Showing posts with label Norwegia. Show all posts
Showing posts with label Norwegia. Show all posts

Misteri Soliter

Judul : Misteri Soliter
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Raharti Bambang
Penerbit : PT Mizan Pustaka
ISBN: 9789794339039
Tebal : 484 halaman
Rating : 5 dari 5




Blurb:

Hans Thomas, 12 tahun, bersama sang ayah melakukan perjalanan ke Yunani untuk mencari sang ibu. Perjalanan panjang itu diwarnai kejadian-kejadian aneh. Seorang kurcaci memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar, seorang tukang roti memberikan sekerat roti berisi buku mini yang berkisah tentang pelaut yang terdampar di sebuah pulau; setumpuk kartu remi yang tiba-tiba hidup, dan seorang Joker yang nyaris tahu segala.

Siapakah mereka? Dan ke manakah mereka akan membawa Hans Thomas? Misteri Soliter adalah bacaan yang ditulis khusus bagi mereka yang ingin belajar filsafat tanpa harus berkerut kening. Kisah di dalam kisah, karakter yang mungkin nyata, mungkin pula tidak, masa lalu dan masa depan. Sebuah kisah yang menyajikan teka-teki dan eksplorasi kehidupan yang memukau.


***


Tidak seperti perjalanan berlibur biasa yang dilakukan seorang ayah dengan anaknya, namun kali ini Hans melakukan perjalanan untuk mencari sang ibu yang telah delapan tahun meninggalkan mereka. Mereka berniat untuk membawa pulang ibu mereka yang sedang mencari jati diri, yang terjatuh dalam pusaran dunia pupularitas di Yunani; Anita, ibu Hans, adalah seorang model terkenal di tanah para filsuf itu.

Saranku untuk semua orang yang berusaha menemukan jati diri adalah: tetaplah tinggal di tempatmu sekarang. Kalau tidak, kau dalam bahaya besar kehilangan dirimu selamanya. --- halaman 26

Karena ada peraturan tidak tertulis di antara keduanya, bahwa Pa dilarang untuk merokok di dalam mobil, dan Hans dilarang untuk mengeluh sepanjang perjalanan, maka disepakati bahwa mereka akan sering berhenti untuk istirahat dan membiarkan Pa untuk merokok.

Saat dalam perjalanan, mereka bertemu dengan pria pendek (seukuran kurcaci) yang mengarahkan mereka untuk melewati Dorf. Di sana, Hans dan Pa bertemu dengan seorang tukang roti yang memberikan Hans empat buah roti kadet (buat yang penasaran dengan roti kadet, rotinya seperti ini). Kata si tukang roti, Hans boleh membaginya dengan Pa, namun yang terbesar harus dimakannya sendiri. Hans juga bertemu dengan kurcaci yang memberinya kaca pembesar. Rupanya, ada misteri di balik itu semua yang harus dirahasiakan Hans dari Pa:ada sebuah buku mini yang dipanggang dalam roti kadet miliknya. Kaca pembesar itu, adalah alat bantu bagi Hans untuk menguak misterinya.

Sepanjang perjalanan, dalam momen-momen berhenti itu, Pa mengajarkan banyak hal seputar kehidupan pada anaknya. Pa sendiri adalah seorang anak haram, bahkan menyedihkan dari itu, ayahnya seorang tentara Jerman yang menyerang Norwegia. Kisah ini membuat Pa menjadi anak yang terbuang. Pa memutuskan untuk menjadi seorang pelaut. Pa juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan filosofis kepada anak dua belas tahunnya.

Yang paling membuatku terkesan, bahwa segalanya berasal dari satu sel. Berjuta-juta tahun lalu sebutir biji kecil muncul, lalu terbelah dua, dan seiring waktu, biji kecil muncul, lalu terbelah dua, dan seiring waktu, biji kecil ini berubah menjadi gajah dan pohon apel, raspberry dan orang utan. Kau memahami jalan pikiranku Hans Thomas? --- halaman 130

Hans Thomas mendapatkan buku dalam roti kadet. Di dalamnya, terdapat kisah yang menceritakan tentang petualangan seorang pelaut yang terdampar di sebuah pulau aneh. Di sana pemuda itu bertemu dengan kurcaci-kurcaci yang merupakan simbolisasi kartu remi. Pemuda itu bertemu dengan Forde (yang berukuran manusia normal) yang menceritakan tentang asal-muasal bagaimana para kurcaci itu berada di sini, dan bagaimana pula Forde bisa sampai di pulau misterius ini.

