Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Aku, Kau, dan KUA

Judul : Aku, Kau, dan KUA
Penulis : @tweetnikah 
Penerbit : Elex Media 
Tebal Buku : 204 Halaman
ISBN : 9786020205809
Rating : 3 dari 5




Blurb:


Ini bukan buku yang membahas hukum-hukum pernikahan secara agama atau secara fikih, tapi mencoba membahas pernikahan dari sisi yang mungkin jarang dilihat selama ini. Makanya @tweetnikah sengaja menulisnya dengan bahasa yang ringan dan sesederhana mungkin. 

Mungkin saja di beberapa tulisan akan Anda temui kesan nggak serius dan banyak becandanya. Namun di balik candaan itu tetap ada pelajaran yang disisipkan untuk renungan. 

***

Saya berhasil menyelesaikan buku ini dalam waktu hanya beberapa jam saja. Saat itu, saya sedang sakit (setelah kerja rodi beberapa hari di kantor) dan tidak masuk kerja. Di pagi hari yang biasa saja, karena tidak ingin hanya menghabiskan waktu dengan goleran tanpa makna (ceileh bahasanya), akhirnya saya mencari-cari buku ringan manakah yang bisa saya baca dan bisa menemani saya pagi itu. Dan saya memutuskan untuk membaca buku ini.

Saya sudah lama sekali mem-follow akun twitter @tweetnikah dan mengikuti ulasan twitter tersebut sejak lumayan tenar. Lalu, beberapa tahun belakangan, ternyata si pemilik akun menelurkan buku berjudul Aku, Kau, dan KUA. Dan ternyata, buku ini juga difilmkan lho. Mungkin karena ini pula saya memutuskan membaca buku yang ringan ini saja.

Bukunya memang ringan jika saya membandingkannya dengan buku-buku pranikah yang dibuat oleh Ust. Fauzil Adhim atau Salim A. Fillah. Namun, isinya informatif dan tidak memberikan kesan menggurui. Sehingga, siapa pun yang membaca akan mendapatkan bekal yang banyak sebagai persiapan pernikahan. Seperti yang sudah diinformasikan di blurb, meskipun ada beberapa bahasan yang kesannya bercanda, tapi konten yang dibahas memang benar-benar serius. Pembaca akan disuguhkan informasi yang membuat berpikir. Baik itu tentang hubungan percintaan, apa saja yang perlu disiapkan dalam pernikahan, dan banyak hal lainnya yang perlu untuk dibahas sebagai bahan perenungan tentang betapa pentingnya sebuah mahligai pernikahan tersebut.

Membaca buku ini, membuat saya kembali bernostalgia ke masa-masa di mana saya begitu bersemangat membahas hal-hal seputar pernikahan. Rasanya, itu bertahun-tahun lalu, deh. Waktu saya bersemangat memiliki cita-cita menikah muda (... dan ternyata belum kesampaian hingga sekarang, hahaha). Beberapa konten yang sudah saya pahami di luar kepala memang saya skip. Namun, sensasi nostalgia dan mengingat kembali pelajaran penting seputar menyiapkan bekal pernikahan itu, rasanya menyenangkan dan cukup menghibur juga.

Ada sisi yang menarik dari buku ini. Terlebih, jika @tweetnikah sedang membahas tentang followers-nya yang unik dan lucu. Saya jadi tahu ternyata si admin sampai membeli blacberry khusus untuk menampung curhatan seputar pernikahan di sana. Juga, tentang e-mail masuk yang bermaksud sama. Salut dengan kegigihan dan kesabaran admin dalam membantu permasalahan seputar pernikahan. Semoga menjadi amalan yang pahalanya tidak putus. Namun yang saya sayangkan, akun twitternya sedang mati suri. Saya berharap @tweetnikah bisa diaktifkan kembali. Supaya, para follower yang menghadapi problematika tentang ini dapat mencurahkan hatinya serta mendapat saran yang baik.

Yang saya sayangkan, ada hal-hal teknis yang cukup mengganggu dari tampilan buku ini. Misalnya saja, saat penulis menampilkan curhatan atau tweet seru dari followers-nya. Andai itu dituliskan dengan melibatkan ilustrator, tentu tampilannya akan lebih menarik dari sekadar mengcopas screenshoot langsung dari ponsel. Dan juga, gambar-gambar pendukung buku ini juga ditampilkan dengan kurang cantik dan elegan. Kesannya seperti gambar langsung comot dari google saja.

Namun, selebihnya, buku ini informatif, dikemas dengan bahasa santai dan menarik. Kontennya pun, berisi hal-hal penting yang wajib diketahui bagi yang hendak menyegerakan pernikahan. Saya rekomendasikan kepada siapa pun yang sedang menyiapkan pernikahan, atau siapa saja yang ingin memantaskan diri sebelum menuju jenjang kehidupan baru yang dinamakan dengan pernikahan.





Ayat-Ayat Cinta 2

Judul : Ayat-Ayat Cinta 2
Pengarang : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika
ISBN : 9786020822150
Tebal Buku : 697 Halaman
Rating : 5 dari 5





Fahri melalui kehidupan di Edinburgh tanpa Aisha. Istrinya secara misterius menghilang dalam kunjungannya ke Palestina. Alicia, teman seperjalanan Aisha dilaporkan tewas tak lama setelah mereka menghilang. Selanjutnya, kisah Fahri diceritakan tentang bagaimana upaya yang dilakukannya untuk menemukan sang istri, dan seperti apa ia melanjutkan hidupnya.

Fahri pindah ke Edinburgh bersama Paman Hulusi, asisten rumah tangga yang begitu dipercayanya. Di kota ini, ia melanjutkan pendidikan sembari melanjutkan riset pendidikannya di kota ini. Oleh Profesor Charlotte, ia juga diminta untuk menggantikan sebagai pengajar di universitas, dan juga pembimbing bagi mahasiswa yang tengah menyelesaikan pendidikannya. 

Di Edinburgh, Fahri tinggal di kawasan bernama Stoneyhill Grove. Di sini ia memiliki tetangga bernama Nyonya Janet yang tinggal dengan kedua anaknya, Keira dan Jason. Lalu ada pula seorang wanita bernama Brenda, dan ada seorang nenek Yahudi bernama Catarina. Keberadaannya sebagai seorang muslim rupanya mengusik tetangga yang tidak senang karena status agamanya. Setiap pagi Fahri kerap menemukan tulisan yang tidak menyenangkan tentang Islam dan muslim yang acapkali dicap sebagai teroris dan monster. Ia tahu bahwa pelaku tersebut adalah tetangganya sendiri. Dan meskipun mendapat perlakukan seperti itu, oleh  Fahri justru perbuatan tersebut dibalas dengan kebaikan. Fahri rela menyelamatkan kehidupan tetangganya; Keira dibiayainya untuk mendapatkan pendidikan musik demi mencapai cita-citanya sebagai pemain biola terkenal, Jason disekolahkan bola. Padahal, Keira amat membenci muslim karena ayahnya meninggal akibat serangan bom yang diduga pelakunya adalah orang Islam.

Tidak hanya itu, Nenek Catarina, seorang Yahudi taat pun tak luput dari bantuan pertolongan Fahri. sang nenek yang terlibat konflik urusan rumah dengan anak tirinya Barus yang mantan tentara yang bertugas di Tel Aviv, mengambil rumah milik almarhum ayahnya dan mengusir ibu tirinya tersebut. Fahri menolong sang nenek dan memberikan tempat tinggal yang layak bagi wanita tua tersebut. Kedermawanan Fahri tidak hanya sampai di situ, ia menampung seorang tunawisma yang sempat mendapatkan perhatian karena masuk ke dalam surat kabar akibat mengemis di pelataran masjid. Menurutnya, sebagai seorang muslim, sudah selayaknya ia membantu wanita tersebut. Orang lain yang tidak seakidah dengannya saja ia bantu, mengapa saudara seiman sendiri tidak ditolongnya? Wanita itu bernama Sabina, seorang perempuan berwajah rusak namun menjaga kehormatannya dengan berjilbab ditampung oleh Fahri di basement rumahnya. Dan sejak saat itu, ia membantu Paman Hulusi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah Fahri. Ada pula Misbah, teman Fahri yang tanpa sengaja ditemuinya di Edinburgh dan dibantu keuangan olehnya.

Fahri memang sosok businessman, sejak menikah dengan Aisha ia mulai terbiasa mengelola bisnis keluarga Aisha dan mengembangkannya hingga sekarang. Bersama saudara sepupu Aisha, Ozan, ia mengembangkan butik di Edinburgh dan mengembangkannya dengan membuka cabang di luar kota. Selain itu, Fahri juga memiliki minimarket dan restauran halal tidak jauh dari kediamannya berada.

Kedatangan Syaikh Utsman--guru talaqqi-nya dulu di Mesir--ke Edinburgh, membuka babak baru kehidupan Fahri. Syaikh menasehati Fahri untuk memikirkan menikah lagi dan mulai untuk kehidupan barunya. Fahri juga rupanya memikirkan hal tersebut juga. Bahwa memang ia tidak dapat melupakan Aisha, namun ia sudah berusaha untuk menemukan istrinya itu dengan usaha yang maksimal. Syaikh Utsman menawarkan kepada Fahri untuk menikah dengan cucunya yang bernama Yasmin. Selain itu, kehadiran perempuan-perempuan lain di sekitar Fahri juga sebenarnya sudah seharusnya mendapat perhatian dari Fahri dan pantas untuk dijadikan istri. Misalnya Heba, seorang muslimah yang ayahnya dikenal baik oleh Fahri di Edinburgh. Dan ada pula Hulya, adik Ozan, yang masih berkerabat dengan Aisha. Hulya bisa dikatakan mirip dengan istrinya yang hilang itu. Dari segi posturnya, kemiripan wajah, dan juga kemampuan memainkan biola benar-benar mirip dengan Aisha. Dan memang, sudah selayaknyalah Fahri memikirkan untuk mencari pengganti istrinya.

Selain dihadapkan dengan permasalahan pribadinya sendiri, tantangan juga datang dari pihak luar. Isu islamophobia dan konflik Palestina diangkat ke jalur perdebatan ilmiah. Dua kali Fahri diajak untuk berdebat dan mengemukakan permasalahan ini yang dijadikan tema dalam mimbar debat. Yang pertama, tantangan berasal dari Barus yang notabene adalah seorang Yahudi yang menyebutnya sebagai amalek. Debat yang berlangsung di auditorium kampus tempat Fahri mengajar ini, Fahri menyampaikan pandangannya tentang kaum yang disebut amalek tersebut dengan dalil yang diungkapkan Fahri dengan menggunakan kitab yang diyakini oleh Barus dan kawan-kawannya. Debat kedua, dengan skala lebih luas lagi digelar dengan menghadirkan dua orang pembicara dari kalangan akademisi lainnya. Pembicara pertama mengemukakan pendapatnya bahwa semua agama adalah sama sementara pembicara kedua mengemukakan pandangannya tentang atheis. Fahri tampil dengan memaparkan penjelasannya tentang Islam. 

