Showing posts with label Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Show all posts
Showing posts with label Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Show all posts

Semua Ikan di Langit

Judul : Semua Ikan di Langit
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 259 Halaman
Cetakan Pertama, Februari 2017
ISBN : 9786023758067
Rating : 4 dari 5



"Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang.
Kesedihan Beliau membunuh keajaiban.
Kemarahan Beliau berakibat fatal."
***

Blurb:

"Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan— mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang… bahkan kadang-kadang, menyaksikan aksi pencurian. 

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu." 

***

Ikut PO dan dapat tanda tangan, hehe


Mungkin ada spoiler di dalam sini. Saya tidak tahu apakah ulasan saya ber-spoiler atau tidak (makanya saya berikan kata "mungkin" di kalimat sebelumnya). Karena, sewaktu saya menceritakan kesan terhadap buku ini ke teman, dia bilang saya lagi spoiler-in dia =)) Padahal saya tidak bermaksud demikian dan sebelumnya, tidak menganggap itu adalah pernyataan yang membocorkan plot penting dalam cerita. Maafkan saya kalau begitu :D Jadi, saya peringatkan kalian terlebih dahulu, ya.

Disadari atau tidak, setiap penulis adalah tuhan bagi ceritanya. Mereka menciptakan plot dan membuat jalinan takdir bagi tokoh-tokoh di dalamnya. Mereka menggerakkan karakter tersebut dengan sebab-akibat yang sudah dirancang dengan niat, membiarkan sepercik takdir untuk menghiasi kisah-kisah itu. Mereka pula yang memberikan akhir yang menutup lembaran kisah tersebut. Setidaknya, kesadaran itulah yang saya dapatkan ketika selesai membaca Semua Ikan di Langit karya Ziggy yang ini.

Semua elemen cerita dalam kisah di dalamnya, berisi tentang imajinasi tentang banyak hal. Mulanya, kau akan mengira bahwa ini adalah kisah fantasi biasa, yang disajikan dalam sudut pandang saya yang adalah sebuah Bus Damri (selanjutnya saya juga akan menyampaikan dengan nama lain: Saya) jurusan Dipatiukur-Leuwipanjang. Namun, dalam perjalanannya, kau akan menemukan makna. Banyak makna dan alegori tentang kehidupan tersaji dengan indah di sini; makna baik dan buruk, tentang cinta dan benci, ketakutan-ketakutan, dan tentang penghambaan pada Tuhan. Cerita tentang spiritualitas manusia disampaikan melalui analogi-analogi yang berada pada sudut pandang tokoh yang tidak lazim: Bus Damri, kecoa, bahkan seorang anak kecil.

Saya merasakan kesusahan ketika sedang menggarap ulasan ini. Bagaimana tidak, bahkan ketika membacanya pun, ledakan emosi yang muncul dari saya serupa roller coaster sedang bergerak menjalani lintasannya yang tidak lazim. Ada titik di mana saya memahami konteks yang sedang Ziggy bicarakan, ada pula kalanya saya begitu takut, teramat sangat takut dengan kedewaan imajinasi penulis yang begitu mencengangkan. Lalu, pada akhirnya, sebuah pemahaman muncul yang membuat saya memberikan apresiasi besar pada karya ini. Dengan pemahaman menyeluruh dari elemen buku ini, saya rasa PANTAS (dengan huruf kapital) buku ini menjadi pemenang utama (dan satu-satunya) dalam Sayembara Novel DKJ. Ya, komentar ini memang belum valid karena saya belum membaca novel pemenang unggulan lainnya sebagai pembanding novel ini. Namun, melihat keseluruhan kisah ini, saya bisa memastikan bahwa Semua Ikan di Langit melampaui ekspektasi tentang dimensi-dimensi kelayakan sebuah karya menjadi juara. Mulai dari plotnya yang teramat sangat tidak biasa, lalu kemampuan penulis dalam meramu ceritanya, dan ketepatan penulis dalam merancang universe dalam ceritanya.

