Showing posts with label favorite. Show all posts
Showing posts with label favorite. Show all posts

The Puppeteer


Judul : The Puppeteer
Penulis : Jostein Gaarder 
Penerbit : Mizan
Tebal Buku : 352 Halaman
Cetakan Pertama, September 2017
(versi bahasa asli, terbit perdana Maret 2016)
ISBN : 9786024410247
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Jakop Jacobsen namanya. Pria biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Teman terdekatnya adalah Pelle Skrindo, bajak laut yang suka datang dan pergi sesukanya. Hobinya adalah menghadiri pemakaman, dan sahabat pena tersayangnya adalah Agnes. Kepada Agnes, dia mengisahkan berbagai pemakaman yang dia ikuti, juga kesan-kesan tentang keluarga para almarhum.

Jakop hidup sendiri. Dia senang berbagi kisah. Sayang, dia hanya punya Pelle sebagai teman berbagi. Tetapi, Pelle lebih sering membantahnya daripada mendengarkannya. Karena itu, Jakop suka menghadiri pemakaman, berbagi emosi sesaat dengan keluarga yang berduka, meski dia harus mengarang kebohongan tentang bagaimana dia mengenal para almarhum. Tapi akhirnya, dia ketemu batunya. Keberadaan Agnes pada saat dia menghadiri suatu pemakaman membuatnya tak lagi bisa mengarang kisah dusta. Demi mempertahankan koneksi dengan Agnes, Jakop harus menguak siapa dirinya sebenarnya. Sanggupkah Jakop? 

The Puppeteer, karya terbaru Jostein Gaarder, mengajak pembacanya merenung tentang kesendirian, pertemanan, serta tentang mencari tempat dan tujuan dalam kehidupan di dunia ini. Mengharukan dan menggugah empati.

***

Catatan: Mungkin akan spoiler, karena saya tidak tahu harus menuliskan apa selain kesedihan Jakop yang menyayat hati itu (dan itu termasuk bagian yang mungkin bakal spoiler dalam kisah ini).

Jakop adalah seorang pria yang bisa dikatakan kesepian. Dalam sepinya, dia memiliki teman bernama Pelle. Dia juga memiliki kebiasaan unik mengikuti prosesi pemakaman. Kebiasaan itu bermula dari kegiatan isengnya untuk menghadiri pemakaman yang diumumkan di surat kabar. Betapa dia menikmati atmosfer berkumpulnya keluarga besar saat adanya kematian. Orang yang akan mengenang mendiang, banyak yang datang memberikan penghormatan. Semua itu tidaklah didapatkan Jakop dalam hidupnya. Dia lahir dan dibesarkan oleh seorang ibu, dengan ayah yang hanya datang sesekali. Pergunjingan orang-orang di desanya berlangsung lama. Tidak hanya seputar ayahnya dan status perkawinan ibunya yang tidak jelas itu. Saat kecil, Jakop suka bermonolog dengan Pelle, yang adalah sebuah boneka tangan. Dengan Pelle, Jakob bisa mengeluarkan isi hatinya yang tak bisa dilisankan olehnya sendiri. Saat remaja, dua orang gadis menangkap basah dirinya yang sedang ngomong dengan boneka, dan berita itu tersebar luas hingga Jakop harus menahan diri dari upaya pembullyan terhadapnya.

Namun, Jakop hidup dengan pembuktian bahwa dirinya akan sukses. Dia menjadi seorang guru dengan minat yang besar terhadap hubungan kekerabatan antara suatu kata dari berbagai bahasa. Minatnya berkembang sejalan dengan risetnya terhadap orang-orang yang ditakziyahinya. Jakop perlu mengaitkan dirinya dengan mendiang, makanya dia perlu memiliki hubungan yang bisa dikarangnya terhadap orang tersebut. Dia juga membuat dokumentasi atau semacam arsip pribadi tentang orang-orang yang dikunjunginya, yang dia dapatkan dari iklan koran. Jakop meletakkan potongan koran itu di dalam kotak cerutu yang disimpannya di lemari kamar.

Kesendirian bisa terasa sepi bagi orang yang menjalaninya. Namun menurutku, itu lebih baik daripada hidup dalam keberduaan. Kalau orang hidup sendiri, setidaknya dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Aku membayangkan bahwa kebebasan lebih mudah hidup dalam keluarga besar ketimbang dalam perkawinan yang sempit. ---halaman 188

Jakop pernah menikah, hanya saja pernikahannya tidak berlangsung lama. Sang istri tidak dapat menerima perilaku Jakop yang tidak biasa. Pada akhirnya, Jakop kembali sendiri dan menjalani kebiasaannya berdialog dengan Pelle dan menghadiri pemakaman. Jakop sudah menyiapkan argumentasi andai saja ada yang bertanya tentang hubungannya dengan sang mendiang. Hanya saja, epandai-pandainya tupai melompat, ada kalanya tergelincir juga. Jakop terpaksa menelan pil pahit kebohongannya saat Agnes, adik bungsu salah satu orang meninggal yang ditakiziyahinya membongkar kebohongan itu. Ada satu fakta yang luput dari perhatian Jakop yang tak dapat dielakkan dari kisah fiktifnya itu.

Kepada Agnes, Jakop menuliskan surat panjang tentang kisah hidupnya, rahasia kelamnya, dan kebiasaan unik Jakop saat menghadiri pemakaman demi pemakaman dalam hidupnya.

"Sekarang aku mengerti. Aku tidak sanggup lagi membayangkan menjadi tamu tak diundang dalam kehidupan orang lain." ---halaman 316

***

Seperti halnya ciri khas tulisan Gaarder, di sini saya menemukan konsep surat seperti yang muncul pada beberapa judul novel sebelumnya, seperti pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken atau Gadis Jeruk. Saya juga masih merasakan keprihatinan mendalam Gaarder pada kerusakan lingkungan, yang masih muncul meskipun sekilas di buku ini. (Tema itu menjadi perhatian Gaarder pada novelnya yang berjudul Dunia Anna yang menceritakan tentang pemanasan global, juga pada Maya.)