Bagaimana kelanjutan kisah Fahri? Apakah ia berhasil menemukan istrinya yang hilang atau memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan menikah lagi? Bagaimana pandangan orang-orang tentang stereotip bahwa Islam adalah agama teroris dan masihkah mereka membenci Islam, terutama orang-orang terdekat (tetangga dan lingkungan) Fahri? Bagaimana upaya Fahri untuk memfilter pandangan negatif terhadap Islam yang gencar terjadi di Eropa? Buku ini yang meskipun sangat tebal, amat layak untuk dibaca dan diikuti setiap alurnya. Tidak hanya akan mendapatkan suguhan plotnya yang menarik, namun banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari membacanya.

***

Ayat-Ayat Cinta 2 adalah kelanjutan dari novel fenomenal karya Kang Abik yang sempat booming sepuluh tahun silam. Menceritakan tentang sosok Fahri, seorang muslim Indonesia yang merantau ke Mesir untuk menimba ilmu agama. Di sekuel ini, kehidupan Fahri melang-lang buana jauh ke negeri Eropa yakni Edinburgh guna mencari jejak istrinya yang menghilang begitu saja. Sesuai dengan ciri khas Kang Abik, yang banyak sekali menyelipkan ilmu baik itu fiqih, sejarah, maupun pengetahuan keIslaman di dalam bukunya, di AAC2 ini pun ciri khas tersebut tidak ketinggalan. Kang Abik mengulas tentang bagaimana bersikap dengan tetangga (baik itu terhadap muslim maupun non-muslim), bersikap dermawan, dan banyak lagi. Inilah yang membuat membaca novel karya Kang Abik tidak hanya sekadar membaca sebuah cerita, melainkan menggali ilmu yang langsung begitu saja kita dapatkan sebagai bonus dengan membaca novel-novelnya.

Banyak yang menyebutkan bahwa sosok Fahri sebagai sosok gary-stu, atau tokoh yang diciptakan terlalu sempurna sehingga membuat pembaca berpikir... "yang begini nih di dunia nyata ada nggak ya". Kang Abik sendiri menyebutkan bahwa di luar sana, bahkan di Eropa dan Amerika, banyak sosok-sosok yang lebih baik dari Fahri. Bahkan di kalangan sahabat sendiri, ada nama-nama yang dikenang oleh sejarah karena kedermawanannya. Khadijah ra, Abu Bakar Ash Shiddiq, Abdurrahman bin Auf, adalah nama-nama yang dikenal karena royal dalam mendermakan hartanya untuk bersedekah. Lalu kemudian saya teringat dengan seorang pengusaha di Perancis yang menggelontorkan uangnya untuk membayar denda bagi para muslimah yang bercadar di Paris. Jadi menurut saya, sosok Fahri memang nyata, dan kita memang harus banyak-banyak dikenalkan dengan sosok seperti ini hingga dekat dengan kita. (Jadi, kalau mau memiliki sosok pendamping seperti Fahri, tinggal bagaimana kita memantaskan diri dengan sebaik-baiknya saja. Tapi, tetap ya, niatnya karena Allah, huhuhu, kenapa jadi sedikit curcol.)

Selain itu, setting novel ini begitu kuat, saya sampai bisa membayangkan bagaimana rumah dan lingkungan Fahri tergambar dalam imajinasi saya. Jadi pengin ke sana suatu hari, mudahan diijabah Allah, aamiin.

Hm, terakhir, aduh novel ini bikin baper. Saya sudah bisa menebak jalan ceritanya dan ternyata tebakan saya benar. Dan proses menuju ending itu... bikin pengin nggeremet buku ini saking kesal dan sebalnya. Kesal banget, sedih, aaa... huhuhuhu. Dan bagi penikmat karya Kang Abik, sebenarnya ada bagian penyelesaian cerita yang mirip, seperti di Dalam Mihrab Cinta begitu. (Hayo bagian yang mananya...) Satu yang bikin sedih quotationnya itu di bagian ini:

"Dan kelak di akhirat nanti, jika engkau, juga ayah dan ibu, sudah masuk surga lalu kalian tidak menemukan aku, maka carilah aku. Carilah aku ke neraka, aku khawatir sekali kalau terpeleset ke sana. Lalu mintalah kepada Allah agar memasukkan aku ke dalam surga. Kalian jadilah saksi bahwa aku pernah shalat bersama kalian, pernah membaca Al-Qur'an, dan pernah menyebut nama Allah bersama kalian." (Halaman 660)

Tokoh-tokohnya oke, Paman Hulusi ngeselinnya dapat ya hehehe, kalau tokoh yang lainnya yah nggak usah ditanya lagi. Favorit saya: Sabina. 


Aisyah (ra), Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah

Judul : Aisyah (ra), Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah
Penulis : Sibel Eraslan
Penerjemah : Akhmaad Nur Ikhwan Taqwim
Penerbit : Kaysa Media
ISBN : 9789791479899
Tebal Buku : 438 Halaman
Rating : 5 dari 5


Untuk mengetahui hakikat cinta
perlu pengorbanan untuk siap tak kembali dari perjalanan sengsara ini
teman kalian telah mengajarkan pada kita
Jangan bersedih sebab keinginannya telah terwujud
Dia bukan pengembara lagi, melainkan jalan itu sendiri
Diam adalah obat cinta
Sabar adalah para tentara pemberani kerinduan
Perjalanan cinta ini takkan bisa dilalui tanpa memakai baju api pengorbanan…
(Halaman 129)

Aisyah adalah ummul mukminin, ibunya kaum mukmin. Aisyah adalah putri Abu Bakar Ash Shiddiq, termasuk salah satu dari orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Dalam kisah ini, dicertakan melalui lima fase, lima waktu Aisyah yang dirangkum dengan judul lima waktu shalat. Merupakan fase kehidupan seorang Humaira, dari dirinya masih kecil hingga fase setelah Rasulullah wafat. Kisah ini diceritakan dalam sudut pandang orang pertama, penulis berupaya merangkum segala informasi yang dimiliki mengenai biografi Aisyah lalu menceritakannya kembali sehingga membuat pembacanya begitu dekat dengan sosok ibunda Aisyah.

Subuh
Subuhnya Aisyah adalah masa di mana Aisyah kecil. Abu Bakar adalah orang terpandang oleh kaumnya, dan Aisyah sangat mencintai ayahnya. Keluarganya menunggu kepulangan ayahnya dari perjalanan dagang dengan harapan yang berbeda-beda. Bagi Aisyah, bagian yang ia dapat dari perjalanan ayahnya adalah kehangatan dan kenyataan. Baginya, sang ayah adalah dunia, seluruhnya untuknya. Aisyah kecil lantas menceritakan bagaimana keadaannya kepada ayahnya. Lantas Aisyah menceritakan bagaimana keadaan Mekah selama ditinggalkan Abu Bakar, dan ia juga menceritakan pada ayahnya bahwa dia sudah mengalahkan teman-temannya dalam permainan semut bersayap. Aisyah pun senang diceritakan dongeng oleh ayahnya.

Masa kecil Aisyah juga adalah masa di mana risalah kerasulan diemban oleh Muhammad SAW. Abu Bakar mendengar hal tersebut dan langsung menyatakan keIslamannya. Abu Bakar menjadi orang kedua yang berislam setelah Khadijah istri Rasulullah. Seluruh keluarganya mengikuti jejak ini kecuali kakek Aisyah yang bernama Abu Khuafa.

Aisyah memiliki seorang kakak perempuan sekaligus sahabatnya, Asma. Asma seorang yang bersifat keibuan bahkan sebelum ia menjadi ibu. Dengannya, Aisyah merasa memiliki dua orang ibu selain Ummu Ruman ibu kandungnya. Ia seperti perahu yang dilindungi oleh dua pelabuhan. Asma adalah simbol pengertian, kesempurnaan, kelembutan, dan kewibawaan. Di dalam buku ini, saya jadi tahu bahwa Asma adalah kakak tirinya Aisyah, buah pernikahan ayahnya dengan istri terdahulu. Asma adalah teman, Asma adalah Sahabat baginya yang di mana ia berbagi ilmu maupun pengetahuan kepadanya.

Zuhur
Zuhur adalah waktu siang, waktu di mana cobaan dan ujian, serta bukti-bukti kebenaran akan muncul. Sebelumnya, rumah Aisyah ramai dikunjungi oleh tamu yang bahagia, namun saat mereka memeluk Islam, tamu yang datang adalah orang-orang yang menghadapi berbagai kesulitan. Mereka meninggalkan hal-hal yang berbau kemegahan dan hidup dengan sederhana. Ayahnya mengerahkan segala upaya untuk membebaskan budak-budak yang menyatakan keIslamannya dan mendapat siksaan dari tuannya. Salah satunya adalah Bilal. Bilal tidaklah lagi seorang budak, Abu Bakar telah berkali-kali berusaha menyelamatkannya. Bilal beserta teman-temannya yang bernasib sama menjadi tamu terhormat di kediaman Abu Bakar. Rumah mereka berubah menjadi rumah penyembuhan di mana Aisyah dan Asma berlaku seperti seorang perawat.

Ada lima jenis kegelapan wahai Aisyahku,” ucap ayah suatu hari. “Jika kau terlalu cinta dan terikat pada dunia, masalah itu layaknya kegelapan malam. Kehambaan dan ketakwaanmu semoga menjadi lilin yang menerangi kegelapan,, wahai Humaira. Jika kau nyalakan lilin dengan bertobat, kau akan selamat dari siksaan dosa, wahai Putriku.

“Aisyah, kubur pun akan menjadi kegelapan. Kita perlu persiapan untuk menghadapinya. Mengucapkan kalimat syahadat adalah cahaya terang kubur, lilin kubur, wahai Putriku.


“Akhirat juga merupakan kegelapan yang tiada tara. Hanya dengan amal baik kau akan bisa menerangi alan itu. Pun dengan jembatan Shiratal Mustaqim, Aisyah. Jalan itu hanya bisa diterangi dengan iman yang mantap.”


