Showing posts with label Inggris. Show all posts
Showing posts with label Inggris. Show all posts

Love in Pompeii

Judul : Love in Pompeii
Penulis : Indah Hanaco 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 240 Halaman
ISBN : 9786020334523
Edisi Pertama, Oktober 2016
Rating : 4 dari 5




"Tapi, ada banyak hal yang harus kautahu tentangku sebelum membuat keputusan drastis..."
"Nanti saja. Kau punya waktu seumur hidup untuk menceritakannya padaku."


Blurb:

Callum Kincaid, salah satu magnet Formula One, gagal menikah dengan kekasih modelnya. Pria yang sejak remaja sudah dikenal sebagai lady killer dan selalu mengencani gadis catwalk, memutuskan untuk tidak terikat komitmen dengan siapa pun untuk sementara. Tapi, kepindahan ke Hampstead dan ciuman yang terinterupsi, mengubah segalanya. Adalah Gladys Zayna Raviv, perempuan muda dengan pengalaman hidup yang mematangkannya lebih dari semestinya. Selalu menjaga jarak aman dari kaum pria karena terbebani dosa masa lalu. Hingga tiba hari ketika seporsi apple pie membuatnya mengenal pria bermata sangat biru dan wajah berbintik-bintik.

Meski Gladys ingin menjauh dari Callum, semesta tampaknya dengan keras kepala justru melakukan sebaliknya. Ditambah dengan Lulu, si orang ketiga antimainstream yang mementahkan semua upayanya.

Gladys berusaha menyangkal kebenaran yang disuarakan hatinya, hingga perjalanan ke Pompeii meruntuhkan segalanya. Hatinya tak lagi aman dari pesona Callum.

Sayang, kembali ke Hampstead, mereka ditunggu oleh kejutan besar. Masa lalu memang seperti hantu, menuntut untuk digenapi. Bisakah Gladys dan Callum bertahan dan memiliki keberanian untuk mengakui perasaan yang sudah begitu transparan? 

***

Kisah ini adalah mengenai dua tetangga yang memiliki hubungan spesial yang terikat oleh seorang gadis cilik yang begitu menarik perhatian bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Di balik kehidupan yang bertolak belakang, dan dengan masa lalu yang kurang menyenangkan, keduanya menjalani kehidupan bertetangga yang manis. Hubungan itu pun semakin lama kian dekat. Sebuah kisah romantis dibalut dengan background pekerjaan serta upaya untuk menjalani hidup yang telanjur suram akibat kubangan masa lalu yang kelam.

Adalah Gladys tokoh utama kita, yang oleh penulis digambarkan sebagai seorang muslimah yang berjuang menghidupi anaknya di sebuah tempat jauh dari tanah air. Karena kesalahan masa lalunya membuat ia menanggalkan identitas kemuslimahannya di negeri orang. Meskipun, ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. 

Gladys adalah seorang single mom dengan anak perempuan kecil berusia lima tahun bernama Lulu. Semenjak kejadian tidak menyenangkan dalam hidupnya enam tahun yang lalu, ia tinggal di Hampstead, London, dan bekerja di salah satu perusahaan fashion milik tantenya berlabel Monarchi. Bersama Herra tantenya yang lain, dan Lulu anaknya, ia menjalani kehidupan yang baru di Hampstead.

Suatu hari, penghuni baru di sebelah rumahnya mengejutkan Gladys dengan adegan ciuman di pagi buta. Karena sebuah tradisi bahwa penghuni baru di tempat ini akan disambut dengan apple pie sebagai salam perjumpaan, Gladys mengetuk pintu rumah tetangga dengan apple pie buatannya, bersama Lulu anaknya. Malang bagi Gladys, si bocah balita yang memang mempunyai kecenderungan menempel dengan pria dewasa, langsung dekat begitu saja dengan orang baru tersebut, yang bernama Callum Kinkaid, seorang pembalap Formula One.

Karena penghuni sebelumnya cukup akrab dengannya dan Lulu, dan gadis cilik itu sering menggunakan kolam renang di halaman belakang mereka, perjumpaan ini pun dihiasi dengan permintaan Lulu untuk berenang di sana. Gladys melayangkan protes, tapi si tetangga baru mengabulkan permintaan gadis kecil itu dan mengabaikan penolakan dari Gladys. 

Kedekatan mereka terus berlanjut, terutama karena Callum telanjur jatuh hati dengan Lulu. Ia sering membawakan hadiah pada anak kecil itu. Di sisi lain, kedekatan anaknya dengan pria itu membuat Gladys resah. Ia merasa sedih karena Lulu tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Dan dari kedekatan Callum dengan Lulu, membuat hati Gladys terkoyak. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa mengingat Callum tidak merasa keberatan dengan perlakuannya pada gadis cilik itu.

Sementara itu, Callum yang seorang publik figur sedang dekat dengan seorang model bernama Phoebe. Dengan wanita itu, Callum menjalani hubungan tanpa ikatan. Callum merasa trauma dengan ikatan apa pun mengingat ia pernah gagal membina hubungan saat dikhianati tunangannya jelang menikah. Gladys sendiri, setelah mengalami kejadian menyakitkan di masa lalu, membuatnya menutup hati dan menjaga jarak dengan pria mana pun yang ia temui.