Sebuah cerita fantasi tidak dikatakan absurd (meskipun tidak nyata dan tidak masuk akal), ketika elemen-elemen yang dikandungnya tersaji dengan logis. Bus Damri tidak hanya sekadar sebuah benda mati ketika penulis memberikan nyawa padanya. Kemampuan membaca pikiran manusia dari lantai yang dipijak mereka (dan ini konsisten dengan tokoh Beliau yang tidak pernah menginjakkan kaki di sana sehingga Saya tidak bisa membaca isi kepala Beliau), Saya yang menangis melalui kaca spion, Saya yang ketika marah menyemburkan asap dari knalpot, dan masih banyak perilaku manusia lain yang dilakukan oleh Saya ini. Lalu, kekonsistenan Nad si Kecoa yang cerdik, sehingga membantu Saya menginterpretasikan ruang dan waktu yang tengah berjalan saat itu. Bagi saya, selama membaca Semua Ikan di Langit, saya menikmati berfantasi bersama Ziggy dengan tidak mengeluhkan plot hole atau kerancuan kontennya di sana.

Perjalanan Saya yang begitu biasa, melintasi trayek Dipatiukur-Leuwipanjang yang dipenuhi oleh manusia-manusia dengan segala macam isi pikiran mereka, menjadi tidak biasa ketika Beliau datang dan menjadi salah satu penumpangnya. Saya tahu bahwa Beliau istimewa ketika Saya menyadari Beliau tidak menginjakkan kaki di lantai bus sehingga Saya tidak bisa mengintip isi pikiran Beliau. Sesuatu yang tidak biasa tentu memancing rasa penasaran, kan? Bahkan jika yang mengalaminya sebuah bus damri. Perjalanan itu menjadi luar biasa ketika Beliau mengajak Saya pergi bertamasya melintasi ruang dan waktu bahkan hingga sampai ke angkasa luar. Tamu mereka pertama adalah seekor kucing dari kamar paling berantakan di seluruh dunia (saya yang kamarnya tidak pernah rapi merasa tersindir, haha). Dan dari pertemuan-pertemuan lainnya, Saya berkenalan dengan Nad, seekor kecoa yang anaknya sudah mati menjadi ikan julung-julung yang mengikuti Beliau ke mana saja. Lalu, perjalanan itu terus saja berlangsung, menemukan mereka dengan tokoh-tokoh lain dan cerita-cerita luar biasa para penumpangnya.

Nah, mungkin di bagian ini spoiler-nya:

Seperti yang saya katakan di awal, bahwa seorang penulis adalah tuhan bagi kisahnya. Namun, bagaimana jika seorang penulis menciptakan tuhan dalam tulisannya? Awalnya saya membaca tulisan tentang ulasan novel ini yang mengatakan bahwa semoga tidak dianggap "penistaan" tentang novel ini. Si penulis ulasan membubuhkan tanda kutip di sana. Saya pun memberikan tanda kutip di sini. Pada akhirnya, setelah membaca bab tertentu menjelang akhir, lalu saya paham apa yang dimaksud dengan kalimat itu. 

Interpretasi saya tentang Beliau menjadi secerah mentari ketika saya menyadari bahwa Beliau ini adalah sosok pengandaian ilahiah (mengutip kata Raafi dalam ulasannya tentang buku ini). Saya terperenyak cukup lama saat kesadaran itu tiba. Wah. Bagaimana bisa demikian? Bagaimana mungkin bisa mencipta Tuhan yang menginterpretasikan sifat Tuhan dalam wujud manusia? Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang mengganggu benak saya sehingga saya memutuskan untuk break cukup lama saat membacanya. Lalu, setelah jeda waktu tersebut, saya kembali melanjutkan membaca novel ini. Ketakukan saya tentang sosok Tuhan dalam anak kecil tersebut perlahan sirna ketika saya mencoba mengubah sudut pandang dan meletakkannya di kotak "fantasi" alih-alih menempatkan Beliau sebagai manifestasi tuhan. Dan dengan pengubahan sudut pandang itu, syukurlah melahirkan banyak pemahaman-pemahaman baru dalam diri saya. Tentang bagaimana alegori yang tersaji dalam bus damri dan kecoa itu melahirkan sebuah gagasan tentang konsep ketuhanan yang pada dasarnya melekat dalam diri setiap manusia. Tentang pembangkangan dan cara mereka memancing murka Tuhan, yang dalam kitab suci pun tersampaikan dengan jelas (tentang kisah sapi betina maupun kaum Bani Israel, misalnya). Namun sayangnya, manusia zaman sekarang ada yang alergi jika diberikan kisah-kisah dalam sudut pandang agama. Meskipun, konten dan maksud cerita itu sama. Pada kisah ini, cerita-cerita tersebut tersaji dalam balutan imajinasi fantastis dengan (yang saya dapatkan dan rasakan) maksud sama. 

