Showing posts with label Gramedia Pustaka Utama. Show all posts
Showing posts with label Gramedia Pustaka Utama. Show all posts

Orbit Tiga Mimpi

Judul : Orbit Tiga Mimpi
Penulis : Miranda Malonka 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 380 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2017
ISBN : 9786020332048
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Alejandro, terobsesi dengan benda-benda angkasa dan bertekad menang olimpiade astronomi. Tapi, bagaimana dia bisa menang kalau pelajaran matematika justru membuatnya merana? Asterion, vokalis band yang selalu cerah ceria dan tidak pernah menangis. Tak ada yang tahu dia menyembunyikan banyak rahasia di balik suara merdunya. Angkara, senang menghabiskan waktu untuk merenung dan menulis puisi tentang bintang-bintang. Tapi, seluruh dunia ingin dia mengubah gaya menulisnya. Ketiga orang yang sangat berbeda ini dipersatukan oleh kelompok belajar yang dipilih sesuai urutan absensi kelas. Meski awalnya canggung, ketiganya menemukan diri mereka mengorbit satu sama lain. Namun, ketika perasaan saling suka melesat bagai meteor, ditambah keresahan atas identitas diri, akankah orbit mereka terus berputar atau malah hancur lebur?

***

Saya membaca novel karya Miranda Malonka sebelumnya, yaitu Sylvia's Letters, dan saya menyukainya. Gaya penceritaan di Sylvia's Letters yang tidak biasa dan jalan cerita memukau, membuat saya mengatakan bahwa ingin membaca karya lain penulis, yang penyampaian ceritanya tidak melalui media surat. Orbit Tiga Mimpi menjawab rasa penasaran saya, apakah saya bakal menikmati karya Miranda Malonka jika disajikan dengan gaya penceritaan yang normal. Hasilnya, saya suka dan puas dengan buku ini.

Orbit Tiga Mimpi menyajikan premis yang mirip dengan novel yang pernah saya baca sebelumnya, berjudul Starlight. Tanpa bermaksud membandingkan karena memang setiap buku memiliki kisahnya masing-masing, tapi kedua novel remaja ini mempunyai kisah yang sama. Tentang kesukaan dengan dunia astronomi, dan tokohnya disatukan oleh tugas kelompok. Alejandro si cowok satu-satunya dalam kelompok itu, berbagi kisah dengan Angkara alias Kara, yang mulanya dikira seorang anak laki-laki tapi ternyata perempuan, dan teman duduknya. Mereka juga berteman dengan Asterion, seorang anak perempuan lainnya, yang dari namanya saja sudah memikat Ale. 

Ketiganya memiliki mimpi. Ale dengan kecintaannya pada dunia astronomi (tapi tidak pandai matematika) dan biologi, Angkara yang memiliki kesukaan dengan puisi bertemakan alam semesta, dan Asterion yang pandai bernyanyi. Mereka mengorbit bersama, saling menggapai mimpi. Hanya saja, ketika perasaan bercampur-baur dengan persahabatan, tidak selamanya planet mereka berputar dan mengorbit.

***

"Manusia memang aneh banget. Mereka membuat rencana-rencana seolah hidup ini akan berlangsung selamanya." ---halaman 127


Saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan novel ini. Disajikan oleh tiga sudut pandang yang berbeda, menggunakan orang pertama, membuat kisahnya dalam. Kita diajak mengintip isi kepala tiga tokohnya yang berbeda, tapi mempunyai benang merah yang sama. Ketiga karakternya menarik, dan tidak biasa. Ale yang senang mengamati dunia makroskopis dan mikroskopis, lalu Kara yang suka menulis tapi dihadapkan realita bahwa dia tidak bisa selalu menuliskan apa yang diinginkannya saja. Aster dengan segala permasalahan berkaitan dengan keluarga dan hal-hal aneh dalam hidupnya. Mereka kian dekat, untuk membuktikan pada siapa seharusnya cerita cinta ini tertambat. Lalu tentang jati diri, pencarian makna hidup, dan masa depan. Tidak selamanya tiga planet akan mengorbit bersama.

Saya pernah membaca tulisan Miranda Malonka tentang dia yang lebih senang menuliskan setting tempat secara abstrak. Seperti saat menuliskan Sylvia's Letters dia tidak menyebutkan settingnya, meskipun nuansa kota Jakarta kental di sana. Ternyata, pola serupa diterapkannya di sini. Selama membacanya, saya jadi menerka-nerka, kota manakah yang menjadi latar cerita ini. WITA, dekat pantai, langitnya bisa dengan mudah melihat bintang. Terlebih, ibu Ale yang berdarah Spanyol. Apakah setting-nya di Bali? Saya menebaknya demikian. Membuat cerita berlatar samar begini, sebenarnya membuat pembaca mengimajinasikan sendiri di mana atau bagaimana suasana yang dibangun. Bagi saya tidak masalah, justru bagian menebak-nebaknya itu yang seru.

Secara keseluruhan, kisah ini bagus. Apalagi perlakuan Ale yang memberikan hadiah tak terduga oleh siapa pun itu, benar-benar mengejutkan dan di luar kotak. Juga tentang pemberian seseorang yang ternyata dipakai untuk melihat sesuatu dengan orang yang bukan dia (ini kalau saya deskripsikan secara detail tentu akan spoiler sekali), bikin nyesek. Duh, jadi ingat bagaimana pertama kali merasakan naksir seseorang, melakukan apa pun demi menyenangkan orang yang kita sukai, lalu patah hati karenanya.

"Dengan beitu kita bisa belajar bahwa dunia ini nggak berhenti berputar untuk menontonmu menangis dan meratap. Juga, kita nggak akan bisa memaksa dunia menghapus air matamu dan mengasihanimu." ---halaman 140

The Storied Life of A.J. Fikry

Judul : The Storied Life of A.J. Fikry --- Kisah Hidup A.J. Fikry
Penulis : Gabrielle Zevin 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 280 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2017
(versi bahasa asli: Desember 2014)
ISBN : 9786020375916
Rating : 4 dari 5





Blurb:

"Manusia tidak bisa hidup sendiri; setiap buku membuka jendela dunia." 