Hubungan keduanya semakin dekat terlebih lagi ketika Callum sedikit memaksa untuk melakukan liburan ke Napoli, bersama Lulu dan Herra. Setelah pada akhirnya mereka sepakat juga untuk pergi bersama. Di reruntuhan kota Pompeii, cerita mereka perlahan-lahan menemukan judul lainnya, meskipun Gladys mengalami perubahan drastis selepas dari sana. Ditambah lagi, banyak kejadian yang mengejutkan setelah kepulangan mereka dari liburan tersebut.

Apakah keduanya pada akhinya berhasil menemukan kebahagiaan dan meruntuhkan jurang perbedaan yang ada?

***

Bisa dikatakan bahwa novel ini mempunyai paket komplit. Selain tagline Around The World With Love yang membuat ekspektasi pembaca terhadap novel ini berkaitan dengan kekuatan setting cerita, ada beberapa hal lain yang menjadi sorotan saat membacanya. Misalnya, chemistry yang melekat pada karakter-karakternya, jalinan plot yang kuat, plot-twist tidak terduga, dan kemampuan penulis dalam mendalami riset sehingga para tokoh ini memiliki latar belakang dan kehidupan yang melekat.

Penulis menggambarkan sosok Gladys yang terpenjara oleh masa lalu, dan bagaimana ia menjalani kehidupan setelah itu. Lalu, ketika ia berkenalan dengan Callum, si pujaan hati banyak wanita, ia mulai membuka diri. Bukan karena ketampanan atau kekayaannya yang melimpah, melainkan kedekatan pria itu dengan anaknya yang berumur lima tahun. Kehadiran Callum membuat warna tersendiri dalam hidup Lulu. Chemistry yang terbangun dari kisah mereka, dialog yang muncul dari keduanya, membuat cerita ini begitu manis.

Penulis membuat sosok Callum yang terkesan too good to be true: tampan, kaya raya, punya prestasi dalam bidang otomotif. Namun, penulis juga merangkainya dalam suatu hubungan sebab-akibat yang logis. Di satu sisi Callum terlihat sempurna, di sisi lain ia punya banyak hal dalam kehidupannya yang tidak sempurna. Hubungan yang tidak harmonis dengan keluarga membuatnya melarikan diri dalam karir balap yang ia bangun sejak remaja. Meskipun diperhitungkan dalam balapan, namun Callum tidak yang selalu memenangi pertandingan. Maka, sosok Callum benar-benar tampil dengan perjuangannya yang itu berhasil membuat pembaca memiliki simpati padanya. Apalagi, kisah percintaannya yang pernah kandas, kehidupan yang jauh dari bayangan orang-orang terhadap kaum sosialita dan publik figur, membuat sosok ini tidak seperti yang disangka pada awalnya.

Saya angkat topi dengan kemampuan riset yang dimiliki penulis. Ketika penulis menjelaskan tentang dunia balap, lengkap dengan segala macam penjelasan yang disertakannya, membuat pembaca ikut merasakan apa yang sedang dilakukan Callum atas pekerjaannya. Suasana balapan yang kental, kehidupan sirkuit dan istilah-istilah asing bagi yang kurang familiar dengan Formula One dapat dengan mudah dipahami. 

Dari segi setting pun, penulis berhasil membawa pembacanya melanglang buana dari Hampstead menuju Pompeii. Deskripsi setting di Napoli, berikut destinasi wisata yang dijalani oleh tokoh-tokoh ini benar-benar bersesuaian dengan apa yang terjadi saat saya mencari tahu sendiri keadaan negara itu via google. Semuanya pas, dan tidak berlebihan. Ketika Callum dan keluarga Gladys mendapatkan tur singkat di Pompeii, pembaca pun seolah sedang ikut bertualang di sana.

Plot cerita disusun secara apik dengan chemistry sebagai kekuatan utamanya. Setting tempat turut melengkapi dan membangun kisah ini, tidak sekadar menjadi tempelan belaka. Dari sisi religiusitas yang diangkat oleh seri ini, saya mengacungkan jempol pada penulis yang berhasil membangun sebuah cerita dengan sedikit sentuhan religi di sana. 

Saya mempunyai pandangan tersendiri dan standar yang tinggi tentang sebuah cerita religi. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya saya cukup menghindari bacaan dengan tema ini (karena standar saya terhadap kisah berbau religi adalah bersandar pada penulis-penulis top yang secara khusus mengambil jalur ini untuk karya mereka). Mengapa? Karena jujur saya sering kecewa dengan novel-novel religi yang "memaksakan" tokohnya untuk tampil secara sempurna dan tanpa cela. Ini membuat sedikit saja tokoh itu melakukan kesalahan, akan dibebankan dengan penilaian yang jauh berbeda dengan apabila kesalahan tersebut menimpa orang lain yang mungkin kadar keshalihannya (menurut pandangan mata orang awam) lebih rendah. Karenanya, dunia novel religi didominasi tokoh yang "dipaksakan" sempurna. Atau, yang membuat kalimat-kalimat nasihat secara tersurat sehingga kesan menggurui begitu kentara saat membacanya.

Namun, penulis membalik kesan itu dengan menampilkan sosok seorang muslimah yang apa adanya. Ia membuat kesalahan yang sangat fatal, bahkan hingga membuatnya berada dalam titik terendah dalam keimanannya dan menanggalkan identitas keislamannya karena kesalahan itu. Tapi ia terus bangkit dan membenahi diri. Ajaran tentang keislaman disampaikan dengan jauh dari kata menggurui. Apalagi, memang kisah ini ber-setting luar negeri di mana tentu saja tantangan dalam bertaat pada Islam jauh lebih berat dibanding dengan di dalam negeri. Kisah ini jauh dari kesan menggurui, justru pembaca dapat becermin dari ceritanya dan bisa mengambil hikmah dari apa yang dialami oleh tokoh-tokohnya.