Abu Bakar menjadi saksi sekaligus orang yang berada dalam barisan depan pendukung Rasulullah. Ia mengerahkan segala upaya untuk membesarkan agama ini. Suatu hari ketika ia bersama Rasulullah dipukuli hingga pingsan oleh kaum musyrikin, ketika sadar yang dipinta terlebih dahulu adalah mengetahui bagaimana keadaan Rasulullah. Masa awal-awal penyebaran Islam benar-benar masa di mana banyak sekali cobaan yang menimpa mereka. 

Lalu peristiwa itu terjadi, di mana Rasulullah mempersunting Aisyah pada usianya yang keenam belas tahun. Dikatakan bahwa Aisyah adalah seseorang yang diperlihatkan dalam mimpi. Beberapa waktu setelah pernikahan itu terjadi, Aisyah tentu berharap bahwa hari-hari kesedihan akan berakhir. Beberapa utusan telah memberitahukan bahwa kaum muslimin yang hijrah ke Madinah sudah sampai dan yang lainnya menunggu kapankah perintah Allah akan turun kepada yang lainnya.

Dan hari hijrah itu pun tiba. Rasulullah datang ke kediaman Abu Bakar dan menyampaikan sebuah berita penting. Mereka harus segera pergi ke Madinah, dan untuk mengecoh makar kaum musyrikin yang akan membunuh Muhammad, dijalankanlah sebuah siasat. Ali akan menggantikan Rasulullah di kamarnya sementara Rasulullah pergi berhijrah bersama Abu Bakar. 


Ashar
Hari-hari ashar adalah masa di mana di mana dakwah mulai berkembang, perkembangan Islam pada periode Madinah, turunnya perintah puasa, dan banyak lagi momen penting yang diceritakan pada bagian ini. Masa ashar juga waktunya di mana dibangunnya penguatan Islam sebagai basis pemerintahan, melawan pemberontakan. Beberapa peperangan yang dilalui umat muslim di antaranya perang badar--di mana kaum muslimin kalah jauh dari kuantitas namun berhasil meraih kemenangan di sini, perang uhud--di mana saat-saat ditimpanya ujian bagi kaum muslimin, kekalahan karena kelalaian dalam menaati komando, dan juga banyaknya orang-orang yang dicintai Rasulullah yang syahid dalam perang ini, juga perang khandaq.

Namun selain itu, hubungan pernikahan Rasulullah dengan Ibunda Aisyah di bagian ini diceritakan dengan begitu romantis. Bagaimana sosok Aisyah yang pencemburu menghiasi kehidupan rumah tangga mereka. Tentang hubungan para istri-istri Rasulullah pun disajikan dengan begitu manis. Juga, tentang peran Aisyah yang cerdas, kritis, terutama banyak sekali terlontar pertanyaan seputar Islam maupun ajaran yang disampaikan Rasulullah pada ummatnya. Seperti misalnya saya tulis dalam cuplikan di bawah ini.

Rasulullah tak pernah marah dengan pertanyaan-pertanyaanku maupun rasa ingin tahuku yang tak ada akhirnya.

“Ada satu hal yang aku ingin tahu ya Rasulullah…?”

“Apa itu Aisyah…?”

“Apa arti ayat ‘yaitu pada hari ketika bumi diganti dengan bumi lain dan demikian pula langit, dan mereka semuanya berkumpul menghadap kehadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’. Begitu firman Allah dalam sebuah ayat al-Quran. Jika muka bumi dan langit tak akan sama dengan yang sekarang… pada hari itu di manakah manusia akan dikumpulkan?”

Rasulullah mengungkapkan kegembiraannya karena tak seorang pun yang bertanya seperti pertanyaan ini kepadanya sampai saat ini.

“Ya Aisyah… di hari itu manusia akan berada di Shirat…”

Aku mulai menangis. Rasulullah langsung bertanya apa yang terjadi pada diriku.

”Aku memikirkan akhirat. Apakah di hari-hari itu engkau masih akan ingat kepadat Ahli Bait dan keluargamu?”

Seketika itu wajahnya berubah serius. Rasulullah memberikan jawaban seakan-akan dia berada di momen itu.

“Aku bersumpah kepada Rabb-ku ada tiga keadaan yang seseorang tak bisa mengingat satu sama lain. Pertama, ketika amal-amal ibadah ditimbang, tanpa mengetahui apakah pahala atau dosa yang lebih berat. Kedua, ketika catatan amal dibagikan, tanpa mengetahui dari arah kanan atau kiri catatan itu dibagikan. Ketika, di jemabatan Shirat sampai ia melewatinya. Di tiga tempat itu manusia takkan kenal satu sama lain…”

Tangisku pun semakin bertambah keras mendengar jawaban itu. Rasulullah membelai rambutku lembut penuh kasih sayang.

Ketika Rasulullah terus membahas mengenai betapa sulit hari perhitungan, aku bertanya penasaran, “Ya Rasulullah, apakah Allah juga berfirman mengenai orang-orang yang dimudahkan di hari perhitungan?”

“Itu berhubungan dengan yang ditawarkan, bukan soal perhitungan. Yang hitungan amalannya sedikit, ia akan musnah…”


Atau di sini juga, ketika Rasulullah menjelaskan tentang kandungan surah At-Tahrim:

Suatu hari Rasulullah SAW ditanyai mengenai hak-hak anak dari seorang ayah. Beliau mengutip surah at-Tahrim ayat 6. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nearaka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” Beliau melanjutkan, “Hak-hak seorang anak dari ayahnya aialah mengajari menulis dan membaca, berenang, dan memanah.”

Di suatu waktu yang berbeda Beliau berkata, “Hak seorang anak dari ayahnya ialah memberi nama yang bagus, mendidik adat, dan sopan santun. Ketika sudah balig, menikahkannya dan mengajarinya membaca Kitab.”

“Kalian semua adalah penggembala,” ucapnya kepda orang-orang. “Kalian bertanggung jawab atas apa yang kalian gembalakan.”


Sebagai seorang wanita, tentu Aisyah ingin sekali merasakan menjadi seorang ibu. Suatu hari ia menceritakan keinginannya tersebut dengan harapan bahwa Rasulullah akan mendoakannya. Namun, Rasulullah mengucapkan kalimat untuk membesarkan hati Aisyah bahwa Aisyah sudahlah menjadi seorang ummul mukminin, ibunya kaum mukmin dan muslim.

Maghrib
Kita sudah sampai di fase maghrib, di mana kaum muslimin di Madinah semakin menguat. Kelompok-kelompok muslim yang berada di wilayah lain juga menginginkan adanya seorang pemimpin. Pemerintahan Islam berpusat di Madinah dan perlahan meluas ke seluruh wilayah sekitarnya. Rasulullah juga mengutus sahabat-sahabatnya untuk melakukan ekspansi dan melaksanakan misi dakwah penyebaran Islam. Peristiwa yang penting lainnya di fase ini adalah ibadah haji wada' yang dilaksanakan oleh Rasulullah. Dengan kurang lebih seratus ribu orang banyaknya mereka pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Di sini Rasulullah membacakan khutbahnya.

Salah satu bagian yang sangat menarik bagi saya adalah pada bagian yang menceritakan mengenai istri-istri Rasulullah. Di sana saya cukup mendapatkan informasi tentang bagaimana para ummul mukminin berinteraksi dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Perlu diberitahukan sebelumnya, bahwa Rasulullah menikahi banyak wanita tidak hanya sesuatu yang bersifat duniawi semata, melainkan ada misi dalam upaya penyebaran agama Islam di sana, juga untuk menyelamatkan harkat dan martabat perempuan juga. Saya akan coba bahas satu per satu:

  • Khadijah al-Kubra
Khadijah adalah orang yang paling disayangi dan dicintai oleh Rasulullah. Khadijah orang pertama yang menyatakan keIslamannya, dan dari Khadijah pulalah garis keturunan Rasulullah berlanjut. Bahkan setelah wafat, Rasulullah terus saja memuji kebaikan hati Khadijah sehingga terkadang membuat Aisyah cemburu. Rasulullah mencintai teman-teman Khadijah dan tetap menyambung silaturahim dengan mereka. Di hari penaklukan Mekah, Rasulullah mengistirahatkan pasukannya di tempat yang tidak mereka kenal. Dan ternyata, itu adalah tempat peristirahatan terakhir Ibunda Khadijah. Khadijah merupakan Mekah bagi Rasulullah.
  • Saudah binti Zam'ah
Saudah adalah istri kedua Rasulullah yang ia nikahi sepeninggal Khadijah. Saudah dikenal sebagai istri Rasulullah yang berakhlak sangat baik, akhlaknya cerdas, dan bersifat keibuan. Dia sangat mencintai Aisyah, memahami sikap kekanak-kanakannya serta kurangnya pengalaman Aisyah. Saudah bahkan sering memberikan haknya untuk Aisyah.
  • Hafshah binti Umar
Hafshah adalah putri Umar bin Khathab. Setelah suaminya syahid, dia menikah dengan Rasulullah. Hafshah tumbuh di lingkungan dengan akhlak yang baik. Rasulullah menugaskan Syifa binti Abdullah untuk membantu Hafshah belajar seperti menulis dan membaca. Aisyah dan Hafshah adalah sahabat dekat, bahkan di antara istri-istri Rasulullah merekalah yang paling kompak. 
  • Zainab binti Khuzaymah
Secara umur, Zainab lebih tua dari Aisyah. Dia sudah dalam keadaan sakit ketika menikah dengan Rasulullah. Dia mendapat kehormatan untuk menjadi istri Rasulullah kurang lebih selama dua bulan.
  • Ummu Salamah
Ummu Salamah adalah wanita yang suaminya meninggal dunia. Dia ikut dalam hijrah ke Habasyah (Etiopia), melewati berbagai macam rintangan. Ummu Salamah merupakan wanita dengan kepintaran, kecerdasan, dan kesucian yang dikagumi oleh Aisyah.
  • Juwayriah binti Harits
Juwayriah adalah putri Harits bin Abi Dirar, pemimpin Bani Mustaliq. Juwayriah merupakan salah satu tawanan perang muraisi'. Dia menjadi janda ketika suaminya terbunuh dalam perang. Ia bermaksud untuk melakukan perjanjian bahwa apabila ia bisa menebus dirinya, maka dia akan mendapatkan kebebasan. Tapi dia tidak memiliki sesuatu pun untuk membayar tebusan tersebut karena harta kekayaannya telah ditahan. Dia datang ke rumah Rasulullah dan meminta bantuan. Lalu Rasulullah memutuskan untuk melakukan pembayaran tebusan dengan menikahinya. Keputusan Rasulullah ini bukan didasarkan oleh nafsu, melainkan karena hubungan dilomatik yang bisa dibangun dengan perantara wanita yang akan beliau nikahi. Benar saya, Juwayriah menjadi perantara bagi ayahnya dan hampir seluruh Bani Mustaliq untuk masuk Islam.
  •  Zainab binti Jahsy
Zainab merupakan putri bibi Rasulullah. Awalnya Zainab menikah dengan Zaid yang dicintai Rasulullah layaknya anak sendiri. Namun Allah memberi perintah kepada Rasulullah untuk menikahi Zainab untuk memecahkan pertentangan mengenai anak angkat dan perbudakan. Zainab adalah wanita bertakwa, jujur, dan pemberani. Ketika ada fitnah mengenai Aisyah, saudara perempuannya termasuk orang yang menyebarkan berita ini. Namun, Zainab mengatakan bahwa Aisyah berkata benar dan ia seorang wanita suci yang baik kepada semua.

