Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Bad Boys

Judul : Bad Boys
Penulis : Nathalia Theodora 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 216 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2014
ISBN : 9786020306629
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Semua orang tahu, SMA Emerald dan SMA Vilmaris musuh bebuyutan, walaupun kini jarang tawuran. SMA Emerald dikomandani Austin, sementara SMA Vilmaris dipegang oleh Troy. Tapi siapa yang tahu bahwa Ivy, adik Troy, ternyata bersekolah di SMA Emerald?

Suatu hari, Lionel—tangan kanan Troy—diberi tugas untuk menjemput Ivy, dan kepergok oleh Austin! Menyimpulkan bahwa Ivy berpacaran dengan musuh, Austin menghukum Ivy menjadi pesuruh gengnya. Untuk menutupi identitasnya sebagai adik Troy, Ivy pun mematuhi perintah Austin, juga perintah Troy untuk pura-pura pacaran dengan Lionel.

Saat Ivy memohon pada Austin untuk menghentikan hukuman, Austin menyuruhnya putus dari Lionel sebagai syarat. Lagi pula, ternyata Ivy diam-diam mulai menyukai Austin...

Bisakah Ivy terus menutupi identitasnya ketika Austin akhirnya menyatakan cinta? Dan bagaimana tanggapan Ivy saat Lionel menganggapnya bukan sekadar adik Troy? 

***

Troy dan Ivy kakak beradik. Sementara, di sekolahnya Troy adalah ketua geng yang sering berantem dengan geng sekolah lain. Malangnya, sekolah lain itu adalah sekolah adiknya. Ivy memang menginginkan bersekolah di SMA Emerald, musuh bebuyutan SMA Vilmaris--sekolah Troy. Akibatnya, Troy harus sembunyi-sembunyi mengantar Ivy sekolah. Saat mengantar Ivy itulah Troy meminta Lionel, sahabatnya, untuk mengoper menjemput Ivy, agar keberadaan Troy tidak terlacak oleh Austin, dan keselamatan Ivy tidak terancam.

Austin, geng sekolah Emerald, sangat membenci Troy. Saat ia melihat ada anak SMA Emerald yang diantar oleh anggota geng SMA Vilmaris, ia marah dan murka. Kemurkaan itu ditujukan pada Ivy, si gadis yang ketahuan diantar-jemput Lionel. Demi keselamatan, Ivy tidak boleh mengaku sebagai adik Troy, dan harus menganggap Lionel sebagai pacar.

Sementara itu, sebagai hukuman, Ivy diharuskan untuk menjadi pesuruh Austin dan gengnya. Dari situlah kedekatan mereka menimbulkan bunga-bunga cinta.

Menyadari bahwa perasaan itu tidak boleh sampai terjadi, Ivy jadi bingung sendiri. Ia terpaksa berbohong dengan mengaku rumah Sophie, sahabatnya, adalah rumahnya, pada Austin. Dan begitu ia diajak ke rumah cowok itu, sebuah fakta menarik terkuak, yang berhubungan dengan Troy dan masa lalunya. Keadaan itu, membuat Ivy dan perasaannya pada Austin semakin sulit dan rumit.

Jadi, bisakah Ivy melaluinya dan berterus terang pada Troy maupun Austin?

***

Ada dua hal yang menggelitik saya selama membaca novel ini: Pertama, saya cukup terganggu dengan kalimat-kalimat percakapan formal yang nanggung. Saya merasa kurang sreg, karena nanggung itu. Baiknya, kalau mau dibuat baku ya baku sekalian, tapi kalau mau dibuat santai, alangkah lebih baik membuat kalimat yang lebih luwes lagi. Tapi ini nggak berlangsung setiap saat sih, rasanya hanya pada momen-momen tertentu saja percakapannya jadi kurang luwes. Tapi cukup mengganggu.

Kedua, saya agak kecewa sedikit karena yang ditonjolkan di dalam cerita ini adalah kisah percintaannya, bukan karakteristik bad boy-nya. Saya pikir bakal ada banyak adegan baku hantam yang seru *_* mengingat ilustrasi di awal bab pun menyiratkan begitu. Sekalinya ada berantem, eh, nggak live. Jiahaha.

Namun, saya cukup menikmati cerita ini, bahkan tidak ada bagian yang saya skip waktu membacanya. Apalagi kisah badboy-badboy-an lagi naik daun belakangan ini. (Karena pada dasarnya, dekat sama bad boy itu lebih greget buat naikin gengsi anak SMA ketimbang dekatin cowok-cowok taat peraturan atau nerd, wkwkwk.) Apalagi kisahnya simpel, dan narasinya oke (minus kalimat langsung yang tadi sedikit saya keluhkan). Membaca buku ini, saya jadi kepingin makan sate ayam.

Baiklah, yuk mari lanjut ke buku dua! :)

P.S. Kalau nggak baca ulasan dari salah satu goodreaders, saya nggak tahu kalau ada kesalahan penulisan di blurb, tentang nama sekolah Troy. Wah, cukup fatal juga, ya?


Hi, Nerd!

Judul : Hi, Nerd!
Penulis : Maria Mona
Penerbit : Novela
Tebal Buku : 114 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2016
ISBN : 9786024300081
Rating : 3 dari 5



Barangkali beginilah rasanya menjadi Pluto. Bertahun-tahun diakui sebagai planet sejati. Namun, kemudian para ilmuwan menganggapnya berbeda di antara planet-planet lain di Galaksi Bimasakti. Hanya karena membandel melewati bidang orbit planet lain. Pluto dipandang sebelah mata, dan diturunkan statusnya sebagai dwarf planet. ---halaman 103

***

Malu, marah, merana! Itu yang dirasakan Ara di sekolah barunya.

Ara yang sebelumnya dikenal sebagai Miss Tukang Bully karena suka menindas teman-temannya, kini menjumpai hari-hari pembalasan. Setelah pindah ke Jakarta, ia menjadi bulan-bulanan geng ABC (Aline, Bianka, Ciarra) karena berbagai alasan.

Posisi Ara semakin terpojok sejak ia menolong cowok cupu dari bully-an geng ABC, Alden. Cowok itu nerd abis, pendiam, dan sedikit aneh menurut Ara. Namun, pernahkah Ara menyangka jika cowok pemenang olimpiade astronomi itu yang kelak menyelamatkan masa remajanya?

