Showing posts with label Reading Romance Challenge 2016. Show all posts
Showing posts with label Reading Romance Challenge 2016. Show all posts

One Hundred Names

Judul : One Hundred Names
Penulis : Cecelia Ahern
Penerjemah : Nurkinanti Larakusuma
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 464 Halaman
ISBN : 9786020312125
Rating : 4 dari 5 




Blurb:

Kitty Logan ditugaskan Pete, pemimpin redaksi barunya, untuk menulis kisah terakhir yang tidak sempat ditulis Constance, pemimpin redaksi Etcetera yang baru meninggal karena kanker.

Kitty menyanggupinya, demi terus bertahan di Etcetera.

Kitty mendapat petunjuk berupa daftar seratus nama yang disimpan Constance. Ia hanya punya waktu dua minggu untuk menulis kisah dari keseratus nama itu. Tidak ada penjelasan apa pun tentang nama-nama itu. Padahal, Kitty tak pernah mendengarnya satu pun. Akankah Kitty berhasil membuktikan pada Pete bahwa ia layak dipertahankan di Etcetera?


***

Setiap orang punya kisah untuk diceritakan


***

Nama aslinya adalah Katherine Logan, ia seorang wartawan di Etcetera, sebuah surat kabar yang mempunyai nama dan reputasi yang baik, meskipun oplahnya tidak terlalu fantastis. Ia juga bekerja di acara Thirty Minutes, sebuah acara yang memberinya nama sekaligus menghancurkan namanya sendiri. Kitty dituduh menghancurkan kehidupan seseorang setelah memuat cerita yang terbukti tidak benar. Colin Maguire menuntutnya serta jaringannya karena telah mencemarkan nama baik dan menyiarkan kebohongan tentangnya. Tidak hanya harus membayar ganti rugi yang fantastis, namun Kitty Logan juga harus bersiap untuk kehilangan pekerjaannya.

Constance, seseorang yang berdiri di belakang kesuksesan Etcetera, seseorang yang dulu mempekerjakan Katherine, tengah menderita penyakit kanker. Setelah sekian lama berada di rumah sakit, Katherine baru menjenguknya setelah dirinya sendiri tersandung masalah yang membelitnya itu. Constance bercerita banyak kepada Kitty, terutama tentang alasan mengapa dia menerima Katherine bekerja serta masih menginginkan gadis itu masih bekerja sebagai wartawan di Etcetera. Constance juga menceritakan tentang sesuatu yang ingin ditulisnya dan berharap Kitty mau melakukan itu untuknya. Constance memberitahunya tentang proyek seratus nama yang ingin diwawancarainya.

Beberapa saat setelah kunjungan Kitty tersebut, dikabarkan bahwa Constance meninggal dunia. Di sela-sela teror yang menimpa dirinya akibat pemberitaan tentang Colin Maguire itu (Kitty mendapatkan berbagai macam bentuk teror yang diterimanya di depan rumahnya), kepedihan melandanya. Ia memberanikan diri untuk hadir dalam rapat di Etcetera untuk membahas tentang edisi khusus mengenang Constance. Ia ingin sekali mewujudkan keinginan Constance untuk mewawancarai orang-orang tersebut. Keinginannya bersambut dengan dukungan dari Bob, suami Constance yang memiliki kedudukan penting di Etcetera, meskipun Pete, pimpinan redaksi sekarang, menyangsikannya, dan malah mengajukan orang lain untuk menangani pekerjaan tersebut. Dan akhirnya, pekerjaan mencari dan mewawancarai seratus orang itu diberikan pada Kitty, sebagai pertaruhan terakhir apakah artikelnya layak terbit--yang itu juga berarti apakah ia masih akan dipakai di Etcetera ataukah dipecat.

Kitty mendapati keseratus nama itu namun bingung harus melakukan apa. Tenggat waktu yang diberikan hanyalah dua minggu, sementara dirinya masih blank apa yang harus dilakukan atau memulainya dari mana. Tidak ada petunjuk, tidak ada kata pengantar, apalagi sinopsis yang menghubungkan nama-nama tersebut. Namun Kitty menemukan titik terang ketika menemukan buku telepon di rumah Constance dengan tanda berupa nomor yang bisa dihubungi tentang seratus nama yang ditulis oleh Constance tersebut. Dari seratus nama itu, setidaknya ia menemukan beberapa nama yang mempunyai kisah berbeda-beda:

Bridget Murphy, atau Birdie, adalah seorang nenek tua yang berusia nyaris delapan puluh lima tahun, tinggal di sebuah panti jompo. Lalu ada Eva Wu, seseorang yang memiliki blog bertajuk 'Dedicated' yang memiliki pekerjaan dalam bidang jasa untuk membantu orang-orang yang kesulitan memberikan hadiah untuk orang yang dicintainya. Archie Hamilton, orang keenam puluh tujuh dalam daftar, mulanya seorang yang antipati dengan wartawan. Masa lalunya begitu keras; pernah tersandung masalah yang melibatkan anak perempuannya yang diperkosa lalu dibunuh orang, dan berhasil membuat Archie mendekam dalam penjara. Sekarang ia bekerja sebagai penjual burger dan kentang goreng. Orang lainnya yang Kitty temui adalah Mary-Rose Godfrey, seorang gadis yang selalu dilamar oleh temannya di setiap kesempatan. Gadis ini juga punya cerita yang lain; ibunya yang stroke dan bolak-balik masuk rumah sakit, mengenalkan dirinya pada kehidupan rumah sakit, sehingga membuat Mary-Rose memiliki pekerjaan lain yakni menjadi perias bagi orang-orang sakit. Ambrose Nolan, seorang wanita tertutup karena merasa dirinya tidak cantik (ada tanda lahir yang menutupi separuh wajahnya, dan juga karena warna matanya yang berbeda), adalah seorang pemilik museum kupu-kupu. Ambrose begitu mencintai kupu-kupu dan mengembangbiakkannya. Bersama Edward, seorang pria yang begitu bersemangat memberikan kuliahnya tentang segala hal yang berhubungan dengan kupu-kupu, Ambrose mengembangkan museum itu. Dan hanya kepada Edward itulah dirinya bisa terbuka. Selanjutnya adalah Jedrek Vysotsky, seorang pria berkebangsaan Polandia yang bekerja dalam bidang perbaikan komponen bagian panas mesin turbin baling-baling pesawat dan dipecat dari pekerjaannya. Malangnya, keahliannya yang langka harus terkubur karena tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, membua Jedrek harus bertahan di Irlandia. Dia tidak mungkin kembali ke negara asalnya karena keluarganya tidak memiliki kenangan atau kehidupan di tempat asalnya karena mereka hidup dan berkembang di Irlandia. Bersama temannya Achar Singh, dia bermaksud untuk menancapkan eksistensinya hingga membuat mereka berarti, yakni dengan memecahkan rekor dalam bersepeda air di Guinness Book of Record.