Hidup A.J. Fikry jauh dari yang diharapkannya. Istrinya meninggal, penjualan di toko bukunya merosot tajam, dan hartanya yang paling berharga, koleksi puisi Poe yang langka, baru saja hilang dicuri. Pelan tapi pasti, A.J. menjauhkan diri dari semua orang di Pulau Alice. Bahkan ia tak lagi menemukan kegembiraan dari buku-buku di tokonya. Ia malah menganggap buku-buku itu sekadar penanda bahwa dunia telah berubah begitu cepat. Tetapi kemudian sebuah paket misterius muncul di tokonya. Paket itu kecil, meski bobotnya lumayan. Kemunculannya memberi A.J. kesempatan untuk membuat hidupnya lebih baik dan melihat semua hal dengan perspektif berbeda. Tak butuh waktu lama bagi orang-orang di sekitar A.J. untuk menyadari perubahan dalam dirinya. Ia tak lagi pahit, buku kembali menjadi dunianya, dan semua hal berubah menjadi sesuatu yang tak ia duga akan terjadi dalam hidupnya.

***

Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian. Kita tidak sendirian. ---halaman 263

A.J. Fikry adalah pria paruh baya pemilik satu-satunya toko buku di pulau tempatnya tinggal. Sejak peristiwa meninggalnya sang istri setelah mengantarkan penulis selepas acara jumpa penulis di toko bukunya. Setelah itu, kehidupannya berantakan. A.J. menjadi pria sinis yang pernah berlaku tidak sopan kepada seorang wanita dari penerbitan yang membawakan katalog buku milik perusahaannya. A.J. suka meminum minuman keras yang suatu hari akan disesalinya. Ia kehilangan buku langka milik Edgar Allan Poe saat sedang mabuk. Buku itu diperkirakan harganya lebih mahal dari seluruh buku yang dijualnya.

Ada yang datang, ada yang pergi. Setelah peristiwa kehilangan yang menggegerkan tersebut, A.J. kedatangan sesuatu yang misterius di toko bukunya; seorang bayi. Keesokan harinya, kepolisian menemukan jasad seorang wanita muda di mercusuar yang disinyalir adalah ibu dari bayi tersebut. Ia bernama Maya. Dan kehadiran Maya dalam kehidupan A.J., menjadikan hidupnya lebih berwarna, dan lebih baik lagi. Dengan adanya Maya, A.J. yang semula pesimistis dan seorang yang membosankan, menjadi lebih terbuka. A.J. jadi akrab dengan seorang opsir polisi di pulau itu, yang kemudian menjadi teman baiknya. Dan pada akhirnya terhubung dengan wanita yang mengisi lembaran kisah percintaannya.

Yang menarik dari kisah ini, bukan hanya suguhan plotnya yang tidak biasa dan mengejutkan. Namun, mengikuti keseharian hidup A.J. sebagai seorang pencinta buku, dengan toko buku yang dikelolanya, justru menambah kesan terhadap novel ini. Tentang mengapa pada akhirnya ia memutuskan menjadi pengelola toko buku kecil, lalu pandangannya terhadap buku-buku (yang menjadi penanda awal babak dalam buku ini), dan masih banyak lagi. Lalu, ada pula yang menarik, ketika A.J. menilai seseorang berdasarkan buku:

"Jika Jenny itu buku, ia adalah buku paperback yang baru saja dikeluarkan dari kardus--tidak ada halaman yang dilipat sebagai penanda, tidak ada bekas air di halamannya, tidak ada garis tanda pernah dibuka di punggung buku. A.J. lebih menyukai pekerja sosial yang tampak berpengalaman. Ia membayangkan sinopsis di belakang kisah Jenny: saat Jenny yang penuh semangat dari Fairfield, Connecticut, menerima pekerjaan sebagai pekerja sosial di kota besar, dia tidak tahu dunia seperti apa yang dimasukinya" ---halaman 69

Atau, kalimat yang diberikan A.J. saat melamar wanita yang dicintainya:

"Aku bisa menjanjikanmu buku, percakapan, dan hatiku seutuhnya." ---halaman 165

Buku ini menjadi menarik, mungkin karena sebagai pembaca yang mempunyai kesukaan yang sama dengan para tokohnya, saya jadi merasa konek dan sepakat dengan beberapa pernyataan sang tokoh dalam kisah ini. Contohnya, misalnya, saat Amelia Loman berkencan dengan seorang pria, dan ia menanyakan buku apa yang memengaruhi kehidupannya. Pria itu menjawab, "Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi bagian II." Dari sana Amelia bisa menyimpulkan bahwa pria itu tidak menyukai sastra. Bagaimana ia bisa hidup dengan seseorang yang tidak memiliki kesamaan dengannya? Mungkin ini kedengarannya skeptis, tapi saya masih bisa menemukan korelasinya dengan Amelia. Bayangan tentang menghabiskn waktu dengan seseorang yang tak memiliki pandangan yang sama dengan kita itu cukup menggelitik dan mengusik. Lalu, bagaimana jika kita disodorkan pada dua pilihan, yang pertama adalah orang yang sama sekali berbeda, dan memiliki kegemaran yang tidak sama. Lalu, muncul orang kedua yang punya minat sama dan visi yang sama dengan kita, meskipun ia tak sempurna dan bahkan jauh dari kata sempurna. Saya bisa memahami kegalauan si tokoh yang pada akhirnya bisa mengerti jalan yang ia pilih.

Selain kisahnya yang indah, sangat berkorelasi dengan kehidupan para pencinta buku, buku ini juga teman belajar menulis yang baik. Sebagai guru, penulis tidak hanya memberitahu bagaimana cara menulis, tapi juga langsung mempraktikkannya dengan menyuguhkan sebuah kisah yang dapat diambil pelajarannya, baik secara harfiah, maupun pelajaran moral dalam isi ceritanya. Buku ini sangat direkomendasikan karena segala-galanya indah dan menarik.

