Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts

Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu

Judul : Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu
Penulis : Joseph Rio Jovian Haminoto 
Penerbit : Gramata
Tebal Buku : 76 Halaman
ISBN : 9786028986823 
Rating : 4 dari 5






"Apakah rahasia kebahagiaan itu menurut kamu?"
"Ketika kita dicintai oleh orang yang kita cintai, ketika kita dapat berbagi pada sesama, ketika kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan." ---halaman 87

Blurb:

Raphael Harijono (Rafa) adalah seorang pria asal Indonesia yang memiliki segala yang diperlukan untuk bisa memenangkan pelelangan internasional di balai-balai metropolitan dunia. 

Dalam sebuah perburuannya, ia terseret masuk ke dalam sebuah perjalanan waktu bersama Emma Watts, seorang ahli bahasa dan arkeolog dari King's College, Universitas Cambridge, dan juga bersama seorang wanita pengusaha setengah baya asal Prancis bernama Magalie Vaillant yang begitu memesona dalam pemikiran, tindakan dan... waktu.

Picaro Donevante, warga kota Paris berdarah Italia, berjumpa dengan Solene de Morency, seorang wanita kepada siapa ia dengan tulus setia berjanji untuk menjadi mata dan hati baginya untuk melihat keajaiban dan kemegahan peradaban Timur Jauh dan berjanji untuk kembali menemuinya pada sebuah perayaan ekaristi di Notre Dame, Paris.

Perjalanan panjang Rafa dan Picaro tidak hanya membawa mereka memasuki masa gemilaunya kerajaan Majapahit, tapi juga menyatukan mereka ke dalam sebuah Persekutuan Waktu.

***

Rafa memiliki kisah cinta yang aneh namun tragis. Bagaimana tidak tragis, jika pertemuannya dengan orang yang ia cintai harus melalui rentang waktu dua kali sepuluh tahun karena sebuah permainan konyol yang disepakatinya dengan seorang wanita bernama Artjana. Sepuluh tahun pertama, pertemuan mereka begitu dramatis dan menyenangkan, namun sepuluh tahun berikutnya yang ada hanyalah tragedi.

Ketika Anda mencintai seseorang, Anda menjadi terlalu mencintainya. Sesuatu yang terlalu, apa pun itu, selalu menjadi tidak baik. Karena yang terlalu akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan." ---halaman 75

Selain kisah cintanya yang tidak mengalami keberuntungan, hidup Rafa bergelimang harta. Ia adalah seorang kolektor benda-benda langka dan mahal. Atas nasionalismenya, ia memburu benda-benda yang berhubungan dengan Indonesia dan bermaksud memboyongnya ke Museum Indonesia. Dalam perjalanan itu, ia mengincar sebuah manuskrip yang menceritakan tentang Majapahit yang bahkan lebih hebat ketimbang cerita Marco Polo. Dari sana ia bertemu dengan seorang wanita tua misterius yang mengaku dalam kehidupan sebelumnya pernah menjadi ibunya. Dan saat sebelum pelelangan manuskrip itu, ia juga bertemu dengan Emma Watts, ahli bahasa yang menerjemahkan lembaran papirus itu ke dalam bahasa Inggris.

Picaro Donevante, seorang pemuda dari abad keempat belas, menjadi pengungsi politik yang tinggal di Paris, jatuh cinta dengan seorang wanita bernama Solene de Morency yang juga menyukainya.

"Saya suka orang yang membaca karena mereka bagaikan laut dalam yang harus diselami untuk dapat melihat keindahannya dan tak akan pernah ada batas untuk berhenti. Tidak seperti pantai dangkal yang walsu jernih dan indahh dengan karang dan ikan-ikan kecil berwarna, segalanya terbatas dalam lingkup yang jelas." ---halaman 56

Picaro diberi sebuah buku oleh pengajarnya tentang cerita dari negeri yang bernama Cathay (negeri China), dan ia meminta Solene untuk membantunya menerjemahkan buku itu. Karena rasa cintanya, Picaro menjanjikan akan mengajak Solene untuk melihat itu semua.