***

Ara dulunya adalah "jagoan" tukang bully di sekolahnya. Namun, siapa sangka kepindahannya ke Jakarta membuat ia yang biasanya menjadi subjek berubah menjadi objek bully? Itu semua gara-gara kakaknya yang lemah, diterima kuliah di UI, membuat keluarganya harus pindah dari Malang ke Jakarta. Bukan hanya tentang pamornya saja yang bakal hilang, hubungannya dengan sang pacar pun juga terancam. Meskipun, Joan meyakinkan tentang hubungan jarak jauh mereka bakal baik-baik saja.

Sebelum masuk sekolah, ia memikirkan strategi untuk mendekati anak-anak populer agar kehidupannya sama dengan sebelumnya. Ia ingin berlagak bossy dan mencari teman yang sederajat dengannya. Beragam adaptasi sudah ia lakukan, termasuk mengubah kata sapa "aku-kamu" menjadi "lo-gue". Namun yang terjadi adalah... ia justru mendapat pem-bully-an karena logat Jawa-nya yang tidak bisa hilang. Akhirnya ia berteman dengan Vania, cewek aneh yang mulanya tidak bakal mau didekatinya. Orang yang justru diincarnya sebagai teman malah mem-bully-nya.

Ara berkenalan dengan Alden, si cowok aneh dan nerd di sekolahnya. Alden si cowok yang keluar sepuluh menit setelah soal ujian matematika sulit diberikan gurunya. Alden pula yang diumumkan guru mereka, bahwa cowok itu memenangkan olimpiade sains nasional bidang astronomi. Singkat cerita, Ara penasaran dengan cowok kutu buku dan antisosial itu. Sebaliknya, sebenarnya Alden pun penasaran dengan Ara yang mencoba untuk mendekatinya. Namun, sikap yang ditunjukkan Alden selalu dingin padanya. 

"Kadang, rasa penasaran adalah awal jatuh cinta." ---halaman 50

Begitu Ara mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan Alden dari situasi kurang menyenangkan yang berhubungan dengan keluarganya, mereka menjadi dekat. Hingga, saat permintaan Alden untuk mengunjungi kegiatan astronomi ternyata bertepatan dengan ulang tahun salah satu anggota geng ABC, yang mewajibkan mereka untuk hadir pada perayaannya.

Apakah Ara akan mengikuti ajakan Alden, ataukah ia tidak mau membuat perkara dengan geng ABC yang senang merisaknya itu? Lalu, bagaimana  hubungan LDR Ara dengan Joan? Apakah Ara sudah sepenuhnya jatuh cinta dengan Alden?

***

Di angkasa, kita hanya perlu duduk diam dan tenang. Tak mengapa bila yang kita tinggalkan akan terkenang-kenang. ---halaman 21

Novel ini saya baca guna kebutuhan riset sebenarnya, hehehe. Bercerita tentang pelaku perisakan yang kena getahnya karena sekarang menjadi korban. Ara dan kehidupan barunya, memberikan tantangan tersendiri buatnya. Kini ia menjadi korban pem-bully-an setelah gagal menjadi bagian dari orang-orang yang sederajat dengannya. Mengalami nasib berteman dengan cewek tidak populer dan penasaran dengan cowok aneh di kelasnya, membuat Ara mengalami kehidupan yang baru dan serba mengejutkan.

Saya suka dengan cara penulisan novela ini, meskipun di beberapa bagian masih terasa kaku. Seperti misalnya, penggunaan kata ganti: "Gadis asli Jawa Timur itu..." Ini menurut saya pribadi, sih, terkesan seperti sedang menulis di kolom berita di mana isi berita yang singkat, harus memasukkan segala unsur informasi di sana. Selebihnya, saya suka sekali cara penulis menyampaikan kisahnya. Saya juga menyenangi informasi seputar astronomi yang diselipkan di kisah ini. Saya jadi dapat pengetahuan baru dari sana.

Untuk kisahnya sendiri, sederhana, simpel, namun disampaikan dengan apik tanpa bertele-tele. Kisah Ara menghadapi perisakan, juga cerita percintaannya patut disimak. Manis, dan tidak berlebihan. Apalagi, novela ini cukup tipis hanya 114 halaman. Sekali duduk langsung selesai. :)

Disonansi

Judul : Disonansi
Penulis : Edith PS
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Pertama, November 2015
ISBN : 9786020317793
Rating : 4 dari 5




Andre mungkin saja memiliki banyak kekurangan, tapi selingkuh bukan salah satunya. Sesaat aku mengutuk diriku, sempat menuduh mendiang suamiku atas tuduhan yang belum tentu benar. Tapi aku bisa apa?

Rinjani sudah terlalu lelah dengan kedukaan atas meninggalnya suami tercinta. Ratapan setahun terakhir seolah tidak pernah cukup. Sampai ia harus berurusan dengan surat-surat tanpa identitas yang muncul mengusik ketenteramannya, menimbulkan berbagai tanya dan prasangka atas mendiang suaminya.

Lalu saat mulai terpojok dan bingung harus ke mana, ia berkenalan dengan olahraga lari jarak jauh yang membawanya ke Bromo Marathon, tempat semuanya—secara tak terduga—akan terjawab dan ia seharusnya tidak perlu “lari” lagi.

Disonansi dalam Teori Disonansi Kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.

***

Ada yang bilang bagian terburuk dari kehilangan sesuatu atau seseorang bukanlah kehilangan atas sesuatu atau seseorang itu, melainkan kehilangan bagian dari diri kita, lantaran ikut terbawa pergi. ---halaman 13

Rinjani ditinggal oleh suaminya yang pergi untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan. Sejak kepergian sang suami, ia didera kemalangan hidup karena selalu dihantui oleh mendiang suaminya, Andre. Performa kerjanya terganggu, dan itu disadari oleh orang-orang sekitar yang peduli padanya. Dan mereka mulai mengkhawatirkan kondisi Rinjani karena kejadian meninggalnya Andre sudah berlalu setahun silam.

Abbas, rekan kerjanya tampak begitu peduli untuk mengajak Rinjani keluar dari kemelut hidupnya. Pria yang dianggap adiknya itu selalu ada saat Rinjani butuh teman. Salah satunya, ia mengajak Rinjani untuk ikut olahraga lari yang hits saat itu. Dan Rinjani pun mau.