Menyenangkan sekali membaca kisah yang mana para tokohnya dipersatukan oleh buku. Bahkan, menunjukkan perasaan pada seseorang pun, dengan kalimat yang "buku sekali".

"Sudah bertahun-tahun aku melihatmu di rak. Aku sudah membaca sinopsis dan kutipannya di bagian belakang." ---halaman 291




Bad Boys

Judul : Bad Boys
Penulis : Nathalia Theodora 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 216 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2014
ISBN : 9786020306629
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Semua orang tahu, SMA Emerald dan SMA Vilmaris musuh bebuyutan, walaupun kini jarang tawuran. SMA Emerald dikomandani Austin, sementara SMA Vilmaris dipegang oleh Troy. Tapi siapa yang tahu bahwa Ivy, adik Troy, ternyata bersekolah di SMA Emerald?

Suatu hari, Lionel—tangan kanan Troy—diberi tugas untuk menjemput Ivy, dan kepergok oleh Austin! Menyimpulkan bahwa Ivy berpacaran dengan musuh, Austin menghukum Ivy menjadi pesuruh gengnya. Untuk menutupi identitasnya sebagai adik Troy, Ivy pun mematuhi perintah Austin, juga perintah Troy untuk pura-pura pacaran dengan Lionel.

Saat Ivy memohon pada Austin untuk menghentikan hukuman, Austin menyuruhnya putus dari Lionel sebagai syarat. Lagi pula, ternyata Ivy diam-diam mulai menyukai Austin...

Bisakah Ivy terus menutupi identitasnya ketika Austin akhirnya menyatakan cinta? Dan bagaimana tanggapan Ivy saat Lionel menganggapnya bukan sekadar adik Troy? 

***

Troy dan Ivy kakak beradik. Sementara, di sekolahnya Troy adalah ketua geng yang sering berantem dengan geng sekolah lain. Malangnya, sekolah lain itu adalah sekolah adiknya. Ivy memang menginginkan bersekolah di SMA Emerald, musuh bebuyutan SMA Vilmaris--sekolah Troy. Akibatnya, Troy harus sembunyi-sembunyi mengantar Ivy sekolah. Saat mengantar Ivy itulah Troy meminta Lionel, sahabatnya, untuk mengoper menjemput Ivy, agar keberadaan Troy tidak terlacak oleh Austin, dan keselamatan Ivy tidak terancam.

Austin, geng sekolah Emerald, sangat membenci Troy. Saat ia melihat ada anak SMA Emerald yang diantar oleh anggota geng SMA Vilmaris, ia marah dan murka. Kemurkaan itu ditujukan pada Ivy, si gadis yang ketahuan diantar-jemput Lionel. Demi keselamatan, Ivy tidak boleh mengaku sebagai adik Troy, dan harus menganggap Lionel sebagai pacar.

Sementara itu, sebagai hukuman, Ivy diharuskan untuk menjadi pesuruh Austin dan gengnya. Dari situlah kedekatan mereka menimbulkan bunga-bunga cinta.

Menyadari bahwa perasaan itu tidak boleh sampai terjadi, Ivy jadi bingung sendiri. Ia terpaksa berbohong dengan mengaku rumah Sophie, sahabatnya, adalah rumahnya, pada Austin. Dan begitu ia diajak ke rumah cowok itu, sebuah fakta menarik terkuak, yang berhubungan dengan Troy dan masa lalunya. Keadaan itu, membuat Ivy dan perasaannya pada Austin semakin sulit dan rumit.

Jadi, bisakah Ivy melaluinya dan berterus terang pada Troy maupun Austin?

***

Ada dua hal yang menggelitik saya selama membaca novel ini: Pertama, saya cukup terganggu dengan kalimat-kalimat percakapan formal yang nanggung. Saya merasa kurang sreg, karena nanggung itu. Baiknya, kalau mau dibuat baku ya baku sekalian, tapi kalau mau dibuat santai, alangkah lebih baik membuat kalimat yang lebih luwes lagi. Tapi ini nggak berlangsung setiap saat sih, rasanya hanya pada momen-momen tertentu saja percakapannya jadi kurang luwes. Tapi cukup mengganggu.

Kedua, saya agak kecewa sedikit karena yang ditonjolkan di dalam cerita ini adalah kisah percintaannya, bukan karakteristik bad boy-nya. Saya pikir bakal ada banyak adegan baku hantam yang seru *_* mengingat ilustrasi di awal bab pun menyiratkan begitu. Sekalinya ada berantem, eh, nggak live. Jiahaha.

Namun, saya cukup menikmati cerita ini, bahkan tidak ada bagian yang saya skip waktu membacanya. Apalagi kisah badboy-badboy-an lagi naik daun belakangan ini. (Karena pada dasarnya, dekat sama bad boy itu lebih greget buat naikin gengsi anak SMA ketimbang dekatin cowok-cowok taat peraturan atau nerd, wkwkwk.) Apalagi kisahnya simpel, dan narasinya oke (minus kalimat langsung yang tadi sedikit saya keluhkan). Membaca buku ini, saya jadi kepingin makan sate ayam.

Baiklah, yuk mari lanjut ke buku dua! :)

P.S. Kalau nggak baca ulasan dari salah satu goodreaders, saya nggak tahu kalau ada kesalahan penulisan di blurb, tentang nama sekolah Troy. Wah, cukup fatal juga, ya?


Disonansi

Judul : Disonansi
Penulis : Edith PS
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Pertama, November 2015
ISBN : 9786020317793
Rating : 4 dari 5




Andre mungkin saja memiliki banyak kekurangan, tapi selingkuh bukan salah satunya. Sesaat aku mengutuk diriku, sempat menuduh mendiang suamiku atas tuduhan yang belum tentu benar. Tapi aku bisa apa?

Rinjani sudah terlalu lelah dengan kedukaan atas meninggalnya suami tercinta. Ratapan setahun terakhir seolah tidak pernah cukup. Sampai ia harus berurusan dengan surat-surat tanpa identitas yang muncul mengusik ketenteramannya, menimbulkan berbagai tanya dan prasangka atas mendiang suaminya.