"Aku ingin melihat dunia yang dilihat Tuan Marco Polo!" kata Solene dengan mata berbinar setelah satu tahun lebih kami menggenggam bersama catatan perjalanan Tuan Polo itu.
Seketika itu juga aku menjawab, "Kita pergi besok ke Konstantinopel! Dari sana kita akan menuju Cathay! Saya, Picaro Donevante, berjanji akan mengantar Nona Solene de Morency untuk melihat dunia yang ingin ia lihat! Saya akan memperlihatkan kebesaran Tuhan dan untuk itu saya berjanji!" ---halaman 77

Malangnya, Solene akan menikah dengan orang lain. Karena patah hatinya, Picaro memutuskan untuk pergi menuju ke Cathay seorang diri. Uang yang diberikan ibu dan adiknya ia gunakan sebagai bekal perjalanan. Mulanya Picaro pergi ke Jerussalem. Di sana ia bertemu dengan seorang budak bernama Kingsley dan seorang Mamluk (sebuah bangsa yang rakyatnya merupakan ksatria tangguh) yang kemudian menjadi teman perjalanannya bernama Tari Fathelldin. Tiga teman perjalanan ini merepresentasikan tiga keyakinan berbeda: Picaro yang seorang Katolik, Tariq yang seorang Muslim, dan Kingsley penganut Yahudi. Mereka bahkan pergi ke Timur mengikuti seorang biksu yang ingin mengajar agama Buddha di Suvarnadvipa (Sumatra) di Kerajaan Srivijaya. Picaro setuju untuk mengikuti biksu itu karena ia tahu bahwa tempat itu pernah disinggahi oleh Marco Polo. Di sana, mereka menemukan banyak hal yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Sisa-sisa kejayaan Kerajaan Srivijaya yang masih terasa sampai saat itu. Lalu, ketika ada kesempatan untuk pergi ke bumi Cathay, Picaro memutuskan untuk berubah haluan. Ia pergi ke Javadvipa (Jawa). 

Karena sebuah kejadian, Picaro menjadi dekat dengan pihak kerajaan Mataram. Picaro hidup lama di sana, bahkan puluhan tahun. Ia hidup bersamaan dengan perkembangan kerajaan. Mulai dari pengangkatan Tribhuwana Tunggadewi sebagai penguasa Mataram, lalu Gajah Mada sebagai Mahapatih, dan bagaimana Gajah Mada menguasai dan menyatukan bumi nusantara, dan juga menjadi saksi pengangkatan dan kehidupan Hayam Wuruk sebagai penguasa kerajaan di bumi Javadvipa itu.

Cerita Rafa dan Picaro berjalan seiringan dalam buku ini, menjalin sebuah kisah yang padu dan mengasyikkan untuk dibaca. Membaca buku ini, membuat belajar sejarah menjadi menyenangkan.

***

Bagi saya, buku ini pas jika dianalogikan seperti gado-gado. Banyak komponen yang dicampur di dalamnya, tapi rasanya tetap nikmat. Bayangkan saja dua lini masa yang berbeda, dua sudut pandang, lalu bercampurnya tokoh barat dan pribumi, roman dalam balutan sejarah. Ketika dikemas dengan baik, semua itu bisa menyatu juga dan menyenangkan untuk dinikmati.

Terlepas dari adanya kekurangan dalam novel ini (akan saya bahas di bawah), saya bisa mengatakan bahwa ini adalah sebuah karya yang menakjubkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada penulis yang bersedia mengirimkan bukunya untuk diulas oleh saya. Begitu saya mendapatkan buku ini dan membaca beberapa halamannya, saya yakin kalau akan suka dengan isinya. Dan ternyata, prediksi saya benar. Rasanya senang sekali dipertemukan oleh buku yang saya suka.




Ada dua sudut pandang dan dua setting dalam novel ini. Yang pertama, menceritakan dari sudut Rafa dengan PoV orang ketiga. Di sini, setting waktunya adalah masa kini dengan latar di berbagai tempat. Lalu, PoV orang pertama disajikan oleh Picaro. Meskipun di awal pergantiannya cukup konsisten, namun dari tengah menuju akhir buku, kisah Picaro lebih banyak disajikan. Ini karena memang kisah ini lebih banyak menceritakan tentang perjalanannya. 