Menyenangkan rasanya, mengikuti tulisan Gaarder lintas waktu, dari mulai membaca novelnya yang ber-setting 1998 (era sebelum milenium), hingga masa sekarang di mana tokohnya menggunakan Instagram. Menyimak dongeng filsafatnya yang indah sejak Gadis Jeruk hingga The Puppeteer. Saya senang dengan bukunya, merangkai banyak sekali makna dan pengetahuan baru. Menggugah naluri, tak jarang mengubah cara pandang dan persepsi. Apalagi, dalam buku ini, mengangkat tema tentang seorang "dalang", atau "penggerak" cerita. Sebuah tema yang sangat dekat dengan saya pribadi. Beberapa tahun terakhir, saya adalah seorang Puppet Master, alias penggerak suatu karakter dalam dunia role-playing.

Aku tidak pernah meragukan bahwa Pelle sendirilah yang berbicara saat kami bercakap-cakap. Dia cuma harus meminjam suaraku. ---halaman 153

Meskipun berbeda dengan permainan yang dilakoni Jakop dan Pelle Skrindo, tapi esensi dunia role-playing tetap sama. Seseorang (di dunia nyata) memberikan jiwa, pikiran, dan hatinya pada sebentuk benda mati. Tak jarang, tokoh fiksi itu menggerogoti bahkan merusak kehidupan nyata si dalang atau si penggerak. Hanya saja, dalam kesendiriannya yang memilukan, Jakop terjerumus dalam dunia yang dikarangnya terlalu dalam, hingga ia bahkan mengorbankan kehidupan nyatanya. Dalam sekali buku ini berpengaruh bagi saya.

Kenapa tidak bintang lima seperti kebanyakan buku Gaarder lainnya? Ada sedikit kebingungan memahami permainan Jakop dan kegemarannya dalam mengaitkan "keluarga" makna sebuah kata, di mana, barangkali, akan sangat menyenangkan jika saya bisa memahaminya dalam bahasa ibu Gaarder. Saya angkat topi dengan kemampuan penerjemah dalam menerjemahkan naskah ini. Pasti sulit, mengingat kontennya menurut saya kurang "bersahabat" dengan bahasa lokal atau bahasa yang menjadi terjemahannya. Namun, meskipun kesulitan dan kebingungan, saya masih dapat menangkap makna dan maksud dari apa yang disampaikan Gaarder pada tokohnya.

Sehat-sehat terus, Opa, supaya bisa terus berkarya. Saya menantikan buku-buku Gaarder selanjutnya.

Falling into Places

Judul : Falling into Places
Penulis : Amy Zhang 
Penerbit : POP
Tebal Buku : 327 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2016
(versi bahasa asli, terbit perdana September 2014)
ISBN : 9786024241995
Rating : 5 dari 5




Blurb:

Di hari ketika Liz Emerson mencoba bunuh diri, Hukum Gerak Newton dibahas di kelas Fisika. Kelembaman, gaya, massa, gravitasi, kecepatan, percepatan... semua itu belum masuk benar ke kepalanya, tetapi seusai sekolah Liz mempraktikkan hukum-hukum itu dengan melajukan mobilnya ke luar jalan raya.

Kini Liz terbaring sekarat di rumah sakit, dan dia bisa meninggal kapan saja. Seperti halnya Liz tidak memahami Hukum Gerak Newton, orang-orang juga tidak memahami kenapa kejadian nahas ini menimpa Liz Emerson, gadis paling populer dan paling tangguh di Meridian. Tetapi aku paham. Aku bersamanya sewaktu mobil menabrak pagar pembatas jalan dan berakhir di dasar bukit. Aku paham kenapa kami jatuh bebas di tempat itu di minggu ketiga bulan Januari. Aku tahu alasan Liz mengakhiri hidupnya. Aku paham kesedihan yang dialami Liz, alangkah kesepiannya dia dan betapa hancur hatinya.

Setiap aksi menghasilkan reaksi. Namun Liz Emerson tidak perlu lenyap dari dunia ini, bukan? 

***

Amy Zhang benar-benar menerapkan konsep Hukum III Newton saat menuliskan buku ini; hukum sebab-akibat. "Setiap aksi menghasilkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah."

Sewaktu membaca paragraf awal buku ini, saya sudah disuguhkan dengan pembukaan spektakuler seperti ini:

Di hari ketika Liz Emerson mencoba bunuh diri, Hukum Gerak Newton dibahas di kelas Fisika. Kemudian, seusai sekolah, Liz mempraktikkan hukum-hukum itu dengan melajukan Mercedes-nya ke luar jalan raya.

Setelahnya, upaya evakuasi dan penyelamatan Liz disampaikan dengan teknik show yang memikat, meninggalkan kesan nyata beserta kepanikan, ketakutan, kecemasan, yang mengikutinya. Bagaimana nasib Liz? Apakah upayanya mengakhiri hidup bakal berhasil? Atau justru dia masih akan hidup lebih lama lagi? Yang jelas, sebuah panggilan telepon ke kantor polisi berhasil mencegah keadaan menjadi semakin fatal. Meskipun, berada di antara hidup dan mati dengan keyakinan untuk bertahan yang setipis kulit ari, rasanya menyedihkan.

Alur cerita bergerak maju dan mundur dengan penceritaan yang menarik, menguak sisi kehidupan Liz seolah seperti mengupas bawang. Pembaca dibawa mengenal Liz Emerson, seorang pelajar populer di Meridian, sosok yang dinilai sempurna oleh kawan-kawannya. Pembangkang, penguasa, dan segala hal sematan lainnya yang membuat Liz dan kedua temannya, Julia, dan Kennie, menjadi dikenal seantero sekolah. Apa yang membuat Liz memutuskan bunuh diri? Kesepian. Bagaimana Liz bisa merasa kesepian jika dia dikelilingi oleh sahabat yang menyayanginya, dan Liz sering berpindah dari satu keramaian ke keramaian lain? Satu pesta ke pesta lainnya? Mengapa Liz bisa memutuskan mengakhiri hidupnya hanya karena perkara se-"cemen" kesepian? Barangkali itulah yang ingin disampaikan penulis kepada karakternya. Bahwa pembaca seolah dibawa untuk "menghakimi" karakter Liz yang seperti itu. 