Yang membuat Hans terheran-heran adalah, banyak kesamaan yang terjadi dalam kehidupannya dengan cerita tentang kehidupannya di dunia nyata. Namun, Hans tetap menjaga misteri tentang buku tersebut dari Pa. Dengan membaca buku tersebut, membuat Hans juga memiliki kosakata filosofis untuk mengimbangi kisah yang dipaparkan ayahnya.

Semakin dekat perjalanan mereka ke Athena, semakin membuat mereka khawatir, apakah perjalanan ini akan berakhir dengan sia-sia, atau mereka pada akhirnya dapat membawa kembali Mama dan menariknya dari jebakan menemukan jati diri di sana.


***


Kehidupan adalah satu undian besar di mana hanya tiket-tiket pemenangnya yang tampak. 

Berbicara tentang filsafat, kita tidak akan luput dari pertanyaan-pertanyaan penting seputar kehidupan yang terkadang, lupa untuk terpikir oleh kita. Padahal, pertanyaan-pertanyaan tersebut begitu fundamental bagi kehidupan manusia. Pernahkah kita bertanya, dari mana kita berasal? Apa tujuan kita hidup di dunia? Ke manakah kita akan pergi sesudah meninggal nanti? Pa menyinggung ini dalam suatu obrolan saat mereka tengah beristirahat dalam perjalanan mereka menuju ke Athena untuk membawa pulang Mama.

Menurutku merupakan misteri bagaimana orang-orang di bumi bisa menjelajahi dunia begitu saja tanpa mengajukan pertanyaan, lagi dan lagi, tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Bagaimana kehidupan di planet ini bisa menjadi sesuatu yang kauabaikan atau kausepelekan begitu saja?

Bagi saya, pertanyaan itu sudah menggaung sebegitu lama, karena saya mengenal tema ini bahkan ketika beranjak dewasa sekitar, hmmm, dua belas tahun yang lalu (tua juga ya sekarang, hahaha). Ternyata perkenalan saya dengan filsafat selama itu, meskipun tidak secara sadar saya mengeahuinya. Pertanyaan besar tersebut rupanya bagi banyak orang masih menjadi misteri. Sebegitu misterinya jawaban dari pertanyaan tersebut, bahkan orang-orang yang berpikir tentang itu hanyalah segelintir orang saja. Percakapan antara Pa dan Hans Thomas menjadi pengingat kembali bagi para pembaca untuk menekuri asal muasal dirinya dalam belantara kehidupan dunia.

Sementara itu, cerita dalam buku roti kadet membuat kita berpikir dalam. Gaarder menyajikan realitas dengan fiksi secara bersamaan dan membenturkannya untuk membuat pembaca bertanya-tanya: di mana batas antara ilusi dan kenyataan, lalu dijelaskan dengan penjelasan yang rasional (meskipun tentu saja, celah besar tentang apakah ini nyata itu maya masih terbuka dengan lebar). Yang membuat saya bertanya-tanya adalah tentang Joker (Joker ini mirip dengan lelaki dalam khayalan Petter dalam Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng). Bagi saya, Joker merupakan misteri terbesar yang belum terpecahkan, tidak hanya di dalam dunia buku ini saja. Mungkin juga dalam dunia ini. Mungkin saya adalah Joker? Hahaha, bisa jadi saya memang Joker dalam wujud manusia.

Selain tentang itu, kisah kartu-kartu tersebut begitu menarik. Yang saya suka adalah tentang penanggalan kartu berdasarkan jumlah kartu remi, dan yang mengejutkan: Hari Joker. Dalam kisah filosofis yang diceritakan Pa, saya juga senang saat Pa menceritakan tentang mitologi Yunani, dan juga cerita tentang filsuf di masa lalu. Yang saya suka, tentu saja saat Pa menyinggung soal Socrates.

Socrates tanpa ragu berkata pada diri sendiri bahwa dia hanya tahu satu hal--yaitu bahwa dia tidak tahu apa-apa. 

Saya akhiri review ini dengan sebuah kutipan antara Pa dan Hans yang benar-benar menyentuh hati:

"Kalau begitu, berarti ada dunia lain?" Pa mengangguk sembunyi-sembunyi. "Dunia lain adalah jiwa kita sebelum menyarangkan diri di tubuh, dan akan kembali ke sana bila tubuh itu mati akibat kerusakan waktu."

"Mari kita berjanji untuk tidak meninggalkan planet ini sebelum mengetahui lebih banyak tentang siapa diri kita dan dari mana kita berasal."


