Showing posts with label historical. Show all posts
Showing posts with label historical. Show all posts

Jogja Jelang Senja

Judul : Jogja Jelang Senja
Penulis : Desi Puspitasari
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 228 Halaman
Cetakan Pertama, Mei 2016 
ISBN : 9786023754830
Rating : 4 dari 5




"Jangan berpindah agama hanya demi alasan manusia, Mas. Terlebih-lebih cinta." ---halaman 2

Blurb:

Senja di Jogjakarta menawarkan banyak kemungkinan; di antara terang menuju petang; di antara pertemuan dan perpisahan; di antara Aris dan Kinasih.

Aris bertemu Kinasih di pertigaan Pasar Kotagede, saat secara tak sengaja ia menabrak sepeda gadis itu. Sejak kejadian itu, Aris mengantar jemput Kinasih ke tempat kerja, sebab kaki gadis itu terluka, sementara ia belum mampu membayar biaya ganti kerusakan sepeda.

Kedekatan keduanya menumbuhkan cerita baru. Ketika Aris ingin menggenggam erat tangan Kinasih, saat itu pula perbedaan keyakinan menjadi tembok bagi keduanya. Bisakah Aris dan Kinasih melewatinya? 

***

Kinasih adalah seorang gadis perajin perak. Sementara, Aris adalah pemuda yang kesehariannya bekerja di sebuah surat kabar. Keduanya bertemu saat terjadi insiden tabrakan sepeda. Aris yang terburu-buru mengejar liputan tentang pasar Ramadhan, menabrak sepeda Kinasih. Akibatnya sepeda itu rusak. Namun, Aris tidak memberikan pertanggungjawabannya atau kompensasi apa pun karena dirinya dikejar deadline penulisan laporan dan harus segera pergi. Lagi pula, dia belum gajian. Akhirnya, dia hanya memberikan secarik kartu nama tempat dirinya bekerja. Asih yang dongkol karena sepedanya rusak dan lengannya yang terluka hanya mampu menyembunyikan itu dari orangtuanya.

Karena terdesak, akhirnya Kinasih mendatangi tempat kerja Aris. Dan lagi-lagi, dia tidak mendapatkan ganti rugi untuk memperbaiki sepedanya. Karena tidak mau mangkir dari tanggung jawab, Aris memberikan opsi agar dia mengantar Kinasih setiap hari ke tempat kerjanya. Meskipun harus memutari kota Jogja karena lokasi mereka tidak berdekatan, mau tidak mau itulah yang musti dia lakukan.

Dari situlah hubungan keduanya semakin dekat. Diam-diam, Kinasih jatuh hati pada Aris. Namun, ada satu hal yang membentang di antara keduanya. Aris dan Kinasih beda agama. Kinasih yang anak seorang pemuka agama di kampungnya, sementara Aris adalah pemuda Katolik. Ditambah lagi, kehadiran Jeanette, seorang gadis eksektrik anak Jendral dari ibukota yang seiman dengan Aris, turut mewarnai kisah di antara mereka.

Tidak hanya itu saja, konflik yang turut mewarnai kisah ini adalah pergolakan masa rezim tahun 1995-1996 yang begitu kentara. Membuat cerita Jogja Jelang Senja tidak hanya berdimensi konflik cinta segitiga beda agama semata.

***

"Mas, beragama itu tak seperti mengenakan sepatu. Mas kenakan sepasang untuk sekian waktu, bila sudah usang atau memiliki sepasang yang baru Mas copot dan tinggalkan yang lama." ---halaman 185


Bab awal (dan akhir) yang fantastis.

Sejujurnya, saya merasa ketipu saat memaca novel ini. Ketipu habis-habisan. Saya pikir novel ini bercerita tentang roman-roman biasa, kontemporer, ala-ala FTV yang ketemunya tabrakan lalu dibungkus dengan konflik perbedaan agama. Ternyata saya salah besar. Bumbu tentang pergolakan medio 90-an justru lebih kerasa ketimbang plot seputar perbedaan keyakinan tokohnya. Saya baru sadar waktu cerita tentang Marsinah dibahas. Padahal, karakternya naik sepeda dan waktu mau buat berita nulisnya pakai mesin ketik (sense saya sudah luntur banyak ini kayaknya).

Jadi, tersebutlah seorang Aris, pemuda Katolik, mahasiswa yang mengerjakan pekerjaan sambilan sebagai jurnalis sekaligus informan pergerakan. Dia baru saja menabrak Kinasih, seorang gadis lugu anak bapak pemuka kaum di tempat tinggalnya, pekerja di pengrajin perak. Karena sepeda Asih rusak, dan Aris tidak punya cukup uang sampai gajian bulan depan, mau tidak mau Aris harus mengantar-jemput Asih setiap hari. Dari situ, Asih yang selama ini selalu menolak pria-pria yang hendak melamarnya itu, jatuh hati pada Aris yang notabene berbeda keyakinan dengannya.

(Sampai di sini, cerita cukup klise dan lumayan membosankan)

Untunglah, penyelamat kebosanan ini disematkan kepada Jeanette, gadis nyentrik anak jendral besar dari Jakarta yang sedang berlibur ke Jogja. Tidak hanya berlibur, gadis cantik itu bermaksud untuk menemukan petualangan cintanya. Dan bertemulah dia dengan Aris, pemuda di balik tulisan yang cerdas dan kritis di surat kabar tempatnya bekerja.

Cerita ini mengingatkan saya dengan film yang dibintangi Reza Rahadian dan Laura Basuki, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Tentang kisah cinta beda agama. Namun, karena di novel ini yang begitu kentara adalah pergolakan yang terjadi di tahun itu, maka yang berhasil mencuri perhatian saya adalah aktivitas Aris bersama dengan kawanannnya. Salut bagaimana penulis bisa mengemas dua plot penting dan sama-sama beratnya itu menjadi padu dalam sebuah cerita. Apalagi, embel-embel kota Jogja yang diusung dalam judulnya, terasa begitu dekat, membuat pembaca ikut terlempar dalam setting kota Jogja di tahun 1995-1996. Kesangsian saja dengan novel ini begitu sirna. Meskipun, tidak ada benang merah antara kisah ini dengan Jakarta Sebelum Pagi selain kesamaan pola penulisan judulnya. Good job! Saya tidak merasa menyesal ketipu di tempat yang benar.