Terkesan berat, ya? Hahaha. Tapi, percayalah, ketika kau masuk ke dalam bus damri dan ikut melakukan perjalanan dengan Saya, Nad, dan Beliau, kau akan terbang bersama mereka, melintasi pemahaman demi pemahaman tentang konteks keilahian di sana. Kalaupun kau memilih tidak percaya pada muatan teologis yang tersaji di dalam kisah ini, kau hanya cukup duduk diam dan menikmati isi kepalamu dibaca dengan jelas oleh Saya, si Bus Damri gendut yang begitu mencintai Beliau sehingga Beliau pun mencintai Saya dengan segitu besarnya.

Kalau dibandingkan dengan Di Tanah Lada, jelas Ziggy naik kelas dengan lonjakan prestasi yang luar biasa.

Tambahan: Ilustrasinya cantik banget! Kusuka! Kusuka!



Gambar diambil dengan screenshot dari aplikasi SCOOP






San Francisco

Judul : San Francisco
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal Buku : 215 Halaman
ISBN : 9786023755929
Rating : 3 dari 5





Blurb:


Satu-satunya yang menarik dari cowok bernama Ansel adalah badannya yang ketinggian, kegemarannya akan musik klasik, dan senar-senar harpa di ujung jarinya. Ansel bekerja di Suicide Prevention Center, bertugas mengangkat telepon, hingga akhirnya ia menemukan hal menarik yang baru: Rani—gadis dari negeri asing yang mengiris nadi setiap dua hari sekali.


Sekarang sebagian besar kehidupan Ansel berputar di sekitar Rani. Dan, Ansel bertanya-tanya apakah pertemuan mereka di Golden Gate Bridge San Fransisco adalah takdir, atau sekadar kesialan? Karena dari sini, mobil kabel yang membawa kisah mereka bisa saja menanjak terus hingga setengah jalan menuju bintang, atau justru terjebak dalam kabut di atas perairan biru dan berangin San Francisco. 


***


"What do you consider a safe place?" 
"A place where you are away from hard--self inflicted, or by someone or something else." ---halaman 3


Ansel adalah seorang pekerja paruh waktu di Suicide Prevention Center yang bertugas untuk mengangkat telepon dan mendengarkan cerita orang-orang yang putus asa. Di lini telepon ini, tidak jarang orang menceritakan bagaimana kisah memilukan mereka bahkan sampai upaya terakhir sebelum bunuh diri.

Di hari pertamanya bekerja, ia mendapat telepon dari seorang misterius yang mengajaknya tebak-tebakan judul lagu yang langsung dijawab benar oleh Ansel. Karena, rupanya Ansel memiliki ketertarikan yang amat besar terhadap musik klasik. Ia bisa memainkan harpa, bahkan tahu tentang banyak lagu dan trivia seputar lagu-lagu itu; entah tentang kisah dibalik pembuatan musiknya, atau tentang musisinya.

Selain bekerja di tempat itu, Ansel juga kerja paruh waktu di kedai roti. Ansel sering membawa makanan ke tempatnya kerja dan menyenangkan Maria, sang mentor yang terpaut usia hampir satu dekade dengannya. Pembawaan Maria yang menyenangkan menjadi bagian dari orang-orang yang suka menindas Ansel selain kakaknya Gretchen dan suaminya--di mana Ansel menumpang tinggal. Sebenarnya Ansel memiliki pacar, bernama Ada. Gadis itu dikenalnya saat sedang melalui proses pelatihan sebelum diterima sebagai petugas Suicide Prevention Center. Tentang hubungan Ansel dan pacarnya itu, banyak yang berkomentar menyangsikan. Kata mereka, Ada terlalu "sederhana" bagi Ansel yang memiliki karakter unik dan butuh didampingi oleh seorang yang "luar biasa".

Orang misterius yang menelponnya itu bernama Rani, seorang gadis Indonesia yang tinggal di San Francisco. Ia mengalami depresi dan berkali-kali memutuskan bunuh diri. Dan rupanya, Rani menjadikan Ansel sebagai hotline pribadinya. Suatu hari, mereka bertemu di Jembatan San Francisco. Lalu mereka menjadi akrab. Pun juga Ansel dengan Benji, pacar Rani yang seorang musisi, juga Ada. 