Saat sedang mengikuti event lari, ia bertemu dan berkenalan dengan Okto, seorang pria pelari yang mempunyai toko perlengkapan lari. Rupanya, Rinjani dan Okto semakin lama semakin dekat, hingga sampai pada keduanya membuka cerita hidup mereka masing-masing. Tentang mendiang suami Rinjani yang sudah tiada, tentang Okto yang ternyata seorang penulis.

Sebuah surat dari seseorang yang merupakan masa lalu Andre, membuat keraguan dalam diri Rinjani sehingga ia mulai mempertanyakan kesetiaan suaminya padanya. Apakah benar Andre mempunyai selingkuhan? Apakah Andre meninggal dunia selepas dari rumah selingkuhannya itu di Bandung?

Sementara, upaya membebaskan diri dari bayang-bayang kematian Andre, Rinjani menerima tawaran Okto dan Abbas untuk mengikuti Bromo Marathon. Mampukah Rinjani menaklukkannya--terlebih, menaklukkan ketakutannya sendiri dengan berlari?

"...karena sudah nggak zamannya lagi lari dari kenyataan. Kita harus lari menuju kenyataan..." ---halaman 162

***

Di antara novel serupa yang bertemakan soal lari, yang ini saya paling suka. (Saya berjanji pada diri sendiri selepas membaca bukunya Haruki Murakami yang What I Talk About When I Talk About Running, saya bakal bikin Ngobras tentang buku-buku bertemakan lari.) Saya suka karena porsi berlari di novel ini cukup besar, bahkan menjadi passion salah satu karakter utamanya, yaitu Okto. Tidak hanya menyuguhkan tentang tema lari, banyak kalimat filosofis tentang lari yang disampaikan di sini. Meskipun, ada pula bagian yang masih terasa seperti "copas" info dari internet. Namun, itu tidak mengurangi hakikat filosofis berlari yang terasa mengena sekali dalam kehidupan sehari-hari.

"Secangkir kopi hangat saja ada filosofinya, apalagi lari." ---halaman 214

Nah, sekarang ke bahasan topik ceritanya. Saya suka sekali dengan kisah ini. Tentang seorang perempuan yang kehilangan suaminya, berharap untuk bisa move on dari situasi itu yang tentu saja tak mudah. Ketika sedang menuju bangkit, justru dihadapkan dengan surat kaleng tentang suaminya, dikirimkan oleh orang yang teramat mencintai sang suami. Plotnya sederhana, cenderung dekat dengan kehidupan pembaca. Tentang memaknai sebuah kehilangan besar dalam hidup dan berupaya untuk melanjutkan hidup tanpanya. Saya merasakan bagaimana Rinjani melawan ketakutan dan kemelut dalam kisah sendunya. Saya pun dapat berempati karenanya.

Dari segi karakter, semuanya memiliki kekhasan yang dengan mudah dapat terbayangkan oleh saya pembacanya. Saya suka Rinjani, pun juga dengan sosok Okto yang misterius tapi serius. Saya juga suka Abbas. Bahwa persahabatan tidak selamanya berakhir dengan saling suka. Ada bentuk persahabatan yang memang murni tanpa melibatkan romansa sama sekali. Saya suka pokoknya sama Abbas yang selalu ada untuk Rinjani.

Tidak hanya menyuguhkan kisah romansa saja, novel ini juga ada bagian lucunya. Saya ketawa sewaktu membaca tentang bagian cowok-cowok yang lari pakai baju couple yang ada quote-quote-nya itu. Lucu! 😆

Gaya penulisan sang penulis di buku ini, berhasil menjerat saya di awal-awal membacanya. Saya suka dengan penyampaian penulis dalam buku ini. Itu pula yang mengakibatkan saya dengan mudah bisa menyelesaikan novel ini segera. Terlebih, banyak kalimat-kalimat yang quoteable di sini. Sama sekali tidak menggurui, bahkan justru menohok tepat sasaran pada relung hati saya si juara lomba lari dari kenyataan ini.

"Karena sudah nggak zamannya lagi lari dari kenyataan, Jan. Kita harus lari menuju kenyataan. Kenyataan bahwa kita memiliki kewajiban untuk merawat tubuh sebagai wujud syukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan." ---halaman 27


Dan ini adalah kutipan yang paling saya suka:

"Fokus ke targetmu saja, jangan target orang lain. Jadikan dirimu sendiri sebagai tolak ukur. Kalahkan rekormu sendiri, bukan rekor orang lain." ---halaman 128

Lost and Found

Judul : Lost and Found
Penulis : Fanny Hartanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786020327693
Rating : 3 dari 5



Terkadang, seseorang bisa begitu mudah menilai orang lain tanpa tahu cerita lengkap di baliknya. Padahal setiap manusia punya kisahnya sendiri. ---halaman 147

Blurb:

Rachel tak sengaja meninggalkan organizer-nya di taksi, padahal di dalamnya berisi paspor, SIM, dan KTP. Akibatnya dia batal melakukan liputan ke Singapura dan terpaksa merelakan rivalnya, Amy, bertugas menggantikannya.

Andy menemukan organizer tersebut, tapi kesalahpahaman terjadi sehingga dia tidak pernah mengembalikan benda itu pada Rachel.

Takdir mempertemukan Andy dengan Rachel dan cinta pun tumbuh. Namun, rahasia dan luka masa lalu menghalangi kebersamaan mereka. Apakah cinta cukup untuk mengisi apa yang pernah hilang dalam hidup mereka?

***

Rachel, seorang wanita muda yang bekerja di majalah POSH, hendak melakukan peliputan di Singapura. Namun, nasib malang menimpanya setelah organizer miliknya tertinggal di taksi. Bukan hanya berisi tentang agenda dan catatan-catatan saja, rupanya di dalam organizer itu terdapat kartu identitas serta paspornya. Karena kehilangan benda tersebut, kehidupannya menjadi kacau; ia tidak bisa berangkat ke Singapura dan harus merelakan tugas itu diberikan pada Amy, saingannya. Ia juga tidak bisa mengemudikan mobil karena tidak memiliki SIM. Belum lagi, tidak memiliki KTP tentu bisa menghambat aktivitasnya.

Sementara itu, Andy, secara kebetulan menjadi penghuni taksi selanjutnya yang ditempati Rachel. Ia yang menemukan organizer tersebut dan bermaksud mengembalikannya pada sang pemilik. Namun, organizer itu tidak lantas kembali dengan mudah. Justru semakin rumit karena terjadi tarik-ulur proses pengembalian benda tersebut.