...karena bagiku, Yogyakarta adalah kangen dan pulang. ---halaman 149

Untuk ending kisah cinta yang mengangkat perbedaan agama, penulis cukup berimbang dalam memilih eksekusi akhirnya.

Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu

Judul : Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu
Penulis : Joseph Rio Jovian Haminoto 
Penerbit : Gramata
Tebal Buku : 76 Halaman
ISBN : 9786028986823 
Rating : 4 dari 5






"Apakah rahasia kebahagiaan itu menurut kamu?"
"Ketika kita dicintai oleh orang yang kita cintai, ketika kita dapat berbagi pada sesama, ketika kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan." ---halaman 87

Blurb:

Raphael Harijono (Rafa) adalah seorang pria asal Indonesia yang memiliki segala yang diperlukan untuk bisa memenangkan pelelangan internasional di balai-balai metropolitan dunia. 

Dalam sebuah perburuannya, ia terseret masuk ke dalam sebuah perjalanan waktu bersama Emma Watts, seorang ahli bahasa dan arkeolog dari King's College, Universitas Cambridge, dan juga bersama seorang wanita pengusaha setengah baya asal Prancis bernama Magalie Vaillant yang begitu memesona dalam pemikiran, tindakan dan... waktu.

Picaro Donevante, warga kota Paris berdarah Italia, berjumpa dengan Solene de Morency, seorang wanita kepada siapa ia dengan tulus setia berjanji untuk menjadi mata dan hati baginya untuk melihat keajaiban dan kemegahan peradaban Timur Jauh dan berjanji untuk kembali menemuinya pada sebuah perayaan ekaristi di Notre Dame, Paris.

Perjalanan panjang Rafa dan Picaro tidak hanya membawa mereka memasuki masa gemilaunya kerajaan Majapahit, tapi juga menyatukan mereka ke dalam sebuah Persekutuan Waktu.

***

Rafa memiliki kisah cinta yang aneh namun tragis. Bagaimana tidak tragis, jika pertemuannya dengan orang yang ia cintai harus melalui rentang waktu dua kali sepuluh tahun karena sebuah permainan konyol yang disepakatinya dengan seorang wanita bernama Artjana. Sepuluh tahun pertama, pertemuan mereka begitu dramatis dan menyenangkan, namun sepuluh tahun berikutnya yang ada hanyalah tragedi.

Ketika Anda mencintai seseorang, Anda menjadi terlalu mencintainya. Sesuatu yang terlalu, apa pun itu, selalu menjadi tidak baik. Karena yang terlalu akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan." ---halaman 75

Selain kisah cintanya yang tidak mengalami keberuntungan, hidup Rafa bergelimang harta. Ia adalah seorang kolektor benda-benda langka dan mahal. Atas nasionalismenya, ia memburu benda-benda yang berhubungan dengan Indonesia dan bermaksud memboyongnya ke Museum Indonesia. Dalam perjalanan itu, ia mengincar sebuah manuskrip yang menceritakan tentang Majapahit yang bahkan lebih hebat ketimbang cerita Marco Polo. Dari sana ia bertemu dengan seorang wanita tua misterius yang mengaku dalam kehidupan sebelumnya pernah menjadi ibunya. Dan saat sebelum pelelangan manuskrip itu, ia juga bertemu dengan Emma Watts, ahli bahasa yang menerjemahkan lembaran papirus itu ke dalam bahasa Inggris.

Picaro Donevante, seorang pemuda dari abad keempat belas, menjadi pengungsi politik yang tinggal di Paris, jatuh cinta dengan seorang wanita bernama Solene de Morency yang juga menyukainya.

"Saya suka orang yang membaca karena mereka bagaikan laut dalam yang harus diselami untuk dapat melihat keindahannya dan tak akan pernah ada batas untuk berhenti. Tidak seperti pantai dangkal yang walsu jernih dan indahh dengan karang dan ikan-ikan kecil berwarna, segalanya terbatas dalam lingkup yang jelas." ---halaman 56

Picaro diberi sebuah buku oleh pengajarnya tentang cerita dari negeri yang bernama Cathay (negeri China), dan ia meminta Solene untuk membantunya menerjemahkan buku itu. Karena rasa cintanya, Picaro menjanjikan akan mengajak Solene untuk melihat itu semua.

"Aku ingin melihat dunia yang dilihat Tuan Marco Polo!" kata Solene dengan mata berbinar setelah satu tahun lebih kami menggenggam bersama catatan perjalanan Tuan Polo itu.
Seketika itu juga aku menjawab, "Kita pergi besok ke Konstantinopel! Dari sana kita akan menuju Cathay! Saya, Picaro Donevante, berjanji akan mengantar Nona Solene de Morency untuk melihat dunia yang ingin ia lihat! Saya akan memperlihatkan kebesaran Tuhan dan untuk itu saya berjanji!" ---halaman 77

Malangnya, Solene akan menikah dengan orang lain. Karena patah hatinya, Picaro memutuskan untuk pergi menuju ke Cathay seorang diri. Uang yang diberikan ibu dan adiknya ia gunakan sebagai bekal perjalanan. Mulanya Picaro pergi ke Jerussalem. Di sana ia bertemu dengan seorang budak bernama Kingsley dan seorang Mamluk (sebuah bangsa yang rakyatnya merupakan ksatria tangguh) yang kemudian menjadi teman perjalanannya bernama Tari Fathelldin. Tiga teman perjalanan ini merepresentasikan tiga keyakinan berbeda: Picaro yang seorang Katolik, Tariq yang seorang Muslim, dan Kingsley penganut Yahudi. Mereka bahkan pergi ke Timur mengikuti seorang biksu yang ingin mengajar agama Buddha di Suvarnadvipa (Sumatra) di Kerajaan Srivijaya. Picaro setuju untuk mengikuti biksu itu karena ia tahu bahwa tempat itu pernah disinggahi oleh Marco Polo. Di sana, mereka menemukan banyak hal yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Sisa-sisa kejayaan Kerajaan Srivijaya yang masih terasa sampai saat itu. Lalu, ketika ada kesempatan untuk pergi ke bumi Cathay, Picaro memutuskan untuk berubah haluan. Ia pergi ke Javadvipa (Jawa). 