Suatu hari Zainab marah kepada Shafiyah sampai membuat dirinya berkata sesuatu yang buruk mengenai asal-usul Shafiyah yang berasal dari keluarga Yahudi. Akibatnya Shafiyah berlari menuju Rasulullah sambil menangis. Rasulullah menanggapi keluhan dengan mengatakan, "Jika mereka menyakitimu seperti itu, beri jawaban kepada mereka seperti ini: Aku adalah istri Rasulullah, ayahku adalah Nabi Harun, pamanku adalah Nabi Musa..."

Tapi, masalah tidak berhenti begitu saja. Ada masa di mana hampir kurang lebih dua bulan Rasulullah tidak berbicara dengan Zainab. Suatu hari ia meminta Aisyah untuk memintakan maafnya kepada Rasulullah. Setelah permohonannya itu, barulah kemudian Rasulullah mulai berbicara kembali dengan Zainab.

Salah satu sifat Zainab yang paling menonjol adalah kedermawanannya. Di rumahnya, dia punya sebuah ruangan untuk merajut. Di sanalah ia merajut pakaian-pakaian yang diberikan kepada anak yatim, perempuan miskin dan tak mampu yang akan menikah. Dia merajut lalu hasil rajutannya disedekahkan.

Suatu ketika, Rasulullah sedang berbicara dengan istri-istrinya, mereka bertanya kepada beliau. "Ya Rasulullah, siapakah di antara kami yang akan masuk ke surga pertama kali?" Rasulullah menjawab sambil tersenyum, lantas berkata, "Seseorang di antara kalian yang memiliki tangan dan lengan panjang, dialah yang pertama masuk surga..." Begitu mendengar ucapan Rasulullah itu, mereka langsung meluruskan lengan dan mulai saling mengukur panjangnya satu sama lain :"> Melihat itu, Rasulullah pun ikut juga mengukurkan tangannya. Namun akhirnya, Rasulullah menerangkan bahwa arti tangan dan lengan yang panjang itu adalah infak, saling membantu, dan kebaikan. Perkataan Rasulullah membuat mereka semua langsung menatap Zainab karena memang ia lebih unggul dalam hal berinfak.

"Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih taat, jujur, dermawan, dan bersemangat untuk mendapatkan ridha Allah daripada Zainab."
  • Ummu Habibah
Ummu Habibah adalah putri Abu Sufyan. Ya, Abu Sufyan yang itu, pemuka Mekkah yang paling tega. Sebelum masuk Islam, Ummu Habibah adalah penganut agama Ibrahim. Bersama suaminya, Ubaidillah, mereka salah satu di antara sekian orang yang tak pernah menyembah berhala. Mereka juga orang yang pertama menerima ajakan Islam, bersama-sama hijrah ke Habasyah. Ummu Habibah adalah seorang perempuan Muhajir yang pemberani dan menunjukkan kesetiaan kepada Islam meskipun mendapatkan banyak tekanan. Suaminya memutuskan untuk memeluk agama kaum Habasyah, dan ini membuat Ramlah atau Ummu Habibah bingung dan bersedih. Bagaimana tidak, sekembalinya dari hijrah. Banyak kaum Muhajirin tidak berani menikahinya karena dia berasal dari kalangan tekemuka Mekkah. Apalagi dia tidak bisa kembali ke orangtuanya yang begitu menentang dakwah Rasulullah. 

Rasulullah mendengar kabar ini. Pada hari-hari sebelum perang khaibar, Rasulullah meminta Ummu Habibah untuk menjadi istrinya. Ummu Habibah sangat rapi dan bersih. Rasulullah bahkan memuji akan hal ini. Ummu Habibah telah mengunjungi banyak tempat, mengenal banyak orang berbeda, mengetahui banyak negara dan kota, serta beradab. Seperti itulah Ummu Habibah.
  •  Maimunah binti al-Harits
Nama aslinya adalah Barrah, namun Rasulullah menggantinya dengan Maimunah. Pada tahun ketujuh setelah kemenangan di Perang Khaibar, Rasulullah sebenarnya tidak berniat untuk menikah lagi ketika sedang perjalanan melaksanakan umrah. Namun ketika mengetahui bahwa Maimunah putri Harits yang lahir salah satu keluarga terkemuka Makkah menjadi janda, Rasulullah berniat untuk menikahinya sebagai penghormatan atas keluarganya. Pernikahan ini akan mempererat hubungan kekeuargaan di antara mereka.

Maimunah sedang menaiki untanya saat mendengar kabar tersebut. Dia sungguh bahagia, saking bahagianya dia berjanji bahwa unta yang tengah dikendarainya beserta semua apa yang ada di unta tersebut adalah milik Rasulullah. Pernikahan mereka berlangsung di sebuah tempat bernama Saraf. Perilaku Maimunah sungguhlah sangat terpuji, dia suka beribadah, memperhatikan hal-hal yang diperintahkan serta dilarang agama. Ketika Aisyah ditanya bagaimana Maimunah, jawab Aisyah, "Sungguh, Maimunah datang mengungguli kami semua."
  • Shafiyah binti Huyay
Shafiyah adalah putra Huyay bin Ahtab, seorang peimpin Yahudi Badi Nadhir. Huyay termasuk di antara orang Yahudi yang mengingkari Piagam Madinah setelah ditandatangani di masa-masa awal hijrah. Dia juga salah satu pemuka suku yang ikut mengepung umat Islam dalam perang Khandaq. Ayah, suami, dan saudara Shafiyah terbunuh dalam perang Khaibar.

Shafiyah sendiri termasuk di antara para tawanan perang dan dia menjadi bagian dari Dihyah Al-Kalbi. Namun Dihyah mengatakan bahwa Shafiyah lebih sesuai untuk Rasulullah karena putri pemimpin Bani Nadhir. Karena itu Rasulullah memanggil Dihyah sambil memberikan tawanan lain dan menanyakan pendapatnya. Sebenarnya, Shafiyah pernah mendengar mengenai Islam dan mengetahui soal Rasulullah. Tapi karena ayahnya, dia tidak dapat menjelaskan keinginannya dengan tegas. Setelah pembicaraan ini, Rasulullah embebaskannya dan memutuskan untuk menikahinya.

Kecuali Ummu Salamah, tak satu pun dari istri Rasulullah yang pernah melihat Shafiyah.

Dulu sebelum para pasukan Islam datang kembali ke Madinah membawa pampasan perang, mereka hanya mendengar bahwa Shafiyah begitu cantik, ini membuat istri-istri Rasulullah semakin penasaran. Ketika pasukan Islam tiba di Madinah, Shafiyah tinggal sementara di rumah Haritsah bin An-Numan karena rumah yang akan ditinggali dirinya belum selesai dibangun. Meskipun sangat penasaran mengenai Shafiyah, para istri Rasulullah tak bisa pergi karena terhalang harga diri mereka. Aisyah mengurus Barirah, pelayannya, untuk menilik ke tempat Shafiyah tinggal.

Barirah bertemu dengan Ummu Salamah di tengah jalan. Dia berkata, "Kalau kamu dikirim Aisyah, ketahuilah bahwa Shafiyah itu sangat cerdas, sopan, dan cantik. Dia dengan cepat telah mengambil cinta Rasulullah."
Tanpa membuang waktu, ia kembali ke rumah dan menceritakan hal ini. Awalnya Aisyah berpikir ucapan Ummu Salamah hanya untuk membangkitkan rasa cemburu di dalam diri Aisyah. Tapi, ia tetap tidak bisa menahan diri lagi. Kemudian, dia memakai baju dengan penutup besar sehingga tak seorang pun mengenalinya dan pergi menuju ke rumah Shafiyah.

Setelah memberi salam tanpa mengenalkan diri, Aisyah duduk di antara para wanita Madinah. ia menatap Shafiyah, mengamati tubuhnya, gerak-geriknya, dan gaya bicaranya. Sama seperti apa yang mereka katakan tentang Shafiyah. Aisyah pikir tidak ada yang mengenalinya, tapi rupanya Rasulullah tahu bahwa wanita itu adalah Aisyah.

Aisyah bercerita kepad Hafshah, dan Hafshah pun penasaran sampai ia memutuskan untuk melihat Shafiyah secara langsung juga dan hasilnya... "Benar Asiyah, semua sama seperti yang kau katakan..." Keduanya duduk diam berhadapan menatap tembok rumah. (Hihihi.)


Isya
Isya adalah masa di mana sepulang Rasulullah ke haribaan Allah SWT. Beberapa peristiwa terjadi seperti perpindahan tampuk kepemimpinan semasa Rasulullah. Abu Bakar menjadi khalifah, setelah Beliau wafat kemudian digantikan dengan Umar ibn Khathab. Lalu beralih pada Utsman bin Affan. Dan dilanjutkan oleh Ali ibn Abi Thalib.


***


Novel ini benar-benar memukau, sejarah panjang perjuangan ibunda Aisyah mulai dari kecil, lalu periode mendampingi Rasulullah dalam mengemban amanah kerasulan, hingga masa di mana Rasulullah wafat. Kisah disajikan dalam sudut pandang orang pertama membuat kita merasa dekat dengan Bunda Aisyah dan Rasulullah. Dalam novel, kisahnya terbagi menjadi lima periode di mana dijelaskan dalam kurun waktu shalat. Subuh, yakni masa kecil dan remaja Aisyah. Zuhur, masa di mana awal-awal dakwah Rasulullah dan masa pernikahan Aisyah dengan Rasulullah. Ashar adalah waktu di mana dakwah mulai berkembang, perkembangan Islam pada periode Madinah. Maghrib, adalah masa di mana jelang wafat Rasulullah SAW. Isya, adalah periode pasca wafat Rasulullah.