Alhasil, Rachel merasa kebingungan bagaimana ia berkendara. Sementara, Andy yang akhirnya mengenal Rachel (tapi belum berani mengembalikan benda itu padanya), merasa bersalah karena kerepotan demi kerepotan yang dialami Rachel karenanya. Akhirnya Andy berinisiatif mengantar-jemput Rachel hingga keduanya menjadi akrab dan menjalin hubungan percintaan.

Nah, bagaimana kelanjutan cerita ini? Bagaimana juga ya nasib si organizer itu?

***

Lost and Found menyajikan kisah yang menarik, dengan premis yang unik. Kisah yang ringan tapi tidak sederhana, membuatnya memikat hingga pembaca dibuatnya terbuai dengan kisah ini hingga paragraf terakhir.

Saya suka dengan interaksi para tokohnya, dengan perkembangan karakter mereka masing-masing. Rachel yang agak-agak jutek, tapi manis. Andy yang sepertinya cool tapi nggak cool-cool banget. Bahkan, si tokoh utama pria ini menarik karena ia memiliki hubungan sangat dekat dengan adik perempuannya. Belum lagi aktivitas Rachel dan gengnya, meskipun karakter sampingan itu tidak terlalu menonjol, karena kisah ini terfokus ada pada perkembangan kisah karakter utamanya. Justru, itu dibutuhkan agar pembaca tidak kehilangan fokus utama saat membacanya.

Selain menyuguhkan kisah percintaan, dalam Lost and Found ini unsur pekerjaan si karakter utama cukup menonjol. Lalu, ada unsur lari yang menyenangkan, membuat saya ingin lari setelah sekian lama tidak berlari (kalimat yang selalu saya copas tapi pada kenyataannya saya belum ada jogging lagi sejak sebulan lalu, haha).

This is why they did it. For this victory feeling. Rasa kemenangan setelah berhasil mengalahkan musuh terbesarmu; dirimu sendiri. Keberhasilan untuk semua kerja keras, keringat dan latihan selama berbulan-bulan. Melawan kemalasan, kesakitan, rasa capek, takut, frustrasi, dan marah. Saat kamu membuktikan kalau kamu bisa. Mampu menyelesaikan apa yang kamu mulai. Sanggup menggapai apa yang kamu inginkan. ---halaman 187

Sayangnya, novel ini adalah novel kedua yang saya baca dengan judul sama. Sebenarnya tidak masalah, sih. Hanya saja, pastinya orang akan membandingkan novel ini dengan novel berjudul sama lainnya. Apalagi yang sudah membaca keduanya. Meskipun, dari segi aura dan feel cerita, keduanya memiliki perbedaan yang cukup kentara. (Baca: Lost and Found karya Dy Lunaly)

Secara keseluruhan, saya menyenangi novel ini. Ringan, mengasyikkan, dan lumayan seru.



Rule of Thirds

Judul : Rule of Thirds
Penulis : Suarcani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 288 Halaman
Cetakan pertama, Desember 2016
ISBN : 9786020334752
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?

Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis. 

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan. 

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.

***

Ladys pergi ke Bali untuk mengejar cintanya pada Esa yang berbuah ujung pahit. Esa berselingkuh, bahkan akan menikah sebentar lagi. Di Bali, selain om yang memiliki studio foto dan sering berkelana ke luar negeri, Ladys tidak punya siapa-siapa lagi. Untung saja dia yang pekerjaannya di Korea dulu sebagai fotografer fashion, sekarang bekerja pada studio foto milik omnya itu. Namun, kali ini dia harus beralih menjadi fotografer pre-wedding

Di sana dia bertemu dengan Dias, seorang pekerja di studio foto itu, seorang pria yang mempunyai bakat fotografi tapi harus berpuas diri hanya menjadi asisten saja. Dias adalah sosok pria yang menyebalkan, karena terus-terusan mengkritik teknik pengambilan gambar Ladys. Sementara, Ladys yang merasa harga dirinya tersentil karena ulah Dias itu, tidak mau terima kalau dia dikritik oleh seseorang yang tidak profesional. Karena, Dias bahkan tidak punya kamera dan kalau dia bisa memotret, tentu dia tidak hanya sekadar diberikan pekerjaan sebagai asisten fotografer yang tugasnya mengangkat-angkat barang.

Namun, ternyata kehidupan keduanya yang beririsan dengan kisah masa lalu yang sama, membuat kedekatan demi kedekatan terjalin. Hanya saja, banyak hal yang harus dilakukan untuk membuktikan cinta, atau tentang berdamai dengan masa lalu.

***

Rule of Thirds adalah novel kedua penulis yang saya baca setelah sebelumnya saya cukup menikmati The Stardust Catcher. Jika The Stardust Catcher mengambil genre fantasy young adult, Rule of Thirds adalah cerita roman kontemporer berlabel Metropop. (Saya pernah membahas tentang label Metropop di sini, dan sedikit mengulas Rule of Thirds sebagai novel rekomendasi di postingan itu.)

Satu kesamaan antara novel ini dengan novel lain karya penulis adalah pengambilan setting pulau Bali sebagai tempat jalannya cerita. Bedanya, di Rule of Thirds, setting tempat lebih menonjol, dengan menjelaskan detail lokasi-lokasi menarik di sana. Sebagai orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Bali, tentu informasi ini menarik karena sedikit banyak jadi menambahkan wishlist tempat yang harus dikunjungi saat ke Bali. Dan setting tempat ini, menyatu dengan jalinan cerita. Konsep pekerjaan sebagai fotografer pre-wedding memang memberikan ruang yang besar untuk penulis gali, baik tentang lokasi pengambilan gambar, teknik-teknik seputar fotografi, bahkan dinamika dunia kerjanya. Banyak hal yang menonjol dan berhasil digali serta dieksekusi dengan baik oleh penulis di dalam novelnya.