Karena sebuah kejadian, Picaro menjadi dekat dengan pihak kerajaan Mataram. Picaro hidup lama di sana, bahkan puluhan tahun. Ia hidup bersamaan dengan perkembangan kerajaan. Mulai dari pengangkatan Tribhuwana Tunggadewi sebagai penguasa Mataram, lalu Gajah Mada sebagai Mahapatih, dan bagaimana Gajah Mada menguasai dan menyatukan bumi nusantara, dan juga menjadi saksi pengangkatan dan kehidupan Hayam Wuruk sebagai penguasa kerajaan di bumi Javadvipa itu.

Cerita Rafa dan Picaro berjalan seiringan dalam buku ini, menjalin sebuah kisah yang padu dan mengasyikkan untuk dibaca. Membaca buku ini, membuat belajar sejarah menjadi menyenangkan.

***

Bagi saya, buku ini pas jika dianalogikan seperti gado-gado. Banyak komponen yang dicampur di dalamnya, tapi rasanya tetap nikmat. Bayangkan saja dua lini masa yang berbeda, dua sudut pandang, lalu bercampurnya tokoh barat dan pribumi, roman dalam balutan sejarah. Ketika dikemas dengan baik, semua itu bisa menyatu juga dan menyenangkan untuk dinikmati.

Terlepas dari adanya kekurangan dalam novel ini (akan saya bahas di bawah), saya bisa mengatakan bahwa ini adalah sebuah karya yang menakjubkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada penulis yang bersedia mengirimkan bukunya untuk diulas oleh saya. Begitu saya mendapatkan buku ini dan membaca beberapa halamannya, saya yakin kalau akan suka dengan isinya. Dan ternyata, prediksi saya benar. Rasanya senang sekali dipertemukan oleh buku yang saya suka.




Ada dua sudut pandang dan dua setting dalam novel ini. Yang pertama, menceritakan dari sudut Rafa dengan PoV orang ketiga. Di sini, setting waktunya adalah masa kini dengan latar di berbagai tempat. Lalu, PoV orang pertama disajikan oleh Picaro. Meskipun di awal pergantiannya cukup konsisten, namun dari tengah menuju akhir buku, kisah Picaro lebih banyak disajikan. Ini karena memang kisah ini lebih banyak menceritakan tentang perjalanannya. 

Meskipun di blurb diceritakan bahwa kisah ini bercerita tentang kerajaan Majapahit, tapi cerita tentang perjalanan ke Timur baru muncul di halaman 150.

Aku ingat nasihat Ayah, "Ketika engkau menginginkan sesuatu, namun engkau belum bisa mendapatkannya, berada di dekat-dekatnyalah...." Saat itu yang kupikirkan adalah aku harus ke Timur. ---halaman 150.

(Anyway, saya suka kalimat itu, benar-benar mengena banget!)

Sebelum membahas tentang bumi Nusantara, saya justru mendapatkan rangkuman tentang Perang Salib (ada di halaman 132 sampai 136). Sebagai penikmat sejarah yang mager untuk membaca buku atau riset tentang sejarah, bonus tentang Perang Salib adalah sebuah informasi yang berharga. Lalu, ketika mereka sampai di Nusantara, saya juga jadi mendapatkan banyak sekali informasi tentang keadaan sosial dan sejarah tentang kerajaan di Nusantara. Saya sedih karena baru kenal dengan Dyah Pitaloka dan ceritanya yang tragis dari buku ini (huhuhu, sedih).

Namun, sangat disayangkan buku ini "ditangani" dengan kurang baik. Saya katakan demikian, karena banyak sekali kesalahan penulisan yang tidak dipoles dengan baik oleh editornya, entah apa sebabnya (oke, saya berusaha untuk berpikir positif). Seperti misalnya, penggunaan tanda baca, penulisan yang tidak sesuai (contoh sederhana misalnya kata "dimana" yang seharusnya "di mana", lalu kata-kata yang tidak sesuai dengan KBBI, seperti "semedi" yang bakunya adalah "semadi"; masih banyak contoh-contoh lainnya, banyak sekali). Saya pernah membaca buku yang tidak ditangani dengan baik dan membuat mood saya melonjak turun drastis. Dan untungnya, riset sejarah yang kuat dari cerita ini membuat kesalahan itu pun termaafkan. Bagaimana tidak termaafkan jika konten buku ini, terutama tentang sejarah yang diangkatnya, memiliki nilai yang lebih dari sekadar plus bagi orang awam yang ngakunya ingin belajar sejarah namun sedikit malas membaca nonfiksi seperti saya, hehehe. Tapi ini tetap menjadi catatan yang semoga mendapatkan perbaikan di kemudian hari. (Berkali-kali saya mengatakan, "Duh, sayang banget, buku ini keren, plot sejarahnya keren banget, tapi harus 'kalah' sama kesalahan editing dan penulisan".)

Satu hal yang bisa dipelajari dari membaca kisah ini adalah, penulis secara tidak langsung jadi mengajarkan kepada saya bagaimana teknik membuat cerita fiksi dengan tokoh-tokoh fiktif yang selaras dengan kisah sejarah. Menyelipkan seorang Picaro Donevante sebagai "figuran" dalam lembaran sejarah kerajaan Majapahit dengan nama-nama familiar seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Bhayangkara, adalah sebuah trik yang cerdas. Eh tapi, apakah memang Picaro adalah sebuah kisah fiksi atau benar-benar nyata? Mari kita tanya penulisnya :D

Meskipun ada plot yang absurd, misalnya cerita tentang Nyonya Vaillant, tapi masih dalam jangkauan penerimaan saya mengingat Paulo Coelho banyak mengangkat cerita yang demikian dalam novel-novelnya. Oke, apakah kemudian bisa dikatakan bahwa novel ini masuk ke dalam genre fantasi? Silakan dibaca sendiri bukunya untuk bisa menentukan :p

Sebelum mengakhiri review ini, saya juga ingin mengungkapkan kekaguman saya pada penulis yang begitu banyak menyelipkan kalimat-kalimat yang quote-able, namun pas. Artinya, kalimat itu sinkron dengan pembahasan yang tengah diceritakannya, bukan hanya karena sekadar ingin memberikan kalimat-kalimat puitis. Beberapa sangat mengena di hati saya, dan memang selaras dengan kehidupan. Pembaca benar-benar dimanjakan dengan kalimat indah sarat makna dan pembelajaran.

