Showing posts with label classic. Show all posts
Showing posts with label classic. Show all posts

Of Mice and Men

Judul : Of Mice and Men---Tikus dan Manusia
Penulis : John Steinbeck
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 144 Halaman
Cetakan Pertama, Februari 2017
(Cetakan pertama versi buku asli, 1937) 
ISBN : 9786020337814
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Suara George menjadi lebih dalam. Ia mengulangi kata-katanya dengan berirama, seolah ia sudah begitu sering mengucapkan kata-kata ini. 

"Orang-orang seperti kita, yang bekerja di peternakan, adalah orang-orang paling kesepian di dunia. Mereka tidak punya keluarga. Mereka tidak cocok di tempat mana pun. Mereka datang ke peternakan dan bekerja keras lalu pergi ke kota dan menghamburkan hasil kerja keras mereka, lalu setelahnya mereka banting tulang lagi di peternakan lain. Mereka tidak punya cita-cita." 

Kisah kontroversial tentang persahabatan dan tragedi pada masa-masa Depresi Besar. Mereka pasangan yang tidak lazim. George bertubuh kecil, berwajah muram; Lennie bertubuh besar dan pikirannya seperti anak kecil. Mereka adalah keluarga bagi satu sama lain, saling bantu, saling menjaga di tengah kehidupan berat sebagai pekerja musiman. Mereka punya mimpi: ingin membeli sepetak tanah untuk ditanami, dan pondok kecil. Ingin menjadi tuan atas diri sendiri. Tetapi nasib berkata lain. 

***

George dan Lennie kabur dari peternakan, dan menuju ke peternakan lain. Di tempat sebelumnya, Lennie membuat masalah besar, dan George menyelamatkannya. Mereka berdua kabur dari sana, dan berharap mendapatkan kehidupan baru yang jauh lebih baik di tempat baru nantinya. Lennie mempunyai sedikit masalah. Ia tidak memiliki kecerdasan seperti orang normal. Ini yang sering menempatkan keduanya dalam situasi yang tidak menguntungkan.

George memberikan instruksi kepada Lennie, tentang apa yang harus dilakukannya nanti di peternakan baru. Atas kejadian yang pernah terjadi di tempat sebelumnya, Lennie diminta untuk tidak banyak berbicara nanti. Ia harus mengiakan perkataan George, menaati perintah George, agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Bahkan, sebagai antisipasi, George menunjukkan tempat kepada Lennie, untuk ia tuju, jika sesuatu yang buruk terjadi.


Lennie, adalah seseorang yang berhati lembut, tapi tidak selaras dengan postur tubuhnya yang besar. Dia senang memelihara tikus, mengelus-elus tubuhnya, dan selalu tanpa sengaja membuat tikus-tikus itu mati. Lennie mampu mengerjakan pekerjaan fisik jauh lebih baik dari siapa pun. Itu pula yang biasanya membuat ia dipertahankan di pekerjaan pada peternakan.

"Dia orang baik. Orang tidak harus cerdas untuk jadi orang baik. Sepertinya menurutku kadang justru sebaliknya. Orang yang cerdas biasanya bukan orang baik." ---halaman 58

Meskipun ingatannya payah dan pemahamannya minim, tapi Lennie selalu mengingat ucapan-ucapan George tentang cita-cita mereka: Mempunyai ladang sendiri, dengan rumah yang akan mereka kelola, peternakan dan pertanian yan akan menghidupi keduanya, dan kelinci yang bisa menggantikan tikus-tikus yang mati karena sentuhan Lennie.

Namun, impian memiliki kehidupan menyenangkan dan menenteramkan bagi George dan Lennie, adalah sebuah hal yang utopis. Kehidupan kaum pekerja yang keras, dengan gaji yang tidak seberapa dan beban kerja tinggi, menjadi impian belaka bagi kaum pekerja di masa itu. Dan ketika impian itu didengar oleh rekan pekerja mereka lainnya, dan mereka bersekutu untuk mewujudkannya, apakah itu akan terwujud? 

***

Novel ini merupakan alegori sosial yang terjadi di masanya. Menceritakan tentang dua orang manusia yang saling melengkapi kekurangan masing-masing dan saling melindungi, yakni George dan Lennie. Keduanya memiliki mimpi; mimpi yang sangat susah untuk digapai. Bagi kaum pekerja, memiliki harapan terlepas dari rutinitas pekerjaan yang menyita banyak tenaga mereka dengan gaji yang minim, itu bagaikan mimpi di siang bolong. Dan nyatanya, realita yang demikian masih ada di zaman sekarang. Kisah kaum buruh dan impian mereka, di tengah himpitan pekerjaan yang menguras tenaga, dengan penghasilan yang hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, masih banyak ditemui di era sekarang, bahkan saya prediksi, masih akan berlangsung di waktu-waktu mendatang.

Kisah ini cukup sederhana, tentang persahabatan dua orang yang berupaya saling melindungi di tengah kekurangan mereka. Dibalut oleh setting peternakan, dan nuansa perburuhan yang begitu kentara, dengan tokohnya yang diwakili kaum pekerja: George, Lennie, Candy si pekerja yang mengalami kecelakaan kerja dan hanya mendapatkan pekerjaan bersih-bersih dan sadar diri suatu saat akan didepak dari peternakan ini, Crooks si Negro yang diasingkan karena warna kulitnya berbeda. Lalu ada Slim si Mandor, dengan tipikalnya yang merasa berada di atas kaum pekerja. Ada anak pemilik peternakan, Curley, dan istrinya memiliki sifat seorang penggoda.

Plot diramu dengan baik, menyuguhkan cerita yang sebenarnya ringan, tapi sarat makna. Saya menikmati membaca kisah ini, bahkan bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu hari. Cerita ini begitu relevan dengan keadaan sekarang, memberikan pesan sosial yang begitu mendalam. Apalagi, karakternya yang mampu mencuri perhatian sejak awal. Hingga bagian akhir, saya masih susah untuk menerima apa yang terjadi pada Lennie.

Benar pernyataan bahwa orang yang kemungkinan paling besar melukaimu, adalah orang yang paling dekat denganmu dan paling kaupercaya. 


Candice

Judul : Candice
Penulis : Voltaire
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 168 Halaman
Cetakan Pertama, November 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, 1759) 
ISBN : 9786024241605
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Candide, dongeng filsafat satir yang ditulis oleh Voltaire, bercerita tentang seorang pemuda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bertualang keliling dunia untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimistis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifatnya itu didapat dari gurunya, Pangloss. Melalui novel ini, secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan kekejaman manusialah yang membuat dunia ini menjadi tidak sempurna.

***

Candice adalah seorang pemuda yang tinggal di kediaman Baron Thunder-ten-tronckh. Tidak diketahui secara pasti siapakah Candice ini, para pelayan menduga ia adalah anak saudara sang Baron yang perempuan. Nyonya besar pemilik tempat ini memiliki seorang putri yang tinggi langsing, cantik, dan menggiurkan bernama Cunegonde. Bersama seorang Tuan Guru bernama Pangloss, Candice belajar banyak hal tentang metafisika-teologi-kosmologi-konyologi.