Untuk jalan cerita sendiri, saya cukup klik dengan kisah yang disuguhkan oleh Dias dan Ladys. Meskipun, banyaknya kesamaan dari kedua karakter itu (tentang cerita di balik ketergantungan mereka, masing-masing dengan apel Fuji dan bunga melati), garis besar cerita percintaan mereka dengan orang lain, dan ada beberapa poin lagi, membuat kebetulan demi kebetulan itu terlalu banyak. Namun, beberapa bagian menyuguhkan kisah yang rasional, kok. Dalam artian, kisah itu yang paling mungkin dilakukan oleh orang-orang yang mengalami kejadian seperti yang dialami tokohnya (walau sebenarnya itu tidak rasional). Contohnya, masih mengharapkan orang yang sama meskipun sudah jelas kalau dia berkali-kali dikhanati. Ha... itu bagian yang menyebalkan karena menyentil sekali.

Novel ini disajikan dalam dua sudut pandang, yakni dari Ladys dan Dias. Ada beberapa pilihan yang dilakukan seorang penulis untuk menandai perpindahan sudut pandang, yang paling sering adalah menggunakan pembeda kata ganti orang. Ada pula yang menggunakan perbedaan font style. Ada yang cukup percaya diri dengan menggunakan nama si tokoh di depan bagiannya, tanpa memberikan pembeda lainnya dan hanya mengandalkan rasa yang membedakan antara tokoh-tokohnya. Di sini, Ladys menggunakan "saya" sementara Dias dengan "aku"-nya. Secara umum, bagi saya penanda ini cukup berhasil karena hanya dengan menemukan kata ganti orangnya saja, sudah bisa mengetahui siapa yang sedang berbicara. Namun, penggunaan kata "saya" sebagai narasi yang berbicara, bagi saya justru memberikan jarak antara karakter dan tokohnya. Karena, bahasa narasi kan merupakan jembatan antara karakter dan pembaca, dan biasanya disajikan dalam bahasa yang nonformal. Beda misalnya dengan resensi yang saya buat ini, yang memang sengaja saya buat dengan sudut pandang "saya" demi menjaga kesopanan dengan para pembaca. (Kalau saya menuliskan pakai "aku" agak gimanaaa gitu. Atau pakai "gue", ntar dikira sok asik, hehe.) Nah, saya jadi teringat dengan salah satu murid les saya, yang juga menggunakan "saya" sebagai kata sapa, ke teman--lho ya bukan ke guru--sebayanya yang semuanya ber-"aku-kamu". Saya yang mendengarkannya jadi aneh, hehehe. Mungkin, selain karakter Ladys yang agak menyebalkan, penggunaan kata sapa di sisi Ladys itu juga yang menyebabkan Ladys dan saya berjarak.

Ada beberapa kesalahan penulisan di dalam novel ini. (Saya masih menandainya, kalau mau boleh saya beritahu di bagian mana saja kesalahannya.) Yang paling fatal menurut saya adalah salah menuliskan nama. Tertulis di sini tentang seorang fotografer pre-wedding terkenal itu Deira Bachir, padahal namanya Diera Bachir. Saya menyukai karyanya, sehingga sudah kenal dari lama dan tahu sepak terjang fotografer ini dalam menangani berbagai macam konsep pre-wedding.

Meskipun begitu, secara keseluruhan saya suka dengan novel ini. Ada beberapa hal yang berkesan. Pertama, saya membaca adegan di buku ini, saat—mudah-mudahan ini tidak spoiler—salah satu kerabat ada yang meninggal dunia. Rasanya seperti terkoneksi begitu saja. Dan saya merasakan feeling yang sama meskipun tidak sekuat yang diceritakan di sini tentang salah satu kisah tokohnya. Kalau dikatakan tentang budaya Bali yang menjadi bumbu cerita ini, saya cukup mendapatkan kesannya di bagian yang ini. Saya bisa membayangkan dengan jelas bagaimana Ladys yang wajahnya kekoreaan mengenakan kebaya, jarik ikat, dan bunga di telinga. Wah, cantik sekali.

Kedua, kisahnya hanya tentang percintaan, tidak hanya tentang kisah cinta karakter metropolitan, karena ternyata genre Metropop tidak melulu menyorot tentang itu. Lagi pula, senang rasanya karena dari novel ini, saya jadi tahu dan paham bahwa label Metropop tidak hanya berfokus setting pada kota Jakarta semata. Kisah ini tidak hanya bercerita tentang kehidupan dan cinta, melainkan banyak unsur fotografi yang termuat di sana.

Ketiga, alurnya tidak mudah tertebak, banyak kisah tak terduga yang manis untuk disimak.

Secara keseluruhan, novel ini bagus dan menarik. Banyak hal yang bisa didapatkan pembaca saat menikmatinya.

Pada akhirnya, aku percaya bahwa hidup bukan hanya mengenai memiliki sesuatu, tetapi lebih pada menghargai sesuatu. ---halaman 241

Lost and Found

Judul : Lost and Found
Penulis : Dy Lunaly
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 250 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2016
ISBN : 9786023757077
Rating : 3 dari 5




Blurb:

Setiap benda akan patah. Termasuk hati. Walau sudah delapan tahun berlalu, hati Illa masih patah dan jiwanya rusak. Sampai detik ini dia masih tidak memiliki kepercayaan diri untuk kembali berurusan dengan cinta. Bukan tanpa alasan, dia takut untuk kembali terluka, mental dan fisik.

Illa menjalani hidupnya dengan membuka sebuah toko bernama My Ex-Boyfriend di sudut jalan Braga. Toko yang menarik perhatian banyak orang karena tokonya khusus menjual barang pemberian dari mantan. My Ex-Boyfriend tidak pernah sepi membuat hidupnya cukup sibuk dan untuk sesaat dia berhasil melupakan sesuatu yang bernama cinta. Hingga seorang pria tidak sengaja hadir dalam hidupnya.

Mungkinkah hati yang tidak hanya sudah patah melainkan berderai mampu kembali utuh? Mungkinkah rasa percaya yang sirna karena pengalaman buruk mampu kembali untuk percaya?

Pada akhirnya, akankah tragedi menghasilkan bahagia?


***

Illa mendiami lantai dua toko uniknya yang bernama My Ex-Boyfriend. Tak kalah unik pula, tokonya memiliki ciri khas dengan menjual barang-barang milik mantan. Illa memberikan sentuhan pada benda-benda itu hingga akhirnya layak jual. Di My Ex-Boyfriend, biasanya orang-orang memberikan begitu saja barang-barang peninggalan mantan mereka. Ada pula, kiriman-kiriman yang disertai dengan surat-surat yang berkisah tentang banyak hal, terutama tentang barang yang mereka kirim untuk "dibuang" dalam kehidupan mereka.