Namun, ketika pembaca dibawa untuk mengenal Liz lebih dalam, tentang peristiwa-peristiwa yang mengguncang kehidupannya, Liz yang semena-mena berubah menjadi Liz yang lain, sosok yang selama ini ditutupinya, yang tidak ingin diketahui orang lain. Hukum sebab-akibat membentuk Liz menjadi dirinya sekarang. Cerita tentang mendiang ayahnya, seorang teman masa kecil korban perisakan yang turut membentuk karakternya, apa yang terjadi dengan orang-orang dekatnya, pada kedua sahabatnya, dan banyak kisah-kisah lainnya. Seorang yang terlihat cerita, bahagia, tapi jiwanya kosong. Dia kesepian, dan malangnya, pembaca dapat turut merasakan bagaimana Liz menjalani kehidupannya dalam sepi. Bahkan dalam setiap keputusan-keputusan yang dipikirkannya, ada gejolak yang bisa dirasakan pembaca saat menyelami kisah Liz.

Sampai pada akhirnya, Liz merasa bahwa dirinya tidak pantas berada di atas bumi dengan milyaran manusia baik lainnya. Semua perilakunya seolah menggema di dalam isi kepalanya. Segala yang terjadi atas campur tangannya muncul dalam kesepian-kesepian yang mencekamnya itu. 

Liz tidak menyadari bahwa reaksi yang sama besar dan berlawanan arah adalah ini: setiap perbuatan kejam, jahat, dan dengki yang pernah Liz lakukan terpental kembali kepadanya.

Padahal, hidup tidak sesederhana itu. Bahwa banyak hal yang terjadi, bahkan lebih rumit ketimbang penjelasan tentang hubungan sebab-akibat yang muncul di sana.

Saya acungkan jempol dengan kepiawaian penulis dalam menceritakan kisahnya. Saya bahkan enggan membaca buku ini sepintas lalu. Karena setiap paragrafnya benar-benar berisi, hingga sayang untuk melewatkannya begitu saja. Cara penulisannya mengajarkan saya bagaimana mengolah cerita dengan teknik show yang baik. Semuanya bermakna. Apalagi, menjelaskan sebuah cerita remaja (yang bahkan nggak suka-suka amat sama Fisika) dengan bumbu teori Fisika tentang Hukum Gerak Newton. Penulis bahkan membagi bukunya (secara tidak langsung) dalam tiga tahapan. Yang pertama, tentang Hukum I Newton:

Benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan konstan, kecuali ada gaya luar yang bekerja padanya.

Ini merujuk pada keadaan konstan dalam hidup Liz, yang berkaitan dengan hukum kelembaman, atau keadaan menolak perubahan. Lalu beranjak pada Hukum II Newton:

Gaya sama dengan laju perubahan momentum dibagi perubahan waktu. Untuk massa tetap, gaya sama dengan massa dikali percepatan.

Menjelaskan keadaan Liz, di mana dia berupaya untuk melakukan "sesuatu" sebagai upaya menghilangkan dirinya, dan kejahatan atas tangannya. Sayangnya Liz melakukan sesuatu yang salah. Dan yang terakhir, Hukum III Newton:

Setiap aksi menghasilkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah.

Bahwa secara kasatmata, sesuatu erat kaitannya dengan hukum sebab-akibat. Meskipun begitu, Mr. Eliezer memberikan sebuah kalimat penutup dalam sesi mengajarnya: 

"Hidup ini lebih dari sekadar sebab dan akibat."

Liz perlu tahu itu.

Terlepas dari erat kaitannya novel ini dengan Fisika, sesuatu yang menjalin love hate relationship dengan saya, buku ini SANGAT bagus! Disajikan dengan sudut pandang tak biasa (yang mengingatkanku pada film Inside Out), alur maju-mundur yang apik dan mengesankan, serta berhasil membawa pembaca merasa dekat dengan perasaan para tokohnya. (Apalagi ada fisika-fisikanya kan ya, jadi makin jatuh hati dengan buku ini! Dan yah, kapan lagi saya bikin ulasan sambil nyerempet-nyerempet bahas Hukum Newton kan yaaa XD) Bintang lima untuk bukunya! Kalau perlu, pinjam bintang tetangga buat nambahin lagi bintangnya =))

Saya jadi kepingin balik ke masa SMA kalau guru Fisikanya seperti Mr. Eliezer ini :D Dan juga kepingin dengar cerita tentang Liam lebih banyak lagi! (Siapa itu Liam? Baca saja buku ini untuk menemukan jawabannya ;) 

Orbit Tiga Mimpi

Judul : Orbit Tiga Mimpi
Penulis : Miranda Malonka 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 380 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2017
ISBN : 9786020332048
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Alejandro, terobsesi dengan benda-benda angkasa dan bertekad menang olimpiade astronomi. Tapi, bagaimana dia bisa menang kalau pelajaran matematika justru membuatnya merana? Asterion, vokalis band yang selalu cerah ceria dan tidak pernah menangis. Tak ada yang tahu dia menyembunyikan banyak rahasia di balik suara merdunya. Angkara, senang menghabiskan waktu untuk merenung dan menulis puisi tentang bintang-bintang. Tapi, seluruh dunia ingin dia mengubah gaya menulisnya. Ketiga orang yang sangat berbeda ini dipersatukan oleh kelompok belajar yang dipilih sesuai urutan absensi kelas. Meski awalnya canggung, ketiganya menemukan diri mereka mengorbit satu sama lain. Namun, ketika perasaan saling suka melesat bagai meteor, ditambah keresahan atas identitas diri, akankah orbit mereka terus berputar atau malah hancur lebur?

***

Saya membaca novel karya Miranda Malonka sebelumnya, yaitu Sylvia's Letters, dan saya menyukainya. Gaya penceritaan di Sylvia's Letters yang tidak biasa dan jalan cerita memukau, membuat saya mengatakan bahwa ingin membaca karya lain penulis, yang penyampaian ceritanya tidak melalui media surat. Orbit Tiga Mimpi menjawab rasa penasaran saya, apakah saya bakal menikmati karya Miranda Malonka jika disajikan dengan gaya penceritaan yang normal. Hasilnya, saya suka dan puas dengan buku ini.