Dari segi penulisan, gaya bahasa Indah Hanaco begitu mengalir meskipun deskripsi dan dialog menggunakan kalimat baku. Saya mendapatkan banyak kosakata baru dari membaca novel ini, misalnya: glabela, lesi (yang mulanya saya kira typo dari kata "lesu"), dan masih banyak lagi. Dan novel ini benar-benar minim kesalahan penulisan (saya hanya menemukan satu saja). 

Salut dengan penulis yang merampungkan cerita ini hanya dalam waktu satu minggu saja.

Saya melakukan wawancara dengan penulis, yang membahas seputar seluk-beluk penulisan novel Love in Pompeii ini. Untuk mengetahuinya, bisa dilihat di sini.


The Screaming Staircase (Undakan Menjerit)

Judul : The Screaming Staircase (Undakan Menjerit)
Seri The Lockwood & Co.
Penulis : Jonathan Stroud
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 424 Halaman
ISBN : 9786020301365
Rating : 4 dari 5




"Ragukan bintang-bintang menyala, Ragukan mentari mengitarimu, Ragukan kejujuran sebagai dusta, Tapi jangan ragukan cintaku." (Hamlet---W. Shakespeare)


Blurb:


Setelah gelap, bunyikan lonceng dan tunggu di luar garis besi.

Selama lima puluh tahun lebih, wabah hantu menyerang Inggris. Lucy Carlyle, penyelidik paranormal yang masih muda, menginginkan karier cemerlang. Namun, kenyataannya ia bergabung dengan agensi pembasmi hantu paling kecil, paling kumuh di London, dipimpin Anthony Lockwood yang karismatis.


Ketika salah satu kasus mereka berakhir dengan kekacauan fatal, Lockwood & Co. memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan. Sayangnya, itu berarti mereka harus menginap di rumah paling berhantu di Inggris.

Cover depannya sih oke. Tapi begitu dibuka...


***

Lucy Carlyle mengalami kejadian tragis dengan agennya terdahulu, yang menyebabkan dirinya nekat untuk pergi ke London seorang diri dan mencoba untuk melamar pada agensi pemburu hantu (bahasa kerennya: penyelidik paranormal) di sana. Ternyata untuk mendapatkan pekerjaan baru, tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Berkali-kali ia ditolak oleh agensi besar karena tidak bisa membuktikan dirinya sebagai seseorang dengan Bakat, karena sertifikatnya ada pada Agen Jacobs penyelia terdahulunya yang ia tinggalkan di desa.

Menghadapi masa-masa nyaris kehabisan uang, Lucy melamar pekerjaan pada Lockwood & Co, di sebuah rumah yang merangkap sebagai kantor yang terlihat kurang mengesankan. Di sana ia bertemu dengan bocah tambun yang juga tidak memberikan kesan pertama yang baik bernama George. Dan juga tentu saja, si pemimpin agensi, pemuda bersemangat yang jauh lebih baik ketimbang George, yakni Anthony Lockwood.

Singkat cerita, akhirnya Lucy bergabung dengan mereka dan mendapatkan tempat di rumah tersebut. Bersama dengan kedua rekannya, mereka melakukan pekerjaan memburu hantu. Meskipun, hantu-hantu yang mereka hadapi rata-rata adalah hantu Tipe Satu.

Saat itu, Anthony dan Lucy mendapatkan klien yang bermasalah dengan rumah hantu mereka. Mr. Hope meninggal di rumah itu. Dan di sana, Lucy dan Anthony rupanya menghadapi hantu Tipe Dua yang cukup berat. Satu kesalahan yang mereka lakukan adalah: yang pertama mereka kurang riset seputar rumah tersebut dan yang kedua, Lockwood lupa membawa rantai besi. Akibatnya fatal, mereka harus menggunakan api yunani untuk menyelamatkan diri dan mengakibatkan rumah tersebut terbakar.

Di dalam sana, Lucy bertemu dengan sesosok hantu yang diketahui bernama Annabel Ward, dan ia bahkan--entah bagaimana ceritanya--mengambil liontin milik hantu tersebut. Dari sinilah kekacauan mulanya terjadi. Tidak hanya itu, Lockwood & Co. juga dituntut untuk membayar kerugian akibat rumah yang terbakar. Karena kejadian ini, mereka harus mendapatkan uang dalam rentang waktu tertentu, sementara itu kasus yang berdatangan pada hilang. 

Lockwood mulai memperbaiki keadaan dengan menyelidiki seputar kematian Annabel Ward, guna mendapatkan publisitas bagi agensinya, dan supaya bisa menghasilkan uang untuk membayar ganti rugi. Dan, peluang itu datang. Namun, mereka harus menginap di sebuah bangunan paling berhantu di Inggris.

***

"Berhentilah mencemaskan masa lalu! Masa lalu hanya untuk hantu. Kita semua pernah melakukan hal-hal yang kita sesali. Namun masa depanlah yang terpenting." ---halaman 400

Sambil nunggu pesanan pizza


Jujur saja, mulanya saya merasa bosan sekali membaca ini bahkan ingin mengganti baca buku lain saja yang untungnya tidak saya lakukan. Di awal cerita, tidak menyuguhkan tentang masa lalu Lucy atau bagaimana ia bergabung dengan Lockwood & Co., tetapi mengenai salah satu misi yang dijalankannya bersama Lockwood. Setelah beberapa halaman, barulah pembaca dibawa flashback untu mengetahui bagaimana cerita itu bermula. Tentang wabah hantu yang sudah melanda Inggris sejak puluhan tahun yang lalu, tentang anak-anak yang mempunyai Bakat yang ditampung oleh agensi-agensi (yang saya membayangkannya mereka seperti polisi cilik yang dihormati, dengan rapier yang terus-terusan dibawa ke mana-mana, pakai seragam ala-ala tokoh pahlawan dalam anime :p). 