Suatu hari Cunegonde melihat Tuan Guru Pangloss yang tengah memberikan pelajaran "praktikum fisika" kepada pelayan kamar tidur ibunya. Setelah tidak sengaja mengamati itu, ia pulang dengan perasaan gelisah, asyik berpikir, sambil melamun penuh keinginan untuk menjadi orang berilmu. Ia bertemu dengan Candice dan wajahnya memerah. Dengan lugunya mereka berciuman, dan malang bagi Candice, Baron Thunder-ten-tronckh melihatnya dan membuat Candice terusir dari istana. Maka, dimulailah perjalanan panjang pemuda itu berkeliling dunia.

Pertama, ia mendapatakan perlakuan tidak menyenangkan dari tentara Bulgaria. Setelah mendapatkan pengobatan atas siksaan mereka, Candice melarikan diri. Ia menemukan seorang laki-laki yang tidak pernah dibaptis bernama Jacques yang berbaik hati padanya. Candice bertemu dengan peminta-minta setengah buta dengan wajah penuh bisul dan hidung yang borok. Mengejutkan, ternyata orang yang ditemuinya itu adalah guru filsafat Candice, Pangloss. Atas bujukan Candice, Jacques melakukan kebaikannya lagi bahkan menyembuhkan Pangloss dari penyakit kelamin yang didapatnya dari pelayan di istana sang baron. Dari kisah Pangloss, Candice mendapatkan informasi tentang serangan yang dilakukan tentara Bulgaria yang menyebabkan kematian Cunegonde. Candice benar-benar terpukul mendapatkan informasi ini.

Karena urusan dagang, Jacques mengajak kedua ahli filsafat itu untuk pergi ke Lisabon. Topan melanda dalam perjalanan kapal mereka. Layar tersobek, tiang-tiang patah, setengah penumpang lemas karena rasa cemas yang tak terkirakan. Dalam upaya penyelamatan diri, Jacques tenggelam dan tewas. Begitu mendarat, mereka disambut oleh gempa bumi. Benar-benar perjalanan yang bersentuhan dengan maut. Mereka ditangkap oleh orang bijaksana di negeri itu sebagai bahan persembahan untuk menghindari kehancuran total negeri mereka. Begitu hendak dieksekusi, gempa bumi melanda kembali. Candice melarikan diri.

Dalam pelariannya itulah ia menemukan seorang wanita tua yang memiliki masa lalu kelam yang mengantarnya kepada seseorang yang benar-benar tidak ia duga sebelumnya. Cunegonde. Perjalanan demi perjalanan kembali berlangsung, pertemuan dan perpisahan silih berganti, mengukirkan cerita yang tidak pernah terduga. Bertemu dengan manusia yang jatuh hati pada kera, mendarat di El Dorado yang merupakan perlambang surga di dunia, yang pada akhirnya harus ditinggalkan juga. Mengingat manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, dan ada satu hal yang ia kejar di luar sana dan harus ia dapatkan. Bersama Pangloss, Mario (yang ia ambil sebagai teman perjalanan di suatu waktu), Candice menghabiskan segala daya dan upaya untuk mencari sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya. Entah apakah sesuatu itu masih menjadi tujuannya lagi setelah kenyataan menampar dirinya bahwa cita-citanya itu tidak lagi seperti yang ia angankan.

***

Telah dibuktikan, bahwa segala sesuatu tidak bisa lain keadaannya dari sekarang ini. Segala sesuatu diciptakan untuk tujuan tertentu, maka tidak bisa lain tentu tujuan yang terbaik. ---Halaman 3

Berangkat dari ajaran Tuan Guru yang didapatnya saat berdiam di kastel milik sang baron, Candice belajar banyak hal tentang kehidupan. Namun, pemahaman tentang hidup tidak akan bermakna jika seseorang hanya terkungkung pada satu keadaan hidup saja. Seperti Adam dan Hawa yang menjalani takdir terusir dari surga. Jalan yang sama dilalui Candice, bahwa ia terusir dari kediamannya yang nyaman, dengan guru yang senantiasa mengajarkannya teori seputar kehidupan, dan seorang gadis yang dicintainya dengan begitu dalam.

Pengusiran itu membuka jalan baginya, untuk tetap memandang hidup degan penuh optimis, bahkan dalam keadaan yang paling menyedihkan sekalipun. Pengusiran demi pengusiran, keluar dari zona nyaman, membuatnya mempertanyakan kembali apakah ajaran sang guru benar adanya atau justru hanya sekadar teori belaka. Beruntung ia bertemu dengan seseorang yang baik, dan menemukan takdir berkata lain dengan kembali dipersatukan dengan orang-orang tak terduga: gurunya yang sekarat beserta informasi mengejutkan yang menyimpulkan pemahaman lain tentang kehidupan yang tidak selamanya ajek dan konstan.

Makanya, mereka yang beranggapan bahwa segala sesuatu berjalan baik, sesungguhnya tolol sekali. Yang betul adalah: segala sesuatu berjalan sebaik-baiknya. ---Halaman 3

Bahwa hidup adalah perjalanan dari satu keadaan menuju keadaan lainnya membuat Candice terus menapaki bumi yang lain, menerima kehilangan sebagai bagian dari pahit getirnya kehidupan. Tentang pertemuan dengan manusia berbeda pemikiran serta pemahaman, membuatnya memiliki paradigma baru terhadap pemikiran dan kehidupan. Dan ketika kehilangan demi kehilangan menghimpitnya, jalan yang harus ia tempuh adalah berpindah, dan mencari kebahagiaan baru di tempat selanjutnya. Maka beruntunglah ia, ajaran tentang makna kehidupan dan postivisme yang diajarkan tuan guru menemukan jalannya ketika ia kembali dipertemukan dengan kekasih yang begitu dicintainya.

Dan ketika jalan lain menghadang dan memisahkan mereka kembali, sebuah cita-cita untuk meraih impian mengantarkannya pada sebuah perjalanan baru menguras emosi dan harta yang ia punya.

Pertemuan demi pertemuan dengan orang-orang yang mengajarkannya tentang kehidupan, menjadikan pemahaman Candice tentang kemalangan hidup berada pada level yang lebih baik lagi. Bahwa ketika kita merasa sukar dengan nasib buruk  yang kita miliki, di luar sana ada banyak orang yang keadaannya jauh lebih malang daripada yang kita alami. Dan betapa seseorang ingin mengakhirinya dengan jalan pintas, namun kesadaran tentang hakikat kehidupan membuat manusia menempuh jalan dengan menjalani segalanya dengan jiwa ksatria, dan optimisme di dada.