"Ada pesan yang tersirat dari sebuah jam pasir. Waktu akan terus berlari, namun ketika pasir habis, ia akan selesai. Waktu untuk jumlah pasir itu saja." ---halaman 24
"Waktu dan pengorbanan serta ketekunan adalah kunci dari semua ini. Kemungkinan untuk berhasil tidak lebih besar daripada kemungkinan untuk gagal. Namun, kalaupun gagal, saya tidak akan pernah menyesal karena saya telah mencoba melakukan hal yang besar dengan sepenuh hati." ---halaman 182
"Kita harus tahu kapan saat memulai dan kapan saat berhenti." ---halaman 344
"Tuan Puteri, saat sebuah rasa cinta terhadap seseorang dapat membuat diri kita menjadi lebih baik, itulah arti jatuh cinta yang sebenarnya. Karenanya sebuah rasa jatuh cinta perlu dibuktikan dalam selang waktu atas kebenaran artinya." ---halaman 362
"Anda akan memasuki zona waktu yang lain saat pada akhirnya kita semua akan tersadar bahwa cinta sejati adalah abadi dan tiada akhir." ---halaman 388


Sekali lagi, terima kasih kepada penulisnya yang sudah mengenalkan saya pada buku ini, dan ikut menjelajah ruang dan waktu bersama Picaro dan Rafa. 


The Secret Life of Bees

Judul : The Secret Life of Bees
Penulis : Sue Monk Kidd
Penerjemah : Endang Sulistyowati
Penerbit : Gagas Media
Tebal Buku : 428 Halaman
ISBN : 9789797806002
Rating : 4 dari 5





Blurb:
Kamu harus menemukan seorang ibu di dalam dirimu. Bahkan, kita semua sebaiknya melakukan hal itu. Sekalipun kita memiliki seorang ibu, kita tetap harus menemukan bagian ini di dalam diri kita sendiri.

Berlatar di Carolina Selatan pada musim panas tahun 1964, saat Undang-Undang Hak Sipil dan kerusuhan rasial tengah ramai dibicarakan. Di sebuah perkebunan persik, Lily Owens, gadis empat belas tahun, menghabiskan seluruh hidupnya untuk menghadapi ayah yang kejam dan pemarah sekaligus merindukan ibunya yang meninggal secara misterius ketika ia masih berusia empat tahun.

Setelah berhasil meloloskan Rosaleen—pengasuh kulit hitamnya yang dipukuli para rasialis ketika hendak pergi ke kota menggunakan hak suaranya—dari rumah sakit, Lily memutuskan kabur. Ia membawa lari Rosaleen ke Tiburon, nama kota di Carolina Selatan yang tertera di balik gambar Maria berkulit hitam milik mendiang ibunya.

Di kota yang menyimpan masa lalu ibunya inilah Lily bertemu tiga orang kakak-beradik eksentrik pemilik peternakan lebah. Kehidupan baru Lily pun dimulai. Ia tak hanya menemukan rumah yang hangat dan cinta yang tulus, tetapi juga kekuatan untuk berdamai dengan diri sendiri. Tak hanya itu, di sini pula Lily menemukan para ibu. Para perempuan yang tak melahirkannya, tetapi mengajarkan kepadanya bahwa ibu ada di diri setiap orang.

***

Lily merasa ayahnya, T. Ray, tidak pernah sedikit pun menyayanginya. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, yang diterima Lily justru perlakuan tidak menyenangkan dari sang ayah. Malang bagi Lily, karena ibunya telah lama meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis yang melibatkan dirinya saat ia masih balita. Dalam ingatan masa kecilnya, ia merasa bahwa dirinyalah yang membunuh sang ibu. Dan orang-orang di sekelilingnya tidak ada yang membantah atau menjelaskan apa yang terjadi saat itu sehingga anggapan bahwa dirinya pelaku peristiwa itulah yang tercetak dalam benaknya. Bahwa, Lily-lah yang melontarkan pelatuk pistol saat pertengkaran hebat terjadi antara kedua orangtuanya saat itu.

Ia dibesarkan oleh seorang pengasuh bernama Rosaleen, di perkebunan persik milik ayahnya. Meskipun Rosaleen berkulit hitam, namun Lily begitu menyayanginya hingga ia berandai-andai jika Rosaleen seorang kulit putih dan menikah dengan ayahnya, ia akan mendapati Rosaleen sebagai sosok sempurna pengganti ibunya. Saat itu, di tahun 1964 di South Carolina, diskriminasi terhadap kulit hitam sedang memanas. Suatu hari, undang-undang tentang diperbolehkannya kaum kulit hitam untuk mengikuti pemilu diberlakukan. Rosaleen, ingin mendaftarkan diri untuk memberikan suara pertamanya. Ia diam-diam ia meminta izin untuk pergi ke kota, dan Lily turut serta.





Dalam perjalanan itulah, terjadi sebuah peristiwa memilukan yang menimpa Rosaleen. Ia menghadapi masalah dengan orang-orang kulit putih yang menindasnya. Rosaleen dipukuli dan berakhir di penjara. Saat luka-lukanya diobati di rumah sakit itulah Lily melancarkan sebuah rencana melarikan diri dari rumah bersama Rosaleen. Perkataan T. Ray begitu terngiang dalam benaknya.

"Selama kau tinggal di bawah atapku, kau harus melakukan apa yang kuperintahkan!" teriak T. Ray
Kalau begitu, aku akan menemukan atap lain, pikirku. ---halaman 32
Mungkin aku sama seperti semprotan pestisida, yang diselamatkan dari hama atau hama yang akan terbunuh oleh semprotan pestisida, yang berkelana di muka bum mencoba melakukan penyelamatan sekaligus membawa kehancuran ke mana pun aku pergi. ---halaman 81 

Dengan berbekal barang-barang milik ibunya yang ia temui di loteng, Lily memutuskan untuk pergi ke Tiburon. Dan masih atas petunjuk benda tersebutlah yang mengantarkan Lily dan Rosaleen ke sebuah rumah pemilik penangkaran lebah, sebuah keluarga unik yang namanya terdiri dari nama-nama bulan: August, sang wanita pemilik rumah, June adiknya yang memberikan perlakuan kurang menyenangkan, dan May, yang berkepribadian unik karena sering menyanyikan lagu 'Oh! Susanna' sebagai alarm bagi sekitarnya ketika ia mendengarkan cerita sedih atau menyakitkan.

Secara mengejutkan, Lily yang seorang kulit putih diterima dengan baik dan mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang-orang asing berkulit berbeda dengannya. Ia bertemu dengan Zach, pemuda kulit hitam yang berlesung pipi dan rupawan, ia juga berkenalan dengan kelompok Putri-Putri Maria, sebuah komunitas yang digagas oleh August. Lily belajar banyak tentang kehidupan dari August.