Nggak ada kata lain selain "mengagumkan" yang saya dapat dari membaca kisah ini. Sebenarnya kisah sirah yang membahas tentang ibunda Aisyah sudah cukup familiar apalagi di dalam kisah ini benar-benar pure menjelaskan tentang sirah nabawiyah dari sudut pandang Aisyah. Beberapa peristiwa dijelaskan dalam bentuk cuplikan, namun tentu saja familiar. Saya membaca ini seperti disajikan buku sejarah dalam paket yang memukau. Membacanya membuat terasa dekat dengan Rasulullah dan Bunda Aisyah itu sendiri yang mengambil sudut pandangnya dalam penceritaan. Ada juga informasi-informasi yang baru didapat dari membaca buku ini seperti tentang usia pernikahan Aisyah dan Rasulullah. Di buku sirah, kebanyakan menuliskan bahwa mereka menikah di usia 9 tahun atau bahkan ada yang menyebutkan 6 tahun. Saya jadi kroscek dengan membaca buku sejenis dan ternyata mendapatkan kesimpulan bahwa usia persisnya, banyak sejarawan yang memiliki pendapat berbeda. Tapi dikatakan bahwa usianya lebih dari 9 tahun. Hmmm, memang harus banyak menelaah lagi sih ya. Yang paling saya sukai adalah penjelasan mengenai perang Jamal. Sibel Eraslan mengemasnya dengan baik sekali terlepas bagaimana sebenarnya kebenaran yang terjadi. Saya sedih sewaktu membaca di beberapa sumber yang justru memperuncing jurang pemisah antara pihak yang berkepentingan di sana. Tapi di sini, argumen penguatnya benar-benar membuat saya terbuka pemahamannya. 


Ah ada bagian yang benar-benar membuat saya terkesan di dalam buku ini adalah ketika dibahas tentang hubungan istri-istri Rasulullah. Gemes banget bacanya sampai blushing-blushing sendiri. Bagaimana hubungan mereka, kecemburuan yang membumbui kisah-kisah yang terjadi di antara mereka. Namun itu sama sekali tidak ada artinya dibandingan sumbangsih yang diberikan ummahatul muslimin dalam penyebaran dan dakwah agama Islam. Terutama bagi Aisyah RA. Segala kebaikan tercurah padanya.


Jadi di blog saya menjelaskan dengan cukup rinci tentang bagian yang spesial ini ♡♡♡♡. Dan sepertinya karena saya pribadi kurang puas, nanti saya berencana bakal bikin tulisan untuk masing-masing Ibundanya umat muslim ini. Yeah semoga gak sepik atau PHP doang.


Kesimpulannya... Aisyah ini pencemburu banget, gemes deh xD Jadi kamu boleh jadi pencemburu kalau kualitas dirimu jauuuuh lebih besar dari sifat pencemburumu :p


Oh iya saya mungkin mau menambahkan, semoga Kaysa Media lebih baik lagi dalam hal terjemahan dan proses editingnya. Sayang banget kan ya novel sebagus ini, apalagi sehebat disuguhkan seorang Sibel Eraslan, harus sedikit merasa kurang nyaman di bagian penyuntingannya. Semoga jauh lebih baik lagi... kita semua butuh bacaan bagus yang ringan namun sarat makna dan pembelajaran.



Keluarga Perempuan Rasulullah

Judul : Keluarga Perempuan Rasulullah
Pengarang : Fathi Fawzi & Widad Sakakini
Penerbit : Penerbit Zaman
ISBN: 9789790242647
Tebal : 422 Halaman
Rating : 5 dari 5




Nggak ada keraguan untuk saya memberi bintang lima pada buku ini. Kisah sejarah hidup Rasulullah beserta sahabiyah dikemas dengan sangat bagus sekali. Menggunakan sudut pandang keluarga perempuan Rasulullah, sebenarnya kita pembacanya diajak berpetualang dan menyusup ke dalam kehidupan mereka. Bagaimana perjuangan Rasulullah, kehidupan yang melingkupinya bahkan sejak belum dilahirkan hingga peristiwa-peristiwa penting sesudah Rasulullah wafat. Namun, itu tidak mengurangi porsi para pembacanya untuk mengenal lebih dekat bagaimana kisah-kisah para sahabiyah itu sendiri.

Dibagi menjadi tiga bagian, pertama tentang ibu Rasulullah, kedua istri-istri Rasulullah, dan ketiga bagian tentang anak-anak perempuan Rasulullah. Kisah ini membuka wawasan kita tentang bagaimana kehidupan mereka, siapa mereka, apa peran mereka semua dalam kehidupan Rasulullah saat mengemban risalah dakwah. Banyak kisah yang memang sudah umum diketahui, namun tidak sedikit pula yang menyingkap kisah yang jarang terungkap (atau ini memang saya saja sih yang cukup buta sejarah) sehingga menambah wawasan kita terhadap kisah sahabat nabi dan orang-orang terdekatnya, terutama dari kaum perempuan. Jujur saja, kisah Aminah ibunda nabi saya hanya mempunyai sedikit pengetahuan tentangnya. Juga tentang Ummu Aiman (dan ternyata Ummu Aiman menikah dengan Zaid bin Haritsah), dan Asy Syifa binti Auf yang merupakan bidan Rasulullah. Juga tentang ibu susunya, Tsuaibah, ibu susu pertama Rasulullah sebelum dibawa ke perkampungan Halimatus Sa'diyah (kalau kisah ini saya cukup familiar alhamdulillah).

Lalu bagian istri-istri nabi, saya benar-benar banyak mendapatkan pengetahuan baru di sini (dan jujur malu, masa' saya nggak kenal dengan ummul mukminin, kan mereka ibunya ummat muslim). Bagaimana motif pernikahan itu sendiri adalah untuk memuliakan mereka dan kaumnya, juga sebagai upaya keberlangsungan dakwah. Dan yah tetap, selain Khadijah dan Aisyah, favorit saya adalah Shafiyah binti Huyay ♡ yang lain juga, saya suka. Benar-benar suka bagaimana interaksi yang terjalin di antara istri-istri nabi. Cemburunya, nge-ganknya, bagaimana berlomba-lomba mengambil hati Rasul. Manis banget dan alamiah. I'm in love with them ♡ mereka semua, dengan segala kekurangan yang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kelebihan dan peran para ummahatul mukminin dalam sejarah panjang ummat Islam.

Dan tentang putri-putri Rasulullah, saya sungguh terharu dengan kisah cinta Zainab dan suaminya Abu Al-Ash. Saya baru dapat ceritanya di sini. Terharu banget. Kisah Ruqayyah dan Ummu Kultsum, juga Fatimah Az-Zahra tentu sayang untuk dilewatkan.

Satu hal yang menarik dari buku ini adalah, selain cara penyajiannya dalam bahasa novel, namun dengan banyaknya footnote rujukan, saya tidak mengalami keraguan akan keabsahan kisah yang dituturkan. Meskipun ada beberapa bagian cerita yang berulang, bagi saya sah-sah saja, karena artinya, jika kita membaca kisah ini terpisah, pembaca tidak akan ketinggalan dengan kisah tokoh yang kita baca. Dan kalaupun membaca secara keseluruhan, kita jadi bisa menangkap sebuah cerita yang sama namun disajikan dalam sudut pandang yang berbeda. Oh, saya akan tahan sekali kalau baca kisah sejarah dalam bentuk novel seperti ini ;)

Fatimah az-Zahra




Judul : Fatimah az-Zahra--Kerinduan dari Karbala
Penulis : Sibel Eraslan
Penerjemah : Aminahyu Fitriani
Penerbit : Kaysa Media
ISBN : 9789791479738
Tebal Buku : 519 Halaman
Rating : 4 dari 5


(Biography, Historical)

"Tentu saja, Anakku. Pada setiap ibu akan terasa aura seorang Fatimah az-Zahra, dan dari setiap ibu akan berembus semerbak wewangian surga." [Hal 100]

"Hati seorang manusia haruslah kering sekering tanah batu baya sehingga ia akan sangat butuh siraman air mata dan pintu hatinya pun terbuka untuk Sang Pencipta." [Hal 171]



Fatimah az-Zahra adalah satu dari empat wanita yang dijamin surga oleh Rasulullah saw dalam haditsnya yang  berbunyi: "Sebaik-baik perempuan muslimah surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam, Asiyah." (HR. Baihaqi). Dalam buku ini, kisah Fatimah diceritakan dalam cerita, atau istilah populernya itu adalah cerita berbingkai.

Sebagai prolog, diceritakan seorang pengarang bernama Zebun bin Mestan, didakwa karena mengaku sebagai pengarang Diwan az-Zahra. Dia tidak bisa membuktikan karena naskahnya habis dilalap api saat kebakaran. Sehingga dia berusaha mati-matian untuk mengisahkan kembali kisahnya dalam 40 hari sebagai pertanggungjawaban cintanya kepada Sayyidatina Fatimah az-Zahra. Maka kisah ini, dituturkan dalam empat puluh bagian.

Karbala menjadi saksi kepedihan menyayat yang dialami oleh Sayyidina Hasan dan Husein saat peristiwa Karbala. Tempat ini pula menjadi saksi bertemunya hamba Allah yang begitu mencintai keluarga Rasulullah ini dengan cinta mereka yang murni dan mendalam.

Husrev Bey bertemu dengan seorang anak lelaki yang awalnya dikira sebagai anaknya yang pergi berpamitan kepadanya dan meninggalkan selama empat puluh hari. Namun anak itu adalah seorang bernama Hasyim, "sang pengabdi jubah". Kerinduan kepada anaknya seolah diobati oleh kehadiran anak itu. Lantas mereka dipersatukan oleh kecintaan yang sama, yakni kecintaan kepada Hasan dan Husein yang menyeret keduanya dalam tangisan yang sama.

Junaydi Kindi, seorang pedagang terkenal, kehilangan istri serta anaknya dalam peristiwa perampokan padang pasir enam belas tahun silam. Namun karena suatu mimpinya, ia percaya bahwa anaknya masih hidup dan suatu saat akan dipertemukan kembali kepadanya.

Ada pula kisah tentang Nenek Destigul, seorang nenek yang buta matanya, namun begitu bersemangat dalam menghadapi hidupnya. Ia tinggal bersama sang cucu yang bernama Abbas. 

Ramadan Usta, seorang yang dulunya perampok, namun dalam perjalanan kehidupannya menemukan cahaya Islam sehingga dirinya bertobat.

Junaydi Kindi membutuhkan seorang pembantu, kemudian mengambil Abbas sebagai pembantunya untuk mengiringi perjalanan. Namun sayang sekali, dalam perjalanan keduanya ia mengalami hal yang tidak menyenangkan sehingga membuat Abbas harus tertawan dan Junaydi Kindi diambil sumpahnya untuk kembali dalam waktu yang telah ditentukan. Sayang sekali, dalam waktu itu ia tidak menepati janji karena situasi Karbala yang sedang tidak kondusif sehingga ia tidak dapat memasuki tempat itu untuk mengambil saksi untuk membebaskan Abbas. Malang baginya, dalam perjalanan pulang justru bertemu dengan seorang anak perempuan yang orang tuanya dibunuh di hadapan anak perempuan itu. Situasi ini tidak menguntungkan baginya, dan justru malah mempersulit. Anak perempuan itu bernama Nesibe.