Sampai tenggat waktu yang dimilikinya, Kitty bahkan tidak mengetahui benang merah dari orang-orang yang berasal dari catatan seratus orang milik Constance. Di sela-sela kesibukannya mengumpulkan bahan wawancara ini, ia masih terus saja diteror oleh Colin Maguire. Selain itu, kisah ini juga menyuguhkan cerita romansa Kitty dan orang-orang yang ia wawancarai. Untuk kehidupan Kitty sendiri, ada beberapa sosok lelaki yang mewarnai hari-harinya. Yang pertama Steve, temannya sedari kuliah. Lalu ada Pete, bosnya di Etcetera, dan ada Richie, teman lamanya yang tiba-tiba hadir mewarnai kisah Kitty. Ada kisah cinta, pengkhianatan, dan persahabatan di sana.

Sampai pada satu momen dia menyerah, Kitty mengunjungi rumah Constance dan berbincang dengan Bob di sana. Dari kisah yang dituturkan oleh Bob itulah, Kitty berhasil menghimpun cerita itu dan merasa yakin dapat menyuguhkan kisah yang diinginkan Constance untuk dituliskannya.


***

Harus saya akui, membaca kisah ini membutuhkan perjuangan bagi saya. Pada bagian-bagian awal, terasa cukup membosankan. Selain karena kisahnya yang monoton, tokoh heroine yang tidak menyenangkan (karena dia baru saja menjatuhkan dan merusak hidup seseorang), dan jalan cerita yang tidak tahu akan seperti apa. Namun, saat melalui setengah dari buku ini, seolah saya mendapatkan pencerahan dan rasa penasaran berhasil menggeret saya untuk membacanya sampai habis.

Tokoh Kitty yang tangguh dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sejalan dengan alur cerita ini di mana dia harus mampu menghadapi permasalahan yang menimpanya. Kitty harus menekan egonya dan juga harus bangkit dari keterpurukan untuk mengobati rasa bersalah yang dimilikinya. Satu-satunya peluang adalah dengan mewujudkan keinginan Constance dan membuktikan pada semua orang kalau dirinya tidak mengecewakan mentornya itu.

Kitty menghabiskan waktunya dalam tenggat waktu yang diberikan, di bawah tekanan, serta teror dan rasa bersalah karena perkara Colin Maguire. Namun ternyata, dia berhasil menghimpunnya, menemukan apa yang Constance mau dari kisah seratus nama itu. Kitty mendapatkan pengalaman baru, menyelami emosi mereka semua, bahkan membentuk keterikatan antara keenamnya beserta mimpi yang ingin mereka wujudkan. Bagaikan satu lingkaran yang saling memiliki, mereka pun pada akhirnya membantu Kitty agar kisah mereka bisa diterima oleh meja redaksi. Bahkan, membantu Kitty menemukan seseorang yang tepat untuknya.

Penulis berhasil meramu emosi tokoh-tokohnya sehingga membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan orang-orang dalam kisah ini. Saya benar-benar merasakan bagaimana Kitty dikhianati oleh orang yang memanfaatkan kesialannya. Saya juga turut menyelami kisah orang-orang yang diwawancarai Kitty. Bagaimana Archie menemukan Tuhan dalam penderitaannya.

"Dulu aku tidak percaya Tuhan. Lalu percaya, dan Dia mengecewakanku dan aku menghabiskan tujuh tahun membenci kekurangajaran-Nya, membenci gagasan akan Dia. Tapi itu sama saja dengan berterima kasih kepada-Nya, bukan? Bagaimana kau bisa membenci seseorang kalau kau tidak percaya mereka ada?"
--Halaman 256

Atau bahkan bagaimana Eva yang di awal cerita teramat tertutup hingga bagaimana dia mendedikasikan dirinya dalam pekerjaan yang dia jalani. Saya suka pekerjaan Eva, saya juga suka bahwa Eva memiliki detail yang mengejutkan dalam melakukan pekerjaannya.

Harus saya akui, saat saya membaca buku ini, bisa dibilang saya tidak berada dalam kondisi terbaik dalam hidup saya. Mengetahui bahwa semua orang punya kisahnya sendiri, saya jadi bercermin ke dalam diri sendiri bahwa saya, dalam kondisi yang seperti ini pun masih banyak punya kisah yang bisa saja saya bagi ke orang lain. Dengan semangat Kitty, juga bagaimana tokoh-tokoh di dalam kisah ini meramu penderitaan mereka dan menjalani hidup mereka masing-masing membuat saya dan bisa jadi pembaca lainnya memandang hidup dengan optimis.




Tiap orang biasa memiliki kisah luar biasa. Kita semua mungkin menganggap diri kita tidak hebat, bahwa kehidupan kita membosankan, hanya karena kita tidak melakukan sesuatu yang menggemparkan atau menghasilkan tajuk di surat kabar atau memegang penghargaan. Tapi sebenarnya kita semua melakukan sesuatu yang menakjubkan, yang berani, sesuatu yang seharusnya kita banggakan. Setiap hari orang melakukan hal-hal yang tidak dirayakan. Itulah yang harus kita tulis. Pahlawan tak dikenal, orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka adalah pahlawan karena mereka hanya melakukan apa yang mereka yakini harus mereka lakukan dalam kehidupan mereka.
--Halaman 449

Oke, ini buku Cecelia Ahern pertama yang saya baca, dan saya tidak kapok untuk menikmati kisah yang lainnya :)




Fairly

Judul : Fairly
Penulis : Yuni Tisna
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 275 Halaman
ISBN : 9786020316437
Rating : 2 dari 5 




Blurb: 
Nadia yang ceroboh dan pemalas tinggal di Jakarta hanya bersama mamanya. Nadia menyukai Rei, cowok dingin di kelasnya.
Begitupun Priska, musuh bebuyutan Nadia.
Luna yang rajin dan pintar tinggal di Bandung hanya bersama papanya.
Luna berkali-kali minta putus dari Ethan, pacarnya yang posesif.
Nadia terkejut mendapati seraut wajah yang serupa dengannya di ruang tamu.
Dan perkara jepit rambut berbentuk bunga membuat Nadia rela bertukar tempat dengan sosok tersebut.

***

Nadia dan Luna adalah dua orang gadis kembar yang terpisah akibat perceraian kedua orangtuanya. Nadia yang lemot tinggal dengan Mama di Jakarta sementara Luna yang pintar bersama Papa di Bandung. Suatu hari saat Mamanya pergi ke Bandung dan pergi ke danau untuk mengenang masa lalunya dengan Papa, Papanya muncul di sana. Pertemuan kembali ini berbuntut panjang dengan rujuknya sang Papa dan Mama. 