Membaca novel ini membuat saya memandang kartu remi dengan cara yang lain.

***

Novel ini dibaca dalam rangka even BBI (Blog Buku Indonesia) di bulan Maret, yaitu baca bareng sama followers twitter. Rekapan baca bareng saya ada di sini.

Ada giveaway untuk buku ini dan karya-karya Jostein Gaarder lainnya di sini.



Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Judul : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penerbit : Mizan
Tebal Buku : 284 Halaman
ISBN : 9789794334157
Rating : 4 dari 5 




"Jika aku membaca sebuah buku yang kusukai, rasanya apa yang kubaca membawa pikiranku terbang melayang keluar dari buku itu. Buku kan bukan hanya terdiri dari kata-kata atau gambar di atas kertas belaka, melainkan juga semua yang aku bayangkan saat membacanya." --- halaman 42


Blurb:



Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dalam dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad mengungkap misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. 





***


Berit dan Nils baru saja menghabiskan liburan bersama. Saat mereka tengah berlibur itulah keduanya membeli sebuah buku dan memutuskan untuk membuat buku surat yang akan dikirimkan bolak-balik Fjærland ke Oslo. Pada mulanya, buku mereka diisi dengan cerita-cerita menarik seputar liburan mereka, seperti misalnya ketika mereka mengunjungi Pondok Flatbre  dan menuliskan buku tamu di sana dengan selarik puisi:


Dalam keriangan musim panas ini,

Segelas Coca-Cola kami nikmati,
Nils dan Berit, itulah kami,
Menghabiskan liburan kami di sini.
Sangat indah di atas sini,
Sampai kami tak ingin pergi.

Lalu, surat-surat selanjutnya diisi dengan menggosipkan seseorang yang dianggap aneh oleh mereka yakni Bibbi Bokken. Siapakah sosok Bibbi Bokken ini? Ternyata dia adalah seorang wanita misterius yang memiliki ketertarikan dengan buku dan perpustakaan. Selama melakukan korespondensi, Berit dan Nils merasakan kejanggalan yang tiba-tiba terjadi dalam kehidupan mereka, misalnya tiba-tiba ada orang yang mengikuti mereka, atau tentang kecurigaan bahwa Bibbi Bokken adalah anggota sindikat perdagangan buku langka internasional.

Kejadian langka tersebut bermula ketika Berit menemukan surat yang terjatuh dari tas wanita itu, dari Sirri si Campo dei Fiori yang mengatakan bahwa tahun depan akan diterbitkan sebuah buku misterius dan juga cerita tentang perpustakaan ajaib. Nils juga merasa diikuti oleh seseorang bernama Mr Smiley yang dicurigai mengincar buku surat mereka berdua. Bahkan, guru sekolahnya pun ikut penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Nils ketika ia dalam tugas karangannya menggunakan nama Bibbi Bokken sebagai tokoh utamanya.



Ketika Nils menceritakan kepada Berit bahwa dia akan pergi ke Roma karena Ibunya memenangkan sayembara penulisan cerita pendek, Nils pun memeberitahukan kepada sepupunya itu tentang kejadian aneh yang menimpanya, seolah Bibbi Bokken (atau Mr Smiley?) adalah dalang di balik kejadian ganjil ini semua.


***


Dunia perpustakaan menjadi tema dalam novel anak-remaja ini. Tokoh utamanya adalah anak-anak kelas enam sekolah dasar yang beranjak dewasa, diliputi banyak rasa ingin tahu yang tinggi, juga berjiwa petualang yang membuat karakter tokohnya keluar dan bersesuaian dengan tema yang diangkat. Meskipun, tema yang diusung cukup berat seputar dunia perbukuan yang bahkan pembaca usia dewasa saja tidak terlalu paham dengannya. Istilah bibliografi, incabula, Guttenberg, Dewey, disajikan dalam sudut pandang keingintahuan anak-anak sehingga kesan 'berat' tidak tinggal dalam benak pembaca. Bahkan apabila dibaca oleh anak seusia karakternya.

Buku yang menarik tentang buku, perpustakaan, dan minat baca tulis bagi anak-anak usia remaja.