Namun kemudian, situasi kembali normal. Singkat cerita Junaydi Kindi menemukan fakta bahwa Abbas adalah anaknya yang hilang, yang selama ini diasuh oleh Nenek Destigul.

Para tokoh ini dipersatukan dalam sebuah perjalanan dari tanah Karbala menuju ke Makkah. Sayang sekali, Nenek Destigul keburu meninggal dalam perjalanan. Setiba mereka di Madinah, suatu peristiwa terjadi, Abbas dan Nesibe dipersalahkan karena telah memakan kurma yang jatuh dari pohonnya. Hasyim, mengambil beban kesalahan itu untuknya. Namun sayang sekali, sebagai tebusan, ia diminta untuk menikahi anak perempuan pemilik kebun untuk melunasinya. Pernikahan akan berlangsung di Makkah.

Endingnya, akan lebih menarik kalau dibaca sendiri ^^

Well, dalam penggalan perjalanan mereka, diberikan cuplikan-cuplikan cerita seputar kehidupan Rasulullah dan ahlul baitnya. Kisah kemuliaan Fatimah az-Zahra dikemas dengan begitu menarik, menggugah semangat, dan disampaikan dengan begitu pas. Pengarang mampu menyatukan kedua kisah ini, dengan cerita Hasyim dkk dikisahkan dengan alur maju, sementara kisah Ibunda Fatimah disajikan dalam alur campuran. Cuplikan-cuplikan itu begitu pas, sehingga membuat pembaca mampu menikmati kedua ceritanya secara bersamaan. Ada banyak kisah tentang Fatimah az-Zahra yang akan lebih menarik untuk dibaca sendiri. Salah satunya, saya tulis secara spesial di sini [Kisah gelang emas Fatimah].


Membaca kisah Fatimah az-Zahra, saya merasa sedih. Selain karena teladan putri Rasulullah ini, juga karena kekhawatiran apakah buku tersebut kental dengan nuansa Syiahnya karena pernah mendapat buku yang seperti itu (yah, begitulah). Namun saya mendapatkan buku ini disajikan dengan baik-baik saja. Dengan tetap khusnudzon kepada penulis dan sejauh ini, tidak menemukan ada pelanggaran akidah di dalamnya (correct me if i wrong). Sedih memang dengan yang begini. Bagaimana upaya mencintai Fatimah az-Zahra harus diselimuti oleh ketakutan akan dinodai akidah saya T^T)

Akhirnya, pesan saya, marilah kita mencintai ahlul bait dengan benar-benar cinta yang lurus, karena mereka adalah keluarga terdekat Nabi saw.

Mata Moses



Penulis : Wiwid Prasetyo
Penerbit : Safirah (Diva Press)
ISBN : 9786027640115
Tebal Buku : 470 Halaman 
Rating : 5 dari 5

Satu kata tentang novel ini: SUBHANALLAH....


Penulis menceritakan tentang riwayat Nabi Musa As dengan lengkap dan mendetail. Cerita sejarah yang disajikan dalam bentuk novel ini berhasil membuat pembacanya larut dalam ceritanya. Jarang-jarang saya bisa merasakan emosi yang coba disuguhkan pembaca tentang isi cerita dan di novel ini, saya dapatkan semuanya. Kesatuan cerita yang utuh, dari sejarah Firaun sebelum Ramses, sampai ke zaman Ramses (Firaun yang kita kenal tenggelam di Laut Merah) dan cerita tentang Nabi Musa yang biasanya diceritakan sepotong-sepotong.

Oh iya, review saya mengandung spoiler (tapi ya, pasti sudah pada tahu kan bagaimana cerita Nabi Musa, hehehe). Diceritakan tentang Nabi Musa As dari dalam kandungan, kemudian lahir, dilarutkan ke sungai Nil, dijadikan anak dan berada dalam pengasuhan Isinofre (Siti Asiyah), kemudian besar dan keluar dari istana. Belum selesai sampai di situ, Moses kembali ke pangkuan ibundanya, bekerja di bawah rezim Ramses, kemudian tanpa sengaja membunuh orang Mesir, melarikan diri ke negeri Madyan, bertemu dengan Zipora yang kemudian diperistrinya. Moses menggembalakan ternaknya selama sepuluh tahun demi melunasi mahar atas perkawinannya. Setelah selesai melunasinya, Nabi Musa As kembali ke perkampungan Bani Israil untuk kembali ke rumah ibundanya. Namun saat kembali, didapati bahwa ibunya, Yokhebed, sudah meninggal dunia. Dalam perjalanan pulang itulah Nabi Musa mendapatkan wahyu dari Allah SWT untuk memberikan risalah kepada kaumnya, Bani Israil, untuk kembali ke ajaran tauhid. Bagaimana beliau bertemu dengan Harun saudaranya, dan kemudian berdua mengemban risalah kenabian. (Uh, panjang ya saudara-saudara, kelanjutan cerita silakan dibaca sendiri, dan pastinya sudah tahu dong bagaimana cerita Nabi Musa, hehe.)

Nah, yang mau saya kemukakan di sini, bagaimana saya dibuat larut dalam beberapa penggal (sebenarnya banyak) cerita tentang kisah Moses. Pertama, bagaimana seorang Yokhebed (dalam Islam dikenal nama Yukabad) adalah sosok seorang istri panutan. Bagaimana dia menenangkan suaminya dan mempertahankan keyakinan yang dianutnya di tengah kekejaman rezim Ramses yang memerintahkan untuk menyembah berhala. Kemudian bagaimana dia berjuang untuk pergi ke rumah Miriam, adiknya, demi bisa melahirkan anak--karena pada zaman itu diberlakukan kebijakan untuk membunuh setiap anak laki-laki.

Kedua, saya merasa JATUH CINTA BERKALI-KALI DENGAN MOSES. Sosok Nabi Musa benar-benar sosok nabi yang manusiawi sekali. Beliau memiliki pendirian yang keras dan teguh, namun juga memiliki kelemahan dan dosa kemudian bertaubat kembali. AH POKOKNYA SAYA JATUH CINTA. Nabi musa sosok yang tegas, karena itu beliau kurang bisa lembut dan berpikir jernih sehingga Allah mengutus Harun untuk melengkapi. Nabiyullah Harun As, adalah sosok yang lembut dan pandai mengatur kata, sehingga keduanya dapat bersinergi ketika berhadapan dengan Ramses. Ketika Nabi Musa dirasa sombong oleh Allah, Allah pun langsung menegurnya dengan diminta mencari seorang yang lebih bijak untuk dapat berguru padanya, yakni Nabi Khidir.

Ketiga, saya kesal--pake banget--sewaktu diberikan gambaran bagaimana perilaku kaum Bani Israil. Kesel banget sampai gondok. Bayangkan saja, mereka sudah diselamatkan daricengkraman raja yang lalim, sudah dberikan makanan gratis berupa manna dan salwa, lha disuruh beriman saja masih ada yang ingkar. Kurang baik apa Allah memberi mereka nikmat lantas masih saja dikufuri. Oke, kalem, hehe.

Panjang yah. Tapi masih mau membahas banyak lagi. Kalau selama ini saya mendapati cerita Nabi Musa atau tentang Firaun itu sepotng-sepotong, maka di sini semuanya disatukan. Ada cerita Masyitah, Qorah (Karun), Siti Asiyah (Isinofre), Yehezkiel (ini termasuk yang baru saya dengar), juga tentang Nabi Khidir.

Intinya, keren. Terlepas dari banyaknya typo (yang anehnya, itu ngga mempengaruhi saya untuk mengurangi bintang), saya senang baca novel ini, yang membuat saya JATUH CINTA LAGI DENGAN NABI MUSA. CINTA LAGI, DAN LAGI...

Menuju Jama’atul Muslimin, Telaah Sistem Jama’ah dalam Gerakan Islam






Judul Buku : Menuju Jama’atul Muslimin, Telaah Sistem Jama’ah dalam Gerakan Islam
Pengarang : Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA
Alih Bahasa : Aunur Rafiq Shaleh Tahmid, Lc
Penerbit : Robbani Press
Cetakan Ke : 5
Tahun Terbit : Juli 2007
Tebal Buku : 427 Halaman
Rating : 5 dari 5



Buku “Menuju Jama’atul Muslimin” ini terdiri dari tiga bab utama. Bagian pertama menjelaskan mengenai Struktur Organisasi Jama’atul Muslmin. Sebelumnya, mengenai konsep jama’ah, dijelaskan bahwa jama’ah diartikan dengan sejumlah besar manusia atau sekelompok manusia yang berhimpun untuk mencapai tujuan yang sama. Dijelaskan berdasar pada tinjauan syari’at Islam yang menunjukkan betapa pentingnya wujud jama’atul muslimin, dimulai dengan pembahasan mengenai umat Islam, baik menurut bahasa maupun berdasarkan letak geografis.

Menurut bahasa, Umat Islam mempunyai banyak arti diantaranya kaum, jama’ah, dan golongan manusia. Pengarang al Mufradat fi Dalalatiha al-‘Arabiyah mengartikan umat adalah setiap jama’ah yang disatukan oleh sesuatu hal; satu agama, satu zaman, atau satu tempat. Baik faktor pemersatu itu dipaksakan ataupun berdasarkan atas pilihan. 