Orbit Tiga Mimpi menyajikan premis yang mirip dengan novel yang pernah saya baca sebelumnya, berjudul Starlight. Tanpa bermaksud membandingkan karena memang setiap buku memiliki kisahnya masing-masing, tapi kedua novel remaja ini mempunyai kisah yang sama. Tentang kesukaan dengan dunia astronomi, dan tokohnya disatukan oleh tugas kelompok. Alejandro si cowok satu-satunya dalam kelompok itu, berbagi kisah dengan Angkara alias Kara, yang mulanya dikira seorang anak laki-laki tapi ternyata perempuan, dan teman duduknya. Mereka juga berteman dengan Asterion, seorang anak perempuan lainnya, yang dari namanya saja sudah memikat Ale. 

Ketiganya memiliki mimpi. Ale dengan kecintaannya pada dunia astronomi (tapi tidak pandai matematika) dan biologi, Angkara yang memiliki kesukaan dengan puisi bertemakan alam semesta, dan Asterion yang pandai bernyanyi. Mereka mengorbit bersama, saling menggapai mimpi. Hanya saja, ketika perasaan bercampur-baur dengan persahabatan, tidak selamanya planet mereka berputar dan mengorbit.

***

"Manusia memang aneh banget. Mereka membuat rencana-rencana seolah hidup ini akan berlangsung selamanya." ---halaman 127


Saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan novel ini. Disajikan oleh tiga sudut pandang yang berbeda, menggunakan orang pertama, membuat kisahnya dalam. Kita diajak mengintip isi kepala tiga tokohnya yang berbeda, tapi mempunyai benang merah yang sama. Ketiga karakternya menarik, dan tidak biasa. Ale yang senang mengamati dunia makroskopis dan mikroskopis, lalu Kara yang suka menulis tapi dihadapkan realita bahwa dia tidak bisa selalu menuliskan apa yang diinginkannya saja. Aster dengan segala permasalahan berkaitan dengan keluarga dan hal-hal aneh dalam hidupnya. Mereka kian dekat, untuk membuktikan pada siapa seharusnya cerita cinta ini tertambat. Lalu tentang jati diri, pencarian makna hidup, dan masa depan. Tidak selamanya tiga planet akan mengorbit bersama.

Saya pernah membaca tulisan Miranda Malonka tentang dia yang lebih senang menuliskan setting tempat secara abstrak. Seperti saat menuliskan Sylvia's Letters dia tidak menyebutkan settingnya, meskipun nuansa kota Jakarta kental di sana. Ternyata, pola serupa diterapkannya di sini. Selama membacanya, saya jadi menerka-nerka, kota manakah yang menjadi latar cerita ini. WITA, dekat pantai, langitnya bisa dengan mudah melihat bintang. Terlebih, ibu Ale yang berdarah Spanyol. Apakah setting-nya di Bali? Saya menebaknya demikian. Membuat cerita berlatar samar begini, sebenarnya membuat pembaca mengimajinasikan sendiri di mana atau bagaimana suasana yang dibangun. Bagi saya tidak masalah, justru bagian menebak-nebaknya itu yang seru.

Secara keseluruhan, kisah ini bagus. Apalagi perlakuan Ale yang memberikan hadiah tak terduga oleh siapa pun itu, benar-benar mengejutkan dan di luar kotak. Juga tentang pemberian seseorang yang ternyata dipakai untuk melihat sesuatu dengan orang yang bukan dia (ini kalau saya deskripsikan secara detail tentu akan spoiler sekali), bikin nyesek. Duh, jadi ingat bagaimana pertama kali merasakan naksir seseorang, melakukan apa pun demi menyenangkan orang yang kita sukai, lalu patah hati karenanya.

"Dengan beitu kita bisa belajar bahwa dunia ini nggak berhenti berputar untuk menontonmu menangis dan meratap. Juga, kita nggak akan bisa memaksa dunia menghapus air matamu dan mengasihanimu." ---halaman 140

The Storied Life of A.J. Fikry

Judul : The Storied Life of A.J. Fikry --- Kisah Hidup A.J. Fikry
Penulis : Gabrielle Zevin 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 280 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2017
(versi bahasa asli: Desember 2014)
ISBN : 9786020375916
Rating : 4 dari 5





Blurb:

"Manusia tidak bisa hidup sendiri; setiap buku membuka jendela dunia." 

Hidup A.J. Fikry jauh dari yang diharapkannya. Istrinya meninggal, penjualan di toko bukunya merosot tajam, dan hartanya yang paling berharga, koleksi puisi Poe yang langka, baru saja hilang dicuri. Pelan tapi pasti, A.J. menjauhkan diri dari semua orang di Pulau Alice. Bahkan ia tak lagi menemukan kegembiraan dari buku-buku di tokonya. Ia malah menganggap buku-buku itu sekadar penanda bahwa dunia telah berubah begitu cepat. Tetapi kemudian sebuah paket misterius muncul di tokonya. Paket itu kecil, meski bobotnya lumayan. Kemunculannya memberi A.J. kesempatan untuk membuat hidupnya lebih baik dan melihat semua hal dengan perspektif berbeda. Tak butuh waktu lama bagi orang-orang di sekitar A.J. untuk menyadari perubahan dalam dirinya. Ia tak lagi pahit, buku kembali menjadi dunianya, dan semua hal berubah menjadi sesuatu yang tak ia duga akan terjadi dalam hidupnya.

***

Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian. Kita tidak sendirian. ---halaman 263

A.J. Fikry adalah pria paruh baya pemilik satu-satunya toko buku di pulau tempatnya tinggal. Sejak peristiwa meninggalnya sang istri setelah mengantarkan penulis selepas acara jumpa penulis di toko bukunya. Setelah itu, kehidupannya berantakan. A.J. menjadi pria sinis yang pernah berlaku tidak sopan kepada seorang wanita dari penerbitan yang membawakan katalog buku milik perusahaannya. A.J. suka meminum minuman keras yang suatu hari akan disesalinya. Ia kehilangan buku langka milik Edgar Allan Poe saat sedang mabuk. Buku itu diperkirakan harganya lebih mahal dari seluruh buku yang dijualnya.