Hai Illa,
Akhir-akhir ini aku dihantui satu pertanyaan, di mana kita menyimpan kenangan?
Tidak mungkin pada barang karena sekalipun kita sudah membuang atau menjualnya, kenangan selalu menemukan cara untuk kembali. Dan tidak juga pada ingatan karena seharuasnya kita belajar untuk melupakannya.
Jadi, di mana kita menyimpan kenangan? ---halaman 7

Illa mendapatkan seorang pengunjung, pria bernama Pandu yang ternyata tempat tinggalnya tidak jauh dari tokonya berada. Namanya Pandu, dan dia memborong album foto untuk didesain ulang menjadi sebuah diorama.

Kehadiran Pandu, tidak sebatas itu saja. Pria itu bahkan sudah mengenal Illa jauh dari sebelum pertemuan pertama mereka berlangsung. Apalagi, setelah bantuan demi bantuan tak terduga yang diberikan Pandu padanya, berhasil membuat ia meyakinkan diri untuk membuka sebuah kisah baru di balik cerita lamanya sebagai seorang penyintas sesuatu di masa lalu. Sosok Danang dalam hidupnya berhasil menorehkan luka lama yang tak kunjung mereda. Belum lagi, cerita-cerita seputar kehilangan orang-orang terdekatnya, membuat Illa begitu takut untuk melangkah ke depan.


"Kamu tahu, mengingat kenangan yang membahagiakan jauh lebih sakit daripada mengingat kenangan buruk. Karena kita tahu kenangan bahagia itu nggak mungkin terulang." ---halaman 138

Apakah Pandu cukup memberikan "arti" dalam kehidupan Illa lebih dari sekadar ia membantunya di kala dibutuhkan, dan ia mengetahui makanan kesukaan Illa yang sering dipesannya di kafe miliknya?


***

Lost and Found adalah buku pertama dari Dy Lunaly yang saya baca, setelah sekian lama mem-follow penulis pada akun media sosialnya. Menurut saya, buku ini cukup bagus. Cara penulis mengemas ceritanya menarik. Apalagi, menemukan tema yang untuk untuk dijadikan bahan baku pembuatan novelnya, sungguh merupakan ide yang brilian. Bagi saya, kisah yang bagus itu yang memiliki kedekatan personal dengan pembacanya. Dan memberikan kisah pada barang-barang pemberian mantan, jelas berhasil memberikan kedekatan itu. Siapa sih yang nggak pernah dikasih barang spesial dari orang yang pernah spesial dalam kehidupan kita? Saya yakin, pembaca (atau minimal saya, deh), langsung terngiang pada benda-benda apa saja yang pernah diberikan mantan pada saya, dan kenangan yang tersimpan pada barang tersebut kembali menguar... dan membuat laper. (Hehehe, saya anti baper.)

Salah satu keunggulan yang dimiliki penulis adalah, berhasil menempatkan deskripsi setting dengan apik. Sudut-sudut Jalan Braga memiliki aura magisnya yang menyenangkan, membuat saya yang bukan orang Bandung merasa berada di sana, menikmati arsitektur bangunan tua yang menawan di sepanjang jalannya. Fix lah, kalau ke Bandung lagi saya harus menikmati sepanjang jalan ini.


Salah Satu Sudut Jalan Braga (Sumber Gambar)

Kisah yang terjalin antara Illa dan Pandu pun, cukup menarik untuk disimak. Bagaimana pertemuan pertama yang memancing pertemuan-pertemuan selanjutnya, tentang Illa yang berusaha keluar dari kungkungan masa lalunya yang berat, juga Pandu yang mulai menceritakan dan menguak cerita kelam masa lalu pria itu. Semuanya, terjalin dengan cukup manis.

Secara umum, Lost and Found berhasil menyuguhkan kisah menarik yang layak untuk dibaca. Meskipun, ada beberapa hal yang menurut saya bisa tersaji lebih bagus lagi. Pertama, saya kesulitan menemukan deskripsi fisik tokoh-tokohnya, terutama Illa. Atau mungkin saya yang kelewat bacanya? Entahlah. Dalam bayangan saya, Illa adalah sosok enterpreneur muda yang memikat dan menarik. Namun ternyata, di tengah menuju akhir, justru saya mendapatkan sebuah fakta tentang adanya kata-kata bahwa Illa ini "jelek, lemah, sama sekali nggak menarik". Wow. Satu kalimat itu berhasil membuyarkan bayangan saya tentang Illa yang sudah dibangun dari awal. 

Yang kedua, barangkali ada hubungannya dengan ulasan saya sebelumnya. Ada beberapa bagian yang menurut saya, penulis masih menggunakan teknik "tell" dalam penyajiannya. Misalnya, ungkapan "jelek" itu tadi. Alih-alih menuliskan jelek, alangkah lebih baiknya diberikan beberapa fakta yang bisa disimpulkan sendiri oleh pembaca tentang itu. Entah mungkin dalam deskripsi fisik, atau dari kesan-kesan tokohnya. Padahal, belum tentu sesungguhnya seperti yang digambarkan dalam satu baris kalimat itu. Sebenarnya, kerasa banget itu saat adegan Illa mendapatkan surat yang menyertai barang-barang yang dikirim ke My Ex Boyfriend. Obrolan tentang isi surat yang dibahs kedua tokoh di sana, menjelaskan bahwa suratnya "sedih banget" sampai ada yang menangis karena membacanya. Saya jadi penasaran, memangnya sesedih apa sih isi suratnya? Karena di awal seolah sudah didikte bahwa pasti bakalan sedih. 


Kesedihan seperti apa yang ditanggung hingga dia tidak mampu menahan air matanya ketika menulis surat ini? ---halaman 16

Ternyata, isi suratnya memang sedih. Hanya saja, menurut saya, sebaiknya tidak ada pernyataan tentang sedih itu duluan. Membiarkan pembaca merasakan sendiri kesedihannya tanpa harus didikte duluan, efeknya bakal lebih personal ketimbang di-"tell" duluan di depan.

Satu lagi, mohon maaf, saya tidak berhenti memikirkan Danang Dangdut Academy Asia saat melihat nama Danang muncul di buku ini (#initidakpenting).