Karakternya? Keren. Masing-masing karakter utama memiliki kelebihannya masing-masing yang saling melengkapi. Lockwood, cukup baik dalam indra penglihatan, lalu Lucy yang cukup peka terhadap indra perasa, pendengaran, dan juga peraba. Dan George? Meskipun tidak terlalu lihai keduanya, ia mempunyai minat yang besar terhadap perpustakaan. Kemampuannya ini sangat membantu dalam hal riset atau perencanaan dalam melakukan misi. Terlebih lagi si pemimpin mereka, Lockwood, juga memiliki ambisi serta semangat dalam hal perburuan misi mereka.

Sampai di sini, Stroud berhasil membangun sebuah universe yang masuk ke dalam nalar. Apalagi tentang cara menanggulangi hantu dengan besi-besian dan peralatan tempur para agen lainnya. Harus saya akui, informasi-informasi yang disebarkan dalam cerita cukup realistis dan mengalir. Dan ketika sudah sampai pada momen ini, juga kejelasan jalan cerita ini mau di bawa ke mana, membuat saya bertahan untuk membacanya, dan juga tertarik!

Oh, saya tidak akan mengatakan kalau saya tidak tertarik jika saat membacanya, kesan yang timbul begitu nyata. Terlebih lagi jika kau ikut merasakan sensasi seperti ada hantu di dekat kalian hanya dari deskripnya. Inilah yang menyebabkan mengapa saya berhenti membaca buku ini setelah jam sebelas malam, hahaha. (Apalagi saat kamu punya sepupu yang bisa "melihat" dan mengatakan kalau di kolong kasur tempatmu tidur ada "penghuni"-nya. *bye*)

"Itulah masalahnya dengan hantu. Mereka tidak pernah bicara jelas." ---halaman 339

Tapi saya tidak berharap mendengar hantu berbicara jelas, tidak ya =))

Dari awal saya sudah menduga kalau ada kaitan antara satu kasus dengan kasus lainnya. Namun, misteri yang membungkus ceritanya sangat menarik dan dijelaskan dengan detail. Terutama, yang berkaitan dengan tulisan pada liontin milik Annabel Ward.

Tormentum meum laetitia mea.

Awal mulanya juga menduga kalau "undakan menjerit" ini ada di kasus pertama, ternyata bukan. Dan tentang si undakan ini, memang benar-benar bisa membuat menjerit. Stroud mengeksekusi jalannya cerita dengan baik sekali.

Hanya saja, saya masih penasaran satu hal (dan juga sukses dibuat merinding karenanya). Saat Lucy melihat seseorang yang diduga sebagai pembunuh Annabel, si terduga itu bisa melihat dirinya bahkan menyeringai dari balik kaca satu arah. Itu, bagaimana bisa ya? Hiiii. Saya merinding disko saat membacanya, serius. Namun, sampai akhir saya belum menemukan penjelasan tentang itu.

Oke, meskipun awal mulanya agak membosankan dan banyaaaak sekali typo alias kesalahan penulisan di novel ini, tapi lantas tidak membuat saya menurunkan bintangnya dan bertahan di bintang empat. Ada banyak misteri yang belum terkuak misalnya tentang kamar rahasia Lockwood atau tentang keluarganya yang saya harap bisa terjawab di seri-seri selanjutnya. Bravo!

Pesan yang disampaikan untuk Lucy di halaman 403 ini mungkin bisa menjadi pesan untuk kita semua para pembaca:

"Jangan tersinggung. Kematian akan menghampiri kalian semua. Mengapa? Karena semuanya terbalik. Kematian dalam Kehidupan dan Kehidupan dalam Kematian, dan sesuatu yang padat menjadi cair. Dan tidak peduli apa yang kauusahakan, Lucy, kau takkan bisa memutarbalikkan arus."

(Lupakan komentar Misyel yang berkata, "Hore, akhirnya baca Lockwood juga!" Hahaha. Iya, saya memang menunda baca buku-buku Stroud cukup lama. Selain karena tebal, isi dompet juga tidak tebal alias harga bukunya mahal-mahal #numpangcurhat)

(Satu lagi, ada "penangkap-hantu dari Indonesia" di halaman 150 *yeay*)


Almost 10 Years Ago

Judul : Almost 10 Years Ago
Penulis : Trini 
Penerbit : Ice Cube
Tebal Buku : 336 Halaman
ISBN : 9789799107251
Rating : 5 dari 5



Blurb:

“Mana mungkin aku tertarik padanya? Dia membuatku takut.”
“Itulah masalahmu. Kau jarang telihat bahagia. Karena saat kau menyesapnya, kau langsung menguburnya secepat perasaan itu datang.”
“Kau sepertinya sangat ahli tentangku,” kataku datar.
“Jika kau tidak mau terlihat mendung sepanjang waktu, mulailah dengan hal kecil seperti berterima kasih saat orang memujimu, bukan malah menatapnya curiga.”