Ada yang datang, ada yang pergi. Setelah peristiwa kehilangan yang menggegerkan tersebut, A.J. kedatangan sesuatu yang misterius di toko bukunya; seorang bayi. Keesokan harinya, kepolisian menemukan jasad seorang wanita muda di mercusuar yang disinyalir adalah ibu dari bayi tersebut. Ia bernama Maya. Dan kehadiran Maya dalam kehidupan A.J., menjadikan hidupnya lebih berwarna, dan lebih baik lagi. Dengan adanya Maya, A.J. yang semula pesimistis dan seorang yang membosankan, menjadi lebih terbuka. A.J. jadi akrab dengan seorang opsir polisi di pulau itu, yang kemudian menjadi teman baiknya. Dan pada akhirnya terhubung dengan wanita yang mengisi lembaran kisah percintaannya.

Yang menarik dari kisah ini, bukan hanya suguhan plotnya yang tidak biasa dan mengejutkan. Namun, mengikuti keseharian hidup A.J. sebagai seorang pencinta buku, dengan toko buku yang dikelolanya, justru menambah kesan terhadap novel ini. Tentang mengapa pada akhirnya ia memutuskan menjadi pengelola toko buku kecil, lalu pandangannya terhadap buku-buku (yang menjadi penanda awal babak dalam buku ini), dan masih banyak lagi. Lalu, ada pula yang menarik, ketika A.J. menilai seseorang berdasarkan buku:

"Jika Jenny itu buku, ia adalah buku paperback yang baru saja dikeluarkan dari kardus--tidak ada halaman yang dilipat sebagai penanda, tidak ada bekas air di halamannya, tidak ada garis tanda pernah dibuka di punggung buku. A.J. lebih menyukai pekerja sosial yang tampak berpengalaman. Ia membayangkan sinopsis di belakang kisah Jenny: saat Jenny yang penuh semangat dari Fairfield, Connecticut, menerima pekerjaan sebagai pekerja sosial di kota besar, dia tidak tahu dunia seperti apa yang dimasukinya" ---halaman 69

Atau, kalimat yang diberikan A.J. saat melamar wanita yang dicintainya:

"Aku bisa menjanjikanmu buku, percakapan, dan hatiku seutuhnya." ---halaman 165

Buku ini menjadi menarik, mungkin karena sebagai pembaca yang mempunyai kesukaan yang sama dengan para tokohnya, saya jadi merasa konek dan sepakat dengan beberapa pernyataan sang tokoh dalam kisah ini. Contohnya, misalnya, saat Amelia Loman berkencan dengan seorang pria, dan ia menanyakan buku apa yang memengaruhi kehidupannya. Pria itu menjawab, "Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi bagian II." Dari sana Amelia bisa menyimpulkan bahwa pria itu tidak menyukai sastra. Bagaimana ia bisa hidup dengan seseorang yang tidak memiliki kesamaan dengannya? Mungkin ini kedengarannya skeptis, tapi saya masih bisa menemukan korelasinya dengan Amelia. Bayangan tentang menghabiskn waktu dengan seseorang yang tak memiliki pandangan yang sama dengan kita itu cukup menggelitik dan mengusik. Lalu, bagaimana jika kita disodorkan pada dua pilihan, yang pertama adalah orang yang sama sekali berbeda, dan memiliki kegemaran yang tidak sama. Lalu, muncul orang kedua yang punya minat sama dan visi yang sama dengan kita, meskipun ia tak sempurna dan bahkan jauh dari kata sempurna. Saya bisa memahami kegalauan si tokoh yang pada akhirnya bisa mengerti jalan yang ia pilih.

Selain kisahnya yang indah, sangat berkorelasi dengan kehidupan para pencinta buku, buku ini juga teman belajar menulis yang baik. Sebagai guru, penulis tidak hanya memberitahu bagaimana cara menulis, tapi juga langsung mempraktikkannya dengan menyuguhkan sebuah kisah yang dapat diambil pelajarannya, baik secara harfiah, maupun pelajaran moral dalam isi ceritanya. Buku ini sangat direkomendasikan karena segala-galanya indah dan menarik.

Menyenangkan sekali membaca kisah yang mana para tokohnya dipersatukan oleh buku. Bahkan, menunjukkan perasaan pada seseorang pun, dengan kalimat yang "buku sekali".

"Sudah bertahun-tahun aku melihatmu di rak. Aku sudah membaca sinopsis dan kutipannya di bagian belakang." ---halaman 291




Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Judul : Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto---The Magic Strings of Frankie Presto
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 576 Halaman
Cetakan Pertama, September 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, November 2012) 
ISBN : 978602033809
Rating : 4 dari 5


Dalam hidup ini setiap orang bergabung dengan band. Dengan satu atau cara lain, band itu pun bubar. ---halaman 141

***
Blurb:

Semua manusia berbakat musik. Jika tidak, mengapa Tuhan memberimu jantung yang berdenyut?

Melalui kecintaannya pada musik, Mitch Albom menyusun novel indah tentang pengaruh bakat dalam mengubah hidup manusia.

Inilah kisah epik tentang Frankie Presto––gitaris paling hebat yang pernah ada––dan enam kehidupan yang diubah melalui enam dawai biru gitarnya.

Frankie lahir di gereja yang terbakar, bayi yatim-piatu yang dididik oleh seorang guru musik di kota kecil di Spanyol. Perang menghancurkan hidupnya, dan pada usia sembilan tahun dia diselundupkan ke Amerika di dalam perahu. Harta Frankie satu-satunya adalah gitar tua dan enam dawai berharga. Frankie merambahi khasanah musik tahun 1940, 1950, dan 1960-an dengan bakatnya yang luar biasa sebagai gitaris dan penyanyi yang memengaruhi bintang-bintang pada zaman itu, (Duke Ellington, Hank Williams, Elvis Presley), sampai akhirnya dia pun menjadi bintang tenar.