Lalu saat mulai terpojok dan bingung harus ke mana, ia berkenalan dengan olahraga lari jarak jauh yang membawanya ke Bromo Marathon, tempat semuanya—secara tak terduga—akan terjawab dan ia seharusnya tidak perlu “lari” lagi.

Disonansi dalam Teori Disonansi Kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.

***

Ada yang bilang bagian terburuk dari kehilangan sesuatu atau seseorang bukanlah kehilangan atas sesuatu atau seseorang itu, melainkan kehilangan bagian dari diri kita, lantaran ikut terbawa pergi. ---halaman 13

Rinjani ditinggal oleh suaminya yang pergi untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan. Sejak kepergian sang suami, ia didera kemalangan hidup karena selalu dihantui oleh mendiang suaminya, Andre. Performa kerjanya terganggu, dan itu disadari oleh orang-orang sekitar yang peduli padanya. Dan mereka mulai mengkhawatirkan kondisi Rinjani karena kejadian meninggalnya Andre sudah berlalu setahun silam.

Abbas, rekan kerjanya tampak begitu peduli untuk mengajak Rinjani keluar dari kemelut hidupnya. Pria yang dianggap adiknya itu selalu ada saat Rinjani butuh teman. Salah satunya, ia mengajak Rinjani untuk ikut olahraga lari yang hits saat itu. Dan Rinjani pun mau.

Saat sedang mengikuti event lari, ia bertemu dan berkenalan dengan Okto, seorang pria pelari yang mempunyai toko perlengkapan lari. Rupanya, Rinjani dan Okto semakin lama semakin dekat, hingga sampai pada keduanya membuka cerita hidup mereka masing-masing. Tentang mendiang suami Rinjani yang sudah tiada, tentang Okto yang ternyata seorang penulis.

Sebuah surat dari seseorang yang merupakan masa lalu Andre, membuat keraguan dalam diri Rinjani sehingga ia mulai mempertanyakan kesetiaan suaminya padanya. Apakah benar Andre mempunyai selingkuhan? Apakah Andre meninggal dunia selepas dari rumah selingkuhannya itu di Bandung?

Sementara, upaya membebaskan diri dari bayang-bayang kematian Andre, Rinjani menerima tawaran Okto dan Abbas untuk mengikuti Bromo Marathon. Mampukah Rinjani menaklukkannya--terlebih, menaklukkan ketakutannya sendiri dengan berlari?

"...karena sudah nggak zamannya lagi lari dari kenyataan. Kita harus lari menuju kenyataan..." ---halaman 162

***

Di antara novel serupa yang bertemakan soal lari, yang ini saya paling suka. (Saya berjanji pada diri sendiri selepas membaca bukunya Haruki Murakami yang What I Talk About When I Talk About Running, saya bakal bikin Ngobras tentang buku-buku bertemakan lari.) Saya suka karena porsi berlari di novel ini cukup besar, bahkan menjadi passion salah satu karakter utamanya, yaitu Okto. Tidak hanya menyuguhkan tentang tema lari, banyak kalimat filosofis tentang lari yang disampaikan di sini. Meskipun, ada pula bagian yang masih terasa seperti "copas" info dari internet. Namun, itu tidak mengurangi hakikat filosofis berlari yang terasa mengena sekali dalam kehidupan sehari-hari.

"Secangkir kopi hangat saja ada filosofinya, apalagi lari." ---halaman 214

Nah, sekarang ke bahasan topik ceritanya. Saya suka sekali dengan kisah ini. Tentang seorang perempuan yang kehilangan suaminya, berharap untuk bisa move on dari situasi itu yang tentu saja tak mudah. Ketika sedang menuju bangkit, justru dihadapkan dengan surat kaleng tentang suaminya, dikirimkan oleh orang yang teramat mencintai sang suami. Plotnya sederhana, cenderung dekat dengan kehidupan pembaca. Tentang memaknai sebuah kehilangan besar dalam hidup dan berupaya untuk melanjutkan hidup tanpanya. Saya merasakan bagaimana Rinjani melawan ketakutan dan kemelut dalam kisah sendunya. Saya pun dapat berempati karenanya.

Dari segi karakter, semuanya memiliki kekhasan yang dengan mudah dapat terbayangkan oleh saya pembacanya. Saya suka Rinjani, pun juga dengan sosok Okto yang misterius tapi serius. Saya juga suka Abbas. Bahwa persahabatan tidak selamanya berakhir dengan saling suka. Ada bentuk persahabatan yang memang murni tanpa melibatkan romansa sama sekali. Saya suka pokoknya sama Abbas yang selalu ada untuk Rinjani.

Tidak hanya menyuguhkan kisah romansa saja, novel ini juga ada bagian lucunya. Saya ketawa sewaktu membaca tentang bagian cowok-cowok yang lari pakai baju couple yang ada quote-quote-nya itu. Lucu! 😆

Gaya penulisan sang penulis di buku ini, berhasil menjerat saya di awal-awal membacanya. Saya suka dengan penyampaian penulis dalam buku ini. Itu pula yang mengakibatkan saya dengan mudah bisa menyelesaikan novel ini segera. Terlebih, banyak kalimat-kalimat yang quoteable di sini. Sama sekali tidak menggurui, bahkan justru menohok tepat sasaran pada relung hati saya si juara lomba lari dari kenyataan ini.