Sedangkan berdasarkan secara geografis, titik tolak pembebasan tanah air umat Islam dimulai dari kawasan Darul ‘Adl yaitu Darul Islam. Negara yang bisa disebut sebagai negara Islam yang sebenarnya ialah negara yang dikuasai oleh kekuasaan negara keadilan (darul ‘adl) yaitu negara yang menegakkan Islam dan melindungi hukum-hukumnya serta dipimpin oleh seorang khalifah pemegang imamah. Batas-batas tanah air Islam ini meluas sesuai dengan meluasnya kekuasaan darul ‘adl, meliputi negeri-negeri darul Islam secara umum. Selanjutnya, pemerintahan-pemerintahan Islam ini seluruhnya harus tunduk kepada satu pemerintahan pusat yang dikepalai oleh seorang imam. Jika negeri-negeri itu tidak diperintahkan dengan syari’at Allah oleh para penguasa Islam, serta tidak tuntuk kepada satu kekuasaan pusat, maka tidak bisa disebut darul ‘adl. Batas-batas bagi negara Islam dan tanah airnya meliputi seluruh belahan bumi. Setiap belahan bumi yang tidak diperintah dengan Islam, maka merupakan negeri yang dirampas dan harus dikembalikan kepadanya.
Umat Islam mempunyai akar sejarah yang sangat tua yakni sejak pertama manusia di atas bumi hingga datang penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad saw. Umat ini, sepanjang sejarahnya telah menempuh dua periodisasi yakni, pertama sebelum diutusnya Muhammad saw dan kedua dimulai dengan Muhammad saw. Pada periode ini da’wah mulai beralih dari kerangka kekauman yang terbatas, kepada kerangka kemanusiaan yang bersifat umum. Ummat Muhammad yang meliputi segenap manusia terbagi menjadi dua, yakni ummat yang menyambut dan menerima da’wah Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam secara kaffah. Golongan ini disebut sebagai umat yang menerima da’wah. Kedua yakni golongan yang tidak mau menerima da’wah Muhammad saw, dan tidak masuk Islam secara kaffah. Golongan ini menjadi ummat yang harus dida’wahi.

Karakteristik umat Islam dan sendi-sendi utama umat Islam adalah aqidahnya yang bersih dari segala bentuk kemusyrikan, universalitas dan integralitas aqidah, Rabbaniyah, kesempurnaan, keterbatasan dari kekurangan, kepertengahannya, dan fungsinya sebagai saksi atas manusia. Adapun unsur kesatuan ummat Islam adalah kesatuan aqidah, kesatuan ibadah, kesatuan adat dan perilaku, kesatuan sejarah, kesatuan bahasa, kesatuan jalan, kesatuan dustur, dan kesatuan pimpinan. 

Selanjutnya dibahas mengenai urgensi syura sebagai lambang tertinggi yang darinya lahir berbagai kebijaksanaan sebagai manifestasi political will umat Islam. Sejalan dengan itu tak mungkin diwujudkan sebuah syura meliputi seluruh umat tanpa adanya imamah atau sistem kepemimpinan. Imam menurut bahasa ialah setiap orang yang dianut oleh suatu kaum, baik mereka berada di jalan lurus atau sesat. Ar Razi dalam tafsirnya mendefinisikan Imam yaitu setiap orang yang diajdikan teladan dalam masalah agama. Berdasarkan ayat-ayat al Qur’an dan pendapat para ulama bahasa, tafsir, dan aqidah, jelas semuanya sepakat bahwa imam adalah lafazh yang berarti kepemimpinan tertinggi di antara mereka; ke atas pundaknya diletakkan tanggung jawab kebaikan mereka dalam agama dan dunia. Imam Mawardi menyebutkan tujuh orang yang layak menjadi imam harus memenuhi persyaratan berikut, yakni ‘adalah (bermoral Islami) berikut semua persyaratannya, ilmu yang dapat mengantarkan kepada ijtihad dalam berbagai kasus dan hukum, sehat panca indera seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, supaya dapat mengetahui sesuatu secara langsung, tidak memiliki cacat anggota badan yang akan menghalangi kesigapan gerak dan kecekatan kerja, mempunyai pandangan yang dapat membawa kepada kebijakan rakyat, memiliki keberanian dan kegigihan untuk melindungi kawan dan memerangi lawan, berketurunan dari Quraisy. Mengenai syarat yang ketujuh ini, para ulama masih memperselisihkannya. Namun banyak hadits yang menunjukkan kemungkinan munculnya khilafah dari selain Quraisy, sekaligus merupakan khilafah yang sah (syar’i) dalam umat Islam di mana seseorang tidak boleh keluar darinya karena hanya bukan dari Quraisy.
Dengan segala karakteristik positifnya telah terbentuk, ditambah lagi denagn adanya lembaga syura yang berjalan di dalam kerangak sebuah imamah, berarti pada saat itulah sebuah jama’atul muslimin telah eksis dengan segala makna hakikatnya.

Tujuan Jama’atul Muslimin, yakni terdiri dai tujuan khusus bagi umat Islam, yakni, pembentukan pribadi-pribadi muslim, pembentukan rumah tangga muslim, pembentukan masyarakat muslim, penyatuan umat. Adapun tujuan umum, yakni agar seluruh manusia mengabdi kepada Allah swt, agar senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, agar menyampaikan da’wah Islam kepada segenap umat manusia, agar menghapuskan fitnah dari segenap muka bumi, agar memerangi segenap umat manusia sehingga mereka bersaksi dengan persaksian yang benar.

Adapun bagian kedua buku ini yakni membahas jalan menuju jama’atul muslimin. Bagian ke dua ini diawali dengan pembahasan mengenai hukum Islam, karena berdirinya jama’atul muslimin erat kaitannya dengan hukum-hukum Islam tersebut. Sejak da’wah Islam dibawah pimpinan Rasulullah saw mulai digelar di Makkah, turunlah pengarahan-pengarahan Rabbani sesuai dengan keperluan jama’ah dan tuntutan tahapan yang dihadapi oleh jama’ah. Dalam kaitannya dengan jama’ah Islam yang sedang berupaya menegakkan kembali Jama’atul Muslimin dalam kehidupan umat Islam, pengarahan Rabbani dan sunnah Nabawiyah telah diturunkan secara sempurna. Sehingga setiap muslim dan jama’ah Islam dituntut melaksanakan seluruh pengarahan Rabbani dan sunnah Nabawi secara utuh. Hukum Islam dari segi hakikat dan caranya terbagi dua, yakni substansi hukum dan cara pelaksanaan hukum. Kedua bagian hukum ini, dari segi pelakunya, terbagi dua, yakni hukum-hukum yang khusus bagi Muslim sebagai individu dalam umat Islam, dan hukum-hukum yang khusus bagi jama’ah sebagai jama’ah dari umat Islam. Jama’ah umat Islam adalah kelompok atau golongan yang membawa da’wah untuk menegakkan Jama’atul Muslimin pada masa ketiadaannya.

Ajaran Islam bersifat syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh-sempurna-dan saling menyempurnakan). Oleh karena Muslim memiliki kemampuan sektoral dan terbatas, tidak mungkin Islam akan tegak secara utuh manakala kaum Muslimin menerapkannya secara individual, namun harus diterapkan secara jama’i (kolektif). Jika Jama’atul Muslimin kita nyatakan tidak ada di masa sekarang ini, maka harus diupayakan jalan menuju terbentuknya Jama’atul Muslimin yaitu dengan adanya jama’ah dari sebagian umat Islam (jama’atun minal Muslimin) yang mengupayakan perwujudannya.

Rasulullah saw sejak masa-masa pertama diturunkan wahyu Ilahi menyadari bahwa tugas mulia ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh satu orang manusia tetapi memerlukan suatu jama’ah yang kuat. Dalam perjalanan kepada Rabb-nya, Nabi Ibrahim as mengumumkan hakikat yang merupakan syarat kemenangan da’wah ini, yaitu menegakkan jama’ah yang akan membawa da’wah dan membelanya. Jika jama’ah ini tidak tegak, maka tidak akan pernah kemenangan dagi da’wah. Hakikat ini pun telah dipahami Rasulullah saw sejak awal masa da’wahnya. Dan hakikat ini pula yang harus dipahami oleh setiap da’i Islam. Rasulullah saw mengungkapkan pentingnya jama’ah ini bagi keberhasilan da’wah, dan menyatakan bahwa jama’ah inilah yang akan menentukan eksis atau tidaknya da’wah Islam. Jika telah jelas hakikat ini dari Sirah Rasulullah saw dan kewajban ini pun telah dipahami oleh para da’i Islam, maka setiap Muslim yang menyadari kewajiban da’wah Islam atas dirinya dan ingin bergerak untuk da’wah ini, wajib menjadikan langkah pertamanya dalam kehidupan ini sebagaimana langkah Rasulullah, yaitu mencari jama’ah, atau mewujudkannya, untuk membantunya melaksanakan kewajiban da’wah yang amat berat tersebut.
Adapun rambu-rambu dari sirah Nabi falam menegakkan jama’ah berisi enam karakteristik pokok sebuah jama’ah yaitu:

1. Menyebarkan prinsip-prinsip da’wah
Dalam tahapan ini Rasulullah menempuh dua jalan yakni dengan melakukan kontak pribadi, seperti dilakukan Beliau kepada Khadijah ra dan Ali bin Abi Thalib. Dakwah Islam perlu menempuh jalan ini dalam keadaan permulaan da’wah dan pada saat pemerintah yang berkuasa melarang para aktivis da’wah melakukan aktivitas da’wah secara terang-terangan. Jalan selanjutnya yakni melakukan kontak umum. Cara ini disebut tahapan da’wah secara terang-terangan.

2. Pembentukan da’wah
Pembentukan (takwin) da’wah ini merupakan tindak lanjut dari ramu pertama Sirah Rasulullah saw baik dalam kontak pribadi maupun kontak jama’i. Sisi penataan dalampembinaan jama’ah kadang berlangsung pada tahapan iitishal fardi (kontak priadi) pada rambu pertama, ayitu tahapan sirriyah, dan kadang berlangsug pada tahapan ittishal jama’I (kontak umum) atau kadang berlangsung pada kedua tahapan tersebut. 

3. Konfrontasi bersenjata terhadap musuh da’wah
Karakter rambu pertama adalah membagi manusia menjadi dua bagian kelompok pertama, kelompok yang menerima prinsip-prinsip da’wah, menjadi bagian dari rambu kedua, yaitu harus dibina dan dibentuk denagn prinsip-prinsip da’wah, sedangkan kelompok kedua, yakni kelompok yang menentang prinsip-prinsip da’wah menjadi bagian dari rambu ketiga, yaitu harus dihadapi dengan kekuatan senajta agar mereka mau menyerah kepada kekuatan da’wah. Hal itu dilakukan setelah ditegakkan hujjah yang nyata atas mereka pada rambu pertama, berupa penyebaran pikiran-pikiran dan ajaran-ajaran da’wah. Fungsi rambu ketiga ini ialah mempertahankan kelompok yang masuk ke dalam takwin.