Kedua gadis kembar yang mempunyai hidupnya masing-masing ini akhirnya bertemu dan tinggal satu rumah. Luna yang mempunyai pacar posesif bernama Ethan, harus menghadapi Ethan yang gila dan psikopat sampai harus menguntitnya hingga sampai ke Jakarta. Bahkan, Ethan juga pindah sekolah dan bersekolah di sekolah Luna. Sementara Nadia, dia menyukai temannya yang bernama Rei. Nadia juga harus menghadapi temannya yang menyebalkan bernama Priska. 

Karena lelah dengan perlakuan Ethan padanya, Luna mengajak Nadia untuk bertukar posisi dan berganti peran selama sebulan. Pertukaran tempat itu pun terjadi, membuat Luna yang menjadi Nadia akrab dengan Rei, dan Nadia yang menjadi Luna harus menghadapi kebocahan Ethan. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah akan berakhir saling bahagia atau justru sebaliknya?


***


Mungkin memang ekspektasi saya ketinggian saat membaca blub novel ini. Mulanya saya berpikir tentang cerita yang mirip (atau mendekati) film masa kecil yang pernah saya tonton yang berjudul "The Parent Trap", yang mengisahkan dua saudara kembar yang bertemu di perkemahan, menyadari bahwa mereka terpisahkan karena permasalahan orangtua. Lalu mereka bertukar posisi demi menggoalkan misi untuk membuat kedua orangtua mereka kembali lagi.

Sebenarnya kisah ini teramat klise, alur cerita juga dengan mudah bisa ditebak. Ada beberapa kesamaan dari kisah itu, meskipun ada pula perbedaannya, banyak sekali. Yang pertama adalah tentang dua orang yang tidak menyadari kalau kembar hingga berumur tujuh belas tahun. Lalu, kedua orangtua mereka yang terpisah karena perceraian. Ketiga, tentang bertukar peran.

Mungkin karena ekspektasi saya yang ketinggian sehingga saat ada beberapa hal yang saya rasa kurang sreg, jadinya memudarkan kesan saya pada cerita ini. Kisah pertemuan kembali kedua orangtua mereka menurut saya agak dipaksakan. Entah karena plotnya yang kurang nendang atau penyajiannya yang kurang mulus sehingga kesan itu muncul. Saya menganggap kalau scene ini terkesan dipaksakan. Misalnya, kan si Luna sudah kelas tiga, kenapa mereka terburu-buru untuk pindah sekolah dan rumah juga? Kan bisa menunggu Luna lulus dulu gitu, tinggal beberapa bulan lagi aja. Lagi pula, prosedur pindah sekolah bagi anak kelas tiga kan nggak mudah, apalagi kalau sudah didaftarkan namanya sebagai peserta UN (ini juga berlaku buat si Ethan anyway, cuma saya mau bahas bocah satu itu di paragraf tersendiri :p). Trus tentang pekerjaan ayahnya, dan hal-hal yang menyangkut kepindahan super kilat itu. Memang sih ini kan karya fiksi, tapi kelogisan juga perlu.

Kedua, tentang Ethan. Menurut saya karakternya unik, tapi menurut saya jadi berlebihan. Tentang posesifnya (meskipun ada penjelasan kenapa dia begini di belakang) yang menurut saya sudah menjurus ke psikopat yang..., ini beneran psikopat lho sampai menguntit ke Jakarta segala, mengganggu kehidupan orang. Kalau saya ada di posisi Luna atau Nadia, hal pertama yang saya lakukan adalah mengadukan ini ke orangtua. Hei, ini masalah serius, ada bocah baru gede yang kaya raya super wow fantastis nguntit! Sampai gue nggak nyaman sekolah, sampai harus bertukar tempat (yang mana alasan bertukar tempatnya itu bego banget). Kalau kamu dikuntit orang, terus punya saudara kembar dan kamu bertukar tempat sama dia, bukankah sama aja mencari aman dengan membuat saudaramu ketiban masalah yang kamu ngga bisa selesaikan? Apalagi si Ethan songong ini gampang banget hamburkan uang, gampang ngancam orang demi menurutkan kemauannya. Ya ampun, bocah banget. Kepindahan dia ke sekolah Luna--bahkan minta dimasukkan ke kelas Luna pakai pelicin--itu nggak banget.

Lalu tentang alasan mereka pindah posisi: di The Parent Trap itu, si kembar punya alasan logis untuk berpindah tempat, ada misi penting yang mereka perjuangkan. Tapi di sini, saya nggak dapat kesan yang mendalam. Karena si Luna menghindari Ethan. Lalu, di hari pertama mereka tukar tempat, Luna dan Nadia pakai kacamata dan topi untuk mengelabui orangtua mereka. Tapi kan, ini tukar tempatnya setiap hari, orangtuanya nggak sadar apa ya? :)

Di ending, saya juga kecewa dengan siapa yang pada akhirnya jadian sama siapa.

Nah itu dia, sedikit racauan dari saya. Dan karena novelnya kurang memuaskan dan menurut saya banyak nggak sinkronnya, jadi saya hanya bisa memberikan dua bintang untuk kisah ini. :)

Zahir


Judul : Zahir
Penulis : Paulo Coelho
Penerjemah : Andang H. Sutopo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 440 Halaman
ISBN : 9786020301174
Rating : 4 dari 5 




Blurb: 

Seorang suami ditinggalkan istrinya tanpa alasan, tanpa jejak. Kepergiannya menimbulkan pertanyaan besar yang makin menggerogoti hati dan pikiran, kenangan yang ditinggalkannya tak terhapuskan, hingga menjadi obsesi yang nyaris membawa sang suami pada kegilaan. Untuk menjawab pertanyaan "Mengapa" itu, sang suami menelusuri kembali jejak kebersamaannya dengan sang istri, hal-hal yang terjadi dalam perkawinan mereka, hingga terjadinya perpisahan itu. Pencarian ini membawanya keluar dari dunianya yang aman tenteram, ke jalur yang tidak dikenalnya, dan membuka matanya terhadap makna cinta serta kekuatan takdir.

***

Zahir, dalam bahasa Arab, berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang, sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita, sampai kita tak bisa berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bisa dianggap sebagai tingkat kesucian atau kegilaan.

***


The Zahir bercerta tentang seorang penulis yang ditinggal oleh istrinya. Sang istri bernama Esther adalah seorang wartawan yang meliput perang. Kehidupan mereka yang mulanya berjalan biasa saja, dikejutkan dengan hilangnya Esther. Si penulis diinterogasi, bahkan polisi melakukan prosedur standar dengan memenjadakan pria tersebut. Namun, seorang wanita datang memberitahukan alibi yang meringankan pria itu. Akhirnya dia dibebaskan.