"Karena sudah nggak zamannya lagi lari dari kenyataan, Jan. Kita harus lari menuju kenyataan. Kenyataan bahwa kita memiliki kewajiban untuk merawat tubuh sebagai wujud syukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan." ---halaman 27


Dan ini adalah kutipan yang paling saya suka:

"Fokus ke targetmu saja, jangan target orang lain. Jadikan dirimu sendiri sebagai tolak ukur. Kalahkan rekormu sendiri, bukan rekor orang lain." ---halaman 128

Panggilan Sang Monster - A Monster Calls

Judul : Panggilan Sang Monster - A Monster Calls
Penulis : Patrick Ness
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 216 Halaman
Cetakan Februari 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, Mei 2011) 
ISBN : 9786020320816
Rating : 4 dari 5




Kau tidak menulis hidupmu dengan kata-kata, ujar sang monster. Kau menulisnya dengan tindakan. Apa yang kaupikirkan tidaklah penting. Satu-satunya yang penting adalah apa yang kaulakuan. ---halaman 202

Blurb:

Sang Monster Muncul Persis Lewat Tengah Malam. Seperti Monster-Monster Lain. Tetapi, dia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang monster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan… Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor. Dia Menginginkan Kebenaran. 


***

Conor O'Malley, seorang anak beranjak remaja yang mempunyai masalah pelik dengan keluarganya. Ayah dan ibunya sudah lama berpisah, dan ia tinggal dengan seorang ibu yang menderita kanker stadium akhir.

Setiap malam, ia mengalami mimpi buruk. Dan mimpi itu, tanpa ia sadari membuat seorang monster datang mendekatinya; monster itu adalah pohon yew yang berasal dari bukit di belakang rumahnya.

Aku punya begitu banyak nama, sebanyak tahun-tahun yang telah ada! raung sang monster. Aku Hern sang Pemburu! Aku Cernunnos! Aku sang manusia hijau yang abadi! ---halaman 44

Conor tidak memercayai apa yang terjadi padanya. Namun, sang monster meninggalkan jejak-jejak, berupa ranting dan dedaunan di kamarnya, dan buah beri pada lain kesempatan. Sangat sulit bagi Conor untuk menyangkal keberadaan benda-benda tersebut.


Sang monster datang di waktu yang sama, pukul dua belas lewat tujuh menit. Meskipun mulanya ia merasa ketakutan, tapi pada akhirnya ia menerima keberadaan monster tersebut yang berjanji akan pergi setelah menceritakan tiga kisah padanya, dan satu kisah yang akan diceritakan Conor padanya.

Kisah adalah makhluk liar, kata sang monster. Begitu kau melepaskan mereka, siapa yang tahu kekacauan apa yang mungkin mereka ciptakan. ---halaman 61

Di sekolah, Conor mengalami pem-bully-an oleh teman sekelasnya. Itu dikarenakan seorang anak perempuan teman ibunya memberitahukan kondisi sang ibu hingga berita itu tersebar ke sepenjuru sekolah. Tatapan iba dan pemakluman pun dirasakan olehnya. Ia benci mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu, yang membuat Conor semakin membenci keadaan yang menimpanya.


Pada akhirnya, Conor harus memaksakan dirinya untuk melengkapi kisah sang monster, dengan menceritakan kisah keempat, yang menjadi alasan mengapa monster itu datang kepadanya.



***


Novel ini memang memiliki sentuhan fantasi, meskipun mulanya saya mengira sepenuhnya berkisah tentang fantasi. Apalagi, judulnya ada kata monsternya, dan ilustrasi di sampul maupun di dalamnya terkesan suram. Andai saya tahu bahwa kisah utamanya adalah tentang seorang remaja yang berkutat dengan kisah bersama ibunya yang menderita kanker, tentu saja akan membacanya sejak dulu.


Berkisah tentang Conor dan monster yang tak sengaja datang karena panggilannya, serta ketakutan demi ketakutan tentang keadaan ibunya yang kian parah. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang bagaimana Conor menyikapi kehidupannya yang tidak berjalan sebagaimana anak seusianya menjalani hidup mereka.

A Monster Calls adalah buku Patrick Ness pertama yang saya baca, dan saya menyukainya. Kisah Conor benar-benar menyentuh hati. Saya menikmati interaksi antara Conor dan si monster, juga tentang kisahnya dan sang ibu. Apalagi, cerita tentang Lily pun berhasil membuatku mengerti kenapa Conor benar-benar membencinya. Menjadi sorotan memang tidak menyenangkan. Apalagi, jika alasan di balik itu berhubungan dengan tragedi yang menimpa kita.

Tadi sudah saya sebutkan bahwa ilustrasi di novel ini suram. Meskipun begitu, harus saya akui bahwa ilustrasinya keren. Ditunjang dengan penataan lay-out yang juga tak kalah kerennya.


Screenshoot dari aplikasi SCOOP

Saya ikut belajar memaknai banyak hal tentang kehidupan dari novel ini. Apalagi, tiga dongeng yang diceritakan oleh si monster menyiratkan banyak makna. Pun begitu juga dengan alasan di balik munculnya monster tersebut dalam kehidupan Conor O'Malley.



Lost and Found

Judul : Lost and Found
Penulis : Fanny Hartanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 248 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786020327693
Rating : 3 dari 5



Terkadang, seseorang bisa begitu mudah menilai orang lain tanpa tahu cerita lengkap di baliknya. Padahal setiap manusia punya kisahnya sendiri. ---halaman 147

Blurb:

Rachel tak sengaja meninggalkan organizer-nya di taksi, padahal di dalamnya berisi paspor, SIM, dan KTP. Akibatnya dia batal melakukan liputan ke Singapura dan terpaksa merelakan rivalnya, Amy, bertugas menggantikannya.

Andy menemukan organizer tersebut, tapi kesalahpahaman terjadi sehingga dia tidak pernah mengembalikan benda itu pada Rachel.

Takdir mempertemukan Andy dengan Rachel dan cinta pun tumbuh. Namun, rahasia dan luka masa lalu menghalangi kebersamaan mereka. Apakah cinta cukup untuk mengisi apa yang pernah hilang dalam hidup mereka?

***

Rachel, seorang wanita muda yang bekerja di majalah POSH, hendak melakukan peliputan di Singapura. Namun, nasib malang menimpanya setelah organizer miliknya tertinggal di taksi. Bukan hanya berisi tentang agenda dan catatan-catatan saja, rupanya di dalam organizer itu terdapat kartu identitas serta paspornya. Karena kehilangan benda tersebut, kehidupannya menjadi kacau; ia tidak bisa berangkat ke Singapura dan harus merelakan tugas itu diberikan pada Amy, saingannya. Ia juga tidak bisa mengemudikan mobil karena tidak memiliki SIM. Belum lagi, tidak memiliki KTP tentu bisa menghambat aktivitasnya.