4. Sirriyah dalam kerja membina jama’ah
Faktor-faktor yang menajmin keberlangsungan proses pembinaan jama’ah meliputi tiga hal, yakni sirriyah dalam gerak pembinaan jama’ah, bersabar atas segala kesulitan, dan menghindari konfrontasi melawan kebatilan dalam dua tahapan awal yakni penyebaran dan takwin. Maksud sirriyah dalma kerja membina jama’ah ialah membatasi pengetahuan program kerja pada lingkungan pimpinan. Setiap individu dalam kerja sirri ini tidak boleh mengetahui tugas anggota lain, tetapi harus mengatahui tugas pribadinya. Sirriyah merupakan “kotak” tempat menyimpan program amal jama’i dan “tirai” yang menutupi dan melindungi program tersebut. Sirriyah adalah suatu prinsip yang sangat penting dan harus dipegang teguh sepanjang gerakan pembinaan jama’ah, terutama pada tahap-tahap pertama, agar tidak dipukul dalam usia bayi. Sirriyah hanya menyangkut aspek penataan (tanzhim) saja, bukan menyangkut aspek pemikiran atau nilai-nilai Islam yang harus dikemukakan. Para da’i harus memperhatikan rambu ini dan meng-utamakannya dalam gerak mereka. Karena ia merupakan “kunci” keamanan yang akan melindung amal jama’i dari intaian mata-amta musuh yang mengawasinya.

5. Bersabar atas gangguan musuh
Di antara faktor terpenting yang dapat melindungi dtruktur jama’ah pada tahapan takwin ialah kesabaran seluruh anggoa jama’ah dan keberhasilan merekan meredam emosi dalam menghadapi setiapgangguan dan ejekan musuh. Berulang-ulangnya perintah bersabar pada ayat-ayat Makiyah, menunjukkan pentingnya sifat ini dalam memelihara eksistensi jama’ah, terutama pada tahapan takwiniyah. 

6. Menghindari medan pertempuran
Kitman (perahasiaan) dan sabar belum cukup untuk melindungi jama’ah dari gangguan, karena perbedaan kemampuan manusia dalam menerapkan kedua hal tersebut. Juga karena sebagian besar ajaran Islam pasti akan nampak pada par pelakunya dalam bentuk sikap dan perilaku. Karena itu, pimpinan yang bijaksana segera membuat faktor yang lebih aman untuk melindungi jama’ah tersebut. Denagn terpeliharanya eksistensi jama’ah maka akan tercapai kemenangan Islam dan tersebar ajaran-ajarannya. Tetapi jika jama’ah ini hancur, akan menagkibatkan bekunya hukum-hukum Islam dan terhapusnya ajaran-ajarannya. Menjauhi medan pertempuran dalam tahapan takwiniyah merupakan upaya perlindungan bagi pelaksanaan ibadah kepada Allah.

Setelah penjelasan mengenai rambu-rambu jalan menuju terbentuknya Jama’atul Muslimin, berikut dijelaskan tabiat jalan tersebut, yakni jalan ujian dan cobaan. Tabiat jalan ini telah banyak disimpulkan menjadi dua kategori, yakni jalan kebaikan dan keburukan. Tujuan tabiat jalan ini adalah membentuk manusia yang baik melalui perbuatan-perbuatannya, agar dengan demikian pergerakan manusia di atas bumi ini pun menjadi baik. Roda pergerakan manusia di permukaan bumi ini tidak mungkin dapat berjalan seperti yang diinginkan Allah kecuali jika diambil dan dipegang oleh tangan-tangan yang telah digembleng dengan tarbiyah yang dikehendaki Allah, dan tidak mungkin dapat mengetahui ‘tangan-tangan’ yang layak tersebut kecuali setelah melalui berbagai ujian saringan. Ujian-ujian itulah yang disebut tabiat jalan. Dan tangan-tanagn yang layak itulah yang ditetapkan sebagai tujuan dari tabiat jalan yang penuh berkah ini.

Pada bagian ketiga, penulis membahas mengenai jama’ah-jama’ah terpenting yang aktif di medan da’wah Islam. Perjuangan Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, dilakukan melalui perjuangan individual (amal fardi) dan melalui per-juangan kolektif (amal jama’i). Ditinjau dari tujuannya, perjuangan kolektif terbagi dalam beberapa bagian, yakni:

a. Perjuangan kolektif ayng tujuannya langsung menegakkan khilafah.
Kelompok ini antara lain, Hizbut Tahrir, Da’wah Ikhwanul Muslimin, Partai Masyumi.

b. Perjuangan kolektif yang tujuan langsungnya da’wah sosial,budaya, dan sufi.
Kelompok ini antara lain Anshar as-Sunnah, Jama’ah Tabligh

c. Perjuangan kolektif yang sudah bubar, sementara yang lain tetap dapat mempertahankan diri.
Dalam pembahasan selanjutnya dibahas mengenai empat kelompok jama’ah sebagai sampel pembahasannya, masing-masing memiliki kecenderunagn yang berbeda. Dalam kaidah penilaian atas jama’ah-jama’ah Islam, kriteria yang menjadi referensi dalam penilaian terhadap organisasi tersebut adalah Islam. Dengan Islam ditinjau tujuan-tujuannya, sarana-sarana untuk mencapai tujuan, serta pemikiran dan karakteristiknya. 

Pertama, Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah yang didirikan di Kairo 1345 H yang orientasi dakwahnya kepada seruan sosial dan ilmu pengetahuan. Kedua, Hizbut Tahrir yang didirikan di Yordania pada 1378 H yang orientasi dakwahnya pada seruan politik (as-siyasi). Ketiga, Jama’ah Tabligh yang didirikan di India yang berorientasi pada seruan sufiyyah. Keempat, yang tulisan tentangnya dan aktivitasnya ditulis di akhir karena tlisan tentang itu sangat banyak, yakni Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir pada 1347 H. Penulis menganggap bahwa jama’ah ini mewakili gerakan da’wah yang memiliki karakteristik syamil (menyeluruh). Tidak hanya memperhatikan aspek sosial dan ilmu pengetahuan semata, melainkan juga aspek sufiyyah dan siyasiyyah bahkan juga meliputi aspek harakiyyah dan jihadiyyah (pergerakan dan jihad).

Pada akhirnya, karakteristik jalan menuju penegakan khilafah Islamiyah amatlah sulit, sebelum mendapatkan pertolongan dari Allah, penuh dengan berbagai macam hal yang tidak disukai oleh nafsu. Setelah mendapat pertolongan Allah dihiasi dengan berbagai macam syahwat. Yang dituntut adalah tetap teguh berpijak kepada kebenaran dalam kedua situasi tersebut, yakni situasi bala’ dan bujukan. Ada banyak jama’ah Islamiyah yang telah menempuh jalan ini. Di antara jama’ah tersebut ada yang tujuan dan sarananya terbatas sehingga tidak mengantarkannya kepada tujuan yang diharapkan. Menurut syari’at Islam ia tertolak. Ada juga jama’ah yang tujuan dan sarananya lengkap, mencerminkan kesempurnaan dan keluhuran Islam dan diterima menurut syari’at Islam. Jama’ah yang memiliki kesempurnaan dan kekomprehensifan dalam tujuan dan sarananyalah yang layak mendapat loyalitas dan dukungan setiap Muslimin.

Setelah membaca buku yang berjudul “Menuju Jama’atul Muslimin, telaah sistem jama’ah dalam gerakan Islam” ini, terdapat beberapa penilaian mengenai konten buku tersebut. Buku karangan Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA ini merupakan hasil thesis yang diajukan beliau untuk meraih gelar MA di universitas Islam di Madinah. Karena merupakan hasil thesis, adapun konten dalam isinya merupakan hasil penelitian yang didalamnya terdapat berbagai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berangkat dari penilaian tersebut, saya dalam menilai buku ini murni merujuk pada tulisan yang disampaikan penulis berdasarkan fakta yang disampaikan beliau dalam buku ini.

Saya sampaikan penilaian bahwa buku ini layak untuk dibaca, bahkan penting untuk kita semua sebagai pengemban risalah dakwah. Didalamnya dijelaskan mengenai pentingnya berjamaah dan berpegang teguh pada tali agama Allah secara amal jama’i. dengan alurnya yang pas, penulis menyajikan di muka yakni hakikat makna umat Islam beserta ciri-ciri dan kesatuan yang dimilikinya, dijelaskan juga konsep syura dan imamah yang sangat erat kaitannya dengan konsep jama’ah yang dijadiakn topik oleh penulis. Selanjutnya dijelaskan mengenai jalan menuju jama’atul muslimin yang dimulai dari penjelasan mengenai hukum-hukum Islam dan penegasan bahwa tidak ada parsialisasi dalam menegakan ajaran Islam, dengan demikian berarti pengertian syumuliyyah benar-benar ingin diterapkan dalam kehidupan. Dan pengertian ini juga sejalan dengan alur yang dibawa oleh penulis pada esensi dari buku ini bahwa untuk mewujudkan jama’atul Muslimin diperlukan suatu wadah atau jama’ah yang dalam pencapaian tujuannya harus benar-benar sesuai dengan konsep syumuliyyah tersebut.

Adapun keunggulan dalam buku ini adalah penulis menyampaikan pemikiran dan gagasannya disertai fakta-fakta dan di dalam buku ini juga disertai lampiran-lampiran yang penting sebagai penguat atau bukti atas informasi yang diberikannya. Selain itu, dalam menuliskan urgensi-urgensi pembahasan yang di ulas, penulis juga menyertakan dalil-dalil baik dari al-Qur’an maupun Hadits, serta banyak dikaitkan dengan sirah Rasulullah maupun kisah Nabi-Nabi lainnya yang termaktub dalam Nash al-Qur’an maupun Hadits. Dalam ulasannya tentang jama’ah-jama’ah yang dijadikan contoh atau wakil dari objek penelitiannya, disertakan juga keterangan-keterangan yang terdapat dari dokumen-dokumen maupau buku yang bekaitan denagn jama’ah tersebut. Kelebihan lain yang saya analisis dari buku ini adalah dalam menilai atau meneliti jama’ah-jama’ah tersebut, tidak berdasarkan atas perilaku orang atau pelaku jama’ah tersebut, bahkan ditulis secara khusus alasannya karean akan menjadi tidak objektif penilaiannya apabila didasarkan atas perbuatan pelaku jam’ah tersebut, mengingat keterbatasan manusia yang kadang kala dapat berbuat salah ataupun khilaf. Namun, dalam penelitiannya, penulis menyandarkan pada tujuannya, sarana-sarana untuk mencapai tujuan, serta pemikiran dan karakteristiknya.

Pada bagian akhir buku, penulis memberikan hasil penelitian dan penilainanya terhadap jama’ah objek penelitiannya tersebut. Saya pribadi, menyerahkan penilaian akhir mengenai ending buku ini kepada masing-masing pembaca untuk dapat terlibat dalam amal jama’i sesuai dengan jalan yang dipilih oleh pembaca. Namun, besar harapan penulis maupun saya, agar buku ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang penting dalam menentukan langkah pembaca dalam menilai dan mewujudkan Jama’atul Muslimin di muka bumi ini.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)