Meskipun di blurb diceritakan bahwa kisah ini bercerita tentang kerajaan Majapahit, tapi cerita tentang perjalanan ke Timur baru muncul di halaman 150.

Aku ingat nasihat Ayah, "Ketika engkau menginginkan sesuatu, namun engkau belum bisa mendapatkannya, berada di dekat-dekatnyalah...." Saat itu yang kupikirkan adalah aku harus ke Timur. ---halaman 150.

(Anyway, saya suka kalimat itu, benar-benar mengena banget!)

Sebelum membahas tentang bumi Nusantara, saya justru mendapatkan rangkuman tentang Perang Salib (ada di halaman 132 sampai 136). Sebagai penikmat sejarah yang mager untuk membaca buku atau riset tentang sejarah, bonus tentang Perang Salib adalah sebuah informasi yang berharga. Lalu, ketika mereka sampai di Nusantara, saya juga jadi mendapatkan banyak sekali informasi tentang keadaan sosial dan sejarah tentang kerajaan di Nusantara. Saya sedih karena baru kenal dengan Dyah Pitaloka dan ceritanya yang tragis dari buku ini (huhuhu, sedih).

Namun, sangat disayangkan buku ini "ditangani" dengan kurang baik. Saya katakan demikian, karena banyak sekali kesalahan penulisan yang tidak dipoles dengan baik oleh editornya, entah apa sebabnya (oke, saya berusaha untuk berpikir positif). Seperti misalnya, penggunaan tanda baca, penulisan yang tidak sesuai (contoh sederhana misalnya kata "dimana" yang seharusnya "di mana", lalu kata-kata yang tidak sesuai dengan KBBI, seperti "semedi" yang bakunya adalah "semadi"; masih banyak contoh-contoh lainnya, banyak sekali). Saya pernah membaca buku yang tidak ditangani dengan baik dan membuat mood saya melonjak turun drastis. Dan untungnya, riset sejarah yang kuat dari cerita ini membuat kesalahan itu pun termaafkan. Bagaimana tidak termaafkan jika konten buku ini, terutama tentang sejarah yang diangkatnya, memiliki nilai yang lebih dari sekadar plus bagi orang awam yang ngakunya ingin belajar sejarah namun sedikit malas membaca nonfiksi seperti saya, hehehe. Tapi ini tetap menjadi catatan yang semoga mendapatkan perbaikan di kemudian hari. (Berkali-kali saya mengatakan, "Duh, sayang banget, buku ini keren, plot sejarahnya keren banget, tapi harus 'kalah' sama kesalahan editing dan penulisan".)

Satu hal yang bisa dipelajari dari membaca kisah ini adalah, penulis secara tidak langsung jadi mengajarkan kepada saya bagaimana teknik membuat cerita fiksi dengan tokoh-tokoh fiktif yang selaras dengan kisah sejarah. Menyelipkan seorang Picaro Donevante sebagai "figuran" dalam lembaran sejarah kerajaan Majapahit dengan nama-nama familiar seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Bhayangkara, adalah sebuah trik yang cerdas. Eh tapi, apakah memang Picaro adalah sebuah kisah fiksi atau benar-benar nyata? Mari kita tanya penulisnya :D

Meskipun ada plot yang absurd, misalnya cerita tentang Nyonya Vaillant, tapi masih dalam jangkauan penerimaan saya mengingat Paulo Coelho banyak mengangkat cerita yang demikian dalam novel-novelnya. Oke, apakah kemudian bisa dikatakan bahwa novel ini masuk ke dalam genre fantasi? Silakan dibaca sendiri bukunya untuk bisa menentukan :p

Sebelum mengakhiri review ini, saya juga ingin mengungkapkan kekaguman saya pada penulis yang begitu banyak menyelipkan kalimat-kalimat yang quote-able, namun pas. Artinya, kalimat itu sinkron dengan pembahasan yang tengah diceritakannya, bukan hanya karena sekadar ingin memberikan kalimat-kalimat puitis. Beberapa sangat mengena di hati saya, dan memang selaras dengan kehidupan. Pembaca benar-benar dimanjakan dengan kalimat indah sarat makna dan pembelajaran.