"Kau tahu, ada sebagian hal yang tidaklah terlalu penting, Lily. Misalnya warna cat rumah. Seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupanmu? Tapi membuat orang senang--nah, itu baru penting. Masalahnya dengan orang adalah--"
"Mereka tidak tahu apa yang penting dan apa yang tidak."
"Aku hendak mengatakan, masalahnya adalah mereka tahu apa yang penting, tetapi mereka tidak memilihnya." ---halaman 197

Namun sayangnya, di pertemuan pertama mereka, Lily mengutarakan kebohongan tentang sebab-sebab keberadaan dirinya dan Rosaleen di sana demi keselamatan dan keamanan mereka. Seiring dengan berjalannya waktu, pada akhirnya kebohongan itu akan terbongkar, dan menyusul terkuaknya fakta-fakta yang berhubungan dengan hidup Lily lainnya. Bahkan, fakta lain yang berhasil mengguncangkan hidupnya, meruntuhkan semua asumsi dan anggapan yang selama ini dibangunnya.

***


"Kau tahu, Lily, orang bisa memulai dengan satu cara, dan pada saat hidup sudah menempanya, dia bisa berakhir dengan cara yang sepeuhnya berbeda." ---halaman 329

Bisa dibilang ini buku kedua yang saya baca yang mengangkat tentang diskriminasi terhadap kaum berkulit hitam di Amerika selain To Kill a Mockingbird yang bertema sama. Namun, di The Secret Life of Bees ini, tema friksi antara kaum kulit putih dengan kulit hitam lebih diangkat. Diwakili oleh Lily yang berkulit putih, namun ternyata ia justru mendapatkan limpahan kasih sayang dan "keluarga" oleh sebuah keluarga kulit hitam dalam pelariannya. Novel ini sungguh memberikan kesan yang dalam tentang kemanusiaan. Menyasar dengan tepat tentang permasalahan sosial yang sedang terjadi di masanya di mana diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam masih begitu terasa.

Penulis dengan apik "membalikkan keadaan" ketika menempatkan posisi Lily sebagai "minoritas" di antara keluarga kulit hitam yang begitu menyayanginya. Tidak hanya memberikan tempat tinggal, tapi juga sebuah keluarga dan perasaan dicintai yang tak pernah Lily dapatkan dari ayahnya. Penulis juga membawa emosi "jatuh cinta" di sini, yang membuat kisah ini menjadi berwarna. Juga tentang "patah hati". Bagaimana rasanya menjadi sosok yang tidak dicintai oleh ayahnya sendiri, juga oleh orang-orang yang begitu berarti dalam kehidupan Lily. 


Ada satu hal yang bisa kukatakan: kata 'mustahil' adala satu kayu gelondongan besar yang dilemparkan ke api cinta. ---halaman 177
"Lily, aku lebih menyukaimu dibandingkan gadis lain yang pernah kukenal, tetapi kau harus mengerti, ada orang-orang yang akan membunuh pemuda sepertiku hanya karena menatap gadis sepertimu." ---halaman 179

Namun, tidak hanya tentang itu saja yang diangkat oleh kisah ini. Ada cerita tentang trauma masa lalu dan kebiasaan aneh kakak-beradik May dan June. Ada kisah lebah dan bagaimana filosofi lebah dirajut menjadi satu dengan kisah yang disuguhkan. Dan juga, cerita tentang Black Madonna yang menjadi bagian dalam cerita ini.

Dalam buku setebal 428 halaman, kisahnya disajikan dengan begitu apik, mengalir dengan pelan namun tidak membosankan. Cara penulisan serta terjemahannya mendukung cerita ini, membuat pembaca tidak bisa melepaskannya begitu saja hingga titik terakhir. Kejutan di ending membuat hati siapa pun hancur karenanya. Sungguh, jadi ingin memeluk Lily dan mengatakan bahwa masih banyak orang-orang yang mencintainya di dunia ini.





Satu-satunya kekurangan yang ada di sini hanyalah banyaaak sekali kesalahan penulisan yang ada di novel ini, dan semakin ke belakang jadi semakin banyak. Membuat saya mengerutkan dahi dan tertawa getir berkali-kali. Sekali lagi harus saya katakan, gaya penulisan dan terjemahan, serta plot yang begitu kuat yang membuat saya tidak merasakan kekecewaan yang begitu berarti terhadap novel ini. Apalagi, di awal bab diberikan kutipan-kutipan seputar lebah yang menambah pengetahuan dan sinkron dengan yang dibahas di dalam babnya.

Pada akhirnya, sebuah penerimaan yang baik akan memberikan kehidupan yang lebih baik pula. 

"Bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna. Bahwa kau hanya harus memejamkan matamu dan menghela napas, biarkan teka-teki hati manusia seperti apa adanya." ---halaman 377

The Missing History

Judul : The Missing History
Penulis : Peer Holm Jørgensen
Penerbit : Noura Books
Tebal Buku : 468 Halaman
ISBN : 9786020989877
Rating : 3 dari 5



"Saya percaya setiap orang memiliki kewajiban untuk memperjuangkan apa yang dia yakini." ---halaman 64

"Kalian tahu, hidup adalah sebuah pilihan. Kalian bisa membuat pilihan kalian sendiri seperti sekarang kalian telah memilih untuk melecehkan piihan yang saya buat. Kalian semua bebas melakukannya. Saya pernah bertemu dengan orang-orang yang membuat pilihan, kemudian mengindar dari tanggung jawab ketika harus menghadapinya."
"Jika boleh, berilah kesempatan kepada saya untuk memberikan satu nasihat kepada kalian semua: Ketika memutuskan membuat pilihan sendiri, kalian harus yakin untuk bisa tetap berpegang teguh pada pilihan  itu. Ingatlah, kalian harus hidup dengan konsekuensi pilhan yang kalian buat seumur hidup." ---halaman 447

*** 

Blurb:

Masa awal Orde Baru, 1970-an

Para mahasiswa yang pernah dikirim Soekarno ke negara-negara kiri sedang terombang-ambing. Gerak-gerik mereka diawasi oleh mata-mata pemerintah Orde Baru. Satu langkah keliru bisa mengakhiri hidup mereka.