Seratus kali saya tergoda untuk membunuh diri, namun masih cinta kehidupan. Kelemahan konyol ini mungkin merupakan salah satu cacat kita terbesar. Adakah yang lebih tolol dari memanggul suatu beban terus-menerus, padahal kita selalu ingin mencampakkannya di tanah? ---Halaman 51

"Optimisme adalah kegilaan untuk mempertahankan pendapat bahwa segalanya berjalan baik, padahal kenyataan adalah kebalikannya." ---Halaman 87

***

Voltaire adalah seorang pengarang besar Prancis abad ke-18 yang terkenal di samping nama lainnya yang termasyhur zaman itu seperti Montesquieu dan Rousseau. Sebagaimana diketahui, peran pengarang pada abad-abad yang lalu bukan hanya sekadar menghasilkan karya sastra semata, melainkan mengolah sebuah karya yang menjadi landasan hidup serta filsafat yang kemudian dianut oleh seluruh bangsa. Karyanya menghasilkan inspirasi untuk pergolakan besar dalam kehidupan dan sejarah dunia.

Buku ini merupakan buah kritik sosial yang dituliskan oleh Voltaire terhadap banyak hal seputar kehidupan. Ia berbicara melalui karya sastra untuk menyinggung tentang penyalahgunaan agama, kesewenangan penguasa, memperolok roman-roman picisan yang berkembang di zamannya, sindiran terhadap nama besar bangsawan yang membuat mereka seolah lebih angung dari manusia lainnya. Voltaire memerankan diri sebagai penggerak karakternya yang diwakili oleh Candice yang naif dan lugu. Keoptimisan si tokoh dan perjuangan dalam mencapai cita seolah dipermainkan oleh pengarang untuk membuat hidupnya terkesan absurd dan tidak masuk akal. Voltaire berperan besar dalam memainkan kehidupan para tokohnya dengan memasukkan unsur sindiran terhadap pemikiran-pemikiran yang tidak disukainya, dengan menampilkan filsafat hidupnya yang terkandung di sana. 

Meskipun ia memorakporandakan pemikiran lawan dengan memasukkan pemikirannya sendiri, ia menyajikan karya ini dengan baik. Berhasil membawa pembaca larut ke dalam kisahnya dan keabsurdannya, dengan gaya bahasa yang benar-benar lugas. Seperti misalnya saat menggambarkan adegan pingsan, seolah tokohnya tiba-tiba pingsan begitu saja tanpa ada upaya untuk memperhalus penggambaran deskripsinya. Namun kelugasan itu berhasil membuat pembaca merasa ngilu ketika adegan yang diceritakan berupa kekerasan dan peristiwa yang akan berhasil menyayat pembaca, tanpa dibumbui deskripsi berlebihan atau dramatis.

Membaca Candice, membuat pembaca berhasil mengulik isi kepala penulisnya, Voltaire, sang guru filsafat dan salah satu penyair terkemuka di zamannya.

The Secret Garden

Judul : The Secret Garden
Penulis : Frances Hodgson Burnett
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penejemah : Barokah Ruziati
Tebal Buku : 320 Halaman
Cetakan Pertama, Maret 2010 
(Cetakan Pertama versi buku asli, 1911)
ISBN : 9789792254907
Rating : 4 dari 5



Salah satu hal aneh tentang hidup di dunia adalah hanya sesekali saja kau sangat yakin kau akan hidup selamanya dan selama-lamanya. ---halaman 231


Blurb:

Setelah kematian orangtuanya, Mary Lennox si gadis manja dan pemarah datang dari India untuk tinggal di rumah pamannya, Mr. Archibald Craven. Dia merasa kesepian di rumah besar dan sunyi itu. Namun suatu hari dia menemukan jalan menuju taman rahasia yang sudah bertahun-tahun dikunci. Dengan bantuan Dickon, anak lelaki yang bisa "berbicara" dengan binatang, dia menghidupkan kembali taman itu dan membuatnya indah. Kegiatan mengurus taman perlahan-lahan membuat sifat Mary berubah, dan pada akhirnya bukan hanya Mary yang menjadi bahagia karena taman rahasia itu... 

***

Mary Lennox dibesarkan di India. Orangtuanya meninggal dalam wabah kolera. Sebelum orangtuanya meninggal, dia dibesarkan oleh seorang Ayah, sebutan bagi pengasuhnya yang orang pribumi India. Setelah meninggal, dia dibawa ke Inggris dan menjadi tanggungan pamannya. Sang paman, Archibald Craven, punya sebuah rumah yang besar sekali. Banyak kamar yang kosong di rumahnya. Mary, sekarang menjadi salah satu penghuninya. Mrs. Medlock yang membawanya ke rumah itu setelah Mary dititipkan selama perjalanan dari India ke Inggris (fyi, Mrs. Medlock diperankan oleh Maggie Smith. My House Master of Gryffindor! *heh*). Saat tinggal di manor Tuan Craven itu, Mary diasuh oleh seorang pengasuh bernama Martha Sowerby. Tuan Archibald sendiri, seseorang yang misterius, karena selalu bepergian dan terlihat tertutup. Konon kabarnya, dia begitu cinta sama istrinya, yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Dan perubahan perangai itu, katanya, ada hubungannya dengan kematian istrinya itu.

Sikap Mary bisa dibilang tidak menyenangkan. Sejak kecil dia biasa berkecukupan, dengan Ayah yang senantiasa menuruti segala keinginannya. Ayah-nya seorang pekerja yang memberikan rasa hormat pada kaum kulit putih seperti dirinya. Dan, ketika Ayah-nya dan juga seluruh keluarganya terkena wabah kolera itu, hidup Mary yang terbiasa selalu ditututi perintahnya menjadi berubah drastis. Di Inggris, tidak ada pelayan yang akan berlaku seperti sang Ayah. Meskipun Martha ditugaskan untuk mengurusnya, tapi Martha berbeda. Dia bahkan berani untuk merespons hal-hal yang tidak disukainya, dan itu membuat Mary terkejut. Namun, dengan Martha-lah, dia belajar banyak hal, terutama memperbaiki sikap dan perilakunya yang di sini tidak dibenarkan.

Martha mempunyai banyak saudara. Dia sering menceritakan adik-adiknya pada Mary. Terutama, Dickon Sowerby. Mary yang penasaran dengan cerita Martha, akhirnya juga penasaran dengan sosok Dickon yang menyenangkan tersebut. Akhirnya, mereka bertemu juga dan Mary mendapatkan banyak pengalaman dari Dickon.

Suatu hari Mary tersesat di dalam rumah yang dia tempati. Dia mendengar suara tangisan seseorang. Tapi, saat dia bertanya pada Martha, Martha ketakutan, dan menyangkal ucapannya itu. Mary jadi semakin penasaran. Dan suatu hari, akhirnya dia bertemu juga dengan si pemilik suara. Dia adalah anak lelaki pamannya, bernama Colin Craven. Dia anak yang rapuh, sakit-sakitan, pemarah, dan suka berteriak. Tidak ada yang berani menyangkalnya. Bisa dibilang, semua orang takut pada anak lelaki itu. Dari pertemuan pertama mereka, hanya Mary saja yang berani untuk menghardiknya.