Pencarian istrinya masih berlanjut, hingga dia menyerah dan memutuskan untuk menulis buku yang isinya berupa surat yang ia tujukan pada Esther. Buku itu berjudul "Ada Waktu untuk Merobek, Ada Waktu untuk Menjahit". Dia yakin bahwa istrinya baik-baik saja, dan menghilangnya Esther memang adalah sebuah pilihan, bukan penculikan atau sebuah tindak kejahatan. Mungkin benar bahwa istrinya terpikat oleh seorang pemuda yang sering dibicarakan oleh Esther sebelum memutuskan pergi, seorang pria berusia dua puluh lima tahun yang bernama Mikhail.

Dalam pencariannya terhadap Esther inilah sang penulis kemudian merefleksikan lagi bagaimana pertemuannya dulu dengan Esther dan bagaimana upaya yang dilakukan Esther dalam membantu sang penulis untuk menemukan jati dirinya. Penulis ingat bahwa sebelumnya dia pernah berkelana untuk menemukan itu. Hingga proses menemukan Jalan Santiago itulah yang pada akhirnya membuat ia menemukan arti kehidupannya, dan menulis sebagai jalan hidupnya.

Pada sebuah acara penandatanganan bukunya, si penulis dikejutkan dengan kedatangan Mikhail, yang mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja. Dari pertemuan itulah ia kemudian mengikuti ke manapun Mikhail pergi hingga mengetahui aktivitas ganjil Mikhail dan perkumpulannya di sebuah kafe setiap kamis malam.

Si penulis menemui banyak orang yang rupanya pernah bertemu dengan Esther sebelumnya. Si penulis heran karena mereka semua mendapatkan potongan kain berdarah milik serdadu perang yang bertemu dengan Esther sebelum ia meninggal. Ia begitu heran mengapa orang-orang itu memiliki potongan kain sementara dirinya tidak. Dan ini berhasil membuatnya bertanya-tanya.

Mikhail mengatakan bahwa ia mengetahui di mana keberadaan Esther. Namun dirinya bersikeras tidak akan memberitahu si penulis sebelum mendapatkan arahan dari "Bunda", yang berupa bisikan ghaib. Saat sebuah kecelakaan terjadi pada si penulis, itu menjadi titik balik dalam kehidupannya seolah segalanya dilihatnya dalam perspektif berbeda.

Keberadaan seorang perempuan bernama Marie dalam kehidupan penulis, membuat warna tersendiri dalam kisah ini. Apakah dia berhasil menemukan di mana Esther berada ataukah justru memilih untuk hidup dengan Marie yang selama ini telah begitu baik padanya?


***


Buku Paulo Coelho menurut saya tidak bisa diprediksi sebelumnya bagaimana sehingga saya tidak akan berekspektasi terlalu banyak terhadapnya. Saya yang teramat menyukai The Alchemist merasa kurang puas saat membaca Aleph. Bahkan kemudian, saya merasakan terjun bebas ketika membaca Brida. Dari situ kemudian saya belajar untuk tidak berekspektasi apapun terhadap isi buku yang saya baca. Dan yang saya dapat adalah..., kejutan! Buku ini menarik sekali. Bahkan saya sempat tercenung dan tidak konsentrasi dengan buku berikutnya yang saya baca karena masih terpesona dengan sihir Zahir yang menimpa saya.

Dari segi plot, cerita ini cukup simpel karena menceritakan tentang seorang penulis yang memiliki kekayaan luar biasa dari royalti penulisan lirik dan bukunya. Ia dikejutkan dengan perginya sang istri yang bernama Esther entah ke mana. Ia yakin bahwa istrinya itu memang sengaja pergi, namun prosedur kepolisian tetap dijalankan yang menyebabkan ia sempat menjadi tertuduh atas hilangnya sang istri. Dia juga sempat mengira Mikhail yang membawa lari istrinya, meskipun pada akhirnya atas bantuan Mikhail pula petualangan mencari Esther itu dilakukan.

Kisah yang begitu sederhana menjadi tidak sederhana saat Paulo Coelho menggarapnya dengan sentuhan spiritual yang membuat pembaca akan banyak merefleksikan apa yang ia tulis pada dirinya sendiri. Saya begitu menyukai konsep "Bank Budi" yang dijelaskan oleh Paulo di sini. Dulu saya pernah dapat konsep serupa saat ada pelatihan Seven Habits di kantor, dan saking mendalamnya materi itu sehingga saya masih mengingatnya sampai sekarang. Di sini, Paulo kembali menyegarkan ingatan saya tentang itu.

Namun seperti yang sudah saya duga sebelumnya, ciri khas tulisan Paulo yang lainnya adalah dengan memasukkan ritual-entah-apa di dalam novelnya. Kali ini, melalui tangan Mikhail, ia menggagas ritual yang saya sebut dengan "membuka hati dengan bicara". Pesertanya yang datang melakukan semacam berbicara tentang hal-hal tabu tentang dirinya di depan umum. Mungkin ini disebabkan oleh paham individualis di kalangan manusia abad ini yang membuat mereka tertutup. Padahal, untuk menyelesaikan permasalahan atau membuka hati, yang harus dilakukan adalah berbicara. Saya nggak setuju tentu saja dengan pemahaman ini (yang tentang ritualnya, bukan "berbicara"nya ;)), apalagi kalau di Indonesia ada perkumpulan ini bisa saja dikategorikan sebagai aliran sesat hahaha :D. Selebihnya, tentang perenungan-perenungan, dan banyaknya kalimat bernapaskan spiritual, membuat saya mampu mengorelasikannya dengan konsep yang ada di agama saya, dan ini adalah sebuah jalan yang bagus :)

Dan kutipan yang saya suka..., sebenarnya banyak sekali, tapi baiklah ini saya berikan yang bertemakan tentang cinta:


Cinta adalah kekuatan yang tak akan pernah ditundukkan. Kalau kita berusaha mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. Kalau kita berusaha memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan.

Kekuatan ini ada di dunia untuk membuat kita bahagia, untuk membawa kita lebih dekat pada Tuhan dan pada tetangga-tetangga kita, tapi dengan cara kita mencintai sekarang ini, kita mengalami satu jam kegelisahan untuk setiap menit kedamaian.---Halaman 125


Ending kisah ini juga sedikit mengejutkan dan membuat saya mengerutkan dahi, sambil tertawa dan berkata, "Astaga, hahaha."



Sincerely Yours

Judul : Sincerely Yours
Penulis : Tia Widiana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
ISBN : 9786020320502
Rating : 2 dari 5 





Sebagai penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar.