Di tengah kegelisahan itu, Djani, salah seorang mantan mahasiswa Indonesia yang telah lama menetap dan berkeluarga di Slovenia, mendapat sebuah undangan misterius. Dia ragu untuk datang. Namun, rasa penasaran dan kerinduannya akan kabar terbaru dari tanah kelahiran mengalahkan ketakutan dan kecurigaannya.

Ketika tiba di tempat konferensi di Wina, dia pun merasa dijebak. Konferensi lima hari itu bersifat rahasia, dipimpin oleh Soemitro dan sejumlah pembesar Orde Baru, serta beraroma revolusi. Apa sebenarnya tujuan di balik konferensi tersebut?

Episode singkat dalam hidup Djani ini merupakan sejarah yang hilang dari dekade pertama Orde Baru dan jawaban dari misteri Dokumen Ramadi.

***

Djani adalah nama panggilan Dewa Soeradjana, seorang pemuda Indonesia yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan jenjang studi di sebuah negara berideologi komunis, Yugoslavia. Pada mulanya, kehidupan para mahasiswa ini berjalan sebagaimana semestinya. Namun, peristiwa di tahun 1965 di mana Soekarno dilengserkan oleh Soeharto mengubah kehidupan bangsa Indonesia, tidak terkecuali mereka yang tengah menimba ilmu di luar negeri. Semua pengikut Soekarno ditangkap, dilenyapkan, begitu pula keluarga mereka yang bahkan tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka. Keadaan ini yang menyebabkan Djani tidak segera pulang ke Indonesia, namun mengambil alasan untuk mengambil program master dan bertahan di sana. Ah ya, Djani adalah seorang pendukung Soekarno.

Waktu berlalu, keadaan Indonesia bisa dibilang belum stabil. Bahkan, ketika Djani selesai dengan kuliahnya, ia masih menahan diri untuk tidak kembali ke Indonesia. Ia masih mengambil alasan untuk melanjutkan kuliah mengambil program doktoral dan tinggal di sana. Namun, rencana ini tidak semulus yang ia bayangkan. Meskipun Djani memilih untuk mencari program beasiswa jalur mandiri (tidak dibayarkan negara karena ia tidak ingin terikat dengan syarat pengabdian, dll), dan ada beberapa pihak yang berminat membantunya, namun kendala dihadapinya karena tidak berhasil mendapatkan surat pengantar dari kedutaan RI.

Sejak kejadian lengsernya Soekarno dan peristiwa September 1965, pihak kedutaan RI melakukan upaya untuk mengendalikan para mahasiswa yang ada di luar negeri. Pada mulanya, mereka berniat untuk menarik kembali para mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan untuk mengabdi pada tanah air dan kembali pulang. Namun, setelah menempuh proses dialog, akhirnya mereka diperbolehkan tetap berada di luar negeri namun harus melakukan perpanjangan izin tinggal setiap tahunnya. Djani pun harus melakukan itu dengan pergi ke kedutaan untuk melakukan perpanjangan itu. Prosesnya cukup menguras perasaan pula karena ia akan "diinterogasi" dan ditanyai macam-macam sebagai bahan pertimbangan apakah ia masih diizinkan untuk tinggal atau dideportasi.

Alasan lain--selain karena ideologi--yang menahan Djani untuk tidak pulang ke Indonesia adalah karena dirinya sudah menikah dengan seorang gadis Slovenia bernama Marija Ana. Ia juga memiliki dua orang anak bernama Robert dan Suzana. Sama halnya dengan Djani, Marija Ana mengalami kekhawatiran yang sama setiap kali Djani harus pergi ke kedutaan atau menghadiri kegiatan yang berhubungan dengan orang-orang kedutaan.

Saat ia mengurus izin tinggal, rupanya ia bertemu dengan seorang teman lama yang menghubungkannya dengan Jendral Soepardjo, sang Duta Besar. Pertemuan ini kemudian berlanjut dengan sebuah tawaran untuk mampir ke rumah Djani di Slovenia, yang diterima dengan senang hati oleh duta besar itu. Suatu hari, kediaman Djani didatangi oleh dua orang penting dalam satu hari. Pak Roestandi, atase militer di kedutaan, dan Duta Besar Soepardjo beberapa jam kemudian. Hal ini, tentu saja membuat Marija Ana bertanya-tanya, apakah ini memang sebuah kebetulan atau memang sesuatu yang disengaja. Wanita itu mengalami semacam kecemasan berlebihan, apakah kunjungan ini ada hubungannya dengan pemaksaan agar suaminya kembali ke Indonesia dan meninggalkannya di Slovenia sendirian.


"Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu ada tujuannya." ---halaman 97

Tak lama kemudian, sebuah undangan konferensi datang pada Djani. Undangan ini mencurigakan, karena ketika Djani sampai di lokasi, ternyata bukan atas nama pihak kedutaan melainkan dirancang oleh beberapa orang yang menghadirkan pemuda-pemuda yang tengah menimba ilmu di daratan Eropa yang sama sekali tak dikenali oleh Djani. Ternyata, pertemuan ini dilakukan dengan maksud membuat blueprint rancangan tentang tatanan Indonesia baru. Dua kelompok dibentuk yakni yang membahas tentang bidang militer dan ekonomi-kebudayaan. Djani masuk ke kelompok kedua.

Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah orang-orang dalam kelompok itu bermaksud untuk meloloskan sebuah paham baru, atau barangkali itu adalah upaya untuk menggalang dukungan terhadap pemerintahan yang baru dari pemuda-pemuda Indonesia terdidik di luar negeri, atau justru malah sebaliknya?

Kekhawatiran tentang pertemuan selama seminggu itu tidak hanya hinggap pada Marija Ana, melainkan pada Djani juga yang menjalani pertemuan tersebut.

***

Sebelum saya membahas tentang novel ini, ada baiknya saya memberikan rekomendasi agar kalian pembaca, menonton film "Surat dari Praha" terlebih dahulu. Atau, bisa juga membaca review yang saya buat tentang film itu di sini. Mengapa demikian? Ternyata keduanya mengambil tema yang sama, yakni tentang nasib pemuda Indonesia pengikut Soekarno pasca kejadian pengkudetaan pemerintahan Soekarno oleh Soeharto.