Sementara itu, Andy, secara kebetulan menjadi penghuni taksi selanjutnya yang ditempati Rachel. Ia yang menemukan organizer tersebut dan bermaksud mengembalikannya pada sang pemilik. Namun, organizer itu tidak lantas kembali dengan mudah. Justru semakin rumit karena terjadi tarik-ulur proses pengembalian benda tersebut.

Alhasil, Rachel merasa kebingungan bagaimana ia berkendara. Sementara, Andy yang akhirnya mengenal Rachel (tapi belum berani mengembalikan benda itu padanya), merasa bersalah karena kerepotan demi kerepotan yang dialami Rachel karenanya. Akhirnya Andy berinisiatif mengantar-jemput Rachel hingga keduanya menjadi akrab dan menjalin hubungan percintaan.

Nah, bagaimana kelanjutan cerita ini? Bagaimana juga ya nasib si organizer itu?

***

Lost and Found menyajikan kisah yang menarik, dengan premis yang unik. Kisah yang ringan tapi tidak sederhana, membuatnya memikat hingga pembaca dibuatnya terbuai dengan kisah ini hingga paragraf terakhir.

Saya suka dengan interaksi para tokohnya, dengan perkembangan karakter mereka masing-masing. Rachel yang agak-agak jutek, tapi manis. Andy yang sepertinya cool tapi nggak cool-cool banget. Bahkan, si tokoh utama pria ini menarik karena ia memiliki hubungan sangat dekat dengan adik perempuannya. Belum lagi aktivitas Rachel dan gengnya, meskipun karakter sampingan itu tidak terlalu menonjol, karena kisah ini terfokus ada pada perkembangan kisah karakter utamanya. Justru, itu dibutuhkan agar pembaca tidak kehilangan fokus utama saat membacanya.

Selain menyuguhkan kisah percintaan, dalam Lost and Found ini unsur pekerjaan si karakter utama cukup menonjol. Lalu, ada unsur lari yang menyenangkan, membuat saya ingin lari setelah sekian lama tidak berlari (kalimat yang selalu saya copas tapi pada kenyataannya saya belum ada jogging lagi sejak sebulan lalu, haha).

This is why they did it. For this victory feeling. Rasa kemenangan setelah berhasil mengalahkan musuh terbesarmu; dirimu sendiri. Keberhasilan untuk semua kerja keras, keringat dan latihan selama berbulan-bulan. Melawan kemalasan, kesakitan, rasa capek, takut, frustrasi, dan marah. Saat kamu membuktikan kalau kamu bisa. Mampu menyelesaikan apa yang kamu mulai. Sanggup menggapai apa yang kamu inginkan. ---halaman 187

Sayangnya, novel ini adalah novel kedua yang saya baca dengan judul sama. Sebenarnya tidak masalah, sih. Hanya saja, pastinya orang akan membandingkan novel ini dengan novel berjudul sama lainnya. Apalagi yang sudah membaca keduanya. Meskipun, dari segi aura dan feel cerita, keduanya memiliki perbedaan yang cukup kentara. (Baca: Lost and Found karya Dy Lunaly)

Secara keseluruhan, saya menyenangi novel ini. Ringan, mengasyikkan, dan lumayan seru.



Love Trip

Judul : Love Trip
Penulis : Putu Kurniawati
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 272 Halaman
Cetakan Pertama, Juni 2016
ISBN : 9786020329055
Rating : 2 dari 5



Blurb:

Selain untuk melanjutkan studi, Cakra pindah ke Denver untuk mengobati penyakit yang ia derita. Menjelang kelulusan, ia mengikuti penelitian di Kyoto dan bertemu Luna. Tak disangka pertemuan itu membuat mereka akrab hingga memutuskan pacaran—meski harus menjalani LDR.

Tapi menjaga hubungan jarak jauh tidak semudah itu. Makin lama Luna merasa perhatian Cakra kepadanya jauh berkurang. Belum lagi tampaknya Cakra menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi Steve, teman masa kecilnya, semakin gigih dan bersedia nyentana demi dirinya.

Luna mulai berpikir untuk mengetes keseriusan Cakra dengan permainan yang dia buat. Dan permainan itulah yang membuat mereka menjejakkan kaki mulai dari Denver, Kyoto, Bali, Lombok, sampai Praha.

***

Cakra adalah mahasiswa yang berkuliah di Denver. Suatu hari, bersama Junot sahabatnya, mereka berdua mengikuti kunjungan dosen mereka ke Kyoto, Jepang. Di sana, mereka bertemu dengan seorang gadis Asia yang ternyata dari Indonesia. Lebih tepatnya, berasal dari Bali, bernama Luna. Melalui perkenalan supersingkat tersebut, keduanya memutuskan pacaran. Otomatis, mereka melalui proses LDR.

Luna memiliki teman bernama Steve, teman dari kecil yang bahkan sekarang berada satu kampus dengannya di Kyoto. Kehadiran Steve yang terang-terangan menyatakan diri suka dengan Luna, membuat Cakra terusik. Apalagi, Steve yang agresif selalu berusaha memancing Luna untuk menjauhi Cakra. Termasuk mengompori saat Cakra tidak hadir dalam peristiwa-peristiwa penting yang dialami Luna (ya nurut ngana, kayak jarak Kyoto-Denver atau Bali-Denver itu dekat aja #upsbelummasukpembahasan).