Namun di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam segala hal. Alan dengan mudah dapat membayangkan Inge menjadi perempuan yang ingin ia nikahi, bukan Ruby… perempuan yang selama ini berstatus kekasih Alan.

Alan mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal… Inge tidak ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun-tahun. Inge tidak mau Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.

Sebagai penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan….


***

Pertemuan Inge dan Alan diawali dengan sebuah kejadian yang tidak pernah terduga sebelumnya. Tetangga Inge yang bernama Nanda meminta bantuan kepada Inge untuk 'menyelamatkan' Alan setelah diberi obat yang salah. Alih-alih seharusnya Alan meminum aspirin, yang ditenggaknya adalah obat anti depresan yang biasa digunakan untuk penderita insomnia akut. Akibatnya? Alan tertidur dalam jangka waktu yang cukup lama. Antara sadar dan tidak sadar, Alan kemudian dipindahkan ke rumah Inge. Sejak pertemuan dramatis itu, keduanya berteman dengan sangat akrab.

Inge memiliki masa lalu yang kelam, ibunya meninggalkan ia dan ayahnya karena lebih memilih lelaki lain. Sehingga, Inge hanya hidup berdua dengan ayahnya, dan menyimpan dendam terhadap perlakuan ibunya kepada mereka. Saat itu ayah Inge sudah meninggal, dan pada suatu siang, secara tidak terduga sang ibu dan ayah tirinya mendatangi Inge. Beruntung baginya, ada Alan yang datang ke rumah Inge dan menyelamatkannya dari situasi tidak menyenangkan.

Hubungan Inge dan Alan bisa dibilang sangat dekat, bahkan bisa dipastikan bahwa keduanya menyimpan rasa suka yang sama. Namun, yang terjadi tidaklah sesimpel yang diharapkan. Kekecewaan Inge muncul ketika mengetahui bahwa Alan sudah mempunyai kekasih yang dipacarinya selama delapan tahun, bernama Ruby. Selain itu, kehadiran ibu Inge yang berada di rumah kantor tempat Alan bekerja juga membuat ia merasa dikhianati. Alhasil, Inge menghilang selama enam bulan. Pertemuannya dengan seseorang bernama Ghani--teman Kiki sahabatnya yang getol menjodohkan Inge dengan Ghani--menjadi titik balik perubahan dalam diri Inge. Seolah ia disadarkan bahwa selama ini yang diinginkannya hanyalah Alan. 

Maka Inge kembali ke kehidupan sebelumnya. Namun, rupanya keadaan sudah tidak sama, yang dilihatnya justru Alan berada dengan perempuan lain yang bukan Ruby. Kehidupan percintaan mereka yang baru mau dibuka kembali, menimbulkan tanda tanya besar dalam diri Inge.


***


Harus diakui, label pemenang 1 lomba Amore membuat saya berekspektasi terlalu tinggi dengan novel ini. Tapi sayang sekali, begitu saya membacanya, rupanya ekspektasi itu ketinggian. 

Novel ini terlalu klise, dan juga cara penyajiannya menurut saya tidak praktis. Terlalu banyak deksripsi yang tidak penting dan tidak perlu, bahkan kalau tidak diadakan pun saya rasa nggak mengganggu jalannya cerita. Seperti misalnya pada halaman 89, di situ ada satu paragraf yang dijelaskan detail tentang adegan dia mengambil air di dispenser. Saya rasa itu tidak penting. Nggak pakai dijelaskan pun nggak ada pengaruhnya dengan hubungan Inge dengan Alan. Baru saja membahas soal dispenser, pada halaman berikutnya, penulis juga membahas rantang =)) yups, rantang. Tentang kenapa si Alan membawa makanan dengan rantang. Ini juga bagian tidak penting menurut saya. Bahkan kesannya..., hmmm, apa ya? Kayak nggak ada deskripsi lain yang bisa digunakan untuk membangun suasana romansa atau apa gitu.

Ada lagi yang saya kurang suka. Ada bagian tentang pernyataan penulis yang menyatakan bahwa, menghadapi ibunya lebih menyakitkan ketimbang mendengarkan kritik pembaca di Goodreads. Oke, memang profesi tokoh utamanya adalah seorang penulis di mana Goodreads dan sejenisnya adalah makanan sehari-hari. Tapi, dalam dunia parallel (antara si tokoh dengan pembuat tokoh yang sama-sama berprofesi sebagai penulis), saya seolah melihat penulisnya mengambil posisi defensif yang ditunjukkan kepada para pembaca =)) Atau mungkin penulisnya curcol? ;) Well, entahlah, saya juga tidak mau menghakimi tapi yang jelas, saya agak gimana gitu pas bacanya. Lalu ada juga yang bagian ada Ika Natassa-nya (sekaligus iklan pre-order buku Ika), yah saya kurang sreg aja saat cerita yang itu dipaparkan. Mungkin seolah ingin merealitakan novel ini agar terkesan seperti real, tapi entah mengapa saya justru kurang menikmatinya. 

Ada pula bagian yang sepertinya penulis kurang teliti. Di halaman 163, di halaman sebelumnya dideskripsikan kalau dia mau ke apartemen Kiki, tapi justru malah naik taksinya ke apartemen Nia. Dan penjelasan sebelum ini, dikatakan kalau Nia itu tinggalnya di rumah bukan apartemen. 

Saya begitu terkesan dengan prolog yang dipaparkan penulis. Juga, saat penulis memaparkan tentang bagaimana proses penulisan novel thriller itu sendiri, saya malah tertarik kalau seandainya saja si penulis (bukan penulis dalam cerita) benar-benar membuat novel bergenre thriller. 



Saman

Judul : Saman
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 206 Halaman
ISBN : 9789799105707
Rating : 3 dari 5 





Empat perempuan bersahabat sejak kecil. Shakuntala si pemberontak. Cok si binal. Yasmin si “jaim”. Dan Laila, si lugu yang sedang bimbang untuk menyerahkan keperawanannya pada lelaki beristri.

Tapi diam-diam dua di antara sahabat itu menyimpan rasa kagum pada seorang pemuda dari masa silam: Saman, seorang aktivis yang menjadi buron dalam masa rezim militer Orde Baru. Kepada Yasmin, atau Lailakah, Saman akhirnya jatuh cinta?