"Ada pesan yang tersirat dari sebuah jam pasir. Waktu akan terus berlari, namun ketika pasir habis, ia akan selesai. Waktu untuk jumlah pasir itu saja." ---halaman 24
"Waktu dan pengorbanan serta ketekunan adalah kunci dari semua ini. Kemungkinan untuk berhasil tidak lebih besar daripada kemungkinan untuk gagal. Namun, kalaupun gagal, saya tidak akan pernah menyesal karena saya telah mencoba melakukan hal yang besar dengan sepenuh hati." ---halaman 182
"Kita harus tahu kapan saat memulai dan kapan saat berhenti." ---halaman 344
"Tuan Puteri, saat sebuah rasa cinta terhadap seseorang dapat membuat diri kita menjadi lebih baik, itulah arti jatuh cinta yang sebenarnya. Karenanya sebuah rasa jatuh cinta perlu dibuktikan dalam selang waktu atas kebenaran artinya." ---halaman 362
"Anda akan memasuki zona waktu yang lain saat pada akhirnya kita semua akan tersadar bahwa cinta sejati adalah abadi dan tiada akhir." ---halaman 388


Sekali lagi, terima kasih kepada penulisnya yang sudah mengenalkan saya pada buku ini, dan ikut menjelajah ruang dan waktu bersama Picaro dan Rafa. 


Api Awan Asap

Judul : Api Awan Asap
Penulis : Korrie Layun Rampan
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 176 Halaman
ISBN : 97860203750009
Rating : 3 dari 5 


Blurb:


Di sebuah kawasan, tepi Sungai Nyawatan, penduduk membangun lou (betang, rumah panjang). Dari lou itu, dua sahabat -Jue dan Sakatn- setelah menempuh perjalanan 300 kilometer, memasuki gua untuk mengambil sarang burung walet. Jue yang baru sebulan menikahi Nori, putri Petinggi Jepi, bertugas masuk ke dalam gua sambil pinggangnya diikat dengan tali plastik; sementara Sakatn menunggu di luar. Karena diam-diam Sakatn juga mencintai Nori, Sakatn lalu mengerat tali plastik itu. Akibatnya, Jue tersesat dalam gua yang gulita.

***
Seperti merica, seperti lombok, bagaikan ada yang menoreh. Ada keperihan yang tidak mengandung dendam, tetapi mengandung suka. Ada sakit yang tidak mendatangkan aduh,tetapi mendatangkan terima kasih yang melimpah ruah, bahkan mendatangkan tuah. --- Halaman 99


***

Kisah ini bermula dengan pesta pernikahan antara Nori dan Sakatn, yang harus dinodai dengan Pune, anak Nori dan Jue, yang terjatuh saat membawa darah kerbau sebagai ritual terakhir dari prosesi pernikahan ibunya. Lalu, cerita mengalami kilas balik ke masa lalu, saat Nori masih remaja dan menikah dengan Jue suami dan cinta sejatinya yang hilang dalam gua.

Selama nyaris dua puluh tahun Nori menjanda, membesarkan anaknya, juga memajukan desanya. Tidak sebersit pun ia menanggapi lamaran Sakatn yang tak henti datang menghampirinya. Nori pun dibuat bimbang dengan tawaran pernikahan ini. Apalagi, sebenarnya ia masih berharap bahwa Jue--entah bagaimana ceritanya--masih hidup. Cintanya begitu besar dengan Jue yang hanya sempat bersama dengannya satu bulan saja.



Sungguh susah menduga kebahagiaan dan keberhasilan sebuah perkawinan, karena hidup ini memang suatu misteri yang sukar diterjemahkan ke dalam perhitungan matematika. Keberhasilan sebuah perkawinan sangat ditentukan dari perjuangan, nasib, dan peruntungan pasangan itu sendiri. Bukan juga ditentukan oleh cantik atau ganteng, tidak juga ditentukan oleh kaya atau mskin, tetapi terutama ditentukan oleh niat utama perkawinan itu sendiri. --- Halaman 87

Setelah sekian lama, akhirnya Sakatn memberanikan diri untuk melamar secara adat dengan membawa seserahan yang begitu banyaknya. Nori pun akhirnya menerima lamaran itu. Tapi apa yang terjadi dengan pernikahan mereka? Mengapa seolah ada tangan-tangan gaib yang merusak prosesi sakral itu?