Namun bakat luar biasa ini juga menjadi beban ketika Frankie menyadari petikan gitarnya, musiknya, dapat memengaruhi kehidupan orang-orang lain. Pada puncak ketenarannya, dia membuat satu kesalahan, dan merasa bersalah. Dia menghilang. Legendanya berkembang. Berpuluh tahun kemudian, setelah hatinya pulih, dia muncul kembali untuk mengubah satu kehidupan terakhir.

Dalam buku ini, Musik menjadi sang Narator, dan melalui tutur katanya kita diajak melongok ke dalam banyak kehidupan yang diubah oleh sang gitaris yang dawai-dawainya sanggup menyentuh jiwa musik di dalam diri kita semua.

***



Frankie Presto kecil lahir di sebuah gereja ketika sebuah pergolakan terjadi di sana. Suara pertama yang didengarnya adalah nyanyian sang ibu, yang begitu melekat di alam bawah sadar Frankie. Perjalanan hidupnya tidak mulus. Ia pernah dibuang di sungai dan ditemukan oleh seorang pria yang menjadi ayahnya. Namun, matanya nyaris buta karena terkena air sungai yang asin semasa bayinya. Sang ayah merasa khawatir dengan masa depan anaknya itu. Ayahnya lalu ingat dengan seorang pemusik buta yang pernah ditemuinya di suatu tempat. Maka ayahnya memutuskan untuk mengajarkan sang anak tentang musik agar setidaknya, jika ia nantinya tidak dapat melihat, ia punya bekal untuk menghadapi masa depannya.

Bersama Maestro sang guru, Frankie memiliki kisahnya sendiri. Ia belajar banyak hal tentang musik pada gurunya itu. Ia yang memiliki bakat bermusik alami, menjadi semakin terasah dan bahkan bisa dikatakan mahir. Namun sayang, pertemuan itu tidak bisa berlangsung selamanya. Ia harus menjalani kehidupan berat berpindah negara dan mencari uang dari bermusik. Ia bertemu dengan banyak orang yang berarti dalam kehidupannya; orang yang dicintainya, musisi terkenal, orang-orang yang mengubah hidupnya, sebelum Frankie menapaki jalan kesuksesan yang gilang-gemilang dalam sejarah musik dunia.

Namun, sebuah kesalahan dilakukannya dan itu membuat Frankie harus membayar mahal kehidupannya. Jika orang lain menganggap popularitas dan harta adalah tujuan utama dalam kesuksesan, kau harus melihatnya dari sudut pandang Frankie untuk memahami tenang makna kebahagiaan. 

***

Dalam hidup ini setiap orang bergabung dengan band. Beberapa dari antaranya menghancurkan hatimu. ---halaman 524

Ini adalah perjalanan panjang kisah seorang Frankie Presto sejak ia lahir hingga meninggal. Buku kedua yang saya baca tentang seseorang dengan rentang yang begitu panjang yang mengisahkan cerita kehidupannya, setelah And The Mountains Echoed. Buku setebal 576 halaman ini saya baca versi ebook-nya meskipun saya punya buku fisiknya. Saat sudah memasuki bab akhir, tab saya ketinggalan di tempat kerja dan akhirnya saya membuka plastik pembungkus buku cetak dan melanjutkan baca di sana. Hahaha. Itu dia sekelumit cerita tentang proses membacanya.

Nah, sekarang, saya akan cerita tentang isi buku ini.

Yang unik dari kisah ini adalah, kisah utamanya diceritakan oleh sudut pandang Musik. Ya, musik yang bercerita tentang bagaimana ia menemukan bakat dirinya pada sosok Frankie. Ia pula yang memiliki kisah detail kehidupan Frankie bahkan sebelum Frankie lahir ke dunia. Selain oleh Musik, kisah ini pun terjadi dari beragam sudut pandang orang-orang yang mengenal Frankie, dan yang hidupnya berubah karena Frankie. Disajikan sepotong demi sepotong dengan setting sebelum pemakaman Frankie berlangsung, membuat konten cerita tentang kehidupan si tokoh utama ini tersaji dengan utuh. Dengan berbagai dimensi persepsi tentang eksistensi Frankie dalam hidupnya.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian yang diwakili oleh enam dawai ajaib Frankie Presto yang diberikan gurunya sebelum mereka berpisah. Dawai ini berubah menjadi biru pada waktu-waktu penting dalam hidupnya. Dan setiap ia menemukan hal tersebut, satu babak dalam kehidupannya selesai.

Seperti halnya novel-novel Mitch Albom lainnya, Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto ini menyuguhkan banyak sekali perjalanan hidup yang bisa kita tuai maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tersaji dalam hubungan Frankie denga tokoh-tokoh yang lain. Kisah Frankie dan sang Maestro, guru bermusiknya, memberikan semangat dan kisah tentang menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya meskipun kau mengalami keterbatasan. Obrolan-obrolan mereka sarat makna, yang berhasil menyentuh hati para pembacanya.

"Dengar Francisco. Kaupikir aku ingin hidup dalam kegelapan? Kaupikir aku tidak ingin melihat jemariku, fret dan tuas dawai gitarku, bukannya meraba-raba ke sana kemari seperti hewan tersesat?"
"Tidak, Maestro."
"Tidak, aku memang tidak ingin. Tapi inilah hidup. Kita bakal kehilangan. Kau harus mulai belajar lagi berkali-kali---atau kau bakal tak berguna." ---halaman 374

Pertemuan dan perjalanan cinta Frankie pun, memberikan tidak hanya kisah percintaan semata, melainkan juga pelajaran hidup bermakna di dalamnya.