Hubungan mereka berjalan tidak lagi biasa. Terlebih, saat satu per satu rahasia terdalam yang mereka miliki terkuak begitu saja.

***



Hmmm. Sebenarnya 3,5 ....

Saya sudah menuliskannya di review Jakarta Sebelum Pagi kalau Ziggy mampu mengubah gaya tulisannya--atau sebenarnya sama saja tapi kesan yang berhasil ditangkap pembaca--berbeda-beda sesuai dengan karakter tokoh yang ada di dalam novel-novelnya. Pertama Ava, kedua Emina, dan ketiga Ansel. Apa perbedaan yang ada pada si Ansel? Bahwa dia adalah seorang pemuda San Francisco, ras kaukasoid, hidup dan besar di sana. Ziggy berhasil membawa aura itu ke dalam novel ini. Bahwa tokoh dan setting-nya memiliki budaya dan kehidupan yang amat sangat berbeda dengan novel ber-setting lokal. Sebuah apresiasi besar saya berikan untuk penulis atas kelihaiannya dalam membangun setting dan nuansa.

Selain itu, pemilihan "prentilan" yang out of the box rasanya melekat dengan Ziggy, dan saya suka. Ini seperti membaca sesuatu yang bahkan kamu tidak akan pernah memikirkan bahwa itu akan menyatu dengan sebuah jalan cerita. Seperti misalnya, pekerjaan Ansel. Lalu, mengambil setting Golden Gate Bridge sebagai tempat untuk bunuh diri alih-alih menjadikannya sebagai tempat wisata atau tempat bersetting-setting romantis ala-ala. Konsep "tanah air" yang disajikan benar-benar pas juga membuat saya berdecak kagum.

Tapi, di sini, saya kurang mendapatkan kesan tentang pembangunan karakter yang ada di dalamnya. Terlepas dari hal pertama yang tadi sudah saya jelaskan, di sini saya tidak berhasil klop dengan karakter-karakternya. Lagi pula, premis yang ditawarkan benar-benar memikat, namun di tengah jalan terkesan terlalu banyak yang dijabarkan sehingga membuat plotnya menjadi bias. Oke mari kita bahas satu per satu. Yang pertama, tentang karakternya. Ansel? Oke. Saya bahkan punya gambaran bagaimana visualisasi dan laku Ansel dalam benak saya. Karakter-karakter lainnya? Juga oke, dan saya bisa membayangkan mereka seolah seperti sedang menonton film. Tapi, entah mengapa, saya tidak berhasil menangkap character building-nya dengan baik. Mungkin ada pengaruhnya dengan jalan cerita yang melebar tadi? Ya, bisa jadi. Di awal karakter yang berperan mungkin hanya Ansel dan Rani saja, lalu muncul Ada, ada pula Benji, Maria, Gretchen, Dexter, dan banyak lagi. Sebenarnya tidak masalah punya karakter banyak, hanya saja di sini--terutama di bagian tengah--saya merasa seolah karakter-karakter lain kepingin melompat peran dari "karakter pendukung" menjadi "karakter (semi) utama" (kalau memang penggolongan karakter itu memang ada, hehehe). Jadinya, cerita yang seharusnya berfokus pada plot utama jadi banyak cabangnya. Sebenarnya bagus saja sih kalau ada cabang-cabang cerita yang kemudian akan menunjang plot utama. Tapi di sini rasanya saling overlaping, menurut saja. Bukan tidak bagus lho ini, bagus dan sah-sah saja kok. Saya masih menikmatinya, namun rasanya kurang mengalir dan sedikit kurang sreg saja.

Lalu ... ada satu hal yang mengganggu saya (di luar typo dan kesalahan penulisan yang banyak saya temukan--di bawah sepuluh sih, tapi di atas lima menurut saya "cukup banyak"). Yaitu, tentang kebiasaan unik para tokohnya tentang "trivia". Jadi, si Ansel ini suka dengan musik klasik, bahkan dia pemain harpa. Dan juga, dia berharap agar orang-orang mengerti dan mencintai kesukaannya itu. Makanya, dia senang menyampaikan trivia tentang musik-musik klasik, bisa tentang cerita unik komposernya, atau kisah di balik pembuatan musiknya. Sejujurnya, saya suka dengan karakter Ansel yang ini, membuatnya unik. Dan karakter-karakter unik akan melekat dalam ingatan pembaca dalam waktu yang lama. Tapi, entah mengapa, rasanya penulis kebanyakan membuat trivia di sini. Bukan hanya pada Anselnya saja, tapi juga Benji yang mempunyai trivia seputar opera-opera yang disukainya. Dan karena orang sekeliling Ada suka ber-trivia, dia juga jadi ikutan latah punya satu trivia juga. Saya jadi merasa ... overdosis. Kalau satu itu unik, kebanyakan jadi agak anu juga. Kayak, ada kejadian yang berhubungan dengan musik atau apa pun yang dirasa unik muncul, langsung di-trivia-in. Padahal, cukup Ansel yang punya karakter begitu saja sudah cukup. Kalau kebanyakan tokoh punya trivia begitu, kadar keistimewaan si Ansel jadi berkurang.