Bersama dengan Dickon, Mary memutuskan untuk mencari taman rahasia yang konon katanya ada di area rumah ini. Karen berkenalan dengan Ben Weatherstaff, tukang kebun yang penggerutu. Namun, setelah kenal dengan Mary, Ben jadi membaik juga. Mary bertanya banyak hal seputar merawat dan menanam bunga pada Ben, dan Ben membantu Mary untuk menjelaskan. Namun, Mary juga bertanya-tanya dan memancing pertanyaan seputar taman rahasia ketika Ben sudah mulai curiga kepadanya.

"Rasa ingin tahumu bisa membunuhmu suatu hari nanti, kalau kau tidak pintar." ---halaman 82


Lalu, apakah mereka berhasil untuk menemukan taman rahasia itu? Mengapa taman itu dikunci selama sepuluh tahun? Apakah ada hubungannya dengan kematian ibu Colin? 

(Lah, saya buat ulasan yang menggantung supaya bikin penasaran tahunya di blurb sudah dijelaskan ya? Wakakak.)

***

Saat membaca sinopsis cerita ini, saya langsung ingat bahwa dulu saya pernah menonton filmnya. Dan satu-satunya karakter yang masih saya ingat adalah...


Maggie Smith, yha, maafkan kalau saya bias. Tapi, serius, bahkan saya lupa wajah Mary, Dickon, atau Colin seperti apa. Dan, saya menemukan gambar ini!



Dengan sebentuk ingatan yang samar tentang plot kisah ini, akhirnya saya mulai membacanya lagi. Saya suka dengan bahasa terjemahannya yang ringan dan tidak berat. Mengingat, ini adalah buku klasik tentang anak-anak. Jadi, seharusnya memang menggunakan bahasa yang ringan, kan? 

Karakternya unik. Perkembangan karakternya pun cukup bagus dan menarik. Mary yang mulanya angkuh berubah perlahan-lahan menjadi sedikit menyenangkan. Dickon yang Gryffindor banget, suka bertualang, dan memecahkan misteri bersama Mary. Dan Colin, yang kurang kasih sayang, dan terkungkung oleh ketakutan-ketakutannya sendiri, perlahan-lahan mulai membuka diri. Karakter yang berhasil mencuri perhatian saya adalah Ben Weatherstaff! Sedikit mengingatkan saya dengan Kakek Ove. (Kalau saya membahas novel-novel dengan karakter berusia tua, Ben harus masuk pembahasan pokoknya.)

Terkait bahasa terjemahan, sebenarnya ada yang lucu di sini. Lucu karena, salah satu tokohnya, Martha, adalah gadis dengan logat Yorkshire yang berbeda dengan logat orang Inggris kebanyakan. Susah memang memilih kalimat terjemahan dari "bahasa Yorkshire ke bahasa Inggris" untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi kepingin baca versi aslinya, penasaran gimana sih "keanehan" yang ditimbulkan sama Martha yang sesekali berbahasa dengan (entah aksen atau memang bahasa asli) bahasa Yorkshire itu bagi Mary yang besar di India. Jadi, oleh penerjemah, dieksekusi seperti ini: "Nggak gitu banget" artinya "sama sekali tidak begitu". =)) 

Sebenarnya, saya tidak seperti Karen (siapa itu Karen?) yang mendaulat buku-buku klasik sebagai genre favoritnya. Saya cukup menyenangi beberapa saja. Karena, memang terjadi ketimpangan dengan keluwesan bercerita dari buku klasik dengan buku kontemporer. Hanya saja, sebenarnya, akan tertolong jika ditangani dengan baik oleh penerjemahnya. Menurut saya, buku ini sudah tertangani dengan baik. Saya suka membacanya. Dan meskipun sebagian besar plot utamanya sudah saya ketahui, tapi tidak membuat saya bosan atau buru-buru ingin menyelesaikannya. Saya menikmati buku ini lembaran demi lembarannnya.

Dan karena buku ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di tahun ini, yang pertama selalu menjadi spesial, dan syukurlah, buku ini memang spesial, menarik, dan seru. Sayang banget sama Mary, Dickon, Colin, dan Ben Weatherstaff! ♡


Annie

Judul : Annie
Penulis : Thomas Meehan
Penerjemah : Ambhita Dhayaningrum
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 232 Halaman
ISBN : 9796020332734
Rating : 4 dari 5




The sun'll come out, tomorrow 
So ya gotta hang on 'til tomorrow
Come what may
Tomorrow! Tomorrow!
I love ya! Tomorrow!
You're always a day a way


Blurb:

Ketika baru berumur dua bulan, Annie ditinggalkan oleh orangtuanya di panti asuhan. Ia meyakini suatu saat orangtuanya akan menjemputnya pada Malam Tahun Baru, tetapi sampai sebelas tahun berlalu, ayah dan ibunya tak juga datang untuk menjemput. Ia terpaksa tinggal di panti asuhan bersama Miss Hannigan yang kejam, sampai ia memutuskan untuk melarikan diri dan mencari sendiri orangtuanya. Apakah Annie berhasil menemukan orangtuanya?

Inilah kisah klasik petualangan Annie bersama Sandy anjing kesayangannya, Mr. Warbucks sang miliuner, dan Miss Farrell yang baik hati.

Pada tahun 1924, Annie muncul dalam sebuah comic-strip berjudul Little Orphan Annie di halaman surat kabar di seluruh penjuru Amerika Serikat. Kemudian Annie diadaptasi menjadi drama musikal Broadway dan meraih Tony Award kategori Drama Musikal Terbaik serta enam kategori lainnya, termasuk Buku Drama Musikal Terbaik. Lagu yang paling populer dalam drama musikal tersebut berjudul Tomorrow.


***

Membaca tentang kisah Annie, bagi saya seperti sedang berkelana dengan mesin waktu yang membawa kembali ke masa kecil di mana film ini sering diputar di televisi terutama saat libur sekolah. Bercerita tentang Annie, seorang gadis kecil yang ditinggalkan di sebuah panti asuhan dengan secarik surat tentang bayi mungil ini: informasi tentang tanggal lahirnya, dan pesan bahwa orangtuanya akan datang untuk menjemput Annie suatu hari nanti. Selain itu, ada pula sepenggal kalung locket yang diberikan padanya, yang pasangannya dimiliki orangtuanya sebagai tanda bahwa Annie adalah buah hati mereka. Dari pesan itulah Annie selalu menunggu kedatangan orangtuanya menjemput. Berbeda dengan semua anak di panti asuhan yang sudah tidak mempunyai orangtua lagi, ia menyimpan asa tentang orangtuanya yang masih hidup. 