Selain kisah percintaan tersebut, cerita tentang lingkungan dan budaya suku Dayak Benuaq disajikan di sini. Ayah Nori adalah seorang tetua adat, di mana posisinya selain sebagai seorang pemimpin juga bertanggung jawab seputar apa yang terjadi dengan hutan yang sudah turun menurun mereka jaga. Keberadaan orang-orang kota, dengan surat-surat yang menyatakan tentang klaim kepemilikan dan penguasaan hutan menjadi ancaman. Belum lagi, asap membumbung karena mereka tidak paham bagaimana proses pengelolaan hutan dengan baik dan benar.


Kisah tentang bagaimana adat istiadat suku Dayak membumbui kisah ini dengan apik dan tentunya memberikan banyak pengetahuan bagi pembacanya.


***

Selama membaca novel ini, setting yang ada di dalam bayangan saya adalah seperti film zaman saya kecil, Ari Anak Rimba Indonesia (yang pemerannya Om Piet Pagau kalau nggak salah), yeah meskipun harus dinodai sama ingatan tentang film Jupe yang nggak sengaja ditonton saat nginap di tempat keluarga. Keduanya bercerita tentang suku Dayak, meskipun di sinetron Ari settingnya benar-benar melekat dalam ingatan. 

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Kalimantan Timur, sebenarnya saya tidak benar-benar paham dengan kebudayaan suku Dayak. Pernah punya sahabat dekat orang Dayak waktu SMP juga rasanya pengetahuan saya tentang suku ini masih minim. Maklum, hidup di Samarinda, jauh sekali dengan lokasi di mana suku Dayak hidup dan berkembang.

Membaca buku ini, membuat pengetahuan saya menjadi bertambah. Ada beberapa yang sudah saya ketahui, tapi banyak juga yang menjadi pengetahuan baru. Memang, kisah mistis yang ada di buku ini rasanya tidak masuk di akal. Tapi, hal-hal yang seperti itu sepertinya bukan tabu dan bisa jadi memang ada di dunia nyata saat ini. Oh saya tidak mau membahas itu sebenarnya. Yang saya ingin ceritakan dari membaca novel ini adalah, tentang dua kisah dan dua cerita yang disampaikan penulis di sini.

Pertama, kisah cinta antara Nori-Jue-Sakatn. Penulis dengan cerdas membawa pembacanya ke kilasan masa lalu dengan menampilkan cuplikan yang sebenarnya menjadi ending di dalam novel ini. Dengan pembukaan semacam ini, pembaca dibawa untuk mengikuti alur cerita, dengan menyimpan tanya apa yang terjadi dengan upacara pernikahan yang tengah berlangsung. Pembaca disuguhkan cerita seputar kehidupan suku Dayak, bagaimana mereka bersosialisasi, dan hal-hal yang berhubungan dengan adat istiadat suku ini.

Kedua, isu sosial yang diangkat dalam cerita, dan ini adalah kisah yang tidak asing di tanah Kalimantan yakni soal pembalakan, kebakaran, hak kepemilikan atas hutan. Ini menjadi poin plus. Dengan menyuguhkan kisah tentang apa yang terjadi dengan hutan Kalimantan saat ini, setidaknya membuat pembaca jadi mengetahui bahwa hutan Kalimantan sekarang sudah tidak sama lagi, semenjak pihak yang berkuasa mengelola hutan secara berlebihan. Dampaknya? Kebakaran hutan, kerusakan lahan, bahkan tidak mungkin keadaan ini bisa mengganggu kawasan pemukiman suku-suku yang berada di dekatnya.

Bahasa yang berbunga (kalau kata teman-teman lain yang baca, katanya bahasa khas anak role-playing) sebenarnya tidak begitu menjadi masalah bagi saya. Narasi juga cukup banyak, dan ini tidak mengganggu karena saya cukup menyukai narasi atau bahasa berbunga yang tidak berlebihan. Karena bukunya juga lumayan tipis, membuat saya menghabiskan buku ini dalam waktu yang cukup singkat.