Dan tentang tema besarnya seputar bunuh diri .... Hmmm. Entah mengapa, tema seperti ini lagi sering saya temukan di novel-novel yang saya baca. Rasanya, kembang kempis juga karena saya merasa tidak hanya sebagai pembaca, tapi juga saya memiliki sudut pandang sebagai orang yang pernah memikirkan hal tersebut meskipun alhamdulillah ya Allah, nggak sampai pada tahap depresi akut sampai punya keinginan untuk mengeksekusi itu. Saya setuju dengan kalimat ini:

Alasan orang bunuh diri berbeda-beda, tapi akarnya tetap sama: merasa kesepian. ---halaman 21

Kesepian di sini bisa berarti dia tidak punya teman berbagi, tapi juga bisa karena dia tidak tahu bagaimana caranya berbagi atau terbuka dengan orang lain. Ketika semua permasalahan bertumpuk jadi satu, dan tidak menemukan jalan keluar dan terus dihantui dengan "what if" atas apa yang bahkan belum akan terjadi, pemikiran-pemikiran seputar ingin bunuh diri bisa saja terlintas. Bisikan setan menari-nari kesenangan tuh. Hahaha. Tapi, penulis berhasil mengeksekusi tema ini dengan baik. Kesan bahwa "hah, Rani gitu doang kok depresi sampai berkali-kali bunuh diri" berhasil terhapuskan dalam benak saya karena pada akhirnya saya dapat pemahaman bahwa cara orang lain menghadapi masalah tidak sama dengan cara yang kamu hadapi, pun juga begitu dengan kemampuan mereka dalam mengelolanya. 

(Pokoknya, tentang teknik menulis, jangan ragukan kemampuan Ziggy. Hasilnya memukau!)

Jadi kesimpulannya, saya tidak akan pernah kapok untuk baca novel karya Ziggy :3


Jakarta Sebelum Pagi

Judul : Jakarta Sebelum Pagi
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal Buku : 280 Halaman
ISBN : 9786023754847
Rating : 5 dari 5




Hari ini, di pemakaman, ada orang yang dikubur, dan ada orang yang mengubur. Namun sepertinya, kematian mengambil keduanya--satu orang mati dan satu orang hidup. Bukan salah kematian, kurasa. Kematian hanya mengambil satu dari mereka. Masalahnya, yang ditinggal masih berusaha mengejarnya, berharap kematian mau mengembalikan apa yang ia ambil. ---halaman 1


Blurb:


“Jam tiga dini hari, sweter, dan jalanan yang gelap dan sepi .... Ada peta, petunjuk; dan Jakarta menjadi tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.”

Mawar, hyacinth biru, dan melati. Dibawa balon perak, tiga bunga ini diantar setiap hari ke balkon apartemen Emina. Tanpa pengirim, tanpa pesan; hanya kemungkinan adanya stalker mencurigakan yang tahu alamat tempat tinggalnya.



Ketika—tanpa rasa takut—Emina mencoba menelusuri jejak sang stalker, pencariannya mengantarkan dirinya kepada gadis kecil misterius di toko bunga, kamar apartemen sebelah tanpa suara, dan setumpuk surat cinta berisi kisah yang terlewat di hadapan bangunan-bangunan tua Kota Jakarta. 




***
Emina, seorang gadis metropolitan yang unik. Kenapa unik? Karena pembawaannya yang menarik: ceria, easy-going, blakblakan dalam versinya tersendiri. Orangtuanya meninggal dunia, yang tersisa dari keluarganya adalah kakek dan neneknya serta adik dari kakeknya yang tinggal di sebuah rumah, Emina memberi julukan "Rumah Para Jompo". Tetangga mereka, juga seorang lelaki tua keturunan Belanda yang dipanggil oleh Emina dengan sebutan Pak Meneer.