Namun, rupanya kehidupan Annie dan anak-anak panti asuhan tidaklah menyenangkan. Miss Hannigan, sang pemilik panti asuhan, adalah wanita tua yang kejam. Ia membiarkan anak-anak ini memakan makanan yang tidak layak dan memberikan jam kerja pada mereka semua. Anak-anak panti asuhan disuruh membuat baju di ruang bawah tanah panti. Tidak hanya di tempat mereka tinggal, perlakuan kejam juga diterima di sekolah. Anak-anak panti dianggap sebagai murid yang tidak pantas bergaul dengan teman-teman lainnya, dan mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif dari banyak pihak. Dan Annie tidak pernah dijemput oleh ayah dan ibunya.

Untungnya, Annie adalah seorang gadis kecil dua belas tahun yang tangguh. Ia tidak pernah membiarkan orang lain melihatnya menangis. Selain pintar, Annie juga ditakuti dan disegani oleh anak-anak seusianya.

Karena perlakuan kejam Miss Hannigan dan kepercayaannya bahwa orangtuanya masih hidup, ia memutuskan untuk pergi mencari keduanya. 

"Sekarang aku tahu orangtuaku tidak akan pernah datang menjemputku," kata Annie sambil memeluk keranjangnya, bersiap pergi. "Jadi aku yang harus pergi mencari mereka." ---halaman 43

Dengan segala upaya--dan dibantu oleh teman-teman sepantinya--Annie berhasil kabur dan memulai petualangannya di luar panti asuhan, berupaya bertahan hidup dari deraan lapar dan musim dingin yang datang menghadang. Bersama dengan Sandy, anjing liar yang ditemukannya di jalanan, ia mengarungi kerasnya kehidupan di luar panti saat Amerika sedang mengalami krisis yang berat. Dan juga, ia tidak pernah lupa tujuan utamanya berada di luar sana; mencari ayah dan ibunya.

Suatu hari, ia bertemu dengan seorang wanita yang merupakan sekretaris pribadi seorang miliuner yang hendak menghabiskan harinya dengan seorang anak yatim piatu, dan Annie-lah yang beruntung untuk dibawa Miss Farrell itu untuk bertemu dengan Mr. Warbucks. Bersama dengan pria tua kaya raya namun merasa hidupnya sepi dan kosong itu, hidup Annie tidaklah sama lagi. Namun, ia tidak boleh melupakan bahwa Annie masih berharap ia dapat bertemu dan tinggal bersama ayah dan ibunya yang entah berada di mana sekarang.

***

Kisah tentang Annie menurut saya adalah sebuah cerita yang tak lekang oleh masa. Berlatarkan Amerika tahun 1933 di mana pada periode itu dikenal dengan Era Depresi di mana Presiden Roosevelt baru saja memangku jabatannya sebagai seorang pemimpin Amerika kala itu. Annie adalah sebuah gambaran tentang seseorang yang percaya bahwa keoptimisannya akan berdampak pada kehidupan yang lebih baik lagi esok hari. Masa Depresi bagi Amerika merupakan cobaan berat di mana seorang kaya tiba-tiba menjadi miskin, pekerja kantoran menjadi penjual apel, dan sebuah tempat kumuh bernama Hooverville dibangun sebagai olok-olok bagi mantan Presiden Hoover yang banyak dipersalalahkan atas masa Depresi itu. Namun Annie, seolah mengajarkan dengan caranya yang halus dan sesuai dengan usianya yang masih anak-anak, bagaimana agar tetap optimis dan yakin tentang hari esok.


"Matahari akan muncul esok hari. Yakinlah, berani bertaruh demi dolar terakhirmu, bahwa akan ada matahari esok hari." ---halaman 87

Satu hal yang dapat dipelajari dari kehidupan Annie adalah bagaimana kita harus memandang optimis terhadap hidup kita. Sikap ini tentu saja susah untuk dimiliki jika keadaan berada pada level yang terbawah. Padahal, tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita esok atau lusa. Dan yang perlu dilakukan selain berupaya untuk membuat suatu keadaan menjadi lebih baik setelah mengupayakan dan mengusahakan dengan kerja keras adalah bersikap optimis. Keyakinan adalah sebuah penguat yang menyenangkan untuk memandang masa depan.


"Kurasa itulah hal terbaik tentang hidup. Kau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi berikutnya." ---halaman 133

Membaca novel tentang Annie, selain membawa ingatan untuk berkelana ke masa kecil, dan juga mengajarkan untuk selalu menumbuhkan rasa optimisme dalam memandang hidup--yang rasanya semakin luntur seiring bertambahnya usia--pembaca juga akan diajarkan tentang banyak hal lainnya secara tidak langsung. Ini merupakan pembelajaran yang menyenangkan karena kita tidak akan merasa digurui atau diajari. Annie merupakan sosok imajinatif yang periang, manis, yang akan membawa pembacanya menyatu dengan emosi yang hadir dalam plotnya. Meskipun cerita ini sudah dapat ditebak bagaimana alurnya atau seperti apa kejadiannya--apalagi yang masih ingat dengan jalan cerita yang ada di filmya--namun, emosi yang dihadirkan di sini begitu dekat sehingga saya berulang kali merasa iba maupun memiliki perasaan yang sama dengan Annie. Ini merupakan sebuah pengalaman yang positif dan berkesan terhadap sebuah novel.

Namun, jika dicermati, ada plot yang kesannya terlalu imajinatif di sini, seperti misalnya kehadiran Presiden Franklin D. Roosevelt sebagai bagian dari cerita ini. Di awal dalam kata pengantarnya, penulis sudah menjelaskan tentang itu, juga alasan mengapa ia mengambil cerita yang mulanya berasal dari comic-strip yang ditulis selama 48 tahun dan dimuat dalam surat kabar Minggu dan mengangkatnya ke panggung layar lebar Broadway. Saya sendiri tidak keberatan dengan plot imajiatif bagaikan roller-coaster ini. Karena, pada dasarnya, Annie adalah sebuah karya yang disuguhkan dalam sudut pandang seorang anak kecil, yang target penikmatnya salah satunya adalah anak kecil seusia Annie. Bagi saya, kisah ini tidak hanya sekadar cerita anak saja, namun banyak kesan yang dapat diambil sebagai penyemangat kehidupan, apalagi jika merasa bahwa kesulitan maupun ujian hidup sedang berlangsung. 

Jika sedang mengalami kesulitan, maka ingat selalu pesan Annie kepada Sandy ini:


"Dan semuanya akan baik-baik saja. Untuk kita berdua. Jika tidak hari ini, yah... matahari akan muncul esok hari. Yakinkan dirimu bahwa esok matahari akan bersinar." ---halaman 76

Juga bisa mengingat kalimat ini:


"Bagi orang yang berada di titik terendah hidupnya, selalu ada ruang untuk orang lain." ---halaman 84

Untuk kesan yang begitu menyenangkan ini, saya berikan bintang empat untuk kisah menakjubkan yang dilalui oleh Annie.