Menanam Padi di Langit

Judul : Menanam Padi di Langit
Penulis : Puthut EA
Penerbit : EA Books
Tebal Buku : 313 Halaman
ISBN : 9789791794305
Rating : 3 dari 5 




Mulanya saya mengira ini adalah sebuah novel..., ternyata bukan. Adalah sebuah petikan hasil wawancara dan riset yang disampaikan dengan gaya penulisan novel. Berkisah tentang tiga orang bernama Bob, Teddy, dan Toni, seniman muda Indonesia, dan bagaimana kiprah mereka dalam menghasilkan karya serta dikenal masyarakat luas.

Ketiga pemuda itu bertemu di ISI, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, dan keputusan untuk berkuliah seni rupa mendapat tantangan dari keluarga mereka. Namun, pada akhirnya mereka pun menimba ilmu di tempat itu, dan berkarib di sana. Perjalanan mereka dalam hal berkesenian tidak hanya dipaparkan melalui sudut pandang mereka saja, namun di buku ini, secara luas dijelaskan tentang kiprah seni lukis di kancah lokal maupun nasional. Tidak hanya membahas dari sudut pandang sejarah seni saja, karena latar yang disajikan adalah era Soeharto, otomatis pengaruh politik kental tersaji di sini. Sudut pandang politis tentu saja memengaruhi kiprah mereka, apalagi saat rezim Soeharto berakhir. Semua kalangan mahasiswa muda berperan dalam penggulingan rezim, dan para seniman mengambil peran melalui seni.

Kehidupan tokoh-tokoh ini pun tak luput dari sorotan penulis, bagaimana kisah mereka mulai dari latar belakang keluarga, tabiat yang menurut orang 'luar' itu 'unik' (karena saya cukup jauh dengan dunia ini, jadi kehidupan seperti mabuk-mabukan, mengonsumsi obat-obat terlarang, kehidupan malam, seks bebas, adalah tabu, dan saya tidak memiliki gambaran sama sekali), dan kehidupan percintaan. Bagaimana mereka bersinggungan, bersisisan, dan bersama-sama menjalani kehidupan yang..., 'wah'.

Sebagai penikmat sejarah, apalagi sejarah di sini disampaikan menurut kacamata yang tidak biasa, yaitu melalui para seniman, saya cukup suka dengan kisah yang disampaikan. Menambah pengetahuan, tentu saja. Selain itu, dengan membaca buku ini juga cukup memperkaya wawasan saya tentang apa yang terjadi di lingkungan yang selama ini jauh dari kehidupan saya pribadi. Apalagi, gaya penulisannya yang dituturkan seperti penulisan novel, membuat sejarah yang berat menjadi cukup ringan, meskipun saya tidak hapal siapa-siapa saja tokoh yang diangkat oleh penulis (selain ketiga orang itu) dalam buku ini.

Dan satu hal lagi, seni berbicara dengan nyaring dan dengan bahasa yang lain saat suara dibungkam. Seni juga mampu memberikan kritik sosial dengan cara yang elegan. Seperti: saat lahan pertanian sudah tidak ada lagi, mungkin itu saatnya kita menanam padi di langit. Bagaimana bisa?

Maryam

Judul : Maryam
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 280 Halaman
ISBN : 9789792280098
Rating : 2 dari 5




Blurb:
Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.

Lombok, Januari 2011

Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami. Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apa-apa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?


Maryam Hayati


***


Dari awal membaca buku ini, saya sudah berupaya memosisikan diri saya sebagai pembaca netral, yang tidak mengunci pandangan saya pribadi terhadap apa yang dikemukakan penulis dan menjadi tema besar dalam penulisan novelnya: tentang Ahmadiyah. Dengan posisi seperti itu, harapan saya adalah tentu saya akan memiliki paradigma baru atau setidaknya, mampu mencerna sudut pandang lain dari yang semula saya miliki.