Jangan salahkan Anna Mollan yang selalu memandang sinis kehidupan. Sepuluh tahun lalu, umurnya baru sembilan. Di musim panas yang seharusnya menyenangkan, ibu dan kakaknya meninggal dalam kecelakaan. Ayahnya memang selamat, tapi mengalami gangguan kejiwaan. Itu sebabnya Anna tidak percaya lagi pada kebahagiaan, termasuk yang hadir dalam bentuk cinta. Tidak pada Joshua Madison—psikiater tampan yang menangani ayahnya, tidak juga pada Nolan Vervain—bassist keren yang tergila-gila padanya. Tidak pada siapa pun sampai pria misterius itu datang memberinya bunga setiap hari, lalu tiba-tiba menghilang saat Anna mulai membuka diri, dan kembali hanya untuk membuat hidup Anna terhempas sekali lagi. 


***

Setiap kali mengunjungi ayahnya di rumah sakit jiwa, Anna selalu mengubah gaya penampilannya. Sang ayah yang terkena gangguan jiwa setelah kecelakaan yang menewaskan istri dan anak lelakinya, merenggut kejiwaan pria itu. Ayanna, satu-satunya yang masih hidup dalam keluarga kecilnya, harus menghadapi semuanya sendirian. Terpaksa mendatangi sang ayah yang tidak sanggup untuk mengenali penampilannya yang selalu berubah-ubah. Pun begitu, Anna juga belum bisa mengenalkan dirinya sebagai Ayanna Mollan karena itu akan mengakibatkan ketidakstabilan jiwa sang ayah.

Joshua Madison, psikiater yang bertahun-tahun menangani ayahnya, hadir untuk membantu Anna. Ia adalah teman berbicara yang baik, dan juga seorang dokter yang profesional. Namun, meskipun kehadiran Joshua—dan juga Nolan—mewarnai kehidupan Anna, tidak lantas membuatnya percaya dengan yang namanya cinta. Kehidupannya yang berat dan rumit setelah kecelakaan itu, membentuk Anna menjadi sosok yang dingin dan tertutup.

"Jika aku membiarkanmu, entah apa yang mampu kau lakukan pada dirimu sendiri." Joshua meraih lenganku dan setengah menyeretku bersamanya. "Jadi, jangan harap kau bisa pergi begitu saja." ---halaman 8

Nolan Vervain, seorang bassis band bernama Underground. Ia mencintai Anna secara terang-terangan, selalu hadir di sisinya sejak lama. Bahkan, ia rela pindah tidak jauh dari tempat tinggal Anna. Nolan pula yang merekomendasikan Anna untuk bekerja di sebuah toko bunga bernama The Flo. Di flatnya, Anna tinggal berdua dengan Ellie. Bisa dibilang, Nolan dan Ellie-lah yang menemani hari-hari Anna yang datar, selain kesibukannya kuliah di bidang multimedia, bekerja di The Flo, dan mengunjungi ayahnya di rumah sakit jiwa.

Namun, perlakuan Anna yang tidak membalas perasaan cinta Nolan sebagaimana mestinya, membuat orang-orang di sekelilingnya resah. Tidak hanya Ellie saja yang berkali-kali menasihatinya, namun juga harus ibunya Nolan sendiri yang turun tangan.

"Aku tidak bisa memintamu untuk mencintai Nolan karena cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Itu sebabnya selama ini kuminta kau menjauhinya. Menyakitinya sekarang lebih baik daripada nanti. Tinggalkan dia sebelum dia menjadikanmu poros dalam hidupnya. Kurasa kau tau sendiri apa yang bisa terjadi pada seseorang jika poros hidupnya lenyap." ---halaman 86

Kehidupan Anna Molan pelan-pelan berubah dengan kehadiran seorang lelaki misterius yang mendatanginya di The Flo. Setiap hari pria bernama Danny itu memberinya bunga. Kehadirannya berhasil membuat pertahanan Anna dan kepercayaannya terhadap perasaan cinta berubah. Namun, seberapa jauh perasaannya pada Danny, pria itu seolah membentengi dirinya dengan tembok yang tinggi pada Anna. Meskipun begitu, kehadirannya dan perhatian yang ia berikan terus saja hadir, hingga membuat Anna bingung dengan perasaannya sendiri dan hubungan apa yang terjadi pada keduanya. 

Menyesuaikan diri dengan kekosongan yang pernah diisi seseorang bukan hal mudah. Bahkan bagiku rasanya butuh waktu seumur hidup. ---halaman 108

Dan ketika sebuah rahasia terkuak, kebahagiaan dalam kehidupan Anna kembali dipertaruhkan. Saya peringatkan agar kalian pembaca buku ini untuk bisa menyiapkan hati sekuat baja sebelum membacanya ._.)_

***

Ada yang pernah berkata padaku, "Saat masa-masa menyakitkan telah berlalu, suatu hari kita akan mengenangnya kembali dan menertawainya." ---halaman 102

(Penting sebelum masuk bahasan: Whoa nama tokohnya Joshua, whoa! Whoa, ada Ginny Weasley dan Luna Lovegood, whoa Potterhead! Sama dong kita!)



Saat awal-awal mencoba untuk menulis, saya meminta pendapat beberapa orang untuk merekomendasikan saya novel debut yang oke. Dan ternyata, tidak hanya satu orang saja yang merekomendasikan buku ini. Setelah berupaya mencari (cukup susah juga ternyata menemukan buku ini), akhirnya berjodoh juga. Namun saya sedikit menyesal karena menganggurkan buku ini cukup lama dan baru membacanya beberapa hari yang lalu.