"Siapa pun yang membaca buku, punya mata di berbagai tempat yang unik." --- halaman 247

Mulanya saya mengira novel ini akan berpola mirip dengan Dunia Sophie. Jadi, hal-hal absurd yang terjadi di bagian awal (mungkin untuk yang nggak sabar menyimak cerita ini akan bosan dan malas melanjutkan) saya terima saja sambil menebak-nebak maksud cerita. Tapi, saya kok kayaknya yakin penulis memiliki twist yang sama dengan si Sophie itu. Eh ternyata tebakan saya salah besar. Di bagian kedua, saya mulai menikmati alur cerita, apalagi informasi seputar buku, misalnya tentang Klasifikasi Dewey (membuat saya iseng cek buku perpus dan lihat di tabelnya), lalu hal-hal yang berhubungan dengan perbukuan dan perpustakaan menambah informasi. Yang paling saya suka adalah kisah yang berhubungan dengan Gutenberg dan huruf bongkar pasangnya. Dan lagi, karena novel ini ditujukan untuk semua usia, saya jadi seolah-olah ikut kembali ke masa anak-anak menuju remaja itu, hehehe.



Meskipun tidak secanggih karya Gaarder lainnya, saya tetap suka membacanya.

Jadi, sama seperti atom dan molekul bisa menjadi seekor beruang, huruf-huruf tersebut pun dapat menjadi kisah Pooh si Beruang --- halaman 218 


Dunia Cecilia

Judul : Dunia Cecilia 
(Sempat terbit dengan judul: Cecilia dan Malaikat Ariel)
Judul Asli : Through a Glass, Darkly
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerbit : PT Mizan Pustaka
ISBN: 9789794338865
Tebal : 209 halaman
Rating : 5 dari 5





Blurb:

"Orang bilang, kita akan ke surga setelah mati. Benarkah?"
Malaikat Ariel mendesah, "kalian semua sekarang sudah berada di surga. Sekarang, di sini. Jadi, sebaiknya kalian berhenti bertengkar dan berkelahi. Sangat tidak sopan berkelahi di hadapan Tuhan."


Malam Natal tahun ini sungguh menyedihkan bagi Cecilia. Ia sakit keras dan mungkin tak akan pernah sembuh. Cecilia marah dan menganggap Tuhan tidak adil. 

Namun, terjadi keajaiban. Seorang Malaikat-Ariel namanya-mengunjungi Cecilia. Mereka berdua kemudian membiat perjanjian. Cecilia harus memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia dan Malaikat Ariel akan memberitahunya seperti apa surga itu. 

Cecilia adalah seorang gadis cilik yang tengah mengalami sakit keras. Kegiatan sehari-harinya hanyalah berada di kamar, dan hanya mengamati ornamen-ornamen yang ada di kamarnya, atau membaca Science Illustrated yang selalu dibelikan ayahnya, atau menulis di Diari Cina miliknya yang tersembunyi di bawah kolong ranjang. Tapi Cecilia tidak cukup punya tenaga untuk menulis banyak di diari itu. Tapi dia sudah bertekad untuk mencatat semua gagasan yang terlintas di benaknya saat ia terbaring di ranjang. Mereka menyediakan lonceng kecil yang diletakkan di meja apabila Cecilia membutuhkan sesuatu, sehingga anggota keluarganya akan datang. 

Suatu pagi di hari Natal, seorang malaikat menyambanginya dan memulai pertemanan ganjil mereka dengan sebuah sapa, "Nyenyak tidurmu?" Sang malaikat memperkenalkan dirinya sebagai Ariel. Lantas keduanya berdialog dan membicarakan banyak hal, hingga mereka membuat kesepakatan untuk saling menceritakan tentang misteri yang melingkupi kehidupan mereka.  Cecilia harus memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia dan Malaikat Ariel akan memberitahunya seperti apa surga itu. 

***

Dimulai dari Ariel, yang begitu ingin tahu bagaimana rasanya meraba, melihat, mendengar, memiliki penciuman, memiliki indera perasa. Cecilia heran dan baru mengetahui kalau malaikat tidak bisa merasakan itu semua, membuat Cecilia yang awalnya menganggap aktivitas itu biasa saja jadi ikut berpikir juga, bahwa manusia tercipta dengan banyak sekali kompleksitas yang mahadahsyat. Obrolan mereka pun bergulir ke mana-mana. Seperti misalnya, "Duluan mana ayam atau telur?" atau "Mengapa malaikat tidak punya rambut? Apakah mereka selalu memotong kuku?"

Kata Ariel, manusia dianugerahi hal-hal terbaik dari dua dunia. Mereka punya ruh dan kesadaran malaikat, juga punya badan yang tumbuh, seperi hewan. "Aku nggak suka disamakan dengan hewan," protes Cecilia.