"Kapan kali terakhir kau pulang ke rumah?"
Jawabnya "Aku tidak punya rumah."
Kataku lagi, "Setiap orang punya tempat ke mana dia pulang."
Katanya, "Itulah sebabnya aku menunggu istriku." ---halaman 396

Ditambah dengan pengetahuan seputar musik, membuat pengetahuan pembaca semakin diperkaya saat membaca novel ini. Persembahan yang apik dari Mitch Albom untuk pembacanya.
"Namun, semua kisah cinta adalah simfoni.
Seperti simfoni pada umumnya, kisah cinta juga memiliki empat irama:
- Allegro, pendahuluan yang cepat dan lincah
- Adagio, perubahan yang lambat
- Minuet/Scherzo, ketukan pendek dengan irama 1/4
- Rondo, tema yang terus berulang, diselingi berbagai bagian singkat" ---halaman 301

Lima ratusan halaman novel ini, berhasil menjerat pembaca dengan kisahnya yang mengharukan. Bahkan, dari setiap tokoh-tokoh yang memberikan kenangan mereka tentang Frankie pun, kita diajarkan secara tidak langsung tentang sebuah pengajaran penting dalam kehidupan. Tentang bagaimana kesan yang akan diberikan orang lain kepadamu, saat ia tiada nantinya.

Kemudian aku ingat bagaimana Frankie bicara tentang gadis kecilnya. Dia ternyata benar. Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun. ---halaman 439

Akhir kata, saya menutup ulasan ini dengan sebuah pengakuan:

Ketika Frankie Presto meninggalkan bakat-bakatnya kepada para penerusnya, memberikan sentuhan musik pada orang-orang dalam hidupnya, saya rasa Mitch Albom sudah melakukan hal yang sama, oleh dirinya, kepada orang-orang yang membaca bukunya. Kekuatan kata yang mengalir dalam diri seorang Mitch Albom, seperti kekuatan dan cinta musik pada Frankie Presto.

Kau tidak akan pernah tahu betapa seseorang begitu dalam mempunyai ikatan tertentu dalam hidupnya. Barangkali, ikatan dalam hidup saya yang berhubungan dengan Mitch Albom adalah, betapa saya senang bisa menikmati karya-karya beliau, dan merasakan betapa tulisannya begitu memengaruhi beberapa bagian dalam hidup saya.

Mitch Albom adalah penulis kedua yang saya doakan agar dilapangkan kuburnya kelak.

Ada lagu-lagu yang kaumainkan dan harus kauulangi lagi. Ada juga yang ingin kaumainkan dengan bear tetapi tidak pernah berhasil. Namun, ketika lagu iu telah dimainkan dengan sempurna, tidak ada lagi yang peerlu kaulakukan. ---halaman 286

Semua Ikan di Langit

Judul : Semua Ikan di Langit
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 259 Halaman
Cetakan Pertama, Februari 2017
ISBN : 9786023758067
Rating : 4 dari 5



"Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang.
Kesedihan Beliau membunuh keajaiban.
Kemarahan Beliau berakibat fatal."
***

Blurb:

"Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan— mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang… bahkan kadang-kadang, menyaksikan aksi pencurian. 

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu." 

***

Ikut PO dan dapat tanda tangan, hehe


Mungkin ada spoiler di dalam sini. Saya tidak tahu apakah ulasan saya ber-spoiler atau tidak (makanya saya berikan kata "mungkin" di kalimat sebelumnya). Karena, sewaktu saya menceritakan kesan terhadap buku ini ke teman, dia bilang saya lagi spoiler-in dia =)) Padahal saya tidak bermaksud demikian dan sebelumnya, tidak menganggap itu adalah pernyataan yang membocorkan plot penting dalam cerita. Maafkan saya kalau begitu :D Jadi, saya peringatkan kalian terlebih dahulu, ya.

Disadari atau tidak, setiap penulis adalah tuhan bagi ceritanya. Mereka menciptakan plot dan membuat jalinan takdir bagi tokoh-tokoh di dalamnya. Mereka menggerakkan karakter tersebut dengan sebab-akibat yang sudah dirancang dengan niat, membiarkan sepercik takdir untuk menghiasi kisah-kisah itu. Mereka pula yang memberikan akhir yang menutup lembaran kisah tersebut. Setidaknya, kesadaran itulah yang saya dapatkan ketika selesai membaca Semua Ikan di Langit karya Ziggy yang ini.

Semua elemen cerita dalam kisah di dalamnya, berisi tentang imajinasi tentang banyak hal. Mulanya, kau akan mengira bahwa ini adalah kisah fantasi biasa, yang disajikan dalam sudut pandang saya yang adalah sebuah Bus Damri (selanjutnya saya juga akan menyampaikan dengan nama lain: Saya) jurusan Dipatiukur-Leuwipanjang. Namun, dalam perjalanannya, kau akan menemukan makna. Banyak makna dan alegori tentang kehidupan tersaji dengan indah di sini; makna baik dan buruk, tentang cinta dan benci, ketakutan-ketakutan, dan tentang penghambaan pada Tuhan. Cerita tentang spiritualitas manusia disampaikan melalui analogi-analogi yang berada pada sudut pandang tokoh yang tidak lazim: Bus Damri, kecoa, bahkan seorang anak kecil.

Saya merasakan kesusahan ketika sedang menggarap ulasan ini. Bagaimana tidak, bahkan ketika membacanya pun, ledakan emosi yang muncul dari saya serupa roller coaster sedang bergerak menjalani lintasannya yang tidak lazim. Ada titik di mana saya memahami konteks yang sedang Ziggy bicarakan, ada pula kalanya saya begitu takut, teramat sangat takut dengan kedewaan imajinasi penulis yang begitu mencengangkan. Lalu, pada akhirnya, sebuah pemahaman muncul yang membuat saya memberikan apresiasi besar pada karya ini. Dengan pemahaman menyeluruh dari elemen buku ini, saya rasa PANTAS (dengan huruf kapital) buku ini menjadi pemenang utama (dan satu-satunya) dalam Sayembara Novel DKJ. Ya, komentar ini memang belum valid karena saya belum membaca novel pemenang unggulan lainnya sebagai pembanding novel ini. Namun, melihat keseluruhan kisah ini, saya bisa memastikan bahwa Semua Ikan di Langit melampaui ekspektasi tentang dimensi-dimensi kelayakan sebuah karya menjadi juara. Mulai dari plotnya yang teramat sangat tidak biasa, lalu kemampuan penulis dalam meramu ceritanya, dan ketepatan penulis dalam merancang universe dalam ceritanya.