Baru halaman empat belas, saya sudah menyukai novel ini, dan yakin kalau isinya akan keren. Dan selama membacanya, sampai titik terakhir, penilaian saya itu tidak salah. Novel ini bukan jenis novel yang bisa dibaca cepat. Plot utamanya tidak jauh dari seputar kejadian yang menimpa keluarga Mollan hampir sepuluh tahun yang lalu. Namun, banyak cerita-cerita lain yang sayang untuk dilewatkan. Itulah mengapa membaca buku ini tidak bisa cepat-cepat, harus dinikmati perlahan, karena ada banyak hal yang kudu dilahap pelan-pelan untuk bisa mendapatkan keindahannya.

Karakter yang ada di novel ini benar-benar terbangun dengan apik. Saya bisa mendapatkan dingin dan kelamnya Anna, baik dalam perilakunya, maupun pemikirannya terhadap cinta. Dan juga, bagaimana sikap Anna ketika ada seseorang yang pada akhirnya ia cintai. Itu benar-benar pas dengan penyebab mengapa karakter Anna bisa sampai demikian. Joshua yang berwibawa, lalu Nolan dan cinta platoniknya kepada Anna, dan Danny dengan kemisteriusannya (meskipun dari kemunculannya pertama kali, saya bisa menebak siapa dia). Karakter pendukung yang lain pun menempati porsi mereka dengan pas.

Sosok Anna ini, kelam sekali. Saya tidak yakin apakah jika berada di posisinya akan sanggup menjalani kehidupan tanpa mengalami gangguan kejiwaan. Huufffft, Anna. Huuuffftttt, Danny.

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah cara penulis menyajikan setting cerita. Maaf-maaf saja kalau saya harus membandingkannya dengan Spring in London karya Ilana Tan. Jujur, saya jauh lebih mengena dengan setting London yang disajikan Trini ketimbang novel legendaris itu. Sosok Anna benar-benar hidup di sini, dengan segala kesehariannya dan kebiasaan sebagai warga lokal. Saya turut merasakan kehidupan warga London dari keseharian Anna yang bersepeda, bekerja dengan bunga-bunga, berada di taman, saat ia dan Danny menyusuri Sungai Thames, dan... menikmati sunrise dari Lloyd's Building. Gilaaaaa, kereeeennn....

Dari segi plot, aduh, saya teriak-teriak sendiri di halaman 284. Rasanya sudah lama nggak merasakan sensasi seperti ini saat membaca novel. Untuk plot lain, memang kesannya agak lambat, karena banyak hal yang diceritakan di sini yang tidak secara langsung berhubungan dengan plot utama, namun menunjang dan membangun cerita. Itulah tadi saya bilang kalau novel ini kurang cocok untuk dibaca fast paced. Saya tidak keberatan membacanya perlahan, bahkan jadi teman setia di tas selama beberapa hari (dan di beberapa tempat makan hihihi).


Dan penilaian saya seputar buku ini, selalu berkisar di antara bintang empat dan lima. Saya bulatkan menjadi lima, sisanya untuk penyemangat penulis agar melahirkan karya baru lainnya yang pastinya akan saya beli dan baca! Congratulation and good luck, Trini!


How to Woo a Reluctant Lady

Judul : How to Woo a Reluctant Lady - Merayu Sang Lady Keras Kepala
Penulis : Sabrina Jeffries 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 464 Halaman
ISBN : 9786020320380
Rating : 4 dari 5




"Dulu aku jatuh cinta padamu dan kau mematahkan hatiku. Karena itulah aku menulis tentang dirimu dalam buku-bukuku." ---halaman 402


***


Blurb:

Ketika pria tampan penggoda wanita itu datang dan melamarnya, Lady Minerva Sharpe menemukan cara yang tepat menghadapi ultimatum Nenek untuk menikah atau kehilangan warisan.

Lady Minerva memiliki rencana sempurna untuk menentang sang nenek: bertunangan dengan seorang pria yang terkenal suka mempermainkan wanita! Tentu saja neneknya akan lebih memilih membatalkan ultimatumnya daripada membiarkan Minerva menikah dengan pria liar semacam itu. Dan ia menemukan pria yang tepat untuk rencananya, Giles Masters, sang pengacara—yang juga merupakan inspirasi Minerva untuk tokoh mata-mata dalam novel gotik yang ditulisnya.

Meski ia tak pernah berniat menyerahkan hatinya pada pria brengsek seperti Giles, apalagi menikah dengannya, Minerva tak pernah bisa melupakan ciuman menggoda pria itu.

Saat mereka bekerja sama menyelidiki kematian orangtua Minerva, pertunangan bohongan itu perlahan berubah menjadi nyata. Minerva tak pernah menduga bahwa Giles memang mata-mata pemerintah.

Dan, setelah wanita itu mengetahui rahasia kehidupan gandanya, Giles harus mengerahkan segala trik menggoda untuk mendapatkan hati sang lady. 

***

Lady Minerva Sharpe adalah seorang penulis novel gotik yang menggunakan nama aslinya sebagai nama pena. Hal ini menimbulkan kasak-kusuk mengingat keluarganya termasuk dalam kalangan terhormat meskipun penuh skandal. Hetty Plumtree sang nenek, tidak menyukai aktivitas cucunya ini. Ia tidak ingin menambahkan skandal lain yang sudah mencoreng nama keluarga semenjak kematian kedua orangtua Minerva dua puluh tahun silam.