Sementara itu, pilihan berkuliah di Denver bagi Cakra selain untuk melanjutkan studi adalah dalam rangka pengobatan penyakit yang ia derita. Beruntung bagi Cakra, ia bersahabat dengan Junot, pemuda yang teramat perhatian padanya. Junot bisa dipastikan hadir dalam momen-momen penting kehidupan Cakra; mereka berdua diutus sebagai asisten dosen saat kunjungan ke Universitas Kyoto, Junot yang rela balik meninggalkan kehidupannya untuk menemani Cakra pulang ke Indonesia, Junot pun ada saat Cakra mengejar Luna sebagai pembuktian cintanya.

Ya, singkat cerita, saat pembuktian cinta pada Luna pun terjadi. Karena takut Steve akan mengambil Luna darinya, Cakra memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di Denver dan kembali ke Bali (Junot juga ikut, sudah saya ceritakan duluan, kan?). Rupanya, setelah di Bali, ada momen di mana kakak Luna menentang hubungan mereka. Luna melakukan permainan find me yang membuat Cakra rela mengikuti ke mana Luna pergi (dan Junot juga ngintilin Cakra pergi). Perjalanan itu berlangsung dari Bali, ke Lombok, bahkan hingga Praha.

Apakah itu cukup untuk membuktikan cinta Cakra pada Luna?


***

Sebelumnya, saya meminta maaf terlebih dahulu kalau sekiranya ulasan saya kurang menyenangkan. Saya berusaha membuat tulisan ini seobjektif mungkin dan dengan bahasa sebaik mungkin. Kalau sekiranya ada salah kata, harap dimaklumi dan dimaakan.

Mari menghela napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan sebelum saya melanjutkan menulis ulasan ini.

Sudah. 

Hehe.

Karena penulis menggunakan beberapa istilah fisika di awal novelnya, saya pun akan melakukan yang sama sebagai permulaan tulisan ini. Saya pernah menjelaskan tentang prinsip LDR yang dikaitkan dengan Hukum Coulomb: "Besarnya gaya tarik-menarik atau tolak-menolak antara dua benda bermuatan listrik berbanding lurus dengan muatan masing-masing benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda tersebut." Gaya ikatan cinta di antara dua orang yang LDR itu berbanding lurus dengan kedua muatannya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Jadi, kalau mau membuat ikatan cinta antardua pelaku LDR, masing-masing harus memperbesar muatan, karena terbentang jarak (yang dikuadratkan) di antara mereka. (Iya, saya mah guru galau, emang #plak)

Sudah hukum alam bagi pelaku LDR bahwa besarnya jarak yang terentang di antara mereka harus diimbangi dengan besarnya muatan yang diberikan. Muatan itu yang bagaimana? Tentu saja rasa saling percaya, saling menghargai, tidak mengkhianati, dan lain sebagainya. Nah terus, kaitannya dengan novel ini apa? Sabar, hehe. Sebentar lagi akan saya jelaskan.

Cakra dan Luna adalah pasangan yang jadian dengan singkat sekali tapi berhasil menjalani LDR dalam jangka waktu yang lama (hore! Saya saja beberapa kali LDR gagal #heh). Padahal, waktu perkenalan mereka saja hanya beberapa hari. Berhasil menjalani LDR bukan berarti membuat jalinan keduanya mulus. Akibat sahabat yang kompor, membuat hubungan mereka yang manis itu (diwarnai dengan kejutan-kejutan di momen penting di mana salah satunya datang ke salah lain yang berbeda benua itu) sedikit goyah. Cakra yang takut ditikung Steve memutuskan untuk balik ke Bali dan meninggalkan pekerjaannya (yang baru ditekuni dalam jangka waktu beberapa bulan! Wah, kontraknya gimana, tuh? Dia kerja dikontrak dulu nggak, ya?). Apalagi, Luna mengancam kalau Cakra nggak datang, dia bakal ditunangkan atau bahkan menikah dengan Steve.

Nah, Junot ikut ke Bali. Alasannya, dia kangen Mami. Tapi, yang ada malah di Bali-nya dia ngintilin Cakra ke mana dirinya pergi. Mami hanya jadi alasan. Sabar ya, Mi. Dan Junot, rela ngintilin Cakra (pakai uangnya sendiri) buat pergi mengikuti permainan find me-nya Luna yang jaraknya ribuan kilometer itu.

Ah, sudahlah. Saya nggak mau bahas hubungan Cakra-Junot berkepanjangan. Karena, masih banyak yang mau saya bahas selain mereka, hehehe.

Ada beberapa keluhan yang akan saya utarakan di sini, selain yang sudah saya tuliskan di atas, dan mungkin bakal ada Cakra-Junot lagi deh ya (lah, katanya nggak mau bahas lagi?). 

Pertama, saya merasa aneh dengan banyaknya kebetulan-kebetulan di kisah ini. Kebetulan ketemu Luna yang orang Indonesia. Kebetulan Luna orang Bali sama seperti Cakra. Kebetulan Cakra dan Junot yang diutus sebagai asisten dosen ke Kyoto. Kebetulan Cakra dan Junot satu kamar. Kebetulan ketemu orang Indonesia saat party di Denver. Kebetulan kakak Luna dan kakak Cakra ternyata saling kenal. Kebetulan pas dalam pencarian Luna ketemu sama teman lama yang kenal Steve. Kebetulan... apa lagi, ya? Sampai di sini saja deh, kebetulannya.

Kedua, saya juga mau mengomentari latar belakang Cakra dan Junot (yah, kebahas lagi deh mereka berdua). Saya dibingungkan dengan Cakra. Dia ini anak dari kalangan berada, kah? Tapi kok sepertinya hidupnya nelangsa di Denver. Meskipun nggak nelangsa-nelangsa banget, tapi dia seperti mahasiswa-mahasiswa beasiswaan begitu kesehariannya. Namun, Cakra bisa dengan mudah berpindah-pindah posisi di mana pun dia inginkan. Okelah perjalanan pertama ke Kyoto dibiayai kampus. Tapi, selanjutnya? Belum lagi Luna. Dikisahkan orangtuanya seniman. Tapi dia bisa dengan mudahnya mengunjungi Cakra di Denver. Bukan berarti saya meremehkan penghasilan seniman, sama sekali bukan. Namun, aneh saja. Teman saya yang berada saja, harus nabung berbulan-bulan dari penghasilannya untuk bepergian nonton konser idolanya. Itu dia sudah berpenghasilan, lho. Sementara Luna, statusnya waktu itu masih mahasiswa.