***


Pada cover belakangnya, terselip informasi bahwa novel ini bercerita tentang persahabatan empat perempuan. Namun yang akan didapati ketika membaca Saman pada mulanya adalah kisah tentang Laila dan kisah cintanya dengan seorang pria berirstri bernama Sihar. Pertemuan keduanya bermula ketika Laila pergi ke Laut Cina Selatan untuk meliput aktivitas pertambangan di Texcoil tempat Sihar bekerja. Namun saat dirinya berada di sana, sebuah peristiwa tidak menyenangkan terjadi, sebuah kecelakaan kerja akibat kesalahan SOP yang dilakukan oleh rekan kerja Sihar mengakibatkan teman Sihar yang lainnya meninggal dunia.

Rupanya itu adalah peristiwa awal mula yang membuat hubungan keduanya menjadi dekat. Laila meredakan amarah Sihar dengan memberikan solusi tentang dampak kejadian itu. Laila memperkenalkan Sihar dengan seseorang bernama Saman yang merupakan aktivis lingkungan serta Yasmin, sahabatnya sejak kecil. Setelahnya, hubungan terlarang kedua insan itu terajut, meskipun hubungan ini tidak melibatkan kontak fisik. Fakta bahwa Laila adalah seorang gadis lugu yang terjebak dalam cinta yang salah, membuat Sihar tidak tega untuk merenggut kesuciannya, selain juga bahwa dia tidak ingin berkhianat di belakang istrinya.

Sahabat-sahabatnya merasa prihatin dengan kisah percintaan Laila karena selalu bertemu dan jatuh cinta dengan orang yang salah. Dulu Laila pernah jatuh cinta dengan seorang pria yang memutuskan hidupnya sebagai seorang pastor, dan orang itu adalah Saman.

Nama asli Saman adalah Athanius Wisanggeni. Saman memutuskan untuk menjadi seorang pastor dan mengabdi ke Perabumulih. Ada magnet tersendiri yang membuat Wisanggeni penasaran dengan tempat ini, sesuau yang berhubungan dengan ibunya dan kisah misterius tentang meninggalnya adik Saman sewaktu kecil. Dari tempat itulah kemudian ia berkenalan dengan seorang anak perempuan yang memiliki keterbelakangan mental bernama Upi. Atas dasar rasa kasihan dengan nasib gadis itulah yang menumbuhkan kepedulian lelaki itu terhadap keadaan masyarakat di sana. Prahara timbul ketika pemerintah memaksa warga di Perabumulih untuk mengubah mata pencaharian warga yang semula berkebun karet menjadi kelapa sawit. Perlawanan warga membuat beberapa yang dicurigai sebagai otak di balik peristiwa itu ditahan, termasuk Wisanggeni. Saat ada kesempatan untuk melarikan diri, membuat Wisanggeni menjadi buronan yang paling dicari. Tuduhan demi tuduhan ditimpakan kepadanya, termasuk disangka pelaku kristenisasi memberatkan posisinya, hingga akhirnya dia harus mengubah identitasnya menjadi Saman, dan melarikan diri ke luar negeri.

Upaya melarikan Saman itu tidak lepas dari peran dua orang sahabat Laila, Shakunta dan Cok. Karena dua orang inilah yang membuat Saman berhasil keluar dari Indonesia. Shakunta sendiri adalah seorang gadis pemberontak sejak remaja, terutama kepada ayahnya. Sementara Cok adalah gadis yang binal, berulang kali gonta-ganti pacar. Kehidupan keduanya di novel ini tidak terlalu dijabarkan seperti porsi cerita Laila..., dan Yasmin.

Kisah Yasmin baru muncul di bagian akhir novel ini, dan memberikan twist yang tidak terduga. Yasmin seorang wanita yang menggeluti hukum. Ia menikah dan mempunyai keluarga harmonis. Namun pada satu kondisi, ternyata dia mencintai orang lain..., yaitu Saman. Keterlibatan keduanya pada permasalahan hak asas manusia membuat keduanya dekat dan merasakan jalinan cinta.

Untuk kisah selanjutnya..., silakan baca sendiri :)

***


Awalnya mau kasih bintang dua, tapi justru karena baca catatan pengarang 15 tahun kemudian yang ada di paling belakang buku ini, membuat saya justru menaikkan bintang jadi 3.

Sebagai penikmat novel/roman lawas dan dulu sempat baca tentang di balik cerita angkatan sastra, setidaknya saya paham bahwa pada masa sebelum reformasi, kebebasan berbicara, berpendapat, tidaklah seperti yang dapat kita nikmati sekarang. Saya pun mengamini kalimat Ayu Utami yang menyampaikan slogan: "Ketika pers dibungkam, sastra bicara." Lantas membuat saya teringat dengan Hamka, bagaimana perjuangan beliau menyiratkan upaya kesadaran bangsa Indonesia akan perjuangan melawan penjajah dengan bahasa sastra. Tidak mudah tentu saja, menyamarkan maksud terselubung hingga bahkan tak terendus (kalau kena cekal tentu kita tidak dapat menikmati novel-novel sarat makna terselubung tersebut).

Nah oke balik lagi ke Saman. Sebagai pembaca awam--saya katakan awam karena, jujur, saya tidak tersadarkan ada maksud lain di balik isi cerita ini kalau tidak diingatkan oleh Ayu Utami pada bagian belakangnya. Saya hanya menikmati suguhan cerita seperti biasa saja, barangkali memang pengaruh zaman yang ... apa ya istilahnya, keenakan? Terlalu larut dalam kenyamanan barangkali, hingga memudarkan makna di balik niat mengeluarkan novel ini pada zamannya dulu. Nah, sebagai orang awam saya cukup menikmati novel ini meskipun ada bagian-bagian yang perlu dikritisi (oleh saya saja sih). Namun, dengan kekayaan imajinasi penulis dalam menggarap novelnya (mulai dari menyinggung soal cinta, agama, kekuasaan, tercium nuansa pemberontakan, sampai seks, bahkan alam metafisika), membuat saya kagum.


Coppelia

Judul : Coppelia
Penulis : Novellina A.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 192 Halaman
ISBN : 9786020318103
Rating : 5 dari 5 



I am the Queen of Mediocre. 
Running away is my best talent and achievement.


Nefertiti melarikan diri ke Santorini, Yunani, selama tiga bulan. Di tengah perekonomian Yunani yang sedang carut marut, ia justru mendapatkan kemurahan hati dari seorang pemilik hostel yang ia tinggali tersebut. Karena izin tinggalnya mau habis dan juga uangnya yang semakin menipis, akhirnya Nefertiti terpaksa harus meninggalkan surga kecilnya yang berisi kenyamanan dan ketenangan untuk kembali pada kehidupannya yang sesungguhnya, beserta masalah yang ia tinggalkan.

Bersama Theos, anak lelaki sang ibu pemilik hostel yang mengalami kekurangan dalam hal berbicara dan bersosialisasi dengan orang lain, Nefertiti ditemani hingga ke Athena. Secara mengejutkan selama perjalanan Theos membuka suara, bertanya tentang hal-hal yang menyentuh pribadi Nefertiti hingga bergulirlah cerita tentang masa lalu gadis itu yang dibaginya kepada Theos sepanjang perjalanan.