Karena ultimatum sang nenek yang tidak akan memberikan warisan kalau cucu-cucunya tidak menikah, membuat Minerva berang. Padahal, usianya yang mendekati kepala tiga termasuk usia rawan bagi seorang gadis di masa itu. Ia tidak percaya dengan yang namanya pernikahan. Apalagi, dua kakaknya yang awalnya berpemikiran sama, sekarang justru malah tengah dimabuk cinta dan indahnya pernikahan dengan istri mereka masing-masing. Bukannya tidak percaya dengan cinta, tapi trauma yang dialaminya karena gagalnya pernikahan kedua orangtuanya membuat ia merasa skeptis dengan pernikahan. Lagi pula, siapa yang mau menikah dengan lady nyentrik penulis cerita-cerita gotik dengan masa lalu penuh skandal sepertinya?

Sebenarnya, ada satu nama yang akan diinginkannya menjadi pendamping hidupnya jika memang itu akan terjadi. Pria itu adalah Giles Masters, sahabat kakak-kakaknya. Ia bertemu dengan Giles saat berumur sembilan tahun di pemakaman orangtuanya. Lalu, sepuluh tahun kemudian, di sebuah pesta topeng, Minerva sengaja untuk pergi ke sana agar bisa bertemu dengan pria itu. Di sanalah Giles memberikan ciuman padanya, namun berakhir dengan kata-kata yang menyakitkan, yang berhasil membuat Minerva Sharpe membencinya seumur hidup.

Penolakan Giles malam itu telah melukai harga diri dan hatinya, jadi gadis itu melampiasakan amarahnya pada Giles dalam novel-novelnya. ---halaman 48

Minerva Sharpe merupakan penulis gotik. Novelnya yang terkenal bercerita tentang seorang pria berengsek dan jahat bernama Rockton. Kegiatannya ini dibenci oleh sang nenek, meskipun Hetty tidak bisa melakukan ancaman atau menghentikan aktivitas cucu perempuannya itu. Karena ultimatum neneknya untuk segera menikah, Minerva membuat sebuah pengumuman tentang sayembara mencari jodoh yang diumumkan di sebuah majalah. Ia melakukan ini untuk membuat berang neneknya agar sang nenek mencabut ultimatum tersebut.

Dan di hari H audisi calon suami itulah secara mengejutkan ia mengetahui kalau Giles Masters datang menemuinya untuk mengikuti permainan tersebut.

Giles Masters seorang pengacara terkenal. Karirnya menanjak, bahkan ia dijadikan kandidat Penasihat Hukum Raja. Namun, skandal bunuh diri ayahnya bertahun-tahun lalu menghantui dirinya dan berhasil mengubah jalan hidup pria ini. Ia sebenarnya juga memiliki perasaan pada Minerva, mengingat pesona wanita itu membuat Giles membayangkan bagaimana ia di atas ranjang (eaaaaahhhh *emot monyet tutup mata*). Namun, mengingat perlakuan gadis itu yang begitu dingin padanya membuat Giles gentar juga. Apalagi, semenjak ia membaca novel-novel karya Minerva, ia merasakan begitu familier dengan tokoh utamanya..., yang merepresentasikan dirinya.

Ada sebuah kejadian di masa lalu yang erat hubungannya dengan pekerjaan sampingan Giles yang tidak boleh seorang pun tahu. Namun ternyata, ada satu ketakutan yang dialami oleh Giles bahwa bisa jadi Minerva secara tidak sengaja akan membocorkan kejadian tersebut di dalam novel-novelnya yang itu bisa mengancam keberlangsungan karir Giles ke depannya. Giles perlu menghentikan Minerva menulis yang macam-macam tentang dirinya melalui Rockton. Maka dari itu ia perlu mengambil tindakan untuk mencegahnya. Caranya adalah dengan mengikuti permainan sang wanita tentang audisi pencarian calon suaminya.

Mengingat perilaku Giles yang dekat dengan kata "berengsek" itulah, kakak-kakak Minerva menolak mati-matian upaya Giles untuk menikah dengan Minerva. Pun begitu dengan neneknya. Jadi, bagaimana kelanjutan kisah ini?

***

Pesan pertama yang saya dapatkan dari buku ini adalah.... Hati-hati, jangan mengecewakan seorang penulis, kamu bisa jadi bulan-bulanan dalam tulisannya! Bro, beware. Ahahaha. Pesan kedua:

"Kau seorang penulis--kau akan mengharapkan yang terbaik dalam hal sanjungan." ---halaman 113

Ingat ya, don't say I didn't say I didn't warn you. (ngikik)


Di antara cerita Oliver dan Jarret, novel tentang Minerva ini yang paling keren! Mungkin karena si tokoh utama yang seorang penulis (dan kehidupannya begitu familer sekali). Saya suka kepribadian Minerva, kontras sekali dengan kebanyakan gadis-gadis bangsawan era Regency. Minerva sosok pembangkang yang memiliki jalan ceritanya sendiri. Ia tidak dirisaukan dengan yang namanya pernikahan, ia pemberontak dengan caranya sendiri. Intinya, saya suka dengan style Minerva.

Di novel ini, selain mendapatkan kisah cinta Giles-Minerva yang penuh dengan rayuan dan cerita manis di antara keduanya, juga diceritakan tentang kakak beradik Sharpe lainnya. Dan lagi, cerita tentang misteri pembunuhan kedua orangtuanya sedikit terkuak. Ada kisah tentang Desmond Plumtree, sang paman dari pihak ibu yang disinyalir ada hubungannya dengan kejadian itu. Dan juga, kisah tentang Gabe dan Virginia disinggung sedikit (yang mana versi lengkapnya ada di seri selanjutnya). 