Ketiga, saya bingung dengan pengembangan karakter si pria-pria di tokoh ini. Ada dua jenis karakter menyebalkan (atau katakanlah, yang membuat pembacanya kurang simpatik dengan mereka pada awalnya). Yang pertama adalah dia yang menyebalkan karena tuntutan plot, sehingga setelah pembaca mengetahui alasan di balik sikapnya itu, membuat rasa simpati dan empati tercurah padanya. Contohnya, Severus Snape. Lalu, yang kedua, adalah karakter menyebalkan yang ketika pembaca sudah berpikiran positif tentangnya, tapi ternyata tidak menemukan alasan di balik sikap menyebalkannya itu. Untuk Cakra, saya memasukkannya pada golongan kedua. 

Saya tidak bisa merasakan simpati pada Cakra, entah bagaimana ceritanya. Meskipun dia didera penyakit, dan memiliki masa lalu kelam karena masa depannya disetir orangtuanya, tapi sikap Cakra sama sekali tidak menerbitkan rasa simpati. Terlebih, setelah dia memutuskan resign begitu saja dari pekerjaan karena mendapat ancaman dari Luna. Laki-laki itu dilihat dari kesungguhannya. Ketika dia memang cinta dengan Luna, kenapa tidak ditunjukkan dengan kesiapannya untuk menikahi Luna, misalnya, yang mana salah satu faktornya adalah kemapanan secara ekonomi? Dan darimana dia bisa mendapatkan itu kalau bukan dari pekerjaan? Eh dia malah resign dan melakukan pencarian bodoh itu yang notabene menghabiskan uang. (Dan tiket Denver-Bali itu nggak murah, hiks.) Oh ya, mungkin orangtuanya kaya raya, jadi urusan materi dan pekerjaan tidak perlu digubriskan. Tapi, bukankah karakter yang membuat simpatik itu kalau dia berhasil dengan tangannya sendiri ketimbang yang mendapat jaminan kemapanan dari orangtua, ya?


Apalagi, usia karakternya yang termasuk usia dewasa muda, seharusnya sudah bisa berpikir dan berperilaku layaknya orang-orang yang menuju ke awal masa kedewasaan mereka. Teman-teman saya (dan saya juga, sepertinya) saat seumuran mereka, sudah banyak yang bisa mengambil tindakan yang lebih mencerminkan sikap kedewasaan ketimbang mereka.

Ah, sudahlah. Saya tidak berhak masuk terlalu dalam ke karakter orang lain.

Lalu, (lagi-lagi) Junot. Tidak, saya tidak akan membahas kekurangkerjaannya yang mengintilin Cakra ke mana pun dan melupakan masa depan serta kehidupannya sendiri. Namun, Junot ini tipe cowok rempong dan bermulut lemes... (apa ya bahasa Indonesianya?) Saking lemes-nya, bahkan dia sampai ditampar pakai sandal sama salah satu karakter cewek di sini. Kurang lemes apa lagi, coba. Cowok kok lemes. Cowok kok rempong.

Sementara Steve, another lemes guy. Tidak ada kelebihan cowok ini selain rela melakukan nyentana dan punya banyak uang untuk selalu nempel dengan Luna.

Saya rasanya tidak perlu menjelaskan tentang Luna karena rasanya dari penjelasan tentang karakter-karakter lain, si Luna sudah terjelaskan meskipun tidak dengan gamblang.

Sekarang alasan keempat. Banyaknya tempat yang dikunjungi di novel ini menurut saya tidak lebih dari sekadar tempelan. Tentang kehidupan di Denver, tidak ada feel yang kerasa tentang itu. Feel tentang setting itu sebenarnya tidak melulu harus digali dengan mengunjungi tempat-tempat keren dari suatu lokasi. Menurut saya, justru dengan membangun suasana keseharian, setting itu jauh lebih kerasa. Dan sementara itu, Denver maupun tempat-tempat lain tidak dieksplor dengan jelas di sini. (Saya merekomendasikan Almost 10 Years Ago atau New York after the Rain kalau mau mendapatkan deskripsi suasana luar negeri yang benar-benar mengena.)

Kelima (dan semoga ini yang terakhir), banyaknya percakapan yang terjadi di novel ini membuat saya merasa bahwa novelnya "berisik". Saya justru merindukan membaca narasi dan deskripsi. Meskipun, untuk membuat cerita yang "show", alangkah lebih baik mengurangi panjangnya narasi dan deskripsi. Namun, kalau porsi dan proporsinya kurang pas, rasanya kesan berisik itu terus menempel di kepala. Sayangnya, karena akhirnya banyak perasaan dan kesan yang kurang tergali dalam novel ini.

Ya, alhamdulillah, karena ternyata itu tadi beneran yang terakhir.

Namun, di balik kekurangan yang saya rasakan itu, saya merasa sedikit terhibur dengan gaya penulisan yang sebenarnya oke. Secara keseluruhan tulisan ini rapi dan rasanya nyaris bersih dari kesalahan penulisan (ternyata proofreader-nya teman saya, wakakaka, good job, Orin.) Oleh karenanya, kekurangan di atas sedikit bisa dimaafkan. Lalu, sampulnya cantik. Perpaduan merah muda, kuning, dan putih, serta ilustrasi yang seperti doodle, juga membuat novel ini memiliki nilai plus. 

Sekian ulasan dari saya. Semoga apa yang saya tuliskan bisa menjadi sebuah kritik yang membangun dan membuat ke depannya lebih bagus lagi. Semoga bisa dijadikan masukan. Dan bagi kamu yang ingin membaca novel ini, selamat membaca. Semoga tidak terpengaruh dengan ulasan saya, hehehe. Karena, bisa jadi sudut pandang saya berbeda dengan apa yang akan kamu dapatkan nantinya.



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)

Publishers