Maryam berkisah tentang seorang wanita bernama Maryam, lahir dan besar oleh orangtua pengikut aliran Ahmadiyah. Hidup dalam posisi "berbeda" dengan masyarakat pada umumnya. Pak Khairuddin adalah sesepuh kampung, ikut bergotong-royong bersama, anak-anak mereka pun hidup berdampingan dengan anak-anak lainnya. Selain perkara akidah, mereka adalah bagian dari masyarakat yang sama. Namun, ibu dan bapak Maryam sempat khawatir saat melepas Maryam untuk bersekolah di luar Lombok. Maryam tetap menempuh pendidikannya di Surabaya dan tinggal dengan keluarga Ahmadi kenalan mereka di sana. Tidak ada bedanya kehidupan mereka dengan masyarakat lainnya. 

Akan tetapi dalam urusan jodoh anaknya, muncul besar harapan agar anaknya menikah dengan orang yang sama dengan mereka, sesama Ahmadi. Untungnya selama di Surabaya, Maryam kenal dengan seorang pemuda dari kalangan mereka bernama Gamal. Namun sayang sekali, dalam satu peristiwa Gamal tidak lagi sepaham dengan akidah orangtuanya. Gamal keluar dari komunitas Ahmadiyah, tidak hanya mengecewakan kedua orangtuanya melainkan juga Maryam dan keluarga. Setelah patah hati dengan lelaki itu, saat Maryam bekerja di Jakarta, ia berkenalan dengan Alam. Dengan Alam, ia membuka kembali lembaran kisah cintanya yang sempat karam dengan Gamal. Maryam dibutakan oleh cinta, sehingga lebih memilih untuk menikah dengan Alam dan menjauhi keluarganya. Orangtua Maryam pun kecewa, tidak lagi menganggap Maryam sebagai bagian dari keluarganya. Hubungan Maryam selama beberapa tahun putus sama sekali dengan keluarganya maupun komunitas Ahmadiyahnya.

Setelah menikah beberapa lama, kebahagiaan yang diharapkan Maryam rupanya tidak datang jua. Hidup dengan ibu mertua yang tidak mau menerima ia apa adanya, selalu menempatkan Maryam sebagai seorang pendosa, orang sesat, membuat kehidupan pernikahan itu tidak harmonis. Terlebih lagi mereka belum juga dikaruiniai anak. Akhirnya keputusan perceraian dibuat.

Maryam mencoba untuk kembali pulang, setelah beberapa tahun meninggalkan keluarganya. Namun yang didapatkan saat kembali ke tanah kelahirannya tidaklah sesuai dengan yang diharapkan. Saat kembali, bukannya ia bertemu dengan ayah dan ibunya, namun ia hanya mendapatkan cerita dari penjaga rumahnya bahwa orangtuanya diusir oleh orang kampung hanya karena mereka seorang Ahmadiyah. Pada perjalanan selanjutnya, ia mencoba mencari jejak-jejak keberadaan orangtuanya dan bertanya mengapa mereka diusir dari tanah dan rumah yang mereka bangun sendiri. Mengapa orang-orang itu merampas kenangan masa kecilnya di tanah kelahirannya.

