itu diberikan kuasa untuk memancing nafsu seksualitas pelanggannya tanpa ada hubungan badan. Ya begitulah ya. Tapi harus diakui, cerita ini cukup menarik dari sisi mengangkat tema yang tidak biasa dan penggambaran sebuah komunitas dengan segala macam keterikatan dan fasilitas yang diberikan.

Chevalier D' Orange mengisahkan seorang ksatria gagah dengan wajah feminin. Tidak ada yang meragukan kekuatan pemuda itu, bahkan dengan kehebatannya itulah ia diangkat sebagai ksatria. Namun, satu permasalahan adalah karena wajah dan sosoknya yang menyerupai perempuan. Publik berspekulasi tentang jenis kelamin sang Chevalier, bertanya-tanya apakah pria tersebut memang seorang lelaki berwajah cantik ataukah seorang perempuan yang menyamar sebagai pria. Hingga membuat, kerajaan harus melakukan musyawarah untuk menentukan jenis kelamin orang tersebut. Yah bodohnya, si orang ini mengapa tidak mau mengakui secara terbuka kepada publik saja sih, malah justru saking setianya dengan raja, dia mengikut apapun perintah raja kepadanya. Ketika hasil musyawarah diputuskan bahwa ia berjenis kelamin perempuan, dengan patuh ia mengubah pakaian serta atributnya menjadi perempuan. Ketika oleh raja ia diminta untuk mencari suami untuk menikah, dia memenuhinya dengan satu persyaratan: dia harus bisa mengalahkan si pemuda itu. Hingga akhirnya ada seorang ksatria yang berhasil mengalahkannya dan menguak identitas si pemuda yang sesungguhnya.

Ginekopolis, kembali dengan setting masa depan, tentang eksistensi laki-laki yang dikalahkan oleh perempuan. Nggak tahu dengan jelas saya ini bagaimana ceritanya.

Ketika Mubi Bermimpi menjadi Tuhan Yang Melayang di Angkasa, menceritakan seseorang bernama Mubi yang bermimpi menjadi Tuhan, lalu di akhir justru malah mengatakan bahwa selama ini si tokoh itulah yang bermimpi menjadi seorang anak lelaki. Aneh, memangnya siapa tokoh itu ya? Masa' iya Tuhan.

Cerita selanjutnya, Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju, saya nggak mengerti.

Riwayat Benjamin, bukan karena saya suka nama Benjamin saya sedikit suka dengan cerita ini, tapi karena settingnya cukup familiar, seperti yang sering saya baca di buku-buku klasik. Tentang perjalanan menggunakan kereta kuda, waktu tempuh yang panjang, para bangsawan tanpa gelar, saya pas saja dengan timeline itu. Dari segi cerita, Benjamin yang sangat tampan, diambil anak oleh seorang bangsawan tanpa gelar, mendapat kehidupan yang lebih baik..., jauh lebih baik ketimbang sepupunya yang hanya hidup dengan menggembala dan tidak bisa membaca. Saat mereka tumbuh remaja, Benjamin meminta kepada sepupunya untuk mengunjunginya dan ini menyingkap sebuah misteri yang membuat sang sepupu sangat terkejut, hingga mengetahui penyebab di balik meninggalnya Benjamin.

Tidak Ada Air untuk Mikhail, sama seperti cerita tentang Pisang, saya juga nggak berhasil menangkap maksudnya apa, selain tidak berhasil menebak setting cerita ini di mana dan zaman apa.

Robbie Jobbie berpola mirip dengan Komunitas, tapi saja jauh terkesan dengan cerita di Komunitas ketimbang ini. Cukup bisa ditebak, si Robbie hanya dijadikan maskot bagi jualannya komoditi kaum homoseksual.

Apa Iya Hitler Kongkalikong dengan Alien? Sebagai makhluk yang suka dengan teori-teori alien dan sebangsanya, saya cukup bisa menebak cerita ini. Tapi sayang sekali, eksekusi ceritanya hanya segitu saja. Tentang menceritakan pengalaman kakeknya bertemu dengan alien, itu saja yang berhasil saya tangkap sih.


Sekarang kita beralih ke... saya menyebutnya masterpiece karena sepertinya cerita ini diletakkan di bagian akhir sebagai pamungkas: Susanna, Susanna! Berbeda dengan yang lain yang hanya menampilkan cerita pendek, Susanna ini cukup panjang, plot dan karakternya bisa dibilang cukup digali oleh penulisnya. Tentang seorang anak perempuan (tebakan saya sih settingnya zaman Renaissance) yang mengubah sosoknya menjadi laki-laki, hanya karena dengan bekerja sebagai laki-laki, ia akan mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih besar. Anak perempuan ini menyimpan rapat-rapat kedoknya, karena sudah terlanjur nyaman dengan keadaan ini, tapi lebih dikarenakan takut mendapatkan hukuman sosial dan hukum negara yang mengerikan untuk perilaku sepertinya pada zaman itu. Lalu dia bertemu dengan seseorang yang menyingkap rahasianya..., karena orang itu seperti dirinya. Nama perempuannya Susanna, tapi lebih dikenal dengan Simon. Bedanya dengan si anak perempuan, yang mengubah wujudnya karena motif ekonomi, rupanya Susanna mempunyai motif lain yakni penyimpangan seksual. Bisa ditebak cerita ini ke mana selanjutnya. Dan menurut saya, eksekusinya hingga ke ending lumayan oke meskipun saya berkali-kali cukup (maaf) jijik dengan deskripsi di cerita bagian ini.


Dan sampai pula pada bagian akhirnya, saya hanya bisa memberi dua bintang saja. Satu bintang untuk setting, plot, dan lompatan-lompatan yang berbeda di setiap ceritanya; satu bintang lagi untuk akumulasi dari Komunitas, Aksara Amananunna, Kevalier D'Orange (yang mengingatkan saya pada cowok-cowok cantik Korea), dan Riwayat Benjamin.

Tidak bisa bilang tidak suka sepenuhnya, hanya saja tema LGBT bukan berada dalam jalur saya. Sukses bergidik saat membacanya. 



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)

Publishers

Gramedia Pustaka Utama (83) Grasindo (13) Mizan (9) Gagas Media (6) Qanita (6) Bentang Pustaka (5) Elex (5) Kepustakaan Populer Gramedia (4) Mizan Fantasi (3) Nourabooks (3) Bukune (2) Diva Press (2) Kaysa Media (2) Republika (2) Alvabet (1) Fantasious (1) Indiva (1) Lingkar Pena (1) Phoenix (1) Robbani Press (1) Shira Media (1) Zaman (1) Zaytuna (1) de Teens (1)