Tentang barang-barang pemberian mantan (entah mengapa saya kepingin bahas ini juga di sini), saya meyakini bahwa setiap benda itu mempunyai cerita. Apalagi, ketika barang itu diberikan oleh orang yang pernah punya cerita dalam kehidupan kita. Saya nggak punya mantan sih, sebenarnya (hahaha, bohong banget!). Saya anggap mereka adalah orang yang pernah dekat secara personal dengan saya, dan memiliki arti dan tempat khusus yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Saya pernah diberi beberapa benda istimewa. Ada jilbab (yang sampai sekarang nggak pernah saya pakai lagi, wkwkw), tapi lebih banyak buku. Saya punya beberapa buku dari orang-orang istimewa. Dan ketika kehidupan saya tidak lagi bersinggungan dan berada pada rel yang sama dengan mereka, saya lebih memilih untuk menyimpan kenangan itu dan tidak tertarik untuk membuang atau mengalihkan kepemilikan ke orang lain. Karena, bukan bendanya yang menjadi masalah, tetapi bagaimana cara kita menata hati yang menjadikan kenangan itu tidak dalam posisi yang destruktif. (Saya memang nggak buang barangnya, tapi block orangnya di media sosial, hahaha #lah) Tapi saya dapat hikmah dari barang pemberian mantan ini. Saya dapat boneka beruang besar warna biru yang aslinya, diberikan oleh mantannya si adik, ke adik saya. Nah, barang pemberian mantan terkadang mempunyai hikmah menyenangkan, bukan?

Tuh kan benar, membuat cerita yang dekat dengan pembaca itu, berhasil menempelkan kesan dalam benak yang tidak mudah untuk hilang.

Oke, itu dia sedikit ulasan saya. Lost and Found adalah perkenalan pertama saya dengan penulis, dan sepertinya, perkenalan ini akan berlanjut ke karya-karya penulis lainnya. 

A Copy of My Mind

Judul : A Copy of My Mind
Penulis : Dewi Kharisma Michellia 
Penerbit : PT Grasindo
Tebal Buku : 199 Halaman
ISBN : 9786023754014
Edisi Pertama, April 2016
Rating : 4 dari 5




"Kamu percaya enggak kalau takdir pertemuan itu memang seperti itu sifatnya?"
"Seperti bagaimana?"
"Kita diminta mengumpulkan banyak-banyak pengalaman hidup, untuk jadi prasyarat bertemu dengan orang-orang paling penting di hidup kita." ---halaman 114


Blurb:


Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.

Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.

Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.

***

Di dunia ini, ada orang yang berambisi banyak hal tentang kehidupan: hidup sejahtera, memiliki banyak investasi, karier menanjak, dan masih banyak lagi. Namun Sari, ambisinya hanya sebatas memiliki home theatre, demi bisa memuaskan satu-satunya passion dalam hidupnya: menonton film. Lebih spesifik lagi: menonton DVD bajakan.

Sari adalah perwakilan dari realitas masyarakat metropolitan yang jarang disinggung dalam cerita-cerita fiksi populer; pekerja dari kelas bawah, seorang pegawai salon. Separuh gajinya ia gunakan untuk mengirim orangtuanya di desa sementara sisanya untuk bertahan hidup di kerasnya ibukota. Satu-satunya hiburan bagi Sari adalah menonton DVD bajakan yang satu kepingnya dihargai lima ribu rupiah. Jika Sari membeli DVD bajakan, maka ia harus rela merapel jatah makannya yang hanya sebungkus mi instan.


Hidup yang tidak disyukuri adalah hidup yang tidak dihidupi. ---halaman 38

Belakangan ini, DVD yang Sari beli subtitle-nya tidak sinkron. Jelas ini membuat Sari kesal. Saat ia memprotes hal ini ke pemilik lapak, ia bertemu dengan Alek, lelaki yang pekerjaannya membuat subtitle DVD bajakan itu. Sari memiliki kebiasaan mencuri DVD bajakan sebagai "bayaran" atas ketidakpuasan atau kekesalannya terhadap sesuatu. Ini rupanya tertangkap oleh penglihatan Alek, Sari dan Alek terlibat perdebatan di lorong tempat itu. Alek, yang rupanya merasa bersalah karena hasil pekerjaannya kurang memuaskan, mengajak Sari untuk ke kosnya karena di sana banyak sekali film yang bisa dipinjamnya. Sari enggan. Namun, karena dapat ancaman akan dilaporkan atas tindakan pencurian itu, akhirnya Sari mau.

Alek adalah seorang pemuda yang merantau ke Jakarta dan bekerja dengan teman baiknya, Leo. Karena Leo menikah dan memutuskan untuk tinggal bersama istrinya, maka ibunya dititipkan kepada Alek, dengan kompensasi ia bisa tinggal gratis di rumahnya dan terjamin hidupnya. Leo juga memberikan link agar Alek bisa mendapatkan pekerjaan. Alek memiliki masa lalu percintaan yang kelam yang membuatnya tidak percaya dengan cinta. Alek hidup dengan sesukanya, tidak percaya agama, tidak memiliki identitas warga negara. Alek pun memiliki hobi taruhan balapan motor liar. Hidupnya bebas, tanpa ada yang melarang.


Kenapa manusia mencari rasa aman? Padahal, mereka bisa saja meninggalkan semua hal, berkelana tanpa identitas. Mungkin hidup seperti itu lebih layak dihidupi. ---halaman 65

Sari tinggal di kos-kosan yang berpenghuni seratus orang. Suatu hari, kos-kosan itu akan direnovasi sehingga seluruh penghuninya diminta untuk meninggalkan tempat itu sementara waktu selama dua minggu. Karena jenuh dengan pekerjaannya di Salon Yelo, Sari mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan di sebuah salon mewah tak jauh dari tempat kerja sebelumnya.  Pak Bandi, sang pemilik mengatakan bahwa Sari harus menjalani training selama dua sampai tiga minggu sebelum ia benar-benar diperbolehkan memegang klien. Karena, di tempat baru ini segalanya serba mutakhir. Sari dikenalkan dengan alat-alat canggih yang tidak didapatnya di salon lama.

Sementara itu, hubungan Sari kian lama semakin dekat. Sari mengeluhkan pekerjaannya yang membosankan pada Alek. Dan himbauan untuk pindah kos sementara waktu dijawabnya dengan menginap di tempat Alek. Begitulah hubungan terjalin di antara keduanya. 