Sebuah cerita fantasi tidak dikatakan absurd (meskipun tidak nyata dan tidak masuk akal), ketika elemen-elemen yang dikandungnya tersaji dengan logis. Bus Damri tidak hanya sekadar sebuah benda mati ketika penulis memberikan nyawa padanya. Kemampuan membaca pikiran manusia dari lantai yang dipijak mereka (dan ini konsisten dengan tokoh Beliau yang tidak pernah menginjakkan kaki di sana sehingga Saya tidak bisa membaca isi kepala Beliau), Saya yang menangis melalui kaca spion, Saya yang ketika marah menyemburkan asap dari knalpot, dan masih banyak perilaku manusia lain yang dilakukan oleh Saya ini. Lalu, kekonsistenan Nad si Kecoa yang cerdik, sehingga membantu Saya menginterpretasikan ruang dan waktu yang tengah berjalan saat itu. Bagi saya, selama membaca Semua Ikan di Langit, saya menikmati berfantasi bersama Ziggy dengan tidak mengeluhkan plot hole atau kerancuan kontennya di sana.

Perjalanan Saya yang begitu biasa, melintasi trayek Dipatiukur-Leuwipanjang yang dipenuhi oleh manusia-manusia dengan segala macam isi pikiran mereka, menjadi tidak biasa ketika Beliau datang dan menjadi salah satu penumpangnya. Saya tahu bahwa Beliau istimewa ketika Saya menyadari Beliau tidak menginjakkan kaki di lantai bus sehingga Saya tidak bisa mengintip isi pikiran Beliau. Sesuatu yang tidak biasa tentu memancing rasa penasaran, kan? Bahkan jika yang mengalaminya sebuah bus damri. Perjalanan itu menjadi luar biasa ketika Beliau mengajak Saya pergi bertamasya melintasi ruang dan waktu bahkan hingga sampai ke angkasa luar. Tamu mereka pertama adalah seekor kucing dari kamar paling berantakan di seluruh dunia (saya yang kamarnya tidak pernah rapi merasa tersindir, haha). Dan dari pertemuan-pertemuan lainnya, Saya berkenalan dengan Nad, seekor kecoa yang anaknya sudah mati menjadi ikan julung-julung yang mengikuti Beliau ke mana saja. Lalu, perjalanan itu terus saja berlangsung, menemukan mereka dengan tokoh-tokoh lain dan cerita-cerita luar biasa para penumpangnya.

Nah, mungkin di bagian ini spoiler-nya:

Seperti yang saya katakan di awal, bahwa seorang penulis adalah tuhan bagi kisahnya. Namun, bagaimana jika seorang penulis menciptakan tuhan dalam tulisannya? Awalnya saya membaca tulisan tentang ulasan novel ini yang mengatakan bahwa semoga tidak dianggap "penistaan" tentang novel ini. Si penulis ulasan membubuhkan tanda kutip di sana. Saya pun memberikan tanda kutip di sini. Pada akhirnya, setelah membaca bab tertentu menjelang akhir, lalu saya paham apa yang dimaksud dengan kalimat itu. 

Interpretasi saya tentang Beliau menjadi secerah mentari ketika saya menyadari bahwa Beliau ini adalah sosok pengandaian ilahiah (mengutip kata Raafi dalam ulasannya tentang buku ini). Saya terperenyak cukup lama saat kesadaran itu tiba. Wah. Bagaimana bisa demikian? Bagaimana mungkin bisa mencipta Tuhan yang menginterpretasikan sifat Tuhan dalam wujud manusia? Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang mengganggu benak saya sehingga saya memutuskan untuk break cukup lama saat membacanya. Lalu, setelah jeda waktu tersebut, saya kembali melanjutkan membaca novel ini. Ketakukan saya tentang sosok Tuhan dalam anak kecil tersebut perlahan sirna ketika saya mencoba mengubah sudut pandang dan meletakkannya di kotak "fantasi" alih-alih menempatkan Beliau sebagai manifestasi tuhan. Dan dengan pengubahan sudut pandang itu, syukurlah melahirkan banyak pemahaman-pemahaman baru dalam diri saya. Tentang bagaimana alegori yang tersaji dalam bus damri dan kecoa itu melahirkan sebuah gagasan tentang konsep ketuhanan yang pada dasarnya melekat dalam diri setiap manusia. Tentang pembangkangan dan cara mereka memancing murka Tuhan, yang dalam kitab suci pun tersampaikan dengan jelas (tentang kisah sapi betina maupun kaum Bani Israel, misalnya). Namun sayangnya, manusia zaman sekarang ada yang alergi jika diberikan kisah-kisah dalam sudut pandang agama. Meskipun, konten dan maksud cerita itu sama. Pada kisah ini, cerita-cerita tersebut tersaji dalam balutan imajinasi fantastis dengan (yang saya dapatkan dan rasakan) maksud sama. 

Terkesan berat, ya? Hahaha. Tapi, percayalah, ketika kau masuk ke dalam bus damri dan ikut melakukan perjalanan dengan Saya, Nad, dan Beliau, kau akan terbang bersama mereka, melintasi pemahaman demi pemahaman tentang konteks keilahian di sana. Kalaupun kau memilih tidak percaya pada muatan teologis yang tersaji di dalam kisah ini, kau hanya cukup duduk diam dan menikmati isi kepalamu dibaca dengan jelas oleh Saya, si Bus Damri gendut yang begitu mencintai Beliau sehingga Beliau pun mencintai Saya dengan segitu besarnya.

Kalau dibandingkan dengan Di Tanah Lada, jelas Ziggy naik kelas dengan lonjakan prestasi yang luar biasa.

Tambahan: Ilustrasinya cantik banget! Kusuka! Kusuka!



Gambar diambil dengan screenshot dari aplikasi SCOOP






Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Genres

romance (82) adult (47) favorite (44) young adult (33) novel pembangun jiwa (25) adventure (21) Ngobras Buku (17) children (16) fantasy (15) teenlit (14) historical (13) classic (11) filsafat (10) islam (9) nonfiksi (9) thriller (7) amore (5) historical romance (5) kumcer (5) misteri (5) movie review (5) quotes (5) Challenge 2017 (4) metropop (4) psikologi (4) dystopia (3) biography (2) politik (2) hukum (1) komedi (1)

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)