Nefertiti, seorang gadis yang terlahir dari keluarga seniman. Ayahnya seorang arsitek terkenal, sementara sang ibu adalah anak pelukis ternama di Indonesia. Sebagaimana kakeknya, ibunya pun mengikuti jejak itu. Lahir dari keluarga yang begitu kental dengan seni, membuat Titi merasa tertekan karena orangtuanya selama ini mengarahkannya untuk mencintai dunia seni, sementara Titi sendiri merasa tidak memiliki kemampuan itu. Ia buta nada sehingga tidak bisa bermain alat musik, juga tidak mempunyai kemampuan untuk melukis. Namun ketika ia merasa mencintai dunia tari, orangtuanya memasukkannya ke sanggar balet ternama di Jakarta. Perlahan-lahan Titi pun menyukai dunianya itu, meskipun dirinya menyadari bahwa ia tidak bisa menonjol dalam hal ini. Ia hanya bisa, namun tidak menjadi bintangnya.

Ketidakmenonjolannya dalam dunia seni inilah yang membuat Nefertiti merasa tidak dicintai oleh kedua orangtuanya terutama sang ibu. Ia merasa telah mengecewakan ibunya karena ia tidak mewarisi kemampuan seni secara menonjol. Titi merasa bahwa ibunya tidak mencintainya sebagaimana seorang ibu lain yang mencurahkan kasih sayangnya pada sang anak. Padahal Nefertiti adalah anak satu-satunya.

"Apa kau pernah coba melarikan diri dari rumah saat kecil?" tanya Nefertiti pada Theos.

Nefertiti pernah mencoba untuk melakukan itu saat usianya tiga belas tahun. Saat itu ada pertunjukan yang digelar sanggarnya dengan tajuk Swan Lake. Untuk menjadi pemeran utama, ia harus mengikuti audisi. Dan sesuai yang sudah diprediksi olehnya, Nefertiti tidak mendapatkan peran utama, melainkan hanya menjadi pemeran ketiga dari empat tokoh utama. Saat ia keluar untuk menampilkan pertunjukannya, yang ingin dilihatnya adalah wajah sang ibu, apakah ibunya akan memberikan apresiasi yang ia harapkan atau justru menampakkan kekecewaan.

Kenyataannya sang ibu mengabaikan dirinya, dan itu menghancurkan kehidupan gadis itu. Ia pergi meninggalkan rumahnya dan menuju ke satu-satunya tempat yang bisa dia tuju, yaitu ke rumah Mia. Mia adalah seorang gadis tuna rungu yang menjadi satu-satunya sahabat Titi, anak kampung di belakang kompleksnya. Bersama gadis itulah ia merasakan bagaimana rasanya dicintai dan dibutuhkan, sesuatu yang tidak pernah dirasakan Titi di rumahnya.

Selang waktu berjalan. gadis ini pun menjalani kehidupannya yang--menurut pendapat orang-orang kebanyakan--suram. Namun ia terus mengembangkan balet dan bersekolah di Berlin, meskipun ia merasa tidak dapat menjadi seorang penari balet yang menonjol yang menjadi bintang utama dalam setiap pertunjukan. Hingga suatu peristiwa yang begitu mengguncang hidupnya, dan membuat gadis ini harus melarikan diri hingga memilih untuk menenangkan diri ke Santorini.


Oliver adalah seorang anak lelaki yang tinggal di depan rumah Nefertiti. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Oliver telah memendam perasaan yang begitu dalam bahkan sejak mereka SMA. Menghilangnya Nefertiti dari kehidupan Oliver juga menjadi salah satu sebab Oliver berkuliah di Jerman, berharap dapat menemukan gadis itu di sana. Namun bukannya bertemu dengan Nefertiti, pemuda ini justru begitu akrab dengan ibunya yang juga berada di kota yang sama. Dari cerita ibunya itu, ternyata baru diketahui bahwa selama mereka berada di negara yang sama, keduanya tidak pernah bertemu sama sekali.

Apakah pada akhirnya mereka akan bertemu dan menguak cerita lain yang selama ini tidak pernah tersampaikan? Dan tokoh Brian yang hadir di antara mereka juga menambah sendu kisah mereka. Ini bukan hanya cerita cinta dua insan yang berbeda karakter dan kehidupan, melainkan juga kisah seorang ibu dan anak yang kompleks dan rumit. Tentang cinta yang tidak tersampaikan bahkan tidak mampu ditunjukkan. Juga persahabatan dalam ketidaksempurnaan, yang membuat mereka menyatu dalam sebuah kisah cinta yang manis dan universal.


***


Bintang lima. Saya cukup selektif dalam membaca novel apalagi karya penulis dalam negeri karena saya jarang menyukai--yang benar-benar menyukai--novel-novel dari penulis lokal. Namun di buku ini, saya bahkan sudah jatuh cinta pada halaman-halaman awal. Ada beberapa hal yang membuat saya senang membaca cerita ini, yaitu:

Pertama, karakter. Novel ini mempunyai dua sudut pandang yang berbeda, disajikan dalam versi Nefertiti dan Oliver. Saya bisa membedakan kedua karakter tersebut dan menyatu ke dalam deskripsi penulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepribadian keduanya yang bertolak belakang. Nevertiti yang intovert, pemurung, kelam, dan Oliver yang optimis dan tumbuh dari keluarga yang bahagia. Dalam imajinasi saya, saya bisa membayangkan bagaimana seorang Nefertiti tumbuh, merasakan perasaan-perasaannya dalam momen tertentu yang membuat saya terenyuh.

Kedua, jalan cerita. Saya suka cara penulis menyampaikan kisahnya di bab pertama. Tentang kisah flashback yang disajikan dalam selipan kisah beralur masa kini. Pada poin-poin tertentu saat cerita itu disuguhkan, menjadi kunci untuk membuka lembaran masa lalu si tokoh, sehingga membuat pembaca mengenal bagaimana seorang Nefertiti tumbuh dan berkembang beserta kisahnya yang membuat pilu. Begitu pula saat sudut pandang berubah menjadi Oliver, jalan cerita yang berganti lini masa membuat satu per satu kisah yang tersembunyi menjadi muncul ke permukaan.

Ketiga, setting. Saya harus mengakui, penulis memiliki kemampuan deskripsi setting yang mengagumkan. Cerita dengan latar luar negeri (dalam hal ini Santorini serta beberapa kota di Jerman) disajikan dengan begitu apik, deskripsinya detail, namun sama sekali tidak mengganggu cerita atau emosi sang tokoh yang tengah bercerita. Saya bahkan bisa merasa kalau tengah bersama dengan Titi saat menikmati deburan ombak di Santorini, atau ketika ia belajar naik sepeda di taman.