Lalu tiba-tiba ada orang misterius yang mengiriminya surat misterius dengan caranya yang unik. Surat itu dikirimkan dengan balon gas yang lewat dari jendela apartemennya, ditambah dengan bunga hyacinth biru. Pilihan cara mengirim surat yang unik, dan bunga langka yang tidak sembarang bisa tumbuh di Indonesia.

Isi suratnya pun tak kalah misterius. Tentang surat yang bukan atas namanya, dengan setting Jakarta bahari, namun surat itu secara gamblang ditujukan pada dirinya. Reaksi Emina tidak seperti yang seharusnya orang normal mengatasi itu. Temannya mengatakan kalau itu perilaku penguntitan. Namun Emina justru merasa penasaran. Maka dimulailah skenario investigasi yang membawa Emina berkenalan dengan seorang gadis SD yang unik bernama Suki. Suki adalah pemilik toko bunga yang berada tidak jauh dari apartemennya berada. Gadis keturunan Arab-Jepang itu memiliki hobi tak kalah unik yang berkaitan dengan teh. Anak kecil itu terobsesi dengan teh dan upacara minum teh khas Jepang!

Dari Suki, ia kemudian berkenalan dengan Abel, seorang pemuda korban perang Aljazair yang mengidap trauma terhadap suara level kronik. Hubungan yang aneh terjalin antara Emina dengan Abel. Mereka memutuskan untuk menyelidiki surat-surat misterius yang sampai ke tangan Emina dengan menjelajahi lokasi-lokasi kota Jakarta masa kini, yang terhubung dengan setting Jakarta masa lalu yang tertulis di surat-surat misterius itu.


Mengingat partnernya tidak bisa diajak memecahkan misteri ke tempat-tempat itu pada siang hari, maka mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dini hari dan mengunjungi tempat-tempat itu, berharap dapat memecahkan isi surat dan mengetahui siapa yang dimaksud oleh si penerima maupun pengirim aslinya.


***


Satu hal  yang tidak saya sukai dari keseluruhan novel ini adalah covernya yang mirip sekali dengan I'll Give You The Sun. Aduh, kenapa bisa kecolongan seperti ini? 




Tapi, di luar satu hal itu, novel ini benar-benar out of the box, juara! Dari mulai cara penyampaiannya, plotnya, karakternya, settingnya. Mengingatkan saya pada Animal Farm dan segala macam ke-babi-annya (ini bukan umpatan!), lalu kisah kota zaman dahulu (yang pernah pengin saya buat untuk kota saya tapi sepertinya perlu ditinjau ulang deh setelah menu buku ini), Lyanna Mormont! Suki mengingatkan saya pada karakter itu, eksekusi karakter di dalam ceritanya yang seperti sedang menonton film-film barat romantis, dan... salah satu bab dari buku Fikih Kontemporer yang pernah saya baca, yang membuat kisah ini meskipun tidak biasa, bukan berarti tidak pernah ada.

Oke mari kita bahas satu per satu. Pertama soal karakter. Saya suka bagaimana cara Ziggy menyampaikan karakternya. Meskipun ini baru novel kedua Ziggy yang saya baca, namun saya suka sekali bagaimana penulis menyampaikan cerita berdasarkan karakternya. Saya membaca Di Tanah Lada yang mana tokohnya adalah seorang anak kecil, narasi dan deskripsinya pas sekali dengan usia dan karakter Salva. Di sini, karakternya adalah Emina yang easy going dan seru. Gaya bahasa yang digunakan pun seolah menyatu dengan karakter itu. (Ehem, saya follow akun twitter Ziggy dan sering stalking juga. Saya rasa Emina ini mirip dengan Ziggy pembawaannya.) 