A Tale of Two Cities

Judul : A Tale of Two Cities
Penulis : Charles Dickens
Penerbit : Qanita
Tebal Buku : 496 Halaman
ISBN : 9786021637968
Rating : 5 dari 5




Blurb:


Seandainya hidup memberiku kesempatan, aku akan mengorbankan apa saja untukmu.

Inggris abad 17, Lucie Manette tinggal bersama sang ayah, Dokter Manette, mantan korban kekejaman bangsawan Perancis. Kecantikan dan kebaikan hati Lucie merebut hati Charles Darnay, bangsawan pelarian Perancis. Bak gayung bersambut, Lucie pun tertarik pada Charles. Sydney Carton, yang membantu pelarian Charles sebenarnya juga mencintai Lucie. Namun Sydney memilih memendam perasaannya karena dia sadar, dirinya yang serampangan tak pantas bersanding dengan Lucie.

Revolusi Perancis pecah dan Charles dipanggil pulang ke negaranya untuk menyelamatkan nyawa seorang teman. Tetapi, dia malah dijebloskan ke penjara, bahkan diancam hukuman mati gara-gara dosa masa lalu ayah dan pamannya. Demi Lucie, Dokter Manette melakukan segala upaya untuk membebaskan Charles dari Pisau Guillotine. Namun apakah pengaruh Dokter Manette saja cukup? Di saat-saat kritis, muncul pertolongan dari seseorang yang tak terduga. Pertolongan berlandaskan cinta.

***

Ada suatu kenyataan luar biasa yang patut direnungkan, yakni bahwa setiap manusia ialah rahasia dan misteri besar bagi sesamanya. Setiap kali kita masuk ke sebuah kota besar pada malam hari, bayangkanlah bahwa rumah-rumah yang berimpitan dalam kegelapan memiliki rahasianya masing-masing, tiap ruangan di dalamnya punya rahasia juga, dan tiap hati dalam dada penghuninya, menyimpan rahasia dari orang-orang terdekatnya! ---halaman 20

Sebuah pesan dapat mengubah alur hidup seseorang. Pesan tersebut juga dapat menyelamatkan seseorang yang telah bertahun-tahun hidup dalam jeruji penjara, menemukan kembali dirinya dengan anak yang bahkan tak pernah tahu tentang nasib ayahnya. Pesan itu mengubah hidup orang-orang di sekelilingnya pula. Dan pesan itu berbunyi: 'HIDUP KEMBALI.'

Mr. Lorry adalah si penerima pesan, seorang bankir dari Bank Tellson yang mendedikasikan hampir sepanjang hidupnya untuk urusan bisnis dalam pekerjaannya itu. Atas dasar urusan pekerjaan pula yang membawanya kembali pada urusan yang sama, berhadapan dengan orang yang pernah berada dalam penanganannya sekian tahun silam. Ia berada dalam perjalanan ke Paris, menuju cabang Bank Tellson untuk "menghidupkan kembali" sang tawanan politik bernama Dokter Mannate.

Belasan tahun sebelumnya, Mr. Lorry membawa seorang gadis kecil, Lucie Mannate, putri dari orang yang dijatuhi hukuman tersebut, ke Inggris. Menyelamatkannya dari prahara yang menimpa Paris saat itu. Dan kini, bersama gadis yang sama pula, ia kembali untuk menjemput sang ayah yang baru saja dikenalinya dan diketahui masih hidup itu. 

Keadaan Dokter Mannate begitu mengenaskan. Nasib buruk yang diterimanya di penjara membuatnya hilang ingatan. Ia hanya mengingat bahwa dirinya adalah seorang pembuat sepatu. Setiap kali ditanya siapa namanya, lelaki tua itu hanya menjawab dengan kalimat, "Seratus Lima, Menara Utara." Itu adalah nomor sel yang mengurung Dokter Mannate selama delapan belas tahun.

Lima tahun kemudian, sebuah persidangan digelar, dengan Lucie serta ayahnya yang menjadi saksi tentang seorang pemuda yang secara kebetulan berada dalam kapal yang sama ketika mereka meninggalkan Prancis waktu itu. Pemuda itu bernama Charles Darnay, dan ia dibebaskan karena pengakuan dari Lucie. Pengacaranya, bernama Mr. Stryker dan seorang pria lagi bernama Sydney Carton. Setelah peristiwa ini, hubungan di antara mereka terjalin hangat.

Dokter Darnay menunjukkan perubahan yang signifikan dalam hidupnya. Ia tidak lagi menjadi seorang pria tua menyedihkan yang hilang ingatan. Berkat kasih sayang yang diberikan Lucie, ia berangsur pulih. Sekarang ia menjalani kehidupan sebagai dokter dan terus menyibukkan diri agar kenangan seputar kesusahan yang dialaminya tidak lagi datang menghampiri. Namun begitu, ia tidak pernah mau terbuka pada siapa pun tentang apa yang dialaminya selama di penjara bertahun-tahun. 

Setiap orang punya rahsia yang disimpan di dalam hatinya, tidak terkecuali seorang Lucie. Gadis ini tumbuh menjadi wanita yang cantik dan menawan, penuh rasa kasih sayang, sehingga tak sedikit pemuda yang menaruh hati padanya. Namun, tidak ada yang tahu dengan pasti pada siapa Lucie melabuhkan hatinya.

Selalu ada rahasia di hati orang terdekat kita, seperti orang lain yang tidak kita kenal. Rahasia orang terdekat kita sangatlah halus dan rapuh, tetapi sulit untuk menyingkapnya. ---halaman 175

Charles Darnay meminta nasihat kepada Dokter Mannate, dan juga arahan tentang perasaannya itu kepada putrinya. Charles, yang juga menyimpan masa lalu dengan rapi, bahkan rela mengungkapkannya pada Dokter Mannate. Namun, sang Dokter mengatakan kalau ia boleh menceritakan kisah kelam itu di hari pernikahannya dengan putrinya saja. Di sisi lain, Sydney Carton mengungkapkan perasaannya langsung kepada Lucie, namun ditolaknya. Lucie memutuskan untuk menerima pinangan Charles alih-alih menerima Carton. Di saat mereka hendak menikah, ketika Charles menceritakan masa lalunya kepada Dokter Mannate, saat itulah sesuatu terjadi pada pria tua itu. Kejiwaannya kembali terguncang, dan aktivitas lama membuat sepatu kembali muncul, dan bahkan Dokter Mannate tidak mampu mengenali dirinya sendiri selain bahwa ia adalah si pembuat sepatu. Beruntung kejadian ini berlangsung saat Lucie dan Charles sedang berbulan madu sehingga peristiwa ini hanya disaksikan oleh Mr. Lorry dan Miss Pross, seorang wanita tua yang sudah bersama dengan Lucie sejak ia kecil.