Karena merasa kebosanan dalam masa training-nya, Sari mengadukan keluhannya itu pada Pak Bandi yang dijawab dengan sebuah tawaran untuk menjadi petugas facial bagi seorang tahanan kelas eksklusif di rutan. Bu Mirna adalah seorang narapidana korupsi yang pekerjaannya sebagai makelar undang-undang. Tragedi terjadi saat Sari mencuri sebuah kepingan DVD dari sel Bu Mirna, yang isinya ternyata adalah barang bukti rekaman kejahatannya.


***

A Copy of My Mind adalah buah karya sutradara Joko Anwar yang dinovelisasi oleh Dewi Kharisma Michellia. Sebuah cerita dengan plot yang luar biasa: memotret kehidupan kaum urban level bawah dengan segala hiruk-pikuknya dalam bertahan di ganasnya kota metropolitan. Apalagi, yang menjadi bidikan temanya adalah tentang DVD bajakan. Betapa mirisnya, karena kemungkinan besar film ini pun akan bernasib sama di tangan para pengusaha lapak bajakan itu. Menurut saya, ini adalah ide yang cerdas. Menyinggung dan menyasar tepat pada sasaran.

Sebagai tangan yang bekerja untuk pembuatan novelnya, Dewi Kharisma Michellia mengemasnya dengan sangat apik. Jujur saja, menurut saya filmnya membosankan, saya berhenti menonton di tengah jalan (dan sebagai kaum yang agak sedikit idealis, maafkan saya karena menontonnya di yuchub karena memang filmnya sudah tidak lagi ada di pasaran *merasa ikutan kesindir oleh ide yang diangkat*). Ada banyak plot hole yang tidak terjelaskan atau tidak tersuarakan dari filmnya. Dan rupanya, kekosongan "suara" dan "cerita" itu benar-benar diisi dengan baik sekali di novelnya. Sebab-akibat yang menjadi jalan cerita sangat diperhatikan dengan detail. Suara-suara yang tidak tersuarakan oleh gesture pemain, diungkapkan dengan bahasa yang tepat pada maksdunya.

Ini adalah novel kedua dari penulis yang saya baca (dan ternyata memang novel keduanya) setelah sebelumnya menikmati Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya yang merupakan pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012. Salut dengan kepiawaian penulis meramu jalan cerita, mengemasnya dalam balutan diksi dan pemilihan kalimat yang luar biasa. Pembaca dapat merasakan langsung kehidupan dalam novel ini seolah itu disajikan dan dirasakan sendiri di depan mata. Sebagai seseorang yang pernah tiga minggu berada di Jakarta (jangka waktu yang sangat pendek memang, tapi cukup menggambarkan situasi dan kondisi di sana karena memang saya di sana tidak dalam rangka vakansi), gambaran realita yang dipaparkan sungguh mengingatkan saya akan momen berada di kota itu. Sebuah kisah kehidupan yang sayangnya jarang diangkat sebagai tema dalam novel populer.

Dari segi tokohnya, Alek misalnya, adalah gambaran real keadaan masyarakat kebanyakan. Kita tidak bisa tutup mata, bahwa di sekitar kita banyak tipikal manusia yang memilih "kebebasan" sebagai jalan hidup mereka. Alek bukan orang yang tidak berpendidikan, ia bahkan mampu menangkap fenomena kehidupan di sekitarnya untuk dijadikan bahan tertawaan. Pemikirannya juga dalam, tentang pemaknaan hidup dari sisinya. Lalu dengan Sari, yang memiliki optimisme hidup sekadar memenuhi impian dan cita-citanya yang berhubungan dengan hobi menonton film, Alek menemukan sosok seorang wanita yang selama ini tidak pernah masuk ke dalam kehidupannya.

Sari adalah tipikal gadis lugu berpendidikan rendah yang hidup merantau di kota. Namun semenjak pertemuannya dengan Alex, ia pun mendapatkan sosok yang bisa dibaginya dalam hal mengeluhkan beban hidupnya yang kian menghimpit.


"Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir. Kamu akan tertawa terakhir kalau kau terawa terus. Jadi, kita memang harus tertawa, dan sering-sering tertawa, biar kita menang atas hidup." ---halaman 115

Saya mengacungkan jempol terhadap ide cerita ini. Memaparkan realitas tentang jurang pemisahan yang begitu besar antara si miskin (diwakili Sari) dan si kaya (Bu Mirna), tentang ketiadaan mimpi karena sarana untuk meraih mimpinya yang tidak terpenuhi, tentang bagaimana mengangkat cerita dari kacamanta orang lain yang memiliki pandangan hidup berbeda dengan kita (atau saya).

Terlepas dari apakah kita memilih untuk mengamini jalan pikiran penulisnya, saya rasa novel ini layak untuk dijadikan bahan perenungan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang mengikut di belakangnya. Ketika kau memilih untuk tidak percaya terhadap identitas, kau akan menanggung sendiri risikonya. Pun begitu juga ketika kau mengambil jalan untuk tidak percaya pada Tuhan. Bukan ranah manusia untuk memberikan penghakiman. Namun, sebuah kisah tentu akan menuai banyak sekali pelajaran.

Satu hal yang menjadi kekurangan dari novel ini adalah tidak adanya penanda bahwa novel ini adalah novel dewasa. Ada adegan dewasa yang dideskripsikan dalam ceritanya. Seharusnya, pihak penerbit memberikan warning agar tidak semua kalangan usia bisa membacanya. Meskipun, justru biasanya kalau sudah diperingatkan begini bikin orang penasaran, tapi setidaknya dengan memberikan label "novel dewasa", pihak penerbitan sudah turut andil dalam memberikan peringatan kepada calon pembacanya. Katakanlah saya terlalu saklek dalam hal beginian =)) tapi ini saya rasa perlu. Terlepas dari apakah efektif atau tidak dengan adanya peringatan tersebut, setidaknya dengan memebrikan peringatan, pihak penerbit sudah "terbebas" dari tanggung jawab moral terhadap isinya.

Terakhir. Saya harus mengapresiasi dan mengangkat topi dengan kemampuan penulis dalam mendeskripsikan adegan-adegan tertentu sehingga membuat novel ini layak baca tanpa mengurangi maksud dari scene yang sedang disampaikan.

Ini benar-benar terakhir deh =)) Agak sedikit protes boleh ya. Kenapa cover depannya gambar Chico Jericho ya? Padahal versi Tara Basro yang ada di back cover lebih cakep menurut saya =))



Baca via SCOOP.


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)