Seru. Menjadi spesial karena di sini Minerva sang tokoh utama adalah perempuan (setelah sebelumnya dua tokoh utamanya laki-laki), juga karena pekerjaan Minerva yang benar-benar pas dengan realita sehari-hari. Ditambah lagi karakternya yang begitu kuat. Plot twist juga disajikan dengan pas dan tidak mudah tertebak.

Baca seri Hellions of Halstead lainnya di sini

A Hellion in Her Bed

Judul : A Hellion in Her Bed - Pertaruhan Hati Sang Lord
Penulis : Sabrina Jeffries 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 448 Halaman
ISBN : 9786020317663
Rating : 3 dari 5





***

"Kau sungai dan aku pohon. Pohon tidak akan bisa mengikuti sungai, dan sungai tidak akan bisa tinggal dengan pohon." ---halaman 323

Blurb:

Kesal dengan ultimatum sang nenek yang memaksanya menikah tahun ini atau akan kehilangan warisan, Lord Jarret Sharpe mencoba peruntungannya—serta mempertaruhkan hatinya—di meja judi, melawan seseorang yang diyakininya akan kalah.

Sisi penjudi dalam diri Jarret tak bisa menolak ketika Annabel Lake mengajukan taruhan. Jika wanita itu memenangkan permainan kartu, Jarret harus membantu keluarga Anna menyelamatkan pabrik bir keluarga Lake. Tetapi, jika Jarret yang menang, Anna harus menghabiskan waktu bersamanya.

Hasil taruhan tersebut mengarah pada serangkaian kejadian yang mengancam rencana Jarret semula. Ketika Jarret mengetahui rahasia di balik taruhan itu, ia memaksa Anna mengulang taruhan mereka—dan kali ini Jarret bersumpah tidak akan membiarkan dirinya dikalahkan wanita. 

***

Lord Jarret dipercaya untuk menangani Brewery milik keluarga. Mungkin karena Hetty Plumtree melihat bahwa Jarret lebih bisa dipercayanya untuk mengelola pabrik anggur itu ketimbang kakaknya, Oliver. Namun, kondisi pabrik tidak sedang baik. Jarret menggunakan kesempatan ini untuk berunding dengan neneknya. Jika ia berhasil memperbaiki kondisi pabrik, maka kesepakatan pernikahan terhadapnya dan adik-adiknya akan ditangguhkan. Sang nenek memang membuat pernyataan untuk tidak mewariskan sedikit pun harta kekayaan kepada cucu-cucunya kalau mereka tidak berhasil menikah dalam jangka waktu satu tahun.

Jarret, dengan kebiasaannya suka mabuk-mabukan dan berjudi, tidak ingin menikah dan tidak percaya dengan yang namanya cinta. Lalu, pertemuannya dengan Annabel membuat segalanya berjalan dengan tidak semestinya.

Annabel adalah seorang wanita muda pemilik perusahaan anggur yang tidak terlalu dikenal. Karena kesulitan ekonomi yang menimpa perusahaannya, ditambah dengan kakaknya yang tidak bisa diandalkan untuk mengurus pabrik karena kebiasaannya yang suka mabuk-mabukan. Ia harus mengambil kendali atas situasi ini. Dan ia mempunyai rencana untuk mendekati pemilik Brewery yang terkenal di Halstead Hall.

Lalu, Anna dan Jarret bertemu di meja judi. Mereka membuat pertaruhan, jika Anna memenangkan perjudian, Jarret harus memenuhi permintaannya, begitu pula sebaliknya. Dari pertemuan inilah, kisah mereka terjalin. Ada banyak rahasia yang belum terkuak, tentang masa lalu Anna yang suram, tentang kondisi pabriknya yang sebenarnya. Juga, tentang bagaimana Jarret menggunakan Anna untuk mengelabui neneknya, yang berhubungan dengan ultimatum pernikahan itu.

***

Ini buku harlequin dan historical romance pertama yang saya baca *yeay* dan untungnya, berhasil memikat saya dan membuat saya cukup menyukai genre ini. Ceritanya bagus, menantang, manis-manis sedap begitu. Tentang Jarret dan Annabel, dua sosok yang mempunyai karakter kuat dan cukup memukau. Anna, bisa dibilang tidak seperti gadis Renaissance pada umumnya. Ia berani, nekat, dan akan melakukan apa saja untuk sesuatu yang diyakininya.

Plot cerita ini cukup bagus, menantang, dan tidak membosankan. Kisah romantismenya dapat, dan juga, dari empat ratusan halaman, membuat saya ingin terus membacanya sampai habis. Apalagi, ada plot utama yang dibangun dalam seri Halstead Hall ini. Tentang Sharpe bersaudara dan perjuangan mereka menemukan cinta. Juga, tentang masa lalu yang melingkupi kebenaran seputar kematian orangtuanya. Di sini sepertinya lebih menantang dari seri sebelumnya yang menceritakan tentang Oliver (baca: The Truth About Lord Stoneville).

Intinya, saya suka. Dan tidak sabar untuk membaca kelanjutan cerita adik-adik Sharpe lainnya.

Baca seri Hellions of Halstead lainnya di sini

***

"Begitulah kata si sungai. Bukan saja pohon tidak bisa mengikuti sungai, tapi jika dia berendam di dalamnya, pohon akan membusuk mati." ---halaman 323

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)