"Semua tumbuhan dan hewan memulai hidup mereka sebagai benih atau sel mungil. Mula-mula mereka sangat serupa sehingga kau tak bisa membedakan mereka. Tapi kemudian, benih-benih mungil perlahan berkembang dan menjelma menjadi segala macam tumbuhan, mulai dari semak berry merah dan pohon plum sampai manusia dan jerapah. Butuh waktu berhari-hari sebelum kau bisa melihat perbedaan antara embrio babi dan embrio manusia. Kau tahu itu?"

Dan dialog yang paling saya suka itu saat mereka membicarakan tentang surga dan Tuhan:

"Aku selalu bertanya-tanya di manakah surga berada," kata Cecilia. "Tak seorang pun astronaut pernah melihat Tuhan atau malaikat."

"Tak seorang pun ahli bedah otak pernah menemukan pikiran di dalam otak. Dan tak seorang pun psikolog pernah melihat mimpi orang lain. Itu tak berarti pikiran dan mimpi tak benar-benar ada di dalam kepala manusia."

Masih banyak sekali dialog-dialog sarat filosofis sejenis itu. Dan karena disajikan dalam sudut pandang anak kecil yang rasa ingin tahunya tinggi, juga oleh malaikat yang akhirnya punya teman yang bisa diajak mengobrol dan berdiskusi, obrolan ini benar-benar menarik. Sayang sekali, malaikat Ariel hanya datang saat Cecilia sedang sendiri sehingga bahkan ketika keadaannya semakin memburuk, ia meminta orang-orang yang menunggunya untuk pergi. 

Akhirnya memang sudah bisa ditebak bagaimana, tapi yah... tetap saja, perjalanan menuju akhir itu menyimpan banyak perenungan tentang keajaiban alam semesta, tentang manusia dan segala keajaiban yang ada di dalam dirinya. Ironisnya lagi, cerita disampaikan dari sudut pandang Cecilia, seorang anak kecil yang sedang mengalami sakit keras. 

Yang disayangkan, ini kenapa Mizan pada latah mengubah judul novelnya Jostein Gaarder pasca Dunia Sophie, pada diganti dengan "dunia" semua di depannya ya? Dunia Anna, nah sekarang Dunia Cecilia yang sebelumnya pernah diterbitkan dengan judul "Cecilia dan Malaikat Ariel". Entah mengapa saya suka judul aslinya "Through The Glass, Darkly" yang menurut saya lebih filosofis. Karena kita memang menatap "dunia lain" tersebut seperti menatap cermin yang buram. Namun bukan berarti tidak ada. Konsep ketuhanan, malaikat (meskipun saya tidak yakin malaikat yang sesungguhnya itu seperti yang digambarkan oleh Jostein Gaarder melalui Ariel-nya, namun saya percaya bahwa malaikat itu ada), proses penciptaan, dan lain sebagainya yang tidak dapat dipikirkan secara nalar, itu benar-benar ada. Seperti dialog Cecilia-Ariel di atas: Tak seorang pun ahli bedah otak pernah menemukan pikiran di dalam otak. Dan tak seorang pun psikolog pernah melihat mimpi orang lain. Itu tak berarti pikiran dan mimpi tak benar-benar ada di dalam kepala manusia.

Konsep ide ceritanya pun menarik, dengan memberikan perbedaan yang spesifik dan mendasar antara malaikat dan manusia dengan membuat si malaikat tidak memiliki apa yang melekat dalam diri manusia. Sebenarnya alangkah inginnya saya membicarakan malaikat dalam perspektif Islam, namun apa daya ilmu saya tidak sampai. Tapi di sini, karena tokoh fantasinya Opa Gaarder dibuat sedemikian rupa, membuat kita para pembaca (mungkin saya saja sih) kembali bercermin, tapi tidak melalui cermin yang buram, bahwa dialog dan ide yang diangkat sebenarnya membuat kita harusnya mengenali diri kita sendiri lagi. Jadi ingat ungkapan populer Arab (dan ini bukan hadits lho, by the way), “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya,” memiliki makna yang mendalam bahwa kalau kita mau melihat keajaiban Tuhan, coba deh lihat ke diri kita sendiri dulu.

Dan sebagai penutup review ini, masih berhubungan dengan  kalimat terakhir saya di atas, ada satu lagi kutipan menarik dari buku ini, tentang pertanyaan Cecilia mengenai apakah malaikat bisa melihat Tuhan.

“Aku sekarang bertatap muka dengan sepotong kecil dari diri-Nya. Apapun yang kulihat dan kubicarakan dengan sepotong kecil diri-Nya, sama artinya aku melihat dan membicarakan-Nya dengan Dia.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)