Lalu, plotnya. Wow, saya tidak pernah bisa membayangkan ada beberapa plot aneh dan tidak masuk akal dicampur menjadi satu dan disampaikan dengan cukup masuk akal dan apik! Pertama, tentang sosok gadis metropolitan dengan segala kehidupannya yang... katakanlah bisa saya bayangkan: berjibaku dengan kemacetan jalan rahya, jam kerja, pergaulan kantor (meskipun ini bukan plot utama cerita ini). Lalu, dipadukan dengan cerita tentang seorang pemuda korban perang Aljazair. Saya saking kepo-nya, sampai googling, dan ternyata perang itu benar ada. Timeline-nya pas dengan perkembangan usia si tokoh utama. Tentang kebudayaan Jepang, lalu si bunga hyacinth yang bahkan baru saya dengar di novel ini. Dan mau tahu yang paling mencengangkan? Wah, saya tidak mau spoiler karena bisa dibilang ini salah satu plot kunci. Tapi, sesuatu ini yang benar-benar tidak dapat diprediksi dan bagi orang normal (maaf ya Ziggy, kamu sedikit tidak normal kalau begini, hahaha, ini pujian lho) rasanya susah mencapai "ide" itu dan menggunakannya serta meramu dengan plot-plot lain. Sesuatu itu yang langka, namun bukan berarti tidak ada, karena saya pernah menemukan pembahasan tentang itu di buku Fikih Kontemporer.

Dari segi karakter, juara! Suki mengingatkan saya pada Lyanna Mormont, si gadis kecil pemimpin Klan Mormont di serial Game of Thrones.




Satu hal lagi, saya kan menemukan novel sejenis ini yang sepertinya bertema kota-kota di Indonesia (saya lihat ada novel yang judulnya Jogjakarta apa gitu judulnya). Pengambilan Jakarta sebagai latar cerita saya rasa cukup pas. Apalagi, sudut pandang yang diambil oleh Ziggy adalah menceritakan "Jakarta versi lain yang tidak biasa" dengan mengambil benang merah "Jakarta tempo dulu". Namun, itu tidak membuat penulis melupakan kondisi kota tersayang ini dengan menggambarkannya dalam versi bahasa Emina dengan memberikan analogi ke-babi-annya: Emina adalah sosok Babi Asap yang terpapar polusi setiap hari karena berangkat ke kantor menggunakan motor, lalu sahabatnya Nissa, adalah Babi Yan-pi karena ia bagaikan sosok yan-pi, karena temannya itu selalu terjepit saat berdesak-desakan di dalam kereta. Lagi-lagi, ini cara penggambaran kota sebagai tema dan setting dengan cara yang tidak biasa.

Sudahlah. Juarak pokoknya! 

Di Tanah Lada

Judul : Di Tanah Lada
Pengarang : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020318967
Tebal : 244 Halaman
Rating : 4 dari 5




"Aku tidak mengerti. Kalau seseorang mencintai seseorang, seharusnya seseorang itu tahu kalau seseorang mencintai mereka. Karena, seseorang yang mencintai seseorang itu, harus menunjukkan kalau seseorang mencintai seseorang. Itu kata Mama."


Ava adalah seorang anak kecil berusia enam tahun. Ava tergolong anak yang memiliki kecerdasan linguistik. Di ulangtahunnya yang ketiga, Kakek Kia memberinya hadiah berupa kamus Bahasa Indonesia. Sejak ia mulai bisa membaca, Ava kerap membaca kamus untuk mencari tahu istilah-istilah yang tidak dipahami oleh anak seusianya. Ava tinggal dalam keluarga broken home. Ayahnya kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tak jarang Ava dan ibunya dipukul oleh sang ayah.

Cerita bermula ketika Ava dan orangtuanya pindah rumah ke Rusun Nero, rusun di mana tidak jauh dari tempatnya berada, terdapat tempat perjudian. Ayahnya gemar berjudi. Saat Kakek Kia meninggal, rumah dan harta dijual untuk keperluan berjudi ayahnya. Di rusun yang sederhana ini, hanya ada satu kamar yang diisi oleh ayah dan ibunya. Lalu Ava tidur di mana?

Saat orangtuanya kembali bertengkar, Ava diberi uang untuk mencari makan. Maka ia pergi ke sebuah warung makan dan bertemu dengan lelaki pengamen bernama P, berusia sepuluh tahun, dan gemar membawa gitar kecil ke manapun dia berjalan. Dari sanalah pertemanan kedua anak kecil ini bermula. Ternyata, P pun memiliki kisah yang sama dengan Ava, bahkan bisa dibilang lebih parah. Ayahnya gemar memukuli P, dan tidak segan memukulnya dengan setrika panas.

Hari pertama tinggal di Rusun Nero, Ava terpaksa harus tidur di dalam kamar mandi. Hari kedua, ia tidur di dalam koper. Saat itulah muncul kemarahan sang ayah yang membuatnya mengusir Ava dan ibunya. Mereka berdua melarikan diri ke hotel.