Di tempat yang lain, Prancis, suasana memanas sejak rakyat diperlakukan dengan sewenang-wenang. Bibit-bibit pemberontakan muncul salah satunya adalah dari sebuah kedai anggur. Tuan dan Madame Defarge adalah pemilik kedai itu. Mulanya mereka orang-orang yang pernah bekerja dengan Monsieur Mannate, pernah menjadi orang yang melindunginya saat lelaki tua itu dibebaskan. Namun, tekanan yang terjadi pada sekitar mereka membuat bibit pemberontakan itu bersemi. Sang Nyonya Defarge, selalu terlihat dengan rajutan di tangannya saat sedang berada di kedai anggurnya.

Namun, sang perempuan perajut tetap tegak berdiri, merajut dengan pasti, seperti Takdir yang niscaya terjadi. Air mancur mengucur, sungai mengalir deras, siang bergulir menjadi malam, begitu banyak hdup manusia di kota itu telah berganti kematian, sebab sang Waktu tak pernah menunggu. Tikus-tikus kembali tidur berimpitan di lubang-lubang gelap, sementara pesta pora kembali gemerlap. Semua berjalan sesuai alurnya. ---halaman 146

Namun, kebahagiaan hidup tidak berjalan sebagaimana mestinya ketika surat dari seseorang yang dipercaya datang pada Charles, memohon bantuan. Surat itu membalikkan semua keadaan, bahwa ia tidak mungkin diam begitu saja ketika seseorang yang dipercayanya sedang dalam kesulitan. Segala sesuatu jadi memburuk, dan waktu terus bergulir hingga keputusan demi keputusan harus dibuat. 

Kendati kelam, masa depan tidak bisa diterka, dan dalam kekelaman itu masih ada ruang bagi harapan yang naif. ---halaman 329


***

Pada mulanya, saya mengira novel ini akan beralur dan terasa sama dengan beberapa novel klasik yang saya baca: linier, lambat, dan cenderung membosankan. Di halaman-halaman awal, mungkin ini khasnya novel klasik, pembaca disuguhkan deskripsi yang panjang, namun indah. Sebagai orang yang biasa dengan deskripsi panjang dan berbunga, rasanya tidak masalah bagi saya, dan saya lanjut membacanya meskipun, jujur saja, tidak begitu mengerti alur atau plot yang sedang terjadi. Namun, beberapa halaman selanjutnya, ketika tokoh-tokohnya satu per satu terbuka, novel ini memiliki magnet dan daya pikatnya tersendiri untuk saya baca dan baca lagi. 

Dari segi plot, saya juga lagi-lagi dikejutkan dengan cerita yang tidak hanya linier, namun di sini kaya sekali dengan plot sehingga pembaca tidak merasa bosan. Ketika membahas tentang satu tokoh, tidak selamanya cerita dari satu tokoh itu saja ditonjolkan, namun ada pula plot tokoh pendamping yang ternyata memiliki dampak di kemudian hari pada tokoh utama. Hubungan sebab-akibat terjalin dengan rapi dan dikemas secara cantik. Beberapa plot-twist tidak terduga berhasil membuat saya tercengang. Oh, ternyata, buku klasik memiliki plot rapi dan tak terduga juga, yang benar-benar..., tak terduga.

Selanjutnya saya mau bahas tentang penokohannya. Saya benar-benar mengapresiasi kemampuan penulis dalam merangkai dan menjalankan tokoh-tokohnya. Satu tokoh tidak muncul begitu saja namun memiliki jalinan cerita yang dijelaskan pada masa sebelum tokoh itu hadir. Lalu, tidak hanya tokoh utama yang memiliki panggung di sini. Tokoh sampingan pun juga diberikan tempat dan cerita mereka sendiri. Contohnya Jerry, dan cerita tentang keluarga Jerry yang dipaparkan di sini. Jerry adalah kuli panggul yang biasa diberikan pekerjaan oleh Mr Lorry untuk membantunya. Ia memiliki keluarga di mana ia selalu bersikap kasar kepada istrinya apalagi saat mengetahui bahwa istrinya tengah berdoa. Ia menganggap, kesialan yang menimpanya saat menjalani pekerjaan sampingan lainnya, itu disebabkan bahwa sang istri meminta kepada Tuhan agar menggagalkan usahanya tersebut.

Lalu ada cerita Miss Pross dan adiknya Solomon, di mana ia teramat sangat mengharapkan bahwa orang yang layak menjadi pendamping Lucie hanyalah adiknya seorang. Kisah suami istri Defarge juga menarik untuk disimak.

Saya angkat topi dengan kecerdasan dan kepiawaian penulis dalam mendeksripsikan sesuatu, misalnya:

Konon, beberapa bintang berada jauh sekali sehingga cahayanya belum sampai ke bumi kecil kita--sebuah titik di antaraiksa tempat kita menanggung segala derita. Dan dalam naungan gemintang nan abadi, bayang-bayang malam tampak besar dan hitam. ---halaman 65

atau

Seluruh keagungan dan kehinaan dunia berlangsung sekerlip cahaya bintang belaka. Dan sebagaimana pengetahuan manusia dapat memecah cahaya dan mempelajari warna-warna yang menyusunnya, orang-orang tertentu memiliki ketajaman untuk membaca pikiran, sikap, serta kebiasaan baik dan buruk setiap insan di bumi ini. ---halaman 228

Saya tidak tahu sejauh mana pengetahuan orang-orang zaman itu tentang perbintangan, atau sains. Tapi, membicarakan galaksi sebelum era Teleskop Hubble hadir di muka bumi, menurut saya ini sebuah nilai tambah yang membuat sebuah karya sastra ini semakin berkilauan. Ini sebuah apresiasi besar. Memang saya membaca novel ini edisi terjemahan. Jika kelebihan itu ada pada penerjemah, maka ini menambah nilai plus untuk itu, yang akan saya bahas sebentar lagi. Tapi, jika memang keindahan bahasa itu milik penulisnya, wow, it just, wow.

Tentang gaya penerjemahan yang diterbitkan oleh edisi Qanita ini, saya sungguh-sungguh dibuat kagum dengan pemilihan diksi yang jarang saya dengar. Ini baik sekali, karena membuat pembacanya dapat memperkaya diksi, sekaligus membenarkan pemakaian kata yang selama ini salah. Saya ada mencatat beberapa kosakata baru yang saya peroleh dari hasil membaca novel ini:

ganar/ga·nar/ a bingung; hilang akal

kerani/ke·ra·ni/ n pegawai yang mengurusi administrasi sederhana (misalnya mencatat, mengetik, menerima, dan mengirimkan surat); juru tulis; kelerek

gerisik/ge·ri·sik/ n tiruan bunyi daun kering bersentuhan

geletar/ge·le·tar/ v, menggeletar/meng·ge·le·tar/ v menggigil; gemetar; menggentar (bergentar); berdebar-debar (tentang hati)

galan/ga·lan/ a cak tahu sopan santun dan pandai bergaul (khusus untuk laki-laki)

lindap/lin·dap/ Mk a 1) redup; samar; (mulai) kabur; berkurang (tentang cahaya, panas, terang): karena kehabisan minyak, sinar lampu itu mulai --; 2) (mulai) padam: api sudah --; 3) mendung: langit semakin --; 4) kurang dapat ditangkap maknanya; kurang jelas: teriakannya -- ditelan lembah itu; 5) sejuk; teduh: marilah kita mencari tempat yang -- di antara pohon-pohon itu;

Keren. Ditambah lagi, cover buku ini yang benar-benar cantik. Saya tidak segan memberikan lima bintang untuk seluruh kemasan novel yang telah saya baca ini.