Mahdi Jayasri (Surat dari Praha) dan Dewa Soeradjana (The Missing History) adalah potret dua orang pemuda Indonesia yang direnggut ideologinya hanya karena mereka mendukung Soekarno dan menentang apa yang dilakukan oleh Soeharto. Bedanya, Djani tetap mendapatkan haknya sebagai seorang WNI sementara Jaya mendapatkan pengasingan dan pencekalan seumur hidupnya, ia hidup sekadarnya di Praha. Yang dapat saya simpulkan dari dua tokoh di atas adalah..., ternyata, kita memang harus membuka mata tentang sejarah Indonesia yang belum tersingkap, yang selama ini disembunyikan keberadaannya. Dua kisah ini memancing saya untuk mengetahui lebih jauh lagi apa yang sebenarnya terjadi dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia selama ini.

 Oke, sekarang saya akan melanjutkan pembahasan tentang Djani alih-alih Jaya (kalian bisa lihat pembahasan tentang kelanjutan cerita Jaya di movie review Surat dari Praha). Kisah Djani--yang merupakan cerita nyata--disajikan dengan bahasa novel yang cukup mengalir, membuat pembaca menikmati kisah nyata dalam balutan fiksi. Bagaimana kehidupannya berubah sejak peristiwa bersejarah itu terjadi, juga kerisauan-kerisauan seputar kehidupan percintaannya yang mau tidak mau terkena dampak dari kejadian tersebut.


Sewaktu Djani mengikuti konferensi rahasia selama beberapa hari itu, saya mempunyai pandangan yang sama dengan apa yang dihadapi Djani. Mereka dikumpulkan dalam sebuah forum dengan maksud menggagas ide tentang negara Indonesia, namun nyatanya yang terjadi adalah mereka--para peserta konferensi--hanyalah "diarahkan" untuk menyetujui ide yang sudah digagas oleh pemrakarsa agenda tersebut. Lalu di kemudian hari, nantinya akan ada kodifikasi yang dimaksudkan sebagai "hasil pembahasan oleh pemuda terpelajar Indonesia" yang namanya terpampang di sana, yang bisa diklaim sebagai orang-orang yang bertanggung jawab terhadap isinya. Padahal yang terjadi adalah, mereka hanya peserta yang hasil pembahasan di dalamnya sudah ditentukan oleh orang-orang tertentu. 


Sebenarnya gaya penulisan novel ini cukup oke menurut saya. Adegan di gerbong kereta, dialog antara Djani dan pasangan suami-istri Max dan Karina, saya suka. Ini seperti kau bertemu dengan orang asing namun obrolan kalian jauh dari sekadar basa-basi "Kamu tinggal di mana? Pekerjaannya apa?". Di akhir pembicaraan mereka, ada percakapan yang menarik sekali:


"Mr Dewa, apakah menurut Anda akan tercipta perdamaian di hidup kita?"
"Menurut saya tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang ingin mengalami pahitnya petaka dari Perang Dunia yang lain."
"Perang Dunia berdampak lebih buruk pada Belgia dibandingkan Indonesia. Jika Belgia diserang pada Mei 1940, Indonesia, seperti kata Mr. Dewa, hanya dijajah mulai awal 1942 saja."
"Benar. Jika Anda tidak menghitung tiga ratus tahun lamanya kami dijajah oleh Belanda." ---halaman 89

Tapi, ketika sampai pada Djani yang mengikuti konferensi diam-diam itu, saya merasa sedikit bosan. Pemaparan Trinugroho selaku moderator, mengingatkan saya tentang peran guru sebelum era KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), di mana guru adalah tokoh sentral dalam pembelajaran di kelas. Alih-alih sebagai seorang fasilitator  dan moderator, Trinugroho berperan sebagai tokoh sentral di mana ia adalah pengendali forum. Bukankah sebaiknya dalam forum diskusi pembahasan dilakukan dalam banyak arah untuk benar-benar mendapatkan suatu kesimpulan dari semua kepala yang ada di dalam ruangan? Karena adegan dalam bagian ini monoton dan cenderung membosankan, yang saya rasakan sebagai pembaca pun sama. Padahal, bisa saja adegan monoton dan membosankan dikisahkan dalam bentuk yang menyenangkan. Meskipun begitu, apa yang mereka bahas benar-benar masalah kekinian di zaman itu yang ternyata orang-orang di era sekarang merasakan dampak kebijakan yang telah dilakukan pada zaman itu terlepas apakah pembahasan yang ada di dalam konferensi tersebut berhubungan dengan kebijakannya atau tidak. Misalnya, pembahasan etnis Tionghoa, pembatasan keturunan (program Keluarga Berencana) yang mana zaman nenek atau ibu kita, mereka terbiasa dengan banyaknya anak sementara di era sekarang, punya anak lima saja sudah merupakan kejadian yang cukup langka, lalu ada pula tentang transmigrasi, dan masih banyak informasi penting lainnya yang menarik untuk dicerna dan dibaca, terlepas dari cara penulisannya yang menurut saya kurang luwes.


Pada akhirnya, saya mendapatkan kesimpulan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Dewa Soeradjana saat itu: 



"Apakah dengan cara seperti ini sejarah kita ditulis? Apakah siapa pun yang memiliki kedudukan tinggi bisa membeberkan kebenaran versi dirinya sendiri dan semua orang akan menelan mentah-mentah begitu saja?" ---halaman 118

Saya jadi teringat tentang pidato terakhir Bung Karno: Jas Merah.





Terlepas dari kekurangan saya yang belum mengetahui bagaimana ideologi Soekarno yang sebenarnya, atau apa yang terjadi dengan Indonesia kala baru saja membangun negara setelah merdeka, tapi saya harus sepakat dengan kata-kata Djani pada pemuda-pemuda Indonesia saat ia menuturkan kisahnya pada suatu hari di kampung halaman:


"Tanpa memusingkan apa yang menjadi akar penyebab tragedi 1965, Soekarno adalah bapak pendiri bangsa dan tidak akan ada yang bisa mengubahnya. Tanpa usaha keras dan tekadnya untuk pertama menantang Belanda kemudian Inggris sejak masih berusia muda, termasuk di antaranya dijebloskan ke penjara selama dua tahun dan pengasingan di dalam negeri selama delapan tahun, kemungkinan besar kalian tidak akan bisa hidup di negara yang berdaulat. Kalian semua harus mengingat dan menghargai jasa beliau." ---halaman 448



Saman

Judul : Saman
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 206 Halaman
ISBN : 9789799105707
Rating : 3 dari 5 





Empat perempuan bersahabat sejak kecil. Shakuntala si pemberontak. Cok si binal. Yasmin si “jaim”. Dan Laila, si lugu yang sedang bimbang untuk menyerahkan keperawanannya pada lelaki beristri.

