Go Set a Watchman

Judul : Go Set a Watchman
Penulis : Harper Lee
Penerjemah : Berliani Mantili & Esti Budihabsari
Penerbit : Qanita
Tebal Buku : 288 Halaman
ISBN : 9786021637883
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Ditulis di pertengahan 1950-an, Go Set a Watchman adalah naskah pertama yang diajukan Harper Lee kepada penerbit sebelum To Kill a Mockingbird. Setelah dianggap hilang, kini naskah berharga ini ditemukan di akhir 2014. Harper Lee, penulis penyendiri yang tak mau lagi menerbitkan novel setelah To Kill A Mockingbird, pun akhirnya setuju untuk membagi kisah awalnya kepada dunia.

Go Set a Watchman mengisahkan kehidupan para tokoh di To Kill A Mockingbird dua puluh tahun kemudian. Jean Louise Finch—atau Scout— kembali ke Maycomb, Alabama untuk mengunjungi, Atticus, ayahnya yang sudah uzur. Namun, kota kelahirannya tak lagi seperti dulu, begitu pun sang ayah. Scout harus berjuang mengatasi masalah-masalah pribadi dan politis tentang sang ayah dan kota kecil yang dulu membentuk siapa dirinya.


Mengisahkan bagaimana Scout menerima dan beradaptasi dengan perubahan dan peristiwa-peristiwa menggemparkan yang membentuk Amerika di pertengahan 1950-an, Go Set a Watchman memberikan pandangan baru tentang kisah klasik karya Harper Lee. Menggugah, lucu sekaligus menggebrak tatanan sosial masyarakat Amerika saat itu.

***

Jean Louise, seusia saya dalam novel ini, menyadarkan saya kalau ternyata banyak sekali lompatan kehidupan yang terjadi pada diri manusia saat mereka kecil, hingga menjadi dewasa. Dalam buku ini kita tidak lagi disajikan sosok Scout yang manis dengan perilaku tomboynya dan kisah kanak-kanak yang benar-benar menarik, melainkan sosok Jean Louise yang merokok, pergi jauh dari rumah, jatuh cinta, dan berbagai macam kejadian yang membuat ia menjadi seperti orang dewasa.

Jean Louise pulang kembali ke rumahnya, setelah beberapa waktu tinggal di New York, melihat banyak sekali yang berubah dari kota kecilnya Maycomb County. Dan setelah ia tinggal beberapa saat di tempat ini, rupanya perubahan tersebut juga mengubah pola pikir banyak orang, membuat ia merasa tidak mengenal tempat ini dan penghuninya seperti dulu.

Barangkali perubahan drastis itu terjadi pada ayahnya, sosok Atticus Finch yang ia kenal dua puluh tahun lalu sebagai pembela Negro yang tidak bersalah atas apa yang dituduhkan padanya. Atticus Finch pembela hak asasi manusia atas dasar perbedaan kulit dan ras, tidak seperti dulu lagi. Di tempat yang sama, pengadilan di mana ayahnya membela seorang kulit hitam di ingatan masa kecilnya terdahulu, kini sang ayah meruntuhkan kepercayaannya. Ia kehilangan sosok Atticus yang begitu ia puja. 

Selain bercerita tentang hubungan ayah-anak yang terjadi pada Jean Louise dan Atticus dengan latar belakang kotanya di Daerah Selatan yang tengah berkembang, serta isu persamaan hak antara kulit putih dan hitam, kisah ini dibumbui oleh cerita percintaan Jean Louise dengan Hank, seorang pemuda yang dibesarkan oleh ayahnya dan dididik untuk menjadi pengacara. Pada dasarnya mereka saling mencintai, namun untuk menuju ke jenjang yang lebih serius lagi, yakni pernikahan, tidak semudah yang ia bayangkan. Pola pikir yang berbeda, juga latar belakang keduanya, menjadi bumbu dalam kisah Scout dan Hank.

Tidak hanya tokoh Hank yang baru muncul dan mendapatkan porsi dalam cerita ini, kehadiran adik Atticus, Paman Jack yang seorang dokter, turut memberi warna dalam kepulangan Jean Louise ke tanah kelahirannya. Selain tentu saja, ada bibi Alexandra yang masih dengan watak dan karakternya yang sama dengan sebelumnya. Namun sayang sekali, Jem dan Dill rupanya hanya diceritakan melalui kilasan dalam ingatan Jean Louise saat mengenang masa kecilnya di Maycomb County (meskipun porsi Dill tidak sebanyak saat menceritakan Jem).

Apa yang terjadi dengan kakak Jean Louise tersebut? Peristiwa apa yang menyebabkan pertengkaran hebat antara Jean Louise dan ayahnya? Apa yang terjadi dalam kehidupan mereka dua puluh tahun berselang setelah peristiwa persidangan di Maycomb County yang begitu menginspirasi sosok Scout kecil?

***

Iya, saya sudah diperingatkan bahwa membaca Go Set a Watchman, siap-siap kecewa. Oleh karenanya, saya menurunkan ekspektasi, bahkan menganggap ini cerita yang benar-benar berbeda dibandingkan dengan To Kill a Mockingbird yang begitu menginspirasi. Siap-siap kecewa, itu dia yang membuat saya pada akhirnya tidak terlalu kecewa-kecewa amat. Saya sudah belajar dari pengalaman yang sering muncul dalam kehidupan saya, bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, bahwa setiap orang yang dianggap sempurna itu tentu mempunyai kelemahan dan kekurangan yang membuat ia tampil sebagai manusia apa adanya.

Tapi ya tetap saja, sedikit kecewa, tapi itu lebih kepada, novel ini jauh di bawah spektakulernya seri sebelumnya. Saya banyak mengambil pelajaran hidup dari To Kill a Mockingbird, yang sayangnya di novel ini kurang. Saya benar-benar klik baca novel ini baru pada kisah saat Scout flashback ke masa kecilnya dulu di usia sebelas tahun. Oh, barulah saya benar-benar..., humm, apa ya istilahnya, menjiwai? Ya begitulah.

Barangkali, benar bahwa orang akan menjadi menyebalkan saat ia beranjak dewasa, hahaha, mungkin saya masuk ke dalam golongan itu. Tapi, namanya juga manusia, akan selalu banyak pelajaran kehidupan yang dipetiknya sepanjang usia kehidupan mereka. Bintang 3.6, bagus dan tidak terlalu mengecewakan.

0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)