Karnak Cafee

Judul : Karnak Cafee
Pengarang : Najib Mahfudz
Penerjemah : Happy Susanto
Penerbit : Alvabet Sastra
ISBN : 9789793064550
Tebal Buku : 180 Halaman
Rating : 3 dari 5




Tokoh utama dalam novel ini, si "aku" bisa dibilang sebagai orang yang baru saja bergabung dengan komunitas Karnah Cafee, dalam satu kunjungan tidak sengajanya ke pasar saat sedang memperbaiki jam. Cafee di sana tidak hanya sekadar tempat minum kopi, tapi lebih dari itu, ada "keluarga" yang terbentuk di mana anggotanya saling mengakrabkan diri dan menceritakan kehidupan yang tengah berlangsung di antara mereka. "Aku" mulai terlibat di sini meskipun dia menikmati perannya sebagai seorang pengamat dan pendengar. 

"Aku" cukup terkejut karena pemilik cafee ini adalah seorang wanita yang masih cantik setelah melewati masa keemasannya sebagai seorang penari terkenal pada zamannya, Qurunfula. Meskipun sudah tua, nampaknya kharisma Qurunfula bisa dikatakan belum padam. Pengagumnya masih ada, bahkan ada yang ia rekrut sebagai pelayan di cafeenya. Ada pula yang bahkan masih mengejar-ngejar dirinya hingga sekarang, seorang direktur humas bernama Zainal Abidin.

Qurunfula menyukai seorang pemuda, Hilmi Hamada yang merupakan anak revolusi. Hilmi Hamada bersama teman-temannya sering mengunjungi tempat ini tidak hanya sekadar untuk minum kopi, melainkan membagi semangat revolusi kepada penghuni lainnya. Tidak hanya Hilmi Hamada, temannya Ismail al-Syekh dan juga Zainab Diyab.

Suatu hari, mereka menghilang dalam waktu yang lama dari Karnak Cafee membuat pelanggan tetap lainnya bertanya-tanya tentang keberadaan mereka. Terutama Qurunfula, yang merasa begitu menderita. Lalu tak lama mereka kembali, akan tetapi mereka tidak pernah menjadi seperti sebelumnya. Peristiwa itu tidak hanya berlangsung sekali saja. Mereka kembali hilang dan muncul untuk beberapa masa, dan suatu saat, Hilmi Hamada tidak ikut kembali kepada mereka karena dikabarkan tewas di dalam penjara karena dituduh komunis.

Tokoh "aku" terlibat pembicaraan dengan Ismail di mana dia menceritakan tentang bagaimana kondisinya selama di penjara. Seseorang bernama Khalid Sofwan yang memimpin pergerakan itu dan menuduh mereka sebagai bagian dari komunis atau Ikhwanul Muslimin. Hilmi Hamada berkhianat kepada mereka, sementara dia bisa memastikan kalau Zainab tidak termasuk bagian dari pengkhianat itu. Pada awalnya, mereka (Ismail dan Zainab) memiliki hubungan lebih dari sekadar pertemanan yang berlangsung sejak kecil. Namun kondisi ini yang membuat mereka menjadi anak-anak Revolusi membuat hubungan itu menjadi rumit. Akhirnya dia pun dipaksa untuk menjadi mata-mata dan memata-matai satu sama lain, termasuk Zainab juga. Tawaran tersebut memang menggiurkan secara materi, namun Zainab dan Ismail merasa bersalah terhadap nurani mereka sendiri.

Dalam kesempatan yang lain, "aku" juga berbicara dan mendengar penuturan Zainab. Zainab menuturkan bagaimana keadaannya saat di penjara apalagi saat mendapatkan pelecehan seksual. Inilah yang membuatnya merasa tidak pantas dan harus berpisah dari Ismail.

Ada kutipan pada dialog antara "aku" dan "Ismail" yang memilukan berikut ini:


"Jadi sudah bubar?"
"Aku kira tidak..."
"Benarkah?"
"Kami berdua sakit. Paling tidak itu terjadi padaku, dan aku tahu alasannya mengapa. Ia juga sakit. Suatu hari cinta kami bakal tumbuh kembali; atau sebaliknya mati untuk kebaikan. Atas dasar itulah, kami masih saling menunggu, dan itu tidak membosankan bagi kami berdua."

Jadi kemudian mereka berdua saling menunggu. Tapi kemudian, siapa yang ditunggu?


***


Saya benar-benar menikmati membaca novel ini, tidak seperti saat membaca novel-novel berlatar sejarah sebelumnya. Penulis benar-benar membuat pembaca merasa nyaman dengan setting dan sudut pandang "orang luar" dalam menyajikan ceritanya. Dan ini sebenarnya bukan buku Naguib Mahfouz, dulu banget sempat baca salah satu karyanya tapi saya lupa.

Karnak Cafee bercerita tentang pergolakan di Mesir pada tahun 60-an di mana pihak komunis dan ikhwanul muslimin (kalau saya nggak salah nangkap isi buku ini). Sudut pandang penceritaan sendiri adalah dari seorang yang tanpa disengaja masuk ke dalam cafee dan berkenalan dengan pemilik dan pelanggan tetap tempat ini. Dari sinilah, sebuah tempat minum kopi, revolusi dibicarakan. Si orang pertama bukanlah lakon utama yang bergerak dalam ranah revolusi, dia hanya seorang pengamat dan pendengar yang baik. Dari hasil mendengarkannya itulah, beragam kisah seputar pemberontakan, situasi dalam penjara, dan beberapa kejadian diceritakan. Meskipun ada beberapa bagian yang saya nggak mudeng (apalagi saya buta sejarah pergolakan Mesir), tapi buku ini nggak terlalu membingungkan. Dan meskipun sebenarnya saya juga buta banget soal ikhwanul muslimin (padahal saya punya bukunya Hasan al Bana lho tapi lupa ditaroh di mana), tapi masih oke kok baca buku ini. Mungkin karena sudut pandang orang luar yang dipakai itu kali yah.

Jadi, novelnya cukup bagus. Ada kemungkinan saya untuk baca kembali di lain waktu.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)