Di Rusun Nero, P sering bertemu dengan Kak Suri, yang tinggal di lantai empat. Ava dikenalkan juga ke Kak Suri yang sering mengajarkan Bahasa Inggris pada P. Selain itu, P mengenal seorang pemuda yang memberinya gitar dan sering membayarkan makan, yaitu Kak Alri. Ava juga punya om dan tante yang baik meskipun ayahnya jahat. 

Konflik mulai meruncing saat Ava diajak masuk ke rumah P yang ternyata ada di depan rumahnya. Di sana, ternyata Ava tahu bahwa kehidupan P jauh lebih parah ketimbang apa yang menimpa Ava. P tinggal di kamar kardus, yaitu di satu sudut dapur di bawah meja besar yang tertutup kardus. Saat sedang berada di sana, rupanya sang ayah mengetahuinya dan murka. P disiksa dengan menggunakan setrika.

P dilarikan ke rumah sakit oleh Kak Suri. Setelah keluar dari rumah sakit, kedua anak ini memutuskan untuk melarikan diri, dan tempat pelarian diri yang dituju oleh Ava dan P adalah rumah Nenek Isma, nenek Ava yang berada di Bandar Lampung. Mereka menjual handphonenya untuk membiayai perjalanan ke sana. Di malam harinya, keduanya bertemu dengan bapak tukang sate yang berbaik hati mau menampung mereka di rumahnya, dan tetangganya yang juga berbaik hati mau memberikan sepeda bekas keponakannya. Pagi hari, mereka memutuskan melarikan diri karena mendengar kalau mereka akan dilaporkan ke kantor polisi. P dan Ava tidak mau dipenjara, oleh karenanya mereka membuat surat ucapan terima kasih kepada bapak dan ibu tukang sate yang baik hati.

Saat di terminal, ternyata mereka ketemu dengan Kak Alri. Kak Alri sudah menduga kalau akan menemukan P dan Ava di terminal. Dengan berbaik hati, Kak Alri menawarkan untuk mengantar mereka ke rumah Nenek Isma. Mereka pergi ke Bandar Lampung dengan menggunakan mobil Kak Alri.

Apakah cerita ini akan berakhir dengan bahagia? Saya rasa, bahagia pun memiliki sudut pandangnya masing-masing. Dan alangkah lebih menyenangkan kalau dibaca sendiri bukunya. Kita akan terhanyut oleh pemikiran anak kecil dan bagaimana serunya isi kepala mereka, yang mengajarkan banyak hal pada orang-orang dewasa. Sebuah pelajaran berharga tentang cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan.

***

Sangat menarik membaca cerita dengan sudut pandang anak kecil berusia enam tahun. Ini mengingatkan saya bahwa betapa berisiknya isi kepala anak kecil yang dipenuhi oleh rasa keingintahuan mereka terhadap segala sesuatu. Anak kecil yang benar-benar polos, memahami permasalahan pelik yang menimpanya dengan cara mereka sendiri. Saya jadi pengin kembali ke masa itu di mana kekhawatiran dan ketakutan yang membebani hidup tidak dimiliki oleh anak-anak tesebut. Bagaimana mereka memandang segala permasalahan orang dewasa dalam sudut pandang mereka sendiri. 

Saya berkali-kali terenyuh oleh kisah ini. Ternyata memang benar, bahwa anak kecil mengajarkan kepada orang dewasa banyak sekali pelajaran yang terlupa. Entah itu karena banyaknya permasalahan yang melingkupi kehidupan orang dewasa, maupun banyaknya beban hidup yang harus orang dewasa tanggung. Padahal, anak kecil hanyalah membutuhkan ribuan kasih sayang setiap saatnya, dan di usia keemasan otaknya itu perlu diisi dengan hal-hal baik lainnya. Yang membuat saya sedih membaca novel ini adalah... apakah saya akan sanggup menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak saya kelak nantinya? Sanggup memberikan rumah yang nyaman untuk mereka, keluarga yang hangat dan harmonis, sehingga tidak perlu merasakan bagaimana peliknya kehidupan Ava dan P. Yah memang, pada akhirnya, segala yang terjadi pada kehidupan anak kecil memang kembali berasal dari perlakuan orang dewasa kepada mereka.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)