Ehm, itu dia sebagian alur dan cerita dari novel ini. Tema yang diangkat adalah seputar Ahmadiyah, seperti yang sudah saya singgung di paragraf awal. Dari membaca novel ini, saya merasa adanya informasi yang tidak berimbang dan terkesan bahwa penulisnya kurang netral dalam memilih jalan ceritanya. Entah ini pikiran saya saja (padahal saya sudah berupaya senetral mungkin memosisikan diri saat membaca novel ini), atau memang beginilah adanya, bahwa yang dipaparkan dalam novel ini memunculkan stereotip bahwa: tokoh-tokoh Ahmadi-nya tak bercela sementara yang beragama Islamnya digambarkan dengan kurang baik. Saya cukup memaklumi bahwa titik poin dalam novel ini yang mau diangkat adalah tentang sisi kemanusiaan yang ternoda hanya karena kelompok minoritasnya berbeda. Tapi, dalam urusan karakter dan laku, ada ketidakseimbangan di sini. Misalnya, Pak Khairuddin yang seorang Ahmadi, berperilaku santun, sabar, penuh kasih sayang dengan keluarga dan rajin membantu sesamanya. Lalu muncul ibu mertua Maryam yang ikut mencampuri urusan rumah tangga anaknya, suka menyinggung menantunya dengan menyatakan secara tersirat bahwa dulunya dia sesat, dan lain sebagainya. Tokoh Guru Agama Maryam, lalu Pak RT, Pak Haji, Kiyai yang ceramah, dikemas dengan kemasan negatif. Dan mau tidak mau, pembaca juga digiring untuk memberikan statement bahwa pelaku penyerangan (yang notabene adalah Islam) adalah kurang baik. Saya paham bahwa yang diangkat adalah tema yang memang sudah terjadi di masyarakat ini. Tapi, dengan ketidakseimbangan penokohan itu membuat pembaca (terutama saya) agak kurang sepakat dengan penggiringan persepsi tersebut. Saya mahfum, kisah ini akan kurang dramatis jika tidak dikemas sedemikian rupa. Tapi tetap saja, dengan berat sebelah membuatnya tidak lagi objektif. Kenapa ini saya soroti? Karena penokohan tentu akan menguatkan jalan cerita dan itu akan menimbulkan persepsi dalam benak pembaca (meskipun barangkali hanya buku yang benar-benar berkesan yang akan meninggalkan jejak dalam ingatan pembaca). Ketika persepsi yang timbul adalah memberikan pembenaran bahwa orang Islam itu anarkis, mempunyai pandangan negatif (dalam tema ini tentang orang-orang yang dianggap sesat) maka saya sungguh sedih sekali.

Kedua, barangkali ini potongan penting yang--entah dengan sengaja atau tidak--dihilangkan, bahwa penjelasan seputar Ahmadiyah tidak didapat saat pembaca menikmati novel ini. Mungkin penulis hanya berfokus pada masalah "kemanusiaan yang diciderai karena agama" tanpa mau repot-repot masuk pada aspek akidah. Tapi bagi saja ini kurang bijak; seolah-olah seperti melemparkan bola tanpa mau memberi tahu kenapa bola itu dilempar. Dari pandangan orang awam, yang barangkali mau membeli novel ini untuk mengetahui lebih banyak tentang Ahmadiyah selain label bahwa ia sesat, tentu akan kecewa. Penjelasan tentang Ahmadiyah hanya terhenti di deskripsi bahwa di rumah Ahmadi, ada foto besar yang menyatakan bahwa itu adalah Mirza Ghulam Ahmad tanpa dijelaskan dia itu siapa dan mengapa sampai diagung-agungkan sedemikian rupa.

Saya berpendapat, seharusnya dengan mengangkat tema besar tentang orang Ahmadiyah yang terusir, setidaknya penulis memberikan informasi tentang apa itu Ahmadiyah, mengapa ia dikatakan sesat. Kenapa? Karena ini yang menjadi dasar permasalahan yang diangkat. Ahmadiyah difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (bukan saya yang bilang sesat, hehe) karena menganggap Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, sementara bagi umat Islam, Rasulullah Muhammad saw adalah nabi dan rasul terakhir. Ini adalah perbedaan mendasar yang kemudian hari memicu percikan-percikan. Tapi..., tentu saja, itu tidak menjadi pembenaran dalam hal memerangi siapapun. Orang yang berlaku anarkis tetap tidak bisa dibenarkan, apalagi mengatasnamakan agama untuk melakukannya. 

Terlepas dari apapun motifnya, saya kira saya pun sepaham bahwa kekerasan atas dasar apapun tidak dibenarkan. Dalam Islam perilaku seperti itu tidak dibenarkan pula. Dalam kacamata kemanusiaan apalagi. Kekerasan terhadap minoritas bukan barang baru di dunia ini. Namun amat sangat disayangkan bahwa pemaparannya tidak cukup berimbang. Dari sisi romansa yang dikemas (sehingga buku ini tidak menjadi bosan) memang sukses untuk membuat saya tidak bosan. Dari segi gaya penulisan pun menarik dan mengalir. Hanya saja, atas pemaparan saya yang panjang kali lebar di atas membuat bintang pada novel ini hanya bisa dinyalakan dua.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)