Selain itu, kehadiran tokoh-tokoh pendamping dalam cerita ini, membuat kisahnya kaya dan tidak hanya linier atau berfokus pada seputar penjabaran para tokoh-tokoh utama. Dan istimewanya, pada tokoh sampingan itu memiliki karakter yang kuat, tidak kalah dengan tokoh utama yang memiliki porsi plot dalam novel ini. Kehadiran mereka juga tidak mengganggu jalannya plot utama, justru menjadi pemanis dan pelengkap yang membuat ceritanya tidak monoton.

Satu lagi, sebuah cerita yang bagus selain mampu menggugah perasaan pembacanya hingga larut ke dalam universe yang dibangun oleh penulisnya, juga mampu membuat pembaca konsisten untuk menikmati setiap lembar demi lembar bukunya. Saya merasa kalau saya akan rugi jika membaca novel ini dengan skimming, karena ada banyak hal--terutama keindahan setting tempat--yang akan saya lewati.

Sebagaimana sebuah buku pasti memiliki kekurangan, novel ini pun tak luput dari itu. Ada beberapa hal yang rasanya bisa untuk digali lebih lanjut oleh penulis seperti tentang cerita Coppelina, atau kisah sang ibu semasa masih muda, atau tentang kepribadian INTJ, mengingat salah satu tokoh utamanya memiliki latar belakang psikologi. Pada cover belakang pun, yang dituliskan ternyata menyembunyikan poin utama dala kisahnya. Tapi tidak masalah, saya justru senang karena 'terjebak' oleh cerita perjuangan Oliver mencari kisah cintanya yang dipaparkan di covernya. Selain itu, kesalahan penulisan juga masih ada beberapa, meskipun tidak melebihi hitungan jari. Semoga novel ini banyak diminati dan banyak dicetak ulang sehingga kesalahan tersebut dapat diperbaiki.

Oleh karena kisah Nefertiti-Ibu, Nefertiti-Mia, dan Nefertiti-Oliver yang berhasil mengaduk-aduk perasaan saya, bintang lima bersinar terang untuk novelnya.

Bleu

Judul : Bleu
Penulis : Deasylawati P.
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 188 Halaman
ISBN : 9786020260518
Rating : 3 dari 5 





It was ok.

Saya menghabiskan buku ini dalam waktu yang singkat, secara umum bahasanya enak dan cukup mengalir. Berkisah tentang seorang perempuan bernama Rhys Biru Indriyani, yang bekerja sebagai editor dan penulis di sebuah kantor penerbitan bernama Tazkiya, dan pada mulanya mencintai temannya sendiri bernama Erfan Pratama, seorang pemuda tampan yang dengan kharismanya mampu menundukkan perempuan mana pun yang ia suka.

Sebenarnya, gayung pun bersambut, kedua insan ini saling jatuh cinta, namun entah mengapa justru hubungan yang rumit melanda keduanya. Mungkin karena ego, atau memang takdir tidak mempertemukan keduanya sebagai seorang pasangan. Karena sesuatu yang telah dilakukan Erfan dan itu melukai harga diri Rhys, membuatnya membenci pria itu. Tak lama Rhys menikah dengan orang lain, dan ini memberikan pukulan telak bagi Erfan hingga membuatnya menghilang dan pergi dari kehidupan gadis yang dicintainya.

Sampai pada peristiwa bertemunya kembali mereka enam tahun kemudian, dalam sebuah proyek untuk menggarap film dari novel yang diterbitkan oleh penerbit Tazkia. Keadaan sudah tidak sama lagi karena kondisi Rhys yang telah menjanda ditinggal pergi untuk selamanya oleh suaminya, namun bara kemarahan yang dulu sempat ada belum padam. Pertemuan pertama kembali itu masih menyisakan amarah dalam hati Rhys. Apalagi, Erfan hadir kembali tidak hanya untuk menjelaskan masalah yang belum teruraikan di masa lalu, melainkan dia juga menawarkan sebuah kehidupan baru bagi Rhys.


***


Jujur saja, cerita ini cukup klise, tentang cinta yang tidak menyatu karena takdir memang mengatakan demikian. Seolah mengajarkan manusia bahwa seberapa inginnya kita terhadap sesuatu, tidak selamanya keinginan itu dapat terwujud karena takdir yang sudah disiapkan kepada manusia jauh lebih indah. 

Meskipun tida ada embel-embel 'religi' dalam keterangan novel, saya yakin dengan penyajian covernya yang menggambarkan seorang perempuan berhijab, pembaca novel ini pun akan kesortir dengan sendirinya sehingga, segmentasi pembaca pada novel ini jadi menyempit. Saya tidak mengatakan ini kurang oke, meskipun jadinya (karena saya yakin bahwa ada tujuan syiar dalam penggarapan novelnya) sasaran tuju syiarnya jadi terbatas pada kalangan sendiri. Dan ketika pun saya memosisikan diri sebagai 'pembaca awam' di sini, kesannya saat membaca novel ini seolah seperti saya sedang diceramahi, hehehe. Bukan berarti itu kurang bagus, hanya saja, memberikan informasi berupa 'ini lho yang bener itu gini' menjadi kurang tercerna dengan baik. Saya lebih akan larut dan terhanyut dalam plot cerita ketika saya bisa mengubah persepsi dari 'pembaca luar' atau orang luar yang tidak terlibat dalam cerita, menjadi 'pelaku cerita' atau saya yang terseret arus dan merasa seolah-olah emosi dan persepsi saya larut jadi satu dengan plot cerita. Dan membaca buku ini, persepsi saya masih menjadi sebagai 'orang luar'. Mungkin karena kesan 'eksklusif' dari konten novel ini yang masih terasa sehingga, ketika saya memosisikan diri sebagai orang luar yang membaca, membuat perasaan 'diceramahi' itu cukup kerasa. Tapi sejauh ini, informasi dan pesan hikmah dari buku ini bagus sekali meskipun sampai atau tidaknya pesan itu dikembalikan lagi kepada para pembaca. 

Ceritanya pun hanya berfokus pada Rhys-Erfan. Seandainya penulis menggali tema lain, tentu akan memperkaya novel ini dan juga memberikan bonus pengetahuan bagi pembaca. Misalnya, bisa saja penulis mengayakan materinya dengan menggali seputar latar belakang pekerjaan si tokoh utama, atau menambahkan setting tempat sehingga pembaca tidak terfokus hanya pada kisah cinta si pelakunya saja.

Good luck buat penulisnya, dan tetap terus berkarya.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)