Tapi diam-diam dua di antara sahabat itu menyimpan rasa kagum pada seorang pemuda dari masa silam: Saman, seorang aktivis yang menjadi buron dalam masa rezim militer Orde Baru. Kepada Yasmin, atau Lailakah, Saman akhirnya jatuh cinta?


***


Pada cover belakangnya, terselip informasi bahwa novel ini bercerita tentang persahabatan empat perempuan. Namun yang akan didapati ketika membaca Saman pada mulanya adalah kisah tentang Laila dan kisah cintanya dengan seorang pria berirstri bernama Sihar. Pertemuan keduanya bermula ketika Laila pergi ke Laut Cina Selatan untuk meliput aktivitas pertambangan di Texcoil tempat Sihar bekerja. Namun saat dirinya berada di sana, sebuah peristiwa tidak menyenangkan terjadi, sebuah kecelakaan kerja akibat kesalahan SOP yang dilakukan oleh rekan kerja Sihar mengakibatkan teman Sihar yang lainnya meninggal dunia.

Rupanya itu adalah peristiwa awal mula yang membuat hubungan keduanya menjadi dekat. Laila meredakan amarah Sihar dengan memberikan solusi tentang dampak kejadian itu. Laila memperkenalkan Sihar dengan seseorang bernama Saman yang merupakan aktivis lingkungan serta Yasmin, sahabatnya sejak kecil. Setelahnya, hubungan terlarang kedua insan itu terajut, meskipun hubungan ini tidak melibatkan kontak fisik. Fakta bahwa Laila adalah seorang gadis lugu yang terjebak dalam cinta yang salah, membuat Sihar tidak tega untuk merenggut kesuciannya, selain juga bahwa dia tidak ingin berkhianat di belakang istrinya.

Sahabat-sahabatnya merasa prihatin dengan kisah percintaan Laila karena selalu bertemu dan jatuh cinta dengan orang yang salah. Dulu Laila pernah jatuh cinta dengan seorang pria yang memutuskan hidupnya sebagai seorang pastor, dan orang itu adalah Saman.

Nama asli Saman adalah Athanius Wisanggeni. Saman memutuskan untuk menjadi seorang pastor dan mengabdi ke Perabumulih. Ada magnet tersendiri yang membuat Wisanggeni penasaran dengan tempat ini, sesuau yang berhubungan dengan ibunya dan kisah misterius tentang meninggalnya adik Saman sewaktu kecil. Dari tempat itulah kemudian ia berkenalan dengan seorang anak perempuan yang memiliki keterbelakangan mental bernama Upi. Atas dasar rasa kasihan dengan nasib gadis itulah yang menumbuhkan kepedulian lelaki itu terhadap keadaan masyarakat di sana. Prahara timbul ketika pemerintah memaksa warga di Perabumulih untuk mengubah mata pencaharian warga yang semula berkebun karet menjadi kelapa sawit. Perlawanan warga membuat beberapa yang dicurigai sebagai otak di balik peristiwa itu ditahan, termasuk Wisanggeni. Saat ada kesempatan untuk melarikan diri, membuat Wisanggeni menjadi buronan yang paling dicari. Tuduhan demi tuduhan ditimpakan kepadanya, termasuk disangka pelaku kristenisasi memberatkan posisinya, hingga akhirnya dia harus mengubah identitasnya menjadi Saman, dan melarikan diri ke luar negeri.

Upaya melarikan Saman itu tidak lepas dari peran dua orang sahabat Laila, Shakunta dan Cok. Karena dua orang inilah yang membuat Saman berhasil keluar dari Indonesia. Shakunta sendiri adalah seorang gadis pemberontak sejak remaja, terutama kepada ayahnya. Sementara Cok adalah gadis yang binal, berulang kali gonta-ganti pacar. Kehidupan keduanya di novel ini tidak terlalu dijabarkan seperti porsi cerita Laila..., dan Yasmin.

Kisah Yasmin baru muncul di bagian akhir novel ini, dan memberikan twist yang tidak terduga. Yasmin seorang wanita yang menggeluti hukum. Ia menikah dan mempunyai keluarga harmonis. Namun pada satu kondisi, ternyata dia mencintai orang lain..., yaitu Saman. Keterlibatan keduanya pada permasalahan hak asas manusia membuat keduanya dekat dan merasakan jalinan cinta.

Untuk kisah selanjutnya..., silakan baca sendiri :)

***


Awalnya mau kasih bintang dua, tapi justru karena baca catatan pengarang 15 tahun kemudian yang ada di paling belakang buku ini, membuat saya justru menaikkan bintang jadi 3.

Sebagai penikmat novel/roman lawas dan dulu sempat baca tentang di balik cerita angkatan sastra, setidaknya saya paham bahwa pada masa sebelum reformasi, kebebasan berbicara, berpendapat, tidaklah seperti yang dapat kita nikmati sekarang. Saya pun mengamini kalimat Ayu Utami yang menyampaikan slogan: "Ketika pers dibungkam, sastra bicara." Lantas membuat saya teringat dengan Hamka, bagaimana perjuangan beliau menyiratkan upaya kesadaran bangsa Indonesia akan perjuangan melawan penjajah dengan bahasa sastra. Tidak mudah tentu saja, menyamarkan maksud terselubung hingga bahkan tak terendus (kalau kena cekal tentu kita tidak dapat menikmati novel-novel sarat makna terselubung tersebut).

Nah oke balik lagi ke Saman. Sebagai pembaca awam--saya katakan awam karena, jujur, saya tidak tersadarkan ada maksud lain di balik isi cerita ini kalau tidak diingatkan oleh Ayu Utami pada bagian belakangnya. Saya hanya menikmati suguhan cerita seperti biasa saja, barangkali memang pengaruh zaman yang ... apa ya istilahnya, keenakan? Terlalu larut dalam kenyamanan barangkali, hingga memudarkan makna di balik niat mengeluarkan novel ini pada zamannya dulu. Nah, sebagai orang awam saya cukup menikmati novel ini meskipun ada bagian-bagian yang perlu dikritisi (oleh saya saja sih). Namun, dengan kekayaan imajinasi penulis dalam menggarap novelnya (mulai dari menyinggung soal cinta, agama, kekuasaan, tercium nuansa pemberontakan, sampai seks, bahkan alam metafisika), membuat saya kagum.


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)